Tampilkan postingan dengan label Orang Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Perjalanan ke Sungai Kakap 1: Berkenalan dengan Penjual Pengkang


Lisan, Aheng dan Nisa, tiga anak berbeda suku sedang bercanda di sela-sela kegiatan mereka menjual pengkang di Sungai Kakap. FOTO Dedy Ari Asfar

Oleh: Yusriadi

“Aku Cina asli, lho”.
“Aku Cindai. Cina Dayak”.
Lisan, Aheng, menyebutkan identitas mereka. Ini terjadi ketika kami berkenalan. Dan ketika kami tanyakan, “Kamu orang apa?”
Lisan, adalah seorang remaja tanggung. Berusia 12 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 2 SMP di Sungai Kakap.
Adapun Aheng, temannya, berusia 11 tahun, kelas 1 SMP di Kakap.

Kami berkenalan hari Minggu (17/7) kemarin. Saat itu saya bersama Dedy Ari Asfar dan sejumlah teman dari Club Menulis berkunjung sambil mencari data tentang orang Tionghoa di Kakap. Kami berkunjung ke Pekong Terapung yang terdapat di laut dekat muara Kakap. Kami juga berkunjung ke Vihara Dewa Laut Utara yang terletak di tengah pasar Sungai Kakap.
Kami mendatangi vihara itulah setelah bertemu dengan pengurus vihara Pak Kui. Ketika sampai di tempat ibadah itu, saya dan Dedy memilih duduk di kursi yang tersedia di bagian depan, melihat-lihat orang sembayang. Saat itulah kemudian datang Lisan, Aheng dan Nisa.
Mereka bertiga menjajakan pengkang. Makanan berbungkus daun pisang. Isinya pulut yang dikukus. Lalu kemudian dibakar. Saya mengenal pengkang sejak beberapa tahun lalu, saat singgah di rumah pengkang di Segedong, dalam perjalanan ke Pontianak. Jarak Segedong Pontianak lebih kurang 40 menit perjalanan dengan motor. Di sini ada rumah pengkang milik orang Tionghoa.
Rumah pengkang ini ramai. Enak. Rumah inilah yang menyebabkan pengkang menjadi lebih dikenal belakangan ini di Pontianak.
Lisan dengan bangga mengatakan dirinya sebagai Cina asli. Sedangkan Aheng nampak juga ceria mengaku diri sebagai cindai. Mereka menegaskan identitas itu beberapa kali. Apatah lagi, ada Nisa seorang anak perempuan yang mengaku diri sebagai Melayu. Nisa berumur 9 tahun.
Dibandingkan Lisan dan Aheng, Nisa lebih banyak cerita. Nisa juga menceritakan mereka memiliki teman lain yang juga jualan pengkang. Namanya Iing, seorang anak perempuan berusia lebih kurang 12 tahun. “Iing malu,” katanya.
Sebenarnya, Dedy yang pertama memanggil mereka saat melintas di depan vihara. Mereka menghampiri.
“Beli bang?”
Mereka menawarkan pengkang pada Dedy.
“Siapa yang punya?”
Nisa menjawab tangkas, “Yang punya orang Cina. Yang buat orang Melayu”.
Dedy mengeluarkan catatan.
“Hah, ditulis lagi,”
Nisa bergumam. Tertawa.
“Lhoh?”
“Iya tadi sudah ada yang tanya-tanya. Ditulis-tulis. Sekarang ditulis lagi,” katanya sambil tersenyum.
Lisan dan Aheng membenarkan.
Dedy mulai bertanya harga. Dan dia membeli beberapa buah pengkang. Nisa mengatur pembelian. Masing-masing diambil secara rata. Lisan dan Aheng setuju.
Pertanyaan Dedy dan saya lebih banyak ditujukan pada Lisan. Lisan sudah mulai terbiasa. Tidak malu seperti awal tadi.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Kakap 2: Senang Disebut Tionghoa


Vihara Budha Kutub Utara.
Tempat sembayang penganut Buddha dan Khonghucu di Sungai Kakap. Vihara ini menjadi symbol identitas Tionghoa di wilayah ini. FOTO Dedy Ari Asfar/Borneo Tribune

Oleh: Yusriadi

Lisan mengaku dia berjualan setiap hari Minggu. Hari Minggu dia bisa berjualan karena hari libur. Sedangkan pada hari lain dia bersekolah. Sekolah pulangnya siang. Setelah itu dia harus belajar.
Pada hari Minggu, setiap berjualan, dia bisa menjual 100 buah pengkang. Jika dinilai dengan rupiah, dia mendapat Rp100 ribu. Tapi sebagian besar harus disetorkan kepada pemiliknya. Sebagai penjual dia hanya mendapat 15 persen, terhitung upah.
“15 persen, ya, 15 ribu, doang,





Saya tak bisa menilai besar atau kecil Rp15 ribu itu. Namun, berapapun, Lisan menunjukkan diri sebagai anak yang berbakti, membantu orang tua. Lisan menunjukkan walau masih kecil dia bisa mencari uang.
Lisan mengaku uang yang diperoleh adalah untuk membantu keluarga. Dia memiliki 4 saudara. Dia adalah anak ke-empat dari saudara itu. Ayahnya sudah tidak ada. Kini dia bersama emaknya. Mereka orang Tiocuw.
Selain soal hitungan dan kemampuan Lisan, saya juga memberi catatan khusus pada kata “doang” yang diucapkannya. Doang itu tidak biasa saya dengar diucapkan oleh penutur Melayu di Pontianak. Doang adalah partikel sintaksis yang lazim dipakai penutur bahasa Melayu Jakarta. Di mana Lisan mendapatkannya? Apakah melalui TV atau melalui interaksi dia dengan penutur lain?
Logat Melayu Lisan cukup baik. Sekalipun, beberapa aksen memperlihatkan perbedaan dibandingkan penutur yang lain. Mungkin karena dia banyak bergaul dengan penutur bahasa Melayu. Setidaknya, teman mainnya Nisa yang merupakan penurut bahasa Melayu; dan mungkin penutur Melayu lain di sekolahnya.


***

Apa yang saya amati pada Lisan, mengingatkan saya pada apa yang saya lihat pada orang Tionghoa lain di Kakap.
The Dek Kui. Dia Ketua Vihara Buddha Kutub Utara (bukan Dewa Laut Utara, seperti yang ditulis kemarin). Kami menjumpai di rumahnya di ujung Jembatan Bintang Tujuh; jembatan yang melintang di atas Sungai Kakap. Jembatan ini menghubungkan Dusun Merpati dengan Pasar Sungai Kakap.
Pak Kui lahir di Pontianak. Sewaktu kecil dia sekolah di sekolah Tionghoa di dekat Gertak I Pontianak. Namun tidak selesai. Setahun hampir selesai belajar, sekolah ditutup. Peristiwa G30 S PKI meletus. Menikah dengan orang Sungai Kakap. Pernikahan inilah yang mengantarkannya menjadi orang Sungai Kakap hari ini.
Di Sungai Kakap menurutnya, jika di wilayah pasar 90 per sen itu orang Tionghoa. Komunitas ini memiliki tiga identifikasi. Ada yang menyebut ‘Cin’, ‘Cina’ dan ‘Tionghoa’.
“Sebutan Tionghoa agak baru saya dengar. Satu-satu pejabat yang pakai. Camat, polisi,” katanya.
Sebutan Cin lebih sering digunakan. Begitu juga dengan sebutan Cina. Sebutan Cina pasar lebih banyak dipakai kalangan muda.
Ketika ditanya dari tiga sebutan itu, mana yang lebih disukai, Pak Kui mengatakan dia lebih suka sebutan Tionghoa.
“Disebut Tionghoa, agak senang dikit,” katanya sambil tersenyum.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 5: Pikong Laut


Oleh: Yusriadi

Kisah Pak Salim mengingatkan saya pada cerita sebelumnya yang dituturkan Nisa. Ketika ditanya, siapa yang punya pengkang yang mereka jual, Nisa mengatakan pengkang yang mereka jual milik orang Cina.
“Tapi yang buatnya orang Islam,” katanya.
Jika cerita ini disambung maka akan muncul kenyataan baru: yang menjual pengkang itu orang Tionghoa dan orang Melayu, dan yang makan pengkang itu orang Tionghoa, Melayu, mungkin juga orang Madura atau siapalah. Sebagian dari rombongan Club Menulis saat perjalanan ke
Kenyataan ini merupakan suatu fakta yang penting dicatat; sebuah fakta yang menunjukkan bahwa relasi antar etnik terbangun rapat di sini. Sering kali batas etnik tidak dapat dilihat dalam konteks ekonomi dan sosial.

***

Saya juga menemukan fakta menarik soal relasi ini ketika mengunjungi “pikong laut”. Saya memberikan penanda untuk istilah ini karena istilah ini diberikan oleh motoris kami Pak Sono’ untuk menyebut vihara yang berada di tengah laut itu.
Pak Sono’orang Madura tinggal di Tanjung Saleh. Hari-hari dia melayani penumpang jurusan Tanjung Saleh – Sungai Kakap dengan motor airnya. Nama sebenarnya Marsu’i. Tapi jangan cari nama itu di pasar Sungai Kakap. Mungkin tidak akan ketemu orangnya. Tapi sayangnya, saya lupa bertanya dari mana nama Sono’ itu diperolehnya.
Pak Sono’ membawa kami dengan motor air ke pikong itu.
Pikong itu adalah tempat sembayang orang Tao. Dibangun sebagian orang Tionghoa agar mereka dapat sembayang di sana.
Penganut Tao dapat dengan leluasa sembayang di pikong ini menurut kepercayaan mereka. Sementara, di Vihara Budha Kutub Utara, ritual tertentu tidak bisa dilaksanakan penganut Tao.
Setelah pikong ini dibangun, penganut Tao mengunjunginya untuk sembayang sekali sekala.
Tetapi, justru yang mengunjungi pikong ini secara rutin orang bukan Tao.
Hari itu, selain kami yang berkunjung ke sini, sejumlah orang Pontianak juga terlihat di sana. Kami berkunjung untuk melihat, sambil melakukan studi, mereka berkunjung untuk memancing.
“Setiap hari Minggu pasti ada yang mancing di sini,” kata Pak Sono’.
Memancing dari atas pikong memang asyik. Atap pikong melindungi pemancing dari hujan dan panas. Teratak, kaki lima pikong juga luas, memungkinkan pemancing duduk, tiduran, sambil menunggu pancing yang dilemparkan ke air. Tersedia juga wc yang tidak terkunci dan bisa dipakai setiap saat.


Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 4: Kental Nuansa Tionghoa


Simbol Tao di ujung jembatan Bintang Tujuh. Rumah-rumah penduduk di kampung ini memperlihatkan ciri Tionghoa yang mencolok. FOTO Yusriadi/Borneo Tribune.
Kental Nuansa Tionghoa

Oleh: Yusriadi


Kami – saya dan Dedy Ari Asfar melintas di jembatan semen di antara rerumahan penduduk di Dusun Merpati.
Di ujung jembatan terlihat sebuah plang bertulis nama dusun itu. Plang itu nampaknya masih baru.
Selain plang itu, sebuah plang lain yang mencolok terdapat di kanan jalan. Symbol Tao. Simbol itu terpajang di depan sebuah rumah menghala ke arah jembatan.
Jika dahulu, sebelum sedikit-sedikit belajar tentang orang Cina, mungkin saya akan berpikir di sana ada tempat latihan silat. Atau mungkin saya berpikir plang itu menjadi panangkal hantu dan menjadi pelindung pemilik rumah.




Setidaknya, begitulah yang saya tangkap kesannya ketika melihat film kungfu, Hongkong yang diputar di bioskop.
Lebih mengesankan, ketika kami mendengar dentuman musik Cina. Mungkin nyanyian itu dalam bahasa Mandarin. Mendengar nada dan lirik ini membuat suasana Dusun Merpati terkesan kenal ciri Cinanya.
Suasana ini berbeda sekali dibandingkan dengan apa yang disaksikan di Pasar Sungai Kakap, tempat kami singgah -- yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari jembatan Bintang Tujuh.
Dentuman musik, symbol Tao, dan tulisan-tulisan Cina yang dipasang di atas pintu menambah kesan kentalnya identitas Tionghoa di sini. Boleh dikatakan, inilah wilayah pecinan di Sungai Kakap.
Kami melihat seorang lelaki berusia 40 tahun sedang berada di ruang tamu memasang batu pada jala kecil. Kami menghampirinya, bertanya alamat rumah Pak Kui.
Dia menunjukkan sebuah rumah yang pintunya juga terbuka, yang sebelumnya sudah kami lewati.
Sikap yang ramah ketika menunjukkan di mana rumah Pak Kui, membuat saya ingin bertanya lebih banyak tentang kehidupan dan pandangan dia. Namun, saya khawatir Pak Kui ada kesibukan lain dan kami tak bisa mendapatkan data darinya. Pak Kui penting karena dia ketua Vihara yang akan kami kunjungi bersama rombongan.
Rumah Pak Kui – atau lebih tepatnya ruko, berdinding semen. Pintunya terbuat dari kayu, bisa dilipat. Ada engselnya. Sementara terasnya juga dari semen. Rumah itu berlantai dua. Saya kira bagian atas menjadi tempat wallet.
Rumah Pak Kui berbeda dengan kebanyakan rumah warga di sini. Sebagian besar rumah warga di sini terdiri dari bahan kayu. Beberapa di antaranya berdinding papan. Lantai terasnya juga dari pakai papan. Kebanyakan rumah beratap seng. Tetapi ada beberapa lagi beratap daun nipah.
Rasanya sebagian rumah itu sama seperti rumah orang Cina di Jongkong yang saya lihat di tahun 1980-an.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 3: Cerita Pak Piling


Oleh: Yusriadi


Kenyataan yang sedikit berbeda diceritakan Gui Bah Yem. Dia berusia 50 tahun. Masih terhitung sepupu dengan The Dek Kui. Ibu The Dek Kui bermarga Gui juga.
“Dia punya Mamak, aku punya tante,” akunya.
Gui Bah Yem tidak menjadi pengurus vihara. Dia juga bukan pemuka masyarakat. Dia orang biasa. Dahulu pekerjaannya nelayan. Namun, tiga tahun terakhir ini dia bekerja di kebun sawit di Darit. Perjalanan ke Kakap 3




Hasil kebun memang tidak banyak. Sehari diupah Rp34 ribu termasuk makan. Namun, bagi dia jumlah sudah cukup lumayan. Dia dan istrinya juga bekerja. Karena itu satu hari bisa memperoleh Rp68 ribu. Sedangkan untuk makan mereka berbekal dari rumah. Jadi lebih hemat.
“Hasilnya juga lebih pasti”.
Dia membandingkan ketika masih aktif di laut. Hasil melaut tidak tentu. Kadang bisa lebih banyak, tapi kadang tidak. Hasil dari laut susah diperkirakan. Malah kadang kala dia tidak bisa melaut karena cuaca. Karena tidak melaut maka tak ada jugalah hasilnya.
Mengapa memilih Darit?
“Ikut keluarga”.
Keluarga yang dimaksudkan Gui Bah Yem adalah keluarga istrinya. Istrinya orang Darat, katanya. Sebutan lain untuk orang Dayak.
Ketika ditanya bahasa apa yang dipakai orang Darat itu, ternyata bahasa Banyadu’. Bahasa ini lebih dekat dengan bahasa Ahe. Malah ada yang mengelompokkan kedua bahasa ini sama, dalam kelompok Kanayatn. Perbedaannya sedikit saja. Tidak ada banyak hambatan untuk memahami antara Ahe dan Banyadu’.
Gui Bah Yem sekarang hidup dalam budaya Banyadu’. Sehari-hari bahasa itulah yang dipakai.
Hidup dalam budaya Banyadu’ membuat identitasnya bertambah. Di antara orang Banyadu’ dia dipanggil Pak Piling.
“Itu nama anak saya,” katanya.
Orang Kanayatn memang memiliki cara unik dalam system sapaan. Seseorang memiliki banyak nama. Nama ketika masih anak-anak hingga memiliki anak berbeda. Berbeda juga nanti bila sudah mempunya cucu. Seseorang akan selalu dipanggil mengikuti nama anak pertama. Agak janggal atau bahkan dianggap kurang sopan memanggil nama asli seorang lelaki atau seorang perempuan yang sudah memiliki anak.
Ketika ditanya, apa pendapat tentang kata Tionghoa? Gui Bah Yem mengaku tidak pernah mendengar kata itu.
Dia kenal kata ‘Cina’ atau ‘Cin’. Dia diidentifikasi sebagai orang Cin. Tak pernah diidentifikasi sebagai orang Tionghoa.
“Orang tanya saya, kamu orang Cin ya. Cina juga pernah. Gitu yak”.
Gui Bah Yem merasakan Cin atau Cina sama saja.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 6: Apapun, Tetap Orang Indonesia


Pekong Laut. Salah satu tempat sembayang orang Tao di Sungai Kakap. Foto Dedy Ari Asfar.

Oleh: Yusriadi


Pak Lim Kiang Kim menilai apapun sebutan yang diberikan orang untuk mereka, semua bagus. Menurutnya, sebutan Cina, Cin, Tionghoa, sama saja.
“Aku tidak marah. Bagi aku ndak persoalan, Cina, Cin”.
Bahkan dia memberitahu ada sebutan lain untuk komunitas ini.
“Caines”.

Sebutan Caines yang dikatakan Pak Lim Kiang Kim pasti dari bahasa Inggris Chinese, bisa dirujuk kepada orang Cina.
Saya sangat tertarik mendengar ‘Caines’ diucapkan Pak Lim. Dari mana dia memperolehnya? Apakah dia bisa bahasa Inggris?
“Aku tak pandai omong. Sikit-sikit pernah dengar” .
Dia merendah.
Pak Lim Kiang Kim pernah bersekolah. Tahun 1960-an. Sekolah pagi masuk jam 8, jam 12 pulang. Kemudian jam 1 masuk lagi, jam 5 pulang.
Namun dia tidak tamat. Sekolahnya tutup. Padahal sekolah hampir tamat waktu itu.
Walau tak tamat namun ilmu di bangku sekolah cukup untuk bekal hidup. Lim Kiang Kim dapat membaca tulisan aksara Cina. Ketika saya minta menuliskan namanya, dia menulisnya dalam tulisan itu. Padahal sebenarnya saya ingin dia menulis namanya dalam tulisan latin, biar tak salah tulis. Tapi melihat tulisan Cinanya, saya kagum sekali. Garis-garis yang dibuatnya rapi. Dia menulis dengan cepat.
Pengalamannya juga luas. Dia pernah menjadi pengusaha ikan. Dahulu dia memiliki kapal penangkapan ikan yang beroperasi di perairan sekitar Sungai Kakap. Sekarang, seiring pertambahan usia, dia berhenti. Di rumah saja.
“Sekarang sudah pensiun,” Dia bercanda.
Tapi usaha melautnya tidak berlanjut. Anak-anaknya tidak ada yang menjadi pelanjut usahanya di laut. Tiga anaknya di Jakarta. Berdagang di sana.
Meski sudah pensiun, namun saya masih menangkap kerinduannya pada laut. Menurutnya, laut sekarang masih menjanjikan. Sekarang, sekalipun tangkapan tidak sebanyak dahulu namun harga ikan sangat mahal, pembeli banyak. Sedangkan dahulu, banyak ikan yang dapat ditangkap, tapi susah mencari pembelinya. Karena itu, harga ikan murah, tak banyak hasil yang mereka peroleh.
Pak Lim Kiang Kim optimis. Semangatnya tinggi.

***
Mengenai identitas, apapun sebutannya, kata Pak Lim Kiang Kim, mereka tetaplah orang Indonesia keturunan Cina, keturunan Tionghoa.
Tapi dia mengakui ada di kalangan mereka yang merasa hina disebut Cina.
Lalu mengapa dia tidak merasa tersinggung? Katanya, kata Cina, memang ada.
“Cobalah lihat ada banyak barang ‘Made In China’,” katanya.
Berkenalan dengan Pak Lim Kiang Kim mengingatkan saya pada ungkapan kenalan saya beranama Dr. Taufik Tanasaldy. Dia orang Mempawah yang sekarang mengajar di sebuah universitas di Tasmania, Australia.
Dia orang Cina yang merasa heran dan janggal ketika saya menggunakan istilah Tionghoa padanya. Taufik yang merantau meninggalkan Kalbar sejak tahun 1980-an akhir tidak terbiasa dengan perubahan ini.
Saya kira, intinya bukan cin, cina atau tionghoa. Tetapi bagaimana persepsi yang ada pada orang ketika menyebut komunitas ini.
“Jika kami bilang “Dasar Cina!!!” tentulah orang akan marah. Sama seperti kalau kamu bilang “Dasar Melayu!!! Pasti orang Melayu tak mau”.
Agaknya,bagi banyak orang disebut Cina sekalipun, jika nadanya baik, maksudnya baik, orang juga tidak akan marah.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 7 (Habis): Relasi Tionghoa – Melayu


Rombongan Club Menulis STAIN Pontianak dalam perjalanan pulang dari Pekong Terapung di Sungai Kakap. FOTO Yusriadi.


Oleh: Yusriadi


Saya sedang berjalan melintas di atas jalan bersemen di depan pemukiman penduduk di Dusun Merpati, Sungai Kakap. Saya melihat beberapa warga sedang duduk di depan rumah mereka. Beberapa lagi melakukan kesibukan masing-masing.
Lalu lalang di jalan berukuran 1,5 meter ini juga cukup ramai. Ada pejalan kaki –seperti kami. Ada gerobak yang didorong-dorong. Ada sepeda motor.


Suasana tambah ramai karena agaknya sedang ada hajatan orang Melayu (Bugis?) di ujung jalan ini. Saya menduga demikian karena orang yang melintas berpakaian ‘pesta’. Lelaki memakai baju batik atau baju berlengan panjang, ada beberapa yang memakai kopiah. Sedangkan perempuan berkerudung mengenakan baju kebaya atau batik terusan.
Gerobak sesekali melintas membawa barang. Inilah angkutan umum di sini. Sebab jalan yang sempit dan jembatan, tidak mungkin dilewati kendaraan roda empat.
Di sebuah rumah bertingkat, saya melihat ada tumpukan jalan. Di dalam ruangan – karena pintu terbuka, dua orang lelaki sedang menangani jala itu. Keduanya duduk berhadapan.
Saya masuk ke dalam rumah itu. Lelaki yang sedang bekerja di bagian ujung lebih tua sedangkan lelaki yang membelakangi saya lebih muda. Belakangan saya tahu, lelaki muda itu bernama Muhammadi Aditia dan lelaki yang tua bernama Salem.
Saya menyapa mereka. Dan minta izin melihat apa yang sedang mereka kerjakan.
“Sekalian tadi jalan di sini, Pak,”
“Saya kira orang perikanan,” kata Pak Salem.
Katanya sebelum ini mereka pernah didatangi orang dari Perikanan.
Kedua lelaki itu sedang gopong. Ngopong maksudnya memasang pelampung dan juga memasang batu pukat. Pukat yang mereka opong ukurannya besar. Mata pukatnya lebih sejengkal saya. Tali yang dipakai juga besar. Hampir sebesar kabel untuk cas hape. Mereka menyebutnya benang 120.
Mengapa besar?
“Ini pukat hiu,” katanya.
Tentu saja saya terkejut. Apakah di sekitar muara Kakap atau di laut Kalbar ada banyak ikan hiu sehingga perlu pukat khusus? Ternyata tidak. Kapal yang memasang pukat hiu beroperasi di laut lepas, Selat Karimata.
Mereka juga menceritakan ikan hiu dijual dagingnya dan diambil siripnya. Siripnya cukup mahal.
Semula saya menduga mereka sedang mengopung pukat sendiri. Rupanya pukat yang mereka opong itu milik orang lain. “Pak Apek,” kata Muhamad. Mereka hanya mengambil upah. Satu pukat, mereka mendapat Rp100 ribu.
Pak Atet adalah pengusaha. Dia termasuk tokoh Tionghoa di Sungai Kakap. Ketika kami mencari beliau di rumahnya, kami hanya bertemu dengan anaknya yang juga pemilik bengkel motor di dekat dermaga Sungai Kakap. Pak Apek sendiri tidak berhasil ditemui.
Menurut mereka, pengusaha kapal semuanya orang Tionghoa. Orang Tionghoa memiliki modal. Modal untuk membeli kapal, modal itu membeli peralatan tangkap. Selain itu, untuk melaut modal yang diperlukan juga besar.
“Kebanyakan orang kitalah bikin,” kata Salem.
Saya menangkap yang dimaksud dengan orang kita adalah orang Melayu atau orang bukan Tionghoa.

Baca Selengkapnya...

Sabtu, 02 April 2011

Asuk

Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


“Suk, Asuk… Minum dulu’-lah”.
Saya mendengar adik saya memanggil tukang yang sedang bekerja membesarkan bagian dapur rumah mereka, agar berhenti bekerja: minum dulu. Minuman, kopi, sudah disediakan dari tadi. Tapi, lelaki berumur 50 tahun itu belum menyentuhnya. Dia asyik menggali tanah untuk pondasi rumah.
Sebenarnya saya sudah memperhatikan lelaki tua itu bekerja sejak awal. Dia, bercelana pendek, dengan baju diikatkan di kepala. Mungkin maksudnya menutup kepala dari panas. Kepalanya ditutup, sedangkan badannya yang kekar itu tidak. Kulitnya yang agak putih memerah terbakar panas. Berlendir dibanjiri keringat.

“Iya…”
Dia hanya menjawab singkat, sambil terus bekerja.
Saya jadi sangat tertarik pada lelaki tua itu. Saya jadi bernostalgia. Dahulu, sewaktu di Jongkong, Kapuas Hulu, dua puluh tahun lalu, saya mengenal seorang lelaki tua yang oleh orang-orang di Jongkong dipanggil dengan “Asuk Anyi”. Dia, orang Tionghoa. Setiap hari, terutama sore, dia berjalan kaki di atas gertak, seraya mengenakan ‘tangui’ topi dari daun.
Biasanya dia menggunakan baju kaos putih, tipis, singlet. Celananya panjang seperti piyama. Warnanya khas: abu-abu.
Jika orang baru melihat, apa yang dilakukan Asuk Anyi ini aneh. Tetapi, orang Jongkong – khususnya Jongkong Kanan dan Jongkong Pasar, apa yang dilakukan Asuk ini tidak aneh lagi. Biasa. Hanya jalan-jalan di sore hari. Mungkin orang baru merasa aneh bila melihat Asuk tidak mengenakan tangui.
Saya tahu sekarang, dia jalan sore sebagai pengganti olahraga. Biar sehat. Dan Asuk Anyi memang nampak sehat. Sekalipun sudah tua waktu itu, tetapi, dia masih berjalan dengan tegap. Sekarang saya baru merasa heran: bagaimana Asuk bisa tahu bahwa olahraga sore itu sehat, padahal dia orang di Jongkong. Orang di Jongkong waktu itu belum mengenal jalan-jalan sore untuk kesehatan. Hanya orang kota yang kenal itu. Lebih hebat lagi, bagaimana Asuk Anyi bisa begitu disiplin melakukannya.
Setelah tidak lagi di Jongkong, saya tidak pernah mendengar tentang beliau lagi – karena tidak ada tema yang dibicarakan berkaitan dengan beliau. Bahkan, saya dan mungkin orang-orang di Jongkong lainnya tidak pernah mengingatnya.
Setelah dari Jongkong saya juga tidak pernah mendengar lagi ada panggilan “Asuk”. Ketika di Pontianak, saya bertemu dengan cukup banyak orang Tionghoa, saya memanggilnya Bapak, Toke, Keh, atau Akong. Tidak “Asuk”. Saya juga tidak pernah mendengar orang Tionghoa memanggil “Asuk” kepada orang tua. Ya, mungkin sebenarnya panggilan itu ada, tetapi karena situasinya berbeda dibandingkan Jongkong, maka panggilan “Asuk” tidak ketara terdengar.
Nah, hinggalah kemarin, saya mendengar adik saya menggunakan kata itu “Asuk” kepada lelaki yang bekerja di rumah mereka. Lalu, saya pun memanggil lelaki tua itu dengan “Asuk” juga.
Kami ngobrol banyak tentang kepercayaan orang Tionghoa dalam membangun rumah. Asyik sekali. Banyak hal yang saya baru dengar. Banyak pantang larang yang menarik ditulis di kemudian hari.
Selama ngobrol saya terus menerus memanggilnya “Asuk” tanpa mendalami makna sosialnya. Suatu saat saya akan mendalaminya. Tetapi, walau panggilan “Asuk” saya gunakan hanya sekadar ikut-ikutan, namun, panggilan ini membentangkan kembali lembaran kehidupan saya ketika di Jongkong, 20 tahun lalu. Jauh sudah rupanya! (29/1/2011)

Baca Selengkapnya...

Jumat, 02 Juli 2010

Makalah Hasan Karman

Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Metro
Saya merasa sangat tertarik menyaksikan reaksi Zulfidar, dkk serta reaksi Fron Pembela Islam (FPI) dan KNPI Singkawang, terhadap makalah Hasan Karman. Saya ingin terus mengikuti perkembangan dan ending aksi ini.
Karena itu saya berusaha membaca media utama di daerah ini. Entah itu Borneo Tribune, Pontianak Post, Equator maupun Tribune Pontianak. Saya memerlukan bacaan itu karena saya tahu ideology masing-masing dan apa yang terjadi di ruang redaksi media ini berbeda. Saya kira tugas dari redaktur untuk wartawan juga akan membuat bahan tulisan yang disajikan kepada public akan berbeda. Dan senyatanya memang begitu.



Dari semua berita itu, saya kira yang paling penting bagi saya adalah ketika membaca teks lengkap makalah HK yang dimuat di Borneo Tribune beberapa hari lalu. Ya, membaca teks lengkap itu sangat perlu untuk memahami duduk persoalan.
Bagi saya –dan beberapa teman lain, pertanyaan penting dari kasus ini sebenarnya adalah kayak apa sih makalah HK itu? Bagian mana yang dipersoalkan? Sejauhmana persoalannya –sampai-sampai kok dia harus mundur?
Kalau kita tidak mencari fakta itu, kita mungkin akan terjebak opini. Mana lagi begitu banyak komentar muncul terhadap makalah itu.
Dan, ketika saya bandingkan dengan isi makalah dengan opini yang berkembang, saya justru ragu: apakah komentator itu ada membaca makalah HK atau tidak?
Lalu pada akhirnya, saya sendiri berpendapat bahwa persoalan makalah HK bukan semata soal makalah. Reaksi karena makalah tidak akan sehebat itu.
Tentu ada sebab lain. Dan rentetan kasusnya jelas. Misalnya, bagaimana FPI muncul dan mengaitkan makalah itu dengan patung naga. Kita memang tahu bahwa selama ini patung naga memang dipersoalkan dan reaksi yang diberikan sejak mula rencana pembangunan, sampai sekarang – sampai patung ini menjadi ikon baru kota singkawang, tidak pernah berhenti. Tetapi, protes mereka tidak membuahkan hasil. HK tidak meluluskan permohonan mereka.
Setelah membaca makalah, saya juga menganggap HK sempat berlebihan memberikan reaksi atas reaksi Zulfidar, dkk. Berlebihan? Saya sempat membaca komentar HK pada mulanya menolak minta maaf. HK tidak merasa bersalah.
Benarkah makalah itu tidak ada masalah?
Pertama, saya kira masalah di makalah itu adalah: HK tidak mengutip sumbernya. Yuan Bingling yang disebut-sebut tidak ada. Begitu juga dengan Graham Irwin. Komentar soal catatan kaki yang diberikan beberapa orang juga tidak nampak. Tak ada tanda makalah itu memiliki catatan kaki. Dalam referensi, yang disebutkan hanya beberapa karya mulai dari Harun Aminurrasyid hingga Elias Suryani Soren.
Justru itu, masalah makalah HK menjadi sangat serius jika dilihat dari sudut metodologi penulisan akademik; HK tidak memenuhi itu. Titik lemah makalah itu sebenarnya seharusnya disadari HK sejak awal.
Kedua, saya menilai Ketua MABM Kalbar Chairil Effendi benar ketika mengkritik penggunaan sumber colonial untuk tulisan ini tanpa dipadukan dengan sumber bukan kolonial. Ini berkaitan dengan isu kapasitas sumber rujukan. Sebagai ilmuan, kita menyadari tidak semua sumber layak dirujuk. Ilmuan harus memilah dan memilih. Kadang kala justru sumber-sumber tertentu ditampilkan untuk dikritisi.
Hanya masalahnya, apakah ada tulisan tentang sejarah Sambas yang dibuat oleh ekspert dalam soal ini? Siapa ekspert itu? Siapa pakar sejarah Melayu di Kalbar?
Pada konteks ini, sebenarnya ini juga harus direnungkan orang Melayu. Orang Melayu Kalbar belum menulis sejarahnya sendiri. Mereka belum menulis sejarah berdasarkan perspektif dalaman sebagai antitesa terhadap pendapat orang kolonial.
Saya tidak hendak menafikan ada beberapa tulisan sejarah yang dibuat oleh peminat sejarah yang berasal dari orang Melayu di Kalbar, tetapi, metode tata tulis, metode analisis, masih sangat lemah. Konstruksi keilmuan masih harus ditingkatkan lagi.
Saya pernah menyampaikan hal ini dalam sebuah forum akademisi dan di sana juga ada orang dari Balai Pelestarian Sejarah Pontianak, bahwa yang paling menyedihkan bagi kita semua di Kalbar, kita tidak punya pakar sejarah. Kalbar tidak punya professor sejarah. Kalbar tidak punya doctor dalam bidang sejarah. Tidak ada di lembaga penelitian, tidak ada juga di Untan.
Nah, ketika masalah penggunaan sumber local diangkat oleh Pak Chairil, saya kira masalahnya seharusnya juga menjadi perhatian bagi orang Melayu – khususnya para akademisi, bukan HK saja. Orang Melayu harus mendoktorkan anak Melayu untuk mengisi kekosongan itu.
Jadi, pada intinya, munculnya kontroversi makalah HK lebih baik juga diimbangi dengan menjadikannya sebagai bahan renungan bagi kita semua, bagi orang Melayu, dan juga bagi HK. Dari berbagai sudut. Lalu setelah renungan itu kita memperbaiki kelemahan itu bersama-sama. Lihat sisi positifnya.

Baca Selengkapnya...

Selasa, 03 Februari 2009

Ribut Naga di Singkawang dan Pontianak

Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune

Ribut pasal naga melanda ruang sosial masyarakat di dua kotamadya di Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Di Singkawang, kelompok Forum Umat Islam dan kelompok organisasi Melayu menolak pembangunan tugu naga di tengah kota. Di Pontianak, kelompok Melayu menolak perarakan naga pada saat Cap Go Me.







Sepintas lalu, sepertinya tidak ada jalan keluar. Setidaknya jalan keluar yang mudah. Masing-masing ngotot. Kelompok yang menolak, ngotot. Mereka mengatakan tidak ada kompromi. Kalau tugu terus dibangun mereka akan merobohkan. Kalau naga terus diarak, mereka siap menghadang.
Sebaliknya, pihak yang mensponsori pembangun tugu Naga juga terus ngotot. Pembangunan jalan terus. Ini untuk kepentingan pariwisata. Di Pontianak, kelihatan ada upaya berbagai pihak mendorong agar perarakan naga di Pontianak jadi dilaksanakan pada acara Cap Go Me. Juga untuk kepentingan pariwisata.
Yang penting tentu pemerintah. Wakil Walikota Singkawang Eddy R Yakoub ditugaskan memfasilitasi pertemuan pembangunan tugu naga seperti dikutip media mengatakan pening mengurusnya.
Saya kira walikota Pontianak mungkin juga akan pening memikirkan bagaimana jalan keluarnya jika semua pihak ngotot. Pasti tidak mudah usaha dia menyadarkan orang Melayu yang menolak arakan naga: sekalipun dia sudah mencontohkan apa-apa yang dibuat orang Melayu saat perayaan hari besar Islam.
Tetapi, saya percaya tentu ada jalan keluarnya. Pihak yang panas bisa didinginkan. Bisa dibujuk. Tentu ada aktor-aktor penting di balik semua itu. Aktor ini yang cukup menentukan: mau bagaimana.
Pilihan lain, pihak yang ngotot bisa dilawan. Lihat statemen polisi: Kami siap melakukan pengamanan. Statemen ini jika diterjemahkan bermakna: polisi siap menjaga kemungkinan terburuk dari ancaman-ancaman ini. Polisi siap menjaga situasi dan kondisi.
Bagi saya, jalan keluar begini, jangka pendek. Dan, mungkin akan menimbulkan masalah baru. Coba, pujukan bagaimana yang bisa dilakukan? Apakah pujukannya seperti orang tua yang membujuk anaknya dengan permen? Apakah pujukannya seperti seorang lelaki kepada kekasihnya yang merajuk? Mengapa pujukan harus seperti itu? Memangnya orang yang marah, apa-apaan bisa dibujuk begitu?
Masalahnya, kemarahan itu bukan kemarahan yang spontanitas. Penolakan itu bukan muncul tiba-tiba. Ada rentetan sebelumnya. Ada faktor-faktor penting di balik itu. Kita semua bisa menghubungan fenomena satu dengan yang lain.
Pilihan lain, polisi turun tangan mengamankan semua itu. Benarkah? Benarkah semua itu dapat terkontrol? Kita tidak meragukan kemampuan aparat keamanan. Tetapi, rasanya, pengamanan begitu terlalu frontal dan mahal. Bagaimana kalau pengamanan ini gagal? Bagaimana kalau orang Cina dan kelompok Melayu terlanjur ribut dan saling bunuh? Apakah polisi cukup puas dengan menembak Melayu yang mengamuk dan lantas masalahnya selesai?
[[Syukurlah kemudian Walikota Pontianak Sutarmidji menemukan jalan keluar: Naga boleh diarak pada hari puncak Cap Go Meh, selama 5 jam mulai pukul 13.00-18.00, di kawasan Jalan Gajahmada Pontianak. Kelompok pro-naga puas, kelompok kontra juga puas.]].



Baca Selengkapnya...

Minggu, 01 Februari 2009

Kompromi Naga

Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune

“Arak-arakan naga di Pontianak, boleh,”
Saya menyimak kabar yang disampaikan teman wartawan, kemarin.
“Perarakan dilaksanakan di kawasan Jalan Gajahmada Pontianak dari jam satu sampai jam enam,”
Ya, syukurlah.
“Semoga berjalan baik,”




Saya mengucap dalam hati.
Pemerintah Kota Pontianak akhirnya menemukan solusi. Naga sudah mendapat tempat yang lebih luas agar dapat meliuk. Orang yang protes juga sudah didengar.
Tidak ada yang diabaikan.
Saya memuji Walikota Pontianak, Sutarmidji, karena kearifannya itu.
Saya memuji pengarak naga yang telah berbijak rasa. Tak bisa membawa naga berarak keliling kota, di kawasan Gajahmada pun cukuplah. Ruas jalan itu cukup panjang. Ruas jalan itu cukup ramai. Kawasan yang representatif untuk mempertunjukkan kehadiran naga.
Kalaupun kemudian kawasan ini macet, kalaupun kemudian kawasan ini tertutup sewaktu perarakan dilakukan, masih ada pilihan. Ada jalan keluar ke kawasan Tanjungpura yang lempang. Ada kawasan Jalan Suprapto, atau Jalan Ahmad Yani sebagai pilihan.
Saya juga memuji orang yang menolak arakan naga. Mereka telah berlapang dada. Mereka bukan orang yang pikirannya tertutup yang tidak bisa diajak kompromi. Mereka bukan orang yang tidak berbudaya, yang tidak menghargai budaya orang lain. Mereka terbuka. Mereka mengerti budaya. Sekalipun, kemarin-kemarin, pengertian itu sepertinya menimbulkan kesan, agak terbatas.
Setakat ini, saya menganggap pilihannya ini adalah kompromi yang paling baik, yang bisa diambil saat ini. Pilihan yang saya kira, keputusan begini sudah cukup memuaskan di tengah pro-kontra pelaksanaan perarakan di tengah kota.
Pilihan ini tentu akan menjadi pilihan yang akan lebih baik dan memuaskan jika dalam proses dan pasca negosiasi tidak ada yang merasa kalah dan tidak ada juga yang merasa menang. Dalam konteks ini, bukan siapa kalah dan siapa menang. Bukan soal siapa mundur dan siapa yang maju. Semua orang berusaha mencari kebaikan bersama. Semua orang memikirkan kepentingan bersama. Memikirkan kepentingan orang lain.
Sekarang, di tengah situasi yang kompromistis itu, terpulang bagaimana penyelenggara mengatur agar arak-arakan bisa dilaksanakan sebaik-baiknya, dengan hasil yang sebaik-baiknya, sehingga tercapailah tujuan mereka mengapa perarakan harus dilakukan.
Sekarang, terpulanglah bagaimana penyelenggara dapat berkordinasi dengan pihak pemerintah, dengan pihak keamanan, dan dengan pihak lain yang mungkin perlu dilibatkan. Sehingga pada akhirnya secara moral memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan perarakan yang sukses, dan merasa punya tanggung jawab bersama untuk memelihara situasi tetap aman dan damai.
Saya kira panitia menyadari bahwa ini kegiatan internal. Tetapi, ketika kegiatan internal mengalir ke ruang publik, tentu ada sisi ruang publik yang harus diperhatikan. Ada hal yang seharusnya dikongsi bersama.
Ada kesadaran bahwa ruang publik itu bukan milik sendiri. Ada orang lain yang berbeda. Berbeda minat, berbeda cara pandang, dan berbeda budaya.
Gong xi fat cai.


Baca Selengkapnya...

Senin, 26 Januari 2009

Buku “Bakar Pecinan!”: Kita Perlu Memahami Mengapa Konflik Itu Terjadi

Oleh: Yusriadi

Tiba-tiba saya jadi teringat buku “Bakar Pecinan!; Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918”. Buku ini, karya Masyhuri. Terbitan Pensil 324, Jakarta, tahun 2006.


BUKU ini, sebagaimana judulnya menceritakan bagaimana konflik Kudus terjadi. Konflik itu, terjadi tahun 1918. Peristiwanya: 31 Oktober 1918. Ada penyerbuan terhadap perkampungan Cina di Kudus Kulon yang mengakibatkan terbakarnya hampir seluruh perkampungan Cina di sana.
10 orang tewas, 34 luka dari pihak pribumi, sedangkan dari pihak Cina tidak diketahui karena setelah kerusuhan tersebut mereka mengungsi ke Semarang. Sekurang-kurangnya 34 rumah terbakar. Jumlah kerugian mencapai 500.000 gulden. Jumlah yang pasti sangat besar untuk ukuran nilai uang waktu itu.
Kerusuhan ini terjadi karena orang pribumi marah terhadap orang Cina yang melakukan pawai mengarak Toa Pek Kong pada tanggal 30 Oktober 1918 –atau sehari sebelumnya. Arakan tanggal 30 Oktober itu sebenarnya arakan yang ke-4 dalam rangkaian ‘tolak bala’ wabah influenza. Pawai pertama dilaksanakan tanggal 24, dilanjutkan tanggal 24 dan 28. Pawai ini mengantongi izin pemerintah Belanda.
Selain Toa Pek Kong, dalam arak-arak itu ada juga orang Cina yang berpakaian ala haji dan alas wanita nakal.
Pada saat pawai melewati masjid Kudus, pengurus masjid yang sedang mendorong gerobak –kebetulan ada kerja bakti mengangkut batu dari kali, menyorongkan gerobaknya ke arah pedati yang digunakan sebagai arakan. Lalu terjadi tabrakan. Selanjutnya pertengkaran dan jual beli pukulan. Suasana sempat terkendali. Namun isu yang berkembang gentayang membakar semangat warga. Hingga malam berikutnya, ada gerakan sekelompok orang yang mulai membakar perkampungan Cina. Aksi ini berlanjut menjadi aksi massa. Dan selanjutnya aksi ini menjadi milik kelompok. pribumi melawan Cina.
Konflik ini seperti dikemukakan Masyhuri, bukanlah berdiri sendiri. Ada segregasi sosial. Kesenjangan ekonomi warga Cina dan pribumi sangat jauh. Ada persaingan dan kompetisi yang kuat. Ada kebangkitan semangat primordialisme di kalangan pribumi. Ada prasangka menajam. Ada kebencian yang membuncah.


SEBENARNYA situasi sebelum konflik di Kudus yang dipaparkan buku inilah yang mengingatkan saya pada apa yang sedang terjadi di Kalbar sekarang ini.
Persoalan prasangka, memang sudah muncul sejak lama. Prasangka muncul dari rentetan sejarah karena anggapan orang Cina tidak setia. Lihat laporan yang disampaikan Hari Poerwanto yang berjudul “Orang Cina Khek di Singkawang” tahun 2004. Buku ini mengisahkan prasangka-prasangka yang wujud, yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, lihat juga tulisan La Ode, M.D. 1997. Tiga Muka Etnik Cina — Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat, Yogyakarta, PT. Bayu Indra Grafika.
Terakhir, prasangka ini memuncak dalam pemilihan Walikota Pontianak 2008. Saya sempat menerima beberapa SMS pantun tentang pandangan negative terhadap majunya calon walikota orang Cina. Sayangnya, SMS itu sekarang hilang bersama hilangnya HP saya –sebelum datanya dipindahkan.
Saya kira, jarak sosial antara orang Cina dengan Melayu di Kalbar cukup jauh. Perbedaan kepercayaan, perbedaan bahasa dan budaya sangat jelas. Jarak ini semakin lebar jika dikaitkan dengan situasi ekonomi. Kesenjangan ini bisa dilihat secara kasat mata di kota Pontianak, dan bahkan seluruh Kalbar.
Pola pemukiman juga mula memperlihatkan kesan eksklusif. Semua orang mengenal kawasan Gajahmada sebagai kawasan pemukiman orang Cina. Bahkan sempat muncul gagasan membangun gerbang pecinan di kawasan ini. Asumsinya, pembangunan ini akan mendorong kepentingan pariwisata.
Begitu juga dengan pendidikan. Orang-orang Cina kebanyakan bersekolah di sekolah yang berbeda dengan orang Melayu. Keadaan ini semakin kuat dengan kenyataan bahwa sekolah umum kebanyakan kalah mutu dibandingkan sekolah yang beraliran agama. Sekolah bermutu ini dikejar oleh orang tua anak.
Politik adalah hak setiap warga negara. Namun, kenyataannya, naiknya politisi Cina di pentas politik Kalbar kerap kali dianggap menjadi ancaman terhadap eksistensi Melayu. Orang Melayu merasa kalah. Orang Melayu merasa kesempatan mereka diambil.
Ketidaksenangan sekelompok orang Melayu sudah disampaikan secara terbuka. Orang mempertanyakan eksistensi budaya Tionghoa. Pertanyaan ini disampaikan juga secara resmi ke DPRD Kota Pontianak beberapa waktu lalu.
Kasus kecil bisa membesar karena isu yang bertiup dan ditiup-tiup. Kasus Gang 17, Pontianak, merupakan contoh yang paling aktual dari situasi ini. Kasus kecil itu menjadi milik orang banyak. Perkelahian karena kesalahpahaman, menjadi perkelahian besar yang diatur sistematis.
Kasus pembangunan tugu naga di Singkawang juga menjadi berlarut-larut. Padahal dahulu penciptaan image 1000 kelenteng di Singkawang tidak pernah dipersoalkan. Pembentukan identitas Singkawang sebagai kota Cina sekian lama dahulu tidak pernah ditolak. Bahkan, orang-orang Melayu dan orang Kalbar secara umum melihat predikat Singkawang sebagai kota Amoy, sebagai pencitraan yang positif. Kini, semuanya menjadi negatif.
Kini, di Pontianak, rencana arak-arakan naga diprotes. Protes keras. Bahkan disertai ultimatum. “Kami siap menghadang aksi ini,”


MEMANG polisi sudah menjanjikan akan mengamankan situasi. Memang beberapa elit Melayu seakan memberikan jaminan akan memberikan pemahaman terhadap orang Melayu. Memang banyak orang Melayu memahami bahwa arakan naga bukan persoalan sebenarnya dan masih dapat memahami jika perarakan itu tetap dilaksanakan.
Tetapi siapa yang bisa menjamin situasi yang panas ini tidak akan membakar?
Memang di titik yang dijaga, keadaan bisa dikendalikan. Tetapi, apakah polisi dapat menjaga semua titik? Berapa banyak kekuatan personil yang diperlukan untuk menjaga situasi itu?
Soal pemahaman, bukan tidak bisa dilakukan. Tetapi masalahnya bukan terletak pada pemahaman. Masalahnya terletak pada perasaan tidak puas sekelompok orang terhadap orang Cina. Mungkin juga ada kepentingan pragmatis di sini.
Seperti disebutkan tadi, ada ketidakpuasan yang bertumpuk-tumpuk. Setiap persoalan kecil dijadikan sebagai isu yang besar, dan dijual. Soalnya sekarang, siapa yang mau membeli.
Pada skala kecil, dan pada lingkup jangka pendek, mungkin masalahnya bisa di atasi. Transaksi bisa dilakukan oleh mereka yang berkepentingan.
Tetapi pada masa yang panjang, pasti akan sulit. Isu-isu akan menumpuk dan masuk dalam rapor: Cina begini, begini, begini. Ada daftar dosa dan kesalahan yang terus diingat. Lalu, membuncahkan rasa solidaritas di tengah situasi yang tersegregasi.
Karena itu, sebuah upaya jangka panjang harus dilakukan untuk meminimalisir segregasi sosial. Upaya yang memudarkan identitas kelompok yang justru membuat kelompok lain menjadi tidak puas. Prinsip-prinsip munculnya identitas dan pemertahannya selalu tidak lepas dari kepentingan pragmatis.
Tentu sudah harus dipikirkan bagaimana menciptakan identitas bersama dalam konteks kepentingan pragmatis itu. Lalu, memupuknya agar tumbuh subur. Memeliharanya agar tumbuh membesar.
Pemerintah, elit, dan kita semua yang mencintai suasana damai mesti memikirkan kepentingan pragmatis, menciptakan alasan yang kuat untuk membentuk identitas itu. Sebaliknya, kita semua harus berusaha menghapus identitas-identitas kelompok yang dipandang negative kelompok lain –sembari tentu saja menghapus keinginan untuk melihat sesuatu dari sudut negatifnya saja.




Baca Selengkapnya...

Sabtu, 27 Desember 2008

BUKU BARU


Judul : Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat
Penyusun : Yusriadi
Tahun : 2008
Penerbit : STAIN Pontianak Press
Tempat Terbit : Pontianak





Baca Selengkapnya...

Tak Kenal Maka Tak Tahu: "MEMAHAMI KESUKUBANGSAAN DI KALIMANTAN BARAT"

Yusriadi

Tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak cinta. Pepatah ini berlegar dalam ingatan saya. Saya sering menggunakannya. Dahulu.

Terutama saat bicara di forum resmi di depan orang-orang. Saya memulai ungkapan ini sebagai ungkapan pembuka kata. Tidak ada makna mendalam yang resapi. Basa basi. Saya tahu, orang lain juga sering menggunakan ungkapan itu.
Ketika saya memilih judul “Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” untuk kumpulan tulisan saya yang dibukukan dan diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press (2008), saya teringat akan pepatah ini.
Beda dibandingkan sebelumnya, saya menggunakan kata-kata ini dan meresapinya.
Dalam pikiran saya, masalah kesukubangsaan di Kalbar harus dipahami. Orang harus berusaha tahu tentang komunitas lain, selain komunitas sendiri.
Pengetahuan ini penting karena latar belakang masyarakat Kalbar. Masyarakat Kalbar terdiri dari berbagai kelompok etnik, kelompok suku bangsa. Ada Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa. Ada lagi kelompok lain.
Orang Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa, perlu mengetahui tentang kelompok Dayak. Mereka perlu mengetahui ciri atau identitas Dayak. Mengetahui budaya, bahasa, dll. Semakin dalam pengetahuan, semakin baik.
Begitu juga sebaliknya. Orang Dayak, perlu mengetahui kelompok lain. Semua suku.
Pengetahuan yang terbatas akan menimbulkan praduga. Sebaliknya, pengetahuan yang cukup, pengetahuan yang baik dan mendalam tentu akan menghilangkan stereotip, akan menghilangkan praduga. Pengetahuan seumpama ini akan membantu orang saling memahami.
Saya membayangkan jika masing-masing saling memahami. Saya membayangkan jika kesalingpahaman bisa diwujudkan, bisa ditumbuhkembangkan sejak awal, sudah tentu penghargaan akan tumbuh.
Tidak perlu orang berkelahi karena mereka tidak mengerti orang lain. Tidak perlu orang ribut hanya karena mereka curiga, curiga pada sesuatu yang seharusnya tidak dicurigai. Ambil contoh yang paling sering digunakan orang, tentang carok di kalangan orang Madura. Di dalam budaya asal, carok dilihat sebagai sesuatu yang positif. Carok dilihat dalam konteks orang mempertahankan dan mengembalikan harga diri. Pertahanan berarti pasif. Hanya untuk membalas jika harga diri diserang. Bukannya memulai menyerang. Orang tidak memahami konteks carok. Orang tidak memahami mengapa carok dipertahankan dalam budaya orang Madura. Jika orang memahami dengan benar tentu tidak akan menganggap carok dari sisi negatif saja. Begitu juga sebaliknya, orang Madura yang mengerti tentang carok tentu tidak akan asal ‘pakai’ istilah itu untuk melegitimasi tindakan kriminal yang dilakukan.
Saya berusaha menerbitkan buku ‘Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat” dengan harapan, buku ini bisa memberikan sumbangan untuk membangun saling memahami itu. Di dalam buku ini digambarkan tentang identitas, persebaran, dan budaya suku Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura dan Bugis. Ada harapan besar untuk masa depan, agar setiap orang menjadi lebih memahami diri dan orang lain dengan baik. Orang menjadi lebih mengerti. Orang menjadi lebih berpengetahuan. Orang menjadi lebih beradab.
Harap-harap kelak setiap orang bisa menebarkan cinta untuk orang lain. Setiap orang, kelak, bisa memandang orang lain sebagai bagian dari dirinya juga. Sama-sama orang-orang Kalbar, “orang diri’” atau “orang kita”.


Baca Selengkapnya...

Kamis, 18 Desember 2008

Menunggu Patung Naga Singkawang Menjadi Patung Naga Api

Oleh: Yusriadi

“Singkawang ribut. Massa Melayu memprotes pendirian patung naga di tengah kota. Massa minta patung itu dirobohkan”.

Itulah informasi yang saya terima Jumat lalu. Informasi ini membuat saya bingkas. Saya tertarik dengan kabar ini. Saya ingin mengetahui lebih jauh perkembangan kejadiannya. Namun sayang, perkembangan tidak banyak diperoleh. Saya hanya mendapatkan nama kelompok organisasi yang menggalang protes itu: Front Pembela Islam (FPI).



Saat itu saya tidak mendapat siapa nama tokoh-tokoh gerakan. Saya tidak mendapat informasi mengenai jumlah orang yang terlibat aksi ini. Saya juga tidak mendapat informasi bagaimana gerakan ini dilakukan.
Saya juga tidak mendapat informasi mengenai siapa orang yang menggagas pembangunan patung ini. Siapa yang mengerjakannya. Saya hanya menduga, mungkin Dinas Pariwisata atau mungkin juga Walikota.
Karena itu hari Sabtu saya langsung memburu koran. Saya mencari berita di Equator, karena media ini menjadikan kasus Singkawang sebagai HL. Saya mencari berita serupa di Pontianak Post dan di Tribun Pontianak.
Hari berikutnya, saya juga mencari koran untuk mendapatkan perkembangan selanjutnya. Namun, tidak ada perkembangan berarti setelah itu.

***

Bagi saya kasus ini sangat menarik karena berkaitan dengan persoalan etnik –bidang yang selama ini saya geluti.
Kasus Naga Singkawang berkaitan dengan identitas masyarakat Cina (Tionghoa). Naga adalah salah satu simbol; selain barongsai.
Dalam kasus ini, orang Cina (agaknya begitu) ingin naga dibangun di tengah kota untuk menambah daya tarik pariwisata.
Saya mengaitkan hal ini dengan pengetahuan umum bahwa Singkawang memang dikenal sebagai kota Cina. Nama lain Singkawang katanya adalah “Sin Kiu Jong”. Saya sangat sering mendengar orang menyebut Singkawang sebagai “Kota Amoy”. Itu yang saya dengar sejak lama. Mendengar nama ini saya (dan mestilah semua orang) membayangkan gadis-gadis Cina dijumpai di mana-mana.
Belakangan saya juga mendengar orang menyebut Singkawang sebagai kota seribu kelenteng. Sebutan ini untuk menunjukkan bahwa di kota ini sudah terbangun 1000 buah kelenteng. Jumlah sebanyak itu, membuat kelenteng nampak di mana-mana. Mulai dari pintu masuk ke kota Singkawang hingga di pusat kota.
Jadi, kehadiran Naga di tengah kota menambah kuat identitas untuk kota Singkawang sebagai kota Cina.

***

Tetapi tentu saja masalah di Singkawang tidak bisa dilihat dari konteks itu. Masalah di Singkawang mestilah berkaitan dengan situasi sosial politik lokal dan regional. Di Singkawang, ada pertarungan politik antar kelompok. Dalam suksesi lebih setahun yang lalu, Hasan Karman, walikota sekarang berhadapan (mungkin juga berkaitan) dengan etnis. Hasan Karman adalah Cina. Sedangkan lawan tarungnya, beberapa di antaranya menggunakan simbol Melayu. Sehingga secara ringkas orang melihat pertarung dalam Pilwako Singkawang adalah pertarungan antara Melayu dan Cina. Masyarakat pemilih diramalkan banyak juga yang mempertimbangkan isu ini.
Meskipun tidak secara gamblang disebutkan ada pertarungan isu ini dalam Pilwako, namun aromanya terasa sekali.
Melihat situasi kala itu saya sempat meramalkan Pilwako Singkawang akan ribut. Kelompok tertentu dari kelompok Melayu akan melakukan sesuatu untuk orang Cina. Saya mengkhawatirkan hal itu. Kemungkinan ributnya cukup besar. Saya terobsesi dengan teori Ogborn. Kira-kira, keributan di Singkawang bisa terjadi karena orang Melayu merasa lebih kuat. Singkawang ‘terkepung’ oleh kampung-kampung Melayu. Kelompok Melayu tertentu mungkin merasa bisa menggerakkan simpati orang-orang kampung ini untuk kepentingan mereka.
Kemudian, syukurlah, keributan itu tidak terjadi. Kemenangan Hasan Karman diterima dengan ‘lapang dada’. Orang Melayu masih bisa menerima walau dengan berat hati, karena masih ada Edy R Yakoub, yang “urrang kitte jua’”.
Penerimaan belum sepenuhnya. Masih ada perasaan ‘kosong’ pada kelompok tertentu. Masih ada orang yang berusaha mencari revans atas apa yang dianggap mereka sebagai ‘kekalahan’. Ada yang terus melakukan hitung-hitungan terhadap orang Cina. Bak kata, seperti di Pontianak, ada orang yang menunggu waktu untuk membuat perhitungan.

***

Tentu banyak orang yang tidak setuju dengan hal itu. Banyak orang yang menyadari kalah menang dalam dunia politik adalah sesuatu yang biasa. Orang sendiri memimpin belum tentu lebih baik dari orang lain. Orang lain memimpin belum tentu buruk.
Tetapi, kelompok tertentu ini tentu tidak boleh diabaikan. Mereka harus mendapat perhatian dan ditangani searif mungkin.
Pilihan mengabaikan mereka sama saja membiarkan titik api hidup di atas sekam. Lama-lama akan membesar.
Sudah banyak contoh keributan besar muncul dari persoalan kecil. Keributan besar terjadi karena adanya akumulasi dari berbagai persoalan.
Dan, saya melihat persoalan antara Cina dan Melayu sangat banyak. Kedua komunitas ini sangat mudah dipisahkan dan dibedakan. Ada isu agama yang bisa menjadi bensin dalam hubungan ini. Ada isu ekonomi: soal lapangan kerja, soal kaya-miskin, yang tidak kalah kuatnya. Ada isu politik yang juga sangat mudah menyulut konflik.
Isu-isu seumpama ini memang tidak penting bagi orang yang memahami perbedaan, tetapi, berapa banyak orang yang memahami dan mau memahami itu?
Saya meramalkan jika penanganan Naga Singkawang tidak dilakukan sebaik mungkin, naga itu kelak akan menjadi naga api. Naga yang akan menyemburkan api dari mulutnya dan membakar bangunan-bangunan di kota Singkawang. Api dari mulut naga ini juga yang akan membunuh orang-orang yang tidak berdosa.
Saya selalu ingat dan sangat takut jika hipotesis konflik etnik di Kalbar terbukti kelak. Sebab saya meramalkan jika konflik ini terjadi, pasti Cina akan menjadi sasarannya. (Lihat Yusriadi. 2008. Tionghoa Kalbar di Titik Panas)


Baca Selengkapnya...

Selasa, 01 April 2008

Pesta Pertunangan Keluarga Tionghoa

Mbok Lena, kakak saya, memberikan sebuah undangan berwarna merah. Tulisan Cina. Ada nama saya: Yus/Istri, pada alamat undangan itu. Tulisan tangan.
“Pak Amat,” kata Mbok.



Saya menerimanya. Undangan itu menebarkan aroma wangi. Di bagian atas, di pojok kanan terdapat ‘amplop’ kecil. Isinya irisan buah pinang.
Di bagian pinggir undangan itu, terdapat gambaran lampion. Di bagian tengah terdapat gambar burung yang hinggap di pohon cinta berlambang hati. Pada lambang hati itu ada tulisan Cina. Begitu juga pada kiri dan kanan burung. Di bagian atas terdapat tulisan UNDANGAN.

Semua tulisan dan gambar itu menggunakan tinta warna emas.
Saya menyukai tampilan undangan ini.

Di dalam undangan ini tertulis: Bertunangan. Di bagian pertama semuanya menggunakan tulisan latin, berbahasa Indonesia. Sedangkan di bagian selanjutnya tulisan Cina. Saya tidak bisa membacanya. Saya buta kayu, kata orang Pontianak.
Ya, Dewi anak Pak Amat bertunangan. Saya kenal sedikit pada anak itu. Dia masih muda. Tamat SMA setahun lalu. Katanya, dia tidak mau melanjutkan sekolah. Lebih memilih kerja.

Lalu, ujung-ujung kawin.
“Pergi ndak?” Mbok bertanya.
“Pergi”.
Saya memutuskan pergi. Pak Amat kenalan baik kami. Kami adalah anaknya. Anak Pak Amat, Hin, menikah dengan adik saya. Pak Amat menerima, menyetujui dan merestui pernikahan itu. Bahkan, dia paling semangat.

Dia merelakan anaknya pindah agama, ikut agama kami. Muslim. Bahkan dia kerap kali menasehatkan anaknya: “Agama pilihan kamu sendiri. Kami tidak memaksa. Saya mendukung pilihan kamu. Kalau sudah masuk Islam kamu harus jadi orang Islam. Bukan cuma masuk Melayu. Kamu jangan bikin malu saya. Jangan tunjuk tidak punya malu,’ begitu Pak Amat menasehatkan anaknya. Di depan saya. Beberapa kali.
Yang menarik dari nasehat itu, agama bagi Pak Amat tidak sensitif. Yang sensitif adalah malu. Dia akan merasa malu kalau anaknya tidak dapat menunjukkan sikap sebagai orang Islam, karena pilihan masuk Islam adalah pilihan sendiri.
Yang juga menarik, Pak Amat membedakan masuk Islam dan masuk Melayu. Padahal selama ini kebanyakan orang menganggap sama saja. Masuk Islam berarti masuk Melayu. Masuk Islam harus taat, harus menjalankan kewajiban sebagai orang Islam. Kalau masuk Melayu tidak taat pun tidak apa.

Saya sempat terpukau dengan terminologinya itu.
Bahkan, suatu ketika Pak Amat sempat mengatakan pada saya, dia juga ingin masuk Islam. Namun, nanti. Sekarang tidak mungkin dia melakukan hal itu. Orang tuanya masih hidup. Sebagai anak lelaki tertua, dia harus melayani ayahnya dengan baik. Menurut Pak Amat, itulah tanda berbakti. Dia harus mempersiapkan konsoi –peti mati. Dia juga harus bersembahyang di depan peti mati itu, nanti, bila ayahnya meninggal. “Kalau masuk Islam ‘kan saya tidak bisa melakukan itu. Saya tidak bisa berbakti,” katanya berargumentasi.

Waktu itu saya terangguk mendengarnya. Saya tidak membantahnya. Yang saya pikir, mungkin adat orang Tionghoa begitu.

Pak Amat juga pernah meminta izin pada saya, dia ingin cucunya diberi nama marga, diberi nama Cin –begitu dia menyebut identitas Tionghoa. Saya menyerahkan pada dia. Hanya saya juga mengingatkan memberi nama Cin pada seseorang mesti ditimbang masak-masak. Ini bukan soal agama. Tetapi soal perlakuan sosial. Biasanya orang Tionghoa mendapat perlakuan khusus dari kelompok masyarakat lain, terutama kelompok yang memiliki otoritas. Orang Tionghoa tertentu menyebutnya ‘ada diskriminasi’.
Kemudian setelah lahir, cucunya tidak diberi nama Cina.

***

Hari itu, kami pergi setelah shalat Maghrib. Mbok Lena dan suaminya Mas Yanto bersama anak mereka. Saya pergi sendiri. Orang rumah sibuk. –Pak Amat pengecualian. Biasanya daripada pergi sendiri lebih baik tidak pergi.

Kami parkir motor di depan bangunan tempat perjamuan. Di pintu masuk saya melihat para penyambut tamu dengan jas. Ada Man, adiknya Pak Amat. Ada Hin, adik ipar saya. Model penyambutan begini sama seperti pesta perkawinan orang Melayu. Saya membandingkan hal itu karena sudah belasan tahun di Pontianak belum pernah saya pergi ke tempat orang Tionghoa kawin. Sesekali saya dapat undangan mereka, namun, saya enggan turun. Kagok. Soal makan kerap kali membuat saya risau. Jujur saja, ada rasa was-was.

Kami bersalaman mengucapkan selamat. Dan berbasa basi sekejap.
Lalu kami mengisi buku tamu yang terletak di sebelah kanan pintu masuk.
Dua anak gadis Pak Amat yang menjaga buku tamu. Mbok mengisi lebih dahulu. Lalu menyerahkan amplop. Saya menirunya.

Saya lihat di dekat meja ada tempat untuk memasukkan amplop.
“Ah kiranya sama juga dengan orang Melayu,” pikir saya.

Lalu kami dipersilakan menuju meja makan. Ada beberapa jenis makanan dihidangkan. Penjaga makanan adalah petugas khusus, kelihatannya orang Islam.
Saat kami memilih makanan, Man memberitahukan bahwa semua makanan boleh diambil kecuali satu. “Yang itu ada araknya,” kata Man.
Saya lega. Model seperti ini di luar bayangan saya. Justru saya yang merasa aneh karena tidak ada babi.
Saya memilih kentang dan sate.
Kami menuju meja makan.

Sambil makan saya menyimak suasana pesta pertunangan. Ada beberapa orang yang kami kenal. Ada beberapa orang yang memakai kerudung.
Yang bertunang nampak mesra di atas pelaminan.

Musik yang diperdengarkan malam itu membuat saya tersentak. Musik dangdut! Hanya sesekali lagi berbahasa Mandarin. Sayang saya tidak mencatat lagu-lagu rancak itu.
Adik saya yang datang kemudian ke meja kami memberitahukan:
“Memang begitulah,”

Maksudnya, pilihan lagu dangdut pada acara orang Tionghoa adalah sesuatu yang biasa. Tidak semua lagi berbahasa Mandarin.
Ada tiga puluh menit kami berada dalam ruangan. Mendengar musik dan melihat orang yang datang ke pesta itu.

Saya taksir, jumlah orang bukan Tionghoa yang datang jumlahnya mungkin separoh dari jumlah orang Tionghoa. Seperti kami, yang datang adalah relasi Pak Amat.
Saya kira, pesta ini sekaligus mencerminkan relasi sosial antara orang Tionghoa dan bukan Tionghoa di Pontianak.

Kesan eksklusif pada orang Tionghoa –di mata orang Melayu, menjadi agak musykil. Saya jadi bertanya-tanya mengapa?

Karena menurut anggapan saya, pasti bukan cuma pesta perjamuan yang dihelat keluarga Pak Amat yang seperti ini. Pasti adanya keluarga Tionghoa yang lain pernah melakukan itu. Mungkin banyak perjamuan orang Tionghoa di Kalbar yang mengundang orang-orang bukan Tionghoa. Dan pasti banyak orang Melayu atau orang lain yang sedia datang memenuhi undangan ini.

Pasti benar, bahwa sudah biasa dalam perjamuan ada hiburan dan salah satu lagu yang dipilih adalah lagu dangdut, lagu yang sering disebut musik irama Melayu. Lebih dari sekadar menghibur tamu Melayu yang datang pada acara perjamuan, mungkin banyak orang Tionghoa yang menyukai musik tanpa melihat batas ‘milik’ itu.
Pasti juga sudah biasa bagi orang Tionghoa menyediakan makanan yang ‘halal’ bagi orang Melayu.

Saya betul-betul merasa bertuah bisa menghadiri perjamuan ini. Terima kasih Pak Amat. Saya mendapatkan gambaran yang nyata mengenai relasi antar etnik dan budaya.







Baca Selengkapnya...

Senin, 03 Maret 2008

Seandainya Gubernur Kalbar itu Orang Madura atau Cina

[tulisan ini pernah diterbitkan di Borneo Tribune, Juni 2007, lalu].

Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

Seandainya gubernur Kalbar mendatang orang Madura atau Cina. Itulah pikiran yang terlintas di benak saya saat mengikuti diskusi bersama peneliti dari Universitas Indonesia, Iqbal Djayadi di Redaksi Borneo Tribune Minggu (3/6) kemarin.






Pikiran ini melintas begitu saja karena sepanjang diskusi wacana mengenai gubernur Kalbar ke depan Melayu atau Madura sangat mengemuka. Munculnya nama Buchary, dan lainnya, bagi banyak orang dianggap sebagai representasi orang Melayu –sekalipun mereka tidak secara eksplisit menyatakan hal tersebut. Sedangkan mencuatnya nama Cornelis dianggap sebagai representasi Dayak. Sementara Akil Mochtar dan Usman Ja’far dapat merupakan representasi Dayak yang Islam dan Melayu. Ketika mereka dianggap Melayu, wakil yang mendampingi mereka –seperti AR Mecer atau LH Kadir dianggap representasi orang Dayak. Pasangan ini dianggap sebagai kombinasi Melayu-Dayak (mungkin juga Dayak - Dayak), sebagai bentuk kompromi yang merefleksi sharing power pribumi pulau ini.

Sejauh ini belum pernah muncul wacana mengenai calon gubernur orang lain di luar dua komunitas itu. Tidak ada nama orang Cina (Tionghoa) dalam wacana sekarang ini. Tidak ada nama orang Madura. Kalaupun nama Cina mau disebut, ada nama Christiandy Sanjaya yang akan mendampingi Cornelis –jika maju kelak. Tetapi, keberadaan pasangan ini belum pasti. Kepastian baru bisa diketahui setelah ada perahu partai yang akan menjadi tumpangan pasangan ini.

Tidak adanya nama Cina dan Madura dalam wacana pemimpin Kalbar mungkin disebabkan karena tidak ada tokoh politik dari kelompok ini yang benar-benar menonjol dalam perpolitikan daerah. Atau dalam artian belum ada yang ditonjolkan. Kalau bicara orang Madura di Kalbar paling-paling orang mengaitkan dengan nama besar H. Sulaiman. Atau sesekali orang menyebut nama Abdus Syukur SK. Dahulu ada nama H Madhar Hadrawi.
Mungkin juga orang tidak mau menonjolkan tokoh dari kelompok ini karena dianggap mereka belum layak ditonjolkan sebab tidak representatif. Jumlah orang Cina dan orang Madura tidak cukup besar dibandingkan Melayu dan Dayak, dalam skala Kalimantan Barat. Secara kasat mata jumlah kelompok ini hanya besar di kota-kota tertentu, tidak menyebar di seluruh Kalbar.

Oleh sebab itulah sebesar-besarnya tokoh dari kelompok ini tidak akan cukup dianggap besar jika telah masuk dalam kalkulasi politik Kalbar. Karena itulah lantas mereka tidak dianggap ‘layak’ jual untuk mendapatkan suara pemilih di Kalbar –yang rupanya masih dianggap pemilih tradisional yang mudah diikat oleh sentimen etnik. Jika mereka tidak akan dipilih orang banyak, tidak mungkin orang akan menjadikannya sebagai orang yang akan ditinting.

Lantas, kemarin, saya mencoba meminta pendapat beberapa teman mengenai kemungkinan ini. “Bagaimana kalau gubernur Kalbar nanti orang Madura, atau orang Cina?”
Tetapi, teman-teman menganggap pertanyaan ini hanya gurauan.
“Ah mana mungkin, realitas politiknya masih jauh,” begitu kata beberapa di antara teman saya.

“Itu sih ngolok,” kata yang lain.

Ya, karena pandangan ini, saya tidak mengajak mereka mendiskusikan lebih jauh.

***

Pada akhirnya memang saya memahami masalah mereka adalah ketika hari ini mereka melihat tidak ada tokoh Madura yang layak dijagokan. Karena tidak ada maka mereka lantas berpikir tidak mungkin. Yang mungkin adalah tokoh-tokoh yang memang sudah digadang-gadang sekarang ini, yang kebetulan dari kelompok Melayu atau Dayak. Mereka benar-benar berpikir pragmatis.

Saya mengatakan demikian karena menurut saya seseorang menjadi besar karena ada yang membesarkannya. Dan, yang bisa membesarkan orang bukan cuma perahu sosial bernama Dayak atau Melayu.

Organisasi profesi, organisasi sosial-kemasyarakatan, dll bisa membesarkan orang. Media juga bisa membesarkan orang. Media bisa membantu melahirkan tokoh. Selain itu seseorang bisa saja menjadi orang besar jika ada kesempatan. Lihat bagaimana Wakil Bupati Sekadau Abun Adiyanto sebelumnya hampir tidak pernah dibicarakan orang. Yansen Akun Effendy juga sebenarnya tidak cukup besar dan diperhitungkan menjelang pemilihan Bupati Sanggau.

Jika suatu ketika organisasi sosial kemasyarakatan dan media bersama-sama membesarkan seseorang dari kelompok Madura atau Cina, maka saya percaya akan lahir orang besar dari kelompok masyarakat itu. Memang tidak akan satu tahun. Memang tidak akan sekali jadi. Tetapi, 5 tahun, 10 tahun ke depan. Mengapa tidak mungkin?

***

Lebih dari sekadar lahir atau tidak tokoh dari kelompok Madura atau Cina, isu yang penting di balik wacana ini adalah apakah kita semua bersedia dipimpin kelompok etnik lain? Apakah pemimpin dari etnik yang sama lebih penting dibandingkan bobot, dan kapabilitas?

Memang masih ada sekelompok orang yang sukar menerima hakikat ini. Masih ada orang yang menganggap pemimpin dari kalangan sendiri lebih baik dibandingkan pemimpin dari kelompok lain. Bagi mereka pemimpin dari kalangan sendiri akan lebih memperhatikan kepentingan sendiri, akan lebih memberikan kebebasan, dll. Kelebihannya, pemimpin dari kalangan sendiri lebih memahami kelompok masyarakat yang dipimpin.

Sebaliknya, menurut pandangan ini, pemimpin dari kelompok lain akan berbahaya bagi kelompok sendiri. Misalnya berkembang pandangan, jika pemimpin orang Dayak, orang Melayu susah, sebaliknya jika pemimpin orang Melayu, orang Dayak susah.

Tetapi, sekarang sudah banyak orang bisa berpikir lain. Termasuk mereka yang semula berasal dari dari kelompok yang mulanya memandang etnik sama lebih penting dibandingkan pilihan lain.

Perubahan ini terjadi karena pertama, mereka sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya dipimpin oleh orang dari kelompok sendiri. Mau bertemu saja susah. Justru, banyak contoh memperlihatkan pemimpin mereka dari etnik yang sama ternyata lebih kooperatif terhadap kelompok lain dibandingkan mereka. Pemimpin dari etnik yang sama rupanya tidak cukup punya perhatian, seperti yang diharapkan. Justru pemimpin dari etnik yang sama memberatkan mereka karena lebih banyak menuntut loyalitas dibandingkan memberi perhatian. Seorang pemimpin tidak mungkin dapat memberikan perhatian kepada semua.

Ini seperti analogi kehidupan di sebuah tangga. Selalunya orang tua lebih memperhatikan sang tamu dibandingkan anaknya sendiri. Tamu yang datang bermalam justru dilayan-layan, diberikan kasur yang orang tua pakai, sedangkan anak sendiri tidak pernah merasakan hal itu. Orang datang dipotongkan ayam.
Oleh sebab itulah banyak yang mencoba berpikir lain. Bahwa sebaliknya justru pemimpin yang berasal dari kelompok lain lebih ‘enak’ dibandingkan dari kelompok sendiri.

***

Ada juga kelompok masyarakat yang saya temui tidak terlalu menganggap penting pemimpin itu berasal dari kelompok mana. Yang penting adalah seseorang yang menjadi pemimpin adalah orang yang benar-benar layak memimpin. Dia memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin, memiliki sikap yang baik, latar belakang yang baik, dan punya sejarah kehidupan yang baik.

Kelompok ini percaya orang yang baik pasti bisa menjadi pemimpin yang baik. Orang yang dapat memimpin diri sendiri dengan baik dan dapat memimpin keluarganya dengan baik, kemungkinan akan dapat memimpin masyarakat dengan baik. Dia bisa memberikan keteladanan, bisa dijadikan panutan, dan bisa dijadikan kepercayaan.

Sebaliknya orang yang tidak dapat memimpin diri sendiri dengan baik dan tidak dapat memimpin rumah tangga dengan baik, besar kemungkinan tidak dapat memimpin orang lain dengan baik. Pada orang seperti ini jelas tidak ada keteladanan.

Saya, sependapat dengan pandangan kelompok yang terakhir ini. Oleh sebab itulah bagi saya, siapapun yang memimpin, sepanjang dia memiliki yang baik-baik, dia layak. Tidak ada batas apakah dia orang Dayak atau Melayu. Madura, Cina, sekalipun yang penting memang layak, boleh-boleh saja.

Saya percaya pemimpin yang baik akan dapat membawa Kalbar menjadi lebih baik. Dapat membawa Kalbar menjadi provinsi yang maju, membawa masyarakat menjadi masyarakat sejahtera. Lebih dari itu pemimpin yang baik pasti bisa menerima ‘takdir’ jika memang harus kalah dalam pemilihan, atau mengalah jika memang dalam perjalanannya tidak mampu.

Sedangkan pemimpin yang tidak baik, tidak layak dijadikan ‘imam’, tidak layak dijadikan contoh. Bagaimana mungkin dia akan dapat membawa kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk diri saja kebaikan itu tidak ada? Justru saya membayangkan memilih pemimpin yang tidak baik sama artinya menitipkan Kalbar ke tangan orang yang salah, orang yang justru akan membawa petaka.

Pada akhirnya saya jadi merenung pernyataan Iqbal dalam diskusi di Borneo Tribune, ketika dia berulang kali mengatakan: Why not?

Ya, mengapa kita tidak bisa memilih pemimpin yang terbaik? *




Baca Selengkapnya...

Sabtu, 23 Februari 2008

Tionghoa Kalbar di Titik Panas

[Tulisan ini sedang diperbaiki, jangan dikutip].

Oleh: Yusriadi

Situasi hubungan antara komunitas Tionghoa (Cina) – Melayu di Kalbar di hari-hari terakhir ini membuat saya cemas. Sepertinya, retak hubungan antara Cina dan Melayu di Kalbar hampir belah. Saya tidak siap melihat api membumbung, darah tumpah, wajah-wajah sadis … Sungguh cemas. [Tulisan ini dibuat agar pemerintah mengambil sikap mencairkan hubungan dan para pengamat yang tidak mengetahui latar belakang masalah tidak berkomentar negatif].

“Usir Cina dari Kalbar! “

Teriakan itu terdengar di antara kerumunan massa yang melaksanakan aksi di kantor DPRD Kalimantan Barat pada 20 Februari 2008. Massa itu, Barisan Melayu Bersatu (BMB) sedang melakukan aksi untuk orang Cina.

Tuntutan-tuntutan yang disampaikan semuanya untuk orang Cina: mendukung SK Walikota No 127, mendesak penggunaan bahasa Indonesia dan penurun tulisan asing, dll. Mereka membawa poster yang antara lain bertuliskan “Anti Cina”. (Lihat foto dalam blog Andreas Harsono)

SK 127 berkaitan dengan pengaturan atraksi naga dan barongsai di kota Pontiaanak. Dalam aturan itu disebutkan atraksi dipusatkan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Atraksi di jalan kota tidak dibolehkan karena khawatir menimbulkan ketegangan.
SK itu dirumuskan berdasarkan hasil pertemuan sejumlah tokoh; baik dari kalangan Tionghoa, maupun dari kalangan Melayu. Para tokohlah yang memberikan masukan kepada Walikota perihal pengaturan tersebut.

Para tokoh pun memberikan masukan juga bukan tanpa alasan. Salah satu pertimbangan mereka –dan pertimbangan itu digunakan dalam konsidern SK Walikota itu, adalah peristiwa Gang 17 Pontianak. Disebut Gang 17 karena kejadiannya di Gang 17, Jalan Tanjungpura Pontianak, Kalbar. Peristiwa itu terjadi 6 Desember 2007. Kejadiannya, persoalan internal antar individu yang satu berasal dari etnik Cina dan yang satu dari Melayu (Keturunan Arab) kemudian merembet ke soal etnik. Keluarga dan teman-teman, dan orang yang berasal dari kelompok Melayu menunjukkan solidaritas. Mereka “membalas” dengan merusak sejumlah rumah dan mobil orang Tionghoa di Gang 17 dan sekitarnya.

Setidaknya tiga malam berturut-turut jantung kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalbar, tegang. Massa dari berbagai tempat di Pontianak berkumpul kawasan Jalan Gajahmada –menunggu komando bergerak. Polisi dan tentara turun ke jalan. Siaga I. Sedangkan orang Tionghoa memilih berkurung di dalam rumah. Sebagian sudah mengungsi. Banyak anak Tionghoa yang tidak masuk sekolah pada hari pertama setelah malam kejadian. Sedangkan orang Dayak turun ke lokasi membaur bersama orang Melayu. Mereka melihat-lihat situasi.

Ending dari kemelut itu, dibuatlah pertemuan tokoh, difasilitasi oleh Polisi Kota Besar Pontianak (Poltabes). Media hanya menulis tentang akhir dari pertemuan itu. Sedangkan dinamikanya tidak disebutkan. Sebuah sumber menyebutkan dalam pertemuan itu sempat mencuat desakan agar orang Tiongho tidak ikut politik! Sejumlah tokoh Tionghoa – Lie Khi Leng, Kardi Kahim, Sutadi, SH, Phang Khat Fu, Lim Kui On, Liang Kia/Anga, Tan Tek Sie, Ateng Tanjaya, dan Setiawan Lim, memilih meminta maaf atas nama pelaku. Permintaan maaf dalam bentuk iklan dimuat di Harian Pontianak Post, Borneo Tribune dan Equator tanggal 8 Desember 2007.

Rupanya permintaan maaf itu dinilai berlebihan. Kalangan Tionghoa sendiri –misalnya Acui Simanjaya, (Mama) Shanty – yang mengirimkan sejumlah surat ke Polda Kalbar, dkk sempat menyampaikan protes terhadap sikap itu. Tidak saja lewat koran, tetapi mereka datang ke rumah Lindra Lie pada tanggal 9 Desember 2007. Mereka yang datang adalah Tan Tjun Hwa, Acui Simanjaya dan Gunawan Lim. Dalam pertemuan itu pembicaraan berkisar soal: mengapa Lie dan kawan-kawan menyampaikan permohonan maaf mencantumkan “Atas Nama Warag Tionghoa Pontianak”.

Namun, pertemuan itu justru berujung ribut. Yang kemudian muncul adalah kasus “pemitingan leher Lie oleh Tan Tjun Hwa”. Kasus ini menggelinding ke kantor polisi.

Setelah kejadian Gang 17 sebenarnya ada kejadian lain. Sekelompok warga yang mengatasnamakan Barisan Umat Islam mengirimkan surat ke DPRD Kota pada Selasa (2/1). Isi surat tersebut meminta “fatwa” DPRD seputar status budaya Tionghoa dan Majelis Adat dan Budaya Tionghoa (MABT). Soal lain yang disinggung dalam surat itu adalah isu sumbangan orang Tionghoa untuk pembangunan bangsa, pembauran, ekonomi hingga politik. Surat itu ditembuskan berbagai pihak.

Lalu, karena tak ada jawaban, pada Senin (7/1) ratusan massa Barisan datang ke DPRD Kota. Permintaan mereka: “Katakan saja, apakah budaya Tionghoa itu, budaya asli Pontianak atau bukan?”.

Mereka juga menganggap tokoh Tionghoa yang menandatangani permintaan maaf sebagai provokator. “Lihat disini, ada sembilan orang yang mengatasnamakan masyarakat Tionghoa. Ini provokator namanya. Kalau polisi berani tangkap mereka,” teriakGusti Surya Dharma, seperti yang dimuat Harian Metro Pontianak, halaman 9, tanggal 8 Januari.

Gusti Surya Dharma adalah Ketua Barisan Umat Islam. Yang disebutkan Gusti itu adalah permintaan maaf yang disampaikan Lindra Lie, dkk.

Punca

Kemenangan Christiandy sebagai Wagub Kalbar dalam Pilkada Kalbar 2007 memang disambut dengan sukacita oleh orang Tionghoa. Ini adalah kejutan. Sejarah di republik ini, orang Tionghoa menjadi wakil gubernur.

Tetapi kalangan tertentu tidak bisa menerima kemenangan itu. Kalangan yang tertentu –misalnya Barisan Umat Islam, sangat kecewa dengan kenyataan ini. Mereka mau calonnya yang menang dan menjadi pemimpin Kalbar. Karena itulah mereka memperlihatkan sikap tidak menerima Tionghoa.

Bahkan kabar yang berhembus, sehari setelah pengumuman hasil sementara Pilkada Kalbar yang menempatkan kantong-kantong Cina di Pontianak, pasangan Cornelis – Christiandy Sanjaya menang, sudah ada keinginan orang tertentu melakukan aksi. Sudah ada ketegangan.

Bagi mereka kekalahan terjadi karena sikap orang Tionghoa yang mendukung Cornelis karena faktor Christiandy. Muncullah tudingan “orang Tionghoa berkhianat”, “orang Tionghoa tidak bisa berterima kasih”, dll.

Bahkan beredar juga kabar bahwa sejumlah orang memancing gara-gara di lingkungan pecinaan – misalnya di Jalan Gajahmada. Sejumlah motor melintas dengan suara yang nyaring. Gas sengaja dibesarkan. Upaya provokasi. Bahkan ada yang berharap terjadi senggolan motor (kendaraan) dengan anak muda Tionghoa yang biasanya suka ngebut di jalur ini, sehingga dengan senggolan itu bisa menjadi alasan untuk ribut, membalas sakit hati.

Sikap-sikap ini sempat membuat Sosiolog Kalbar, Prof Ibrahim Al-Qadrie runsing. Prof Syarif dalam tulisannya di Equator sempat mengingatkan bahwa masalah sebenarnya bukan karena orang Tionghoa, tetapi karena orang Melayu sendiri. Salah orang Melayu yang tidak bersatu. Namun suara sang profesor yang cukup keras itu tidak cukup didengar.

Sejauh ini orang Tionghoa tidak terpancing provokasi-provokasi itu. Mereka tidak melayani dengan kekerasan. Orang Tionghoa mengalah.

Masa Depan

Selama kepemimpinannya sebagai Gubernur Kalbar, Usman Ja’far (UJ) mengakui hubungan antar etnik di Kalbar sangat baik. Namun, pasca kejadian Gang 17, UJ mengakui bahwa masih ada persoalan. Masih ada masalah dalam hubungan antar etnik di Kalbar ini. Bahkan hubungan diramalkan akan semakin kritis.

Saya terpengaruh hipotesis Prof. Syarif Ibrahim Al-Kadrie tentang siklus 20 tahun kerusuhan di Kalbar. Jika ikut hipotesis itu, tahun 2011-an akan terjadi keributan. Menurut saya keributan yang terjadi berikutnya adalah antara Melayu dan Cina. [Baca tulisan berikutnya mengenai hal ini].

Pertama, Saya berpendapat hubungan antar Tionghoa dengan kelompok lain saat ini bukan saja bermasalah, tetapi keadaannya sangat kritis. Saya mengumpamakan seperti kata pepatah: “Ibarat retak menunggu belah”. Itulah yang terjadi sekarang ini. Orang Melayu tertentu terus menekan dan tidak memberi ruang. Sekarang ini mereka menjual tantangan, menunggu orang Tionghoa mau membelinya. Ketika orang Tionghoa melawan, itulah yang ditunggu. Ketika itulah puncak perseteruan akan terjadi. Jadi soalnya sekarang sampai kapan orang Tionghoa bisa bersabar ketika berada di bawah tekanan?
Kedua, orang Melayu tertentu memang sudah hendak menyerang secara orang Tionghoa. Ada beberapa kesempatan mereka manfaatkan. Namun kerusuhan ‘tidak menjadi’ karena orang Melayu itu masih berhitung-hitung. Bukan mereka menghitung kekuatan orang Tionghoa. Tetapi mereka menghitung orang Dayak yang sekarang berada di belakang orang Tionghoa. Hubungan antara orang Tionghoa dengan orang Dayak masih sangat mesra pasca kemenangan Pilkada Kalbar. Ada banyak contoh ketika orang Melayu ribut-ribut terhadap orang Tionghoa, orang Dayak memberikan sinyal: ketidaksukaan mereka terhadap aksi ini.

Menurut saya hitungan itu akan berubah ketika hubungan Tionghoa – Dayak tidak mesra lagi nanti. Pasti kemesraan yang diperlihatkan sekarang tidak akan permanen. Suatu ketika hubungan itu akan bermasalah. Tandanya sudah nampak. Rabu (20/2) orang dari Gereja Stella Maris, Siantan merusak bengkel Union Teknik di samping gereja. Mereka rebutan tanah. Di balik perseteruan ini ada yang melihat pemilik bengkel yang dirusak itu sebagai orang Tionghoa.

Hubungan mesra Cornelis dan Christiandy juga mungkin tidak bisa bertahan selamanya. Mungkin ada kebijakan atau keinginan keduanya yang berbenturan kelak. Nah, ketika itu terjadi, mungkin orang Melayu yang selama ini agak ‘gerun’ terhadap kekuatan orang Dayak di belakang Tionghoa, akan melakukan gerakan.

Ketiga, segregasi yang amat nyata di Kalbar akan memudahkan orang Melayu –dan mungkin komunitas lain, menjadikan orang Tionghoa sebagai ‘musuh bersama’. Tionghoa menganut agama Khonghucu, tampilan fisikal yang berbeda, berbahasa berbeda, menguasai sektor ekonomi, akan menjadikan banyak alasan untuk menyebut mereka sebagai musuh.

Memang ada optimisme bahwa kerusuhan tidak akan mudah terjadi. Misalnya ada pandangan bahwa tidak semua Melayu membenci orang Tionghoa. Ada pandangan bahwa yang sekarang ribut adalah “kelompok pinggiran”, dll. Namun, dalam banyak contoh selalu persoalan besar bermula dari kelompok kecil, dari para individu. Dari kelompok pasar. Selain itu dalam banyak contoh untuk kasus perlawanan kelompok, ada strategi silang diterapkan. Misalnya dalam kasus Dayak melawan Tionghoa di tahun 1960-an, orang dari Kampung A menyerang orang di Kampung C, dan orang dari Kampung C menyerang orang dari kampung A. Orang di kampung B menyerang orang dari Kampung D, dan seterusnya. Sehingga setiap perlawanan yang dilakukan tidak terjadi pada orang yang saling kenal.

Jadi sekarang intinya adalah bagaimana pemerintah, para elit kelompok, dan seluruh masyarakat Kalbar berupaya menyelesaikan persoalan ini seraya membangun komunikasi.
Menurut saya, terbitnya Walikota Pontianak No 127 merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah ini –atau setidaknya meredakan masalah. Namun, sekarang agaknya cara itu justru menjadi bumerang. Banyak orang mengomentari kebijakan itu, sementara mereka tidak tahu isi keputusan itu dan apa latar belakang terbitnya kebijakan itu. Pemerintah seperti cerita orang tua dan anaknya yang naik onta. Dinaikkan sendiri salah, dinaikkan berdua juga salah, tidak dinaiki juga salah. Tidak ada yang benar.

Sikap yang seperti ini jelas membuat kita cemas.

Baca Selengkapnya...

Jumat, 22 Februari 2008

Identitas Tionghoa di Kalbar

Oleh: Yusriadi

Sejumlah tulisan menempatkan Tionghoa sebagai etnik utama di Kalbar. Bahkan dalam dalam bidang ekonomi mereka dianggap sebagai kelompok paling utama dan berkuasa. Tapi bagaimana identitas mereka? Berikut catatannya.




Pendahuluan

Diskursus tentang identitas etnis melibatkan banyak hal. Pertanyaan-pertanyaan memang tidak sesederhana menyoal apa identitas satu kelompok, tetapi juga persoalan menyangkut bagaimana identitas itu dibentuk, digunakan dan dipertahankan, atau sebaliknya ditolak dan dibuang. Oleh sebab begitu kompleksnya persoalan identitas ini, maka diskusi mengenai hal ini tidak pernah berakhir dan kebenarannya selalu relatif.

Apalagi bila dikaitkan dengan kenyataan bahwa penggunaan identitas ini melibatkan ‘selera’ dan pertimbangan pragmatisme. Seperti yang dianut oleh banyak peneliti, identitas sifatnya fluid, cair dan terus berubah. (Lihat Mesthrie, R & A Tabouret-Keller. 2001. Identity and language. Dlm. Mesthrie, R. Concise encyclopedia of sociolinguistics. hlm. 165-168. Amsterdam: Elsevier; Shamsul Amri Baharuddin. 2001. Identiti dan etnisiti: Tinjauan teoritis. Dlm Yusriadi & Haitami Salim (pnyt.). Proseding Koloqium Dayak Islam di Kalimantan Barat. hlm. 11-30. Pontianak: STAIN Pontianak- FUI-MABM; Abdul Rahman Embong. 1999. Identiti dan pembentukan identiti. Akademika 55: i-xii; Yusriadi. 2005. Bahasa dan Identiti di Riam Panjang, Kalimantan, Indonesia).

Tulisan ini juga tidak lepas dari konseptualisasi seperti ini. Justru tinjauan yang ringkas ini berusaha menggambarkan bagaimana identitas Tionghoa dipilih, dan bagaimana dibentuk. Tentu harus diakui, tulisan ini terlalu dangkal untuk melihat dinamika identitas orang Tionghoa di Kalbar. Tetapi untuk membuka ruang pengetahuan mengenai Tionghoa di Kalbar tentu apapun analisis, dan setipis apapun data, penulisan ini harus dimulai. Setidaknya secara perlahan, keluhan mengenai minimnya penelitian, tulisan dan publikasi mengenai masyarakat etnik di Kalimantan Barat bisa dijawab.

Identitas Tionghoa: Pembentukan

Istilah Tionghoa1 harus dikaitkan dengan sejarah panjang perantauan orang Cina ke Indonesia. Beberapa tulisan awal menyebutkan istilah ini muncul secara resmi pada tahun 1901 ketika sekelompok orang Cina Indonesia mendirikan organisasi bernama Tiong Hoa Hwee Kwan, dan kemudian pada tahun 1939 muncul Partai Tionghoa Indonesia. Penggunaan nama ini dilatarbelakangi oleh hasrat sejumlah orang Cina yang tidak ingin diidentifikasi sebagai Cina, sebab Cina ketika itu memiliki konotasi negatif. Istilah Cina ini mengingatkan orang pada kelompok yang berkolaborasi dengan penjajah, dagang berkolusi dan culas, judi, dll.

Penggunaan ini memang tidak serta merta menghilangkan ‘identitas Cina’. Sebab, orang luar tetap saja menggunakan sebutan ini, terutama untuk hal-hal yang buruk. Puncaknya, ketika pemerintah mengeluarkan Inpres No 14 tahun 1967, yang isinya melarang semua yang berbau Cina di Indonesia2. Adat-istiadat, kepercayaan tidak boleh ditampakkan lagi. Kemudian, pada tahun yang sama dikeluarkan Surat Edaran No. 06/Preskab/6/67 yang memuat perubahan nama. Edaran itu mengharuskan semua masyarakat keturunan Cina harus mengubah namanya yang berbau Indonesia3.

Keadaan mulai memperlihatkan perubahan yang signifikan setelah Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden Gus Dur mencabut segala macam pembatasan itu. Namun walau kemudian dilihat dari perspektif kebebasan orang Tionghoa bebas memperlihatkan ciri etnisitas mereka, namun, stigmatisasi Cina dan Tionghoa tidak lantas berubah. Dari luar, orang di luar Tionghoa tetap memiliki sejumlah stigma atau stereotipe. Misalnya: Cina kaya, Cina banyak duit, Cina gampang, dan lain-lain.
Memang tidak cukup banyak bahan yang tersedia untuk tulisan ini. Pun, juga diakui bahwa saya sendiri tidak pernah melakukan studi khusus mengenai China atau Tionghoa, melainkan seimbas lalu berkaitan dengan tugas-tugas saya sebagai seorang jurnalis. Tetapi, sejauh data yang ada memperlihatkan bahwa istilah Tionghoa digunakan merujuk pada kelompok masyarakat Cina di Indonesia. Di negara lain, istilah ini tidak muncul; atau paling tidak, di tempat lain –katakanlah di Malaysia, sebutan Cina (kadang-kadang Chinese) tetap dipergunakan.

Istilah Tionghoa muncul dari kalangan orang Cina di Kalbar (Indonesia) sendiri, atau dari dalam. Mereka diperkenalkan mengganti istilah Cina yang menurut kalangan tertentu sebagai sesuatu yang negatif. Sehingga mereka menolak disebut sebagai Cina.
Seperti pernah dilaporkan Equator, kalangan orang Tionghoa di Kalbar sangat tidak suka disebut sebagai Cina (Equator 14, 15 Agustus 2003). Bagi mereka istilah Cina negatif mengandung konotasi buruk bagi pencitraan mereka. Istilah Cina bagi mereka merujuk pada paling tidak, dua hal: pada dosa-dosa sejarah pertengahan tahun 196o-an. Seperti diketahui, aktivitas PGRS/Paraku dikaitkan dengan komunis dan komunis dikaitkan dengan Cina. Pada tahun 1967 di Kalbar terjadi gerakan anti Cina yang dikenal dengan peristiwa demostrasi. Ketika itu banyak orang Cina terbunuh, terusir dari kampung halaman dalam keadaan menyedihkan (Davidson, Jamie S & Douglas Kammen. 2002. Indonesia’s unknown war and the lineages of violence in West Kalimantan. Indonesia 73: 53-87).

Peristiwa ini merupakan gerakan massa yang melakukan pengusiran terhadap orang Cina. Gerakan anti Cina pada masa itu masih menyisakan trauma pada mereka sendiri; termasuk anak cucunya44 Saya sempat berkenalan dengan keluarga korban kerusuhan tahun 1967. Dia kami panggil “akong”, kini tinggal di Pontianak; mengungsi dari daerah Mandor ke Kubu. Pada mulanya, di Mandor, menurut Akong dia memiliki rumah, tanah, kebun yang luas serta kolam ikan. Tetapi kerusuhan telah menyebabkan mereka lari dari rumah mereka meninggalkan harta benda. Sejak saat itu kehidupan mereka agak susah, sampai sekarang ini. Harta yang hilang belum tergantikan. Sementara mereka sendiri masih trauma dengan kejadian buruk itu. Lebih jauh mengenai aksi demonstrasi ini lihat Davidson dan Kammen (2002), atau van Hulten (Hulten, Herman Josef van. 1987. Catatan seorang missionaris di tengah suku Daya. Grassindo: Bandung).

Harus diakui bahwa identitas Tionghoa yang dipakai orang Tionghoa dalam banyak contoh masih belum ‘diterima’ kalangan luar secara menyeluruh. Dalam beberapa contoh orang luar masih juga menggunakan istilah Cina untuk menyebut kelompok ini. Bahkan sebenarnya hampir menyeluruh di kalangan bawah, kampung, bukan terpelajar, mereka masih menggunakan istilah Cina ketimbang Tionghoa. Baik untuk hal yang positif maupun negatif. Kesan ini memperlihatkan bagi masyarakat bawah istilah Tionghoa tidak membawa konotasi positif atau negatif, tetapi netral.

Selain itu harus juga diakui, di kalangan menengah terpelajar, tampaknya masih menggunakan dua-dua istilah (Tionghoa dan Cina). Lihat misalnya ungkapan Dosen Untan saat menceritakan pengalamannya di sebuah forum seminar, seperti dikutip dari Equator (15 Agustus 2003):

“Isteri saya juga masih keturunan Cina,” aku Firman Susilo,M.Hum, dosen Untan yang menghadiri pertemuan tersebut. Dan tidak sedikit tokoh di Kalbar baik formal maupun informal menjalani kawin campur dengan harmonisasi turun temurun beberapa generasi.
Pengakuan ini mengingatkan saya pada temuan-temuan lapangan selama penelitian di berbagai daerah di Kalbar. Ada yang mengaku dirinya orang Dayak, kemudian bila disusuri generasinya ternyata salah satu orangtua mereka adalah orang Tionghoa. Ada juga orang Melayu, dan setelah disusuri silsilahnya salah satu dari orangtua mereka adalah orang Tionghoa.

Proses asimilasi ini hasilnya sesuai dengan lingkungannya. Wanita Tionghoa yang kawin dengan lelaki Dayak dan hidup dalam komunitas dan budaya Dayak, akan melahirkan anak-anak Dayak. Sebaliknya, pria Tionghoa yang menikahi perempuan Dayak akan melahirkan anak-anak dalam budaya dan komunitas Tionghoa. Begitu juga wanita Tionghoa yang kawin dengan lelaki Melayu dan hidup dalam komunitas budaya Melayu, akan melahirkan anak-anak Melayu.

Walaupun proses ini telah berlangsung sejak lama dan terus terjadi, namun seperti tidak disadari dalam anggapan umum, masyarakat Cina tetaplah dianggap sebagai masyarakat yang eksklusif, tertutup. Apa sebabnya?

Dr Dede melihat proses ini ada kaitannya dengan dua kebijakan. Pertama kebijakan Belanda. Sewaktu datang di Indonesia, Belanda menghadapi perlawanan yang sengit dari masyarakat Indonesia. Waktu itu kelompok masyarakat Cina bersama dengan masyarakat pribumi melakukan perlawanan.

Belanda kemudian membuat siasat untuk memecah belah kekuatan yang sudah ada. Caranya, memisahkan antara pribumi dan Cina itu dengan berbagai aturan menyangkut hak-hak sosial dan ekonomi. Batas etnik diperjelas. Dan akhirnya, kekuatan ini memang pecah.

Kedua, kebijakan penguasa orde baru. Sekitar tahun 60-an, setelah pemberontakan PKI, Cina dicurigai, dan kemudian dibatasi. Gerakan masyarakat Cina terus dipantau dan dikontrol. Kondisi ini membuat masyarakat pribumi menutup diri terhadap masyarakat Cina.

Hasilnya, karena komunikasi kurang terjalin, pengetahuan tentang budaya masyarakat perantauan ini juga jadi kurung. Akibatnya, pengetahuan awam mengenai orang Tionghoa lebih berlandaskan praduga-praduga (stereotipe).
Pada Equator (14/8/2003) tukar ganti istilah ini juga dapat disimak.

Ketika tampil sebagai pembicara dalam lokakarya Dialek Melayu di ATMA, pekan lalu, Chong Shin buka cerita. “Orang Cina di Kalbar berbeda dengan orang Cina perantauan di tempat lain,” katanya.

Chong kemudian menyinggung sepintas empat perbedaan. Pertama, ketika orang Cina mandi kembang memperingati kematian salah satu Pujangga Besar Cina. “Di Kalbar orang Cina mandi kembang bersama lelaki dan perempuan. Mereka mandi di sungai pakai pelampung dari hulu ke hilir sungai,” katanya.

Kedua, mistik orang lokal juga mempengaruhi orang Tionghoa ini. Kata Chong, kepercayaan kepada angka 13 juga sangat terasa. Orang Cina di Kalbar tidak mau dengan angka 13 yang dianggap angka sial. “Kalau bisa mereka hindari angka 13,” katanya.

Ketiga, masih soal mistik lokal, orang Tionghoa di Kalbar juga sangat percaya dengan kemponan. Chong kemudian mencontohkan seorang Cina yang harus menjamah makanan sebelum pergi biar tidak kemponan. “Saya lihat mereka menjaga betul hal itu. Biar sedikit, dia harus menjamah makanan yang sudah ditawarkan. Katanya mereka takut kemponan,” ujar Chong.

Keempat, yang agak menarik menurut Chong, adalah makanan onde-onde yang di Kalbar disebut ie pada hari besar pang cot bulan 11 Imlek . “Saya lihat onde-ondenya di Kalbar diberi air gula,” katanya. Harap diketahui, makanan itu hampir persis dengan bubur candil pada penduduk setempat.

Tidak hanya itu, Chong yang memang ketika mengikuti program masternya (MA/S2) meneliti penggunaan bahasa Cina di sebuah kota di Selangor, Malaysia ini, mengatakan kalau orang Tionghoa di Kalbar juga pandai bahasa lokal.

Berbeda dengan temuan Dr. Dede Oetomo, Chong yang sudah berkenalan dengan bahasa Cina di Sekadau (Sanggau) menyebutkan kalau bahasa di sana agak berbeda dengan bahasa di Singkawang. “Bahasa khek di Sekadau mirip dengan bahasa orang Cina di Sungai Cua, yang terletak di antara Kajang-Kuala Lumpur. Saya pun mulanya susah mengerti,” aku Chong.

Informasi Chong ditanggapi Firman Susilo, M.Hum. “Orang-orang Tionghoa di Kalbar memang unik. Saya punya pengalaman juga,” komentarnya ketika diminta memberikan tanggapan.

Dikatakan Firman, orang Cina di Kalbar lebih suka disebut sebagai Tionghoa, daripada disebut sebagai orang Cina. Ini mencerminkan semangat asimilasi mereka dengan budaya masyarakat Kalbar. “Banyak juga mereka yang kawin dengan penduduk lokal,” terangnya.

Firman kemudian menceritakan pengalamannya selama ini kontak dengan orang-orang Tionghoa di Pontianak. Bahkan, kalau orang Tionghoa Kalbar berkunjung wisata ke daratan Cina, mereka disebut Fan nyin alias Indonesia.

Sementara itu, Dede yang sudah satu kali ke Pontianak membenarkannya. Katanya, dalam banyak fakta orang Tionghoa memang berasimilasi dengan pribumi. Ketika kedatangan gelombang pertama, perkawinan antara pribumi dengan orang Cina banyak terjadi.
Ada juga sementara pihak yang mempertahankan sebutan Cina dengan maksud sinis terhadap kelompok Tionghoa ini. Meski tahu bahwa sebutan Cina tidak disukai orang Tionghoa, sebutan itulah yang mereka pilih. Alasannya, sekali Cina tetap Cina, dan karena itu mengapa harus diganti sebutannya. Alasan sejarah berkaitan dengan terbitnya Surat Tanda Penerimaan (STP) sekitar tahun 1960, bahwa sebenarnya banyak orang Cina di sini yang membanggakan kecinaannya dia dibandingkan sebagai bangsa Indonesia5.

Pemertahanan Identitas

Ada beberapa upaya yang dapat dilihat sebagai bentuk pemertahanan identitas mereka sebagai orang Tionghoa di Kalbar, bahkan dalam konteks Indonesia secara luas. Beberapa waktu lalu pernah dibentuk sebuah organisasi yang diberi nama Indonesia Tionghoa (INTI). Organisasi ini merupakan sebuah wadah yang dipakai oleh kalangan Tionghoa untuk melegitimasi diri sebagai kelompok tersendiri yang disebut sebagai Tionghoa.

Selain itu kalangan Tionghoa yang sudah memeluk agama Islam membentuk satu perkumpulan yang diberi nama Perkumpulan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). PITI, walaupun kehadirannya mengundang beberapa pertanyaan, namun, tetap saja menyajikan gambaran menarik mengenai upaya mereka untuk mempertahankan identitas sebagai orang Cina. Secara tersirat, organisasi ini memperlihatkan bahwa sekalipun sudah Islam namun mereka tetap Tionghoa6.

Pembentukan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) juga dapat dilihat dari konteks ini. Keinginan tokoh-tokoh Tionghoa untuk melestarikan adat dan budaya Tionghoa –termasuk kekhawatiran mengenai kehilangan adat budaya, merupakan refleksi dari keinginan mereka untuk mempertahankan identitas mereka sebagai orang Tionghoa. Keinginan ini tentu saja jauh lebih utama dibandingkan respon mereka terhadap pembentukan organisasi adat di kalangan orang Dayak dan Melayu77 Reaksi yang diperlihatkan kalangan Tionghoa terhadap tulisan Equator “MABT Hendak Dibawa Kemana?” (Equator 4 Juli 2005) memperlihatkan kepada publik bahwa tokoh-tokoh Tionghoa memang tidak memiliki pretensi politik dalam mendirikan MABT. Mereka, murni akan melakukan pendekatan budaya, menyelamatkan budaya yang hampir punah. Equator (5/7/2005):

Bersama Membangun Kalbar
MABT Bukan Organisasi Politik Praktis

Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) bukanlah organisasi politik praktis, tujuan utamanya bersama-sama mencari gagasan membangun Kalbar tentunya untuk kepentingan seluruh masyarakat Kalimantan Barat.
Hal itu diungkapkan Anggota MABT, Setiawan Lim SH dikonfirmasi Equator, Senin (4/7) malam kemarin via telepon seluluer.
“Dibentuknya MABT ini bukan bertujuan ingin ada pemisahan, namun menegaskan masyarakat Tionghoa merupakan bagian dari masyarakat Kalimantan Barat tanpa adanya perbedaan,” jelasnya.
Tujuan utamanya tambah Setiawan Lim tentunya untuk bersama-sama dengan masyarakat Kalimantan Barat membangun Kalbar.
“Tidak ada konotasi persaingan atau sejenisnya karena dengan dibentuknya ini bagaimana ada persamaan persepsi yang jelas,” terangnya.
Hal ini katanya juga didukung dengan keadaan masyarakat Tionghoa yang tak hanya berprofesi sebagai pedagang saja.
Saat ini sudah banyak cendikiawan-cendikiawan Kalbar yang berasal dari ethnis Tionghoa dari segala disiplin ilmu, sehingga kumpulan tersebut tentunya bisa membawa satu konsep bagaimana membangun Kalimantan Barta ke arah yang jauh lebih baik.
“Tentunya hasil pemikiran tersebut digabung dengan pemikiran seluruh masyarakat kalbar yang diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran dalam pengambilan suatu kebijakan oleh pengambil kebijakan,’ jelasnya.
Selain melalui organisasi formal seperti yang disebutkan di atas, pemertahanan identitas Tionghoa juga dapat dilihat dari kegiatan budaya: misalnya pertunjukan seni budaya Tionghoa pada setiap momentum tertentu. Sebut misalnya perarakan naga dan barongsai pada musim Imlek dan Cap Go Me, pelaksanaan sembahyang kubur, dll.
Kesetiaan orang Tionghoa pada bahasa ibu merupakan bentuk lain dari upaya mereka untuk mempertahankan identitas sebagai orang Tionghoa (bahkan mungkin lebih spesifik sebagai orang Khek, Tiocu, dll). Orang-orang tua tetap mengajarkan anak mereka dalam bahasa ibunda, penggunaan bahasa ibunda saat berkomunikasi pada sesama dalam pelbagai ranah dan domain, mencerminkan keinginan mereka memelihara salah satu ciri ketionghoaan.


Pengajaran bahasa Mandarin di Kalbar bagaimanapun dapat dilihat dalam konteks ini. Kalangan orang Tionghoa berusaha membuka kelas bahasa Mandarin. Pada mulanya ketika tekanan dari pemerintah Orda Baru sangat kuat, mereka membuka kelas secara diam-diam. Kemudian ketika era Reformasi, pembukaan kelas dilakukan secara leluasa dan kelas Mandarin menjamur di mana-mana. Minat mendalami bahasa Mandarin dan graf Cina menjamur, sekalipun harus diakui bahwa kedudukan bahasa Mandarin ini sebenarnya hanyalah sebagai bahasa kedua (secondry language).

Sejauh ini memang belum ada sekolah formal berasaskan Tionghoa. Yang tampak memang ada kecenderungan orang Tionghoa memasukkan anaknya ke sekolah tertentu –terutama sekolah Katolik atau Protestan, sehingga sekolah-sekolah tersebut kadang dianggap sekolah Tionghoa. Karena kecenderungan ini, di sekolah tertentu, bahasa Mandarin diajarkan untuk murid-murid di sana.

Pemanfaatan media juga memperkuat upaya pemertahanan identitas Tionghoa di Kalbar juga begitu ketara –sekalipun mungkin upaya itu belum dilakukan secara sistematis. Sejauh ini, upaya yang ada sifatnya masih ‘kerinduan’ individu terhadap budaya sendiri dan beberapa pertimbangan lain8. Sebut misalnya terbitnya koran bergraf Cina, Kun Dian Ri Bo, ketersediaan space untuk Tionghoa di Harian Equator, kekerapan penggunaan bahasa Cina di sejumlah radio swasta dan TVRI Kalbar, khususnya dalam rubrik karaoke.

Faktor lain yang cukup penting dalam proses pemertahanan identitas Tionghoa di Kalbar adalah karena adanya sikap masyarakat Kalbar sendiri yang memang cenderung sukuis –primordialis. Banyak hal dalam kehidupan sosial mereka dilihat dari perspektif etnik. Seperti diketahui kecenderungan primordialisme Dayak atau Melayu muncul dalam berbagai ranah dan level. Ini kiranya yang mendorong orang Tionghoa juga mau tidak mau harus memperkuat identitas mereka. Ketika orang Melayu atau Dayak, atau etnik lain menyebut mereka sebagai Tionghoa atau Cina, maka ketika itu mereka mencari-cari: apa yang membuat mereka Tionghoa atau tetap dianggap Tionghoa, dan cap itu akan melegitimasi identitas mereka perlahan tapi pasti. Sesungguhnya yang terjadi itu sebenarnya tidak hanya pada kelompok etnik ini, karena kelompok lain juga muncul. Sebut misalnya bagaimana identitas Dayak dilabelkan oleh orang luar, yang kemudian terpaksa harus mereka terima. Dan, pada hari ini justru identitas itu mereka terima dengan kebanggaan.

Pada akhirnya, seperti yang terjadi pada orang Dayak, ada banyak orang Tionghoa yang mulai merasa mereka atau anak-anak mereka kurang Cina atau kurang Tionghoa. Kerinduan ini sering diungkapkan dalam percakapan. Kerinduan ini membuat mereka prihatin dan karena itu mereka memilih melakukan pelbagai pendekatan agar kepunahan (kelunturan) tidak berterusan, agar kekhawatiran tidak jadi kenyataan.

Penentu Perubahan: Sebuah Diskusi

Seperti yang disebutkan di awal, identitas bukanlah sesuatu yang kaku. Perubahan identitas merupakan bagian dari hukum alam yang juga mesti dialami semua kalangan, termasuk kalangan Tionghoa. Pelbagai upaya mempertahankan identitas di satu sisi seperti yang disebutkan di atas, tetapi di sisi lain tuntutan perubahan merupakan salah satu bentuk tekanan yang akan mendorong terjadinya perubahan itu. Soalnya hanya pada: apakah perubahan itu terjadi drastic, atau perlahan-lahan mencari bentuk yang sesuai.

Kita melihat ada tekanan politik. Sekalipun dalam beberapa hal sekarang ini dianggap sudah mereda namun dalam bentuk lain tetap akan muncul. Jika sebelumnya tekanan dilakukan pemerintah dengan mengedepankan pelbagai isu (misalnya komunis, dll), ke depan tekanan yang mendorong perubahan identitas muncul dari dalam diri orang Tionghoa.

Sekarang orang Tionghoa sedang bangkit dan berusaha mengejar ketertinggalan dibandingkan Melayu dan Dayak dalam ranah politik. Kemungkinan, karena dukungan yang padu (?) dan dana yang mencukupi orang Tionghoa akan dapat sejajar dengan Melayu-Dayak. Kesejajaran ini sudah pun diakui oleh Sekretaris MABM Dr. Chairil Effendy dengan mengumpamakan Melayu-Dayak-Tionghoa sebagai sebuah tungku yang sama-sama menyangga Kalbar. Dalam pelbagai event budaya, kehadiran budaya Tionghoa kerap kali melengkapi atraksi budaya Melayu dan Dayak Karena itu tidak berlebihan jika ada yang memprediksikan bahwa suatu ketika orang Tionghoa akan mampu melampaui kedua etnik itu dalam percaturan politik, seperti yang terjadi di Singapura, karena berbagai alasan.

Tetapi, ada juga kemungkinan lain, justru kebangkitan identitas Tionghoa akan berhenti dan kemudian surut. Asumsi berangkat dari kemungkinan kebangkitan identitas Tionghoa akan menjadi tumbal bagi kelompok Melayu atau Dayak. Memang sekarang Melayu – Dayak, sedang menguasai puncak politik di tempat tertentu. Ironinya, pencapaian pembangunan yang diperoleh secara kolektif tidak cukup membanggakan. Sehingga di sana sini muncul ketidakpuasan dari dalam. Lantas karena para elit tidak ingin disalahkan, mereka menyublimasi kekecewaan massa arus bawah dengan mencari sasaran bersama. Dalam dalam situasi seperti itu, Tionghoa sangat mungkin dipilih. Kesenjangan sosial, jarak budaya, sejarah, dll pun sangat mendukung pilihan menjadi Tionghoa sebagai sasaran bersama9.

Ini hanya prediksi. Namun hal yang buruk juga bisa dihindari jika saja kalangan elit Tionghoa berusaha mencari cara agar jarak-jarak sejarah, budaya dan kesenjangan ekonomi dijembatani dengan cara tertentu. Jembatan ini akan membuat suku lain tidak akan menempatkan Tionghoa sebagai sasaran karena tidak cukup variable pendukung untuk menempatkan orang Tionghoa pada tempat tersendiri. Tidak cukup alasan untuk membuat klasifikasi yang ekstrem antara identitas Tionghoa dan bukan Tionghoa.
Apa yang dikatakan Coser (bahwa konflik bisa dihindari dengan cara membuat Fenomena seperti ini pernah terjadi pada Cina di Jawa dan Kelantan, Malaysia (Lihat Teo, Kok Seong. 2003. The peranakan Chinese of Kelantan. London: Asean Academic Press). Lalu, secara khusus Dede Oetomo (1987. The Chinese of Pasuruan : Their language and identity. Pacific Linguistics D63: 1-12) memperlihatkan bagaimana identitas Tionghoa di Jawa yang menjadi ‘Sangat Jawa”, ketika mereka merasa bangga bisa berbahasa Jawa, dibandingkan kemampuan mereka berbahasa Cina. Laporan lain juga memperlihatkan bagaimana orang-orang Tionghoa di Surakarta membanggakan diri dengan nama Indonesia, yang mereka pilih. Sebab umumnya, nama-nama yang mereka gunakan adalah nama-nama kelas bangsawan, bukan nama orang biasa.

Pada situasi seperti ini, apa yang dapat dikatakan adalah bahwa mereka tidak bangga sebagai Tionghoa karena kesadaran bahwa menjadi Tionghoa justru berhadapan dengan hambatan-hambatan sosial, psikologis, dan lain-lain. Jadi, tidak menjadi Tionghoa (murni –jika ada istilah demikian) tidak membuat mereka merasa kurang.

Penutup

Jika dilihat dari konteks identitas, jelas bahwa identitas Tionghoa yang muncul sekarang dan dipertahankan, dipengaruhi dua faktor: faktor eksternal (orang luar) dan faktor internal (orang dalam). Contoh yang ada memperlihatkan kadang kala penggunaannya selaras, kadang kala juga bertentangan. Kadang-kadang sesuai dengan keinginan pemilik identitas itu, kadang juga tidak. Kadang-kadang digunakan untuk kepentingan positif, kadang juga negatif. Ada kalanya juga netral, tanpa konotasi itu.

Menarik kiranya, melihat ungkapan bijak yang disampaikan Rinto Jiang (2005 China (Zhi1 Na4) : Penghinaan atau Bukan? — http://www.budaya-tionghoa.org/share/katachina.htm.): “Sebenarnya, menurut saya sendiri, kata apapun bila diucapkan dengan niat menghina maka kata itu akan mengandung nilai sentimentil penghinaan. Tidak usaha mencari kata2 yang memang mengandung makna tertentu yang menghina. Sama saja seperti kata Cina yang sengaja dimaklumatkan untuk menggantikan kata Tionghoa pada tahun 1966 di Indonesia. Masalahnya adalah niat daripadanya. .... Orang Cina di Malaysia dan Singapura juga menyebut diri mereka sebagai orang Cina. Bila saya bertemu dengan TKW Indonesia sering ditanya “anda orang Cina yah?”. Bagi saya mereka tidak berniat yang bukan2 dalam pertanyaan tersebut, maka juga tidak perlu ada prasangka yang bukan2...”.

Endnotes
1 Selain istilah ini, ada juga istilah yang sepadan dengan Tionghoa, yaitu Tionghua. Seorang aktivis yang giat memperjuangkan keberadaan budaya Tionghoa di Kalbar mengatakan di antara dua istilah ini mereka lebih cenderung dengan istilah Tionghua. Di sini, istilah Tionghoa digunakan karena istilah inilah yang biasa dipakai di Equator.
2 PP No 10 tahun 1959 tentang kewarganegaraan Cina mungkin juga harus disebutkan punya pengaruh dalam persoalan identitas dan pengunaan simbol ini.
3 Sebuah penelitian pernah dilakukan terhadap pilihan nama orang Cina di Jawa, menemukan bahwa perubahan ini disikapi orang Cina dengan memilih nama-nama yang berbau nama bangsawan Jawa. Misalnya: Hadinata, Suryajaya, dll.
5 Sekitar tahun 1960-an pemerintah menawarkan pilihan warga negara bagi orang Cina di Indonesia. Sebagian besar memilih kembali ke negaranya, dan kepada mereka diberikan STP itu. Kapal di Tiongkok sempat dipersiapkan untuk mengangkut mereka ini. Tetapi kapal yang ditunggu tidak pernah sampai. Dalam sejarah mereka yang mendapatkan STP dikelompokkan sebagai kelompok stateless yaitu orang yang tidak punya warga negara. Di Kalbar, khususnya di Singkawang, jumlah kelompok ini mencapai 70 per sen, dibandingkan dengan orang Cina yang punya status sebagai warga negara Indonesia (Hari Poerwanto, 2004). Jadi, seperti diungkapkan salah satu saksi sejarah yang merespons tulisan ini, Tedy Topany, seharusnya sejarah ini terus diingat, tidak dilupakan ketika melihat kelompok Tionghoa. Toh (Minggu satu/sepuluh/2006), mereka sendiri memperlihatkan sikap mendua (Dalam soal ini sebenarnya Hari Poerwanto menjelaskan setidaknya ada tipikal orang Cina yang loyal terhadap Indonesia, terhadap Cina). Isu mengenai tokoh Tionghoa Kalbar yang mengibarkan bendera Cina ketika kunjungan ke Cina merupakan salah satu isu penting berkaitan dengan sikap ini. Sikap ini dianggap sebagai sikap yang tidak nasionalis.
6 Kehadiran PITI menjadi sangat menarik jika dikaitkan dengan dinamika perubahan identitas etnik di Kalbar. Secara umum orang yang masuk Islam disebut sebagai masuk Melayu. Jadi, Dayak yang memeluk Islam disebut Melayu. Bahkan dalam Yusriadi (2005) disebutkan orang Tionghoa yang masuk Islam disebut juga sebagai Melayu; ada juga orang Tionghoa yang menjadi Dayak (Yusriadi 2005). Tetapi, Hermansyah (2005) juga melihat ada istilah “masuk Cina” untuk orang Melayu yang menikah dengan orang Cina dan kemudian hidup dalam lingkungan keluarga Cina. Dibentuknya MABT ini sama sekali bukan bertujuan ke arah politik dan organisasi ini bukanlah organisasi politik praktis. “Tujuan utama kita dalah sebagai organisasi masyarakat dan tidak ada bertujuan untuk politik praktis bahkan kita akan menjadikan ini sebagai ormas,” jelasnya. Memang diakui atau tidak setiap organisasi yang muncul seringkali membawa dampak ke arah sana namun tujuan utamanya bergerak dibidang sosial kemasyarakatan.“Budaya itukan cakupannya luas termasuk bagaimana kegigihan dan motivasi bersama seluruh masyarakat membangun Kalbar dan itu arah dan tujuan kita,” tambahnya. (luh)
8 Pada seminar sastra dan pembentukan identitas yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Kalimantan Barat beberapa waktu lalu, tampil tokoh masyarakat Tionghoa XF Asali. Asali –seperti juga pembicara yang lain yang mewakili Dayak dan Cina, mengungkapkan kegalauannya: ciri budaya yang luhur mulai hilang.
9 Perkembangan terbaru di Singkawang sangat menarik. Menjelang Pemilihan Walikota, tidak ada orang Tionghoa (murni) yang digadang-gadang menjadi Walikota, sekalipun dari segi jumlah mereka sangat signifikan. Justru yang muncul calon dari kelompok Melayu atau Dayak. Kalaupun ada orang Tionghoa yang muncul mereka sudah dianggap tidak murni Tionghoa, antara lain karena mereka Tionghoa muslim. Sikap orang Tionghoa yang menarik diri dalam pertarungan ini bisa jadi merupakan pilihan karena tidak ingin membuka front dengan kelompok etnik lain.

Baca Selengkapnya...