Oleh: Yusriadi
Saat peserta Jakarta Lawyer Club TVONE sedang mendebatkan soal premanisme di Indonesia, Prof. JE Sahetapy membuat saya terperangah. Profesor yang sangat terkenal dalam dunia hukum pidana ini menyempatkan diri memberi komentar tentang kebijakan Dirjen Pendidikan Tinggi soal jurnal ilmiah bagi mahasiswa. Akademisi ini berpendapat kebijakan ini harus diikuti dengan peningkatan mutu dosen. Karena menurutnya, mutu dosen sekarang ini kurang.
“Bahasa Inggris saja tidak bisa”.
Katanya, kalau dosen sudah bermutu, mahasiswanya tentu akan bermutu juga.
Mendengar komentar itu, saya jadi berpikir, benarkah mutu dosen sekarang ini kurang? Benarkah mengukur mutu dosen itu dari sisi keterampilan berbahasa Inggris? Benarkah dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu?
Mungkin penilaian profesor ini benar. Mungkin memang benar bahwa dosen sekarang ini kurang bermutu. Mungkin juga benar mengukur mutu dosen itu dari keterampilan berbahasa Inggris. Mungkin juga benar bahwa dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu.
Tetapi kalau mengikuti cara berpikir profesor ini, tentu akan ada diskusi panjang soal mutu dosen dan bahasa Inggris. Rasanya, jika dibandingkan dahulu, rasio dosen yang bisa berbahasa Inggris pastilah lebih banyak sekarang ini. Secara kasat mata kita bisa melihat ada pertambahan jumlah yang signifikan orang-orang di sekitar kita yang bisa berbahasa Inggris dibandingkan dahulu, 10 tahun atau 20 tahun lalu. Jadi, kalau mengukur mutu dosen dari bahasa Inggris, maka seharusnya mutu dosen sekarang bukannya kurang, tetapi meningkat.
Belum lagi bicara mutu mahasiswa sekarang. Rasanya, mahasiswa sekarang tak kurang mutunya. Prestasi mahasiswa mencuat di sana- sini. Tidak saja diakui nasional tetapi juga internasional. Saya mengukur mahasiswa di sekitar saya saja: sekarang ini mereka lebih rajin membaca dan menulis. Karya tulisan mereka malah kadang lebih mantap dibandingkan dosen mereka. Banyak mahasiswa yang saya kenal sudah punya buku sendiri. Bandingkan mahasiswa periode saya dahulu. Tidak ada orang di sekitar saya yang mencapai taraf itu!
Tetapi mengingat karya yang saya jadikan ukuran, saya teringat keheranan salah seorang profesor yang mengajari saya Linguistik Komparatif. Dia mengatakan koleganya bernama Profesor Robert Blust salah seorang ahli linguistik komparatif bahasa di Nusantara ini memiliki sedikit terbitan. Padahal temuan-temuannya sering dikutip oleh profesor lain. Kapasitas Robert Blust juga diakui, kedalaman ilmunya disegani. Karena itu jangan mengukur Robert Blust ini dari karya tulisnya.
Lalu? Agaknya saya harus sampai pada kesadaran bahwa penilaian kualitas orang mesti dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Menjudge seseorang tidak berkualitas mungkin lebih baik ditahan-tahan dahulu.
Kisah yang pernah diceritakan seorang khatib pada suatu kesempatan mungkin bisa menjadi pembelajaran. Diceritakan seorang nabiyullah yang diminta mencari makhluk yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Lalu sang nabi berjalan di pasar. Dia melihat seorang pengemis. Semula dia berpikir pengemis itu lebih buruk dibandingkan dirinya. Ada beberapa perbandingan. Dia ingin membawa pengemis itu. Namun, sebelum niatnya terlaksana dia sempat menepis pikiran itu. Dalam beberapa hal pengemis itu masih lebih baik dibandingkan dirinya.
Dia berjalan lagi. Di perjalanan dia melihat seekor anjing kurap yang mengais-ngais sampah mencari makan. Dia ingin menangkap anjing itu. Dia berpikir, tentu anjing kurap lebih buruk dibandingkan dirinya. Tetapi, sebelum dia sempat menangkap anjing itu sisi lain pikirannya membantah. Tidak, anjing itu lebih baik dibandingkan dirinya.
Pada akhirnya, dia kembali pulang dengan hampa, dan melaporkan bahwa menurutnya tidak ada makhluk lain yang lebih jelek dibandingkan dirinya.
Apa yang terjadi? Justru orang yang memberi perintah memuji sang nabi.
“Untung kamu tidak menemukannya. Kalau kamu mengatakan orang lain lebih buruk dibandingkan kamu, itulah tandanya ada kesombongan di hatimu. Hampir saja kamu termasuk dalam kelompok orang-orang yang sombong”.
Bagaimana kita?
Selasa, 03 April 2012
Meningkatkan Mutu Dosen Indonesia
Diposting oleh Yusriadi di 02.51 0 komentar
Label: Inspirasi, Pendidikan
Filosofi Tanam Durian
Oleh: Yusriadi
Seorang dosen mengingatkan saya pada “filosofi menanam durian” saat kami berbincang tentang pencapaian dan prestasi dalam hidup.
Katanya, kita hidup mesti selalu ingat dengan filosofi orang tua dahulu ketika menaman durian. Orang tua dahulu ketika menanam durian di bekas ladangnya sering kali tidak berpikir apakah kelak dia akan makan durian yang dia tanam atau tidak.
“Dia tanam saja ketika melihat ada lahan kosong, melihat ada bibit atau biji”.
Lalu, bibit durian yang dia tanam tumbuh. Dia pelihara.
Tetapi sering kali, orang tua yang menanam itu tidak bisa memakannya. Karena dia sudah semakin tua saat durian berbuah, karena dia kolestrol tinggi, mungkin juga karena dia sudah meninggal. Orang tua tidak terlalu memikirkan diri sendiri soal menanam itu.
Jika dia memikirkan diri sendiri mungkin dia tidak akan mau menanamnya, karena besar kemungkinan dia tidak bisa menikmati apa yang dia tanam. Yang menikmati adalah anak cucunya. Bahkan mungkin, orang lain yang tidak dikenalnya.
“Begitulah filosofinya. Dalam kehidupan kita, sebisa mungkin kita berpikir seperti orang tua itu, menanam untuk anak cucu, tanpa memikirkan diri sendiri”.
Sembari sang dosen menceritakan perjalanan hidupnya untuk menguatkan konsep filosofi menanam durian, saya teringat nasehat yang diberikan bapak saya.
Dahulu, waktu saya masih muda, bapak saya juga pernah menasehatkan hal yang kurang lebih sama. Bapak selalu mengingatkan bekerja dengan ikhlas. Bekerjalah sebisa mungkin, tidak memikirkan imbalan yang diperoleh dari pekerjaan itu. Jangan pikirkan akan mendapatkan apa. Jangan pikirkan akan diberi apa.
“Insya Allah, jika kerja bagus maka kamu akan dapat hasilnya. Jika tidak sekarang nanti. Kerja jangan bereken”.
Nanti, maksudnya adalah besok, lusa, minggu depan, bulan depan, mungkin tahun depan. Mungkin juga nanti setelah meninggal. Kata bapak, urusan imbalan itu tidak usah dipikirkan karena itu urusan Tuhan. Tuhan Maha Tahu.
Orang tidak akan bahagia hidupnya jika dia memikirkan imbalan saat bekerja. Karena dengan begitu dia tidak dapat menikmati pekerjaannya. Bahkan mungkin pekerjaan yang dilakukan karena imbalan akan mendatangkan beban. Beban itu membuat orang tidak dapat menikmati pekerjaan. Orang yang tidak dapat menikmati pekerjaan dia akan menderita. Tidak bisa bahagia.
Teringatlah saya pada nasehat Mario Teguh yang saya tonton pada acara Golden Ways di Metro TV beberapa waktu lalu. Katanya, pekerjaan harus dinikmati. Ikhlaslah saat bekerja. Jika ikhlas, kita akan bahagia. Dia juga mengingatkan kebahagiaan itu ada dalam proses, bukan pada tujuan.
Diposting oleh Yusriadi di 02.31 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang
Meningkatkan Mutu Dosen Indonesia
Oleh: Yusriadi
Saat peserta Jakarta Lawyer Club TVONE sedang mendebatkan soal premanisme di Indonesia, Prof. JE Sahetapy membuat saya terperangah. Profesor yang sangat terkenal dalam dunia hukum pidana ini menyempatkan diri memberi komentar tentang kebijakan Dirjen Pendidikan Tinggi soal jurnal ilmiah bagi mahasiswa. Akademisi ini berpendapat kebijakan ini harus diikuti dengan peningkatan mutu dosen. Karena menurutnya, mutu dosen sekarang ini kurang.
“Bahasa Inggris saja tidak bisa”.
Katanya, kalau dosen sudah bermutu, mahasiswanya tentu akan bermutu juga.
Mendengar komentar itu, saya jadi berpikir, benarkah mutu dosen sekarang ini kurang? Benarkah mengukur mutu dosen itu dari sisi keterampilan berbahasa Inggris? Benarkah dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu?
Mungkin penilaian profesor ini benar. Mungkin memang benar bahwa dosen sekarang ini kurang bermutu. Mungkin juga benar mengukur mutu dosen itu dari keterampilan berbahasa Inggris. Mungkin juga benar bahwa dosen bermutu akan melahirkan mahasiswa bermutu.
Tetapi kalau mengikuti cara berpikir profesor ini, tentu akan ada diskusi panjang soal mutu dosen dan bahasa Inggris. Rasanya, jika dibandingkan dahulu, rasio dosen yang bisa berbahasa Inggris pastilah lebih banyak sekarang ini. Secara kasat mata kita bisa melihat ada pertambahan jumlah yang signifikan orang-orang di sekitar kita yang bisa berbahasa Inggris dibandingkan dahulu, 10 tahun atau 20 tahun lalu. Jadi, kalau mengukur mutu dosen dari bahasa Inggris, maka seharusnya mutu dosen sekarang bukannya kurang, tetapi meningkat.
Belum lagi bicara mutu mahasiswa sekarang. Rasanya, mahasiswa sekarang tak kurang mutunya. Prestasi mahasiswa mencuat di sana- sini. Tidak saja diakui nasional tetapi juga internasional. Saya mengukur mahasiswa di sekitar saya saja: sekarang ini mereka lebih rajin membaca dan menulis. Karya tulisan mereka malah kadang lebih mantap dibandingkan dosen mereka. Banyak mahasiswa yang saya kenal sudah punya buku sendiri. Bandingkan mahasiswa periode saya dahulu. Tidak ada orang di sekitar saya yang mencapai taraf itu!
Tetapi mengingat karya yang saya jadikan ukuran, saya teringat keheranan salah seorang profesor yang mengajari saya Linguistik Komparatif. Dia mengatakan koleganya bernama Profesor Robert Blust salah seorang ahli linguistik komparatif bahasa di Nusantara ini memiliki sedikit terbitan. Padahal temuan-temuannya sering dikutip oleh profesor lain. Kapasitas Robert Blust juga diakui, kedalaman ilmunya disegani. Karena itu jangan mengukur Robert Blust ini dari karya tulisnya.
Lalu? Agaknya saya harus sampai pada kesadaran bahwa penilaian kualitas orang mesti dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Menjudge seseorang tidak berkualitas mungkin lebih baik ditahan-tahan dahulu.
Kisah yang pernah diceritakan seorang khatib pada suatu kesempatan mungkin bisa menjadi pembelajaran. Diceritakan seorang nabiyullah yang diminta mencari makhluk yang lebih buruk dibandingkan dirinya. Lalu sang nabi berjalan di pasar. Dia melihat seorang pengemis. Semula dia berpikir pengemis itu lebih buruk dibandingkan dirinya. Ada beberapa perbandingan. Dia ingin membawa pengemis itu. Namun, sebelum niatnya terlaksana dia sempat menepis pikiran itu. Dalam beberapa hal pengemis itu masih lebih baik dibandingkan dirinya.
Dia berjalan lagi. Di perjalanan dia melihat seekor anjing kurap yang mengais-ngais sampah mencari makan. Dia ingin menangkap anjing itu. Dia berpikir, tentu anjing kurap lebih buruk dibandingkan dirinya. Tetapi, sebelum dia sempat menangkap anjing itu sisi lain pikirannya membantah. Tidak, anjing itu lebih baik dibandingkan dirinya.
Pada akhirnya, dia kembali pulang dengan hampa, dan melaporkan bahwa menurutnya tidak ada makhluk lain yang lebih jelek dibandingkan dirinya.
Apa yang terjadi? Justru orang yang memberi perintah memuji sang nabi.
“Untung kamu tidak menemukannya. Kalau kamu mengatakan orang lain lebih buruk dibandingkan kamu, itulah tandanya ada kesombongan di hatimu. Hampir saja kamu termasuk dalam kelompok orang-orang yang sombong”.
Bagaimana kita?
Diposting oleh Yusriadi di 02.29 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang
Senin, 30 Januari 2012
Pendidikan Karakter (2)
Oleh: Yusriadi
Hari itu, beberapa bulan lalu, guru-guru yang sedang menjadi mahasiswa menjalani ujian. Sebagian terlihat khusuk, membaca soal dan berpikir, menulis dan merenung.
Namun, sebagian lagi nampak gelisah.
Berusaha mengamati satu per satu. Saya menikmati pemandangan itu. Berusaha menekan perasaan.
Beberapa orang saya curigai membuka buku. Alamak, nyontek!
Saya mendekat. Benar. Di balik kertas kerja mereka, terlihat modul mata kuliah yang diujikan, dibuka. Sepintas lalu tidak terlihat, tetapi karena saya mengamatinya, saya dapat melihat modul yang berada di bawah kertas-kertas ujian itu terbuka.
Saya mengambil modul itu sambil mendengus.
Satu, dua, tiga.... Masyaallah. Enam orang.
”Uh... bapak”.
”Bapak duduk saja, napa sih”.
Ada suara protes. Mereka protes karena saya terlalu ketat melakukan pengawasan. Namun, saya tak peduli. Saya tidak bisa membiarkan mereka ujian sambil mencontek. Saya tak bisa membiarkan mereka mengumbar budaya nyontak.
Mereka guru. Mereka orang yang digugu dan ditiru.
Mereka orang yang sudah berumur. Orang yang selama ini sudah makan asam dan garam kehidupan lebih banyak dibandingkan saya. Jalan hidup mereka juga sudah sangat panjang, terutama dalam soal bagaimana mereka hidup dengan baik. Bahkan, saya yakin mereka lebih fasih menyampaikan soal kejujuran terutama kepada anak-anak.
Karena itulah saya tidak menceramahi mereka soal nyontak. Saya tidak mengambil tindakan yang biasa kepada mereka.
Ya, jika mereka bukan orang yang sudah tua, pasti mereka saya usir dari kelas. Pasti. Di ruang ujian yang biasa, menyontek adalah persoalan serius. Sebelum ujian, ancaman diskualifikasi sudah disampaikan.
”Berbicara dengan teman akan mendapat teguran. Teguran ke-3 dikeluarkan dari ruang ini”.
Begitulah. Keras. Kejam.
Tetapi, saya tidak punya pilihan. Bagaimana mana mengukur kemampuan sebenarnya jika hasil yang diperoleh melalui nyontek?
Bagaimana mendorong mereka belajar jika saat ujian mereka dengan bebas bisa memindahkan isi buku?
Rasanya, sukar bagi saya mendorong konsep belajar giat jika hal seperti ini tidak ditekankan.
Rasanya, tak tahu saya di mana meletakkan penghargaan bagi orang yang rajin belajar jika situasi seperti ini tidak dicegah.
Rasanya, sulit bagi saya di mana meletakkan kebanggaan atas prestasi, jika budaya nyontek dibiarkan.
Dan, saya tak bisa membayangkan bagaimana nanti mereka bisa menjauhkan murid-murid mereka dari budaya menyontek jika mereka sendiri sudah hidup dalam budaya menyontek.
Saya lebih tidak bisa membayangkan apa jadinya pendidikan Indonesia jika lebih banyak orang yang menjadi guru yang keranjingan dengan kebiasaan nyontek. (*)
Diposting oleh Yusriadi di 03.14 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang
Pendidikan Karakter (1)
Oleh: Yusriadi
Jumat (23/12) kemarin, secara kebetulan saya bertemu dan mengobrol dengan seorang lelaki paroh baya. Dia orang Pontianak yang sekarang tinggal di sebuah perkampungan nelayan di Sambas. Kami bertemu di sekolah saat pembagian raport. Saya dan dia sama-sama mendampingi ponakan mengambil raport.
Kami bisa ngobrol karena kami duduk berdekatan. Dia sangat terbuka dan ramah. Dia mengatakan tentang anak-anaknya. Anak-anaknya berprestasi.
”Istri saya yang banyak mendidik anak. Istri saya keras. Anak-anak dipaksanya belajar. Kalau jamnya belajar dia harus belajar. Pintu dikunci. Nanti kalau sudah belajar baru kemudian anak boleh bermain. Hasilnya, anak-anak saya dapat rangking”.
Istri diandalkan karena lelaki paroh baya itu lebih banyak berada di laut. Pekerjaannya sebagai nelayan membuatnya tidak bisa mendampingi anak-anaknya di rumah.
Karena itu, nampaknya dia sangat bangga pada istrinya yang bisa mendidik anak. Istrilah yang diandalkan untuk mendidik anak.
Saya kira, beruntunglah dia. Beruntunglah istrinya.
Tetapi kemudian saya harus katakan bahwa anaknya juga beruntung memiliki ayah seperti itu.
Ya, saya bisa mengatakan begitu ketika dia menceritakan bahwa dia sudah tiga puluh tahun hidup sebagai pelaut. Dan, sebagai orang laut dia sudah pergi ke mana-mana. Sudah banyak negara yang dikunjunginya. Itu sisi senangnya.
Dari sisi lain, dia juga mengalami beberapa kejadian yang juga tidak bisa dilupakan. Sudah tiga kali dia tenggelam di laut.
”Waktu di Selat Makasar, saya terombang-ambing di laut selama 5 hari, di atas galon. Saya diselamatkan oleh nelayan”.
Dia menyambung cerita soal dampak kehidupan sebagai pelaut yang ke sana ke mari itu. Pelaut dan nelayan sering terkena penyakit. Menurutnya, penyakit pelaut ada tiga. Penyakit pertama, perempuan; penyakit kedua, minum; penyakit ketiga, judi. Pelaut kena penyakit ini.
Seraya dia menjelaskan penyakit itu satu persatu, saya jadi teringat suatu ketika saya memang pernah mendengar cerita-cerita mirip begini. Penyakit perempuan menyergap nelayan dan pelaut ketika mereka berlabuh di dermaga. Penyakit judi dan minuman keras menyerang mereka saat berada di tengah laut. Karena hal ini, makanya, kononnya, wanita-wanita yang beroperasi sebagai pelacur di kota-kota pelabuhan, lebih banyak terkena penyakit kelamin, dan HIV-AIDS.
”Saya hanya kena satu penyakit. Minum. Perempuan dan judi saya tidak ikut”.
Sekarang, katanya, dia sudah berusaha berhenti. Tidak lagi minum minuman keras. Dia berhenti dengan susah. Maklum, kawan-kawan masih terus mengajak. Kawan-kawan juga menyindir.
”Saya dikata mulai alim oleh kawan-kawannya”.
Yang membuat saya tertarik, dia menyebutkan kalau dia bisa berhenti minum karena dia malu sama anak-anak. Dia berhenti bukan karena khawatir terkena penyakit atau berhenti karena mulai insyaf bahwa agama telah melarangnya.
”Saya malu dengan anak-anak. Mereka sudah besar. Malu kalau sampai ditegur anak-anak”.
Pengakuan bahwa dia malu pada anak menunjukkan bahwa keberhasilan anak meraih prestasi berkat didikan sang istri, berkelindan dengan pengembangan nilai-nilai hidup dalam keluarga ini. Dan, bapak paroh baya itu memperlihatkan bagaimana dia menghormati nilai-nilai itu.
Diposting oleh Yusriadi di 03.12 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang
Guru Boleh Protes?
Oleh: Yusriadi
Hari itu saya berdiskusi dengan sejumlah orang. Bolehkah guru melakukan demo karena tidak dibayar tunjangannya? Sejumlah orang mengatakan boleh. Guru boleh demo menuntut haknya.
Lalu, saya bertanya pada mereka. Kalau guru demo, bagaimana anak-anak di sekolah belajar? Atau, kalau kemudian tuntutan yang diajukan guru tidak dipenuhi, bagaimana? Apakah guru akan mogok mengajar? Kalau guru mogok mengajar bagaimana dengan murid-murid mereka?
Apakah yang ada dalam pikiran guru jika anak-anak tidak bisa belajar karena mereka tidak mengajar? Apakah guru akan prihatin? Apakah mereka memiliki tanggung jawab moral terhadap pendidikan siswa?
Pertanyaan lanjutan ini tidak bisa dijawab spontan oleh peserta diskusi. Mengapa? Karena saya kira mereka menemukan hakikat bahwa sebenarnya guru tidak boleh demo karena menuntut tunjangan. Guru tidak boleh mogok mengajar karena tunjangan tersendat.
Jika guru demo karena tunjangan, jika guru mengancam mogok mengajar karena tunjangan (gaji) atau malah mogok benaran, maka sebenarnya mereka bukan lagi guru. Mereka bukan lagi seorang pendidik.
Guru yang demo dan guru yang mogok karena tunjangan, karena uang, sebenarnya mereka adalah buruh. Mereka adalah pekerja. Orang yang melakukan sesuatu agar mendapat imbalan materi. Orang yang bekerja karena mengharapkan materi.
Guru sebenarnya tidak begitu. Guru adalah pekerjaan untuk pengabdian. Panggilan batin. Seseorang yang menjadi guru seharusnya bukan orang yang mengejar materi.
Orang yang mengejar materi menjadi guru sebaiknya tidak menjadi guru. Malah, saya sempat bercanda, jika saya kepala dinas, atau orang yang menentukan nasib guru, maka guru seperti itu akan saya pensiunkan. Saya akan katakan pada mereka, lebih baik berhenti menjadi guru dan berdagang. Lebih baik bekerja di sektor perkebunan atau tambang. Uangnya pasti banyak!
Tidak boleh nasib anak-anak diserahkan kepada guru yang bermental materialistis. Anak-anak hanya boleh diserahkan kepada orang yang bermental guru.
Seorang peserta diskusi membantah.
“Tapi, guru ‘kan perlu materi agar bisa hidup”.
Benar. Guru adalah manusia yang juga perlu materi untuk kehidupan. Tetapi saya percaya bahwa guru yang mendidik dengan benar, guru yang menjalankan amanatnya sebagai pendidik, tidak pernah akan kesulitan soal makanan.
Orang tua murid pasti akan menilai. Orang tua murid pasti akan prihatin dan menyampaikan terima kasih. Orang tua murid yang tidak bisa menghargai pengabdian guru adalah orang tua murid yang ‘kebangetan’.
Saya kira pemerintah juga akan begitu. Pemerintah pasti akan berterima kasih pada orang yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan anak bangsa. Pemerintah pasti merasa berkewajiban untuk membalas pengabdian yang sudah diberikan guru. Bagaimana menurut anda?
Diposting oleh Yusriadi di 03.04 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang
Selasa, 09 Maret 2010
Gang Becek di Kota Pontianak
Oleh Yusriadi
Sejumlah anak sekolah berbaju putih dengan rok dan celana merah manggis melintas di Gang Karet Indah, Jalan Karet, Pontianak, di suatu pagi beberapa hari lalu. Mereka berjalan kaki dari arah Gang Sanubari, Parit Tengah. Dari jauh suara mereka sudah terdengar; ramai dan meriah. Mereka sambil bergurau, agaknya. Tapi, saya tidak dapat menebak apa yang mereka bicarakan. Maklum, mereka menggunakan bahasa Madura; bahasa yang tidak saya mengerti.
Bahasa mereka memang menarik perhatian saya: terutama pola campur antara bahasa Madura dan bahasa Melayu Pontianak. Sering-sering saya mencoba menyimak percakapan mereka. Banyak hal menarik untuk ditulis.
Tetapi, hari itu, bukan bahasa mereka yang menarik perhatian saya. Saya tertarik melihat mereka melintas di depan saya karena semua mereka menjinjing sepatu. Ya, sepatu yang seharusnya mereka pakai, tidak mereka pakai. Mereka nyeker, pakai kaki ayam.
Mengapa begitu? Ini karena lintasan mereka yaitu Gang Karet Indah, tidak seindah namanya. Gangnya tidak indah, tetapi justru berlumpur. Maklum musim hujan. Di gang itu masih ada bagian berlumpur sepanjang 100 meter, dari panjang gang ini lebih kurang 500 meter. Di bagian gang ke arah Jalan Karet sepanjang 300 meter sudah bersemen. Lebarnya lebih kurang 1,5 meter. Saya tahu, bagian ini bisa bersemen begini karena pernah ada bantuan pemerintah kota beberapa tahun lalu. Karena bantuan semen terbatas, bagian yang bisa ditangani hanya separoh itu.
Bagian ujung ke arah Gang Sanubari 2, yang 100 meter itu juga sudah bersemen. Ukurannya kira-kira setengah meter saja. Bagian ini, selain swadaya beberapa keluarga di ujung bagian ini, ada juga bantuan dermawan.
Dahulu, pilihan lintasan utama anak-anak dari Gang Sanubari ke sekolah ibtidaiyah di Jalan Karet, sebenarnya Gang Karet Makmur, bersebelahan dengan Gang Karet Indah. Keadaan Gang Karet Makmur ini kurang lebih sama. Bagian tengah masih belum beraspal dan becek. Ada bagian yang beceknya cukup dalam hingga betis. Sudah pernah beberapa kali ditimbus dengan tanah, tetapi, tidak berhasil. Bagian jalan ini kerap terendam. Jika bukan terendam karena pasang air laut, bagian ini terendam karena air hujan. Aliran airnya tidak lancar. Jalan tanah terendam. Karena sering dilewati, lama-lama becek lagi.
Sekarang, dibandingkan Karet Makmur, Gang Karet Indah ‘agak’ lebih mendingan. Tetapi, walaupun mendingan, anak-anak sekolah tetap harus buka sepatu kala melintasi bagian tengah gang tersebut, agar sepatu tidak basah.
Saya tentu saja sangat terkesan ketika melihat anak-anak menjinjing sepatu. Apa yang terjadi pada anak-anak itu mengingatkan saya pada pengalaman sendiri saat kelas 1 madrasah ibtidaiyah di Riam Panjang, Kapuas Hulu, tahun 1979.
Waktu itu kami masih tinggal di Sebugau, tempatnya di tengah kebun karet, yang lebih dekat ke ladang. Waktu itu bapak belum punya rumah di kampung. Kalau bapak ke kampung, pada hari Jumat, bapak menumpang singgah berganti pakaian salat di rumah keluarga.
Jarak Sebugau – sekolah kira-kira 3 kilometer. Jalannya jalan setapak. Pada musim hujan becek. (Oh, kadang saya sengaja tidak pakai di tengah hutan, agar sepatunya tetap bagus). Ketika kelas satu saya beruntung karena dibelikan sepatu kain; saya lupa mereknya. Nah, sepatu itu saya bawa tiap hari. Kadang saya jinjing dengan ranting, kadang kala saya masukkan dalam “sodung” (jenis ambinan kecil dari rotan). Saya, (dan teman sekolah) ketika itu tidak punya tas. Tempat terbaik untuk menyimpan buku adalah kantong plastik. Tetapi, itupun susah diperoleh. Ada teman yang harus rebutan dengan emaknya, karena emak juga mau pakai kantong plastic sebagai ganti tasnya kalau pergi ke kampung.
Saya hanya memakai sepatu bila sudah sampai di lanting (rakit tempat orang mandi) dekat sekolah. Tepatnya, memakai sepatu setelah kaki bersih dari lumpur.
Sudah lama saya tidak mengingat masa-masa menjinjing sepatu. Sebab, selalunya, saya melihat anak-anak sekarang pakai dan buka sepatu di rumah. Tidak ada lagi istilah jinjing-jinjing karena jalan becek.
Karena itu, ketika kemarin saya menyaksikan anak-anak itu menjinjing sepatu ke sekolah, saya jadi teringat semua itu.
Saya kira ini pemandangan langka. Langka karena pasti jarang-jarang kita melihat hal seperti itu. Terlebih lagi pemandangan itu saya lihat di kota; di pusat pembangunan. Lebih dari sekadar langka, pemandangan ini menyentuh perasaan. Ternyata masih ada banyak orang yang belum dapat bersama kita menikmati kemajuan pembangunan kota Pontianak. Entahlah, siapa yang mau peduli pada pengalaman mereka?!
Diposting oleh Yusriadi di 07.40 0 komentar
Label: Pendidikan, Pontianak, Suara Enggang
Minggu, 31 Januari 2010
HP Anak Sekolah
Oleh: Yusriadi
Kisah anak SMAN 7 Pontianak yang kedapatan melihat adegan asusila di HP, mengingatkan saya pada pengalaman seorang teman.
Teman menceritakan, anaknya yang berusia 11 tahun, sudah melihat adegan seperti itu dan mencontohkan cara orang “mendesah-desah”. Anak umur segitu itu melihat adegan tersebut di HP teman sekolah saat mereka istirahat.
“Kaget saya mendengarnya,” aku teman.
Dia kaget, saya juga kaget. Bayangkan anak usia 11 tahun melihat adegan itu lewat HP, di sekolah lagi!
Mengapa ada siswa usia SD bisa membawa HP ke sekolah? Mengapa ada siswa SD bisa menyimpan gambar begitu di HP mereka?
Setahu saya, banyak sekolah dasar yang melarang siswa membawa HP. Ada razia. Sekolah tempat anak teman belajar juga ada peraturan itu. Tapi kok bisa?
Rupanya, saat razia siswa itu menitipkan HP mereka kepada pemilik warung Kadang juga HP disimpan di lemari di dalam kelas. Kadang juga disimpan di pot bunga. Siswa tersebut menyimpan HP-nya di tempat yang tidak terjangkau perhatian guru. Saya mendengar cerita ini dengan takjub. Sungguh anak yang hebat. Anak itu lebih hebat dari guru. Anak itu dapat mengecoh guru mereka. Anak itu lebih pintar dan panjang akal dibandingkan guru mereka.
Kalau sudah begini keadaannya, ini bukan salah guru. Bukan salah sekolah. Mereka sudah berusaha membuat aturan dan menegakkan aturan.
Lalu, jika begitu, ini masalah siapa? Saya anggap, dalam kasus anak SD yang menyimpan film tidak senonoh di HP mereka, ini masalah orang tua. Pertama, orang tua yang memberikan uang untuk membeli HP. Kedua, orang tua yang pasti ikut memilih atau paling tidak merestui jenis HP yang dipilih. Orang tua yang memilih membeli HP yang bagus sehingga alat itu berfungsi lebih dari sekadar untuk menerima dan menelepon. Fasilitas yang memungkinkan membuat anak dapat menyimpan file memuat gambar asusila.
Jadi, seharusnya, jika orang tua benar-benar memperhatikan pendidikan dan masa depan anak mereka, orang tua seharusnya merasa bertanggung jawab untuk mengontrol isi HP anak mereka. Orang tua seharusnya juga memastikan HP yang dibelikan untuk anaknya digunakan hanya untuk hal yang positif.
Sesungguhnya bukan saja soal isi HP, orang tua juga selayaknya mengontrol atau paling tidak tahu, siapa yang menghubungi dan dihubungi anak mereka. Bahkan jika mungkin, tidak saja panggilan keluar masuk, SMS yang keluar masuk juga sesekali dipantau oleh mereka.
***
Saya jadi teringat ketika beberapa waktu lalu saya bertemu dengan anak seorang teman yang sekarang menjadi kepala sekolah, sebuah sekolah agama.
Anak itu duduk di kelas 2 sekolah menengah. Hari itu, ketika saya sedang belanja di warung saya melihat anak itu juga datang ke warung. Dia menenteng HP-nya. Saya mengenal HP jenis itu disebut HP Pisang. Ya, karena bentuknya seperti pisang, agak melengkung.
Saya penasaran melihatnya.
“Woi, HP-nya bagus benar”.
Anak itu tersenyum mendengar saya memujinya. Lalu saya bertanya pada dia berapa harganya. Dia menyebutkan harga.
“HP bekas bah”.
“O, bekas?”
“Coba lihat”.
Dia menyerahkan HP-nya. Saya mengambil dan mengutak-atik tombolnya. Saya melihat isi folder. Lalu masuk lagi ke gambar-gambar dalam folder itu.
Alamak! Saya kaget ternyata di folder itu ada banyak gambar perempuan dengan setengah telanjang.
“Ya ampun…. Kamu simpan gambar begini???”
Anak itu nampak gugup ketika mendengar suara saya meninggi. Dia gagap.
Dia menceritakan gambar yang ada di folder itu memang sudah ada sejak awal. Gambar itu koleksi pemilik HP sebelumnya. Bukan dia yang memasukkan.
“Dihapus ya. Kalau ndak saya beritahu bapak nanti”.
Saya meminta begitu, karena saya khawatir, anak tersebut akan ngiler melihat hal seperti itu. Mungkin, nanti malah pengin melihat gambar hidup. Saya khawatir dia terjerumus; saya khawatir dia gagal melanjutkan pendidikan. Dia anak teman saya, karena itu saya merasa harus mengingatkannya – sekalipun nampak sedikit usil.
Anak itu mengambil HP yang saya kembalikan. Dia (sepertinya) menghapus beberapa gambar perempuan cantik itu. Entah dihapus semua, entah tidak.
Kejadian ini, kisah anak SD dan kisah siswa SMAN 7, mengingatkan saya betapa lemahnya kontrol orang tua, terhadap anak mereka. Betapa orang tua kurang dapat mengontrol prilaku anak mereka. Orang tua tidak mungkin menyerahkan kontrol prilaku dan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, karena kemampuan sekolah juga terbatas. Waktu sekolah bersama anak juga terbatas.
Kejadian ini sekaligus juga mengingatkan kita bahwa ke depan pihak sekolah tidak boleh berhenti melakukan kontrol terhadap HP siswa mereka – tentu saja melakukan kontrol dengan cerdas sehingga tidak ‘diketawain’ siswa yang nakal.
Jangan pernah bosan!
Diposting oleh Yusriadi di 04.51 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Sabtu, 10 Oktober 2009
Tak Ada Sungai Kapuas
Oleh: Yusriadi
Malam itu, saya sedang duduk di depan computer. Di samping saya, Caca, anak saya nomor 2 sedang belajar, menjawab pertanyaan Ilmu Pengetahuan Sosial. Buku yang digunakan adalah buku IPS SD/MI Jilid 4, Kelas IV, karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia.Buku itu diterbitkan oleh Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008.
“Pak, di provinsi Bali terdapat gunung …?”
Caca meminta saya mencarikan jawaban. Saya mengalihkan pandangan pada dia.
Saya melihat dia sedang mengerjakan soal di halaman 24.
“Masak tidak ada dalam bacaan?”
Saya tidak mau menjawab. Saya meminta Caca mencari sendiri jawabannya. Lalu, dia membolak balik halaman bacaan. Di halaman 16 terdapat table 2.1 Gunung di Indonesia. Pada nomor 8 terdapat nama gunung Agung, letakknya di Bali.
Caca memangkah jawaban dari pertanyaan tadi.
“Bacalah dulu, baru jawab”.
Kata saya sambil mendelik kepadanya.
Dia menurut. Lalu dia melihat lagi bacaan-bacaan itu.
Saya ikut membaca buku yang dipegang Caca.
Ada table 2.2 nama tanjung di Indonesia. Dari 5 tanjung itu, ada Tanjung Kehidupan di Kalimantan. Entah Kalimantan mana, tidak tahu. Lalu ada table 2.3 laut di Indonesia. Hanya 4 laut yang disebut di sana. Laut Jawa di Utara Jawa, Laut Arafuru di Kepualauan Aru, Laut Banda di Pulau Seram, dan Lautan Indonesia di Selatan Sumatera sampai Selatan Jawa.
“Di sekitar Kalimantan tidak ada laut agaknya,”pikir saya.
Lalu, tentang Selat pada table 2.4. Ada 5 selat, yaitu selat Bangka, selat Sunda, selat Madura, selet Peleng dan selat Alas. Tabel 2.5 tentang Teluk.
Yang unik, Tabel 2.6. Sungai di Indonesia.Ada 9 sungai disebutkan. Sungai Asahan di Sumatera Utara, Batanghari di Jambi, Citarum di Jawa Barat, Gumanti di Sumatera Barat, Mamberamo di Papua, Mahakam di Kalimantan Timur, Bengawan Solo di Jawa Tengah, Musi di Sumatera Selatan dan Brantas di Jawa Timur.
“Sungai Kapuas-nya mana?”
Saya mengamati dengan teliti. Penasaran.
“Kok tidak ada?”
Sungguh mengherankan. Heran, karena dalam pengetahuan geografi saya, Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia. Panjangnya 1.900 kilometer dari muara laut Cina Selatan, hingga batas pengunungan Muler, batas Kalimantan Timur. Laut Cina Selatan dan Pegunungan Muler dua-duanya juga tidak disebutkan.
Pertanyaan yang bergelayut di benak saya selanjutnya:
“Mengapa Sungai Kapuas tidak masuk dalam daftar table pelajaran anak SD?”
Mulanya saya berpikir, tidak ada bahan yang cukup bagi penulis buku tentang sungai kebangaan orang Kalimantan Barat ini.
Tetapi, kemudian, rasanya mustahil. Saya tahu tentang Sungai Kapuas dahulu dari pelajaran geograpi – salah satu pelajaran favorit saya sewaktu SD—lebih 20 tahun lalu.
Apalagi sekarang, tinggal brows di internet, nama sungai Kapuas pasti muncul. Hanya orang yang pengetahuannya cetek saja yang tidak tahu tentang sungai terpanjang di Indonesia. Tidak masuk akal bagaimana penulis buku ilmu pengetahuan social, tidak menyimpan memori tentang sungai terpanjang ini.
Lalu, kalau begitu mengapa?
Sempat terlintas pikiran nakal saya: saya teringat orasi ilmiah Prof Dr. James T. Collins – pakar bahasa Melayu, yang menyebutkan betapa orang Belanda dahulu membuat peta tentang sungai-sungai di negeri Belanda. Orang Indonesia yang belajar geografi berpandukan peta itu mendapat kesan sungai dalam peta itu adalah sungai besar. Tetapi, ketika mereka ke Belanda, mereka terkejut, sebab sungai besar di peta tidak lebih dari sebuah parit kecil saja.
Ada politik melalui peta di sini.
“Apakah dalam penulisan buku geografi ini juga ada „politik periperi“ terhadap Kalimantan – atau tepatnya terhadap luar Jawa?”
Saya berpikir begitu karena, dalam ingatan saya penulisan sejarah Indonesia juga terkesan Jawa sentris. Dalam buku Sejarah Indonesia yang ditulis Prof. Sartono misalnya, saya sempat terkejut ketika mendapati bahwa informasi sejarah awal tentang Kalimantan Barat sedikit. Malahan, seakan-akan Kalbar tidak masuk dalam pusaran sejarah Indonesia.
Padahal, pada kurun abad ke 18, 19, Kalbar memainkan peranan sebagai salah satu titik penting dari dinamika perhubungan di nusantara.
Sungguh memprihatinkan.
Tetapi keprihatinan ini hanya sekadar prihatin. Mungkin tidak ada yang bisa dibuat. Tidak ada kemampuan saya merekomendasikan buku ini direvisi dan nama Sungai Kapuas, Laut Cina Selatan, dimasukkan ke dalam peta. Ada gubernur, ada dinas pendidikan, ada ilmuan Kalbar; kalau memang peduli.
Mungkin saya akan terus prihatin, karena anak saya tidak tahu bahwa sungai yang hampir setiap hari mereka lihat, mungkin sungai yang setiap hari airnya mereka minum, sebenarnya adalah sungai istimewa di Indonesia: Sungai Terpanjang.
Uh, menyedihkan benar.
Diposting oleh Yusriadi di 05.05 2 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang, Sungai Kapuas, Tentang Yusriadi
Sekolah dan Guruku di Riam Panjang
Oleh: Yusriadi
Sudah lama aku ingin mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kapuas Hulu. Aku ingin mencari data tentang partisipasi pendidikan orang Riam Panjang. Data ini akan membantu aku menjelaskan bagaimana tingkat partisipasi pendidikan orang di pedalaman, di kampung kelahiranku.
SD Riam Panjang itu sekolah dasarku. Dahulu, hampir 30 tahun lalu aku belajar di sini. Aku duduk di kursi kayu di sekolah ini selama 5 tahun, setelah aku pindah dari Madrasah Ibtidayah Riam Panjang yang ditutup begitu SD ini berdiri tahun 1978/1979.
Aku di sini menuntut ilmu dari guru-guruku – yang beberapa di antaranya sudah berpulang ke rahmatullah, ada juga yang tidak aku ketahui ke mana mereka. Sedangkan mereka yang sempat kutemui, kini sudah nampak agak tua. Melihat mereka sekarang, aku merasa aneh. Dahulu, saat aku kecil dan saat itu mereka muda, sebagian mereka menurutku galaknya minta ampun. Beberapa guru pernah memukul aku dan teman-teman dengan ranting kayu sebesar rotan kecil – ranting yang kami ambil dari semak belukar, karena kami tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Kami juga pernah dipukul dengan penggaris kayu, hingga penggaris itu patah, karena kami ribut saat tidak ada guru. Kami juga pernah dipukul dengan buku hingga buku berderai karena berkelahi. Kami pernah dijitak hingga benjol ketika ada teman yang senyum-senyum saat upacara. Wiuh, mereka ketika itu sungguh menakutkan. Orang tua hampir tidak pernah membela kami karena hukuman fisik itu.
“Salah kalian, mengapa nakal. Makanya belajar benar-benar. Guru tidak akan menghukum kalian jika kalian baik-baik“.
Karena orang tua kami menghormati guru, kami juga sangat menghormati mereka. Tak sedikit pun terlintas pikiran kami mencela mereka sekalipun kalau dipikir-pikir sekarang, betapa mereka menyakiti fisik kami. Apapun, guru dalam pandangan kami adalah orang yang layak digugu dan ditiru. Sampai sekarang. Guru-guru kami tetaplah guru.
Mereka juga memandang kami benar-benar murid yang mereka bimbing. Mereka melaksanakan tugas karena panggilan jiwa mereka sebagai pendidik.
Aku selalu terharu ketika bertemu mereka, terharu ketika mendengar mereka membanggakan kami sebagai muridnya yang kini berhasil. Cara mereka bernostalgia tentang kami dahulu saat belajar membuat kami juga merasa menjadi murid yang beruntug karena memiliki guru yang sayang pada kami.
***
Aku memasuki gerbang sekolah. Di sebelah kiri pintu masuk ada plang sekolah dan plang visi sekolah. Visi yang akan selalu mengingatkan guru-guru di sekolah ini pada tugas mereka sebagai pendidik.
Bangunan sekolah memanjang. Pada bagian paling ujung sebelah kanan ada kantor. Bangunan sekarang adalah bangunan baru. Bangunan lama tempat aku dan kawan-kawan dahulu belajar, dibangun tahun 1978, sudah dirobohkan. Bangunan lama, kayunya sudah lapuk.
Aku merasa sekolah ini lebih kecil dibandingkan dahulu. Kelas-kelasnya rasanya begitu kecil. Mungkin perbedaan itu muncul karena sekarang aku sudah besar. Tinggiku mungkin sudah dua kali lipat dibandingkan dahulu saat aku belajar di sini.
Aku sempat melongok ke dalam kelas melalui pintu yang terbuka. Di dalam sana ada sejumlah anak sedang belajar. Siswa tidak banyak. Kelas tidak terlalu ramai.
Sekolah ini tetap sederhana. Fasilitas yang baru rasanya cuma perpustakaan sekolah yang terdapat di sebelah kanan pintu masuk. Aku tidak sempat bertanya tentang buku. Aku juga tidak sempat mengunjunginya. Pintu perpustakaan itu tertutup.
Beruntunglah anak-anak sekarang memiliki tempat membaca. Mudah-mudahan perpustakaan ini juga menyediakan buku pelajaran, sehingga setiap siswa dapat menggunakan bahan itu. Setidaknya mereka lebih beruntung dibandingkan pengalaman kami dahulu: satu buku dikongsi orang sekelas. Seorang anak ditugaskan mendikte, kadang-kadang juga buku pelajaran itu disalin di papan tulis, dan kemudian siswa yang lain menyalinnya. Dahulu, aku juga mendapat giliran menulis di papan tulis atau mendiktekan pelajaran kepada teman-teman. Aku ingat inilah pekerjaan yang menyenangkan.
Padahal, kalau kupikir-pikir sekarang justru tugas ini menambah beban. Beban, karena di rumah nanti aku harus mencatat bahan-bahan itu dalam buku tulisku. Kawan yang lain karena sudah mencatat, bisa lebih santai.
Tetapi, mau apa lagi. Waktu itu buku-buku memang terbatas. Waktu itu tidak ada siswa yang mempunyai buku cetak. Tidak ada juga tempat foto copy.
Di balik keadaan begini, kami terlatih menulis. Sambil menulis kami bisa sambil belajar. Sekolah satu-satunya tempat belajar. Di rumah kami jarang belajar, jika tidak ada PR. Malam, kami lebih banyak diisi dengan nonton TV di tempat tetangga. – Dahulu di kampung yang luas itu hanya ada 2 TV. Bayangkan betapa ramainya. Mungkin cerita TV tidak seberapa. Tetapi, menonton ramai-ramai itu bentuk hiburan.
Kami tidak suka belajar di rumah (dan diam di rumah) karena waktu itu di rumah tidak ada lampu. Penerangan kalau malam hari hanyalah pelita. Listrik kampung tidak selalu bisa menyala. Kadang kala jika stok solar habis, atau operator listrik tidak ada, kami harus rela bergelap gulita.
Sungguh pun sekarang Riam Panjang sudah ada listrik namun amat jarang listrik menyala pada siang hari. Karena itu di ruang guru tidak ada peralatan elektronik. Tidak ada kipas angin dan AC, tidak ada komputer, tidak ada kulkas. Aku jadi membandingkan sekolah di kampung dengan sekolah di kota. Jauh sekali.
Kepala sekolah sekarang Mustafa, S.Pd memberitahukan, sebenarnya di sekolah ini sudah ada komputer. Namun karena tidak ada jaringan listrik, komputer itu tidak bisa digunakan. Karena listrik hanya ada di waktu malam dan jaringan hanya ada di rumah, akhirnya, disepakati komputer dibawa ke rumah.
Tetapi, malangnya, komputer juga tidak bisa digunakan. Komputer pernah coba dinyalakan, namun tidak bisa juga. Listrik di rumah penduduk hanya berkekuatan 450 KWH. Tidak cukup. Stut listrik jatuh.
Walau begitu, kabarnya tidak lama lagi sekolah akan mendapat laptop dan in focus. Di Pontianak‚ benda ini digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Guru membuat bahan presentasi dalam program window powerpoint, lalu, dia menyampaikannya dengan bantuan in focus yang ‚ditembakkan’ ke layar.
Aku sempat berpikir bagaimana guru di sini bisa menggunakan laptop dan in focus dalam mengajar, jika listrik tidak ada seperti sekarang. Pasti in focus akan jadi barang pajangan, seperti juga laptop sekarang ini.
Niat baik, tetapi tak mungkin terlaksana. Impian yang masih jauh dari kenyataan.
Keterbatasan ini membawa implikasi serius pada guru. Guru-guru sekolah ini, beberapa di antaranya guruku dan kawan kelasku SD, kesulitan mencapai kredit poin seperti yang disyaratkan untuk karir mereka.
Saat ini, baru 3 guru yang lulus sertifikasi. Lebih banyak yang belum. Aku mengasihani mereka yang belum: bagaimana mereka mengumpulkan angka untuk kepentingan itu. Bandingkan di Pontianak, kenaikan pangkat rasanya tidak suka dicapai. Fasilitas pendukung untuk mencapai angka kredit mudah diperoleh.
Aku sempat bertemu guru agamaku dahulu. Pak Yunus. Beliau, termasuk orang yang menghadapi kendala dalam mengejar sertifikasi. Hambatan yang terbesar: pendidikan. Beliau belum S-1. Kesempatan kuliah ada, tetapi tidak mudah. Kalau mau kuliah mereka harus biaya sendiri, ke Putussibau atau Pontianak. Jarak Putussibau 100 Km dan jarak ke Pontianak sekitar 700 Km. Kalau mau kuliah mereka harus meninggalkan kampung dan meninggalkan tugas. Belum dihitung berapa besar biaya yang diperlukan. Mengandalkan gaji sendiri sudah pasti benar-benar sulit.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah mereka dapat memperoleh izin belajar jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.
Jika begini terus keadaannya, bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tahun 2014, tahun yang katanya setiap guru harus sudah sertifikasi.
Nasib!
Tetapi aku tidak berlama-lama memikirkan nasib mereka. Aku berharap pemerintah, khususnya instansi terkait, menemukan jalan keluar bagi guru-guru di pedalaman. Kupikir, kepada instansi itulah urusan mereka diserahkan.
Saat itu, aku lebih terfokus pada buku induk siswa SD. Aku mencatat nama-nama siswa sekolah, lalu membuat tabulasi perangkatan. Aku beruntung, sekolah ini dikelola dengan baik sejak awal. Administrasinya cukup kemas, meskipun sederhana. Data murid sejak tahun 1978 hingga 2008 tersedia.
Aku benar-benar bernostalgia ketika membaca nama teman-teman lama, ketika melihat foto-foto mereka. Teman-teman sekarang sudah ke mana-mana. Bekerja dalam berbagai bidang dan profesi.
Aku juga mendapati kenyataan, ada banyak teman yang sudah menghadap Tuhan. Mereka tak mungkin dijumpai. Hanya tingga nama di buku induk. Semoga Tuhan memberikan mereka tempat yang layak.
Diposting oleh Yusriadi di 04.59 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Pendidikan, Riam Panjang
Kamis, 17 September 2009
Dr Badzrul: Kultur Akademik STAIN Pontianak
Oleh Yusriadi
“Saya lihat orang di sini iklim akademiknya tinggi“.
Itu dikatakan Dr. Badzrul Bahaman, Wakil Direktur Institut Kajian Indonesia-Malaysia (IKM) Universiti Industri Selangor, Malaysia, saat berjalan bersama saya sore itu. Saya dan Badzrul berjalan dari kantor MC di Lt 2 Perpustakaan STAIN Pontianak menuju Masjid.
Ada nada kagum dari komentar itu.
“Begitukah Bang?“
Saya memanggilnya “Bang“ saja karena saya mengenalnya sejak tahun 1996, saat mula kuliah di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Waktu itu, Badzrul sedang menggarap penelitian tentang sastra komunitas Sakai di Riau, sedangkan saya meneliti tentang bahasa komunitas di pedalaman Kalimantan Barat.
Kami sempat menggarap bulletin di ATMA, yang kami beri nama “Sukma Nusa“, singkatan dari suara kajian Melayu Nusantara.
Seharusnya, saya memanggilnya “doktor“, jika ikut adat tradisi di Malaysia. Di Malaysia, secara formal seseorang yang bergelar doktor hampir selalu dipanggil doktor. Tetapi, agak susah menghilangkan panggilan lama itu.
Badzrul lantas menyebutkan beberapa gambaran yang membuat dia menilai iklim akademik di STAIN Pontianak, baik.
”Seminar tadi, penuh ruangan. Ada yang tak dapat tempat duduk,”
Ya, ruangan seminar kami di Ruang Rapat STAIN Pontianak, Lt 2 Bangunan Akademik, tidak mampu menampung peserta yang datang menghadiri seminar Melayu MC itu (Sabtu 12/9). Kapasitas ruangan hanya mampu menampung 30 peserta. Jumlah mereka yang mau ikut seminar lebih banyak.
Sebelum Bazdrul berkomentar, saya juga sudah mendengar informasi dari Ibrahim, Direktur MC, bahwa saat seminar itu, ada puluhan orang yang berdiri di pintu masuk dan di luar, kemudian pulang karena tidak mendapat tempat duduk.
Padahal, panitia seminar hanya menyebarkan sedikit undangan. Pemberitahuan seminar disampaikan lewat koran Borneo Tribune, dan tempelan pengumuman di papan-papan pengumuman di dalam wilayah kampus.
Kami, sebagai penyelenggara seminar, sebenarnya lebih suka sedikit peserta. Sebab, target seminar selalunya bukan jumlah peserta, tetapi materi. Kami, sebatas ingin menyediakan forum bagi teman-teman agar berkesempatan menyampaikan temuannya orang lain, untuk mendapat tanggapan dan komentar, bukannya menyediakan ruang agar orang lain mendapat informasi.
Saya selalu berpikir, dengan begitu kami tidak perlu risau memikirkan berapa banyak orang yang datang. Tidak perlu repot mengurus agar orang lain mau datang dan mau mendengarkan apa yang disampaikan narasumber. Dengan demikian, kami selalu merasa, membuat seminar itu pekerjaan yang mudah dan dapat menggelar seminar sebanyak mungkin.
Tetapi, menggelar seminar dengan targetnya peserta, sebenarnya bukan pekerjaan sulit di STAIN Pontianak. Tinggal beritahu beberapa orang teman, dan kemudian kerahkan mahasiswa. Ruangan besar sekalipun akan terisi.
Saya tidak memberi tahu Bazdrul soal begini. Lagian, saya tahu menggelar seminar di Malaysia – jika targetnya peserta, memang susah. Di dunia modern seperti Malaysia, minat akan menentukan apakah orang mau atau tidak datang dalam sebuah seminar. Panitia harus pandai memilih tema yang menarik minat.
***
Sebab lain membuat Badzrul mengatakan minat akademik di STAIN Tinggi adalah ketika sore itu dia melihat masih banyak mahasiswa yang berkumpul di kampus. Di bawah pohon rindang (DPR) begitu dibahasakan untuk tempat duduk semen di bawah pohon di dekat aula kampus, ada empat lima mahasiswa sedang duduk. Di depan gedung Dakwah juga. Di masjid, sore itu beberapa mahasiswa juga sedang duduk menunggu saat berbuka.
Kehadiran mereka membuat kampus hari itu seolah-oleh hidup dari pagi hingga sore.
Saya kira sebenarnya, kenyataan begini bukan hanya bisa dilihat di kampus STAIN. Di kampus di Malaysia, suasananya malah lebih ’dahsyat’. Mahasiswa bertahan di kampus sampai malam. Saya contohkan perpustakaan Tun Sri Lanang, perpustakaan utama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Perpustakaan ini tidak pernah sepi. Selalu ramai pengunjungnya – sekalipun tidak ribut.
Perpustakaan di STAIN hanya buka hingga sore. Malam sudah tutup. Tutup karena tidak ada yang mengunjungi. Kayaknya belum ada yang betah. Tetapi, meskipun demikian, apa yang dilihat sore itu menunjukkan ’keramaian’ di kampus STAIN tidak kalah jauh dibandingkan di kampus maju.
***
Bazdrul juga melihat ada banyak terbitan di kampus STAIN Pontianak. Ketika Badzrul berkunjung ke ruangan kerja saya di MC Jumat (11/9), saya sempat mengambil tidak kurang dari 20 buku dalam bidang Melayu yang diterbitkan STAIN Pontianak Press, saya perlihatkan kepada Bazdrul.
Sebagian besar dari buku itu adalah tulisan dosen-dosen STAIN Pontianak. Beberapa dosen, memiliki lebih dari 1 karya. Jumlah karya ini juga sering dijadikan kebanggaan Ketua STAIN Pontianak Haitami Salim dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Yapandi Ramli. P3M menaungi STAIN Pontianak Press.
Bahkan, sejumlah dosen Untan, STKIP, dan ATMA-UKM juga menerbitkan karya mereka di STAIN Pontianak Press.
Badzrul sempat menyatakan keinginan dia agar ada bukunya yang diterbitkan di STAIN Press.
Seperti juga Pak Haitami dan Pak Yapandi, saya memang selalu membanggakan terbitan STAIN Pontianak Press jika ada tamu yang datang ke kampus. Saya selalu melakukan apa yang saya lakukan kepada Badzrul: mengambil buku dan memperlihatkannya.
Habis, saya pikir, saya mau banggakan apa lagi. Fasilitas kampus STAIN belum dapat saya banggakan kepada teman yang datang, karena saya tahu kampus-kampus mereka, ruangan kerja mereka, jauh lebih baik dari kampus STAIN Pontianak.
Kampus-kampus mereka lahan luas berpuluh-puluh hektare, kampus STAIN Pontianak, sempit. Kampus mereka berlantai 4-5 (bahkan lebih), sedangkan kampus STAIN Pontianak hanya baru berlantai 2. Kampus mereka punya lift, kampus STAIN tak punya.
Ruang belajar mereka ber-AC, adem, ruang belajar di STAIN, pakai kipas angin dan AC alam, campur debu. Kipas angin yang tergantung di dek, kadang tak berfungsi karena siang hari listrik kerap padam. Di tempat mereka, dosen mengajar dengan tampilan slide, infocus siap, internet ready, sedangkan di kampus STAIN Pontianak, ruang belajar yang tersedia infocus hanya satu dua saja. Infocus selalunya diangkut-angkut. Beberapa kali – walau sudah susah payah mengangkutnya, tak bisa pula dioperasikan. Alhasil, white board selalu jadi andalan media belajar.
Internet di kampus STAIN kononnya free dengan ada jaringannya, tetapi saya hanya sesekali dapat memanfaatkannya. Sekarang tidak bisa lagi.
Saya sering masuk ke ruang kerja teman-teman di kampus di Malaysia. Ruangannya full AC, kursinya putar. Satu dosen, satu ruangan. Kecuali tutor, mereka berkongsi ruangan. Ruangan sendiri memungkinkan dosen menyimpan buku di kampus. Ruangan ber-AC membuat orang betah di kampus. Kampus menjadi rumah juga bagi mereka.
Saya sendiri rasanya tidak kerasan di kampus. Kipas angin bawa sendiri dari rumah. Itupun di kampus masih harus dikongsi. Ruangan tetap panas. Kursi putar, baru mimpi. Kursi dan meja yang ada harus minta dan menunggu. Belum lagi rak untuk buku dan fasilitas lain.
Tetapi, soal begini tidak pernah dijadikan hambatan benar – jika tidak sedang dipikirkan. Karya tetap dihasilkan. Beberapa buku sudah pun terbit. Sekalipun beberapa di antaranya adalah bunga rampai, atau tulisan bersama teman-teman dan mahasiswa.
Dan buku-buku beginilah yang sebelumnya saya promosikan kepada Badzrul, dan lantas membuat Badzrul memiliki kesan positif terhadap kultur akademik di kampus sederhana ini.
Saya tidak tahu, andai fasilitas menyamai fasilitas di kampus modern, apakah kultur akademik yang dikagumi Badzrul tetap bisa dipertahankan? Semoga saja!
Diposting oleh Yusriadi di 08.28 0 komentar
Label: Pendidikan, STAIN
Senin, 10 Agustus 2009
Libur Sekolah di Pontianak
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rasanya, salah satu hal yang paling diinginkan banyak orang tua sekarang adalah: sekolah diliburkan. Orang tua ingin agar sekolah membuat kebijakan kegiatan belajar diliburkan untuk sementara.
Setidaknya ada dua alas an. Alasan pertama, soal asap.
Saya dengar orang tua bilang: „Pagi ... asap pekat sekali. Terasa benar kalau kita antar anak jam 6“.
„Kita si mungkin kuat. Kasian anak-anak“.
Tentu orang tua yang bilang begitu orang yang tua yang pakai motor. Mereka yang pakai mobil, tentu tidak sempat menghisap karbon itu.
Memang sekolah-sekolah tertentu membagikan masker kepada siswa mereka. Jadi, anak-anak dapat menggunakan pelindung. Namun, orang tua tetap khawatir udara yang tidak sehat menimbulkan dampak terhadap anak-anak kelak, untuk jangka panjang.
Karena itu orang tua cukup senang ketika mendengar pemerintah mengimbau sekolah menggeser jam belajar menjadi agak siang sedikit. Biar kabut asap turun dulu. Tetapi, sampai kemarin, imbauan itu belum dilaksanakan. Maklum, imbauan pun juga baru-baru ini dikeluarkan.
Alasan kedua, soal penyakit.
Banyak anak sekarang ini sakit.
Seorang anak sekolah dasar mengatakan, dari 40 orang temannya satu kelas, ada 15 orang tidak masuk. „Kawan-kawan banyak yang sakit“.
Ada yang demam. Ada yang batuk. Ada yang berak-berak. Ada yang pusing. Kabarnya rumah sakit juga kebanjiran pasien anak-anak.
Memang ada yang bilang anak sakit pada musim sekarang itu biasa.
„Musim buah memang selalu begitu“.
Sekarang musim durian, langsat, rambutan. Musim buah ini yang dipercayai mengundang penyakit. Itu kata orang tua-tua.
Ya, sebenarnya kita percaya, musim kemarin selalu begitu. Musim seperti sekarang memang anak-anak yang paling rentan pada penyakit. Apalagi dalam masyarakat yang air minumnya dari sumber air hujan tadahan teluturan atap; atau dalam masyarakat yang menggunakan air sungai, yang sungai itu selain untuk sumber air minum, juga menjadi tempat mencuci dan buang hajat.
Oleh sebab itu, ada orang tua yang membatasi jajan anak-anak mereka. Jenis es, goreng-gorengan, dilarang. Namun, melarang anak jajan tidak selalu mudah. Diam-diam anak membeli sendiri makan sesuai dengan selera mereka, sekalipun sudah diwanti-wanti. Sulit bagi anak untuk menghadapi godaan. Sebab, begitu keluar kelas, mereka meluru ke halaman dan di halaman sekolah ada banyak pedagang es, gorengan, dan lain-lain. Uang ada, yang jual juga ada. Klop.
Hanya malangnya, karena kebersihan kurang diperhatikan, jajanan menimbulkan akibat buruk pada mereka. Kayaknya tidak ada lembaga yang berkompeten mengurus soal higenitas makanan yang dijual oleh pedagang. Kalau ada, semestinya hal seperti itu sudah dilakukan sejak lama, tidak menunggu anak-anak sakit-sakitan. Sepatutnya, penjual yang tidak memperhatikan kebersihan, dilarang berjualan.
Karena itu, seorang teman bilang, dalam masa sekarang ini meliburkan anak sekolah merupakan cara untuk menghindari anak dari terus jatuh sakit; sambil menunggu kebijakan soal jajanan di sekitar sekolah.
„Kalau anak sekarang diliburkan, rasanya lebih tenang, tidak was-was mereka jajan apa di sekolah“.
Tetapi, tentu harapan seperti ini tidak mudah direalisasikan. Maklum, orang yang terkena dampak hanyalah orang dari golongan rendah yang bersekolah di sekolah yang terbuka – tidak berpagar tinggi. Kita maklum terlalu sulit bagi pejabat untuk berempati pada nasib orang kecil.
Rasanya, kalau pejabat kita masih macam dahulu, rasanya, jangan berharaplah ada kebijakan seperti itu!
Diposting oleh Yusriadi di 06.02 0 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Sabtu, 16 Mei 2009
Pengukuhan Profesor Dr. Chairil
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Hari itu, Senin (11/5/2009), di Auditorium Untan Pontianak, Dr.Chairil Effendy dikukuhkan sebagai profesor sastra Universitas Tanjungpura Pontianak.
Dalam pengukuhan itu, Dr. Chairil menyampaikan pidato berjudul ‘Sastra Lisan, Kearifan Lokal, dan Pembangunan Berkelanjutan’. Isinya menarik perhatian. Bernas. Tawarannya juga penting dipertimbangkan untuk kepentingan pembangunan bangsa.
Tetapi, lebih dari itu, bagi saya, amat menarik menyimak cara Dr. Chairil menyampaikan pidato. Suaranya menggema. Bertenaga. Sangat berwibawa. Cara dia membaca teks, enak didengar. Nadanya terjaga. Padahal… dia membaca teks pidato yang sangat panjang.
Saya mengingat-ingat, gaya seperti itu layaknya gaya seorang kepala daerah. Gaya seorang orator. Politisi.
“Hebat Pak Chairil ya, tak nampak capek dia membaca teks sepanjang itu”.
Tak dapat menahan mulut. Saya sampaikan pujian itu kepada seorang teman di sebelah saya.
Tentu, saya membandingkan diri sendiri. Saya pernah menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda STAIN Pontianak 3 tahun lalu. Awal-awal saja saya bisa memperlihatkan ‘power suara’. Beberapa menit kemudian, ‘habis’. Jujur saja, saya merasa ‘lemah’ waktu itu, waktu melihat kenyataan bahwa saya tidak bertenaga sampai akhir.
Lalu, saya membandingkan kemampuan Dr. Chairil dengan ilmuan lain di Kalbar saat pengukuhan sebagai profesor. Saya rasa, jarang juga menjumpai ilmuan lain yang punya kekuatan seperti itu – maaf kalau pengetahuan saya terbatas.
“Itulah hebatnya, Pak Chairil,” kata seorang teman yang duduk di samping saya, ketika mendengar penilaian saya.
Tapi, kehebatan Dr. Chairil bukan cuma itu. Dia magnit. Saat pengukuhan itu, banyak sekali orang yang hadir. Kursi di ruang pertemuan itu sebagian besar terisi. Ratusan orang. Mungkin total-total orang yang ada di Audit ketika itu di atas seribu.
Mereka yang hadir, adalah rekan kerja, handai taulan, pejabat dan relasi. Yang paling mengesankan, beberapa orang yang datang dalam acara itu adalah ilmuan popular di Kalbar. Dari berbagai bidang. Saya mengenal mereka.
Saya juga terkesan dengan banyaknya karangan bunga yang dipajang di depan gedung Auditorium itu. Ucapan selamat dari berbagai kalangan, ada yang mengatasnamakan lembaga, banyak juga yang atas nama perorangan. Tidak saja dari para ilmuan, tetapi juga dari praktisi: politisi, pelaku ekonomi, dan birokrat. Hari Kamis kemarin, ketika saya ke FKIP Untan, sekali lagi saya melihat untaian ucapan apresiasi itu.
Semua itu menunjukkan ‘keberadaan’ Dr. Chairil di mata banyak orang, sebagai orang yang diakui. Semua itu menunjukkan Dr. Chairil punya banyak teman dan relasi, orang-orang yang ‘menyukainya’. Sungguh beruntung Untan dan Kalbar memiliki seorang seperti Dr. Chairil. Asset yang luar biasa.
Akhirnya, sekali tentu saja saya secara pribadi terkesan pada momentum pengukuhan itu karena ada pameran buku-buku terbitan STAIN Pontianak Press. Buku-buku terbitan dari penerbit ini dipamerkan. Saya terkesan -- dan sangat membanggakan hal itu, karena saya tahu dinamika, semangat serta gairah menerbitkan karya tulis di STAIN Pontianak Press.
Sebagian dari buku – banyak buku, Dr. Chairil diterbitkan penerbit ini.
Saya bangga karena STAIN Press ikut mengantar Dr. Chairil ke puncak pencapaian seorang ilmuan. Dan, saya bangga karena sang ilmuan itu menghargai dan memberi ruang kepada penerbit STAIN Pontianak Press.
Mudah-mudahan Dr. Chairil menjadi profesor yang tetap mengkilap sebagai seorang ilmuan. Mudah-mudahan pula jejak itu diikuti oleh ilmuan lainnya, kelak.
Diposting oleh Yusriadi di 04.39 1 komentar
Label: Pendidikan, STAIN, Suara Enggang, Untan Pontianak
Senin, 09 Maret 2009
Impian S-4
Oleh Yusriadi
“Post Doc”.
Sudah lama aku mendengar frasa itu. Sejak dahulu. Beberapa tahun lalu. Sejak aku masih bergelut dengan disertasiku.
”Wuih, bisa ikut program itu, keren,”
Teman-teman bilang ambil program Post Doc sama dengan ambil S-4. Ada yang bilang ambil S-4 sama dengan ambil tiket profesor.
Hey, siapa ilmuan yang tak mau jadi profesor?
Aku kira semua orang mau. Aku juga mau jadi profesor suatu saat kelak.
Kukira kemauanku tidak mengada-ada. Potongan jadi profesor sudah ada.
Kepalaku mulai botak. Rambutku, helai demi helai lepas. Lepas sendiri. Mahkota di atas kepala mulai tipis.
Aku ingat betul dahulu sewaktu memulai studi pasca sarjana tahun 1996 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), setiap pagi aku memungut helain rambutku yang rontoh di atas bantal. Tak terhitung. Ketika aku kembali ke Pontianak, teman-teman dapat melihat perubahan yang drastis.
Lalu, di sana-sini rambut yang tersisa di kepalaku mulai memutih.
”Ihh, Bapak dah uban,”
Kata anakku.
Salsa,9 kelas 3 Ibtidayah, dan Zebta, 7, kelas 1 Ibtidayah, kerap kali mengomentari rambut bapaknya yang berwana putih. Sesekali mereka mencabutnya.
Pikiranku mulai lepas-lepas. Bundaku mengatakan, aku mulai amnesia. Sering benar orang-orang di sekitarku menemukan aku bingung mencari-cari sesuatu. Entah kunci motor. Kunci rumah. Berkas-berkas. Aku juga kerap lupa nama orang yang lama tak kujumpai. Ingat wajah, lupa nama. Jadinya, memanggil pun pakai ”oi, oi”.
Aku selalu ingat, salah satu ciri profesor adalah linglung. Konon.
Satu-satunya alat yang melekat pada seorang profesor yang belum kupakai, adalah kacamata.
Seharusnya aku memang sudah pakai kacamata. Melihat tulisan kecil dalam jarang 10 meter aku masih bisa. Tetapi, huruf-huruf itu pasti akan nampak bersambung. Jangan juga suruh aku baca teks di TV dalam jarak 10 meter. Tak akan dapat. Aku sering tidak dapat mengenal orang yang berdiri 100 meter dari tempatku berada, apalagi kalau sore atau malam hari.
Entahlah, sampai sekarang aku belum lagi ke Optik untuk cari alat bantu pandang itu.
Jujur saja aku selalu membayangkan betapa repotnya kalau harus pakai kacamata. Bawa ke sana-sini. Nenggek di hidung, lalu ada bekas –seperti seorang temanku yang bekas tengge’an kacamata membentuk ’lubang hitam’ di kiri kanan batang hidungnya.
Akhirnya, kesempatan itu datang. Dr. Chong Sin dan Prof. James T. Collins memberi tahu aku tentang kesempatan itu di UKM. Dr Chong, temanku semasa kuliah dulu. Kami juga sering melakukan penelitian lapangan bersama-sama. Sedangkan dia menjadi peneliti dan pensyarah di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA). Sedangkan Prof. Collins –kami memanggilnya Pak Jim, adalah guruku sejak tahun 1996. Beberapa waktu lalu dia menjadi Direktur CSEAS NIU, Amerika Serikat.
Dr. Chong mengirim formulir dan memberi petunjuk pengisian. Beliau juga meminta aku melengkapi persyaratan administrasi. Sebut misalnya rencana post doc dan biodata. Aku mengembalikan berkas itu kepada beliau.
Beberapa bulan kemudian, kabar mengembirakan itu datang. Dr. Chong mengabari.
”Kamu diterima,”
Lalu, dia, melalui asistennya, mengirimiku email berisi surat dari UKM yang menyebutkan aku sudah diterima.
Dan, 1 Maret 2009, aku datang ke UKM. Tanggal 2 aku melapor diri di ATMA. Aku juga melapor di Pusat Pengurusan Penelitian dan Inovasi (PPPI), UKM. Aku menapak impian yang pernah kuimpikan dahulu: S-4 itu.
Diposting oleh Yusriadi di 01.31 2 komentar
Label: Pendidikan, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Rabu, 14 Januari 2009
Membicarakan Bupati KKU, Hildi Hamid
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Hildi Hamid. Nama itu cukup menonjol dalam pandangan banyak orang di Kalbar sekarang ini. Saya memberikan catatan khusus terhadap tokoh yang 10 tahun lalu tidak cukup diperhitungkan itu.
Program pendidikan gratis cukup menawan. Kebijakan meningkatkan anggaran pendidikan di KKU yang mencapai 23 % adalah kebijakan yang luar biasa.
Luar biasa karena kebijakan itu sudah menimbulkan tarik menarik yang kuat. Tidak mudah. Sepanjang saya membuat liputan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan di pemerintah kota Pontianak dahulu, saya memahami persoalan anggaran adalah persoalan rumit. Rumit karena ada kepentingan di sana. Ada kepentingan rakyat, ada kepentingan hasil musyawarah pembangunan –kelompok kelas menengah, ada kepentingan pejabat, ada juga kepentingan politisi. Ada juga kepentingan kontraktor.
Macam-macam.
Banyak orang kaya di daerah kita ada kaitan dengan kepentingan-kepentingan itu. Orang-orang kaya di sekitar kita banyak yang hidup dari sumber anggaran; baik langsung maupun tidak langsung. Ada pimpinan proyek, ada kontraktor, dan ada mitra kontraktor.
Pembahasan anggaran juga rumit. Rumit juga karena ini menyangkut hitung-hitungan. Ada pos-pos yang sudah harus diisi. Mengisi pos formal sebagaimana yang tercantum dalam pagu yang biasa mungkin tidak susah, yang susah adalah bersikap luwes terhadap pagu itu. Sebabnya, kepentingan anggaran tidak pernah kaku. Selalu harus ada kebijakan anggaran untuk menyesuaikan kehidupan yang dinamis.
Karena itu, selalu kita dengar ada yang mengatakan perubahan mudah disebutkan tetapi sulit dilakukan. Boleh tanya pada semua kuasa anggaran untuk mendapatkan informasi bagaimana sulitnya 'pekerjaan itu'. Bahkan, saya kira semua pejabat administrasi yang mendampingi seorang kepala, mulai dari Sekretaris Daerah, hingga pejabat kepala Tata Usaha, semua pernah merasakan hal yang sama. Jika mereka tidak mampu menikmati pekerjaan, mungkin awal-awal mereka sudah menyerah.
Di tengah situasi seperti ini tentu perubahan yang besar sulit dilakukan. Dan apa yang diperlihatkan di Kayong Utara, bisa dilakukan. Ada kebijakan Hildi Hamid. Dan ada penyesuaian yang bisa dilakukan Tim Anggaran KKU.
Selama ini, banyak orang yang mengatakan dirinya memperhatikan pendidikan, namun sebenarnya perhatian itu hanya di mulut. Termasuk juga banyak orang yang menjanjikan perhatian pada rakyatnya, tetapi sebenarnya perhatian yang mereka berikan sangat terbatas. Pada tataran praktis mereka tidak dapat melaksanakannya karena kekuatan tekanan tidak diberikan. Lalu, akhirnya apa yang mereka katakan lebih banyak slogannya dibandingkan aksinya.
Lalu muncullah ungkapan: "Sulit. Saya tidak didukung staf,"
Kedua, Hildi membuat program pelatihan untuk pendamping desa. Sistem advokasi seperti ini memang mengingatkan kita pada program pemerintah dahulu dengan konsep sarjana penggerak pedesaan. Tetapi, saya kira paradigma berbeda. Saya menebaknya demikian karena saya melihat bagaimana Hildi melibatkan expect dari kalangan lembaga pendampingan–kalangan LSM.
Saya masih percaya, orang-orang di lembaga pendampingan ini berbeda cara pikirnya dengan tutor-tutor yang memandu sarjana penggerak pedesaan, dahulu.
Lalu, saya berpikir andai saja sarjana pedesaan ini juga dibekali dengan ilmu riset dan ilmu menulis sudah pasti hasil dampingan akan sangat maksimal. Bak mendayung, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Pendampingan saja tanpa bahan pertimbangan pendampingan yang cukup dan kuat –yang bahan itu akan lebih baik jika diperoleh melalui riset, bisa membuat pendamping tidak dapat membuat keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat sangat berguna untuk mengambil tindakan yang tepat.
Diposting oleh Yusriadi di 00.24 0 komentar
Label: Pendidikan, Sukadana
