Oleh: Yusriadi
Selasa lalu, saya dan beberapa rekan melakukan wawancara dengan Pak Nyirum Oreng, pengurus adat Kanayatn di Lintang Batang, Kubu Raya. Kami menggali pengetahuan beliau seputar adat istiadat di daerah tersebut.
Pak Oreng, lelaki berumur lebih 60 tahun itu melayani kami dengan ramah. Beliau juga sangat terbuka. Pengetahuan beliau tentang adat sangat dalam dan mengagumkan.
Saya kira keramahan beliau itu karena beliau orang gaul dan suka bertukar pikiran.
Saya katakan orang gaul karena beliau memiliki jam terbang sangat tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain, baik sesama orang Lantang Batang, maupun dengan orang luar. Beliau mengaku keturunan Bugis dari kakeknya yang bernama Samad. Beliau pernah diangkat anak oleh orang Madura, dan itu pula menyebabkan dia memiliki nama “oreng”. Beliau juga belajar silat dari orang Melayu, belajar perobatan dari orang Cina, dll.
Tetapi lebih dari sekadar mengerti berkomunikasi, saya kira keramahan beliau juga disebabkan karena bersama kami ada muridnya bernama Atalia. Atalia belajar silat kepada Pak Oreng. Dialah yang menjadi pemandu kami di Lintang Batang.
Setelah panjang lebar wawancara itu, kami pamit. Agar komunikasi lebih mudah, saya meminta nomor handphone (HP) beliau.
Pak Oreng menyeluk koceknya dan mengeluarkan HP. Saya lihat sebuah HP sederhana jenis Nokia.
“Coba lihat nomor saya di situ,” katanya seraya meletakkan HP di atas meja yang membatasi kami.
“Cari ada nama saya di situ,” tambahnya.
Tentu saja saya tidak enak melakukannya. Atalia segera mengambil inisiatif meraih HP itu dan membukanya.
“Nek, banyak sms ini,” kata Atalia.
Atalia sejak awal memang memanggil Pak Oreng dengan Nenek. Nenek atau Nek adalah panggilan untuk kakek dalam masyarakat Kanayatn.
Pak Oreng meminta Atalia membacanya. Ada sms dari wartawan TV yang membatalkan rencana shooting atraksi silat Pak Oreng, dll. Atalia terkejut karena sms itu sudah agak lama terkirim, dan belum dibaca-baca oleh Pak Oreng.
Rupanya, Pak Oreng belum biasa membaca sms. HP bagi beliau lebih banyak untuk berkomunikasi lisan. Jadi, jika ada panggilan masuk, beliau menjawabnya, atau sebaliknya menghubungi nomor yang dituju.
Apa yang terjadi pada Pak Oreng mengingatkan saya pada Emak di rumah. Mungkin umur mereka kurang lebih. Emak juga pegang HP sejak beberapa tahun ini. HP Emak juga jenis sederhana.
Emak juga hanya biasa menggunakan HP untuk komunikasi lisan. Jika ingin kontak kami langsung telepon. Jangan kirim sms, karena Emak tidak pernah buka sms. Sms masuk baru dibaca kalau sudah ada anak atau cucunya yang membukanya.
Kami sudah coba menunjukkan cara membuka sms, menulis dan mengirimnya. Namun, Emak merasa tidak mudah. Emak lebih suka yang praktis. Pilihan jenis HP sederhana juga disebabkan pertimbangan praktis itu.
Saya membayangkan mungkin hari ini Pak Oreng dan Emak tidak biasa dengan sms, tetapi beberapa tahun mendatang mereka mungkin akan menjadi biasa. Tidak ada yang mustahil jika kebutuhan komunikasi di masa depan menuntut hal seperti itu. Asumsi ini muncul karena sebelum ini, HP bagi mereka juga bukan barang yang biasa. HP baru tergenggam oleh mereka dalam beberapa tahun ini, setelah menara dan jaringan telepon seluler dibangun di pelosok nun jauh di sana. Semua ini sesungguhnya tidak pernah saya dibayangkan terjadi saat saya menghayal 20 tahun lalu.
Sabtu, 20 November 2010
Handphone Pak Oreng
Diposting oleh Yusriadi di 04.26 1 komentar
Label: Budaya Kalbar, Dayak, Suara Enggang
Belajar dari Orang Teluk Bakung
Oleh Yusriadi
Selasa lalu, saya bersama Juniawati, Hardianti dan Atalia berkunjung ke Teluk Bakung. Kampung ini terletak di ujung aspal jalan trans-Kalimantan dari arah Pontianak. Dari Pontianak kira-kira satu setengah jam perjalanan menggunakan motor.
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan hal-hal teknis berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan “Koran Perempuan” yang dikelola Juniawati dan Hardianti, plus kawan-kawan mereka di Pusat Studi Wanita (PSW) STAIN Pontianak.
Saya diajak Juniawati karena pada kegiatan hari Minggu besok, diminta menjadi pendamping saat pelatihan. Ca’-ca’annya, mengajar ibu-ibu di Teluk Bakung menulis untuk koran.
Kami berhenti di depan rumah kepala dusun, Pak Rita panggilannya. Rumah itu, wow… sungguh sangat besar dan megah. Modelnya juga modern. Saya mengagumi model yang dipilih, sekaligus mengagumi pemilik rumah yang pasti memiliki modal besar. Ratusan juta!
Kami berkenalan dengan Pak Gita. Kekaguman saya berlanjut. Kepala Dusun itu ternyata masih muda. Menurut saya, orang muda yang dipilih menjadi pemimpin pastilah orang muda yang istimewa. Dan benar, panjang cerita, ternyata beliau sedang kuliah ilmu hukum di Fakultas Hukum, Universitas Panca Bhakti Pontianak.
Mengapa kuliah lagi? Ternyata Pak Gita mau kuliah karena ingin memperoleh ilmu sehingga bisa mengadvokasi masyarakatnya. Beliau ingin masyarakatnya lebih maju, berpendidikan. Pilihan bersekolah lagi adalah salah satu upaya untuk memberi contoh kepada warganya.
Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap masyarakatnya sekarang, dan usaha-usaha apa yang sudah dilakukan untuk mereka itu selama ini.
Pandangannya soal pluralisme juga diungkap. Saya menangkap kesan bahwa orangnya sangat terbuka dan pikirannya sangat maju.
Setelah itu, kami berkunjung ke masjid Muhajirin di ujung kampung. Kami bertemu dengan ustadz di sana. Zulkifli namanya. Dia lulusan STAIN, dan ternyata saya pernah mengajarnya.
Saya sempat terpana. Oh, rupanya sewaktu mengajar saya tidak dapat melihat mutiara itu. Ya, dia adalah mutiara. Saya baru tahu Zul ini mengabdi di Teluk Bakung. Kok mau? Padahal dia sempat mengajar di beberapa tempat di Pontianak dan sangat pandai dalam soal computer. Dia sekarang juga sedang menyelesaikan studi S-2 di Jawa.
Beberapa waktu lalu dia membangun pesantren sederhana. Modalnya Rp 2 juta! Angka yang membuat saya terkejut. Benar-benar terkejut. Bisa ya? Lebih mengejutkan lagi mendengar cerita bagaimana perjalanan pesantren itu. Saya melongok ke tempat tinggal santri dan juga tempat tinggal ustadz. Keadaannya benar-benar sederhana. Jangankan kasur empuk, listrik saja tidak ada. Anak-anak tidak dikenakan biaya. Biaya sehari-hari? Sesekali mereka dapat bantuan. Tapi, pada saat yang lain dana dari ustadz sendiri. Zul mengalokasikan dana beasiswa pendidikan S-2-nya untuk makan santrinya.
“Bagi saya yang penting anak-anak di sini mau belajar, saya sudah senang,” katanya.
Atalia, yang datang bersama kami, juga membantu mengajar di sini sembari kuliah di STAIN Pontianak.
Menjelang siang, kami mampir di rumah Pak Rido, salah seorang pengurus masjid Muhajirin. Beliau adalah seorang mualaf. Setelah kami memberitahukan program kami di masjid itu, kami bicara banyak hal. Salah satu di antaranya adalah tentang pengembangan masjid dan lokasi itu.
“Pohon-pohon yang ada di lokasi ini harus dipertahankan. Tidak boleh ditebang. Biar generasi kita kelak tidak kehilangan pengetahuan mereka tentang kekayaan alam di sini,” katanya.
Menurutnya pohon-pohon yang dibiarkan itu akan menjadi daya tarik tempat ini dibandingkan tempat yang lain.
Saya terpana ketika beliau membayangkan lokasi ini kelak akan dikembangkan menjadi tempat pelatihan sambil refresing bagi anak-anak sekolah di kota.
Kejutan saya pada masyarakat di sini belum berakhir. Setelah dari tempat Pak Rido kami bertemu Pak Ije’, atau Nyirum Oreng. Beliau adalah tokoh adat di sini. Beliau juga boleh dianggap sebagai ahli perobatan. Beliau pernah menjadi pengurus kampung, sebagai kebayan beberapa puluh tahun lalu.
Tokoh berumur 62 tahun ini membuat saya tidak mau pulang dari Teluk Bakung. Saya ingin menggali pengalaman dan pengetahuan beliau. Pengetahuan yang beliau miliki luasnya tidak terukur, dalam tak terkira.
Tentang adat, dia pakarnya. Hukum adat diketahui dan beliau menjadi pengadil setiap perkara. Satu buku ditulis pun tak akan cukup untuk mencatat pengetahuan adatnya itu.
Beliau juga ahli dalam pengobatan. Kepakaran beliau tidak saja diakui orang di sekitarnya, tetapi juga oleh orang-orang lain. Bahkan orang yang meminta bantuannya dari dari mana-mana. Sistem pengobatan beliau agak berbeda dibandingkan kebanyakan tukang obat tradisional. Beliau menggunakan bahan-bahan daun, akar, kulit, dan batang tumbuhan yang ada di sekitarnya.
Beliau juga pegiat seni dan budaya. Kemampuannya bersilat sempat diperlihatkan kepada kami. Geraknya indah dan lincah. Beliau juga dapat memukul gendang dan gong. Beliau aktif di sanggar Bantola. Sanggar ini beberapa kali berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan di level provinsi. Ada beberapa piala dibawa pulang sanggar ini.
Beliau bisa menganyam ambenan. Beliau membuat topeng. Ketika beliau menunjukkan ambenan yang dianyam sekaligus menjelaskan nama-nama motif dalam anyaman itu, saya serta merta meminta izin belajar menganyam pada beliau di masa mendatang. Puji tuhan, beliau berkenan.
Soal kearifan, wawasan, dan visi beliau juga luar biasa. Kearifan itu dapat dilihat bagaimana beliau menangani perkara-perkara hukum di wilayahnya. Visi beliau juga bisa dilihat dari apa yang beliau lakukan. Salah satu yang berkesan pada saya adalah ketika beliau menunjukkan garam jepang. Garam itu berusia 40 tahun. “Saya menyimpannya karena saya pikir setelah garam baru masuk, garam Jepang pasti akan hilang. Kalau hilang tidak ada lagi contoh yang bisa kita lihat”.
Beliau memikirkan hal seperti itu sejak dulu. Luar biasa.
Kearifan dan wawasan serta pengetahuan dan pengalaman beliau mengingatkan saya pada Tok Olah, Zahry Abdullah, dulu. Datok kami itu memiliki pengetahuan yang luas dan dalam, serta memiliki visi yang kuat. Sayangnya, saya tidak berkesempatan belajar semua itu dari beliau. (*)
Diposting oleh Yusriadi di 04.24 0 komentar
Label: Dayak, Menulis, Suara Enggang
Jumat, 09 April 2010
Ntawak Mate
Oleh: Yusriadi
Ketika Pak Paimun, kepala SMA Negeri 1 Kembayan mempromosikan kampung Ntawak Mate, saya menanggapinya dengan antusias. Kami (saya dan Ibrahim, dosen STAIN Pontianak) memang ingin mengunjungi kampung Dayak di sekitar Kembayan.
“Terlanjur sudah jalan begini, kami ingin jalan juga ke kampung orang Dayak”.
Menurut Pak Paimun, kampung Dayak ini unik karena masih mempertahankan kepercayaan lama. Salah satu kepercayaan mereka yang beliau sebutkan adalah kepercayaan pada kekeramatan ular sawa’. Katanya, ada ular sawa’ besar di kampung ini. Tidak boleh diganggu.
Beliau membantu mengatur perjalanan kami ke sana. Dundok, S.Pd dan Kuari, SP, guru muda di SMA Kembayan yang diminta menjadi penunjuk arah. Dundok asal kampung Tanap, sebuah kampung beberapa kiloa meter sebelum Kembayan dari arah Pontianak. Tanap terletak di pinggir jalan raya ke Entikong, perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak.
“Dundok tahu bahasa di sana. Bahasa di sana sama dengan bahasa dia”.
Saya menyetujui pilihan Pak Paimun. Sangat baik memang membawa teman yang mengerti bahasa penduduk kampung yang akan dikunjungi. Dia bisa menjadi ahli bahasa. Biasanya pendamping seperti ini sangat diperlukan dan sangat membantu.
Sedangkan Kuari, teman dekat Dundok. Kata Dundok, Kuari suka berkunjung ke kampung-kampung.
Ternyata pada saat hari keberangkatan, orang yang ikut berkunjung ke Ntawak Mate bertambah. Ada 6 guru SMA N 1 Kembayan, 1 guru PGRI dan 1 guru SMA Noyan, yang ikut. Selain Dundok dan Kuari, dalam rombongan itu ada Husna, Ahmat, Arifin, Edi, Darto, dan Yanto.
Saya kira ini kunjungan yang luar biasa. Saya menyebutnya ekspedisi Guru SMA N 1 Kembayan. Kuari yang memboncengi saya sempat tertawa mendengarnya.
Konvoi motor kami melalui jalan beraspal ke arah Balai Sebut. Jalannya, semula beraspal. Namun sekarang di sana sini aspalnya rontok. Maklum, aspalnya tipis benar. Saya tidak tahu apakah aspal tipis ini karena proyeknya kejar panjang jalan, atau kontraktornya yang mau cari untung besar dan pengawasnya setali tiga uang. Karena aspalnya banyak yang sudah terkelupas, akhirnya jalan ini lebih mirip jalan tanah campur batu. Jalan pekerasan. Ini pula yang menyebabkan jalan ini agak berdebu.
Tetapi, jalan begini masih lumayan. Karena kemudian, setelah melalui kampung Terusan, jalannya bukan lagi jalan raya yang begitu. Jalannya jalan setapak.
Ya, motor kami melalui jalan setapak. Kiri kanan semak belukar. Motor kami melalui sungai yang sebagiannya tidak ada jembatan. Nyebur ke sungai melalui bagian sungai yang dangkal. Yang paling mengesankan, kami melalui beberapa bagian dari jalan sekeping papan.
Saya merasa ‘sejuk pantat’ ketika motor melintas di atas kepingan papan itu. Bayangkan jika terpeleset. Uh, calar-calar mesti. Kalau nahas mungkin melepuh kaki terkena knalpot atau patah tulang tertimpa motor. [Ketika pulang motor Husna dan Ahmad sempat terpeleset dan mereka hampir menabrak rumpun bamboo].
Tapi untung, Kuari cukup pacak membawa Kingnya di jalan sekeping papan ini. Kala hampir terpeleset, kakinya yang panjang dapat menjadi tongkat motor.
Hanya saja motor Kuari menyerah ketika naik di tanjakan yang saya kira panjangnya lebih 500 meter dengan kemiringan antara 40-50 derajat. Saya terpaksa loncat dari motor dan menahan motor agar tidak mundur.
“Knalpotnya mau dicuci,” kata Kuari pasal motornya yang tak mampu mendaki bukit.
Perjalanan di medan yang berat memang sepala dengan ‘hasil’ kunjungan. Saya merasakan kunjungan kami luar biasa. Syukurlah berkesempatan datang ke Ntawak Mate.
Ya, kampung ini masih terisolir. Terpencil. Pengangkutan susah. Pasti kunjungan orang ke tempat ini juga jarang. Dari 8 orang local dalam rombongan kami, hanya Edi yang pernah datang ke sini. Yang lain, mengaku inilah kunjungan yang pertama. Bayangkan! Padahal, Ntawak Mate tidak jauh-jauh amat dari Kembayan.
Alhasil, karena itulah orang di sini tertutup dari orang luar.
Kampung ini juga memperlihatkan sentuhan pembangunan yang minim. Ada jembatan panjang yang menghubungan dua bagian kampung. Ada bangunan sekolah tiga local yang baru selesai direhab. Jalan-jalan kampung masih jalan tembok dicangkul. Keadaan kampung belum tertata. Saya juga terkesan ketika melihat begitu banyak babi berkeliaran. Beberapa di antara babi itu mendengus-dengus mendekati rombongan kami.
Saya meyakini tipikal masyarakat yang jarang bersentuhan dengan orang luar ketika melihat mereka, orang-orang kampung, sangat antusias melihat kedatangan kami.
Penduduknya sangat ramah. Sayangnya, karena mereka lebih banyak dengan bahasa local yaitu bermate-mate –salah satu bahasa dalam kelompok bahasa Bidayuh, saya jadi kurang nyambung.
Namun demikian, kunjungan ini telah menambah wawasan kami mengenai ada kampung di pinggiran dunia modern yang masih berkutat pada keterbelakangan. Kunjungan ini mengingatkan saya bahwa pemerintah masih harus lebih banyak berusaha memperhatikan semua rakyatnya, bukan hanya rakyat di perkotaan.
Diposting oleh Yusriadi di 10.02 2 komentar
Label: Dayak, Perjalanan, Suara Enggang
Sabtu, 30 Januari 2010
Mengenang Suman Kurik
Oleh: Yusriadi
“Pak Suman meninggal”.
Tanto Yakobus, Pimpinan Redaksi Borneo Tribune memberitahu saya kabar itu sekitar pukul 12.30 Selasa (112/1) kemarin. Saat itu, kami sedang rapat, dan kebetulan kami duduk bersebelahan dengan beliau.
Walaupun saya tidak dekat dengan beliau, dan sebaliknya beliau tentu tidak mengenal saya, namun, kabar ini telah mengejutkan saya. Mendadak. Seperti juga dikatakan Nur Is, General Manager Borneo Tribune, soal kematian beliau, kami tidak mendengar kabar soal beliau sakit.
“Ndak ada dengar beliau sakit, ya?”.
Saya bertanya pada Tanto.
“Mengapa?”
“Jantung”.
Bah! Jantung. Saya ingat sudah banyak sekali orang yang meninggal karena sakit itu. Terutama mereka yang besar-besar. Malam sebelumnya, saya malah menghadiri acara tahlilan memperingati tujuh hari meninggalnya ayah teman, yang juga meninggal tiba-tiba. Katanya, jantung.
Kami terdiam mendengar pemberitahuan Tanto. Lantas, saya mengingat-ingat tentang sosok ini. Menurut saya, beliau sangat mengesankan.
Saya pernah bertemu beliau dan berbicara dengannya, dahulu awal tahun 2000-an. Waktu itu, beliau masih menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sintang. Saya (bersama teman saya) bertemu beliau karena saya harus menyampaikan surat dari STAIN Pontianak, perihal penolakan Sintang terhadap lulusan D2 STAIN Pontianak.
Waktu itu, hari Jumat. Beliau mengenakan pakaian olahraga, putih hijau. Masih ada nampak bekas keringat.
Kami diterima di ruang kerja beliau. Penerimaannya simpatik. Dia mendengarkan penjelasan kami, dan mengatakan akan menerima lulusan D2 STAIN. Saya membandingkan, sikap beliau jauh sekali dibandingkan sikap orang Dinas Pendidikan dan BKD Kapuas Hulu di Putussibau. Di Putussibau, kami harus ‘berdebat’; dan mereka tetap ngotot tidak mau terima. Membandingkan sikap orang di Putussibau dan sikap Pak Suman, teman saya mengatakan:
“Itulah… Kadang saya pikir, lebih enak berkomunikasi dengan orang bukan Islam, dibandingkan orang Islam sendiri”.
“Makanya, kita tidak boleh melihat orang berdasarkan agama. Santun atau tidaknya orang, bukan karena dia beragama apa”.
Setelah itu, saya tidak pernah bertemu beliau lagi. Hingga suatu saat, saya mendengar beliau ditunjuk sebagai Plt Bupati Melawi. Melawi adalah kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Sintang.
Saya menganggap, penunjukkan Pak Suman, merupakan pilihan yang tepat.
Lantas kemudian, ketika Pak Suman menjadi calon Bupati Melawi empat tahun lalu, bersaing dengan beberapa nama, dalam hati saya meyakini: Suman layak dipilih karena dia memang memiliki kapasitas. Dan kemudian, beliau memang terpilih. Beliau unggul suara dibandingkan calon-calon yang lain.
Saya melihat, selama kepemimpinannya, Melawi, khususnya Nanga Pinoh, memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan. Saya melihat kota Nanga Pinoh di tahun 1993, 1998, 2003, 2006. Saya dapat menunjukkan kemajuan-kemajuan yang dicapai selama era Suman Kurik. Saya juga mengagumi beliau ketika beliau meluncurkan buku dokumentasi pemikiran dan pandangannya. Saya memang selalu mengagumi orang yang membuat buku, karena usaha seperti ini merupakan usaha besar dan bersejarah. Pasti, walaupun Suman Kurik telah tiada, tetapi pemikirannya tetap akan dibaca orang.
Beberapa bulan lalu, saya sempat memprediksikan bahwa Suman Kuriklah yang akan menjadi Ketua Partai Demokrat Kalbar menggantikan alm. Henri Usman. Dari sisi kapasitas dan ketokohan beliau sangat layak. Dari kemungkinan, dengan posisinya di Demokrat saat itu, Suman Kurik juga mungkin. Tetapi, kemudian prediksi saya salah, ternyata Muda Mahendrawan yang ditunjuk sebagai pengganti Henri.
Oleh sebab itu, menjelang Pilkada mendatang, saya masih mengandaikan Suman Kuriklah akan dipercaya melanjutkan kepemimpinan Melawi 5 tahun yang akan datang.
Teringat soal Pilkada ini, saya jadi teringat dinamika yang sedang terjadi di tubuh Demokrat. Suman, termasuk bakal penumpang perahu itu.
Saya sempat bertanya pada Tanto di mana sekarang Tim 9 Demokrat berada. Tim ini yang akan menentukan siapa yang akan menjadi bakal penumpang. Saya dengar, ada orang Demokrat dari Pusat yang sedang ada di Kalbar terkait urusan perahu politik dalam Pilkada 19 Mei 2010.
Pikir saya, apa mungkin soal penentuan siapa calon bupati Melawi yang akan menjadi penumpang perahu Demokrat, yang membuat jantung Suman ‘terkejut’. Tetapi Tanto membantah.
“Ndak…. Demokrat Melawi sudah jelas ke Suman Kurik”.
Lalu? Entahlah.
Saya masih tidak puas membicarakan tentang beliau. Membicarakan tentang kebaikan beliau dan pengharapan yang disandarkan padanya. Sungguh, menurut saya, beliau pergi dengan kesan yang baik. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi Tuhannya. Selamat Jalan Pak Suman.
Diposting oleh Yusriadi di 07.22 1 komentar
Label: Borneo Tribune, Dayak
Sabtu, 27 Desember 2008
BUKU BARU

Judul : Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat
Penyusun : Yusriadi
Tahun : 2008
Penerbit : STAIN Pontianak Press
Tempat Terbit : Pontianak
Diposting oleh Yusriadi di 01.38 0 komentar
Label: Buku, Dayak, Orang Melayu, Orang Tionghoa, Tentang Yusriadi
Tak Kenal Maka Tak Tahu: "MEMAHAMI KESUKUBANGSAAN DI KALIMANTAN BARAT"
Yusriadi
Tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak cinta. Pepatah ini berlegar dalam ingatan saya. Saya sering menggunakannya. Dahulu.
Terutama saat bicara di forum resmi di depan orang-orang. Saya memulai ungkapan ini sebagai ungkapan pembuka kata. Tidak ada makna mendalam yang resapi. Basa basi. Saya tahu, orang lain juga sering menggunakan ungkapan itu.
Ketika saya memilih judul “Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” untuk kumpulan tulisan saya yang dibukukan dan diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press (2008), saya teringat akan pepatah ini.
Beda dibandingkan sebelumnya, saya menggunakan kata-kata ini dan meresapinya.
Dalam pikiran saya, masalah kesukubangsaan di Kalbar harus dipahami. Orang harus berusaha tahu tentang komunitas lain, selain komunitas sendiri.
Pengetahuan ini penting karena latar belakang masyarakat Kalbar. Masyarakat Kalbar terdiri dari berbagai kelompok etnik, kelompok suku bangsa. Ada Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa. Ada lagi kelompok lain.
Orang Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa, perlu mengetahui tentang kelompok Dayak. Mereka perlu mengetahui ciri atau identitas Dayak. Mengetahui budaya, bahasa, dll. Semakin dalam pengetahuan, semakin baik.
Begitu juga sebaliknya. Orang Dayak, perlu mengetahui kelompok lain. Semua suku.
Pengetahuan yang terbatas akan menimbulkan praduga. Sebaliknya, pengetahuan yang cukup, pengetahuan yang baik dan mendalam tentu akan menghilangkan stereotip, akan menghilangkan praduga. Pengetahuan seumpama ini akan membantu orang saling memahami.
Saya membayangkan jika masing-masing saling memahami. Saya membayangkan jika kesalingpahaman bisa diwujudkan, bisa ditumbuhkembangkan sejak awal, sudah tentu penghargaan akan tumbuh.
Tidak perlu orang berkelahi karena mereka tidak mengerti orang lain. Tidak perlu orang ribut hanya karena mereka curiga, curiga pada sesuatu yang seharusnya tidak dicurigai. Ambil contoh yang paling sering digunakan orang, tentang carok di kalangan orang Madura. Di dalam budaya asal, carok dilihat sebagai sesuatu yang positif. Carok dilihat dalam konteks orang mempertahankan dan mengembalikan harga diri. Pertahanan berarti pasif. Hanya untuk membalas jika harga diri diserang. Bukannya memulai menyerang. Orang tidak memahami konteks carok. Orang tidak memahami mengapa carok dipertahankan dalam budaya orang Madura. Jika orang memahami dengan benar tentu tidak akan menganggap carok dari sisi negatif saja. Begitu juga sebaliknya, orang Madura yang mengerti tentang carok tentu tidak akan asal ‘pakai’ istilah itu untuk melegitimasi tindakan kriminal yang dilakukan.
Saya berusaha menerbitkan buku ‘Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” dengan harapan, buku ini bisa memberikan sumbangan untuk membangun saling memahami itu. Di dalam buku ini digambarkan tentang identitas, persebaran, dan budaya suku Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura dan Bugis. Ada harapan besar untuk masa depan, agar setiap orang menjadi lebih memahami diri dan orang lain dengan baik. Orang menjadi lebih mengerti. Orang menjadi lebih berpengetahuan. Orang menjadi lebih beradab.
Harap-harap kelak setiap orang bisa menebarkan cinta untuk orang lain. Setiap orang, kelak, bisa memandang orang lain sebagai bagian dari dirinya juga. Sama-sama orang-orang Kalbar, “orang diri’” atau “orang kita”.
Diposting oleh Yusriadi di 00.38 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Buku, Dayak, Orang Madura, Orang Melayu, Orang Tionghoa, Tentang Yusriadi
Jumat, 13 Juni 2008
Penulis Buku Mozaik Dayak
.jpg)
Tiga penulis buku Mozaik Dayak di Kalimantan Barat; Catharina Pancer Istiyani, Sujarni Alloy, dan Albertus. Buku ini merupakan buku utama untuk mengetahui sub-suku Dayak di Kalimantan Barat. FOTO Yusriadi.
Diposting oleh Yusriadi di 08.39 0 komentar
Sabtu, 17 Mei 2008
Peluncuran Buku Mozaik Dayak
+copy.jpg)
Suasana saat peluncuran buku Mozaik Dayak, Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, karya Sujarni Alloy, Albertus dan Chatarina Pancer Istiyani (Institut Dayakologi, 2008), di Hotel Orchadz, Sabtu (17/5/2008). Saya (batik merah), Dedy Ari Asfar, MA (kanan), di sebelah kiri FX Asali, Abdus Syukur (terlindung), dan Elias Ngiuk (pemandu). Foto AA Mering/Borneo Tribune.
Diposting oleh Yusriadi di 09.20 0 komentar
Kini, Pengetahuan tentang Dayak Tidak Lagi Abu-abu
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Kini, pengetahuan tentang Dayak di Kalbar tidak lagi abu-abu.
Itulah kesan yang saya ungkapkan saat mengomentari buku Mozaik Dayak, Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, pada launching buku di Pontianak, Sabtu (17/5) kemarin.
Buku yang ditulis Sujarni Alloy, Albertus dan Chatarina Pancer Istiyani, diterbitkan Institut Dayakologi, didukung oleh Ford Foundation dan International Work Group for Indigenous Affairs (IWGIA) – Denmark ini memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai Dayak di Kalbar.
Bagian-bagian dari buku ini mendeskripsikan subsuku Dayak yang ada di seluruh daerah di Kalimantan Barat. Gambaran tentang lokasi persebaran, sejarah, serti ciri setiap subsuku ini diberikan dengan memuaskan. Paling tidak, gambaran ini dapat menunjukkan nama subsuku dan di mana mereka berada.
Justru itu, di sinilah bedanya buku ini dibandingkan buku-buku tentang jumlah suku Dayak yang ada selama ini. Misalnya buku Tjilik Riwut berjudul Kalimantan Membangun (1979). Dalam buku ini disebutkan mengenai jumlah subsuku Dayak di Kalimantan Barat, tetapi, rinciannya tidak jelas. Bahkan ada beberapa bagian dari buku ini yang membingungkan. Dalam buku itu disebutkan ada 405 subsuku Dayak. Di mana subsuku itu tersebar, berapa jumlah di Kalimantan Barat? Bagaimana perbedaan antara satu dengan yang lain? Lalu, dia mendapatkan nama itu dari mana? Tidak jelas.
Buku lainnya, Borneo Wester-Afdeeling yang ditulis Enthoven (1903). Dalam buku ini ada 215 nama sub Dayak di seluruh Kalimantan Barat. Tetapi, tidak semua penjelasan diberikan untuk kelompok ini. Ada yang penjelasannya sangat lengkap, ada yang sangat terbatas. Sebagai contoh: tidak disebutkan nama Dayak Kanayatn, tidak ada juga nama Dayak Jelai, atau Dayak Jangkang.
***
Saya merasakan betul kesulitan selama ini. Pada saat saya mengajar matakuliah Etnologi di STAIN Pontianak, saya merasa janggal ketika bicara tentang Dayak. Karena buku-buku yang ada tidak memberikan gambaran yang menyeluruh tentang orang Dayak, jadi saya kerap kali gagap kalau sudah ditanya tentang hal-hal yang detil tentang subsuku Dayak. Jadi, pada akhirnya hanya bahan yang terbatas sajalah yang dipergunakan. Ujung-ujungnya saya mengatakan, belum ada informasi mengenai komunitas tertentu.
Begitu juga amat susah ketika saya harus memberikan gambaran yang sejajar mengenai budaya yang ada dalam setiap subsuku Dayak.
Selain itu, memahami orang Dayak dengan rumah panjang, manik-manik, tatoo, ukiran, dll., juga tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua komunitas Dayak tinggal di rumah panjang. Bahkan sekarang ini sedikit saja yang masih tinggal di rumah panjang. Rumah panjang orang Kanayatn misalnya, dapat dihitung dengan sebelah tangan, Begitu juga dengan rumah panjang orang Kantuk atau orang Bidayuh. Mungkin sekarang ini hanya orang Iban yang masih lekat dengan ciri ini.
Begitu juga kalau bicara tatto dan manik-manik. Dua ciri ini hampir tidak ada lagi yang benar-benar bagian dari keseharian orang Dayak. Karena itu, lalu saya mengatakan hal ini kepada mahasiswa, bahwa ciri ini sesungguhnya bukan ciri sehari-hari.
Sekarang, saya rasa sebagian dari kesulitan yang saya rasakan selama ini akan teratasi. Kalau bicara tentang Dayak, sudah ada buku utama. Sudah ada buku yang dapat menyajikan dengan detail nama-nama subsuku Dayak, di mana persebaran mereka. Dan juga ciri-ciri mereka. Beberapa di antaranya bisa diketahui sejarah dan budaya.
Oleh sebab itulah saya mengatakan buku ini memperjelas ilmu tentang Dayak di Kalbar. Membuat pengetahuan yang samar-samar menjadi terang.
Pendapat saya ini sama seperti pendapat Dedy Ari Asfar, MA peneliti dari Balai Bahasa Kalbar yang juga diminta memberikan komentar pada launching buku ini.
Diposting oleh Yusriadi di 09.18 0 komentar
Label: Dayak
