Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM per 1 April 2012 nampaknya hampir pasti. Setidaknya dalam sejumlah kesempatan para petinggi negeri ini sudah menyampaikan rencana itu.
Seperti yang disampaikan sejumlah pemerintah dan juga pengamat ekonomi, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak bisa ditawar lagi. Suatu keharusan. Pemerintah mengambil sikap itu dengan pertimbangan agar APBN tidak jeblok menanggung subsidi menyusul kenaikan minyak dunia. Jika harga minyak bersubsidi tidak dinaikkan maka Negara akan menanggung subsidi yang besar. Subsidi besar akan sangat tidak sehat untuk Negara ini.
Namun yang menjadi soal adalah mengapa pemerintah mengurakan kenaikan itu jauh-jauh hari? Mengapa orang tertentu di pemerintahan seperti menggunakan kabar kenaikan itu sebagai pengalihan isu dari berbagai isu sentral saat ini?
Tentu saja pertanyaan ini penting diberikan mengingat dua hal. Pertama, sejak kabar ini diumumkan ekonomi bawah sudah bergejolak. Sejak kabar ini disampaikan ke publik harga sejumlah barang sudah naik. Kenaikan terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, sekalipun dampak riil dari kebijakan itu sebenarnya belum terjadi.
Kenyataannya sekarang ini spekulan bermain di tengah isu itu. Mereka mendapat alasan untuk menahan barang tertentu dan kemudian melepaskannya dengan menaikkan harga jual. Mereka mendapat untung dari kabar yang disampaikan pemerintah itu.
Malangnya, apa yang spekulan lakukan seperti dibenarkan oleh pemerintah. Pemerintah tidak berkutik di tengah situasi ini. Pemerintah tidak berdaya mengatasi aksi spekulan menaikkan barang. Sudah jelas sikap ini merupakan sesuatu yang agak aneh. Apakah sikap peduli pemerintah terhadap aksi para spekulan ini menunjukkan orang di pemerintahan sebenarnya kurang memperhatikan rakyat, terutama rakyat yang berpenghasilan rendah?
Menurut pendapat kita, seharusnya pemerintah bergerak, karena membiarkan situasi pasar bergerak sendiri akan menyebabkan masalah ekonomi. Setidaknya, pasti inflasi akan tinggi. Pertumbuhan ekonomi akan terganggu.
Kedua, sebenarnya berharap pemerintah belajar dari kenaikan BBM beberapa waktu lalu yang hanya menimbulkan riak kecil di tengah masyarakat. Ketika itu, kenaikan tidak diurakan dan pemerintah juga memilih mengambil kebijakan menaikkannya secara bertahap. Kenaikan waktu itu tidak menimbulkan keterkejutan. Karena itu kenaikan tidak menyebabkan masyarakat kelimpungan.
Apakah kali ini pengambil kebijakan mengambil sikap seperti itu karena mereka menganggap rakyat juga tidak marah karena mereka diam saja? Apakah mereka memilih tidak bersikap karena mereka tahu rakyat juga tidak mengambil sikap yang serius pada mereka? Mari kita jawab dengan renungan.
Selasa, 03 April 2012
Menyoal Kebijakan Pemerintah Menjelang Kenaikan BBM
Diposting oleh Yusriadi di 02.53 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Tajuk HBT
Mendorong Perubahan
Oleh: Yusriadi
Saya sangat terkesan pada diskusi kecil yang kami laksanakan bersama Pak Maladi Noor dan Ibrahim, beberapa bulan lalu. Kedua orang itu adalah dosen yang memiliki pengalaman melakukan bimbingan terhadap mahasiswa. Khususnya Pak Maladi, dia juga memiliki pengalaman dalam soal perencanaan karena pernah berkecimpung di birokrasi. Dia pernah menjadi pejabat Humas di Pemkot Pontianak beberapa tahun lalu. Selain itu, Pak Maladi juga pernah belajar program master di Australia.
Hari itu saya, Pak Maladi Noor dan Ibrahim membicarakan banyak hal berkaitan dengan apa yang harus dilakukan dosen untuk peningkatan kapasitas mahasiswa. Kami membicarakan perubahan metode mengajar dan saling tukar pengalaman bagaimana cara membuat mahasiswa bisa belajar maksimal.
“Kita harus selalu belajar dan menggali pengalaman orang lain dalam hal meningkatkan kualitas pembelajaran. Kasihan mahasiswa datang dan belajar tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa,” kata Pak Maladi bersemangat.
Tapi, meskipun menyetujui perlunya perubahan atau pembaruan dalam mengajar, namun Pak Maladi menekankan bahwa perubahan juga tidak bisa dilakukan serta merta dan drastic. Perubahan yang drastic akan membuat terkejut. Selain itu, perubahan juga tidak perlu buru-buru dilakukan sebelum mengkaji benar-benar apa yang akan diubah.
Nasehat ini mengingatkan sebuah prinsip Khonghucu yang selalu saya kenang. Jangan pernah merobohkan sebuah tembok sebelum kamu tahu untuk apa dahulu tembok itu dibangun. Bisa jadi tembok itu sebenarnya sangat penting untuk melindungi kamu dari ancaman srigala, dll.
Prinsip ini menjadi pegangan dalam menggagas sebuah perubahan, agar tidak menyesal dan tidak salah. Prinsip ini juga akan membuat kita tidak terburu-buru menyalahkan orang lain saat mereka mengambil sebuah keputusan.
Mengabaikan prinsip ini sering kali membuat orang bolak-balik dalam lingkup perubahan yang di situ-situ saja. Trial and error. Bak kata, hari ini mereka merobohkan tembok, lalu beberapa tahun kemudian mereka terpaksa harus membangun tembok itu kembali. Jika yang seperti ini terjadi, jelas perubahan yang digagas hanya menciptakan suasana berbeda dan menumbuhkan dinamika, tetapi tidak memberikan nilai tambah. Justru sebaliknya, keputusan seperti ini rugi dari sisi waktu karena perubahan tidak membuat kemajuan. Bukankah ada prinsip, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita rugi. Dan, jika hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka kita celaka.
Rasanya, kalau diingat-ingat, kita sekarang ini lebih sering memilih menjadi orang yang rugi dan mungkin sesekali dengan sadar memilih menjadi orang yang celaka.
Lihat saja bagaimana hebatnya kita atau orang di sekitar kita mengeritik sebuah kebijakan dan kemudian mengubah kebijakan itu. Padahal, kita belum benar-benar memahami mengapa dahulu kebijakan itu dibuat. Kita menjadi orang yang sangat getol mengeritik. Pikiran kita dipenuhi dengan keinginan mengeritik, mengeritik dan mengeritik. Kita senang melihat orang terjatuh karena kritik. Kita senang melihat orang terhempas setelah dikritik. Alhasil, kehidupan kita hanya dipenuhi oleh ‘hawa’ itu dan akhirnya kita menjadi sukar untuk bergerak maju.
Diposting oleh Yusriadi di 02.47 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Inspirasi
Minggu, 19 Februari 2012
Pabrik Arak dan Support Bupati Setiman
Oleh: Yusriadi
Saya mengandai. Melihat sebuah bangunan megah di luar kota Sanggau beberapa tahun yang akan datang. Orang masuk dan keluar dari bangunan itu. Orang masuk dan keluar untuk mendukung produksi arak. Lalu, ada mobil pengangkut peti-peti bersegel dengan tulisan: ‘Arak Made In Sanggau’.
Saya seperti melihat di toko-toko, di warung, arak buatan lokal ini dipajang di rak-rak secara terbuka. Harga jualnya lebih murah karena produksi lokal. Kualitas lebih terjamin karena jaminan mutu dipantau tim bentukan bupati.
Karena mudah diperoleh, karena harga terjangkau, karena mutu sudah dijamin bupati, warga terpincut minuman itu. Orang lokal mencicipi.
“Oi, nyaman arak tu’. Wangiiiii”. Begitu enak, cicip lagi.
“Arak apa tu’?”
Karena menyebut nama arak ‘made ini Sanggau’ susah, orang lantas memilih sebutan yang mudah. Merk arak dinisbahkan dengan nama tokoh pensupportnya: Bupati. Lalu, diam-diam nanti muncullah istilah “Arak Bupati’ selain ‘Arak Sanggau’. Brand lokal jadi suguhan utama tamu yang datang. Suguhan yang mendatangkan kebanggaan. Arak Bupati menjadi identitas baru dalam konteks budaya Sanggau.
Tamu jauh juga tertarik. Setiap datang ke Sanggau, mereka pulang dengan buah tangan: “Arak Made In Sanggau”. Mereka akan ingat Sanggau dengan araknya. Seperti ingat Pontianak karena lidah buaya, ingat Sambas karena jeruk. Ingat KKU karena salak. Ingat Kapuas Hulu karena kerupuk basahnya. Bangga ugak bah.
Di pinggir jalan duduklah sekelompok anak muda. Mereka nongkrong sambil minum ‘arak bupati’. Yang mabuk tergeletak di lantai di samping muntahan. Yang setengah mabuk meracau-racau. Ada juga yang pening-pening. Ada yang mata menaning. Nenek lewat dikira pemudi ting ting.
Ada juga sesekali orang yang memborong arak berpeti-peti, disuguhkan kepada orang yang bisa dibujuk hatinya untuk merangsak ke tempat yang dipinta. Orang setengah mabuk diminta berorasi atau menggoyang-goyangkan pagar bangunan sehingga onar lingkungan dibuatnya. Demo akan terasa lebih asyik jika peserta diumpan sebotol arak, dibandingkan dibekalkan sekampil arak yang dibeli secara sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan dahulu ini.
Itulah bayangan yang muncul di benak saya di balik wacana bupati Setiman mensupport pembangunan pabrik arak di Sanggau. Bayangan yang sarat sesungguhnya dengan kekhawatiran pada masa depan Sanggau dan pada masa depan generasi penerus di sana.
Tapi, ahh… pasti kekhawatiran itu berlebihan. Sebab, mungkin nanti orang Sanggau tidak suka minum arak dan kalau pun suka mereka tidak akan berlebihan. Tak ada jualan sembarangan dan tak ada pemabuk teler di pinggir jalan. Mungkin juga bupati pun tidak akan mengizinkan orang minum arak, karena sadar bahwa arak itu lebih banyak merusak badan. Mungkin juga pabrik arak itu akan tutup karena jumlah pembeli tidak sebanyak yang dibayangkan, sementara biaya sosial –untuk fee, sopoi dan lain-lain lebih besar.
Melihat Pak Bupati bersemangat soal pabrik ini, saya menjadi ragu: mungkinkah sebenarnya saya yang tidak bisa memahami cara berpikir bupati Setiman. Melihat dia begitu antusias dengan gagasan ini, pasti ada sesuatu yang penting di sana.
Saya berpikir, tidak mungkin seorang bupati membuat kebijakan yang dikira-kira akan menjerumuskan warganya. Tidak mungkin seorang pemimpin merintis sesuatu yang dikira-kira akan mencelakakan masa depan orang yang mendukungnya.
Sebagai pemimpin pasti dia akan selalu berpikir yang terbaik untuk daerah dan untuk warganya. Apalagi seorang pemimpin itu seperti seorang Pak Haji Setiman. Ngolu aku.
Diposting oleh Yusriadi di 02.02 1 komentar
Label: Borneo Tribune
Bahasa Khatib
Oleh: Yusriadi
Jumat itu, saya salat di sebuah masjid di Pontianak Selatan. Sang khatib, sosok pemuda, menyampaikan ceramah soal akhlak. Katanya, akhlak sekarang kurang diperhatikan. Mana lagi media sekarang ini merusak akhlak. Film-film yang diputarkan media menjadi tontonan yang tidak mendidik. Lalu dia paparkan hasil penelitian tentang film anak-anak yang lebih banyak merusak daripada memberikan kebaikan.
Suara khatib mengaum. Dia mengungkapkan keprihatinan, dan sekaligus mungkin meluahkan kemarahan. Dia berkhotbah panjang lebar.
Saya lihat beberapa antara jamaah tertunduk. Tafakur. Beberapa lagi tertunduk, mengantuk. Mereka memejamkan mata. Entahlah telinga.
Di tengah suara lantang sang khatib, terdengar suara obrolan. Suara bersaing dengan suara khatib.
Beberapa kepala menoleh ke arah sumber suara itu. Saya juga turut memutar kepala ke samping belakang. Seorang anak muda itu. Celana hitam, baju kream, tanpa kopiah. Rambutnya pendek. Melihat penampilannya, saya kira dia karyawan sebuah hotel atau mungkin rumah makan.
Dia seperti tidak peduli meskipun biasanya pandangan orang mewakili teguran. Mungkin anak muda itu hidup di ruang sosial yang tidak menggunakan bahasa tubuh seperti itu.
Anak muda itu juga seperti tidak peduli ketika seorang lelaki paroh baya beruban di dekatnya menegur. Malah, dari pandangan matanya, saya melihat dia melawan, tidak terima ditegur. Rasanya, jika anak muda itu di masjid kampung saya di hulu sana, pasti dia sudah kena tampar. Kata orang kampung, perlu diberikan pelajaran, karena dia sepertinya kurang ajar.
Namun demikian untuk sementara anak muda itu tidak bersuara lagi. (Setelah itu beberapa menit kemudian dia ribut lagi). Sedangkan sang bapak kembali fokus mendengar khutbah sang khatib.
Saya terasa ‘mengelegak’ melihat peristiwa itu. Mungkin anak muda itu representasi jiwa saya saat mendengar khutbah itu. Ya, saya sering mendengar orang mengeritik media. Terakhir saya mendengar hal itu saat menjadi nara sumber dalam sebuah pelatihan.
Waktu itu saya katakan, kalau Anda menganggap media itu merusak, mengapa tidak Anda kuasai media itu? Anda bisa ajak umat membeli media itu. Iuran. Jika umat Islam ada puluhan juta, seorang iuran Rp5 ribu, maka uang itu sudah cukup untuk membeli media. Jika tidak, dirikan media baru sebagai tandingan dari media yang dikritik. Lawan.
Kalau tidak, Anda ajak teman-teman untuk masuk ke media dan mewarnai media sekular itu menjadi media agamis. Anda harus mengganti orang-orang di media, jika Anda anggap orang di media tidak baik dan Anda baik. Anda harus melakukan itu.
Terakhir, jika Anda tidak mampu juga, sementara Anda merasa dirinya betul, ajak semua orang baikot media yang tidak senonoh itu. Media tanpa penonton dan tanpa pembaca, akan mati.
Tetapi, berkali-kali saya katakan begitu, bekasnya juga tidak ada. Ngomong saja. Mereka seperti kata orang tua, “cakap macam lidah tak betulang”. Orang tidak peduli.
Ironi. Rasanya ironi itu saya lihat pada khatib saat dia mengatakan, orang sekarang lebih sudah melihat pelawak dibandingkan melihat ustadz ceramah. Orang lebih enak tidur dibandingkan diceramahi, seperti siang itu, orang lebih enak bicara sendiri dibandingkan mendengar khatib bicara. Owala.
Diposting oleh Yusriadi di 01.53 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Layanan Kelas Sosial
Oleh: Yusriadi
Jika pelanggan ada dua orang, seorang kaya dan seorang lagi pelanggan biasa, siapakah yang kamu layani lebih dahulu?
Kalau pertanyaan ini diajukan ke saya, saya akan mengatakan bahwa pelanggan yang saya layani lebih dahulu adalah siapa yang datang lebih dahulu. Siapa yang datang kemudian akan dilayani kemudian. Tidak perduli kaya atau miskin.
Tetapi kalau ditanya kepada seorang pekerja SPBU di Kuala Ambawang, saya duga mungkin jawabannya adalah yang kaya lebih dahulu. Saya menduga begitu berdasarkan pengalaman mengisi bensin di SPBU Pas ini minggu lalu.
Hari itu pukul 18.53 saya mengisi bensin di SPBU ini. Saya masuk dalam antrian sepeda motor. Di depan saya ada empat motor. Satu per satu motor dilayani. Pada saat hampir tiba giliran saya, sebuah mobil jenis kijang generasi baru datang. Seorang petugas, seorang perempuan berbaju merah putih menyambut kedatangan mobil itu dan mengatur posisinya sejajar dengan pom di depan saya.
Pemilik mobil turun dan membuka tutup tangkinya. Perempuan yang mengatur posisi mobil kemudian meminta kepada rekannya agar mengisi mobil itu lebih dahulu.
Tentu saja saya bingkas. Saya sudah antri tetapi dipotong. Masalahnya, saya juga buru-buru.
“Ini memang jalur mobil”.
Saya membalas. “Mana tulisannya?”
Setahu saya tidak ada tulisan “khusus mobil” di jalur yang saya lalui. Lagi, kalau memang di situ khusus mobil mengapa motor-motor di depan saya dibiarkan antri?
Tetapi perempuan itu tidak menghiraukan protes saya, dan dia tetap meminta temannya untuk mengisi bensin ke mobil lebih dahulu. Geram. Tentu saja. Saya mendekat perempuan itu ingin melihat nama di bajunya.
Tapi saya tidak berhasil. Perempuan itu lebih cepat memalingkan badannya. Dia kemudian seperti melarikan diri masuk ke mini market di SPBU membiarkan rekannya menyelesaikan pengisian mobil.
Peristiwa ini mengingatkan saya pada perilaku banyak orang di negeri ini yang masih menganggap harta adalah kehormatan. Jadi, perempuan yang bertugas di SPBU itu termasuk satu di antaranya.
Sesungguhnya gejala seperti itu juga kadang kala dialami di beberapa toko di kota ini. Sering kali penampilan orang menjadi barometer untuk memberikan pelayanan.
Saya kira sikap ini kadang kala membuat mereka sendiri tertipu. Berapa banyak orang sudah tertipu oleh seseorang yang penampilan keren perlente. Ketika kepercayaan diletakkan pada sisi materi maka orang akan sesekali mengalami kehilangan materi.
Di sisi yang lain, sikap ini menimbulkan rasa diskriminasi, rasa tidak dihargai seperti sebagaimana seharusnya.
Diposting oleh Yusriadi di 01.52 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Penelitian Ulama di Kalbar
Oleh: Yusriadi
Kemarin, saya menerima kedatangan dua orang peneliti dari Litbang Departemen Agama yang ada di Semarang. Mereka datang ingin mendapatkan informasi tentang karya ulama Kalbar dan tentang pemikiran mereka.
Mereka menjumpai saya karena sebelumnya mendapat cerita bahwa mungkin saya memiliki banyak informasi tentang ulama.
Sesungguhnya saya sempat tertegun mendengar pertanyaan mereka soal ulama Kalbar. Siapa yang layak disebut ulama di daerah ini? Siapa ulama Kalbar kontemporer? Apa karya mereka? Apakah mereka respon terhadap persoalan ummat? Mereka juga bertanya, siapakah ulama Kalbar di tahun 1970an? Siapakah ulama Kalbar pada masa awal kemerdekaan?
Siapa yang harus saya sebutkan namanya? Siapa tokoh Islam albar yang kharismatik –yang sangat dihargai dan suaranya didengar oleh ummat? Apakah pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar? Nahdlatul Ulama (NU) Kalbar? Apakah dosen STAIN Pontianak? Siapa ulama Kalbar masa lalu yang bisa saya sebutkan?
Lalu, soal karya, apakah karya tulis para ulama itu? Berapa orang ulama itu yang suka menulis? Berapa orang dari mereka yang memiliki buku? Berapa orang dari mereka yang menuangkan pemikiran dalam bentuk tertulis? Kalau mereka suka menulis, di mana sekarang tulisan itu? Siapa yang menyimpannya? Bagaimana mendapatkannya?
Saya juga bingung menjawab pertanyaan soal respon ulama terhadap persoalan aktual Kalbar. Apakah mereka memberikan komentar dan fatwa tertentu terhadap persoalan aktual masyarakat? Di mana saya membuktikan respon mereka memang seperti yang saya sebutkan?
Saya lebih banyak menjawab tidak tahu. Namun, kasihan mereka. Mereka sudah datang jauh-jauh dari Semarang ke tempat saya tidak mendapatkan apa-apa. Mereka sudah berharap mendapatkan data-data namun data yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Lebih dari itu, saya tergugah oleh pertanyaan mereka. Pertanyaan mereka membangkitkan memori saya bahwa ada banyak pekerjaan penelitian yang harus dilakukan. Saya, teman-teman di Kalbar yang peduli soal dokumentasi data harus berusaha lebih keras lagi untuk mengcover semua hal itu.
Selain itu, tentu saja menurut saya mereka yang disebut para ulama dituntut untuk lebih banyak berkarya sehingga pada akhirnya ada warisan pemikiran untuk ummat di kemudian hari. Sehingga pada akhirnya tak susah-susah saya tunjukkan karya mereka pada orang yang ingin mengetahuinya.
Karena itulah, saat peneliti berpamit pulang mengucapkan terima kasih karena saya telah memberikan informasi, saya juga mengucapkan terima kasih karena pertanyaan-pertanyaan mereka telah memberikan inspirasi untuk pekerjaan besar ke depan.
Diposting oleh Yusriadi di 01.50 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Membaca Kerusuhan di Tayan 1997
Oleh: Yusriadi
Saya sedang membaca tugas mahasiswa satu persatu. Dari 40 lebih tugas itu, ada sebuah tugas yang sangat menarik perhatian saya. Pertama, tugas itu dijilid lebih tebal dibandingkan tugas yang lain. Jilid yang lebih tebal itu membuat tugas ini mencolok perhatian.
Kedua, setelah saya baca isinya, hal yang ditulis mahasiswa dalam tugas ini adalah cerita pengalaman pribadi saat dia terjebak dalam kerusuhan 1997. Tentu saja peristiwa itu adalah peristiwa besar dan penting dalam perjalanan Kalbar.
Saya mulai membaca. Ceritanya, mahasiswa itu ingin pulang ke kampung istrinya di daerah Tayan, Sanggau, merayakan lebaran bersama keluarga. Dia menceritakan bagaimana duka perjalanan hingga sampai di kampung. Perjalanan ditempuh melalui motor air dengan susah payah: penumpang bersesakan.
Dia menggambarkan bagaimana ketegangan demi ketegangan melanda dia dan orang-orang di sekitarnya. Ketegangan selalu muncul ketika mereka mendengar cerita dari mulut ke mulut mengenai perkembangan kejadian.
Ketegangan muncul ketika melihat orang-orang yang bersenjata parang, tombak dan senapang lantak, melakukan razia. Ketegangan juga muncul ketika mereka menemukan mayat-mayat bergelimpangan dengan keadaan yang mengenaskan.
“Ketika kembali ke rumah, kami makan. Istri memasak ayam. Pada saat melihat ayam, saya menjadi teringat jenazah-jenazah yang ditemukan di hutan di seberang sungai. Saya mual. Selera makan langsung hilang”.
Begitu dia menggambarkan bagaimana dampak batin peristiwa itu. Dia menggambarkan kejutan mental (shock) yang dialami setelah dia bersama sejumlah warga menguburkan mayat-mayat itu.
Dampak psikologis lain digambarkannya dalam penutup.
“Saya sebenarnya tidak ingin menulis cerita mengenai kejadian ini…. Namun, cerita ini harus ditulis agar orang-orang sadar untuk tidak menciptakan kerusuhan lagi. Ketegangan yang muncul sepanjang masa kerusuhan telah membuat orang hidup dalam kecemasan dan ketakutan.”
Dampak seperti ini memang sangat mudah dipahami. Siapa yang tidak terpengaruh oleh peristiwa seperti itu? Tidak ada. Pasti ada pengaruhnya. Siapa orang yang tidak cemas ketika memikirkan setiap saat mereka mungkin menjadi korban salah sasaran. Siapa yang dapat menghapus bayangan tragis di depan mata dalam sekejap?
Cerita panjang yang ditulis mahasiswa membius saya dalam kenangan buruk itu. Meskipun saat kerusuhan 1997 saya sedang tidak ada Kalbar namun saya seperti melihat gambar kerusuhan diputar kembali. Saya menjadi ikut tegang dan juga cemas. Saya bisa membayangkan jika terperangkap situasi seperti yang digambarkan penulis.
Memang, saya yang mendorong mahasiswa untuk menulis. Saya meminta mereka menulis peristiwa yang paling mengesankan dalam hidup mereka. Menulis peristiwa yang dijalani sendiri akan lebih mudah karena bahannya tidak perlu dicari-cari lagi. Semuanya sudah ada di dalam memori dan langsung menuangkannya. Bandingkan jika mereka harus menulis berdasarkan bahan lain. Jangan-jangan pilihannya mereka memungut dari internet begitu saja, atau mengupah orang lain membuatnya.
***
Lalu, soal kerusuhan, saya kerap kali minta orang di sekitar saya menuliskannya. Saya meminta mereka yang terlibat dalam peristiwa, mereka yang menjadi saksi sejarah, mendokumentasikannya. Sekarang! Sebelum ingatan mereka terhapus satu persatu.
“Profesor A dan B sudah menulis tentang kerusuhan 1997 dan 1999. Mereka mengatakan begini dan begini. Namun, mereka bukan orang yang mengalami langsung. Mereka hanya mendapatkan gambaran dari cerita orang lain. Jika Anda terlibat langsung, maka tulislah. Berikan gambaran secara detail. Tulisan Anda akan menjadi dokumentasi sejarah di tahun-tahun yang akan datang. Mungkin dari tulisan Anda orang akan mendapatkan gambaran sisi lain peristiwa itu dibandingkan dengan yang sudah ditulis. Dan ingat, kerusuhan 1997 dan 1999 adalah peristiwa besar dalam sejarah Kalbar”.
Begitu saya mendorong orang di sekitar saya untuk menulis. Saya selalu beranggapan menulis peristiwa seperti kerusuhan 1997 dan 1999 adalah hal penting untuk memotret peristiwa besar itu di kemudian hari. Tulisan itu akan menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang dan pasti akan penting bagi peneliti hubungan antar etnik.
Saya pernah mendengar sebagian orang beranggapan bahwa menulis hal itu bisa membuka luka lama. Dan, karena itu mereka dilanda ketakutan dan kekhawatiran.
Tetapi bercermin dari tulisan Pastor Josef Herman Van Hulten dalam buku “Hidupku Diantara Orang Dayak” saya rasa tidak. Pastor Herman dalam buku itu salah satu bagiannya menceritakan bagaimana dia ketika terperangkap di jalan dalam aliran massa yang sedang bergerak saat melintasi di sekitar Sungai Pinyuh. Pastor itu menceritakan bagaimana massa berteriak, menggambarkan bagaimana rumah terbakar dan juga kematian. Namun, rasanya walaupun tulisan itu sudah lama diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun tidak membuat orang yang membacanya marah. Semua orang sudah menyadari bahwa peristiwa itu sudah terjadi dan masing-masing sudah melupakannya. Masing-masing sudah berpikir bahwa peristiwa itu adalah masa lalu yang telah terjadi dan jangan diulangi lagi.
Malah yang banyak saya dengar kemudian, orang yang meneliti sejarah Cina di Kalbar tidak akan melewatkan buku ini untuk memahami posisi Cina di Kalbar di masa lalu. Apatah lagi peneliti yang melakukan studi tentang relasi Cina-Dayak. Mereka memahami peristiwa itu sebagai bagian dari dinamika hubungan –ada pasang surutnya.
Jadi kiranya untuk kepentingan akademik, dokumentasi seperti ini justru dirasakan sangat penting dilakukan. Jika Anda tidak melakukan itu, pasti orang lain yang melakukannya.
Diposting oleh Yusriadi di 01.48 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Inspirasi
Minggu, 05 Juni 2011
Setelah Tamu Agung Pulang
Oleh: Yusriadi
Hari ini Kalbar menjadi tuan rumah, menyambut kedatangan SBY, tamu agung, seorang presiden dari ratusan juta orang Indonesia. Sejauh ini, tuan rumah sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin agar sang tamu merasa dimuliakan dan selalu dihormati.
Tapi, ingat kedatangan SBY, membuat saya juga jadi teringat dahulu ketika mendengar ada teman pejabat level menengah di Pemprov Kalbar yang bercerita bahwa mereka sering menyambut kedatangan wakil presiden. Kali pertama kedatangan disambut dengan bangga. Maklum bangsa sendiri yang menjadi wakil penguasa.
Jauh-jauh hari sebelum sang wakil datang, orang daerah berbenah. Jalan-jalan yang akan dilalui dibenahi. Tak boleh ada lubang di jalan yang akan mengganggu kenyamanan sang tamu daerah itu. Servisnya luar biasa. Hatta, sang wakil pun datang disambut seperti pahlawan.
Tetapi setelah kunjungan tersebut, tak ada perubahan signifikan didapat. Sang wakil tidak datang membawa habuan. Tak juga ada berkah. Program dipinta tak juga terkabul. Proyek Negara yang ada tak juga terciprat. Kalbar tetap saja tidak merasa sebagai daerah prioritas, sekalipun sudah memberikan prioritas dalam menyambut orang besar dari pusat.
Lalu terjadilah paradoknya. Kunjungan pertama dimulai dengan bangga, kunjungan berikut berganti kecewa. Tak ada rasa seperti rasa pertama.
Sebaliknya, malah atas nama alasan protokoler kedatangan wakil penguasa itu menjadi beban daerah. Keuangan daerah tersedot untuk pelayanan protokoler standar. Permintaan layanan dipenuhi setengah hati.
“Ngabis-ngabiskan anggaran, jak,”
Kasihan sungguh, ketika mendengar tuan rumah mengeluh. Tak sampai hati ketika mengetahui bahwa setelah tamu pulang tuan rumah ngomel berkepanjangan karena repot memberikan pelayanan. Capek tenaga, banyak pula keluar biaya. Sementara, untungnya bagi mereka tidak ada.
Apakah kunjungan tamu agung kali ini akan seperti itu juga? Semoga tidak. Jika bisa mengingatkan saya harap dapat mengingatkan agar kita menyambut kedatangan tamu agung dengan ikhlas. Toh, ada dalam keyakinan kita bahwa menyambut tamu dengan baik – malah sebaik-baiknya, merupakan kewajiban.
Tamu harus dihormati dan dihargai bukan karena tergantung pada berapa besar tamu itu memberikan habuan dan berkah kepada kita. Tamu harus dihormati dan dihargai karena memang itu etika kita dan itu juga kewajiban sebagian dari kita.
Saya bergumam dalam hati.
“Masak sih, tamu yang berduit banyak dan berkuasa disambut lebih dibandingkan tamu yang miskin dan tak punya pengaruh?!”
“Masak sih, kita jadi orang materialistis seperti itu?”
Semoga tidak.
Tapi, seorang teman saya bilang, tamu juga harus tahu diri. Jika datang, janganlah datang kosong. Apalagi memiliki uang dan pengaruh.
“Bak kata tak bantu beli beras. Tengok-tengoklah garam dan micin”.
Begitukah? Entahlah!
Selamat menyambut kedatangan SBY. (Borneo Tribune, 30/5/2011)*
Diposting oleh Yusriadi di 02.48 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Inspirasi
Sabtu, 02 April 2011
Sejarah Kampung di Pontianak
Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune
Pertemuan dengan sejumlah tokoh dan ilmuan di Kalimantan Barat di Pontianak Rabu (6/3) kemarin mengesankan sekali. Saat orang-orang membicarakan tentang sejarah dan dinamika orang Melayu di Kalimantan Barat, seorang tokoh menceritakan bahwa dia pernah menerima kedatangan rombongan mahasiswa dari luar yang bertanya tentang sejarah Kota Pontianak.
Mahasiswa luar itu katanya bukannya bertanya tentang sejarah Pontianak yang pernah orang ditulis, tetapi, mereka bertanya tentang sejarah Pontianak dimulai dari sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.
Sejarah kampung di Pontianak sama pentingnya dengan sejarah Kota Pontianak. Sebab, Kota Pontianak sesungguhnya terdiri dari kampung-kampung.
“Saya tidak tahu tentang sejarah kampung,” ceritanya.
Cerita tokoh itu membuat saya merenung. Benar. Sejarah Pontianak sudah ditulis. Sudah ada buku yang memuat gambaran sejarah secara umum. Misalnya ada buku yang ditulis oleh peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak. Buku itu sudah diterbitkan Romeo Grafika beberapa tahun lalu. Dalam buku itu ada gambaran tentang tahun berdirinya kota Pontianak. Sejarah tentang tokoh-tokoh yang mendirikan kota ini, juga tentang kegiatan ekonomi.
Saya juga pernah membaca buku syair yang menggambarkan dinamika penduduk kota ini pada awal abad ke-20.
Namun, seperti juga yang ditanyakan mahasiswa luar itu kepada tokoh, saya juga merasa masih ada yang kurang.
Saya sangat sependapat dengan pernyataan, bahwa: Pontianak itu sebenarnya terdiri dari kampung-kampung. Sejarah Pontianak, seharusnya sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.
Lalu, bagaimana dengan sejarah kampung-kampung itu? Belum ada. Belum ada buku yang memuat informasi tentang kapan kampung itu dibuka, siapa yang mendirikan kampung itu, dan bagaimana prosesnya.
Cerita ini mengingatkan saya bahwa penelitian dan informasi mikro sangat penting, dan itu sering dilupakan orang.
Lantas, saya jadi teringat beberapa bulan lalu ketika orang Dayak Kalbar ribut setelah mendengar laporan penelitian Dr. Thamrin Amal Tamagola. Thamrin dituntut karena dia menyebutkan ‘orang Dayak’.
Pada waktu itu saya mencatat ada beberapa komentar yang menanyakan Thamrin. “Dayak yang mana?”
Ya, pertanyaan itu sesungguhnya amat wajar karena Dayak adalah umum. Misalnya, orang yang mengerti akan bingung jika mendengar ada orang yang bilang, “Orang Dayak di Kalimantan tinggal di daratan dan hidup di rumah panjang”.
Orang yang mengerti pasti akan tahu bahwa pernyataan itu umum. Mengapa umum, karena sebenarnya hanya orang Dayak tertentu saja yang masih tinggal di tempat yang disebut daratan. Hanya orang Dayak tertentu yang hidup di rumah panjang. Ya ‘kan? (19/3/2011)(*)
Diposting oleh Yusriadi di 07.09 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Pontianak
Jumat, 02 Juli 2010
Belajar Bahasa Indonesia
Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Dahulu, pada saat kelas-kelas awal semester, sering kali saya menghadapi mahasiswa yang mengeluh karena banyak tugas kuliah diberikan untuk mereka. Mereka merasa sangat terbebani jika banyak tugas harus dikerjakan.
Mengapa?
“Mengarang itu susah. Susah mau memulainya”.
“Susah menyusun kata-kata”.
Karena susah itu, mereka menjadi sangat terbebani. Bahan harus dicari. Kata-kata mesti disusun. Bukan mudah menyusun kata-kata – apatah lagi jika kata-kata yang harus disusun sangat banyak. Sedangkan jika tidak dikerjakan, salah-salah mimpi, mereka bisa dikeluarkan dari kelas.
Oleh sebab itu ada di antara mereka yang memilih membuat tugas copy paste, ada yang memilih ‘ngerental’ tugas. Rental tugas maksudnya, meminta teman lain membuat tugas mereka. Mereka cukup membayar saja sekian ribu rupiah. Setelah itu terima bersih.
Sistem tugas palsu ini mereka pilih karena mereka pikir dosen kali ini sama dengan sebagian dosen mereka sebelumnya. Sebelumnya, ada dosen yang memberi tugas namun mereka tidak benar-benar memeriksa tugas mahasiswa. Tugas dikumpulkan, kemudian ditumpukkan di rak begitu begitu saja. Jadi, soal apakah tugas mahasiswa itu dibuat dengan serius, original atau tidak, tidak jadi soal. Apakah tugas itu dibuat dengan susah payah atau dengan mudah, juga tidak masalah.
Sebagian mahasiswa sudah cukup dimanjakan dengan system ini. Mereka sudah terlanjur merasa nyaman karena tidak perlu terlalu bersusah payah mengerjakan tugas. Toh, bagi mereka bukan belajar menambah ilmu yang penting. Yang penting adalah nilai. Nilai yang akan mengantarkan mereka memperoleh gelar sarjana kelak.
Mengubah kebiasaan ini tidak mudah. Sudah coba diingatkan, namun selalu saja ditemukan ada mahasiswa yang coba-coba melakukan kebiasaan buruk itu.
Nah, saya merasa bersyukur sejak empat semester ini, bisa menerapkan system penugasan membuat karangan tentang diri, keluarga, orang yang dicintai, dll, serta pembuatan buku harian untuk dalam mata kuliah Bahasa Indonesia.
System ini, bukan saja membuat saya bisa meminta mahasiswa benar-benar menulis dan menerapkan keterampilan berbahasa standar, tetapi juga bisa memaksa mereka membuat tulisan yang orisinil. Ya, orisinil karena dengan begitu mereka hanya bisa menyerahkan tugas yang dibuatkan sendiri. Tidak ada lagi tugas yang dibuatkan teman lain. Tidak ada lagi system rental buat tugas.
Mahasiswa juga tidak lagi merasa sulit membuat tugas. Sebab, apa yang mereka tulis itu bahannya sudah ada dalam benak mereka. Tinggal menuangkan saja. Mereka juga merasa mudah karena dengan begitu mereka terhindari dari kesukaran mencari-cari bahan untuk tulisan.
Saya senang dengan cara ini karena nyatanya mahasiswa bisa menikmati dunia kepenulisan. Sebagian besar mulai dapat menikmati. Mereka merasakan ada kesenangan dan kepuasan tersendiri yang bisa dicapai. Malah, ada beberapa yang sudah membuat buku otobiografi berdasarkan bahan-bahan itu. Buku yang sederhana!
Yang paling menyenangkan saya adalah ketika saya mendengar mahasiswa membandingkan apa yang mereka dapatkan di sekolah menengah dahulu. Saat di sekolah menengah dahulu sebagian dari mereka mengatakan sangat jarang diajarkan menulis oleh guru.
Saya pernah mendengar seorang mahasiswa mengaku, ketika sekolah dahulu, khususnya di akhir-akhir tahun, mereka lebih banyak diajak membahas soal. Bukan mengarang.
Bagi saya bukan soal bandingan itu yang penting. Yang penting adalah di balik kemampuan mereka membandingkan itu berarti mereka sudah memiliki kesadaran – kesadaran tentang pentingnya keterampilan berbahasa Indonesia bagi mereka.
Jika mereka benar-benar sudah merasa penting menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka, sasaran pembelajaran bahasa Indonesia sudah tercapai. Dan, ini juga pasti akan membuat pembelajaran bahasa Indonesia tidak akan menimbulkan isu sukar dan mudah lagi. Tidak akan banyak problem lagi.
Diposting oleh Yusriadi di 09.51 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Membawa Teman ke Tiang Gantungan
Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Memiliki orang dekat yang mempunyai jabatan penting, memang enak. Enak karena bisa ketiban untung. Jika tidak ketiban rizeki langsung, bisa juga kena cipratan tempias-tempiasnya. Sesekali bisa numpang lagak dan popularitas. Oleh karena itu, biasanya orang selalu mau mendukung teman yang dikenal, orang dekat, orang sendiri, maju dalam perebutan jabatan.
Nah, teman saya ini pengecualiannya. Dia justru beda pendapat dari kebanyakan orang lain. Punya teman yang memiliki jabatan menurutnya tidak selalu enak. Oleh sebab itu, dia ini tidak selalu mau mendukung temannya sendiri maju dalam perebutan jabatan. Dia pilih-pilih. Kalau cocok, dia dukung. Jika tidak, dia malah menegahkannya.
Mengapa begitu? “Kadang saya pikir, mendorong teman maju untuk suatu jabatan seperti mendorongnya maju ke tiang gantungan,” katanya.
Dia berargumentasi dengan menunjukkan banyak contoh. Misalnya, kini ada orang yang dia kenal bernama WM, mantan Kadis PU Kapuas Hulu yang sedang berurusan dengan hukum setelah terlibat dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan Bunut-Mangin di Kapuas Hulu. “Kalau WM tidak didorong-dorong masuk ke jajaran eksekutif, jika WM tetap jadi seorang akademisi, tentu dia tidak menjadi terdakwa”.
Menyesali takdir? Begitulah nampaknya. Tetapi, biarlah itu jalan hidup orang. Toh, apa yang disesalinya benar juga. Saya memang tidak kenal WM, tetapi, saya tahu cerita dosen Untan Pontianak itu. Beliau belum terlalu lama dipakai oleh Pak Tambul, Bupati Kapuas Hulu, untuk menjadi kepala dinas.
Saya sempat mendengar cerita dia–diceritakan teman saya yang lain, betapa susahnya dia menjadi kepala dinas PU, karena itu kemudian dia mutasi ke dinas lain pada periode berikutnya. “Tak mampu dia menghadapi orang-orang….”
Ya, maklum saja kepala dinas PU banyak mengurusi proyek, uang. Orang tentu datang berpusu-pusu menghadap beliau minta bagian. Konon, ada yang datang dengan halus, baik-baik, ada juga yang datang dengan cara kasar. Salah-salah kaca meja bederai, katanya.
Tidak saja contoh WM, banyak lagi contoh orang yang nampaknya baik-baik dan terhormat kemudian ditetapkan menjadi tersangka.
Teman saya menunjuk contoh seorang mantan pimpinan legislatif yang sekarang terkait korupsi pembangunan lintasan balap di Pontianak. Ada juga mantan pejabat eksekutif yang diperiksa berkali-kali oleh Badan Pengawas Daerah, Badan Pemeriksa Keuangan, karena ada pencairan uang “yang harus dijelaskan”. “Mereka tentu tertekan dengan situasi ini. Salah-salah sedikit, dia akan menghuni hotel prodeo. Khan kasihan”.
Pasti. Saya membenarkan dugaannya. Saya mengenal dua orang yang disebutkannya itu. Bahkan saya mengenal beberapa lagi tokoh Indonesia yang sangat tragis nasibnya. Mulyana W Kusuma, akademisi, aktivis, yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, kemudian dipenjarakan karena kasus korupsi dana di KPU.
Atau, Said Agil Husin Al-Munawar, akademisi yang kemudian menjadi menteri agama RI tahun 2001-2004. Said Agil dipersalahkan karena menyalahgunakan Dana Abadi Umat (DAU) yang mengalir untuk pembiayaan perjalanan dinas DPR, dan termasuk juga untuk biaya-biaya umrah orang-orang yang saat ini menjadi pejabat negara. “Oleh karena itu, kalau saya lihat temannya tidak benar-benar mampu untuk posisi yang diperebutkannya itu, lebih baik kita tidak mendukungnya. Jabatan bukan untuk dikejar-kejar. Jabatan itu amanah”.
Saya menaruh respek terhadap sikapnya itu. Ingin rasanya bisa berpikir jernih seperti itu. Teman bukan teman tidak penting dalam memilih orang untuk posisi apapun. Yang penting adalah kemampuannya. Ah, sungguh jarang orang yang berpikir begitu. Biasanya, seperti yang biasa kita lihat, orang lebih suka melihat orang dekatnya menjadi pemimpin, pengambil keputusan. Orang lebih sering subjektif dalam memilih.
Orang suka, karena dengan begitu dia mendapat kesempatan mendapat bagian dari proyek. Dia akan mudah menjolok uang Negara melalui permohonan bantuan, dll. Biasanya, bila orang sendiri yang menjadi pengambil keputusan, tentu proposal apapun yang diajukan akan diluluskan. Tak ada pos anggaran pun, bisa diatur-atur bagaimana caranya.
Pada tingkat seperti ini, orang sudah tidak memikirkan kepentingan lembaga, unit, daerah, yang akan dipimpin ke depan. Orang tidak memikirkan lagi kemajuan apa yang bisa dibawa orang yang mereka dukung itu. Orang juga tidak memikirkan kegagalan apa yang kelak akan terjadi ketika orang yang dimajukan itu bukan orang yang layak untuk posisi itu.
Tidak banyak orang yang sempat berpikir bahwa mendorong teman untuk memegang amanah sama saja dengan menyiapkan tali gantungan untuk dia. Maklumlah, aji mumpung! Rezeki kongsi bersama, akibat tanggung sendiri.
Diposting oleh Yusriadi di 09.47 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Sabu-sabu di Entikong
Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Nahas betul dua kurir itu. Itu kata yang terlintas di dalam benak saya ketika membaca berita tertangkapnya dua kurir sabu-sabu yang membawa 3 dan 4 kilo heroin melewati perbatasan Entikong. (Borneo Metro 5-6/5).
Lama saya membayangkan bagaimana proses penangkapan itu terjadi. Apakah tas itu mereka letakkan di bagasi, lalu petugas memeriksanya? Atau apakah tas itu dijinjing dan harus mereka masukkan ke tempat pemeriksaan? Tetapi saya tidak berhasil mendapatkan gambaran utuh bagaimana kasus ini terungkap.
Masalahnya, setelah puluhan kali melintas di perbatasan Entikong – Tebedu, saya belum yakin aparat melakukan pemeriksaan barang dengan maksimal.
Selama ini, meskipun di pos Entikong ada prosedur rutin pemeriksaan barang penumpang, tetapi kesan saya pemeriksaan tidak lebih dari sekadar basa-basi. Pemeriksaan tidak ketat.
Saya juga melihat pemeriksaan tidak juga harus dilalui setiap orang. Saya katakan tidak, karena sejauh ini tidak ada konsekuensi apa-apa pada orang yang sudah membawa barang mereka ke depan petugas, dan yang belum. Mungkin peraturan ada – ada keharusan – tetapi petugas pun juga akan sulit menerapkannya.
Sulit, karena seingat saya petugas tidak bisa membedakan mana tas yang sudah diperiksa dan mana yang belum. Tidak ada tandanya. Kalau di lapangan terbang, tas yang sudah diperiksa petugas dengan sinar x dipasangkan stiker, tetapi di Entikong rasanya tidak.
Malah, saya sering tersenyum dalam hati ketika melihat orang berpusu-pusu membawa barang mereka turun dari bis. Mereka menurunkan tas dari bagasi yang nampak berat, kemudian ditunjukkan kepada petugas, dan setelah aparat tengok-tengok sebentar itu, mereka pikul kembali masuk ke dalam bis. Sedangkan pemeriksaan di bagasi dilakukan dengan manual. Petugas memeriksa kotak, karung dan tas, serta barang-barang penumpang bis. Kadang-kadang kotak itu dibeset-beset, dibolongkan, dll.
Nah, karena pemeriksaan dilakukan manual, kadang kala saya lihat petugas nampak capek juga melakukan kerja begitu. Lebih capek lagi karena setelah diperiksa, mereka hanya menemukan pakaian dan barang-barang lain yang tidak penting.
Kiranya, karena kenyataan ini, selama ini laluan Entikong-Tebedu menjadi laluan mudah untuk penyelundupan. Para penyelundup menganggap laluan ini lebih aman ketimbang laluan lain. Kasus penyelundupan gula dari Malaysia merupakan contoh dari kenyataan ini. Seringkali gula asal Malaysia dapat lolos melalui perbatasan Entikong, namun kemudian justru tertangkap di tengah perjalanan. Bayangkan saja barang nyata dan mudah dilihat seperti itu, bisa tidak terlihat oleh petugas pemeriksa di perbatasan.
Prosedur rutin dan sikap petugas yang terkesan tidak mau capek, mungkin yang membuat kali ini kurir narkoba itu merasa pe de membawa barang haram melintas di Entikong. Apatah lagi barang yang mereka bawa dalam tas sudah dianggap aman karena tas itu sudah dimodifikasi.
Tetapi, dasar mereka lagi nahas. Rupanya kali petugas melakukan pemeriksaan yang cukup ketat dan teliti. Petugas pemeriksa lebih awas.
Oleh karena itulah, saya kira aparat di perbatasan yang berhasil menangkap sabu-sabu itu harus diberikan apresiasi dan penghargaan. Penghargaan ini tentu akan menjadi contoh bagi petugas lain untuk bekerja maksimal. Mungkin dengan cara seperti ini Kalbar tidak akan menjadi tempat transit yang mudah untuk jenis barang haram itu. Mudah-mudahan dengan cara ini petugas di pintu masuk Kalbar tidak dianggap petugas yang enggan capek.
Diposting oleh Yusriadi di 09.45 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Selasa, 09 Maret 2010
Korupsi Berjamaah
Oleh: Yusriadi
Pejabat ini ditangkap. Pejabat itu ditangkap. Mantan kepala ini diduga korupsi. Mantan kepala itu, juga korupsi.
Rasanya, hampir tiap hari saya mendengar berita korupsi terekspos. Hampir tiap pekan saya baca ada pejabat yang ditahan.
Saya memang tidak menyimak perkembangan ini dengan seksama. Tidak secara khusus. Tetapi, beberapa kasus diikuti, karena ekspose media.
Nah, kemarin, di luar ekspose media, saya mendengar kabar dari teman, ada sebuah kantor pemerintah, kantor dinas, yang sepi. Penyebabnya, pejabat penting di kantor tersebut sudah ditahan. Setelah itu, kemudian, pejabat yang di bawahnya juga menyusul.
Ini perkembangan yang menarik. Saya jadi terbayang-bayang bagaimana suasana kantor tersebut sekarang? Saya jadi mengandai-andai, andai di kantor yang saya bisa amati tiap hari, pejabatnya juga ditahan karena sering membuat laporan fiktif? Saya membayangkan berapa banyak pekerjaan yang akan terbengkalai, berapa banyak orang yang tidak terlayani, dll. Wuih, pasti kisah kantor yang begini ini akan sangat menarik ditulis.
Tetapi, selain cerita dramatis roda pemerintahan, perkembangan ini mengingatkan saya pada kata “korupsi berjamaah”. Saya sering mendengar kata ini diucapkan orang dahulu saat mengkritik perilaku birokrat. Tetapi, saya tidak pernah melihat contoh sebenarnya. Konsep korupsi berjamaah masih seperti yang dikatakan orang, sebatas cerita yang sulit dibuktikan.
Jadi, ketika mendengar pejabat-pejabat kantor ditahan karena korupsi, nyata, bahwa inilah fakta tentang korupsi berjamaah sebenarnya. Ini bukan isapan jempol lagi.
Kisah kantor yang sepi ini juga mengingatkan saya pada cerita bagaimana seorang teman mengurus sebuah proyek. Saya mendengar dia bersama beberapa teman sibuk mengurus sana-sini. Mereka pergi ke toko sana sini minta kwitansi ini dan itu. Ada beberapa yang fiktif. Mengapa begitu?
“Kalau tidak begini, uangnya tidak cair seperti yang disebutkan dalam jumlah itu”.
“Ndak ke yang begitu itu korupsi?”
Pada waktu yang lain dahulu saya pernah mendengar cerita seorang teman yang mengerjakan berkas untuk proyek, pada masa yang sama dengan pengerjaan proyek tersebut. Mengapa tidak ikut prosedur? Kalau ikut prosedur urusan jadi lebih banyak dan panjang, biaya yang dikeluarkan pun juga akan lebih besar. Yang penting menurutnya, adalah bagaimana membuat semua itu seakan-akan sudah sesuai prosedur.
Katanya, sepanjang tujuannya untuk kebaikan, itu tidak korupsi. Sepanjang tidak untuk diri sendiri, itu tidak korupsi. Kolusi dibolehkan untuk kebaikan.
“Yang tidak boleh, makan uang Negara. Uang Negara jangan untuk mengenyangkan perut seorang”.
Itu petuahnya. Petuah itu juga pernah saya dengar dari teman yang lain hampir 10 tahun lalu saat saya pertama dan terakhir kali masuk dalam panitia pengadaan barang. Maklum, saya telah sangat was-was dibuatnya.
“Karena itu, sekarang, yang paling prinsipil adalah soal niat. Niat itulah yang membedakan antara seorang yang jahat dan tidak jahat. Jika tidak buat begitu, pasti kita tidak bisa apa-apa”.
Oleh sebab itu, ketika kasus korupsi bergulir, dan ketika banyak pejabat ditahan, banyak orang memprediksikan, sebagian dari pejabat yang disebutkan tidak akan sampai masuk ke balik jeruji.
Atau sebaliknya, kalaupun masuk, seseorang tidak akan masuk sendiri, atau mungkin tidak akan mendekam lama. Karena ada banyak orang lain yang terlibat dalam mengurusnya. Ada banyak yang terlibat dalam memakan hasilnya. Jika semua masuk jeruji, diyakini, jeruji tidak akan muat.
Dampak lain, kantor-kantor penyelenggara pemerintahan akan lumpuh. Malah mungkin, selanjutnya orang-orang kantoran itu akan berjamaah untuk tidak bekerja. Jamaah lagi!
Diposting oleh Yusriadi di 07.43 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Budaya Kalbar, Suara Enggang
Diskusi Nikah Siri
Oleh: Yusriadi
Kemarin, untuk kesekian kalinya saya duduk di sebuah warung di pinggir jalan di kota Pontianak, sambil sarapan pagi. Kali ini, di meja yang lain –ada dua meja—ada tiga orang lelaki sedang duduk minum. Di depan mereka ada koran. Mereka mendiskusikan soal RUU Pernikahan yang diusulkan pemerintah.
Tema itu memang cukup menarik perhatian. Setidaknya perhatian media. Liputan soal ini cukup banyak. Jadi, tidak heran jika kemudian orang-orang juga terlibat membicarakan hal ini. Termasuk orang yang berada di depan saya pagi itu.
Saya hanya mendengar mereka bicara. Tidak ingin terlibat. Saya tidak kenal mereka. Lagian, sebenarnya saya juga tidak ingin terlibat dalam diskusi soal hukum begini, sebab pengetahuan hukum Islam saya terbatas. Bayangkan, ayat-ayat hanya hafal satu dua saja. Kaedah fiqih juga tidak tahu. Ibadah juga benar-benar ala kadar. Huh… konon-kononnya hendak bicara hukum agama.
Saya tidak tahu dasar pengetahuan agama mereka yang berdiskusi itu. Tetapi, kelihatnya, mereka cukup kritis.
Mereka agaknya pro-kontra juga dengan RUU ini. Kesan saya, ada yang nada-nadanya mendukung, ada yang menolak. Satu orang lagi yang agaknya mungkin juga menolak, mungkin juga menerima. Dia sangat kritis.
“Kita ribut soal nikah siri. A… paling-paling itu akal orang dekat SBY untuk mengalihkan perhatian public dari kasus Century”.
“Mungkin juga RUU itu untuk ngegap saja karena di DPR itu banyak yang nikah siri”.
Kok begitu? A..ha, dalam hati saya mungkin benar begini. Perhatian public dan media perlu diarahkan pada isu selain isu Century. Ini biasanya, konon, jenis kerja intelejen.
“Ya, ndak mungkin SBY dan DPR tidak mau dengar ulama yang menolak RUU itu. Ulama khan jelas menolak pidana nikah siri”.
Wah… saya jadi makin tertarik pada diskusi mereka.
Pikiran orang-orang itu sempat juga terlintas dalam pikiran saya. Tak mungkin SBY berani mengambil sikap kontra dengan ulama. Kalau SBY dan orang di jajaran pemerintahan orang beragama, pasti beliau mau mendengar kata-kata ulama. Apalagi yang mengatakan hal ini sekarang majelis ulama, lembaga formal tempat berhimpunnya ulama di Indonesia.
Saya ingat kata guru dahulu: Orang yang tidak mau mendengar kata-kata ulama tidak akan selamat hidupnya. Apalagi menentang ulama. Pemali. Murka Allah pasti datang.
Kedua orang yang semula agak ribut kemudian senyap. Agaknya mereka juga merenungi hal itu. Saya menjadi tersenyum. Saya kagum, orang di kaki lima ini masih “memiliki agama” dalam hati mereka.
Saya jadi teringat pernyataan Rhoma Irama bahwa mereka yang mengusulkan dan mendukung RUU Nikah Siri sebagai orang Athies. Tidak beragama. Penilaian ini muncul, karena jelas dalam Al-Quran, kitab suci orang yang mengaku beragama Islam, soal nikah itu sudah diatur dengan jelas. Tidak ada keraguan. Tentang syarat syah nikah selama ini tidak diperdebatkan. Lalu, kenapa sekarang muncul orang yang mendebatkannya? Pernyataan Rhoma cukup pedas.
Saya juga jadi teringat membaca komentar seorang penulis yang mengutip penggalan ayat Quran soal nikah ini untuk mengkritik pandangan ulama. Kesannya kritis. Saya mengenal penulis komentar itu. Owalah… ini seperti kata bos kami dahulu: baru bisa menyelam di kolam sudah berlagak dapat menyelam di laut. Baru tahu satu dua dalil, sudah menyalahkan ulama yang hapal banyak dalil.
Saya jadi mikir: Apakah yang seperti ini sudah mewabah di kalangan orang yang mengaku beragama Islam? Rasanya mungkin iya. Sebab, dahulu pun saya pernah menjumpai ada orang yang mengkritik dan menghujat ulama karena mengeluarkan fatwa haram merokok. Ada yang menyebut ulama kurang kerjaan. Ada yang menyebut fatwa ulama itu picik.
Ihh… saya bergidik. Rasanya azab kian dekat. Ya Allah, lindungi kami dari azab-Mu.
Diposting oleh Yusriadi di 07.41 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang
Sabtu, 30 Januari 2010
Mengenang Suman Kurik
Oleh: Yusriadi
“Pak Suman meninggal”.
Tanto Yakobus, Pimpinan Redaksi Borneo Tribune memberitahu saya kabar itu sekitar pukul 12.30 Selasa (112/1) kemarin. Saat itu, kami sedang rapat, dan kebetulan kami duduk bersebelahan dengan beliau.
Walaupun saya tidak dekat dengan beliau, dan sebaliknya beliau tentu tidak mengenal saya, namun, kabar ini telah mengejutkan saya. Mendadak. Seperti juga dikatakan Nur Is, General Manager Borneo Tribune, soal kematian beliau, kami tidak mendengar kabar soal beliau sakit.
“Ndak ada dengar beliau sakit, ya?”.
Saya bertanya pada Tanto.
“Mengapa?”
“Jantung”.
Bah! Jantung. Saya ingat sudah banyak sekali orang yang meninggal karena sakit itu. Terutama mereka yang besar-besar. Malam sebelumnya, saya malah menghadiri acara tahlilan memperingati tujuh hari meninggalnya ayah teman, yang juga meninggal tiba-tiba. Katanya, jantung.
Kami terdiam mendengar pemberitahuan Tanto. Lantas, saya mengingat-ingat tentang sosok ini. Menurut saya, beliau sangat mengesankan.
Saya pernah bertemu beliau dan berbicara dengannya, dahulu awal tahun 2000-an. Waktu itu, beliau masih menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sintang. Saya (bersama teman saya) bertemu beliau karena saya harus menyampaikan surat dari STAIN Pontianak, perihal penolakan Sintang terhadap lulusan D2 STAIN Pontianak.
Waktu itu, hari Jumat. Beliau mengenakan pakaian olahraga, putih hijau. Masih ada nampak bekas keringat.
Kami diterima di ruang kerja beliau. Penerimaannya simpatik. Dia mendengarkan penjelasan kami, dan mengatakan akan menerima lulusan D2 STAIN. Saya membandingkan, sikap beliau jauh sekali dibandingkan sikap orang Dinas Pendidikan dan BKD Kapuas Hulu di Putussibau. Di Putussibau, kami harus ‘berdebat’; dan mereka tetap ngotot tidak mau terima. Membandingkan sikap orang di Putussibau dan sikap Pak Suman, teman saya mengatakan:
“Itulah… Kadang saya pikir, lebih enak berkomunikasi dengan orang bukan Islam, dibandingkan orang Islam sendiri”.
“Makanya, kita tidak boleh melihat orang berdasarkan agama. Santun atau tidaknya orang, bukan karena dia beragama apa”.
Setelah itu, saya tidak pernah bertemu beliau lagi. Hingga suatu saat, saya mendengar beliau ditunjuk sebagai Plt Bupati Melawi. Melawi adalah kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Sintang.
Saya menganggap, penunjukkan Pak Suman, merupakan pilihan yang tepat.
Lantas kemudian, ketika Pak Suman menjadi calon Bupati Melawi empat tahun lalu, bersaing dengan beberapa nama, dalam hati saya meyakini: Suman layak dipilih karena dia memang memiliki kapasitas. Dan kemudian, beliau memang terpilih. Beliau unggul suara dibandingkan calon-calon yang lain.
Saya melihat, selama kepemimpinannya, Melawi, khususnya Nanga Pinoh, memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan. Saya melihat kota Nanga Pinoh di tahun 1993, 1998, 2003, 2006. Saya dapat menunjukkan kemajuan-kemajuan yang dicapai selama era Suman Kurik. Saya juga mengagumi beliau ketika beliau meluncurkan buku dokumentasi pemikiran dan pandangannya. Saya memang selalu mengagumi orang yang membuat buku, karena usaha seperti ini merupakan usaha besar dan bersejarah. Pasti, walaupun Suman Kurik telah tiada, tetapi pemikirannya tetap akan dibaca orang.
Beberapa bulan lalu, saya sempat memprediksikan bahwa Suman Kuriklah yang akan menjadi Ketua Partai Demokrat Kalbar menggantikan alm. Henri Usman. Dari sisi kapasitas dan ketokohan beliau sangat layak. Dari kemungkinan, dengan posisinya di Demokrat saat itu, Suman Kurik juga mungkin. Tetapi, kemudian prediksi saya salah, ternyata Muda Mahendrawan yang ditunjuk sebagai pengganti Henri.
Oleh sebab itu, menjelang Pilkada mendatang, saya masih mengandaikan Suman Kuriklah akan dipercaya melanjutkan kepemimpinan Melawi 5 tahun yang akan datang.
Teringat soal Pilkada ini, saya jadi teringat dinamika yang sedang terjadi di tubuh Demokrat. Suman, termasuk bakal penumpang perahu itu.
Saya sempat bertanya pada Tanto di mana sekarang Tim 9 Demokrat berada. Tim ini yang akan menentukan siapa yang akan menjadi bakal penumpang. Saya dengar, ada orang Demokrat dari Pusat yang sedang ada di Kalbar terkait urusan perahu politik dalam Pilkada 19 Mei 2010.
Pikir saya, apa mungkin soal penentuan siapa calon bupati Melawi yang akan menjadi penumpang perahu Demokrat, yang membuat jantung Suman ‘terkejut’. Tetapi Tanto membantah.
“Ndak…. Demokrat Melawi sudah jelas ke Suman Kurik”.
Lalu? Entahlah.
Saya masih tidak puas membicarakan tentang beliau. Membicarakan tentang kebaikan beliau dan pengharapan yang disandarkan padanya. Sungguh, menurut saya, beliau pergi dengan kesan yang baik. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi Tuhannya. Selamat Jalan Pak Suman.
Diposting oleh Yusriadi di 07.22 1 komentar
Label: Borneo Tribune, Dayak
Tanaman Obat di Pasar Tengah
Oleh Yusriadi
Pasar Tengah, Pontianak, adalah pasar rakyat kelas bawah di kota ini. Pasar Tengah tempat jualan barang murah. Terutama jenis peralatan rumah tangga, pertanian dan juga barang-barang bekas. Pasar Tengah juga dikenal sebagai tempat pembelian barang dalam partai banyak. Pedagang-pedagang dari pedalaman selalu berbelanja di pasar ini untuk barang jualan mereka di nun perhuluan sana.
Dahulu, sering kali saya ke pasar ini untuk mencari baju-baju bekas. Saya pernah mencari sepatu bola bekas, sepeda bekas, dan juga buku-buku cetak murah. Saya pernah mencari ikan asin di lorong-lorong di pasar tengah.
Saya menyusuri lorong, melihat kiri kanan, memilih barang. Berinteraksi dengan penjual yang menawarkan barang, dan kemudian tawar menawar. Ada juga banyak pembeli yang mampir ke kawasan ini. Dahulu, kalau hari Minggu, lorong-lorong tertentu di Pasar Tengah, puadat sekali. Berdesakan. Karena berdesakan itu ada yang memanfaatkan peluang mencopet. Ada banyak orang yang pernah punya pengalaman buruk dicopet di Pasar Tengah.
Sebenarnya saya sangat suka belanja di pasar tengah. Namun, kadang kala pasar itu terasa jauh. Susah letak motor. Khawatir banyak copet. Khawatir beli barang ditipu. Maklum, penjual kadang kala meletakkan harga pertama cukup tinggi dengan maksud agar pembeli menawar. Saya tidak pandai dan kurang suka menawar. Spekulasinya tinggi.
Saya lebih suka membeli barang yang harganya pas. Tidak spekulasi. Karena itulah kemudian saya lebih suka belanja di mall.
Saya masih terpengaruh oleh cerita mengenai rawannya pasar ini. Tetapi begitulah. Pandangan ini membuat saya agak sedikit malas ke pasar ini.
Sejak pemerintah kota mengubah tampilan Pasar Tengah, khususnya Parit Besar, memang kesan dari jalan, pasar ini berubah. Gerbang masuk ke lorong itu nampak dengan lampu yang kalau malam cukup indah. Nampak juga bangunan di atas parit lebih baik dibandingkan dahulu.
Saya mengunjungi pasar tengah kemarin bersama dua teman. Kami mencari tumbuhan obat. Teman mencari temu ireng (temu hitam) untuk obat sakit usus buntu.
Saya jadi ikutan mencarinya. Penasaran. Saya juga pengin mencoba. Jaga-jaga kesehatan. Lalu, sekalian saya mencari bawang mekah. Bawang mekah baik untuk pelbagai penyakit.
Kami masuk ke lorong sebelah kanan, parkir motor di situ. Parkir motornya nampak tertib. Di badan jalan. Dan ini membuat jalan jadi agak sempit. Pemerintah tidak menyediakan lahan khusus untuk parker. Kalau disediakan pasti jadi lebih baik, dan dengan begitu tidak ada lagi orang yang pakir di depan kios, di jalan yang sempit. Entah mungkin suatu saat.
Lorong yang kami masuki menjual aneka barang ‘antik’, alat pertanian, dll. Tetapi bukan itu yang kami cari. Lalu kami melalui jembatan, pindah ke lorong di seberang parit. Di bagian ini orang menjual sayur mayur, tanaman, buah, dll.
Kami berjalan perlahan. Dan berhenti di sebuah kios yang menjual jahe, kunyit, dll. Nama tanaman ada ditulis di atas secarik kertas di atas barang jualan yang diletakkan di atas badan jalan. Hanya nama. Saya bayangkan, duh, baiknya jika penjual juga mencantumkan harga barang. Tak perlu banyak tanya. Tak perlu takut tertipu.
Penjual, seorang lelaki dan seorang perempuan.
Teman saya bertanya, tentang temu hitam. Penjual lelaki menunjuk tumpukan dalam karung yang terbuka yang diletakkan agak di ujung tempat jualan. Kami menuju tempat itu.
“Lho, kok ndak hitam?” Dalam bayangan saya, temu itu warnanya hitam. Teman saya meminta izin mematahkan bonggolnya. Di dalam warna di dalamnya juga tidak hitam.
“Benar, ini dia,” teman saya berbisik.
Mereka bertransaksi dengan penjual wanita. Sedangkan saya memilih bawang mekah yang diletakkan di bagian atas, di lapak. Sudah lama saya ingin mendapatkan bawang itu.
“Untuk apa Pak? Untuk kanker ini bagus,” penjual lelaki bertanya pada saya.
Ketika saya mengatakan ya, dia kemudian menceritakan khasiat bawang mekah. “Akan lebih baik kalau dicampur dengan jerangau merah, kunyit putih dan keladi tikus”. Masing-masing ada fungsinya. Ada yang –katanya, untuk membunuh akar kanker, ada yang untuk mengeringkan bekas luka, dll. Saya tidak mengingatnya. Tetapi, penjelasan mereka sangat mengesankan.
Akhirnya saya membeli semua barang itu sesuai petunjuk dia. Kecuali, keladi tikus harus dipesan lebih dahulu, sebab mereka yang mengolahnya. Katanya, kalau orang tidak pandai mengolah keladi tikus, nanti airnya yang seharusnya diminum, akan menyebabkan gatal.
Setelah selesai transaksi, kami pulang. Sepanjang perjalanan saya memikirkan apa yang terjadi. Saya anggap ini perjalanan yang luar biasa. Saya sering ke sini, lewat di depan kios ini. Tetapi saya tidak tahu jika di lapak-lapak itu ada kekayaan hutan Kalbar; kekayaan yang luar biasa. Ini juga kekayaan pengetahuan orang Kalbar; pengetahuan tentang ilmu perobatan tradisional. Kekayaan itu belum digali, belum dieksplore. Belum banyak diketahui. Berkali-kali saya menggeleng kepala, takjub dengan apa yang saya peroleh di Pasar Tengah ini.
Saya membayangkan jika citra Pasar Tengah sebagai pasar tumbuhan obat tradisional dipromosikan dan dibentuk. Pasti akan lebih istimewa. Saya juga membayangkan jika pengetahuan tentang tanaman obat –khususnya tanaman yang memang tumbuh di tanah Kalbar ini digali oleh dosen dan mahasiswa farmasi di Kedokteran Untan. Bayangkan jika lembaga riset Kalbar memperhatikan kekayaan itu. Dll.
Uhgg.. betapa kayanya kita. Betapa istimewanya kita. Pasti kita tidak akan susah mendatangkan ornag luar berkunjung. Lha, untuk mendukung visit Kalbar year 2010 itu lho.
Diposting oleh Yusriadi di 06.05 3 komentar
Label: Borneo Tribune, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Kamis, 24 September 2009
Pawai Takbir dan Relasi Etnik di Kalimantan Barat
Oleh Yusriadi
Pawai di malam takbiran keliling kota Pontianak kemarin berlangsung meriah – sekalipun memang tidak semeriah malam pergantian tahun.
Kendaraan pawai membelah jalan kota, takbir menggema melalui pengeras suara, pukulan gendang dan drum membahana, dentuman meriam dan mercon memekakkan telinga. Begitu juga sinar kembang api memewarnai langit kota.
Kemeriahan terasa sempurna karena pawai ini seperti menjadi medium penyatuan budaya antar kelompok etnik. Budaya Melayu (Budaya Islam + budaya lokal) dicampur dengan budaya lain. Setidaknya saya melihat ada beberapa budaya lain yang ikut tampil dalam tampilan malam takbir kemarin.
Lihat bagaimana letusan petasan dan kembang api. Bakar petasan dan kembang api bukanlah berasal dari budaya Melayu. Orang Melayu Pontianak mengenal meriam; meriam karbit.
Begitu juga dengan budaya pukul beduk. Pukul beduk memang biasa dijumpai dalam masyarakat muslim Nusantara. Bahkan, di beberapa tempat, sebelum masuk waktu salat biasanya dibunyikan beduk. Orang Melayu juga mengenal tar (tahar); sebagai alat pengiring seni pertunjukan. Permainan tahar dalam masyarakat Melayu memiliki variasi yang rancak. Bahkan, di beberapa tempat ada anggapan, sebuah majelis perkawinan tidak akan sempurna tanpa tetabuhan tar mengiring pengantin.
Tetapi malam itu, bukan beduk yang dipukul orang. Meskipun ada judulnya pukul beduk. Yang dipukul malam itu gendang. Walaupun dalam kamus bahasa Indonesia, beduk dan gendang tidak dibedakan dengan jelas, tetapi, secara semantik, beduk dan gendang membawa dua konotasi yang berbeda. Beduk berkaitan dengan alat tetabuhan untuk “ritual“ di masjid, sedangkan gendang bermakna agak umum.
Dan, pada malam takbiran itu, yang dipukul orang adalah gendang (dan drum).
Saya tertarik pada gendang yang ditabuh mengiringi pawai malam itu. Bentuknya unik. Tak pernah saya lihat gendang seperti itu di masjid. Entahlah, mungkin karena saya jarang ikut kegiatan masjid.
Bentuk gendang yang dipakai malam itu, bulat pendek, dibalut kain batik warnanya merah.
Saya mendekati penabuh gendang yang berada di truk induk – truk yang paling besar yang terletak di kepala jalan. Waktu itu truk diparkir di depan pendopo Kantor Gubernur. Belum jalan. Panitia sedang menyampaikan pidato tentang pawai.
Anak muda yang ada di atas truk yang saya tanya tentang gendang itu mengaku tidak tahu.
“Entah dari mana, ndak tahu”.
Jawaban ini membuat saya makin heran.
Saya ingin naik ke atas truk untuk mengamati gendang itu. Namun, urung karena sulit. Saya kesulitan memanjat truk.
Pada saat saya maju mundur -- antara naik dan tidak, pandangan saya tertumbuk pada gendang serupa yang terletak tidak jauh dari truk tempat saya berdiri. Gendang itu terletak di atas porselin dekat halaman depan kantor gubernur.
Ada beberapa anak muda mengelilingi gendang itu. Semula saya mengira mereka adalah remaja masjid yang ambil bagian dalam kegiatan pawai.
Tetapi kemudian setelah saya menghampiri seorang penabuh, baru saya tahu mereka berasal dari organisasi bernama PDC singkatan dari Pontianak Drummer Club (PDC). Dia menjelaskan sedikit tentang PDC.
“Siapa punya gendang besar ini?”
“Tidak tahu ya. Bukan punya PDC”.
Saya sudah punya feeling kalau gendang itu milik yayasan Tionghoa.
Saya sering melihat gendang besar begini muncul dalam acara orang Tionghoa. Bunyinya “medam”. Pukulan yang teratur kadang-kadang kedengarannya asyik juga.
Dugaan saya makin kuat karena saya melihat ada lakban warna mereka di atas kulit gendang itu.
“Mengapa semua gendang ada lakbannya?”
“Apa ada yang ditutupi?”
Saya menghampiri gendang dan mencoba menyentuh lakban merah itu. Saya mencoba melihat apa yang ada di bawahnya. Atau lebih tepatnya, saya mencoba mencari jawaban mengapa lakban itu dipasang. Tidak nampak benar. Tetapi saya yakin di bawah lakband itu ada sesuatu yang disembunyikan.
Lakban itu lengket sekali. Agak susah membukanya. Tetapi, kemudian saya dapat melihat sesuatu yang menakjubkan. Di bawah lakband itu adalah aksara Cina. Tetapi saya tidak dapat membacanya.
“Apa tulisannya Bang?”
Saya bertanya pada penabuh gendang itu.
“Mi Ti Yau”
Dia mengucapkannya sambil tersenyum. Dia mengajak saya bercanda. Saya tersenyum. Mungkin, pas waktu itu hanya soal makanan yang dia pikirkan. Saya juga mafhum, „Mi Ti Yau“ adalah nama jenis makanan mie yang mudah dijumpai di kota Pontianak. Enak. Saya sangat mengemari Mie yang dimasak dengan cara ini.
Saya juga terkesan dengan Mie ini. Mie ini juga mencerminkan pengaruh Cina dalam selera makan orang Pontianak. Mie ini mencerminkan adanya hubungan budaya antara dua komunitas itu. Karena itu, orang seharusnya mampu melihat bahwa hubungan antar Cina (Tionghoa) dengan komunitas lain, bukan saja dalam konteks sosial, dagang, dan juga masuk dalam wilayah politik, tetapi juga soal makanan.
“Mi Ti Yau“ bukan satu-satunya jenis makanan ala Cina yang disukai orang Melayu (dan komunitas lain) di Pontianak. Masih ada jenis makanan lain. Misalnya Bak So, Cap Chai, dll.
Ini juga menunjukkan bahwa perkembangan budaya kelompok tidak bergerak berasingan. Komunitas Cina dan Melayu, tidak berada di ruang yang sendiri-sendiri. Ada ruang bersama yang mereka kongsi. Ada budaya bersama yang mereka pakai – dan saling pinjam. Ini semua terjadi karena interaksi antar komunitas sebenarnya terjalin sangat baik, lebih baik dari yang dikira banyak orang yang hanya melihat sesuatu secara parsial.
Tentu, hal seperti inilah yang harus dipahami dengan baik. Hal seperti ini yang seharusnya dipromosikan sehingga pada akhirnya orang tidak menganggap seakan-akan dalam semua hal hubungan antar komunitas ini terbangun tembok yang tinggi dan kokoh sekokoh tembok Cina.
Lagi, kedua komunitas ini perlu dijembatani. Ketegangan yang terjadi pentas ekonomi dan politik, mungkin dapat diredakan dengan kesadaran budaya –seperti diteorikan banyak ilmuan. Mudah-mudahan lebaran kali ini bisa menjadi permulaan membangun kesadaran itu. Mudah-mudahan ketegangan yang sedemikian mudah meletup dalam beberapa waktu belakangan ini, dapat diredakan.
Karena itulah saya menganggap lebaran di Pontianak tahun ini, sangat istimewa. Mudah-mudahan keistimewaan ini berlanjut.
Diposting oleh Yusriadi di 07.30 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Budaya Kalbar, Etnik, Pontianak
Senin, 17 Agustus 2009
Jurnalistik untuk Humas: Yang Terbaik untuk Mereka yang Bersemangat
Oleh Yusriadi
“Alhamdulillah jumlah peserta cukup banyak,”
Nur Iskandar, Pimpinan Redaksi Harian Borneo Tribune yang juga Wakil Ketua Yayasan Tribune Institute memberitahu saya tentang peserta yang akan mengikuti pelatihan Jurnalistik untuk Humas se Kalimantan Barat yang diselenggarakan Tribune Institut, di Pontianak 12-14 Agustus 2009.
“Sudah terdaftar sekitar 15 orang,” tambahnya.
Lantas dia merinci satu per satu asal peserta itu.
Saya kira, jumlah 15 orang untuk sebuah pelatihan sudah cukup banyak. Terlalu banyak peserta, tidak akan maksimal. Jumlah 15 orang akan memudahkan proses bimbingan dan pemantauan. Juga, akan memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada peserta untuk berinteraksi dengan pemandu.
Seringkali pelatihan melibatkan banyak orang tidak akan maksimal. Pemandu tidak dapat menguasai mereka; dan mereka tidak mendapat perhatian. Kesempatan bertanya dan mendapatkan bimbingan juga akan sangat terbatas.
Kalau ada di antara peserta yang ‘aneh’, justru kelas akan hiruk pikuk. Jika tidak, justru kelas akan sunyi senyap karena ada yang sempat-sempat tertidur.
Jadi, kalaupun dipaksakan banyak peserta, kedatangan mereka mungkin tidak banyak manfaat bagi mereka. Mungkin mereka hanya bisa bangga dengan mendapat sertifikat tanda pelatihan.
“Kita harus memberikan yang terbaik untuk peserta”.
Dwi Syafriyanti, Ketua Yayasan Tribune Institute beberapa kali mewanti-wantikan hal itu. Dalam rapat panitia pelatihan dia mengingatkan obsesinya.
“Ini pelatihan perdana kita untuk mereka. Kita harus membuat mereka puas dan terkesan”.
Sebab itulah dalam pertemuan beberapa hari lalu, materi pelatihan dikaji kembali. Dalam rapat yang diikuti peneraju Tribune Institute, antara lain Nur Iskandar, Dwi Syafriyanti, Tanto Yakobus, Muhlis Suhaeri, Caturaini Fahmi, dan saya, kami kemudian menambahkan beberapa materi baru yang berbeda dibandingkan materi yang dikirimkan kepada instansi Humas di seluruh Kalbar sebelumnya.
Materi baru itu antara lain, berkaitan dengan relasi Humas dan Media, Blog dan Internet, serta tentang Apa yang Harus dilakukan Humas ketika berhadapan dengan wartawan. Selain itu, untuk menambah wawasan, peserta juga disajikan tentang perbandingkan etika jurnalistik dan pers di Jerman.
Dwi sendiri yang dijadwalkan menyampaikan materi berkaitan dengan Hukum dan Pers juga merancang materi yang kemas.
“Saya akan mulai dari contoh kasus,” katanya.
Maklum, Dwi sendiri memiliki pengalaman menangani kasus berkaitan dengan wartawan dan pelanggaran hukum.
“Saya harap mereka mendapatkan sesuatu yang berguna dalam tugas mereka. Minimal dapat memberikan advise kepada bosnya jika berhadapan dengan media”.
***
Hari Rabu (12/8), pelatihan dibuka secara resmi oleh Pembina Tribune Institute, WW Suwito. Yel-yel di saat pembukaan itu membangkitkan semangat peserta.
Setelah pembukaan itu, Nur Iskandar bersama Annabelle Schmitt meminta peserta memperkenalkan diri dan mengemukakan tujuan mengikuti pelatihan.
Semangat sekali. Ada yang tujuannya menambah wawasan dan keterampilan menulis. Ada yang ingin mendalami fotografi. Mereka memiliki harapan yang cukup tinggi terhadap pelatihan itu.
Saya kira semangat itu terasa sampai hari kedua pelatihan. Saya masuk ke kelas pelatihan itu untuk menyampaikan materi dasar penulisan berita dan release.
Saya memprovokasi peserta dengan menunjukkan buku biografi Aspar Aswin, mantan Gubernur Kalbar.
“Seharusnya buku seperti ini, yang menulisnya adalah orang-orang di Humas. Sebab, mereka sangat dekat dengan seorang pemimpin. Bukan orang lain”.
Saya kira, tidak seorang peserta pun yang meragukan hal itu. Sebagai Humas mereka memiliki akses yang sangat mudah kepada seorang pemimpin. Humas (seharusnya) selalu dibawa bos-nya ke mana pun bos itu pergi.
“Jika setiap kali bersama bos bisa buat tulisan, maka jadilah buku biografi itu”.
Saya juga menunjukkan kumpulan kliping koran yang saya buat ketika mula-mula bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak.
Bahan-bahan itu menjadi bukti pengabdian, bukti yang akan terus tinggal untuk masa berikutnya.
“Sekalipun 100 tahun kita sudah meninggal, kita akan dikenang orang,” kata AA Mering, pemandu kelas menyampuk.
“Tulisan akan membuat kita abadi”.
Ketika di bagian akhir kelas saya meminta peserta membuat berita berdasarkan bahan laporan panitia, saya tergugah. Mereka mengerjakannya dengan serius. Bertungkus lumus, kata orang Melayu.
Waktu yang diberikan seakan tidak cukup karena perhatian mereka tercurahkan pada bahan-bahan itu.
Bahkan setelah selesai kelas, seorang peserta berbisik kepada saya.
“Saya ingin membuat buku tentang kepala dinas”.
“Oh, ok. Bisa. Saya akan bantu”.
Saya sempat memberitahu dia bahwa saya, bersama teman-teman di Malay Corner STAIN Pontianak menyelenggarakan pelatihan menulis. Hasilnya, buku. Peserta pelatihan itu sudah menerbitkan satu buku. Satu buku lagi akan terbit dalam waktu dekat ini.
“Buat buku biografi juga harus sabar. Tidak bisa jadi sekali tulis. Mungkin waktunya enam bulan atau satu tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisan itu sehingga banyak, dan kemudian layak diterbitkan”.
Saya juga mendengar dari Dwi, kemudian, bahwa peserta juga menunjukkan semangat ketika mendiskusikan kasus-kasus pers.
“Waktunya jadi molor”.
Mering yang menyampaikan materi blog dan internet juga mengungkapkan peserta sangat antusias dengan materi itu.
“Malah mereka minta tambah waktunya. Mereka minta besok lagi”.
Pada pertemuan pertama tadi, beberapa peserta yang membawa lap top sudah berhasil membuat blog sendiri.
“Sayangnya tadi internet mati setelah listrik PLN padam. Jadi, terputus”.
Diposting oleh Yusriadi di 05.37 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Penulisan
Senin, 10 Agustus 2009
Mimpi tentang "Terang Terus"
Oleh Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Minggu ketiga Juli. Saya menerima sebuah pesan singkat yang masuk melalui HP. Seorang teman, peneliti dari Pontianak.
“Bang, maaf, makalahnya terlambat. Boleh nyusul khan?”
Saya segera teringat. Minggu ketiga Juli memang batas akhir “pengumpulan” makalah. Saya minta teman itu membuat makalah untuk sebuah jurnal di Malaysia untuk edisi terbitan akhir tahun. Kebetulan ada peluang.
Kebetulan apa awal Juli bertemu dengan editor jurnal tersebut dan saya meminta peluang – prioritas, untuk tulisan saya dan kawan-kawan. Prioritas karena saya tahu, tulisan kami pasti kalah saing mutunya dibandingkan tulisan ilmuan yang biasa menulis di jurnal itu. Para ilmuan itu, professor dan doctor. Mereka rajin buat penelitian, mereka berkesempatan mengumpulkan data dan membaca bahan penelitian orang lain. Sedangkan saya dan teman, tidak berkesempatan. Kalaupun ada kesempatan, kesempatan itu sangat terbatas. Penelitian jarang-jarang bisa dilakukan. Mungkin soal dana – yang studi-studi lapangan pasti memerlukan biaya akomodasi, dll. Dana pribadi tidak selalu bisa disisihkan untuk itu. Bahan bacaan? Kawan di Pontianak hanya bisa mengandalkan pustakaan pribadi yang koleksi amat terbatas.
Mungkin soal waktu juga satu hal. Mau turun lapangan berarti meninggalkan tugas kantor. Mau turun lapangan perlu izin. Kadang kala soal izin ini rumit. Kecuali main tinggalkan begitu saja. Bolos.
Belum lagi soal cara menulis. Kemampuan kita menulis, masih rendah. Maklum kurang latihan. Buat makalah pun jarang-jarang. Mungkin kalau tidak ada kesempatan tampil di seminar, lupalah kebiasaan menulis makalah. Padahal kesempatan seminar seperti itu amat jarang. Apa jadinya kemampuan menulis jika menulis makalah hanya 2 kali setahun? Pasti rendah. Tidak mungkin keterampilan menulis diperoleh jika tidak biasa menulis. Mungkin satu-satu yang meningkat adalah perasaan mampu menulis, selain kemampuan ‘ngobrol’.
Oleh sebab itu, ketika sang editor itu sedia memberi peluang, saya kira peluang itu adalah kesempatan emas. Kesempatan yang harus diraih dengan serta merta. Pikiran ini yang mendorong saya menghubungi beberapa orang teman untuk mengirimkan makalah ke jurnal tersebut.
“Waduh, kok lambat. Napa?”
Saya mencoba merespon pesan itu. Ingin tahu saja.
“Ga bisa nulis. Listrik mati terus”.
Pada mulanya saya agak tersentak. Maklum, tak terpikir kalau listrik bisa menjadi hambatan produktivitas sehingga teman tadi tidak bisa menyelesaikan penulisan makalahnya.
Tetapi, kemudian saya maklum. Kalbar berbeda dengan Selangor, atau Kuala Lumpur. Di Kalbar listrik memang sering padam. Sudah biasa orang mengeluh mati lampu.
Saya lantas teringat pengalaman seorang guru sekolah dasar di pedalaman lebih lima tahun lalu. Sekolah mereka mendapat bantuan komputer. Bantuan itu disambut dengan suka cita karena memang mereka mendambakannya sejak lama. Mereka di kampung ingin komputer karena melihat orang di kota sudah pakai komputer. Pada mulanya mereka pikir, dengan adanya komputer, kerja mereka makin mudah, semakin cepat. Makin canteklah surat menyurat – setidaknya dibandingkan dengan surat yang ditulis dengan mesik ketik.
Tetapi apa yang terjadi kemudian? Begitu komputer sampai di ruang guru di sekolah, para guru bingung. Listrik tidak pernah nyala pada siang hari. Listrik di kampung hanya nyala pada malam hari, mulai pukul 18.00 – 06.00. Waktu itu, orang lagi istirahat.
Sekian lama komputer tidak digunakan, disimpan saja di sekolah.
Lalu, para guru sepakat (mungkin inisiatif kepala sekolah) komputer itu dibawa ke rumah kepala sekolah, biar bisa dipakai, sekalipun pada malam hari.
Begitu dipasang di rumah, saat menyalakan monitor, tiba-tiba semua lampu mati. Gelap. Daya tidak kuat.
“Saat itu, orang hanya bisa heran. Tidak bisa,” katanya.
“Setelah itu, sampai sekarang, komputer tidak pernah dipakai. Jadi barang buruklah”.
Kalau ingat cerita ini saya rasanya ingin tertawa. Tertawa pada guru-guru itu, tertawa pada kepala sekolah, dan mentertawakan program komputerisasi Dinas Pendidikan. Niat ada, namun, tidak bisa dilaksanakan.
Tetapi cerita itu juga menyadarkan saya betapa suplai listrik sangat menentukan juga produktivitas dan juga kemajuan. Cerita ini menyadarkan saya bahwa PLN membantu orang mencapai peradaban. Dan, peradaban itu belum bisa ditapaki orang sekarang ini karena PLN belum dapat menyediakan jasanya dengan baik.
Jadi, sekarang, bukan hanya di kampung orang kesulitan mendapatkan listrik, tetapi juga di kota – justru di pusat peradaban itu sendiri.
Karena itu begitu mendengar masalah teman di Pontianak yang tidak bisa menyelesaikan makalah tepat waktu, tentu saya jadi maklum.
“O, gitu. Ya, udah mau apa lagi. Mudah-mudahan masih ada peluang”.
Ya, mau apa lagi? Soal listrik di luar kemampuan teman dan kemampuan saya mengatasinya. Tidak mungkin dapat mengatasinya.
***
Komunikasi singkat dengan teman lewat SMS itu membuat saya membandingkan (dan membanggakan Negara lain).
Selama berbulan-bulan saya di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) rasanya baru satu kali ‘ketemu’ listrik padam. Listrik pada karena waktu itu ada perbaikan di pusat bekalan listrik.
Waktu itu saya tidak bertanya lagi, pusat bekalan listrik apa yang dimaksud. Saya kurang tertarik mengetahuinya lebih jauh, dan lagian, saya kira orang yang saya ajak bicara itu tidak mengetahui lebih jauh soal itu. Kalau pun saya bertanya terus, mungkin saya akan mendapat jawaban: Tidak tahu. Tidak tahu. Style orang di sini memang begitu, kalau dia tidak tahu, dia akan bilang tidak tahu, jika tidak mampu dia akan bilang tidak mampu.
Setelah sekali itu, rasanya belum pernah lagi listrik padam. Listrik menyala tiap hari. Tiap hari terang terus. Selama bekerja saya tidak pernah merasa khawatir tiba-tiba data hilang karena listrik padam. Tak pernah.
Lagi, saya tidak bisa bayangkan jika listrik di sini kelap kelip seperti di Pontianak. Mungkin (pada awalnya) orang akan ribut minta ampun. Mungkin orang tidak akan bisa bekerja karena komputer tidak bisa digunakan. Mungkin orang tidak akan betah berada di ruangan karena AC tidak menyala. Ruangan yang tidak punya ventelasi itu akan menjadi kurungan yang panas. Pegawai di sini tidak tahan panas.
“Kapankah kita di Pontianak bisa seperti itu?”
Pertanyaan seperti itu sering kali bergayut dalam benak saya, dan juga di benak teman-teman asal Pontianak yang belajar di Malaysia. Keadaan listrik yang terang terus di Malaysia telah membuat kami iri. Suplay energi itu benar-benar terjaga. Pemerintah benar-benar peduli dengan kebutuhan dasar itu.
Saya pernah mendengar cerita, tahun 1996, ketika saya pertama kali belajar di Malaysia, seorang professor di sana bilang bahwa beberapa waktu sebelum itu Kuala Lumpur dan Selangor, listrik mati selama beberapa jam. Lantas masyarakat ribut. Orang komplen. Mereka bercerita soal kerugian. Hingar binger ini diterima direktur perusahaan listrik dengan jantan. Dia mengundurkan dirinya.
“Dia merasa tidak sanggup menyelesaikan persoalan itu. Dia mundur,” kata professor itu.
“Di Pontianak, listrik mati terus pun mana ada peduli,” tambahnya.
***
Di Pontianak, pernahkah orang yang bertanggung jawab terhadap listrik merasa tidak mampu bekerja?
Entahlah. Rasanya tidak pernah kita dengar hal itu di ruang publik. Bahkan secara tersirat kita mendengar mereka orang-orang yang bertanggung jawab menyediakan suplai listrik untuk masyarakat selalu menganggap mereka sangat mampu. Bahkan sesekali kita mendengar mereka menyebutkan persoalan listrik yang kelap kelip itu, bukan persoalan mereka, sekalipun urusan listrik itu di tangan mereka.
Kita bisa bercermin pada ironi yang muncul di ruang publik di Pontianak.
Kalau ada listrik padam, masyarakat kota lantas teringat pernyataan orang PLN, bahwa yang bikin lampu padam itu kelayang. Masyarakat kota masih mengingat hal itu. Bahkan, ungkapan itu sering dikembalikan kepada PLN bila listrik tiba-tiba mati di malam hari.
“Aduhh…. Masak si orang main kelayang malam-malam?”
Hal seperti itu tentu saja menjadi aneh. Aneh karena masalah ini berkelanjutan. Apakah persoalan main kelayang tidak dapat diatasi? Apakah pemerintah tidak memiliki cara menghadapi para pemain kelayang – agar tidak ada lagi gangguan itu?
Sesungguhnya masyarakat kota tidak percaya dengan alasan ini. Saya pun juga sulit mempercayainya. Sebab, jika benar-benar tali kelayang yang bikin kita sengsara kegelapan, mengapa pemain kelayang tidak benar-benar ditangani? Masakan pemain kelayang tidak bisa diatasi. Bagi saya orang awam, cara mengatasinya sederhana: Tangkap pemainnya. Kurung mereka beberapa hari, kenakan denda yang besar – agar sesuai dengan kerugian yang mereka timbulkan dari permainan itu. Apakah Pol PP tidak sanggup mengerjakan itu? Rasanya mereka pasti sanggup. Pasukan mereka cukup gagah dan kuat untuk memburu para pemain, seperti gagahnya mereka ketika menertibkan lapak pedagang dan bangunan tak berizin.
Selain itu, Jaksa pasti dapat menuntut pelaku dengan tuntutan yang sepala, dan Hakim pasti dapat menjatuhkan putusan yang adil untuk pertimbangan kebaikan masyarakat yang lebih luas dan besar.
Tetapi mengapa sampai hari ini masalah listrik tidak bisa di atasi? Tentu sulit menjawabnya.
Sebenarnya kita ragu karena kita juga mendengar kabar bahwa persoalan listrik bukanlah tali kelayang. Ada yang bilang persoalan listrik karena soal mesin. Kataya, mesin sudah tua. Sering rusak. Setahun lalu kita sempat ditunjukkan alat-alat yang pecah itu ketika menjelang puasa juga, listrik macam orang sekarat.
Kalau benar soal mesin, mengapa bisa begitu? Mengapa mesin tidak bisa diganti? Mengapa mesin baru tidak bisa diperoleh?
Jika soal biaya, tidak adakah sumber dana yang bisa digunakan untuk itu? Dalam bayangan saya, jika dananya besar, seharusnya dana bisa dikumpulkan bertahun-tahun. Jika dana besar, seharusnya ada investor yang dapat membantu: sebab bisnis listrik pasti mendatangkan uang. Bisnis listrik tidak mungkin tidak dibeli orang. Mahal bagaimana pun, listrik tetap akan digunakan orang. Justru seharusnya, dana subsidi rakyat yang kononnya diberikan untuk bayar listrik, dapat digunakan untuk menambah modal mendapatkan mesin baru.
Tetapi kembali kita ragu, sebab kenyataannya, ketika krisis listrik di Kalbar terjadi setahun lalu, ada pejabat PLN yang mengatakan tak usah terlalu cemas, krisis bukan hanya di Kalbar tetapi seluruh Indonesia. Jadi di tempat lain yang orang tidak main kelayang pun listrik juga sering mati. Di tempat lain yang keadaan mesinnya kita tidak tahu, juga mati.
Sungguh membingungkan.
Oleh sebab itulah saya sempat berpikir, krisis listrik mungkin terjadi karena ada politik listrik. Mungkin ada sebab-sebab yang diciptakan, yang diatur, untuk motif-motif tertentu. Hanya motif itu yang belum terbuka kepada publik.
Pikiran itu sempat menggelinding pada kejadian sebuah perusahaan pemerintah di Sambas. Sekarang ini direkturnya dituntut karena menyalahgunakan bantuan. Seharusnya banyak uang digunakan untuk membeli oli agar mesin pompa bisa digunakan, namun yang digunakan hanya sedikit saja. Seharusnya bantuan itu digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada rakyat, namun amanah itu tidak disampaikan. Kasus ini terkuak karena diributkan aktivis LSM. Ditekan terus. Jika tidak, mungkin kasus ini pun akan senyap begitu saja. Orang pasti tidak mengira suplai air yang terbatas rupanya bukan karena air asin atau karena mesin pembangkit yang rusak, tetapi, karena mesinnya tidak bisa dioperasikan karena penyelewengan, karena ada pejabat yang tidak amanah.
Ini memang baru contoh kasus. Tetapi, banyak contoh kasus yang lain – baik yang sudah terbuka kepada publik, maupun yang masih samara-samar karena ada yang pandai menutupi.
Memang bukan kasus di PLN. Namun, kasus ini membuat kita belajar banyak. Hal seperti inilah yang membuat kita sering kali ragu apakah benar Negara ini diurus dengan benar? Apakah benar Negara ini memperhatikan rakyatnya.
Kita menjadi ragu karena masak hal seperti ini tidak ada jalan keluarnya. Masak mereka tidak tahu betapa menderitanya rakyat kecil karena tidak adanya suplai listrik. Masak mereka tidak mendengar betapa seringnya masyarakat mengeluhkan hal itu.
Diposting oleh Yusriadi di 06.01 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Budaya Kalbar, Suara Enggang
Selasa, 14 Juli 2009
Dari Sambas ke Sulawesi, Kok... Lewat Kuala Lumpur?
Oleh Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Rasanya, belum pernah terlintas dalam pikiran saya ada orang Sambas pergi ke Sulawesi lewat Malaysia. Setakat ini, yang saya tahu para pejabat Kalbar dahulu kalau mau ke Kapuas Hulu, melintasi lewat Sarawak.
Tetapi itulah yang saya jumpai ketika bulan lalu kembali ke Pontianak. Hari itu, dalam perjalanan dari Kuching ke Pontianak, saya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki paroh baya. Lelaki itu, bersama istri dan anaknya. Istri dan anak lelaki itu duduk di deretan kursi kami.
Semula saya tidak menyangka mereka orang Kalbar. Hatta, orang Sambas.
Sejak naik dari Kuching saya mendengar percakapan mereka. Kesan saya, percakapan mereka seperti gaya orang Jakarta bercakap. Malah mereka begitu asyik membicarakan ‘pengalaman’ dalam perjalanan.
Mereka sempat bertanya pada sopir tentang perjalanan bis dari Pontianak ke Kuching.
“Kalau sampai ke Kuching pukul berapa, Pak?”
“Sekitar pukul 8”.
“Terlambat gak ya, kalau naik bis malam, mau kejar penerbangan ke Kuala Lumpur pukul 10 pagi”.
“Tidak”.
Sopir meyakinkan mereka.
“Kalau gitu kami pesan tiket nanti Pak. Ada 10 orang”.
Saya sendiri yang mendengar ingin menyeletuk, tidak yakin. Bagi saya terlalu mepet waktunya. Tetapi, tentu saya tidak enak mau nimbrung. Kenal saja tidak.
Jam 8 sampai. Ini itu di terminal, mungkin 15 menit atau setengah jam. Kononnya mereka mau makan dahulu, cuci muka, buang air, dll.
Peraturan Air Asia, sedikit menyeramkan: terlambat tiket hangus! Saya bersama Dedy teman saya, sudah pernah merasakan hal itu, sewaktu mula-mula ikut penerbangan ini. Terlambat sedikit saja karena nyasar di Kuala Lumpur International Airport. Padahal, terbang dengan Air Asia harusnya di LCCT. Kami kira, penerbangan Air Asia sama dengan penerbangan Malaysia Air Line (MAS).
Perjalanan dari Terminal Bis Kuching ke Terminal Kapal Terbang Kuching memang tidak jauh. Paling 20-30 menit sampai. Tetapi kadang kala urusan check in, dll juga tidak bisa dengan cepat.
“Terlalu beresiko”.
Tetapi, saya kira mereka pasti sudah tahu itu. Apalagi saya sempat menduga mereka adalah orang Indonesia yang bekerja di Kuala Lumpur. Entah pegawai kedutaan, entah apa.
Kami turun di perbatasan, cop passport.
***
Setelah turun di perbatasan, setelah naik kembali ke bis, barulah kami berkenalan. Kami bercakap-cakap banyak hal.
Mula-mula tentang cop passport. Lalu, berpindah ke soal prilaku orang Bea Cukai di perbatasan yang memeriksa barang penumpang, tentang jalan yang sempit, dll.
Pembicaraan kami agak panjang ketika membahas soal pemilihan presiden. Analisis ‘bapak itu’ sangat menarik. Saya menyukai diskusi soal mengapa pilih siapa.
Nah, lama kemudian pembicaraan mengalir pada siapa bapak itu.
“Kami dari Sambas”.
Lalu dia menceritakan tentang dirinya, istrinya dan anaknya.
“Kami baru dari Sabah”.
Rupanya mereka melancong ke puncak Gunung Kinibalu mengisi liburan sekolah anak. Anak mereka baru selesai ujian. Rencananya, setelah pengumuman –dan mereka yakin anaknya lulus, mereka semua akan berangkat ke Sulawesi.
“Biar dia sekolah di sana”.
“Kok ke Sulawesi lewat Malaysia?”
“Ya, jauh lebih murah. Banyak tiket promosi”.
Katanya, istrinya sangat rajin melihat-lihat internet untuk melihat booking Air Asia.
“Promosinya gila-gilaan.” Katanya, takjub.
Ya, tiket Air Asia memang terkenal murah. Untuk dapat tiket murah lihat saja situs boking tiket.
Sebagai contoh, kadang kala penerbangan dari Kuching ke Kuala Lumpur, bisa lebih murah daripada naik bis dari Pontianak ke Putussibau. Harganya berbeda-beda tergantung keberuntungan. Kadang kala bisa dapat 30 ringgit (dikalikan Rp 3 ribu = Rp90 ribu). Kadang kala malah RM 0. Penumpang hanya bayar administrasi saja.
“Bandingkan kita terbang dari Pontianak ke Jakarta, lalu dari Jakarta ke Sulawesi. Mungkin Rp2 juta tidak lari, pulang perginya. Apalagi kalau musim sibuk,” katanya.
Saya terus melongo-longo mendengar penjelasan dia. Sungguh, seumur-umur baru kali ini dengar rute perjalanan tersebut. Padahal, saya sudah naik pesawat Air Asia lebih dari 10 kali. Tak pernah terpikir tentang hal seperti itu.
Cerita bapak ini membuat saya menghayal, suatu saat saya akan terbang ke Sulawesi juga dengan menggunakan Air Asia, melalui Kuala Lumpur. Mungkin saya akan terbang ke Bali, atau ke Aceh menggunakan jalur yang sama. Toh, walaupun nampaknya agak berputar-putar, namun, jauh lebih hemat. Bayangkan saja kalau ke Bali hanya Rp 200-an ribu saja. Mengapa tidak?!
Diposting oleh Yusriadi di 20.09 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Malaysia
