Oleh: Yusriadi
Kamis (15/3/2012) kemarin, ketegangan dirasakan orang Kalbar. Gerakan dan aksi massa jalan di kota Pontianak telah menimbulkan kekhawatir dan rasa cemas. Ditambah lagi dengan isu yang bermacam-macam, yang menyeramkan, yang muncul setelah aksi itu dilakukan.
Sebagian besar itu berkembang melalui pesan singkat (SMS), sebagian lagi melalui jejak di dinding facebook dan twitter.
Teman saya bilang informasi itu telah membuat dia seram. Informasi itu juga telah membuat keluarga mereka di mana-mana menjadi takut. Trauma kerusuhan dahulu lantas membayang kembali. Kerusuhan, kebakaran, kematian, menjadi bayang-bayang yang mengkhawatirkan.
Orang yang normal rasanya pasti tidak ingin rusuh. Tidak ingin ribut. Tak ingin juga berkelahi. Semua orang ingin damai. Hidup bisa normal dan berjalan lancar.
Sudah tentu apa yang terjadi di Pontianak dalam sehari dua itu tidak diinginkan orang. Orang tak ingin melihat massa bergerak dengan senjata. Orang tak ingin melihat massa marah. Orang tak ingin melihat ada darah tumpah. Pokoknya, jangan ada kemarahan dan jangan membuat siapapun marah.
Semoga ketegangan cepat mereda. Agar rasa aman datang seperti sedia kala.
Karena itu kita memberikan apresiasi terhadap pihak keamanan yang memfasilitasi pertemuan tokoh dari berbagai elemen agar duduk bersama dan bicara bersama membicarakan bagaimana memelihara situasi kondusif. Pihak keamanan mengeluarkan imbauan. Melalui media cetak dan elektronik. Melalui pengumuman langsung dan “face to face”.
Tetapi, selain itu, seperti yang banyak disuarakan, akar persoalan juga harus ditangani. Jadi bukan saja memadamkan api yang sudah menyala, aparat keamanan harus mengamankan sumber yang mendatangkan api, sehingga dengan demikian api itu tidak akan menyebabkan kebakaran lagi di lain waktu. Pihak keamanan sudah diberitahu sumbernya.
Semoga saja usaha ini berhasil. Berhasil dengan baik dan riak-riak yang muncul bisa tenang kembali. Titik-titik kemarahan bisa mereda. Senyampang dengan itu, mudah-mudahan ada langkah yang nyata yang bisa diambil agar permusuhan yang sempat terumbar bisa ditangani, kekecewaan yang sempat diungkapkan bisa diobati. Mari damai dan hidup berdampingan dengan tenang. Mari rawat situasi Kalbar yang kita cintai ini.
Selasa, 03 April 2012
Trauma Kerusuhan di Kalbar
Diposting oleh Yusriadi di 02.23 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Sabtu, 02 April 2011
Ingat Pasar Sentral, Ingat Gadong, Brunei
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Ingat Pasar Sentral Pontianak, saya ingat kawasan Gadong, Brunei Darussalam. Itulah hal yang melintas dalam pikiran saya ketika melewati Pasar Sentral kemarin, dan kemarinnya lagi.
Saya ingat itu ketika saya lihat di persimpangan arah Pasar Sentral – Gusti Sulung Lelanang ada bekas bambu membentuk kerangka ‘sesuatu’. Kerangka itu sebelum ini pernah digunakan ‘pengelola’ dengan dipasangkan ‘hiasan’ untuk menyambut hari besar beberapa waktu lalu. Waktu itu saya melihat hiasan itu dengan kekaguman yang luar biasa. Kagum karena ‘pengelola’ itu begitu kreatif, dan kagum karena waktu itu pemerintah kota mengizinkan kreativitas itu ditunjukkan di depan publik. Waktu itu saya melihat ada keindahan yang berbeda ditunjukkan pengelola di persimpangan ini.
Kemarin, ketika melintas di sana, ketika melihat hanya kerangka saja, saya sempat membayangkan hal buruk: kerangka ini akan lapuk dan tidak ada apapun lagi di pertigaan itu kelak kecuali semen yang membatu dan tidak menarik. Kalau itu benar-benar terjadi, sungguh disayangkan. Rugi!
Saya memberikan apresiasi pada kreativitas pengelola itu karena saya termimpi-mimpi kala melihat hal yang hampir sama di Gadong, Brunei Darussalam. Waktu itu, kebetulan ada seminar di Negara Sultan Bolkiah ini, dan malam itu Dr. Yabit Alas membawa kami keliling kota Brunei. Ketika melintas di Gadong, kami berhenti. Dr. Yabit menunjukkan sebuah kawasan yang berwarna warni, dan di sana ada patung yang waktu itu dipakaikan baju sanghai. Lampion digantungkan di sana sini.
Selain kami, ada banyak orang yang singgah di sana malam itu. Pengunjung juga. Mereka sama seperti kami, berfoto-foto dengan latar belakang lampu dan patung itu.
Kata Dr. Yabit, lokasi itu dikelola oleh sebuah showroom mobil. Pakaian patung itu selalu disesuaikan dengan momentum. Kalau Natal, patung itu menjadi Sinterklas. Kalau musim Idul Fitri, patung itu mengenakan baju muslim. Begitu juga jika Imlek.
“Ini kemudian menjadi salah satu objek wisata di sini,” katanya waktu itu.
Saya sempat menghayalkan di Pontianak, ada juga ruang itu. Pemerintah mengajak swasta tertentu untuk mengelola sebuah lokasi dan lokasi itu dijaga mereka, plus dengan kreativitas pengelola lantas dikemas sedemikian rupa sehingga membuat kota menjadi indah.
Tempatnya, entah itu di kawasan pasar atau di pinggiran kota yang lahannya masih agak luas.
Pada akhirnya, setelah Sutarmidji menjadi walikota Pontianak, saya melihat mimpi itu mulai wujud. Setidaknya, ketika saya melihat ada swasta yang diserahkan mengelola tugu di bundaran Kota Baru Pontianak. Sejauh ini swasta mengelola dengan baik. Air mancurnya terjaga. Lampu terpelihara. Kebersihan dan keindahan juga menyinari mata saat memandangnya – walaupun ada juga yang memandang keindahan ini dengan kacamata minus.
Nah, sekarang, apakah cikal bakal kerangka bambu di simpang Pasar Dahlia – Jalan Gusti Sulung Lelanang akan diurus seperti Bundaran Kota Baru? Saya berharap begitu. Jika pun simpang Dahlia terlalu sempit, mungkin pemerintah bisa melepaskan Bundaran Pos kepada pihak swasta sehingga pada akhirnya keindahan lokasi itu menyerlah juga. Bukan saja kota akan bertambah tempat wisata, tetapi juga pemerintah akan berkurang bebannya. Saya kira, lumayan juga dana dikeluarkan pemerintah untuk urusan taman itu per tahunnya, sekalipun kenyataannya taman itu hanya diurus apa adanya dan tidak mengundang daya tarik pun. (22/1/2011) *
Diposting oleh Yusriadi di 07.29 0 komentar
Label: Pontianak
Pilih Api atau Manusia?
Oleh: Yusriadi
Ulla Asri, fotografer Borneo Tribune memperlihatkan foto-foto kebakaran di Kapuas Besar kepada saya, Jumat (4/2) kemarin. Foto itu hasil bidikannya ketika api mengamuk pusat perbelanjaan itu Kamis (3/2).
Kemampuan Ulla memotret jelas sangat bagus. Karena itu, tidak heran, hasil bidikannya selalu menarik dilihat. Ada foto tentang pemadam dari berbagai yayasan sedang bekerja sama memasang kran. Ada foto petugas pemadam sedang menyemprotkan api. Ada foto api yang membara. Ada foto-foto sisa kebakaran. Ada foto warga yang mencoba mengambil barangnya di antara puing-puing.
Tapi dari sekian banyak foto itu, foto petugas menyemprot air melalui celah pintu besi (folding gate) yang tertutup, sungguh sangat mengesankan. Bukan soal bagaimana petugas berusaha memadamkan sisa-sisa api yang masih menyala. Juga bukan soal keberanian petugas tersebut.
Yang mengesankan saya adalah soal pintu yang dikunci. Menurut informasi Ulla dari petugas pemadam kebakaran, pintu dikunci telah membuat petugas agak susah melakukan penyemprotan ke dalam. Dan karena itulah api yang menyala Kamis itu, belum sepenuhnya padam hingga Jumat pagi. Api masih menyala di dalam bangunan di lantai bawah.
Pintu ruko dikunci pemilik ketika melarikan diri, karena mereka ingin menghindari penjarahan. Kemungkinan penjarahan sangat besar terjadi pada saat kebakaran. Sering sekali terjadi, di saat orang sibuk memadamkan api, di samping beberapa orang sibuk menyelamatkan harta benda, ada orang yang memanfaatkan kesempatan. Mencuri. Mereka ikut mengangkut harta milik korban kebakaran, seperti orang menolong, namun, sebenarnya mereka mengangkut harta orang dan tak mengembalikannya.
Inilah watak tercela orang-orang kita: suka aji mumpung. Melihat ada kesempatan, mengetahui orang lain lengah mereka bergerilya. Mereka tidak sedikitpun berempati terhadap penderitaan orang yang sedang mengalami musibah. Seboleh-boleh mereka menambah penderitaan itu. Mereka tidak peduli pada orang yang kehilangan rumah, kehilangan harta benda, malah, mereka menambahnya. Mereka tidak memiliki perasaan.
Jadi untuk menghindari kemungkinan inilah, pemilik mengunci pintu ruko mereka. Agaknya, pemilik berpikir daripada barang mereka menjadi sasaran pencurian, dari pada barang mereka diangkut orang, lebih baik barang dimakan api. Daripada mengenyangkan perut orang lebih baik memberi makan api.
Walaupun amat prihatin pada musibah yang menimpa mereka para korban itu, namun sikap mereka juga membuat prihatin. Prinsip dan cara berpikir seperti ini rasanya agak kurang sesuai dalam konteks hidup berdampingan, bersama.
Ah, andai ada orang yang bisa berprinsip: ambillah dari apa yang saya miliki pada saat-saat terakhir. Daripada dimakan api lebih baik dimakan manusia. Dimakan api pasti musnah, dimakan manusia tentu akan menjadi darah daging. Dimakan api akan jadi sia-sia, dimakan manusia akan menjadi ‘modal sosial’ dan ‘modal masa depan’.
Tetapi sebaliknya lagi saya segera menyadari, bahwa saya hanya pandai prihatin pada penderitaan orang. Saya hanya pandai meluahkan rasa mual kepada orang yang otaknya dipenuhi nafsu menjarah.
Pada akhirnya, saya hanya bisa menikmati gambar yang disajikan, melihat dari konteks sebagai seorang jurnalis. (5/2/2011) (*)
Diposting oleh Yusriadi di 07.24 0 komentar
Label: Pontianak
Jual Kue Keranjang
Oleh Yusriadi
Borneo Tribune
“Apa dagang macam tu? Macam main-main. Kasih-kasih gitu ja”.
“Kalau dagang yang benar. Barang tu dibungkus. Bersih nampaknya”.
“Kalau kau jual begitu sapa yang mau beli”.
“Omelan” panjang Mak Nyah menyita perhatian saya, saat saya belanja sesuatu di toko pakai dia di kawasan Pontianak Timur.
Hari itu, tepat sore itu, menjelang hari Imlek, saya singgah ke toko Mak Nyah itu, mencari sesuatu. Saya sebut Mak Nyah karena begitulah panggilan orang yang belanja di toko dia. Saya ikut-ikutan orang lain. Dan saya tahu, dia juga akur dengan panggilan itu. Setidaknya dia menyahut sapaan orang pada dirinya.
Saya mendengar Mak Nyah nyerocos panjang. Saya penasaran. Siapa yang diomelinya. Semula saya duga dia marah pada pegawainya. Seorang bos menegur pegawai itu biasa saya dengar. Agar pekerjaan jadi baik. Maklum kadang kala pegawai kurang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang baik dilakukan.
Rupanya Mak Nyah ngomel pada seorang pemuda yang menjual kue keranjang. Sebelumnya, saya memang sempat melihat pemuda itu datang dengan dua kue keranjang. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Saya hanya mengira ada tawar menawar kue itu karena keduanya berkomunikasi dalam bahasa Cina – saya kira Khek. Saya tidak menyimak benar karena pada saat yang sama saya sedang mencari sesuatu.
Nah, rupanya, perilah pemuda itu menawarkan Mak Nyah kue keranjang dengan cara menyodorkan begitu saja yang bikin hal. Menurut Mak Nyah cara menawarkan seperti itu tidak baik dilakukan; kesannya tidak nyaman dilihat. Orang pun jadi enggan membeli.
Lantas dia memberi tahu bagaimana cara menawarkan barang yang baik.
“Kamu bungkus dahulu, bawa pakai keranjang, baru tawarkan”.
“Iya… iya…”
Pemuda itu tidak membantah. Dia hanya terangguk-angguk. Ter-iya-iya.
Saya dan beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu juga ikut terangguk-angguk. Saya kira semua orang maklum. Maklum bahwa apa yang disampaikan Mak Nyah itu benar, dan sangat benar.
Sering kali cara menjual lebih penting daripada apa yang dijual. Sering kali cara menjual mampu mendongkrak angka penjualan.
Tapi, walaupun saya memahami apa yang disampaikan Mak Nyah kepada penjual muda itu, namun, hingga saya membuat tulisan ini, masih ada tersisa pertanyaan: Mengapa Mak Nyah menyampaikan peringatan (mengajarkan) kepada penjual muda itu dalam bahasa Melayu? Mengapa tidak dalam bahasa Cina (Khek?) – padahal sebelumnya saat pertama datang menawarkan kue keranjang itu keduanya berkomunikasi dalam bahasa Cina.
Apakah lebih mudah bagi Mak Nyah menyampaikan peringatan itu dalam bahasa Melayu – karena dia sering mengajarkan cara berjualan kepada anak buahnya yang saya lihat orang bukan penutur Cina? Apakah dia sengaja menyampaikan dalam bahasa Melayu agar anak buah dia dan orang-orang bukan Tionghoa di situ mengerti? Entahlah. (19/2/2011) (*)
Diposting oleh Yusriadi di 07.21 0 komentar
Takut Beli Pertamax Plus
Yusriadi
Borneo Tribune
Kisah bensin langka beberapa waktu lalu menyisakan cerita lucu, sekaligus juga menyedihkan. Teman saya bercerita, di saat susah-susahnya mendapatkan bensin di hari itu, pamannya membeli satu jeriken kecil ukuran 5 liter “Pertamax” yang dijual di pinggir jalan di Pontianak. Dia perlu membeli banyak, sekadar simpan-simpan jika memang minyak habis nanti.
Saat membeli, paman nampaknya senang betul. Senang karena dia memperoleh stok minyak untuk beberapa hari ke depan. 5 liter itu cukup untuk beberapa hari. Jadi, jika dalam beberapa hari bensin betul-betul hilang dari pasaran, atau bensin dijual gila-gilaan di pasar, dia masih dapat berlega rasa.
Ketika sampai di rumah, paman menunjukkan kegembiraannya. “Sambil datang dengan senyum lebar, paman bilang, ‘ni, dapat minyak dah’.
Pada mulanya orang di rumah ikut senang. Tetapi, kemudian mereka jadi terpana ketika melihat ada ada bercak warna pink di jeriken dan menempel juga di tangan paman. Setelah dilihat dengan seksama, tawa mereka pecah. Mereka mentertawakan paman dan mentertawakan kegembiraan paman.
Rupanya, paman telah membeli minyak bensin yang diberi pewarna. Bukan benar-benar Pertamax.
Paman telah membeli bensin yang harganya Rp4500, dan pewarna yang harganya Rp10.500. Jadi hitung-hitung untuk bensin paman keluar uang Rp… Sedangkan untuk pewarna paman membayar Rp52.500.
Nah, sejak mendengar cerita itu saya jadi takut-takut. Khawatir kena juga. Oleh sebab itulah meskipun kemarin bensin ‘susah’ lagi, saya berusaha untuk tidak membeli Pertamax di pinggir jalan.
Selain soal harga yang tidak patut, juga mengkhawatirkan bagaimana pengaruh campuran bensin terhadap mesin. Mesti ada pengaruh, sekalipun mungkin pengaruh itu tidak sama dengan pengaruh kalau bensin dicampur minyak tanah, atau dicampur air seperti yang pernah dilakukan orang yang mencari untung dengan cara yang tidak benar.
Di balik itu, geram rasanya melihat orang berprilaku seperti itu. Jika punya kekuasaan, rasanya pengin menyeret orang yang melakukan itu ke kantor polisi biar dia jera, dan orang lain juga tidak mau ikut-ikutan seperti itu. (26/2/2011) (*)
Diposting oleh Yusriadi di 07.15 1 komentar
Label: Pontianak
Sejarah Kampung di Pontianak
Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune
Pertemuan dengan sejumlah tokoh dan ilmuan di Kalimantan Barat di Pontianak Rabu (6/3) kemarin mengesankan sekali. Saat orang-orang membicarakan tentang sejarah dan dinamika orang Melayu di Kalimantan Barat, seorang tokoh menceritakan bahwa dia pernah menerima kedatangan rombongan mahasiswa dari luar yang bertanya tentang sejarah Kota Pontianak.
Mahasiswa luar itu katanya bukannya bertanya tentang sejarah Pontianak yang pernah orang ditulis, tetapi, mereka bertanya tentang sejarah Pontianak dimulai dari sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.
Sejarah kampung di Pontianak sama pentingnya dengan sejarah Kota Pontianak. Sebab, Kota Pontianak sesungguhnya terdiri dari kampung-kampung.
“Saya tidak tahu tentang sejarah kampung,” ceritanya.
Cerita tokoh itu membuat saya merenung. Benar. Sejarah Pontianak sudah ditulis. Sudah ada buku yang memuat gambaran sejarah secara umum. Misalnya ada buku yang ditulis oleh peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak. Buku itu sudah diterbitkan Romeo Grafika beberapa tahun lalu. Dalam buku itu ada gambaran tentang tahun berdirinya kota Pontianak. Sejarah tentang tokoh-tokoh yang mendirikan kota ini, juga tentang kegiatan ekonomi.
Saya juga pernah membaca buku syair yang menggambarkan dinamika penduduk kota ini pada awal abad ke-20.
Namun, seperti juga yang ditanyakan mahasiswa luar itu kepada tokoh, saya juga merasa masih ada yang kurang.
Saya sangat sependapat dengan pernyataan, bahwa: Pontianak itu sebenarnya terdiri dari kampung-kampung. Sejarah Pontianak, seharusnya sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.
Lalu, bagaimana dengan sejarah kampung-kampung itu? Belum ada. Belum ada buku yang memuat informasi tentang kapan kampung itu dibuka, siapa yang mendirikan kampung itu, dan bagaimana prosesnya.
Cerita ini mengingatkan saya bahwa penelitian dan informasi mikro sangat penting, dan itu sering dilupakan orang.
Lantas, saya jadi teringat beberapa bulan lalu ketika orang Dayak Kalbar ribut setelah mendengar laporan penelitian Dr. Thamrin Amal Tamagola. Thamrin dituntut karena dia menyebutkan ‘orang Dayak’.
Pada waktu itu saya mencatat ada beberapa komentar yang menanyakan Thamrin. “Dayak yang mana?”
Ya, pertanyaan itu sesungguhnya amat wajar karena Dayak adalah umum. Misalnya, orang yang mengerti akan bingung jika mendengar ada orang yang bilang, “Orang Dayak di Kalimantan tinggal di daratan dan hidup di rumah panjang”.
Orang yang mengerti pasti akan tahu bahwa pernyataan itu umum. Mengapa umum, karena sebenarnya hanya orang Dayak tertentu saja yang masih tinggal di tempat yang disebut daratan. Hanya orang Dayak tertentu yang hidup di rumah panjang. Ya ‘kan? (19/3/2011)(*)
Diposting oleh Yusriadi di 07.09 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Pontianak
Dilema PKL di Kota Bersinar
Yusriadi, Borneo Metro
Hari itu, Pak Moi, sebut saja begitu, duduk berurai air mata. Lucu juga membuat nelangsa. Lucu karena biasanya, Pak Moi bersuara lantang dan gagah. Jauh dari kesan air mata. Nelangsa karena siapa pun yang berhati halus dan berperasaan pasti tersentuh hatinya melihat orang menangis.
Pak Moi hari itu berusaha melawan anggota Satuan Polisi Pamong Praja, Kota Pontianak. Tapi tak bisa melawan. Dia berusaha bertahan, tapi tak mampu sebab jumlah anggota Sat Pol PP banyak. Sekuat apapun, tak mungkin satu orang menghadapi puluhan orang.
Pak Moi menangis karena tempat jualannya, gerobak, yang biasa diparkir di pinggir jalan sekitar kawasan Tanjungpura ditertibkan petugas.
Dia mencoba melawan karena dia menganggap adalah haknya berusaha. Berjualan rokok, indomie, minuman, adalah pekerjaan baik, ketimbang menjadi pemalak. Ini ada usaha. Bahkan, dia juga berucap, usaha yang dia lakukan memberikan sumbangan terhadap pembangunan ekonomi Kota Pontianak.
Pak Moi juga mencoba melawan karena kerja jualan ini merupakan satu-satunya penyara kehidupan rumah tangganya. Usaha itu begitu mudah dilakukannya setiap hari. Setidaknya dibandingkan sebelumnya, dia dengan susah payah melamar pekerjaan.
Pak Moi pernah kerja menjadi tukang pikul. Dia mengangkut barang orang di kawasan Pasar Tengah. Dia juga pernah bekerja sebagai pengaduk semen, bersama kawan-kawannya, untuk bangunan perumahan. Kerja-kerja ini jauh lebih sakit. Badannya tidak kuat. Tenaganya mulai lemah.
Dia tak dapat menikmati kerja enak sebagai pegawai kantoran. Ijazah SMA tidak dapat dipergunakan. Tidak laku. Atau, setidaknya dia tidak tahu bagaimana cara membuat ijazahnya laku jual.
Lantas, suatu ketika dia berusaha membuat gerobak. Dia jualan kecil-kecilan di pinggir jalan.
***
Mengapa Pak Moi ditertibkan? Karena dia tidak tertib. Pak Moi berjualan di pinggir jalan. Di tempat yang tidak seharusnya. Di tempat yang dilarang. Pemerintah Kota sudah mengeluarkan peraturan: tidak boleh berjualan di atas jalan. Tidak boleh berjualan di atas trotoar. Tak boleh juga berjualan di atas parit.
Namun, pedagang terus menerus bertahan, dan pedagang baru muncul. Mereka bertahan karena berjualan di pinggir jalan merupakan pilihan mudah di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Berjualan di pinggir jalan juga memerlukan modal yang tidak besar. Setidaknya dibandingkan mereka harus memiliki tempat atau menyewa ruko, berusaha di pinggir jalan hanya perlu sedikit modal. Karena sedikit modal inilah maka banyak orang yang bisa merintis bisnis dimulai dari pinggir jalan. Modalnya hanya kemauan.
Tidak perlu juga keterampilan yang pelik-pelik. Tidak perlu juga syarat pendidikan.
***
Pemerintah sebenarnya kasihan. Saya pernah berbicara dengan seorang pejabat di pemerintahan kota Pontianak, beberapa waktu lalu. Katanya, dia tidak bisa bertindak terlalu keras kepada para pedagang kaki lima, karena kegiatan PKL itu merupakan sekolah alam bagi mereka.
Mereka yang menjadi PKL itu hakekatnya mereka yang baru belajar berusaha. Dengan modal sedikit mereka berlajar mengelolanya, mengatur keuangannya. Sekaligus belajar bagaimana menjual dan melayani orang.
“Mereka tidak akan selamanya jadi PKL. Kalau usaha maju pasti mereka ingin cari tempat usaha yang bagus. Takkan selamanya mereka mau hidup di pinggir jalan itu,” katanya.
Tetapi, para PKL juga tidak bisa dibiarkan di pinggir jalan karena tidak selamanya mereka tertib dan bersih. Justru seperti sering dikeluhkan, Kehadiran mereka merusak pemandangan. Mereka membuat kota jadi semerawut. Mereka membuat jalan semakin sempit.
Lalu, kehadiran mereka yang tidak teratur itu dikeluhkan. Komplen muncul dari pengguna jalan. Ketidakpuasan muncul dari orang yang menyukai keindahan dan ketertiban.
Pemerintah membuatkan larang atau pembatasan. Tempat-tempat tertentu boleh, tempat-tempat tertentu dilarang.
Ada beberapa kebijakan pernah dilakukan pemerintah. Pemerintah membuat pasar baru untuk menampung mereka. Ada Pasar Flamboyan untuk menampung PKL di Jalan Tanjungpura. Ada Pasar Pujasera untuk menampung PKL di sekitar Jalan Agus Salim. Ada kios Pattimura untuk pedagang di sekitar Jalan Nusa Indah-Pattimura. Ada Pasar Cempaka untuk pedagang di Jalan Tanjungpura.
Apakah usaha ini berhasil membersihkan PKL? Entahlah. Yang pasti, Sat Pol PP masih disibukkan pada pekerjaan rutin: “Menertibkan PKL”. Petugas masih harus bertindak keras membongkar lapak PKL. Kadang kala, ada perlawanan PKL yang harus mereka hadapi.
Hingga belakangan ini pemerintah membuat kebijakan baru: PKL bongkar sendiri bangunan mereka. Ada uang ganti upah bongkar. Kebijakan ini sangat mulus ketika diterapkan di Jalan Tanjungpura, kawasan Nusa Indah. Kebijakan serupa juga diterapkan saat penertiban PKL di depan Kampus Untan, Jalan Imam Bonjol, Pontianak.
Selain solusi itu, PKL juga memiliki solusi tersendiri dalam menghadapi tindakan Sat Pol PP. Entah siapa yang mengajarkan dan memulai, di kalangan PKL ada bisik-bisik, jika mau aman dari penertiban, sebaiknya minta perlindungan dari Sat Pol PP. Karena itulah kemudian, ada sejumlah PKL yang tergabung dalam kelompok PKL binaan Sat Pol PP. Walaupun kedengaran aneh, karena seharusnya pembinaan kegiatan ekonomi kecil begini sudah ada dinas yang mengurusnya, namun, binaan ini sangat baik bagi PKL. Sebab, kononnya, PKL binaan Sat Pol PP tidak akan terkena gusuran. Jika pun lokasi dagangnya digusur, PKL bisa lebih awal menyelamatkan barang dagangan mereka. Jadi, aman!
Selain Sat Pol PP, PKL yang ingin aman juga bisa mencari perlindungan dari penguasa wilayah usaha. Penguasa itu tergantung wilayahnya. Ada yang di bawah kekuasaan Pak RT. Ada yang di bawah kekuasaan organisasi tertentu, tokoh politik, dan ada juga yang berada di bawah kekuasaan orang keamanan. Jika ada penertiban, penguasa inilah yang melindungi mereka menghadapi Sat Pol PP.
Tetapi, tidak semua orang mendapatkan perlindungan seperti yang diharapkan. Meskipun sesekali Sat Pol PP mengalah karena banyak massa yang melindungi para PKL yang akan ditertibkan, namun, PKL tidak bisa mendapat perlindungan terus menerus dari pelindung mereka. Biaya yang mereka keluarkan relative besar dan itu menyedot modal kerja mereka.
Pada akhirnya, PKL kembali harus menghadapi hukum sendiri. Mereka tidak dapat terus menerus berdiri di bawah pelindung mereka karena PKL itu memang salah. Mereka tidak bisa terus menerus melawan dengan dalih tidak ada perhatian pemerintah, mereka juga tidak bisa terus bertahan dengan dalih belum ada pemberitahuan sebelum penertiban.
Lantas, akhirnya mereka hanya bisa main kucing-kucingan. Contoh permainan kucing-kucingan PKL dan Sat Pol PP terjadi beberapa waktu lalu. Kala itu, Sat Pol PP melakukan penertiban di sepanjang jalan arah parit Sungai Jawi. Kala penertiban, atau tepatnya, kala pasukan penertiban Sat Pol PP tiba di lokasi, tidak ada satu pun pedagang yang buka. Gerobak-berobak yang biasanya ada di pinggir jalan, mereka tarik ke atas jembatan.
Alhasil, saat itu Sat Pol PP tidak bisa menyita gerobak atau lapak PKL.
Lantas, dua jam kemudian, setelah bayangan Sat Pol PP lenyap, satu per satu pedagang kecil ini mulai menarik gerobaknya dari atas jembatan ke bahu jalan. Mereka mula buka usaha seperti biasa.
Mungkin Sat Pol PP tersenyum melihat ulah PKL yang mengakali mereka. Mungkin juga PKL tersenyum karena berhasil mengakali Sat Pol PP. Duh, senangnya melihat mereka bisa saling tersenyum. (3/4/2011)
Diposting oleh Yusriadi di 07.01 0 komentar
Label: Kolom Metro, Pontianak
Jumat, 02 Juli 2010
Trademark Kota Pontianak
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Tiba-tiba terlintas bayangan dalam benak saya: Orang berkumpul di sepanjang Jalan Ahmad Yani Pontianak. Mereka yang melakukan jogging dan jalan-jalan bersama anak istri. Peminat futsal, bermain santai di atas aspal. Sebagian lagi memilih bersenam erobik atau taichi. Di bagian tertentu di jalan ini ada yang jualan makanan ringan, yang lain jualan perlengkapan olah raga atau mainan.
Mengapa bayangan itu terlintas? Rudi Agus pasalnya. Rudi, yang kini menjadi Pimred Metro Pontianak bertemu saya kemarin, usai salat Jumat di masjid Syahid Pontianak. Panjang cerita, Rudi menceritakan bahwa dia sedang mengupayakan program car free day di setiap daerah. Di Pontianak program itu sudah dicanangkan oleh Gubernur Kalbar; kawasan yang dipilih adalah Jalan A. Yani Pontianak. Salah satu ruas jalan A Yani, yakni jalur dari simpang empat A. Yani – Ahmad Dahlan, hingga belokan SPBU OSO, dipilih sebagai kawasan jalan bebas di hari Minggu mulai pukul 07.00-09.00. Namun, di tengah perjalanan, program ini ada yang protes.
Walaupun begitu, program ini terus berjalan. Ada dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Pontianak.
Sampai hari ini kegiatan itu berjalan, walaupun perjalanannya tidak seperti yang dibayang pencetusnya.
“Kita inginkan Jalan A Yani ini bisa menjadi tempat alternative berkumpulnya warga di hari Minggu, selain stadion,” kata Rudi.
Ya, saya kira, impian itu bukan impian kosong. Pasti bisa diwujudkan. Bisa -- jika sosialisasinya berjalan, jika program itu dikemas dengan baik sehingga jadi menarik.
Seperti Rudi, saya sudah bisa membayangkan satu ruas jalan itu akan menjadi tempat orang berkumpul untuk berbagai tujuan – untuk olahraga, santai, wisata keluarga, dan juga untuk berjualan.
Tidak sulit membayangkan tempat seperti itu. Monas, Jakarta, merupakan contohnya. Di luar negeri, di Malaysia, sudah ada misalannya: pasar malam (minus olahraganya).
Saya kira, jika Buchary membangun beberapa trade mark kota Pontianak, Sutarmijdi dapat juga melakukan hal itu. Ada monumennya.
Lantas saya teringat upaya yang sekarang dilakukan Sutarmidji: penataan kawasan Kota Baru Pontianak. Di Kota Baru itu dibangun tugu indah. Ada taman kecil, ada tempat santai, ada air mancur. Tugu itu sekarang sudah menjadi salah satu objek wisata: sering saya melihat orang singgah di sini, sembari foto-foto.
Di Kubu Raya, tugu di persimpangan Ambawang juga sekarang menjadi salah satu tempat ‘indah’ untuk foto-foto.
Nah, pasti tidak akan sukar membangun hal yang hampir serupa di sekitar persimpangan A Yani itu, atau kalau mana-mana tempat yang memungkinkan. Tempat itu akan menjadi daya tarik tambahan di kawasan ini; sekaligus mendukung program seperti yang Rudi bayangkan. Rasanya pasti akan lebih semarak dibandingkan Taman Alun Kapuas, tugu Khatulistiwa, atau bahkan Stadion sendiri.
Diposting oleh Yusriadi di 10.00 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Sabtu, 01 Mei 2010
Tak Bisa Khutbah
Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Saya mendapat pengalaman menarik beberapa hari lalu. Hari itu, saya sedang bicara dengan seorang teman yang bekerja di kantor Kementerian Agama. Mulanya kami bicara tentang persiapan menjelang pekan olahraga daerah Kementerian Agama (Porda Depag) Kalbar yang akan digelar Juni mendatang di Singkawang. Kami membicarakan persiapan masing-masing. Maklum, dia termasuk salah satu pemain andalan lembaga ini.
Panjang cerita, banyak kisah, kami cerita soal kegiatan hari Jumat.
“Abang ni, kalau Jumat pasti sibuk,” saya menyampuknya.
“Mane pula’. Biasa jak”.
“Takkan pula’. Jumat ini baca khutbah di mane?”
“Baca khutbah? Ndak pernah saye”.
Nah, ini yang membuat saya terkejut. Dalam bayangan saya, dia pasti memiliki banyak jadwal khutbah. Maklum, level penghulu. Lagi, dilihat dari caranya bicara, saya kira dia memiliki isi yang memadai.
Memang saya mengenalnya sedikit. Dia, seorang guru agama. Pengalamannya mengajar sudah banyak. Belasan tahun dia menjadi guru di madrasah ibtidaiyah.
Beberapa tahun lalu dia mengajukan pindah ke bagian administrasi di kantor Kementerian Agama. Di kantor ini dia menjadi staf kepala kantor urusan agama. Salah satu pekerjaannya menikahkan orang dan menulis surat nikah orang.
Nah, kalau sekelas seorang tukang nikah mengaku tidak bisa baca khutbah, tentu orang tidak akan percaya. Seorang tukang baca nikah boleh dikategorikan orang pilihan. Di kampung, mereka disebut penghulu. Penghulu pasti termasuk tokoh masyarakat. Kalau ada undangan mereka pasti duduk di kepala shaf, dan memimpin pembacaan doa.
“Saya pernah dimarahkan pengurus masjid karena saya menolak ketika diminta menjadi khatib”.
Dia menceritakan pengalamannya. Kala itu dia hadir dalam kegiatan silaturahmi dengan pengurus masjid. Dia mewakili kepala kantor menyampaikan beberapa patah kata; kata sambutan.
Usai kegiatan, pengurus masjid mendatanginya dan minta dia menjadi khatib di masjid itu.
“Saya tolak. Saya katakan, saya tidak bisa baca khutbah”.
Pengurus masjid tentu saja tidak percaya. Sebaliknya, pengurus masjid menyangka dia tidak mau ‘menolong’, tidak mau membagi ilmu pengetahuan, dll. Ujung-ujung, dia mendapat ceramah dari pengurus masjid itu, tentang pentingnya berdakwah dan berbagi ilmu.
“Saya diam jak. Apa yang dia katakan itu betol”.
“Lalu mengapa abang tak mau juga?”
Dia mengaku bingung kalau mau menceramahi orang. Bingung mencari tema apa yang harus disampaikan. Menurutnya, kalau mau ceramah temanya harus tepat dan sesuai. “Yang paling penting adalah sesuai dengan perbuatan kita. Sementara saya, masih banyak kekurangannya. Kononnya nak nceramahkan orang”.
“Tapi, kadang khan juga beri nasehat untuk orang yang mau nikah. Itu gimana?”
“Ya, nasehat gitu-gitulah. He.. he..”
Saya ikut tertawa juga. Tertawa karena gayanya waktu itu yang lucu.
Saya kira apa yang dia katakan itu benar adanya. Sangat berat tanggung jawab orang yang menceramahi orang lain. Jadi, biar tidak terlalu berat, memang sebaiknya memulai dan berusaha dari diri sendiri, dan keluarganya. Kalau sudah beres, barulah mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, mengajak orang lain dahulu sedangkan diri dan anak istri berantakan.
Tapi… buru-buru saya ingat; kita juga diingatkan untuk saling mengingatkan. Kalau tidak saling mengingatkan, kita sering kali lupa. Justru, sikap saling mengingatkan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Lalu?
Diposting oleh Yusriadi di 06.51 1 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Petugas Statistik
Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Siang itu, beberapa hari lalu, saya tidur di atas kursi di depan pintu. Saya memilih tidur di situ karena itulah tempat yang paling enak untuk rehat dalam cuaca “panas bedengkang” seperti sekarang. Di depan pintu banyak angin, jadi lebih sejuk.
Saya terjaga dari tidur karena tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu. Suara dia mengucapkan salam membangunkan saya. Dalam keadaan “bangun tekejot”, saya duduk. Pandangan saya masih agak nanar. Saya melihat dia mengenakan baju putih, celana hitam, topi biru dan membawa tas. Saya kira, dia seorang sales. Sales biasa berpakaian seperti itu.
Tapi, sebelum saya bertanya dia sudah lebih dahulu memperkenalkan diri.
“Saya petugas statistik”.
Ah, saya ingat, bulan Mei ini memang akan dilakukan sensus penduduk. Spanduknya sudah terpasang di mana-mana.
Bahkan, malam sebelumnya, saya sempat omong-omong dengan seorang keluarga saya yang menjadi petugas sensus di Kubu Raya, bahwa mereka akan melakukan sensus minggu depan. Dia juga bilang ada beberapa tempat, petugas sudah turun melakukan listing.
Saya mempersilakan petugas sensus itu masuk. Namun, dia seperti maju mundur. Enggan. Entahlah mengapa. Mungkin dia enggan membuka sepatu, atau dia terburu-buru. Tapi akhirnya dia masuk juga.
Setelah dia duduk, dia membuka filenya. Lalu dia bertanya tentang jumlah orang yang tinggal di rumah ini, dan juga bertanya jenis kelamin; berapa lelaki dan berapa perempuan.
Saya sempat ragu menjawab pertanyaannya itu. Ragu karena apakah saya harus mengatakan penghuni rumah kami ada 6 orang atau 8 orang. Jika 8 orang, itu berarti termasuk bapak dan emak yang beberapa minggu ini ada di rumah.
Setelah dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tinggal menetap sudah lebih dari 6 bulan, barulah saya jelas. Untuk kategori ini, di rumah saya ada 6 orang.
Setelah pertanyaan itu, dia kemudian mencatat angka pada stiker.
“Izin nempel ini ya”.
Saya mempersilakan dia memilih di tempat untuk memasang stiker itu. Tak ada masalah. Dia memilih menempel stiker di samping kanan pintu. Setelah itu, dia pamit.
“Nanti saya datang lagi,” katanya.
Setelah dia pergi saya jadi teringat kasus BPS dahulu. BPS pernah melakukan sensus penduduk tahun 2000. Dalam item pertanyaan itu, ada pertanyaan tentang etnis. Responden ditanya: Suku apa? Jawaban yang diberikan macam-macam – sesuai dengan pengakuan masing-masing.
Data itu kemudian dipublikasikan tahun 2001. Malangnya, ketika data itu dipublikasikan, kelompok masyarakat tertentu ribut. Data BPS tentang etnik dianggap menghilangkan etnik tertentu. BPS kena hukum adat capak mulut. Majalah Kalimantan Review membuat liputan tentang ini cukup lengkap.
Mengapa tiba-tiba saya ingat kasus ini? Saya ingat karena kemungkinan serupa bisa saja terjadi kali ini. Sepanjang BPS tidak melakukan pembenahan.
Ya, BPS harus melakukan pendataan sebaik mungkin. Petugas-petugas yang mereka rekrut seharusnya adalah orang-orang yang terlatih dan orang yang dapat menerapkan standar pelaksanaan sensus dengan baik.
Sebelum turun lapangan mereka harus mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup untuk kepentingan mereka di lapangan.
Mereka, tidak cukup hanya mencekles atau mencatat data dari responden di tiap-tiap rumah, tetapi juga mengerti apa yang mereka tanyakan dan mengerti juga data apa yang diharapkan dari pertanyaan itu.
Saya yakin, pemahaman ini akan membantu BPS memperolehan data standar, data yang dapat diolah dengan pendekatan standar, dan data yang tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Diposting oleh Yusriadi di 06.47 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Selasa, 30 Maret 2010
Menggali Jalan
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Malam itu, beberapa waktu lalu, saya melintas di Jalan Karet, Pontianak Barat. Waktu itu pas tengah malam. Biasanya, kalau saya melewati jalan ini tengah malam--pukul 12 ke atas, jalan ini sepi. Hanya sesekali saja saya berlimpasan dengan pengandara lain.
Kala tengah malam, jalan ini sudah mati. Seingat saya, jika pulang jejak dini hari begini, paling-paling ada tiga tempat yang menyisakan kehidupan di jalan ini.
Pertama, di mulut jalan, di persimpangan Jalan Kom Yos Sudarso. Di sini ada warung gerobak. Di warung ini ada jual mie instant, susu termasuk energen dan sejenisnya, gula, rokok dan korek api, obat nyamuk dan permen. Di sini juga ada jual bensin dan layanan tambal ban. Saya tidak tahu persis sampai jam berapa warung ini tutup. Karena sepanjang lewat kalau malam hari warung ini masih buka. Cuma kadang-kadang, kalau saya singgah beli mie instant, saya harus membangunkan penjual yang ketiduran. Kadang-kadang juga di depan warung ini dijadikan tempat nongkrong sejumlah orang.
Selain itu, di bagian tengah Jalan Karet, di dekat komplek Didies juga terdapat warungkecil menjual bensin dan tambal ban. Warung buka juga sampai sangat larut. Jadi walaupun pemiliknya tidur, bensin tetap diletakkan di atas rak. Orang yang perlu bensin, bisa membangunkan penjaganya yang tidur di warung kecil itu.
Setelah melewati kebun kelapa yang gelap, ada komplek perumahan di sekitar simpang Jalan Karet – Tabrani Ahmad, di sana ada penjaga malam. Penjaga itu seorang lelaki tua, sering saya lihat duduk di kursi di depan pos jaga. Kadang-kadang dia terlihat membakar-bakar sampah.
Nah, malam itu beda. Saat saya melintas tidak jauh dari persimpangan Kom Yos Sudarso, saya melihat ada sekatan di Jalan Karet.
“Heh, apa ya?!”
Saya terkejut. Ada orang jongkok di jalan. Tiga orang. Di bagian pinggir jalan ada sepeda motor dihidupkan lampunya. Lampu dari motor itulah yang menjadi penerangan orang yang jongkok. Mungkin kalau tidak ada lampu itu, orang yang jongkok di jalan tidak akan nampak.
Apa yang mereka buat? Ternyata mereka sedang menggali jalan. Mereka menggali aspal yang mulus dari sebelah kiri ke kanan. Ukurannya lima centi meter. Lubang kecil ini digunakan untuk memasukkan paralon kecil. Paralon itu dari rumah mereka ke parit Sungai Serok--parit besar di pinggir Jalan Karet. Gunanya, untuk menyedot air parit agar masuk rumah, agar mereka dapat mandi dengan mudah tanpa harus pikul-pikul air.
Walaupun saya mengerti mengapa mereka melakukan itu, namun, saya merasa geram juga.
“Uh, enak saja orang itu. Jalan sudah bagus, mereka buat rusak”.
Ya, mereka menggali jalan yang sudah mulus.
Memang setelah digali mereka tutup kembali, namun, karena mereka menutupnya dengan batu kecil, upaya mereka ini tidak membuat jalan jadi mulus kembali. Ya, setelah mereka gali jalan menjadi rusak. Jelek.
Namun, meski begitu, herannya pemerintah tidak risau pada soal ini. Pemerintah tidak menegur warga yang merusak jalan yang sudah mulus. Nampaknya, pemerintah membiarkan begitu saja. Nampaknya setali tiga uang. Padahal, mereka bisa melakukannya. Pemerintah bisa menegur warga yang merusak jalan. Bahkan, bila perlu meminta pertanggngjawabannya. Tapi…
Saya jadi mengeluh: Itulah pemerintah kita. Pemerintah kita memang kurang dapat dan kurang mau melihara.
Diposting oleh Yusriadi di 07.56 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Mencari yang Jujur
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Malam itu, saya mampir di sebuah lapak, di sebuah jalan di kawasan Kota Baru, Pontianak. Saya singgah hendak membeli jus buah Rp5.000.
Saya menghampiri etalase di bagian depan lapak, yang di situ dipajangkan buah apel, jeruk, melon, dll.
Tak lama kemudian, seorang lelaki separoh baya menghampiri saya. Dia berjalan dari ujung lapak. Di bagian ujung itu ada mesin pengolah air minum. Di bagian tengah ada counter jual pulsa, dan di bagian ujung ada etalase memajangkan minyak wangi. Tempat jual juice ada di bagian depan.
Jadi ada empat jenis barang yang dijual di situ.
“Juice apel, Bang”.
Lelaki itu kemudian menjangkau buah apel, seperti yang saya pesan. Membelah menjadi beberapa bagian, dan kemudian mengupasnya.
Dia mencari air untuk mencuci buah. Nampaknya dia agak bingung.
“Biasanya istri yang ngerjakan. Sekarang dia lagi ngurus anak”.
Dia memasukkan susu, apel dan es ke dalam blender. Kemudian dia meninggalkannya, berjalan ke depot air minum. Nampaknya dia sedang membersih gallon dan kemudian mengisinya. Saya melangkah ke dalam melihat-lihat minyak wangi. Sesekali saya bertanya tentang minyak itu, sekadar ingin tahu.
Saya melihat dia sibuk benar. Saya membayangkan dia akan lebih sibuk jika pada saat yang sama datang orang yang mau beli pulsa, beli air dan beli juice. Pada tangannya tidak akan dapat melayaninya sekali gus.
Ketika dia kembali mengerjakan pesanan saya, saya bertanya: “Banyak buka usaha, mengapa tidak cari tenaga kerja?”
“Udah carinya. Tapi susah . Susah mau cari yang jujur”.
Dia ada pengalaman mempekerjakan orang, namun, orang yang menjadi pekerjanya tidak amanah. Tetapi saya tidak bertanya lagi apa tidak amanah itu.
Saya hanya menebak sendiri. Mungkin orang itu menggelapkan uang.
Saya juga memiliki teman seorang pemiliki ruko, juga di kawasan Kota Baru. Dia jual sembako. Pasangan suami istri itu sibuknya minta ampun.
Ketika saya tanya mengapa tidak ambil orang untuk bantu di toko, jawabannya juga sama. “Susah mau cari yang jujur”.
Ah, saya jadi tak habis pikir mengapa orang yang jujur itu susah dicari. Mengapa? Apa yang salah? Apakah kegagalan itu di rumah tangga, di sekolah, atau di lingkungan?
Saya teringat kembali pada hal ini ketika beberapa hari lalu muncul isu kejujuran dalam ujian nasional. Kabarnya, Kalbar, berada peringkat ke-4.
Tapi, ahh… sebenarnya, di sekitar kita pun hari-hari kita lihat ketidakjujuran dilakukan orang. Orang berusaha menipu, orang berusaha tidak jujur. Sampai-sampai, saat ini orang sukar membedakan mana kejujuran dan mana bukan kejujuran.
Saya ambil contoh prilaku korupsi massal. Korupsi terjadi di mana-mana, dalam berbagai bentuk. Yang kadang kala orang yang melakukan tidak sadar bahwa dia telah ikut melakukan korupsi itu.
Entahlah, mungkin kita semua sekarang yang tidak dapat menyesuaikan diri: bahkan sekarang definisi kejujuran telah berubah.
Diposting oleh Yusriadi di 06.50 3 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Selasa, 09 Maret 2010
Gang Becek di Kota Pontianak
Oleh Yusriadi
Sejumlah anak sekolah berbaju putih dengan rok dan celana merah manggis melintas di Gang Karet Indah, Jalan Karet, Pontianak, di suatu pagi beberapa hari lalu. Mereka berjalan kaki dari arah Gang Sanubari, Parit Tengah. Dari jauh suara mereka sudah terdengar; ramai dan meriah. Mereka sambil bergurau, agaknya. Tapi, saya tidak dapat menebak apa yang mereka bicarakan. Maklum, mereka menggunakan bahasa Madura; bahasa yang tidak saya mengerti.
Bahasa mereka memang menarik perhatian saya: terutama pola campur antara bahasa Madura dan bahasa Melayu Pontianak. Sering-sering saya mencoba menyimak percakapan mereka. Banyak hal menarik untuk ditulis.
Tetapi, hari itu, bukan bahasa mereka yang menarik perhatian saya. Saya tertarik melihat mereka melintas di depan saya karena semua mereka menjinjing sepatu. Ya, sepatu yang seharusnya mereka pakai, tidak mereka pakai. Mereka nyeker, pakai kaki ayam.
Mengapa begitu? Ini karena lintasan mereka yaitu Gang Karet Indah, tidak seindah namanya. Gangnya tidak indah, tetapi justru berlumpur. Maklum musim hujan. Di gang itu masih ada bagian berlumpur sepanjang 100 meter, dari panjang gang ini lebih kurang 500 meter. Di bagian gang ke arah Jalan Karet sepanjang 300 meter sudah bersemen. Lebarnya lebih kurang 1,5 meter. Saya tahu, bagian ini bisa bersemen begini karena pernah ada bantuan pemerintah kota beberapa tahun lalu. Karena bantuan semen terbatas, bagian yang bisa ditangani hanya separoh itu.
Bagian ujung ke arah Gang Sanubari 2, yang 100 meter itu juga sudah bersemen. Ukurannya kira-kira setengah meter saja. Bagian ini, selain swadaya beberapa keluarga di ujung bagian ini, ada juga bantuan dermawan.
Dahulu, pilihan lintasan utama anak-anak dari Gang Sanubari ke sekolah ibtidaiyah di Jalan Karet, sebenarnya Gang Karet Makmur, bersebelahan dengan Gang Karet Indah. Keadaan Gang Karet Makmur ini kurang lebih sama. Bagian tengah masih belum beraspal dan becek. Ada bagian yang beceknya cukup dalam hingga betis. Sudah pernah beberapa kali ditimbus dengan tanah, tetapi, tidak berhasil. Bagian jalan ini kerap terendam. Jika bukan terendam karena pasang air laut, bagian ini terendam karena air hujan. Aliran airnya tidak lancar. Jalan tanah terendam. Karena sering dilewati, lama-lama becek lagi.
Sekarang, dibandingkan Karet Makmur, Gang Karet Indah ‘agak’ lebih mendingan. Tetapi, walaupun mendingan, anak-anak sekolah tetap harus buka sepatu kala melintasi bagian tengah gang tersebut, agar sepatu tidak basah.
Saya tentu saja sangat terkesan ketika melihat anak-anak menjinjing sepatu. Apa yang terjadi pada anak-anak itu mengingatkan saya pada pengalaman sendiri saat kelas 1 madrasah ibtidaiyah di Riam Panjang, Kapuas Hulu, tahun 1979.
Waktu itu kami masih tinggal di Sebugau, tempatnya di tengah kebun karet, yang lebih dekat ke ladang. Waktu itu bapak belum punya rumah di kampung. Kalau bapak ke kampung, pada hari Jumat, bapak menumpang singgah berganti pakaian salat di rumah keluarga.
Jarak Sebugau – sekolah kira-kira 3 kilometer. Jalannya jalan setapak. Pada musim hujan becek. (Oh, kadang saya sengaja tidak pakai di tengah hutan, agar sepatunya tetap bagus). Ketika kelas satu saya beruntung karena dibelikan sepatu kain; saya lupa mereknya. Nah, sepatu itu saya bawa tiap hari. Kadang saya jinjing dengan ranting, kadang kala saya masukkan dalam “sodung” (jenis ambinan kecil dari rotan). Saya, (dan teman sekolah) ketika itu tidak punya tas. Tempat terbaik untuk menyimpan buku adalah kantong plastik. Tetapi, itupun susah diperoleh. Ada teman yang harus rebutan dengan emaknya, karena emak juga mau pakai kantong plastic sebagai ganti tasnya kalau pergi ke kampung.
Saya hanya memakai sepatu bila sudah sampai di lanting (rakit tempat orang mandi) dekat sekolah. Tepatnya, memakai sepatu setelah kaki bersih dari lumpur.
Sudah lama saya tidak mengingat masa-masa menjinjing sepatu. Sebab, selalunya, saya melihat anak-anak sekarang pakai dan buka sepatu di rumah. Tidak ada lagi istilah jinjing-jinjing karena jalan becek.
Karena itu, ketika kemarin saya menyaksikan anak-anak itu menjinjing sepatu ke sekolah, saya jadi teringat semua itu.
Saya kira ini pemandangan langka. Langka karena pasti jarang-jarang kita melihat hal seperti itu. Terlebih lagi pemandangan itu saya lihat di kota; di pusat pembangunan. Lebih dari sekadar langka, pemandangan ini menyentuh perasaan. Ternyata masih ada banyak orang yang belum dapat bersama kita menikmati kemajuan pembangunan kota Pontianak. Entahlah, siapa yang mau peduli pada pengalaman mereka?!
Diposting oleh Yusriadi di 07.40 0 komentar
Label: Pendidikan, Pontianak, Suara Enggang
Minggu, 07 Februari 2010
Kondom di Konter HP
Oleh Yusriadi
“Chasing tidak ada. Kondom ada”.
Saya terperangah ketika seorang pemilik konter HP di Khatulistiwa Plaza, Pontianak memberitahu saya. “Bah, gila benar!”.
Saya mengucapkan kata itu dalam hati. Dia tidak dengar. Namun, saya yakin dia pasti melihat reaksi saya yang nampak gusar.
Bayangkan: kondom! Ihh… saya sempat heran mengapa saya ditawari benda itu, padahal jelas yang saya cari adalah chasing HP.
HP saya sekarang perlu chasing baru; chasing lama sudah pecah. Sering jatuh. Tapi, ya ampun…. Kok mencari chasing Sony Ericsson R300 susah benar. Saya sudah mampir di banyak konter HP mencari chasing itu. Tetapi tidak ada yang jual.
Lalu, siang kemarin, saya mampir ke konter HP di Plaza Khatulistiwa itu.
Dan ketika saya bertanya tentang chasing, saya justru ditawari kondom.
Saya sempat masem-masem. Apakah wajah saya kelihatan sedemikian mesum sehingga orang berani menawarkan barang khusus untuk permainan di tempat tidur itu, di tempat begini? Owalah, sedihnya. Sebab, seumur-umur belum pernah saya ditawari kondom. Ditawari perempuan juga jarang sekalipun cukup sering juga nginap di hotel, termasuk di hotel yang ada itunya sekalipun. Konon, menurut teman, orang tidak berani menawarkan macam-macam karena wajah saya menunjukkan kesan serius.
Lalu, “Mengapa kondom dijual di konter HP?”
Setahu saya, kondom dijual di apotik atau di mini market. Kononnya dahulu, kondom juga bisa didapatkan lewat ATM. Konter HP yang saya tahu biasanya hanya jual HP, jual aserosis HP, jual pulsa. Lha, ini jual kondom? Saya langsung terbayang pada “Sutera” dan beberapa mereka lain. Saya tahu itu karena sering melihat kondom yang dijual di toko, meskipun seumur-umur, saya, belum pernah beli barang itu.
Apakah dunia sekarang sudah sedemikian janggal? Apa ceritanya?
“Kondom?”
Saya bertanya untuk memastikan agar pikiran saya tidak ngeres tak tentu rudu.
“Ya, kondom sony ericsson”.
Lelaki itu, kemudian meminta pelayan --wanita muda, mengambil kondom dimaksud.
Perempuan itu menyodorkan 4 kondom kepada saya.
“Oooo… ini dia kondomnya”.
Mereka tertawa mendengarnya.
Ya, bukan kondom yang saya pikirkan yang mereka angsurkan kepada saya. Kondom ini, rupanya sarung untuk handphone. Bahannya dari karet. Bentuknya seperti chasing juga. Malah kesan saja, kondom untuk HP ini lebih mengesankan. Apalagi warna yang ditawarkan juga kinclong.
Ingin saya mengetahui mengapa karet pelindung ini diberi nama kondom. Kapan istilah ini muncul? Siapa yang memberikannya?
Saya tertarik ingin mengetahui sejarah kelahiran kata “kondom HP”. Ini bagian dari pelajaran saya, pelajaran linguistic; khususnya jika belajar etimologi – yaitu ilmu asal usul kata.
Tapi, saya tidak sempat bertanya. Petuga konter nampak sibuk. Saya hanya menduga-duga mengapa orang lebih memilih menggunakan istilah itu untuk karet pelindung HP, dan tidak menggunakan istilah lain yang kesannya lebih sopan. Bagi saya, mungkin istilah ini berkaitan juga dengan kecenderungan orang menggunakan istilah pelacuran intelektual, pemerkosaan hak asasi, onani pemikiran, pencabulan wilayah, dan sejenisnya. Ya, agaknya orang sekarang lebih familier dengan istilah-istilah seperti itu. Lalu, pada akhirnya, kita, mau tidak mau, memakainya juga.
Diposting oleh Yusriadi di 06.45 0 komentar
Label: Bahasa Media, Pontianak, Suara Enggang
Senin, 25 Januari 2010
Dokter Spesialis Perempuan
Oleh: Yusriadi
Setahun lalu, teman saya mengantar seorang wanita tua dari kampung di Kapuas Hulu berobat ke tempat praktik “seorang tabib” di Pontianak. Wanita itu, menderita sakit di payudaranya. Sakitnya sudah lama. Mula-mula berupa benjolan, kemudian lama-lama benjolan itu pecah. Busuk. Bau. Wanita tua itu sangat menderita. Dia juga sangat malu karena penyakitnya itu.
Di kampungnya, dia tidak berobat ke dokter. Tempat dokter di Puskesmas, memang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Tetapi dia malu. Masalahnya, dokter di Puskesmas itu lelaki. Tak mungkin lelaki selain suaminya boleh melihat ‘bende’ rahasia itu. (Dia tidak mempersoalkan dokter tersebut, dokter umum atau spesialis).
Lantas, wanita tua itu berikhtiar mengobati sendiri penyakitnya secara tradisional dan “sedikit modern”. Dia mencari obat yang mungkin digunakan - menurut kira-kiranya saja. Baik dari tumbuh-tumbuhan, maupun obat warung. Obat warung yang dicoba, ya… misalnya obat untuk pusing kepala, obat untuk meriang, dll.
Usahanya tidak berhasil. Sakitnya bukan makin sembuh. Semakin hari dia semakin menderita. Ceritanya, dia sering menangis sendiri karena sakitnya itu.
Lama-lama, orang sekitarnya tahu wanita tua itu ada penyakit. Mula-mula orang tahu dia sakit biasa. Tetapi, kemudian orang menjadi curiga ketika mencium bau busuk (bau dari benjolan di dadanya yang sudah pecah). Setelah didesak, barulah perempuan itu mengaku. Sakit payudara.
Keluarga pun berembuk. Sakitnya mulai jelas. Namnya kanker payudara. Solusinya dicari. Berobat ke Pontianak. Di Pontianak, mereka memilih ke alternative. Terapinya satu bulan, dan katanya, borok itu kering. ‘Sembuh’. Wanita tua itu kembali ke kampungnya.
Saya sempat ‘ngeri’ membayangkan penyakit wanita tua itu. Saya juga prihatin dengan masalah yang dihadapinya. Saya dapat merasakan masalahnya.
Bahkan, beberapa malam lalu saya juga merasakan hal yang sama. Saya membawa orang ke dokter untuk periksa penyakitnya. Penyakitnya sudah dirasakan cukup lama. Tapi, dia malu mengatakannya. Setelah didesak, barulah ketahuan.
Mulanya dia dibawa konsultasi ke dokter penyakit dalam. Dia mengaku sangat malu ketika dokter memeriksa penyakitnya. Dia berkeringat. Untung saja dokter itu, dokter wanita. Dia agak lega.
Namun kelegaannya tidak berlangsung lama. Periksa ke dokter penyakit dalam, tidak cukup. Dokter mengatakan dia juga harus ‘difoto’, dan dokter yang dirujuk untuk foto itu adalah dokter lelaki. Lagi-lagi dia sawan. Lebih sawan dibandingkan ketika dia diperiksa dokter wanita yang ahli penyakit dalam.
Sebelum masuk ke ruangan praktik dokter foto itu dia antri. Saat duduk menunggu dia mengaku panas dingin. Dia deg-degan. Lantas tiba gilirannya. Dia masuk. Setelah keluar ruangan dia bercerita, dia sempat termangu ketika dokter meminta dia membuka pakaian bagian agar diperiksa. Dia sempat gemetaran. Dia memang mendengar dokter mengatakan: tidak perlu malu. Tetapi, tetap saja dia pucat.
Saya masih melihat sisa ketakutannya ketika dia keluar dari ruangan.
“Ah, kasihan sungguh”.
Saya sempat membayangkan, andai saja pengambil kebijakan memperhatikan masalah seperti ini. Saya sempat mengandai, pemerintah membiayai doktek-dokter perempuan untuk mengambil spesialisasi untuk penyakit yang ada hubungan dengan bagian keperempuanan. Saya juga mengandai, seandainya para pembela hak-hak perempuan juga memperhatikan isu-isu ini: perempuan tidak saja dibela untuk masuk ke ranah public, terjun ke politik, tetapi juga didorong untuk memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan keperempuanan. Itu masalah mereka sendiri yang sebaiknya diurus mereka sendiri; bukan diurus lelaki.
Saya yakin, kalau ini diperhatikan, tidak perlulah perempuan-perempuan yang sakit, sampai harus bergegar-gegar mau periksa penyakit wanita mereka kepada dokter lelaki. Mungkin akan semakin sedikit wanita yang menyimpan sendiri penyakit mereka, karena mereka malu berobat. Agaknya.
Diposting oleh Yusriadi di 04.59 4 komentar
Label: Keluarga, Pontianak, Suara Enggang
“Laku Tiga Buti’”
Oleh: Yusriadi
Duh, malangnya! Kasihan.
Kata itu tercetus seketika dalam pikiran, ketika saya mendengar seorang perempuan paroh baya melaporkan jumlah kuenya yang laku terjual hari itu kepada pemilik warung di kawasan Purnama, Pontianak.
Saya mendengar percakapan mereka tanpa sengaja. Ya, sore kemarin mengunjungi teman yang tinggal di sebuah gang di Jalan Purnama Pontianak. Teman itu membuka warung sembako. Usahanya sekarang nampak besar.
Saya tahu bagaimana dia memulai usaha. Modalnya kecil. Tempatnya sederhana. Rumah murah yang mereka beli. Lokasinya memang pas di persimpangan gang.
Mereka merangkak dan berusaha keras. Beberapa tahun kemudian, usaha itu maju. Sangat maju. Mereka membesarkan rumah dan mendesainnya khusus untuk tempat berdagang. Jika dahulu sang suami belanja dengan motor ke pasar setiap pagi, sekarang, dia ke pasar pakai pikup sendiri.
Nah, karena maju, warung ini juga menjadi tempat penitipan kue-kue buatan ibu-ibu rumah tangga. Saya lihat sore kemarin, ada nagasari, ada bakwan, kroket, klepon, dan lain-lain. Kue-kue ini diletakkan di atas meja di bagian kiri warung. Setiap pagi, ibu-ibu menitipkan kue di sini. Lalu, sore mereka mengambilnya.
Seperti juga sore kemarin.
Saat saya berbicara dengan teman itu, seorang ibu paroh baya datang. Dia menggunakan sepeda dengan keranjang di depan. Di dalam keranjang itu ada beberapa bungkusan plastik. Dia mengambil tempat bakwan dan kroket dari atas meja. Lalu, dia menghitung isinya. Tidak ada suara. Hanya mulutnya yang bergerak. Ekspresinya menyiratkan kekecewaan.
“Tiga”.
“Tiga?”
Saya nimbrung. “Tiga? Lakunya tiga?”
“Iya. Lakunya cuma tiga”.
Saya terperangah. Sedikit amat.
“Ndak rugi?”
Teman saya tertawa.
“Ya, begitulah resikonya”.
“Jangankan untung, bisa-bisa modal habis,” saya menyampuk.
“Lalu kuenya diapakan?”
Ibu pemilik kue tidak menjawab. Saya tidak mengulangi pertanyaan. Tidak ingin Nampak mendesak. Sekalipun sebenarnya saya ingin tahu.
“Nanti masuk koran, Bu,” teman saya bercanda.
Kami melupakan tema kue yang tidak laku. Ibu pemilik kue meninggalkan warung. Kembali bicara soal kegiatan masing-masing. Tukar cerita. Maklum sudah lama tidak bertemu. Sesekali pembicaraan terputus karena dia harus melayani pembeli.
Tak lama kemudian, seorang ibu datang menghampiri meja tempat kue diletakkan. Dia mengambil piring plastic tempat kue nagasari. Saya melihat di dalam piring itu ada tiga bungkus daun pisang.
“Empat”.
Suara ibu itu terdengar agak nyaring. Maksudnya ada 4 kue yang laku.
Berselang lima menit setelah itu, seorang ibu lain yang nampaknya masih lebih muda, mengambil kue. Klepon. Dia menghitung isi klepon dalam plastic.
“Lima”.
Dia menyebutkan jumlah yang laku.
Sungguh malang. Tapi mau apa, begitulah sudah kenyataannya.
“Memang sekarang kue-kue lagi payah. Musim buah bah,” kata teman.
Benar, kue-kue memang payah. Payah laku. Peminatnya kurang. Pembuatnya, membuat dengan susah payah. Dengan modal uang untuk membeli bahan dan modal tenaga. Mereka mau berusaha.
Tetapi, saya tidak ada bayangan, bagaimana jika usaha mereka terus menerus payah. Pasti modal akan hangus. Pok. Kalau mereka pok, matilah riwayat kue-kue tradisional. Kue buatan ibu-ibu itu akan jadi kenangan.
Bisakah mereka dibantu? Tiba-tiba saya teringat Visit Kalbar Years 2010. Seharusnya ini kesempatan mengangkat dan mempromosikan kue-kue lokal. Ini saatnya membantu ibu rumah tangga yang mau berusaha untuk kehidupan mereka, rumah tangga mereka dan anak-anak mereka.
Tetapi bagaimana caranya? Saya masygul. Saya belum menemukan jawabannya. Mudah-mudahan pemerintah dan para wirausahawan menemukan caranya.
Diposting oleh Yusriadi di 04.52 1 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Senin, 30 November 2009
Pohon Buah Sutarmidji
Oleh Yusriadi
Gagasan Walikota Pontianak agar warga kota melakukan penghijauan dengan menanam pohon buah-buahan merupakan gagasan sederhana, tetapi, besar.
Sederhana, karena penghijauan mudah diucapkan, mudah digagaskan dan mudah dilakukan. Lahan ada. Pohon tinggal tanam. Masyarakat sebenarnya, rajin-rajin. Biasa be orang menanam.
Gagasan itu juga besar, karena saya bisa membayangkan dampak positifnya. Hasilnya. Kota akan menjadi hijau. Jalan kota akan rimbun oleh pepohonan. Penduduk kota akan merasakan ademnya kota mereka. Penduduk akan sehat karena udaranya segar dan agak bersih. Sekaligus penduduk akan menikmati buah-buah dari pohon yang mereka tanam. Pendudukan akan menjadi ‘semakin’ rajin, karena ada pekerjaan tambahan: merawat pepohonan. Bak kata, gagasan ini seperti kata pepatah, “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”.
Saya menyampaikan apresiasi yang besar terhadap upaya ini.
Sudah lama saya memimpikan kota yang adem dengan penghijauan. Rasanya, Pontianak telah banyak kehilangan hutan kota menyusul pohon-pohon yang ditebang dan diganti dengan perumahan. Malangnya perumahan-perumahan dan bangunan baru tidak semuanya ada pohon penghijauan. Jadinya, sudut kota menjadi sangat gersang rasanya.
Saya selalu membandingkan ketika di tahun 1989 saat saya ke Pontianak, hingga beberapa tahun kemudian, saya masih sempat merasakan rerimbunan pohon di sepanjang Jalan Rais A Rahman, Jalan Kom Yos Sudarso, Jalan Penjara dan Jalan Merdeka.
Cukup banyak pohon besar di pinggir jalan.
Jika sudah lewat di jalan tersebut, adem banget rasanya. Sejuk dan nyaman.
Tetapi, kemudian satu persatu pohon tumbang. Ditebang. Saya tidak tahu apakah kebijakan penebangan pohon di pinggir jalan itu kebijakan pemerintah (dinas pertamanan) atau pandai-pandai warga.
Lalu, beberapa tahun lalu pemerintah melakukan penghijauan menyusul program penanaman sejuta pohon. Pohon yang ditanam, antara lain jenis sengon dan pohon hutan lainnya.
Saya sempat berdiskusi dengan salah satu calon wakil walikota dalam Pilwako lalu soal penghijauan kota. Dia lebih suka penghijauan dengan sengon, dan dia menyebutkan keuntungan tanaman sengon.
Saya tidak sependapat dengan beliau. Mungkin karena saya tidak mengerti sengon.
Menurut saya, penanaman pohon pinang untuk penghijauan kota lebih baik. Pohon pinang sangat familier di tengah masyarakat. Pohon ini juga sederhana. Sampah daunnya tidak terlalu banyak, dan buah pinang memiliki nilai ekonomi dan social. Batang pinang juga besar manfaatnya.
Saya membayangkan jika setiap gang ditanami pinang. Lingkungan akan rimbun. Lalu, jika pinang berbuah, RT di gang itulah yang boleh memungutnya dan menjualnya. Hasilnya, untuk kepentingan bersama. Orang perorang pasti tidak terlalu tertarik untuk mengambil buah pinang. Mana pinang bisa dimakan banyak-banyak? Jadi, konflik yang timbul karena buah pinang ini bisa agak minimun.
Pikiran saya muncul waktu itu, karena saya melihat di ruas jalan di kawasan Danau Sentarum, ditanami banyak pohon nangka. Pohon itu berbuah. Cukup lebat. Buahnya bisa digunakan untuk sayur-mayur masyarakat setempat. Kalau mau.
Saya teringat kebiasaan makan bersama di kampung. Andai saja orang kota mau makan bersama, tentu sayur nangka ini bisa dijadikan sayur pelengkap yang semua orang merasakannya. Kebersamaan yang indah.
Di jalan-jalan ke luar kota, misalnya jalan Sungai Rengas, saya juga melihat ada banyak penduduk yang menanam pisang di pinggir parit. Pisang ini rimbun dan subur. Buahnya besar. Pisang ini membuat lingkungan menjadi teduh.
Kini, Sutarmidji sudah melakukan sesuatu yang menurut saya luar biasa. Sesuatu yang besar. Karena itu, seharusnya kita memberikan apresiasi dan dukungan.
Diposting oleh Yusriadi di 07.17 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Sabtu, 07 November 2009
Lubang di Kota Pontianak
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rabu (4/11) sekitar pukul sebelas siang. Saya melewati Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak. Lewat sedikit dari Gang Lamtoro, saya melihat sebuah pick up warna putih terperosok di bekas lubang galian kabel fiber optic. Sebelah bannya terbenam. Tidak bisa keluar. Bodi kendaraan jadi ada miring. Untung muatannya – karung-karung dan kardus, tidak tumpah ke jalan.
Kejadian ini memang tidak menarik perhatian orang. Tidak ada orang yang mengerumuni mobil yang lagi apes itu. Orang tidak tertarik untuk melihat kejadian itu, seperti orang tertarik kalau melihat ada kejadian tabrakan, perkelahian, dll.
Orang tidak tertarik karena mungkin pick up yang terperosok itu tidak mengganggu lalu lintas. Maklum, kejadiannya di pinggir jalan.
Lagi, mungkin juga karena kendaraannya agak kecil sehingga tidak nampak-nampak amat.
Saya tertarik dengan kejadian ini. Sesaat saya berhenti. Melihat-lihat dari atas motor.
Saya prihatin pada nasib sopir (mungkin ada keneknya juga). Kesihan sungguh.
Jika saya bawa mobil dan mobil terperosok di lubang itu, mungkin saya akan marah. Kesal. Mungkin saya akan pikir-pikir untuk meminta pertanggungjawaban dari kontraktor yang menangani proyek ini.
Menurut saya, jelas, bahwa kejadian ini, karena lubang yang digali pekerja yang memasang kabel optic itu. Pekerja, dan kontraktorlah yang menggali lubang yang membuat ban mobil pick up itu terperangkap. Mereka telah memasukkan kabel dan kemudian menimbun bekas galian itu. Timbunan ini nampak rata dengan tanah di sekitarnya. Dan, rupanya tanah itu belum padat sehingga ban mobil jadi amblas.
Dalam peristiwa kemarin, mungkin orang berpikir, sopir yang salah, tidak hati-hati sehingga kenadaraannya masuk lobang.
Tetapi menurut saya, justru kontraktorlah yang harus bertanggung jawab karena bekas galian itu tidak dikembalikan seperti sedia kala. Harusnya, mereka memadatkan kembali bekas galian. Jika tidak, mereka harus memberikan tanda bekas galian, sehingga orang lebih hati-hati.
Saya lantas teringat kebiasaan-kebiasaan selama ini. Orang proyek memang seakan-akan bebas melakukan sesuatu. Semau mereka. Mereka boleh membongkar-bongkar jalan yang sudah bagus. Mereka bebas melakukan pekerjaan dan ‘mengganggu’ kenyamanan pelintas.
Jarang saya lihat ada plang proyek: “Maaf Kenyamanan Anda Terganggu. Ada pekerjaan proyek”. Yang biasa kita lihat: “Hati-hati Ada Kegiatan Proyek”. Tanpa ada kata maafnya.
Malahan, setelah proyek selesai, bekas-bekas pekerjaan kadang kala ditinggalkan begitu saja. Apakah kemudian pelintas tidak nyaman melalui bekas proyek itu, nampaknya tidak dipikirkan. Apakah kemudian ada orang yang celaka karena bekas proyek itu, sepertinya juga tidak dipikirkan.
Ini hampir sama dengan orang yang menumpukkan pasir di pinggir jalan. Tumpukan pasir yang “merata-rata” mengganggu pelintas. Ban motor jadi slip. Saya kenal beberapa orang yang jatuh ketika melewati tumpukan pasir yang luber ke jalan. Mereka celaka. Mereka dirawat di rumah sakit. Malah ada yang mati!
Mereka tanggung sendiri musibah itu. Orang yang punya pasir, orang yang menumpukkan pasir di jalan, tidak diminta pertanggungjawaban. Justru sering orang bilang: “Salah sendiri, bawa motor ndak liat-liat”. Padahal jelas, mereka menumpukkan pasir di jalan umum, jalan yang dilewati orang. Jalan yang seharusnya tak terhalang.
Tapi, mau apalagi. Kasihan sungguh. Itulah logika sebagian masyarakat kita. Logika yang menurut saya mencerminkan kelemahan perintah melindungi warganya. Inilah cerminan bahwa hukum kita lemah dan seakan-akan tidak ada. Sering kali orang boleh bebas melakukan apa saja.
Diposting oleh Yusriadi di 07.23 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Kamis, 24 September 2009
Nanggok Malam Lebaran di Pontianak
Oleh: Yusriadi
Nanggok bukan sekadar bagian dari pawai takbir untuk memeriahkan malam lebaran di tengah masyarakat kota Pontianak. Nanggok juga bukan sekadar melanjutkan tradisi yang sudah bernama dalam masyarakat sebelumnya. Nanggok sekarang, dilakukan orang untuk mendapatkan uang.
Sore itu, sore terakhir puasa, kami, adik beradik, berbuka di rumah Mas Yanto – Mbok Lena di sebuah komplek di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Nipah Kuning Pontianak. Mbok adalah kakak kami yang paling tua dari 5 saudara.
Kami berkumpul juga bersama bapak dan emak, serta ipar-biras, anak, cucu. Jumlah yang kumpul di rumah komplek ukuran 37 yang sudah dilebarkan, ada 22 orang.
Ramai sekali.
Setelah buka, salat Magrib, makan, kami duduk-duduk santai. Ada yang memilih duduk di ruang tamu, ada yang di ruang tengah, ada juga yang di dapur. Yang anak-anak, mereka lalu lalang: dapur, teras, jalan depan rumah – maklum pemukiman padat ini tidak ada halaman. Di jalan juga banyak anak tetangga sedang bermain.
Bunyi mercon yang dibakar anak tetangga, meledak sesekali. Agaknya juga ada kembang api dibakar.
Saya, bersama beberapa orang duduk di ruang tengah. Kami ngobrol tentang apa saja. Mulai tentang lebaran yang serentak, hingga tentang harga daging dan telur yang naik lebih dari Rp10 ribu per kilogram. Panjang ceritanya. Sampai kemudian, obrolan kami terpenggal oleh suara anak-anak takbir di luar.
“A-lah hu akbar. A-lah hu akbar. Walilah hil ham”.
Berulang dua kali saja.
Saya kira ini takbir yang unik. Beda dengan cara takbir orang pada umumnya. Cara mereka mengucapkan juga beda.
Takbir ini terputus. Anak yang takbir tadi, berjumlah tiga orang, seorang di antaranya membawa kotak, hanya berdiri di teras, di depan pintu. Mereka tidak masuk. Mereka juga tidak melanjutkan takbirnya.
Lalu, tiga orang anak Mbok Lena –seorang berumur sekitar 14 tahun, 9 tahun, seorang lagi berumur 4,5 tahun berlari ke belakang.
“Bu, ada budak takbir”.
“Bu, ada budak nanggok”.
Mereka melapor pada ibunya.
Mbok bergegas ke kamar. Dia mencari tempat menyimpan uang. Lalu, keluar lagi dari kamar, dan dia menghitung uang itu. Seribu, dua ribu.
“Ni”.
Dia mengangsur uang itu kepada anaknya yang berumur 14 tahun.
Anak-anak itu berlari ke depan menjumpai rombongan takbir.
Tak lama kemudian, suara takbir anak-anak itu terdengar di rumah tetangga sebelah.
“Jam segini sudah turun nanggok mereka”.
“Ya, begitu, terus sampai malam”.
“Tahun lalu saya hitung ada 12 rombongan nanggok”.
“Berapa dikasih yang datang itu?”
“Tergantung. Dua ribu, lima ribu”.
Kalau yang datang itu anak-anak kecil, paling banyak, mereka diberikan Rp2000. Kalau yang datang remaja masjid, mereka diberikan Rp5000.
Lalu bagaimana membedakan yang datang itu anak-anak biasa atau remaja masjid?
“Lihat tok-nya”.
Tok maksudnya kotak yang mereka bawa untuk mendapatkan sumbangan. Orang yang memberikan sumbangan memasukkan uang ke dalam kotak itu. Tidak langsung kepada orang per orang.
“Kalau resmi, tok itu ada tulisan nama Masjid atau Surau apa. Kalau tidak ada tulisan, berarti rombongan itu, pandai-pandai mereka”.
Rombongan pandai-pandai mereka maksudnya, rombongan yang dibentuk oleh kesepakatan dua tiga anak. Mereka bergerak sendiri. Uang yang diperoleh nanti pun untuk diri sendiri.
Tak lama kemudian, rombongan takbir kedua di malam takbir itu, juga datang. Anak-anak Mbok masuk kembali menjumpai ibu mereka. Mbok memberika mereka uang dan kemudian mereka memasukkan uang ke dalam tok yang dibawa oleh rombongan yang datang.
Saya tidak sempat melihat kedatangan rombongan takbir berikutnya. Keburu. Malam itu saya menyaksikan pelepasan rombongan takbiran keliling kota Pontianak di Pendopo Gubernur Kalbar, Jalan Ahmad Yani Pontianak.
Saya menghitung, jika jumlah rombongan takbir di komplek Mbok tahun ini sama dengan jumlah rombongan tahun lalu, berarti masih ada 10 rombongan lagi yang akan datang. Ada 10 kali lagi terdengar lafaz takbir yang unik. Setidaknya ada 10 kali lagi keluarga Mbok melihat orang-orang datang menanggok. Setidaknya ada 10 kali lagi keluarga Mbok mendermakan sebagian dari pendapatan mereka.
Sesuatu yang berbeda dibandingkan di rumah saya di Jalan Karet. Di rumah saya, tahun lalu, hanya ada 3 rombongan yang datang. Lebih sepi. Maklum, rumah dalam gang yang penduduknya dapat dihitung dengan telunjuk, di tengah sawah yang lebih banyak wilayah gelapnya dibandingkan terang berlampu.
Tetapi, malam itu, bukan cuma rombongan takbir yang nanggok di sebuah komplek di TPI yang saya lihat. Saya juga melihat beberapa remaja putri berdiri di pinggir jalan di Jalan H. Rais A Rahman, Sungai Jawi, di lampu merah Jalan Martadinata, yang menyodorkan kotak terbuka. Kotak itu – mungkin disebut tok juga?, dari kardus. Ada tulisan di kardus itu. Namun saya tidak dapat membacanya – karena jarak yang jauh dan malam yang tidak terlalu terang.
Pakaian mereka modis. Keren. Tetapi, mereka nampak malu-malu ketika menyodorkan kotak itu kepada orang yang tertahan di lampu merah.
Sementara itu, di belakang mereka, ada sejumlah remaja putra menabuhkan tahar seraya melaungkan takbir. Saya duga, mereka pasti remaja masjid Asy-Syakirin, yang sedang memungut sumbangan dari para pelintas. Sesuatu yang jarang saya lihat dilakukan remaja masjid lain. Mungkin remaja masjid ini tidak sempat takbir sambil nanggok dari rumah ke rumah.
***
Tradisi nanggok sudah dianggap budaya orang Melayu Pontianak pada saat lebaran. Tradisi ini ada sejak dahulu kala. Beberapa orang teman kelahiran Pontianak mengakui pernah melakukan itu di waktu mereka kecil.
Sekarang, setelah mereka menjadi orang tua, mereka tidak melakukan itu. Anak-anak merekalah yang melanjutkannya.
Namun, beberapa sumber menyebutkan tradisi sekarang berbeda dibandingkan tradisi 20 tahun yang lalu.
Dahulu tidak ada rombongan nanggok berjalan sendiri-sendiri. Kegiatan nanggok selalunya bermula dari masjid, setelah jamaah salat Isya berjamaah dan takbir bersama di masjid.
Rombongan berangkat dari masjid, dipisahkan dalam beberapa kelompok. Sehingga nantinya ada rombongan takbir yang mendatangi rumah-rumah warga di arah kanan masjid, ada yang mendatangi rumah di kiri masjid, dan seterusnya. Di dalam rombongan ini ada anak-anak, ada juga orang tua.
Kelompok orang cenderung dibagi berdasarkan asal jamaah. Misalnya orang yang berasal dari arah kanan masjid, cenderung masuk dalam kelompok yang bergerak ke arah kanan masjid, dan seterusnya. Pembagian begini dilakukan untuk memudahkan penyambutan rombongan nantinya. Biasanya, tuan rumah akan kembali ke rumahnya lebih dahulu –termasuk menyiapkan hidangan penyambutan, saat rombongan tiba di rumah kedua sebelum rumahnya.
Rombongan takbir mendatangi rumah penduduk dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan mereka takbir. Pemimpin takbir ditunjuk secara bergantian beberapa orang yang tentu saja suaranya bagus. Yang lain, menjawab takbir itu dan menabuh gandang, kentongan dll. Takbir terus dilaungkan hingga sampai di depan pintu rumah penduduk yang terbuka. Pintu terbuka menandakan pemilik rumah siap menerima kedatangan rombongan.
Secara formal, tuan rumah menyilakan rombongan masuk. Setelah masuk, duduk, kembali takbir dilanjutkan, sambil menunggu hidangan disajikan tuan rumah. Jenis hidangan biasanya kue dan minuman. Sesekali ada makanan jenis lain. Semuanya tergantung kemampuan dan kerelaan hati tuan rumah.
Setelah selesai makan, rombongan berpamit. Kadang-kadang juga ditutup dengan doa selamat. Selesai, doa tuan rumah memasukkan sumbangan ke dalam tok. Dua puluh tahun lalu, sumbangan berkisar pada angka Rp5 ribu.
Begitulah seterusnya, sampai semua rumah didatangi rombongan takbir. Setelah selesai, rombongan kembali lagi ke masjid dan mengagih-agihkan hasil tanggukan. Kadang kala, hasilnya dibagikan orang-orang yang takbir, kadang kala juga uang takbir itu digunakan untuk kepentingan bersama – misalnya peningkatan pembangunan jalan, atau pembangunan fisik lain. Maklum waktu itu kemajuan pembangunan belum seperti sekarang ini. Pembangunan lebih banyak mengandalkan kemampuan swadaya penduduk. Sedangkan sekarang, penduduk dapat mengharapkan bantuan pemerintah untuk aneka pembangunan fisik di sebuah wilayah.
***
Perubahan budaya „nanggok“ sekarang mendatangkan keprihatinan pada teman saya.
“Nanggok sekarang seperti melegalisir budaya mengemis”.
„Seharusnya budaya ini tidak dikembangkan“.
Dia lantas mengutip nash yang menyebutkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Nash ini maksudnya, memberi lebih baik daripada menerima.
Katanya, dari budaya ini terlihat anak-anak menjadi tidak malu membawa kotak sumbangan, padahal sumbangan dipungut untuk kepentingan dibagi-bagikan di antara mereka sendiri. Pribadi. Mana yang bernasib baik, mereka bisa mengumpulkan uang puluhan ribu rupiah. Jika satu komplek ada 100 rumah, dan setiap rumah menyumbangkan minimal Rp2000 maka satu tok bisa mengumpulkan uang Rp200 ribu.
Anak yang “pandai-pandai” pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini. Mereka bisa mendapatkan uang dengan mudah, dengan bekal kotak tok dan melafazkan takbir sekali dua.
„Mungkin suatu saat akan ada orang yang mengorganisir kelompok ini untuk mendapatkan sumbangan yang lebih besar, untuk pribadinya“.
Protes teman ini mengingatkan saya pada kisah seorang anak tetangga yang berumur 4 tahun, beberapa tahun lalu. Waktu itu, pada malam lebaran, anak tersebut berkunjung ke rumah neneknya di sebuah gang di kawasan padat di Sungai Jawi, Pontianak.
Dia ikut rombongan anak-anak tanggung (remaja) nanggok dari satu rumah ke rumah lain di dalam gang itu. Dia ikut takbir – sekalipun mungkin dia tidak tahu lafaz sebenarnya dan maknya.
Dia menyaksikan orang yang menerima rombongan mereka, memasukkan uang ke dalam tok dari kaleng susu yang agak besar.
Setelah merasa cukup, rombongan ini membagikan uang hasil tanggukan. Malangnya, anak kecil itu tidak mendapat bagian dari hasil nanggok itu. Alasan remaja-remaja ini, anak tersebut masih kecil, tidak layak mendapat bagian. Anak kecil ini tidak ada peran dalam kelompok mereka.
Tentu saja anak kecil itu marah dan kesal. Tetapi dia tidak bisa apa-apa. Dia tak sanggup memaksa ‘abang-abangnya’ agar dapat bagian dari nanggok bersama itu.
Dia hanya bisa kembali ke rumah neneknya.
Hebatnya, anak itu bukannya menyerah. Dia lantas mencari kaleng susu di tempat pembuangan di samping rumah. Dapat.
Dengan kaleng kosong itu, lantas dia mendatangi rumah-rumah yang tadi didatangi rombongan. Dia dapat melafazkan takbir yang terpatah-patah.
Hasilnya lumayan. Dia mendapatkan sumbangan beberapa ribu rupiah dari rumah yang didatanginya. Total, anak itu mendapatkan hampir Rp20 ribu. Penghasilan yang besar untuk ukuran anak seusia 4 tahun.
Saya selalu ingat cerita ini karena ini kisah luar biasa. Seorang anak usia 4 tahun bisa melakukan takbir secara mandiri dan sudah dapat berpikir bagaimana mencari uang. Saya mengagumi anak itu karena dia memiliki keberanian yang jarang dimiliki anak seusianya.
Namun, di antara kekaguman itu, ada keprihatinan. Prihatin karena secara tidak langsung budaya ini mengajarkan anak tidak malu meminta sumbangan, sekalipun sumbangan untuk dirinya sendiri.
Apa bedanya dengan mengemis? Hal seperti inilah yang mendatangkan keprihatinan teman saya tadi.
Tetapi, mengapa keprihatinan ini belum menyeluruh? Maksudnya, mengapa orang-orang yang lain tidak melihat adanya dampak negative dari budaya nanggok mandiri sekarang ini – sehingga mereka tidak merasa perlu menghentikannya?
Bisakah dihentikan? Bisakah setiap orang tidak memberikan uang terhadap anak yang datang menanggok di malam lebaran? Bisa saja. Tapi, pasti tidak mudah. Seorang teman saya mengatakan:
“Mana enak kita ndak ngasih. Nanti dikira orang pelit”.
Bahkan sekarang, bukan saja di malam takbir, tradisi membagi amplop sudah membudaya dalam sebagian masyarakat muslim di Pontianak saat anak-anak datang berkelaran ke rumah mereka di hari pertama raya, ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Sudah ada amplop khusus yang didesain untuk itu. Lebaran kali ini saya melihat kebanyakan amplopnya berwarna hijau dengan tulisan ala Islami sedikit.
Saya terpana. Padahal, beberapa tahun lalu, memberi uang saat lebaran – jika pun pakai amplop, amplopnya masih amplop merah, seperti ’angpao’ dalam masyarakat Tionghoa. Beberapa tahun lalu, orang memberi uang kepada anak-anak yang datang dengan cara langsung dikepilkan ke tangan saat anak datang atau pulang. Namanya pun waktu itu biasa disebut ’angpau’ juga.
Kesediaan memberi memang diajarkan dalam Islam. Inilah bagian dari kesediaan menginfaqkan sebagian dari harta yang dimiliki kepada orang lain. Inilah bagian dari hasrat orang yang tua menyenangkan hati ponakan dan anak-anak saudara mereka.
Saya kira, inilah yang kemudian membuat tradisi nanggok tumbuh dan berkembang, yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi seperti yang terlihat hari ini.
Bagaimana selanjutnya? Entahnya, perubahan pasti terjadi. Hanya soalnya, bagaimana bentuk perubahan itu, waktulah yang akan menentukan. Yang pasti, masyarakat selalu punya alasan baik untuk perubahan. Sebaliknya, masyarakat lain juga punya cara untuk menyikapi perubahan itu.
Diposting oleh Yusriadi di 07.38 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Pontianak, Tentang Yusriadi
Pawai Takbir dan Relasi Etnik di Kalimantan Barat
Oleh Yusriadi
Pawai di malam takbiran keliling kota Pontianak kemarin berlangsung meriah – sekalipun memang tidak semeriah malam pergantian tahun.
Kendaraan pawai membelah jalan kota, takbir menggema melalui pengeras suara, pukulan gendang dan drum membahana, dentuman meriam dan mercon memekakkan telinga. Begitu juga sinar kembang api memewarnai langit kota.
Kemeriahan terasa sempurna karena pawai ini seperti menjadi medium penyatuan budaya antar kelompok etnik. Budaya Melayu (Budaya Islam + budaya lokal) dicampur dengan budaya lain. Setidaknya saya melihat ada beberapa budaya lain yang ikut tampil dalam tampilan malam takbir kemarin.
Lihat bagaimana letusan petasan dan kembang api. Bakar petasan dan kembang api bukanlah berasal dari budaya Melayu. Orang Melayu Pontianak mengenal meriam; meriam karbit.
Begitu juga dengan budaya pukul beduk. Pukul beduk memang biasa dijumpai dalam masyarakat muslim Nusantara. Bahkan, di beberapa tempat, sebelum masuk waktu salat biasanya dibunyikan beduk. Orang Melayu juga mengenal tar (tahar); sebagai alat pengiring seni pertunjukan. Permainan tahar dalam masyarakat Melayu memiliki variasi yang rancak. Bahkan, di beberapa tempat ada anggapan, sebuah majelis perkawinan tidak akan sempurna tanpa tetabuhan tar mengiring pengantin.
Tetapi malam itu, bukan beduk yang dipukul orang. Meskipun ada judulnya pukul beduk. Yang dipukul malam itu gendang. Walaupun dalam kamus bahasa Indonesia, beduk dan gendang tidak dibedakan dengan jelas, tetapi, secara semantik, beduk dan gendang membawa dua konotasi yang berbeda. Beduk berkaitan dengan alat tetabuhan untuk “ritual“ di masjid, sedangkan gendang bermakna agak umum.
Dan, pada malam takbiran itu, yang dipukul orang adalah gendang (dan drum).
Saya tertarik pada gendang yang ditabuh mengiringi pawai malam itu. Bentuknya unik. Tak pernah saya lihat gendang seperti itu di masjid. Entahlah, mungkin karena saya jarang ikut kegiatan masjid.
Bentuk gendang yang dipakai malam itu, bulat pendek, dibalut kain batik warnanya merah.
Saya mendekati penabuh gendang yang berada di truk induk – truk yang paling besar yang terletak di kepala jalan. Waktu itu truk diparkir di depan pendopo Kantor Gubernur. Belum jalan. Panitia sedang menyampaikan pidato tentang pawai.
Anak muda yang ada di atas truk yang saya tanya tentang gendang itu mengaku tidak tahu.
“Entah dari mana, ndak tahu”.
Jawaban ini membuat saya makin heran.
Saya ingin naik ke atas truk untuk mengamati gendang itu. Namun, urung karena sulit. Saya kesulitan memanjat truk.
Pada saat saya maju mundur -- antara naik dan tidak, pandangan saya tertumbuk pada gendang serupa yang terletak tidak jauh dari truk tempat saya berdiri. Gendang itu terletak di atas porselin dekat halaman depan kantor gubernur.
Ada beberapa anak muda mengelilingi gendang itu. Semula saya mengira mereka adalah remaja masjid yang ambil bagian dalam kegiatan pawai.
Tetapi kemudian setelah saya menghampiri seorang penabuh, baru saya tahu mereka berasal dari organisasi bernama PDC singkatan dari Pontianak Drummer Club (PDC). Dia menjelaskan sedikit tentang PDC.
“Siapa punya gendang besar ini?”
“Tidak tahu ya. Bukan punya PDC”.
Saya sudah punya feeling kalau gendang itu milik yayasan Tionghoa.
Saya sering melihat gendang besar begini muncul dalam acara orang Tionghoa. Bunyinya “medam”. Pukulan yang teratur kadang-kadang kedengarannya asyik juga.
Dugaan saya makin kuat karena saya melihat ada lakban warna mereka di atas kulit gendang itu.
“Mengapa semua gendang ada lakbannya?”
“Apa ada yang ditutupi?”
Saya menghampiri gendang dan mencoba menyentuh lakban merah itu. Saya mencoba melihat apa yang ada di bawahnya. Atau lebih tepatnya, saya mencoba mencari jawaban mengapa lakban itu dipasang. Tidak nampak benar. Tetapi saya yakin di bawah lakband itu ada sesuatu yang disembunyikan.
Lakban itu lengket sekali. Agak susah membukanya. Tetapi, kemudian saya dapat melihat sesuatu yang menakjubkan. Di bawah lakband itu adalah aksara Cina. Tetapi saya tidak dapat membacanya.
“Apa tulisannya Bang?”
Saya bertanya pada penabuh gendang itu.
“Mi Ti Yau”
Dia mengucapkannya sambil tersenyum. Dia mengajak saya bercanda. Saya tersenyum. Mungkin, pas waktu itu hanya soal makanan yang dia pikirkan. Saya juga mafhum, „Mi Ti Yau“ adalah nama jenis makanan mie yang mudah dijumpai di kota Pontianak. Enak. Saya sangat mengemari Mie yang dimasak dengan cara ini.
Saya juga terkesan dengan Mie ini. Mie ini juga mencerminkan pengaruh Cina dalam selera makan orang Pontianak. Mie ini mencerminkan adanya hubungan budaya antara dua komunitas itu. Karena itu, orang seharusnya mampu melihat bahwa hubungan antar Cina (Tionghoa) dengan komunitas lain, bukan saja dalam konteks sosial, dagang, dan juga masuk dalam wilayah politik, tetapi juga soal makanan.
“Mi Ti Yau“ bukan satu-satunya jenis makanan ala Cina yang disukai orang Melayu (dan komunitas lain) di Pontianak. Masih ada jenis makanan lain. Misalnya Bak So, Cap Chai, dll.
Ini juga menunjukkan bahwa perkembangan budaya kelompok tidak bergerak berasingan. Komunitas Cina dan Melayu, tidak berada di ruang yang sendiri-sendiri. Ada ruang bersama yang mereka kongsi. Ada budaya bersama yang mereka pakai – dan saling pinjam. Ini semua terjadi karena interaksi antar komunitas sebenarnya terjalin sangat baik, lebih baik dari yang dikira banyak orang yang hanya melihat sesuatu secara parsial.
Tentu, hal seperti inilah yang harus dipahami dengan baik. Hal seperti ini yang seharusnya dipromosikan sehingga pada akhirnya orang tidak menganggap seakan-akan dalam semua hal hubungan antar komunitas ini terbangun tembok yang tinggi dan kokoh sekokoh tembok Cina.
Lagi, kedua komunitas ini perlu dijembatani. Ketegangan yang terjadi pentas ekonomi dan politik, mungkin dapat diredakan dengan kesadaran budaya –seperti diteorikan banyak ilmuan. Mudah-mudahan lebaran kali ini bisa menjadi permulaan membangun kesadaran itu. Mudah-mudahan ketegangan yang sedemikian mudah meletup dalam beberapa waktu belakangan ini, dapat diredakan.
Karena itulah saya menganggap lebaran di Pontianak tahun ini, sangat istimewa. Mudah-mudahan keistimewaan ini berlanjut.
Diposting oleh Yusriadi di 07.30 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Budaya Kalbar, Etnik, Pontianak
