Oleh: Yusriadi
“Mulai saja menulis, terbitkan buku. Jangan pikirkan mutu sekarang ini. Mutu itu urusan nanti”.
Saya mengutip pendapat Prof. Dr. Shamsul Amri Baharuddin ketika “bersembang-sembang” dengan Dr. Taufiq Tanasaldy, siang itu. Dr. Taufiq datang ke Club Menulis dan melihat beberapa buku yang kami buat. Dia orang Mempawah yang kini mengajar di sebuah universitas di Australia.
Walaupun saya menunjukkan buku dengan semangat, tetapi merasa agak sungkan juga. Mutu. Buku yang kami buat bukan buku bermutu. Kepada orang-orang yang datang ke Club Menulis saya selalu tekankan hal itu.
“Kami berusaha mendokumentasi apa yang dapat kami dokumentasi hari ini”.
.
“Kami sedang belajar menulis dan menerbitkan buku”.
“Mungkin buku yang bermutu dari kami baru dapat kami persembahkan 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang”.
Oleh karena itu, sebelum soal mutu ini singgah dalam pikiran beliau, saya mengaku lebih dahulu bahwa buku yang kami buat belum memenuhi harapan.
Apa reaksi Dr. Taufiq?
“Maaf, saya mengutip Khonghucu. Kamu tahu Khonghucu?”
Saya mengangguk. Tentu. Saya pernah belajar perbandingan agama. Khonghucu adalah nama yang dikaitkan dengan agama Khonghucu. Banyak kata bijak yang dirujuk kepada tokoh itu. Saya mengangguk karena saya kira lebih mudah bagi beliau mengutip kata bijak dari ajaran yang dipercaya, seperti saya pasti lebih mudah mengutip hal-hal penting dari Alquran atau nabi Muhammad.
“Khonghucu mengatakan, satu li dimulai dari satu langkah”.
Persis. Sesungguhnya saya pernah mendengar ungkapan itu dari bapak FX Asali, salah satu tokoh Tionghoa Kalbar yang saya kagumi.
Menyenangkan menemukan kutipan yang pas. Sebuah pernyataan yang berbeda dengan maksud sama. Pernyataan yang universal.
Saya segera mencatat komentar dia karena saya rasa pasti sangat berguna suatu ketika nanti. Tetapi, Dr. Taufiq , buru-buru mengingatkan.
“Ini ungkapan yang populer, semua orang tahu. Saya harus tanya-tanya lagi bagaimana bentuk yang pas dengan ungkapan Khonghucu dalam bahasa asal”.
Walaupun demikian, saya tetap mencatat ungkapan itu, dan menulisnya agar saya tetap ingat di kemudian hari. Semua itu akan menambah wawasan saya tentang prinsip hidup dan tentang apa yang dapat saya lakukan. Pembenaran. Pemantapan. Sesuatu yang meyakinkan saya agar terus menerus berusaha: menulis dan menerbitkan buku, sembari mendorong orang-orang yang ada di sekitar saya untuk melakukan hal yang sama.
Semoga semua itu bisa menjadi amal kelak. Seperti yang sering dikutip dari teman saya, H. Nur Iskandar. “Inilah salah satu bentuk amal kita”.
Senin, 30 Januari 2012
Prof. Shamsul AB, Dr. Taufiq dan Kutipan Khonghucu
Diposting oleh Yusriadi di 03.05 0 komentar
Label: Buku, Suara Enggang
Sabtu, 03 Desember 2011
Menulis Buku Bersama
Oleh: Yusriadi
Sabtu lalu saya bersama kawan-kawan di Club Menulis merancang menulis novel bersama. Kami merancang menulis novel bersama tentang “Flamboyan, Aloevera dan Cinta”. Novel ini berisi kisah cinta Amoi dan Andri dijembatani Kacong. Kisah cinta beda suku dan beda agama.
Kami bersama-sama menyusun rencana, mendiskusikan sinopsisnya, dan menghimpun bagian-bagian cerita. Setiap orang, lebih dari 20 orang, akan menulis bagian-bagian itu secara bersamaan dalam minggu ini dan kemudian didiskusikan lagi.
Saya berharap (dan yakin) percobaan ini berhasil dan beberapa saat ke depan bukunya bisa diluncurkan. Jika ini berhasil, maka penulisan ini akan menjadi model baru setelah sebelum ini di Club Menulis, kami berkutat pada antologi cerita pendek misalnya: Mimpi di Borneo; Cinta Sekufu, Sambas- Jakarta; Untuk Sebuah Mimpi, Saksikanlah Aku Berjilbab. Singkatnya, buku antologi seperti ini sudah banyak dilakukan orang.
Karena model ini baru, maka bagi saya, membuat rencana ini saja sudah menyenangkan, apalagi kelak melihat bukunya.
Selain peristiwa itu, Kamis dua hari lalu saya juga menyaksikan sesuatu yang menyenangkan. Bahkan, sangat menyenangkan. Saya menerima sejumlah ‘buku novel’ karya mahasiswa Program Komunikasi STAIN Pontianak.
Ihwal mereka menyerahkan novel pada saya karena kewajiban menulis dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Lima minggu lalu, saya meminta mereka membaca novel best seller semisal Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dll. Setelah itu, minggu berikutnya, saya meminta mereka menceritakan isi novel, menilai kelebihannya dan mengungkapkan inspirasi apa yang diperoleh dari karya bagus itu.
Lalu, ujung-ujungnya saya meminta pendapat mereka: “Bagaimana kalau kita membuat seperti yang dibuat penulis terkenal itu? Bisa?” Tentu saja mereka menjawab bisa.
Kami mulai menyusun rencana penulisan, jalan cerita. Setelah masing-masing memiliki rencana itu, minggu selanjutnya, kami menulis. Masing-masing dipatok antara 30-40 halaman. Dua, minggu kemudian karya itu dikumpulkan. Hasilnya? Wow, saya terperangah. Takjub. Kemampuan mereka menulis cukup bagus. Ide yang mereka tuangkan juga keren. Berkelas. Ada banyak kejutan. Orang tua, kakak, paman, atau siapapun orang terdekat mereka yang diwajibkan membaca dan memberi komentar terhadap novel kecil itu juga mengungkapkan kebanggaan. Keren!
Saya pasti akan bertanya: “Bagaimana mereka bisa berkarya sedemikian hebat? Benarkah ini karya mereka?” jika tidak mengikuti prosesnya. Tetapi karena saya mengikuti sejak awal, saya tak perlu bertanya seperti itu.
Dua peristiwa itu mengingatkan pada saya kata kunci: Menulis bersama. Menulis perlu teman. Pada peristiwa pertama, sebuah novel akan lahir dari kebersamaan anggota Club Menulis. Menulis bersama membuat kerja membuat karya menjadi lebih mudah. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada mahasiswa KPI itu. Membaca bersama, merencanakan bersama, menulis bersama, membuat mereka dapat berkarya dengan maksimal.
Saya kira itulah kata kunci yang Club Menulis lakukan selama ini. Terima kasih teman-teman yang sudah menjadikan saya bagian dari tim menulis. (Ptk, 3-12-2011)
Diposting oleh Yusriadi di 02.41 0 komentar
Label: Buku, Club Menulis, Suara Enggang
Sabtu, 02 April 2011
Inspirasi dari Borneo
Oleh: Farninda Aditya
Sabtu (22/01/11), di club menulis. Pertemuan kali ini, pembahasanya sama dengan minggu sebelumnya. Menulis resensi buku. Salah satu cara mudah untuk meresensi ialah membaca pengantar penulis. Karena, kita akan mendapat informasi, mengenai tujuan penulisan, kelebihan, jenis tulisan atau kekuranganya. Tapi perlu diingat. Hal ini bukan berarti kita mengambil isi pengantar sebagai tulisan dalam resensi.
Setiap orang membaca pengantar buku yang telah dipilihnya. Saya membaca buku, Inspirasi dari Borneo. Buku terbitan STAIN Press, yang berisi tulisan dari rubrik Suara Enggang di harian Borneo Tribune karya Yusriadi.
Benar, saya mendapatkan tujuan dari penerbitan buku, melalui kata pengantar itu. Buku ini memang kisah nyata, yang dialami oleh penulis. Kisah-kisah yang berasal lingkungan sekitar. Namun, kisah ini menyajikan gagasan-gagasan yang memberi inspirasi. Si penulis juga mendapat inspirasi menulis dari kisah yang dialaminya. Penulis bilang, gagasan yang ia dapati tak perlu disimpan sendiri, baik untuk dibagikan. Ingin yang lainnya ikut terispirasi.
“Ada banyak gagasan yang ingin disampaikan. Ada banyak pembelajaran yang dipesankan. Dan, ada banyak impian yang diidam-idamkan. Makanya, gagasan, pembelajaran dan impian tak boleh disimpan sendiri. Harus dibagikan dan dikongsi kepada orang lain,” begitu kata pengantar penulis.
Buku itu, terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah Inspirasi dari Kampung. Inspirasi dari kampung, terbagi lagi dalam beberapa kisah. Seingat saya ada inspirasi yang berasal dari Sanggau Permai dan belajar dari orang Teluk Bakung.
Bagian kedua, Inspirasi dari Kota. Kisah yang berasal dari kota. Ada, Kampanye Menulis di SDN 20 Pontianak. Salah satu SD yang terkenal dengan kebersihanya di Kota Pontianak. Sekolah ini mendapat penghargaan dari bapak presiden SBY, karena berhasil menjaga kebersihan di lingkungan sekolahnya.
Bagian ketiga, ialah Inspirasi dari Masyarakat. Ya, memang banyak kisah-kisah menarik dari masyarakat kita. Terutama perpektif mereka. Misalnya; Kisah batu dalam celana. Salah satu cara, yang dipercayai masyarakat Pontianak sebagai penahan atau menunda si pengguna batu dalam celana untuk buang air.
Bagian ke empat, Inspirasi dari Kata. Katanya, bagian dari inspirasi ini ingin menunjukan bahwa ada kata dan rangkaian kata yang digunakan orang memiliki implikasi. Misalnya saja Kondom. Secara umum, dijual di apotik atau toko obat. Tapi, kondom yang dikisahkan. Kondom yang dijual di conter HP. Sederhana saja kisah-kisah yang dipaparkan oleh, penulis. Tapi, kisah sederhana itu berhasil mengundang inspirasi. Saya berani, berkata ini. Karena saya sudah mendapatkan inspirasi dari tulisan tersebut. Si penulis, berhasil. Berhasil menyentak inspirasi saya untuk keluar.
Inspirasi ini sebenarnya sama saja seperti jenis tulisan yang telah dibuat oleh penulis. Saya terinspirasi untuk membuat tulisan yang kisahnya sederhana. Tapi, memberi makna. Jika saya berhasil membuat tulisan seperti itu, saya juga ingin membukukannya. Wow, inspirasi saya keren juga ya?. Pontianak, 22.01.11. SKKP.
Diposting oleh Yusriadi di 07.23 0 komentar
Label: Buku, Tentang Yusriadi
Sabtu, 07 November 2009
Pertanyaan untuk Dosen
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Seorang teman, dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Pontianak, menceritakan, beberapa waktu lalu dia bertemu dengan seorang ilmuan di sebuah perguruan tinggi di tanah Jawa. Pertemuan tidak sengaja. Mereka bertemu dalam seminar. Ilmuan itu menjadi pembicara, sedangkan teman dosen itu sebagai pendengar.
Usai sesi seminar itu, teman dosen menghampiri sang ilmuan. Niatnya ingin bertanya sedikit. Maklum, waktu seminar tadi dia tidak kebagian waktu untuk bicara.
Ilmuan menyambut perkenalan dari teman dosen dengan ramah. Ilmuan itu lantas bertanya asal dia dan apa kegiatan.
“Saya bilang, saya dari Pontianak. Saya juga bilang saya mengajar di sebuah perguruan tinggi”.
“Mendengar itu, dia bertanya, berapa buku yang sudah ditulis?”
Kata teman tadi, dia sempat agak terkejut dengan pertanyaan itu. Maklum, selama ini kalau berkenalan dengan orang, setelah dia menyebutkan pekerjaannya sebagai dosen, biasanya orang bicara tema yang terkait. Maksudnya tidak terlalu peduli dengan status itu. Mungkin, orang pun sudah tahu, dosen itu adalah orang yang mengajar di perguruan tinggi, dll. Kalau pun orang ingin berbasa-basa soal status dosen, biasanya orang akan bertanya tentang matakuliah yang diampu, berapa lama mengajar, dan lain-lain berkaitan dengan kegiatan mengajar.
Pertanyaan ilmuan ini, menurut teman saya, menampilkan kesan yang lain dari yang biasa.
“Untung saja, saya selama ini sudah ada buku. Kalau tidak, wah… gimana menjawabnya”.
Saya yang mendengar cerita teman tersenyum lebar. Saya senyum karena bisa membayangkan situasinya. Pasti seru bertemu dengan orang seperti ilmuan itu. Saya jadi penasaran.
Saya tahu, tentu teman dosen itu bisa sedikit menegakkan kepalanya karena memang selama ini dia sudah menerbitkan beberapa buku. Memang tidak banyak. Tetapi, setahu saya selama lebih 10 tahun dia sebagai dosen, dia sudah punya 4 buku. Dua buku karangan sendiri, satu buku bahan ajar dan satu lagi terjemahan. Jadi kira-kira saja, dosen ini memerlukan waktu hampir 3 tahun untuk satu buku.
Walaupun jumlah itu sangat tidak ideal – karena menurut saya seharusnya, dalam satu tahun, seorang dosen punya satu buku, apapun bentuk dan kualitasnya, tetapi, teman dosen ini masih bisa menyampaikan pesan kepada ilmuan: sebagai dosen, dia memiliki kapasitas. Sebagai dosen, secara akademik, dia cukup berwibawa.
***
Saya sependapat dengan orang yang mengatakan, kewibawaan seorang ilmuan (dosen adalah ilmuan) antara lain dinilai dari karya akademiknya. Baik mutu maupun jumlahnya. Semakin banyak dan bermutu, semakin berwibawa dia. Sebaliknya, seorang dosen yang tidak punya buku, akan kurang wibawanya sebagai ilmuan. Bahkan, ada seorang ilmuan yang pernah mengatakan pada saya, seorang dosen yang tidak punya buku dan artikel jurnal, sama dengan guru biasa. Seorang yang hanya bisa mengajar.
Oleh sebab itu, seorang dosen yang ingin berwibawa dalam dunia akademik, seharusnya memacu diri untuk berkarya sebanyak mungkin dan sebaik mungkin. Baik dengan menulis buku sendiri, maupun menulis bersama-sama koleganya. Beruntunglah seorang dosen yang bisa mencapai taraf itu.
Saya bisa membayangkan betapa beruntungnya teman saya itu bisa berkenalan dengan ilmuan yang demikian. Sebab tidak semua ilmuan berpikir begitu. Kadang kala ada orang yang berpikir, seseorang dosen hanyalah orang yang mengajar di perguruan tinggi. Cukup sebatas itu. Seorang dosen adalah pengajar di depan mahasiswa. Mengajar saja. Tidak perlu meneliti. Tidak perlu menulis.
Biasanya, banyak orang baru sadar bahwa seorang dosen perlu meneliti dan menulis artikel serta buku, ketika membicarakan Tri Dharma perguruan tinggi. Lebih khususnya lagi, ketiga orang membicarakan kenaikan jabatan fungsional seorang dosen. Orang baru sibuk membicarakan (dan mengumpulkan) tulisan ketika kenaikan pangkat membutuhkan kredit point dari aspek penelitian dan publikasi.
Tidak heran ketika kemudian orang menemukan makalah-makalah yang dilampirkan seorang dosen bukan karya orisinilnya. Tidak heran ketika seseorang melampirkan karya akademik yang sebenarnya seakan-akan miliknya sendiri. Tidak heran jika sesekali kita mendengar orang menyebutkan plagiatisasi yang terjadi di dunia akademik.
Saya sering menemukan dosen yang tidak memiliki karya akademik dalam waktu berbulan-bulan. Saya sering menemukan seorang dosen yang beku dalam rutinitas dan aktivitas, sehingga lupa meneliti dan menulis.
Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang dosen yang mengatakan: kalau urusan dengan tulis menulis, itu urusan dosen tertentu. Sedangkan kalau dia, mengurus soal ceramah dan sejenisnya. Akhirnya, karena pandangan ini, dia hamper tidak pernah menulis. Kalaupun diundang ceramah, berbicara di depan orang, dia menyampaikannya secara lisan. Dia tidak membuat makalah untuk forum-forum begitu, sekalipun sesetengah forum agak ilmiah sifatnya. Paling-paling yang dapat dilakukannya hanyalah membuat slide untuk presentasi.
Alasannya, “Tidak sempat buat makalah”.
***
Teman dosen itu beruntung bisa bertemu dengan ilmuan yang bisa mengingatkan dia soal paradigma berpikir orang tentang dosen. Saya katakan beruntung karena ilmuan merupakan orang langka, yang ingat tentang kapasistas seorang dosen.
Ya, kapasitas seorang dosen mestilah seorang yang memiliki kemampuan dan karya dalam konteks tri dharma perguruan tinggi.
Pertama: Pengajaran. Dosen mesti mengajar mahasiswa. Dosen mestilah orang yang dapat mentransformasikan ilmunya kepada mahasiswa di ruang kuliah.
Tetapi, agar mahasiswa tidak ketinggalan informasi, ilmu yang ditransformasikan mestilah ilmu yang actual. Ilmu yang berkembang. Ilmu yang berkembang karena data-data dan informasi yang terkait, terus bertambah.
Tidak pada tempatnya jika seorang dosen hanya mengajar berdasarkan buku panduan yang dipakaikan sejak mula mengajar, hingga mengajar 10 tahun kemudian. Tidak pada tempatnya seorang dosen memberikan informasi kepada siswa tentang kejadian lama tanpa membandingkan dengan kejadian baru.
Kedua: Penelitian. Dosen adalah seorang peneliti. Seorang yang gemar menggali pengetahuan, gemar mencari-cari hal baru. Gemar bertanya dan mencarikan jawaban atas setiap phenomena yang berlegar di sekitar kehidupan. Penelitian, bukan sekadar menggali informasi di lapangan dengan modal proyek dari lembaga. Tetapi penelitian dalam pengertian luas. Pada akhirnya setiap dosen memiliki temuan-temuan khas, temuan yang harusnya diberitahu kepada mahasiswa, agar mahasiswa juga tidak tertinggal informasi.
Temuan itu seharusnya diinformasikan kepada koleganya sesama ahli akademik dan ditransformasikan kepada public. Medianya: buku, artikel di jurnal dan surat kabar. Dalam konteks itulah ilmuan tadi bertanya pada teman saya.
Ketiga: Pengabdian kepada Masyarakat. Seorang dosen, sebagai ilmuan, seharusnya menempatkan diri pada posisi yang berguna untuk masyarakat. Memang kadang ada kesan (di kampus kami), dosen yang mengabdi kepada masyarakat adalah dosen yang diminta masyarakat membaca khutbah dan berceramah. Jadi, kalau tidak berkhutbah dan berceramah, dianggap kurang mengabdi.
Tetapi pandangan ini agak sempit. Sebab ada pandangan umum yang mengatakan seorang dosen dianggap mengabdi kepada masyarakat, ketika dosen yang bersangkutan menunjukkan bahwa dia membantu masyarakat dan berguna untuk masyarakat, baik sesuai dengan bidang ilmunya maupun dalam bidang yang lain.
Oleh sebab itulah, saya kira, seorang dosen mencapai puncak aplikasi tra dharma perguruan tinggi, apabila buku, artikelnya, tulisannya, berguna dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Inilah mungkin yang menyebabkan, mengapa ilmuan itu bertanya pada teman saya dengan pertanyaan yang mendasar itu. Rasanya, saya pun ingin bertanya begitu pada dosen yang akan saya temui di hari-hari mendatang.
Diposting oleh Yusriadi di 07.24 4 komentar
Label: Buku, Menulis, Tentang Yusriadi
Minggu, 25 Oktober 2009
Buku Harian H Zahry Abdullah
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rabu (21/10) kemarin, saya berkunjung ke rumah H Zahry Abdullah di kawasan Jalan Sumatera Pontianak. H. Zahry adalah tokoh di Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar. Saya mengenalnya sebagai tetua orang Ulu di Pontianak. Kadang kami memanggilnya Pak Utih. Kadang juga Tok Olah.
Beliau, kelahiran Kapuas Hulu. Pernah menjadi guru, menjadi anggota DPRD, dan menjadi pejabat di Departemen Agama. Antara lain, sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Sanggau.
Sekarang beliau telah pensiun.
Tetapi, meskipun pensiun, beliau tetap energik. Tidak pernah diam. Ada banyak hal yang dikerjakannya. Mulai dari urusan soal tanam obat, hingga urusan adat dan budaya Melayu.
Kunjungan saya ke rumahnya adalah untuk mengambil tulisan beliau tentang Kota Pontianak. Saya meminta Tok Olah menuliskan pandangan dan pengalamannya berada di kota ini. Maklum, beliau di Pontianak sejak tahun 1960-an. Saat Pontianak masih hutan dan semak-semak. Saat kampung masih terpisah-pisah. Saat penduduk masih sedikit. Saat Pontianak masih belum seramai sekarang. Beliau termasuk orang yang menyaksikan perubahan wajah kota.
Saya menerima naskah Tok Olah dua hari kemudian dalam bentuk ketikan mesin tik.
Setelah saya mengetiknya, saya merasa perlu menemui beliau untuk mengecek beberapa informasi yang masih harus ditambahkan dalam tulisan itu. (Tulisan beliau akan terbit besok di Edisi Khusus Borneo Tribune).
Saya sudah membuat catatannya ketika membacanya. Jadi, saat berjumpa Pak Utih saya tinggal memperlihatkan catatan itu saja.
Ketika saya memperlihatkan catatan itu kepada beliau, dengan tangkas beliau mengambil buku-buku sumber. Beliau menuju rak buku di ruang tamu dan kemudian mengambil buku yang diperlukan, membuka halamannya dan kemudian membuat koreksi.
Di antara buku yang beliau gunakan, termasuk, buku harian.
Penggunaan buku harian ini membuat saya terkagum-kagum.
Buku itu adalah sebuah buku agenda. Tebal. Ada lebih 10 cm. Sampulnya hard cover warna biru.
Buku harian itu berisi catatan beliau atas peristiwa penting yang terjadi sehari-hari. Saya sempat memeriksa halaman demi halaman. Ada halaman berisi tentang pembentukan kota Pontianak. Ada halaman berisi Walikota Pontianak dan tahun menjawab. Bupati Kapuas Hulu, Sanggau, Kabupaten Pontianak, dll. Ada catatan tentang nama Kepala Kantor Wilayah Depag Kalbar dan masa jabatan. Ada catatan tentang peristiwa penting di Kalbar; misalnya tentang jembatan Mempawah yang roboh, tentang kerusuhan di Kalbar.
“Aku perlu mencatat begini biar tidak susah mencari-cari jika perlu. Semuanya ada,“ katanya.
Menurut Pak Uteh, beliau membuat catatan berdasarkan informasi yang masuk, baik melalui media cetak, elektronik, ataupun melalui informasi langsung dari orang-orang.
“Aku buat sejak dulu buku harian. Inilah catatan hariannya,“
“Rajinnya Nuan. Hebat,”
Saya memuji beliau. Benar-benar hebat. Jarang sekali orang mmbuat seperti yang beliau lakukan. Setidaknya, sampai saat ini saya belum melihat orang yang melakukan itu. Apalagi ini, orang tua.
Tapi, lagi-lagi saya ingat, beliau memang beda. Dahulu, saya memuji beliau karena kegigihannya sebagai kolektor naskah lama.
Saya juga memuji beliau, meskipun sudah tua masih mau meluangkan waktu untuk menulis – memenuhi permintaan saya. Dalam soal-soal begini, beliau jadi teladan. Kita memerlukan banyak orang seperti itu untuk hidup eksis di masa depan.
Diposting oleh Yusriadi di 08.03 0 komentar
Label: Buku, Kapuas Hulu, Suara Enggang
Sabtu, 15 Agustus 2009
Buku “… Catatan Guru-guru di Kalbar”: Menggugah Semangat Menulis
Judul: Agama & Pendidikan Agama, Catatan Guru-guru di Kalbar
Editor: Hermansyah
Penulis: Syamsiah, Jaitunah, Abd. Rohman, Azizah, Sanusi, Ahmad Hasbullah, Eutik Nurjanah, HM Taslim, Sujiati, Yuhdi, M. Sidik H Idris, Muswadi, Sakarani, Nuraini, Suparno, Imam Muzaiyin, Nasifah, Nurjanah, Ismail, Mustaim, M. Nasir AK, Suindrawati, Indrawati, Tri Basuki, Masdariah, Habibah, Dayang Halijah.
Penerbit: STAIN Pontianak Press
Tahun: 2009
Halaman: 308+viii
Oleh: Yusriadi
Upaya menggugah semangat menulis guru di Kalbar sering dilakukan. Pelatihan menulis yang melibatkan para guru, kerap kali digelar. Tidak saja pembicara local, tetapi juga pembicara nasional.
Sebagian guru itu, termotivasi. Ada yang terbakar semangatnya. Banyak yang mengaku siap menjadi penulis.
Saya sendiri pernah berhadapan langsung dengan sejumlah guru ketika menjadi pemateri sebuah pelatihan menulis di kalangan guru sebuah sekolah favorit di Kalbar. Ketika itu, saya memprovokasi mereka dengan sejumlah buku – termasuk buku yang ditulis seorang anak sekolah menengah, buku yang ditulis mahasiswa dan buku yang ditulis oleh seorang temenggung di kampung.
Pada waktu itu, saya juga sempat mengingatkan mereka soal kepentingan menulis untuk karir mereka (angka kredit), dan kepentingan menulis sebagai bentuk memberikan keteladanan kepada murid-murid. Saya juga mengingatkan mereka tentang citra kepenulisan sebagai salah satu ciri manusia hidup di era sejarah dibandingkan citra kelisanan sebagai salah satu ciri manusia yang hidup di era prasejarah.
Dalam sehari dua, sebulan dua, nampak jugalah semangat mereka. Saya sempat menerima kiriman satu dua naskah agar dapat dimuat di Borneo Tribune. Tetapi, seiring perjalanan waktu semangat itu padam. Luntur. Tak ada karya yang dihasilkan. Tak ada lagi cerita menulis. Yang ada, cerita masalah-masalah yang mereka hadapi. Lantas, mimpi tinggal mimpi.
Saya sempat menjadi agak pesimis dengan keadaan ini. Berat nian membentuk budaya menulis di kalangan masyarakat. Hatta masyarakat biasa, guru saja yang pekerjaannya seharusnya berkaitan dengan budaya baca dan tulis, susah.
Sudahlah. Nasib agaknya memang begitu.
Harapan saya berkecambah kembali ketika saya mendengar Dekan FKIP Untan Dr. Aswandi bersama SDRC memfasilitasi pembentukan Komunitas Guru Menulis di Kalbar. Komunitas ini deklarasinya Kamis (13/8) lalu. Di tengah harapan besar saya terhadap komunitas ini, saya sempat bertanya-tanya dalam hati: apakah komunitas itu akan bertahan lama? Apakah orang di komunitas itu akan melahirkan karya tulis kelak? Apakah nasib semangat mereka akan sama seperti guru-guru yang pernah saya temui?
***
Optimisme saya berkembang. Semua itu karena saya mendapatkan kejutan besar saat masuk ke ruangan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak Kamis (13/8).
Di atas meja Ketua P3M Drs. Yapandi Ramli, M.Pd, terdapat sebuah buku baru yang sampul depannya gambar seorang anak sedang menyimak penjelasan seorang guru. Buku itu berjudul “Agama & Pendidikan Agama, Catatan Guru-guru di Kalimantan Barat”. Buku itu terbitan STAIN Pontianak Press ditulis banyak penulis, dengan editor Hermansyah.
Saya sangat tertarik pada buku itu. Maklum, bagi saya buku-buku yang mengangkat isu local selalu menarik. Bahkan, saya pun, kalau buat judul untuk buku selalunya memilih judul “Kalimantan Barat”.
Misalnya, buku Etnisitas di Kalimantan Barat; Budaya Melayu di Kalimantan Barat; Dayak Islam di Kalimantan Barat; Dakwah Islam di Kalimantan Barat; Perjalanan di Pedalaman Kalimantan Barat, dll…
Bagi saya, lokal konten selalu menarik karena data yang ditampilkan adalah data-data lapangan tentang daerah di mana saya berada.
Saya menjangkau buku itu. Saya membaca nama-nama penulisnya. Syamsiah, Jaitunah, Abd. Rohman, Azizah, Sanusi, Ahmad Hasbullah, Eutik Nurjanah, HM Taslim, Sujiati, Yuhdi … hingga terakhir nama Dayang Halijah. Jumlah semuanya ada 27 orang. Mereka semua guru.
Saya rasa, ini benar-benar kejutan. Guru di Kalbar telah menulis. Mereka menulis bersama. Dan kini telah jadi buku. Mungkin, sepanjang yang saya tahu ini adalah buku pertama berisi kompilasi tulisan guru di Kalbar.
Saya kagum, karena mereka ini sudah melampaui batas ‘semangat’. Mereka telah mengatasi hambatan-hambatan dalam menulis. Kesibukan mengajar, kesibukan mengurus anak, dll, dapat mereka atasi.
“Saya tidak sempat mengedit benar-benar,” kata Hermansyah, ketika saya membuka buku ini.
Saya menyimak daftar isi. Daftar isi buku sangat menarik. Misalnya, Penyebaran Agama Islam oleh Muhammad Yusuf Saigon Al-Banjari; Islamisasi di Pesisir Utara; Kehidupan Beragama di Desa Teluk Kapuas; Suasana Pendidikan Masyarakat Dusun Tanjung Sosor, dll.
Saya membaca pengantar editor. Di bagian ini disebutkan bahwa tulisan ini merupakan hasil dari kelas Bimbingan Penulisan Karya Ilmiah di Kelas Khusus Jurusan Dakwah. Sebagai dosen, Hermansyah mengakui dia telah mengajak guru ini menulis dan kadang kala seperti setengah memaksa.
“Hasilnya, walaupun kadang-kadang setengah memaksa wujud juga tulisan itu. Bahkan, tidak sedikit pula dari mereka yang menunjukkan bakat menulis yang baik”. (Hal. iv).
Memaksa! Saya dapat menyelami lika-liku yang dihadapi editor ini dalam menggarap karya ini. Pasti tidak mudah. Situasi seperti ini pernah saya hadapi ketika menerbitkan tulisan mahasiswa yang mengikuti kelas Feature – yaitu buku cerita “Mimpi di Borneo” dan “Menapak Jalan Dakwah”. Cukup berat. Tetapi, karena kami mengerjakannya dengan semangat, buku itu akhirnya terbit juga. Sekalipun terbitnya terbatas dan kemudiannya di sana sini ditemukan kekurangan.
Namun, terbatas atau kurang, bukan isu penting dalam menumbuhkembangkan budaya menulis.
Yang penting adalah bagaimana karya itu bisa diterbitkan. Dan lebih penting lagi, penerbitan itu akan menjadi kayu api yang membakar semangat sehingga menjadi lebih dahsyat lagi. Bukan saja semangat guru yang sudah menulis, tetapi juga semangat guru-guru yang baru menganggotai Komunitas Guru Menulis Kalbar dan semangat guru-guru yang sempat memiliki semangat semangat menulis.
Karena itulah saya kira, buku ini seharusnya kita miliki dan dijadikan pegangan.
Diposting oleh Yusriadi di 07.07 2 komentar
Label: Buku, STAIN, Tentang Yusriadi
Minggu, 12 Juli 2009
Catatan dari Peluncuran Buku “Menapak Jalan Dakwah”
Judul: Menapak Jalan Dakwah
Editor: Ambaryani dan Marisa
Penerbit: STAIN Pontianak Press
Tahun: 2009
MENGASAH KEMAMPUAN MENULIS MAHASISWA
Oleh Yusriadi
Sabtu (27/6/2009). Selain meluncurkan buku “Menunggu di Tanah Harapan (Yusriadi, dkk 2009), Ketua STAIN Pontianak H. Moh. Haitami Salim, juga meluncurkan buku “Menapak Jalan Dakwah”.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan Hardianti, dkk yang diedit oleh Ambaryani dan Marisa. Hardianti, dkk adalah mahasiswa yang mengikuti kelas Feature di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di STAIN Pontianak.
Isi buku, berupa profil sejumlah dosen yang mengajar di STAIN Pontianak, dan profil mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di STAIN Pontianak. Profil-profil ini ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan masing-masing sosok, ditambah lagi dengan wawancara terhadap orang yang dekat dengan sosok itu.
Setiap sosok itu digambar aspek riwayat hidup-- dari kecil hingga sekarang, digambarkan juga perjalanan mereka dalam menuntut ilmu, karya-karya yang relevan dengan bidang pekerjaan mereka, serta prinsip-prinsip hidup mereka.
Profil-profil itu dikisahkan dengan persembahan yang menarik. Mahasiswa menulis kisah itu dengan gaya bertutur. Sebagian menggunakan sudut netral, sebagian lagi malah menggunakan sudut pandang diri sendiri sebagai penulis. Cara bercerita yang beragam dan tidak formal ini memberikan banyak gambaran terutama persepsi penulis terhadap tokoh. Persepsi melengkapi data-data yang ditampilkan.
Gambaran-gambaran isi buku juga memberikan inspirasi. Umumnya, tokoh yang diprofilkan memiliki perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Mereka merasakan suka duka kehidupan. Mereka sudah mencicipi pahit manis dan asin dunia ini.
Mereka bisa bertahan karena mereka memiliki prinsip sendiri. Apa yang mereka capai bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
***
Buku ini sangat mengesankan saya. Sebagai pengampu Feature, saya bangga mahasiswa sudah bisa menulis dengan penggambaran yang beberapa di antaranya agak detail. Saya bangga mahasiswa sudah bisa melakukan pengeditan, dan saya bangga mahasiswa sudah bisa menerbitkan tulisan mereka. – Tampilan desain cover juga bagus!
Saya bangga karena akhir dari kelas, mahasiswa bisa menghasilkan buku. Selain ”Menapak Jalan Dakwah”, kelas Feature itu juga telah menerbitkan kumpulan cerpen: “Mimpi di Borneo”.
Penerbitan tulisan ini membuktikan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan, jika kemampuan itu diasah. Mahasiswa dapat menghasilkan karya jika mereka mendapatkan bimbingan.
Tentu, untuk mencapai tahap ini tidak bisa sekali jadi. Tidak ada istilah simsilabim. Prosesnya panjang.
Setiap pertemuan mahasiswa harus menulis. Panjang tulisan minimal 10 halaman, 1 spasi.
Mereka bertungkus lumus mengerjakan tugas itu. Lintang pukang, kata orang Melayu. Karena memang, jika semangat tidak kuat, tugas 10 halaman itu amat berat. Sebab, tugas di kampus bukan cuma itu. Ada tugas lain dari dosen lain.
Tetapi saya selalu merasa puas ketika dapat meyakinkan mereka bahwa mengerjakan tugas 10 halaman bukan pekerjaan yang berat. Syaratnya, dinikmati. Tugas harus hayati. Nikmatilah sebagai bagian dari proses pembelajaran. Hayatilah sebagai proses berkarya dan menemukan jati diri.
Saya sering mengaitkan soal berat ringan tugas itu dengan salat. Salat, adalah kewajiban bagi orang Islam. Kalau merasa beragama Islam mestilah salat. Orang yang Islam tetapi tidak salat disebut sebagai orang munafik.
Salat, bagi sebagian orang adalah berat. Banyak orang malas. Tak kata subuh di saat dingin menusuk tulang, di siang hari atau sore di saat lapang pun banyak orang merasa enggan. Ada yang salatnya belang-belang kambing, karenanya.
Sebaliknya, bagi sebagian yang lain, salat bukan hal yang berat. Biasa saja. Salat dikerjakan terus. Tak buang waktu. Penuh. Mengapa bisa begitu? Karena mereka mengerjakan salat dengan kepatuhan. Mereka mengerjakan salat cenderung tepat pada waktunya. Salah akan jadi ringan jika dikerjakan seawal mungkin.
Benar atau tidak, mahasiswa dapat memahami logika itu. Mereka memahami mengapa saya menegur jika mereka mengerjakan tugas last minute. Mereka mengubahnya. Mereka menjadi orang yang mengerjakan tugas seawal mungkin. Tak lagi lalai. Yang lalai akan kena ‘sayok’.
Untuk memperkuat semangat mereka, saya membuat peraturan: dilarang mengeluh. Setiap keluhan akan dibayar dengan karya. Satu keluhan, satu karya. Dua keluhan dua karya Tiga keluhan, tiga karya. Saya pernah memberikan 4 tugas sekaligus karena ada di antara mereka yang mengeluh. Tetapi, sejak itu tidak pernah lagi ada di antara mahasiswa yang berani mengeluh di dalam kelas. Mereka menjadi ‘anak yang manis’.
Kejam. Mungkin. Tetapi, bagi saya mengeluh menimbulkan penyakit. Penyakit hati. Pekerjaan yang ringan sekalipun akan menjadi berat jika disertai dengan keluhan. Mengeluh membuat stress. Stress punca orang menjadi gila. Secara bergurau saya katakan: “Saya tidak ingin menjadi teman bagi orang gila”.
Tentu saja saya memahami sebenarnya menulis banyak bukan pekerjaan mudah. Menulis melibatkan dua isu: keterampilan cara menulis dan bahan. Untuk hal yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan mahasiswa dianjurkan menulis dengan meniru pola orang lain dalam menulis. Menulis mengikuti pola jauh lebih mudah dibandingkan menulis tanpa pola. Karena itu membuat kerangka lebih dahulu adalah salah satu jalannya. Baru kemudian kerangka itu dikembangkan.
Sedangkan untuk memudahkan mereka mencari bahan yang akan ditulis, saya meminta mereka menulis tentang dirinya sendiri lebih dahulu. Baru kemudian dia menulit tentang orang tua dan saudaranya. Selanjutnya tentang orang yang berpengaruh dalam kehidupan mereka. Bahan ini sudah tersimpan dalam otak mereka. Tinggal mengeluarkan. Mereka tidak akan kehabisan bahan.
Dan, hasilnya: menyenangkan. Mereka berkarya. Mereka bersemangat. Bahkan, saya mendengar ada seorang mahasiswa yang mengaku dapat membuat karya dari setelah Isya sampai lewat tengah malam. Konon katanya dia menikmati.
”Khan tulis tentang diri sendiri. Jadi, rasanya seperti bernostalgia,”
Motivasi menulis meningkat. Beberapa di antara mahasiswa mengatakan langsung hal itu. Ada juga yang lewat tulisan – yang diposting di blog.
Apresiasi datang dari orang-orang dekat mereka. Bangga, tentu saja!
Bangga itu mengobarkan semangat. Akhirnya, dengan semangat itu, dengan kemampuan itu, mereka menghasilkan buku. Mereka menghasilkan dokumentasi berisi cerita tentang teman dan dosen mereka. Mereka membuktikan diri sebagai orang yang hidup dalam keabadian tulisan.
Lebih dari itu, ini juga bukti aktualisasi mereka.
“Ini bukti kalau kita mau, pasti bisa,” kata Ambaryani, editor buku itu ketika menyampaikan sambutan pada acara peluncuran buku.
Diposting oleh Yusriadi di 20.11 0 komentar
Label: Buku, Tentang Yusriadi
Selasa, 17 Februari 2009
Malay Corner Bertemu MABM Kalbar: BICARAKAN RENCANA WORKSHOP PENULISAN BUKU MELAYU DI KALBAR
Oleh Yusriadi
Senin, 16 Februari 2009. Pukul 10.02. Rombongan pengurus Malay Corner (MC), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak datang ke rumah Melayu Kalbar di Jalan Sutan Syahrir Pontianak. Dalam rombongan itu Direktur MC Ibrahim M Shaleh. Sekretaris MC Didi Darmadi. Anggota MC yang juga Kepala Perpustakaan STAIN Pontianak Fahrizandi.
Rombongan ini mengadakan pertemuan dengan Ketua MABM Kalbar H. Imien Thaha.
MC datang menawarkan kerja sama.
Saat ini, MC sedang menyusun rencana workshop penulisan buku Melayu di Kalimantan Barat.
“Kegiatan ini besar, pekerjaan ini akan berat jika dikerjakan sendiri. MC mengajak MABM bekerjasama dalam program ini. Pekerjaan besar akan menjadi mudah jika dikerjakan bersama-sama,” kata Ibrahim.
MC juga akan mengajak pihak lain untuk mengerjakan rencana monumental ini bersama-sama.
Workshop rencananya akan digelar di kantor MC, Lt 2 Bangunan Perpustakaan STAIN Pontianak. Melibatkan 20 peserta dari berbagai kalangan. Terutamanya akademisi dan peneliti yang konsen terhadap masyarakat Melayu.
Jumlah sebanyak ini, sesuai dengan jumlah subkelompok Melayu di Kalbar yang diketahui sejauh ini. 20 subkelompok itu adalah: Melayu Pontianak, Mempawah, Landak, Mempawah, Sambas, Kubu, Sukadana, Ketapang, Laur, Sanggau, Sekadau, Sintang, Pinoh, Silat, Selimbau, Embau, Bunut, Boyan, Badau, Putussibau.
Peserta yang mengikuti workshop ini masing-masing akan menulis tentang subkelompok Melayu di Kalimantan Barat itu. Tulisan yang dibuat diusahakan sejajar informasinya antara satu komunitas Melayu dengan komunitas Melayu yang lain. Pada bagian pertama akan ditulis tentang identitas, populasi, sejarah, bahasa dan keadaan hari ini.
Menurut Ibrahim sebagian dari subkelompok Melayu ini sudah ditulis. Misalnya, tentang Melayu Pontianak sudah ditulis oleh Haitami Salim, Abdurrahman Abror, dll. Tentang Melayu Mempawah sudah ditulis oleh Elyas Suryani Soren. Tentang Kayong sudah ditulis oleh Dardi Has. Tentang Landak sudah ditulis Syafaruddin Usman. Tentang Sambas sudah ditulis Chairil Effendy, Muin Ikram, dll. Tentang Sanggau sudah ditulis Zahry Abdullah. Tentang Embau sudah ditulis Yusriadi dan Hermansyah. Dan seterusnya.
Melalui usaha penerbitan buku, diharapkan informasi yang sudah ditulis dan diterbitkan itu bisa disatukan dalam satu buku. Upaya ini akan memudahkan orang mencari informasi mengenai Melayu di Kalbar.
“Selain itu, dengan usaha ini, informasi yang disajikan bisa lebih seragam dalam soal format dan kedalamannya,”
MC menargetkan pada Juli 2009, bahan ini sudah siap terdokumentasikan dan diterbitkan menjadi buku.
Selain menulis buku tentang Melayu, MC juga merancang mengkompilasikan hukum adat Melayu dari berbagai daerah.
“MC berharap dengan jaringan yang dimiliki MABM di tiap kabupaten akan memudahkan upaya menerbitkan kompilasi itu,” kata Ibrahim.
Imien Thaha terlihat antusias mendengar presentasi rombongan MC. Katanya, MABM sangat mendukung rencana ini.
“Upaya ini penting untuk sejarah kita,” katanya.
Imien juga berharap buku-buku ini akan menambah khazanah informasi mengenai masyarakat Melayu di Kalimantan Barat. Karena bahan yang lengkap mengenai masyarakat Melayu di Kalimantan Barat belum ada.
Imien juga berharap suatu saat kelak, usaha-usaha lain dilakukan.
Ketua MABM Sangau, M Nasir yang kebetulan bersama Ketua MABM Kalbar menerima MC memberikan apresiasi serupa.
“Kalau datang ke Sanggau, nanti kami bantu,” katanya.
Nasir kemudian menceritakan bahwa dia sudah menulis buku tentang adat perkawinan Sanggau. Saat ini dia sedang mengusahakan penulisan kamus bahasa Melayu Sanggau.
Kepada MC dia berharap suatu saat dapat diusahakan penulisan enseklopedi Melayu Kalimantan Barat.
Diposting oleh Yusriadi di 23.18 0 komentar
Label: Buku, Malay Corner, Orang Melayu
Senin, 26 Januari 2009
Buku “Bakar Pecinan!”: Kita Perlu Memahami Mengapa Konflik Itu Terjadi
Oleh: Yusriadi
Tiba-tiba saya jadi teringat buku “Bakar Pecinan!; Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918”. Buku ini, karya Masyhuri. Terbitan Pensil 324, Jakarta, tahun 2006.
BUKU ini, sebagaimana judulnya menceritakan bagaimana konflik Kudus terjadi. Konflik itu, terjadi tahun 1918. Peristiwanya: 31 Oktober 1918. Ada penyerbuan terhadap perkampungan Cina di Kudus Kulon yang mengakibatkan terbakarnya hampir seluruh perkampungan Cina di sana.
10 orang tewas, 34 luka dari pihak pribumi, sedangkan dari pihak Cina tidak diketahui karena setelah kerusuhan tersebut mereka mengungsi ke Semarang. Sekurang-kurangnya 34 rumah terbakar. Jumlah kerugian mencapai 500.000 gulden. Jumlah yang pasti sangat besar untuk ukuran nilai uang waktu itu.
Kerusuhan ini terjadi karena orang pribumi marah terhadap orang Cina yang melakukan pawai mengarak Toa Pek Kong pada tanggal 30 Oktober 1918 –atau sehari sebelumnya. Arakan tanggal 30 Oktober itu sebenarnya arakan yang ke-4 dalam rangkaian ‘tolak bala’ wabah influenza. Pawai pertama dilaksanakan tanggal 24, dilanjutkan tanggal 24 dan 28. Pawai ini mengantongi izin pemerintah Belanda.
Selain Toa Pek Kong, dalam arak-arak itu ada juga orang Cina yang berpakaian ala haji dan alas wanita nakal.
Pada saat pawai melewati masjid Kudus, pengurus masjid yang sedang mendorong gerobak –kebetulan ada kerja bakti mengangkut batu dari kali, menyorongkan gerobaknya ke arah pedati yang digunakan sebagai arakan. Lalu terjadi tabrakan. Selanjutnya pertengkaran dan jual beli pukulan. Suasana sempat terkendali. Namun isu yang berkembang gentayang membakar semangat warga. Hingga malam berikutnya, ada gerakan sekelompok orang yang mulai membakar perkampungan Cina. Aksi ini berlanjut menjadi aksi massa. Dan selanjutnya aksi ini menjadi milik kelompok. pribumi melawan Cina.
Konflik ini seperti dikemukakan Masyhuri, bukanlah berdiri sendiri. Ada segregasi sosial. Kesenjangan ekonomi warga Cina dan pribumi sangat jauh. Ada persaingan dan kompetisi yang kuat. Ada kebangkitan semangat primordialisme di kalangan pribumi. Ada prasangka menajam. Ada kebencian yang membuncah.
SEBENARNYA situasi sebelum konflik di Kudus yang dipaparkan buku inilah yang mengingatkan saya pada apa yang sedang terjadi di Kalbar sekarang ini.
Persoalan prasangka, memang sudah muncul sejak lama. Prasangka muncul dari rentetan sejarah karena anggapan orang Cina tidak setia. Lihat laporan yang disampaikan Hari Poerwanto yang berjudul “Orang Cina Khek di Singkawang” tahun 2004. Buku ini mengisahkan prasangka-prasangka yang wujud, yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, lihat juga tulisan La Ode, M.D. 1997. Tiga Muka Etnik Cina — Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat, Yogyakarta, PT. Bayu Indra Grafika.
Terakhir, prasangka ini memuncak dalam pemilihan Walikota Pontianak 2008. Saya sempat menerima beberapa SMS pantun tentang pandangan negative terhadap majunya calon walikota orang Cina. Sayangnya, SMS itu sekarang hilang bersama hilangnya HP saya –sebelum datanya dipindahkan.
Saya kira, jarak sosial antara orang Cina dengan Melayu di Kalbar cukup jauh. Perbedaan kepercayaan, perbedaan bahasa dan budaya sangat jelas. Jarak ini semakin lebar jika dikaitkan dengan situasi ekonomi. Kesenjangan ini bisa dilihat secara kasat mata di kota Pontianak, dan bahkan seluruh Kalbar.
Pola pemukiman juga mula memperlihatkan kesan eksklusif. Semua orang mengenal kawasan Gajahmada sebagai kawasan pemukiman orang Cina. Bahkan sempat muncul gagasan membangun gerbang pecinan di kawasan ini. Asumsinya, pembangunan ini akan mendorong kepentingan pariwisata.
Begitu juga dengan pendidikan. Orang-orang Cina kebanyakan bersekolah di sekolah yang berbeda dengan orang Melayu. Keadaan ini semakin kuat dengan kenyataan bahwa sekolah umum kebanyakan kalah mutu dibandingkan sekolah yang beraliran agama. Sekolah bermutu ini dikejar oleh orang tua anak.
Politik adalah hak setiap warga negara. Namun, kenyataannya, naiknya politisi Cina di pentas politik Kalbar kerap kali dianggap menjadi ancaman terhadap eksistensi Melayu. Orang Melayu merasa kalah. Orang Melayu merasa kesempatan mereka diambil.
Ketidaksenangan sekelompok orang Melayu sudah disampaikan secara terbuka. Orang mempertanyakan eksistensi budaya Tionghoa. Pertanyaan ini disampaikan juga secara resmi ke DPRD Kota Pontianak beberapa waktu lalu.
Kasus kecil bisa membesar karena isu yang bertiup dan ditiup-tiup. Kasus Gang 17, Pontianak, merupakan contoh yang paling aktual dari situasi ini. Kasus kecil itu menjadi milik orang banyak. Perkelahian karena kesalahpahaman, menjadi perkelahian besar yang diatur sistematis.
Kasus pembangunan tugu naga di Singkawang juga menjadi berlarut-larut. Padahal dahulu penciptaan image 1000 kelenteng di Singkawang tidak pernah dipersoalkan. Pembentukan identitas Singkawang sebagai kota Cina sekian lama dahulu tidak pernah ditolak. Bahkan, orang-orang Melayu dan orang Kalbar secara umum melihat predikat Singkawang sebagai kota Amoy, sebagai pencitraan yang positif. Kini, semuanya menjadi negatif.
Kini, di Pontianak, rencana arak-arakan naga diprotes. Protes keras. Bahkan disertai ultimatum. “Kami siap menghadang aksi ini,”
MEMANG polisi sudah menjanjikan akan mengamankan situasi. Memang beberapa elit Melayu seakan memberikan jaminan akan memberikan pemahaman terhadap orang Melayu. Memang banyak orang Melayu memahami bahwa arakan naga bukan persoalan sebenarnya dan masih dapat memahami jika perarakan itu tetap dilaksanakan.
Tetapi siapa yang bisa menjamin situasi yang panas ini tidak akan membakar?
Memang di titik yang dijaga, keadaan bisa dikendalikan. Tetapi, apakah polisi dapat menjaga semua titik? Berapa banyak kekuatan personil yang diperlukan untuk menjaga situasi itu?
Soal pemahaman, bukan tidak bisa dilakukan. Tetapi masalahnya bukan terletak pada pemahaman. Masalahnya terletak pada perasaan tidak puas sekelompok orang terhadap orang Cina. Mungkin juga ada kepentingan pragmatis di sini.
Seperti disebutkan tadi, ada ketidakpuasan yang bertumpuk-tumpuk. Setiap persoalan kecil dijadikan sebagai isu yang besar, dan dijual. Soalnya sekarang, siapa yang mau membeli.
Pada skala kecil, dan pada lingkup jangka pendek, mungkin masalahnya bisa di atasi. Transaksi bisa dilakukan oleh mereka yang berkepentingan.
Tetapi pada masa yang panjang, pasti akan sulit. Isu-isu akan menumpuk dan masuk dalam rapor: Cina begini, begini, begini. Ada daftar dosa dan kesalahan yang terus diingat. Lalu, membuncahkan rasa solidaritas di tengah situasi yang tersegregasi.
Karena itu, sebuah upaya jangka panjang harus dilakukan untuk meminimalisir segregasi sosial. Upaya yang memudarkan identitas kelompok yang justru membuat kelompok lain menjadi tidak puas. Prinsip-prinsip munculnya identitas dan pemertahannya selalu tidak lepas dari kepentingan pragmatis.
Tentu sudah harus dipikirkan bagaimana menciptakan identitas bersama dalam konteks kepentingan pragmatis itu. Lalu, memupuknya agar tumbuh subur. Memeliharanya agar tumbuh membesar.
Pemerintah, elit, dan kita semua yang mencintai suasana damai mesti memikirkan kepentingan pragmatis, menciptakan alasan yang kuat untuk membentuk identitas itu. Sebaliknya, kita semua harus berusaha menghapus identitas-identitas kelompok yang dipandang negative kelompok lain –sembari tentu saja menghapus keinginan untuk melihat sesuatu dari sudut negatifnya saja.
Diposting oleh Yusriadi di 00.28 2 komentar
Label: Buku, Orang Tionghoa, Pontianak
Minggu, 18 Januari 2009
Saya Pengin Bisa Menulis
Oleh Yusriadi
"Saya pengin bisa buat buku,"
Itu kata seorang teman saat melihat buku baru yang kami terbitkan.
Saya tersenyum melihat polahnya. Senang juga melihat dia memberikan apresiasi seperti itu. Lebih senang lagi karena buku yang saya tunjukkan bisa membakar semangatnya. Buku kami bisa memberinya motivasi.
"Gimana caranya ya?"
Dia bertanya lagi. Cukup serius. Saya tidak lagi tersenyum.
Saya ingat bukan baru kali ini saja saya mendengar orang ingin membuat buku. Sudah sering. Saya tidak bisa menghitungnya. Teman wartawan. Teman dosen dan guru. Mahasiswa. Juga para aktivis.
Kata-kata itu sering saya dengar sesering itu usaha saya memberikan motivasi agar orang mau menulis pengalaman-pengalaman hidup mereka.
Tetapi, kerap kali keinginan itu tidak menjadi kenyataan.
Habis tertiup angin. Hilang begitu saja.
Buku yang ingin ditulis tidak pernah wujud. Bahkan tulisan yang dijanjikan tidak pernah ada. Hatta, satu kata pun tidak.
"Aduhhhh... tak jadi-jadi,"
"Sibuk terus. Belum sempat,"
"Susah nak mulainye,"
Alasan.
Banyak lagi. Seabreg-abreg.
Kadang-kadang saya bertanya.
"Masih ada lagi alasannya?"
Lalu, ujung-ujung.
"Ha....ha... ha..."
***
Tertawa adalah jawabannya. Banyak makna di balik tawa itu. Tawa itu bagi saya sama saja. Saya mengira memang lebih mudah mengumbar janji dibandingkan menunaikannya. Lebih enak memasang target daripada melaksanakannya.
Dan, begitulah. Bukan cuma mereka. Di mana-mana begitu.
Selalu ada orang yang memberikan alasan tidak menulis karena tidak punya waktu untuk menulis. Mereka jenis ini cenderung mengatakan mereka tidak bisa menulis karena sedang fokus pada 'kesibukan' itu. Mereka, bisa jadi memang tidak punya waktu yang tersedia karena benar-benar sibuk. Tetapi, bisa jadi juga sebenarnya waktu yang masih tersisa ada, namun mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka tidak bisa menulis karena sedang banyak pikiran, banyak yang dipikirkan. Kononnya begitu.
Ada yang tidak menulis karena mereka tidak memiliki bahan yang bisa ditulis. Tidak ada bahan. Mereka seperti ini tidak banyak membaca. Juga tidak banyak mengamati dan memperhatikan keadaan di sekitar mereka.
Ada yang tidak menulis karena tidak bisa menulis. Mereka tidak memiliki kemampuan itu. Mereka tidak dapat merangkai kata, menyusun kalimat membentuk paragraf. Yang mereka miliki hanya kemampuan berbicara. Mereka lahir dan besar dari peradaban lisan. Ngomong jak.
Di atas dari semua itu, ada yang tidak menulis karena memang mereka malas menulis. Sering saya melihat bahwa alasan-alasan yang dikemukakan, yang macam-macam itu, sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malas itu.
Misalnya, alasan tidak punya waktu, padahal saya merasa mereka belum memakai menit demi menit kehidupan mereka. Mereka tidak benar-benar kehabisan waktu, sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa. Masih banyak waktu tersisa. Yang berprofesi sebagai ibu-ibu rumah tangga - selain mengajar, masih memiliki waktu untuk menonton sintron. Masih punya waktu ngerumpi, dll.
Mereka juga tidak benar-benar yakin mereka tidak bisa menulis. Pendidikan mereka tinggi. Umumnya pernah kuliah. Sekalipun cuma Diploma 2. Apalagi kebanyakan mereka yang berjanji menulis adalah mereka yang berpendidikan tinggi. S-1. Jadi, sangat meragukan, benarkah orang itu tidak bisa merangkai kata? Benarkah dia tidak bisa menyusun kalimat? Lalu, bagaimana dahulu mereka menulis skripsi? Bagaimana mereka menulis makalah untuk tugas selama kuliah? Bagaimana mereka membuat makalah untuk kenaikan pangkat mereka?
Saya juga percaya mereka memiliki bahan yang cukup untuk menulis karena bahan yang mereka mau tulis adalah bahan yang sudah ada di dalam pikiran mereka. Tidak perlu mencari.
Inilah kadang-kadang membuat saya lebih mudah mentertawakan teman-teman yang mengatakan mau menulis, namun tulisannya tidak jadi-jadi.
Dan, mereka bisa ikut tertawa karena menyadari apa yang berada di balik "alasan-alasan itu".
Diposting oleh Yusriadi di 02.09 0 komentar
Label: Buku, Menulis, Tentang Yusriadi
MIMPI DI BORNEO (Kumpulan Cerpen Mahasiswa STAIN Pontianak)
Mimpi di Borneo
Borneo
Tanah dengan sejuta harapan
Bermimpilah di sana dengan mimpi-mimpi indah
Jejaklah kakimu di sana
Tancapkan dengan kuat
Melangkahlah dengan tangkas
Gapailah impianmu
Oleh: Yusriadi
Mimpi di Borneo. Itulah buku berisi 11 cerita yang ditulis oleh sepuluh mahasiswa yang mengikuti kelas Feature, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, plus seorang dosen pengampu matakuliah tersebut.
Buku ini diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press tahun 2009, dengan editor Ambaryani dan Marisa Syakirin.
Sebelas bagian itu adalah:
Pada bagian pertama, cerpen tulisan Herianto berjudul “Perjuangan Seorang Ayah”. Tulisan ini mengisahkan bagaimana beratnya perjuangan ayah membesarkan anaknya, seorang diri setelah istrinya tiada. Kisah ayah yang bertanggung jawab. Tanggung jawab ini dibawanya hingga ajal menjemput.
Bagian kedua berjudul “Wonder Women Class” karya Hardianti. Isinya, tentang sekelompok mahasiswa perempuan menghadapi godaan dan tantangan. Ada isu perkuliahan. Ada juga isu asmara.
Bagian ketiga berjudul “Kenangan di Batu Ampar” tulisan Ira Humairah. Tulisan berisi pengalaman penulis ketika mengikuti kegiatan Masa Bhakti Mahasiswa angkatan tahun 2008 di Batu Ampar. Batu Ampar, nama tempat di kabupaten Kubu Raya. Letaknya di selatan Pontianak.
Bagian keempat berjudul “Selamat Berjuang Ksatriaku” tulisan Erni Purwanti. Tulisan ini bercerita tentang percintaan aktivis muda Islam. Cinta memberi warna dalam gerakan mereka.
Bagian kelima berjudul “Liburan Kami Kali Itu” tulisan Linda Puji Rahayu. Tulisan ini bercerita tentang perjalanan penulis ke Mempawah, ibukota kabupaten Pontianak. Penulis menggambarkan lika-liku perjalanan, dan hiruk pikuk suasana. Ada bumbu lucu dan ceria, khas anak muda.
Bagian keenam berjudul “Semua Demi Orang Tua”, tulisan Badliana. Tulisan ini berkisah tentang seorang anak yang berbakti pada orang tua.
Bagian ketujuh berjudul “Ta’aruf” tulisan Marisa Syakirin. Tulisan ini bercerita tentang cinta seorang gadis yang pernah mengalami patah hati. Tulisan ini menggambarkan kepasrahan seorang anak manusia setelah mendapat cobaan yang berat dalam kehidupannya.
Bagian kedelapan berjudul “Kado Terakhir” tulisan Ambaryani. Penulis menceritakan perjalanan hidup seorang mahasiswa yang menderita penyakit jantung. Penyakit ini diketahui setelah dia dikerjain oleh teman-temannya. Penyakit itu pula yang membawa pergi meninggalkan dunia fana ini.
Bagian kesembilan “Maafkan Aku” tulisan Erika Sulistia Mayda. Kisah ini berkisar seputar kehidupan di pondok pesantren, dengan berbagai warna. Konflik hidup bersama dirangkai menjadi jalinan cerita yang menarik pada bagian ini.
Bagian kesepuluh “Mimpi di Borneo” tulisan Septian Utut. Kisah ini bercerita seputar perpindahan seorang anak dari Jawa ke Pontianak. Ada mimpi indah. Ada tekanan psikologis. Ada proses adaptasi. Tidak mudah. Namun, di balik kesulitan itu ada kebahagian yang menjumput. Anak yang terpisah dari ayah bisa berkumpul lagi. Hati yang terpisah oleh mimpi bisa menyatu dalam realiti.
Bagian kesebelas “Pilihanku” oleh Yusriadi. Bagian ini mengisahkan perjalanan hati seorang mahasiswi yang kemudian memilih temannya sendiri sebagai tambatan. Tidak instant. Tidak serta merta. Prosesnya panjang. Walaupun begitu alurnya mengalir dengan lembut dan apik. Tidak neko-neko. Tidak melanggar etika dan moral.
Diposting oleh Yusriadi di 01.54 1 komentar
Label: Buku, Cerita, Tentang Yusriadi
Sabtu, 03 Januari 2009
Buku: DARI WAK GATAK KE KAMPUNG BETING

Buku ini berisi catatan perjalanan peserta pelatihan metode penelitian berbasis participatory action research (PAR) yang diselenggarakan STAIN POntianak, Desember 2008.
Diposting oleh Yusriadi di 02.04 0 komentar
Label: Buku, FOTO, Tentang Yusriadi
Catatan untuk Buku: DARI WAK GATAK KE KAMPUNG BETING
Oleh: Yusriadi
Buku “Catatan Perjalanan dari Wak Gatak ke Kampung Beting” akan dilaunching sebentar lagi. Buku ini adalah buku yang sederhana. Tetapi, sekaligus buku yang menakjubkan.
Sederhana, karena isi buku adalah catatan perjalanan delapan (8) peserta –dari lebih 20 peserta, yang tergabung dalam kegiatan pelatihan peneliti Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, Desember lalu.
Peserta mencatat waktu kegiatan, apa yang mereka lihat. Apa yang mereka dengar. Apa yang mereka bicarakan. Bahkan, sesekali dicatat juga apa yang mereka pikirkan.
Pasti, catatan seumpama itu bisa dibuat oleh semua orang. Bedanya, mungkin pada kedalaman dan pada keteperincian. Mungkin juga ada beda dari sisi bagaimana cara mengungkapnnya.
Jangankan dosen, sebenarnya catatan seperti ini bisa dibuat oleh mahasiswa, atau siswa sekolah menengah atas.
Soal sebenarnya: mau atau tidak.
Sebab sering kali orang tidak mau melakukan itu. Sering kali orang tidak sempat melakukan hal itu karena banyak kesibukan.
Sering kali orang tidak mau melakukan karena hal seperti itu terlalu sederhana. Terlalu kecil dan remeh temeh.
Tetapi, walaupun remeh temeh, tetapi ketika saya membaca semua tulisan itu, saya menemukan keajaibannya.
Bukan saja saya merasa seperti terlibat dalam semua petualangan itu, atau karena saya dapat membayang pengalaman masing-masing penulis. Saya takjub karena menemukan banyak hal baru di sini.
Semua itu bermula ketika saya membuat pengantar untuk buku ini. Saya membuat tulisan pengantar berjudul: “Usaha Kecil untuk Impian yang Lebih Besar”.
Melalui tulisan pengantar ini saya ingin mencari kelebihan yang disajikan buku ini, dan saya memikirkan sumbangan apa yang bisa diberikan buku ini untuk pemberdayaan masyarakat di tiga lokasi: Parit Wak Gatak, TPI dan Kampung Beting.
Dan, saya menemukan. Data yang disajikan, meskipun dalam bentuk data mentah, justru memperlihatkan kekayaan.
Ada dua hal yang membuat saya terperangah setelah menggeluti tulisan ini. Pertama adalah soal perubahan. Perubahan apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Dan kedua, bagaimana masyarakat bersikap terhadap perubahan itu.
***
TPI adalah singkatan dari Tempat Pelelangan Ikan. Fasilitas ini dibangun sebagai tempat kapal ikan berhenti dan bongkar muat. Tidak terlalu jelas apakah ada pelelangan dilakukan di sini.
Pada mulanya, kampung di sini adalah perkebunan kelapa, yang kemudian menjadi perkebunan karet. Setelah itu menjadi tempat menanam padi, lalu menjadi perumahan. Sekarang perumahan tumbuh di mana-mana. Sangat padat. Bersambung-sambung. Padatnya TPI sudah sama padatnya dengan perumahan seperti Perumnas di tengah kota Pontianak.
Perumahan yang dibangun itu menjadikan TPI sebagai tempat yang majemuk. Orang datang dari mana-mana. Orang dari berbagai daerah asal dan suku, serta dari berbagai jenis pekerjaan, berkumpul di sini. Sangat terbuka.
Keberadaan TPI juga menarik. Tembok-tembok TPI menjadi tembok yang membatasi tempat itu dengan masyarakat sekitar. TPI, tempat pendaratan ikan, tempat kapal berlabuh, juga menjadi tempat awak-awak kapal mendarat. Tempat orang berkumpul.
Memang ada rizki yang terciprat dari sana. Perdagangan kecil marak.
Tetapi, pendaratan juga mendatangkan ancaman bagi masyarakat sekitar. Lihat sikap yang diperlihatkan anak-anak perempuan yang dilaporkan Hermansyah, penulis bagian ini.
Mereka takut. ”Untuk apa Om tanya-tanya,” jawab seorang dengan ketus, lalu pergi. Sikap yang mengherankan. Berbeda dibandingkan sikap anak-anak lelaki yang dengan ramah melayaninya melakukan wawancara.
Mengapa mereka takut?
Mereka takut bukan karena mereka tidak mau membantu. Mereka takut karena ada yang mereka khawatirkan. Orang di TPI khawatir anak-anak perempuan mereka ’diincar’ oleh orang-orang kapal. Karena itu mereka melarang anak perempuan dekat dengan sembarang orang. Tidak boleh juga melayani percakapan. Larangan itu tidak berlaku pada anak lelaki.
***
Informasi dari Kampung Beting, Pontianak Timur juga menarik. Juniawati melaporkan sesuatu yang ironi terjadi.
Beting adalah sejarah kota Pontianak. Ini cikal bakal kota ini. Nenek moyang merekalah pendiri kota ini.
Namun, di sisi lain, pembangunan di sini ‘agak tertinggal’. Jalan menuju perumahan adalah jalan kecil. Sebagian hanyalah jalan kayu: gertak.
Rumah-rumah padat dan agak sederhana. Jemuran diletakkan di depan rumah, di sepanjang jalan.
Tidak ada sekolah yang elit di sini. Bahkan sekadar sekolah menegangah atas.
Jumlah anak-anak yang bersekolah juga terbatas.
Keadaan ekonomi di sini juga tidak cukup baik. Setidaknya jika dibandingkan keadaan yang bisa dilihat di seberang mereka: di pasar Senghie.
Pasar yang ada masih serupa pasar tradisional, yang mungkin tidak berubah sejak lebih 300 tahun lalu.
Bahkan, belakangan Kampung Beting menjadi wilayah baru yang menyeramkan. Angker. Dengar saja apa kesan orang luar yang masuk ke sini.
Yang terjadi sekarang, Kampung Beting tertutup. Ada pagar maya –yang tidak terlihat mata membatasi. Membatasi orang luar, dan mungkin juga membatasi orang dalam itu sendiri.
Saya melihatnya sebagai pembatas yang muncul menyusul perlawanan penduduk setempat terhadap perubahan. Pembatas ini muncul sebagai bentuk protes penduduk setempat terhadap ironi yang disajikan di depan mereka.
Lalu, apakah keadaan ini akan terus bertahan? Atau, bisakah mereka terus bertahan di tengah keterbatasan dan ironi itu? Siapa yang akan membawa mereka keluar?
Pertanyaan ini membuat saya jadi teringat pada pemilihan walikota Pontianak beberapa waktu lalu. Pontianak Timur, termasuk Kampung Beting, merupakan daerah yang paling banyak mendapat sorotan selama masa kampanye pemilihan walikota Pontianak. Waktu itu kandidat menjual ketertinggalan Pontianak Timur untuk mencari simpati orang-orang Pontianak Timur. Beberapa kandidat berjanji akan meningkatkan pembangunan di Pontianak Timur. Wilayah ini akan dijadikan sebagai prioritas.
Tunggu saja!
***
Apa yang ditemukan di Parit Wak Gatak juga tidak kalah menarik. Situasi yang diperlihatkan berbeda dan bahkan bertolak belakang. Parit ini, adalah daerah yang makmur. Tanahnya subur. Penduduk di sini kebanyakan orang Madura dan sedikit Bugis. Masyarakatnya rajin. Ekonomi nampak agak lebik baik. Dan rancak. Jenis makanan luar laris manis. Rumah penduduk besar dan permanen.
Tetapi, pendidikan tidak cukup baik. Sekolah yang ada memprihatinkan. Sekolah bocor. Kalau hujan, anak-anak pindah belajar ke masjid. Ruang belajar juga terbatas. Satu ruang untuk dua kelas. Guru yang mengajar juga terbatas. Maklum, sekolah swasta.
Selain itu, pemasaran produk tidak cukup baik. Jalan masuk ke kampung belum bagus. Jalannya lebar. Bila hujan, jalan becek. Terhambat.
Pemasaran sangat tergantung pada “peraih” yang datang dari luar. Peraihlah yang membeli hasil tani mereka. Harganya tentu saja agak lebih miring.
Tetapi dari data yang disajikan di buku ini, dapat diramalkan perubahan yang hebat sedang terjadi. Lahan pertanian yang subur itu mulai berpindah tangan. Pembelinya adalah orang yang berasal dari kota Pontianak. Orang kaya.
Tidak jauh dari Parit Wak Gatak sudah berdiri perumahan. Lahan untuk perumahan akan melebar menggeser lahan untuk pertanian. Pasti penduduk luar akan masuk.
Mampukah orang kampung bersaing dengan orang luar –ketika pendidikan mereka terbatas? Mampukah mereka menghadapi orang luar ketika keterbatasan pengalaman mereka hanya sebatas kehidupan kampung mereka?
Lihat saja nanti.
Saya kira dilihat dari perspektif sosial, apa yang diperlihatkan di tiga tempat ini memperlihat respon yang berbeda terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dan ini tentu saja akan menjadi sesuatu yang menarik untuk terus diamati. Sampai pada batas-batas tertentu.
Saya kira jika mau peduli, fenomena ini tentu tidak boleh diabaikan begitu saja. Di sinilah advokasi sesungguhnya diperlukan oleh masyarakat. Lebih dari sekadar teriak-teriak.
Diposting oleh Yusriadi di 02.02 0 komentar
Label: Buku, Pontianak, Tentang Yusriadi
Sabtu, 27 Desember 2008
BUKU BARU

Judul : Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat
Penyusun : Yusriadi
Tahun : 2008
Penerbit : STAIN Pontianak Press
Tempat Terbit : Pontianak
Diposting oleh Yusriadi di 01.38 0 komentar
Label: Buku, Dayak, Orang Melayu, Orang Tionghoa, Tentang Yusriadi
Tak Kenal Maka Tak Tahu: "MEMAHAMI KESUKUBANGSAAN DI KALIMANTAN BARAT"
Yusriadi
Tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak cinta. Pepatah ini berlegar dalam ingatan saya. Saya sering menggunakannya. Dahulu.
Terutama saat bicara di forum resmi di depan orang-orang. Saya memulai ungkapan ini sebagai ungkapan pembuka kata. Tidak ada makna mendalam yang resapi. Basa basi. Saya tahu, orang lain juga sering menggunakan ungkapan itu.
Ketika saya memilih judul “Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” untuk kumpulan tulisan saya yang dibukukan dan diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press (2008), saya teringat akan pepatah ini.
Beda dibandingkan sebelumnya, saya menggunakan kata-kata ini dan meresapinya.
Dalam pikiran saya, masalah kesukubangsaan di Kalbar harus dipahami. Orang harus berusaha tahu tentang komunitas lain, selain komunitas sendiri.
Pengetahuan ini penting karena latar belakang masyarakat Kalbar. Masyarakat Kalbar terdiri dari berbagai kelompok etnik, kelompok suku bangsa. Ada Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa. Ada lagi kelompok lain.
Orang Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa, perlu mengetahui tentang kelompok Dayak. Mereka perlu mengetahui ciri atau identitas Dayak. Mengetahui budaya, bahasa, dll. Semakin dalam pengetahuan, semakin baik.
Begitu juga sebaliknya. Orang Dayak, perlu mengetahui kelompok lain. Semua suku.
Pengetahuan yang terbatas akan menimbulkan praduga. Sebaliknya, pengetahuan yang cukup, pengetahuan yang baik dan mendalam tentu akan menghilangkan stereotip, akan menghilangkan praduga. Pengetahuan seumpama ini akan membantu orang saling memahami.
Saya membayangkan jika masing-masing saling memahami. Saya membayangkan jika kesalingpahaman bisa diwujudkan, bisa ditumbuhkembangkan sejak awal, sudah tentu penghargaan akan tumbuh.
Tidak perlu orang berkelahi karena mereka tidak mengerti orang lain. Tidak perlu orang ribut hanya karena mereka curiga, curiga pada sesuatu yang seharusnya tidak dicurigai. Ambil contoh yang paling sering digunakan orang, tentang carok di kalangan orang Madura. Di dalam budaya asal, carok dilihat sebagai sesuatu yang positif. Carok dilihat dalam konteks orang mempertahankan dan mengembalikan harga diri. Pertahanan berarti pasif. Hanya untuk membalas jika harga diri diserang. Bukannya memulai menyerang. Orang tidak memahami konteks carok. Orang tidak memahami mengapa carok dipertahankan dalam budaya orang Madura. Jika orang memahami dengan benar tentu tidak akan menganggap carok dari sisi negatif saja. Begitu juga sebaliknya, orang Madura yang mengerti tentang carok tentu tidak akan asal ‘pakai’ istilah itu untuk melegitimasi tindakan kriminal yang dilakukan.
Saya berusaha menerbitkan buku ‘Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” dengan harapan, buku ini bisa memberikan sumbangan untuk membangun saling memahami itu. Di dalam buku ini digambarkan tentang identitas, persebaran, dan budaya suku Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura dan Bugis. Ada harapan besar untuk masa depan, agar setiap orang menjadi lebih memahami diri dan orang lain dengan baik. Orang menjadi lebih mengerti. Orang menjadi lebih berpengetahuan. Orang menjadi lebih beradab.
Harap-harap kelak setiap orang bisa menebarkan cinta untuk orang lain. Setiap orang, kelak, bisa memandang orang lain sebagai bagian dari dirinya juga. Sama-sama orang-orang Kalbar, “orang diri’” atau “orang kita”.
Diposting oleh Yusriadi di 00.38 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Buku, Dayak, Orang Madura, Orang Melayu, Orang Tionghoa, Tentang Yusriadi
Rabu, 30 Juli 2008
Opini dari Tribune 1

Opini dari Tribune 1 adalah kumpulan artikel yang pernah diterbitkan di Harian Borneo Tribune, Pontianak, Kalimantan Barat. Tulisan-tulisan ini berkaitan aspek pendidik, pembangunan, politik dan sosial budaya di Kalimantan Barat. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Yusriadi dan Fahmi Ichwan di Redaksi Borneo Tribune.
Diposting oleh Yusriadi di 00.40 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Buku
Senin, 21 Juli 2008
Kota Pontianak Pada Abad ke-19
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Matan 7 Juli 1895. Di kota kecil itu sebuah syair ditulis. Syair Pangeran Syarif (SPS). Syair ini menggambarkan situasi kota Pontianak pada masa Belanda.
Penduduk Pontianak
Gambaran tentang penduduk kota Pontianak dapat dilihat pada Bait 193 hingga 213. (1). Di kalangan orang Eropah yang menjadi penduduk Pontianak: (a.) Tentera dan pegawai sivil terdiri dari orang Belanda. (b.) Swasta terdiri dari orang-orang Belanda, Inggeris dan
Persman (Orang Belanda bahagian utara). Orang-orang Eropah pada waktu itu rapat hubungannya dengan pegawai-pegawai tentera dan sivil Belanda, juga bersahabat dengan sultan.
(2). Orang swasta Eropah ini mendirikan berbagai perusahaan perdagangan dan perniagaan, perusahaan membuat periuk dan papan. (3). Ada pula orang Eropah swasta yang makan gaji; dengan belayar kapal api, menjadi juru jentera atau pegawai dan nakhoda kapal. (4). Di kalangan orang Bugis pula, termasuk yang datang dari Wajo, dan orang yang datang dari Sumbawa; mereka tinggal di pesisir pantai, dan merekalah yang menguasai kebun ladang. (5). Orang Bugis tinggal berkelompok sesama mereka, membuat kampung dengan susunan perumahan yang berlapis-lapis: Bilangan mereka sangat banyak. Disebutkan mereka memenuhi jajahan laut, dan kalau terjadi perperangan, orang Bugis inilah yang lebih dulu berperang.
Di rawa-rawa yang asalnya tumbuh nipah, bakau, apiapi dan perepak, yang membentang dari Mempawah di barat laut hingga ke Padang Tikar di tenggara, semuanya sudah menjadi ladang kelapa orang Bugis.
Hasil kelapa dari orang Bugis ini disebutkan sangat banyak, dan ini juga jadi hasil pungutan cukai untuk sultan.
Sedangkan suku bangsa yang terdapat di Pontianak ketika itu, seperti tergambar dalam SPS antara lain: (a.) Jawa, yakni dari Betawi, Surabaya dan Plered. (b). Bali. (c). Madura, yakni dari Madura, Semenap dan Bawean
Dalam anotasi ini, istilah Melayu merujuk kepada nama bangsa yang lebih skope luas, yakni: Melayu dari Kalimantan sendiri seperti dari Banjarmasin, Banjar Negara, Banjar Tanggi, Martapura, Brunei, Sarawak, Sambas, Singkawang. Melayu yang datang dari Kepulauan Riau, yakni dari Tembelan, Jemaja, Bunguran, Siantan, Serasan, Kamboja, Daik, Lingga, Munto dan Belitung.
Melayu dari Sumatera , yakni Batu Bara, Siak, Bangkahulu, Padang, Deli, Kampar, Kuantan, Jambi, Palembang.
Melayu dari Malaya, yakni Pulau Pinang, Melaka, Johor, Singapura, Pahang, Terengganu, Petani, Kelantan. Melayu dari Indochina yaitu dari Kemboja. Melayu dari Sulawesi, yaitu dari Bugis, Makasar, Buton. Dari Nusantara, yakni Nusa Tenggara, Sumbawa
Orang asing yang ada di Pontianak ketika itu adalah dari Jazirah Arabia (Arab Hadralmaut), dari Afrika yakni Habsi dan Arab Walkiti (Mesir), dari India yakni Keling dan Surati.
Terdapat juga orang dari Eropah yakni dari Belanda dan Inggeris.
Taraf Hidup Penduduk Pontianak
Gambaran tentang taraf hidup orang Pontianak bisa dilihat pada Bait 214 hingga 229. Dikemukakan Arena Wati dari bait 214 hingga 222 dijelaskan interaksi antara penjual dan pembeli dalam perniagaan pakaian dan makanan yang terdapat di daratan dan kedua belah tebing sungai Pontianak. Para pedagang ini terdiri dari Islam dan kafir, terdiri dari orang yang setempat dan musafir. Di samping itu banyak yang berdagang tetapi lebih banyak lagi yang hidup sebagai kuli. Disebutkan juga banyak yang bekerja sendiri membuat berbagai jenis barang keperluan hidup sehari-hari untuk diperdagangkan.
Penjual barang menjajakan jualannya dari rumah ke rumah, termasuklah perhiasan emas perak dan batu-batu permata. Dalam hal ini penyair menyimpulkan tentang kepintaran penjual barang:
Ada Melayu Keling dan Cina
Terkadang jantan terkadang betina
Kalau tak mahir memandang warna
Adalah juga orang yang terkena. (Bait 222)
Dari bait 223 hingga 229 penulis SPS memberikan gambaran tentang keadaan perumahan penduduk. Rumah penduduk dibangun kokoh dan indah. Atap rumah terdiri dari atap sirap – kayu belian, dan seng. Jarang rumah penduduk di kota Pontianak yang beratap daun nipah. Jendela-jendela rumah sudah mula dibuat dari besi.
Model rumah juga sudah didesain dengan berbagai-bagai bentuk. Bahkan katanya sudah banyak meninggalkan bentuk tradisi Melayu.
Perabot rumah lengkap dan halaman rumah dihiasi pintu gerbang bentuk mahkota. Kursinya bertilam dengan dilapik renda bersulam.
Yang lebih kaya lagi, dalam kamarnya dilengkapi katil dan gets, dialas puadai yang menyenangkan mata.
Penulis SPS menangkap ada persiangan dalam melengkapi dan memperindah rumah masing-masing.
Menariknya, menurut penulis, yang mula-mula membangun rumah model baru ini ialah orang Melayu, lalu diikuti orang Cina. Pada akhirnya orang Cina lebih hebat lagi rumahnya kerana terus meniru bentuk Barat.
Dari bait 230 hingga 234 penyair menggambarkan tipologi rumah orang Cina. Katanya rumah sistem bangsal masyarakat Cina menurut keperluan hidup sistem kongsi dan taraf migran sudah dipandang hina oleh orang Cina generasi baru Pontianak; oleh sebab itu ramailah taukeh yang membangun rumah mereka dengan bentuk baru yang sesuai untuk mereka hidup satu keluarga sahaja.
Taukeh-taukeh muda membina rumah mereka menurut cara Belanda dengan dilengkapi perabot ala Barat.
Segala taukeh yang muda-muda
Rumah dibikin cara Olanda
Alat kelengkapan semuanya ada
Disuruh pandang dengan ayahnda
(Bait 231)
Persaingan dalam bentuk rumah modern ini juga telah menukar sikap sebagian tauke kaya terhadap tamu yang datang ke rumahnya: (i) Menurut tradisi Cina, tamu diterima dan hanya melihat sekitar ruang tamu. (ii). Sikap baru dari Barat telah mempengaruhi mereka, iaitu tamu diperlihatkan seluruh perabot dalam semua ruangan rumah dari pintu depan hingga ke pintu dapur. (iii) Orang kaya itu cenderung senang dipuji. Disebutkan tamu yang memuji rumah dan perabotnya, dijamu sebaik-baiknya dan diajak selalu datang berkunjung.
Perumahan orang Belanda lebih hebat lagi dibandingkan perumahan orang Melayu dan Cina.
Dari bait 235 hingga 237 diperlihatkan pula tentang model pakaian yang lagi ’trendy’ pada masa itu. Penyair melihatnya sebagai fenomena bertambahnya adat
adat baru ke dalam penghidupan:
a. Penyair hiba hati menyaksikan semakin hebatnya saingan terhadap pakaian tradisi, kerana kain baju sudah berubah, yang dikatakannya potongannya seperti gamis dan jubah.
b. Dalam hal ini orang tidak lagi memperdulikan taraf kasta dalam masyarakat, masing-masing sudah memakai jam saku tergantung di dada baju; dan kalau dilihat dari jauh, orang tak mengenalnya lagi entah Si Lamat atau entah Si Untung.
Dalam suasana demikian itu di Pontianak, kekuasaan dan kemampuan membolehkan apa saja yang diingini, bisa dinikmati.
Tidaklah dapat dipanjangkan peri
Dalam ayahnda duduk berdiri
Melihat adat aturan negeri
Limpah dan makmur sehari-hari
(Bait 238).
Kata Akhir
Dari gambaran singkat tentang keadaan kota Pontianak dan kehidupan masyarakat pada abad ke – 19, diperoleh gambaran tentang suasana yang metropolis. Pontianak ketika itu jelas menggambarkan sebuah kota yang maju, kota yang sangat terbuka. Kehidupan juga cukup rancak dengan dinamika sebagai sebuah kota metropolitan. Pontianak menjadi tempat berkumpul orang yang datang dari berbagai daerah.
Kekaguman seorang sultan Matan bisa dipahami sebagai orang yang baru datang di sebuah tempat yang baru. Dia tentu sangat peka terhadap apa-apa yang dia lihat dan apa yang dia alami.
Tentu juga harus dimaklumi bahwa gambaran yang diberikan belum tentu tepat dan merupakan representasi untuk mewakili wajah kota Pontianak di akhir abad ke-19 (tahun 1894). Maklum tulisan ini merupakan karya sastra. Bentuk karya yang kadang kala diragukan nilai faktanya.
Lukisan wajah Pontianak melalui syair masih harus dibandingkan dengan lukisan lain yang sezaman. Sebut misalnya deskripsi yang digambarkan oleh A. Niewenhuis, dokter Belanda yang mencatat perjalanannya saat melakukan ekspedisi dari Pontianak ke Samarinda yang juga dilakukan di tahun 1894. Dalam bukunya yang diterbitkan Gramedia tahun 1994 – memperingati 100 tahun ekpedisi itu gambar Pontianak juga dibuat seimbas lalu.
Diposting oleh Yusriadi di 02.23 0 komentar
