<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767</id><updated>2012-01-30T03:14:14.772-08:00</updated><category term='Menulis'/><category term='Ekonomi'/><category term='Orang Melayu'/><category term='Club Menulis'/><category term='Etnik'/><category term='Brunei'/><category term='FOTO'/><category term='Pulau Maya'/><category term='Kolom Metro'/><category term='Penyelidikan Bahasa'/><category term='Sukadana'/><category term='Budaya Kalbar'/><category term='Inspirasi'/><category term='Ramadan'/><category term='Orang Madura'/><category term='Pendidikan'/><category term='Perjalanan'/><category term='Penulisan'/><category term='Publik'/><category term='Sejarah Kalbar'/><category term='Pilkada Kalbar'/><category term='Dayak Islam'/><category term='Bahasa Media'/><category term='Tentang Yusriadi'/><category term='Buku'/><category term='Tribune'/><category term='Lintas Selatan'/><category term='Keluarga'/><category term='Cerita'/><category term='identitas'/><category term='Buku Club'/><category term='Malay Corner'/><category term='Kapuas Hulu'/><category term='Kubu Raya'/><category term='Pemilu'/><category term='Borneo Tribune'/><category term='Teknologi'/><category term='Untan Pontianak'/><category term='Politik Kalbar'/><category term='Singkawang'/><category term='Bugis'/><category term='Penelitian'/><category term='Riam Panjang'/><category term='Sungai Kakap'/><category term='Komentar Blog'/><category term='Malaysia'/><category term='STAIN'/><category term='Batu Ampar'/><category term='UKM'/><category term='Pontianak'/><category term='Sungai Kapuas'/><category term='Suara Enggang'/><category term='Orang Kantuk'/><category term='Sanggau'/><category term='Dayak'/><category term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Yusriadi</title><subtitle type='html'>Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian (Pramoedya Anantatoer)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>295</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2198431903545674931</id><published>2012-01-30T03:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T03:14:14.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Karakter (2)</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, beberapa bulan lalu, guru-guru yang sedang menjadi mahasiswa menjalani ujian. Sebagian terlihat khusuk, membaca soal dan berpikir, menulis dan merenung.&lt;br /&gt;Namun, sebagian lagi nampak gelisah. &lt;br /&gt;Berusaha mengamati satu per satu.  Saya menikmati pemandangan itu. Berusaha menekan perasaan. &lt;br /&gt;Beberapa orang saya curigai membuka buku. Alamak, nyontek! &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendekat. Benar. Di balik kertas kerja mereka, terlihat modul mata kuliah yang diujikan, dibuka. Sepintas lalu tidak terlihat, tetapi karena saya mengamatinya, saya dapat melihat modul yang berada di bawah kertas-kertas ujian itu terbuka. &lt;br /&gt;Saya mengambil modul itu sambil mendengus. &lt;br /&gt;Satu, dua, tiga.... Masyaallah. Enam orang. &lt;br /&gt;”Uh... bapak”.&lt;br /&gt;”Bapak duduk saja, napa sih”.   &lt;br /&gt;Ada suara protes. Mereka protes karena saya terlalu ketat melakukan pengawasan. Namun, saya tak peduli. Saya tidak bisa membiarkan mereka ujian sambil mencontek. Saya tak bisa membiarkan mereka mengumbar budaya nyontak. &lt;br /&gt;Mereka guru. Mereka orang yang digugu dan ditiru. &lt;br /&gt;Mereka orang yang sudah berumur. Orang yang selama ini sudah makan asam dan garam kehidupan lebih banyak dibandingkan saya. Jalan hidup mereka juga sudah sangat panjang, terutama dalam soal bagaimana mereka hidup dengan baik. Bahkan, saya yakin mereka lebih fasih menyampaikan soal kejujuran terutama kepada anak-anak.&lt;br /&gt;Karena itulah saya tidak menceramahi mereka soal nyontak. Saya tidak mengambil tindakan yang biasa kepada mereka. &lt;br /&gt;Ya, jika mereka bukan orang yang sudah tua, pasti mereka saya usir dari kelas. Pasti. Di ruang ujian yang biasa, menyontek adalah persoalan serius. Sebelum ujian, ancaman diskualifikasi sudah disampaikan. &lt;br /&gt;”Berbicara dengan teman akan mendapat teguran. Teguran ke-3 dikeluarkan dari ruang ini”.&lt;br /&gt;Begitulah. Keras. Kejam. &lt;br /&gt;Tetapi, saya tidak punya pilihan. Bagaimana mana mengukur kemampuan sebenarnya jika hasil yang diperoleh melalui nyontek? &lt;br /&gt;Bagaimana mendorong mereka belajar jika saat ujian mereka dengan bebas bisa memindahkan isi buku? &lt;br /&gt;Rasanya, sukar bagi saya mendorong konsep belajar giat jika hal seperti ini tidak ditekankan.&lt;br /&gt;Rasanya, tak tahu saya di mana meletakkan penghargaan bagi orang yang rajin belajar jika situasi seperti ini tidak dicegah.&lt;br /&gt;Rasanya, sulit bagi saya di mana meletakkan kebanggaan atas prestasi, jika budaya nyontek dibiarkan.&lt;br /&gt;Dan, saya tak bisa membayangkan bagaimana nanti mereka bisa menjauhkan murid-murid mereka dari budaya menyontek jika mereka sendiri sudah hidup dalam budaya menyontek.&lt;br /&gt;Saya lebih tidak bisa membayangkan apa jadinya pendidikan Indonesia jika lebih banyak orang yang menjadi guru yang keranjingan dengan kebiasaan nyontek. (*)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2198431903545674931?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2198431903545674931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2198431903545674931' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2198431903545674931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2198431903545674931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/pendidikan-karakter-2.html' title='Pendidikan Karakter (2)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6195830232552549442</id><published>2012-01-30T03:12:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T03:12:42.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Karakter (1)</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat (23/12) kemarin, secara kebetulan saya bertemu dan mengobrol dengan seorang lelaki paroh baya. Dia orang Pontianak yang sekarang tinggal di sebuah perkampungan nelayan di Sambas. Kami bertemu di sekolah saat pembagian raport. Saya dan dia sama-sama mendampingi ponakan mengambil raport.&lt;br /&gt;Kami bisa ngobrol karena kami duduk berdekatan. Dia sangat terbuka dan ramah. Dia mengatakan tentang anak-anaknya. Anak-anaknya berprestasi. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Istri saya yang banyak mendidik anak. Istri saya keras. Anak-anak dipaksanya belajar. Kalau jamnya belajar dia harus belajar. Pintu dikunci. Nanti kalau sudah belajar baru kemudian anak boleh bermain. Hasilnya, anak-anak saya dapat rangking”. &lt;br /&gt;Istri diandalkan karena lelaki paroh baya itu lebih banyak berada di laut. Pekerjaannya sebagai nelayan membuatnya tidak bisa mendampingi anak-anaknya di rumah.&lt;br /&gt;Karena itu, nampaknya dia sangat bangga pada istrinya yang bisa mendidik anak. Istrilah yang diandalkan untuk mendidik anak.&lt;br /&gt;Saya kira, beruntunglah dia. Beruntunglah istrinya. &lt;br /&gt;Tetapi kemudian saya harus katakan bahwa anaknya juga beruntung memiliki ayah seperti itu. &lt;br /&gt;Ya, saya bisa mengatakan begitu ketika dia menceritakan bahwa dia sudah tiga puluh tahun hidup sebagai pelaut. Dan, sebagai orang laut dia sudah pergi ke mana-mana. Sudah banyak negara yang dikunjunginya. Itu sisi senangnya.&lt;br /&gt;Dari sisi lain, dia juga mengalami beberapa kejadian yang juga tidak bisa dilupakan. Sudah tiga kali dia tenggelam di laut. &lt;br /&gt;”Waktu di Selat Makasar, saya terombang-ambing di laut selama 5 hari, di atas galon. Saya diselamatkan oleh nelayan”.&lt;br /&gt;Dia menyambung cerita soal dampak kehidupan sebagai pelaut yang ke sana ke mari itu. Pelaut dan nelayan sering terkena penyakit. Menurutnya, penyakit pelaut ada tiga. Penyakit pertama, perempuan; penyakit kedua, minum; penyakit ketiga, judi. Pelaut kena penyakit ini.&lt;br /&gt;Seraya dia menjelaskan penyakit itu satu persatu, saya jadi teringat suatu ketika saya memang pernah mendengar cerita-cerita mirip begini. Penyakit perempuan menyergap nelayan dan pelaut ketika mereka berlabuh di dermaga. Penyakit judi dan minuman keras menyerang mereka saat berada di tengah laut. Karena hal ini, makanya, kononnya, wanita-wanita yang beroperasi sebagai pelacur di kota-kota pelabuhan, lebih banyak terkena penyakit kelamin, dan HIV-AIDS.  &lt;br /&gt;”Saya hanya kena satu penyakit. Minum. Perempuan dan judi saya tidak ikut”.&lt;br /&gt;Sekarang, katanya, dia sudah berusaha berhenti. Tidak lagi minum minuman keras. Dia berhenti dengan susah. Maklum, kawan-kawan masih terus mengajak. Kawan-kawan juga menyindir. &lt;br /&gt;”Saya dikata mulai alim oleh kawan-kawannya”.&lt;br /&gt;Yang membuat saya tertarik, dia menyebutkan kalau dia bisa berhenti minum karena dia malu sama anak-anak. Dia berhenti bukan karena khawatir terkena penyakit atau berhenti karena mulai insyaf bahwa agama telah melarangnya. &lt;br /&gt;”Saya malu dengan anak-anak. Mereka sudah besar. Malu kalau sampai ditegur anak-anak”. &lt;br /&gt;Pengakuan bahwa dia malu pada anak menunjukkan bahwa keberhasilan anak meraih prestasi berkat didikan sang istri, berkelindan dengan pengembangan nilai-nilai hidup dalam keluarga ini. Dan, bapak paroh baya itu memperlihatkan bagaimana dia menghormati nilai-nilai itu. &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6195830232552549442?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6195830232552549442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6195830232552549442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6195830232552549442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6195830232552549442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/pendidikan-karakter-1.html' title='Pendidikan Karakter (1)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3481735775955147695</id><published>2012-01-30T03:09:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T03:09:42.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Membangun Masa Depan</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa orang bisa dan saya tak bisa?” &lt;br /&gt;“Mengapa orang mampu dan saya tidak mampu?” &lt;br /&gt;“Mengapa orang maju dan saya tidak maju?”&lt;br /&gt;Saya sering mendengar pertanyaan itu. Teramat sering. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Saya juga teramat sering mendengar orang memberikan penjelasan.&lt;br /&gt;“Dia maju karena dari sananya memang begitu”.&lt;br /&gt;“Dia mampu karena dari keluarga mampu”.&lt;br /&gt;“Dia banyak koneksinya”.&lt;br /&gt;“Dia ‘pandaiiii’”. Pandai yang bermakna khusus dan sangat dalam. &lt;br /&gt;Dahulu, saya menerima saja penjelasan itu. Penjelasan itu dianggap benar. Orang maju karena dia dari keluarga maju. Orang mampu karena dia dari keluarga atau dari kalangan suku yang mampu. &lt;br /&gt;Tetapi, sekarang ini rasanya saya tidak percaya jawaban itu. Soal kemampuan bukan soal keluarga, bukan soal suku, bukan soal suratan takdir. &lt;br /&gt;Beberapa bulan ini saya mendapatkan jawabannya. Jawabannya ada pada diri sendiri. Seseorang akan maju jika dia mau maju. Seseorang akan mampu kalau dia mau mampu. Syarat mentalitas itu ditambah lagi dengan seperangkat syarat: Dia menganut prinsip dasar kehidupan.  &lt;br /&gt;“Orang maju karena dia menganut prinsip dasar kehidupan”.&lt;br /&gt;Ada 9 prinsip itu. Pertama: Orang akan maju  jika dia menunjukkan sikap beretika. Orang yang menganut etika akan membuat orang lain senang dan nyaman. Dia akan disukai lingkungannya.&lt;br /&gt;Kedua, kejujuran dan integritas. Ketiga, bertanggung jawab. Keempat, patuh pada hukum. Kelima, hormat pada hak orang lain. Keenam, cinta pada pekerjaan. Ketujuh, menabung atau ada investasi. Kedelapan, mau bekerja keras. Kesembilan, tepat waktu. &lt;br /&gt;Saya meyakini bahwa jika prinsip dasar kehidupan dapat dilaksanakan dengan baik pasti hasilnya akan menjadi sangat baik. Sangat ideal. Sangat nyaman. Situasi ini akan membuat semua orang bisa fokus pada cita dan harapan. &lt;br /&gt;Lantas, terpulanglah pada diri sendiri apakah ingin menggapai semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3481735775955147695?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3481735775955147695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3481735775955147695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3481735775955147695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3481735775955147695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/membangun-masa-depan.html' title='Membangun Masa Depan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6562088347239193587</id><published>2012-01-30T03:07:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T03:07:38.874-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Pendidikan Karakter (3)</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, saat membuka acara Gempita Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan Harian Borneo Tribune – Tribune Institute-HIPMI Kalbar di Kampus Untan Pontianak, Pembantu Rektor I Untan, Dr. Abu Bakar Alwi menyebutkan contoh kebersamaan orang Jepang. 12 orang ambil master, ke mana-mana sama. Akhirnya, pola pendidikan ini membuat semangat kolektif Jepang menonjol. &lt;br /&gt;“Kenyataan ini sangat berbeda dibandingkan kita. Orang kita, ramai, hakikatnya sendiri,” katanya. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Abu Bakar Alwi ingin ada perubahan budaya. Ada perubahan di kalangan mahasiswa. &lt;br /&gt;Apa yang disampaikan Dr. Abu Bakar Alwi merupakan kritik dan juga otokritik terhadap penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi. Kalau kenyataan yang disampaikan Abu Bakar benar, dan itu tentu benar, maka metode pendidikan kita harus dievaluasi. Apakah metode pendidikan di semua level telah mengarahkan peserta didik ke arah kesadaran kolektif. Atau, sebaliknya, bagaimana mengarahkan peserta didik ke arah hidup individualistik ke arah yang mengedepankan kolektivitas.&lt;br /&gt;Saya memberi catatan pada Dr. Abu Bakar Alwi. Beliau sudah memiliki kesadaran menuju kolektivisme. Kesadaran ini pasti bisa menjadi bekal untuk melakukan perbaikan ke depan. Apatah lagi beliau memiliki kekuasaan untuk mengubah. Sebagai Pembantu Rektor I, beliau memiliki kewenangan untuk membina dosen, sehingga pada akhirnya, dosen-dosen itu kelak bisa mendukung program yang beliau susun. &lt;br /&gt;Tentu saja tidak begitu mudah. Sering kali dosen dengan dalih otonomi dosen, memiliki ego yang kuat. Mungkin ada bantahan. &lt;br /&gt;Tetapi saya percaya, kedudukan Abu Bakar Alwi sebagai Pembantu Rektor I Untan akan membuat yang tidak mudah itu menjadi mudah. Adakah dosen sebagai bagian tugas fungsional seorang pegawai negeri nekad membandel pada atasannya? &lt;br /&gt;Lagi, tak mungkin dosen-dosen akan ’degil’ amat menolak sesuatu yang baik. Bukankah dosen adalah agen perubahan? Bukankah mereka insan pembelajar? &lt;br /&gt;Jika dosen bukan agen perubahan, tak mau berubah dan bukan seorang insan pembelajar, maka lebih baik dia menjadi batu saja. Terlalu bahaya dosen yang seperti itu. Mereka berbahaya karena mereka akan mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa yang datang hendak belajar di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Ingat kata pepatah: guru kencing berdiri, anak-anak kencing berlari. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6562088347239193587?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6562088347239193587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6562088347239193587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6562088347239193587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6562088347239193587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/pendidikan-karakter-3.html' title='Pendidikan Karakter (3)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4986777980915693041</id><published>2012-01-30T03:05:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T03:05:54.085-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Prof. Shamsul AB, Dr. Taufiq dan Kutipan Khonghucu</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;“Mulai saja menulis, terbitkan buku. Jangan pikirkan mutu sekarang ini. Mutu itu urusan nanti”.&lt;br /&gt;Saya mengutip pendapat Prof. Dr. Shamsul Amri Baharuddin ketika “bersembang-sembang” dengan Dr. Taufiq Tanasaldy, siang itu. Dr. Taufiq datang ke Club Menulis dan melihat beberapa buku yang kami buat. Dia orang Mempawah yang kini mengajar di sebuah universitas di Australia. &lt;br /&gt;Walaupun saya menunjukkan buku dengan semangat, tetapi merasa agak sungkan juga. Mutu. Buku yang kami buat bukan buku bermutu. Kepada orang-orang yang datang ke Club Menulis saya selalu tekankan hal itu. &lt;br /&gt;“Kami berusaha mendokumentasi apa yang dapat kami dokumentasi hari ini”.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;“Kami sedang belajar menulis dan menerbitkan buku”.&lt;br /&gt;“Mungkin buku yang bermutu dari kami baru dapat kami persembahkan 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang”.   &lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebelum soal mutu ini singgah dalam pikiran beliau, saya mengaku lebih dahulu bahwa buku yang kami buat belum memenuhi harapan. &lt;br /&gt;Apa reaksi Dr. Taufiq? &lt;br /&gt;“Maaf, saya mengutip Khonghucu. Kamu tahu Khonghucu?” &lt;br /&gt;Saya mengangguk. Tentu. Saya pernah belajar perbandingan agama. Khonghucu adalah nama yang dikaitkan dengan agama Khonghucu. Banyak kata bijak yang dirujuk kepada tokoh itu. Saya mengangguk karena saya kira lebih mudah bagi beliau mengutip kata bijak dari ajaran yang dipercaya, seperti saya pasti lebih mudah mengutip hal-hal penting dari Alquran atau nabi Muhammad. &lt;br /&gt;“Khonghucu mengatakan, satu li dimulai dari satu langkah”.&lt;br /&gt;Persis. Sesungguhnya saya pernah mendengar ungkapan itu dari bapak FX Asali, salah satu tokoh Tionghoa Kalbar yang saya kagumi. &lt;br /&gt;Menyenangkan menemukan kutipan yang pas. Sebuah pernyataan yang berbeda dengan maksud sama. Pernyataan yang universal.  &lt;br /&gt;Saya segera mencatat komentar dia karena saya rasa pasti sangat berguna suatu ketika nanti. Tetapi, Dr. Taufiq , buru-buru mengingatkan. &lt;br /&gt;“Ini ungkapan yang populer, semua orang tahu. Saya harus tanya-tanya lagi bagaimana bentuk yang pas dengan ungkapan Khonghucu dalam bahasa asal”.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, saya tetap mencatat ungkapan itu, dan menulisnya agar saya tetap ingat di kemudian hari. Semua itu akan menambah wawasan saya tentang prinsip hidup dan tentang apa yang dapat saya lakukan. Pembenaran. Pemantapan. Sesuatu yang meyakinkan saya agar terus menerus berusaha: menulis dan menerbitkan buku, sembari mendorong orang-orang yang ada di sekitar saya untuk melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;Semoga semua itu bisa menjadi amal kelak. Seperti yang sering dikutip dari teman saya, H. Nur Iskandar. “Inilah salah satu bentuk amal kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4986777980915693041?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4986777980915693041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4986777980915693041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4986777980915693041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4986777980915693041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/prof-shamsul-ab-dr-taufiq-dan-kutipan.html' title='Prof. Shamsul AB, Dr. Taufiq dan Kutipan Khonghucu'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2347407207836090323</id><published>2012-01-30T03:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T03:04:14.093-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Guru Boleh Protes?</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;Hari itu saya berdiskusi dengan sejumlah orang. Bolehkah guru melakukan demo karena tidak dibayar tunjangannya? Sejumlah orang mengatakan boleh. Guru boleh demo menuntut haknya. &lt;br /&gt;Lalu, saya bertanya pada mereka. Kalau guru demo, bagaimana anak-anak di sekolah belajar? Atau, kalau kemudian tuntutan yang diajukan guru tidak dipenuhi, bagaimana? Apakah guru akan mogok mengajar? Kalau guru mogok mengajar bagaimana dengan murid-murid mereka? &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang ada dalam pikiran guru jika anak-anak tidak bisa belajar karena mereka tidak mengajar? Apakah guru akan prihatin? Apakah mereka memiliki tanggung jawab moral terhadap pendidikan siswa? &lt;br /&gt;Pertanyaan lanjutan ini tidak bisa dijawab spontan oleh peserta diskusi. Mengapa? Karena saya kira mereka menemukan hakikat bahwa sebenarnya guru tidak boleh demo karena menuntut tunjangan. Guru tidak boleh mogok mengajar karena tunjangan tersendat. &lt;br /&gt;Jika guru demo karena tunjangan, jika guru mengancam mogok mengajar karena tunjangan (gaji) atau malah mogok benaran, maka sebenarnya mereka bukan lagi guru. Mereka bukan lagi seorang pendidik. &lt;br /&gt;Guru yang demo dan guru yang mogok karena tunjangan, karena uang, sebenarnya mereka adalah buruh. Mereka adalah pekerja. Orang yang melakukan sesuatu agar mendapat imbalan materi. Orang yang bekerja karena mengharapkan materi.&lt;br /&gt;Guru sebenarnya tidak begitu. Guru adalah pekerjaan untuk pengabdian. Panggilan batin. Seseorang yang menjadi guru seharusnya bukan orang yang mengejar materi. &lt;br /&gt;Orang yang mengejar materi menjadi guru sebaiknya tidak menjadi guru. Malah, saya sempat bercanda, jika saya kepala dinas, atau orang yang menentukan nasib guru, maka guru seperti itu akan saya pensiunkan. Saya akan katakan pada mereka, lebih baik berhenti menjadi guru dan berdagang. Lebih baik  bekerja di sektor perkebunan atau tambang. Uangnya pasti banyak! &lt;br /&gt;Tidak boleh nasib anak-anak diserahkan kepada guru yang bermental materialistis. Anak-anak hanya boleh diserahkan kepada orang yang bermental guru. &lt;br /&gt;Seorang peserta diskusi membantah.&lt;br /&gt;“Tapi, guru ‘kan  perlu materi agar bisa hidup”.&lt;br /&gt;Benar. Guru adalah manusia yang juga perlu materi untuk kehidupan. Tetapi saya percaya bahwa guru yang mendidik dengan benar, guru yang menjalankan amanatnya sebagai pendidik, tidak pernah akan kesulitan soal makanan. &lt;br /&gt;Orang tua murid pasti akan menilai. Orang tua murid pasti akan prihatin dan menyampaikan terima kasih. Orang tua murid yang tidak bisa menghargai pengabdian guru adalah orang tua murid yang ‘kebangetan’.&lt;br /&gt;Saya kira pemerintah juga akan begitu. Pemerintah pasti akan berterima kasih pada orang yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan anak bangsa. Pemerintah pasti merasa berkewajiban untuk membalas pengabdian yang sudah diberikan guru. Bagaimana menurut anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2347407207836090323?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2347407207836090323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2347407207836090323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2347407207836090323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2347407207836090323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/guru-boleh-protes.html' title='Guru Boleh Protes?'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3067999290282917735</id><published>2012-01-30T03:02:00.001-08:00</published><updated>2012-01-30T03:02:55.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kalbar'/><title type='text'>Bahasa Politik</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;Hari itu seorang kolega datang ke ruang saya dan menyampaikan gagasan besar. Ingin membuat buku. &lt;br /&gt;Gagasan itu sempat membuat saya antusias. Ya, buku selalu penting dalam hidup saya belakangan ini. Sedikit-sedikit buku. Sedikit-sedikit buku. Buku adalah obsesi. Saya ingin menerbitkan buku sebanyak-banyaknya.  Soal mutu, nanti dulu. Mutu bisa digarap sambil jalan. Alah bisa karena biasa. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin begitu karena ingin menjadikan buku sebagai monumen bagi kehidupan. Setidaknya, jika saya meninggal dunia kelak, saya sudah meninggalkan tulisan dan mematri nama saya dalam beberapa buku. Mudah-mudahan, buku-buku yang saya buat ada gunanya bagi banyak orang. &lt;br /&gt;Setidaknya dengan usaha dokumentasi sekarang ini, kelak jejak-jejak yang penting tentang kehidupan hari ini bisa diketahui generasi mendatang. &lt;br /&gt;“Buku ini, dibuat untuk mendukung bapak….”&lt;br /&gt;Dia menyebut nama seseorang. Nama itu saya kenal lewat koran. Kabarnya dia akan terjun ke dunia politik dan akan bertarung dalam pemilihan umum mendatang. &lt;br /&gt;Byurrr. Semangat saya langsung meredup. Bak api diguyur air. &lt;br /&gt;“Ahhhh… kalau yang begitu saya tidak mau ikut”.&lt;br /&gt;“Bukan begitu … “ Bla… bla… kolega menjelaskan duduk persoalannya. Membujuk. &lt;br /&gt;Saya menolak serta merta. Tak pakai basa-basi.  Saya memilih tidak terjun ke dunia politik seperti itu. Politik bagi saya menyisakan bayangan yang tidak cerah. Apalagi kalau sudah bicara soal perebutan posisi dan kekuasaan. &lt;br /&gt;Bagi saya kekuasaan bukan untuk diperebutkan. Kekuasaan itu amanah yang diberikan kepada seseorang yang memang layak menyandangnya. &lt;br /&gt;Karena itu jika saya punya suara, saya akan memilih dan akan mendukung orang yang benar-benar layak didukung. Dukungan yang diberikan kepada orang yang biasa-biasa apalagi orang yang ambisius akan memberikan dampak yang tidak baik bagi masa depan. Saya tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak layak memimpin. Sama seperti ajaran fiqh dalam agama saya: saya tidak boleh berimam kepada orang yang tidak memenuhi syarat sebagai imam. Apa syaratnya? Bacaannya paling baik, wara’ dan lebih tua umurnya.  Dalam konteks kita, pemimpin yang didukung adalah pemimpin yang lisan, tindakan dan cara berpikirnya baik. &lt;br /&gt;Mencari pemimpin seperti itu tidak susah. Kita bisa melihat track recordnya sehari-hari. Kita bisa menggali informasi tentang dia. &lt;br /&gt;Karena itulah, saya tidak sepemikiran dengan kolega tadi yang ingin membuat buku untuk mempromosikan sosok tertentu dengan maksud agar terbentuk opini publik. Saya tidak ingin membuat sosok menjadi nampak baik sementara saya belum mengenal dia sebelumnya.  &lt;br /&gt;Sampai di sini saya jadi ingat beberapa teman saya merana karena uangnya mengalir bak air ledeng saat Pemilu.  Penyauk datang berbondong-bondong mengaloikan dia, namun tidak benar-benar mendukungnya. Uang habis, suara tiada. &lt;br /&gt;Saya tak sampai hati membuat (calon) politisi menerima nasib seperti itu. Kesihan.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3067999290282917735?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3067999290282917735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3067999290282917735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3067999290282917735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3067999290282917735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/bahasa-politik.html' title='Bahasa Politik'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4706854675357695273</id><published>2012-01-03T03:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T03:23:02.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FOTO'/><title type='text'>Drs. H. Abang Zahry Abdullah Al-Ambawi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fdBK47QBTC4/TwLk6U9S9_I/AAAAAAAAAMo/YwyTktZFyyk/s1600/zahry.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-fdBK47QBTC4/TwLk6U9S9_I/AAAAAAAAAMo/YwyTktZFyyk/s320/zahry.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4706854675357695273?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4706854675357695273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4706854675357695273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4706854675357695273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4706854675357695273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/drs-h-abang-zahry-abdullah-al-ambawi.html' title='Drs. H. Abang Zahry Abdullah Al-Ambawi'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fdBK47QBTC4/TwLk6U9S9_I/AAAAAAAAAMo/YwyTktZFyyk/s72-c/zahry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3007773293622063851</id><published>2012-01-03T03:09:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T03:09:57.244-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapuas Hulu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kalbar'/><title type='text'>Mengenang Tok Olah (Alm. Drs. H. Zahry Abdullah)</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Januari 2011. Saya membuka blog saya: yusriadiebong.blogspot.com. Ada pesan di inbox dari seseorang yang bernama Razy H Zahry. Saya tidak mengenal nama itu. Tapi, kalau nama H Zahry saya kenal. Malah, rasanya, sangat kenal.&lt;br /&gt;Rupanya,  orang yang meninggalkan jejak di inbox itu memang anak H. Zahry yang saya kenal itu. Saya bisa menduga demikian setelah membaca pesan itu.&lt;br /&gt;“Razy H Zahry: Atas nama keluarga besar kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih buat bang yus, yang telah membesarkan nama Alamarhum ayahnda kami, mohon maaf kalau ada salah bang”.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu membangkitkan memori saya tentang almarhum H. Abang Zahry Abdullah Al-Ambawi, yang meninggal pada 14 September 2010 lalu. Beliau telah saya anggap orang tua dan datok saya sendiri. Saya dan beberapa teman lain membiasakan memanggil beliau “Tok Olah”.&lt;br /&gt;Saya banyak bergaul dengan beliau. Kami sering seminar bersama. Diskusi bersama. Beliau kadang kala saya jadikan narasumber untuk berita saya di Harian Borneo Tribune. Di luar itu, kami juga kerap bertemu untuk sekadar menjaga komunikasi. &lt;br /&gt;Kami semakin akrab, karena beliau berasal dari Jongkong, dan saya berasal dari Riam Panjang. Riam Panjang terletak di pedalaman Jongkong. Beliau juga kenal dengan almarhum bapak saya, Zainal Abidin alias Ebong.&lt;br /&gt;“Pala Kampung Ebong, ayah kula’ tu’, main bal”. (Kepala Kampung Ebong, ayah kamu itu, pemain bola). Begitu kata Tok Olah dulu.&lt;br /&gt;Tok Olah memiliki karir yang luar biasa. Pernah menjadi guru, menjadi pegawai Departemen Agama – sempat menjadi Kepala Kantor Departemen Agama di Sanggau dan Pontianak, pernah menjadi anggota DPRD di Kapuas Hulu. &lt;br /&gt;Beliau adalah salah satu orang Ulu yang sukses di rantau orang. Saya mengenalnya begitu, pada mulanya. &lt;br /&gt;Karena asal daerah yang sama, kami berkomunikasi dalam bahasa Ulu. Selalu. Kalau sudah bergurau, dan beliau orangnya humoris - ramah, kosa kata yang arkaik dalam bahasa Ulu keluar. Kami bisa mentertawakan banyak hal jika sudah begini. &lt;br /&gt;Keramahan dan sikap beliau membuat saya sangat nyaman mengenal beliau. Ya, itu tadi, serasa orang tua sendiri. Beliau jadi panutan.&lt;br /&gt;Saya mengagumi beliau  karena beliau memiliki pengetahuan sejarah yang luar biasa.  Sejarah Kapuas Hulu, Sintang-Melawi, Sanggau, beliau kuasai. Tanya saja tentang apapun, pasti beliau ada jawabannya. Tanya salasilah orang, beliau ahlinya. Beliau adalah enseklopedia sejarah ulu. Ingatan beliau sangat kuat. &lt;br /&gt;Mengapa bisa begitu, di kemudian hari saya tahu: Tok Olah adalah sosok pembelajar. Setiap peristiwa penting dicatatnya. Dia punya buku agenda sejarah. Kejadian apapun ditulisnya. Beliau juga memiliki koleksi naskah dan tulisan-tulisan sejarah. &lt;br /&gt;Selain itu, beliau saya kenal sebagai kolektor barang-barang unik dan memiliki tanaman obat yang banyak. &lt;br /&gt;Karena itulah, saya sering menulis beliau sebagai sumber inspirasi. Ini juga yang membuat saya terus mengingat beliau. Terima kasih datok. Semoga datok tenang dan bahagia di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3007773293622063851?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3007773293622063851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3007773293622063851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3007773293622063851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3007773293622063851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2012/01/mengenang-tok-olah-alm-drs-h-zahry.html' title='Mengenang Tok Olah (Alm. Drs. H. Zahry Abdullah)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4821975574821118486</id><published>2011-12-06T02:16:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T02:16:50.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Kritik Karya</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bah! Saya sampai harus mengeluarkan peringatan keras kepada mereka. Bukan sekali. Tiga kali malah. &lt;br /&gt;Habis, tak cukup satu kali. Masih juga. Gatal benar mulut mereka. &lt;br /&gt;Hari itu, pekan lalu, kami (saya dan beberapa mahasiswa) sedang membahas skripsi. Saya meminta mereka, mahasiswa yang mengikuti kelas Bimbingan Karya Tulis Ilmiah itu, membaca skripsi yang dibuat oleh senior mereka. Skripsi yang sudah jadi. &lt;br /&gt;Mula-mula mereka diminta membaca judul dan berusaha menyelaminya. Kemudian membaca kata pengantar. Selanjutnya memelototi daftar isi untuk melihat strukturnya. Saya memberi mereka waktu 20 menit.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka mulai ribut –karena bacaannya sudah selesai sebelum waktunya habis, saya minta mereka melihat kesimpulan dan tujuan penelitian. Terakhir melihat abstrak, ringkasan isi skripsi.&lt;br /&gt;Selesai dengan tugas itu, kemudian kami membahas satu-satu bagian itu. Sebagai pembuka saya bertanya pada mereka: &lt;br /&gt;“Coba… liat judul masing-masing. Apa ide Anda? Apakah Anda mendapatkan inspirasi setelah membaca judul itu?”&lt;br /&gt;Seorang dari mereka menjawab tangkas.&lt;br /&gt;“Judul ini, saya rasa kurang menarik…. Bla… bla… Judulnya tidak pas”.&lt;br /&gt;Wah, wah, wah… Pandainya dia itu. Dia mengeritik judul skripsi orang. Padahal, dia belum pernah membuat skripsi. Tak bisa dibiarkan. Saya memotong cepat seraya mengetuk meja.&lt;br /&gt;“Oke, oke… sekarang apa pembelajaran yang Anda peroleh?”&lt;br /&gt;Hm, dia diam. Dia menatap saya seperti tercenung. Mungkin dia terkejut melihat reaksi saya. Mungkin juga dia sedang berpikir mencari jawaban. Entah, apa yang dia pikirkan. Saya membiarkan. Biarkan dia terkejut. &lt;br /&gt;Saya memang tidak suka mendengar hal seperti itu. Mengeritik karya orang sementara dia belum pernah berkarya. Tidak boleh dibiasakan. Orang harus belajar memberikan apresiasi, menghargai karya orang lain. Justru, dalam banyak contoh memberi apresiasi akan membuat orang belajar lagi dari orang lain.  &lt;br /&gt;Karena terlalu lama dia berpikir, saya meminta giliran berikutnya. Satu dua oke, semua berjalan dengan baik. Mereka memahami apa yang ditanyakan dan mendapat ide. Seorang yang membaca skripsi tentang pernikahan mengatakan:&lt;br /&gt;“Jika begitu, penelitian tentang nujuh bulanan bisa Pak?”&lt;br /&gt;Great. Persis. Yang begini ini yang saya kehendaki. Tidak usah keburu memberi kritikan. Pelajari dahulu. Selami. Hayati. &lt;br /&gt;Eh, giliran keempat, kritikan muncul lagi. Kali ini kritikan dialamatkan pada kata pengantar. Seperti yang pertama tadi, saya juga bingkas.&lt;br /&gt;“Halo… sekarang bukan waktunya mengeritik. Sekarang waktunya memahami”.&lt;br /&gt;“Mari berpikiran positif. Jangan negatif”.&lt;br /&gt;Saya perlu mengingatkan itu lagi karena peringatan sebelumnya agaknya tidak mempan. Ah, mungkin mereka begitu karena selama ini mereka hidup di alam seperti itu. Mereka melihat orang-orang di sekitar mereka melakukan hal seperti itu. Kritik, kritik, kritik. Mereka bagaikan orang sinting membicarakan gula-gula. Nyinyir.  Celupar. &lt;br /&gt; “Anda boleh kritik skripsi orang jika sudah membuat skripsi. Jika belum, sudahlah… baca saja dahulu,”&lt;br /&gt;“Nanti, kalau Anda sudah  selesai buat skripsi, baru Anda boleh menyampaikan kritik terhadap skripsi. Itu baru adil namanya”.&lt;br /&gt;Saya menjadi otoriter. Memaksa. Tetapi apa boleh buat, iklim di sekitar saya harus diubah. Toh, nyatanya mereka juga sedang belajar.  Adat orang belajar harus takzim, tak boleh membantah dan berbantan-bantah. Kalau mau membantah dan berbantah-bantah, lebih baik tak usah belajar. Percuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4821975574821118486?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4821975574821118486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4821975574821118486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4821975574821118486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4821975574821118486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/kritik-karya.html' title='Kritik Karya'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2118223893129065563</id><published>2011-12-06T02:14:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T02:14:52.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapuas Hulu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Cerpen: Sampuk untuk Banin</title><content type='html'>Karya: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya melangkah ringan, berjinjit cepat. Secepat langkah kijang. Dia memburu waktu. Dia harus segera sampai di rumah. Istrinya, Banin, menunggu obat yang dia bawa.&lt;br /&gt;Dia ujung kampung Bakik, dia tercekat. Matanya tertuju pada pantak tanda dari kayu yang diletakkan di ujung jalan kampung.&lt;br /&gt;Dug! &lt;br /&gt;Jamit terperangah. Dia tahu tanda itu. Itu tanda kematian.  &lt;br /&gt;“Siapa yang mati?” &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berusaha menebak. Aki Gurung? Aki Sangki? Aki Lanyuk? Dia mencoba mengabsen nama-nama orang tua di kampung itu yang keadaannya sakit dan yang keadaan agak uzur. Jamit berusaha tak memasukkan istrinya dalam daftar itu. Berkali-kali dia menepis pikiran itu. &lt;br /&gt;“Banin tak masuk dalam kemungkinan itu,” bisiknya.&lt;br /&gt;“Tidak. Bukan dia.”&lt;br /&gt;Banin masih muda. Mereka baru menikah lima tahun lalu. Mereka baru punya dua anak, Kurat dan Tamal. Anak-anak itu masih kecil. Kurat baru pandai mengangkut air dengan gerobuk (cangkang buah kelapa yang diberi tali), sedangkan Tamal baru belajar berjalan. Tamal masih perlu menyusu. &lt;br /&gt;Tak terasa langkah Jamit sampai di rumah panjang. Dia melihat rumah panjang itu ramai. Ya, setiap kematian selalu ramai. Tetangga, keluarga mara, turut berduka. Orang mengalami pantangan. Tak boleh keluar kampung jika tak perlu. Tak boleh pergi jauh jika bukan karena perkara mendesak. Melanggar pantang, nahas yang datang.  &lt;br /&gt;Lebih dari itu, situasi begitu membuat kekeluargaan tetap terjaga. Saling tolong. Saling bantu. Yang susah terhibur karena selalu ada teman. Tak sempat termenung sendiri. Barang yang ada dikerjakan bisa dikerjakan bersama. Semua bekerja tanpa berkira. Tenaga disumbangkan, barang makan dikeluarkan. &lt;br /&gt;Kehidupan rumah panjang seperti ini dirindukan Jamit bila dia terpaksa harus tinggal beberapa bulan di ladang untuk menjaga padi. &lt;br /&gt;Kesibukan di rumah panjang adalah kesibukan massal. Kesibukan semua. Karena itu ketika ada gawai dibuat, tak dapat dikira pintu siapa yang punya kerja. &lt;br /&gt;Sama seperti sekarang ini, Jamit tak bisa menebak ketika melihatnya dari jauh. &lt;br /&gt;Ketika jarak sepelemparan tombak dari rumah, Jamit melihat orang mengalukan kedatangannya. Mereka menyongsongnya ke halaman rumah panjang. &lt;br /&gt;“Dah datang kau, Mit”.&lt;br /&gt;“Iya. Syukurlah”.&lt;br /&gt;“Baik-baik di jalan?”&lt;br /&gt;“Lancar semuanya”.&lt;br /&gt;Jamit  menjawab sambil mengedarkan pandangannya.  Hatinya mulai berkecamuk. Penyambutan yang diterimanya kali ini berbeda dari biasanya. Mengapa dia disambut seperti ini? &lt;br /&gt;“Jangan-jangan…” Dia masih berusaha menepis.&lt;br /&gt;“Bagaimana hasilnya?” Aki Jarak, seorang tetua di rumah panjang Bakik, bertanya. &lt;br /&gt;“Dapat”.&lt;br /&gt;Jamit menurunkan sabitnya (ambenan dari rotan). Dia mengeluarkan ikatan kayu sampuk.&lt;br /&gt;“Ini…”&lt;br /&gt;Kayu sampuk itu diberikan kepada Aki Jarak. &lt;br /&gt;“Ya… ini kayu yang sangat berharga. Kehidupan”.&lt;br /&gt;“Benar, Ki”.&lt;br /&gt;“Jamit… Kehidupan kita banyak tergantung pada kayu ini. Asap kayu ini menjaga kita dan batin kita dari dedemit, gana, dan amak ungas”.&lt;br /&gt;Jamit mengangguk mengerti. Dia sudah mendengar hal itu beberapa kali dari orang tua di rumah panjang ini. Malah sejak dia masih anak-anak, dia sudah tahu kayu itu, tahu kegunaannya. Kakeknya menyebut kayu itu sebagai raja obat. Neneknya mengatakan kayu ini pelindung yang baik, dan karena itu beruntunglah orang menyimpannya di rumah. &lt;br /&gt;Karena itu jugalah maka ketika dia diminta mencari kayu ini di bukit Lumut, dia dapat menemukannya. Hanya, karena jarak yang jauh dan mencarinya susah, dia membutuhkan waktu 3 hari.&lt;br /&gt;“Tapi, meski demikian, kehidupan kita sesungguhnya ada di tangan Dewa. Dia berada di atas usaha kita. Setiap orang akan sampai pada tahap itu. Mungkin bedanya, kapan dan bagaimana jalan masing-masing”.&lt;br /&gt;Jamit mengiyakan. Banyak sudah orang-orang tua yang pergi dari kehidupan. Beberapa temannya juga sudah pergi mendahului. Bahkan, beberapa di antaranya pergi sejak anak-anak. &lt;br /&gt;Tetapi … tunggu! Mengapa Aki membicarakan hal ini? &lt;br /&gt;“Apa yang terjadi?” Jamit memegang tangan Aki Jarak. Tapi, lelaki tua itu tidak bersuara. &lt;br /&gt;“Kik! Banin???”&lt;br /&gt; “Iya, Mit. Banin. Waktunya sudah sampai. Kau harus berusaha sabar”.&lt;br /&gt;Jamit mengendorkan pegangan. Kakinya lemah. Dia terjerembab ke tanah. &lt;br /&gt;Aki Jarak dan beberapa lelaki menolong, membawa Jamit naik ke rumah. Sampuk yang sedianya dibawa untuk Banin, sekarang dibakar diasapkan ke muka Jamit. Aki Jarak membaca mantra, seraya berdoa semoga Jamit segera sadar.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2118223893129065563?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2118223893129065563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2118223893129065563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2118223893129065563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2118223893129065563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/cerpen-sampuk-untuk-banin.html' title='Cerpen: Sampuk untuk Banin'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1671045858594563799</id><published>2011-12-03T02:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T02:55:14.206-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><title type='text'>Kisah Wahyudin Meneliti Rumah Melayu Pontianak (1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bxCl9gVE6HI/Ttn__OtaH6I/AAAAAAAAAMc/nwbTH6OLzww/s1600/Ekspedisi%2BKapuas%2B-%2BDedy%2B%2528102%2529.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-bxCl9gVE6HI/Ttn__OtaH6I/AAAAAAAAAMc/nwbTH6OLzww/s320/Ekspedisi%2BKapuas%2B-%2BDedy%2B%2528102%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Salah satu rumah Melayu Pontianak yang terdapat di tepi Sungai Kapuas. Rumah ini dibangun  dari bahan kayu. FOTO Dedy Ari Asfar/Borneo Tribune.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi peneliti mengasyikkan. Banyak pengalaman lapangan yang menarik. Berikut ini cerita Wahyudin, seorang peneliti dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) Pontianak yang sedang melakukan riset tentang rumah Melayu di Pontianak untuk kepentingan tesisnya di Universitas Gajahmada, Yogyakarta. Wahyudin membagi cerita di depan anggota Club Menulis STAIN Pontianak, Oktober lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyudin memilih objek pengamatannya tentang rumah tinggal Melayu. Penelitiannya dipusatkan di Keraton Kadriah, Pontianak. &lt;br /&gt;“Mengapa keraton? Karena saya baca sejarah, embrio asal mula lokasi rumah tinggal itu dialokasikan sekitar keraton,” katanya. &lt;br /&gt;Saat itu, Sultan Syarif Abdurrahman membangun masjid, dia membangun istana dan juga membangun rumah tinggal. Adapun lahan dan lokasi pembangunan ditentukan oleh Sultan. &lt;br /&gt;Rumah tinggal yang dibangun ketika itu adalah rumah untuk tinggal Prajurit dari Tambelan, Banjar Sarasan, Bugis, dan sebagainya. Rumah itu dibangun di sekitar keraton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ke Lokasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum turun ke lapangan, Wahyudin mencari data sekunder, mencari peta dan buku-buku. &lt;br /&gt;“Peta saya cari di Tata Ruang, Kantor Terpadu Jalan Sutoyo. Setelah itu saya cari Bappeda,” ungkapnya. &lt;br /&gt;Selain di tempat tersebut, sebenarnya data juga bisa dicari di kantor Dinas Pariwisata Kota dan juga Provinsi. Termasuk juga di Perpustakaan di STAIN Pontianak dan di Untan Pontianak,&lt;br /&gt;Setelah itu, dia pergi ke kantor kecamatan. Dari kantor kecamatan, Wahyudin menuju kantor kelurahan Kampung Dalam, lokasi Keraton Pontianak.  &lt;br /&gt;Setelah bertemu Pak Lurah Kampung Dalam, Wahyudin menemui sumber lapangan. Saat pengumpulan  data lapangan Wahyudin didampingi seorang asisten lapangan bernama Juanda. Pendamping lapangan perlu karena akan memudahkan mendatangi sumber-sumber informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk objek penelitian tentang rumah Melayu, banyak hal bisa diambil. Tetapi, dalam penelitian ini Wahyudin hanya fokus pada bagaimana tata ruang rumah Melayu dan bagaimana fungsinya. &lt;br /&gt;Rumah Melayu yang didirikan dahulu kala, lingkungan Keraton Pontianak, terbagi dua bagian: ada ruang lelaki dan ruang perempuan. Terpisah. Ada yang dipisahkan oleh dinding yang kokoh dan ada juga yang dibatasi dengan tabir. &lt;br /&gt;“Kalau yang saya lihat ada yang tirai ada yang papan,” ungkapnya. &lt;br /&gt;Wahyudin menyebutkan, rumah Melayu memiliki dua pintu masuk, yaitu pintu depan dan pintu samping. &lt;br /&gt;Pintu samping dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa orang tua dahulu jika sedang menerima tamu tidak boleh diganggu. Penghuni rumah tak boleh masuk melalui pintu depan. Masuk rumah melalui pintu depan ketika orang tua sedang ada tamu adalah merupakan sesuatu yang tabu. Kalau dilakukan juga, pasti kena marah. Itulah pentingnya pintu samping.&lt;br /&gt;Pintu samping menghubungi ruang tengah atau dapur. &lt;br /&gt;Dilihat dari tata ruang, rumah Melayu memiliki apa yang disebut rumah induk,  ruang depan, dan rumah anak. Rumah anak maksudnya itu pelantaran, juga dapur. Dapur biasanya dibangun terpisah dari rumah induk. &lt;br /&gt;Bentuk rumah Melayu ada 3 jenis. Pertama, type limas, biasanya tingkatan rumah Melayu yang paling tinggi, untuk pejabat tinggi, keluarga keraton yang lebih tinggi. Model ini seperti model joglo walau persis tidak sama, atau hampir mirip dengan type limas di Palembang.&lt;br /&gt;Kedua, type potong kawat, berupa bentuk limas an, perisai, di bagian depan atapnya berbentuk perisai. Rumah type ini biasanya dimiliki oleh golongan strata kedua di bawah bangsawan.&lt;br /&gt;Ketiga, type potong godang. Type ini, atapnya kiri dan kanan lurus. Rumah type ini adalah rumah untuk kelas tiga.&lt;br /&gt;Orang tua dahulu membangun rumah didahului dengan upacara ritual. Tak boleh sembarangan. Ada proses yang harus diikuti. &lt;br /&gt;Rumah Melayu memiliki tiang seri. Tiang seri adalah tiang pertama yang harus ditancapkan di lokasi pembangunan rumah. Biasanya, saat penancapan tiang ini disusupi dengan batu permata, atau belian, dan tai’ besi, yaitu bekas bubutan besi. Di keempat penjuru rumah disisipi perhiasan. Hal ini penting dilakukan supaya rumah itu bersinar, tidak disusupi banyak hal. &lt;br /&gt;Ukuran tiang seri dipilih yang paling tua dan paling besar. Ada ukuran 18x18 atau 20x20. Tiang seri itu tidak bersambung. Dari bawah hingga ke atas langsung. “Dahulu mencari kayu besar dan panjang seperti itu tidak ada masalah. Sekarang, mungkin susah,” ujar Wahyudin.&lt;br /&gt;Posisinya tiang seri biasanya ditemukan di ruang tengah atau ruang tidur. &lt;br /&gt;Pada tiang seri ini juga ada yang menggantungkannya dengan jagung atau buntelan-buntelan. Ini untuk menjaga supaya rumah ini aman. Wahyudin juga memperoleh informasi bahwa setiap Jumat ada yang memasang setanggi di depan tiang seri. &lt;br /&gt;Selain tiang seri, Wahyudin menyebutkan ada istilah puadai, penyekat dinding yang digunakan untuk acara pernikahan. Kalau acara pernikahan sudah selesai, puadai itu diletakkan di tempat bulan madu. Puadai itu biasanya tidak ada pintu, hanya tirai. Tapi, sekarang ada modifikasi, pintunya dibuat dengan pintu geser. Bentuknya, ada yang bisa bongkar pasang, ada yang permanent. &lt;br /&gt;Puadai juga ada yang diberikan kaca, ada yang warna warni, dsb.&lt;br /&gt;Model jendela pada rumah Melayu, adalah model jendela lebar-lebar. Daun jendelanya ada dua, bisa dibuka dengan cara digeser atau didorong ke depan. &lt;br /&gt;Ruang-ruang tidur rumah Melayu kebanyakan, saling berhubungan. Kamar orang tua, anak lelaki, perempuan, bisa tembus. Antara satu kamar dengan kamar yang lain ada pintu. &lt;br /&gt;Kamar seperti itu dahulu, diikuti dengan norma yang ketat. Dahulu, kalau orang bukan muhrim tidak masuk ke kamar tidur. Batas yang boleh dimasuki adalah ruang tamu, ruang keluarga dan teras depan. Ruang tengah juga tidak boleh. Bersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1671045858594563799?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1671045858594563799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1671045858594563799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1671045858594563799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1671045858594563799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/kisah-wahyudin-meneliti-rumah-melayu.html' title='Kisah Wahyudin Meneliti Rumah Melayu Pontianak (1)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bxCl9gVE6HI/Ttn__OtaH6I/AAAAAAAAAMc/nwbTH6OLzww/s72-c/Ekspedisi%2BKapuas%2B-%2BDedy%2B%2528102%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6259592169954730357</id><published>2011-12-03T02:51:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T02:51:15.758-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><title type='text'>Kisah Wahyudin Meneliti Rumah Melayu (2)</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loteng. Di rumah Melayu lama juga ada para-para atau loteng. Para itu dibangun di atas ruang tidur orang tua. Pemilik rumah membuat tangga ke para itu. Bentuk tangga itu ada dua; ada yang permanent dan ada tangga yang bisa dilepas. &lt;br /&gt;Para-para fungsinya untuk menyimpan barang dapur di atas, selain itu, para-para juga digunakan untuk  gadis melihat lelaki yang sedang berkomunikasi dengan orang tua. Dari atas para-para itu mereka melihat langsung calonnya. Maklumlah, di zaman dahulu hubungan antar lelaki dan perempuan sangat dibatasi. Kerap kali juga, pernikahan di masa lalu dilakukan melalui jalur perjodohan. &lt;br /&gt;Selain itu, para juga penting sebagai tempat tidur cadangan jika ada tamu yang datang.&lt;br /&gt;Sekarang ini banyak parak yang sudah rusak. Bahannya rapuh. Air hujan langsung masuk. Parak menjadi rusak. &lt;br /&gt;Sekarang hanya sebagai gudang untuk menaruh barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sumur. Sumur juga menjadi bagian dari penelitian yang dilakukan Wahyudin. Dari penelitiannya,  beberapa rumah masih ada sumur. &lt;br /&gt;Katanya, dahulu, air sumur penduduk di sekitar keraton airnya sangat jernih, bisa diminum. Keadaan ini berbeda dibandingkan sekarang, airnya keruh karena banyak orang membuang sampah sembarangan. Sekarang ini di parit banyak jembatan dan banyak parit ditutup, sumber air itu sudah terkontaminasi dengan sampah. &lt;br /&gt;“Air sumur itu sekarang tidak bisa lagi diminum,” katanya. &lt;br /&gt;Sumur di beberapa rumah diberikan barau, kiri kanannya. Pemilik rumah memilih kayu belian karena dengan barau belian, airnya biasanya agak jernih. &lt;br /&gt;Di sumur itu juga ada anak tangga dan diberikan padar dengan tinggi 3 meter. &lt;br /&gt;Bentuk sumur ada dua, ada yang berbentuk persegi dan ada yang berbentuk bulat. &lt;br /&gt;Dari penelitiannya, ada rumah yang memiliki pembedaan sumur; lelaki di depan, dan perempuan di belakang. Sumur-sumur itu ditanam pohon, agar tidak kelihatan.  &lt;br /&gt;Di dekat sumur juga dibuat WC di dekat situ. &lt;br /&gt;Sumur menjadi tempat warga mandi dan juga wudhu. Sedangkan mencuci pakaian dilakukan di pelantaran. &lt;br /&gt;Di pelantaran itu dahulu ada tong-tong untuk menampung air berupa lingkaran, semacam kerucut. (Bersambung). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6259592169954730357?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6259592169954730357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6259592169954730357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6259592169954730357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6259592169954730357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/kisah-wahyudin-meneliti-rumah-melayu-2.html' title='Kisah Wahyudin Meneliti Rumah Melayu (2)'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7599463246225225470</id><published>2011-12-03T02:47:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T02:47:44.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Sertifikasi Guru – Dosen</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, saat seminar pendidikan Dewan Pendidikan Kalbar di Hotel Gajahmada Pontianak  membicarakan anggaran pendidikan, soal sertifikasi banyak mendapat sorotan. Kritikan muncul karena kata pengkritik: guru yang sudah disertifikasi tidak menunjukkan profesionalisme mereka, sertifikasi tidak berguna, malah sebaliknya, telah menimbulkan masalah baru berupa ketidakjujuran oknum guru yang disertifikasi, dan kecemburuan sejumlah guru yang belum disertifikasi. Kira-kira, maksud pengkritik itu, sebaiknya sertifikasi dihapus saja.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar aneka kritikan itu, Dr. Aswandi, Dekan FKIP Untan yang menjadi salah seorang pembicara, sempat bingkas. Dia minta sertifikasi guru jangan dipersoalkan. Tujuan pemerintah baik. Yang tidak baik itu oknumnya. Oleh sebab itu dia berpesan, bukan sertifikasi yang dihapus, tetapi oknumnya yang harus ditangani. &lt;br /&gt;Saya jadi teringat diskusi kami di sebuah ruang kuliah saat membicarakan soal sertifikasi. Persis sama. Malah, waktu itu para peserta mengungkapkan data-data menarik dari sekitar mereka. Soal kecemburuan, soal guru yang malas mengajar, soal pemalsuan dokumen, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya, apakah karena itu sertifikasi harus dihapus? Tak adakah manfaat sertifikasi? Apakah manfaat sertifikasi lebih kecil dari mudharatnya? &lt;br /&gt;Peserta  kompak, sertifikasi itu baik dan jangan dihapus. Ada manfaatnya. Setidaknya, kesejahteraan guru meningkat. &lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan Aswandi, peserta diskusi memahami bahwa sertifikasi merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Niatnya baik. Mutu guru harus ditingkatkan. Guru harus profesional. Guru harus berkembang. Guru harus lebih baik.  Sehingga dengan demikian potensi murid bisa dikembangkan maksimal. Bagaimanapun, sentral dari pelaksanaan pendidikan adalah pada guru. &lt;br /&gt;Lalu, soal adanya kecemburuan, sesungguhnya hal itu wajar. Mereka juga harus mengetahui bahwa sertifikasi masih sedang berjalan. Belum semuanya guru bisa disertifikasi karena ada alasannya.&lt;br /&gt;Soal kemudian ada satu dua atau ada sepuluh atau beberapa puluh guru yang tidak baik tentu bukan berarti keseluruhan program ini tidak baik. Setidaknya, melihat negara lain sudah menerapkan standar profesional ini dengan sertifikasi, jelaslah bahwa sertifikasi itu sangat baik. &lt;br /&gt;Saya bisa melihat kebaikan sertifikasi ketika melihat apa yang terjadi di kalangan dosen khususnya di STAIN Pontianak. Sejak program ini berjalan, gairah akademik lebih terasa. Apatah lagi ketika Pembantu Ketua I STAIN Pontianak mensosialisasi kebijakan pemerintah: ada evaluasi sertifikasi dalam waktu satu tahun satu kali. Evaluasi itu disebut evaluasi kinerja dosen mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi; yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Setiap dosen melaporkan pelaksanaan kegiatan itu selama satu tahun lalu: berapa jam mengajar dalam mata kuliah apa, berapa penelitian dilakukan dan berapa tulisan diterbitkan, serta bagaimana pengabdian mereka kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Evaluasi pertama dilakukan beberapa bulan lalu. Waktu itu, dosen cukup sibuk mengisi form evaluasi. Beberapa orang tersentak: kasak-kusuk mencari bahan. Beberapa lagi mengisi dengan mudah. Semuanya tergantung pelaksanaan kegiatan masing-masing.&lt;br /&gt;Intinya, mereka yang mencari bahan dengan susah payah mulai terpaksa harus lebih giat lagi meningkatkan kinerjanya sebagai dosen. Mereka yang dapat mencari bahan dengan mudah termotivasi untuk mempertahankan kinerjanya sebagai dosen. Karena itu, gairah akademiknya sangat terasa. &lt;br /&gt;Saya kira, jika momentum seperti ini terpelihara, jika evaluasi kinerja guru dilaksanakan secara simultan, benar dan serius, sudah pasti sertifikasi di tingkat guru juga akan membawa dampak yang baik seperti yang diharapkan. Coba saja tengok nanti, pasti bisa. (Ptk, 26 -10-2011)  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7599463246225225470?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7599463246225225470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7599463246225225470' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7599463246225225470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7599463246225225470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/sertifikasi-guru-dosen.html' title='Sertifikasi Guru – Dosen'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3040921423511308136</id><published>2011-12-03T02:41:00.001-08:00</published><updated>2011-12-03T02:44:05.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Club Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Menulis Buku Bersama</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu lalu saya bersama kawan-kawan di Club Menulis merancang menulis novel bersama. Kami merancang menulis novel bersama tentang “Flamboyan, Aloevera dan Cinta”. Novel ini berisi kisah cinta Amoi dan Andri dijembatani Kacong.  Kisah cinta beda suku dan beda agama. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersama-sama menyusun rencana, mendiskusikan sinopsisnya, dan menghimpun bagian-bagian cerita. Setiap orang, lebih dari 20 orang, akan menulis bagian-bagian itu secara bersamaan dalam minggu ini dan kemudian didiskusikan lagi.&lt;br /&gt;Saya berharap (dan yakin) percobaan ini berhasil dan beberapa saat ke depan bukunya bisa diluncurkan. Jika ini berhasil, maka penulisan ini akan menjadi model baru setelah sebelum ini di Club Menulis, kami berkutat pada antologi cerita pendek misalnya: Mimpi di Borneo; Cinta Sekufu, Sambas- Jakarta; Untuk Sebuah Mimpi, Saksikanlah Aku Berjilbab. Singkatnya, buku antologi seperti ini sudah banyak dilakukan orang.  &lt;br /&gt;Karena model ini baru, maka bagi saya, membuat rencana ini saja sudah menyenangkan, apalagi kelak melihat bukunya. &lt;br /&gt;Selain peristiwa itu, Kamis dua hari lalu saya juga menyaksikan sesuatu yang menyenangkan. Bahkan, sangat menyenangkan. Saya menerima sejumlah ‘buku novel’ karya mahasiswa Program Komunikasi STAIN Pontianak. &lt;br /&gt;Ihwal mereka menyerahkan novel pada saya karena kewajiban menulis dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Lima minggu lalu, saya meminta mereka membaca novel best seller semisal Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dll. Setelah itu, minggu berikutnya, saya meminta mereka menceritakan isi novel, menilai kelebihannya dan mengungkapkan inspirasi apa yang diperoleh dari karya bagus itu. &lt;br /&gt;Lalu, ujung-ujungnya saya meminta pendapat mereka: “Bagaimana kalau kita membuat seperti yang dibuat penulis terkenal itu? Bisa?” Tentu saja mereka menjawab bisa. &lt;br /&gt;Kami mulai menyusun rencana penulisan, jalan cerita. Setelah masing-masing memiliki rencana itu, minggu selanjutnya, kami menulis. Masing-masing dipatok antara 30-40 halaman. Dua, minggu kemudian karya itu dikumpulkan. Hasilnya? Wow, saya terperangah. Takjub. Kemampuan mereka menulis cukup bagus. Ide yang mereka tuangkan juga keren. Berkelas. Ada banyak kejutan. Orang tua, kakak, paman, atau siapapun orang terdekat mereka yang diwajibkan membaca dan memberi komentar terhadap novel kecil itu juga mengungkapkan kebanggaan. Keren!&lt;br /&gt;Saya pasti akan bertanya: “Bagaimana mereka bisa berkarya sedemikian hebat? Benarkah ini karya mereka?” jika tidak mengikuti prosesnya. Tetapi karena saya mengikuti sejak awal, saya tak perlu bertanya seperti itu. &lt;br /&gt;Dua peristiwa itu mengingatkan pada saya kata kunci: Menulis bersama. Menulis perlu teman. Pada peristiwa pertama, sebuah novel akan lahir dari kebersamaan anggota Club Menulis. Menulis bersama membuat kerja membuat karya menjadi lebih mudah. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada mahasiswa KPI itu. Membaca bersama, merencanakan bersama, menulis bersama, membuat mereka dapat berkarya dengan maksimal. &lt;br /&gt;Saya kira itulah kata kunci yang Club Menulis lakukan selama ini. Terima kasih teman-teman yang sudah menjadikan saya bagian dari tim menulis. (Ptk, 3-12-2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3040921423511308136?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3040921423511308136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3040921423511308136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3040921423511308136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3040921423511308136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/12/menulis-buku-bersama.html' title='Menulis Buku Bersama'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2518040895047022997</id><published>2011-08-08T00:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:50:49.831-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 1: Berkenalan dengan Penjual Pengkang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pt3v3O3s6_c/Tj-VUNW7x7I/AAAAAAAAAMU/yu-m0zeZEj0/s1600/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252876%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-pt3v3O3s6_c/Tj-VUNW7x7I/AAAAAAAAAMU/yu-m0zeZEj0/s320/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252876%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lisan, Aheng dan Nisa, tiga anak berbeda suku sedang bercanda di sela-sela kegiatan mereka menjual pengkang di Sungai Kakap. FOTO Dedy Ari Asfar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Cina asli, lho”.&lt;br /&gt;“Aku Cindai. Cina Dayak”.&lt;br /&gt;Lisan, Aheng, menyebutkan identitas mereka. Ini terjadi ketika kami berkenalan. Dan ketika kami tanyakan, “Kamu orang apa?”&lt;br /&gt;Lisan, adalah seorang remaja tanggung. Berusia 12 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 2 SMP di Sungai Kakap. &lt;br /&gt;Adapun Aheng, temannya, berusia 11 tahun, kelas 1 SMP di Kakap. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkenalan hari Minggu (17/7) kemarin. Saat itu saya bersama Dedy Ari Asfar dan sejumlah teman dari Club Menulis berkunjung sambil mencari data tentang orang Tionghoa di Kakap. Kami berkunjung ke Pekong Terapung yang terdapat di laut dekat muara Kakap. Kami juga berkunjung ke Vihara Dewa Laut Utara yang terletak di tengah pasar Sungai Kakap. &lt;br /&gt;Kami mendatangi vihara itulah setelah bertemu dengan pengurus vihara Pak Kui. Ketika sampai di tempat ibadah itu, saya dan Dedy memilih duduk di kursi yang tersedia di bagian depan, melihat-lihat orang sembayang. Saat itulah kemudian datang Lisan, Aheng dan Nisa. &lt;br /&gt;Mereka bertiga menjajakan pengkang. Makanan berbungkus daun pisang. Isinya pulut yang dikukus. Lalu kemudian dibakar. Saya mengenal pengkang sejak beberapa tahun lalu, saat singgah di rumah pengkang di Segedong, dalam perjalanan ke Pontianak. Jarak Segedong Pontianak lebih kurang 40 menit perjalanan dengan motor. Di sini ada rumah pengkang milik orang Tionghoa. &lt;br /&gt;Rumah pengkang ini ramai. Enak. Rumah inilah yang menyebabkan pengkang menjadi lebih dikenal belakangan ini di Pontianak.&lt;br /&gt;Lisan dengan bangga mengatakan dirinya sebagai Cina asli. Sedangkan Aheng nampak juga ceria mengaku diri sebagai cindai. Mereka menegaskan identitas itu beberapa kali. Apatah lagi, ada Nisa seorang anak perempuan yang mengaku diri sebagai Melayu. Nisa berumur 9 tahun. &lt;br /&gt;Dibandingkan Lisan dan Aheng, Nisa lebih banyak cerita. Nisa juga menceritakan mereka memiliki teman lain yang juga jualan pengkang. Namanya Iing, seorang anak perempuan berusia lebih kurang 12 tahun. “Iing malu,” katanya. &lt;br /&gt;Sebenarnya, Dedy yang pertama memanggil mereka saat melintas di depan vihara. Mereka menghampiri. &lt;br /&gt;“Beli bang?”&lt;br /&gt;Mereka menawarkan pengkang pada Dedy. &lt;br /&gt;“Siapa yang punya?”&lt;br /&gt;Nisa menjawab tangkas,  “Yang punya orang Cina. Yang buat orang Melayu”. &lt;br /&gt;Dedy mengeluarkan catatan. &lt;br /&gt;“Hah, ditulis lagi,” &lt;br /&gt;Nisa bergumam. Tertawa.&lt;br /&gt;“Lhoh?”&lt;br /&gt;“Iya tadi sudah ada yang tanya-tanya. Ditulis-tulis. Sekarang ditulis lagi,” katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Lisan dan Aheng membenarkan.  &lt;br /&gt;Dedy mulai bertanya harga. Dan dia membeli beberapa buah pengkang. Nisa mengatur pembelian. Masing-masing diambil secara rata. Lisan dan Aheng setuju.&lt;br /&gt;Pertanyaan Dedy dan saya lebih banyak ditujukan pada Lisan. Lisan sudah mulai terbiasa. Tidak malu seperti awal tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2518040895047022997?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2518040895047022997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2518040895047022997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2518040895047022997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2518040895047022997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-1-berkenalan.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 1: Berkenalan dengan Penjual Pengkang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pt3v3O3s6_c/Tj-VUNW7x7I/AAAAAAAAAMU/yu-m0zeZEj0/s72-c/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252876%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6620867663059886924</id><published>2011-08-08T00:43:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:44:46.954-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Kakap 2:  Senang Disebut Tionghoa</title><content type='html'>”&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-685E0L3x8ms/Tj-TOedtgwI/AAAAAAAAAME/zXPZuDs7EU4/s1600/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252896%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-685E0L3x8ms/Tj-TOedtgwI/AAAAAAAAAME/zXPZuDs7EU4/s320/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252896%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Vihara Budha Kutub Utara. &lt;br /&gt;Tempat sembayang penganut Buddha dan Khonghucu di Sungai Kakap. Vihara ini menjadi symbol identitas Tionghoa di wilayah ini. FOTO Dedy Ari Asfar/Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisan mengaku dia berjualan setiap hari Minggu. Hari Minggu dia bisa berjualan karena hari libur. Sedangkan pada hari lain dia bersekolah. Sekolah pulangnya siang. Setelah itu dia harus belajar. &lt;br /&gt;Pada hari Minggu, setiap berjualan, dia bisa menjual 100 buah pengkang. Jika dinilai dengan rupiah, dia mendapat Rp100 ribu. Tapi sebagian besar harus disetorkan kepada pemiliknya. Sebagai penjual dia hanya mendapat 15 persen, terhitung upah.&lt;br /&gt;“15 persen, ya, 15 ribu, doang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa menilai besar atau kecil Rp15 ribu itu. Namun, berapapun, Lisan menunjukkan diri sebagai anak yang berbakti, membantu orang tua. Lisan menunjukkan walau masih kecil dia bisa mencari uang. &lt;br /&gt;Lisan mengaku uang yang diperoleh adalah untuk membantu keluarga. Dia memiliki 4 saudara. Dia adalah anak ke-empat dari saudara itu. Ayahnya sudah tidak ada. Kini dia bersama emaknya. Mereka orang Tiocuw.&lt;br /&gt;Selain soal hitungan dan kemampuan Lisan, saya juga memberi catatan khusus pada kata “doang” yang diucapkannya. Doang itu tidak biasa saya dengar diucapkan oleh penutur Melayu di Pontianak. Doang adalah partikel sintaksis yang lazim dipakai penutur bahasa Melayu Jakarta. Di mana Lisan mendapatkannya? Apakah melalui TV atau melalui interaksi dia dengan penutur lain? &lt;br /&gt;Logat Melayu Lisan cukup baik. Sekalipun, beberapa aksen memperlihatkan perbedaan dibandingkan penutur yang lain. Mungkin karena dia banyak bergaul dengan penutur bahasa Melayu. Setidaknya, teman mainnya Nisa yang merupakan penurut bahasa Melayu; dan mungkin penutur Melayu lain di sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya amati pada Lisan, mengingatkan saya pada apa yang saya lihat pada orang Tionghoa lain di Kakap. &lt;br /&gt;The Dek Kui. Dia Ketua Vihara Buddha Kutub Utara (bukan Dewa Laut Utara, seperti yang ditulis kemarin). Kami menjumpai di rumahnya di ujung Jembatan Bintang Tujuh; jembatan yang melintang di atas Sungai Kakap. Jembatan ini menghubungkan Dusun Merpati dengan Pasar Sungai Kakap. &lt;br /&gt;Pak Kui lahir di Pontianak. Sewaktu kecil dia sekolah di sekolah Tionghoa di dekat Gertak I Pontianak. Namun tidak selesai. Setahun hampir selesai belajar, sekolah ditutup. Peristiwa G30 S PKI meletus. Menikah dengan orang Sungai Kakap. Pernikahan inilah yang mengantarkannya menjadi orang Sungai Kakap hari ini.&lt;br /&gt;Di Sungai Kakap menurutnya, jika di wilayah pasar 90 per sen itu orang Tionghoa. Komunitas ini memiliki tiga identifikasi. Ada yang menyebut ‘Cin’, ‘Cina’ dan ‘Tionghoa’.&lt;br /&gt;“Sebutan Tionghoa agak baru saya dengar. Satu-satu pejabat yang pakai. Camat, polisi,” katanya.&lt;br /&gt;Sebutan Cin lebih sering digunakan. Begitu juga dengan sebutan Cina. Sebutan Cina pasar lebih banyak dipakai  kalangan muda. &lt;br /&gt;Ketika ditanya dari tiga sebutan itu, mana yang lebih disukai, Pak Kui mengatakan dia lebih suka sebutan Tionghoa.&lt;br /&gt;“Disebut Tionghoa, agak senang dikit,” katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6620867663059886924?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6620867663059886924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6620867663059886924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6620867663059886924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6620867663059886924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-kakap-2-senang-disebut.html' title='Perjalanan ke Kakap 2:  Senang Disebut Tionghoa'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-685E0L3x8ms/Tj-TOedtgwI/AAAAAAAAAME/zXPZuDs7EU4/s72-c/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252896%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-444371932920596813</id><published>2011-08-08T00:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:38:11.396-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 5: Pikong Laut</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Pak Salim mengingatkan saya pada cerita sebelumnya yang dituturkan Nisa. Ketika ditanya, siapa yang punya pengkang yang mereka jual, Nisa mengatakan pengkang yang mereka jual milik orang Cina.&lt;br /&gt;“Tapi yang buatnya orang Islam,” katanya.&lt;br /&gt;Jika cerita ini disambung maka akan muncul kenyataan baru: yang menjual pengkang itu orang Tionghoa dan orang Melayu, dan yang makan pengkang itu orang Tionghoa, Melayu, mungkin juga orang Madura atau siapalah. &lt;span class="fullpost"&gt;   Sebagian dari rombongan Club Menulis saat perjalanan ke &lt;br /&gt;Kenyataan ini merupakan suatu fakta yang penting dicatat; sebuah fakta yang menunjukkan bahwa relasi antar etnik terbangun rapat di sini. Sering kali batas etnik tidak dapat dilihat dalam konteks ekonomi dan sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menemukan fakta menarik soal relasi ini ketika mengunjungi “pikong laut”. Saya memberikan penanda untuk istilah ini karena istilah ini diberikan oleh motoris kami Pak Sono’ untuk menyebut vihara yang berada di tengah laut itu. &lt;br /&gt;Pak Sono’orang Madura tinggal di Tanjung Saleh. Hari-hari dia melayani penumpang jurusan Tanjung Saleh – Sungai Kakap dengan motor airnya. Nama sebenarnya Marsu’i. Tapi jangan cari nama itu di pasar Sungai Kakap. Mungkin tidak akan ketemu orangnya. Tapi sayangnya, saya lupa bertanya dari mana nama Sono’ itu diperolehnya.  &lt;br /&gt; Pak Sono’ membawa kami dengan motor air ke pikong itu. &lt;br /&gt;Pikong itu adalah tempat sembayang orang Tao. Dibangun sebagian orang Tionghoa agar mereka dapat sembayang di sana.&lt;br /&gt;Penganut Tao dapat dengan leluasa sembayang di pikong ini menurut kepercayaan mereka. Sementara, di Vihara Budha Kutub Utara, ritual tertentu tidak bisa dilaksanakan penganut Tao.&lt;br /&gt;Setelah pikong ini dibangun, penganut Tao mengunjunginya untuk sembayang sekali sekala. &lt;br /&gt;Tetapi, justru yang mengunjungi pikong ini secara rutin orang bukan Tao. &lt;br /&gt;Hari itu, selain kami yang berkunjung ke sini, sejumlah orang Pontianak juga terlihat di sana. Kami berkunjung untuk melihat, sambil melakukan studi, mereka berkunjung untuk memancing. &lt;br /&gt;“Setiap hari Minggu pasti ada yang mancing di sini,” kata Pak Sono’.&lt;br /&gt;Memancing dari atas pikong memang asyik. Atap pikong melindungi pemancing dari hujan dan panas. Teratak, kaki lima pikong juga luas, memungkinkan pemancing duduk, tiduran, sambil menunggu pancing yang dilemparkan ke air. Tersedia juga wc yang tidak terkunci dan bisa dipakai setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-444371932920596813?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/444371932920596813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=444371932920596813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/444371932920596813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/444371932920596813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-5-pikong.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 5: Pikong Laut'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3922103673894726152</id><published>2011-08-08T00:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:34:03.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 4: Kental Nuansa Tionghoa</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-25iCVkB45QM/Tj-RQnrYg5I/AAAAAAAAAL8/5dFrxj3sbq8/s1600/Cina%2BKakap%2BBaru%2B-%2BDedy%2B%252883%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-25iCVkB45QM/Tj-RQnrYg5I/AAAAAAAAAL8/5dFrxj3sbq8/s320/Cina%2BKakap%2BBaru%2B-%2BDedy%2B%252883%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Simbol Tao di ujung jembatan Bintang Tujuh. Rumah-rumah penduduk di kampung ini memperlihatkan ciri Tionghoa yang mencolok. FOTO Yusriadi/Borneo Tribune.&lt;br /&gt;Kental Nuansa Tionghoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami – saya dan Dedy Ari Asfar melintas di jembatan semen di antara rerumahan penduduk di Dusun Merpati. &lt;br /&gt;Di ujung jembatan terlihat sebuah plang bertulis nama dusun itu. Plang itu nampaknya masih baru. &lt;br /&gt;Selain plang itu, sebuah plang lain yang mencolok terdapat di kanan jalan. Symbol Tao. Simbol itu terpajang di depan sebuah rumah menghala ke arah jembatan. &lt;br /&gt;Jika dahulu, sebelum sedikit-sedikit belajar tentang orang Cina, mungkin saya akan berpikir di sana ada tempat latihan silat. Atau mungkin saya berpikir plang itu menjadi panangkal hantu dan menjadi pelindung pemilik rumah. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, begitulah yang saya tangkap kesannya ketika melihat film kungfu, Hongkong yang diputar di bioskop. &lt;br /&gt;Lebih mengesankan, ketika kami mendengar dentuman musik Cina. Mungkin nyanyian itu dalam bahasa Mandarin. Mendengar nada dan lirik ini membuat suasana Dusun Merpati terkesan kenal ciri Cinanya. &lt;br /&gt;Suasana ini berbeda sekali dibandingkan dengan apa yang disaksikan di Pasar Sungai Kakap, tempat kami singgah -- yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari jembatan Bintang Tujuh. &lt;br /&gt;Dentuman musik, symbol Tao, dan tulisan-tulisan Cina yang dipasang di atas pintu menambah kesan kentalnya identitas Tionghoa di sini. Boleh dikatakan, inilah wilayah pecinan di Sungai Kakap. &lt;br /&gt;Kami melihat seorang lelaki berusia 40 tahun sedang berada di ruang tamu memasang batu pada jala kecil. Kami menghampirinya, bertanya alamat rumah Pak Kui. &lt;br /&gt;Dia menunjukkan sebuah rumah yang pintunya juga terbuka, yang sebelumnya sudah kami lewati. &lt;br /&gt;Sikap yang ramah ketika menunjukkan di mana rumah Pak Kui, membuat saya ingin bertanya lebih banyak tentang kehidupan dan pandangan dia. Namun, saya khawatir Pak Kui ada kesibukan lain dan kami tak bisa mendapatkan data darinya. Pak Kui penting karena dia ketua Vihara yang akan kami kunjungi bersama rombongan. &lt;br /&gt;Rumah Pak Kui – atau lebih tepatnya ruko, berdinding semen. Pintunya terbuat dari kayu, bisa dilipat. Ada engselnya. Sementara terasnya juga dari semen. Rumah itu berlantai dua. Saya kira bagian atas menjadi tempat wallet.  &lt;br /&gt;Rumah Pak Kui berbeda dengan kebanyakan rumah warga di sini. Sebagian besar rumah warga di sini terdiri dari bahan kayu. Beberapa di antaranya berdinding papan. Lantai terasnya juga dari pakai papan. Kebanyakan rumah beratap seng. Tetapi ada beberapa lagi beratap daun nipah. &lt;br /&gt;Rasanya sebagian rumah itu sama seperti rumah orang Cina di Jongkong yang saya lihat di tahun 1980-an. &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3922103673894726152?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3922103673894726152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3922103673894726152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3922103673894726152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3922103673894726152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-4-kental.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 4: Kental Nuansa Tionghoa'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-25iCVkB45QM/Tj-RQnrYg5I/AAAAAAAAAL8/5dFrxj3sbq8/s72-c/Cina%2BKakap%2BBaru%2B-%2BDedy%2B%252883%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5400592008990577271</id><published>2011-08-08T00:30:00.001-07:00</published><updated>2011-08-08T00:30:56.794-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 3: Cerita Pak Piling</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang sedikit berbeda diceritakan Gui Bah Yem. Dia berusia 50 tahun. Masih terhitung sepupu dengan The Dek Kui. Ibu  The Dek Kui bermarga Gui juga. &lt;br /&gt;“Dia punya Mamak, aku punya tante,” akunya. &lt;br /&gt;Gui Bah Yem tidak menjadi pengurus vihara. Dia juga bukan pemuka masyarakat. Dia orang biasa. Dahulu pekerjaannya nelayan. Namun, tiga tahun terakhir ini dia bekerja di kebun sawit di Darit. &lt;span class="fullpost"&gt; Perjalanan ke Kakap 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kebun memang tidak banyak. Sehari diupah Rp34 ribu termasuk makan. Namun, bagi dia jumlah sudah cukup lumayan. Dia dan istrinya juga bekerja. Karena itu satu hari bisa memperoleh Rp68 ribu. Sedangkan untuk makan mereka berbekal dari rumah. Jadi lebih hemat. &lt;br /&gt;“Hasilnya juga lebih pasti”.&lt;br /&gt;Dia membandingkan ketika masih aktif di laut. Hasil melaut tidak tentu. Kadang bisa lebih banyak, tapi kadang tidak. Hasil dari laut susah diperkirakan. Malah kadang kala dia tidak bisa melaut karena cuaca. Karena tidak melaut maka tak ada jugalah hasilnya.&lt;br /&gt;Mengapa memilih Darit? &lt;br /&gt;“Ikut keluarga”.&lt;br /&gt;Keluarga yang dimaksudkan Gui Bah Yem adalah keluarga istrinya. Istrinya orang Darat, katanya. Sebutan lain untuk orang Dayak. &lt;br /&gt;Ketika ditanya bahasa apa yang dipakai orang Darat itu, ternyata bahasa Banyadu’. Bahasa ini lebih dekat dengan bahasa Ahe. Malah ada yang mengelompokkan kedua bahasa ini sama, dalam kelompok Kanayatn. Perbedaannya sedikit saja. Tidak ada banyak hambatan untuk memahami antara Ahe dan Banyadu’.  &lt;br /&gt;Gui Bah Yem sekarang hidup dalam budaya Banyadu’. Sehari-hari bahasa itulah yang dipakai. &lt;br /&gt;Hidup dalam budaya Banyadu’ membuat identitasnya bertambah. Di antara orang Banyadu’ dia dipanggil Pak Piling.&lt;br /&gt;“Itu nama anak saya,” katanya.&lt;br /&gt;Orang Kanayatn memang memiliki cara unik dalam system sapaan. Seseorang memiliki banyak nama. Nama ketika masih anak-anak hingga memiliki anak berbeda. Berbeda juga nanti bila sudah mempunya cucu. Seseorang akan selalu dipanggil mengikuti nama anak pertama. Agak janggal atau bahkan dianggap kurang sopan memanggil nama asli seorang lelaki atau seorang perempuan yang sudah memiliki anak.&lt;br /&gt;Ketika ditanya, apa pendapat tentang kata Tionghoa? Gui Bah Yem mengaku tidak pernah mendengar kata itu. &lt;br /&gt;Dia kenal kata ‘Cina’ atau ‘Cin’. Dia diidentifikasi sebagai orang Cin. Tak pernah diidentifikasi sebagai orang Tionghoa. &lt;br /&gt;“Orang tanya saya, kamu orang Cin ya. Cina juga pernah. Gitu yak”.&lt;br /&gt;Gui Bah Yem merasakan Cin atau Cina sama saja. &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5400592008990577271?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5400592008990577271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5400592008990577271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5400592008990577271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5400592008990577271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-3-cerita-pak.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 3: Cerita Pak Piling'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2751186353431414532</id><published>2011-08-08T00:29:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:29:20.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 6: Apapun, Tetap Orang Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-81QdR8m-f5M/Tj-QGGn-oxI/AAAAAAAAAL0/GF2vXXZhJyg/s1600/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252821%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-81QdR8m-f5M/Tj-QGGn-oxI/AAAAAAAAAL0/GF2vXXZhJyg/s320/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252821%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pekong Laut. Salah satu tempat sembayang orang Tao di Sungai Kakap. Foto Dedy Ari Asfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Lim Kiang Kim menilai apapun sebutan yang diberikan orang untuk mereka, semua bagus. Menurutnya, sebutan Cina, Cin, Tionghoa, sama saja. &lt;br /&gt;“Aku tidak marah. Bagi aku ndak persoalan, Cina, Cin”. &lt;br /&gt;Bahkan dia memberitahu ada sebutan lain untuk komunitas ini. &lt;br /&gt;“Caines”.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Caines yang dikatakan Pak Lim Kiang Kim pasti dari bahasa Inggris Chinese, bisa dirujuk kepada orang Cina.&lt;br /&gt;Saya sangat tertarik mendengar ‘Caines’ diucapkan Pak Lim. Dari mana dia memperolehnya? Apakah dia bisa bahasa Inggris?&lt;br /&gt;“Aku tak pandai omong. Sikit-sikit pernah dengar” . &lt;br /&gt;Dia merendah.&lt;br /&gt;Pak Lim Kiang Kim pernah bersekolah. Tahun 1960-an. Sekolah pagi masuk jam 8, jam 12 pulang. Kemudian jam 1 masuk lagi, jam 5 pulang. &lt;br /&gt;Namun dia tidak tamat. Sekolahnya tutup. Padahal sekolah hampir tamat waktu itu. &lt;br /&gt;Walau tak tamat namun ilmu di bangku sekolah cukup untuk bekal hidup. Lim Kiang Kim dapat membaca tulisan aksara Cina. Ketika saya minta menuliskan namanya, dia menulisnya dalam tulisan itu. Padahal sebenarnya saya ingin dia menulis namanya dalam tulisan latin, biar tak salah tulis. Tapi melihat tulisan Cinanya, saya kagum sekali. Garis-garis yang dibuatnya rapi. Dia menulis dengan cepat. &lt;br /&gt;Pengalamannya juga luas. Dia pernah menjadi pengusaha ikan. Dahulu dia memiliki kapal penangkapan ikan yang beroperasi di perairan sekitar Sungai Kakap. Sekarang, seiring pertambahan usia, dia berhenti. Di rumah saja. &lt;br /&gt;“Sekarang sudah pensiun,” Dia bercanda.&lt;br /&gt;Tapi usaha melautnya tidak berlanjut. Anak-anaknya tidak ada yang menjadi pelanjut usahanya di laut. Tiga anaknya di Jakarta. Berdagang di sana.  &lt;br /&gt;Meski sudah pensiun, namun saya masih menangkap kerinduannya pada laut. Menurutnya, laut sekarang masih menjanjikan. Sekarang, sekalipun tangkapan tidak sebanyak dahulu namun harga ikan sangat mahal, pembeli banyak. Sedangkan dahulu, banyak ikan yang dapat ditangkap, tapi susah mencari pembelinya. Karena itu, harga ikan murah, tak banyak hasil yang mereka peroleh. &lt;br /&gt;Pak Lim Kiang Kim optimis. Semangatnya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mengenai identitas, apapun sebutannya, kata Pak Lim Kiang Kim, mereka tetaplah orang Indonesia keturunan Cina, keturunan Tionghoa. &lt;br /&gt;Tapi dia mengakui ada di kalangan mereka yang merasa hina disebut Cina. &lt;br /&gt;Lalu mengapa dia tidak merasa tersinggung? Katanya, kata Cina, memang ada. &lt;br /&gt;“Cobalah lihat ada banyak barang ‘Made In China’,” katanya.&lt;br /&gt;Berkenalan dengan Pak Lim Kiang Kim mengingatkan saya pada ungkapan kenalan saya beranama Dr. Taufik Tanasaldy.   Dia orang Mempawah yang sekarang mengajar di sebuah universitas di Tasmania, Australia. &lt;br /&gt;Dia orang Cina yang merasa heran dan janggal ketika saya menggunakan istilah Tionghoa padanya. Taufik yang merantau meninggalkan Kalbar sejak tahun 1980-an akhir tidak terbiasa dengan perubahan ini. &lt;br /&gt;Saya kira, intinya bukan cin, cina atau tionghoa. Tetapi bagaimana persepsi yang ada pada orang ketika menyebut komunitas ini. &lt;br /&gt;“Jika kami bilang “Dasar Cina!!!” tentulah orang akan marah. Sama seperti kalau kamu bilang “Dasar Melayu!!! Pasti orang Melayu tak mau”.&lt;br /&gt;Agaknya,bagi banyak orang disebut Cina sekalipun, jika nadanya baik, maksudnya baik, orang juga tidak akan marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2751186353431414532?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2751186353431414532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2751186353431414532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2751186353431414532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2751186353431414532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-6-apapun.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 6: Apapun, Tetap Orang Indonesia'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-81QdR8m-f5M/Tj-QGGn-oxI/AAAAAAAAAL0/GF2vXXZhJyg/s72-c/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252821%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2293665208594918581</id><published>2011-08-08T00:24:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:24:42.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Club Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Perjalanan ke Sungai Kakap 7 (Habis): Relasi Tionghoa – Melayu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-C4nxnxMGiKM/Tj-OykYOkEI/AAAAAAAAALs/eTtiJ0oM9w4/s1600/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252861%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-C4nxnxMGiKM/Tj-OykYOkEI/AAAAAAAAALs/eTtiJ0oM9w4/s320/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252861%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rombongan Club Menulis STAIN Pontianak dalam perjalanan pulang dari Pekong Terapung di Sungai Kakap. FOTO Yusriadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang berjalan melintas di atas jalan bersemen di depan pemukiman penduduk di Dusun Merpati, Sungai Kakap. Saya melihat beberapa warga sedang duduk di depan rumah mereka. Beberapa lagi melakukan kesibukan masing-masing. &lt;br /&gt;Lalu lalang di jalan berukuran 1,5 meter ini juga cukup ramai. Ada pejalan kaki –seperti kami. Ada gerobak yang didorong-dorong. Ada sepeda motor.  &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana tambah ramai karena agaknya sedang ada hajatan orang Melayu (Bugis?) di ujung jalan ini. Saya menduga demikian karena orang yang melintas berpakaian ‘pesta’. Lelaki memakai baju batik atau baju berlengan panjang, ada beberapa yang memakai kopiah. Sedangkan perempuan berkerudung mengenakan baju kebaya atau batik terusan.  &lt;br /&gt;Gerobak sesekali melintas membawa barang. Inilah angkutan umum di sini. Sebab jalan yang sempit dan jembatan, tidak mungkin dilewati kendaraan roda empat. &lt;br /&gt;Di sebuah rumah bertingkat, saya melihat ada tumpukan jalan. Di dalam ruangan – karena pintu terbuka, dua orang lelaki sedang menangani jala itu. Keduanya duduk berhadapan. &lt;br /&gt;Saya masuk ke dalam rumah itu. Lelaki yang sedang bekerja di bagian ujung lebih tua sedangkan lelaki yang membelakangi saya lebih muda. Belakangan saya tahu, lelaki muda itu bernama Muhammadi Aditia dan lelaki yang tua bernama Salem. &lt;br /&gt;Saya menyapa mereka. Dan minta izin melihat apa yang sedang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;“Sekalian tadi jalan di sini, Pak,”&lt;br /&gt;“Saya kira orang perikanan,” kata Pak Salem. &lt;br /&gt;Katanya sebelum ini mereka pernah didatangi orang dari Perikanan. &lt;br /&gt;Kedua lelaki itu sedang gopong. Ngopong maksudnya memasang pelampung dan juga memasang batu pukat. Pukat yang mereka opong ukurannya besar. Mata pukatnya lebih sejengkal saya. Tali yang dipakai juga besar. Hampir sebesar kabel untuk cas hape.  Mereka menyebutnya benang 120. &lt;br /&gt;Mengapa besar? &lt;br /&gt;“Ini pukat hiu,” katanya.&lt;br /&gt;Tentu saja saya terkejut. Apakah di sekitar muara Kakap atau di laut Kalbar ada banyak ikan hiu sehingga perlu pukat khusus? Ternyata tidak. Kapal yang memasang pukat hiu beroperasi di laut lepas, Selat Karimata. &lt;br /&gt;Mereka juga menceritakan ikan hiu dijual dagingnya dan diambil siripnya. Siripnya cukup mahal. &lt;br /&gt;Semula saya menduga mereka sedang mengopung pukat sendiri. Rupanya pukat yang mereka opong itu milik orang lain. “Pak Apek,” kata Muhamad. Mereka hanya mengambil upah. Satu pukat, mereka mendapat Rp100 ribu. &lt;br /&gt;Pak Atet adalah pengusaha. Dia termasuk tokoh Tionghoa di Sungai Kakap. Ketika kami mencari beliau di rumahnya, kami hanya bertemu dengan anaknya yang juga pemilik bengkel motor di dekat dermaga Sungai Kakap. Pak Apek sendiri tidak berhasil ditemui. &lt;br /&gt;Menurut mereka, pengusaha kapal semuanya orang Tionghoa. Orang Tionghoa memiliki modal. Modal untuk membeli kapal, modal itu membeli peralatan tangkap. Selain itu, untuk melaut modal yang diperlukan juga besar. &lt;br /&gt;“Kebanyakan orang kitalah bikin,” kata Salem.&lt;br /&gt;Saya menangkap yang dimaksud dengan orang kita adalah orang Melayu atau orang bukan Tionghoa. &lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2293665208594918581?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2293665208594918581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2293665208594918581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2293665208594918581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2293665208594918581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/perjalanan-ke-sungai-kakap-7-habis.html' title='Perjalanan ke Sungai Kakap 7 (Habis): Relasi Tionghoa – Melayu'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-C4nxnxMGiKM/Tj-OykYOkEI/AAAAAAAAALs/eTtiJ0oM9w4/s72-c/Cina%2BKakap%2B-%2BDedy%2B%252861%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6473045634083055951</id><published>2011-08-08T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:16:21.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapuas Hulu'/><title type='text'>Tarian Sopir Taksi</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang taksi ini merupakan lanjutan cerita sebelumnya. Setelah lewat Sanggau, kami dipindahkan dari taksi plat kuning ke taksi plat hitam. Taksi plat kuning dibawa anak muda itu, kembali lagi ke Putussibau. Taksi resmi ini membawa penumpang taksi plat hitam. Begitu juga sebaliknya, taksi plat hitam membawa penumpang taksi plat kuning. Tukaran.&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penumpang sempat kesal melihat pertukaran itu. Apalagi sebelumnya, sopir muda itu hanya mengatakan: &lt;br /&gt;“Bapak pindah mobil ya. Mobil ini kembali ke Putussibau,” katanya.&lt;br /&gt;Sewaktu diberitahu, saya sempat menduga kami pindah mobil, digabungkan dengan penumpang mobil yang satunya lagi. &lt;br /&gt;“Wah, bakal numpuk ni,” kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;Tetapi rupanya saya salah. Sebab, ternyata penumpang mobil plat hitam itu tujuan Putussibau. Tidak satu arah dengan perjalanan kami. Kami ke Pontianak. Alhamdulillah. &lt;br /&gt;Ketika naik, saya malah merasa sangat lega karena rasanya mobil ini lebih lapang. Sopir yang membawa juga sudah agak tua. Berpengalaman. Dia membawa mobil dengan perlahan. Dengan begitu guncangan tidak kuat. &lt;br /&gt;Tetapi, rupanya, ada sisi lemahnya juga. Sopir tua ini fisiknya tidak sekuat anak muda – atau mungkin karena factor sudah larut malam?  &lt;br /&gt;Sepanjang jalan, musik yang mengalun adalah musik lama. Musik yang membangkitkan kenangan. Lama-lama mengantuk jadinya. Namun, saya tidak bisa tidur dengan lelap karena mendapat posisi duduk di tengah. Kaki bisa melunjur, namun, sulitnya, saya tak ada pegangan. &lt;br /&gt;Karena tak bisa tidur enak, saya jadi lebih banyak bangun. Saya bisa melihat ada yang menarik di dalam taksi itu. Sopir menari. &lt;br /&gt;Ya, saya kira sopir menari. Tangan kirinya bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Gerakan mengipas, memutarkan tangan, dan seterusnya.  &lt;br /&gt;Apakah sopir seniman? Tidak. Tangan sopir menari selain untuk mengatasi pegal, juga dimaksudkan untuk mengatasi rasa mengantuk. Ada gerakan, ada aktivitas, dengan begitu serangan kantuk bisa diatasi. &lt;br /&gt;Tetapi, malangnya, tarian itu tidak bisa juga menghindarinya dari serangan kantuk. Tetap saja. &lt;br /&gt;Lalu, ketika sampai di gerbang Sanggau, mobil berhenti. Sopir turun. Saya kira dia hanya buang air. Tetapi tidak. Setelah itu dia duduk di depan kemudi. “Tidur dulu,” katanya.&lt;br /&gt;Wah… &lt;br /&gt;Saya melihat waktu menunjukkan pulu 2 lewat. Memang jam tidur. Pak sopir, yang sudah berumur itu pasti sangat mengantuk. Saya sempat heran bagaimana dia mau menjadi sopir – pekerjaan yang jelas sangat melelahkan. Apalagi katanya, itu mobil sendiri. Pasti lebih enak jam segini berada di kasur empuk, tertidur pulas. Mengagumkan dia mau membawa mobil melayani penumpang yang keenakan tidur. &lt;br /&gt;Sekitar satu jam kemudian dia bangun. Perjalanan dilanjutkan. Tapi, juga tidak lama. Ketika lebih kurang 2 jam perjalanan, mobil berhenti lagi dan sopir tidur lagi. &lt;br /&gt;Rasanya ingin bertanya mengapa dia masih tetap mau membawa mobil sedangkan fisiknya tidak lagi kuat. Ingin juga bertanya mengapa tidak ada sopir cadangan, untuk mengantisipasi kemungkinan sopir kelelahan. Ingin juga protes, sebab saya ingin cepat sampai di Pontianak. &lt;br /&gt;Tetapi, semua itu disimpan. Melihat keadaan orang tua itu yang kelelahan, membuat saya tidak sampai hati mengajukan soalan itu. Kasihan sungguh. Mungkin pemerintah yang menyoal mereka kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6473045634083055951?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6473045634083055951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6473045634083055951' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6473045634083055951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6473045634083055951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/tarian-sopir-taksi.html' title='Tarian Sopir Taksi'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1378855723044588576</id><published>2011-08-08T00:13:00.001-07:00</published><updated>2011-08-08T00:13:42.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sungai Kakap'/><title type='text'>Udang Merah</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, lebih satu bulan lalu, saya dan Dedy Ari Asfar mengunjungi Sungai Kakap. Kami mencari informasi tentang pekong laut dan bagaimana cara sampai di sana. &lt;br /&gt;Saat berada di dermaga Sungai Kakap, kami bertemu dengan seorang perempuan berumur 40-an. Semula kami mengira dia penumpang motor air yang akan berangkat dari dermaga Sungai Kakap. Tetapi, rupanya bukan. Dia sedang menunggu barang dagangannya yang dikirim dengan motor air dari sebuah kampung di tepi laut.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menduga kami orang CU. Saya tidak menggali informasi bagaimana dia menduga begitu. Kami mendiamkan saja. Lantas akhirnya jadilah kami sebagai orang CU dalam anggapan dia.&lt;br /&gt;Perempuan itu berbicara dengan semangat tentang usaha kecil. Maklum, dia seorang pedagang. Dia pernah mengikuti pelatihan di Kubu Raya. Pelatihan pengembangan usaha. &lt;br /&gt;Ujung cerita, dia menawarkan kami barang dagangannya.&lt;br /&gt;“Saya ada udang. Masih bagus”. &lt;br /&gt;“Udang saya tidak pakai pewarna”.&lt;br /&gt;“Saya jual lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pasar”.&lt;br /&gt;Kami mengikutinya menuju sebuah karung berisi udang yang diletakkan di depan sebuah counter hape. Dia membuka ikatannya dan mengambil segenggam udang. Udang ebi. &lt;br /&gt;“Ni lihat, masih segar, tidak pakai pewarna”.&lt;br /&gt; Dedy mendekati. Sepertinya dia membenarkan apa yang dikatakan perempuan itu.&lt;br /&gt;“Kami beli satu kilo”.&lt;br /&gt;“Saya satu kilo”.&lt;br /&gt;Dia menimbang sebanyak yang kami minta. Agak repot juga karena dia sendiri tidak membawa kiloan. Dia juga tidak ada kantong. Dia menumpang pada pedagang di situ. &lt;br /&gt;Selesai menimbang, saya memburunya dengan pertanyaan soal pewarna udang. &lt;br /&gt;Menurutnya, sebagian nelayan memberi pewarna pada udang. Karena itu udang yang dijual jadi merah. Tetapi, dia tidak bisa memastikan pewarna apa yang dipakai. Apakah jenis jingge – pewarna makanan, atau pewarna jenis lain.&lt;br /&gt;“Tidak semua orang yang mengerti. Tapi kalau pernah ikut pelatihan sih pasti tahu”.&lt;br /&gt;“Mengapa diberi pewarna?”&lt;br /&gt;“Ya, biar baguslah. Biar menarik”.&lt;br /&gt;Penjelasan dia mengingatkan saya pada udang-udang ebi yang dijual di pasar. Memang sering kali terlihat udang yang dijual berwarna agak merah. Tapi, saya tidak dapat memastikan apakah udang itu diberi pewarna atau tidak.  &lt;br /&gt;Tapi saya merasa beruntung berkenalan dengan perempuan itu, beruntung karena mendapat informasi tentang praktik pengolahan udang ebi oleh sebagian masyarakat.&lt;br /&gt;Informasi ini mengajarkan saya untuk lebih hati-hati membeli udang di kemudian hari. Mungkin informasi ini penting bagi orang lain yang suka membeli udang ebi. Saya kira, pemerintah juga penting mengetahui hal ini sehingga akhirnya sesekali juga mengecek kembali makanan yang dijual di pasar: memastikan apa yang dijual aman bagi kesehatan jangka panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1378855723044588576?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1378855723044588576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1378855723044588576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1378855723044588576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1378855723044588576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/udang-merah.html' title='Udang Merah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8651854869869148058</id><published>2011-08-08T00:10:00.001-07:00</published><updated>2011-08-08T00:10:31.352-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Mengapa Jamaah Semakin Berkurang?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal bulan puasa masjid selalu penuh. Lalu, perlahan-lahan jamaah berkurang. Sehingga akhirnya tinggal satu dua shaf saja orang yang salat Taraweh. &lt;br /&gt;Itulah antara lain hal yang disampaikan seorang penceramah di sebuah masjid di Ambawang, pada malam pertama taraweh. Malam itu, seorang penceramah, yang rupanya ketua masjid, mengingatkan soal pentingnya salat taraweh di malam bulan Ramadan. Dia sempat mengingatkan jamaah soal kebiasaan sebagian orang yang hanya datang ke masjid di awal malam bulan puasa, dan setelah itu tak muncul-muncul lagi. Kebiasaan panas-panas tahi ayam. Sebuah perumpamaan untuk menggambarkan orang yang hanya semangat pada masa awal. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Penceramah perlu mengingatkan karena malam itu masjid tersebut penuh. Bahkan sejumlah orang yang datang setelah azan berkumandang, salat di luar. Di halaman. Masjid yang kecil itu tidak bisa menampung jumlah orang yang datang malam itu. Penceramah pasti berharap agar semangat beribadah terus terpelihara; sehingga dari awal hingga akhir Ramadan, masjid tetap penuh terisi jamaah salat Taraweh. &lt;br /&gt;Merenung apa yang disampaikan penceramah, ingatan saya melayang pada suasana yang sering dijumpai di bulan Ramadan. Pada malam awal masjid sumpek. Lalu pada malam berikutnya, berkurang sedikit demi sedikit sehingga akhirnya yang tersisa hanya satu dua saf saja. &lt;br /&gt;Rupanya, sekalipun sudah diingatkan, pada malam kedua dan ketiga, hal yang sudah diperingatkan penceramah terjadi. Jamaah masjid mulai berkurang. Tidak ada lagi jamaah yang salat Taraweh di luar. Ruang di dalam masih kosong. Saf terakhir lelaki, mulai ada celahnya.   &lt;br /&gt;Mengapa begitu? Mengapa jamaah berkurang? Mengapa orang seperti tidak ingat sedikit pun peringatan yang disampaikan penceramah malam pertama? Sebegitu cepatkan berlalu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan? &lt;br /&gt;Rasanya, setelah penceramah mengingatkan hal itu saya ingin juga mengingatkan penceramah: Mengapa sikap jamaah begitu? Mengapa jamaah seolah tidak pernah mendengar nasehat penceramah? &lt;br /&gt;Pernahkah penceramah bertanya pada jamaah mengapa mereka tak bisa bertahan lama di masjid untuk salat taraweh? Pernahkah penceramah berupaya mencari cara untuk mengingatkan, selain mengingatkan agar datang ke masjid? &lt;br /&gt;Mungkin baik juga sesekali para penceramah, pengurus masjid, menimbang-nimbang hal itu. Sehingga pada akhirnya mereka menemukan cara bagaimana membuat jamaah kerasan dan terikat hatinya pada masjid. Jika sudah begitu mungkin tak perlu repot penceramah mengingatkan hal yang sama dari tahun ke tahun. Mungkin bisalah dia memilih tema lain yang lebih menarik, daripada sekadang ‘ngomel dan menyindir’ saat berceramah di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8651854869869148058?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8651854869869148058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8651854869869148058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8651854869869148058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8651854869869148058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/mengapa-jamaah-semakin-berkurang.html' title='Mengapa Jamaah Semakin Berkurang?'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3852020250314907653</id><published>2011-08-08T00:07:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:07:21.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Salat Taraweh Pendek dan Panjang</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam lalu saya salat Taraweh di sebuah masjid tak jauh dari kantor, di kawasan Jalan Purnama Pontianak. &lt;br /&gt;Di masjid itu, salat tarawehnya 8 rakaat, plus witir 3 rakaat langsung. Ada kultum antara Isya dan Taraweh. Jam 20.10 selesai. &lt;br /&gt;Saya terkesan pada penceramah. Seorang lelaki tua, mungkin usianya 70 tahun. Suaranya datar, perlahan. Dia berceramah tentang Takwa berdasarkan tafsiran dari ayat perintah puasa dalam surat Al-Baqarah ayat 183.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak ada retorika seperti yang biasa saya saksikan pada penceramah kondang. Tak ada lucu atau lawakan yang mengundang tawa. &lt;br /&gt;Alami. Jauh dari kesan dibuat-buat. Jauh dari kesan omong doang. Rasanya, apa yang beliau sampaikan menukik masuk ke dalam jiwa. Rasanya, apa yang beliau sampaikan mengena. &lt;br /&gt;Jamaah yang ramai memenuhi masjid tak terdengar ribut. Syahdu. Tepekur mendengar pesan-pesan sang penceramah. &lt;br /&gt;Saya seperti kembali ke masa lalu. Saat mendengar seorang ustadz, yang dipanggil Ustadz Haji di Jongkong belasan tahun lalu. Saat itu, rasanya apa yang beliau sampaikan tak pernah dibantah. Semuanya kebenaran. &lt;br /&gt;Sementara sekarang ini, sering kali saya mendengar protes orang terhadap penceramah. Ada protes terhadap penceramah yang tampil retorik, melawak atau menasehati jamaah panjang lebar. Kadang juga ada bantahan terhadap materi yang disampaikan.  &lt;br /&gt;Saya juga terkesan pada jamaah masjid malam itu. Ramai. Saat saya masuk saya melihat masjid hampir penuh. &lt;br /&gt;Ternyata, jamaah bertahan sampai salat berakhir. Saya tahu ada berapa orang yang pulang. Namun, rasanya mereka yang pulang hanya satu dua saja. Tidak signifikan, tidak ketara.  &lt;br /&gt;Soal jamaah ini, saya teringat pada apa yang saya lihat di sebuah masjid yang terletak tak jauh dari tempat saya tinggal sekarang ini. Jamaah masjid sampai malam keempat, selalu ramai. Jamaah yang putus salatnya juga tidak banyak. Saya tidak melihat perubahan yang signifikan jumlah jamaah pada awal salat dan pada akhir. &lt;br /&gt;“Hebat”.&lt;br /&gt;Mengapa? Mengapa masjid-masjid ini masih penuh? Mengapa orang tidak keburu pulang? &lt;br /&gt;Saya bertanya begitu karena saya pernah salat di sebuah masjid di Pontianak Barat. Jamaahnya hanya banyak di awal saja. Memasuki witir semakin sedikit. Perubahannya signifikan. &lt;br /&gt;Mereka pulang awal. Sebab, sebagian tak mampu menyelesaikan salat karena terlalu panjang. 20 rakaat Taraweh, plus 2+1 witir. &lt;br /&gt;Pengurus masjid menyadari hal itu. Menurutnya soal perubahan sudah dibicarakan di internal pengurus. Namun, ada seorang yang menolak. Malah yang menolak itu mengatakan tidak akan ada perubahan jumlah rakaat salat Taraweh selagi dia masih hidup. &lt;br /&gt;Soal orang tak kuat berlama-lama salat Taraweh menurutnya tidak pantas didengar. Ada malas. &lt;br /&gt; “Malas taraweh, panjang”.&lt;br /&gt;“Capek benar ikut salat, ngebut”.&lt;br /&gt;Di dalam malas beribadah itu, ada Setannya. Mereka itu, kalau lama-lama di masjid badannya panas meriang, ingin cepat-cepat pulang. Hati tidak terikat di masjid. Bak kata: datang ke masjid paling akhir. Pulang dari masjid paling awal. &lt;br /&gt;Memang, seharusnya orang tidak begitu. Salat ya salat. Berat ringan itu keharusan mereka. Sebagai hamba mereka harus patuh pada perintah Allah. Allah memerintahkan begitu. Mereka harus ikut. &lt;br /&gt;Sebagai orang Islam mereka tak sepatutnya menawar kewajiban yang Allah berikan. Jalani saja sebagai bentuk iman. Anggap saja Ramadan sebagai bulan penggemblengan iman dan ibadah. Semua satu paket dengan puasa. &lt;br /&gt;Tapi, begitulah keadaan manusia. Begitulah keadaan orang kita. Tidak semua orang insyaf. Tidak semua imannya hebat. Masih banyak orang yang perlu pembinaan. Masih banyak orang yang perlu diikat hatinya. Masih banyak orang yang perlu dibujuk-bujuk, diajak-ajak, agar mau, agar insyaf, agar menjadi orang yang beriman. &lt;br /&gt;Bahkan, kalau mau jujur, sebenarnya jumlah orang yang seperti ini lebih banyak. Orang yang memerlukan bujukan, sentuhan, pengertian, jauh lebih banyak daripada orang yang imannya sudah mapan. Lalu, apakah mereka ini dibiarkan? Rasanya sebaiknya tidak. Baiklah jika orang yang bijak mengalah. Mengalah untuk kebaikan pasti selalu baik hasilnya, dibandingkan menang untuk menang-menangan. Agaknya. (*)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3852020250314907653?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3852020250314907653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3852020250314907653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3852020250314907653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3852020250314907653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/salat-taraweh-pendek-dan-panjang.html' title='Salat Taraweh Pendek dan Panjang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2853540555701291760</id><published>2011-08-08T00:02:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T00:02:17.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><title type='text'>Anak-anak di Masjid</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu mengeluh pada saya tentang betapa ributnya anak-anak salat Taraweh. Anak itu menjadikan masjid tempat mereka bermain, tanpa peduli bahwa di depan mereka sejumlah orang sedang salat.&lt;br /&gt;“Kita jadi ndak bisa khusu’”&lt;br /&gt;“Lebih baik salat di rumah jak”.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu menyampaikan penyesalannya terhadap sikap pengurus masjid yang tidak menegur anak-anak yang ribut itu.&lt;br /&gt;Ya, saya mengiyakan apa yang disampaikan oleh ibu itu. Saya juga mengalami hal yang sama. Mengeluh karena anak-anak ributnya minta ampun. Auzubillah.&lt;br /&gt;Malah malam kemarin ada anak yang menangis karena dikerjain oleh teman-temannya. Suara tangisannya cukup ‘merdu’ dibandingkan suara salawat petugas taraweh. &lt;br /&gt;Anak-anak ribut ketika di masjid karena mereka tidak meresapi tujuan datang ke masjid. Tujuan mereka memang bukan untuk ibadah. Malah mungkin mereka juga belum mengerti apa itu ibadah. Kesadaran mereka belum tumbuh. &lt;br /&gt;Anak-anak itu datang ke masjid awalnya karena mereka diwajibkan guru sekolah. Anak itu membawa buku ibadah. Buku itu harus mereka isi sesuai dengan judul dan kesimpulan kuliah tujuh menit (kultum) di masjid. Setelah itu, ada tanda tangan atau paraf penceramah atau imam. &lt;br /&gt;Karena buku itu, anak-anak terpaksa harus datang setiap malam ke masjid. Mereka juga harus berbondong-bondong memburu petugas salat untuk mendapatkan tanda tangan. &lt;br /&gt;Saya ingat, sewaktu menjadi guru honor di Madrasah Tsanawiyah Riam Panjang, pernah memberikan anak-anak tugas begini. Anak-anak diwajibkan memiliki buku ibadah yang berisi catatan kultum dan tanda tangan imam. Sewaktu saya siswa sekolah dasar dahulu, guru agama juga pernah memberikan tugas sama untuk salat Jumat. Kami, sebagai siswa, wajib membawa buku tulis, dan kemudian mencatat siapa khatib, apa judul khutbah dan apa kesimpulannya. Lalu, setelah Jumat usai, kami mendatangi khatib untuk meminta tanda tangan. [Saya jadi ingat kami mentertawakan seorang khatib yang kikuk ketika dia diserbu ramai-ramai. Waktu tanda tangannya, dia gemetaran. Tanda tangannya juga beda antara satu buku dengan buku yang lain].&lt;br /&gt;Ada nilai positif dari kewajiban mengisi buku ibadah ini. Mau tidak mau kami harus ke masjid. Kami harus berlatih beribadah sesuai dengan agama kami. Ini menjadi pembiasaan. Setidak-tidaknya, seburuk-buruknya kami, masih pernah menjadi orang yang rutin mengunjungi masjid. Semoga dosa terampuni. &lt;br /&gt;Tetapi, dalam kejadian yang dikeluhkan seorang ibu dan juga keluhan saya itu, memang seharusnya pengurus masjid juga membantu proses pendidikan di masjid. Anak-anak tidak dibiarkan berbuat sesuka hati. Tidak dibiarkan ribut. Anak-anak harus dikenalkan pada aturan bahwa jika di rumah ibadah, harus bersikap ‘alim’; tidak ribut. Keributan dapat mengganggu jamaah lainnya.&lt;br /&gt;Mungkin, guru yang memberikan tugas juga sesekali harus melakukan kordinasi dengan pengurus masjid dan kemudian sesekali juga ikut mengawasi bagaimana sikap dan polah murid mereka di luar sekolah. Biasanya, seorang murid akan segan pada guru mereka. &lt;br /&gt;Tentu saja, di sini masih ada tanggung jawab orang tua untuk ikut mengawasi dan mengingatkan anak mereka. Takkan pula anak sorang dibiarkan ribut di masjid???? Takkan pula dia tak dapat mendengar kicau bilau suara anak-anak sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2853540555701291760?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2853540555701291760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2853540555701291760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2853540555701291760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2853540555701291760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/08/anak-anak-di-masjid.html' title='Anak-anak di Masjid'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5080740419026222029</id><published>2011-06-05T02:53:00.003-07:00</published><updated>2011-06-05T02:53:00.730-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapuas Hulu'/><title type='text'>Sukiman dan Foto Lama</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukiman. Dia bukan orang terkenal. Dia, lelaki berumur 40 tahun hidup nun jauh di hulu sungai Embau, tepatnya di Nanga Lotuh, Hulu Gurung, Kapuas Hulu. &lt;br /&gt;Namun begitu dia dikenal banyak orang. Pekerjaannya sebagai penjual kerupuk dan ikan asin keliling 7 kecamatan di sekitar selatan Kapuas Hulu membuatnya banyak kontak dengan orang. Dan, itulah yang membuat orang tahu padanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia teman sekolah saya di MAS Jongkong tahun 1986-1989. Kami cukup akrab. Sering kali, pulang pergi dari Jongkong Tanjung ke sekolah di Jongkong Kanan, kami naik sampan bersama. Kami pernah karam bersama karena sampan yang kami naik terlalu sarat dan pada saat yang sama gelombang dari perahu speed datang menerpa. &lt;br /&gt;Kami belajar bersama di sekolah dan kadang juga di rumah, karena rumah tempat kami tinggal sewaktu di Jongkong, berdekatan, hanya dipisahkan oleh lapangan volly. Sesekali, kami bermain bersama. &lt;br /&gt;Kenangan kami berdua tidak hanya dipatri dalam ingatan. Kami memiliki foto bersama. Ada foto kami berdua berdiri hitam putih dengan pakaian seragam sekolah. Ada juga foto ramai-ramai ketika kami ujian di sekolah MAS Jongkong, dan juga ketika kami bertamasya ke Bukit Semujan. Ini yang mematri kenangan kami.&lt;br /&gt;Saya teringat kenangan itu karena beberapa hari lalu melihat dokumentasi itu. Sukiman yang saya temui di rumahnya di Nanga Lotuh, masih menyimpannya. Dokumentasi yang saya kira sudah tidak ada lagi. Foto yang saya simpan hilang. &lt;br /&gt;Selain foto itu, ada beberapa lagi foto lain yang disimpan Sukiman. Sayangnya foto-foto itu tidak utuh lagi. Bagian tepi foto sudah blur dimakan angin. Akibatnya, wajah yang di bagian tepi tak dapat dilihat lagi. Termasuk  wajah saya.  &lt;br /&gt; “Padahal saya sudah menyimpannya baik-baik. Dalam lemari,” kata Sukiman. Ada nada kecewa.&lt;br /&gt;Saya memaklumi kekecewaan itu. Bukan salah Sukiman. Mungkin salah cuaca di sekitar yang lembab. Karena itu, sekalipun penyimpannnya rapat, namun, tetap saja ada bagian foto yang ‘dimakan angin’. Itulah yang biasa terjadi. &lt;br /&gt;Bukan hanya Sukiman. Bukan hanya saya. Banyak orang lain yang mengalami hal itu. Banyak orang yang kehilangan ikatan ingatan karena cuaca. Bahkan, Kalbar juga banyak kehilangan  masa lalu karena dokumen aus ‘dimakan angin’, lenyap bersama perjalanan waktu.&lt;br /&gt;Kita menjadi tidak berdaya karenanya. Apatah lagi kita tidak bisa membalikkan masa lalu ke masa kini untuk membuatkan dokumentasi seperti itu. &lt;br /&gt;Inilah yang kemudian membuat ingatan kita pada masa lalu hilang. Masa lalu tidak dapat dikenang dengan baik. Bagi masa sekarang, masa lalu seperti itu bak tragedi.  &lt;br /&gt;Ingat tragedi itu saya jadi ingat rencana sebuah organisasi membangun museum di sebuah daerah. Rencana itu tidak mulus. Ada yang menolak karena menganggap tak ada gunanya, masih banyak hal lain yang perlu. Mereka tidak melihat manfaatnya. &lt;br /&gt;Lalu akhirnya sampai hari ini gagasan menyimpan dokumentasi itu tidak terwujud hingga hari ini. Mungkin tidak akan pernah terwujud sampai semua kekayaan hari ini dan masa lalu yang akan disimpan di sana musnah. Lalu, kita semua menjadi seakan-akan tidak punya masa lalu; kecuali yang bisa diingat. Lalu, seakan-akan kita tidak punya masa lalu yang dipatrikan. Duh, tragisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5080740419026222029?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5080740419026222029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5080740419026222029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5080740419026222029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5080740419026222029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/sukiman-dan-foto-lama.html' title='Sukiman dan Foto Lama'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7236286340969799645</id><published>2011-06-05T02:50:00.001-07:00</published><updated>2011-06-05T02:50:49.020-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Kesabaran Sopir</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering teringat pada dua pengalaman hari itu, di pertengahan bulan lalu. Ya, hari itu saya naik bis dari Putussibau ke Pontianak. Bis berangkat dari Putussibau sekitar pukul 3 sore. Sepatutnya, bis itu sudah sampai di kampung saya – tempat saya menunggu, pukul 6an. Namun, sekitar pukul 7 baru bis itu sampai. &lt;br /&gt;Dari kampung ke Pontianak lebih kurang 17 jam. Kami sampai di Pontianak hampir pukul 12 siang, esok harinya. Saat azan Zuhur berkumandang, bis baru merayap di tol Kapuas. Padahal seharusnya, jam 7 pagi bis itu sudah sampai di Pontianak.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sampai lama? Sopir membawanya tidak kencang. Relatif pelan. Saya kira, sopir tidak membawa laju karena memperhatikan keselamatan penumpang. Lagi, dari Putussibau ke Pontianak dia membawa sendiri, tidak ada cadangan. Hal yang satu ini jelas membuat saya berdoa dalam hati: semoga sopir tidak tiba-tiba terlelap. Doa itu terucap karena melihat sang sopir sudah berusia. Mungkin 50 tahun. Jangankan dia yang 50-an, orang muda pilih-pilih yang tahan tidak tidur 24 jam. Biasanya, bis berhenti dan sopir tidur sebentar. &lt;br /&gt;Kok bisa sopir kuat begitu? Entah fisiknya memang kuat atau dia menggunakan obat kuat, jamu atau miuman. Saya tidak menanyakan hal itu. Saya memuji fisik dia. &lt;br /&gt;Saya juga memuji kesabaran dia membawa bis dengan pelan. Memuji dia karena sekalipun sudah berumur masih dapat bertahan di atas bis. Memuji dia karena dapat menghabiskan waktu lebih panjang di sana. Memuji dia yang berhasil membawa bis dengan selamat sampai tujuan. &lt;br /&gt;Bahkan kemudian, ketika saya mendengar cerita dari teman penumpang yang duduk di dekat sopir hari itu, saya memberikan pujian tambahan untuk sopir bis ini. Bis ternyata remnya tidak bagus. Hebat sekali dia bisa membawa bis yang remnya tidak bagus dari Putussibau ke Pontianak. Jalannya berkelok-kelok, turun naik. Nyalinya luar biasa. Kalau tidak bernyali besar pasti dia sudah singgah di bengkel membetulkannya. Semoga dia tidak berpikir kalau kecelakaan adalah hal biasa. Toh semuanya sudah diasuransikan? &lt;br /&gt;Hebat juga dia tidak terdengar mengeluhkan masalah bis sepanjang perjalanan. Tak ada sumpah serapahnya karena rem tidak berfungsi. Tidak ada kemarahannya pada bos yang tidak menyediakan bis yang baik untuk perjalanan jauh. Jika dia mengeluh pasti penumpang akan bekalot. &lt;br /&gt;Ternyata tak hanya sopir bis yang layak dipuji hari itu. Saya juga memuji sopir taksi. Kejadiannya, saat melintas di Jalan Trans Kalimantan; di bagian jalan berlumpur mungkin 4 atau 5 kilometer jauh ujung aspal Lintang Batang. Ada sebuah taksi melaju dari arah Tayan mengambil jalan kanan. &lt;br /&gt;Pada saat yang sama ada taksi dari arah Pontianak melintas di jalur sama. &lt;br /&gt;Taksi dari arah Tayan mengambil jalur kanan, jalur orang lain, hendak menyalib bis yang kami tumpangi. &lt;br /&gt;Kecepatan memang tidak tinggi karena jalan berlumpur. &lt;br /&gt;Kira-kira 5 meter lagi saya bayangkan ada tabrakan. Ternyata tidak. Taksi di arah Pontianak hanya mengerem, dan dalam jarak yang dekat taksi dari arah Tayan banting ke kanan. &lt;br /&gt;Sopir taksi dari arah Pontianak membuka kaca mobil bagian depan dengan mengacungkan tangannya. Ngajak betinju? Tidak. Justru dia mengacungkan jempol.&lt;br /&gt;Dia tidak memperlihatkan kemarahannya. Dia senyum. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada ada bunyi klakson. &lt;br /&gt;Orangnya sabar sekali. &lt;br /&gt;Saya menarik nafas. Alangkah indahnya jika semua orang bisa menunjukkan kesabaran seperti itu. (Borneo Tribune, 28/5/2011)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7236286340969799645?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7236286340969799645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7236286340969799645' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7236286340969799645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7236286340969799645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/kesabaran-sopir.html' title='Kesabaran Sopir'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3258944043869256604</id><published>2011-06-05T02:48:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T02:48:12.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Setelah Tamu Agung Pulang</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Kalbar menjadi tuan rumah, menyambut kedatangan SBY, tamu agung, seorang presiden dari ratusan juta orang Indonesia. Sejauh ini, tuan rumah sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin agar sang tamu merasa dimuliakan dan selalu dihormati. &lt;br /&gt;Tapi, ingat kedatangan SBY, membuat saya juga jadi teringat dahulu ketika mendengar ada teman pejabat level menengah di Pemprov Kalbar yang bercerita bahwa mereka sering menyambut kedatangan wakil presiden. Kali pertama kedatangan disambut dengan bangga. Maklum bangsa sendiri yang menjadi wakil penguasa. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari sebelum sang wakil datang, orang daerah berbenah. Jalan-jalan yang akan dilalui dibenahi. Tak boleh ada lubang di jalan yang akan mengganggu kenyamanan sang tamu daerah itu. Servisnya luar biasa. Hatta, sang wakil pun datang disambut seperti pahlawan.  &lt;br /&gt;Tetapi setelah kunjungan tersebut, tak ada perubahan signifikan didapat. Sang wakil tidak datang membawa habuan. Tak juga ada berkah. Program dipinta tak juga terkabul. Proyek Negara yang ada tak juga terciprat. Kalbar tetap saja tidak merasa sebagai daerah prioritas, sekalipun sudah memberikan prioritas dalam menyambut orang besar dari pusat.  &lt;br /&gt;Lalu terjadilah paradoknya. Kunjungan pertama dimulai dengan bangga, kunjungan berikut berganti kecewa. Tak ada rasa seperti rasa pertama.&lt;br /&gt;Sebaliknya, malah atas nama alasan protokoler kedatangan wakil penguasa itu menjadi beban daerah. Keuangan daerah tersedot untuk pelayanan protokoler standar. Permintaan layanan dipenuhi setengah hati. &lt;br /&gt;“Ngabis-ngabiskan anggaran, jak,”&lt;br /&gt;Kasihan sungguh, ketika mendengar tuan rumah mengeluh. Tak sampai hati ketika mengetahui bahwa setelah tamu pulang tuan rumah ngomel berkepanjangan karena repot memberikan pelayanan. Capek tenaga, banyak pula keluar biaya. Sementara, untungnya bagi mereka tidak ada. &lt;br /&gt;Apakah kunjungan tamu agung kali ini akan seperti itu juga? Semoga tidak. Jika bisa mengingatkan saya harap dapat mengingatkan agar kita menyambut kedatangan tamu agung dengan ikhlas. Toh, ada dalam keyakinan kita bahwa menyambut tamu dengan baik – malah sebaik-baiknya, merupakan kewajiban. &lt;br /&gt;Tamu harus dihormati dan dihargai bukan karena tergantung pada berapa besar tamu itu memberikan habuan dan berkah kepada kita. Tamu harus dihormati dan dihargai karena memang itu etika kita dan itu juga kewajiban sebagian dari kita.&lt;br /&gt;Saya bergumam dalam hati. &lt;br /&gt;“Masak sih, tamu yang berduit banyak dan berkuasa disambut lebih dibandingkan tamu yang miskin dan tak punya pengaruh?!”&lt;br /&gt;“Masak sih, kita jadi orang materialistis seperti itu?” &lt;br /&gt;Semoga tidak. &lt;br /&gt;Tapi, seorang teman saya bilang, tamu juga harus tahu diri. Jika datang, janganlah datang kosong. Apalagi memiliki uang dan pengaruh. &lt;br /&gt;“Bak kata tak bantu beli beras.  Tengok-tengoklah garam dan micin”. &lt;br /&gt;Begitukah? Entahlah! &lt;br /&gt;Selamat menyambut kedatangan SBY. (Borneo Tribune, 30/5/2011)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3258944043869256604?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3258944043869256604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3258944043869256604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3258944043869256604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3258944043869256604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/setelah-tamu-agung-pulang.html' title='Setelah Tamu Agung Pulang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7056336920545323029</id><published>2011-06-05T02:45:00.001-07:00</published><updated>2011-06-05T02:45:56.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kalbar'/><title type='text'>Di antara Puing-puing Prasejarah Kalbar</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebulan terakhir ini saya berada di antara puing-puing pra-sejarah Kalbar. “Tugas” sebagai anggota tim penulis buku Sejarah Melayu di Kalbar membuat saya ‘tersesat’ ke sana. &lt;br /&gt;Tetapi, saya menikmati ketersesatan itu. Sangat menikmati. Apalagi ada banyak kejutan yang saya jumpai di sana. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sangat banyak kejutan yang saya rasakan dalam ketersesatan itu. Banyak hal yang tidak pernah saya dengar, tidak pernah saya ketahui,  tidak pernah saya bayangkan, saya temui dalam ketersesatan itu. Banyak hal yang hanya saya dengar sepintas lalu, bisa saya dalami dan saya simak saat berada di antara puing-puing itu. Semua itu membangkitkan kekaguman yang luar biasa. &lt;br /&gt;Di antara puing pra-sejarah Kalbar yang saya jumpai, laporan penelitian arkeologi yang dilakukan Prof. Dr. Nik Hassan Shuhaimi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan rekannya Bambang Budi Utomo dari Pusat Arkeologi Nasional Indonesia, merupakan laporan yang paling menarik disebutkan di sini. &lt;br /&gt;Saya terkesima pada laporan tentang ada temuan prasasti Batu Sampai di dekat Sanggau. Ternyata, penelitian tentang batu itu sudah sejak sebelum Indonesia merdeka dilakukan. Ternyata sudah banyak ahli arkeologi dunia yang datang ke sana. Ternyata, batu itu penting sekali dalam konteks untuk menunjukkan adanya peradaban masa lalu masyarakat Kalbar di abad ke 5 (7?). &lt;br /&gt;Saya juga terkejut ketika melihat laporan tentang prasasti di Batu Pait, Nanga Mahap di hulu Sekadau. Ada juga laporan tentang arca yang ditemukan di Nanga Sepauk, dekat Sintang. Ada dilaporan lukisan gua batu di Sedahan, Sukadana, yang dilakukan orang pra-sejarah. Selain itu, dilaporkan juga temuan-temuan berupa tembikar, keramik, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Saya sempat membayangkan temuan ini akan memeranjatkan orang yang hanya bisa berpikir bahwa orang Kalbar masa lalu itu terbelakang dan tertinggal: hanya bisa hidup di atas pohon, hanya ‘berpakaian’ menutup aurat, hanya memakan buah-buahan dan binatang atau ikan. &lt;br /&gt;Lha, bagaimana mungkin orang tertinggal bisa meninggalkan peradaban seperti itu? &lt;br /&gt;Sayangnya, temuan ini belum banyak diketahui, atau kalaupun diketahui, belum diketahui dengan baik. Masih samar-samar. Publikasi yang terbatas telah menjadi kendala  bagi banyak orang untuk mengetahui apa yang ditemukan oleh kalangan peneliti. Sayangnya para pengambil kebijakan di sekitar kita belum peduli pada soal seperti ini. Memprihatinkan!&lt;br /&gt;Di tengah keprihatinan ini, tiba-tiba saya teringat pujian saya untuk Bu Juniar Purba dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalbar yang mengajak saya bergabung dalam tim ini; sehingga akhirnya saya mendapatkan kejutan yang luar biasa itu.&lt;br /&gt;Saya memuji beliau yang berpikir untuk menulis sejarah Melayu di Kalbar, sementara banyak orang Melayu – khususnya intelektual Melayu belum berpikir tentang itu.  Saya memuji beliau mengambil langkah memprakarsai kepenulisan itu, sedangkan orang Melayu sendiri tidak melakukannya. &lt;br /&gt;Karena itu kira, saya, orang Melayu Kalbar, dan orang Kalbar semua, semestinya berterima kasih pada Bu Juniar karena apa yang beliau prakarsai akan menjadi sesuatu yang monumental untuk mematri ingatan generasi yang akan datang tentang sejarah Kalbar. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7056336920545323029?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7056336920545323029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7056336920545323029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7056336920545323029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7056336920545323029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/di-antara-puing-puing-prasejarah-kalbar.html' title='Di antara Puing-puing Prasejarah Kalbar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-811216071002000975</id><published>2011-06-05T02:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T02:44:22.517-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kalbar'/><title type='text'>Sastra Lisan di Kalbar</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, beberapa hari lalu, saya tenggelam dalam laporan penelitian Professor Hanapi Dollah, seorang ilmuan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tentang sastra lisan di Kalimantan Barat. &lt;br /&gt;Laporan yang dimuat di Jurnal Rumpun Melayu-Polenisia, Edisi 16, Oktober 2002 mengingatkan saya banyak hal yang terjadi belasan tahun lalu. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan itu Prof. Hanapi memaparkan temuan penelitiannya terhadap sastra lisan yang dilakukan di Kalimantan Barat tahun 1997-1999. Penelitian itu dilakukannya bersama beberapa orang lagi. Mereka yang terlibat dalam kegiatan itu antara lain Hadi Kifli (sekarang dia pengusaha sembako yang sukses), Prof. James T. Collins (pembimbing saya), Jo (pemuda asal Daup) dan Profesor Chairil Effendy  (Untan Pontianak). Saya juga bagian dari tim itu. Kami berangkat dari Pontianak dalam kurungan kabut tebal dan mencemaskan. Kami sampai di Daup ketika sore menjelang setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan, sambung menyambung.&lt;br /&gt;Membaca synopsis Kisah Pelanduk, Kisah Mak Miskin, Puteri Jadi Ruwai, Puteri Kijang, Burung Klukuk, Pak Saloi, Pak Kiding, Si Morong, Nek Kuntan, Nek Gergasi, Mak Sariande, dll, yang saya buat itu, saya jadi teringat bagaimana waktu itu kami mengumpulkan data lapangan. Kami menjumpai para pencerita yang ramah.  &lt;br /&gt;Betapa menakjubkan ketika kami dapat menemui begitu banyak orang yang pandai bertutur cerita lisan. Sesuatu yang tidak dibayangkannya waktu datang. &lt;br /&gt;Cerita yang kami kumpulkan itu kami simpan. Saya, karena bertugas menangani data yang terkumpul di lapangan, menyimpannya di dalam disket. Saya juga memrinnya. Tetapi, kemana benda itu sekarang? Disket sudah berkarat dan berjamur di sana sini. Print outnya juga entah ada di mana. Menyesal? Tentu saja. Sebab saya yakin, jika saya ke Daup sekarang, saya tidak akan menemukan kekayaan itu lagi. &lt;br /&gt;Waktu sudah berlalu. Masa sudah berputar. Saya yakin, sebagian besar penutur mungkin sudah meninggal. Saya yakin sebagian mereka karena termakan usia sudah tidak ‘sepacak’ dahulu bercerita. &lt;br /&gt;Saya yakin koleksi cerita mereka hilang karena mereka mungkin  lupa. &lt;br /&gt;Situasi lingkungan sosial sekarang sudah tidak seperti dahulu lagi. Daup sekarang sudah berbeda. Daup sekarang kabarnya sudah terbuka. Sudah ada motor yang bisa masuk. Listrik juga sudah. &lt;br /&gt;Keadaan pertengahan tahun 1990 malah sebaliknya. Daup masih tertutup. &lt;br /&gt;Waktu itu listrik Negara belum ada. Jalan darat hanya jalan setapak. Jalan di depan rumah hanya jalan tembok. Pengangkutan cuma sampan dan motor air. Hanya Babinsa yang menginterogasi saya dan Prof. Hanapi di lokasi yang punya perahu fiber dan speed. (Saya selalu terkenang pada Pak Babinsa yang bertanya macam-macamm berulang-ulang, dan lama; sehingga Prof. Hanapi ingin cepat pulang dari lapangan). &lt;br /&gt;Perubahan lingkungan social ini pasti berpengaruh pada koleksi sastra lisan masyarakat. Mereka kehilangan. Kita juga kehilangan. Tetapi, mau apa lagi. Mungkin ini sudah takdir. Hanya kita sedikit beruntung karena synopsis yang saya buat itu sudah diterbitkan oleh Prof. Hanapi dan kita bisa menjejaki sesuatu yang hilang dari terbitan itu – seperti yang saya lakukan malam itu.* (Borneo Tribune, 4/6/2011)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-811216071002000975?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/811216071002000975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=811216071002000975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/811216071002000975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/811216071002000975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/sastra-lisan-di-kalbar.html' title='Sastra Lisan di Kalbar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5961042480634255587</id><published>2011-06-05T02:41:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T02:41:57.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Bahasa untuk Bahasa</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, mengapa bapak tadi menyarankan, menulis tentang kemponan. Bukankah itu syirik dan harus ditinggalkan?”&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan kritis diajukan seorang mahasiswa pada saya saat saat kami belajar menulis, Sabtu, awal Mei 2011 lalu. Kami sedang belajar memilih tema untuk tulisan. “Cak-cak’annya” saya memberikan mereka pilihan tema yang ada di sekitar mereka; hal yang saya pikir pasti mereka kuasai.  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal munculnya kata ‘kemponan’, bermula ketika saya memberikan contoh beberapa agenda sosial budaya yang perlu ditulis. Satu paket dengan kemponan, saya menyarankan mahasiswa menulis tentang mitologi dan legenda di daerah-daerah, patang larang dan upacara adat. &lt;br /&gt;Nah, rupanya mahasiswa itu melihat budaya kemponan dari perspektif akidah. Dari sudut akidah memang kemponan tidak benar. Malah mungkin syirik. Masa’ sih hal seperti itu dipercayai? &lt;br /&gt;Saya agak gelagapan menjawab bantahan mahasiswa ini. Saya melihat budaya kemponan dalam perspektif khazanah lokal.  Ini menarik. Penggalian informasi seumpama ini akan memberikan bayangan tentang kepercayaan dan praktik budaya masyarakat.  Materi budaya seperti ini belum banyak ditulis. Karena itu setiap orang yang menulis hal itu akan menjadi penulis perintis. &lt;br /&gt;Di tengah keadaan gelabah itu saya jadi teringat pada sebuah pertanyaan yang sering muncul di kalangan linguis (pengkaji bahasa). Ketika dahulu mula mendalami bidang linguistik (bahasa), Professor Dr. James T. Collins memberitahukan bahwa sering kali orang akan bertanya: “Untuk apa belajar bahasa?”&lt;br /&gt;Sering kali orang meremehkan ilmu bahasa karena mereka melihat ilmu bahasa tidak berguna secara langsung untuk kehidupan manusia. &lt;br /&gt;Belajar bahasa tidak sama dengan belajar ilmu mesin, ilmu pertanian, ilmu pendidikan, ilmu komputer. &lt;br /&gt;Jika belajar fonem, vokal, konsonan, morfem,  sintaksis, dan sejenisnya, orang dapat apa? Kalau sudah tahu hal itu, untuk apa? &lt;br /&gt;Saya dapat membayangkan, pertanyaan itu akan kurang lebih sama dengan pertanyaan yang sering diajukan oleh seseorang di kampung saya dahulu – yang sering diingatkan bapak. Sedikit-sedikit jika diajak melakukan sesuatu dia akan bertanya: “Apa bisa dapat beras dari situ?”&lt;br /&gt;Orang itu menolak menyekolahkan anaknya karena menurutnya, anak ke sekolah tidak bisa dapat beras. Sekolah menurutnya malah bikin rugi. Jika anak sekolah, anak tidak dapat membantu bekerja. Sebaliknya anak sekolah menghabiskan biaya. Rugi. Beras tak dapat, uang “malar” keluar.  &lt;br /&gt;Tiba-tiba saya sadar bahwa mungkin mahasiswa itu satu tipe dengan orang di kampung itu; orang yang selalu melihat sesuatu dari perspektif kekinian. Saya, mengikuti cara pandang bapak, menganggap orang yang berpikir begitu adalah orang pintar. Pintar berhitung. &lt;br /&gt;Lalu bagaimana menghadapi orang pintar seperti itu? Kalau boleh memilih, sebenarnya ingin saya memilih tidak menjawab. Saya lebih suka memilih menghindar. &lt;br /&gt;Saya ingin menekankan prinsip: “Kita menulis atau belajar tentang sesuatu bukan berarti kita harus mengamalkan sesuatu itu. Kita perlu belajar banyak hal biar lebih banyak tahu, dan mungkin ini akan membuat kita menjadi sedikit arif”. (Borneo Tribune, 4/6/2011)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5961042480634255587?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5961042480634255587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5961042480634255587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5961042480634255587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5961042480634255587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/06/bahasa-untuk-bahasa.html' title='Bahasa untuk Bahasa'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1106240227142632108</id><published>2011-04-19T05:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T05:22:25.925-07:00</updated><title type='text'>Bagian 8 -- Pintu Metal Detector</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 18.20. Lantai 9 di depan pintu Grand Ball Room mulai ramai. Ada kawan-kawan dari Borneo Tribune, ada juga petugas dari Polda (termasuk dari Brimob).&lt;br /&gt;Kawan-kawan dengan pakaian batik warna coklat –khas Borneo Tribune, sibuk di belakang meja penerima tamu. Ada yang mempersiapkan buku tamu, ada yang mempersiapkan buku JMCB untuk tamu, dan ada yang … entah, kayaknya cekak-cekikik, ngobrol-ngobrol saja. &lt;br /&gt;Sedangkan petugas kepolisian (dari Brimob dan dari Mapolda Kalbar) berjaga di pintu masuk kegiatan. Maklum,  di pintu masuk itu dipasang pintu keselamatan atau pintu “Metal Detector” untuk mendeteksi barang bawaan undangan.&lt;br /&gt;Pemasangan pintu ini dilakukan polisi usai acara gladi bersih. Ini merupakan inisiatif pihak kepolisian. Pertimbangannya karena ada orang penting kepolisian dari Jakarta yang hadir. Mantan pimpinan mereka. &lt;br /&gt;Pemasangan pintu pendeteksi besi ini di pintu masuk tempat kegiatan anugerah Muri dan bedah buku JMCB menjadi gerbang penting dalam membentuk kesan orang terhadap acara ini.  Kesan yang penting adalah bahwa acara ini serius. Orang yang masuk discreening oleh sinar x. Tidak sembarangan. &lt;br /&gt;Memang setahu saya tidak banyak kegiatan yang dilengkapi alat deteksi begini. Dalam beberapa kali kegiatan yang saya ikuti --dahulu, pintu ini hanya dipasang jika ada presiden atau atau wakil presiden yang datang. Sedangkan kegiatan menteri hanya kadang-kadang saja ada digunakan pintu ini. &lt;br /&gt;Kekecualiannya, pintu ini selalu ada di pintu masuk menuju ruang tunggu penumpang di lapangan terbang Supadio, Pontianak. &lt;br /&gt;Saya memang tidak heran karena ketika siang setelah gladi bersih melihat langsung petugas dari Brimob Kalbar memasang pintu ini. Bahkan ikut memberikan saran ketika pintu ini dipasang. &lt;br /&gt;Lagian, saya memahami prosedur pengamanan ini. Maklum, panitia di Pontianak juga ingin pelaksanaan acara tidak jauh beda dibandingkan acara di Jakarta. Di Hotel Grand Sahid pada saat acara launching buku JMCB, pintu deteksi di pasang di pintu masuk hotel sebelum tangga menuju ruang Grand Ball Room, tempat kegiatan berlangsung. &lt;br /&gt;Selain itu, saya menangkap ada kesan ‘wah’ di mata undangan untuk kegiatan kali ini. Ini bukan kegiatan biasa.&lt;br /&gt;Selain itu, kehadiran pintu deteksi ini menimbulkan kesan lucu. Beberapa orang undangan yang baru keluar lift dengan cekak-cekik, begitu berhadapan dengan pintu deteksi, cekak-cekikiknya langsung padam. Kaget. Pasti mereka agak terkejut karena tidak menyangka ada screening begitu. Mana pernah ada acara bedah buku di Pontianak dilengkapi pintu deteksi. &lt;br /&gt;Beberapa teman bahkan nampak panik. Mereka panik karena harus memindahkan telepon di atas nampan sebelum melewati pintu ini. Ada yang harus membuka jaket, melepaskan tas. Dll. &lt;br /&gt;Lantas beberapa orang sempat ketinggalan barang mereka di pintu deteksi. Sebelum kemudian kembali lagi dengan tersipu-sipu.&lt;br /&gt;“Eh, lupa”.&lt;br /&gt;Saya juga melihat polisi yang berjaga-jaga di pintu itu tersenyum melihat orang-orang yang tersipu-sipu itu.&lt;br /&gt;Pintu ini membuat lalu lalang orang keluar masuk ruangan menjadi terbatas. Sungkan karena setiap kali keluar masuk mereka harus ‘diperiksa’. Saya kira suasananya pasti agak berbeda dibandingkan jika tidak ada pintu ini. (*).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto///Acara Anugrah Muri untuk Buku JMCB, menyisakan kenangan. Karena itu, beberapa orang mengabadikan momen itu dengan foto-foto. Termasuk Wartawan Borneo Tribune, Abdul Khoir yang mengajak anggota Brimob berpose di luar ruang acara. Foto Istimewa/Borneo Tribune.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1106240227142632108?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1106240227142632108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1106240227142632108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1106240227142632108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1106240227142632108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/bagian-8-pintu-metal-detector.html' title='Bagian 8 -- Pintu Metal Detector'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-9104604250724904105</id><published>2011-04-02T07:29:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:29:06.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Ingat Pasar Sentral, Ingat Gadong, Brunei</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat Pasar Sentral Pontianak, saya ingat kawasan Gadong, Brunei Darussalam. Itulah hal yang melintas dalam pikiran saya ketika melewati Pasar Sentral kemarin, dan kemarinnya lagi.&lt;br /&gt;Saya ingat itu ketika saya lihat di persimpangan arah Pasar Sentral – Gusti Sulung Lelanang ada bekas bambu membentuk kerangka ‘sesuatu’. Kerangka itu sebelum ini pernah digunakan ‘pengelola’ dengan dipasangkan ‘hiasan’ untuk menyambut hari besar beberapa waktu lalu. Waktu itu saya melihat hiasan itu dengan kekaguman yang luar biasa. Kagum karena ‘pengelola’ itu begitu kreatif, dan kagum karena waktu itu pemerintah kota mengizinkan kreativitas itu ditunjukkan di depan publik. Waktu itu saya melihat ada keindahan yang berbeda ditunjukkan pengelola di persimpangan ini. &lt;br /&gt;Kemarin, ketika melintas di sana, ketika melihat hanya kerangka saja, saya sempat membayangkan hal buruk: kerangka ini akan lapuk dan tidak ada apapun lagi di pertigaan itu kelak kecuali semen yang membatu dan tidak menarik. Kalau itu benar-benar terjadi, sungguh disayangkan. Rugi!&lt;br /&gt;Saya memberikan apresiasi pada kreativitas pengelola itu karena saya termimpi-mimpi kala melihat hal yang hampir sama di Gadong, Brunei Darussalam. Waktu itu, kebetulan ada seminar di Negara Sultan Bolkiah ini, dan malam itu Dr. Yabit Alas membawa kami keliling kota Brunei. Ketika melintas di Gadong, kami berhenti. Dr. Yabit menunjukkan sebuah kawasan yang berwarna warni, dan di sana ada patung yang waktu itu dipakaikan baju sanghai. Lampion digantungkan di sana sini. &lt;br /&gt;Selain kami, ada banyak orang yang singgah di sana malam itu. Pengunjung juga. Mereka sama seperti kami, berfoto-foto dengan latar belakang lampu dan patung itu. &lt;br /&gt;Kata Dr. Yabit, lokasi itu dikelola oleh sebuah showroom mobil. Pakaian patung itu selalu disesuaikan dengan momentum. Kalau Natal, patung itu menjadi Sinterklas. Kalau musim Idul Fitri, patung itu mengenakan baju muslim. Begitu juga jika Imlek.&lt;br /&gt;“Ini kemudian menjadi salah satu objek wisata di sini,” katanya waktu itu.&lt;br /&gt;Saya sempat menghayalkan di Pontianak, ada juga ruang itu. Pemerintah mengajak swasta tertentu untuk mengelola sebuah lokasi dan lokasi itu dijaga mereka, plus dengan kreativitas pengelola lantas dikemas sedemikian rupa sehingga membuat kota menjadi indah. &lt;br /&gt;Tempatnya, entah itu di kawasan pasar atau di pinggiran kota yang lahannya masih agak luas. &lt;br /&gt;Pada akhirnya, setelah Sutarmidji menjadi walikota Pontianak, saya melihat mimpi itu mulai wujud. Setidaknya, ketika saya melihat ada swasta yang diserahkan mengelola tugu di bundaran Kota Baru Pontianak. Sejauh ini swasta mengelola dengan baik. Air mancurnya terjaga. Lampu terpelihara. Kebersihan dan keindahan juga menyinari mata saat memandangnya – walaupun ada juga yang memandang keindahan ini dengan kacamata minus. &lt;br /&gt;Nah, sekarang, apakah cikal bakal kerangka bambu di simpang Pasar Dahlia – Jalan Gusti Sulung Lelanang akan diurus seperti Bundaran Kota Baru? Saya berharap begitu. Jika pun simpang Dahlia terlalu sempit, mungkin pemerintah bisa melepaskan Bundaran Pos kepada pihak swasta sehingga pada akhirnya keindahan lokasi itu menyerlah juga. Bukan saja kota akan bertambah tempat wisata, tetapi juga pemerintah akan berkurang bebannya. Saya kira, lumayan juga dana dikeluarkan pemerintah untuk urusan taman itu per tahunnya, sekalipun kenyataannya taman itu hanya diurus apa adanya dan tidak mengundang daya tarik pun. (22/1/2011) *&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-9104604250724904105?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/9104604250724904105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=9104604250724904105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9104604250724904105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9104604250724904105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/ingat-pasar-sentral-ingat-gadong-brunei.html' title='Ingat Pasar Sentral, Ingat Gadong, Brunei'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4824226241252567633</id><published>2011-04-02T07:27:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:27:21.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Asuk</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suk, Asuk… Minum dulu’-lah”.&lt;br /&gt;Saya mendengar adik saya memanggil tukang yang sedang bekerja membesarkan bagian dapur rumah mereka, agar berhenti bekerja: minum dulu. Minuman, kopi, sudah disediakan dari tadi. Tapi, lelaki berumur 50 tahun itu belum menyentuhnya. Dia asyik menggali tanah untuk pondasi rumah. &lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah memperhatikan lelaki tua itu bekerja sejak awal. Dia, bercelana pendek, dengan baju diikatkan di kepala. Mungkin maksudnya menutup kepala dari panas. Kepalanya ditutup, sedangkan badannya yang kekar itu tidak. Kulitnya yang agak putih memerah terbakar panas. Berlendir dibanjiri keringat. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;Dia hanya menjawab singkat, sambil terus bekerja.&lt;br /&gt;Saya jadi sangat tertarik pada lelaki tua itu. Saya jadi bernostalgia. Dahulu, sewaktu di Jongkong, Kapuas Hulu, dua puluh tahun lalu, saya mengenal seorang lelaki tua yang oleh orang-orang di Jongkong dipanggil dengan “Asuk Anyi”. Dia, orang Tionghoa. Setiap hari, terutama sore, dia berjalan kaki di atas gertak, seraya mengenakan ‘tangui’ topi dari daun. &lt;br /&gt;Biasanya dia menggunakan baju kaos putih, tipis, singlet. Celananya panjang seperti piyama. Warnanya khas: abu-abu.&lt;br /&gt;Jika orang baru melihat, apa yang dilakukan Asuk Anyi ini aneh. Tetapi, orang Jongkong – khususnya Jongkong Kanan dan Jongkong Pasar, apa yang dilakukan Asuk ini tidak aneh lagi. Biasa. Hanya jalan-jalan di sore hari. Mungkin orang baru merasa aneh bila melihat Asuk tidak mengenakan tangui.&lt;br /&gt;Saya tahu sekarang, dia jalan sore sebagai pengganti olahraga. Biar sehat. Dan Asuk Anyi memang nampak sehat. Sekalipun sudah tua waktu itu, tetapi, dia masih berjalan dengan tegap. Sekarang saya baru merasa heran: bagaimana Asuk bisa tahu bahwa olahraga sore itu sehat, padahal dia orang di Jongkong. Orang di Jongkong waktu itu belum mengenal jalan-jalan sore untuk kesehatan. Hanya orang kota yang kenal itu. Lebih hebat lagi, bagaimana Asuk Anyi bisa begitu disiplin melakukannya.  &lt;br /&gt;Setelah tidak lagi di Jongkong, saya tidak pernah mendengar tentang beliau lagi – karena tidak ada tema yang dibicarakan berkaitan dengan beliau. Bahkan, saya dan mungkin orang-orang di Jongkong lainnya tidak pernah mengingatnya.   &lt;br /&gt;Setelah dari Jongkong saya juga tidak pernah mendengar lagi ada panggilan “Asuk”. Ketika di Pontianak, saya bertemu dengan cukup banyak orang Tionghoa, saya memanggilnya Bapak, Toke, Keh, atau Akong. Tidak “Asuk”. Saya juga tidak pernah mendengar orang Tionghoa memanggil “Asuk” kepada orang tua. Ya, mungkin sebenarnya panggilan itu ada, tetapi karena situasinya berbeda dibandingkan Jongkong, maka panggilan “Asuk” tidak ketara terdengar. &lt;br /&gt;Nah, hinggalah kemarin, saya mendengar adik saya menggunakan kata itu “Asuk” kepada lelaki yang bekerja di rumah mereka. Lalu, saya pun memanggil lelaki tua itu dengan “Asuk” juga. &lt;br /&gt;Kami ngobrol banyak tentang kepercayaan orang Tionghoa dalam membangun rumah. Asyik sekali. Banyak hal yang saya baru dengar. Banyak pantang larang yang menarik ditulis di kemudian hari.&lt;br /&gt;Selama ngobrol saya terus menerus memanggilnya “Asuk” tanpa mendalami makna sosialnya. Suatu saat saya akan mendalaminya. Tetapi, walau panggilan “Asuk” saya gunakan hanya sekadar ikut-ikutan, namun, panggilan ini membentangkan kembali lembaran kehidupan saya ketika di Jongkong, 20 tahun lalu. Jauh sudah rupanya! (29/1/2011)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4824226241252567633?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4824226241252567633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4824226241252567633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4824226241252567633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4824226241252567633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/asuk.html' title='Asuk'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8069318974466743113</id><published>2011-04-02T07:24:00.001-07:00</published><updated>2011-04-02T07:24:54.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Pilih Api atau Manusia?</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulla Asri, fotografer Borneo Tribune memperlihatkan foto-foto kebakaran di Kapuas Besar kepada saya, Jumat (4/2) kemarin. Foto itu hasil bidikannya ketika api mengamuk pusat perbelanjaan itu Kamis (3/2). &lt;br /&gt;Kemampuan Ulla memotret jelas sangat bagus. Karena itu, tidak heran, hasil bidikannya selalu menarik dilihat. Ada foto tentang pemadam dari berbagai yayasan sedang bekerja sama memasang kran. Ada foto petugas pemadam sedang menyemprotkan api. Ada foto api yang membara. Ada foto-foto sisa kebakaran. Ada foto warga yang mencoba mengambil barangnya di antara puing-puing.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari sekian banyak foto itu, foto petugas menyemprot air melalui celah pintu besi (folding gate) yang tertutup, sungguh sangat mengesankan. Bukan soal bagaimana petugas berusaha memadamkan sisa-sisa api yang masih menyala. Juga bukan soal keberanian petugas tersebut. &lt;br /&gt;Yang mengesankan saya adalah soal pintu yang dikunci. Menurut informasi Ulla dari petugas pemadam kebakaran, pintu dikunci telah membuat petugas agak susah melakukan penyemprotan ke dalam. Dan karena itulah api yang menyala Kamis itu, belum sepenuhnya padam hingga Jumat pagi. Api masih menyala di dalam bangunan di lantai bawah. &lt;br /&gt;Pintu ruko dikunci pemilik ketika melarikan diri, karena mereka ingin menghindari penjarahan. Kemungkinan penjarahan sangat besar terjadi pada saat kebakaran. Sering sekali terjadi, di saat orang sibuk memadamkan api, di samping beberapa orang sibuk menyelamatkan harta benda, ada orang yang memanfaatkan kesempatan. Mencuri. Mereka ikut mengangkut harta milik korban kebakaran, seperti orang menolong, namun, sebenarnya mereka mengangkut harta orang dan tak mengembalikannya. &lt;br /&gt;Inilah watak tercela orang-orang kita: suka aji mumpung. Melihat ada kesempatan, mengetahui orang lain lengah mereka bergerilya. Mereka tidak sedikitpun berempati terhadap penderitaan orang yang sedang mengalami musibah. Seboleh-boleh mereka menambah penderitaan itu. Mereka tidak peduli pada orang yang kehilangan rumah, kehilangan harta benda, malah, mereka menambahnya. Mereka tidak memiliki perasaan. &lt;br /&gt;Jadi untuk menghindari kemungkinan inilah, pemilik mengunci pintu ruko mereka. Agaknya, pemilik berpikir daripada barang mereka menjadi sasaran pencurian, dari pada barang mereka diangkut orang, lebih baik barang dimakan api. Daripada mengenyangkan perut orang lebih baik memberi makan api. &lt;br /&gt;Walaupun amat prihatin pada musibah yang menimpa mereka para korban itu, namun sikap mereka juga membuat prihatin. Prinsip dan cara berpikir seperti ini rasanya agak kurang sesuai dalam konteks hidup berdampingan, bersama. &lt;br /&gt;Ah, andai ada orang yang bisa berprinsip: ambillah dari apa yang saya miliki pada saat-saat terakhir. Daripada dimakan api lebih baik dimakan manusia. Dimakan api pasti musnah, dimakan manusia tentu akan menjadi darah daging. Dimakan api akan jadi sia-sia, dimakan manusia akan menjadi ‘modal sosial’ dan ‘modal masa depan’. &lt;br /&gt;Tetapi sebaliknya lagi saya segera menyadari, bahwa saya hanya pandai prihatin pada penderitaan orang. Saya hanya pandai meluahkan rasa mual kepada orang yang otaknya dipenuhi nafsu menjarah. &lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya hanya bisa menikmati gambar yang disajikan, melihat dari konteks sebagai seorang jurnalis. (5/2/2011) (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8069318974466743113?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8069318974466743113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8069318974466743113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8069318974466743113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8069318974466743113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/pilih-api-atau-manusia.html' title='Pilih Api atau Manusia?'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3627865726339900300</id><published>2011-04-02T07:23:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:23:39.959-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Inspirasi dari Borneo</title><content type='html'>Oleh: Farninda Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (22/01/11), di club menulis. Pertemuan kali ini, pembahasanya sama dengan minggu sebelumnya. Menulis resensi buku. Salah satu cara mudah untuk meresensi ialah membaca pengantar penulis. Karena, kita akan mendapat informasi, mengenai tujuan penulisan, kelebihan, jenis tulisan atau kekuranganya. Tapi perlu diingat. Hal ini bukan berarti kita mengambil isi pengantar sebagai tulisan dalam resensi.&lt;br /&gt;Setiap orang membaca pengantar buku yang telah dipilihnya. Saya membaca buku, Inspirasi dari Borneo. Buku terbitan STAIN Press,  yang berisi tulisan dari rubrik Suara Enggang di harian Borneo Tribune karya Yusriadi.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Benar, saya mendapatkan tujuan dari penerbitan buku, melalui kata pengantar itu. Buku ini memang kisah nyata, yang dialami oleh penulis. Kisah-kisah yang berasal lingkungan sekitar. Namun, kisah ini menyajikan gagasan-gagasan yang memberi inspirasi. Si penulis juga mendapat inspirasi menulis dari kisah yang dialaminya. Penulis bilang, gagasan yang ia dapati tak perlu disimpan sendiri, baik untuk dibagikan. Ingin yang lainnya ikut terispirasi.&lt;br /&gt;“Ada banyak gagasan yang ingin disampaikan. Ada banyak pembelajaran yang dipesankan. Dan, ada banyak impian yang diidam-idamkan. Makanya, gagasan, pembelajaran dan impian tak boleh disimpan sendiri. Harus dibagikan dan dikongsi kepada orang lain,” begitu kata pengantar penulis.&lt;br /&gt;Buku itu, terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah Inspirasi dari Kampung. Inspirasi dari kampung, terbagi lagi dalam beberapa kisah. Seingat saya ada inspirasi yang berasal dari Sanggau Permai dan belajar dari orang Teluk Bakung.&lt;br /&gt;Bagian kedua, Inspirasi dari Kota. Kisah yang berasal dari kota. Ada, Kampanye Menulis di SDN 20 Pontianak. Salah satu SD yang terkenal dengan kebersihanya di Kota Pontianak. Sekolah ini mendapat penghargaan dari bapak presiden SBY, karena berhasil menjaga kebersihan di lingkungan sekolahnya.&lt;br /&gt;Bagian ketiga, ialah Inspirasi dari Masyarakat. Ya, memang banyak kisah-kisah menarik dari masyarakat kita. Terutama perpektif mereka. Misalnya; Kisah batu dalam celana. Salah satu cara, yang dipercayai masyarakat Pontianak sebagai penahan atau menunda si pengguna batu dalam celana untuk buang air.&lt;br /&gt;Bagian ke empat, Inspirasi dari Kata. Katanya, bagian dari inspirasi ini ingin menunjukan bahwa ada kata dan rangkaian kata yang digunakan orang memiliki implikasi. Misalnya saja Kondom. Secara umum, dijual di apotik atau toko obat. Tapi, kondom yang dikisahkan. Kondom yang dijual di conter HP. Sederhana saja kisah-kisah yang dipaparkan oleh, penulis. Tapi, kisah sederhana itu berhasil mengundang inspirasi. Saya berani, berkata ini. Karena saya sudah mendapatkan inspirasi dari tulisan tersebut. Si penulis, berhasil. Berhasil menyentak inspirasi saya untuk keluar.&lt;br /&gt;Inspirasi ini sebenarnya sama saja seperti jenis tulisan yang telah dibuat oleh penulis. Saya terinspirasi untuk membuat tulisan yang kisahnya sederhana. Tapi, memberi makna. Jika saya berhasil membuat tulisan seperti itu, saya juga ingin membukukannya. Wow, inspirasi saya keren juga ya?.  Pontianak, 22.01.11. SKKP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3627865726339900300?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3627865726339900300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3627865726339900300' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3627865726339900300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3627865726339900300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/inspirasi-dari-borneo.html' title='Inspirasi dari Borneo'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-152343029149418369</id><published>2011-04-02T07:21:00.001-07:00</published><updated>2011-04-02T07:21:38.284-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UKM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Jual Kue Keranjang</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa dagang macam tu? Macam main-main. Kasih-kasih gitu ja”.&lt;br /&gt;“Kalau dagang yang benar. Barang tu dibungkus. Bersih nampaknya”.&lt;br /&gt;“Kalau kau jual begitu sapa yang mau beli”.&lt;br /&gt;“Omelan” panjang Mak Nyah menyita perhatian saya, saat saya belanja sesuatu di toko pakai dia di kawasan Pontianak Timur.&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, tepat sore itu, menjelang hari Imlek, saya singgah ke toko Mak Nyah itu, mencari sesuatu.  Saya sebut Mak Nyah karena begitulah panggilan orang yang belanja di toko dia. Saya ikut-ikutan orang lain. Dan saya tahu, dia juga akur dengan panggilan itu. Setidaknya dia menyahut sapaan orang pada dirinya.&lt;br /&gt;Saya mendengar Mak Nyah nyerocos panjang. Saya penasaran. Siapa yang diomelinya. Semula saya duga dia marah pada pegawainya. Seorang bos menegur pegawai itu biasa saya dengar. Agar pekerjaan jadi baik. Maklum kadang kala pegawai kurang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang baik dilakukan. &lt;br /&gt;Rupanya Mak Nyah ngomel pada seorang pemuda yang menjual kue keranjang. Sebelumnya, saya memang sempat melihat pemuda itu datang dengan dua kue keranjang. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Saya hanya mengira ada tawar menawar kue itu karena keduanya berkomunikasi dalam bahasa Cina – saya kira Khek. Saya tidak menyimak benar karena pada saat yang sama saya sedang mencari sesuatu. &lt;br /&gt;Nah, rupanya, perilah pemuda itu menawarkan Mak Nyah kue keranjang dengan cara menyodorkan begitu saja yang bikin hal. Menurut Mak Nyah cara menawarkan seperti itu tidak baik dilakukan; kesannya tidak nyaman dilihat. Orang pun jadi enggan membeli.&lt;br /&gt;Lantas dia memberi tahu bagaimana cara menawarkan barang yang baik.  &lt;br /&gt;“Kamu bungkus dahulu, bawa pakai keranjang, baru tawarkan”. &lt;br /&gt;“Iya… iya…”&lt;br /&gt;Pemuda itu tidak membantah. Dia hanya terangguk-angguk. Ter-iya-iya. &lt;br /&gt;Saya dan beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu juga ikut terangguk-angguk. Saya kira semua orang maklum. Maklum bahwa apa yang disampaikan Mak Nyah itu benar, dan sangat benar. &lt;br /&gt;Sering kali cara menjual lebih penting daripada apa yang dijual. Sering kali cara menjual mampu mendongkrak angka penjualan. &lt;br /&gt;Tapi, walaupun saya memahami apa yang disampaikan Mak Nyah kepada penjual muda itu, namun, hingga saya membuat tulisan ini, masih ada tersisa pertanyaan: Mengapa Mak Nyah menyampaikan peringatan (mengajarkan) kepada penjual muda itu dalam bahasa Melayu? Mengapa tidak dalam bahasa Cina (Khek?) – padahal sebelumnya saat pertama datang menawarkan kue keranjang itu keduanya berkomunikasi dalam bahasa Cina.&lt;br /&gt;Apakah lebih mudah bagi Mak Nyah menyampaikan peringatan itu dalam bahasa Melayu – karena dia sering mengajarkan cara berjualan kepada anak buahnya yang saya lihat orang bukan penutur Cina? Apakah dia sengaja menyampaikan dalam bahasa Melayu agar anak buah dia dan orang-orang bukan Tionghoa di situ mengerti? Entahlah. (19/2/2011) (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-152343029149418369?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/152343029149418369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=152343029149418369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/152343029149418369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/152343029149418369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/jual-kue-keranjang.html' title='Jual Kue Keranjang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6549386127532220135</id><published>2011-04-02T07:15:00.001-07:00</published><updated>2011-04-02T07:15:53.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Takut Beli Pertamax Plus</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah bensin langka beberapa waktu lalu menyisakan cerita lucu, sekaligus juga menyedihkan. Teman saya bercerita, di saat susah-susahnya mendapatkan bensin di hari itu, pamannya membeli satu jeriken kecil ukuran 5 liter “Pertamax” yang dijual di pinggir jalan di Pontianak. Dia perlu membeli banyak, sekadar simpan-simpan jika memang minyak habis nanti. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membeli, paman nampaknya senang betul. Senang karena dia memperoleh stok minyak untuk beberapa hari ke depan. 5 liter itu cukup untuk beberapa hari. Jadi, jika dalam beberapa hari bensin betul-betul hilang dari pasaran, atau bensin dijual gila-gilaan di pasar, dia masih dapat berlega rasa. &lt;br /&gt;Ketika sampai di rumah, paman menunjukkan kegembiraannya. “Sambil datang dengan senyum lebar, paman bilang, ‘ni, dapat minyak dah’.&lt;br /&gt;Pada mulanya orang di rumah ikut senang. Tetapi, kemudian mereka jadi terpana ketika melihat ada ada bercak warna pink di jeriken dan menempel juga di tangan paman. Setelah dilihat dengan seksama, tawa mereka pecah. Mereka mentertawakan paman dan mentertawakan kegembiraan paman.&lt;br /&gt;Rupanya, paman telah membeli minyak bensin yang diberi pewarna. Bukan benar-benar Pertamax.&lt;br /&gt;Paman telah membeli bensin yang harganya Rp4500, dan pewarna yang harganya Rp10.500. Jadi hitung-hitung untuk bensin paman keluar uang Rp… Sedangkan untuk pewarna paman  membayar Rp52.500. &lt;br /&gt;Nah, sejak mendengar cerita itu saya jadi takut-takut. Khawatir kena juga. Oleh sebab itulah meskipun kemarin bensin ‘susah’ lagi, saya berusaha untuk tidak membeli Pertamax di pinggir jalan. &lt;br /&gt;Selain soal harga yang tidak patut, juga mengkhawatirkan bagaimana pengaruh campuran bensin terhadap mesin. Mesti ada pengaruh, sekalipun mungkin pengaruh itu tidak sama dengan pengaruh kalau bensin dicampur minyak tanah, atau dicampur air seperti yang pernah dilakukan orang yang mencari untung dengan cara yang tidak benar.&lt;br /&gt;Di balik itu, geram rasanya melihat orang berprilaku seperti itu. Jika punya kekuasaan, rasanya pengin menyeret orang yang melakukan itu ke kantor polisi biar dia jera, dan orang lain juga tidak mau ikut-ikutan seperti itu. (26/2/2011) (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6549386127532220135?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6549386127532220135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6549386127532220135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6549386127532220135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6549386127532220135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/takut-beli-pertamax-plus.html' title='Takut Beli Pertamax Plus'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1242863986716342528</id><published>2011-04-02T07:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:12:10.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><title type='text'>SMS Suami Istri</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan pada cerita teman yang sedang membongkar rumah dan mengemas bekas bongkaran itu.&lt;br /&gt;Teman saya bercerita bahwa dia mempunyai teman sepasang suami istri yang menawarkan diri membantu memanggul kayu bekas bongkaran rumah. Mereka datang dengan sangat bersahabat dan ramah menawarkan jasanya. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang sudah kami anggap saudara. Masak tengok saudara kecapean pikul beban, kami diam saja. Kami harus bantu,” kata teman mengisahkan kata-kata suami istri itu. &lt;br /&gt;Teman saya bilang ada sebelum suami istri itu datang memang ada banyak orang yang datang menemui saya. Mulai orang biasa hingga orang luar biasa. &lt;br /&gt;« Saya bisa membantu. Tapi, kalau bantu mikul, ya…. Ada upahnya ». Lalu orang itu menyebutkan tarif jasa pikul dia.&lt;br /&gt;Ada juga orang yang katanya selama ini dianggap teman, bukannya membantu, mereka malah membuat beban jadi berat. Mengapa berat, karena teman ini malah banyak omong dan banyak tanya. &lt;br /&gt;“Eh, pikul apa tu?” – padahal dia melihat sendiri apa yang dipikul orang. &lt;br /&gt;“Lho, kok bawa’nya hanya satu batang. Kapan selesainya ?”&lt;br /&gt;“Lho, cara mikulnya kok begitu. Bukan begitu cara pikulnya.”&lt;br /&gt;Ada juga orang yang ditemukannya, bukannya membantu tetapi mereka malah membicarakan apa yang dibongkar rumah dan apa yang dipikul. Walaupun teman bilang tidak mau mendengar, namun, apa yang mereka sampaikan membuat dia risau. &lt;br /&gt;“Ini, jangankan membantu, justru malah bikin tambah berat kerjaan”.&lt;br /&gt;Lalu kata teman tadi, sambil sama-sama memikul bekas bongkaran itu, suami istri itu memberikannya nasehat:&lt;br /&gt;“Ndak usah dipikirkan apa yang orang omongkan. Biarkan saja, nanti juga akan berlalu. Paling sekali dua saja mereka membicarakan tentang apa yang kamu pikul, bagaimana kamu memikul, dll. Setelah itu mereka akan senyap. Sebab mereka punya pekerjaan lain”. &lt;br /&gt;Sang istri juga mengingatkan. “Sabarlah. Cobalah memahami sikap sebagian orang kita yang suka sms. Suka melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang”. &lt;br /&gt;Apa yang diingatkan suami istri itu katanya meresap dalam jiwanya. &lt;br /&gt;Mendengar cerita teman ini, saya teringat, pernah mendengar cerita tenang seorang anak, bapak dan keledainya. Ketika bapak naik keledai dan anak menuntunnya, orang menyalahkan bapak yang tidak kasihan pada sang anak. Ketika anak yang naik keledai dan bapak menuntunnya, orang menyalahkan anak yang tidak kasihan pada bapaknya. Ketika bapak dan anak itu sama-sama naik keledai, orang mengatakan keduanya tidak bertimbang rasa pada keledai yang keberatan membawa beban. Lalu, ketika bapak dan anak itu memilih tidak naik keledai itu, tetapi menuntunnya, orang mengatakan bapak dan anak itu bodoh karena tidak memanfaatkan keledai untuk tunggangan. Jadi, tidak ada yang benar akhirnya. Semua salah. Yang benar adalah, selalu ada orang yang mulutnya ceriwis dan celupar. Selalu ada orang yang lebih suka mengurus urusan orang lain dan menyusahkan orang lain. Tengok saja di sekitar kita. (13/3/2011) (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1242863986716342528?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1242863986716342528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1242863986716342528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1242863986716342528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1242863986716342528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/sms-suami-istri.html' title='SMS Suami Istri'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3788663621859057800</id><published>2011-04-02T07:09:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:09:39.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Sejarah Kampung di Pontianak</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengan sejumlah tokoh dan ilmuan di Kalimantan Barat di Pontianak Rabu (6/3) kemarin mengesankan sekali. Saat orang-orang membicarakan tentang sejarah dan dinamika orang Melayu di Kalimantan Barat, seorang tokoh menceritakan bahwa dia pernah menerima kedatangan rombongan mahasiswa dari luar yang bertanya tentang sejarah Kota Pontianak. &lt;br /&gt;Mahasiswa luar itu katanya bukannya bertanya tentang sejarah Pontianak yang pernah orang ditulis, tetapi, mereka bertanya tentang sejarah Pontianak dimulai dari sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kampung di Pontianak sama pentingnya dengan sejarah Kota Pontianak. Sebab, Kota Pontianak sesungguhnya terdiri dari kampung-kampung. &lt;br /&gt;“Saya tidak tahu tentang sejarah kampung,” ceritanya. &lt;br /&gt;Cerita tokoh itu membuat saya merenung. Benar. Sejarah Pontianak sudah ditulis. Sudah ada buku yang memuat gambaran sejarah secara umum. Misalnya ada buku yang ditulis oleh peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak. Buku itu sudah diterbitkan Romeo Grafika beberapa tahun lalu. Dalam buku itu ada gambaran tentang tahun berdirinya kota Pontianak. Sejarah tentang tokoh-tokoh yang mendirikan kota ini, juga tentang kegiatan ekonomi. &lt;br /&gt;Saya juga pernah membaca buku syair yang menggambarkan dinamika penduduk kota ini pada awal abad ke-20. &lt;br /&gt;Namun, seperti juga yang ditanyakan mahasiswa luar itu kepada tokoh, saya juga merasa masih ada yang kurang. &lt;br /&gt;Saya sangat sependapat dengan pernyataan, bahwa: Pontianak itu sebenarnya terdiri dari kampung-kampung. Sejarah Pontianak, seharusnya sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak. &lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan sejarah kampung-kampung itu? Belum ada. Belum ada buku yang memuat informasi tentang kapan kampung itu dibuka, siapa yang mendirikan kampung itu, dan bagaimana prosesnya. &lt;br /&gt;Cerita ini mengingatkan saya bahwa penelitian dan informasi mikro sangat penting, dan itu sering dilupakan orang.  &lt;br /&gt;Lantas, saya jadi teringat beberapa bulan lalu ketika orang Dayak Kalbar ribut setelah mendengar laporan penelitian Dr. Thamrin Amal Tamagola. Thamrin dituntut karena dia menyebutkan ‘orang Dayak’. &lt;br /&gt;Pada waktu itu saya mencatat ada beberapa komentar yang menanyakan Thamrin. “Dayak yang mana?”&lt;br /&gt;Ya, pertanyaan itu sesungguhnya amat wajar karena Dayak adalah umum. Misalnya, orang yang mengerti akan bingung jika mendengar ada orang yang bilang, “Orang Dayak di Kalimantan tinggal di daratan dan hidup di rumah panjang”.&lt;br /&gt;Orang yang mengerti pasti akan tahu bahwa pernyataan itu umum. Mengapa umum, karena sebenarnya hanya orang Dayak tertentu saja yang masih tinggal di tempat yang disebut daratan. Hanya orang Dayak tertentu yang hidup di rumah panjang. Ya ‘kan? (19/3/2011)(*)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3788663621859057800?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3788663621859057800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3788663621859057800' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3788663621859057800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3788663621859057800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/sejarah-kampung-di-pontianak.html' title='Sejarah Kampung di Pontianak'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2352629031257805729</id><published>2011-04-02T07:07:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:07:20.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UKM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kubu Raya'/><title type='text'>Memberi Merk Kubu Raya</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, akhir Februari saya pergi mengunjungi kampung Parit Lambau, Kubu Raya.  Kunjungan dilakukan karena saya diajak teman. Bukan karena saya ada rencana ke sana.&lt;br /&gt;Perjalanan cukup jauh juga. Melewati Pontianak Utara, hingga tembus ke persimpangan 28 Oktober. Kami menyusuri jalan sempit, sebagiannya tidak beraspal atau tidak juga bersemen. Jalan tanah kuning. &lt;br /&gt;Perjalanan sukar dan jauh begini selalu saya sukai. Bukan suka karena jalannya yang payah, tetapi suka karena saya selalu berpikir, di balik perjalanan susah itu selalu ada temuan yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, benar juga. Ketika sampai di kampung ini saya menemukan banyak hal yang menarik. Banyak hal yang membuat saya kagum dan mendapatkan insprirasi.&lt;br /&gt;Saya sangat terpesona ketika mengunjungi ‘pabrik’ dodol lidah buaya Albarokah. Usaha dodol lidah buaya dirintis seorang pemuda yang tidak suka publikasi. Kawan pernah mengangkat profilnya, tetapi dia tidak mau dipotret. Ya, nama dia tidak begitu penting. Yang penting adalah idenya. &lt;br /&gt;Dia merintis usaha ini sejak beberapa tahun lalu. Semula usahanya berpusat di Kota Pontianak.  Tetapi kemudian, dia pindah ke Parit Lambau.&lt;br /&gt;Meskipun di tempat terpencil ini, usahanya maju dan populer. Produknya sudah dipasarkan di kota Pontianak, Jawa dan bahkan Malaysia. Tempat produksinya sudah dikunjungi banyak orang, baik orang seperti saya, maupun orang yang datang untuk belajar. Pengusaha muda ini juga sudah diminta mengajarkan cara produksi dodol lidah buaya di mana-mana. Terakhir dia diundang di Nusa Tenggara untuk mengajarkan orang di sana membuat dodol lidah buaya. &lt;br /&gt;Saya sempat bertemu dengan dia dan kami ngobrol sedikit. Dia mengatakan mendapat keterampilan itu dahulu dari pelatihan. Kemudian dia bekerja pada orang. Lalu, panjang cerita dia membuka usaha sendiri. &lt;br /&gt;Pekerjanya adalah keluarga. Beberapa orang adik dan iparnya membantu. Ada yang mengurus pembelian bahan, membersihkan, mengaduk adonan, dan kemudian memasarkannya. Dari usahanya ini, adik-adiknya bisa kuliah. Seorang adik pengusaha itu sudah sarjana; dan saya sempat menemui sarjana itu saat dia sedang mengaduk tepung di dalam kuali. Seorang lagi adiknya sedang melaksanakan praktik lapangan (PPL) sebagai program kuliah di salah satu perguruan tinggi. Adik yang sedang PPL ini sempat menunjukkan pada saya program pengembangan usaha lidah buaya yang dirintis abangnya itu. Diantara pengembangan usaha sekarang ini adalah kerupuk lidah buaya.&lt;br /&gt;Ketika saya bertanya kepada pengusaha itu, mengapa mereka memilih usaha di kampung di tengah hutan ini, saya mendapat jawaban yang membuat saya melongo takjub. Jawabannya sangat futuristik. Mereka memilih membuka usaha ini karena bahan pendukung produksi mudah diperoleh di sini. Kayu untuk bahan bakar tersedia banyak di hutan. Mereka juga mempertimbangkan tenaga kerja tersedia di sini. &lt;br /&gt;Lebih dari itu, pengusaha mempertimbangkan untuk menciptakan merk produksi. Produk asal Kubu Raya. &lt;br /&gt;Mereka juga pikirkan ke depan. Bahwa suatu saat nanti, bahan produksi yang dibeli di Pontianak, bisa mereka sediakan sendiri. Sang pengusaha sudah mempersiapkan lahan untuk menanam lidah buaya tidak jauh dari tempat mereka. &lt;br /&gt;Saya sangat mengagumi apa yang mereka lakukan dan juga cara mereka berpikir. Oo, andai saja banyak orang bisa melakukan itu dan berpikir seperti itu, pasti kita semua akan makmur. (27/3/2011) (*)&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2352629031257805729?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2352629031257805729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2352629031257805729' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2352629031257805729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2352629031257805729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/memberi-merk-kubu-raya.html' title='Memberi Merk Kubu Raya'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5485203065620372829</id><published>2011-04-02T07:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T07:01:36.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom Metro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Dilema PKL di Kota Bersinar</title><content type='html'>Yusriadi, Borneo Metro &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Pak Moi, sebut saja begitu, duduk berurai air mata. Lucu juga membuat nelangsa. Lucu karena biasanya, Pak Moi bersuara lantang dan gagah. Jauh dari kesan air mata. Nelangsa karena siapa pun yang berhati halus dan berperasaan pasti tersentuh hatinya melihat orang menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Moi hari itu berusaha melawan anggota Satuan Polisi Pamong Praja, Kota Pontianak. Tapi tak bisa melawan. Dia berusaha bertahan, tapi tak mampu sebab jumlah anggota Sat Pol PP banyak. Sekuat apapun, tak mungkin satu orang menghadapi puluhan orang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Moi menangis karena tempat jualannya, gerobak, yang biasa diparkir di pinggir jalan sekitar kawasan Tanjungpura ditertibkan petugas. &lt;br /&gt;Dia mencoba melawan karena dia menganggap adalah haknya berusaha. Berjualan rokok, indomie, minuman, adalah pekerjaan baik, ketimbang menjadi pemalak. Ini ada usaha. Bahkan, dia juga berucap, usaha yang dia lakukan memberikan sumbangan terhadap pembangunan ekonomi Kota Pontianak.&lt;br /&gt;Pak Moi juga mencoba melawan karena kerja jualan ini merupakan satu-satunya penyara kehidupan rumah tangganya. Usaha itu begitu mudah dilakukannya setiap hari. Setidaknya dibandingkan sebelumnya, dia dengan susah payah melamar pekerjaan. &lt;br /&gt;Pak Moi pernah kerja menjadi tukang pikul. Dia mengangkut barang orang di kawasan Pasar Tengah. Dia juga pernah bekerja sebagai pengaduk semen, bersama kawan-kawannya, untuk bangunan perumahan. Kerja-kerja ini jauh lebih sakit. Badannya tidak kuat. Tenaganya mulai lemah. &lt;br /&gt;Dia tak dapat menikmati kerja enak sebagai pegawai kantoran. Ijazah SMA tidak dapat dipergunakan. Tidak laku. Atau, setidaknya dia tidak tahu bagaimana cara membuat ijazahnya laku jual.  &lt;br /&gt;Lantas, suatu ketika dia berusaha membuat gerobak. Dia jualan kecil-kecilan di pinggir jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Pak Moi ditertibkan? Karena dia tidak tertib. Pak Moi berjualan di pinggir jalan. Di tempat yang tidak seharusnya. Di tempat yang dilarang. Pemerintah Kota sudah mengeluarkan peraturan: tidak boleh berjualan di atas jalan. Tidak boleh berjualan di atas trotoar. Tak boleh juga berjualan di atas parit.&lt;br /&gt;Namun, pedagang terus menerus bertahan, dan pedagang baru muncul. Mereka bertahan karena berjualan di pinggir jalan merupakan pilihan mudah di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan. &lt;br /&gt;Berjualan di pinggir jalan juga memerlukan modal yang tidak besar. Setidaknya dibandingkan mereka harus memiliki tempat atau menyewa ruko, berusaha di pinggir jalan hanya perlu sedikit modal. Karena sedikit modal inilah maka banyak orang yang bisa merintis bisnis dimulai dari pinggir jalan. Modalnya hanya kemauan.&lt;br /&gt;Tidak perlu juga keterampilan yang pelik-pelik. Tidak perlu juga syarat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sebenarnya kasihan. Saya pernah berbicara dengan seorang pejabat di pemerintahan kota Pontianak, beberapa waktu lalu. Katanya, dia tidak bisa bertindak terlalu keras kepada para pedagang kaki lima, karena kegiatan PKL itu merupakan sekolah alam bagi mereka. &lt;br /&gt;Mereka yang menjadi PKL itu hakekatnya mereka yang baru belajar berusaha. Dengan modal sedikit mereka berlajar mengelolanya, mengatur keuangannya. Sekaligus belajar bagaimana menjual dan melayani orang. &lt;br /&gt;“Mereka tidak akan selamanya jadi PKL. Kalau usaha maju pasti mereka ingin cari tempat usaha yang bagus. Takkan selamanya mereka mau hidup di pinggir jalan itu,” katanya.&lt;br /&gt;Tetapi, para PKL juga tidak bisa dibiarkan di pinggir jalan karena tidak selamanya mereka tertib dan bersih. Justru seperti sering dikeluhkan, Kehadiran mereka merusak pemandangan. Mereka membuat kota jadi semerawut. Mereka membuat jalan semakin sempit. &lt;br /&gt;Lalu, kehadiran mereka yang tidak teratur itu dikeluhkan. Komplen muncul dari pengguna jalan. Ketidakpuasan muncul dari orang yang menyukai keindahan dan ketertiban.&lt;br /&gt;Pemerintah membuatkan larang atau pembatasan. Tempat-tempat tertentu boleh, tempat-tempat tertentu dilarang.&lt;br /&gt;Ada beberapa kebijakan pernah dilakukan pemerintah. Pemerintah membuat pasar baru untuk menampung mereka. Ada Pasar Flamboyan untuk menampung PKL di Jalan Tanjungpura. Ada Pasar Pujasera untuk menampung PKL di sekitar Jalan Agus Salim. Ada kios Pattimura untuk pedagang di sekitar Jalan Nusa Indah-Pattimura. Ada Pasar Cempaka untuk pedagang di Jalan Tanjungpura. &lt;br /&gt;Apakah usaha ini berhasil membersihkan PKL? Entahlah. Yang pasti, Sat Pol PP masih disibukkan pada pekerjaan rutin: “Menertibkan PKL”. Petugas masih harus bertindak keras membongkar lapak PKL. Kadang kala, ada perlawanan PKL yang harus mereka hadapi. &lt;br /&gt;Hingga belakangan ini pemerintah membuat kebijakan baru: PKL bongkar sendiri bangunan mereka. Ada uang ganti upah bongkar. Kebijakan ini sangat mulus ketika diterapkan di Jalan Tanjungpura, kawasan Nusa Indah. Kebijakan serupa juga diterapkan saat penertiban PKL di depan Kampus Untan, Jalan Imam Bonjol, Pontianak.&lt;br /&gt;Selain solusi itu, PKL juga memiliki solusi tersendiri dalam menghadapi tindakan Sat Pol PP. Entah siapa yang mengajarkan dan memulai, di kalangan PKL ada bisik-bisik, jika mau aman dari penertiban, sebaiknya minta perlindungan dari Sat Pol PP. Karena itulah kemudian, ada sejumlah PKL yang tergabung dalam kelompok PKL binaan Sat Pol PP. Walaupun kedengaran aneh, karena seharusnya pembinaan kegiatan ekonomi kecil begini sudah ada dinas yang mengurusnya, namun, binaan ini sangat baik bagi PKL. Sebab, kononnya, PKL binaan Sat Pol PP tidak akan terkena gusuran. Jika pun lokasi dagangnya digusur, PKL bisa lebih awal menyelamatkan barang dagangan mereka. Jadi, aman!&lt;br /&gt;Selain Sat Pol PP, PKL yang ingin aman juga bisa mencari perlindungan dari penguasa wilayah usaha. Penguasa itu tergantung wilayahnya. Ada yang di bawah kekuasaan Pak RT. Ada yang di bawah kekuasaan organisasi tertentu, tokoh politik, dan ada juga yang berada di bawah kekuasaan orang keamanan. Jika ada penertiban, penguasa inilah yang melindungi mereka menghadapi Sat Pol PP. &lt;br /&gt;Tetapi, tidak semua orang mendapatkan perlindungan seperti yang diharapkan. Meskipun sesekali Sat Pol PP mengalah karena banyak massa yang melindungi para PKL yang akan ditertibkan, namun, PKL tidak bisa mendapat perlindungan terus menerus dari pelindung mereka. Biaya yang mereka keluarkan relative besar dan itu menyedot modal kerja mereka. &lt;br /&gt;Pada akhirnya, PKL kembali harus menghadapi hukum sendiri. Mereka tidak dapat terus menerus berdiri di bawah pelindung mereka karena PKL itu memang salah. Mereka tidak bisa terus menerus melawan dengan dalih tidak ada perhatian pemerintah, mereka juga tidak bisa terus bertahan dengan dalih belum ada pemberitahuan sebelum penertiban. &lt;br /&gt;Lantas, akhirnya mereka hanya bisa main kucing-kucingan. Contoh permainan kucing-kucingan PKL dan Sat Pol PP terjadi beberapa waktu lalu. Kala itu, Sat Pol PP melakukan penertiban di sepanjang jalan arah parit Sungai Jawi. Kala penertiban, atau tepatnya, kala pasukan penertiban Sat Pol PP tiba di lokasi, tidak ada satu pun pedagang yang buka. Gerobak-berobak yang biasanya ada di pinggir jalan, mereka tarik ke atas jembatan. &lt;br /&gt;Alhasil, saat itu Sat Pol PP tidak bisa menyita gerobak atau lapak PKL.  &lt;br /&gt;Lantas, dua jam kemudian, setelah bayangan Sat Pol PP lenyap, satu per satu pedagang kecil ini mulai menarik gerobaknya dari atas jembatan ke bahu jalan. Mereka mula buka usaha seperti biasa. &lt;br /&gt;Mungkin Sat Pol PP tersenyum melihat ulah PKL yang mengakali mereka. Mungkin juga PKL tersenyum karena berhasil mengakali Sat Pol PP. Duh, senangnya melihat mereka bisa saling tersenyum. (3/4/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5485203065620372829?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5485203065620372829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5485203065620372829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5485203065620372829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5485203065620372829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/dilema-pkl-di-kota-bersinar.html' title='Dilema PKL di Kota Bersinar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8819799544576008170</id><published>2011-04-02T06:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T06:58:08.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kalbar'/><title type='text'>Pra Sejarah Kalbar</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mendapat tugas menulis pra-sejarah Kalbar untuk rencana buku Sejarah Kalbar, saya teringat pada bangunan candi yang tidak bernama di sekitar Negeri Baru, Ketapang. Saya mengunjungi lokasi candi ini beberapa bulan lalu sempena Kongres Kebudayaan Kalbar II di Ketapang.&lt;br /&gt;Awalnya, AA Mering, teman di Borneo Tribune yang mempromosikan candi ini. Dia membuat keingintahuan saya menggelegak ketika memperlihatkan foto candi yang diambilnya, sehari sebelumnya. “Ini lokasi candi, Bang. Kami ke sana kemarin,” katanya sambil memperlihatkan foto di kameranya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Satu demi satu foto diperlihatkannya. Susunan bata dari tanah liat terlihat jelas, meskipun tidak tinggi, dan meskipun sebagiannya masih terpendam di dalam tanah. “Ahli arkeologi dari Kalsel yakin ini candi karena mereka menemukan ada sumur ini”. &lt;br /&gt;Mering menunjukkan gambar sumur kecil. Bah, Mering berhasil memprovokasi saya. Keinginan saya untuk mengunjungi lokasi itu membuncah. “Saya harus pergi. Rugi jika tidak ke sana!”&lt;br /&gt;Seorang teman orang Ketapang bersedia mendampingi saya mengunjungi lokasi candi itu. Kami sempat putar-putar mencari lokasi itu dan bertanya kepada beberapa orang di mana lokasi itu. Sebab rupanya, orang Ketapang itu belum pernah pergi ke lokasi. Dia mengaku hanya mendengar-dengar saja ada temuan candi.  Dan, agaknya selama ini dia tidak tertarik pergi ke tempat yang menurut saya luar biasa itu.&lt;br /&gt;Tidak ada juga penunjuk arah dipasang untuk memberitahu orang di mana lokasi candi ditemukan. Pada akhirnya sampai juga kami di lokasi. Saya melihat lokasi bekas galian dengan takjub. Saya sempat bergumam dalam hati: Inilah candi itu. Inilah tapak penting bagi masa lalu Ketapang.&lt;br /&gt;Lantas saya seperti terlena melihat masa lalu. Saya membayangkan ada bangunan candi megah di sekitar gubuk-gubug beratap daun. Ada menara yang menjulang. Ada dinding bata yang kokoh. Ada warga yang beribadah. Ada kehidupan yang damai. Film Rara Jongrang dengan latar belakang candi Mendut seketika berputar di depan saya. Hayalan itu buyar ketika teman saya mengajak saya bicara. “Masuk ndak?”&lt;br /&gt;Dia mengajak masuk ke dalam lokasi penggalian. Kami menyeruak di antar pagar pembatas.  Seorang warga yang tinggal di dekat lokasi menjadi pemandu. Dia ikut dalam tim evakuasi yang terdiri dari professor arkeologi, menggali tanah menemukan reruntuhan. “Dahulu batu-batu seperti ini banyak. Waktu orang bangun masjid di sana, batu ini diangkut, untuk nimbus. Waktu orang buat jalan, batu-batu ini juga dipakai. Diangkut,” kata warga itu.&lt;br /&gt;Wow, sayang sekali. Andai saja batu-batu itu tidak diangkut. Andai saja batu-batu itu disusun…. Mungkin gambaran tentang candi bisa diperoleh dengan lebih jelas. Mungkin, batu-batu itu bisa disusun kembali menjadi bangunan, apapun bentuknya. Tapi, ini sudah kadung. Kini batu-batu bata itu sudah terbungkus semen, sudah tertimbus tanah. Hanya kenangan. Saya melihat persamaan antara candi dengan apa yang saya hadapi sekarang. Tapaknya ada, tapi bentuk utuhnya tidak ada. Hanya gambaran, bayangan. Bentuk utuh perlu disusun kembali. Perlu upaya menggalinya. (2/4/2011) (*)&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8819799544576008170?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8819799544576008170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8819799544576008170' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8819799544576008170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8819799544576008170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2011/04/pra-sejarah-kalbar.html' title='Pra Sejarah Kalbar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3893499808574025560</id><published>2010-12-28T04:08:00.000-08:00</published><updated>2010-12-28T04:08:32.297-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Club'/><title type='text'>P3M Gelar Bedah Buku Tokoh Pendidikan Islam di Kalbar; Club Menulis Launching Buku Perdana</title><content type='html'>Oleh: Mahmud Alfikri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak menggelar bedah buku berjudul “Tokoh Pendidikan Islam di Kalimantan Barat” di UPT STAIN Pontianak pagi ini.&lt;br /&gt;Bedah buku ini akan dibuka oleh Pembantu Ketua I STAIN Pontianak H. Rustam, M.Pd mewakili Ketua STAIN Pontianak Dr. Hamka Siregar, dirangkai dengan kegiatan mahasiswa STAIN Pontianak dan kegiatan Pusat Studi Wanita STAIN Pontianak. &lt;br /&gt;Kepala P3M STAIN Pontianak, Yapandi Ramli, M.Pd., dalam releasenya Senin (20/12) kemarin, kegiatan bedah buku dimulai dengan presentasi editor buku Yusriadi, yang akan memaparkan proses editing buku dan gambaran isi secara umum.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan presentasi para penulis buku. Penulis buku itu berjumlah 20 orang, mereka adalah mahasiswa STAIN Pontianak yang bergabung dalam Club Menulis STAIN.&lt;br /&gt;“Setelah presentasi itu dilanjutkan dengan komentar dua orang pembedah buku, yaitu H. Nur Iskandar, SP, jurnalis yang menulis profil imam Masjid Mujahidin Pontianak dan profil mantan anggota DPR-RI, Fanshurullah Asa; dan komentar pemerhati sejarah dan dosen luar biasa STAIN Pontianak, Drs. H. Soedarto,” katanya. &lt;br /&gt;Sesi ini akan dipandu oleh Dr. Hermansyah, Direktur STAIN Pontianak Press, yaitu lembaga yang menerbitkan buku tersebut. Hermansyah juga adalah Pembantu Ketua III STAIN Pontianak.&lt;br /&gt;Menurutnya, penyelenggara telah mengundang mahasiswa dan dosen STAIN Pontianak, serta pelajar dari  berbagai sekolah di kota Pontianak dan peneliti dari Balai Bahasa Pontianak. &lt;br /&gt;Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Club Menulis STAIN Pontianak melakukan launching buku terbitan perdana hasil karya tulis anggota Club Menulis. “Ada 5 buku anggota Club Menulis yang dilaunching pagi ini,” kata Hermansyah, Puket III STAIN Pontianak yang menaungi Club Menulis STAIN Pontianak. &lt;br /&gt;Selain launching, Puket III juga akan mengumumkan mahasiswa terbaik dari club-club binaan Puket III, yaitu Club Menulis, Klub Al-Quran, Klub Bahasa Inggris dan Klub Bahasa Arab. Mahasiswa terbaik akan mendapat “Anugrah Karya 2010”.&lt;br /&gt;Pagi ini Puket III juga akan menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba pada Pameran Majalah Gantung Club Menulis STAIN Pontianak, dan juara Majalah Gantung Favorit Pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang Dilaunching &lt;br /&gt;Buku 1 . Cinta Sekufu: Sambas – Jakarta. Editor Yusriadi (2010). Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini memuat 11 kumpulan cerpen yang bernuansa Islami, yang ditulis oleh 11 penulis. Tulisan itu adalah: Abu Ahmad Al-Asfari berjudul: Sang Penguasa Kantor; Siti Hanina, Sang Pemaaf; Rendyatno Umboro, Aku tak Mau Jadi Sumanto; Patmawati, Nyanyian Lirih Buruh Saumata; Juniawati, Tersesat; Erika Sulistia, Senyum yang Hilang; Marisa, Maaf yang Tak Terucap; A. Mutamakin, Menghapus Noda; Mahmud Al-Fikri, Sentuhan Lembut di Hati; Yusriadi, Cinta Sekufu: Sambas – Jakarta; Atalia, Sisa Kenangan. &lt;br /&gt;Buku 2. Tokoh Pendidikan Islam di Kalimantan Barat. Editor: Yusriadi (2010).  Pontianak: STAIN Pontianak Press&lt;br /&gt;Buku ini memuat profil  20 dosen STAIN Pontianak yang ditulis  oleh 20 anggota Club Menulis STAIN Pontianak. Mereka adalah:  Abd Rachman Abror, Guru Semua Orang, yang ditulis  Nur Azizah; Haitami Salim, Popularitasnya Seantero Wilayah, ditulis oleh  Kiki Supardi; Dwi Surya Atmaja , Mutiara  Terpendam yang Terlupakan ditulis oleh  Marisa; Hamka Siregar, Menuju Puncak ditulis oleh Sahirul Hakim; Hermansyah, Selalu Haus Ilmu ditulis oleh Mahmud Alfikri ; Rustam, Pak ‘Berat’ yang Disiplin ditulis oleh Kurnia Jumiati; Marsih Muhammad, Ada masalah? Cuek aja! ditulis oleh  Farninda Aditya; Yusdiana, Setiap Usaha Pasti Ada Hasilnya ditulis oleh  Lusi Fontiani; Yapandi Ramli, Dari Pembantu Biasa Hingga Pembantu Ketua ditulis oleh  Rasmawati; M. Syaifullah, Dosen yang Romantis ditulis oleh Mery Supriadi.&lt;br /&gt; Nelly Mujahidah,  Berjuang untuk Sukses ditulis oleh  Siti Hanina; Edi Kurnanto, Selalu Berusaha untuk Menulis ditulis oleh Erika Sulistia; Patmawati, Sosok  Tegar dan Disiplin ditulis oleh  Hiliyah; Harjani Hefni, Penasehat Segala Bidang ditulis oleh  Nur Rabiyah; Zaenuddin, Dari Tengah Hutan Menuju Pusat Dunia ditulis oleh Romiyati; &lt;br /&gt;Zulkifli, Minder Mengantarkannya pada Keberhasilan oleh  Rita Sri Erviani; Rahmat, Nilai di Balik ‘Kesaklekan’ oleh Maisuri;   Ita Nurcholifah, Pribadi  yang Mengagumkan ditulis oleh Binti Suyanti; Yulia, Merantau Demi Ilmu ditulis oleh  Mely Diana; Fitri Kusumayanti, Dosen Sosiologi yang Hobi Nyanyi ditulis oleh Hikmah.&lt;br /&gt;Kisah kehidupan para tokoh  sejak mereka kecil hingga sekarang ini, disajikan oleh para penulis dengan gaya bercerita, sehingga lebih mudah dicerna. Cita-cita dan harapan, serta perjuangan dan pertualangan mereka ditampilkan agar dapat memberikan inspirasi bagi orang yang membaca. Penulisan ini juga diharapkan menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang anak manusia. &lt;br /&gt;Buku 3. Untuk Satu Mimpi. Editor Hardianti. (2010). Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini berisi kumpulan 12 cerpen yang dibuat oleh anggota Club Menulis STAIN Pontianak. 12 cerpen itu adalah: Jalan Menuju Sekolah (Farninda Aditya); Surat Terakhir untuk Kak Mi (Romi Yati); Impian Sang Fajar (Siti Khadijah); Wisuda Terakhir (Erika Sulistia); Kudapatkan Cita-citaku (Nur Rabiah); Mengejar Mimpi (Maisuri); Kegagalan yang Mendewasakan (Nur Azizah); Mukena untuk Emak (Hardianti); Memulai Perjalanan Baru (Lina Herliyanti); Jawara (Ambaryani); Petromarks di Kampung Canggih (Lusi Fontiani); Gara-gara Surat Gombal (Holi Hamidin).&lt;br /&gt;Buku 4. Kisah Pelarian 97. Editor: Yusriadi &amp; Ambaryani. Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini ditulis oleh 9 penulis anggota Club Menulis STAIN Pontianak. Siti Hanina, Kisah Pelarian 97. Mely Diana, Pelarian ke Rumah Kakek – Sisi Lain Kerusuhan Etnis 1997. Hiliyah, Ketika Peluru Berdesing. Erika Sulistia, Amukan Pendukung Caleg. A. Mutamakin, Jago Merah di Terminal Nipah Kuning. Sy. Sahara, Tanjung Satai Membawa. Hikmah, Puting Beliung di Tanggul Limbung. Nety Diana, Peristiwa Keramat Batu Klebut, Sepauk. Kurnia Jumiati, Tragedi Kamis Beruntun.&lt;br /&gt;Cerita-cerita dalam buku ini merupakan kisah pengalaman masing-masing penulis. Mereka menceritakan bagaimana mereka, dan orang di sekitar mereka ketika peristiwa itu terjadi. Meskipun cerita-cerita ini berisi ketegangan dan ketakutan, namun pembaca pasti tidak selamanya diliputi ketegangan karena para penulis menyisipkan sisi homur di balik peristiwa-peristiwa tersebut. &lt;br /&gt;Buku 5. Bugis Perantauan, Kisah Perjalanan Anggota Club Menulis di Parit Banjar. Editor Yusriadi. 2010. Pontianak: STAIN Pontianak Press.&lt;br /&gt;Buku ini berisi kisah perjalanan anggota Club Menulis yang mengikuti kegiatan Riset Wisata, Malay Corner (MC) ke Dusun Parit Banjar atau Dusun Melati, Kalimas, Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya.&lt;br /&gt;Ketika kembali dari lokasi, setiap anggota Club Menulis membuat catatannya masing-masing. Pertama, tulisan A. Mutamakin berjudul Mengukir Sejarah Seharum Melati, Sedalam Parit Banjar. Ke dua,tulisan Nur Rabiyah berjudul Riset Awal yang Menyenangkan. Ke tiga, tulisan Mahmud Alfikri berjudul Belajar dari Parit Banjar. Ke empat, tulisan Rendyatno U berjudul Guru Kehidupan di Dusun Melati. Ke lima, tulisan Ambaryani berjudul Mengumpulkan Serpihan Keabadian. &lt;br /&gt;Tulisan ke enam, oleh Farninda Aditya berjudul Bekennya Parit Banjar. Ke tujuh, tulisan  tulisan  Siti Hanina berjudul Berbeda dari yang Lain. Ke delapan, tulisan Romi Yati Bintun Nahl berjudul Inilah Pengalaman Pertamaku. Ke sembilan tulisan Erika Sulistia Maida Ningsih berjudul Tim Belajar ke Parit Banjar. Ke sepuluh tulisan Marisa berjudul Kehangatan di Parit Banjar; dan tulisan ke sebelas oleh Nur Azizah berjudul Perjalanan yang Berkah.&lt;br /&gt;Buku 6. Jejak Bugis di Tanah Borneo. Editor Yusriadi (2010). Pontianak: STAIN Pontianak: Press.  Buku ini berisi 13 tulisan yang menggambarkan situasi perjalanan dan apa yang diamati peserta di Parit Banjar atau Dusun Melati, Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. &lt;br /&gt;Tiga belas tulisan itu adalah: Pertama, tulisan Ibrahim berjudul Kisah Mengesankan di Kampung Melati. Ke dua, tulisan Yusriadi berjudul Mencari Identitas Bugis di Parit Banjar. Ke tiga, tulisan Ismail Ruslan berjudul Budaya "Keleleng" di Dusun Melati. Ke empat, tulisan Cucu Nurjamilah berjudul Kehidupan Masyarakat di Parit Banjar. Ke lima, tulisan Fitri Kusumayanti berjudul Berjuang untuk Hidup. Ke enam, tulisan Amalia Irfani berjudul Pengalaman yang Mengesankan. &lt;br /&gt;Tulisan ke tujuh karya Dedy Ari Asfar berjudul Orang Bugis di Tanah Melayu. Ke delapan tulisan Hizbul Maududi berjudul Kelapa Naga di Parit Banjar. Ke sembilan, karya Martina berjudul Orang Bugis di Parit Banjar. Ke sepuluh, tulisan  Nindwi Hafsari berjudul Semalam di Parit Banjar. Ke sebelas, tulisan Fitriani berjudul Parit Banjar, Bugis Kalolah dan Sistem Sapaan. Ke dua belas, tulisan Mardian Sagiant berjudul Bahasa Ibu; Bahasa Bugis dalam Nafas Eksistensinya di Dusun Melati. Ke tiga belas, tulisan Riani Kasih berjudul Menulis Kebudayaan Parit Banjar, Menulis Kebersamaan. (*)   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3893499808574025560?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3893499808574025560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3893499808574025560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3893499808574025560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3893499808574025560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/12/p3m-gelar-bedah-buku-tokoh-pendidikan.html' title='P3M Gelar Bedah Buku Tokoh Pendidikan Islam di Kalbar; Club Menulis Launching Buku Perdana'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8506228724261689638</id><published>2010-11-20T04:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:26:03.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Handphone Pak Oreng</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa lalu, saya dan beberapa rekan melakukan wawancara dengan Pak Nyirum Oreng, pengurus adat Kanayatn di Lintang Batang, Kubu Raya. Kami menggali pengetahuan beliau seputar adat istiadat di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Pak Oreng, lelaki berumur lebih 60 tahun itu melayani kami dengan ramah. Beliau juga sangat terbuka. Pengetahuan beliau tentang adat sangat dalam dan mengagumkan. &lt;br /&gt;Saya kira keramahan beliau itu karena beliau orang gaul dan suka bertukar pikiran. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan orang gaul karena beliau memiliki jam terbang sangat tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain, baik sesama orang Lantang Batang, maupun dengan orang luar. Beliau mengaku keturunan Bugis dari kakeknya yang bernama Samad. Beliau pernah diangkat anak oleh orang Madura, dan itu pula menyebabkan dia memiliki nama “oreng”. Beliau juga belajar silat dari orang Melayu, belajar perobatan dari orang Cina, dll. &lt;br /&gt;Tetapi lebih dari sekadar mengerti berkomunikasi, saya kira keramahan beliau juga disebabkan karena bersama kami ada muridnya bernama Atalia. Atalia belajar silat kepada Pak Oreng. Dialah yang menjadi pemandu kami di Lintang Batang. &lt;br /&gt;Setelah panjang lebar wawancara itu, kami pamit. Agar komunikasi lebih mudah, saya meminta nomor handphone (HP) beliau. &lt;br /&gt;Pak Oreng menyeluk koceknya dan mengeluarkan HP. Saya lihat sebuah HP sederhana jenis Nokia. &lt;br /&gt;“Coba lihat nomor saya di situ,” katanya seraya meletakkan HP di atas meja yang membatasi kami.&lt;br /&gt;“Cari ada nama saya di situ,” tambahnya.&lt;br /&gt;Tentu saja saya tidak enak melakukannya. Atalia segera mengambil inisiatif meraih HP itu dan membukanya.&lt;br /&gt;“Nek, banyak sms ini,” kata Atalia. &lt;br /&gt;Atalia sejak awal memang memanggil Pak Oreng dengan Nenek. Nenek atau Nek adalah panggilan untuk kakek dalam masyarakat Kanayatn.&lt;br /&gt;Pak Oreng meminta Atalia membacanya. Ada sms dari wartawan TV yang membatalkan rencana shooting atraksi silat Pak Oreng, dll. Atalia terkejut karena sms itu sudah agak lama terkirim, dan belum dibaca-baca oleh Pak Oreng. &lt;br /&gt;Rupanya, Pak Oreng belum biasa membaca sms. HP bagi beliau lebih banyak untuk berkomunikasi lisan. Jadi, jika ada panggilan masuk, beliau menjawabnya, atau sebaliknya menghubungi nomor yang dituju. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada Pak Oreng mengingatkan saya pada Emak di rumah. Mungkin umur mereka kurang lebih. Emak juga pegang HP sejak beberapa tahun ini. HP Emak juga jenis sederhana. &lt;br /&gt;Emak juga hanya biasa menggunakan HP untuk komunikasi lisan. Jika ingin kontak kami langsung telepon. Jangan kirim sms, karena Emak tidak pernah buka sms. Sms masuk baru dibaca kalau sudah ada anak atau cucunya yang membukanya. &lt;br /&gt;Kami sudah coba menunjukkan cara membuka sms, menulis dan mengirimnya. Namun, Emak merasa tidak mudah. Emak lebih suka yang praktis. Pilihan jenis HP sederhana juga disebabkan pertimbangan praktis itu. &lt;br /&gt;Saya membayangkan mungkin hari ini Pak Oreng dan Emak tidak biasa dengan sms, tetapi beberapa tahun mendatang mereka mungkin akan menjadi biasa. Tidak ada yang mustahil jika kebutuhan komunikasi di masa depan menuntut hal seperti itu. Asumsi ini muncul karena sebelum ini, HP bagi mereka juga bukan barang yang biasa. HP baru tergenggam oleh mereka dalam beberapa tahun ini, setelah menara dan jaringan telepon seluler dibangun di pelosok nun jauh di sana. Semua ini sesungguhnya tidak pernah saya  dibayangkan terjadi saat saya menghayal 20 tahun lalu. &lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8506228724261689638?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8506228724261689638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8506228724261689638' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8506228724261689638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8506228724261689638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/handphone-pak-oreng.html' title='Handphone Pak Oreng'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8575690296920338489</id><published>2010-11-20T04:24:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:24:05.708-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Belajar dari Orang Teluk Bakung</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa lalu, saya bersama Juniawati, Hardianti dan Atalia berkunjung ke Teluk Bakung. Kampung ini terletak di ujung aspal jalan trans-Kalimantan dari arah Pontianak. Dari Pontianak kira-kira satu setengah jam perjalanan menggunakan motor. &lt;br /&gt;Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan hal-hal teknis berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan “Koran Perempuan” yang dikelola Juniawati dan Hardianti, plus kawan-kawan mereka di Pusat Studi Wanita (PSW) STAIN Pontianak.&lt;br /&gt;Saya diajak Juniawati karena pada kegiatan hari Minggu besok, diminta menjadi pendamping saat pelatihan. Ca’-ca’annya, mengajar ibu-ibu di Teluk Bakung menulis untuk koran. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti di depan rumah kepala dusun, Pak Rita panggilannya. Rumah itu, wow… sungguh sangat besar dan megah. Modelnya juga modern. Saya mengagumi model yang dipilih, sekaligus mengagumi pemilik rumah yang pasti memiliki modal besar. Ratusan juta! &lt;br /&gt;Kami berkenalan dengan Pak Gita. Kekaguman saya berlanjut. Kepala Dusun itu ternyata masih muda. Menurut saya, orang muda yang dipilih menjadi pemimpin pastilah orang muda yang istimewa. Dan benar, panjang cerita, ternyata beliau sedang kuliah ilmu hukum di Fakultas Hukum, Universitas Panca Bhakti Pontianak. &lt;br /&gt;Mengapa kuliah lagi? Ternyata Pak Gita mau kuliah karena ingin memperoleh ilmu sehingga bisa mengadvokasi masyarakatnya. Beliau ingin masyarakatnya lebih maju, berpendidikan. Pilihan bersekolah lagi adalah salah satu upaya untuk memberi contoh kepada warganya.&lt;br /&gt;Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap masyarakatnya sekarang, dan usaha-usaha apa yang sudah dilakukan untuk mereka itu selama ini. &lt;br /&gt;Pandangannya soal pluralisme juga diungkap. Saya menangkap kesan bahwa orangnya sangat terbuka dan pikirannya sangat maju.  &lt;br /&gt;Setelah itu, kami berkunjung ke masjid Muhajirin di ujung kampung. Kami bertemu dengan ustadz di sana. Zulkifli namanya. Dia lulusan STAIN, dan ternyata saya pernah mengajarnya. &lt;br /&gt;Saya sempat terpana. Oh, rupanya sewaktu mengajar saya tidak dapat melihat mutiara itu. Ya, dia adalah mutiara. Saya baru tahu Zul ini mengabdi di Teluk Bakung. Kok mau? Padahal dia sempat mengajar di beberapa tempat di Pontianak dan sangat pandai dalam soal computer. Dia sekarang juga sedang menyelesaikan studi S-2 di Jawa. &lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu dia membangun pesantren sederhana. Modalnya Rp 2 juta! Angka yang membuat saya terkejut. Benar-benar terkejut. Bisa ya? Lebih mengejutkan lagi mendengar cerita bagaimana perjalanan pesantren itu. Saya melongok ke tempat tinggal santri dan juga tempat tinggal ustadz. Keadaannya benar-benar sederhana. Jangankan kasur empuk, listrik saja tidak ada. Anak-anak tidak dikenakan biaya. Biaya sehari-hari? Sesekali mereka dapat bantuan. Tapi, pada saat yang lain dana dari ustadz sendiri. Zul mengalokasikan dana beasiswa pendidikan S-2-nya untuk makan santrinya. &lt;br /&gt;“Bagi saya yang penting anak-anak di sini mau belajar, saya sudah senang,” katanya.&lt;br /&gt;Atalia, yang datang bersama kami, juga membantu mengajar di sini sembari kuliah di STAIN Pontianak. &lt;br /&gt;Menjelang siang, kami mampir di rumah Pak Rido, salah seorang pengurus masjid Muhajirin. Beliau adalah seorang mualaf. Setelah kami memberitahukan program kami di masjid itu, kami bicara banyak hal. Salah satu di antaranya adalah tentang pengembangan masjid dan lokasi itu. &lt;br /&gt;“Pohon-pohon yang ada di lokasi ini harus dipertahankan. Tidak boleh ditebang. Biar generasi kita kelak tidak kehilangan pengetahuan mereka tentang kekayaan alam di sini,” katanya.&lt;br /&gt;Menurutnya pohon-pohon yang dibiarkan itu akan menjadi daya tarik tempat ini dibandingkan tempat yang lain.&lt;br /&gt;Saya terpana ketika beliau membayangkan lokasi ini kelak akan dikembangkan menjadi tempat pelatihan sambil refresing bagi anak-anak sekolah di kota. &lt;br /&gt;Kejutan saya pada masyarakat di sini belum berakhir. Setelah dari tempat Pak Rido kami bertemu Pak Ije’, atau Nyirum Oreng. Beliau adalah tokoh adat di sini. Beliau juga boleh dianggap sebagai ahli perobatan. Beliau pernah menjadi pengurus kampung, sebagai kebayan beberapa puluh tahun lalu. &lt;br /&gt;Tokoh berumur 62 tahun ini membuat saya tidak mau pulang dari Teluk Bakung. Saya ingin menggali pengalaman dan pengetahuan beliau. Pengetahuan yang beliau miliki luasnya tidak terukur, dalam tak terkira. &lt;br /&gt;Tentang adat, dia pakarnya. Hukum adat diketahui dan beliau menjadi pengadil setiap perkara. Satu buku ditulis pun tak akan cukup untuk mencatat pengetahuan adatnya itu. &lt;br /&gt;Beliau juga ahli dalam pengobatan. Kepakaran beliau tidak saja diakui orang di sekitarnya, tetapi juga oleh orang-orang lain. Bahkan orang yang meminta bantuannya dari dari mana-mana. Sistem pengobatan beliau agak berbeda dibandingkan kebanyakan tukang obat tradisional. Beliau menggunakan bahan-bahan daun, akar, kulit, dan batang tumbuhan yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;Beliau juga pegiat seni dan budaya. Kemampuannya bersilat sempat diperlihatkan kepada kami. Geraknya indah dan lincah. Beliau juga dapat memukul gendang dan gong. Beliau aktif di sanggar Bantola. Sanggar ini beberapa kali berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan di level provinsi. Ada beberapa piala dibawa pulang sanggar ini. &lt;br /&gt;Beliau bisa menganyam ambenan. Beliau membuat topeng. Ketika beliau menunjukkan ambenan yang dianyam sekaligus menjelaskan nama-nama motif dalam anyaman itu, saya serta merta meminta izin belajar menganyam pada beliau di masa mendatang. Puji tuhan, beliau berkenan.&lt;br /&gt;Soal kearifan, wawasan, dan visi beliau juga luar biasa. Kearifan itu dapat dilihat bagaimana beliau menangani perkara-perkara hukum di wilayahnya. Visi beliau juga bisa dilihat dari apa yang beliau lakukan. Salah satu yang berkesan pada saya adalah ketika beliau menunjukkan garam jepang. Garam itu berusia 40 tahun. “Saya menyimpannya karena saya pikir setelah garam baru masuk, garam Jepang pasti akan hilang. Kalau hilang tidak ada lagi contoh yang bisa kita lihat”.&lt;br /&gt;Beliau memikirkan hal seperti itu sejak dulu. Luar biasa. &lt;br /&gt;Kearifan dan wawasan serta pengetahuan dan pengalaman beliau mengingatkan saya pada Tok Olah, Zahry Abdullah, dulu. Datok kami itu memiliki pengetahuan yang luas dan dalam, serta memiliki visi yang kuat. Sayangnya, saya tidak berkesempatan belajar semua itu dari beliau. (*)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8575690296920338489?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8575690296920338489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8575690296920338489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8575690296920338489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8575690296920338489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/belajar-dari-orang-teluk-bakung.html' title='Belajar dari Orang Teluk Bakung'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2098383623559550388</id><published>2010-11-20T04:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:22:01.538-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Keberaksaraan di Parit Banjar</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon matikan handphone (HP) Anda untuk sementara”. Tulisan huruf balok dengan tinta hitam di atas kertas putih ukuran setengah kuarto  terpasang di dalam masjid Misbahuddin, Parit Banjar, Sungai Kakap, Kubu Raya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, tulisan itu memang sengaja ditempel di dinding bagian depan dan samping masjid agar jamaah dapat serta merta membaca tulisan itu ketika berada di masjid. Cukup celingak-celinguk, sambil melihat kaligrafi dan “jam penunjuk waktu salat” di dinding itu, tulisan tersebut sudah pasti terbaca.&lt;br /&gt;Tulisan seperti itu memang familier bagi saya. Tulisan dengan bunyi dan maksud yang sama bisa dilihat hampir di semua masjid di kota Pontianak. Pengurus masjid merasa perlu mengingatkan pemilik HP agar bunyi nada dering HP tidak mengganggu kekhusu’an jamaah saat ibadah. &lt;br /&gt;Sebab sering kali terjadi, saat orang sedang salat tiba-tiba HP berbunyi. Lumayan jika bunyinya sesaat dan hanya nada kring. Tapi, kalau bunyi HP adalah lagu dangdut atau celetukan Upin dan Ipin yang memanggil atok Alang-nya, berulang-ulang, jamaah yang imannya setebal kulit kacang tentu akan senyam senyum.  &lt;br /&gt;Walaupun tulisan itu sudah biasa dilihat, bagi saya tulisan di masjid ini sangat menarik. Ya, menarik karena tulisan itu ada di masjid di tempat agak terpencil; Parit Banjar. Parit Banjar ada di wilayah Kali Mas, Kakap, bukanlah daerah kota. Tempat ini kampung cukup jauh dari Pontianak. Sinyal HP pun juga pilih-pilih. Tidak semua jaringan seluler bisa diterima di sini. Hanya Simpati dan Flexi. Itupun, pilih-pilih tempat yang lokasinya ada sinyal kuat.&lt;br /&gt;Seorang jamaah memberitahu: “Kalau di masjid begini kadang hilang. Biasa di jalan-jalan itu banyak sinyalnya”. &lt;br /&gt;Pengangkutan umum ke tempat ini tidak ada. Bukan jalurnya. Masyarakat keluar dan masuk kampung ini harus menggunakan kendaraan sendiri. Motor boleh, mobil juga bisa. Kampung ini bisa dijangkau dengan motor melalui ujung Kota Baru. Namun, jalan ini juga terbatas. Jika musim hujan begini, jalannya becek. Lumpur di mana-mana membuat perjalanan terhambat. Pilihannya, melalui jalan berbatu dua kilometer dari Kali Mas. &lt;br /&gt;Akses keluar yang sukar begini berpengaruh pada masyarakat. Mobilitas menjadi agak terbatas.  &lt;br /&gt;Pendidikan masyarakat juga tidak begitu baik. Memang ada beberapa anak kampung yang mengenyam sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Tetapi tidak banyak. Itupun untuk generasi baru. Setelah ada sekolah dasar yang dibangun di kampung ini. &lt;br /&gt;Sedangkan generasi tua yang berpendidikan dapat dihitung. Mereka yang berpendidikan adalah mereka yang beruntung dapat keluar kampung dahulu. Mereka yang memiliki kemauan kuat untuk belajar, dan mereka yang memiliki dukungan dari orang tua. Mereka yang semangatnya kurang dan mereka yang dukungan orang tuanya tidak ada, tidak pernah sekolah. Mengaji mereka pandai, namun membaca latin mereka tidak bisa.&lt;br /&gt;Saya yakin mereka yang muda tidak ada masalah dalam membaca tulisan itu. Tetapi orang tua bagaimana? Apakah mereka membaca tulisan itu? &lt;br /&gt;Saya juga sangat penasaran ketika mengingat satu hal: apakah tulisan ini relevan dengan mereka? Apakah masyarakat di sini semuanya sudah punya HP? Sayang sewaktu di sana saya lupa bertanya soal itu. &lt;br /&gt;Jika masyarakat di sini semua punya HP tentu ini akan menjadi tanda penting soal perkembangan ekonomi dan juga soal bagaimana globalisasi masuk ke rumah-rumah penduduk. Ini juga pasti akan menjadi babak penting bagi kemajuan penduduk dalam semua hal. Dampaknya, baik positif atau negative bisa dilihat dan dinilai beberapa tahun mendatang. &lt;br /&gt;Tulisan di masjid ini membawa ingatan ke kampung halaman di Kapuas Hulu. Masyarakat kampung sekarang sudah sangat maju tingkat keberaksaraan mereka. Mereka sudah mengenal bahan bacaan, buku, majalah dan koran. Mereka juga sudah mengenal TV – malah sudah lama. Melalui TV mereka dikenalkan pada tulisan-tulisan terutama iklan, yang pada akhirnya membuat orang kampung mulai ‘berpendidikan’.&lt;br /&gt;Bahkan ketika HP mulai dikenal masyarakat beberapa tahun belakangan ini, mereka mulai menjadi penulis. Ya, HP bagi mereka kini bukan saja alat berkomunikasi, berbicara dengan orang lain, tetapi juga dapat berinteraksi melalui tulisan. &lt;br /&gt;Perkembangan seperti ini pasti tidak pernah kita bayangkan dahulu. Sekarang kita menyaksikan sendiri dunia berubah dengan cepat. Dan kita menjadi bagian dari perubahan yang cepat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2098383623559550388?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2098383623559550388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2098383623559550388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2098383623559550388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2098383623559550388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/keberaksaraan-di-parit-banjar.html' title='Keberaksaraan di Parit Banjar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-9086430803698710629</id><published>2010-11-20T04:20:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:20:17.168-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Menulislah Jika Ingin Berubah</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis membuat orang berubah. Itulah kesimpulan dari pengalaman hidup teman saya Dudi, seorang peneliti di Balai Bahasa Pontianak. &lt;br /&gt;Saat diberikan kesempatan bicara dalam rapat teknis persiapan kegiatan Riset Wisata Malay Corner (MC) kemarin, Dudi mengatakan dirinya merasakan perubahan yang besar dalam hidup setelah membiasakan diri menulis, khususnya menulis kisah perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mengikuti kegiatan pelatihan “Ayo Menulis” yang diselenggarakan MC dua tahun lalu, Dudi menjadi lebih sering menulis untuk menggambarkan apa yang dia lihat dan apa yang dia alami, serta apa yang dia rasakan setiap kali melakukan perjalanan. &lt;br /&gt;“Belum lama ini saya menunggu pesawat delay di Terminal III, Halim Perdana Kusuma. Sambil menunggu, saya menulis apa yang saya lihat dengan menggunakan handphone. Dari jam 3 sampai ke jam 7, tidak terasa”.&lt;br /&gt;Padahal katanya, sebelum ini, jika menunggu sebentar saja dia sudah merasa bosan. Apalagi selama itu. Dengan menulis Dudi mengaku dia tidak sempat bosan karena menjadi lebih perhatian terhadap apa yang terjadi di sekitar. Dengan mengamati gerak-gerik orang dia di sekitar juga bisa menikmati suasana lucu dan menghibur.&lt;br /&gt;Cerita Dudi itu bagi saya merupakan cerita yang penting, dan tentu sangat inspiratif. Saya jadi bisa membayangkan betapa asyik menjadi Dudi saat itu. Betapa serunya menjadi peneliti.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat pada saat memberikan saran kepada mahasiswa yang mengadu bosan karena terlalu lama menunggu seseorang. Saat itu, mahasiswa ditugaskan melakukan wawancara latihan di sebuah lembaga penyiaran. Ketika sampai di kantor media itu, mahasiswa tersebut diminta menunggu karena pimpinan sedang sibuk. &lt;br /&gt;Waktu itu saya menyarankan, jika tidak mau bosan menunggu isi waktu menunggu dengan aktivitas. “Sambil menunggu, kamu melihat keadaan ruang tunggu. Lihat lantainya, dindingnya, plafonnya, hingga isi ruangan. Lalu, buat catatannya untuk memperkaya bahan penulisan”.&lt;br /&gt;Rupanya, dengan jalan yang lain, Dudi menemukan kesimpulan bahwa jika tidak ingin bosan menunggu, isilah waktu dengan menulis. Dengan menulis seseorang akan aktif mengamati keadaan di sekitar. Pasti tidak sempat membosankan. Dudi sudah mempraktekkannya. Dudi sudah membiasakan diri menulis kisah-kisah perjalanannya. &lt;br /&gt;Saya memberikan stressing kesimpulan Dudi itu dengan maksud memberikan penguatan kepada teman-teman lain yang sempat terpingkal-pingkal ketika Dudi mengungkapkan cerita lucu di Terminal 3 itu. Saya ingin ada banyak Dudi lain di sekitar saya. &lt;br /&gt;Bagi saya, cerita Dudi ini menjadi kesempatan juga bagi saya untuk membangkitkan semangat kampanye menulis. Keinginan saya dan kawan-kawan menjadikan budaya menulis sebagai bagian kehidupan sudah lama terbetik. Jauh sebelum Dudi bercerita kemarin, dan juga jauh sebelum mengikuti pelatihan yang kami selenggarakan. &lt;br /&gt;Oleh sebab itulah saya bersama teman-teman membuat macam-macam program untuk menumbuhkan minat menulis. Kami menyelenggarakan pelatihan beberapa kali. Kami juga menyelenggara kampanye menulis dengan datang ke sekolah-sekolah di Kota Pontianak, dan juga membuat pameran di kampus melalui ‘Majalah Gantung’.  Kami melakukan publikasi tulisan di koran –khususnya Borneo Metro dan Borneo Tribune, serta di blog. &lt;br /&gt;Usaha penerbitan buku telah dilakukan untuk melengkapi apa yang kami lakukan. Ada beberapa buku telah diterbitkan. Harap-harap semua itu berhasil.Mimpin menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-9086430803698710629?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/9086430803698710629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=9086430803698710629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9086430803698710629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9086430803698710629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/menulislah-jika-ingin-berubah.html' title='Menulislah Jika Ingin Berubah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6061091994401156843</id><published>2010-11-20T04:18:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:18:30.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bugis'/><title type='text'>Orang Bugis di Parit Banjar</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parit Banjar. Saya mendengar nama itu dari Mahmud Alfikri, mahasiswa yang aktif menulis, sejak puasa lalu. Saat itu dalam sebuah pertemuan anggota Club Menulis STAIN Pontianak dengan Gero Simone dan David Maschede mahasiswa asal Jerman, yang didampingi Nur Iskandar, redaktur di Borneo Tribune, Mahmud  mengatakan lebaran di Parit Banjar sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mahmud, “Di sana mayoritas penduduknya, orang Bugis. Mereka masih cukup kuat mengamalkan budaya Bugis. Kamu bisa ikut saya melihat budaya lebaran mereka, kalau mau”. &lt;br /&gt;Meskipun tawaran itu untuk Gero dan David, namun saya tertarik juga. Pertama, saya memang sedang melakukan penelitian sederhana tentang identitas orang Bugis di Sungai Kakap, dan kedua, kami – saya dan anggota Club Menulis, sedang berusaha menggarap tulisan tentang budaya. Dalam hati, suatu saat saya ingin datang ke kampung ini. &lt;br /&gt;Ketika kemudian beberapa minggu lalu saya berkesempatan berkunjung ke Parit Banjar bersama Mahmud, saya mengakui bahwa kampung ini memang benar-benar mengesankan. &lt;br /&gt;Pertama, jalan menuju kampung ini masih jalan tanah. Saya dan Mahmud berangkat ke Parit Banjar melalui ujung Kota Baru. Jalan masuk ke kawasan Parit Banjar hari itu becek sekali. Banyak lumpur.  Licin. Dua kali saya harus turun dan berjalan kaki saat melintas bagian yang sangat, sangat becek. Hampir sepanjang 3 kilo, Mahmud yang membawa motor harus menjulurkan kaki sebagai tongkat motor agar tidak jatuh. &lt;br /&gt;Keadaan jalan seperti ini tentu saja membuat saya heran. Masak jalan dekat kota bisa begitu parah. Dalam bayangkan saya, seharusnya jalan di Parit Banjar ini keadaannya baik. Seharusnya pemerintah memberikan prioritas.&lt;br /&gt;Dalam keadaan becek seperti ini, saya merasakan Parit Banjar itu tempat yang jauh. Penduduk yang cukup ramai menjadi susah bergerak. Mobilitas mereka menjadi terbatas. Lebih dari itu, jalan yang rusak ini pasti mempengaruhi geliat ekonomi mereka. Hasil kebun jadi susah keluar, susah dipasarkan, dan barang kebutuhan pokok menjadi susah masuk. Biaya angkut pasti akan menjadi agak sedikit mahal. &lt;br /&gt;Kedua, ketika saya sampai di sana saya juga melihat keadaan penduduk juga menarik. Sebelumnya Mahmud mengatakan penduduk di kampung ini mayoritas Bugis. Orang Bugis tinggal di bagian kuala dekat Kalimas, hingga bagian pertengahan. Di antara orang Bugis ini terdapat satu dua orang Melayu. Sedangkan di bagian pertengahan hingga ke arah Kota Baru, penduduknya orang Madura. Antar pemukiman orang Madura dan orang Bugis dibatasi kebun langsat. &lt;br /&gt;Lalu, orang Banjar? Sayangnya saya belum sempat menggali informasi mengenai sejarah tempat ini dinamakan Parit Banjar. Apakah nama parit ini ada hubungannya dengan suku dari Kalimantan Selatan itu? Kalau ada, di mana orang Banjar itu sekarang? Apakah orang Banjar itu adalah orang Melayu? Jika mereka Mengapa sedikit? &lt;br /&gt;Nama Parit Banjar juga menarik karena sering kali sebenarnya di kawasan ini nama parit dikaitkan dengan nama orang yang membukanya. Di dekat Parit Banjar misalnya ada Parit Wak Gatak. Jadi, nama tokoh yang dikekalkan, tanpa kira apakah tokoh itu orang Banjar, Bugis atau Madura. Dari sudut ini, nama Parit Banjar itu jelas menarik. &lt;br /&gt;Saya mencoba-coba mengagak-agak, apakah ada arti lain dari Banjar, selain merujuk kepada nama suku dari Kalsel ini? Saya mesti menggali informasi ini.&lt;br /&gt;Ketiga, saat saya dan Mahmud sampai di sana saya melihat sejumlah anak perempuan sedang main kelereng. Biasanya, yang main kelereng itu anak lelaki. Dalam masyarakat Melayu, sering kali anak perempuan dilarang mengikuti permainan lelaki. Anak-anak dipisahkan dunianya antara lelaki dan perempuan.&lt;br /&gt;Apakah yang saya lihat ini kebetulan saja? Atau, apakah ini cerminan budaya yang berbeda? &lt;br /&gt;Belum habis renungan itu, saya agak heran ketika mendengar mereka berkomunikasi. Semuanya dalam bahasa Melayu, bukan bahasa Bugis. Apakah anak-anak ini besar dalam budaya bahasa Melayu? Lalu, di mana bahasa Bugis dalam kehidupan mereka? Apakah bahasa ini hanya miliki orang tua mereka, seperti kebanyakan anak-anak Bugis yang hidup di lingkungan terbuka di Pontianak?&lt;br /&gt;Saya sangat penasaran karena banyak sekali pertanyaan belum terjawab. Saya harus datang ke kampung ini lagi dan mencari jawabannya. Saya akan menulis tentang semua itu. Nanti biar orang lain juga tahu betapa menariknya meneliti komunitas ini. &lt;br /&gt;Lebih menarik lagi… orang Bugis di sini … menganut pola hidup seperti orang Melayu. &lt;br /&gt;Misalnya … bahasa. Bahasa Melayu digunakan anak-anak yang sedang bermain. &lt;br /&gt;Saat kami duduk di warung, kami juga mendengar anak muda bercakap bahasa Melayu juga sesama mereka. &lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6061091994401156843?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6061091994401156843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6061091994401156843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6061091994401156843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6061091994401156843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/orang-bugis-di-parit-banjar.html' title='Orang Bugis di Parit Banjar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8764361088715262753</id><published>2010-11-20T04:05:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T04:15:26.669-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Menggugah Minat Baca Ala Nano Basuki</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FX. Nano Basuki. Saya mengenalnya sedikit. Perkenalan dimulai ketika dia membawa siswa sebuah SMA Swasta di Singkawang berkunjung ke Harian Borneo Tribune beberapa tahun lalu. &lt;br /&gt;Waktu itu ada puluhan siswa diajaknya untuk mengenal media. Penuh ruang redaksi dibuatnya. Ramai. Mereka (lebih tepatnya sebagian dari mereka) nampak sangat antusias. Saya sangat terkesan. Dia nampak sangat dekat dengan anak-anak itu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai guru, Nano sangat ideal. Sebab, kedekatan seperti itu pasti akan memiliki pengaruh yang luar bisa untuk pengembangan mereka; dan ini penting dalam proses pembelajaran. Tidak banyak guru bisa seperti itu. Biasanya guru menjaga jarak dengan siswa. Jarak itu mungkin disebabkan cara guru memandang kewajibannya mengajar – bukan panggilan hati. Mungkin juga karena anak-anak gagal berkomunikasi dengan guru, mungkin juga karena sebab-sebab lain.&lt;br /&gt;Sebagai guru, saya ingin seperti Nano. Ingin membangun kedekatan dengan siswa. Dahulu, sekitar 17 tahun lalu, sewaktu saya mengajar di Tsanawiyah Riam Panjang, rasanya saya bisa sangat dekat dengan semua anak. Saya merasa berhasil membangkitkan semangat belajar anak.  &lt;br /&gt;Namun, setelah saya masuk ke perguruan tinggi rasanya kedekatan itu tidak pernah lagi terbangun dengan baik. Memang ada sebagian mahasiswa yang dekat dan berhasil dibina menjadi penulis. Tetapi, banyak juga yang gagal. Malah saya dikenal sebagai guru yang tidak baik. Menakutkan. Setidaknya, kewajiban berkarya, dan kurang bertoleransi pada mahasiswa yang tidak membuat tugas, telah membuat saya menjadi momok. &lt;br /&gt;Nah, melihat bagaimana Nano duduk melantai dengan siswanya, melihat siswa begitu enjoy belajar dengan dia, saya terpana. Sungguh pemandangan yang mengesankan. Karena itu saya tidak melupakan Nano ketika dia hadir di sebuah seminar di ruang Rektorat Untan Pontianak. Saya ingat dia sebagai guru yang baik. &lt;br /&gt;Malah, usai materi waktu itu, Nano menghampiri saya dan menyerahkan sebuah buku kumpulan puisi. &lt;br /&gt;Wow. Hadiah buku ini juga kejutan lain. Rupanya, Nano, guru yang dekat dengan siswanya itu, adalah guru yang berkarya. Dia ada buku! Ini kelangkaan lain seorang guru. &lt;br /&gt;Setahu saya tidak banyak guru di Kalbar ini yang bisa menulis dan menerbitkan buku. Hatta guru yang sudah S-1 dan S-2, atau guru-guru senior yang ngomongnya tokcer.  Lebih banyak guru di Kalbar yang pandai ngomong dibandingkan pandai menulis. Guru-guru yang suka menulis dapat dihitung dengan telunjuk; sebut misalnya Y Priyono Pasti, Sasmito Aripala dan beberapa lagi. &lt;br /&gt;Lama setelah seminar itu, saya tidak bertemu dengan Nano. Saya hanya mendengar dari Wisnu Pamungkas, penulis hebat Kalbar, bahwa mereka (termasuk Nano), sedang mengumpulkan puisi dari beberapa ‘seniman’ di Kalbar untuk diterbitkan. &lt;br /&gt;Bulan lalu, atas undangan Krisantus, kepala biro Borneo Tribune di Bengkayang, saya masuk ke SMP Katolik Santa Tarsisia, Bengkayang. Di sini, saya bertemu lagi dengan Nano.  &lt;br /&gt;Kami bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing. Rupanya, Nano sudah tidak lagi mengajar di Singkawang. Dia mengajar di sebuah sekolah di Darit. Selain mengajar di kelas, dia juga giat melakukan kampanye kepenulisan ke sekolah-sekolah. &lt;br /&gt;“Saya mengajarkan anak-anak kampung, agar mereka suka menulis,” katanya.&lt;br /&gt;“Anak-anak kampung selama ini jarang disentuh”.&lt;br /&gt;Dia datang ke sejumlah sekolah membimbing anak-anak membuat puisi. Dia juga membawa koran bekas untuk bahan bacaan anak-anak agar wawasan anak dalam berkarya, bertambah. &lt;br /&gt;Di sebuah kampung dia menggugah minat baca orang dengan cara membuat pameran di pinggir jalan setapak, di kebun karet. Puisi anak-anak dipajangnya di sana. &lt;br /&gt;“Luar biasa. Orang-orang yang lewat, singgah untuk membaca karya-karya itu. Mereka tertarik dan bertanya-tanya,” ungkapnya.&lt;br /&gt;“Ketika orang-orang singgah dan bertanya-tanya, tujuan yang ingin dilakukannya tercapai”.&lt;br /&gt;Saya geleng-geleng kepala takjub pada apa yang dia lakukan. Apa yang dia lakukan benar-benar luar biasa. Sangat inspiratif. Selama ini saya hanya membayangkan pameran dilakukan orang di ruang tertutup. Tak terpikir, ada orang menyelenggarakan pameran di kebun karet. Tak terpikir, bapak-bapak dengan ambenan berisi karet di punggung, mengunjungi pameran dan tergugah pada karya sastra. Wow, keren sekali! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8764361088715262753?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8764361088715262753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8764361088715262753' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8764361088715262753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8764361088715262753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/11/menggugah-minat-baca-ala-nano-basuki.html' title='Menggugah Minat Baca Ala Nano Basuki'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3575973248558831901</id><published>2010-10-11T09:02:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T09:02:53.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Lebaran, Kok Pilih Piknik?</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Pak Dr. Leo Sutrisno berjudul “Lebaran di Kuching” yang dimuat di Borneo Tribune (14/9) lalu sangat menarik perhatian saya. Kata beliau:  “Kesan saya, hari raya Idul Fitri, bagi umat Muslim sungguh digunakan untuk menjalin silaturahmi. Hampir tidak ada masyarakat Muslim yang mengunjungi tempat-tempat wisata”.&lt;br /&gt;Saya terkesan pada tulisan itu karena perbandingan-perbandingan yang beliau nyatakan. Perbandingan yang saya kira bisa menjadi cermin bagi orang yang dibandingkan. Perspektif yang beliau gunakan berbeda dibandingkan kalau saya sendiri yang membandingkan.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, rasanya, tak puas-puas saya membaca tulisan itu. Saya membacanya berulang-ulang. Bak iklan: baca, lagi, lagi, dan lagi.&lt;br /&gt;Sembari membaca tulisan itu, saya merenung soal budaya lebaran orang Islam di Kuching dan budaya lebaran orang Islam di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat pada tetangga dan beberapa teman saya yang memilih pergi ke Singkawang di hari ke-2 lebaran. Wisata. Bahkan, teman juga sempat mengajak pergi bersama. &lt;br /&gt; “Kita mau ke Singkawang ni. Mau ikut?”&lt;br /&gt;Teman ini sudah menyewa mobil, dan dengan mobil itu dia akan mengangkut keluarganya ke Pantai Teluk Mak Jantu’ dan ke Pasir Panjang Singkawang. Kebetulan, masih ada tempat kosong di mobil.&lt;br /&gt;Tetapi, saya tidak ikut. Alasannya, banyak kerjaan. &lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian ketika teman sudah kembali ke Pontianak, dia menceritakan betapa ramainya suasana di tempat wisata itu. “Manusia di sana …. Uuu… ramai sekali. Entah dari mana-mana mereka”.&lt;br /&gt;Saya juga ingat pengalaman lebaran di kampung, di Riam Panjang, Kapuas Hulu belasan tahun lalu. Pada hari kedua lebaran anak-anak muda ramai-ramai mengunjungi objek wisata “Medang Pulang” di Hulu Gurung. Waktu itu, saya ikut juga pergi. Hampir seluruh anak muda di kampung pergi. Satu truk penuh. Penumpangnya berdiri-diri, persis seperti ikan sarden, berdesak-desakan. Walaupun menderita dan sengsara nampaknya, namun, saya tahu hampir semua orang gembira. Justru bagi sebagian teman yang nakal, berdesakan begini ‘banyak nikmatnya’. Wisata begini juga kesempatan mereka untuk ‘pedekate’.&lt;br /&gt;Saya hampir melupakan semua itu. Tidak mengingatnya, karena tidak menganggap penting. Saya menganggap itu sebagai hal yang biasa, tidak menarik.&lt;br /&gt;Nah, saya baru tersentak setelah membaca tulisan Pak Leo seperti yang saya kutip di awal. Tulisan itu, membuat saya menjadi memikirkan fenomena itu. Ya, fenomena yang penting diamati. Apalagi setelah saya renung-renung, fenomena ini terjadi hampir menyeluruh.&lt;br /&gt;Saya jadi memikirkan, mengapa orang Islam di Kalbar begitu? Mengapa orang Islam lebih suka berwisata dibandingkan mengisi seputar hari raya dengan silaturrahmi? Bagaimana orang Islam memandang silaturrahmi itu? &lt;br /&gt;Uh, saya jadi ingat ada teman saya orang penting yang lebih suka tidak di rumah selama lebaran. Mengapa? “Kalau keluar kota ada alasan untuk tidak main ke rumah orang”. Lho? &lt;br /&gt;Katanya, kalau balek ke rumah sesudah masuk ke kerja seperti hari biasa, dia akan punya alasan lain untuk tidak datang berkunjung.&lt;br /&gt;Saya juga pernah mendengar seorang mantan pejabat yang menderita karena banyak orang yang datang berkunjung. &lt;br /&gt;“Saya menikmati suasana sekarang. Dahulu, sibuk sekali menerima tamu yang datang,” katanya.&lt;br /&gt;“Coba, apa ndak capek senyum terus dari pagi hingga malam? Capek tu”. &lt;br /&gt;Saya kira, saya bisa memafhuminya. Benar. Beberapa hari setelah Idulfitri orang tidak bisa istirahat dengan baik. Ada tamu datang, dan dia harus membalas kunjungan. Balas membalas ini yang bikin repot. &lt;br /&gt;Tentu, saya juga menemukan tidak semua orang begitu. Jauh lebih banyak orang yang menyadari pentingnya silaturrahmi dan melakukannya. Apatah lagi Islam sendiri menganjurkan mempererat silaturrahmi. Dan, pasca Idulfitrilah momentumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya tidak sadar bahwa fenomena ini menunjukkan betapa orang Islam lebih senang berwisata dibandingkan silaturahmi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3575973248558831901?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3575973248558831901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3575973248558831901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3575973248558831901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3575973248558831901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/10/lebaran-kok-pilih-piknik.html' title='Lebaran, Kok Pilih Piknik?'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6481788346299099190</id><published>2010-10-11T09:00:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T09:00:51.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>“Belikan Bapak Pulsa”</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong belikan Bpak pulsa Rp.20, di no 085215229808 skrng Bpk ada di kntor polisi ada msalah. Jgn nelpon dlu dan sms biar Bpk yg hubungi nanti, penting skrng..”&lt;br /&gt;Itulah bunyi SMS yang masuk ke nomor HP saya, tanggal 20/09/2010 pukul 14:46. Saya memberi catatan khusus soal bentuk sapaan yang dipilih: “Bpak, Bpk”. Pasti maksudnya bapak. Bapak bisa berarti orang tua lelaki, bisa juga sapaan untuk orang lelaki yang dihormati. Ini bentuk takzim dalam masyarakat penutur bahasa Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mencoba menebak siapa ‘Bapak’ itu, atau lebih tepat siapa yang membahasakan diri sebagai bapak kepada saya. Rasanya tidak ada. Di rumah, saya tidak memanggil orang tua lelaki dengan bapak. Di kantor, atasan saya juga tidak dipanggil bapak. Di Borneo Tribune, atasan saya Nur Is, atau Tanto, atau Hairul Mikrad, tidak pernah dipanggil bapak. Mereka disebut nama saja. Sesekali kalau mau sopan santun, mereka dipanggil ‘Bang’. Mereka tidak pernah membahasakan diri dengan panggilan ‘Bapak’.&lt;br /&gt;Di STAIN, Ibrahim, Direktur Malay Corner -- tempat saya bergabung, panggil nama saja. Hamka Siregar, Ketua STAIN, biasa saya panggil ‘Bang’ juga, kadang-kadang ‘Pak’. Tetapi hampir tidak pernah ‘Bapak’. Mereka pun tidak membahasakan diri dengan ‘Bapak’.  &lt;br /&gt;Satu-satunya orang yang dibahasakan sebagai ‘Bapak’ di kalangan awak Borneo Tribune, hanyalah … (beliau) itu. Itupun karena meniru panggilan yang digunakan seorang fotografer dan seorang wartawan yang sangat takzim pada beliau.&lt;br /&gt;Sangat tidak mungkin ‘bapak’ yang itu mengirim SMS. Dia kenal saya pun tidak. Oleh karena itu, saya tidak dapat menebak siapa ‘Bapak’ yang mengirim SMS itu.&lt;br /&gt;Saya tidak dapat menelusuri pemilik nomor HP, karena nomor itu tidak terekam dalam HP saya sekarang. Tidak ada nama. &lt;br /&gt;Apakah dia benar teman saya atau orang yang saya kenal? Kalau dia teman saya, tentu saja saya harus membantunya. Jangankan Rp.20 (dua puluh rupiah), Rp10 ribu atau lebih dari itu akan dibantu. Rp20, terlalu kecil dibandingkan keberanian dia meminta bantuan. Keberanian meminta itu tidak sepala dengan nilai Rp10 ribu. Kalau kita bisa bantu orang, bantulah! Jadilah orang ringan tangan, pesan orang tua.&lt;br /&gt;Setengah penasaran, saya membalas SMS itu. “Masalah apa bapak di kantor polisi?”&lt;br /&gt;Saya menunggu jawabannya. Lima menit, sepuluh menit, satu jam, bahkan sampai hari ini tidak ada balasannya.&lt;br /&gt;Mengapa dia tidak membalas SMS saya itu? Apakah dia kehabisan pulsa? Saya pernah mencoba menghubungi nomor itu dan ternyata tidak aktif. Saya tidak tahu apakah dia sudah tidak boleh lagi ber-hp karena sudah ditahan polisi, atau apakah nomor ini sudah tidak aktif karena dia tidak mau dihubungi seperti permintaannya? Entahlah!&lt;br /&gt;Saya sudah melupakan orang yang meminta bantuan itu, ketika tiga hari lalu ada teman yang menceritakan temannya mendapat SMS yang isinya kurang lebih sama. “Bapak minta kiriman pulsa”. Teman juga berpikir sama: “Siapa orang yang saya panggil Bapak?”&lt;br /&gt;Cerita teman membuat saya tersentak: “Wah, rupanya ada orang yang sedang melakukan penipuan”.&lt;br /&gt;Saya merasa beruntung tidak sampai terkena tipuan itu. Saya mengandaikan, seandainya saya punya atasan yang saya panggil bapak dengan takzim mungkin saya akan terkena. Seandai saya seorang istri dan ada suami yang sehari-hari dipanggil bapak, mungkin saya cemas dan lalu mengirim pulsa juga. Gawat!&lt;br /&gt;Pengandaian saya tidak berhenti di situ. Saya mengandai-andai, andai saya memiliki kekuasaan dan kekuatan, saya akan perintahkan anak buah saya menyelidiki soal ini. Saya akan mencari siapa pemilik nomor itu, dan saya akan bertanya pada dia, apa yang sudah dia lakukan. Berapa orang yang sudah ditipu.&lt;br /&gt;Saya mengandai begitu karena seingat saya setiap orang yang memiliki nomor HP mestilah namanya terdaftar di operator selular, dengan nomor KTP. &lt;br /&gt;Jika kemudian dia tidak terdaftar dengan benar –selama ini masih banyak yang palsu, saya akan menegur operator selular untuk meminta pertanggungjawaban. Kesalahan mereka adalah mengapa regulasi soal pendaftaran pemilik kartu tidak dipatuhi. Operator bisa menciptakan system pendaftaran yang akurat: setiap pengguna nomor baru harus terdaftar secara resmi di konter penjualan nomor. Tidak lagi secara langsung via SMS, cara ini mudah pemalsuan. Kalau kemudian setelah model pendaftaran di konter ada pemalsuan, penerima pendaftar dapat diminta pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;Saya kira, jika tidak mematuhi aturan yang sudah ada, operator tidak bisa lepas tangan dalam kasus penipuan seperti ini. &lt;br /&gt;Seharusnya penipuan-penipuan via telepon yang pernah terjadi sebelum ini menjadi catatan tersendiri bagi operator seluler. Ada panggilan moral menyelamatkan orang dari kejahatan itu. Tentu saja, kasus begini menjadi catatan juga bagi polisi dan para pembuat kebijakan.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6481788346299099190?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6481788346299099190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6481788346299099190' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6481788346299099190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6481788346299099190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/10/belikan-bapak-pulsa.html' title='“Belikan Bapak Pulsa”'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8923752681286582868</id><published>2010-10-11T08:58:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T08:58:29.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Melepus Biar Tak Kemponan</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan kepada kemponan sudah lama tidak saya dengar. Sudah lama juga saya tidak mempercayainya. Sejak saya tinggal di Pontianak saya jarang mendengar kata kemponan itu. Lagi, teman-teman di Pontianak jarang sekali percaya pada hal itu, sekalipun mereka berasal dari daerah. Mereka yang sudah hidup di kota, tergerus oleh budaya baru yang tidak percaya pada kemponan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ketika kemarin, beberapa hari lalu, saya menyaksikan ada teman yang masih masih percaya pada tradisi ini, saya jadi takjub. Juga heran.&lt;br /&gt;Ceritanya, siang kemarin, ada teman asal Kapuas Hulu bersama istri dan anaknya datang ke rumah. Kami ngobrol dalam suasana lebaran yang agak terlambat. Ketika menjelang waktu makan, kami --saya dan emak, menyilakan mereka ikut makan. Mula-mula mereka menolak.&lt;br /&gt;“Udah. Masih kenyang.”&lt;br /&gt;Tetapi saya memaksa.  “Makanlah, biar sedikit. Ini, lauknya istimewa.”&lt;br /&gt;Ya, istimewa.  Emak memasak labu kuning (rongi), dicampur dengan timun dan ikan asin. Masaknya direbus. Ini jenis bahan sayur kampung yang dimasak dengan cara kampung. Orang Pontianak tidak mengenal campuran sayur begini, dan saya kira cara masak begini jarang jadi menu orang di Pontianak.&lt;br /&gt;Akhirnya dia menyerah. Mau juga dia ikut gabung menghadap hidangan yang sudah diletakkan di ruang belampar di dapur. Sedangkan istrinya, mengurus anak lebih dahulu. Anaknya dibaringkan di ruang tengah.&lt;br /&gt;Saya dan teman mulai makan. Tak lama kemudian, istrinya juga bergabung. Dia ikut duduk mengelilingi hidangan. Lalu, istri teman itu kemudian menyentuh sisi mangkok satu persatu dengan telunjuk, serta menjumput sedikit nasi. Semula saya kira dia memilih mana makanan yang akan disendoknya lebih dahulu. Mungkin dia agak ragu mana jenis makanan yang akan diambil, pikir saya.&lt;br /&gt;Tetapi, ketika dia menyentuh, sepertinya dia menarik mangkok, dan kemudian mendorongnya sedikit, saya terperangah. Dugaan saya salah. Ternyata dia hanya menyentuh sisi mangkok. Setelah itu dia bangun dari duduk, dan menuju ruang tengah, tempat anaknya dibaringkan tadi. &lt;br /&gt;Dia jongkok di depan anaknya. Dengan telunjuk dia menyentuh kaki, tangan dan kening anaknya. Saya memandang ‘prosesi’ itu dari tempat saya duduk. &lt;br /&gt;Suaminya yang duduk di depan saya dan membelakangi ruang tengah, rupanya tahu apa yang dilakukan istrinya. Dia juga melihat keheranan saya.&lt;br /&gt;“Biasa… pakai melepus,” &lt;br /&gt;Aha.. saya tahu itu. Cara menyentuh itu disebut ‘melopus’ dalam budaya kami di Riam Panjang, dan dalam bahasa teman saya ‘melepus’. Maksud dari melepus adalah agar orang yang tidak ikut makan itu tidak kemponan. Kemponan bisa berbentuk kecelakaan. Misalnya, jatuh dari motor, jatuh dari pohon, dipatok ular, dll. Pokoknya semua kemungkinan yang timbul karena tidak makan saat ditawarkan makan, disebut kemponan. Karena bentuknya abstrak, semua orang takut.&lt;br /&gt;Setahu saya tidak ada orang berani melanggarnya. Saya juga termasuk orang yang takut terhadap kemponan itu. Karena itu, ritual melopus pun juga sering dilakukan. Saya terbiasa menyentuh makanan sedikit, atau kalau bisa mencicipinya. Jika tidak sempat makan, pada saat ditawarkan, saya akan menggigit bagian belakang telapak tangan ala kadarnya. Digigit sedikit saja sebagai syarat.&lt;br /&gt;Masyarakat kami akan merasa lega dan percaya tidak akan kena kemponan jika sudah melakukan itu. &lt;br /&gt;Tetapi, seiring perjalanan waktu, kepercayaan pada kemponan sudah tidak lagi kuat. Jika terjadi sesuatu, tidak pernah lagi dikaitkan dengan kemponan itu. Saya ingat dua bulan lalu, anak saya Fa, dipatok ular di teras rumah. Sama sekali waktu itu saya tidak mengingatkan Fa kemponan. Setelah Fa dipatok ular, kami (saya dan emak) langsung menolong Fa dengan memijit luka, dan mengolesnya dengan otak ular yang mematok. Baru kemudian setelah itu saya membawa Fa ke Bidan, dan lalu dirujuk ke RS Antonius Pontianak.&lt;br /&gt;Saya ingat, kalau dikaitkan dengan kemponan, obat sementara Fa mestilah barang yang membuatnya kemponan. Jika dia kemponan nasi, maka nasilah obatnya. Jika kemponan air susu, maka susulah obatnya. &lt;br /&gt;Sering kali juga ketika ditawarkan makan, saya menolak – karena masih kenyang, dan lain-lain. Setelah itu, saya berjalan, tanpa melopus. Apapun kejadian selanjutnya, sama sekali tidak pernah dikaitkan dengan tawaran itu. &lt;br /&gt;Saya merenungkan perubahan itu. Ada nilai yang hilang di sana. Beruntunglah sebenarnya jika masih ada orang yang dapat menyelamatkannya.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8923752681286582868?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8923752681286582868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8923752681286582868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8923752681286582868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8923752681286582868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/10/melepus-biar-tak-kemponan.html' title='Melepus Biar Tak Kemponan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1987963873188929042</id><published>2010-10-11T08:34:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T08:54:44.063-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FOTO'/><title type='text'>Mengajak Anak Sekolah Menulis</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TLMyaU6EHRI/AAAAAAAAAKw/xiZUyaRKOWY/s1600/Bengkayang+4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" src="http://1.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TLMyaU6EHRI/AAAAAAAAAKw/xiZUyaRKOWY/s320/Bengkayang+4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Siswa SMP Santa Tarsisia Bengkayang sedang mendengar komentar karya mereka saat pelatihan penulisan Rabu (29/9) lalu. Foto Krisantus/Borneo Tribune&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu pekan di minggu lalu,  saya memiliki dua pengalaman kepenulisan yang mengesankan. Pengalaman pertama saya dapatkan ketika masuk ke ruang kelas Karya Tulis Ilmiah (KTI) di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pontianak. Pengalaman kedua, ketika saya masuk ke ruang pelatihan ‘Menulis Berita dan Puisi’ di SMP Katolik Santa Tarsisia Bengkayang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan anak MAN 1 saya memberikan mereka motivasi berkaitan dengan pentingnya menulis. Saya mendorong mereka membuat buku harian sebagai bentuk latihan menuangkan gagasan. Usai kelas itu, dua orang pelajar membuntuti saya dan mereka bertanya tentang karya-karya mereka. &lt;br /&gt;“Sekarang saya sudah punya 5 cerpen,” kata seorang pelajar yang saya lupa namanya.&lt;br /&gt;Seorang lagi pelajar mengatakan dia sudah memiliki banyak puisi. Dan, mereka ingin karya itu diterbitkan.&lt;br /&gt;Di SMP Tarsisia, selain memberikan motivasi, saya mengajarkan anak-anak menulis cerita. Respon positif anak ditunjukkan melalui karangan akhir mereka. Mereka diminta membuat tulisan menceritakan latihan yang mereka ikuti. Selain itu, hampir semua anak menulis mereka senang dengan pelatihan itu. Mereka mengaku mendapatkan hal baru dan akan terus berkarya.&lt;br /&gt;Saya terkesan pada anak-anak itu. Mereka begitu bersemangat. Semangat mereka sukar saya lukiskan dengan kata-kata. &lt;br /&gt;Saya sempat membayangkan jika semangat itu bisa terus dipelihara, pasti hasilnya akan menjadi sangat luar biasa. Bayangkan jika sebagian saja dari anak-anak itu menjadi penulis. Pastilah akan lahir kelompok penulis di Kalbar ini. &lt;br /&gt;Kalaupun mereka mungkin tidak akan jadi penulis semua, minimal beberapa di antara mereka akan menjadi ‘elit’ di antara teman-temannya, di antara masyarakatnya. &lt;br /&gt;Saya sangat percaya jika mereka terus mengasah kemampuan menulis, mereka akan berkembang kapasitasnya. Pertama, menulis membuat orang menjadi cerdas. Karena proses menulis memerlukan proses berpikir, menyoal diri sendiri dan menjawabnya. Orang yang terus menerus berpikir, bertanya dan menjawab, pasti akan menjadi orang yang pintar. Selain itu orang yang suka menulis cenderung akan menjadi orang yang gemar membaca. Gemar membaca akan membuat orang bertambah pengetahuan.&lt;br /&gt;Kedua, latihan menulis sejak awal akan membantu anak-anak itu kelak hidup di level yang lebih tinggi. Umpamanya jika kelak mereka berkesempatan menapak langkah di perguruan tinggi, pasti kemampuan menulis ini akan memudahkan mereka beradaptasi terhadap tugas-tugas perkuliahan. &lt;br /&gt;Pada tahapan selanjutnya kemampuan menulis ini akan menjadi bekal tambahan mereka dalam hidup. Saya sangat percaya kemampuan menulis dapat menjadi bekal hidup yang sangat bermanfaat. Saya mengenal beberapa orang yang sekarang ini pekerjaannya ‘penulis’. Hidup mereka berkecukupan. Malah kalau mau membandingkan, banyak sekali penulis-penulis hebat – sebut misalnya Andrea Hirata atau JK Rouwing, yang hidup mereka menjadi kaya. &lt;br /&gt;Bahkan, pekerjaan wartawan sesungguhnya adalah pekerjaan menulis. Setiap hari wartawan menulis dan mereka dibayar karena produksi kata itu. Ada banyak wartawan di Indonesia.&lt;br /&gt;Karena itu saya sangat berharap dapat ikut memelihara semangat anak-anak itu, sembari menumbuhkan semangat anak-anak yang lain. &lt;br /&gt;Tetapi tidak mungkin. Saya tidak bersama mereka. Lantas, harapan itu disandarkan pada guru sekolah mereka. Bukan saja guru bahasa Indonesia, tetapi juga guru-guru lain secara sinergis, termasuk kepala sekolah, membantu menciptakan iklim kepenulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1987963873188929042?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1987963873188929042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1987963873188929042' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1987963873188929042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1987963873188929042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/10/mengajak-anak-sekolah-menulis.html' title='Mengajak Anak Sekolah Menulis'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TLMyaU6EHRI/AAAAAAAAAKw/xiZUyaRKOWY/s72-c/Bengkayang+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3756588207146566514</id><published>2010-10-08T09:15:00.001-07:00</published><updated>2010-10-08T09:21:45.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><title type='text'>SMP Katolik Santa Tarsisia Bengkayang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TK9EBJNUp6I/AAAAAAAAAKU/DDqpqK0RVFY/s1600/Tarsisia+Bengkayang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TK9EBJNUp6I/AAAAAAAAAKU/DDqpqK0RVFY/s320/Tarsisia+Bengkayang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525710054249244578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;GAYA DULU&lt;br /&gt;Siswa SMP Santa Tarsisia Bengkayang bergaya setelah selesai mengikuti pelatihan menulis cerita dan puisi di sekolah mereka, pekan lalu (Rabu, 29/9). Foto Krisantus/Borneo Tribune. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3756588207146566514?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3756588207146566514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3756588207146566514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3756588207146566514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3756588207146566514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/10/smp-katolik-santa-tarsisia-bengkayang.html' title='SMP Katolik Santa Tarsisia Bengkayang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Q8nOX1xgUgk/TK9EBJNUp6I/AAAAAAAAAKU/DDqpqK0RVFY/s72-c/Tarsisia+Bengkayang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3531444311462515669</id><published>2010-09-14T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T07:35:47.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyelidikan Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Gara-gara Bunyi [e]</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu saya disibukkan oleh bunyi [e]. Ihwalnya sepele. Saya mencari obat sakit tifus. Obat itu namanya : vermint. Saya menyebutnya [permin] –dengan e-pepet. &lt;br /&gt;Saya singgah di 2 toko obat. Di Jalan Gusti Hamzah, dan di Kota Baru. Saya juga mampir di Apotik di Sutomo. &lt;br /&gt;Di tiga tempat itu saya bertanya sama:&lt;br /&gt;“Ada jual permin, ndak?”&lt;br /&gt;Di tiga tempat itu, semuanya minta saya mengulang ucapan. Langsung dan tidak langsung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga toko obat di Jalan Gusti Hamzah, seorang lelaki paroh baya, tidak jelas pendengarannya.&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Permin”.&lt;br /&gt;“Apa? Permen?”&lt;br /&gt;Lelaki itu menekankan bunyi [e] di suku akhir [men] dengan bunyi [e] bunyi taling. &lt;br /&gt;“Permin”.&lt;br /&gt;Tentu saja saya harus mengulang lagi [permin], karena jika tidak, maknanya menjadi lain. Saya kira, dalam bayangan penjual yang saya cari itu permen atau gula-gula. Saya tidak mencari benda itu. Makan gula-gula juga saya sudah jarang, karena takut. Takut kencing manislah, takut batuk, dll. &lt;br /&gt;Saya melihat penjual itu melongo. Apa karena saya salah ucap, atau dia memang tidak familier dengan obat itu. &lt;br /&gt;“Itu… obat untuk sakit tifus”.&lt;br /&gt;Dia masih belum nyambung. Ah, saya jadi ingat pengalaman Prof. Jim, pembimbing saya tentang pedagang di Kota Pontianak. “Pedagang di Pontianak kebanyakan tidak mengerti barang yang dijualnya. Mereka hanya menjual, tidak bisa ditanya. Susah”.&lt;br /&gt;Ah, mungkin penjual obat ini termasuk dalam kelompok pedagang itu. Dia hanya menjual obat, tetapi tidak mengerti tentang obat-obat yang dia jual. Nasib pembelilah mengira-ngira sendiri obat apa yang harus dibeli. &lt;br /&gt;Karena toko obatnya kecil, saya bias menyapu pandangan dari ujung ke ujung rak. Tidak ada. Dia tidak jual obat yang saya cari dan dia tidak tahu juga tentang vermint.&lt;br /&gt;“Ya, udah. Permisi ya”.&lt;br /&gt;Kemudian saya mampir ke apotik di Jalan Sutomo. Saya sering beli obat di sini karena harganya agak murah. Saya pernah membandingkan harga obat yang sama di apotik ini dengan apotik di Tanjung Pura. Selisihnya sampai Rp 6 ribu. Karena itu saya singgah di sini biar bisa saving. Lho, kalau ada tempat yang lebih murah mengapa cari yang mahal.&lt;br /&gt;“Mba’, ada jual permin, ndak?”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Permin, obat tifus yang dari cacing itu”.&lt;br /&gt;“Oo… permin”. Dia menekankan bunyi [e] dengan bunyi taling. Bukan bunyi pepet. &lt;br /&gt;“Ya, per-min”. Saya sengaja mengejanya dengan cara dia menyebutkannya.&lt;br /&gt;Dia segera mencari di rak yang terdapat di belakangnya. &lt;br /&gt;“Di mana ya?”&lt;br /&gt;Dia mencari di bagian bawah. Menyapu pandangan di beberapa rak. &lt;br /&gt;“Biasanya di bagian itu”.&lt;br /&gt;Saya mencoba mengingatkan dia tempat biasanya vermint diletakkan. Rak bagian tengah agak ke tepi. Tidak ada.&lt;br /&gt;“Kosong, Pak”.&lt;br /&gt;Saya meninggalkan apotik itu. Lalu di depan SPBU Kota Baru saya singgah di sebuah toko obat. &lt;br /&gt;Seorang penjaga, anak kecil melayani saya.&lt;br /&gt;“Cari apa ya?”&lt;br /&gt;“Saya cari permin”.&lt;br /&gt;“Apa?” &lt;br /&gt;“Permin”.&lt;br /&gt;Cepat dia menjawab, “Tidak ada”.&lt;br /&gt;Saya jadi ragu. Apakah dia cepat menjawab karena saya salah ucap atau karena dia tidak tahu. Maklum, masih budak-budak. Mungkin SD atau SMP.&lt;br /&gt;“Itu obat yang dari cacing, untuk sakit tifus”.&lt;br /&gt;“Tidak ada”.&lt;br /&gt;“Tidak ada?”&lt;br /&gt;Saya mengulang kata itu dalam hati. Aneh juga toko obat dan apotik tidak ada stok itu. Apakah banyak pembeli? Apakah orang yang menderita sakit tifus meningkat? &lt;br /&gt;Saya mungkin agak sedikit kecewa karena tidak mendapatkan barang yang saya cari. Namun, saya merasa beruntung mendapat pengalaman menarik ini. Pengalaman ini menambah keyakinan saya bahwa bunyi e-pepet dan e-taling dalam bahasa Indonesia cukup penting. Mungkin pengambil kebijakan yang menyatuhkan bunyi /e/ dahulu lupa mempertimbangkan hal itu, karena mereka berpikir untuk kepentingan penyederhanaan bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3531444311462515669?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3531444311462515669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3531444311462515669' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3531444311462515669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3531444311462515669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/09/gara-gara-bunyi-e.html' title='Gara-gara Bunyi [e]'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4720046252792550568</id><published>2010-09-14T07:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T07:33:24.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bugis'/><title type='text'>Identitas Bugis Kalbar</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, beberapa tahun lalu, saya sering merasa heran ketika melihat orang-orang Bugis di sekitar Pontianak sibuk sekali menyelenggarakan acara khataman al-Quran untuk anak mereka. Benar-benar sibuk. &lt;br /&gt;Acara ini meriah. Yang bikin acara ini sangat meriah karena biasanya diselenggarakan bersamaan acara perkawinan. Menurut informasi yang saya peroleh, umumnya orang Bugis sangat bangga bisa menyelenggarakan acara khataman ini. Iyek, Uwak, Induk, Emak, keluarga, bangga karena anaknya sudah khatam Quran. Oleh karena itu, mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan uang untuk acara ini.&lt;br /&gt;Paling mengesankan ketika saya menyaksikan sebuah keluarga Bugis yang tinggal di Jeruju, Sungai Kakap, menyelenggarakan acara khataman untuk anaknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara khataman waktu itu, dua tahun lalu, dilaksanakan malam setelah Isya. &lt;br /&gt;Saya melihat anak yang khataman itu diarak dari rumah guru ngaji di ujung kampung, menuju rumah orang tuanya. Anak itu, didandan layaknya seorang mempelai. Penggiringnya sama seperti penggiring pengantin. Ramai. Jumlahnya lebih 20 orang. Para penggiring itu berjalan di belakang anak depan membawa poko’ telo’ dan beberapa barang lain dalam kotak. Ada iringan tahar, ada juga tanjidor. &lt;br /&gt;Sampai di rumah tempat acara, anak disambut dengan tepung tawar, dan kemudian dia menyalami orang-orang yang sudah datang (undangan) menghadiri acara itu. Jumlah tamu saya kira ada 300 orang lebih. Mereka berdiri dalam 4 barisan (saprahan) panjang di bawah tenda yang besar, saling berhadapan.&lt;br /&gt;Kemudian anak duduk di atas panggung yang gemerlap, yang di belakangnya adalah pelaminan untuk mempelai besoknya, didampingi guru mengajinya. Dia hampir tidak nampak karena di depannya ada banyak ‘pokok telok’ dan bunga-bunga buatan yang indah-indah belaka.&lt;br /&gt;Ada beberapa acara pendahuluan sebelum akhirnya anak tersebut membaca ayat pendek dari bagian akhir Al-Quran. &lt;br /&gt;Setelah itu, acara istirahat dan hadirin dijamu dengan makanan ringan. Tukang sajinya berjumlah enam lelaki dan enam perempuan berpakaian seragam ungu, baju telok belanga. Cara mereka menyajikan kesannya professional. Sangat tertib. Bagi saya ini juga pemandangan baru.&lt;br /&gt;Kue yang mereka sajikan seingat saya ada 5 jenis kue – kue buatan sendiri, plus ‘tapai menaun’, serta minuman. Pada saat hadirin menikmati jamuan, ada iringan musik live dari panggung yang berada di bagian kiri rumah.&lt;br /&gt;Ketika pulang, setiap orang yang datang diberikan bingkisan nasi kotak. &lt;br /&gt;Saya sempat bertanya-tanya dalam hati berapa juta uang yang dikeluarkan untuk acara ini. Pasti jumlah tidak sedikit. Saya mengandai-andai uang itu ditabung untuk anak  sekolah, atau untuk dibantu-bantu ke tempat pengajian, untuk honor guru ngaji. &lt;br /&gt;Mengapa khataman harus dibuatkan acara besar seperti itu? Mengapa khataman penting bagi orang Bugis? Bagaimana penjelasannya?&lt;br /&gt;Selama ini yang saya kenal, orang Bugis semuanya beragama Islam. Islamnya cukup kuat. Seolah-olah Bugis adalah Islam, tidak ada Bugis yang beragama bukan Islam.&lt;br /&gt;Nah, kemarin, saat saya mempresentasikan rencana penelitian terhadap identitas Bugis di pinggir Kota Pontianak, Dr. Wajidi Sayadi yang membahas proposal itu bersama Dr. Hermansyah, memberikan saya jawabannya.&lt;br /&gt;“Agama sangat penting bagi orang Bugis”.&lt;br /&gt;Dahulu, katanya, pandai tidaknya mengaji, menjadi pertimbangan penting bagi orang Bugis untuk mengambil seseorang menjadi menantu. Orang Bugis tidak mau mendapat menantu yang tidak pandai mengaji. Orang Bugis juga malu memiliki anaknya yang tidak pandai mengaji.&lt;br /&gt;“Kalau penelitian ini juga menyentuh religiusitas orang Bugis, saya rasa akan lebih menarik,” Wajidi menyarankan.&lt;br /&gt;Saya bagaikan tersengat. Iya, itulah jawabannya mengapa sebagian orang Bugis bela-belain menyelenggarakan khataman Quran anaknya. Itu jawaban mengapa mereka bangga anaknya khatam Quran. Ya, regiliusitas. Inilah salah satu identitas penting bagi orang Bugis, selain bahasa yang semula saya pikirkan. Jadi, dalam soal ini, saya tidak perlu bingung lagi. Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4720046252792550568?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4720046252792550568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4720046252792550568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4720046252792550568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4720046252792550568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/09/identitas-bugis-kalbar.html' title='Identitas Bugis Kalbar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1952755443978772565</id><published>2010-09-14T07:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T07:31:15.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapuas Hulu'/><title type='text'>Kehilangan Tok Olah, Ahli Sejarah Ulu</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaget luar biasa. Itulah yang saya alami Jumat kemarin saat mendapat telepon dari Dr. Hermansyah, teman saya di STAIN Pontianak. Sebabnya, saat menelepon itu, Hermansyah memberitahu saya: Tok Olah meninggal. Tok Olah adalah panggilan kami untuk Drs. H. Zahry Abdullah Al-Ambawi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itulah yang membuat seketika saya menjadi lunglai. Lemas. Saya tidak siap mendengar kabar itu. &lt;br /&gt;Sehari sebelumnya memang saya sudah tahu Tok Olah kena stroke. Bagian kiri badannya lumpuh. Hermansyah, Ibrahim, sudah mengunjungi beliau Kamis. Kabar dari Ibrahim, perkembangannya bagus. Kaki kiri sudah bisa bergerak sedikit. Karena kabar baik itu, saya menunda kunjungan. Niatnya, setelah Jumatan, saya ke sana.&lt;br /&gt;Nah, belum niat itu terlaksana, saya mendapat kabar kalau beliau sudah meninggal dunia, sebelum salat Jumat. &lt;br /&gt;Saya lunglai bukan saja karena saya terlambat menjenguk beliau, tetapi juga karena saya merasa kehilangan dan kerugian besar. Kehilangan yang tak ternilai. &lt;br /&gt;Beliau adalah orang baik. Dan kami semua anak-anak beliau merasa kebaikannya. Beliau sangat luar biasa.&lt;br /&gt;Kami juga membanggakan beliau, dan beliau membanggakan kami. Kami sering bekerja sama dalam upaya penelitian dan penggalian informasi sejarah. Beliau rekan kerja yang sungguh sangat koperatif. Beliau sangat terbuka. Datanya, ilmunya, semua disampaikan jika diminta.&lt;br /&gt;Beberapa kali saya datang ke rumah beliau, dan setiap kali datang beliau akan bangga menunjukkan data-data yang beliau miliki. Buku, lembaran copian, foto, artifak., jika diperlukan, beliau keluarkan.  &lt;br /&gt;“Itu’ ladang amal aku,” kata beliau dalam bahasa Ulu -- Bahasa Ulu tetap dipakainya bila berkomunikasi dengan kami, mengenai pendiriannya. &lt;br /&gt;Ya, beberapa kali beliau meniatkan beramal dengan ilmu itu. Bagi beliau, ilmu harus selalu dibagi. Ilmu akan berkembang jika dikongsi.&lt;br /&gt;“Untuk apa bah disimpan sendiri,” ujar beliau lagi.&lt;br /&gt;Karena beliau terbuka pada orang lain, orang lain pun terbuka pada beliau. Beliau dapat menyerap banyak informasi dari hal ini. Beliau sangat rajin menghadiri pertemuan dan seminar. Setiap kami undang, beliau pasti datang.&lt;br /&gt;Justru itu, saya amat mengagumi beliau. Wawasan beliau luas, informasi yang beliau miliki dalam. Data yang ada mencukupi. Tanya saja tentang sejarah Kapuas Hulu; tentang Embau, tentang Jongkong, juga tentang Sintang, tentang Sanggau, pasti akan ada jawabannya. Detail. Tanya juga tentang salasilah turunan-turunan bangsawan itu, beliau juga punya jawabannya. Beberapa kali saya dibuat geleng kepala melihat kelebihan beliau itu. Saya sering menyebut beliau enseklopedi hidup.&lt;br /&gt;“Aduhh… coba kalau ditulis ya?” saya mengomentari beliau.&lt;br /&gt;“Aku na nyaruk nulis. Aku tau ngumung magang. Kian mih”.&lt;br /&gt;Lalu, beberapa kali kami menggarap karya bersama. Hermansyah bersama beliau pernah menulis beberapa artikel. Saya juga pernah mengedit tulisan beliau tentang Iban di Kapuas Hulu.&lt;br /&gt;Karena aneka kesibukan, karena tidak membuat prioritas, tidak banyak kerja sama penulisan yang dibuat. Kalau bertemu, kami membahas beberapa temuan baru dan omong-omong biasa. Sama sekali saya tidak pernah berpikir bahwa beliau akan meninggalkan kami dengan cepat. Bahkan saya melupakan umur beliau yang sudah sepuh -- Hampir 70 tahun – karena beliau tampil energik, sehat, ramah, hangat, dan humoris. &lt;br /&gt;Nah, karena itulah, saya merasa kehilangan besar atas kepergian beliau. Jejak pengetahuan beliau belum tergores dalam pahatan sejarah. Pengetahuan sejarah yang luas itu belum banyak didokumentasikan. Dan sekarang, pengetahuan itu hilang bersama kepergian beliau. Mungkin, jejak beliau juga akan hilang oleh perjalanan sejarah.&lt;br /&gt;Sungguh kehilangan yang besar. Saya merasa kehilangan. Dunia akademik ulu juga kehilangan. Kalbar juga kehilangan. &lt;br /&gt;Tapi, begitulah takdir Allah. Setiap yang bernyawa akan mati. Beliau sudah mendahului kita, dan kita akan menyusulnya kelak. Semoga amal ibadahnya diterima Allah. Semoga amal jariahnya menjadi pahala yang mengalir terus untuk beliau. “Maafkan salah khilaf kami Tok. Minta’ halal rela semuanya”. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1952755443978772565?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1952755443978772565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1952755443978772565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1952755443978772565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1952755443978772565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/09/kehilangan-tok-olah-ahli-sejarah-ulu.html' title='Kehilangan Tok Olah, Ahli Sejarah Ulu'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-9060601699925062378</id><published>2010-09-14T07:26:00.001-07:00</published><updated>2010-09-14T07:27:43.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Publik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Antrian di RS Soedarso</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menunggu giliran mendapatkan pelayanan? Masyarakat di Negara maju akan menjawab: Q, istilah untuk menunjukkan cara mereka mengantri satu per satu, tertib beratur. Sedangkan masyarakat kita agaknya akan menjawab: cara menunggu paling enak adalah dengan mengerubungi tempat pelayanan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin begitu saat saya melihat cara warga menunggu giliran pelayanan di RS Soedarso Pontianak beberapa hari lalu. Hari ini, sekitar pukul 07.30 WIB saya sampai di rumah sakit kebanggaan warga Pontianak. Saya langsung masuk ke ruang pelayanan rawat jalan. Di sana sudah ramai. Ratusan orang. &lt;br /&gt;Sejenak saya menyapu pandangan. mencari di mana tempat mendaftar. Maklum, sejak di renovasi dengan tampilan yang wah, saya belum pernah lagi berobat di sini. Terakhir saya berobat untuk membersihkan karang gigi sekitar 3 tahun lalu. Waktu itu tempat pelayanan umum ini masih di bagian belakang, dekat Unit Gawat Darurat (UGD), satu arah dengan kamar jenazah. Waktu itu orang menunggu di selasar. &lt;br /&gt;Saya melihat orang banyak berkumpul di depan loket informasi. Saya  merapat ke sana. Niatnya ingin bertanya bagaimana saya berurusan. Di situ ada seorang satpam berumur mungkin 50 tahunan sedang melayani banyak orang. Beberapa orang bertanya tempat berobat dan ruangan, ada juga yang bertanya prosedur. Saya  melihat beberapa orang lagi mengisi formulir. Formulir warna biru ukurannya kecil. Di bagian atas ada tulisan formulir daftar berobat jalan. Yang satu untuk pasien baru, yang satu lagi untuk pasien lama. &lt;br /&gt;“Hmm… rupanya di sini formnya”. &lt;br /&gt;Saya minta pada satpam. Dan ingin bertanya. Tapi dia tidak dapat melayani pertanyaan saya. Akhirnya saya ambil sendiri. Lantas dengan pen yang ada di meja, saya mengisinya. Selesai.&lt;br /&gt;Saya menuju loket pasien baru menyerahkan formulir yang sudah saya isi.&lt;br /&gt;Untung loket itu kosong. Belum ada pelayanan. Saya langsung melihat ada boks plastic kecil warna merah, tempat untuk formulir itu. &lt;br /&gt;Usai meletakkan kertas itu, saya langsung mencari tempat duduk yang disediakan di bagian tengah ruangan luas itu. Ada dua kelompok kursi menghadap ke loket pelayanan daftar pasien dan ada dua kelompok kursi juga yang membelakangi loket itu. Kelompok kursi ini khusus untuk orang yang menunggu pelayanan urusan administrasi asuransi kesehatan dan apotik.&lt;br /&gt;Dapat. Masih banyak tempat kosong di dua kelompok itu. Di kiri kanan kosong. Di barisan kursi belakang ada dua orang perempuan, dan di kursi depan, ada seorang lelaki.&lt;br /&gt;Sementara itu, di depan, di loket pasien lama, ada banyak orang antri di situ. Berdiri di depan loket. Saya mencoba menghitung. Satu, dua, tiga… 60 orang lebih. Dalam hati saya bertanya, mengapa orang lebih memilih berdiri di depan loket dibandingkan duduk di kursi yang kosong. Padahal kursi yang disediakan empuk lagi. Menurut saya duduk di kursi jauh lebih enak dibandingkan berdiri di depan loket. Berdiri pasti capek. Mendingan saat itu ada pelayanan. Belum. Seorang petugas di counter nampak masih sibuk berkemas-kemas. &lt;br /&gt;Saya merasa jengah melihat perilaku orang-orang itu. Kesan saya, mereka seperti rebutan minta dilayani lebih dahulu. Seperti berlomba-lomba mendahului orang lain. Atau, mungkin juga kesannya mereka takut kalau-kalau tidak berdiri di depan counter, tidak akan dilayani. &lt;br /&gt;Saya saya memikirkan hal itu, tiba-tiba menyeruak seorang lelaki tua sudah beruban, jalannya terseret-seret. Agak susah. Entah sakit apa dia. Dia berusaha maju ke depan memasukkan formulirnya ke dalam kotak. Setelah susah payah, sampai juga dia ke depan. Setelah memasukkan formulir itu, dia kembali ke bagian belakang kelompok orang-orang yang berdiri. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, seorang perempuan yang kaki kanannya diperban dan melangkah terseret-seret juga mencoba menebus kerumunan. Saya sempat bergidik seandainya kaki yang diperban itu terinjak orang. Duh, apa tidak malah makin parah.&lt;br /&gt;“Apa petugas tidak risau ya?”&lt;br /&gt;Saya sempat bertanya dalam hati. Kalau saya yang menjadi petugas di situ, saya pasti risau. Saya tidak akan merasa nyaman bekerja di bawah tekanan begitu. Ya, bagi saya orang berdiri di depan loket seperti pressur mental bagi saya. Sempit rasanya. Belum lagi suara-suara orang itu pasti akan mengganggu konsentrasi saya.&lt;br /&gt;Rupanya bukan hanya saya yang heran. Bapak yang duduk di depan saya, saya dengar juga ngomel melihat perilaku orang berdiri di depan loket. &lt;br /&gt;“Orang ramai begitu bikin kita tidak dengar”.&lt;br /&gt;Ya, setelah pelayanan dibuka, petugas memanggil nama pendaftar. Suara petugas terdengar tidak jelas menyebutkan nama orang dibandingkan hiruk pikuk orang-orang itu. sehingga petugas harus memanggil nama berulang-ulang. &lt;br /&gt;Saat loket pelayanan pasien baru dibuka, saya sempat mendengar petugas menyuruh orang yang berdiri di depannya, duduk. Orang itu menjauh dari counter. &lt;br /&gt;Setelah urusan pendaftaran selesai, saya naik ke lantai dua. Bagian Poli. Ruang pelayanan sudah buka. Saya menyerahkan kartu berobat. Lantas menunggu. Cukup ramai juga orang di lorong itu. Kursi panjang tidak cukup. Sebagian berdiri. Lama juga begitu. Kabarnya dokter baru datang jam 09.30 WIB. &lt;br /&gt;Jam 09.00. Jenuh menunggu di lorong depan ruang poli, saya ke bagian tengah bangunan. Di situ ada kursi tunggu. Banyak. Tapi kursi itu penuh. Sementara itu di bagian depan ada counter Pelayanan Askeskin. Keadaannya sama seperti counter di bawah. Ramai. Saya menghitung ada 40 orang mengerubungi loket. Di antara mereka itu, ada lelaki dengan dua tongkat dikepit, ada perempuan dengan anak kecil di sampingnya.&lt;br /&gt;Kasihan sungguh melihatnya. Tetapi, ya… saya kira hampir semua orang melihat pemandangan itu sebagai pemandangan yang biasa. Mereka anggap antri begitu merupakan bentuk pelayanan.&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir, kalau saya pengambil kebijakan saya akan minta mereka duduk dan menunggu giliran dengan sabar. Saya akan memastikan orang yang dahulu dilayani lebih dahulu, dan yang dudi dilayani belakangan. &lt;br /&gt;Lalu, minta Satpam memastikan ketertiban ini dijaga terus menerus. Bukan tugas satpam membagi formulir. Formulir bisa diletakkan di satu tempat dan orang langsung mengambilnya. Juga bukan tugas Satpam menjelaskan tentang prosedur pelayanan. Ada bagian sendiri yang mengurus hal seperti itu. Ini rumah sakit besar. Bukan puskesmas. &lt;br /&gt;Tetapi, kemudian saya sadar: mungkin upaya membuat tertib itu sudah dilakukan, dulu. Awal-awal. Sekarang, tidak bisa lagi. Masyarakat belum bisa menunggu dengan Q. Masyarakat merasa lebih nyaman antri dengan mengerubungi tempat pelayanan. Jadi, bagi mereka ini bukan soal tertib tidak tertib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-9060601699925062378?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/9060601699925062378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=9060601699925062378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9060601699925062378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/9060601699925062378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/09/antrian-di-rs-soedarso.html' title='Antrian di RS Soedarso'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5044749428345814984</id><published>2010-08-07T07:37:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T07:40:13.816-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STAIN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sanggau'/><title type='text'>Sanggau Permai</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam belas tahun lalu saya ikut dalam rombongan mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Pontianak, cabang Jakarta, mengadakan studi tour ke Sanggau. Saya sempat mengunjungi beberapa tempat di Sanggau.&lt;br /&gt;Salah satu tempat yang paling mengesankan saya waktu itu adalah Sanggau Permai. Saya sangat mengagumi komplek Sanggau Permai yang dibangun Bupati Baisuni ZA.&lt;br /&gt;Tempat itu, waktu itu, dianggap kawasan elit, seakan-akan ‘puncak’ bagi orang Sanggau. Kawasannya nampak rapi, bersih, terawat dan elit. Jalan menuju komplek itu yang mulus, serta kiri kanannya yang hijau menambah kesan ‘wah’ tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sempat salat di masjid di atas puncak Sanggau Permai. Waktu itu, tak habis-habisnya saya mengagumi masjid itu. Setelah itu, kami sempat mencoba main bola di lapangan di kaki bukit. Lapangan yang sangat bagus.&lt;br /&gt;Pak Bupati dalam kesempatan berbicara di depan rombongan STAIN Pontianak menceritakan tentang ‘proyek besarnya’ itu. Dia juga menjelaskan pengertian Sanggau Permai.&lt;br /&gt;Saya mengagumi Pak Baisuni sebagai pemimpin yang visinya sangat kuat, dan pemimpin yang membawa Sanggau melakukan loncatan ke depan.&lt;br /&gt;Perasaan saya waktu itu, Sanggau dengan Sanggau Permainya, mengalami kemajuan melebihi kabupaten lainnya. &lt;br /&gt;Kesan itu terpacak kuat dalam benak saya. Hingga belasan tahun, ingatan itu tidak lekang. Setiap kali orang mengatakan Sanggau Permai, serta merta saya membayangkan tempat yang elit itu.&lt;br /&gt;Bulan lalu, secara tak terduga saya berkesempatan melintas kawasan ini lagi. Kala itu, saya bersama rombongan mahasiswa yang akan melakukan kuliah kerja lapangan (KKL) ke Sanggau, melintas Sanggau Permai, saat naik pick up menuju lokasi KKL di kampung Mensarang. Karena saya mendapat tempat duduk di atas bak, saya jadi sangat leluasa melihat keadaan kiri kanan jalan. Tidak ada benda yang menghalangi pandangan.&lt;br /&gt;Saya katakan tak terduga karena saya tidak tahu kalau jalan menuju Mensarang itu melalui Sanggau Permai. Semula saya kira, kami akan melalui jalan di pinggir Sungai Sengkuang. &lt;br /&gt;Kebetulan yang baik.&lt;br /&gt;Saya antusias sekali ketika mengetahui bahwa pick up kami bergerak ke arah Sanggau Permai. Kenangan lama berlegar kembali.&lt;br /&gt;Tetapi, malangnya, kenangan indah itu ternyata t idak lagi nampak indah. Setidaknya, saya kehilangan keindahan ketika melihat Sanggau Permai sekarang. Tempat itu tidak lagi mengagumkan. Saya tidak lagi terpana seperti saat 16 tahun lalu.&lt;br /&gt;Bahkan, kesan saya, biasa-biasa saja. Jalannya, pohon-pohonnya, rumah-rumah di kiri kanan jalan, tidak lagi nampak istimewa.&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir, apakah Sanggau Permai telah berubah? Mungkin! Ya, mungkin Sanggau Permai telah berubah menjadi tempat yang biasa, bukan tempat yang mendapat perhatian khusus seperti dahulu, Sanggau Permai kehilangan pemerhati. Sanggau Permai kehilangan  keistimewaan. Saya kira, jangankan saya, orang Sanggau sendiri tidak lagi menjadikan Sanggau Permai sebagai kebanggaan. Sepanjang pertemuan kami dengan Wakil Bupati di Kantor Bupati – beliau menyambut kedatangan kami, saya tidak mendengar beliau mempromosikan Sanggau Permai, seperti dahulu Pak Baisuni lakukan. &lt;br /&gt;Tetapi saya yakin, pikiran saya juga sudah berubah. Kalau dahulu, wawasan saya masih sangat terbatas pada Pontianak dan Jakarta, sekarang rasanya cakrawala agak melebar sedikit. Kuching dan beberapa kota kecil yang dibangun sebagai ‘proyek monumental seorang pemimpin’ di sekitar Kuala Lumpur, sedikit banyak membuat ekspektasi tentang pembangunan kota baru juga berubah. &lt;br /&gt;Lalu?  Ups! Saya mendapat bandingan baru. Pasar Kapuas Indah. Dahulu, sekitar 20 tahun lalu, bangunan berlantai tiga itu menjadi ikon kota Pontianak. Orang kampung, orang pedalaman seperti kami, sangat membanggakan bangunan ini. Hebat. Kalau ke Pontianak, tidak sah jika belum menginjak bangunan ini. &lt;br /&gt;Sekarang? Hmmm…. Kita tahu sendiri jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5044749428345814984?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5044749428345814984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5044749428345814984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5044749428345814984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5044749428345814984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/08/sanggau-permai.html' title='Sanggau Permai'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3789230758406760667</id><published>2010-08-07T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T07:37:33.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STAIN'/><title type='text'>Biografi Tokoh Kalbar</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu (21/7) Jurusan Dakwah STAIN Pontianak mengadakan workshop. Ketua Jurusan Dakwah, Dr. Wajidi Sayadi, mengundang Prof. Dr. Artani Hasbi, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yang juga anggota Lembasa Sensor Film (LSF) tampil sebagai pembicara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Artani bicara panjang lebar tentang media visual dan dakwah. Peserta – yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, diceramahi dan diajak merenung. Dalil-dalil keluar satu persatu dari mulut pakar media lulusan timur tengah ini.&lt;br /&gt;Nah, panjang cerita dia mengingatkan hadirin soal pekerjaan besar orang daerah. “Seharusnya ada penulis local yang menggarap local wisdom,” katanya. &lt;br /&gt;Dia merinci, orang di Kalbar bisa menggarap profil Basuni Imran. Dia kenal Basuni sebagai tokoh besar dunia Islam dari Kalbar. &lt;br /&gt;“Tulislah tentang kelahirannya, pendididikan, kisah cinta, pemikiran, dll”.&lt;br /&gt;Katanya, di Jakarta sudah ada yang menggarapnya. Mahasiwa UIN Jakarta sudah belajar membuat film pendek dibimbing oleh orang dari LSF.  &lt;br /&gt;“Ini untuk memperkuat pesan dakwah agar diterima masyarakat,” ingatnya.&lt;br /&gt;Saran Profesor Artani ini membuat pikiran saya terbang. Saya membayangkan Basuni Imran yang sangat terkenal itu. Gambarannya wujud dalam bentuk lelaki bersurban, dengan jubah putih. Wajah beliau yang bersinar, menghadapi murid-murid yang mengelilingi. Beliau mengajarkan berbagai ilmu kepada murid-muridnya itu. &lt;br /&gt;Gambarannya mirip-mirip gambar yang divisualkan dalam film Sunan Kalijaga. Keren sekali.&lt;br /&gt;Lantas, pikiran saya terbang ke tokoh Kalbar lainnya. Ovang Oeray. Dia itu adalah tokoh besar. Idola banyak orang. Namun, gambaran tentang beliau belum cukup. Dahulu, ada teman saya yang mau menggarapnya. Entah sudah sampai di mana pekerjaannya itu, saya belum sempat bertanya kabarnya. &lt;br /&gt;Saya ingat ada juga Sultan Hamid, tokoh futuris asal Kalbar yang berkiprah di pentas nasional. Beliau belum banyak ditulis profilnya. Walau begitu, berdasarkan foto-foto beliau, saya sudah dapat membayangkan figurnya.    &lt;br /&gt;Ingatan saya singgah pada pengalaman saya satu tahun lalu. Kala itu saya menghadiri seminar di Universiti Teknologi MARA Sarawak. &lt;br /&gt;Saat itu ada seorang pembicara dari Semenanjung Malaysia. Dia menyampaikan makalah tentang Mufti Kesultanan Pontianak. Haji Ismail bin Abdul Majid al-Kalantani.&lt;br /&gt;Dia itu adalah tokoh besar. Pemikirannya, dipuji-puji. Dia sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Kelantan. &lt;br /&gt;Saya menjadi sangat bodoh karena tidak pernah mendengar tentang tokoh ini. Saya orang Pontianak. Saya sudah lama di Pontianak. Saya melakukan studi tentang Kalbar. Saya, di forum itu, kononnya, ilmuan dari Kalbar. Tetapi, naïf: tidak tahu tentang tokoh itu. Yang tahu justru orang luar.&lt;br /&gt;Lalu di ujung perenungan itu saya mencoba bertanya: kapan bisa menggarapnya? Saya menjadi gagap: tidak tahu kapan. Kapan melakukannya. Kapan saya dapat menggarapnya? Saya memikirkannya. Memikirkan dan memikirkan. Tetapi tak ada jalan keluarnya.&lt;br /&gt;Saya memerlukan orang untuk menggarapnya. Teman. Lantas siapa orang Kalbar yang juga mau peduli?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3789230758406760667?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3789230758406760667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3789230758406760667' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3789230758406760667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3789230758406760667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/08/biografi-tokoh-kalbar.html' title='Biografi Tokoh Kalbar'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7897768354939687748</id><published>2010-08-07T07:32:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T07:33:09.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Inventarisasi Local Knowledge</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;Kalau orang luar mau tahu tentang budaya-budaya Kalbar, mereka cari di mana? Saya pasti bingung menjawabnya. Apakah ada buku yang memuat informasi tentang budaya-budaya local itu? Mungkin ada. Tetapi pasti terbatas. Terbatas garapannya, terbatas cakupan dan kedalamannya.&lt;br /&gt;Kalau mau mendapatkan informasi yang komprehensif dan memuaskan, ya, harus gali sendiri. Harus ketemu narasumbernya langsung. Harus kulu kile’. Susah? Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alternatifnya, mungkin bisa dirujuk kepada MABM atau kepada Dewan Adat Dayak. Dengan begitu, taklah perlu susah payah turun ke lapangan, ke pedalaman yang jauh-jauh itu.&lt;br /&gt;Tapi … bisakah kita akan menunjuk Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Dr. Chairil Effendy sebagai rujukan informasi budaya Melayu, atau, kita akan menunjuk Ketua Dewan Adat Dayak  Thadeus Yus untuk rujukan budaya Dayak? &lt;br /&gt;Mungkin. Tapi saya sudah kebayang betapa repotnya. Orang yang mau tahu repot, kedua tokoh itu juga pasti repot. Saya yakin pasti tidak akan mudah bertemu dengan beliau berdua ini. Keduanya pasti sangat sibuk. Banyak kegiatan. Mungkin harus buat janji dahulu. Bila nasib mujur, besok atau lusa bisalah bertemu. Jika tidak, mungkin beberapa hari kemudian. Atau mungkin tidak bisa sama sekali.&lt;br /&gt;Kalau kemudian orang susah mendapatkan informasi mengenai budaya yang ada di Kalbar, kalau kemudian menyerah karena waktu dan biaya mereka yang terbatas, lalu menulis apa adanya berdasarkan apa yang dia peroleh, bagaimana?&lt;br /&gt;Apakah kita akan protes terhadap tulisan itu? Apakah kita marah?&lt;br /&gt;Seharusnya tidak. Jika orang luar itu sudah berusaha dan usaha mereka hanya segitu hasilnya, seharusnya kita terima dengan  bijak. Kalau kemudian tulisan mereka tidak seperti yang kita ketahui, salah-salah, kita juga salah. Kita layak dipersalahkan karena membiarkan dunia akademik berkembang di luar kita, sedangkan kita sendiri tidak menggarapnya. Lihatlah apa yang sudah kita lakukan.&lt;br /&gt;Kenyataannya, belum banyak yang kita lakukan. Kita masih kurang memberikan sumbangan terhadap konstruksi akademik tentang diri kita di dunia luar sana, di dunia akademik global. Menyedihkan.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat pekerjaan yang tertinggal itu ketika beberapa hari lalu mendengar ceramah Bapak Surahno, Kepala Sub Dit Hak Cipta, DTLST dan RD Departemen Hukum dan HAM RI di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisonal, Pontianak.  &lt;br /&gt;Dalam ceramah itu Surahno mengingatkan soal mendata semua hak kekayaan intelektual khususnya kepemilikan komunal yang ada di Kalbar. Kepemilikan komunal mencakup produk atau karya warisan turun temurun yang kita dapatkan dari generasi terdahulu. &lt;br /&gt;Data itu akan menjadi pangkalan data (data base)  tentang kekayaan tradisional di Kalbar. Orang yang ingin mengetahui dan mendapatkan informasi tentang kekayaan tradisional bisa merujuk pada data base itu. &lt;br /&gt;Biar data itu mantap, pekerjaan ini harus digarap bersama banyak orang.&lt;br /&gt;Seketika pikiran saya membayangkan sebuah buku: Enseklopedi Kebudayaan Kalbar. Buku itu tebal dan bagus, karena ditulis oleh banyak ilmuan Kalbar – mulai dari social- budaya, perobatan, pertanian, ekonomi hingga agama dan kepercayaan. &lt;br /&gt;Ketika orang mencari apa itu ‘notokng’, belale’an, tolak bale, antar ajjung, nyapat taun, pak aloi, runa’, kepua’, atau keladi tikus, orang bisa mendapatkannya di buku itu. Tidak perlu susah payah kulu kile’, tak perlu susah payah menunggu janji, dll. &lt;br /&gt;Selain itu, kalau buku ini wujud, pasti orang tidak akan susah payah memahami identitas setiap kelompok. Pasti orang akan mendapatkan informasi berharga tentang pengetahuan masyarakat di Kalbar. &lt;br /&gt;Saya bisa merasakan kebanggaan: kebanggaan sebagai warga yang berdiam di daerah yang beragam. Kebanggaan sebagai orang daerah yang sudah dapat menunjukkan fakta tentang keragaman.&lt;br /&gt;Uuh… andai buku itu bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7897768354939687748?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7897768354939687748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7897768354939687748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7897768354939687748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7897768354939687748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/08/inventarisasi-local-knowledge.html' title='Inventarisasi Local Knowledge'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5084077319707157267</id><published>2010-08-07T07:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T07:30:45.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Perubahan yang Menakjubkan</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak lama saya mendengarkan slogan hidup adalah perubahan. Ciri hidup adalah berubah. Kalau tidak berubah, itu tanda mati.&lt;br /&gt;Sudah sejak lama saya mempercayai itu. Sudah sejak lama saya mencoba menganut prinsip-prinsip menyadari dan memahami perubahan, serta prinsip ikut membuat perubahan dan berubah. &lt;br /&gt;Tetapi, ternyata, tidak selalu perubahan muncul dari proses kesadaran itu. Saya mengalami bagaimana perubahan drastis terjadi dalam proses ketidaksadaran.&lt;br /&gt;Ya, peristiwa bermula sekitar pukul 16.00, Kamis (5/8) kemarin. Saat itu saya sedang baring di ruang tengah di rumah. Tiba-tiba saya mendengar Fatia, anak saya yang berumur 4,6 tahun, menjerit.&lt;br /&gt;“Ular!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menangis. Tangisnya kali ini berbeda dibandingkan tangisan biasa--misalnya karena dia dikacau-kacau saudaranya, atau ketika dia ngambek pengin sesuatu tetapi tidak diberikan. Tangis ini berisi tangis ketakutan.&lt;br /&gt;Saya segera bangun, dan berlari keluar. Saya berhenti di teras. Saya lihat Fatia di tengah halaman, masih menangis, dan berurai air mata. Bibirnya nampak sedikit biru.&lt;br /&gt;“Napa?”&lt;br /&gt;“Kena ular”.&lt;br /&gt;“Mana dia?”&lt;br /&gt;Fatia menunjuk ular di dekat teras. Saya terkejut. Rupanya ular itu tidak jauh dari saya –posisinya di antara saya dan Fatia. Ular hitam kuning sebesar jempol Fatia. Ular itu agak melingkar badannya. Diam. &lt;br /&gt;Saya tidak menghiraukan ular itu. Saya menuju Fatia.&lt;br /&gt;“Mana kena ular?”&lt;br /&gt;Fatia menunjuk kakinya. Di pegelangan kakinya saya lihat ada sedikit darah. &lt;br /&gt;“Ini agaknya bekas gigitan ular itu”.&lt;br /&gt;Saya membopong Fatia, membawanya masuk. Panik.&lt;br /&gt;“Mak, Fatia kena patok ular”.&lt;br /&gt;Saya membawa Fatia ke kamar Emak. Saat itu Emak sedang istirahat di sana.  &lt;br /&gt;Setelah dibaringkan, kami memberi Fatia minum air putih. Saya meneteskan luka itu dengan propolis dan kemudian memijitnya, mengeluarkan darah yang bisa.  &lt;br /&gt;“Coba ambil otak ular. Kata orang tua, otak ular bisa dipakai untuk menawar bisa”.&lt;br /&gt;Kami ke teras. Ular masih ada di situ. Saya mencari kayu dan memukul ular dengan takut-takut. Ya, bagi saya, ular memang menakutkan. Tidak ada perlawanan. Ular menggeliat, mati. Saya memutuskan kepalanya agar yakin ular itu betul-betul mati.&lt;br /&gt;Emak kemudian mengambil kepala itu dan mengeluarkan otak. Lebih tepat sebenarnya batok kepala ular. ‘Otak’ itu warna putih sebesar biji jagung, kemudian dioles-oleh ke bekas gigitan di kaki Fatia. Emak lalu mengikat kaki itu.&lt;br /&gt;Meskipun lega karena pertolongan pertama ini, namun, saya masih ragu. Ini bisa ular. Bukan luka biasa. Kemudian, saya bersama Salsa, anak saya yang lain, membawa Fatia ke bidan Ester, bidan yang menjadi rujukan keluarga kami.  Sebelum pergi mengambil ular itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastic. Maksud saya, biar bidan tahu jenis ular yang menggigit Fatia. Menurut TV, jenis bisa ular yang diketahui akan memudahkan petugas memberikan pertolongan. Lain bisa ularnya, lain obatnya.&lt;br /&gt;Ternyata, bu Ester merujuk Fatia ke rumah sakit Antonius. &lt;br /&gt;“Cepat bawa ke sana. Di sana ada obat penawar bisa. Di sini tidak bisa”.&lt;br /&gt;Saya dan Salsa membawa Fatia dan ular ke rumah sakit itu. Petugas di sana bekerja cepat membius Fatia dan membersihkan dan membor luka di kaki Fatia. Seorang wanita berbaju putih – yang kemudian saya ketahui bernama dr. Aini, sesekali memberi petunjuk.&lt;br /&gt;Sembari proses pengobatan Fatia, dr Aini bertanya pada saya tentang kejadian itu. Saya ceritakan apa yang saya ketahui. Saya keluarkan ular dari bungkusan untuk menambah penjelasan.&lt;br /&gt;“Ular … ular … jangan”.&lt;br /&gt;Dr. Aini mundur menuju desk petugas. Terkejut. Saya, dan beberapa orang lain tersenyum melihat reaksi dokter.&lt;br /&gt;“Udah mati”.&lt;br /&gt;Saya memegang ekor ular, sehingga badannya menjulur ke bawah. Maksudnya biar nampak kepala ular yang buntung.   &lt;br /&gt;Saya memasukkannya kembali ke dalam plastik. &lt;br /&gt;Lalu, beberapa saat kemudian, dr. Aini meminta saya mengeluarkan ular itu lagi. Tidak lagi terkejut. Beliau ingin mengambil gambar dengan kamera poket. Mula-mula saya letakkan ular di atas kantong di atas kasur. &lt;br /&gt;“Hitam. Tidak nampak. Letakkan di atas yang putih”.&lt;br /&gt;Saya memindahkan ular di atas kasur yang alasnya putih itu. Selesai dipotret, ular itu dimasukkan lagi ke dalam plastik. &lt;br /&gt;Setelah dr. Aini berlalu, saya tiba-tiba tersadar. &lt;br /&gt;“Lho, kok bisa?”&lt;br /&gt;Saya takjub beliau. Pada mulanya nampak terkejut (mungkin geli atau takut juga). Tetapi kemudian berani mendekati. Cepat sekali berubah. Hanya hitungan menit.&lt;br /&gt;Saya juga takjub pada diri sendiri. Takjub karena berani memegang ular. Tidak ada perasaan geli sedikit pun. Seakan-akan ular itu benda biasa. Padahal, biasanya, jangankan menyentuh dengan tangan langsung, menggerakkan bangkai ular dengan ranting saja saya geli-geli. Takut-takut. Wowww….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5084077319707157267?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5084077319707157267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5084077319707157267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5084077319707157267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5084077319707157267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/08/perubahan-yang-menakjubkan.html' title='Perubahan yang Menakjubkan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6271531973640702633</id><published>2010-07-02T10:04:00.001-07:00</published><updated>2010-07-02T10:07:20.801-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><title type='text'>Batu dalam Celana</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, beberapa hari lalu, saya bersama dua teman saya –Me dan Miji, lari pagi menyusuri jalan di Kota Singkawang. Lari pagi kami lakukan untuk menjaga fisik agar tetap segar saat laga futsal Porda Depag 2010.&lt;br /&gt;Kami menyusuri Jalan Diponegoro – masuk pasar, lewat patung Naga, hingga sampai ke ujung Jalan Niaga. Di depan masjid raya, kami berhenti, singgah di kedai makan. Kami pesan bubur dan minuman. Bubur porsinya agak jumbo. &lt;br /&gt;Usai makan, tiba-tiba saya rasa ada yang mau lewat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Me juga bilang dia memerlukan WC karena kebelet. Saya mendatangi penjaga kedai, bertanya di mana tempat pembuangan akhir. Mulanya saya kira di belakang warung ada tempat. &lt;br /&gt;Tetapi malangnya, WC tidak ada. &lt;br /&gt;“Kalau mau, bisa numpang WC masjid,” kata pemilik warung itu.&lt;br /&gt;Dia memberi petunjuk. WCnya ada di samping kanan masjid. “Itu di sebelah situ ada pagar, masuk saja, lurus”.&lt;br /&gt;Saya melangkah tangkas, berjalan paling depan menyeberang jalan menuju masjid. Sedangkan teman yang hampir kebelet tadi berjalan agak lambat.  Maklum, sudah benar-benar pengin keluar katanya. Dia khawatir kalau melangkah buru-buru, yang mau lewat itu bisa lewat benaran. &lt;br /&gt;Kami masuk lewat celah pagar yang masih sedang dalam pengerjaan—bukan lewat pintu. Mungkin karena hari masih pagi belum ada pekerja di sana. Beberapa meter dari pagar itu sudah nampak WC masjid. &lt;br /&gt;Ada tiga WC di sini. Saya masuk ke salah satu WC itu. Karena hanya melepas yang kecil, tidak lama, saya sudah keluar.&lt;br /&gt;Tapi, saya terkejut karena ternyata teman saya yang kebelet sudah berdiri di dekat pagar.    &lt;br /&gt; “Lho, kok udah?”&lt;br /&gt;“Kencing jak Bang,” &lt;br /&gt;“Heh? Katanya tadi udah mau keluar?”&lt;br /&gt;“Ndak jadi. Nanti di penginapan saja,” katanya.&lt;br /&gt;“Kuat? Khan jauh”.&lt;br /&gt;“Udah. Ini udah pakai batu”.&lt;br /&gt;Dia merogoh sakunya. Menunjukkan sesuatu sebesar ibu jari.&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;Me menjelaskan, menurut Miji kalau kebelet bisa diatasi dengan batu. Batu dimasukkan di dalam saku celana.&lt;br /&gt;“Itu petua orang tua,” &lt;br /&gt;“Kami percaya itu. Keci’-keci’ dulu saya sering begitu. Biasanya memang benar,” Miji menimpali.&lt;br /&gt;Miji, orang Melayu. Dia kelahiran kota Pontianak. Kecil-kecil dia main di kampung Bansir.  &lt;br /&gt;Saya belum pernah mendengar hal begitu dipercayai orang di Pontianak. Tentu saja apa yang saya dengar dari Miji pagi itu-- bahwa di Pontianak ada orang yang percaya pada hal seperti itu, merupakan hal baru. Biasanya, kepercayaan seperti itu ada pada orang kampung saja, tempat yang nun jauh dari kota.&lt;br /&gt;Ini jelas petanda kalau saya masih buta pada khazanah budaya masyarakat Melayu di kota Pontianak. Saya merasa takjub mendengar bentuk kearifan begini. Sepanjang jalan pulang tak habis-habisnya saya memikirkan hal ini. Duh, sayang belum ada penelitian tentang hal ini. &lt;br /&gt;Kami terus berjalan menuju penginapan sambil bercakap-cakap. Sesekali saya bertanya pada Me.&lt;br /&gt;“Gimana Me, manjur ndak batunya?”&lt;br /&gt;“Kayaknya iya Bang. Udah ndak macam tadi”.&lt;br /&gt;Walaupun kami melihat kenyataan batu bisa membuat orang tidak jadi buang air, namun, masing-masing ada keraguan. Setidaknya kami tidak menemukan apa kaitannya antara batu dengan keinginan buang air itu. Mengapa orang yang sangat ingin ‘beol’ bisa tahan setelah batu dimasukkan ke dalam saku. &lt;br /&gt;“Apakah ini hanya sugesti saja?!” &lt;br /&gt;Entahlah. Saya harap suatu saat ada orang yang bisa menjelaskan hubungan antara batu dan beol itu. Apakah hubungan itu lebih dari sekadar sugesti? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6271531973640702633?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6271531973640702633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6271531973640702633' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6271531973640702633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6271531973640702633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/batu-dalam-celana.html' title='Batu dalam Celana'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-5684844662658872523</id><published>2010-07-02T10:02:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:08:43.108-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><title type='text'>Perlu Teman Menulis</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa datang kepada saya minta didaftarkan dalam kelompok Klub Menulis STAIN Pontianak yang saat ini saya kelola. Katanya, dia ingin belajar menulis secara lebih intensif bersama orang lain.&lt;br /&gt;“Selama ini saya menulis sendiri dalam buku harian,” katanya.&lt;br /&gt;Saya terangguk-angguk mendengar ceritanya itu. Ya, saya memberikan apresiasi terhadap dia karena sudah ada upaya menulis kisah hidup sehari-hari. Dia sudah berusaha. Usaha yang baik dan sangat produktif.  Saya katakan ini baik karena saya membandingkan dengan banyak orang lain yang tidak punya tulisan, tidak punya karya. &lt;br /&gt;Saya juga memberikan apresiasi terhadapnya karena dengan begitu dia menunjukkan kapasitasnya sebagai mahasiswa, makhluk kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selama ini saya selalu menganggap bahwa sebagai komunitas akademik mahasiswa harus menulis. Tidak cukup hanya belajar duduk di dalam kelas mendengar dosen ceramah. Mahasiswa harus menulis untuk mengukur pemahaman dia terhadap materi yang disampaikan. Mahasiswa harus menulis untuk mendalami masalah atau tema-tema dalam perkuliahan. Mahasiswa harus menulis dengan begitu dia mengasah kemampuan dirinya.&lt;br /&gt;Sebaliknya dari anggapan ini, saya selalu merasa agak heran ketika mendapati mahasiswa malas menulis (dan malas membaca). Lebih mengherankan lagi kalau melihat mereka tidak menyukai aktivitas ini, sementara pada saat yang lain mereka berapi-api mengklaim dirinya sebagai intelektual kampus. Saya member cap: “Ngomongnya berasap, nulisnya, angin”. &lt;br /&gt;Kadang kala sering kepikiran, mengapa mahasiswa begitu? Mengapa mereka tidak menyukai aktivitas ini? Mengapa? &lt;br /&gt;“Oh, mungkin mereka ikut dosen mereka?”&lt;br /&gt;Lho? Ya, banyak dosen yang malas menulis. Meskipun Tri Dharma Perguruan Tinggi sering disinggung-singgung, namun penerapannya kurang. Tidak banyak dosen yang terlibat dalam kegiatan penelitian dan publikasi karya akademik mereka. Tidak banyak dosen yang memiliki karya akademik yang proporsional.&lt;br /&gt;Saya kenal seorang dosen senior. Dia sudah bertugas selama lebih dari 20 tahun. Golongan kepangkatannya sudah tinggi. Namun, sampai saat ini bukunya baru 2, itupun nama sebagai penulis bersama –yang tulisannya termasukk dalam bab dari buku itu. Dia numpang satu bab tulisan dalam buku ini. Bukan buku sendiri. &lt;br /&gt;Seorang lagi dosen dibuatkan profil oleh media. Dia disebut sebagai dosen yang hebat. Pendapatnya sering dikutip wartawan. Dia disebut pakar dalam banyak bidang. Tetapi, alamak … ketika saya lihat riwayat penelitiannya, penelitiannya dapat dihitung dengan telunjuk. Itupun, tidak semua penelitian dia lakukan. Dia hanya menumpang nama. Beberapa lagi penelitian tidak ada hubungan dengan bidang dasar ilmu dia.   &lt;br /&gt;Walaupun saya belum melakukan riset untuk melihat kompetensi dosen dalam menulis dan menerbitkan buku, rasanya, secara kasar jumlahnya pasti tidak banyak. Lebih banyak dosen melupakan tradisi meneliti dan menulis makalah, karena disibukkan oleh pelbagai urusan. Mulai urusan mengajar, hingga urusan sibuk menangani proyek luar. &lt;br /&gt;Nah, jika dosen sudah begitu, wajar saja kalau mahasiswa pun meniru-niru. Bagaimanapun dosen adalah contoh dan teladan mahasiswa. Ini yang dikatakan pepatah: “Guru kencing berdiri, anak-anak kencing berlari”.&lt;br /&gt;Bah, apa jadinya kalau komunitas intelektual melempem seperti itu?  &lt;br /&gt;Tetapi, hal ini tidak bisa dihindari karena mereka, kita semua, berangkat dari system yang terbangun selama ini. Selama ini mereka memang tidak dibina menjadi akademisi yang intelektual. Mereka hanya dibentuk menjadi seperti guru. Bisanya hanya mengajar. Sedangkan meneliti dan publikasi, kurang ditekuni karena tidak dipentingkan.&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah ketika melihat ada kegairahan menulis dan berkarya di kalangan mahasiswa yang ingin bergabung dalam Klub Menulis, saya menaruhkan harapan baru: generasi intelektual bakal lahir. Hanya soalnya sekarang apakah saya (sendiri) dapat membesarkan mereka? Siapa yang mau peduli dan siapa yang mau membantu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-5684844662658872523?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/5684844662658872523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=5684844662658872523' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5684844662658872523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/5684844662658872523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/perlu-teman-menulis.html' title='Perlu Teman Menulis'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-390561785476044474</id><published>2010-07-02T10:00:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:09:30.705-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Trademark Kota Pontianak</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;Tiba-tiba terlintas bayangan dalam benak saya: Orang berkumpul di sepanjang Jalan Ahmad Yani Pontianak. Mereka yang melakukan jogging dan jalan-jalan bersama anak istri. Peminat futsal, bermain santai di atas aspal. Sebagian lagi memilih bersenam erobik atau taichi. Di bagian tertentu di jalan ini ada yang jualan makanan ringan, yang lain jualan perlengkapan olah raga atau mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bayangan itu terlintas? Rudi Agus pasalnya. Rudi, yang kini menjadi Pimred Metro Pontianak bertemu saya kemarin, usai salat Jumat di masjid Syahid Pontianak. Panjang cerita, Rudi menceritakan bahwa dia sedang mengupayakan program car free day di setiap daerah. Di Pontianak program itu sudah dicanangkan oleh Gubernur Kalbar; kawasan yang dipilih adalah Jalan A. Yani Pontianak. Salah satu ruas jalan A Yani, yakni jalur dari simpang empat A. Yani – Ahmad Dahlan, hingga belokan SPBU OSO, dipilih sebagai kawasan jalan bebas di hari Minggu mulai pukul 07.00-09.00. Namun, di tengah perjalanan, program ini ada yang protes.  &lt;br /&gt;Walaupun begitu, program ini terus berjalan. Ada dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Pontianak. &lt;br /&gt;Sampai hari ini kegiatan itu berjalan, walaupun perjalanannya tidak seperti yang dibayang pencetusnya.&lt;br /&gt;“Kita inginkan Jalan A Yani ini bisa menjadi tempat alternative berkumpulnya warga di hari Minggu, selain stadion,” kata Rudi.&lt;br /&gt;Ya, saya kira, impian itu bukan impian kosong. Pasti bisa diwujudkan. Bisa -- jika sosialisasinya berjalan, jika program itu dikemas dengan baik sehingga jadi menarik.  &lt;br /&gt;Seperti Rudi, saya sudah bisa membayangkan satu ruas jalan itu akan menjadi tempat orang berkumpul untuk berbagai tujuan – untuk olahraga, santai, wisata keluarga, dan juga untuk berjualan.&lt;br /&gt;Tidak sulit membayangkan tempat seperti itu. Monas, Jakarta, merupakan contohnya. Di luar negeri, di Malaysia, sudah ada misalannya: pasar malam (minus olahraganya). &lt;br /&gt;Saya kira, jika Buchary membangun beberapa trade mark kota Pontianak, Sutarmijdi dapat juga melakukan hal itu. Ada monumennya. &lt;br /&gt; Lantas saya teringat upaya yang sekarang dilakukan Sutarmidji: penataan kawasan Kota Baru Pontianak. Di Kota Baru itu dibangun tugu indah. Ada taman kecil, ada tempat santai, ada air mancur. Tugu itu sekarang sudah menjadi salah satu objek wisata: sering saya melihat orang singgah di sini,  sembari foto-foto.&lt;br /&gt;Di Kubu Raya, tugu di persimpangan Ambawang juga sekarang menjadi salah satu tempat ‘indah’ untuk foto-foto.&lt;br /&gt;Nah, pasti tidak akan sukar membangun hal yang hampir serupa di sekitar persimpangan A Yani itu, atau kalau mana-mana tempat yang memungkinkan. Tempat itu akan menjadi daya tarik tambahan di kawasan ini; sekaligus mendukung program seperti yang Rudi bayangkan. Rasanya pasti akan lebih semarak dibandingkan Taman Alun Kapuas, tugu Khatulistiwa, atau bahkan Stadion sendiri. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-390561785476044474?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/390561785476044474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=390561785476044474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/390561785476044474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/390561785476044474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/trademark-kota-pontianak.html' title='Trademark Kota Pontianak'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7322987969627701351</id><published>2010-07-02T09:59:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:10:32.638-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilkada Kalbar'/><title type='text'>Untuk Mereka yang Kalah</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;Seorang teman dari tim sukses salah satu kandidat bupati yang bertarung dalam pilkada di sebuah kabupaten di Kalbar belum lama ini, menceritakan kandidat itu sekarang sedang agak stress. Dia stress karena memikirkan uangnya yang sudah banyak keluar.&lt;br /&gt;Iseng-iseng saya bertanya: “Berapa banyak dia keluar uang?”&lt;br /&gt;“Miliaran rupiah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow”.&lt;br /&gt;Saya takjub. Sangat takjub. Saya membayangkan kalau uang miliaran itu dikumpul-kumpul. Satu tas pun tak akan muat – agaknya. Kalau disusun-susun pasti bertumpuk-tumpuk tingginya.&lt;br /&gt;Saya lebih takjub lagi memikirkan bagaimana orang begitu agak mudah mengumpulkan uang sebanyak itu. Saya sering mengagak-agak: berapa lamakah dia mengumpulkan uang sebanyak itu? Satu bulan? Setengah tahun? Satu tahun? &lt;br /&gt;Lalu, bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu? &lt;br /&gt;Saya tentu mengukur diri sendiri. Saya tidak kebayang bagaimana bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau ikut kerja saya sekarang, seumur-umur kayaknya tidak akan terkumpul uang sejumlah itu. &lt;br /&gt;Padahal, kalau dipikir-pikir, rasanya kerja yang dilakukan sudah maksimal. Karena itu, saya harus menganggap orang yang bisa mengumpulkan uang puluhan miliaran rupiah dalam waktu setahun atau beberapa tahun, adalah orang yang luar biasa. Hebat.&lt;br /&gt;Tetapi, rasa takjub tidak berhenti di situ. Saya masih sangat takjub pada mereka yang punya uang miliaran rupiah, dan mau-maunya membagikan pada orang lain. Mau-maunya mereka menghamburkan dan menaburkannya.&lt;br /&gt;Ya, saya katakan menghamburkan uang karena sepanjang yang saya lihat dalam pilkada, calon bupati dan wakil bupati selalu royal memberikan uang mereka. Mereka dikelilingi orang, dan orang yang datang pada mereka mendapatkan ‘habuan’. Saya dengar dahulu dari seorang asisten calon gubernur, setiap bulan ada banyak proposal yang masuk ke meja mereka. Proposal pembangunan rumah ibadah, proposal pembangunan jembatan dan jalan, proposal pertandingan sepakbola, proposal lomba ini itu… dan seterusnya.&lt;br /&gt;Mereka yang datang untuk keperluan pribadi juga sangat banyak. Ada yang datang minta uang tiket, uang jalan, uang sekolah, uang makan, hingga uang rokok. &lt;br /&gt;Saya merasa takjub karena membayangkan begitu pemurahnya ‘beliau’ itu mengalirkan uangnya. Uang macam tidak ada harga baginya – kecuali agar dia dianggap baik dan layak dipilih. Padahal, terpilih juga belum pasti.&lt;br /&gt;Saya takjub membayangkan dia bisa menjadi seperti malaikat yang sangat baik hati, padahal sebenarnya kebaikan itu diberikan karena dia mengharapkan sesuatu. &lt;br /&gt;Ahh… saya menarik nafas, sembari membayangkan, andai beliau yang menaburkan uangnya itu, benar-benar berbaik hati. Uang miliaran rupiah itu bisa digunakan untuk menyekolahkan anak dari satu kecamatan, hingga mereka menjadi sarjana. Uang miliaran rupiah bisa digunakan untuk membangun sekolah di kampung, atau pesantren dengan fasilitas yang lengkap. Uang miliran rupiah bisa digunakan untuk membantu modal usaha dan aneka kegiatan produktif.  &lt;br /&gt;Bantuan itu pasti akan mengubah banyak hal di masyarakat. Perubahan yang terjadi pasti nyata. Saya kira, perubahan itu pasti akan menyebabkan masyarakat tertambat hatinya. Pasti perubahan begini ini akan menjadi daya tarik yang luar biasa. Daya tarik yang akan membuat orang memilihnya dengan sukarela – bukan seperti yang terjadi sebelum ini: orang memilihnya berpura-pura. Di depan dia katakan mendukung, di belakang mentertawakannya. Cara ini pasti tidak akan membuatnya stress – karena menabur uang di lautan.&lt;br /&gt;Tapi, saya tak bisa mengingatkan calon itu. Tak kenal. Kalau kenal pun, saya tak berani mengingatkan calon itu. Takut dianggap celupar. Dalam situasi sekarang dia tidak butuh nasehat. Nasehat justru akan membuatnya berang.&lt;br /&gt;Biarlah dia renung sendiri masalahnya. Ini pelajaran berharga buat dia, dan juga buat calon yang lain di kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7322987969627701351?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7322987969627701351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7322987969627701351' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7322987969627701351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7322987969627701351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/untuk-mereka-yang-kalah.html' title='Untuk Mereka yang Kalah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-6221474993447299172</id><published>2010-07-02T09:55:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:11:22.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Tionghoa'/><title type='text'>Makalah Hasan Karman</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;Saya merasa sangat tertarik menyaksikan reaksi Zulfidar, dkk serta reaksi Fron Pembela Islam (FPI) dan KNPI Singkawang, terhadap makalah Hasan Karman. Saya ingin terus mengikuti perkembangan dan ending aksi ini.&lt;br /&gt;Karena itu saya berusaha membaca media utama di daerah ini. Entah itu Borneo Tribune, Pontianak Post, Equator maupun Tribune Pontianak. Saya memerlukan bacaan itu karena saya tahu ideology masing-masing dan apa yang terjadi di ruang redaksi media ini berbeda. Saya kira tugas dari redaktur untuk wartawan juga akan membuat bahan tulisan yang disajikan kepada public akan berbeda. Dan senyatanya memang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua berita itu, saya kira yang paling penting bagi saya adalah ketika membaca teks lengkap makalah HK yang dimuat di Borneo Tribune beberapa hari lalu. Ya, membaca teks lengkap itu sangat perlu untuk memahami duduk persoalan. &lt;br /&gt;Bagi saya –dan beberapa teman lain, pertanyaan penting dari kasus ini sebenarnya adalah kayak apa sih makalah HK itu? Bagian mana yang dipersoalkan? Sejauhmana persoalannya –sampai-sampai kok dia harus mundur? &lt;br /&gt;Kalau kita tidak mencari fakta itu, kita mungkin akan terjebak opini. Mana lagi begitu banyak komentar muncul terhadap makalah itu. &lt;br /&gt;Dan, ketika saya bandingkan dengan isi makalah dengan opini yang berkembang, saya justru ragu: apakah komentator itu ada membaca makalah HK atau tidak?&lt;br /&gt;Lalu pada akhirnya, saya sendiri berpendapat bahwa persoalan makalah HK bukan semata soal makalah. Reaksi karena makalah tidak akan sehebat itu.&lt;br /&gt;Tentu ada sebab lain. Dan rentetan kasusnya jelas. Misalnya, bagaimana FPI muncul dan mengaitkan makalah itu dengan patung naga. Kita memang tahu bahwa selama ini patung naga memang dipersoalkan dan reaksi yang diberikan sejak mula rencana pembangunan, sampai sekarang – sampai patung ini menjadi ikon baru kota singkawang, tidak pernah berhenti. Tetapi, protes mereka tidak membuahkan hasil. HK tidak meluluskan permohonan mereka.   &lt;br /&gt;Setelah membaca makalah, saya juga menganggap HK sempat berlebihan memberikan reaksi atas reaksi Zulfidar, dkk. Berlebihan? Saya sempat membaca komentar HK pada mulanya menolak minta maaf. HK tidak merasa bersalah. &lt;br /&gt;Benarkah makalah itu tidak ada masalah? &lt;br /&gt;Pertama, saya kira masalah di makalah itu adalah: HK tidak mengutip sumbernya. Yuan Bingling yang disebut-sebut tidak ada. Begitu juga dengan Graham Irwin. Komentar soal catatan kaki yang diberikan beberapa orang juga tidak nampak. Tak ada tanda makalah itu memiliki catatan kaki. Dalam referensi, yang disebutkan hanya beberapa karya mulai dari Harun Aminurrasyid hingga Elias Suryani Soren. &lt;br /&gt;Justru itu, masalah makalah HK menjadi sangat serius jika dilihat dari sudut metodologi penulisan akademik; HK tidak memenuhi itu. Titik lemah makalah itu sebenarnya seharusnya disadari HK sejak awal. &lt;br /&gt;Kedua, saya menilai Ketua MABM Kalbar Chairil Effendi benar ketika mengkritik penggunaan sumber colonial untuk tulisan ini tanpa dipadukan dengan sumber bukan kolonial. Ini berkaitan dengan isu kapasitas sumber rujukan. Sebagai ilmuan, kita menyadari tidak semua sumber layak dirujuk. Ilmuan harus memilah dan memilih. Kadang kala justru sumber-sumber tertentu ditampilkan untuk dikritisi. &lt;br /&gt;Hanya masalahnya, apakah ada tulisan tentang sejarah Sambas yang dibuat oleh ekspert dalam soal ini? Siapa ekspert itu? Siapa pakar sejarah Melayu di Kalbar?  &lt;br /&gt;Pada konteks ini, sebenarnya ini juga harus direnungkan orang Melayu. Orang Melayu Kalbar belum menulis sejarahnya sendiri. Mereka belum menulis sejarah berdasarkan perspektif dalaman sebagai antitesa terhadap pendapat orang kolonial. &lt;br /&gt;Saya tidak hendak menafikan ada beberapa tulisan sejarah yang dibuat oleh peminat sejarah yang berasal dari orang Melayu di Kalbar, tetapi, metode tata tulis, metode analisis, masih sangat lemah. Konstruksi keilmuan masih harus ditingkatkan lagi. &lt;br /&gt;Saya pernah menyampaikan hal ini dalam sebuah forum akademisi dan di sana juga ada orang dari Balai Pelestarian Sejarah Pontianak, bahwa yang paling menyedihkan bagi kita semua di Kalbar, kita tidak punya pakar sejarah. Kalbar tidak punya professor sejarah. Kalbar tidak punya doctor dalam bidang sejarah. Tidak ada di lembaga penelitian, tidak ada juga di Untan.&lt;br /&gt;Nah, ketika masalah penggunaan sumber local diangkat oleh Pak Chairil, saya kira masalahnya seharusnya juga menjadi perhatian bagi orang Melayu – khususnya para akademisi, bukan HK saja. Orang Melayu harus mendoktorkan anak Melayu untuk mengisi kekosongan itu. &lt;br /&gt;Jadi, pada intinya, munculnya kontroversi makalah HK lebih baik juga diimbangi dengan menjadikannya sebagai bahan renungan bagi kita semua, bagi orang Melayu, dan juga bagi HK. Dari berbagai sudut. Lalu setelah renungan itu kita memperbaiki kelemahan itu bersama-sama. Lihat sisi positifnya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-6221474993447299172?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/6221474993447299172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=6221474993447299172' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6221474993447299172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/6221474993447299172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/makalah-hasan-karman.html' title='Makalah Hasan Karman'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1143536674920802635</id><published>2010-07-02T09:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:12:07.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Media'/><title type='text'>"Mengapa Katanya?"</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya sedang mengajar tentang kalimat dalam bahasa Indonesia. Setelah menerangkan konsep kalimat dalam bahasa Indonesia, saya menampilkan kalimat: Katanya: “Saya ingin pulang,” dan beberapa kalimat lagi, sebagai contoh kalimat langsung.&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang mahasiswa bertanya.&lt;br /&gt;“Pak, mengapa di situ ada katanya?”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat mengerutkan kening mendapat pertanyaan itu. Mengapa dia bertanya tentang itu? Saya belum menangkap apa sebenarnya maksud pertanyaan mahasiswa itu.&lt;br /&gt;“Iya, mengapa di situ ada kata ‘katanya’? Padahal itu ‘kan kalimat”.&lt;br /&gt;Wah… saya terpana mendengar pertanyaan itu. Kini saya mengerti pertanyaan itu. Pertanyaan ini yang sungguh sangat kritis. Saya tidak pernah berpikir tentang itu, sekalipun saya memberikan contoh itu.&lt;br /&gt;Saya ingat, selama ini saya menerima mentah saja dalam menggunakan ‘katanya’. Lebih-lebih sebagai jurnalis, sejak belajar menulis berita lebih 20 tahun lalu, ‘katanya’ hari-hari saya pakai untuk  menunjukkan adanya ujaran, ucapan. Hingga sekarang, saya malah mengajarkan pemakaian ‘katanya’ kepada calon wartawan yang mengikuti kelas Jurnalistik. &lt;br /&gt;Pertanyaan mahasiswa itu sungguh berbobot. Saya tahu, kalau ikut logika seharusnya bukan ‘katanya’, tetapi, ‘kalimatnya’.&lt;br /&gt;Teks lengkap seharusnya: Kalimatnya: “Saya ingin pulang”.&lt;br /&gt;Tetapi, tidak pernah ada ‘kalimatnya’ untuk merujuk kepada kalimat yang diucapkan seseorang. Selalu saja yang digunakan ‘katanya’, ‘ujarnya’, ‘ungkapnya’, ‘tandasnya’. Sesekali juga ada kata lain yang digunakan ‘dia berwacana’.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana harus menjawab pertanyaan mahasiswa itu? Apakah saya harus mengatakan bahwa ‘katanya’ merupakan konsensus penutur bahasa Indonesia untuk semua jenis kalimat yang diujarkan, sesuatu yang diucapkan, sesuatu yang dikatakan. Katanya menunjukkan rangkaian bunyi yang membentuk kata-kata yang keluar dari mulut seseorang.&lt;br /&gt;Hanya saya ragu pada jawaban ini karena dalam konteks linguistic, kata bukan akhir dari rangkaian ucapan bermakna seorang penutur. Masih ada kalimat, yaitu konstruksi dari kata-kata itu. &lt;br /&gt;Saya katakan kepada mahasiswa penanya, seharusnya ‘kalimatnya’ dipergunakan, dan bukan ‘katanya’. Sebab yang diucapkan adalah kalimat, rangkaian dari kata-kata yang memiliki makna. &lt;br /&gt;“Tetapi, mengapa ya orang tidak pernah memakai ‘kalimatnya’ untuk menutup kutipan ujaran? Saya tidak tahu jawabannya”.&lt;br /&gt;Saya menyerah. Saya lupa apakah saya garuk-garuk kepala atau tidak saat itu. &lt;br /&gt;“Kalau saudara mau pakai ‘kalimatnya’ seharusnya tidak ada masalah”.&lt;br /&gt;Mereka terdiam.&lt;br /&gt;“Bagaimana?”&lt;br /&gt;Saya mendengar bisik-bisik kecil di antara mereka. Saya tahu mereka sulit menyampaikan komentar. Saya tahu mereka sudah lupa pada jawaban pertama saya tadi, soal “saya tidak tahu”. &lt;br /&gt;Saya lantas memberikan kuliah tentang konsensus sebagai salah satu bagian dari proses pembentukan bahasa. Kalau soal ini saya bisa bahas panjang lebar. Maklum,  itu ilmu linguistik yang saya pelajari.&lt;br /&gt;Setelah saya menjelaskan tentang konsensus itu, saya kemudian menutup jawaban dengan mengatakan lagi-lagi saya tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan mahasiswa itu. Saya minta tempo untuk memikirkannya. Saya mengatakan begitu untuk menegaskan bahwa saya memang tidak tahu, dan saya masih harus belajar banyak. Saya tidak ingin mengagak-agak jawabannya, apalagi mengagak dengan kemungkinan yang salah. Kasihan mereka, bisa sesat.&lt;br /&gt;Ketika sampai di ruang kerja, saya berusaha mencari jawaban dengan membuka internet untuk melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan. &lt;br /&gt;Saya menemukan kenyataan yang juga masih membuat saya tidak puas. Dalam KBBI kata dan kalimat diberikan pengertian yang kurang lebih sama. Kalimat diberi pengertian: 1 kesatuan ujar yg mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; Kata diberi pengertian: unsur bahasa yg diucapkan atau dituliskan yg merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yg dapat digunakan dl berbahasa.&lt;br /&gt;Dua pengertian ini membuat saya yakin bahwa pada akhirnya mengapa banyak muncul penggunaan ‘katanya’ dan tidak pernah ada ‘kalimatnya’ karena soal kebiasaan saja. Itu tadi, konsensus, kesepakatan pengguna bahasa.&lt;br /&gt;Ugh.. menemukan jawaban begitu membuat saya lega. Untung saya sudah menjawab dengan mengatakan saya tidak tahu. Untung saya bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa saya masih bodoh. &lt;br /&gt;Coba bayangkan jika saya pura-pura tahu? Pasti jawaban saya ngawur. Pasti mereka sesat.&lt;br /&gt;Peristiwa ini juga menjadi pelajaran tambahan bagi saya: jangan pernah malu mengaku tidak tahu – sekalipun kamu mungkin dianggap orang sebagai orang yang tahu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1143536674920802635?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1143536674920802635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1143536674920802635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1143536674920802635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1143536674920802635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/mengapa-katanya.html' title='&quot;Mengapa Katanya?&quot;'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4359886812653358383</id><published>2010-07-02T09:51:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:13:00.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Belajar Bahasa Indonesia</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;Dahulu, pada saat kelas-kelas awal semester, sering kali saya menghadapi mahasiswa yang mengeluh karena banyak tugas kuliah diberikan untuk mereka. Mereka merasa sangat terbebani jika banyak tugas harus dikerjakan. &lt;br /&gt;Mengapa? &lt;br /&gt;“Mengarang itu susah. Susah mau memulainya”.&lt;br /&gt;“Susah menyusun kata-kata”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena susah itu, mereka menjadi sangat terbebani. Bahan harus dicari. Kata-kata mesti disusun. Bukan mudah menyusun kata-kata – apatah lagi jika kata-kata yang harus disusun sangat banyak. Sedangkan jika tidak dikerjakan, salah-salah mimpi, mereka bisa dikeluarkan dari kelas.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu ada di antara mereka yang memilih membuat tugas copy paste, ada yang memilih ‘ngerental’ tugas. Rental tugas maksudnya, meminta teman lain membuat tugas mereka. Mereka cukup membayar saja sekian ribu rupiah. Setelah itu terima bersih.&lt;br /&gt;Sistem tugas palsu ini mereka pilih karena mereka pikir dosen kali ini sama dengan sebagian dosen mereka sebelumnya. Sebelumnya, ada dosen yang memberi tugas namun mereka tidak benar-benar memeriksa tugas mahasiswa. Tugas dikumpulkan, kemudian ditumpukkan di rak begitu begitu saja. Jadi, soal apakah tugas mahasiswa itu dibuat dengan serius, original atau tidak, tidak jadi soal. Apakah tugas itu dibuat dengan susah payah atau dengan mudah, juga tidak masalah.  &lt;br /&gt;Sebagian mahasiswa sudah cukup dimanjakan dengan system ini. Mereka sudah terlanjur merasa nyaman karena tidak perlu terlalu bersusah payah mengerjakan tugas. Toh, bagi mereka bukan belajar menambah ilmu yang penting. Yang penting adalah nilai. Nilai yang akan mengantarkan mereka memperoleh gelar sarjana kelak.&lt;br /&gt;Mengubah kebiasaan ini tidak mudah. Sudah coba diingatkan, namun selalu saja ditemukan ada mahasiswa yang coba-coba melakukan kebiasaan buruk itu.&lt;br /&gt;Nah, saya merasa bersyukur sejak empat semester ini, bisa menerapkan system penugasan membuat karangan tentang diri, keluarga, orang yang dicintai, dll, serta pembuatan buku harian untuk dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;System ini, bukan saja membuat saya bisa meminta mahasiswa benar-benar menulis dan menerapkan keterampilan berbahasa standar, tetapi juga bisa memaksa mereka membuat tulisan yang orisinil. Ya, orisinil karena dengan begitu mereka hanya bisa menyerahkan tugas yang dibuatkan sendiri. Tidak ada lagi tugas yang dibuatkan teman lain. Tidak ada lagi system rental buat tugas.&lt;br /&gt;Mahasiswa juga tidak lagi merasa sulit membuat tugas. Sebab, apa yang mereka tulis itu bahannya sudah ada dalam benak mereka. Tinggal menuangkan saja. Mereka juga merasa mudah karena dengan begitu mereka terhindari dari kesukaran mencari-cari bahan untuk tulisan.&lt;br /&gt;Saya senang dengan cara ini karena nyatanya mahasiswa bisa menikmati dunia kepenulisan. Sebagian besar mulai dapat menikmati. Mereka merasakan ada kesenangan dan kepuasan tersendiri yang bisa dicapai. Malah, ada beberapa yang sudah membuat buku otobiografi berdasarkan bahan-bahan itu. Buku yang sederhana! &lt;br /&gt;Yang paling menyenangkan saya adalah ketika saya mendengar mahasiswa membandingkan apa yang mereka dapatkan di sekolah menengah dahulu. Saat di sekolah menengah dahulu sebagian dari mereka mengatakan sangat jarang diajarkan menulis oleh guru. &lt;br /&gt;Saya pernah mendengar seorang mahasiswa mengaku, ketika sekolah dahulu, khususnya di akhir-akhir tahun, mereka lebih banyak diajak membahas soal. Bukan mengarang.&lt;br /&gt;Bagi saya bukan soal bandingan itu yang penting. Yang penting adalah di balik kemampuan mereka membandingkan itu berarti mereka sudah memiliki kesadaran – kesadaran tentang pentingnya keterampilan berbahasa Indonesia bagi mereka.&lt;br /&gt;Jika mereka benar-benar sudah merasa penting menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka, sasaran pembelajaran bahasa Indonesia sudah tercapai. Dan, ini juga pasti akan membuat pembelajaran bahasa Indonesia tidak akan menimbulkan isu sukar dan mudah lagi. Tidak akan banyak problem lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4359886812653358383?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4359886812653358383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4359886812653358383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4359886812653358383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4359886812653358383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/belajar-bahasa-indonesia.html' title='Belajar Bahasa Indonesia'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2718021962823981903</id><published>2010-07-02T09:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:14:13.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Membawa Teman ke Tiang Gantungan</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki orang dekat yang mempunyai jabatan penting, memang enak. Enak karena bisa ketiban untung. Jika tidak ketiban rizeki langsung, bisa juga kena cipratan tempias-tempiasnya. Sesekali bisa numpang lagak dan popularitas. Oleh karena itu, biasanya orang selalu mau mendukung teman yang dikenal, orang dekat, orang sendiri, maju dalam perebutan jabatan. &lt;br /&gt;Nah, teman saya ini pengecualiannya. Dia justru beda pendapat dari kebanyakan orang lain. Punya teman yang memiliki jabatan menurutnya tidak selalu enak. Oleh sebab itu, dia ini tidak selalu mau mendukung temannya sendiri maju dalam perebutan jabatan. Dia pilih-pilih. Kalau cocok, dia dukung. Jika tidak, dia malah menegahkannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu? “Kadang saya pikir, mendorong teman maju untuk suatu jabatan seperti mendorongnya maju ke tiang gantungan,” katanya.&lt;br /&gt;Dia berargumentasi dengan menunjukkan banyak contoh. Misalnya, kini ada orang yang dia kenal bernama WM, mantan Kadis PU Kapuas Hulu yang sedang berurusan dengan hukum setelah terlibat dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan Bunut-Mangin di Kapuas Hulu. “Kalau WM tidak didorong-dorong masuk ke jajaran eksekutif, jika WM tetap jadi seorang akademisi, tentu dia tidak menjadi terdakwa”.&lt;br /&gt;Menyesali takdir? Begitulah nampaknya. Tetapi, biarlah itu jalan hidup orang. Toh, apa yang disesalinya benar juga. Saya memang tidak kenal WM, tetapi, saya tahu cerita dosen Untan Pontianak itu. Beliau belum terlalu lama dipakai oleh Pak Tambul, Bupati Kapuas Hulu, untuk menjadi kepala dinas. &lt;br /&gt;Saya sempat mendengar cerita dia–diceritakan teman saya yang lain, betapa susahnya dia menjadi kepala dinas PU, karena itu kemudian dia mutasi ke dinas lain pada periode berikutnya. “Tak mampu dia menghadapi orang-orang….”&lt;br /&gt;Ya, maklum saja kepala dinas PU banyak mengurusi proyek, uang. Orang tentu datang berpusu-pusu menghadap beliau minta bagian. Konon, ada yang datang dengan halus, baik-baik, ada juga yang datang dengan cara kasar. Salah-salah kaca meja bederai, katanya. &lt;br /&gt;Tidak saja contoh WM, banyak lagi contoh orang yang nampaknya baik-baik dan terhormat kemudian ditetapkan menjadi tersangka. &lt;br /&gt;Teman saya menunjuk contoh seorang mantan pimpinan legislatif yang sekarang terkait korupsi pembangunan lintasan balap di Pontianak. Ada juga mantan pejabat eksekutif yang diperiksa berkali-kali oleh Badan Pengawas Daerah, Badan Pemeriksa Keuangan, karena ada pencairan uang “yang harus dijelaskan”. “Mereka tentu tertekan dengan situasi ini.  Salah-salah sedikit, dia akan menghuni hotel prodeo. Khan kasihan”.&lt;br /&gt;Pasti. Saya membenarkan dugaannya. Saya mengenal dua orang yang disebutkannya itu. Bahkan saya mengenal beberapa lagi tokoh Indonesia yang sangat tragis nasibnya. Mulyana W Kusuma, akademisi, aktivis, yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, kemudian dipenjarakan karena kasus korupsi dana di KPU. &lt;br /&gt;Atau, Said Agil Husin Al-Munawar, akademisi yang kemudian menjadi menteri agama RI tahun 2001-2004.  Said Agil dipersalahkan karena menyalahgunakan Dana Abadi Umat (DAU) yang mengalir untuk pembiayaan perjalanan dinas DPR, dan termasuk juga untuk biaya-biaya umrah orang-orang yang saat ini menjadi pejabat negara. “Oleh karena itu, kalau saya lihat temannya tidak benar-benar mampu untuk posisi yang diperebutkannya itu, lebih baik kita tidak mendukungnya. Jabatan bukan untuk dikejar-kejar. Jabatan itu amanah”.&lt;br /&gt;Saya menaruh respek terhadap sikapnya itu. Ingin rasanya bisa berpikir jernih seperti itu. Teman bukan teman tidak penting dalam memilih orang untuk posisi apapun. Yang penting adalah kemampuannya. Ah, sungguh jarang orang yang berpikir begitu. Biasanya, seperti yang biasa kita lihat, orang lebih suka melihat orang dekatnya menjadi pemimpin, pengambil keputusan. Orang lebih sering subjektif dalam memilih.&lt;br /&gt;Orang suka, karena dengan begitu dia mendapat kesempatan mendapat bagian dari proyek. Dia akan mudah menjolok uang Negara melalui permohonan bantuan, dll.  Biasanya, bila orang sendiri yang menjadi pengambil keputusan, tentu proposal apapun yang diajukan akan diluluskan. Tak ada pos anggaran pun, bisa diatur-atur bagaimana caranya.&lt;br /&gt;Pada tingkat seperti ini, orang sudah tidak memikirkan kepentingan lembaga, unit, daerah, yang akan dipimpin ke depan. Orang tidak memikirkan lagi kemajuan apa yang bisa dibawa orang yang mereka dukung itu. Orang juga tidak memikirkan kegagalan apa yang kelak akan terjadi ketika orang yang dimajukan itu bukan orang yang layak untuk posisi itu.&lt;br /&gt;Tidak banyak orang yang sempat berpikir bahwa mendorong teman untuk memegang amanah sama saja dengan menyiapkan tali gantungan untuk dia. Maklumlah, aji mumpung! Rezeki kongsi bersama, akibat tanggung sendiri. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2718021962823981903?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2718021962823981903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2718021962823981903' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2718021962823981903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2718021962823981903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/membawa-teman-ke-tiang-gantungan.html' title='Membawa Teman ke Tiang Gantungan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1052109454327648850</id><published>2010-07-02T09:45:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:15:34.190-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Sabu-sabu di Entikong</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;Nahas betul dua kurir itu. Itu kata yang terlintas di dalam benak saya ketika membaca berita tertangkapnya dua kurir sabu-sabu yang membawa 3 dan 4 kilo heroin melewati perbatasan Entikong. (Borneo Metro 5-6/5).&lt;br /&gt;Lama saya membayangkan bagaimana proses penangkapan itu terjadi. Apakah tas itu mereka letakkan di bagasi, lalu petugas memeriksanya? Atau apakah tas itu dijinjing dan harus mereka masukkan ke tempat pemeriksaan? Tetapi saya tidak berhasil mendapatkan gambaran utuh bagaimana kasus ini terungkap. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, setelah puluhan kali melintas di perbatasan Entikong – Tebedu, saya belum yakin aparat melakukan pemeriksaan barang dengan maksimal. &lt;br /&gt;Selama ini, meskipun di pos Entikong ada prosedur rutin pemeriksaan barang penumpang, tetapi kesan saya pemeriksaan tidak lebih dari sekadar basa-basi. Pemeriksaan tidak ketat. &lt;br /&gt;Saya juga melihat pemeriksaan tidak juga harus dilalui setiap orang. Saya katakan tidak, karena sejauh ini tidak ada konsekuensi apa-apa pada orang yang sudah membawa barang mereka ke depan petugas, dan yang belum.  Mungkin peraturan ada – ada keharusan – tetapi petugas pun juga akan sulit menerapkannya. &lt;br /&gt;Sulit, karena seingat saya petugas tidak bisa membedakan  mana tas yang sudah diperiksa dan mana yang belum. Tidak ada tandanya. Kalau di lapangan terbang, tas yang sudah diperiksa petugas dengan sinar x dipasangkan stiker, tetapi di Entikong rasanya tidak. &lt;br /&gt;Malah, saya sering tersenyum dalam hati ketika melihat orang berpusu-pusu membawa barang mereka turun dari bis. Mereka menurunkan tas dari bagasi yang nampak berat, kemudian ditunjukkan kepada petugas, dan setelah aparat tengok-tengok sebentar itu, mereka pikul kembali masuk ke dalam bis. Sedangkan pemeriksaan di bagasi dilakukan dengan manual. Petugas memeriksa kotak, karung dan tas, serta barang-barang penumpang bis. Kadang-kadang kotak itu dibeset-beset, dibolongkan, dll. &lt;br /&gt;Nah, karena pemeriksaan dilakukan manual, kadang kala saya lihat petugas nampak capek juga melakukan kerja begitu. Lebih capek lagi karena setelah diperiksa, mereka hanya menemukan pakaian dan barang-barang lain yang tidak penting.  &lt;br /&gt;Kiranya, karena kenyataan ini, selama ini laluan Entikong-Tebedu menjadi laluan mudah untuk penyelundupan. Para penyelundup menganggap laluan ini lebih aman ketimbang laluan lain.  Kasus penyelundupan gula dari Malaysia merupakan contoh dari kenyataan ini. Seringkali gula asal Malaysia dapat lolos melalui perbatasan Entikong, namun kemudian justru tertangkap di tengah perjalanan.  Bayangkan saja barang nyata dan mudah dilihat seperti itu, bisa tidak terlihat oleh petugas pemeriksa di perbatasan.&lt;br /&gt;Prosedur rutin dan sikap petugas yang terkesan tidak mau capek, mungkin yang membuat kali ini kurir narkoba itu merasa pe de membawa barang haram melintas di Entikong. Apatah lagi barang yang mereka bawa dalam tas sudah dianggap aman karena tas itu sudah dimodifikasi.&lt;br /&gt;Tetapi, dasar mereka lagi nahas. Rupanya kali petugas melakukan pemeriksaan yang cukup ketat dan teliti. Petugas pemeriksa lebih awas. &lt;br /&gt;Oleh karena itulah, saya kira aparat di perbatasan yang berhasil menangkap sabu-sabu itu harus diberikan apresiasi dan penghargaan. Penghargaan ini tentu akan menjadi contoh bagi petugas lain untuk bekerja maksimal. Mungkin dengan cara seperti ini Kalbar tidak akan menjadi tempat transit yang mudah untuk jenis barang haram itu. Mudah-mudahan dengan cara ini petugas di pintu masuk Kalbar tidak dianggap petugas yang enggan capek. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1052109454327648850?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1052109454327648850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1052109454327648850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1052109454327648850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1052109454327648850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/07/sabu-sabu-di-entikong.html' title='Sabu-sabu di Entikong'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-774533109533090063</id><published>2010-05-01T06:51:00.001-07:00</published><updated>2010-07-02T10:18:35.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Tak Bisa Khutbah</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat pengalaman menarik beberapa hari lalu. Hari itu, saya sedang bicara dengan seorang teman yang bekerja di kantor Kementerian Agama. Mulanya kami bicara tentang persiapan menjelang pekan olahraga daerah Kementerian Agama (Porda Depag) Kalbar yang akan digelar Juni mendatang di Singkawang. Kami membicarakan persiapan masing-masing. Maklum, dia termasuk salah satu pemain andalan lembaga ini. &lt;br /&gt;Panjang cerita, banyak kisah, kami cerita soal kegiatan hari Jumat. &lt;br /&gt;“Abang ni, kalau Jumat pasti sibuk,” saya menyampuknya.&lt;br /&gt; “Mane pula’. Biasa jak”.&lt;br /&gt;“Takkan pula’. Jumat ini baca khutbah di mane?” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Baca khutbah? Ndak pernah saye”.&lt;br /&gt;Nah, ini yang membuat saya terkejut. Dalam bayangan saya, dia pasti memiliki banyak jadwal khutbah. Maklum, level penghulu. Lagi, dilihat dari caranya bicara, saya kira dia memiliki isi yang memadai.  &lt;br /&gt;Memang saya mengenalnya sedikit. Dia, seorang guru agama. Pengalamannya mengajar sudah banyak. Belasan tahun dia menjadi guru di madrasah ibtidaiyah.&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu dia mengajukan pindah ke bagian administrasi di kantor Kementerian Agama. Di kantor ini dia menjadi staf kepala kantor urusan agama. Salah satu pekerjaannya menikahkan orang dan menulis surat nikah orang.&lt;br /&gt;Nah, kalau sekelas seorang tukang nikah mengaku tidak bisa baca khutbah, tentu orang tidak akan percaya. Seorang tukang baca nikah boleh dikategorikan orang pilihan. Di kampung, mereka disebut penghulu. Penghulu pasti termasuk tokoh masyarakat. Kalau ada undangan mereka pasti duduk di kepala shaf, dan memimpin pembacaan doa.  &lt;br /&gt;“Saya pernah dimarahkan pengurus masjid karena saya menolak ketika diminta menjadi khatib”.&lt;br /&gt;Dia menceritakan pengalamannya. Kala itu dia hadir dalam kegiatan silaturahmi dengan pengurus masjid. Dia mewakili kepala kantor menyampaikan beberapa patah kata; kata sambutan. &lt;br /&gt;Usai kegiatan, pengurus masjid mendatanginya dan minta dia menjadi khatib di masjid itu. &lt;br /&gt;“Saya tolak. Saya katakan, saya tidak bisa baca khutbah”.&lt;br /&gt;Pengurus masjid tentu saja tidak percaya. Sebaliknya, pengurus masjid menyangka dia tidak mau ‘menolong’, tidak mau membagi ilmu pengetahuan, dll. Ujung-ujung, dia mendapat ceramah dari pengurus masjid itu, tentang pentingnya berdakwah dan berbagi ilmu.&lt;br /&gt;“Saya diam jak. Apa yang dia katakan itu betol”.&lt;br /&gt;“Lalu mengapa abang tak mau juga?”&lt;br /&gt;Dia mengaku bingung kalau mau menceramahi orang. Bingung mencari tema apa yang harus disampaikan. Menurutnya, kalau mau ceramah temanya harus tepat dan sesuai. “Yang paling penting adalah sesuai dengan perbuatan kita. Sementara saya, masih banyak kekurangannya. Kononnya nak nceramahkan orang”.&lt;br /&gt;“Tapi, kadang khan juga beri nasehat untuk orang yang mau nikah. Itu gimana?”&lt;br /&gt;“Ya, nasehat gitu-gitulah. He.. he..”&lt;br /&gt;Saya ikut tertawa juga. Tertawa karena gayanya waktu itu yang lucu. &lt;br /&gt;Saya kira apa yang dia katakan itu benar adanya. Sangat berat tanggung jawab orang yang menceramahi orang lain. Jadi, biar tidak terlalu berat, memang sebaiknya memulai dan berusaha dari diri sendiri, dan keluarganya. Kalau sudah beres, barulah mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, mengajak orang lain dahulu sedangkan diri dan anak istri berantakan. &lt;br /&gt;Tapi… buru-buru saya ingat; kita juga diingatkan untuk saling mengingatkan. Kalau tidak saling mengingatkan, kita sering kali lupa. Justru, sikap saling mengingatkan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Lalu? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-774533109533090063?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/774533109533090063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=774533109533090063' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/774533109533090063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/774533109533090063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/05/tak-bisa-khutbah.html' title='Tak Bisa Khutbah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-895226461233855630</id><published>2010-05-01T06:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:19:17.064-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riam Panjang'/><title type='text'>Menunggu Musim Ngkabang</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musim ngkabang” (tengkawang) tahun ini di kampung saya Riam Panjang, sudah berakhir. Buah yang ada sudah luruh, semuanya. Buah-buah itu sudah disalai dan dikeluarkan dari cangkangnya. Sudah ditimbang dan dilego kepada pengumpul. Hasilnya pun sudah dinikmati. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, hasil yang dinikmati musim ini tidak besar-besar amat. Seperti yang sudah-sudah, harga buah ngkabang selalu turun. Selalu, di awal musim, harganya bagus. Di akhir musim, harganya anjlok.  Menurut masyarakat, harga begini tergantung nasib. Jika nasib baik, dapatlah petani harga bagus. Jika nasib tidak baik, petani kena harga jelek. Entah!&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimanapun harga ngkabang itu, petani tidak pernah ketiban sial, yang benar-benar sial. Tidak, karena mereka tetap dapat memperoleh uang lumayan dari penjualan. Cuma, kalau harganya turun sampai separoh dari harga awal musim, berarti untungnya tidak banyak, tidak maksimal. &lt;br /&gt;Jadi, pada prinsipnya mereka tetap untung.  Ngkabang merupakan asset penting dalam kehidupan mereka. Masyarakat menganggap musim ngkabang sebagai musim “uang mudah”. Karena itulah musim ngkabang selalu menjadi musim yang paling ditunggu-tunggu dalam masyarakat di kampung.  &lt;br /&gt;Dahulu, saya masih ingat orang kampung bergurau-gurau:&lt;br /&gt;“Aku ngami’ dulu’ bah, mayar pagi, nungu’ ngkabang jatu’”. (Aku ambil dahulu (utang). Membayarnya besok, menunggu buah tengkawang jatuh). &lt;br /&gt;Ya, kalau sudah musim ngkabang orang memang makmur. Masyarakat memiliki pendapatan tambahan yang besar. &lt;br /&gt;Waktu kecil, waktu musim ngkabang kami bisa sedikit royal. Kami bisa makan indomie dua atau tiga kali sehari. Dahulu, di tahun 1980-an, kami, anak-anak kampung mengukur kemakmuran kami dengan indomie. Indomie –jenis apa saja mie disebut begitu, adalah makanan elit. Mewah. Kalau kami punya uang, kami lebih suka membeli indomie dan memakannya begitu saja tanpa dimasak. Kalaupun dimasak, indomie hanya dimasukkan ke dalam mangkok, lalu dituangkan air panas, kasih bumbu, lalu …dilahap. &lt;br /&gt;Ngkabang memang mendatangkan berkah bagi kami. Bayangkan jika satu kilo ngkabang mentah (ngabang tolu’) harganya Rp1500, dan dalam satu hari satu keluarga bisa dapat minimal 100 kilo, berarti, satu hari bisa memperoleh pemasukan hingga mencapai Rp150.000. Bandingkan dengan hari biasa, dari menoreh getah rata-rata orang hanya bisa mendapatkan sekitar Rp 30.000,- &lt;br /&gt;Tetapi, itu dahulu. Sekarang dengar-dengar, keadaannya sudah agak beda. Walaupun ngkabang masih dapat diandalkan, namun, perolehan masing-masing orang sudah menyusut. Jumlah pohon ngkabang sudah jauh berkurang. Pohon-pohon besar yang ukurannya dua pelukan orang dewasa, sudah banyak yang ditebang. Batangnya dijual, digesek untuk bahan bangunan, dll. Papan, balok tengkawang, lumayan juga harganya. Peminatnya juga banyak karena jenis kayu ini cukup kuat – asal tidak kena hujan.&lt;br /&gt;Sudah banyak areal yang dahulu ditanami ngkabang, sekarang menjadi tempat ladang atau diganti tanaman karet.  &lt;br /&gt;Selain itu, sekarang, orang-orang di kampung sudah banyak. Masing-masing sudah beranak pianak, bercucu-cicit. Semua ikut panen ngkabang ini’ ayi (nenek datok)-nya. Pertambahan penduduk kampung memang cukup drastis. Tahun 1980-an jumlah penduduk masih sekitar 300 orang. Tahun 2000-an jumlah penduduk sudah hampir 1000 jiwa.&lt;br /&gt;Malangnya, walaupun penduduk bertambah, namun luas kebun ngkabang tidak bertambah, malah menyusut. &lt;br /&gt;Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun ke depan, ngkabang pasti semakin tidak dapat diandalkan. Mungkin 50 tahun yang akan datang “musim ngkabang” tidak akan ada lagi. Mungkin pada waktu itu, tak ada lagi musim “uang mudah” yang bisa ditunggu orang. &lt;br /&gt;Siannye generasi cucu kami itu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-895226461233855630?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/895226461233855630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=895226461233855630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/895226461233855630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/895226461233855630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/05/menunggu-musim-ngkabang.html' title='Menunggu Musim Ngkabang'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3954157403867242890</id><published>2010-05-01T06:47:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T10:19:55.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Petugas Statistik</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Metro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, beberapa hari lalu, saya tidur di atas kursi di depan pintu. Saya memilih tidur di situ karena itulah tempat yang paling enak untuk rehat dalam cuaca “panas bedengkang” seperti sekarang. Di depan pintu banyak angin, jadi lebih sejuk.  &lt;br /&gt;Saya terjaga dari tidur karena tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu. Suara dia mengucapkan salam membangunkan saya. Dalam keadaan “bangun tekejot”, saya duduk. Pandangan saya masih agak nanar. Saya melihat dia mengenakan baju putih, celana hitam, topi biru dan membawa tas.  Saya kira, dia seorang sales. Sales biasa berpakaian seperti itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebelum saya bertanya dia sudah lebih dahulu memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;“Saya petugas statistik”.&lt;br /&gt;Ah, saya ingat, bulan Mei ini memang akan dilakukan sensus penduduk. Spanduknya sudah terpasang di mana-mana. &lt;br /&gt;Bahkan, malam sebelumnya, saya sempat omong-omong dengan seorang keluarga saya yang menjadi petugas sensus di Kubu Raya, bahwa mereka akan melakukan sensus minggu depan. Dia juga bilang ada beberapa tempat, petugas sudah turun melakukan listing. &lt;br /&gt;Saya mempersilakan petugas sensus itu masuk. Namun, dia seperti maju mundur. Enggan. Entahlah mengapa. Mungkin dia enggan membuka sepatu, atau dia terburu-buru.  Tapi akhirnya dia masuk juga. &lt;br /&gt;Setelah dia duduk, dia membuka filenya. Lalu dia bertanya tentang jumlah orang yang tinggal di rumah ini, dan juga bertanya jenis kelamin; berapa lelaki dan berapa perempuan. &lt;br /&gt;Saya sempat ragu menjawab pertanyaannya itu. Ragu karena apakah saya harus mengatakan penghuni rumah kami ada 6 orang atau 8 orang. Jika 8 orang, itu berarti termasuk bapak dan emak yang beberapa minggu ini ada di rumah.  &lt;br /&gt;Setelah dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tinggal menetap sudah lebih dari 6 bulan, barulah saya jelas. Untuk kategori ini, di rumah saya ada 6 orang.&lt;br /&gt;Setelah pertanyaan itu, dia kemudian mencatat angka pada stiker. &lt;br /&gt;“Izin nempel ini ya”.&lt;br /&gt;Saya mempersilakan dia memilih di tempat untuk memasang stiker itu. Tak ada masalah. Dia memilih menempel stiker di samping kanan pintu. Setelah itu, dia pamit.&lt;br /&gt;“Nanti saya datang lagi,” katanya.&lt;br /&gt;Setelah dia pergi saya jadi teringat kasus BPS dahulu. BPS pernah melakukan sensus penduduk tahun 2000. Dalam item pertanyaan itu, ada pertanyaan tentang etnis. Responden ditanya: Suku apa? Jawaban yang diberikan macam-macam – sesuai dengan pengakuan masing-masing. &lt;br /&gt;Data itu kemudian dipublikasikan tahun 2001. Malangnya, ketika data itu dipublikasikan, kelompok masyarakat tertentu ribut. Data BPS tentang etnik dianggap menghilangkan etnik tertentu. BPS kena hukum adat capak mulut.  Majalah Kalimantan Review membuat liputan tentang ini cukup lengkap.&lt;br /&gt;Mengapa tiba-tiba saya ingat kasus ini? Saya ingat karena kemungkinan serupa bisa saja terjadi kali ini. Sepanjang BPS tidak melakukan pembenahan.  &lt;br /&gt;Ya, BPS harus melakukan pendataan sebaik mungkin. Petugas-petugas yang mereka rekrut seharusnya adalah orang-orang yang terlatih dan orang yang dapat menerapkan standar pelaksanaan sensus dengan baik.&lt;br /&gt;Sebelum turun lapangan mereka harus mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup untuk kepentingan mereka di lapangan.&lt;br /&gt;Mereka, tidak cukup hanya mencekles atau mencatat data dari responden di tiap-tiap rumah, tetapi juga mengerti apa yang mereka tanyakan dan mengerti juga data apa yang diharapkan dari pertanyaan itu. &lt;br /&gt;Saya yakin, pemahaman ini akan membantu BPS memperolehan data standar, data yang dapat diolah dengan pendekatan standar, dan data yang tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3954157403867242890?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3954157403867242890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3954157403867242890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3954157403867242890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3954157403867242890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/05/petugas-statistik.html' title='Petugas Statistik'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7834111077226172478</id><published>2010-04-09T10:02:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T10:04:13.482-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Ntawak Mate</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pak Paimun, kepala  SMA Negeri 1 Kembayan mempromosikan kampung Ntawak Mate, saya menanggapinya dengan antusias. Kami (saya dan Ibrahim, dosen STAIN Pontianak) memang ingin mengunjungi kampung Dayak di sekitar Kembayan. &lt;br /&gt;“Terlanjur sudah jalan begini, kami ingin jalan juga ke kampung orang Dayak”.&lt;br /&gt;Menurut Pak Paimun, kampung Dayak ini unik karena masih mempertahankan kepercayaan lama. Salah satu kepercayaan mereka yang beliau sebutkan adalah kepercayaan pada kekeramatan ular sawa’. Katanya, ada ular sawa’ besar di kampung ini. Tidak boleh diganggu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau membantu mengatur perjalanan kami ke sana. Dundok, S.Pd dan Kuari, SP, guru muda di SMA Kembayan yang diminta menjadi penunjuk arah. Dundok asal kampung Tanap, sebuah kampung beberapa kiloa meter sebelum Kembayan dari arah Pontianak. Tanap terletak di pinggir jalan raya ke Entikong, perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak.&lt;br /&gt;“Dundok tahu bahasa di sana. Bahasa di sana sama dengan bahasa dia”.&lt;br /&gt;Saya menyetujui pilihan Pak Paimun. Sangat baik memang membawa teman yang mengerti bahasa penduduk kampung yang akan dikunjungi. Dia bisa menjadi ahli bahasa. Biasanya pendamping seperti ini sangat diperlukan dan sangat membantu.&lt;br /&gt;Sedangkan Kuari, teman dekat Dundok. Kata Dundok, Kuari suka berkunjung ke kampung-kampung. &lt;br /&gt;Ternyata pada saat hari keberangkatan, orang yang ikut berkunjung ke Ntawak Mate bertambah. Ada 6 guru SMA N 1 Kembayan, 1 guru PGRI dan 1 guru SMA Noyan, yang ikut. Selain Dundok dan Kuari, dalam rombongan itu ada Husna, Ahmat, Arifin, Edi, Darto, dan Yanto.&lt;br /&gt;Saya kira ini kunjungan yang luar biasa. Saya menyebutnya ekspedisi Guru SMA N 1 Kembayan. Kuari yang memboncengi saya sempat tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;Konvoi motor kami melalui jalan beraspal ke arah Balai Sebut. Jalannya, semula beraspal. Namun sekarang di sana sini aspalnya rontok. Maklum, aspalnya tipis benar. Saya tidak tahu apakah aspal tipis ini karena proyeknya kejar panjang jalan, atau kontraktornya yang mau cari untung besar dan pengawasnya setali tiga uang. Karena aspalnya banyak yang sudah terkelupas, akhirnya jalan ini lebih mirip jalan tanah campur batu. Jalan pekerasan. Ini pula yang menyebabkan jalan ini agak berdebu.&lt;br /&gt;Tetapi, jalan begini masih lumayan. Karena kemudian, setelah melalui kampung Terusan, jalannya bukan lagi jalan raya yang begitu. Jalannya jalan setapak. &lt;br /&gt;Ya, motor kami melalui jalan setapak. Kiri kanan semak belukar. Motor kami melalui sungai yang sebagiannya tidak ada jembatan. Nyebur ke sungai melalui bagian sungai yang dangkal. Yang paling mengesankan, kami melalui beberapa bagian dari jalan sekeping papan. &lt;br /&gt;Saya merasa  ‘sejuk pantat’ ketika motor melintas di atas kepingan papan itu. Bayangkan jika terpeleset. Uh, calar-calar mesti. Kalau nahas mungkin melepuh kaki terkena knalpot atau patah tulang tertimpa motor.  [Ketika pulang motor Husna dan Ahmad sempat terpeleset dan mereka hampir menabrak rumpun bamboo]. &lt;br /&gt;Tapi untung, Kuari cukup pacak membawa Kingnya di jalan sekeping papan ini. Kala hampir terpeleset, kakinya yang panjang dapat menjadi  tongkat motor. &lt;br /&gt;Hanya saja motor Kuari menyerah ketika naik di tanjakan yang saya kira panjangnya lebih 500 meter dengan kemiringan antara 40-50 derajat. Saya terpaksa loncat dari motor dan menahan motor agar tidak mundur. &lt;br /&gt;“Knalpotnya mau dicuci,” kata Kuari pasal motornya yang tak mampu mendaki bukit.&lt;br /&gt;Perjalanan di medan yang berat memang sepala dengan ‘hasil’ kunjungan. Saya merasakan kunjungan kami luar biasa. Syukurlah berkesempatan datang ke Ntawak Mate.&lt;br /&gt;Ya, kampung ini masih terisolir. Terpencil. Pengangkutan susah. Pasti kunjungan orang ke tempat ini juga jarang. Dari 8 orang local dalam rombongan kami, hanya Edi yang pernah datang ke sini. Yang lain, mengaku inilah kunjungan yang pertama. Bayangkan! Padahal, Ntawak Mate tidak jauh-jauh amat dari Kembayan.&lt;br /&gt;Alhasil, karena itulah orang di sini tertutup dari orang luar.&lt;br /&gt;Kampung ini juga memperlihatkan sentuhan pembangunan yang minim. Ada jembatan panjang yang menghubungan dua bagian kampung. Ada bangunan sekolah tiga local yang baru selesai direhab. Jalan-jalan kampung masih jalan tembok dicangkul. Keadaan kampung belum tertata. Saya juga terkesan ketika melihat begitu banyak babi berkeliaran. Beberapa di antara babi itu mendengus-dengus mendekati rombongan kami.&lt;br /&gt;Saya meyakini tipikal masyarakat yang jarang bersentuhan dengan orang luar ketika melihat mereka, orang-orang kampung, sangat  antusias melihat kedatangan kami. &lt;br /&gt;Penduduknya sangat ramah. Sayangnya, karena mereka lebih banyak dengan bahasa local yaitu bermate-mate –salah satu bahasa dalam kelompok bahasa Bidayuh, saya jadi kurang nyambung.&lt;br /&gt;Namun demikian, kunjungan ini telah menambah wawasan kami mengenai ada kampung di pinggiran dunia modern yang masih berkutat pada keterbelakangan. Kunjungan ini mengingatkan saya bahwa pemerintah masih harus lebih banyak berusaha memperhatikan semua rakyatnya, bukan hanya rakyat di perkotaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7834111077226172478?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7834111077226172478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7834111077226172478' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7834111077226172478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7834111077226172478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/04/ntawak-mate.html' title='Ntawak Mate'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-713287624419810251</id><published>2010-04-09T09:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T10:02:04.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><title type='text'>Perjalanan ke Tanjung Bunga</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal mendapat tugas menjadi pengawas satuan pendidikan pada ujian nasional sekolah menengah atas (UN-SMA) 2010, saya memang sudah membayangkan akan ‘nyambil’ melakukan penelitian. &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, ketika diminta memilih, saya pun memilih lokasi di SMA yang daerahnya belum pernah saya kunjungi. Di antara banyak kecamatan di Sanggau –kebetulan dosen STAIN kebagian mengawasi Sanggau, mulanya saya memilih antara Toba dan Beduai. Saya belum pernah ke sini. Tempatnya jauh.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah saya melihat peta, saya mengurungkan niat memilih Toba. Toba terdapat di selatan Kapuas, tidak jauh dari Tayan. Banyak tempat di selatan yang sudah saya datangi.&lt;br /&gt;Akhirnya saya memilih Beduai. Tempatnya di sekitar perbatasan. Saya mengajak Ibrahim memilih tempat yang sama. Bagaimanapun ini sesuai dengan studi Ibrahim. Ibrahim sedang menulis disertasi tentang relasi etnik di Badau, yaitu perbatasan Kapuas Hulu-Lubuk Antu, Malaysia. Studi tentang perbatasan Sanggau-Serian, Malaysia, pasti akan menambah kaya wawasan penelitian Ibrahim. Dia setuju dengan pendapat itu.&lt;br /&gt;Namun, dua minggu menjelang keberangkatan ke lokasi, kordinator pengawas dari STAIN, Hermansyah memberitahukan bahwa Beduai bukan menjadi daerah penyelenggara ujian. Kami dipindahkan ke Kembayan. Kembayan juga masih termasuk wilayah perbatasan; jarak ke Entikong juga tidak jauh amat. Saya juga belum pernah singgah di Kembayan, sekalipun belasan kali sudah lewat daerah ini setiap kali ke Malaysia.&lt;br /&gt; Pada hari pertama di Kembayan, kami menelusuri informasi mengenai kampung-kampung tua dan eksotik. Kami ditunjukkan nama kampung: Kuala, sebagai kampung Melayu yang tua di Kembayan. Kami juga ditunjuk nama kampung: Ntawak Mate; sebagai kampung Dayak yang sesuai. &lt;br /&gt;Kami mengunjungi Kuala pada hari kedua. Banyak data menarik yang kami dapatkan. Setelah mengunjungi kampung ini, seorang guru menyarankan kami mengunjungi Tanjung Bunga. Katanya, Tanjung Bunga adalah kampung Melayu yang dikelilingi kampung orang Dayak. &lt;br /&gt;Tertarik dengan informasi ini hari itu juga setelah ujian kami ke Tanjung Bunga.  Perjalanannya lumayan jauh. Mulanya kami melalui jalan beraspal mulus. Kemudian, setelah 15 menit perjalanan, jalan mulus berganti jalan bergelombang. Kubangan lumpur di sana sini. Perjalanan jadi lambat. &lt;br /&gt;Tapi, walau lambat, sebenarnya baik juga. Dengan begitu saya bisa melihat sawah-sawah orang Sembayang di kiri kanan jalan. Orang Sembayang itu termasuk orang Dayak. Orang Dayak yang bersawah; bukan orang Dayak yang ladang berpindah. Mereka sedang panen. &lt;br /&gt; Jauh kami berjalan, kami sampai di bendungan Merowi. Saya hampir meloncat: Merowi. Nama itu sering saya dengar. Ini nama bendungan besar di Kalbar yang dikerjakan beberapa waktu lalu untuk kepentingan irigasi sawah. Belakangan, ternyata proyek miliaran rupiah ini kurang berhasil. &lt;br /&gt;Saya naik ke atas tanggul bendungan. Melihat takungan air yang membentuk danau. Ada seorang warga sedang memancing. Saya mendapatkan cukup banyak informasi dari dia.&lt;br /&gt;Berkali-kali saya mengucapkan syukur.  Terpikirpun tidak saya bakal datang ke bendungan Merowi. Tidak ada rencana. Bahkan, saya juga lupa kalau bendungan ini di Kembayan. Tahunya, bendungan itu di Sanggau. Ini… tanpa sengaja saya telah sampai di bendungan ini.&lt;br /&gt;Setelah puas mengamati bendungan Merowi, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bunga. &lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah kampung. Motor berhenti di depan sebuah toko. Ada dua orang wanita tua, seorang lelaki tua, dan seorang wanita muda, sedang duduk di lantai di kaki lima. Ibrahim masuk ke toko membeli air mineral. &lt;br /&gt;Saya kira kami sudah sampai. Tukang ojek yang membawa Ibrahim juga berpikir begitu. &lt;br /&gt;Tetapi, ternyata belum. Saya tahu itu setelah mendengar tukang ojek berbicara dengan seorang wanita tua yang duduk di teras. Meskipun mereka menggunakan bahasa kelompok Bidayuh, tetapi, intinya dapat saya pahami. Wanita itu menjelaskan bahwa tempat kami berhenti sekarang itu bukan Tanjung Bunga.  &lt;br /&gt;“Ini Tanjung Pisang. Tanjung Bunga di sana lagi”.&lt;br /&gt;Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan kampung yang bersemen. Rumah penduduk di kiri kanan berbentuk rumah panggung. Kebanyakan dari bahan kayu. Rumah begini mengingatkan saya pada rumah-rumah di kampung di Kapuas Hulu. &lt;br /&gt;Lalu, kami berhenti di sebuah rumah di dekat jembatan. Tukang ojek memberitahu kami sudah sampai. &lt;br /&gt;“Inilah Tanjung Bunga”.&lt;br /&gt;Saya sempat terkejut. Saya tidak melihat ada plang yang menunjukkan Tanjung Bunga dan Tanjung Pisang. Sepertinya bersambung. Rumah penduduk juga nampak sama. Penduduk juga nampak sama. &lt;br /&gt;Saya berjalan ke jembatan. &lt;br /&gt; “Tanjung Bunga batasnya di sini. Di seberang, kampung lain lagi. Itu, Tanjung Harapan”. &lt;br /&gt;Kami berpatah balik. Masuk ke sebuah lorong sebelum jembatan, tidak jauh dari rumah tempat kami berhenti sebelumnya.&lt;br /&gt;Beberapa wanita tua sedang duduk di teras. Beberapa anak kecil bermain di halaman. Tidak jauh dari tempat itu, tiga lelaki sedang menimbang karet. Tukang ojek menyapa mereka menggunakan bahasa Melayu. &lt;br /&gt;  Kami berhenti di tempat mereka. Saya menggali informasi mengenai tiga kampung tadi. Rupanya, tiga kampung yang bersambung-sambung ini berbeda bahasa. Tanjung Pisang berbahasa Bidayuh, Tanjung Bunga berbahasa Melayu, Tanjung Harapan berbahasa Ahe. Agama juga beda. Tanjung Pisang beragama Katolik, Tanjung Bunga beragama Islam dan Tanjung Harapan beragama Protestan. &lt;br /&gt;Melihat latar belakang ini, saya rasanya mau meloncat. Luar biasa. Tiga komunitas berada di ruang yang sama. Pasti menarik mengamati interaksi mereka. Pasti banyak data yang menarik dari relasi mereka. &lt;br /&gt;Sayangnya, belum banyak data yang dikumpulkan, kami harus pulang. Saya mengajak tukang ojek cepat-cepat pulang karena melihat suasana kian gelap. Mendung. Kalau sempat terperangkap hujan, mungkin kami harus bermalam. Padahal, besok kami masih harus mengawasi ujian. &lt;br /&gt;“Kita harus ke sini lagi, Him”.&lt;br /&gt;Ibrahim seiya. “Ya, kita harus ke sini lagi. Nanti”. &lt;br /&gt;Perjalanan ke Tanjung Bunga benar-benar mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-713287624419810251?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/713287624419810251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=713287624419810251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/713287624419810251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/713287624419810251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/04/perjalanan-ke-tanjung-bunga.html' title='Perjalanan ke Tanjung Bunga'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1282337754422619462</id><published>2010-03-30T07:56:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T07:58:35.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Menggali Jalan</title><content type='html'>Yusriadi &lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, beberapa waktu lalu, saya melintas di Jalan Karet, Pontianak Barat. Waktu itu pas tengah malam. Biasanya, kalau saya melewati jalan ini tengah malam--pukul 12 ke atas, jalan ini sepi. Hanya sesekali saja saya berlimpasan dengan pengandara lain. &lt;br /&gt;Kala tengah malam, jalan ini sudah mati. Seingat saya, jika pulang jejak dini hari begini, paling-paling ada tiga tempat yang menyisakan kehidupan di jalan ini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, di mulut jalan, di persimpangan Jalan Kom Yos Sudarso. Di sini ada warung gerobak. Di warung ini ada jual mie instant, susu termasuk energen dan sejenisnya, gula, rokok dan korek api, obat nyamuk dan permen.  Di sini juga ada jual bensin dan layanan tambal ban. Saya tidak tahu persis sampai jam berapa warung ini tutup. Karena sepanjang lewat kalau malam hari warung ini masih buka. Cuma kadang-kadang, kalau saya singgah beli mie instant, saya harus membangunkan penjual yang ketiduran. Kadang-kadang juga di depan warung ini dijadikan tempat nongkrong sejumlah orang.&lt;br /&gt;Selain itu, di bagian tengah Jalan Karet, di dekat komplek Didies juga terdapat warungkecil menjual bensin dan tambal ban. Warung buka juga sampai sangat larut. Jadi walaupun pemiliknya tidur, bensin tetap diletakkan di atas rak. Orang yang perlu bensin, bisa membangunkan penjaganya yang tidur di warung kecil itu.&lt;br /&gt;Setelah melewati kebun kelapa yang gelap, ada komplek perumahan di sekitar simpang Jalan Karet – Tabrani Ahmad, di sana ada penjaga malam. Penjaga itu seorang lelaki tua, sering saya lihat duduk di kursi di depan pos jaga. Kadang-kadang dia terlihat membakar-bakar sampah.&lt;br /&gt;Nah, malam itu beda. Saat saya melintas tidak jauh dari persimpangan Kom Yos Sudarso, saya melihat ada sekatan di Jalan Karet. &lt;br /&gt;“Heh, apa ya?!”&lt;br /&gt;Saya terkejut. Ada orang jongkok di jalan. Tiga orang. Di bagian pinggir jalan ada sepeda motor dihidupkan lampunya. Lampu dari motor itulah yang menjadi penerangan orang yang jongkok. Mungkin kalau tidak ada lampu itu, orang yang jongkok di jalan tidak akan nampak. &lt;br /&gt;Apa yang mereka buat? Ternyata mereka sedang menggali jalan. Mereka menggali aspal yang mulus dari sebelah kiri ke kanan. Ukurannya lima centi meter. Lubang kecil ini digunakan untuk memasukkan paralon kecil. Paralon itu dari rumah mereka ke parit Sungai Serok--parit besar di pinggir Jalan Karet. Gunanya, untuk menyedot air parit agar masuk rumah, agar mereka dapat mandi dengan mudah tanpa harus pikul-pikul air. &lt;br /&gt;Walaupun saya mengerti mengapa mereka melakukan itu, namun, saya merasa geram juga. &lt;br /&gt;“Uh, enak saja orang itu. Jalan sudah bagus, mereka buat rusak”.&lt;br /&gt;Ya, mereka menggali jalan yang sudah mulus. &lt;br /&gt;Memang setelah digali mereka tutup kembali, namun, karena mereka menutupnya dengan batu kecil, upaya mereka ini tidak membuat jalan jadi mulus kembali. Ya, setelah mereka gali jalan menjadi rusak. Jelek. &lt;br /&gt;Namun, meski begitu, herannya pemerintah tidak risau pada soal ini. Pemerintah tidak menegur warga yang merusak jalan yang sudah mulus. Nampaknya, pemerintah membiarkan begitu saja. Nampaknya setali tiga uang. Padahal, mereka bisa melakukannya. Pemerintah bisa menegur warga yang merusak jalan. Bahkan, bila perlu meminta pertanggngjawabannya. Tapi…&lt;br /&gt;Saya jadi mengeluh: Itulah pemerintah kita. Pemerintah kita memang kurang dapat dan kurang mau melihara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1282337754422619462?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1282337754422619462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1282337754422619462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1282337754422619462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1282337754422619462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/menggali-jalan.html' title='Menggali Jalan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1820668958130646618</id><published>2010-03-30T07:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T07:56:35.804-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Mengapa Makan Nasi?</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya masyarakat kita diajarkan untuk tidak makan nasi lagi”.&lt;br /&gt;Itu saran yang disampaikan seorang teman -- seorang akademisi, beberapa waktu lalu. Ketika itu kami sedang santap siang di Hotel Gajahmada, Pontianak, usai workshop.&lt;br /&gt;Saya cukup terkejut juga mendengar gagasan itu. Hampir saya menganggap saran itu setengah merayau. Sebab, bayangkan saja orang enak-enakan makan nasi, tiba-tiba disuruh makan roti, sagu, atau kentang, ubi jagung, dan sejenisnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul ungkapan orang tentang hidup dan makan nasi ini. &lt;br /&gt;“Kalau masih mau makan nasi, jangan na’ macam-macam”. &lt;br /&gt;“Apa kau tak mau makan nasi lagi?” &lt;br /&gt;“Kau kira nasi sudah tak enak ke?”&lt;br /&gt;Kata-kata itu sering saya dengar kalau seseorang setengah bercanda mengancam orang lain.&lt;br /&gt;Secara awam, masyarakat kita menganggap nasi dianggap sebagai bagian dari kehidupan. Malah hakikatnya, bagi sebagian orang, hidup adalah nasi! &lt;br /&gt;Karena itu, gagasan yang disampaikan teman tadi jelas tidak mencerminkan realitas budaya masyarakat. Malah sebaliknya, gagasan ini meloncat beberapa jauh ke keluar.  Saya sebut beberapa jauh karena komunitas lain sudah banyak yang tidak tergantung pada nasi. Mereka ada makanan lain sebagai alternative.    &lt;br /&gt;Saya jadi tertarik menyusuri logika teman tadi, dengan pertanyaan logika di balik.&lt;br /&gt; “Mengapa orang tidak baik lagi makan nasi?”&lt;br /&gt;“Nasi terlalu mahal. Coba hitung biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan sebiji’ nasi ni.”&lt;br /&gt;Dia mencongkel tumpukan nasi di dalam piringnya, lantas berdalil: Katanya, untuk menanam padi perlu lahan yang sangat luas.  Menanam padi tidak cukup tanah satu kapling. Perlu satu hektare. Proses menanam dan memelihara juga agak repot. Mulai membuka lahan hingga mengolah bulir padi menjadi beras.&lt;br /&gt;Meskipun penjelasannya sepintas lalu, namun, saya dapat mengikuti alur pikirnya. Iya, saya ingat kalau sudah musim beladang, orang mulai menebas, menebang, membakar, menugal, merumput, menjaga buah padi, panen, memisahkan bulir dan tangkai, hingga menjemur dan menumbuk (menggiling) padi. Tak bisa dihitung biaya operasionalnya. Dan saya kira belum pernah diperhitungkan secara terperinci.&lt;br /&gt;Lagian, masyarakat petani biasanya tidak menghitungnya. Umumnya mereka melaksanakan ritualitas berladang, mengerjakannya tanpa memikirkan semua itu. Mereka sudah menganggap semua itu bagian dari rutinitas yang harus dijalani.&lt;br /&gt;Ada juga sesekali saya dengar orang bilang: “Padi tahun ini meleset. Nyalah. Kalau diitung, buang tulang”.&lt;br /&gt;Tetapi, perhitungan yang teman saya buat, bahwa ongkos kerja produksi padi, besar, sangat masuk akal. Setidaknya, katanya, ongkos itu lebih besar dibandingkan dengan kalau orang menanam kentang. Lahan tidak perlu luas benar, pemeliharaan juga tidak terlalu rumit. Oleh sebab itu, saya kira gagasannya memang baik dipikirkan. &lt;br /&gt;Saya bisa membayangkan jika kemudian kita semua beralih makanan pokok: dari padi ke kentang. Atau mungkin makan sagu, gandum, atau ubi. O walah, pasti seru. Bayangkan, selama ini banyak dari kita yang hanya makan nasi. Kita sering mengatakan belum makan kalau belum ketemu nasi. Hatta, kue mue, makan bubur saja kadang dianggap belum makan. Dalam terminology kita: makan adalah makan nasi. Makan yang lain tidak dianggap makan nasi.&lt;br /&gt;Orang baru berkurang-kurang makan nasi kalau sudah kena diabet atau lagi diet. Pada saat seperti ini mereka tidak lagi tergantung pada makanan pokok itu; tapi sudah bisa beralih kepada makanan lain yang lebih aman. Bisa juga toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1820668958130646618?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1820668958130646618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1820668958130646618' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1820668958130646618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1820668958130646618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/mengapa-makan-nasi.html' title='Mengapa Makan Nasi?'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1327652496607904786</id><published>2010-03-30T06:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T07:54:26.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>Mencari yang Jujur</title><content type='html'>Yusriadi&lt;br /&gt;Redaktur Borneo Tribune&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya mampir di sebuah lapak, di sebuah jalan di kawasan Kota Baru, Pontianak. Saya singgah hendak membeli jus buah Rp5.000. &lt;br /&gt;Saya menghampiri etalase di bagian depan lapak, yang di situ dipajangkan buah apel, jeruk, melon, dll.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, seorang lelaki separoh baya menghampiri saya. Dia berjalan dari ujung lapak. Di bagian ujung itu ada mesin pengolah air minum. Di bagian tengah ada counter jual pulsa, dan di bagian ujung ada etalase memajangkan minyak wangi. Tempat jual juice ada di bagian depan.&lt;br /&gt;Jadi ada empat jenis barang yang dijual di situ.&lt;br /&gt;“Juice apel, Bang”.&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian menjangkau buah apel, seperti yang saya pesan. Membelah menjadi beberapa bagian, dan kemudian mengupasnya.&lt;br /&gt;Dia mencari air untuk mencuci buah. Nampaknya dia agak bingung.&lt;br /&gt;“Biasanya istri yang ngerjakan. Sekarang dia lagi ngurus anak”.&lt;br /&gt;Dia memasukkan susu, apel dan es ke dalam blender. Kemudian dia meninggalkannya, berjalan ke depot air minum. Nampaknya dia sedang membersih gallon dan kemudian mengisinya.   Saya melangkah ke dalam melihat-lihat minyak wangi. Sesekali saya bertanya tentang minyak itu, sekadar ingin tahu. &lt;br /&gt;Saya melihat dia sibuk benar. Saya membayangkan dia akan lebih sibuk jika pada saat yang sama datang orang yang mau beli pulsa, beli air dan beli juice. Pada tangannya tidak akan dapat melayaninya sekali gus.&lt;br /&gt;Ketika dia kembali mengerjakan pesanan saya, saya bertanya: “Banyak buka usaha, mengapa tidak cari tenaga kerja?”&lt;br /&gt;“Udah carinya. Tapi susah . Susah mau cari yang jujur”.&lt;br /&gt;Dia ada pengalaman mempekerjakan orang, namun, orang yang menjadi pekerjanya tidak amanah. Tetapi saya tidak bertanya lagi apa tidak amanah itu.&lt;br /&gt;Saya hanya menebak sendiri. Mungkin orang itu menggelapkan uang. &lt;br /&gt;Saya juga memiliki teman seorang pemiliki ruko, juga di kawasan Kota Baru. Dia jual sembako. Pasangan suami istri itu sibuknya minta ampun. &lt;br /&gt;Ketika saya tanya mengapa tidak ambil orang untuk bantu di toko, jawabannya juga sama. “Susah mau cari yang jujur”.&lt;br /&gt;Ah, saya jadi tak habis pikir mengapa orang yang jujur itu susah dicari. Mengapa? Apa yang salah? Apakah kegagalan itu di rumah tangga, di sekolah, atau di lingkungan?&lt;br /&gt;Saya teringat kembali pada hal ini ketika beberapa hari lalu muncul isu kejujuran dalam ujian nasional. Kabarnya, Kalbar, berada peringkat ke-4. &lt;br /&gt;Tapi, ahh… sebenarnya, di sekitar kita pun hari-hari kita lihat ketidakjujuran dilakukan orang. Orang berusaha menipu, orang berusaha tidak jujur. Sampai-sampai, saat ini orang sukar membedakan mana kejujuran dan mana bukan kejujuran. &lt;br /&gt;Saya ambil contoh prilaku korupsi massal. Korupsi terjadi di mana-mana, dalam berbagai bentuk. Yang kadang kala orang yang melakukan tidak sadar bahwa dia telah ikut melakukan korupsi itu. &lt;br /&gt;Entahlah, mungkin kita semua sekarang yang tidak dapat menyesuaikan diri: bahkan sekarang definisi kejujuran telah berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1327652496607904786?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1327652496607904786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1327652496607904786' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1327652496607904786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1327652496607904786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/mencari-yang-jujur.html' title='Mencari yang Jujur'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1624983040869931068</id><published>2010-03-09T07:43:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T07:46:45.057-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya Kalbar'/><title type='text'>Korupsi Berjamaah</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat ini ditangkap. Pejabat itu ditangkap. Mantan kepala ini diduga korupsi. Mantan kepala itu, juga korupsi. &lt;br /&gt;Rasanya, hampir tiap hari saya mendengar berita korupsi terekspos. Hampir tiap pekan saya baca ada pejabat yang ditahan.&lt;br /&gt;Saya memang tidak menyimak perkembangan ini dengan seksama. Tidak secara khusus. Tetapi, beberapa kasus diikuti, karena ekspose media. &lt;br /&gt;Nah, kemarin, di luar ekspose media, saya mendengar kabar dari teman, ada sebuah kantor pemerintah, kantor dinas, yang sepi. Penyebabnya, pejabat penting di kantor tersebut sudah ditahan. Setelah itu, kemudian, pejabat yang di bawahnya juga menyusul. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perkembangan yang menarik. Saya jadi terbayang-bayang bagaimana suasana kantor tersebut sekarang? Saya jadi mengandai-andai, andai di kantor yang saya bisa amati tiap hari, pejabatnya juga ditahan karena sering membuat laporan fiktif? Saya membayangkan berapa banyak pekerjaan yang akan terbengkalai, berapa banyak orang yang tidak terlayani, dll. Wuih, pasti kisah kantor yang begini ini akan sangat menarik ditulis. &lt;br /&gt;Tetapi, selain cerita dramatis roda pemerintahan, perkembangan ini mengingatkan saya pada kata “korupsi berjamaah”. Saya sering mendengar kata ini diucapkan orang dahulu saat mengkritik perilaku birokrat. Tetapi, saya tidak pernah melihat contoh sebenarnya. Konsep korupsi berjamaah masih seperti yang dikatakan orang, sebatas cerita yang sulit dibuktikan.&lt;br /&gt;Jadi, ketika mendengar pejabat-pejabat kantor ditahan karena korupsi, nyata, bahwa inilah fakta tentang korupsi berjamaah sebenarnya. Ini bukan isapan jempol lagi.  &lt;br /&gt;Kisah kantor yang sepi ini juga mengingatkan saya pada cerita bagaimana seorang teman mengurus sebuah proyek. Saya mendengar dia bersama beberapa teman sibuk mengurus sana-sini. Mereka pergi ke toko sana sini minta kwitansi ini dan itu. Ada beberapa yang fiktif. Mengapa begitu? &lt;br /&gt;“Kalau tidak begini, uangnya tidak cair seperti yang disebutkan dalam jumlah itu”.&lt;br /&gt;“Ndak ke yang begitu itu korupsi?”&lt;br /&gt;Pada waktu yang lain dahulu saya pernah mendengar cerita seorang teman yang mengerjakan berkas untuk proyek, pada masa yang sama dengan pengerjaan proyek tersebut. Mengapa tidak ikut prosedur? Kalau ikut prosedur urusan jadi lebih banyak dan panjang, biaya yang dikeluarkan pun juga akan lebih besar. Yang penting menurutnya, adalah bagaimana membuat semua itu seakan-akan sudah sesuai prosedur. &lt;br /&gt;Katanya, sepanjang tujuannya untuk kebaikan, itu tidak korupsi. Sepanjang tidak untuk diri sendiri, itu tidak korupsi. Kolusi dibolehkan untuk kebaikan.&lt;br /&gt;“Yang tidak boleh, makan uang Negara. Uang Negara jangan untuk mengenyangkan perut seorang”.&lt;br /&gt;Itu petuahnya. Petuah itu juga pernah saya dengar dari teman yang lain hampir 10 tahun lalu saat saya pertama dan terakhir kali masuk dalam panitia pengadaan barang. Maklum, saya telah sangat was-was dibuatnya. &lt;br /&gt;“Karena itu, sekarang, yang paling prinsipil adalah soal niat. Niat itulah yang membedakan antara seorang yang jahat dan tidak jahat. Jika tidak buat begitu, pasti kita tidak bisa apa-apa”.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, ketika kasus korupsi bergulir, dan ketika banyak pejabat ditahan, banyak orang memprediksikan, sebagian dari pejabat yang disebutkan tidak akan sampai masuk ke balik jeruji. &lt;br /&gt;Atau sebaliknya, kalaupun masuk, seseorang tidak akan masuk sendiri, atau mungkin tidak akan mendekam lama. Karena ada banyak orang lain yang terlibat dalam mengurusnya. Ada banyak yang terlibat dalam memakan hasilnya.  Jika semua masuk jeruji, diyakini, jeruji tidak akan muat. &lt;br /&gt;Dampak lain, kantor-kantor penyelenggara pemerintahan akan lumpuh. Malah mungkin, selanjutnya orang-orang kantoran itu akan berjamaah untuk tidak bekerja. Jamaah lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1624983040869931068?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1624983040869931068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1624983040869931068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1624983040869931068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1624983040869931068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/korupsi-berjamaah.html' title='Korupsi Berjamaah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-1054418608843582808</id><published>2010-03-09T07:41:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T07:43:38.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Diskusi Nikah Siri</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, untuk kesekian kalinya saya duduk di sebuah warung di pinggir jalan di kota Pontianak, sambil sarapan pagi. Kali ini, di meja yang lain –ada dua meja—ada tiga orang lelaki sedang duduk minum. Di depan mereka ada koran. Mereka mendiskusikan soal RUU Pernikahan yang diusulkan pemerintah.&lt;br /&gt;Tema itu memang cukup menarik perhatian. Setidaknya perhatian media. Liputan soal ini cukup banyak. Jadi, tidak heran jika kemudian orang-orang juga terlibat membicarakan hal ini. Termasuk orang yang berada di depan saya pagi itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mendengar mereka bicara. Tidak ingin terlibat. Saya tidak kenal mereka. Lagian, sebenarnya saya juga tidak ingin terlibat dalam diskusi soal hukum begini, sebab pengetahuan hukum Islam saya terbatas. Bayangkan, ayat-ayat hanya hafal satu dua saja. Kaedah fiqih juga tidak tahu. Ibadah juga benar-benar ala kadar. Huh… konon-kononnya hendak bicara hukum agama. &lt;br /&gt;Saya tidak tahu dasar pengetahuan agama mereka yang berdiskusi itu. Tetapi, kelihatnya, mereka cukup kritis. &lt;br /&gt;Mereka agaknya pro-kontra juga dengan RUU ini. Kesan saya, ada yang nada-nadanya mendukung, ada yang menolak. Satu orang lagi yang agaknya mungkin juga menolak, mungkin juga menerima. Dia sangat kritis.&lt;br /&gt;“Kita ribut soal nikah siri. A… paling-paling itu akal orang dekat SBY untuk mengalihkan perhatian public dari kasus Century”.&lt;br /&gt;“Mungkin juga RUU itu untuk ngegap saja karena di DPR itu banyak yang nikah siri”.&lt;br /&gt;Kok begitu? A..ha, dalam hati saya mungkin benar begini. Perhatian public dan media perlu diarahkan pada isu selain isu Century. Ini biasanya, konon, jenis kerja intelejen. &lt;br /&gt;“Ya, ndak mungkin SBY dan DPR tidak mau dengar ulama yang menolak RUU itu. Ulama khan jelas menolak pidana nikah siri”.&lt;br /&gt;Wah… saya jadi makin tertarik pada diskusi mereka. &lt;br /&gt;Pikiran orang-orang itu sempat juga terlintas dalam pikiran saya. Tak mungkin SBY berani mengambil sikap kontra dengan ulama. Kalau SBY dan orang di jajaran pemerintahan orang beragama, pasti beliau mau mendengar kata-kata ulama. Apalagi yang mengatakan hal ini sekarang majelis ulama, lembaga formal tempat berhimpunnya ulama di Indonesia. &lt;br /&gt;Saya ingat kata guru dahulu: Orang yang tidak mau mendengar kata-kata ulama tidak akan selamat hidupnya. Apalagi menentang ulama. Pemali. Murka Allah pasti datang.&lt;br /&gt;Kedua orang yang semula agak ribut kemudian senyap. Agaknya mereka juga merenungi hal itu. Saya menjadi tersenyum. Saya kagum, orang di kaki lima ini masih “memiliki agama” dalam hati mereka. &lt;br /&gt;Saya jadi teringat pernyataan Rhoma Irama bahwa mereka yang mengusulkan dan mendukung RUU Nikah Siri sebagai orang Athies. Tidak beragama. Penilaian ini muncul, karena jelas dalam Al-Quran, kitab suci orang yang mengaku beragama Islam, soal nikah itu sudah diatur dengan jelas. Tidak ada keraguan. Tentang syarat syah nikah selama ini tidak diperdebatkan. Lalu, kenapa sekarang muncul orang yang mendebatkannya? Pernyataan Rhoma cukup pedas. &lt;br /&gt;Saya juga jadi teringat membaca komentar seorang penulis yang mengutip penggalan ayat Quran soal nikah ini untuk mengkritik pandangan ulama. Kesannya kritis. Saya mengenal penulis komentar itu. Owalah… ini seperti kata bos kami dahulu: baru bisa menyelam di kolam sudah berlagak dapat menyelam di laut. Baru tahu satu dua dalil, sudah menyalahkan ulama yang hapal banyak dalil. &lt;br /&gt;Saya jadi mikir: Apakah yang seperti ini sudah mewabah di kalangan orang yang mengaku beragama Islam? Rasanya mungkin iya. Sebab, dahulu pun saya pernah menjumpai ada orang yang mengkritik dan menghujat ulama karena mengeluarkan fatwa haram merokok. Ada yang menyebut ulama kurang kerjaan. Ada yang menyebut fatwa ulama itu picik. &lt;br /&gt;Ihh… saya bergidik. Rasanya azab kian dekat. Ya Allah, lindungi kami dari azab-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-1054418608843582808?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/1054418608843582808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=1054418608843582808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1054418608843582808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/1054418608843582808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/diskusi-nikah-siri.html' title='Diskusi Nikah Siri'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3237563836640216952</id><published>2010-03-09T07:40:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T07:41:38.603-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Gang Becek di Kota Pontianak</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;Sejumlah anak sekolah berbaju putih dengan rok dan celana merah manggis melintas di Gang Karet Indah, Jalan Karet, Pontianak, di suatu pagi beberapa hari lalu. Mereka berjalan kaki dari arah Gang Sanubari, Parit Tengah. Dari jauh suara mereka sudah terdengar; ramai dan meriah. Mereka sambil bergurau, agaknya. Tapi, saya tidak dapat menebak apa yang mereka bicarakan. Maklum, mereka menggunakan bahasa Madura; bahasa yang tidak saya mengerti. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa mereka memang menarik perhatian saya: terutama pola campur antara bahasa Madura dan bahasa Melayu Pontianak. Sering-sering saya mencoba menyimak percakapan mereka. Banyak hal menarik untuk ditulis.&lt;br /&gt;Tetapi, hari itu, bukan bahasa mereka yang menarik perhatian saya. Saya tertarik  melihat mereka melintas di depan saya karena semua mereka menjinjing sepatu. Ya, sepatu yang seharusnya mereka pakai, tidak mereka pakai. Mereka nyeker, pakai kaki ayam.&lt;br /&gt;Mengapa begitu? Ini karena lintasan mereka yaitu Gang Karet Indah, tidak seindah namanya. Gangnya tidak indah, tetapi justru berlumpur. Maklum musim hujan. Di gang itu masih ada bagian berlumpur sepanjang 100 meter, dari panjang gang ini lebih kurang 500 meter. Di bagian gang ke arah Jalan Karet sepanjang 300 meter sudah bersemen. Lebarnya lebih kurang 1,5 meter. Saya tahu, bagian ini bisa bersemen begini karena pernah ada bantuan pemerintah kota beberapa tahun lalu. Karena bantuan semen terbatas, bagian yang bisa ditangani hanya separoh itu.&lt;br /&gt;Bagian ujung ke arah Gang Sanubari 2, yang 100 meter itu juga sudah bersemen. Ukurannya kira-kira setengah meter saja. Bagian ini, selain swadaya beberapa keluarga di ujung bagian ini, ada juga bantuan dermawan.  &lt;br /&gt;Dahulu, pilihan lintasan utama anak-anak dari Gang Sanubari ke sekolah ibtidaiyah di Jalan Karet, sebenarnya Gang Karet Makmur, bersebelahan dengan Gang Karet Indah. Keadaan Gang Karet Makmur ini kurang lebih sama. Bagian tengah masih belum beraspal dan becek. Ada bagian yang beceknya cukup dalam hingga betis. Sudah pernah beberapa kali ditimbus dengan tanah, tetapi, tidak berhasil. Bagian jalan ini kerap terendam. Jika bukan terendam karena pasang air laut, bagian ini terendam karena air hujan. Aliran airnya tidak lancar. Jalan tanah terendam. Karena sering dilewati, lama-lama becek lagi. &lt;br /&gt;Sekarang, dibandingkan Karet Makmur, Gang Karet Indah ‘agak’ lebih mendingan. Tetapi, walaupun mendingan, anak-anak sekolah tetap harus buka sepatu kala melintasi bagian tengah gang tersebut, agar sepatu tidak basah.&lt;br /&gt;Saya tentu saja sangat terkesan ketika melihat anak-anak menjinjing sepatu. Apa yang terjadi pada anak-anak itu mengingatkan saya pada pengalaman sendiri saat kelas 1 madrasah ibtidaiyah di Riam Panjang, Kapuas Hulu, tahun 1979.&lt;br /&gt;Waktu itu kami masih tinggal di Sebugau, tempatnya di tengah kebun karet, yang lebih dekat ke ladang. Waktu itu bapak belum punya rumah di kampung. Kalau bapak ke kampung, pada hari Jumat, bapak menumpang singgah berganti pakaian salat di rumah keluarga.&lt;br /&gt;Jarak Sebugau – sekolah kira-kira 3 kilometer. Jalannya jalan setapak. Pada musim hujan becek. (Oh, kadang saya sengaja tidak pakai di tengah hutan, agar sepatunya tetap bagus). Ketika kelas satu saya beruntung karena dibelikan sepatu kain; saya lupa mereknya. Nah, sepatu itu saya bawa tiap hari. Kadang saya jinjing dengan ranting, kadang kala saya masukkan dalam “sodung” (jenis ambinan kecil dari rotan). Saya, (dan teman sekolah) ketika itu tidak punya tas. Tempat terbaik untuk menyimpan buku adalah kantong plastik. Tetapi, itupun susah diperoleh. Ada teman yang harus rebutan dengan emaknya, karena emak juga mau pakai kantong plastic sebagai ganti tasnya kalau pergi ke kampung.&lt;br /&gt;Saya hanya memakai sepatu bila sudah sampai di lanting (rakit tempat orang mandi) dekat sekolah. Tepatnya, memakai sepatu setelah kaki bersih dari lumpur. &lt;br /&gt;Sudah lama saya tidak mengingat masa-masa menjinjing sepatu. Sebab, selalunya, saya melihat anak-anak sekarang pakai dan buka sepatu di rumah. Tidak ada lagi istilah jinjing-jinjing karena jalan becek.&lt;br /&gt;Karena itu, ketika kemarin saya menyaksikan anak-anak itu menjinjing sepatu ke sekolah, saya jadi teringat semua itu. &lt;br /&gt;Saya kira ini pemandangan langka. Langka karena pasti jarang-jarang kita melihat hal seperti itu. Terlebih lagi pemandangan itu saya lihat di kota; di pusat pembangunan. Lebih dari sekadar langka, pemandangan ini menyentuh perasaan. Ternyata masih ada banyak orang yang belum dapat bersama kita menikmati kemajuan pembangunan kota Pontianak. Entahlah, siapa yang mau peduli pada pengalaman mereka?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3237563836640216952?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3237563836640216952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3237563836640216952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3237563836640216952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3237563836640216952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/03/gang-becek-di-kota-pontianak.html' title='Gang Becek di Kota Pontianak'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-3204398203399734743</id><published>2010-02-07T06:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T06:47:31.539-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Media'/><title type='text'>Kondom di Konter HP</title><content type='html'>Oleh Yusriadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chasing tidak ada. Kondom ada”.&lt;br /&gt;Saya terperangah ketika seorang pemilik konter HP di Khatulistiwa Plaza, Pontianak memberitahu saya. “Bah, gila benar!”.  &lt;br /&gt;Saya mengucapkan kata itu dalam hati. Dia tidak dengar. Namun, saya yakin dia pasti melihat reaksi saya yang nampak gusar. &lt;br /&gt;Bayangkan: kondom! Ihh… saya sempat heran mengapa saya ditawari benda itu, padahal jelas yang saya cari adalah chasing HP.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; HP saya sekarang perlu chasing baru; chasing lama sudah pecah. Sering jatuh. Tapi, ya ampun…. Kok mencari chasing Sony Ericsson R300 susah benar. Saya sudah mampir di banyak konter HP mencari chasing itu. Tetapi tidak ada yang jual.&lt;br /&gt;Lalu, siang kemarin, saya mampir ke konter HP di Plaza Khatulistiwa itu. &lt;br /&gt;Dan ketika saya bertanya tentang chasing, saya justru ditawari kondom.&lt;br /&gt;Saya sempat masem-masem. Apakah wajah saya kelihatan sedemikian mesum sehingga orang berani menawarkan barang khusus untuk permainan di tempat tidur itu, di tempat begini? Owalah, sedihnya.  Sebab, seumur-umur belum pernah saya ditawari kondom. Ditawari perempuan juga jarang sekalipun cukup sering juga nginap di hotel, termasuk di hotel yang ada itunya sekalipun. Konon, menurut teman, orang tidak berani menawarkan macam-macam karena wajah saya menunjukkan kesan serius.&lt;br /&gt;Lalu, “Mengapa kondom dijual di konter HP?”&lt;br /&gt; Setahu saya, kondom dijual di apotik atau di mini market. Kononnya dahulu, kondom juga bisa didapatkan lewat ATM. Konter HP yang saya tahu biasanya hanya jual HP, jual aserosis HP, jual pulsa. Lha, ini jual kondom? Saya langsung terbayang pada “Sutera” dan beberapa mereka lain. Saya tahu itu karena sering melihat kondom yang dijual di toko, meskipun seumur-umur, saya, belum pernah beli barang itu.  &lt;br /&gt;Apakah dunia sekarang sudah sedemikian janggal? Apa ceritanya?&lt;br /&gt;“Kondom?”&lt;br /&gt;Saya bertanya untuk memastikan agar pikiran saya tidak ngeres tak tentu rudu.&lt;br /&gt;“Ya, kondom sony ericsson”. &lt;br /&gt;Lelaki itu, kemudian meminta pelayan --wanita muda, mengambil kondom dimaksud.&lt;br /&gt;Perempuan itu menyodorkan 4 kondom kepada saya.&lt;br /&gt;“Oooo… ini dia kondomnya”.&lt;br /&gt;Mereka tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;Ya, bukan kondom yang saya pikirkan yang mereka angsurkan kepada saya. Kondom ini, rupanya sarung untuk handphone.  Bahannya dari karet. Bentuknya seperti chasing juga. Malah kesan saja, kondom untuk HP ini lebih mengesankan. Apalagi warna yang ditawarkan juga kinclong.&lt;br /&gt;Ingin saya mengetahui mengapa karet pelindung ini diberi nama kondom. Kapan istilah ini muncul? Siapa yang memberikannya? &lt;br /&gt;Saya tertarik ingin mengetahui sejarah kelahiran kata “kondom HP”. Ini bagian dari pelajaran saya, pelajaran linguistic; khususnya jika belajar etimologi – yaitu ilmu asal usul kata.&lt;br /&gt;Tapi, saya tidak sempat bertanya. Petuga konter nampak sibuk. Saya hanya menduga-duga mengapa orang lebih memilih menggunakan istilah itu untuk karet pelindung HP, dan tidak menggunakan istilah lain yang kesannya lebih sopan. Bagi saya, mungkin istilah ini berkaitan juga dengan kecenderungan orang menggunakan istilah pelacuran intelektual, pemerkosaan hak asasi, onani pemikiran, pencabulan wilayah, dan sejenisnya. Ya, agaknya orang sekarang lebih familier dengan istilah-istilah seperti itu. Lalu, pada akhirnya, kita, mau tidak mau, memakainya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-3204398203399734743?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/3204398203399734743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=3204398203399734743' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3204398203399734743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/3204398203399734743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/02/kondom-di-konter-hp.html' title='Kondom di Konter HP'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2392205999257200497</id><published>2010-01-31T04:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T04:53:18.655-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>HP Anak Sekolah</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi&lt;br /&gt;Kisah anak SMAN 7 Pontianak yang kedapatan melihat adegan asusila di HP, mengingatkan saya pada pengalaman seorang teman. &lt;br /&gt;Teman menceritakan, anaknya yang berusia 11 tahun, sudah melihat adegan seperti itu dan mencontohkan cara orang “mendesah-desah”. Anak  umur segitu itu melihat adegan tersebut di HP teman sekolah saat mereka istirahat.&lt;br /&gt;“Kaget saya mendengarnya,” aku teman.&lt;br /&gt;Dia kaget, saya juga kaget. Bayangkan anak usia 11 tahun melihat adegan itu lewat HP, di sekolah lagi!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada siswa usia SD bisa membawa HP ke sekolah? Mengapa ada siswa SD bisa menyimpan gambar begitu di HP mereka? &lt;br /&gt;Setahu saya, banyak sekolah dasar  yang melarang siswa membawa HP. Ada razia. Sekolah tempat anak teman belajar juga ada peraturan itu. Tapi kok bisa?&lt;br /&gt;Rupanya, saat razia siswa itu menitipkan HP mereka kepada pemilik warung Kadang juga HP disimpan di lemari di dalam kelas. Kadang juga disimpan di pot bunga. Siswa tersebut menyimpan HP-nya di tempat yang tidak terjangkau perhatian guru. Saya mendengar cerita ini dengan takjub. Sungguh anak yang hebat. Anak itu lebih hebat dari guru. Anak itu dapat mengecoh guru mereka. Anak itu lebih pintar dan panjang akal dibandingkan guru mereka.&lt;br /&gt;Kalau sudah begini keadaannya, ini bukan salah guru. Bukan salah sekolah. Mereka sudah berusaha membuat aturan dan menegakkan aturan. &lt;br /&gt;Lalu, jika begitu, ini masalah siapa? Saya anggap, dalam kasus anak SD yang menyimpan film tidak senonoh di HP mereka, ini masalah orang tua. Pertama, orang tua yang memberikan uang untuk membeli HP. Kedua, orang tua yang pasti ikut memilih atau paling tidak merestui jenis HP yang dipilih. Orang tua yang memilih membeli HP yang bagus sehingga alat itu berfungsi lebih dari sekadar untuk menerima dan menelepon. Fasilitas yang memungkinkan membuat anak dapat menyimpan file memuat gambar asusila.   &lt;br /&gt;Jadi, seharusnya, jika orang tua benar-benar memperhatikan pendidikan dan masa depan anak mereka, orang tua seharusnya merasa bertanggung jawab untuk mengontrol isi HP anak mereka. Orang tua seharusnya juga memastikan HP yang dibelikan untuk anaknya digunakan hanya untuk hal yang positif. &lt;br /&gt;Sesungguhnya bukan saja soal isi HP, orang tua juga selayaknya mengontrol atau paling tidak tahu, siapa yang menghubungi dan dihubungi anak mereka. Bahkan jika mungkin, tidak saja panggilan keluar masuk, SMS yang keluar masuk juga sesekali dipantau oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saya jadi teringat ketika beberapa waktu lalu saya bertemu dengan anak seorang teman yang sekarang menjadi kepala sekolah, sebuah sekolah agama.&lt;br /&gt;Anak itu duduk di kelas 2 sekolah menengah. Hari itu, ketika saya sedang belanja di warung saya melihat anak itu juga datang ke warung. Dia menenteng HP-nya. Saya mengenal HP jenis itu disebut HP Pisang. Ya, karena bentuknya seperti pisang, agak melengkung.&lt;br /&gt;Saya penasaran melihatnya. &lt;br /&gt;“Woi, HP-nya bagus benar”.   &lt;br /&gt;Anak itu tersenyum mendengar saya memujinya. Lalu saya bertanya pada dia berapa harganya. Dia menyebutkan harga.&lt;br /&gt;“HP bekas bah”.&lt;br /&gt; “O, bekas?”&lt;br /&gt;“Coba lihat”.&lt;br /&gt;Dia menyerahkan HP-nya. Saya mengambil dan mengutak-atik tombolnya. Saya melihat isi folder. Lalu masuk lagi ke gambar-gambar dalam folder itu.&lt;br /&gt;Alamak! Saya kaget ternyata di folder itu ada banyak gambar perempuan dengan setengah telanjang. &lt;br /&gt;“Ya ampun…. Kamu simpan gambar begini???”&lt;br /&gt; Anak itu nampak gugup ketika mendengar suara saya meninggi. Dia gagap. &lt;br /&gt;Dia menceritakan gambar yang ada di folder itu memang sudah ada sejak awal. Gambar itu koleksi pemilik HP sebelumnya. Bukan dia yang memasukkan. &lt;br /&gt;“Dihapus ya. Kalau ndak saya beritahu bapak nanti”.&lt;br /&gt;Saya meminta begitu, karena saya khawatir, anak tersebut akan ngiler melihat hal seperti itu. Mungkin, nanti malah pengin melihat gambar hidup. Saya khawatir dia terjerumus;  saya khawatir dia gagal melanjutkan pendidikan. Dia anak teman saya, karena itu saya merasa harus mengingatkannya – sekalipun nampak sedikit usil.&lt;br /&gt;Anak itu mengambil HP yang saya kembalikan. Dia (sepertinya) menghapus beberapa gambar perempuan cantik  itu. Entah dihapus semua, entah tidak. &lt;br /&gt;Kejadian ini, kisah anak SD dan kisah siswa SMAN 7, mengingatkan saya betapa lemahnya kontrol orang tua, terhadap anak mereka. Betapa orang tua kurang dapat mengontrol prilaku anak mereka. Orang tua tidak mungkin menyerahkan kontrol prilaku dan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, karena kemampuan sekolah juga terbatas. Waktu sekolah bersama anak juga terbatas. &lt;br /&gt;Kejadian ini sekaligus juga mengingatkan kita bahwa ke depan pihak sekolah tidak boleh berhenti melakukan kontrol terhadap HP siswa mereka – tentu saja melakukan kontrol dengan cerdas sehingga tidak ‘diketawain’ siswa yang nakal.&lt;br /&gt;Jangan pernah bosan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2392205999257200497?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2392205999257200497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2392205999257200497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2392205999257200497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2392205999257200497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/hp-anak-sekolah.html' title='HP Anak Sekolah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-2998874493420744897</id><published>2010-01-30T07:22:00.001-08:00</published><updated>2010-01-30T07:23:09.602-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Mengenang Suman Kurik</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Suman meninggal”.&lt;br /&gt;Tanto Yakobus, Pimpinan Redaksi Borneo Tribune memberitahu saya kabar itu sekitar pukul 12.30 Selasa (112/1) kemarin. Saat itu, kami sedang rapat, dan kebetulan kami duduk bersebelahan dengan beliau.&lt;br /&gt;Walaupun saya tidak dekat dengan beliau, dan sebaliknya beliau tentu tidak mengenal saya, namun, kabar ini telah mengejutkan saya. Mendadak.  Seperti juga dikatakan Nur Is, General Manager Borneo Tribune, soal kematian beliau, kami tidak mendengar kabar soal beliau sakit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak ada dengar beliau sakit, ya?”.&lt;br /&gt;Saya bertanya pada Tanto.&lt;br /&gt;“Mengapa?”&lt;br /&gt;“Jantung”.&lt;br /&gt;Bah! Jantung. Saya ingat sudah banyak sekali orang yang meninggal karena sakit itu. Terutama mereka yang besar-besar. Malam sebelumnya, saya malah menghadiri acara tahlilan memperingati tujuh hari meninggalnya ayah teman, yang juga meninggal tiba-tiba. Katanya, jantung.&lt;br /&gt;Kami terdiam mendengar pemberitahuan Tanto. Lantas, saya mengingat-ingat tentang sosok ini. Menurut saya, beliau sangat mengesankan. &lt;br /&gt;Saya pernah bertemu beliau dan berbicara dengannya, dahulu awal tahun 2000-an. Waktu itu, beliau masih menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sintang. Saya (bersama teman saya) bertemu beliau karena saya harus menyampaikan surat dari STAIN Pontianak, perihal penolakan Sintang terhadap lulusan D2 STAIN Pontianak.&lt;br /&gt;Waktu itu, hari Jumat. Beliau mengenakan pakaian olahraga, putih hijau. Masih ada nampak bekas keringat.&lt;br /&gt;Kami diterima di ruang kerja beliau. Penerimaannya simpatik. Dia mendengarkan penjelasan kami, dan mengatakan akan menerima lulusan D2 STAIN. Saya membandingkan, sikap beliau jauh sekali dibandingkan sikap orang Dinas Pendidikan dan BKD Kapuas Hulu di Putussibau. Di Putussibau, kami harus ‘berdebat’; dan mereka tetap ngotot tidak mau terima. Membandingkan sikap orang di Putussibau dan sikap Pak Suman, teman saya mengatakan:&lt;br /&gt;“Itulah… Kadang saya pikir, lebih enak berkomunikasi dengan orang bukan Islam, dibandingkan orang Islam sendiri”.  &lt;br /&gt;“Makanya, kita tidak boleh melihat orang berdasarkan agama. Santun atau tidaknya orang, bukan karena dia beragama apa”.&lt;br /&gt;Setelah itu, saya tidak pernah bertemu beliau lagi. Hingga suatu saat, saya mendengar beliau ditunjuk sebagai Plt Bupati Melawi. Melawi adalah kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Sintang.&lt;br /&gt;Saya menganggap, penunjukkan Pak Suman, merupakan pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;Lantas kemudian, ketika Pak Suman menjadi calon Bupati Melawi empat tahun lalu, bersaing dengan beberapa nama, dalam hati saya meyakini: Suman layak dipilih karena dia memang memiliki kapasitas. Dan kemudian, beliau memang terpilih. Beliau unggul suara dibandingkan calon-calon yang lain. &lt;br /&gt;Saya melihat, selama kepemimpinannya, Melawi, khususnya Nanga Pinoh, memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan. Saya melihat kota Nanga Pinoh di tahun 1993, 1998, 2003, 2006. Saya dapat menunjukkan kemajuan-kemajuan yang dicapai selama era Suman Kurik.   Saya juga mengagumi beliau ketika beliau meluncurkan buku dokumentasi pemikiran dan pandangannya. Saya memang selalu mengagumi orang yang membuat buku, karena usaha seperti ini merupakan usaha besar dan bersejarah.  Pasti, walaupun Suman Kurik telah tiada, tetapi pemikirannya tetap akan dibaca orang.&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu, saya sempat memprediksikan bahwa Suman Kuriklah yang akan menjadi Ketua Partai Demokrat Kalbar menggantikan alm. Henri Usman. Dari sisi kapasitas dan ketokohan beliau sangat layak. Dari kemungkinan, dengan posisinya di Demokrat saat itu, Suman Kurik juga mungkin. Tetapi, kemudian prediksi saya salah, ternyata Muda Mahendrawan yang ditunjuk sebagai pengganti Henri. &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, menjelang Pilkada mendatang, saya masih mengandaikan Suman Kuriklah akan dipercaya melanjutkan kepemimpinan Melawi 5 tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;Teringat soal Pilkada ini, saya jadi teringat dinamika yang sedang terjadi di tubuh Demokrat. Suman, termasuk bakal penumpang perahu itu.&lt;br /&gt;Saya sempat bertanya pada  Tanto di mana sekarang Tim 9 Demokrat berada. Tim ini yang akan menentukan siapa yang akan menjadi bakal penumpang. Saya dengar, ada orang Demokrat dari Pusat yang sedang ada di Kalbar terkait urusan perahu politik dalam Pilkada 19 Mei 2010. &lt;br /&gt;Pikir saya, apa mungkin soal penentuan siapa calon bupati Melawi yang akan menjadi penumpang perahu Demokrat, yang membuat jantung Suman ‘terkejut’. Tetapi Tanto membantah.&lt;br /&gt;“Ndak…. Demokrat Melawi sudah jelas ke Suman Kurik”.&lt;br /&gt;Lalu? Entahlah.&lt;br /&gt;Saya masih tidak puas membicarakan tentang beliau. Membicarakan tentang kebaikan beliau dan pengharapan yang disandarkan padanya. Sungguh, menurut saya, beliau pergi dengan kesan yang baik. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi Tuhannya. Selamat Jalan Pak Suman. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-2998874493420744897?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/2998874493420744897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=2998874493420744897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2998874493420744897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/2998874493420744897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/mengenang-suman-kurik.html' title='Mengenang Suman Kurik'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-8448029488931992864</id><published>2010-01-30T06:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:14:34.768-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo Tribune'/><title type='text'>Tanaman Obat di Pasar Tengah</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Tengah, Pontianak, adalah pasar rakyat kelas bawah di kota ini. Pasar Tengah tempat jualan barang murah. Terutama jenis peralatan rumah tangga, pertanian dan juga barang-barang bekas. Pasar Tengah juga dikenal sebagai tempat pembelian barang dalam partai banyak. Pedagang-pedagang dari pedalaman selalu berbelanja di pasar ini untuk barang jualan mereka di nun perhuluan sana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, sering kali saya ke pasar ini untuk mencari baju-baju bekas. Saya pernah mencari sepatu bola bekas, sepeda bekas, dan juga buku-buku cetak murah. Saya pernah mencari ikan asin di lorong-lorong di pasar tengah. &lt;br /&gt;Saya menyusuri lorong, melihat kiri kanan, memilih barang. Berinteraksi dengan penjual yang menawarkan barang, dan kemudian tawar menawar. Ada juga banyak pembeli yang mampir ke kawasan ini. Dahulu, kalau hari Minggu, lorong-lorong tertentu di Pasar Tengah, puadat sekali. Berdesakan. Karena berdesakan itu ada yang memanfaatkan peluang mencopet. Ada banyak orang yang pernah punya pengalaman buruk dicopet di Pasar Tengah.&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sangat suka belanja di pasar tengah. Namun, kadang kala pasar itu terasa jauh. Susah letak motor. Khawatir banyak copet. Khawatir beli barang ditipu. Maklum, penjual kadang kala meletakkan harga pertama cukup tinggi dengan maksud agar pembeli menawar. Saya tidak pandai dan kurang suka menawar. Spekulasinya tinggi.&lt;br /&gt;Saya lebih suka membeli barang yang harganya pas. Tidak spekulasi.  Karena itulah kemudian saya lebih suka belanja di mall.&lt;br /&gt;Saya masih terpengaruh oleh cerita mengenai rawannya pasar ini. Tetapi begitulah. Pandangan ini membuat saya agak sedikit malas ke pasar ini. &lt;br /&gt;Sejak pemerintah kota mengubah tampilan Pasar Tengah, khususnya Parit Besar, memang kesan dari jalan, pasar ini berubah. Gerbang masuk ke lorong itu nampak dengan lampu yang kalau malam cukup indah. Nampak juga bangunan di atas parit lebih baik dibandingkan dahulu. &lt;br /&gt;Saya mengunjungi pasar tengah kemarin bersama dua teman. Kami mencari tumbuhan obat. Teman mencari temu ireng (temu hitam) untuk obat sakit usus buntu. &lt;br /&gt;Saya jadi ikutan mencarinya. Penasaran. Saya juga pengin mencoba. Jaga-jaga kesehatan. Lalu, sekalian saya mencari bawang mekah. Bawang mekah baik untuk pelbagai penyakit.&lt;br /&gt;Kami masuk ke lorong sebelah kanan, parkir motor di situ. Parkir motornya nampak tertib. Di badan jalan. Dan ini membuat jalan jadi agak sempit. Pemerintah tidak menyediakan lahan khusus untuk parker. Kalau disediakan pasti jadi lebih baik, dan dengan begitu tidak ada lagi orang yang pakir di depan kios, di jalan yang sempit. Entah mungkin suatu saat.&lt;br /&gt;Lorong yang kami masuki menjual aneka barang ‘antik’, alat pertanian, dll. Tetapi bukan itu yang kami cari. Lalu kami melalui jembatan, pindah ke lorong di seberang parit. Di bagian ini orang menjual sayur mayur, tanaman, buah, dll.&lt;br /&gt;Kami berjalan perlahan. Dan berhenti di sebuah kios yang menjual jahe, kunyit, dll. Nama tanaman ada ditulis di atas secarik kertas di atas barang jualan yang diletakkan di atas badan jalan. Hanya nama. Saya bayangkan, duh, baiknya jika penjual juga mencantumkan harga barang. Tak perlu banyak tanya. Tak perlu takut tertipu. &lt;br /&gt;Penjual, seorang lelaki dan seorang perempuan.&lt;br /&gt;Teman saya bertanya, tentang temu hitam. Penjual lelaki menunjuk tumpukan dalam karung yang terbuka yang diletakkan agak di ujung tempat jualan. Kami menuju tempat itu. &lt;br /&gt;“Lho, kok ndak hitam?” Dalam bayangan saya, temu itu warnanya hitam. Teman saya meminta izin mematahkan bonggolnya. Di dalam warna di dalamnya juga tidak hitam.    &lt;br /&gt;“Benar, ini dia,” teman saya berbisik.&lt;br /&gt;Mereka bertransaksi dengan penjual wanita. Sedangkan saya memilih bawang mekah yang diletakkan di bagian atas, di lapak. Sudah lama saya ingin mendapatkan bawang itu. &lt;br /&gt;“Untuk apa Pak? Untuk kanker ini bagus,” penjual lelaki bertanya pada saya.&lt;br /&gt;Ketika saya mengatakan ya, dia kemudian menceritakan khasiat bawang mekah. “Akan lebih baik kalau dicampur dengan jerangau merah, kunyit putih dan keladi tikus”. Masing-masing ada fungsinya. Ada yang –katanya, untuk membunuh akar kanker, ada yang untuk mengeringkan bekas luka, dll. Saya tidak mengingatnya. Tetapi, penjelasan mereka sangat mengesankan. &lt;br /&gt;Akhirnya saya membeli semua barang itu sesuai petunjuk dia. Kecuali, keladi tikus harus dipesan lebih dahulu, sebab mereka yang mengolahnya. Katanya, kalau orang tidak pandai mengolah keladi tikus, nanti airnya yang seharusnya diminum, akan menyebabkan gatal.&lt;br /&gt;Setelah selesai transaksi, kami pulang. Sepanjang perjalanan saya memikirkan apa yang terjadi. Saya anggap ini perjalanan yang luar biasa. Saya sering ke sini, lewat di depan kios ini. Tetapi saya tidak tahu jika di lapak-lapak itu ada kekayaan hutan Kalbar; kekayaan yang luar biasa. Ini juga kekayaan pengetahuan orang Kalbar; pengetahuan tentang ilmu perobatan tradisional. Kekayaan itu belum digali, belum dieksplore. Belum banyak diketahui. Berkali-kali saya menggeleng kepala, takjub dengan apa yang saya peroleh di Pasar Tengah ini.&lt;br /&gt;Saya membayangkan jika citra Pasar Tengah sebagai pasar tumbuhan obat tradisional dipromosikan dan dibentuk. Pasti akan lebih istimewa. Saya juga membayangkan jika pengetahuan tentang tanaman obat –khususnya tanaman yang memang tumbuh di tanah Kalbar ini digali oleh dosen dan mahasiswa farmasi di Kedokteran Untan. Bayangkan jika lembaga riset Kalbar memperhatikan kekayaan itu. Dll. &lt;br /&gt;Uhgg.. betapa kayanya kita. Betapa istimewanya kita. Pasti kita tidak akan susah mendatangkan ornag luar berkunjung. Lha, untuk mendukung visit Kalbar year 2010 itu lho.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-8448029488931992864?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/8448029488931992864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=8448029488931992864' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8448029488931992864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/8448029488931992864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/tanaman-obat-di-pasar-tengah.html' title='Tanaman Obat di Pasar Tengah'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-4460159636181651992</id><published>2010-01-25T04:59:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:15:24.354-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Dokter Spesialis Perempuan</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu, teman saya mengantar seorang wanita tua dari kampung di Kapuas Hulu berobat ke tempat praktik “seorang tabib” di Pontianak. Wanita itu, menderita sakit di payudaranya. Sakitnya sudah lama. Mula-mula berupa benjolan, kemudian lama-lama benjolan itu pecah. Busuk. Bau. Wanita tua itu sangat menderita. Dia juga sangat malu karena penyakitnya itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampungnya, dia tidak berobat ke dokter. Tempat dokter di Puskesmas, memang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Tetapi dia malu. Masalahnya, dokter di Puskesmas itu lelaki. Tak mungkin lelaki selain suaminya boleh melihat ‘bende’ rahasia itu. (Dia tidak mempersoalkan dokter tersebut, dokter umum atau spesialis).&lt;br /&gt;Lantas, wanita tua itu berikhtiar mengobati sendiri penyakitnya secara tradisional dan “sedikit modern”. Dia mencari obat yang mungkin digunakan - menurut kira-kiranya saja. Baik dari tumbuh-tumbuhan, maupun obat warung. Obat warung yang dicoba, ya… misalnya obat untuk pusing kepala, obat untuk meriang, dll. &lt;br /&gt;Usahanya tidak berhasil. Sakitnya bukan makin sembuh. Semakin hari dia semakin menderita. Ceritanya, dia sering menangis sendiri karena sakitnya itu. &lt;br /&gt;Lama-lama, orang sekitarnya tahu wanita tua itu ada penyakit. Mula-mula orang tahu dia sakit biasa. Tetapi, kemudian orang menjadi curiga ketika mencium bau busuk (bau dari benjolan di dadanya yang sudah pecah). Setelah didesak, barulah perempuan itu mengaku. Sakit payudara.&lt;br /&gt;Keluarga pun berembuk. Sakitnya mulai jelas. Namnya kanker payudara. Solusinya dicari. Berobat ke Pontianak.  Di Pontianak, mereka memilih ke alternative. Terapinya satu bulan, dan katanya, borok itu kering.  ‘Sembuh’. Wanita tua itu kembali ke kampungnya.&lt;br /&gt;Saya sempat ‘ngeri’ membayangkan penyakit wanita tua itu. Saya juga prihatin dengan masalah yang dihadapinya. Saya dapat merasakan masalahnya.&lt;br /&gt;Bahkan, beberapa malam lalu saya juga merasakan hal yang sama. Saya membawa orang ke dokter untuk periksa penyakitnya. Penyakitnya sudah dirasakan cukup lama. Tapi, dia malu mengatakannya. Setelah didesak, barulah ketahuan. &lt;br /&gt;Mulanya dia dibawa konsultasi ke dokter penyakit dalam. Dia mengaku sangat malu ketika dokter memeriksa penyakitnya. Dia berkeringat. Untung saja dokter itu, dokter wanita.  Dia agak lega.&lt;br /&gt;Namun kelegaannya tidak berlangsung lama. Periksa ke dokter penyakit dalam, tidak cukup. Dokter mengatakan dia juga harus ‘difoto’, dan dokter yang dirujuk untuk foto itu adalah dokter lelaki. Lagi-lagi dia sawan. Lebih sawan dibandingkan ketika dia diperiksa dokter wanita yang ahli penyakit dalam. &lt;br /&gt;Sebelum masuk ke ruangan praktik dokter foto itu dia antri. Saat duduk menunggu dia mengaku panas dingin. Dia deg-degan.  Lantas tiba gilirannya. Dia masuk. Setelah keluar ruangan dia bercerita, dia sempat termangu ketika dokter meminta dia membuka pakaian bagian agar diperiksa. Dia sempat gemetaran. Dia memang mendengar dokter mengatakan: tidak perlu malu.  Tetapi, tetap saja dia pucat.&lt;br /&gt;Saya masih melihat sisa ketakutannya ketika dia keluar dari ruangan. &lt;br /&gt;“Ah, kasihan sungguh”.&lt;br /&gt;Saya sempat membayangkan, andai saja pengambil kebijakan memperhatikan masalah seperti ini. Saya sempat  mengandai, pemerintah membiayai doktek-dokter perempuan untuk mengambil spesialisasi untuk penyakit yang ada hubungan dengan bagian keperempuanan. Saya juga mengandai, seandainya para pembela hak-hak perempuan juga memperhatikan isu-isu ini: perempuan tidak saja dibela untuk masuk ke ranah public, terjun ke politik, tetapi juga didorong untuk memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan keperempuanan. Itu masalah mereka sendiri yang sebaiknya diurus mereka sendiri; bukan diurus lelaki.&lt;br /&gt;Saya yakin, kalau ini diperhatikan, tidak perlulah perempuan-perempuan yang sakit, sampai harus bergegar-gegar mau periksa penyakit wanita mereka kepada dokter lelaki. Mungkin akan semakin sedikit wanita yang menyimpan sendiri penyakit mereka, karena mereka malu berobat. Agaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-4460159636181651992?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/4460159636181651992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=4460159636181651992' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4460159636181651992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/4460159636181651992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/dokter-spesialis-perempuan.html' title='Dokter Spesialis Perempuan'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-329110266191555705</id><published>2010-01-25T04:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:16:36.416-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><title type='text'>“Laku Tiga Buti’”</title><content type='html'>Oleh: Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, malangnya! Kasihan.&lt;br /&gt;Kata itu tercetus seketika dalam pikiran, ketika saya mendengar seorang perempuan paroh baya melaporkan jumlah kuenya yang laku terjual hari itu kepada pemilik warung di kawasan Purnama, Pontianak.&lt;br /&gt;Saya mendengar percakapan mereka tanpa sengaja. Ya, sore kemarin mengunjungi teman yang tinggal di sebuah gang di Jalan Purnama Pontianak. Teman itu membuka warung sembako. Usahanya sekarang nampak besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tahu bagaimana dia memulai usaha. Modalnya kecil. Tempatnya sederhana. Rumah murah yang mereka beli. Lokasinya memang pas di persimpangan gang. &lt;br /&gt;Mereka merangkak dan berusaha keras. Beberapa tahun kemudian, usaha itu maju. Sangat maju. Mereka membesarkan rumah dan mendesainnya khusus untuk tempat berdagang. Jika dahulu sang suami belanja dengan motor ke pasar setiap pagi, sekarang, dia ke pasar pakai pikup sendiri.  &lt;br /&gt;Nah, karena maju, warung ini juga menjadi tempat penitipan kue-kue buatan ibu-ibu rumah tangga. Saya lihat sore kemarin, ada nagasari, ada bakwan, kroket, klepon, dan lain-lain. Kue-kue ini diletakkan di atas meja di bagian kiri warung. Setiap pagi, ibu-ibu menitipkan kue di sini. Lalu, sore mereka mengambilnya.&lt;br /&gt;Seperti juga sore kemarin. &lt;br /&gt;Saat saya berbicara dengan teman itu, seorang ibu paroh baya datang. Dia menggunakan sepeda dengan keranjang di depan. Di dalam keranjang itu ada beberapa bungkusan plastik. Dia mengambil tempat bakwan dan kroket dari atas meja. Lalu, dia menghitung isinya. Tidak ada suara. Hanya mulutnya yang bergerak. Ekspresinya menyiratkan kekecewaan.&lt;br /&gt;“Tiga”.&lt;br /&gt;“Tiga?” &lt;br /&gt;Saya nimbrung. “Tiga? Lakunya tiga?”&lt;br /&gt;“Iya. Lakunya cuma tiga”.&lt;br /&gt;Saya terperangah. Sedikit amat. &lt;br /&gt;“Ndak rugi?”&lt;br /&gt;Teman saya tertawa.&lt;br /&gt;“Ya, begitulah resikonya”.&lt;br /&gt;“Jangankan untung, bisa-bisa modal habis,” saya menyampuk.&lt;br /&gt;“Lalu kuenya diapakan?”&lt;br /&gt;Ibu pemilik kue tidak menjawab. Saya tidak mengulangi pertanyaan. Tidak ingin Nampak mendesak. Sekalipun sebenarnya saya ingin tahu.&lt;br /&gt;“Nanti masuk koran, Bu,” teman saya bercanda.&lt;br /&gt;Kami melupakan tema kue yang tidak laku. Ibu pemilik kue meninggalkan warung. Kembali bicara soal kegiatan masing-masing. Tukar cerita. Maklum sudah lama tidak bertemu. Sesekali pembicaraan terputus karena dia harus melayani pembeli. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, seorang ibu datang menghampiri meja tempat kue diletakkan. Dia mengambil piring plastic tempat kue nagasari.  Saya melihat di dalam piring itu ada tiga bungkus daun pisang.  &lt;br /&gt;“Empat”.&lt;br /&gt;Suara ibu itu terdengar agak nyaring. Maksudnya ada 4 kue yang laku.&lt;br /&gt;Berselang lima menit  setelah itu, seorang ibu lain yang nampaknya masih lebih muda, mengambil kue. Klepon. Dia menghitung isi klepon dalam plastic. &lt;br /&gt;“Lima”.&lt;br /&gt;Dia menyebutkan jumlah yang laku.&lt;br /&gt; Sungguh malang. Tapi mau apa, begitulah sudah kenyataannya.&lt;br /&gt;“Memang sekarang kue-kue lagi payah. Musim buah bah,” kata teman.&lt;br /&gt;Benar, kue-kue memang payah. Payah laku. Peminatnya kurang. Pembuatnya, membuat dengan susah payah. Dengan modal uang untuk membeli bahan dan modal tenaga. Mereka mau berusaha. &lt;br /&gt;Tetapi, saya tidak ada bayangan, bagaimana jika usaha mereka terus menerus payah. Pasti modal akan hangus. Pok. Kalau mereka pok, matilah riwayat kue-kue tradisional. Kue buatan ibu-ibu itu akan jadi kenangan.&lt;br /&gt;Bisakah mereka dibantu? Tiba-tiba saya teringat Visit Kalbar Years 2010. Seharusnya ini kesempatan mengangkat dan mempromosikan kue-kue lokal. Ini saatnya membantu ibu rumah tangga yang mau berusaha untuk kehidupan mereka, rumah tangga mereka dan anak-anak mereka. &lt;br /&gt;Tetapi bagaimana caranya?  Saya masygul. Saya belum menemukan jawabannya. Mudah-mudahan pemerintah dan para wirausahawan menemukan caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-329110266191555705?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/329110266191555705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=329110266191555705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/329110266191555705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/329110266191555705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/laku-tiga-buti.html' title='“Laku Tiga Buti’”'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7105728929564421309</id><published>2010-01-11T07:29:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:17:12.159-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Tak Ikutan FB</title><content type='html'>Oleh &lt;br /&gt;Yusriadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang ndak ikut facebook?!”&lt;br /&gt;Itulah kata yang diajukan seorang, kepada saya beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Saya tahu dia heran.  Dia pasti merasa aneh, mengapa saya tidak ikut seperti orang-orang lain. Dia heran mengapa saya tidak menjalin pertemanan melalui jejaring tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, dia memang harus heran. Sekarang – sejak satu tahun belakangan ini, orang memang sedang demam facebook (FB). Saya tahu itu karena saya melihat sendiri beberapa teman mengalami hal itu. Saya menggunakan kata ‘demam’ untuk menyebutkan betapa mereka sangat ketagihan terhadap FB itu. Bak kata, sehari tidak FB, rasa meriang, rasa tidak enak badan. Pening kepala tak bisa FB.&lt;br /&gt;Tiap hari mereka merasa harus membuka computer, karena mereka merasa perlu melihat perkembangan jaringan ‘pertemanan’ di FB. Jaringan pertemanan ini membuat mereka tahan berlama-lama berada di depan computer, melayari laman web dari pagi hingga siang. Dari siang hingga malam. Dari malam hingga larut malam. Ada teman yang seharian penuh FB. Bak kata, dia jadi lupa waktu, lupa makan. Lupa kerja. Hanya sesekali dia buat kerja lain.&lt;br /&gt;Apa yang dibuat mereka dengan FB? Ada yang bilang, dia bisa meninggalkan ‘kata (biasanya kata-kata bijak, atau kata pilihan)’ di FB. Ada yang bisa memberikan tanggapan terhadap tanggapan orang lain. Tanggap menanggap. Ada yang memilih chating. Justru katanya, chating memang paling asyik dilakukan.  &lt;br /&gt;Teman bilang, FB membuat teman memiliki banyak teman.&lt;br /&gt;“Kita bisa ketemu teman lama”.&lt;br /&gt;Dia menunjukkan contoh, gara-gara FB dia bertemu dengan teman sewaktu SMP dahulu. Belasan tahun sudah tidak bertemu, belasan tahun tidak ada kabar.  &lt;br /&gt;Tetapi, dengar-dengar, FB juga memberi ruang kepada  seorang bisa menyalurkan kenakalannya. Nakal karena dia bisa merayu teman baru di FB, bisa ngegombal, dll. Saya kira, bagi orang muda dan berjiwa muda, tentu saja ngegombal ini pekerjaan yang asyik. Ada yang jadian setelah sering gombal menggombal melalui jaringan ini. Kalau tidak percaya, coba saja!&lt;br /&gt;Di balik keasyikan tadi, FB juga bisa bikin masalah. Saya pernah mendengar di sebuah kantor, jaringan FB (internet?) ditutup karena ada karyawan yang tidak produktif karena FB terus. Pekerjaan menjadi tidak terurus maksimal.  Dia tidak dapat menahan diri. Isolasi jaringan baru dibuka setelah ada reaksi. Saya senyum sendiri mendengar kisah seru itu. Saya senyum membayangkan betapa orang-orang pecandu FB kelimpungan tidak bisa melihat jejak terakhir pertemanannya di jaringan.&lt;br /&gt;Justru itu, apa yang terjadi pada teman-teman membuat saya tidak berani ikutan FB. Saya sering diundang untuk masuk jaringan pertemanan. Tetapi sampai hari ini, saya belum ikut. Saya tidak ikut karena saya khawatir, saya akan seperti teman yang kecanduan duluan. Saya akan menjadi orang yang (semakin) gombal. Saya akan menjadi orang yang (semakin) narsis. Saya khawatir, waktu di depan computer jadi lebih banyak dihabiskan untuk FB. Padahal, banyak pekerjaan lain yang harus saya kerjakan. &lt;br /&gt;Sungguh, saya hampir yakin, kalau saya masuk dalam jaringan FB saya akan sangat aktif dalam jejaring ini. Bayangkan, ada teman meninggalkan komen di “dinding” FB saya, masak saya tidak balas? Mungkin saya juga akan tertarik membuka komentar teman-teman dan meninggalkan komentar di sana. Mungkin saya akan tertarik untuk ngegombal dan menyalurkan kenakalan. Kalee…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8813459614357840767-7105728929564421309?l=yusriadiebong.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/feeds/7105728929564421309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8813459614357840767&amp;postID=7105728929564421309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7105728929564421309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8813459614357840767/posts/default/7105728929564421309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yusriadiebong.blogspot.com/2010/01/tak-ikutan-fb.html' title='Tak Ikutan FB'/><author><name>Yusriadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8813459614357840767.post-7520683233342121741</id><published>2010-01-11T07:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T06:17:47.707-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Yusriadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suara Enggang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Melayu'/><title type='text'>“Melayu Jangan Berjudi”</title><content type='html'>Oleh Yusriadi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melayu jangan berjudi”.&lt;br /&gt;Nasehat itu masih terngiang di telinga saya, meskipun saya mendengarnya sudah lebih dua bulan lalu. Saya terkesan pada nasehat itu, pada kalimat itu, karena kata-kata itu mengingatkan saya pada seorang lelaki tua penjual jasa di pinggir jalan di kawasan Sungai Jawi, Pontianak. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, kalau yang diingatkan itu saya sebagai muslim, mungkin saya tidak akan terkesan. Yang beliau ingatkan itu ‘Melayu’. Saya dianggapnya Melayu, setelah dia tahu saya beragama Islam. Saya tidak membantahnya, sebab memang di kalangan sebagian besar masyarakat lokal: pribumi Islam sama dengan Melayu. &lt;br /&gt;Lha, mengapa Melayu tidak boleh berjudi? Selama ini saya beranggapan, etnik dan prilaku tidak berkaitan. Etnik hanyalah salah satu pilihan identitas. Sedangkan prilaku dibentuk oleh lingkungan. Saya juga beranggapan, kalau bisa, semua etnik jangan berjudi. Bukan Melayu saja.&lt;br /&gt;Mengapa lelaki tua itu berkesimpulan begitu? Sangat menarik.&lt;br /&gt;Selain itu, kalau yang mengingatkan saya jangan berjudi itu seorang ustadz, penceramah, rasanya, pasti saya tidak akan merasa terkesan. Biasa saja. Larangan itu sering saya dengar. Judi memang haram. Dalilnya jelas. Tidak ada perdebatan soal itu.&lt;br /&gt;Namun, ini, yang memberi saya nasehat, orang pinggir jalan. Orang yang tidak menggunakan pendekatan agama. Saya terkesan karena dia mengingatkan itu dengan pendekatan lain: pendekatan pengalaman. Larangan itu terumuskan dari pelajaran hidup yang telah dia jalani.&lt;br /&gt;Sebenarnya saya kebetulan saja bertemu dengan lelaki tua itu. Saat itu saya menunggu hujan reda di sebuah ruko di Sungai Jawi, Pontianak. &lt;br /&gt;Mula-mula dia menceritakan bahwa dia pernah ketagihan bermain judi, sewaktu muda dahulu. Mungkin kira-kira tahun 1980. Setiap hari. Dia tidak perduli pada rumah tangga. Pada kerja. Malah sebaliknya judi membuat rumah tangganya berantakan. Harta habis. Perhiasan istri tergadai. &lt;br /&gt;Tak bisa meminta baik-baik, dia menipu istrinya. Berbohong. &lt;br /&gt;Dia pernah didatangi istrinya, dipukul dengan sandal, di depan orang banyak. Waktu itu istri kesal sebab dia mengambil uang belanja. Kerjanya mirip-mirip mencuri – yang dicuri uang belanja istri. Meskipun dia dipukul di depan orang banyak, namun dia tidak merasa malu, sedikitpun. &lt;br /&gt;“Judi membuat kita tidak ada malu lagi. Jahat betul kalau sudah ketagihan,” akunya.&lt;br /&gt;Dia sangat yakin bahwa judi tidak akan membuat orang kaya, sekalipun sesekali ada menangnya. Kemenangan menurutnya hanya pancingan agar nafsu berjudi bertambah, meningkat. Judi menguras harta, bukan menambah harta.&lt;br /&gt;Sekarang dia sudah tobat. Sekarang dia tidak lagi duduk di depan lapak. Sekarang dia menjual jasa. Pekerjaan yang halal. Justru itu, dia ingin mengingatkan orang lain agar tidak berjudi. Orang yang diingatkannya, termasuk saya.&lt;br /&gt;“Jadi, jangan coba-coba”. &lt;br /&gt;Namun saya lupa bertanya mengapa dan bagaimana dia bisa insyaf.&lt;br /&gt;Lepas mengingatkan agar jangan berjudi, dia juga men
