Oleh: Yusriadi
Pada awal bulan puasa masjid selalu penuh. Lalu, perlahan-lahan jamaah berkurang. Sehingga akhirnya tinggal satu dua shaf saja orang yang salat Taraweh.
Itulah antara lain hal yang disampaikan seorang penceramah di sebuah masjid di Ambawang, pada malam pertama taraweh. Malam itu, seorang penceramah, yang rupanya ketua masjid, mengingatkan soal pentingnya salat taraweh di malam bulan Ramadan. Dia sempat mengingatkan jamaah soal kebiasaan sebagian orang yang hanya datang ke masjid di awal malam bulan puasa, dan setelah itu tak muncul-muncul lagi. Kebiasaan panas-panas tahi ayam. Sebuah perumpamaan untuk menggambarkan orang yang hanya semangat pada masa awal.
Penceramah perlu mengingatkan karena malam itu masjid tersebut penuh. Bahkan sejumlah orang yang datang setelah azan berkumandang, salat di luar. Di halaman. Masjid yang kecil itu tidak bisa menampung jumlah orang yang datang malam itu. Penceramah pasti berharap agar semangat beribadah terus terpelihara; sehingga dari awal hingga akhir Ramadan, masjid tetap penuh terisi jamaah salat Taraweh.
Merenung apa yang disampaikan penceramah, ingatan saya melayang pada suasana yang sering dijumpai di bulan Ramadan. Pada malam awal masjid sumpek. Lalu pada malam berikutnya, berkurang sedikit demi sedikit sehingga akhirnya yang tersisa hanya satu dua saf saja.
Rupanya, sekalipun sudah diingatkan, pada malam kedua dan ketiga, hal yang sudah diperingatkan penceramah terjadi. Jamaah masjid mulai berkurang. Tidak ada lagi jamaah yang salat Taraweh di luar. Ruang di dalam masih kosong. Saf terakhir lelaki, mulai ada celahnya.
Mengapa begitu? Mengapa jamaah berkurang? Mengapa orang seperti tidak ingat sedikit pun peringatan yang disampaikan penceramah malam pertama? Sebegitu cepatkan berlalu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan?
Rasanya, setelah penceramah mengingatkan hal itu saya ingin juga mengingatkan penceramah: Mengapa sikap jamaah begitu? Mengapa jamaah seolah tidak pernah mendengar nasehat penceramah?
Pernahkah penceramah bertanya pada jamaah mengapa mereka tak bisa bertahan lama di masjid untuk salat taraweh? Pernahkah penceramah berupaya mencari cara untuk mengingatkan, selain mengingatkan agar datang ke masjid?
Mungkin baik juga sesekali para penceramah, pengurus masjid, menimbang-nimbang hal itu. Sehingga pada akhirnya mereka menemukan cara bagaimana membuat jamaah kerasan dan terikat hatinya pada masjid. Jika sudah begitu mungkin tak perlu repot penceramah mengingatkan hal yang sama dari tahun ke tahun. Mungkin bisalah dia memilih tema lain yang lebih menarik, daripada sekadang ‘ngomel dan menyindir’ saat berceramah di masa yang akan datang.
Senin, 08 Agustus 2011
Mengapa Jamaah Semakin Berkurang?
Diposting oleh Yusriadi di 00.10 0 komentar
Salat Taraweh Pendek dan Panjang
Oleh: Yusriadi
Malam lalu saya salat Taraweh di sebuah masjid tak jauh dari kantor, di kawasan Jalan Purnama Pontianak.
Di masjid itu, salat tarawehnya 8 rakaat, plus witir 3 rakaat langsung. Ada kultum antara Isya dan Taraweh. Jam 20.10 selesai.
Saya terkesan pada penceramah. Seorang lelaki tua, mungkin usianya 70 tahun. Suaranya datar, perlahan. Dia berceramah tentang Takwa berdasarkan tafsiran dari ayat perintah puasa dalam surat Al-Baqarah ayat 183.
Tak ada retorika seperti yang biasa saya saksikan pada penceramah kondang. Tak ada lucu atau lawakan yang mengundang tawa.
Alami. Jauh dari kesan dibuat-buat. Jauh dari kesan omong doang. Rasanya, apa yang beliau sampaikan menukik masuk ke dalam jiwa. Rasanya, apa yang beliau sampaikan mengena.
Jamaah yang ramai memenuhi masjid tak terdengar ribut. Syahdu. Tepekur mendengar pesan-pesan sang penceramah.
Saya seperti kembali ke masa lalu. Saat mendengar seorang ustadz, yang dipanggil Ustadz Haji di Jongkong belasan tahun lalu. Saat itu, rasanya apa yang beliau sampaikan tak pernah dibantah. Semuanya kebenaran.
Sementara sekarang ini, sering kali saya mendengar protes orang terhadap penceramah. Ada protes terhadap penceramah yang tampil retorik, melawak atau menasehati jamaah panjang lebar. Kadang juga ada bantahan terhadap materi yang disampaikan.
Saya juga terkesan pada jamaah masjid malam itu. Ramai. Saat saya masuk saya melihat masjid hampir penuh.
Ternyata, jamaah bertahan sampai salat berakhir. Saya tahu ada berapa orang yang pulang. Namun, rasanya mereka yang pulang hanya satu dua saja. Tidak signifikan, tidak ketara.
Soal jamaah ini, saya teringat pada apa yang saya lihat di sebuah masjid yang terletak tak jauh dari tempat saya tinggal sekarang ini. Jamaah masjid sampai malam keempat, selalu ramai. Jamaah yang putus salatnya juga tidak banyak. Saya tidak melihat perubahan yang signifikan jumlah jamaah pada awal salat dan pada akhir.
“Hebat”.
Mengapa? Mengapa masjid-masjid ini masih penuh? Mengapa orang tidak keburu pulang?
Saya bertanya begitu karena saya pernah salat di sebuah masjid di Pontianak Barat. Jamaahnya hanya banyak di awal saja. Memasuki witir semakin sedikit. Perubahannya signifikan.
Mereka pulang awal. Sebab, sebagian tak mampu menyelesaikan salat karena terlalu panjang. 20 rakaat Taraweh, plus 2+1 witir.
Pengurus masjid menyadari hal itu. Menurutnya soal perubahan sudah dibicarakan di internal pengurus. Namun, ada seorang yang menolak. Malah yang menolak itu mengatakan tidak akan ada perubahan jumlah rakaat salat Taraweh selagi dia masih hidup.
Soal orang tak kuat berlama-lama salat Taraweh menurutnya tidak pantas didengar. Ada malas.
“Malas taraweh, panjang”.
“Capek benar ikut salat, ngebut”.
Di dalam malas beribadah itu, ada Setannya. Mereka itu, kalau lama-lama di masjid badannya panas meriang, ingin cepat-cepat pulang. Hati tidak terikat di masjid. Bak kata: datang ke masjid paling akhir. Pulang dari masjid paling awal.
Memang, seharusnya orang tidak begitu. Salat ya salat. Berat ringan itu keharusan mereka. Sebagai hamba mereka harus patuh pada perintah Allah. Allah memerintahkan begitu. Mereka harus ikut.
Sebagai orang Islam mereka tak sepatutnya menawar kewajiban yang Allah berikan. Jalani saja sebagai bentuk iman. Anggap saja Ramadan sebagai bulan penggemblengan iman dan ibadah. Semua satu paket dengan puasa.
Tapi, begitulah keadaan manusia. Begitulah keadaan orang kita. Tidak semua orang insyaf. Tidak semua imannya hebat. Masih banyak orang yang perlu pembinaan. Masih banyak orang yang perlu diikat hatinya. Masih banyak orang yang perlu dibujuk-bujuk, diajak-ajak, agar mau, agar insyaf, agar menjadi orang yang beriman.
Bahkan, kalau mau jujur, sebenarnya jumlah orang yang seperti ini lebih banyak. Orang yang memerlukan bujukan, sentuhan, pengertian, jauh lebih banyak daripada orang yang imannya sudah mapan. Lalu, apakah mereka ini dibiarkan? Rasanya sebaiknya tidak. Baiklah jika orang yang bijak mengalah. Mengalah untuk kebaikan pasti selalu baik hasilnya, dibandingkan menang untuk menang-menangan. Agaknya. (*)
Diposting oleh Yusriadi di 00.07 0 komentar
Label: Ramadan, Suara Enggang
Anak-anak di Masjid
Oleh: Yusriadi
Seorang ibu mengeluh pada saya tentang betapa ributnya anak-anak salat Taraweh. Anak itu menjadikan masjid tempat mereka bermain, tanpa peduli bahwa di depan mereka sejumlah orang sedang salat.
“Kita jadi ndak bisa khusu’”
“Lebih baik salat di rumah jak”.
Sang ibu menyampaikan penyesalannya terhadap sikap pengurus masjid yang tidak menegur anak-anak yang ribut itu.
Ya, saya mengiyakan apa yang disampaikan oleh ibu itu. Saya juga mengalami hal yang sama. Mengeluh karena anak-anak ributnya minta ampun. Auzubillah.
Malah malam kemarin ada anak yang menangis karena dikerjain oleh teman-temannya. Suara tangisannya cukup ‘merdu’ dibandingkan suara salawat petugas taraweh.
Anak-anak ribut ketika di masjid karena mereka tidak meresapi tujuan datang ke masjid. Tujuan mereka memang bukan untuk ibadah. Malah mungkin mereka juga belum mengerti apa itu ibadah. Kesadaran mereka belum tumbuh.
Anak-anak itu datang ke masjid awalnya karena mereka diwajibkan guru sekolah. Anak itu membawa buku ibadah. Buku itu harus mereka isi sesuai dengan judul dan kesimpulan kuliah tujuh menit (kultum) di masjid. Setelah itu, ada tanda tangan atau paraf penceramah atau imam.
Karena buku itu, anak-anak terpaksa harus datang setiap malam ke masjid. Mereka juga harus berbondong-bondong memburu petugas salat untuk mendapatkan tanda tangan.
Saya ingat, sewaktu menjadi guru honor di Madrasah Tsanawiyah Riam Panjang, pernah memberikan anak-anak tugas begini. Anak-anak diwajibkan memiliki buku ibadah yang berisi catatan kultum dan tanda tangan imam. Sewaktu saya siswa sekolah dasar dahulu, guru agama juga pernah memberikan tugas sama untuk salat Jumat. Kami, sebagai siswa, wajib membawa buku tulis, dan kemudian mencatat siapa khatib, apa judul khutbah dan apa kesimpulannya. Lalu, setelah Jumat usai, kami mendatangi khatib untuk meminta tanda tangan. [Saya jadi ingat kami mentertawakan seorang khatib yang kikuk ketika dia diserbu ramai-ramai. Waktu tanda tangannya, dia gemetaran. Tanda tangannya juga beda antara satu buku dengan buku yang lain].
Ada nilai positif dari kewajiban mengisi buku ibadah ini. Mau tidak mau kami harus ke masjid. Kami harus berlatih beribadah sesuai dengan agama kami. Ini menjadi pembiasaan. Setidak-tidaknya, seburuk-buruknya kami, masih pernah menjadi orang yang rutin mengunjungi masjid. Semoga dosa terampuni.
Tetapi, dalam kejadian yang dikeluhkan seorang ibu dan juga keluhan saya itu, memang seharusnya pengurus masjid juga membantu proses pendidikan di masjid. Anak-anak tidak dibiarkan berbuat sesuka hati. Tidak dibiarkan ribut. Anak-anak harus dikenalkan pada aturan bahwa jika di rumah ibadah, harus bersikap ‘alim’; tidak ribut. Keributan dapat mengganggu jamaah lainnya.
Mungkin, guru yang memberikan tugas juga sesekali harus melakukan kordinasi dengan pengurus masjid dan kemudian sesekali juga ikut mengawasi bagaimana sikap dan polah murid mereka di luar sekolah. Biasanya, seorang murid akan segan pada guru mereka.
Tentu saja, di sini masih ada tanggung jawab orang tua untuk ikut mengawasi dan mengingatkan anak mereka. Takkan pula anak sorang dibiarkan ribut di masjid???? Takkan pula dia tak dapat mendengar kicau bilau suara anak-anak sendiri?
Diposting oleh Yusriadi di 00.02 0 komentar
