Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Seorang teman dari tim sukses salah satu kandidat bupati yang bertarung dalam pilkada di sebuah kabupaten di Kalbar belum lama ini, menceritakan kandidat itu sekarang sedang agak stress. Dia stress karena memikirkan uangnya yang sudah banyak keluar.
Iseng-iseng saya bertanya: “Berapa banyak dia keluar uang?”
“Miliaran rupiah,” katanya.
“Wow”.
Saya takjub. Sangat takjub. Saya membayangkan kalau uang miliaran itu dikumpul-kumpul. Satu tas pun tak akan muat – agaknya. Kalau disusun-susun pasti bertumpuk-tumpuk tingginya.
Saya lebih takjub lagi memikirkan bagaimana orang begitu agak mudah mengumpulkan uang sebanyak itu. Saya sering mengagak-agak: berapa lamakah dia mengumpulkan uang sebanyak itu? Satu bulan? Setengah tahun? Satu tahun?
Lalu, bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu?
Saya tentu mengukur diri sendiri. Saya tidak kebayang bagaimana bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau ikut kerja saya sekarang, seumur-umur kayaknya tidak akan terkumpul uang sejumlah itu.
Padahal, kalau dipikir-pikir, rasanya kerja yang dilakukan sudah maksimal. Karena itu, saya harus menganggap orang yang bisa mengumpulkan uang puluhan miliaran rupiah dalam waktu setahun atau beberapa tahun, adalah orang yang luar biasa. Hebat.
Tetapi, rasa takjub tidak berhenti di situ. Saya masih sangat takjub pada mereka yang punya uang miliaran rupiah, dan mau-maunya membagikan pada orang lain. Mau-maunya mereka menghamburkan dan menaburkannya.
Ya, saya katakan menghamburkan uang karena sepanjang yang saya lihat dalam pilkada, calon bupati dan wakil bupati selalu royal memberikan uang mereka. Mereka dikelilingi orang, dan orang yang datang pada mereka mendapatkan ‘habuan’. Saya dengar dahulu dari seorang asisten calon gubernur, setiap bulan ada banyak proposal yang masuk ke meja mereka. Proposal pembangunan rumah ibadah, proposal pembangunan jembatan dan jalan, proposal pertandingan sepakbola, proposal lomba ini itu… dan seterusnya.
Mereka yang datang untuk keperluan pribadi juga sangat banyak. Ada yang datang minta uang tiket, uang jalan, uang sekolah, uang makan, hingga uang rokok.
Saya merasa takjub karena membayangkan begitu pemurahnya ‘beliau’ itu mengalirkan uangnya. Uang macam tidak ada harga baginya – kecuali agar dia dianggap baik dan layak dipilih. Padahal, terpilih juga belum pasti.
Saya takjub membayangkan dia bisa menjadi seperti malaikat yang sangat baik hati, padahal sebenarnya kebaikan itu diberikan karena dia mengharapkan sesuatu.
Ahh… saya menarik nafas, sembari membayangkan, andai beliau yang menaburkan uangnya itu, benar-benar berbaik hati. Uang miliaran rupiah itu bisa digunakan untuk menyekolahkan anak dari satu kecamatan, hingga mereka menjadi sarjana. Uang miliaran rupiah bisa digunakan untuk membangun sekolah di kampung, atau pesantren dengan fasilitas yang lengkap. Uang miliran rupiah bisa digunakan untuk membantu modal usaha dan aneka kegiatan produktif.
Bantuan itu pasti akan mengubah banyak hal di masyarakat. Perubahan yang terjadi pasti nyata. Saya kira, perubahan itu pasti akan menyebabkan masyarakat tertambat hatinya. Pasti perubahan begini ini akan menjadi daya tarik yang luar biasa. Daya tarik yang akan membuat orang memilihnya dengan sukarela – bukan seperti yang terjadi sebelum ini: orang memilihnya berpura-pura. Di depan dia katakan mendukung, di belakang mentertawakannya. Cara ini pasti tidak akan membuatnya stress – karena menabur uang di lautan.
Tapi, saya tak bisa mengingatkan calon itu. Tak kenal. Kalau kenal pun, saya tak berani mengingatkan calon itu. Takut dianggap celupar. Dalam situasi sekarang dia tidak butuh nasehat. Nasehat justru akan membuatnya berang.
Biarlah dia renung sendiri masalahnya. Ini pelajaran berharga buat dia, dan juga buat calon yang lain di kemudian hari.
Jumat, 02 Juli 2010
Untuk Mereka yang Kalah
Diposting oleh Yusriadi di 09.59 1 komentar
Label: Pilkada Kalbar, Suara Enggang
Senin, 19 Januari 2009
Kabar Politik dari Ulu
Oleh Yusriadi
“Mulai ramai dah kinih,”
Simbol-simbol partai terpacak di mana-mana. Bendera. Umbul-umbul. Baleho.
Wajah caleg mejeng di mana-mana. Warnanya macam-macam. Gayanya, canggih dan menawan.
Semuanya berisi ajakan memilih. Atau paling tidak: pilih saya.
Itulah cerita seorang teman dari Kapuas Hulu belum lama ini. Dia berkisah panjang lebar, sepanjang pertanyaan saya yang juga mengalir entah ke mana-mana.
Asyik. Saya suka mendengar perkembangan politik dari kampung. Bukan karena saya suka politik. Tidak. Saya suka karena cerita ini membuat pikiran saya melayang ke mana-mana tentang kampung halaman. Kampung saya Riam Panjang, 100 kilometer sebelum Putussibau. Kami lebih mudah menyebutnya dekat Tepuai, ibukota kecamatan Hulu Gurung.
Sebagai jurnalis cerita apapun ya didengar. Informasi kecil sekalipun diburu dan dikejar.
***
Cerita dari Ulu ini bagi saya juga memberikan gambaran bahwa situasi politik di level nasional dan regional juga merambah ke kampung-kampung di Kapuas Hulu.
Ulu, meskipun nun jauh di sana, tapi tidak ketinggalan.
Ini contoh globalisai yang melanda rakyat kita. Ini keadaan yang menunjukkan betapa masyarakat kita sudah menjadi warga dunia. Mereka sudah menjadi bagian dari perkembangan di sisi lain.
Contoh ini melengkapi contoh sebelumnya. Krisis ekonomi dunia membuat orang di kampung, di Kapuas Hulu menderita. Menderita benar. Sangat.
Ihwalnya bermula dari harga karet yang jatuh menjunam. Harga karet yang sebelumnya bisa di atas Rp10 ribu, tiba-tiba turun menjadi hanya Rp3000. Bahkan, sempat beberapa hari tidak terbeli.
Perkembangan ini membuat pendapatan masyarakat jadi berkurang drastis. Sebelumnya orang kampung bisa dapat Rp60 ribu sekali turun, setelah krisis, orang hanya bisa dapat Rp 20 ribu.
Pendapatan Rp20 ribu membuat orang merana. Beli beras, lauk pauk, beli gula kopi, beli rokok tembakau, beli minyak garam, sudah pas-pasan. Padahal orang sudah terlanjur menyekolahkan anak ke Pontianak. Orang sudah terlanjur mengambil motor kredit yang setiap bulan harus dilunasi.
Pening.
Masyarakat menjadi susah. Beban mereka jadi berat. Sampai sampai ada yang terpaksa mengembalikan motor kredit karena tak mampu melanjutkan pembayaran cicilan. Itulah terpaan globalisasi yang membuat mereka lunglai.
Apakah globalisasi politik ini akan membuat mereka juga lunglai? Entahlah.
Tetapi, mungkin juga tidak. Sebab, pertahanan sosial orang kampung ini cukup kuat.
Namun, cerita teman, sekarang ini, saat caleg jor-joran promosi masyarakat diam-diam sudah punya pilihan. Mereka tidak terombang-ambing.
Katanya, kebanyakan orang mengatakan mereka akan memilih orang-orang yang mereka kenal. Orang yang dekat dengan mereka. Pada level pertama, keluarga. Pada level kedua, orang sekampung, atau sedaerah. Agama tidak disebut, karena di bagian selatan ini daerah homogen. Semuanya muslim. Calon yang memperebutkan suara mereka –yang berasal dari daerah ini, juga muslim. Ini faktor emosional.
Kedekatan emosional akan menjadi faktor penting. Begitulah kira-kira.
Saya bertanya.
“Sekarang, yang bersaing ini keluarga semua. Bagaimana orang memilih?”
Ternyata, yang akan mereka pilih adalah orang yang selama ini ‘mudah’. Orang yang selama ini membantu mereka dipinta atau tidak. Orang yang selama ini tidak sombong.
“Jasa itu diingat orang,”
“Bantuan akan terus dikenang,”
“Sikap baik akan dijadikan catatan,”
Saya tentu saja maklum. Dalam politik memang begitu juga. Ada konsep patron dan klien. Orang yang selalu membantu akan dibantu. Orang yang bisa menjadi tempat bergantung akan dijadikan tempat bergantung.
Faktor lain tidak penting. Apakah calon itu pendidikan tinggi –sarjana atau cuma tamat SMA, tidak jadi pertimbangan. Seperti apakah program calon itu, juga tidak dipertimbangkan. Malah, di tingkat orang kampung sekarang program seorang caleg hanya angin lalu. Sehingga jarang-jarang ada orang yang menyimak benar-benar apa isi baleho caleg.
Sikap ini tentu rumit juga. Perubahan yang diharapkan pasti sulit.
Tetapi sebaliknya sikap seperti ini bagian dari seleksi alam juga. Mereka yang baik yang akan bertahan. Mereka yang tidak baik akan tersisih. Jatuh. Gugur. Jadi, dengan cara seperti ini masyarakat memilih yang terbaik menurut mereka.
Saya kira ini juga bagian dari pertahanan sosial (social defence) yang menarik dicermati dalam konteks otonomi daerah dan dalam konteks globalisasi. Masyarakat lokal membentengi dari dari kemungkinan sesuatu dari luar yang menurut mereka tidak baik. Ada kearifan di sana.
Cara ini sejalan dengan uforia otonomi daerah. Orang daerah untuk orang daerah. Orang daerahlah yang bisa mengerti apa yang ada di daerah mereka. Orang sendirilah yang dapat memperjuangkan kepentingan sendiri.
Lantas, dengan keadaan seperti ini orang-orang luar tentu akan sulit masuk. Caleg titipan mungkin tidak akan terpilih. Caleg droping partai tidak akan mendapat tempat sekarang ini.
Ah, tiba-tiba saya merasa kasihan pada mereka, caleg yang tidak punya basis akar rumput. Saya kasihan pada politisi yang datang dari jauh. Sudah susah payah mereka mempromosikan diri. Sudah mahal-mahal mereka mengiklankan diri. Ternyata, tak ada pula orang memilihnya.
Apa ndak gila jadinya.
Diposting oleh Yusriadi di 01.01 0 komentar
Label: Pilkada Kalbar, Tentang Yusriadi
Minggu, 18 Januari 2009
Etnisitas dan Agama dalam Kepemimpinan Kalbar
Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Isu etnisitas dan agama sangat kental dalam kehidupan sosial politik Kalbar. Isu ini bisa jadi positif jika dikelola dengan baik, dan bisa jadi negatif bila salah menanganinya. Isu ini akan terus menjadi ujian bagi Cornelis, yang menjabat sebagai gubernur Kalbar satu tahun lalu.
Cornelis naik karena kepiawaiannya melihat fenomena etnisitas dan agama di Kalbar.
Itulah kesimpulan saya ketika dahulu mendengar Cornelis memenangkan Pilkada Kalbar. Kala itu lebih satu tahun lalu.
Sebagian bagian dari orang Kalbar saya mengikuti perkembangan politik itu. Tahap demi tahap Pilkada. Mulai dari proses pencalonan, pemungutan suara dan perhitungan suara. Liputan-liputan media membantu saya menyimak semua perkembangan itu.
Selain tentu saja, saya mendengar bisik-bisik dari orang-orang yang terlibat dalam lingkaran politik. Sesekali saya berdiskusi dengan mereka. Dapatlah saya banyak informasi mengenai hal itu.
Di antara sekian banyak informasi yang saya dapatkan adalah saya mendapatkan compac disk yang berisi rekaman kampanye Cornelis. Dari satu rumah panjang ke rumah panjang lain. Dari satu gereja ke gereja lain. Dari satu kampung ke kampung lain.
Musik latar. Isi ajakan. Muatan propaganda. Simbol-simbol yang digunakan dalam CD itu menjadi bahan pembicaraan. Tetapi, saya tidak tertarik membicarakan seperti yang orang bicarakan.
Saya konsen dalam studi etnisitas dan identitas. Saya maklum penggunaan identitas. Saya mengerti duduk persoalan. Karena itu apa yang digunakan Cornelis bagi saya adalah sesuatu yang bisa dipahami. Saya mengerti kepentingan pragmatis di balik penggunaan itu. Mungkin satu-satunya yang mengkhawatirkan saya adalah kalau propaganda itu membakar semangat dan kemudian semangat itu membakar dan menghanguskan orang lain. Saya maklum ini daerah konflik.
Lebih dari itu tidak. Bahkan menurut saya, Cornelis piawai.
Saya juga mengaitkan perkembangan itu dengan perkembangan lain. Pada mulanya dia akan memilih pendamping yang muslim. Suryansyah namanya. Suryansyah dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) mula-mula digadang untuk menjadi pendampingnya. Ura-uranya sudah nampak. Orang-orang di kalangan Nahdliyin sudah bersemangat menerima kemungkinan itu.
Tetapi, ada beberapa nama lain juga disodorkan kepada ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kalbar ini. Kabarnya sangat banyak.
Namun, kemudian Cornelis lebih memilih Christiandy Sanjaya. Christiandy, orang Cina. Mengapa dia pilih Christiandy?
“Saya ingin menang,” begitu kata Cornelis kemudian soal pilihannya itu.
Itu dikatakannya saat menjawab pertanyaan saya dalam acara Refleksi Akhir Tahun di Hotel Gajahmada Pontianak, (30/12/08). Satu tahun setelah dia dilantik sebagai gubernur Kalbar.
Sebenarnya saya sudah lama mendengar hal itu. Ada teman saya yang menjadi tim Cornelis yang memberitahu saya.
“Cornelis memilih Christiandy karena dia mau menang. Bukan pertimbangan lain.”
“Dia punya hitung-hitungan sendiri,”
Apa hubungannya Christiandy dan kemenangan Cornelis?
Hitungan sederhana saja. Menurut hitung-hitungan Cornelis, suara orang Dayak bulat mendukungnya. Dia percaya mendapat dukungan penuh karena dialah satu-satunya calon gubernur yang orang Dayak. Calon yang lain, Melayu.
Dukungan solid ini ditambah lagi suara orang Cina. Orang percaya komunitas Cina ini termasuk solid. Soliditas ini pasti akan dapat mengungguli laju calon lain. Kandidat gubernur lainnya, seperti Usman Ja’far (UJ), Osman Sapta Odang (OSO), dan Akil Mochtar (AM) –sekalipun tidak selalu menggunakan isu agama dan etnis, namun diramalkan akan membuat dukungan orang Melayu- Islam pecah. Pecahan ini yang akan memuluskan kemenangan Cornelis.
Apakah calon Dayak yang bersama UJ, OSO dan AM tidak berpengaruh? Agaknya tidak banyak. Nomor satu lebih menarik pemilih dibandingkan nomor dua.
“Kalau ada nomor satu, mengapa pilih nomor dua,”
Dan ternyata kemudian menurut hitung-hitungan pengamat, perolehan suara Cornelis bergerak lurus dengan jumlah komunitas Dayak dan Cina. Pengamat cukup yakin hal itu.
Sekalipun, kenyataannya ada kekecualian. Ada orang Islam atau Melayu yang memilih Cornelis. Atau sebaliknya ada orang Dayak dan Kristen yang memilih UJ, OSO atau AM.
Tetapi, meskipun isu etnisitas dan agama digunakan Cornelis dalam Pilkada Kalbar ketika itu, namun, tidak di semua tempat isu itu digunakan. Ada situasi khusus. Kampanye dengan mengangkat isu “Orang diri’”, “Dayak”, “Kristiani”, bahkan “Pribumi” dan “Marginal”, dipakai silih berganti.
Kadang kala isu loyalitas partai yang digunakan. Komando Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) digunakan dalam mesin perjuangan Cornelis.
Organisasi seperti Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) juga digunakan untuk menunjukkan dukungan politik.
Selain itu, Cornelis juga mendekatkan diri pada tokoh di luar tokoh Dayak dan Kristen.
Kini, Cornelis telah satu tahun menjadi gubernur Kalbar. Banyak kegiatan bernuansa itu selama satu tahun pemerintahannya. Simbol-simbol etnisitas dan agama diakomodir.
Saya kira, pasti dana yang dikucurkan Cornelis untuk mendukung kegiatan atas nama agama dan etnik dalam satu tahun pertama kegiatannya, pasti cukup besar. Kegiatan-kegiatan organisasi ini –baik kegiatan di Kalbar, maupun kegiatan keluar Kalbar, perlu dukungan dana, dan dana itu dipinta dari gubernur.
Apa yang penting adalah, sejauh ini Cornelis tetap piawi di antara isu-isu itu. Managemennya bagus. Dia memperhatikan kepentingan kelompok Dayak, Kristen. Tetapi dia juga tidak mengabaikan kepentingan Melayu, Islam, dan yang lainnya.
Salah satu contoh yang mengesankan ketika acara Natal Bersama dan Peringatan 80 tahun RS Antonius. Cornelis menghentikan pidatonya selama beberapa menit untuk menghormati azan Magrib.
“Untuk menghormati saudara kita yang muslim,” katanya.
Cornelis juga menunjukkan hal itu ketika memilih pejabat yang akan membantunya menerajui Kalbar. Sebenarnya, sah-sah saja semua jabatan itu dipilih dari orang Dayak, orang Kristen, bahkan, juga dari pendukung dan kaum kerabatnya sekalipun. Itu hak prerogatif dia sebagai gubernur.
Namun, lihatlah kemudian dalam struktur ‘Kabinet Pelangi” yang dilantik beberapa hari lalu. Ada banyak orang Melayu di sana. Ada banyak orang Islam.
Nyatanya Cornelis juga melihat pengangkatan orang yang membantunya dari sudut kompetensi –setidaknya kemampuan managerial. Orang-orang yang ditempatkan di sana memenuhi syarat-syarat formal. Perubahan ‘nuansa’ etnisitas dan agama drastis. Seperti yang dikhawatirkan orang dahulu, Cornelis tidak membalap habis jabatan di level provinsi untuk etnis, agama, dan kelompoknya.
Tahun-tahun ke depan, hal seperti itu akan terus berlangsung. Nuansa etnisitas dan agama akan terus terasa.
Semua itu akan menjadi ujian bagi Cornelis. Apakah dia mampu menunjukkan sisi kenegarawanannya atau tidak? Apakah dia benar-benar seorang pemimpin bagi rakyat Kalbar?
Apakah kekaguman kita pada kepiawiannya memanage isu etnisitas dan agama akan terus berlanjut?
Semoga.
Diposting oleh Yusriadi di 02.04 2 komentar
Label: Borneo Tribune, Etnik, Pilkada Kalbar
Senin, 27 Oktober 2008
Siapa yang Akan Menjadi Walikota Pontianak?
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Siapa yang akan terpilih menjadi walikota Pontianak? Siapa yang akan menang dalam pemungutan suara hari ini (Sabtu, 25/10/08)?
Pertanyaan ini terus menggelinding. Tema seputar siapa yang akan dipilih menjadi tema utama percakapan warga kota Pontianak kemarin.
Saya mendengar percakapan itu di rumah saudara. Di kantor. Di masjid. Juga di warung makan.
Analisanya macam-macam. Tidak bulat. Semua calon mendapat prediksi. Semua calon mungkin memang. Teori yang mendukung kemenangan juga unik-unik. Ada yang memilih karena calon itu satu agama. Ada yang mempertimbangkan karena calon itu satu suku. Ada yang memilih berdasarkan pertimbangan calon itu dari partai tertentu. Ada yang memilih calon berdasarkan ikatan keluarga, ada yang akan memilih calon karena hubungan personal dengannya selama ini baik. Calon ini suka memberikan bantuan kalau diajukan proposal, dll. Kelihatannya ikatan emosional dianggap lebih penting untuk menjadi modal dukungan bagi walikota Pontianak kelak.
Saya merasa lebih unik lagi, karena hampir tidak ada yang mengatakan memberikan dukungan terhadap calon karena program yang diusungnya baik. Pada hari terakhir, program tidak dianggap penting.
Saya sendiri menjadi gamang ketika mendengar berbagai pendapat itu.
Tetapi mau apa, beginilah kenyataan. Banyak masyarakat –bahkan masyarakat kelas menengah kota yang masih belum benar-benar memikirkan masa depan kota Pontianak. Masih banyak yang belum benar-benar peduli, pada siapa masa depan kota ini diletakkan.
Saya, jadi merenung sendiri, apakah cara berpikir saya yang salah? Apakah cara berpikir saya yang membuat saya menjadi gamang?
SAYA berpendapat, kalau para pemilih memikirkan masa depan kota Pontianak selayaknya mereka memikirkan beberapa hal. Pertama, program calon. Program penting dijadikan panduan untuk melihat apakah seorang calon itu memiliki sesuatu yang bisa dijanjikan. Kekuatan visi seorang kepala daerah pasti akan menjadi modal dia dalam membawa kota ini lebih maju.
Memang, pemilih juga harus hati-hati terhadap janji-janji itu. Karena kadangkala janji-janji itu bisa janji-janji kosong. Oleh sebab itu, setiap pemilih harus bisa menimbang apakah janji yang diucapkan calon itu masuk akal atau tidak. Janji yang tidak masuk akal mungkin hanya diucapkan sekadar ‘manis mulut berbisa’. Untuk menipu pemilih.
Kedua, track record calon. Seharusnya, hanya calon yang mempunyai record baiklah yang dipilih. Seharusnya hanya orang yang mempunyai masa lalu yang baiklah yang bisa dititipkan masa depan. Bisakah kita menitipkan masa depan untuk orang yang selama ini kita ragukan kejujurannya? Tentu tidak. Pasti kita hanya berani menitipkan sesuatu (hatta masa depan) terhadap orang yang kita percaya.
Memang adakalanya masa lalu harus dilupakan. Misalnya bagi orang yang sudah tobat, atau bagi mereka yang sudah insyaf. Namun, tentu saja harus hati-hati. Kalau tobatnya hanya menjelang pencalonan, tentu saja orang seperti ini tidak meyakinkan.
Pada akhirnya memang semua pilihan masa depan terletak pada kepercayaan. Kalau kita memang percaya, kalau hati kita yakin, kita bisa memberikan pilihan dengan baik. Tidak mungkin kita salah pilih hanya karena emosi dan pertimbangan materi.
Selamat memilih.
Diposting oleh Yusriadi di 01.33 0 komentar
Label: Pilkada Kalbar, Pontianak
Sabtu, 23 Februari 2008
Kelas Menengah Mendukung Akil Mochtar Sebagai Gubernur Kalbar
[Tulisan ini pernah dimuat di Harian Borneo Tribune Pontianak].
Yusriadi
Bornoe Tribune, Pontianak
Akil Mochtar mendapat dukungan SMS terbanyak dalam Polling SMS yang dilaksanakan Borneo Tribune pekan lalu. Ada 86 % dari 274 SMS yang masuk.
Memang ini indikasi yang positif untuk Akil di tengah pertarungan merebut hati masyarakat. Jika hasil survey lain memperlihatkan bahwa ada trend peningkatan popularitas calon lain, kita melihat ada peningkatan popularitas Akil.
Memang suara yang masuk melalui SMS bukan suara representatif dari calon pemilih Kalbar. Tetapi suara ini setidaknya menggambarkan dua hal: pengirim SMS adalah pemilik handpone. Pemilik handpone di Kalbar masih terbatas. Ada asumsi bahwa pemilik HP adalah kelompok kelas menengah dan atas di dalam masyarakat. Jika asumsi ini benar maka boleh dikatakan yang terpantau melalui polling ini adalah suara kelompok menengah dan atas. Benarkah kelompok ini melihat Akil pilihan yang tepat?
Alasan Memilih
Ada banyak alasan yang disampaikan masyarakat ketika ditanya apa alasan mereka memilih Akil Mochtar.
Pertama, dilihat dari profil Akil dipilih karena dianggap sebagai calon yang punya wibawa, memiliki kharisma, memiliki ketegasan, memiliki keberanian, memiliki perhatian, dll. Mereka menganggap Akil sebagai sosok yang pintar, memiliki wawasan yang luas, dan memiliki kekuatan lobby di tingkat pusat. Mereka juga menilai Akil mudah diajak berkomunikasi. Ada juga yang menilai Akil sebagai tipikal orang pekerja keras.
Mereka juga menyebutkan memilih Akil karena pengalaman Akil di dunia politik dan pembangunan bangsa ini. Menurut persepsi mereka Akil sudah membuktikan perhatiannya kepada masyarakat ketika menjadi anggota DPR-RI.
Bagi mereka Akil dinilai sebagai calon yang dapat memperlihatkan kesederhanaannya. Bahkan ada yang menilai Akil cukup religius.
Modal profil seperti dianggap cukup meyakinkan untuk mengemban amanat sebagai pemimpin Kalbar berikutnya.
“Kami mendukung bpk. H.M. Akil Mochtar, SH.MH sebgai gubernur kalbar, karna rakyat kalbar rindu perubahan dan rindu akan pemimpin yg bersahaja, merakyat. Dan mampu membawa kalbar kearah yg lebih baik. Semua itu ada di tangan bpk Akil Mochtar. Salam hangat buat kita semu. Thx a lot be4. 08125685XXX”
“Seorang Akil M sangat2 mementing kepentingam masyarakat dari masyarakat bawah sampai keatas. Sipat sosialnya tinggi. Sdm tidak dragukan lg, karier politik sdh bertarap nasional maupun internasional. Maka kami tdk ragu lagi. Akil M menjadi org no.1 KALBAR. Pesan kami Maju tak gentar. Bela yg benar. Bersatu Rakyat Kalbar pilih AKIL Mohtar. Trims. 081352145XXX”
Kedua, dilihat dari program, alasan memilih Akil karena janji Akil melakukan perubahan. Mereka berharap ada perubahan di Kalbar. Perubahan dimaksud adalah membawa Kalbar lebih maju di masa yang akan datang. Sejumlah pengirim SMS mengatakan kemajuan yang dicapai Kalbar hari ini belum maksimal.
Janji Akil untuk memperhatikan pendidikan, kesehatan, ekonomi juga mendapat perhatian masyarakat.
Khususnya soal ekonomi, pilihan Akil menggandeng AR Mecer dianggap sebagai pilihan terbaik karena selama ini AR Mecer sendiri sudah menunjukkan bukti kemampuannya merintis pembangunan ekonomi masyarakat melalui Credit Union (CU). Dalam soal ini AR Mecer sudah menunjukkan buktinya.
Mereka menganggap program ekonomi yang diusung Akil dapat membawa ekonomi Kalbar bergerak stabil.
Perhatian Akil terhadap dunia olahraga juga menjadi catatan penting bagi pemilih. Mereka prihatin karena olahraga Kalbar belum mencapai kemajuan seperti yang diharapkan.
Selain faktor tersebut, ada juga beberapa pemilih yang memilih Akil karena ikatan emosional. Misalnya ada pengirim yang menyatakan dia memilih Akil karena sama-sama alumni Universitas Panca Bhakti (UPB), ada yang memilih karena sama-sama berasal dari Kapuas Hulu. Ada juga yang menyebutkan memilih Akil karena dia adalah kader Golkar yang baik.
SMS lain menyebutkan dukungan diberikan karena kesamaan tanggal lahir Akil dengan tanggal lahirnya.
Meskipun dukungan diberikan memperlihatkan ikatan emosional mereka namun ada calon yang mengatakan memilih Akil karena Akil bisa memperlihatkan diri tidak rasial. Dalam sosialisasi ke masyarakat selama ini Akil dianggap benar-benar sebagai sosok yang nasionalis, tidak mengedepankan ikatan dan simbol-simbol primordialis –sesuatu yang kerap kali sangat menakutkan bagi masyarakat banyak di Kalbar.
Harapan ke Depan
Jika lihat dari SMS yang masuk berbagai harapan disampaikan untuk Akil Mochtar cukup banyak juga. Misalnya mereka mengharapkan Kalbar yang akan lebih maju dari yang bisa dicapai hari ini. Mereka juga mengharapkan komitmen Akil dalam membangun daerah kelak. Sehingga pada akhirnya Kalbar esok jauh lebih baik dari Kalbar hari ini.
Ada juga yang berharap agar Akil bisa menegakkan supremasi hukum., menjadi pemimpin bijak, adil.
Masalah yang disebutkan oleh pengirim SMS antara lain masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, pengangguran (kesejahteraan), hukum, dan keragaman masyarakat.
“Sy dukung B Akil M, krn beliau merakyat, wwsan serta pemikirannya luas, kalbar kedpn akan lbh baik, jk dippn B Akil M khusus utk masyarakat kt yg hitrogen ini. 081345949XXX”
Ada juga yang menitipkan harapan agar kelak Akil memperhatikan masalah listrik. Listrik yang sering padam dianggap sebagai masalah krusial di tengah masyarakat Kalbar saat ini.
Diposting oleh Yusriadi di 08.42 0 komentar
Label: Pilkada Kalbar
