Jumat, 03 Juli 2015
Selamat untuk Juara
Mereka yang mendapat prestasi ini semoga senang dan terus belajar meningkatkan kemampuan. Sehingga pada akhirnya bisa meraih prestasi yang lain. Semoga orang tua mereka bisa ikut merasakan kebanggaan anak-anak mereka.
TRIMS UNTUK PAK HERMANSYAH YANG TELAH MEMBERIKAN BANTUAN MORIL DAN MATERIIL UNTUK ANAK-ANAK CLUB MENULIS.
SELAMAT YA... Baca Selengkapnya...
Diposting oleh Yusriadi di 01.40 1 komentar
Minggu, 28 Juni 2015
BUKU: Kawanku Orang Cina di Kalbar (Yusriadi, dkk, STAIN Press, 2015)
Penerbitan buku tentang Cina di Kalimantan Barat sangat penting dilakukan. Pertama, tulisan mengenai komunitas ini tidak banyak. Setidaknya tulisan-tulisan atau terbitan lokal tentang komunitas ini kalah jauh dibandingkan tentang komunitas Dayak atau Melayu. Akibat kurangnya publikasi lokal tentang orang Cina, maka informasi yang diperoleh mengenai komunitas ini menjadi terbatas; kalau tidak ada sama sekali.
Kedua, karena informasi tertulis (mungkin akademik) mengenai komunitas ini kurang, maka yang berkembang adalah kesan dan anggapan. Malangnya, kesan dan anggapan yang tumbuh di tengah masyarakat adalah stigma (negatif). Banyak sekali stigma mengenai komunitas ini, yang kadang kala menjerumuskan pandangan, membuat orang terperangkap dalam kesalahan anggapan.
Padahal, anggota Club Menulis merasakan bahwa banyak hal positif bisa dipetik dari pertemanan dan persahabatannya dengan orang Cina. Pada kenyataannya teman-teman atau sahabat mereka yang bersuku Cina memperlihatkan banyak sisi positif dan inspiratif. Teman-teman itu telah menyisakan kesan baik selama pertemanan berlangsung.
Kesan-kesan itulah yang coba dipersembahkan melalui tulisan ini. Ada 12 tulisan yang disajikan dalam buku ini. Tulisan Yusriadi berjudul Mereka Mengubah Stigma, menggambarkan contoh orang Cina yang “keluar” dari anggapan umum. Orang Cina yang digambarkan oleh awam sebagai non-Islam dan pengusaha, ternyata tidak selalu begitu. Ada orang Cina yang beragama Islam dan bukan menjadi pengusaha.
Hal yang hampir senada digambarkan dalam tulisan Zainal Aripin (Belajar Prinsip Kerja dari Teman Orang Cina), dan Al-Dhilla Izzati (Sikap Terbuka Si Amoy). Di balik cerita tentang etos kerja dan prinsip hidup, tergambar juga bahwa ada orang Cina yang beragama Islam.
Tulisan Siti Muslikhah (Perbedaan tak Menjadi Penghalang Persahabatan), menggambarkan tentang sikap ramah dan terbuka orang Cina yang dikenalnya. Mereka dan penulis tidak merasakan batas agama dan suku sebagai hambatan untuk saling akrab dan membantu.
Sedangkan tulisan Rahmat, Siti Fatimah, Yuyun Nailufar, Umi Ani Jusida, Putri Ramadhani, dan Farninda Aditya, menggambarkan tentang sifat-sifat menonjol di kalangan orang Cina. Penulis secara umum memperlihatkan betapa teman-teman mereka sudah mandiri sejak kecil, dan menonjol dalam bidang-bidang tertentu, seperti Matematika, Melukis atau bercerita. Jadi, amat wajar jika kemudian kita melihat bahwa mereka menjadi orang sukses di kemudian hari.
Kita memahami hasil akhir itu melalui pepatah yang sudah dikenal umum: siapa yang berusaha akan dapat. Rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya. Sayangnya, pepatah itu sering kali kita lupakan pada tataran praktik. Lebih malang lagi andai setelah melihat orang lain berhasil, muncul prasangka di benak sebagian kita.
Buku ini mungkin menimbulkan pertanyaan, tentang penggunaan istilah Cina, yang sedang dalam proses waktu untuk diganti dengan istilah Tionghoa. Kami sengaja menggunakan kata Cina dalam tulisan ini karena bentuk itulah yang digunakan di tengah masyarakat yang diceritakan. Dalam pertemanan, untuk rujukan apapun, istilah “Cina” - selalu digunakan. Sebaliknya istilah “Tionghoa”, terasa aneh kala hendak digunakan, karena tidak digunakan sehari-hari. Justru itulah, agar kesan positif dalam cerita ini dapat ditangkap secara baik, maka sajian alami coba dipertahankan.
Jika pun tersirat kesan negatif orang ketika mendapati istilah “Cina” dalam tulisan ini, perlu ditegaskan bahwa kesan itu muncul dari stigma yang ada di lingkungan pembaca. Faktanya, seperti yang diungkapkan dalam buku ini, istilah Cina digunakan secara netral.
Akhirnya, kami berharap agar buku ini bermanfaat bagi kita semua: terutama dalam mengubah cara kita berpikir tentang kehidupan dan proses yang harus dilalui. Kita masih harus melalui perubahan itu karena faktanya banyak diantara kita yang masih terbelakang. Kehidupan santai, slembe, instan, harus diganti dengan kehidupan yang ditata, diatur dan dipersiapkan. Allah telah mengingatkan dalam Quran (77:12) tidak akan merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri.
Segala kekurangan dalam tulisan ini mohon dimaafkan. Meski demikian kritikan dan saran kami nantikan untuk perbaikan yang akan datang.
Semoga Allah membuka pintu rahmat-Nya untuk kita semua. Barakallah.
Diposting oleh Yusriadi di 02.20 1 komentar
Buku "Cina Baru"
Club Menulis IAIN Pontianak telah menerbitkan buku berjudul "Temanku Orang Cina di Kalbar" (2015). Buku ini berisi pengalaman para penulis berteman dengan orang Cina --Tionghoa sebutan lainnya; di Kalimantan Barat. Para penulis mencatat kesan yang khas dan dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi dan pembelajaran. Apa itu? Miliki dan bacalah bukunya. Buku ini dapat dipesan melalui kontak blog ini atau email: yusriadii@yahoo.com . Cetakan pertama harganya Rp50 ribu, plus ongkos kirim.
Baca Selengkapnya...Diposting oleh Yusriadi di 02.14 0 komentar
Rabu, 24 Juni 2015
Bersama Masri S Putra OLEH YUSRIADI
Masri S. Putra hadir di Kantor TOP Indonesia memberikan motivasi menulis kepada sejumlah anak muda di Pontianak, Rabu (24/6). Beliau adalah penulis terkenal, kelahiran Jangkang Benua, Sekadau, Kalimantan Barat.
Saya berterima kasih kepada Bang Nur Iskandar, Dir. TOP Indonesia yang mengundang saya hadir. Saya merasa sangat beruntung diberikan kesempatan hadir dan mendengarkan cerita Bang Masri tentang penulisan, penerbitan dan pemasaran buku.
Beberapa catatan penting dari pertemuan tersebut, saya bagikan kepada pembaca.
1. Bang Masri mengingatkan bahwa menulis adalah kewajiban kita sebagai manusia yang telah diberikan kehidupan. Beliau mengingatkan dengan istilah yang unik: KITA HARUS MEMBUAT BUKU SEBANYAK UMUR KITA. JIKA BELUM, BERARTI KITA MASIH BERHUTANG.
Umur saya sudah 40 lebih, berarti saya harus menulis 40 lebih buku. Buku saya sekarang (yang ditulis sendiri) baru belasan. Berarti, hutang saya masih 30-an buku. Semoga dalam sisa hidup yang ada saya dapat melunasi hutang itu.
2. Bang Masri yang mengutip pendapat ahli, mengatakan bahwa menulis itu menyehatkan -terutama menyehatkan mental. Katanya, sudah ada penelitian mengenai perbedaan antara remaja yang suka menulis dan tidak suka menulis. Remaja yang suka menulis cenderung dapat mengontrol emosinya dan berprestasi.
Saya menyetujui hal ini. Survey terbatas saya pada sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa mahasiswa yang sejak awal suka membuat buku harian, cenderung memperlihatkan prestasi dalam kuliah, dan cenderung terlihat lebih enjoy.
3. Bang Masri mengingatkan --mengutip pendapat orang lain, bahwa setiap orang memiliki potensi dapat menulis karena menulis itu adalah skill (keterampilan). Keterampilan itu harus dilatih. Siapa yang rajin berlatih dia akan terampil.
4. Kata Bang Masri, Arswendo dapat menulis 5 halaman dalam waktu 15 menit. Bang Masti sendiri dapat menulis 30 halaman dalam 1 hari.
Saya selalu mengatakan, kecepatan menulis mahasiswa adalah 20 kata per menit. Kecepatan menulis siswa SMA 15 kata per menit. Kecepatan menulis siswa SMP 10 kata per menit.
ANDA?
5. Kata Bang Masri juga, pada saat Anda baru belajar menulis, apapun yang Anda tulis sering kali dianggap tidak bagus, tetapi, setelah Anda dikenal, apapun tulisan Anda akan dianggap bagus. Oleh karena itu, dari sekarang, simpanlah semua tulisan yang pernah Anda buat karena suatu ketika nanti akan diperlukan. Menurut Ernest Hamengway, banyak buku yang ketika ditulis, tidak dilirik oleh orang, setelah penulisnya mati, justru dicari orang.
6. Katanya, karya sastra yang bagus adalah karya yang menyentuh perasaan pembaca sehingga bagi pembaca apa yang ditulis adalah milik bersama. Karya yang bagus membuat pembaca mengatakan "Kok kayak pengalaman saya?".
7. Menurut Bang Masri, peluang kaya dari menulis sangat besar. Dia mencontoh pengalamannya sendiri dalam pemasaran buku. Hasil dari penjualan buku cukup besar.
8. Bahan Sumber lokal yang bisa ditulis juga sangat banyak. Tulislah apa yang diperlukan orang lain, dan hal yang tidak orang lain tulis.
AYO, MULAILAH MENULIS.
Diposting oleh Yusriadi di 07.12 0 komentar
Mulai Lagi
Pontianak, 24 Juni 2016
ASSALAMUALAIKUM WR. WB
Pembaca
Selamat menunaikan ibadah puasa semoga amal diterima Allah SWT.
Setelah beberapa tahun "menghilang" oleh berbagai alasan, hari ini, saya memulai lagi "ritual" yang terlupakan. Saya memulai menerbitkan lagi berbagai tulisan di blog ini.
Selamat Membaca.
Yusriadi
Diposting oleh Yusriadi di 06.28 1 komentar
Rabu, 20 Februari 2013
Club, Menulis
Diposting oleh Yusriadi di 06.51 0 komentar
Selasa, 03 April 2012
Menimang Perahu Demokrat Kalbar
Perahu Demokrat Kalbar menjadi tumpangan politik yang sedang menjadi pusat perhatian. Sejumlah tokoh mendaftarkan diri menumpang perahu ini. Mereka akan dinilai DPP Demokrat: siapa yang layak dialah yang menjadi penumpangnya kelak.
Seperti diberitakan, tokoh yang mendaftar menggunakan perahu ini ada belasan orang. Dari jumlah itu, terdapat nama Cornelis, Armyn Ali Anyang, Tambul Husin. Tiga nama ini selama ini menjadi perbincangan karena kans mereka melaju lebih besar.
Walaupun posisi tidak sama, namun, sebenarnya, dilihat dari sisi peta kekuatan dukungan, Cornelis sudah bisa dipastikan maju. Perahu PDIP Kalbar cukup besar untuk tumpangan politik. Sementara Tambul Husin kononnya sudah memiliki gandengan perahu politik, sekalipun gandengan itu adalah perahu-perahu kecil. Perahu yang benarnya agak rentang oleh ombak dan gelombang.
Sedangkan Armyn, sejauh ini masih belum dipastikan tumpangannya. Partai yang disebut-sebut akan memberikan tumpangan padanya masih belum menyatakan secara pasti dan terbuka. Peluang Armyn menumpang perahu sedang besar ini sangat terbuka, meskipun kemungkinan tidak jadi juga ada. Oleh sebab itu, dilihat dari sudut ini, tumpangan Demokrat menjadi sangat penting bagi Armyn.
Tetapi, tentu dunia politik dipenuhi intrik dan maneuver. Perubahan sikap dalam politik biasa terjadi sebelum keputusan diambil. Bahkan, sering orang mengingatkan perubahan politik bisa berlaku dari menit ke menit. Bukan lagi dari bulan ke bulan atau dari pekan ke pekan.
Dunia politik juga mengandalkan perhitungan cermat dan detail. Termasuk perhitungan fulus. Orang sering mengaitkan politik dengan biaya politik. Orang sering mengatakan politik mempertimbangan keuntungan, dan keuntungan yang paling dominan ditimbang adalah keuntungan financial.
Perahu politik ada mesin politiknya. Dan mesin politik itu digerakkan dengan ‘minyak’ yang harus dibeli dengan uang. Minyak itu kadang kala hitungan miliaran rupiah.
Oleh sebab itu, sering kali harus dimaklumi bahwa perkara tumpangan menuju kursi kekuasaan dan idaman, bukan soal apakah perahu politik itu sudah bermuatan atau masih kosong. Bukan juga soal kasihan atau tidak karena calon penumpang itu belum ada tumpangan. Bukan juga soal kualitas orang yang akan diberikan tumpangan dan kapasitas kemenangan yang akan diraih kelak.
Kita perlu mengingatkan semua ini agar ekspektasi kita tidak terlalu muluk kepada Demokrat, dan juga kepada partai politik lain. Mudah-mudahan kelak tidak ada rasa kecewa yang mendalam jika keputusan berbeda dari harapan.
Namun, senyampang dengan itu, kita juga perlu mengingatkan para politisi yang ada di partai untuk mempertimbangankan harapan dan ekspektasi masyarakat yang menginginkan perahu politik ditumpangkan untuk calon yang memang memiliki kapasitas kepemimpinan, lebih besar ketimbang mereka memberikan tumpangan untuk calon penumpang yang mampu membeli minyak untuk mesin politik lebih banyak. Semoga.
Diposting oleh Yusriadi di 03.09 1 komentar
Label: Tajuk HBT
Catatan untuk Koalisi PPP, PAN, PBR, PKS dan Hanura di Pilgub 2012
PPP, PAN, PBR, PKS dan Hanura sudah mendeklarasikan diri akan berkoalisi di Pilgub Kalbar 2012. Mereka akan mengusung calon yang sama dalam pesta demokrasi tersebut.
Deklarasi ini memastikan rumors yang beredar selama ini bahwa partai-partai menengah ini akan mengusung satu calon dalam Pilgub mendatang. Partai menengah ini tidak akan berkoalisi dengan partai besar yang sudah pasti akan mengusung calon sendiri.
Siapa calon itu? Semuanya masih dalam proses penyaringan. Partai-partai ini sedang membuka pendaftaran calon. Calon yang mendaftar ini kelak akan diseleksi dan kemudian maju menggunakan perahu koalisi.
Meskipun belum ada nama calon yang akan menumpang perahu ini, namun, petinggi partai sudah membuat criteria calon. Ada criteria tertentu yang harus dipenuhi.
Melihat criteria yang ditetapkan kita berharap agar bisa terpenuhi. Kita juga menginginkan partai-partai bisa mengurung orang terbaik, sehingga pada akhirnya masyarakat juga bisa memilih orang terbaik. Masyarakat tidak akan bisa memilih calon terbaik jika orang yang diusung partai bukan orang yang terbaik. Sebab, apa yang dipilih masyarakat sesungguhnya adalah apa yang sudah dipilih atau disaring oleh partai. Masyarakat hampir tidak punya pilihan jika partai sudah membuat pilihan.
Kita ingin dalam pemilihan gubernur kali ini partai-partai mempertimbangkan kepentingan masyarakat pemilih dan kepentingan Kalbar ke depan. Masyarakat pemilih dan Kalbar ke depan memerlukan figure yang terbaik yang memiliki kapasitas kepemimpinan, memiliki track record yang baik. Figur yang dipilih adalah figure yang beriman, bermoral, professional, aspiratif, popular dan seterusnya, sesuai dengan criteria yang disebutkan elit parpol itu.
Hal seperti ini penting diingatkan karena sering kali dalam seleksi calon, soal-soal seperti itu dilupakan partai. Malah sassus yang terdengar sampai ke ruang public, calon yang ditumpangkan bukan dipilih berdasarkan pertimbangan criteria ideal, tetapi sebaliknya dipilih berdasarkan pada kemampuan financial untuk membayar perahu. Calon yang boleh menumpang hanya calon yang memiliki uang yang banyak atau memiliki modal yang besar. Lantas, calon yang ideal karena kalah modal, akhirnya tidak bisa maju dalam pemilihan.
Semoga Pilgub menghasilkan pemimpin terbaik yang dapat membawa Kalbar lebih maju di masa yang akan datang. Semoga parpol tetap mau mendengar suara rakyat.
Diposting oleh Yusriadi di 03.07 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Melihat Hubungan Pemerintah dan Rakyat
Demo penolakan terhadap kenaikan harga BBM yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini menunjukkan hal yang penting soal hubungan antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah mengatakan kenaikan harus dilakukan agar APBN tidak jebol, sedangkan rakyat menolak kenaikan itu karena menganggap bahwa masih ada pilihan lain selain kenaikan itu.
Kini, kedua sikap itu bertemu di ruang public. Sikap mana yang kelak akan menjadi putusan akhir saat pengesahan APBN Perubahan di Senayan, masih ditunggu perkembangannya.
Jika pemerintah benar, mengapa rakyat tidak memahami kebenaran itu? Kenapa pemerintah tidak bisa meyakinkan rakyat mengenai kebenaran itu? Sejauh mana pemerintah berusaha meyakinkan rakyat mengenai kebijakan itu?
Jika rakyat yang benar, mengapa suara itu tidak bisa menyadarkan pemerintah sehingga akhirnya mereka dapat menampung suara rakyat? Mengapa suara rakyat hanya didengar sesekali saja terutama saat pemilihan umum?
Sebaliknya, jika pemerintah salah perhitungan seperti ditunjukkan sejumlah pengamat perminyakan dan politisi, mengapa pemerintah tidak mau mundur dari kebijakan itu? Mengapa pemerintah bersikukuh dengan kebijakan itu?
Atau, jika rakyat salah, mengapa mereka tidak mau berlapang dada menerima keputusan pahit soal kenaikan harga minyak dan harga barang? Mengapa mereka masih ngotot seakan-akan mereka mengerti soal keuangan Negara?
Sesungguhnya banyak lagi persoalan yang menarik dilihat dalam konteks ini. Kita merasakan bahwa apa yang terjadi sekarang penuh teka teki; sesuatu yang sulit dipahami.
Kita berharap apapun keputusan akhir, semoga keputusan itu menjadi pilihan yang terbaik untuk bangsa ini; baik untuk pemerintah dan baik untuk rakyat. Kita juga berharap apapun keputusan akhir, diterima dengan lapang karena mungkin begitulah pilihan yang dapat diambil pemerintah saat ini.
Keributan tidak pernah akan menyelesaikan masalah. Justru sebaliknya keributan mungkin akan menimbulkan masalah baru. Padahal, kita ingin setiap persoalan diselesaikan agar tidak banyak beban yang harus ditanggung oleh bangsa ini.
Semoga.
Diposting oleh Yusriadi di 03.06 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Masih Banyak Pekerjaan untuk Mewujudkan Damai di Kalbar
Masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mewujudkan perdamaian di Kalbar. Berbagai pihak yang mencintai kedamaian dan para pengambil keputusan masih harus memikirkan langkah-langkah mewujudkan perdamaian yang kekal.
Itulah kesan kita ketika menyaksikan ketegangan yang terjadi di Kalbar medio Maret. Peristiwa yang berawal dari sebuah spanduk bertuliskan “Bubarkan FPI di Kalbar” yang hendak diturunkan massa telah melebar menjadi konflik bernuansa etnik dan agama.
Peristiwa yang mulanya terjadi di Jalan Penjara, kemudian meluas di beberapa titik kota dan akhirnya menyeruak ke seantero Kalbar. Kabar yang berkembang bertambah seram dan warga yang mendengarnya menjadi seram dan geram.
Bentrok nyaris membesar dan mengkhawatirkan. Bayangan tentang kerusuhan masa lalu kembali muncul.
Walaupun kemudian konflik tidak meluas, walaupun massa bisa menahan diri dari tindakan yang anarkis, namun, cermin kejadian ini menunjukkan bahwa sentiment etnik dan agama sangat mudah disulut.
Kemarahan terhadap kelompok lain tiba-tiba membesar. Tiba-tiba orang menganggap orang lain yang selama ini hidup berdampingan dengan mereka, menjadi musuh. Tiba-tiba orang ingin membunuh orang lain.
Peristiwa ini menunjukkan betapa mudahnya orang menyatakan perang sekalipun sering kali mereka meniupkan perdamaian dan persaudaraan. Peristiwa ini menunjukkan orang di Kalbar masih mudah kalap dan kehilangan ikatan persaudaraan yang luas.
Apakah solusi yang dapat dilakukan? Menurut kita, pertama, masyarakat Kalbar harus dicerdaskan. Masyarakat Kalbar harus dibuka wawasan tentang provokasi dan bahayanya. Masyarakat harus diajarkan untuk cek dan cek setiap informasi. Tidak mudah percaya pada orang-orang yang menyebarkan apapun informasi.
Soal sekarang adalah bagaimana membuat masyarakat cerdas? Masyarakat bisa dicerdaskan dengan mendorong pendidikan mereka. Masyarakat harus didorong untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, lebih tinggi dibandingkan keadaan sekarang yang hanya setara tamatan SD.
Bagaimanapun, jika pendidikan masyarakat sudah tinggi, maka mereka tidak akan mudah diasak-asak oleh provokator. Mereka tidak akan mudah diumpan dengan sebungkus rokok, sebungkus nasi kotak atau selembar uang lima puluh ribu.
Kita harapkan semoga semua pihak dapat memainkan peran dalam upaya pencerdasan itu. Semoga Kalbar damai bisa terwujud.
Diposting oleh Yusriadi di 03.05 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Masih Banyak Pekerjaan untuk Mewujudkan Damai di Kalbar
Masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mewujudkan perdamaian di Kalbar. Berbagai pihak yang mencintai kedamaian dan para pengambil keputusan masih harus memikirkan langkah-langkah mewujudkan perdamaian yang kekal.
Itulah kesan kita ketika menyaksikan ketegangan yang terjadi di Kalbar medio Maret. Peristiwa yang berawal dari sebuah spanduk bertuliskan “Bubarkan FPI di Kalbar” yang hendak diturunkan massa telah melebar menjadi konflik bernuansa etnik dan agama.
Peristiwa yang mulanya terjadi di Jalan Penjara, kemudian meluas di beberapa titik kota dan akhirnya menyeruak ke seantero Kalbar. Kabar yang berkembang bertambah seram dan warga yang mendengarnya menjadi seram dan geram.
Bentrok nyaris membesar dan mengkhawatirkan. Bayangan tentang kerusuhan masa lalu kembali muncul.
Walaupun kemudian konflik tidak meluas, walaupun massa bisa menahan diri dari tindakan yang anarkis, namun, cermin kejadian ini menunjukkan bahwa sentiment etnik dan agama sangat mudah disulut.
Kemarahan terhadap kelompok lain tiba-tiba membesar. Tiba-tiba orang menganggap orang lain yang selama ini hidup berdampingan dengan mereka, menjadi musuh. Tiba-tiba orang ingin membunuh orang lain.
Peristiwa ini menunjukkan betapa mudahnya orang menyatakan perang sekalipun sering kali mereka meniupkan perdamaian dan persaudaraan. Peristiwa ini menunjukkan orang di Kalbar masih mudah kalap dan kehilangan ikatan persaudaraan yang luas.
Apakah solusi yang dapat dilakukan? Menurut kita, pertama, masyarakat Kalbar harus dicerdaskan. Masyarakat Kalbar harus dibuka wawasan tentang provokasi dan bahayanya. Masyarakat harus diajarkan untuk cek dan cek setiap informasi. Tidak mudah percaya pada orang-orang yang menyebarkan apapun informasi.
Soal sekarang adalah bagaimana membuat masyarakat cerdas? Masyarakat bisa dicerdaskan dengan mendorong pendidikan mereka. Masyarakat harus didorong untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, lebih tinggi dibandingkan keadaan sekarang yang hanya setara tamatan SD.
Bagaimanapun, jika pendidikan masyarakat sudah tinggi, maka mereka tidak akan mudah diasak-asak oleh provokator. Mereka tidak akan mudah diumpan dengan sebungkus rokok, sebungkus nasi kotak atau selembar uang lima puluh ribu.
Kita harapkan semoga semua pihak dapat memainkan peran dalam upaya pencerdasan itu. Semoga Kalbar damai bisa terwujud.
Diposting oleh Yusriadi di 03.02 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Gaharu dan Pengembangan Potensi Lokal Kalbar
Seminar internasional tentang budidaya gaharu yang akan dilaksanakan di Singkawang, Sabtu 3 Maret 2012 mendatang seharusnya mendapat perhatian pemerintah kita, terutama instansi terkait di level provinsi dan kabupaten.
Pemerintah kabupaten yang selama ini menjadi sumber produksi gaharu alam – seperti Sintang, Kapuas Hulu, harus tergerak hati untuk berpartisipasi dalam seminar ini, sehingga pada akhirnya diperoleh wawasan baru dengan tukar pengalaman dan menimba ilmu bagaimana membudidayakan gaharu dilakukan.
Dilihat dari para pembicara yang akan hadir -- seperti Dr Ir Tarsoen Warsono,M.Sc Dirjen Kalpataru, Witsawa Sripetkla dari Thailand, Zamakhsyrary Mustapa dari Kuala Lumpur, dan Manshur, SH,MA Ketua Umum Asgarin alias Asosiasi Gaharu Indonesia serta Maruly Manalu sebagai petani lokal yang sukses bertanam gaharu – kiranya tambahan wawasan dan pengalaman pasti bisa diperoleh. Bahkan lebih dari itu, mungkin setelah forum ini daerah-daerah bisa memperoleh pendampingan jika ingin melakukan budidaya tanaman itu.
Kita memang menaruh harapan besar terhadap setiap upaya mendongkrak ekonomi rakyat dengan basis potensi lokal. Upaya seperti ini akan berdampak sangat positif.
Gaharu selama ini tumbuh di banyak tempat di wilayah Kalimantan Barat. Gaharu tumbuh di hutan secara liar. Selama ini satu persatu pohon gaharu dibabat, dicincang batangnya untuk mencari gaharunya.
Masyarakat menjadi gaharu sebagai sumber pendapatan disamping usaha lain. Mereka mengambil sesuatu yang diberikan tuhan di sekitar kampung dan hutan mereka.
Di balik gairah mencari gaharu di beberapa wilayah di Kalbar, masyarakat terbuai. Mereka menebang tetapi lupa menanam. Gaharu yang tumbuh alami mungkin tidak dapat lagi diharapkan banyak di masa-masa yang akan datang. Kenyataan ini membuat masyarakat pada kehilangan sumber pendapatan.
Padahal, seperti dikatakan Dr. Elias Tana Moning, berdasarkan pengalaman di beberapa tempat gaharu juga bisa ditanam. Lahan yang cukup dan cocok memungkinkan gaharu tumbuh dengan baik dan kemudian menjanjikan tambahan pendapatan yang berkelanjutan, dan menjadi sumber pendapatan lain di samping karet.
Kita yakin di kemudian hari jika usaha budi daya ini ditekuni sejak hari ini maka di masa yang akan datang kita akan menikmati hasilnya.
Diposting oleh Yusriadi di 03.00 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Meningkatkan Kompetensi Guru
Pelaksanaan Ujian Kompetensi Awal (UKA) bagi guru di Indonesia dilaksanakan Sabtu (25/2) kemarin. Pelaksanaan test kompetensi ini dilakukan dalam rangka penerapan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan profesi guru menuju ‘’Guru Profesional”’.
Hasil tes memang belum diumumkan karena jawaban-jawaban guru masih akan diperiksa dan dinilai. Namun, melihat bahwa tes yang dilakukan sekarang hanya dilaksanakan tertulis, maka kita pesimis melihat hasilnya. Tes tertulis hanya merepresentasikan pengetahuan guru tentang apa yang ditanyakan pada mereka. Hasil tes tertulis mengandalkan apa yang dapat diingat dalam waktu yang singkat –sepanjang alokasi waktu yang disediakan.
Test tertulis seperti ini tidak akan dapat menggambarkan keterampilan dan sikap guru. Sikap dan keterampilan tergambar pada perbuatan. Pada perilaku sehari-hari. Dan, semua itu memerlukan instrumen penilaian tersendiri dan waktu yang cukup panjang.
Padahal, bicara tentang profesional guru kita bicara juga tentang hubungan guru dengan siswa, kemampuannya memanage kelas, juga hubungannya dengan orang tua siswa. Guru profesional adalah guru yang memiliki semangat mengajar dan memiliki dedikasi untuk tugas-tugasnya sebagai pendidik.
Oleh karena itulah seharusnya evaluasi ini berdasarkan pada keterampilan dan sikap. Sekali lagi bukan pengetahuan.
Mungkin karena itulah sesungguhnya seiring dengan pelaksanaan UKA ini, pemerintah akan memadankan hasil UKA ini dengan program lain untuk guru, yaitu pendidikan dan latihan. Pendidikan dan latihan akan menjadi alternatif yang mungkin dapat diambil dalam konteks ini.
Namun perlu juga dicatat bahwa pelaksanaan pendidikan dan latihan selama ini juga sering kali diragukan hasilnya untuk meningkatkan kapasitas guru. Pelatihan lebih banyak hanya melepaskan kewajiban proyek dibandingkan benar-benar meningkatkan kapasitas guru. Mungkin saatnya dievaluasi sistem, metode dan pemateri pelatihan.
Kita berharap pada akhirnya semua yang diniatkan pemerintah, semua yang diharapkan publik, yaitu lahirnya guru profesional, benar-benar bisa terwujud. Semoga anak-anak bangsa yang akan depan hanya dididik oleh guru yang benar-benar pendidikan.
Diposting oleh Yusriadi di 02.59 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Menyoal Keterlibatan Tiga Petugas LP dalam Sindikasi Narkoba
Tiga oknum LP: Dwinanto, Ridwansyah dan Ivan sudah dikirim ke BNN Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tiga orang itu diduga terlibat dalam jaringan sindikasi narkoba Mr. Lau, warga negera Malaysia di LP Kelas II Pontianak.
Seperti diberitakan keterlibatan mereka diketahui setelah BNN melakukan inspeksi ke LP dan menemukan adanya peredaran narkoba di sini. Lantas, kasus dikembangkan dan kemudian terkuaklah dugaan keterlibatan tiga petugas LP.
Kita menyampaikan apresiasi atas kerja BNN membongkar kasus ini. Kiranya petugas yang sudah menunjuk usaha yang maksimal berhasil menjalankan tugas ini harus diberikan penghargaan. Jangan sampai kemudian, pekerjaan mereka justru lebih dihargai oleh orang yang tak seharusnya memberikan penghargaan.
Kita memberikan apresiasi karena untuk membongkar jaringan seperti ini bukan mudah. Pasti jaringan seperti ini terproteksi. Tidak mungkin mereka para pelaku berani melakukan pelanggaran kalau mereka tidak merasa akan ada yang melindungi mereka. Sekarang, tentu sangat menarik mengetahui siapa orang yang menurut mereka sangat diandalkan untuk membela mereka? Siapa orang yang berusaha membebaskan dan atau meringankan hukuman mereka? Siapa orang yang selama ini mereka taburkan uang untuk menjaga kepentingan jaringan ini?
Usaha yang sudah dilakukan oleh BNN ini harus dilanjutkan. BNN harus berusaha membongkar jaringan lain misalnya soal maraknya peredaran narkoba di tempat tertentu.
Selain itu setelah kasus ini dilimpahkan, Kejaksaan dan Pengadilan harus memberikan hukuman yang terberat untuk pelaku. Terhadap Mr. Lau yang tidak jera-jeranya melakukan pelanggaran dan tega-teganya merusak masa depan orang di Kalbar, juga terhadap istri dan tiga pegawai LP.
Pegawai LP harus dihukum berat juga. Selain soal narkoba dan mereka sudah pasti tahu bahaya narkoba itu, sebagai petugas mereka telah mengabaikan amanah yang diberikan kepada mereka. Mereka seharusnya membantu warga hunian agar kembali menjadi masyarakat baik, bukan sebaliknya membantu warga hunian untuk tetap melakukan pelanggaran hukum.
Kita juga menganggap bahwa orang-orang yang seharusnya memberikan pengawasan kerja terhadap tiga pegawai ini juga harus dievaluasi. Mungkin atasannya tidak tahu dalam jaringan ini, tetapi, seharusnya mereka ambil tahu. Jika mereka tidak mau mengambil tahu, maka seharusnya jabatan yang disandang mereka diambil saja.
Kementerian Hukum harus menganggap keterlibatan oknum ini merupakan persoalan serius lembaga. Prilaku mereka mencoreng nama lembaga. Aneh sekali orang di lembaga yang seharusnya melakukan pembinaan terhadap warga binaan, ternyata bersikap seperti itu.
Termasuk juga orang-orang yang selama ini menjadi kurir atau diperalat untuk meloloskan barang-barang haram di pintu pemeriksaan. Paling tidak, apa yang terjadi sekarang harusnya menjadi bahan pembelajaran agar persoalan sama tidak terulang di kemudian hari. Pada intinya, orang-orang yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawabannya.
Semoga upaya kita membersihkan lingkungan dari narkoba bisa berjalan dengan baik. Semoga lingkungan kita bisa bersih narkoba seperti yang kita harapkan.
Diposting oleh Yusriadi di 02.58 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Morkes dan Mesin Politik Golkar
Niat Partai Golkar mengusung kadernya sendiri dalam Pemilihan Gubernur Kalbar mendatang sudah kita dengar sejak lama. Namun selama ini persoalan itu kita dengar samar-samar. Meskipun pernyataan itu disampaikan orang-orang penting di Golkar provinsi, tetapi publik masih menganggap semua itu hanya retorika politik saja. Sebuah maneuver yang digemakan untuk menjajal pasar dan meningkatkan nilai tawar.
Publik selama ini meragukan keseriusan Golkar karena kenyataan di lapangan persiapan itu tidak nampak. Morkes yang disebut-sebut akan maju tidak terlihat menyiapkan diri – setidaknya tidak seperti orang yang benar-benar ingin menjadi gubernur. Setidaknya kenyataan ini agak berbeda dibandingkan dengan calon yang selama ini disebut-sebut ingin maju seperti Cornelis, Tambul Husin dan Armyn Alianyang. Publikasi ketiga calon ini dan persiapan mereka di lapangan cukup mencolok.
Lebih dari itu beberapa kali wawancara Borneo Tribune terhadap politisi partai Golkar seperti enggan bersuara dan penuh teka-teki. Kesan menyimpan rahasia dan loyal pada atasan tidak dapat menutup keraguan publik bahwa sebenarnya memang Golkar tidak siap mengusung kadernya sendiri yang lebih menjual. Survey-survey Golkar kononnya sudah dilakukan namun hasilnya juga tidak diketahui. Siapa-siapa tokoh yang disurvey, kapan pelaksana survey dan siapa yang melakukannya tidak diketahui umum.
Karena itulah pernyataan Morkes bahwa Golkar akan mengusung kadernya sendiri dan kesiapan Morkes maju dalam Pilgub mendatang menepikan keraguan yang selama ini muncul. Mungkin, setelah pernyataan dibuat pekan lalu, Golkar akan mulai bergerak seperti yang disebutkan “Golkar akan menghidupkan mesin politiknya”. Agaknya, Golkar menganut prinsip, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Kita berharap bahwa keinginan Morkes maju dan terpilih menjadi kenyataan. Ya, kita hanya bisa melihat dan berharap semoga partisipasi Golkar dalam Pilgub mendatang memberikan dampak yang baik terhadap pendidikan politik rakyat dan juga baik untuk Kalbar; mudah-mudahan juga akan baik bagi Morkes dan Golkar itu sendiri.
Harapan itu perlu kita sampaikan karena kita tidak berharap partisipasi Golkar dalam kacah politik menambah hingar bingar bahang politik dan justru akhirnya membuat gerah. Jangan sampai kehadiran kandidat yang banyak akan membuat mereka saling ‘serang’ untuk melumpuhkan lawan politik.
Kita tidak berharap majunya kandidat dalam Pilgub Kalbar 2012 ini akan menjadi kontra produktif bagi masa depan daerah ini. Cukup sudah perebutan kekuasaan, pertikaian, pelampiasan energy negative kita saksikan. Jika masing-masing kononnya ingin maju agar Kalbar maju, agar masyarakat Kalbar sejahtera dan lebih baik, maka sebaiknya mereka menampilkan cara-cara berpolitik yang santun dan elegan.
Di sisi yang lain kita juga tidak ingin majunya Morkes dan Golkar malah menjadi blunder bagi Morkes dan Golkar itu sendiri. Morkes dan Golkar adalah asset bagi Kalbar. Bagaimanapun kekalahan selalu lebih menyakitkan jika tidak diimbangi dengan kesadaran kemungkinan kalah. Kekalahan akan lebih menyakitkan ketika obsesi memuncak dan mimpi tersangkut di pucuk pohon.
Diposting oleh Yusriadi di 02.56 0 komentar
Label: Tajuk HBT
Menyoal Kebijakan Pemerintah Menjelang Kenaikan BBM
Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM per 1 April 2012 nampaknya hampir pasti. Setidaknya dalam sejumlah kesempatan para petinggi negeri ini sudah menyampaikan rencana itu.
Seperti yang disampaikan sejumlah pemerintah dan juga pengamat ekonomi, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak bisa ditawar lagi. Suatu keharusan. Pemerintah mengambil sikap itu dengan pertimbangan agar APBN tidak jeblok menanggung subsidi menyusul kenaikan minyak dunia. Jika harga minyak bersubsidi tidak dinaikkan maka Negara akan menanggung subsidi yang besar. Subsidi besar akan sangat tidak sehat untuk Negara ini.
Namun yang menjadi soal adalah mengapa pemerintah mengurakan kenaikan itu jauh-jauh hari? Mengapa orang tertentu di pemerintahan seperti menggunakan kabar kenaikan itu sebagai pengalihan isu dari berbagai isu sentral saat ini?
Tentu saja pertanyaan ini penting diberikan mengingat dua hal. Pertama, sejak kabar ini diumumkan ekonomi bawah sudah bergejolak. Sejak kabar ini disampaikan ke publik harga sejumlah barang sudah naik. Kenaikan terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, sekalipun dampak riil dari kebijakan itu sebenarnya belum terjadi.
Kenyataannya sekarang ini spekulan bermain di tengah isu itu. Mereka mendapat alasan untuk menahan barang tertentu dan kemudian melepaskannya dengan menaikkan harga jual. Mereka mendapat untung dari kabar yang disampaikan pemerintah itu.
Malangnya, apa yang spekulan lakukan seperti dibenarkan oleh pemerintah. Pemerintah tidak berkutik di tengah situasi ini. Pemerintah tidak berdaya mengatasi aksi spekulan menaikkan barang. Sudah jelas sikap ini merupakan sesuatu yang agak aneh. Apakah sikap peduli pemerintah terhadap aksi para spekulan ini menunjukkan orang di pemerintahan sebenarnya kurang memperhatikan rakyat, terutama rakyat yang berpenghasilan rendah?
Menurut pendapat kita, seharusnya pemerintah bergerak, karena membiarkan situasi pasar bergerak sendiri akan menyebabkan masalah ekonomi. Setidaknya, pasti inflasi akan tinggi. Pertumbuhan ekonomi akan terganggu.
Kedua, sebenarnya berharap pemerintah belajar dari kenaikan BBM beberapa waktu lalu yang hanya menimbulkan riak kecil di tengah masyarakat. Ketika itu, kenaikan tidak diurakan dan pemerintah juga memilih mengambil kebijakan menaikkannya secara bertahap. Kenaikan waktu itu tidak menimbulkan keterkejutan. Karena itu kenaikan tidak menyebabkan masyarakat kelimpungan.
Apakah kali ini pengambil kebijakan mengambil sikap seperti itu karena mereka menganggap rakyat juga tidak marah karena mereka diam saja? Apakah mereka memilih tidak bersikap karena mereka tahu rakyat juga tidak mengambil sikap yang serius pada mereka? Mari kita jawab dengan renungan.
Diposting oleh Yusriadi di 02.53 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Tajuk HBT
Meningkatkan Mutu Dosen Indonesia
Oleh: Yusriadi
Saat peserta Jakarta Lawyer Club TVONE sedang mendebatkan soal premanisme di Indonesia, Prof. JE Sahetapy membuat saya terperangah. Profesor yang sangat terkenal dalam dunia hukum pidana ini menyempatkan diri memberi komentar tentang kebijakan Dirjen Pendidikan Tinggi soal jurnal ilmiah bagi mahasiswa. Akademisi ini berpendapat kebijakan ini harus diikuti dengan peningkatan mutu dosen. Karena menurutnya, mutu dosen sekarang ini kurang.
“Bahasa Inggris saja tidak bisa”.
Katanya, kalau dosen sudah bermutu, mahasiswanya tentu akan bermutu juga.
Mendengar komentar itu, saya jadi berpikir, benarkah mutu dosen sekarang ini kurang? Benarkah mengukur mutu dosen itu dari sisi keterampilan berbahasa Inggris? Benarkah dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu?
Mungkin penilaian profesor ini benar. Mungkin memang benar bahwa dosen sekarang ini kurang bermutu. Mungkin juga benar mengukur mutu dosen itu dari keterampilan berbahasa Inggris. Mungkin juga benar bahwa dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu.
Tetapi kalau mengikuti cara berpikir profesor ini, tentu akan ada diskusi panjang soal mutu dosen dan bahasa Inggris. Rasanya, jika dibandingkan dahulu, rasio dosen yang bisa berbahasa Inggris pastilah lebih banyak sekarang ini. Secara kasat mata kita bisa melihat ada pertambahan jumlah yang signifikan orang-orang di sekitar kita yang bisa berbahasa Inggris dibandingkan dahulu, 10 tahun atau 20 tahun lalu. Jadi, kalau mengukur mutu dosen dari bahasa Inggris, maka seharusnya mutu dosen sekarang bukannya kurang, tetapi meningkat.
Belum lagi bicara mutu mahasiswa sekarang. Rasanya, mahasiswa sekarang tak kurang mutunya. Prestasi mahasiswa mencuat di sana- sini. Tidak saja diakui nasional tetapi juga internasional. Saya mengukur mahasiswa di sekitar saya saja: sekarang ini mereka lebih rajin membaca dan menulis. Karya tulisan mereka malah kadang lebih mantap dibandingkan dosen mereka. Banyak mahasiswa yang saya kenal sudah punya buku sendiri. Bandingkan mahasiswa periode saya dahulu. Tidak ada orang di sekitar saya yang mencapai taraf itu!
Tetapi mengingat karya yang saya jadikan ukuran, saya teringat keheranan salah seorang profesor yang mengajari saya Linguistik Komparatif. Dia mengatakan koleganya bernama Profesor Robert Blust salah seorang ahli linguistik komparatif bahasa di Nusantara ini memiliki sedikit terbitan. Padahal temuan-temuannya sering dikutip oleh profesor lain. Kapasitas Robert Blust juga diakui, kedalaman ilmunya disegani. Karena itu jangan mengukur Robert Blust ini dari karya tulisnya.
Lalu? Agaknya saya harus sampai pada kesadaran bahwa penilaian kualitas orang mesti dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Menjudge seseorang tidak berkualitas mungkin lebih baik ditahan-tahan dahulu.
Kisah yang pernah diceritakan seorang khatib pada suatu kesempatan mungkin bisa menjadi pembelajaran. Diceritakan seorang nabiyullah yang diminta mencari makhluk yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Lalu sang nabi berjalan di pasar. Dia melihat seorang pengemis. Semula dia berpikir pengemis itu lebih buruk dibandingkan dirinya. Ada beberapa perbandingan. Dia ingin membawa pengemis itu. Namun, sebelum niatnya terlaksana dia sempat menepis pikiran itu. Dalam beberapa hal pengemis itu masih lebih baik dibandingkan dirinya.
Dia berjalan lagi. Di perjalanan dia melihat seekor anjing kurap yang mengais-ngais sampah mencari makan. Dia ingin menangkap anjing itu. Dia berpikir, tentu anjing kurap lebih buruk dibandingkan dirinya. Tetapi, sebelum dia sempat menangkap anjing itu sisi lain pikirannya membantah. Tidak, anjing itu lebih baik dibandingkan dirinya.
Pada akhirnya, dia kembali pulang dengan hampa, dan melaporkan bahwa menurutnya tidak ada makhluk lain yang lebih jelek dibandingkan dirinya.
Apa yang terjadi? Justru orang yang memberi perintah memuji sang nabi.
“Untung kamu tidak menemukannya. Kalau kamu mengatakan orang lain lebih buruk dibandingkan kamu, itulah tandanya ada kesombongan di hatimu. Hampir saja kamu termasuk dalam kelompok orang-orang yang sombong”.
Bagaimana kita?
Diposting oleh Yusriadi di 02.51 0 komentar
Label: Inspirasi, Pendidikan
Mendorong Perubahan
Oleh: Yusriadi
Saya sangat terkesan pada diskusi kecil yang kami laksanakan bersama Pak Maladi Noor dan Ibrahim, beberapa bulan lalu. Kedua orang itu adalah dosen yang memiliki pengalaman melakukan bimbingan terhadap mahasiswa. Khususnya Pak Maladi, dia juga memiliki pengalaman dalam soal perencanaan karena pernah berkecimpung di birokrasi. Dia pernah menjadi pejabat Humas di Pemkot Pontianak beberapa tahun lalu. Selain itu, Pak Maladi juga pernah belajar program master di Australia.
Hari itu saya, Pak Maladi Noor dan Ibrahim membicarakan banyak hal berkaitan dengan apa yang harus dilakukan dosen untuk peningkatan kapasitas mahasiswa. Kami membicarakan perubahan metode mengajar dan saling tukar pengalaman bagaimana cara membuat mahasiswa bisa belajar maksimal.
“Kita harus selalu belajar dan menggali pengalaman orang lain dalam hal meningkatkan kualitas pembelajaran. Kasihan mahasiswa datang dan belajar tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa,” kata Pak Maladi bersemangat.
Tapi, meskipun menyetujui perlunya perubahan atau pembaruan dalam mengajar, namun Pak Maladi menekankan bahwa perubahan juga tidak bisa dilakukan serta merta dan drastic. Perubahan yang drastic akan membuat terkejut. Selain itu, perubahan juga tidak perlu buru-buru dilakukan sebelum mengkaji benar-benar apa yang akan diubah.
Nasehat ini mengingatkan sebuah prinsip Khonghucu yang selalu saya kenang. Jangan pernah merobohkan sebuah tembok sebelum kamu tahu untuk apa dahulu tembok itu dibangun. Bisa jadi tembok itu sebenarnya sangat penting untuk melindungi kamu dari ancaman srigala, dll.
Prinsip ini menjadi pegangan dalam menggagas sebuah perubahan, agar tidak menyesal dan tidak salah. Prinsip ini juga akan membuat kita tidak terburu-buru menyalahkan orang lain saat mereka mengambil sebuah keputusan.
Mengabaikan prinsip ini sering kali membuat orang bolak-balik dalam lingkup perubahan yang di situ-situ saja. Trial and error. Bak kata, hari ini mereka merobohkan tembok, lalu beberapa tahun kemudian mereka terpaksa harus membangun tembok itu kembali. Jika yang seperti ini terjadi, jelas perubahan yang digagas hanya menciptakan suasana berbeda dan menumbuhkan dinamika, tetapi tidak memberikan nilai tambah. Justru sebaliknya, keputusan seperti ini rugi dari sisi waktu karena perubahan tidak membuat kemajuan. Bukankah ada prinsip, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita rugi. Dan, jika hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka kita celaka.
Rasanya, kalau diingat-ingat, kita sekarang ini lebih sering memilih menjadi orang yang rugi dan mungkin sesekali dengan sadar memilih menjadi orang yang celaka.
Lihat saja bagaimana hebatnya kita atau orang di sekitar kita mengeritik sebuah kebijakan dan kemudian mengubah kebijakan itu. Padahal, kita belum benar-benar memahami mengapa dahulu kebijakan itu dibuat. Kita menjadi orang yang sangat getol mengeritik. Pikiran kita dipenuhi dengan keinginan mengeritik, mengeritik dan mengeritik. Kita senang melihat orang terjatuh karena kritik. Kita senang melihat orang terhempas setelah dikritik. Alhasil, kehidupan kita hanya dipenuhi oleh ‘hawa’ itu dan akhirnya kita menjadi sukar untuk bergerak maju.
Diposting oleh Yusriadi di 02.47 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Inspirasi
Ketapang Terasa Berbeda
Oleh: Yusriadi
Selalu ada yang berbeda. Itulah kehidupan. Kehidupan butuh perubahan. Tidak berubah berarti tidak hidup.
Saya menyadari sepenuhnya prinsip itu. Namun, kenyataan yang saya lihat di Ketapang Sabtu lalu, berbeda dibandingkan hari ini. Malah, jauh berbeda. Ketapang hari ini memperlihatkan perubahan yang ketara dibandingkan perubahan yang saya saksikan tahun lalu.
Ya, tahun lalu, saya datang ke Ketapang untuk menghadiri acara Kongres Budaya Kalbar. Acara itu diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Saya sempat melihat-lihat keadaan kota dan menyaksikan sesuatu yang hampir tidak ketara perbedaan dibandingkan apa yang saya lihat di tahun-tahun 1990-an.
Apa yang sekarang ketara? Ketapang di waktu malam sangat hidup. Setidaknya malam itu, saat berkeliling kota bersama Muzani (teman yang kini menjadi guru di MAN Ketapang), saya melihat di sejumlah ruas jalan di Ketapang ada café-café yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Cafe-cafe juga menyajikan hiburan lain. Ada band, ada layar lebar, dll.
Malah, pasar rakyat di kawasan lapangan Sepakat, menjadi pasar malam yang luar biasa ramainya. Meja dan kursi bersusun padat. Jumlahnya, tak dapat saya menghitung. Rasanya, seantero wilayah di Kalbar, kawasan pasar itulah yang paling ramai.
Kemajuan seperti ini menunjukkan gairah ekonomi dan kehidupan masyarakat. Cafe banyak menunjukkan banyak orang yang datang berkunjung. Banyak juga uang yang masuk untuk empunya.
Saya semakin yakin pada pertumbuhan ekonomi di tengah masyarakat Ketapang ketika saya menyaksikan ada hotel berkelas. Aston. Dan ada banyak penerbangan komersil. Ketapang - Pontianak ada dua maskapai penerbangan dalam waktu sehari dua kali. Selain itu ada penerbangan Ketapang Pangkalan Bun dan Ketapang – Semarang. Kabarnya juga akan ada Ketapang – Nanga Pinoh (Sintang?). Dan ada penerbangan Ketapang – Manis Mata.
”Ini satu-satu penerbangan lokal antar kota kabupaten ke kecamatan,” kata teman saya.
Pesawatnya cukup besar. Saya naik salah satu pesawat itu.
Di Ketapang juga sudah banyak bank dan ATM.
Ada juga perguruan tinggi di sini. Selain Alhaud yang saya kebetulan saya kunjungi, di Ketapang juga ada Politeknik dan Akademik Kebidanan.
Pertumbuhan ini membuat saya pangling. Semoga pertumbuhan ini terus berlangsung dan akhirnya Ketapang menjadi salah satu kota besar dan rakyatnya maju.
Diposting oleh Yusriadi di 02.32 0 komentar
Label: Ketapang, Suara Enggang
Filosofi Tanam Durian
Oleh: Yusriadi
Seorang dosen mengingatkan saya pada “filosofi menanam durian” saat kami berbincang tentang pencapaian dan prestasi dalam hidup.
Katanya, kita hidup mesti selalu ingat dengan filosofi orang tua dahulu ketika menaman durian. Orang tua dahulu ketika menanam durian di bekas ladangnya sering kali tidak berpikir apakah kelak dia akan makan durian yang dia tanam atau tidak.
“Dia tanam saja ketika melihat ada lahan kosong, melihat ada bibit atau biji”.
Lalu, bibit durian yang dia tanam tumbuh. Dia pelihara.
Tetapi sering kali, orang tua yang menanam itu tidak bisa memakannya. Karena dia sudah semakin tua saat durian berbuah, karena dia kolestrol tinggi, mungkin juga karena dia sudah meninggal. Orang tua tidak terlalu memikirkan diri sendiri soal menanam itu.
Jika dia memikirkan diri sendiri mungkin dia tidak akan mau menanamnya, karena besar kemungkinan dia tidak bisa menikmati apa yang dia tanam. Yang menikmati adalah anak cucunya. Bahkan mungkin, orang lain yang tidak dikenalnya.
“Begitulah filosofinya. Dalam kehidupan kita, sebisa mungkin kita berpikir seperti orang tua itu, menanam untuk anak cucu, tanpa memikirkan diri sendiri”.
Sembari sang dosen menceritakan perjalanan hidupnya untuk menguatkan konsep filosofi menanam durian, saya teringat nasehat yang diberikan bapak saya.
Dahulu, waktu saya masih muda, bapak saya juga pernah menasehatkan hal yang kurang lebih sama. Bapak selalu mengingatkan bekerja dengan ikhlas. Bekerjalah sebisa mungkin, tidak memikirkan imbalan yang diperoleh dari pekerjaan itu. Jangan pikirkan akan mendapatkan apa. Jangan pikirkan akan diberi apa.
“Insya Allah, jika kerja bagus maka kamu akan dapat hasilnya. Jika tidak sekarang nanti. Kerja jangan bereken”.
Nanti, maksudnya adalah besok, lusa, minggu depan, bulan depan, mungkin tahun depan. Mungkin juga nanti setelah meninggal. Kata bapak, urusan imbalan itu tidak usah dipikirkan karena itu urusan Tuhan. Tuhan Maha Tahu.
Orang tidak akan bahagia hidupnya jika dia memikirkan imbalan saat bekerja. Karena dengan begitu dia tidak dapat menikmati pekerjaannya. Bahkan mungkin pekerjaan yang dilakukan karena imbalan akan mendatangkan beban. Beban itu membuat orang tidak dapat menikmati pekerjaan. Orang yang tidak dapat menikmati pekerjaan dia akan menderita. Tidak bisa bahagia.
Teringatlah saya pada nasehat Mario Teguh yang saya tonton pada acara Golden Ways di Metro TV beberapa waktu lalu. Katanya, pekerjaan harus dinikmati. Ikhlaslah saat bekerja. Jika ikhlas, kita akan bahagia. Dia juga mengingatkan kebahagiaan itu ada dalam proses, bukan pada tujuan.
Diposting oleh Yusriadi di 02.31 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang

