.jpg)
Masyarakat Sungai Karawang. Mereka berharap pemerintah memberikan perhatian pada nasib mereka. Mereka berharap masa depan yang lebih baik. Foto Yusriadi/Borneo Tribune.
Senin, 30 Juni 2008
MENUNGGU PEMERINTAH
Diposting oleh Yusriadi di 02.29 0 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (5)
Oleh: Yusriadi
Hari berikutnya saya melanjutkan pengumpulan data lapangan. Saya bertemu dengan beberapa orang di TR – sebutan untuk wilayah pemukiman di sini, dan mereka sangat membantu saya.
Ketika saya bertanya rumah ketua RT, mereka menunjukkan. Mereka juga membantu memberitahu letak rumah warga yang terpilih sebagai responden. Saya sangat terkesan dengan keramahan mereka secara umum.
Hanya, memang tidak semua berjalan mulus. Ada rumah responden yang harus saya datangi beberapa kali –sebab orang yang sedang dicari tidak ada di rumah. Beberapa di antarnya baru bisa saya jumpai pada kunjungan berikut.
Hari itu suasana di Karawang memang sepi. Maklum, saat itu musim ladang, atau sebagian orang pergi ke kebun mereka. Orang Sungai Karawang adalah orang-orang yang rajin.
Karena pilihan responden sudah ditetapkan berdasarkan rumus statistik, saya menunggu mereka.
Dan, pada akhirnya saya berhasil juga. Saya bisa mengambil data dari mereka.
***
Dari sekian banyak informan yang saya temui, ada dua tempat yang sangat mengesankan saya. Ada dua responden perempuan yang tidak bisa berbahasa Indonesia –atau bahasa Indonesianya sangat sedikit. Mereka melayani saya dengan bahasa Jawa. Saya mengingat jawaban “mbuh” yang saya tahu bermakna tidak, berkali-kali. Sesungguhnya saya agak kesulitan memahami apa yang mereka sampaikan secara tepat. Saya hanya bisa menebak –lebih tepatnya, pura-pura tahu dan mengerti apa yang mereka sampaikan.
Untung selama wawancara selalu ada orang lain –penduduk setempat yang menemani, sehingga sedikit banyak mereka menjadi penterjemah bahasa Jawa bagi saya.
“Ah, rupanya banyak orang yang belum benar-benar terbuka. Sesuatu yang pasti tidak dibayangkan oleh orang di Pontianak, oleh mereka para pengambil kebijakan,” bisik saya.
Tetapi malangnya, para pejabat kita tidak punya banyak waktu untuk memahami masyarakat seperti ini. Mereka terlalu sibuk.
Di ujung Sungai Karawang saya bertemu dengan sejumlah warga; saya bertanya di mana rumah ketua RT. Dua orang warga mengantarkan saya ke rumah ketua RT.
Di rumah ketua RT sedang berkumpul banyak orang. Ada acara nanti malam.
Pak RT menyambut kedatangan saya Dia cukup ramah. Warga yang ada di rumah tersebut sebelumnya juga ikut bergabung. Ruangan tidak cukup. Ada yang duduk di teras melihat melalui pintu dan jendela. Agaknya kedatangan orang baru merupakan sesuatu yang unik di sini.
“Di sini jarang dikunjungi orang luar,” kata seorang warga.
Jangankan orang jauh dari provinsi atau dari kabupaten, dari kecamatan pun tidak. Kunjungan ke kampong ini biasanya berhenti sampai di rumah kepala desa. RT ini terlalu jauh di ujung kampong dan pasti tidak penting.
Saya memberitahukan kedatangan saya. Dia membantu menyebutkan nama penduduk di RT-nya. Warga yang duduk di ruangan itu juga membantu. Saya merasa senang. Sekalipun sesekali mereka berdebat soal nama asli dan nama panggil. Ada juga perdebatan soal warga yang baru datang atau warga yang baru pindah.
Ketika sampai pada penentuan responden, saya menjadi sasaran perdebatan mereka. Setidaknya ada dua warga yang protes berat karena responden yang terpilih melalui rumus statistik itu adalah mereka yang menurut mereka tidak mengerti apa-apa. “Bagaimana penelitian ini. Kamu bertanya pada orang yang tidak mengerti politik,” kata seorang warga protes. Suaranya cukup keras.
Dia menceramahi saya soal ini. Seharusnya saya memilih orang yang mengerti politik. Cukup lama saya meyakinkan mereka soal metode pemilihan responden. Namun pada akhirnya mereka diam saja. Saya tahu mereka menyimpan rasa tidak puas. Tapi walau begitu mereka tetap membantu saya. Ikut mengantar saya ke rumah responden yang terpilih.
***
Tidak saja soal data yang saya butuhkan, mereka juga berharap saya membantu mereka. “Tolong sampaikan kepada pemerintah, kami perlu pekerjaan. Harus dibuka lapangan kerja,” pinta seorang warga.
Menurut mereka, lapangan kerja sangat sulit sekarang. Keadaan ekonomi sangat susah. Masyarakat terpaksa bekerja di luar kampong untuk mencari penghidupan. Banyak yang pergi ke luar negeri. Beberapa pemuda yang berkumpul di ruangan mengaku sudah pernah merantu. Mereka pulang sesekali.
“Saya baru pulang dari Malaysia,” katanya.
Tetapi yang aneh, meskipun mereka bekerja di luar namun aliran ekonomi ke kampong tidak seperti yang saya bayangkan. Seharusnya hidup mereka lebih makmur. Rumah mereka seharusnya lebih bagus. Kenyataannya, rumah penduduk di sini agak memprihatinkan.
Rumahnya umumnya terbuat dari papan. Sebagiannya dari bambu.
Jalan menuju ke rumah penduduk juga sangat sederhana. Saya harus ekstra hati-hati ketika melewati jalan ke rumah pak RT tadi. Untuk menyeberang parit seukuran 2 meter, dibuat dari bambu yang dianyam. Ukuran lebarnya cuma satu meter. Kalau diinjak, bambu itu berenjuk. Untung ada pegangan.
Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan di sini. Hebat orang di sini bisa bertahan, tidak pindah.
Seseorang memberikan penjelasan.
“Yang susah pengangkutan. Sungai hanyalah parit kecil yang tidak bisa dilalui motor air. Sedangkan jalan darat mungkin, tetapi tidak ada kendaraan roda empat. Ada uang pun percuma,” katanya.
Apakah harapan mereka kelak akan terpenuhi? Apakah janji politik yang diucapkan orang yang berniat menjadi calon pemimpin akan terpenuhi? Apakah masyarakat Sungai Karawang akan berhasil mencapai kemajuan, tunggu saja!
Habis.
Diposting oleh Yusriadi di 02.25 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Minggu, 22 Juni 2008
Anak Sungai Karawang

Anak-anak Sungai Karawang mengikuti kegiatan keagamaan di masjid desa. Foto Yusriadi.
Diposting oleh Yusriadi di 01.42 0 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (4)
Oleh: Yusriadi
Dan memang ketika tampil dalam acara resmi di masjid, Sujiwo menyampaikan sekali lagi janji-janji yang sebelumnya disampaikannya kepada ibu kepala desa. Namun demikian dia dengan cerdas untuk melapis janjinya – bahwa untuk mewujudkannya harus ada dukungan.
“Tapi saya bukan kampanye,” ingatnya. Senyum. Saya kira senyum khas orang politik.
“Saya mohon doa karena akan maju dalam pemilihan bupati Kubu Raya nanti,” tambahnya.
Ada beberapa suara berguman menyahut Sujiwo dari dalam masjid. Sedangkan di teras masjid saya lihat beberapa warga sibuk sendiri. Anak-anak yang berada di teras sejak awal tadi bicara sendiri. Hanya sesekali mereka diam. Mereka diam ketika mendengar orang tua tertawa – maklum ada bebepa kali joke segar dikeluarkan.
Agus yang tampil kemudian lebih terbuka soal dukungan.
“Saya yang bukan orang Jawa mendukung Bapak Sujiwo. Kalau orang Jawa tidak mendukung sesama orang Jawa, itu kebangetan,” katanya menyentuh sentimen etnik.
Saya salut dengan keberanian Agus membangkitkan isu ini, di masjid. Memang kalau mau menang harus begitu. Harus lebih cepat. Harus menyentuh perasaan. Memang, isu etnisitas kerap kali lebih menyentuh dibandingkan isu lain. Bahkan kadang calon kepala daerah tidak perlu menyampaikan visi misinya secara jelas. Toh, rakyat Kalbar yang rata-rata pendidikannya tamat SD tidak mengerti amat soal visi misi itu. Mereka jauh lebih mudah mengerti bahwa yang maju adalah orang sendiri dan perlu didukung. Rakyat kecil sudah merasa cukup kalau disentuh dengan isu ini. Dan, pada pendapat saya, Agus sedang melakukan itu di Sungai Karawang.
Tentu saja merasa jengah. Kiranya, cara Agus ini bukan mencerdaskan masyarakat. Bukannya memberikan rakyat pilihan yang terbaik. Karena yang saya tahu kemudian, tanpa menonjolkan isu etnisitas, orang-orang di Sungai Karawang sangat mengenal Sujiwo dan sebagian besar akan memilihnya. “Dia sudah beberapa kali datang ke sini. Kami mengenal dia,” kata seorang warga.
Namun, kalau isu Jawa terus disentuh, sangat mungkin orang-orang bukan Jawa akan enggan memilihnya. Pada akhirnya, kalau situasinya tidak tepat, apa yang dilakukan Agus dengan kampanye berbau ras- akan menjadi bumerang bagi Sujiwo.
Cukup panjang Agus dan Sujiwo bicara. Sampai-sampai waktu yang semula agihkan untuk ceramah agama terpotong. Uztad yang dibawa Sujiwo dari Pontianak yang juga mengajak masyarakat memilih Sujiwo terpaksa membatasinya ceramahnya. Seorang lagi penceramah yang dijawalkan batal tampil karena waktunya sudah terlalu sore. Bahkan shalat Ashar molor dari jadwalnya.
Politik memang dapat mengalahkan banyak hal. Termasuk peringatan Islam soal shalat tepat waktu, kata saya dalam hati.
***
Setelah shalat Ashar yang molor itu, saya beredar dari masjid. Saya kembali ke rumah kepala desa. Rupanya beliau sudah ada di rumah. Ada ibu-ibu yang sedang bertamu.
Saya menyela percakapan mereka. Saya bertanya soal Rukun Tetangga (RT) di lingkungan desa Sungai Karawang dan kemudian beliau memberikan informasi mengenai RT-RT yang saya cari.
Setelah informasi cukup saya pamit. “Biar lebih cepat selesai pekerjaan,” kata saya memberikan alasan.
Ibu Kades menawarkan kendaraan –sepeda motor. Namun saya menolak. Saya kikuk kalau menggunakan motor di tempat baru. Saya takut. Takut tak tahu jalan. Takut motornya mogok, takut kalau-kalau terjadi kecelakaan, dll. Saya pikir, tidak hati-hati bisa timbul masalah baru. Lagian, jalan kaki juga lebih enak. Dan saya terbiasa melakukan hal itu.
Saya berjalan ke arah hilir kampung, melewati jalan yang sebelumnya saya lewati saat pertama datang. Ada beberapa orang di pinggir jalan. Saya menyapa mereka. Mereka ramah. Ya, mungkin selain karena orang kampung memang baik-baik, saya baru ingat, tadi waktu di masjid, Ibu Kades juga menyebut nama saya. Dan dia minta agar warganya memberikan bantu.
Di ujung kampung saya bertemu dengan salah seorang anak muda yang sedang duduk di atas motor di tengah jembatan besar. Saya masih mengenal wajahnya. Dia adalah anak muda yang duduk di dekat saya sewaktu di masjid tadi. Dan, rupanya dia juga masih ingat dengan wajah saya. Dia tersenyum. Saya bertanya padanya di mana rumah ketua RT yang saya cari.
“Mas masuk lewat jalan ini. Ada rumah pertama di sebelah kanan, itulah dia,” katanya.
Saya mengangguk. Mengucapkan terima kasih dan kemudian mengikuti petunjuknya.
Saya sampai di rumah yang dituju.
Saya mengucapkan salam dan seorang lelaki keluar. Masih muda.
Saya menyebutkan nama orang yang saya cari dan dialah orangnya.
Dia mempersilakan saya masuk.
Saya kemudian memberitahukan tugas saya dan apa yang saya cari. Dia melayani saya dengan sangat memuaskan. “Sebelumnya juga pernah ada yang datang. Kayak begini,” katanya.
Wawancara berjalan sangat lancar. Tetapi karena banyak pertanyaan yang diajukan, prosesnya berlangsung hingga maghrib. Penerangannya hanya pelita. Tidak ada listrik. “Sudah diajukan, tetapi sampai sekarang .. beginilah,” katanya. Lirih.
“Malang sungguh. Tempat yang sebenarnya hanya sepelempar batu dari Pontianak kok begini,” kata saya dalam hati.
Setelah wawancara selesai, saya pamit menuju calon responden berikutnya. Dia berbaik hati menawarkan jasanya mengantar saya. “Saya antar. Tempatnya agak jauh di ujung,” katanya.
Saya tidak punya lampu. Dia pun juga tidak punya lampu. Penerangan kami hanyalah lampun HP saya yang tidak seberapa dan korek api. Untung jalannya agak lempang, meskipun berlumpur. Ada satu kali teman saya kakinya terperosok ke dalam lumpur.
Yang kami khawatirkan, parit di kanan jalan ada buaya. “Biasa buaya melintang di jalan. Orang sering lihat,” katanya.
Tentu saja saya bergidik.
“Belum lama ini ada orang sini yang kena tangkap buaya. Parah. Sampai dibawa ke Pontianak,” tambahnya.
Dia mengingatkan saya agar hati-hati dengan parit di depan rumah kepala desa. Karena di parit itulah buaya yang menangkap korban itu biasa nampak.
“Mengapa tidak ditangkap? Mengapa tidak dibunuh?,” tanya saya.
Menurutnya, orang kampung percaya bahwa buaya itu bukan sembarang buaya. Buaya bukan sekadar binatang melata. Karena itu sekalipun buaya memangsa manusia namun manusia tidak berani membalasnya.
Kami sampai di rumah yang dituju. Namun, orang yang dicari tidak ada. “Sedang nonton TV,” kata anaknya.
Teman saya memberitahukan di mana tempat orang yang kami cari menonton. “Orang di sini belum semua punya TV, jadi menontonnya ramai-ramai,” katanya menambahkan..
Karena jarak nontonnya juga cukup jauh, akhirnya kami membuat janji: besok saya akan datang lagi. Saya juga tidak mau mengganggu kenikmatan orang menonton TV.
Kami kembali. Teman saya mengajak saya naik ke rumahnya lagi. Istrinya –yang kemudian saya tahu berasal dari Sambas, sudah menyiapkan makan malam. Kami makan nasi baru, hasil panen keluarga ini.
Saya menjadi lebih akrab dengan keluarga ini. Dia menceritakan perjalanan hidupnya sebelum ini. Dia pernah bekerja di Batu Ampar di perusahaan kayu. Di sinilah dia bertemu dengan istrinya sekarang. Sejak kawin pasangan ini menetap di Sungai Karawang, meninggalkan pekerjaan di sawmill Batu Ampar. Mereka kini memiliki dua orang anak.
Beberapa saat kemudian saya pamit. Teman saya menemani hingga rumah tempat orang menonton TV.
***
Saya sampai di rumah bu Kades sekitar pukul 20.20 wib. Ada banyak orang. Ada yang duduk di teras, ada yang berada di dalam rumah. Mereka menonton TV. Rupanya, ada bagian dari dinding rumah bu Kades yang ‘dicopot’ khususnya agar orang bisa nonton TV dari luar. Siang tadi saya lihat dinding itu masih terpasang.
“Kalau nonton di dalam rumah semua, kadang tidak cukup. Kalau dibuka orang masih bisa nonton dari teras,” kata Bu Kades.
Saya jadi teringat keadaan di kampung di Riam Panjang, Kapuas Hulu, saya tahun 1980-an awal. Beginilah keadaannya. Kalau malam hari orang berkumpul di rumah pemilik TV. Nonton. Waktu itu orang yang memiliki TV sangat terbatas. Hanya ada satu dua orang saja. Hanya orang-orang kaya yang bisa membeli TV, dengan parabola dan mesin TS –merek mesin sejenis diesel untuk menghidupkan listrik.
Nonton bersama walaupun repot – karena tidak bisa leluasa baring dan tidak leluasa memilih tontonan yang sesuai dengan keinginan pribadi –pastinya sesuai selera pemilik TV, tetapi banyak asyiknya. Bagi saya sangat mengesankan. Saya masih mengingat masa-masa itu. Sekarang keadaan itu tidak ada lagi di Riam Panjang. Listrik PLN sudah masuk. Sudah banyak orang yang punya TV.
Tapi, malam itu setelah bercakap-cakap dengan bu kades dan suaminya, saya langsung memilih tidur. Saya ingin istirahat. Saya telah melalui hari yang sangat melelahkan sejak dari Batu Ampar. Dan, besok saya masih harus melakukan banyak hal. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 01.40 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Selasa, 06 Mei 2008
Matahari Pagi di Teluk Batu Ampar
Diposting oleh Yusriadi di 08.51 0 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (5)
Oleh: Yusriadi
Pagi. Pukul 05.00.
Kamar yang saya tempati benar-benar istimewa. Dari kamar ini saya mengintip gerakan matahari. Saya mengabadikan matahari terbit. Beberapa kali. Hasilnya lumayan. Saya puas.
Setelah agak terang saya turun ke bawah. Saya berjalan ke arah dermaga satu, melewati lorong. Ada pasar pagi. Aneka sayur, ikan, kue-kue dijual di sini. Saya kira penjualnya kebanyakan orang Madura.
Saya melangkah menuju daratan.
Suasana kampung Batu Ampar agar beda dari banyak kampung yang pernah saya kunjungi. Suasananya terasa agamis.. Pada waktu Subuh saya dengar suara mengaji, tarhim, bacaan shalawat.
Ketika saya jalan di jalan utama Batu Ampar saya melihat beberapa orang berkopiah putih, beberapa lagi berjenggot. Perempuan berkerudung.
Saya juga melihat ada beberapa ruko milik orang Tionghoa. Tetapi tidak banyak. Tidak sebanyak orang Madura. Kabarnya orang Madura cukup dominan di Batu Ampar ini. Mereka cakap berdagang.
Saya membeli pensil, peraut, penghapus, dan baterai – untuk bekal pengumpulan data, di toko orang Cina, tidak jauh dari ‘terminal ojek’ di simpang pasar. Toko itu baru buka. Saya adalah pembeli pertama.
Setelah itu saya kembali ke penginapan.
Ketika saya melewati lorong pasar dekat pintu masuk ke penginapan, Mbah memberitahu saya ada sopir taksi menunggu.
Kami bersalaman. Memperkenalkan diri.
Lalu dia menceritakan tentang Sungai Karawang. Tempat itu menurutnya cukup jauh, dua jam perjalanan. Dia menyebutkan perjalanannya ke sana mahal. Untuk minyak saja diperlukan lebih kurang Rp 100 ribu. Tambah lain-lain. Dia minta Rp 300 ribu.
Saya agak terkejut dengan harga itu. Bandingan dengan bayangan saya tadi cuma Rp 75 – 100 ribu. Rp 300 itu mahal.
Saya mencoba menawar dengan menceritakan bahwa menurut informasi yang saya peroleh, seharusnya biaya tidak lebih dari Rp 100 ribu. Saya juga menyebut nama orang yang saya kenal bekerja di Batu Ampar.
Saya menawar biaya Rp 150 ribu. Saya sebutkan pekerjaan saya dan apa yang saya akan lakukan di Sungai Karawang.
Namun dia tak bergeming. Padahal kalau dia mau Rp 200 ribu mungkin saya akan ikut dia.
Dia lantas menyarankan saya menunggu speed yang ke Telok Melano, pukul 10 pagi atau tunggu motor air sore. “Kalau ikut motor air bisa pilih yang ke Paket juga. Banyak,” katanya.
“Ada yang jam 10 pagi? Mengapa sebelumnya tidak ada yang memberitahukan mengenai speed yang berangkat pukul 10 pagi ini?” tanya saya.
Sungguh saya tersentak mendapat informasi ini. Informasi yang saya peroleh, saya baru dapat ke Sungai Karawang pada sore hari. Ini, pagi hari. Kalau berangkat jam 10 pagi, tak perlu saya sewa taksi. Bayangkan, sekarang pukul 07-an pagi, kalau berangkat pukul 10.00 pagi, berarti saya hanya perlu tunggu 2 jam lebih lagi. Bayangkan, ratusan ribu bisa dihemat!
Karena itu, saya sangat berterima kasih atas kebaikan sopir taksi itu. Kalau dia berniat tidak baik mungkin saya dimakannya.
Tuh, ini bukti bahwa di dunia ini masih banyak orang baik.
Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 08.50 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Kamis, 01 Mei 2008
Wajah Pulau Batu Ampar
+copy.jpg)
Kota kecil Batu Ampar terletak di simpang tiga Kubu - Teluk Batang - Padang Tikar. Letak kota ini tepat di kaki bukit kecil. Kota ini menjadi kota transit motor angkutan air jurusan Telok Melano (Ketapang) - Rasau Jaya. Foto Yusriadi.
Diposting oleh Yusriadi di 08.00 2 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (4)
Oleh: Yusriadi
Setelah Isya, saya turun ke lantai bawah. Mencari makan.
Di rumah makan ini ada cukup banyak pilihan. Ikan, udang, ayam, tahu, tempe, dll. Saya tidak tahu, masakan apa namanya.
Pemilik warung juga tidak tahu. Malah mereka bingung ketika saya tanyakan, makanan-makanan yang ada itu ciri masalah komunitas mana.
Saya memilih udang.
Setelah itu, saya membawa piring keluar rumah makan. Saya memilih duduk di kursi kayu di luar ruangan. Tempat penumpang menunggu motor penumpang.
Saya pikir di luar lebih segar. Saya dapat melihat bulan di langit. Saya dapat menikmati hembusan angin laut di malam hari.
Di samping saya ada lelaki tua. Dia sedang memotong tali plastik (tali rafia) dan menyimpul ujungnya. Saya tahu tali itu untuk mengikat kantong plastik es. Saya kira lelaki tua ini adalah anggota keluarga pemilik penginapan atau pemilik rumah makan.
Sambil makan saya mengajaknya ngobrol. Dia memperkenalkan diri sebagai Mbah. Terkaan saya salah. Dia bukan anggota keluarga. Ternyata dia pekerja di sini. Sudah lebih 30 tahun dia membantu di sini. Sejak muda. Dia menekankan kata “membantu” karena selama bekerja dia tidak digaji. Tidak ada hitung-hitungannya.
Dia tidak bisa pindah. Dia juga tidak bisa berhenti. Pemilik warung yang dipanggilnya Pak Haji sangat baik, tidak mengizinkan dia berhenti. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga Pak Haji. Setiap bulan dia pulang ke kampungnya di sekitar Batu Ampar juga, menjenguk istri. Sekaligus menyerahkan uang yang diberikan Pak Haji.
Saya membayangkan ikatan ‘kerja’ antara Pak Tua ini dengan Pak Haji, sangat tradisional. Didasarkan pertimbangan saling membantu dan kemudian saling tergantung.
Di sini tugas Pak Tua melayani orang yang ingin membeli kelapa parut.
Sekarang pasti sulit menemukan situasi seperti ini. Saya merasakan situasi psikologis yang sulit yang dihadapi Pak Tua. Tetapi saya memahami situasi ini karena dahulu di kampung saya di Riam Panjang, Kapuas Hulu, hal seperti ini biasa. Orang bekerja tidak dibayar. Orang bersedia mengabdi kepada para ‘juragan’, atau orang kaya di kampung. Membantu seberapa yang dapat. Orang yang dibantu juga bersedia memberikan sedapat mungkin apa yang bisa dia berikan. “Harga” tolong menolong ini tidak bisa dinilai dengan materi. Sebaliknya sekarang, orang mengukur semuanya berdasarkan harga material. Tidak ada lagi pengabdian seperti itu.
Saya juga bertanya tentang Sungai Karawang. Sama seperti cerita Fadhli, Mbah memberitahu saya kemungkinan menunggu motor air, menunggu speed atau menggunakan taksi. Mbah mengatakan dia akan membantu saya menghubungi taksi.
“Jam 4 saja pergi. Biar sampainya pagi,” katanya.
Saya terperanjat mendengar saran Mbah. Ya, jam 4 itu ‘kan waktu tidur. Enakan peluk guling. Lagi, saya kira berangkat sepagi itu sangat susah. Di mana saya sarapan? Saya pikir pasti di Sungai Karawang tidak ada warung makan. Saya mau sarapan dahulu di Batu Ampar!
Saya minta jam 07.00 saja.
Pak Tua mengangguk.
Saya selesai makan. Membayar. Lalu naik ke atas. Saya mempelajari lagi kuesioner. Lantas baca novel. Saya sempat duduk di teras penginapan, melihat suasana teluk Batu Ampar malam hari. Melihat lampu-lampu di tanah seberang. Melihat bintang yang berkelipan di langit. Semilir angin teluk mengingatkan saya pada banyak hal.
Saya jadi teringat flat Fahri dan Aisha yang menghadap ke Sungai Nil –yang dalam novel digambarkan keindahan yang luar biasa.
Waw, jarang saya sempat menghayal seperti ini. Saya takjub sendiri.
Rasanya memang tentram dan damai. Saya ingat masa muda. Saya ingat orang-orang dekat saya.
Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 07.59 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Minggu, 27 April 2008
Terminal Batu Ampar
.jpg)
Motor air jurusan Rasau Jaya - Telok Melano, saat 'bongkar' barang dan menurunkan penumpang di Batu Ampar. Motor air berhenti di Batu Ampar ini lebih kurang setengah jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Telok Melano. Saya mengabadikan gambar ini dari penginapan Al-Barokah, Batu Ampar. FOTO Yusriadi
Diposting oleh Yusriadi di 09.12 0 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (3)
Oleh: Yusriadi
Pukul 14.10 Wib, motor air yang saya tumpangi tiba di Kubu. Sebuah kota bersejarah di pantai barat pulau Borneo.
Motor air berhenti di pasar kecil. Juragan memberikan kesempatan kepada penumpang untuk membeli makanan. Ada yang membeli nasi. Ada yang membeli minuman. Ada yang membeli kue dan makanan ringan. Semua harus dibungkus. Waktu berhenti tidak lama.
Saya membeli nasi. Tadi belum makan siang. Kalau tunggu sampai di Batu Ampar, masih lama. Penumpang lain yang saya tanyakan, mengatakan, motor air baru tiba di Batu Ampar sekitar pukul 17.00 Wib. Menjelang malam. Kalau Batu Ampar seperti kota kecil di pedalaman mungkin waktu segitu sudah tutup. Laparlah awak!
Saya ikut gaya orang makan di motor air. Menghadap dinding, pura-pura tidak melihat orang lain. Sebab tidak semua makan. Paling basa basi mengajak makan.
Motor air bergerak.
Sepanjang perjalanan menuju Batu Ampar, beberapa kali motor air berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang dan barang. Di beberapa tempat, anak buah motor memunggah gula kelapa. Bagian depan hampir penuh.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB.
“Bapak turun di sini. Di depan itu Batu Ampar,”
Penumpang di sebelah saya memberitahu.
Saya melihat tempat yang ditunjuknya. Sebuah daratan berbukit. Di bagian teluknya terdapat rumah-rumah penduduk. Ada dua dermaga kecil. Dermaga pertama agak menjorok ke laut dibandingkan dermaga kedua.
Motor air merapat di dermaga kedua. Penumpang bagian depan berdiri. Semua ingin turun. Ada yang memunggah barang. Ada yang menuju warung.
Saya melihat ada penginapan. Barakoh di lantai dua pasar Batu Ampar. Di bagian bawahnya terdapat warung kopi dan warung makan.
Saya mencari pintu masuk. Seorang wanita agaknya pemilik warung memberitahu saya agar mengambil kunci di warung kopi.
Di sini, seorang anak muda –yang kemudian saya kenal bernama Fadhli, menyambut saya. Dia meberitahu ada banyak kamar. Dia menulis nama saya dalam buku tamu. Agak sulit dia menulisnya. Entah. Rasanya nama saya mudah dieja.
Lantas dia memberikan kunci kamar. Nomor 1. Dia tidak minta kartu pengenal. Dia juga tidak minta bayaran. Saya sedikit heran.
“Masuk lewat sebelah. Naik,” katanya memberi petunjuk.
Dia tidak mengantar saya menuju kamar, seperti biasa yang dilakukan banyak penginapan yang pernah saya datangi.
Saya mengikuti petunjuknya tadi. Tidak sulit. Lewat tangga, di lantai dua saya melihat seorang anak berpakaian sekolah, seorang perempuan dan seorang bapak tua. Ada 10 kamar memanjang di bagian kiri tangga. Sebuah tempat sembahyang. Ruangannya lebih kurang 7 x 4 meter. Menakjubkan. Saya belum pernah lihat ada penginapan sederhana menyediakan tempat sembahyang begitu luas. Di sudut yang lain di bagian kanan ada dua kamar mandi.
Saya mengangguk dan permisi melewati mereka.
Saya masih harus melalui lorong sembari melihat pintu kamar. Nomor 5,4,3,2,1 di sebelah kanan lorong. Nomor 6,7,,8,9,10 di sebelah kiri. Kamar saya, No. 1 berada paling ujung berbatasan dengan teras. Ada jendela nako yang memungkinkan saya dapat melihat keluar. Tempat yang sangat memuaskan. Saya sangat menyukai posisi kamar itu. Saya langsung dapat melihat teluk Batu Ampar; melihat kapal yang lewat, anak-anak yang mengejar kelayang dengan sampan, atau orang yang melintas di dermaga.
Saya memasukkan kunci, membuka pintu. Tempat tidur besar. Kasus kapuk. Ada 3 bantal. Ada meja. Cermin. Kipas. Saya menyalakan kipas. Membuka sebagian isi tas. Lalu merebahkan badan.
Melalui jendela nako, saya lihat Fadhli muncul di teras. Saya menghampirinya. Berbasa basi. Fadhli adalah anak pemilik penginapan.
Lalu saya bertanya tentang Sungai Karawang.
“Jauh tu,” katanya.
Fadhli menceritakan untuk mencapai Sungai Karawang hanya bisa menggunakan angkutan sungai; motor air atau speed. “Kalau pakai speed, siang besok. Kalau pakai motor air, sore besok,”
Saya tercekat. Saya membayangkan Sungai Karawang yang jauh. Saya membayangkan waktu saya yang terbuang.
“Kalau sewa motor air?,”
“Bisa, ada taksi. Tapi mahal,”
Saya terkejut. “Ada taksi?,”
“Ya, itu taksi,” kata Fadhli menujuk motor air ukuran kecil. Bobotnya 3-4 ton beratap.
Ampun! Saya terperangah. Motor air disebut taksi. Seumur-umur baru kali ini jumpa istilah seperti itu.
Mengapa? Karena motor itu biasanya memang disewa orang, bisa diminta ke mana-mana; tetapi umumnya perjalanan pendek di sekitar Batu Ampar. Sebelum bisnis kayu gulung tikar, taksi ini melayani penumpang dari kamp perusahaan kayu di hulu Batu Ampar – Pasar Batu Ampar. Setiap jam selalu ada penumpang. “Sekarang ini sepi. Tidak ada penumpang,” kata Fadhli.
Menurut pengetahuan masyarakat, bisnis kayu di Batu Ampar mati sejak ada tim dari Jakarta. Tim ini tidak bisa diajak kompromi. Kayu-layu tidak bisa masuk. Suplai terhenti. Perusahaan tutup. Karyawan di-PHK. Orang yang bekerja di kamp kembali ke tempat asal, hengkang dari Batu Ampar.
“Jadi, kalau pakai taksi, kira-kira berapa?” saya bertanya lagi.
Fadhli tidak bisa menyebutnya.
“Apakah Rp 50 ribu?”
Fadhli diam.
“Rp 70 ribu?”
“Mahallah pokoknya,” Dia tidak bisa menyebut angka.
Saya tidak bisa mendesak.
“Kalau bisa Rp 70 ribu, saya mau pakai. Ada kenal?,”
Bersambung
Diposting oleh Yusriadi di 09.05 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Minggu, 20 April 2008
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (2)
Selasa 25 Maret 2008. Pukul 09.40 saya berangkat dari Pontianak. Ngojek teman. Kenalan lama. Pikir-pikir sebenarnya mau pakai oplet. Tetapi, saya khawatir waktu di perjalanan lama, dan terlambat sampai di terminal Rasau Jaya.
Saya ingat pukul 11 harus sudah ada di sana, kalau tidak mau ketinggalan motor air –atau tepatnya kalau tidak mau tertunda satu hari. Sewaktu saya pergi ke Kubu beberapa bulan lalu saya sempat sawan. Sejak naik naik oplet Jeruju – Pasar, saya sudah panik. Opletnya berjalan lambat mencari penumpang. Bayangkan jarak cuma 7 kilometer ditempuh perjalanan 30 menit. Setelah itu di terminal bayangan, naik oplet jurusan Pasar - Sungai Raya.
Di dalam oplet harus menunggu lagi, sampai oplet terisi penuh. Kalau baru satu dua penumpang saja, biasanya oplet ogah bergerak. Rugi minyak. Mereka tidak pernah merasa rugi waktu seperti kita para penumpang.
Dari terminal Sungai Raya menuju Sungai Durian. Oplet juga bergerak lamban. Sesekali berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Setelah itu, di teminal Sungai Durian kita menunggu lagi. Bis kecil baru bergerak kalau sudah penuh. Mau tunggu 10 menit, 20 menit, sopir tidak peduli.
Pengalaman itu membuat saya pikir lebih baik pakai motor. Kalau pakai motor, dari Pontianak waktunya bisa lebih cepat. 1 jam sudah sampai. Tidak ada kata menunggu.
Sampai di terminal Rasau Jaya sekitar pukul 10.30. Masih ada 30 menit. Saya singgah di warung. Minum.
“Speed. Ke mana?” seorang pemuda menawarkan jasa. Sekaligus bertanya.
“Batu Ampar,” kata saya.
Dia memberitahukan masih ada speed kecil untuk 5 penumpang yang melayani rute ini. Speed 200 PK yang mengangkut 18 penumpang sudah berangkat pagi. Biayanya sekitar Rp 90 ribu. Penumpangnya baru satu. Kalau sudah ada lima penumpang, barulah speed berangkat.
Saya menyampaikan terima kasih atas tawaran itu. Saya memilih naik motor air. Hanya menunggu 20 menit lagi. Sedangkan kalau pakai speed, saya harus menunggu waktu yang tidak jelas. Hal seperti ini kesannya seperti kata orang Melayu, menunggu sungai tak berhulu.
***
Menjelang pukul 11. 00, saya naik motor air. Saya memilih duduk di bagian depan. Waktu pertama kali naik motor air ke Kubu, saya juga memilih tempat itu. Duduk di bagian depan lebih enak karena dari tempat itu saya bisa lebih cepat melihat ke depan. Lagian, di depan, suara mesin motor agak mendingan dibandingkan di bagian kemudi. Dari bagian kemudi, suara mesin motor lebih nyaring terbawa angin.
Penumpang motor air kali ini lebih ramai dari biasanya. Menurut penumpang di samping saya, sekarang musim sembayang (sembahyang) kubur. Banyak orang pergi ke kampung, atau sebaliknya banyak orang pergi ke kota, mengunjungi keluarga mereka. Saya mengangguk. Walaupun rada aneh juga karena kalau saya perhatikan penumpang motor yang bermata sipit dan berkulit putih jumlahnya bisa dihitung dengan telunjuk. Yang banyak adalah penumpang berkulit hitam dan bermata bulat. Tetapi, ya saya berprinsip, pemali membantah orang yang memberikan informasi. Terima saja, karena kamu tidak tahu!
Tetapi, motor air juga tidak berangkat seperti yang dijadwalkan. Molor setengah jam. Entah apa yang ditunggu.
Motor air bergerak. Suara mesin menggelegak. Bergerak perlahan membelas sungai.
Saya meminjam koran pada penumpang di samping kanan saya. Dia membaca berita olahraga. Saya ingin membaca juga.
Teman di sebelah kiri saya cetak-cetik SMS. Sesekali saya lihat dia berbicara dengan penumpang di sebelah kiri dia. Tetapi ada kalanya dia menyorongkan kepalanya mengintip berita surat kabar yang saya baca.
Setelah saya selesai saya serahkan kepada dia. Selanjutnya saya meminta halaman lain kepada penumpang di samping kanan.
Semua halaman koran saya lahap. Ada beberapa berita menarik. Selesai.
Lantas saya meraih novel dari dalam tas. Setiap ke lapangan saya bawa bacaan. Biasanya ada waktu banyak. Ya, seperti sekarang-lah.
Novel Buruan Deh, karangan Isma. Pelajar MTsN 2 Pontianak. Saya kagum pada bocah ini. Kecil-kecil sudah buat novel. Saya juga kagum pada orang yang memberinya motivasi dan memfasilitasinya. Hebat.
Sudah sejak satu tahun lalu saya melihat novel ini. Dilaunching di Toko Gramedia Pontianak tahun 2007. Malang, saya belum sempat membaca. Saya hanya sempat mempromo buku ini kepada mahasiswa saya.
“Lihat ini, ini buku yang ditulis anak MTsN. Masa’ kita yang sudah kuliah tidak bisa buat seperti ini,” begitu saya katakan pada mereka.
Ketika sekarang saya membaca, saya teringat buku Lupus, karya Hilman. Buku ini sangat populer di tahun 1980-an. Gayanya kurang lebih sama. Kocak. Bahasa yang dipakai bahasa pasar. Saya cengar cengir ketika membacanya. Saya lihat penumpang di sebelah saya heran melihat sikap saya.
Tetapi saya tidak peduli. Yang saya pikir, saya harus mencari buku Lupus untuk mencari jawaban: apakah benar ada persamaan itu. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 07.46 2 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
Kamis, 17 April 2008
Motor Air ke Batu Ampar
.jpg)
Motor air yang saya gunakan menuju Batu Ampar, selain mengangkut penumpang, juga mengangkut barang. Termasuk kendaraan penumpang. Motor air ini memiliki kapasitas lebih kurang 20 ton. Motor air ini berangkat dari Rasau Jaya, pukul 11.00 WIB, tiba di Batu Ampar pukul 17.00 WIB. Foto Yusriadi/Borneo Tribune
Diposting oleh Yusriadi di 10.00 0 komentar
Label: Batu Ampar, FOTO
Perjalanan ke Sungai Karawang, Batu Ampar (1)
Oleh: Yusriadi
“Bang Yus, kita tidak jadi ke Kapuas Hulu. Pindah ke Sungai Karawang, Batu Ampar. Menurut Jakarta, Kapuas Hulu terlalu jauh,” kata Nur Iskandar hari itu.
Nur Iskandar adalah teman sekaligus bos saya di Borneo Tribune. Lengkapnya H. Nur Iskandar, SP. Umurnya setahun lebih muda dari saya. Tetapi, gaya kepemimpinannya hebat. Dia juga yang menjadi pemimpin 'proyek' saya ke Sungai Karawang.
Saya mengangguk saja mendengarnya. Tidak masalah, walau sebenarnya saya sudah terbayang-bayang kampung Nanga Embaloh. Saya yakin, mimpi melihat masyarakat pedalaman ini bisa kesampaian suatu saat nanti. Bukan sekarang.
Saya juga tidak merasa akan jadi masalah jika saya pergi ke Sungai Karawang, sekalipun tempat itu masih asing. Kadang kala justru pergi ke tempat asing jauh lebih mengasyikkan dibandingkan pergi ke tempat yang biasa kita kunjungi.
Karena itulah bagi saya ditugaskan ke Kapuas Hulu oke, ke Batu Ampar juga oke. Perjalanan ke lapangan, jauh atau dekat tidak jadi soal.
Saya selalu antusias kalau cerita turun lapangan. Banyak hal bisa diperoleh. Banyak pengalaman baru. Apalagi kalau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Tidak bisa dinilai.
***
Kami –saya dan Nur Is, mencari informasi tentang Sungai Karawang. Tanya sana- sini. Ada beberapa yang tahu. Banyak yang tidak tahu. Ada beberapa orang yang dapat memberikan gambaran mengenai tempat ini. Tetapi, tidak ada yang dapat memberikan gambaran detil. Mengapa? Saya jadi penasaran.
Saya jadi teringat pengalaman kami sewaktu mencari nama Cali, salah satu kampung di Ketapang. Cali dipilih karena nama ini sudah pernah direkordkan penulis kolonial ratusan tahun lalu, memiliki variasi linguistik yang berbeda dibandingkan kampung Melayu lain. Saya dan Dey Ari Asfar ditugaskan datang ke kampung ini. Saya ditugaskan melihat bentuk bahasa, sedangkan Dedy ditugaskan merakam sastra lisan.
Informasinya macam-macam. Orang Ketapang kota hanya tahu Cali sebagai tempat angker. Banyak ilmu hitam. Ada cerita tentang tentara yang menembak buah kelapa tanpa izin; kelapa itu jatuh, namun kemudian naik lagi ke atas. Ada cerita orang Laur yang datang mencari buah durian; pada malam hari banyak sekali buah durian masak yang jatuh, namun, ketika dicari tidak ada. Menunggu sepanjang malam hanya dapat satu dua buah durian!
Walaupun cerita itu seram namun cerita itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut. Tidak tahu siapa yang sebenarnya mengalami peristiwa misteri itu. Tidak ada yang bisa memberikan gambaran yang jelas mengenai tempat ini.
Tentang Sungai Karawang tidak ada cerita misteri. Tidak ada orang yang dapat menggambarkan berapa waktu perjalanan, atau angkutan apa yang dapat digunakan untuk mencapai tempat ini.
“Sungai Kerawang itu dekat Batu Ampar. Tidak jauh,”
“Kalau tidak salah bisa pakai ojek dari Batu Ampar,”
“Kamu bisa pakai motor air dari Rasau, bilang saja turun di Sungai Kerawang,”
Itu saja petunjuk orang.
Tetapi lumayan. Dengan informasi yang sedikit ini saya memilih masuk ke Batu Ampar saja lebih dahulu. Saya pikir, bila sudah sampai ke titik terdekat akan lebih mudah mengatur langkah selanjutnya. Spekulasi saja dahulu!
Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 09.39 0 komentar
Label: Batu Ampar, Perjalanan
.jpg)
