Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
“Musim ngkabang” (tengkawang) tahun ini di kampung saya Riam Panjang, sudah berakhir. Buah yang ada sudah luruh, semuanya. Buah-buah itu sudah disalai dan dikeluarkan dari cangkangnya. Sudah ditimbang dan dilego kepada pengumpul. Hasilnya pun sudah dinikmati.
Hanya, hasil yang dinikmati musim ini tidak besar-besar amat. Seperti yang sudah-sudah, harga buah ngkabang selalu turun. Selalu, di awal musim, harganya bagus. Di akhir musim, harganya anjlok. Menurut masyarakat, harga begini tergantung nasib. Jika nasib baik, dapatlah petani harga bagus. Jika nasib tidak baik, petani kena harga jelek. Entah!
Tetapi, bagaimanapun harga ngkabang itu, petani tidak pernah ketiban sial, yang benar-benar sial. Tidak, karena mereka tetap dapat memperoleh uang lumayan dari penjualan. Cuma, kalau harganya turun sampai separoh dari harga awal musim, berarti untungnya tidak banyak, tidak maksimal.
Jadi, pada prinsipnya mereka tetap untung. Ngkabang merupakan asset penting dalam kehidupan mereka. Masyarakat menganggap musim ngkabang sebagai musim “uang mudah”. Karena itulah musim ngkabang selalu menjadi musim yang paling ditunggu-tunggu dalam masyarakat di kampung.
Dahulu, saya masih ingat orang kampung bergurau-gurau:
“Aku ngami’ dulu’ bah, mayar pagi, nungu’ ngkabang jatu’”. (Aku ambil dahulu (utang). Membayarnya besok, menunggu buah tengkawang jatuh).
Ya, kalau sudah musim ngkabang orang memang makmur. Masyarakat memiliki pendapatan tambahan yang besar.
Waktu kecil, waktu musim ngkabang kami bisa sedikit royal. Kami bisa makan indomie dua atau tiga kali sehari. Dahulu, di tahun 1980-an, kami, anak-anak kampung mengukur kemakmuran kami dengan indomie. Indomie –jenis apa saja mie disebut begitu, adalah makanan elit. Mewah. Kalau kami punya uang, kami lebih suka membeli indomie dan memakannya begitu saja tanpa dimasak. Kalaupun dimasak, indomie hanya dimasukkan ke dalam mangkok, lalu dituangkan air panas, kasih bumbu, lalu …dilahap.
Ngkabang memang mendatangkan berkah bagi kami. Bayangkan jika satu kilo ngkabang mentah (ngabang tolu’) harganya Rp1500, dan dalam satu hari satu keluarga bisa dapat minimal 100 kilo, berarti, satu hari bisa memperoleh pemasukan hingga mencapai Rp150.000. Bandingkan dengan hari biasa, dari menoreh getah rata-rata orang hanya bisa mendapatkan sekitar Rp 30.000,-
Tetapi, itu dahulu. Sekarang dengar-dengar, keadaannya sudah agak beda. Walaupun ngkabang masih dapat diandalkan, namun, perolehan masing-masing orang sudah menyusut. Jumlah pohon ngkabang sudah jauh berkurang. Pohon-pohon besar yang ukurannya dua pelukan orang dewasa, sudah banyak yang ditebang. Batangnya dijual, digesek untuk bahan bangunan, dll. Papan, balok tengkawang, lumayan juga harganya. Peminatnya juga banyak karena jenis kayu ini cukup kuat – asal tidak kena hujan.
Sudah banyak areal yang dahulu ditanami ngkabang, sekarang menjadi tempat ladang atau diganti tanaman karet.
Selain itu, sekarang, orang-orang di kampung sudah banyak. Masing-masing sudah beranak pianak, bercucu-cicit. Semua ikut panen ngkabang ini’ ayi (nenek datok)-nya. Pertambahan penduduk kampung memang cukup drastis. Tahun 1980-an jumlah penduduk masih sekitar 300 orang. Tahun 2000-an jumlah penduduk sudah hampir 1000 jiwa.
Malangnya, walaupun penduduk bertambah, namun luas kebun ngkabang tidak bertambah, malah menyusut.
Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun ke depan, ngkabang pasti semakin tidak dapat diandalkan. Mungkin 50 tahun yang akan datang “musim ngkabang” tidak akan ada lagi. Mungkin pada waktu itu, tak ada lagi musim “uang mudah” yang bisa ditunggu orang.
Siannye generasi cucu kami itu.
Sabtu, 01 Mei 2010
Menunggu Musim Ngkabang
Diposting oleh Yusriadi di 06.48 0 komentar
Label: Riam Panjang, Suara Enggang
Sabtu, 10 Oktober 2009
Sekolah dan Guruku di Riam Panjang
Oleh: Yusriadi
Sudah lama aku ingin mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kapuas Hulu. Aku ingin mencari data tentang partisipasi pendidikan orang Riam Panjang. Data ini akan membantu aku menjelaskan bagaimana tingkat partisipasi pendidikan orang di pedalaman, di kampung kelahiranku.
SD Riam Panjang itu sekolah dasarku. Dahulu, hampir 30 tahun lalu aku belajar di sini. Aku duduk di kursi kayu di sekolah ini selama 5 tahun, setelah aku pindah dari Madrasah Ibtidayah Riam Panjang yang ditutup begitu SD ini berdiri tahun 1978/1979.
Aku di sini menuntut ilmu dari guru-guruku – yang beberapa di antaranya sudah berpulang ke rahmatullah, ada juga yang tidak aku ketahui ke mana mereka. Sedangkan mereka yang sempat kutemui, kini sudah nampak agak tua. Melihat mereka sekarang, aku merasa aneh. Dahulu, saat aku kecil dan saat itu mereka muda, sebagian mereka menurutku galaknya minta ampun. Beberapa guru pernah memukul aku dan teman-teman dengan ranting kayu sebesar rotan kecil – ranting yang kami ambil dari semak belukar, karena kami tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Kami juga pernah dipukul dengan penggaris kayu, hingga penggaris itu patah, karena kami ribut saat tidak ada guru. Kami juga pernah dipukul dengan buku hingga buku berderai karena berkelahi. Kami pernah dijitak hingga benjol ketika ada teman yang senyum-senyum saat upacara. Wiuh, mereka ketika itu sungguh menakutkan. Orang tua hampir tidak pernah membela kami karena hukuman fisik itu.
“Salah kalian, mengapa nakal. Makanya belajar benar-benar. Guru tidak akan menghukum kalian jika kalian baik-baik“.
Karena orang tua kami menghormati guru, kami juga sangat menghormati mereka. Tak sedikit pun terlintas pikiran kami mencela mereka sekalipun kalau dipikir-pikir sekarang, betapa mereka menyakiti fisik kami. Apapun, guru dalam pandangan kami adalah orang yang layak digugu dan ditiru. Sampai sekarang. Guru-guru kami tetaplah guru.
Mereka juga memandang kami benar-benar murid yang mereka bimbing. Mereka melaksanakan tugas karena panggilan jiwa mereka sebagai pendidik.
Aku selalu terharu ketika bertemu mereka, terharu ketika mendengar mereka membanggakan kami sebagai muridnya yang kini berhasil. Cara mereka bernostalgia tentang kami dahulu saat belajar membuat kami juga merasa menjadi murid yang beruntug karena memiliki guru yang sayang pada kami.
***
Aku memasuki gerbang sekolah. Di sebelah kiri pintu masuk ada plang sekolah dan plang visi sekolah. Visi yang akan selalu mengingatkan guru-guru di sekolah ini pada tugas mereka sebagai pendidik.
Bangunan sekolah memanjang. Pada bagian paling ujung sebelah kanan ada kantor. Bangunan sekarang adalah bangunan baru. Bangunan lama tempat aku dan kawan-kawan dahulu belajar, dibangun tahun 1978, sudah dirobohkan. Bangunan lama, kayunya sudah lapuk.
Aku merasa sekolah ini lebih kecil dibandingkan dahulu. Kelas-kelasnya rasanya begitu kecil. Mungkin perbedaan itu muncul karena sekarang aku sudah besar. Tinggiku mungkin sudah dua kali lipat dibandingkan dahulu saat aku belajar di sini.
Aku sempat melongok ke dalam kelas melalui pintu yang terbuka. Di dalam sana ada sejumlah anak sedang belajar. Siswa tidak banyak. Kelas tidak terlalu ramai.
Sekolah ini tetap sederhana. Fasilitas yang baru rasanya cuma perpustakaan sekolah yang terdapat di sebelah kanan pintu masuk. Aku tidak sempat bertanya tentang buku. Aku juga tidak sempat mengunjunginya. Pintu perpustakaan itu tertutup.
Beruntunglah anak-anak sekarang memiliki tempat membaca. Mudah-mudahan perpustakaan ini juga menyediakan buku pelajaran, sehingga setiap siswa dapat menggunakan bahan itu. Setidaknya mereka lebih beruntung dibandingkan pengalaman kami dahulu: satu buku dikongsi orang sekelas. Seorang anak ditugaskan mendikte, kadang-kadang juga buku pelajaran itu disalin di papan tulis, dan kemudian siswa yang lain menyalinnya. Dahulu, aku juga mendapat giliran menulis di papan tulis atau mendiktekan pelajaran kepada teman-teman. Aku ingat inilah pekerjaan yang menyenangkan.
Padahal, kalau kupikir-pikir sekarang justru tugas ini menambah beban. Beban, karena di rumah nanti aku harus mencatat bahan-bahan itu dalam buku tulisku. Kawan yang lain karena sudah mencatat, bisa lebih santai.
Tetapi, mau apa lagi. Waktu itu buku-buku memang terbatas. Waktu itu tidak ada siswa yang mempunyai buku cetak. Tidak ada juga tempat foto copy.
Di balik keadaan begini, kami terlatih menulis. Sambil menulis kami bisa sambil belajar. Sekolah satu-satunya tempat belajar. Di rumah kami jarang belajar, jika tidak ada PR. Malam, kami lebih banyak diisi dengan nonton TV di tempat tetangga. – Dahulu di kampung yang luas itu hanya ada 2 TV. Bayangkan betapa ramainya. Mungkin cerita TV tidak seberapa. Tetapi, menonton ramai-ramai itu bentuk hiburan.
Kami tidak suka belajar di rumah (dan diam di rumah) karena waktu itu di rumah tidak ada lampu. Penerangan kalau malam hari hanyalah pelita. Listrik kampung tidak selalu bisa menyala. Kadang kala jika stok solar habis, atau operator listrik tidak ada, kami harus rela bergelap gulita.
Sungguh pun sekarang Riam Panjang sudah ada listrik namun amat jarang listrik menyala pada siang hari. Karena itu di ruang guru tidak ada peralatan elektronik. Tidak ada kipas angin dan AC, tidak ada komputer, tidak ada kulkas. Aku jadi membandingkan sekolah di kampung dengan sekolah di kota. Jauh sekali.
Kepala sekolah sekarang Mustafa, S.Pd memberitahukan, sebenarnya di sekolah ini sudah ada komputer. Namun karena tidak ada jaringan listrik, komputer itu tidak bisa digunakan. Karena listrik hanya ada di waktu malam dan jaringan hanya ada di rumah, akhirnya, disepakati komputer dibawa ke rumah.
Tetapi, malangnya, komputer juga tidak bisa digunakan. Komputer pernah coba dinyalakan, namun tidak bisa juga. Listrik di rumah penduduk hanya berkekuatan 450 KWH. Tidak cukup. Stut listrik jatuh.
Walau begitu, kabarnya tidak lama lagi sekolah akan mendapat laptop dan in focus. Di Pontianak‚ benda ini digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Guru membuat bahan presentasi dalam program window powerpoint, lalu, dia menyampaikannya dengan bantuan in focus yang ‚ditembakkan’ ke layar.
Aku sempat berpikir bagaimana guru di sini bisa menggunakan laptop dan in focus dalam mengajar, jika listrik tidak ada seperti sekarang. Pasti in focus akan jadi barang pajangan, seperti juga laptop sekarang ini.
Niat baik, tetapi tak mungkin terlaksana. Impian yang masih jauh dari kenyataan.
Keterbatasan ini membawa implikasi serius pada guru. Guru-guru sekolah ini, beberapa di antaranya guruku dan kawan kelasku SD, kesulitan mencapai kredit poin seperti yang disyaratkan untuk karir mereka.
Saat ini, baru 3 guru yang lulus sertifikasi. Lebih banyak yang belum. Aku mengasihani mereka yang belum: bagaimana mereka mengumpulkan angka untuk kepentingan itu. Bandingkan di Pontianak, kenaikan pangkat rasanya tidak suka dicapai. Fasilitas pendukung untuk mencapai angka kredit mudah diperoleh.
Aku sempat bertemu guru agamaku dahulu. Pak Yunus. Beliau, termasuk orang yang menghadapi kendala dalam mengejar sertifikasi. Hambatan yang terbesar: pendidikan. Beliau belum S-1. Kesempatan kuliah ada, tetapi tidak mudah. Kalau mau kuliah mereka harus biaya sendiri, ke Putussibau atau Pontianak. Jarak Putussibau 100 Km dan jarak ke Pontianak sekitar 700 Km. Kalau mau kuliah mereka harus meninggalkan kampung dan meninggalkan tugas. Belum dihitung berapa besar biaya yang diperlukan. Mengandalkan gaji sendiri sudah pasti benar-benar sulit.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah mereka dapat memperoleh izin belajar jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.
Jika begini terus keadaannya, bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tahun 2014, tahun yang katanya setiap guru harus sudah sertifikasi.
Nasib!
Tetapi aku tidak berlama-lama memikirkan nasib mereka. Aku berharap pemerintah, khususnya instansi terkait, menemukan jalan keluar bagi guru-guru di pedalaman. Kupikir, kepada instansi itulah urusan mereka diserahkan.
Saat itu, aku lebih terfokus pada buku induk siswa SD. Aku mencatat nama-nama siswa sekolah, lalu membuat tabulasi perangkatan. Aku beruntung, sekolah ini dikelola dengan baik sejak awal. Administrasinya cukup kemas, meskipun sederhana. Data murid sejak tahun 1978 hingga 2008 tersedia.
Aku benar-benar bernostalgia ketika membaca nama teman-teman lama, ketika melihat foto-foto mereka. Teman-teman sekarang sudah ke mana-mana. Bekerja dalam berbagai bidang dan profesi.
Aku juga mendapati kenyataan, ada banyak teman yang sudah menghadap Tuhan. Mereka tak mungkin dijumpai. Hanya tingga nama di buku induk. Semoga Tuhan memberikan mereka tempat yang layak.
Diposting oleh Yusriadi di 04.59 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Pendidikan, Riam Panjang
Air Bersih di Kampung Riam Panjang
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Pernah lihat orang minum air dari keran? Sepanjang hampir 19 tahun di Pontianak, belum pernah saya lihat ada orang mau minum air langsung dari ledeng. Kalaupun dahulu ada, saya hanya pernah melihat promisi dari Direktur Utama PDAM Pontianak Syahril Jafarin, yang kemudian pindah ke Jakarta. Syahril menunjukkan hal itu di ruang kerjanya beberapa tahun lalu.
Tetapi, waktu itu saya tidak begitu percaya bahwa air yang dicoba itu benar-benar seperti air yang masuk ke rumah penduduk. Pengamalan saya, jangankan air mentah, air ledeng yang dimasuk sekalipun tidak enak diminum. Ada rasa obat kata orang. Obat apa, entahlah! Pastinya, tidak seperti rasa air hujan.
Pada akhirnya orang Pontianak lebih suka minum air hujan yang mereka tadah dalam tempat penampungan air di rumah mereka. Paling, sekarang ada sedikit perubahan, orang cenderung minum air gallon atau disebut air isi ulang, yang entah sumbernya dari mana.
Tetapi, pekan lalu, ketika saya berada di Riam Panjang, teman saya, orang Pontianak, mencoba minum air ledeng. Dia terkagum-kagum melihat air ledeng yang begitu jernih.
“Luar biasa”.
Dia membuka keran di samping rumah, dan kemudian mulutnya disongsongkan ke ujung keran yang sudah dibuka.
“Airnya manis“.
Kami yang melihatnya tertawa. Dia membandingkan air ledeng di mana-mana tempat di daerah di Indonesia yang sudah dikunjunginya.
“Lebih lagi kalau dibandingkan air ledeng di Pontianak,”
Saya maklum perbandingnnya. Saya tahu kondisi air ledeng di Pontianak. Beberapa pekan lalu saya rasa air ledengnya asin. Warnanya, agak kurang jernih. Air ledengnya terintrusi air laut. Maklum ambilnya dekat-dekat Pontianak juga.
Air ledeng di kampung Riam Panjang bersumber dari air terjun Gurung Namuk di sebuah sungai di hulu kampung. 700 kilometer di hulu sungai Kapuas di anak sungai Penyeluang di antara bukit-bukit.
Ceritanya, air terjun Gurung Namuk dipilih karena debit airnya cukup. Sejauh ini memang kebutuhan air tercukupi. Dengan catatan, kalau musim kering suplai air memang tidak akan sama dengan kalau lagi musim hujan. Tetapi, sepanjang belasan tahun sejak ada air ledeng ini, belum pernah suplai air terhenti. Pernah air ledeng keruh karena ada pipa yang pecah.
Karena air yang jernih ini, PDAM tidak perlu memberikan obat untuk menjernihkan air, seperti yang terjadi pada air PDAM di Pontianak.
Lebih 20 tahun lalu, sewaktu kami berladang di Reyang Redan, nama tempat di hulu Gurung Namuk, kami selalu melalui gurung ini. Kami, saya dan saudara saya, paling senang lewat gurung ini jika musim hujan. Suara air terjun bergemuruh. Dari jarak yang cukup jauh, suara ini sudah terdengar. Pemandangannya menarik. Bagi saya pemandangan ini mengingatkan saya pada gelombang air yang terkena kipas motor temple (speed).
Tekanan air yang kuat ini dari tempat yang tinggi – dibandingkan letak kampung kami di pinggir Sungai Pengkadan yang agak rendah, membuat suplai air tidak lagi perlu mesin pendorong. Air dari ujung pipa di Gurung Namuk ini masuk secara alami ke rumah-rumah penduduk. Penduduk pun juga tidak perlu pakai mesin air untuk menyedot air agar mengalir ke ujung keran mereka. Tidak perlu juga mereka memotong pipa mencari air.
Diposting oleh Yusriadi di 04.57 0 komentar
Label: Publik, Riam Panjang, Suara Enggang
Selasa, 17 Februari 2009
Kabar dari Ulu: “Kini Lebih Banyak Orang Pakai Kompor Gas”
Oleh Yusriadi
Emak memberitahu saya, bahwa di kampung kami, Riam Panjang, yang nun jauh di pedalaman Kapuas Hulu, sebagian besar orang sudah pakai kompor gas.
“Kebanyak orang sudah pakai,”
Saya percaya Emak. Selalu.
Tetapi, informasi ini membuat saya terkejut. Saya tidak membayangkan hal itu. Dalam bayangan saya, orang di kampung masih sangat tergantung pada kompor minyak tanah, dan dapur kayu.
Walaupun kayu api mulai agak sulit diperoleh, walau minyak tanah sering sukar didapat, namun, dugaan saya, tradisi berkompor minyak dan berdapur kayu, pasti sulit dilepaskan. Ada banyak faktor. Faktor sosial. Faktor ekonomi.
Lagi, gas khan mahal.
Orang yang tinggal di dekat kota saja susah lepas dari minyak tanah.
Tengok program konversi kompor minyak tanah ke kompor gas yang dicanangkan pemerintah: susah berjalan. Tidak semua masyarakat bisa beralih. Tidak semua orang mau. Macam-macam alasannya.
Saya lantas menyebutkan nama beberapa tetangga kami. Pak Ngah, adik bapak, tetangga di sebelah kanan rumah.
“Rumah Pak Ngah?”
“Sudah. Mereka pakai sudah lama,”
Ahmad Azmi, anak Pak Ngah, yang hari itu menemani kami ngobrol, membenarkan.
“Auk, dari dulu’ udah pakai gas,”
“Mak Imun?”
“O, udah. Malah sidak ada dua tabung,”
Imun, adalah nama tetangga sebelah kiri rumah kami. Dia janda. Umurnya sudah 50an.
Beberapa lagi nama saya sebutkan. Emak menjawab, dengan kata sudah, atau belum.
“Orang mau kompor gas karena cepat masak. Bersih,”
“Orang mau kompor gas karena cari minyak tanah susah,”
Nah, ini dia. Saya antusias.
Kata Emak, suatu ketika dahulu harga minyak tanah di kampung kami mencapai Rp 7000 per liter. Satu kali isi kompor sekurangnya dua liter. Beberapa hari sudah habis. Isi lagi. Beli lagi. Susah lagi.
“Ndak ke kompor gas mahal? Tabung mahal. Beli gas juga mahal?”
“Sesuailah dengan penghasil masyarakat. Daluk, karet ‘kan mahal,”
Ya, dahulu –beberapa bulan lalu, harga karet mahal. Satu kilo Rp 12 ribu.
Minimal sekali menyadap karet, orang bisa dapat 5 kilogram. Ada banyak juga yang bisa mendapat 10 kilogram.
Saya teringat dahulu waktu masih menyadap karet –kira-kira 20-an tahun lalu. Saya bisa dapat 7 kilo getah. Emak yang menyadap di kebun karet yang lain, dapat lebih banyak dari itu. Belum lagi kakak dan adik saya. Dahulu, kami bisa mendapat 15 kilogram satu pagi. Tapi, waktu itu harga getah masih murah.
“Orang pakai kompor gas ada rasa mewah, nak Mak?”
“Auk, apa na gensi ugak,”
Orang dapat menggunakan kompor gas karena gas agak mudah diperoleh. Pedagang-pedagang di kampung yang turun ke Pontianak belanja, bila kembali ke kampung membawa tabung gas yang terisi.
Tetapi, penggunaan kompor gas tidak serta merta membuat penduduk meninggalkan kompor minyak tanah atau dapur kayu. Kadang pakai kompor gas. Kadang pakai dapur kayu. Keduanya saling mengisi.
Saya lantas membayangkan situasi itu. Sungguh hebat.
Saya sendiri, yang kononnya tinggal di kota Pontianak, sampai sekarang belum bersentuhan dengan kompor gas.
Saya tahu kelebihan kompor gas. Tetapi, saya tidak mengindahkan kelebihan itu. Ada alasan untuk tidak beralih dari tradisi berkompor minyak tanah. Ini rahasia perusahaan.
Lalu, saya berpikir, kalau kompor gas menjadi salah satu simbol kemajuan, orang di kampung saya, lebih maju dari saya.
Makanya, saya kira, jangan pernah menganggap orang kampung tidak maju. Kalau menganggap orang kampung tidak maju, anggapan itu pasti meleset.
Orang kampung sangat maju. Di kampung sangat banyak parabola. Orang kampung bisa menonton TV apa saja, mulai dari siaran TVRI –dan TV itu agak jarang ditonton, hingga siaran dari TV Perancis. Di kota? Berapa banyak orang yang “punya TV” bisa menangkap siaran yang banyak? Terbatas. Langganannya agak mahal.
Motor? Sekarang orang kampung banyak yang punya motor. Hampir tiap rumah punya motor. Sekalipun, motor yang mereka beli lebih banyak beli dengan cara kredit.
Telepon? Hampir semua orang –terutama kaum muda punya HP. Dan, umumnya HP budak-budak kampung itu jenis HP mahal. HP yang ada kamera. HP yang bisa simpan banyak lagu. Mereka putar lagi di rumah. Mereka juga bisa putar lagu di kebun sambil menyadap karet.
Kata Emak, orang kampung bisa ‘maju’ seperti itu karena harga karet mahal. Beberapa bulan lalu harga karet per kilo di atas Rp 12 ribuan.
Siapa yang mampu beli kontan mereka membeli ‘barang-barang kemajuan itu’ dengan cara kontan. Barang yang tidak, membeli barang itu dengan cara kredit. Prosedur yang mudah membuat mereka gampang mengambil kredit.
Tetapi saya juga dengar cerita, sekarang harga karet anjlok. Masyarakat merasa terpukul. Kredit motor tak terbayar. Beberapa diambil agen. Mungkin tabung gas yang kosong bisa tak terisi.
Apakah kemajuan itu akan meninggalkan mereka? Apakah mereka masih tetap dapat mengiringi kemajuan itu?
Entah. Lihat saja nanti.
Diposting oleh Yusriadi di 22.57 0 komentar
Label: Riam Panjang, Tentang Yusriadi
