Pasar Basah Serian. Di pasar ini dijual berbagai barang keperluan dapur. Ada jenis sayur impor dan juga jenis sayur lokal. Misalnya, terung asam, jahe, ada sawi Dayak, bunga simpur.
Selasa, 04 Maret 2008
Pasar Serian
Diposting oleh Yusriadi di 08.34 0 komentar
Label: FOTO
Catatan Perjalanan ke Brunei 2: Tiba di Miri
Di pasar Serian kami melihat-lihat barang yang dijual pedagang di pasar basah. Ada banyak sayur yang aneh-aneh. Mulai jenis sayur impor, hingga sayur kampung. Saya tertarik dengan asam menggo (tetapi penjualnya tidak mau dikatakan mangga). Rasanya gurih, manis. Saya juga tertarik pada sawi Dayak – di Kapuas Hulu dikenal dengan “nsabi”. Ada juga bunga “simpur” yang biasanya untuk campuran kalau masak ikan. Baunya wangi seperti daun kelsum.
Di pasar ini ada juga dijual ambinan yang dianyam dari tali plastik. Uniknya sambil menunggu pembeli, penjualnya menganyam ambinan itu. Kami berhenti di depan seorang perempuan paroh baya yang sedang menganyam ambinan. Dia melayani pertanyaan kami dengan ramah. Katanya, tradisi menganyam itu diperolehnya dari orang tua. Dia orang Bidayuh.
Tetapi meski tertarik, saya tidak bisa membeli jenis-jenis sayur dan barang yang dijual itu. Kami belum pulang. Kami masih akan berjalan jauh ke negeri Brunei.
***
Pukul 16.00 lewat. Bus jurusan Kuching – Miri berhenti di depan counter tiket Tebakakng di Serian. Kami naik. Penumpang cukup ramai. Tetapi rupanya tiket kami ada masalah. Tetapi, tidak lama, beres. Ibrahim cukup sigap dalam soal urus mengurus. Dia selalu dapat diandalkan.
Hampir pukul 17.00 bus bergerak meninggalkan kota Serian. Belum jauh perjalanan kami melewati pemeriksaan polis. Satu per satu identitas penumpang diperiksa. Bahkan digeladah. Tas diperiksa. Karena penumpang ramai, pemeriksaan memakan waktu cukup lama. Aduhai!
Setelah pemeriksaan selesai, kami melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 20.00 bus berhenti di sebuah kampung sekitar Sri Aman. Ada dua bus sedang parkir. Ada toko, ada tempat makan dan ada WC. Tetapi, WC yang ada .. minta ampun. Bau pesing. Tahi menutupi lobang closed. Tidak disiram. Tidak ada air. Sejorok-joroknya WC rumah makan di Indonesia, WC di tempat ini dua kali lebih jorok. Saya hampir muntah. Teman saya tidak jadi buang air.
“Yus, katamu WC di Malaysia bersih-bersih,” teman saya protes.
“Iya, yang seperti ini ... baru kali ini saya lihat,” kata saya membela diri. Memang begitu.
Memalukan.
Satu jam kemudian bus melanjutkan perjalanan. Kami melewati simpang jalan ke Betong, ibukota Sri Aman. Saya melihat simpang ke arah Spaoh, tempat penelitian S-3 saya tahun 2003 lalu. Saya pernah ke Spaoh lagi pada tahun 2007.
Setelah itu, saya memilih tidur. Meskipun sangat dingin sebab lubang AC yang berada di atas kepala tidak bisa ditutup, namun saya tidur cukup lelap. Saya lihat teman lain juga begitu. Kecuali, Bang Kris (Kristianus Atok) yang terjaga.
“Saya ingin menikmati setiap perjalanan ke tempat yang baru. Rugi kalau tidur,” katanya. Ya, saya maklum dia itu penjelajah.
Jalan di Sarawak yang cukup bagus juga berpengaruh. Tidak ada lubang. Bandingkan kalau naik bus ke Putussibau. Goncangan sangat kuat menyebabkan penumpang tidak bisa tidur nyenyak. Apalagi penumpang yang dapat kursi bagian belakang. Bahkan saya pernah ada pengalaman, kepala terantuk dek bus, atau terbentur sandaran kursi di depan ketika bus menabrak lubang atau ketika bis rem mendadak. Benjol.
Saya sempat terbangun ketika melewati Bintulu. Ada pemeriksaan barang oleh petugas Bea Cukai (Customs). Bah, lagi-lagi razia. Saya bayangkan sungguh repot. Apa yang mereka cari sebenarnya? Tempat ini ‘kan di tengah Sarawak. Mengapa pemeriksaan Bea Cukai tidak cukup di batas negara saja? Memang saya terlalu awam soal Malaysia.
Diposting oleh Yusriadi di 08.31 0 komentar
Label: Brunei, Perjalanan
Senin, 03 Maret 2008
Orang Madura di Pontianak
.jpg)
Orang Madura tersebar di beberapa wilayah di kota Pontianak. Mereka bekerja sebagai buruh, sopir angkot, penarik becak, dll. Ciri fisik mereka cukup menonjol, seperti juga ciri bahasa mereka yang mudah dikenali. FOTO Yusriadi
Diposting oleh Yusriadi di 07.32 19 komentar
Label: FOTO
Seandainya Gubernur Kalbar itu Orang Madura atau Cina
[tulisan ini pernah diterbitkan di Borneo Tribune, Juni 2007, lalu].
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Seandainya gubernur Kalbar mendatang orang Madura atau Cina. Itulah pikiran yang terlintas di benak saya saat mengikuti diskusi bersama peneliti dari Universitas Indonesia, Iqbal Djayadi di Redaksi Borneo Tribune Minggu (3/6) kemarin.
Pikiran ini melintas begitu saja karena sepanjang diskusi wacana mengenai gubernur Kalbar ke depan Melayu atau Madura sangat mengemuka. Munculnya nama Buchary, dan lainnya, bagi banyak orang dianggap sebagai representasi orang Melayu –sekalipun mereka tidak secara eksplisit menyatakan hal tersebut. Sedangkan mencuatnya nama Cornelis dianggap sebagai representasi Dayak. Sementara Akil Mochtar dan Usman Ja’far dapat merupakan representasi Dayak yang Islam dan Melayu. Ketika mereka dianggap Melayu, wakil yang mendampingi mereka –seperti AR Mecer atau LH Kadir dianggap representasi orang Dayak. Pasangan ini dianggap sebagai kombinasi Melayu-Dayak (mungkin juga Dayak - Dayak), sebagai bentuk kompromi yang merefleksi sharing power pribumi pulau ini.
Sejauh ini belum pernah muncul wacana mengenai calon gubernur orang lain di luar dua komunitas itu. Tidak ada nama orang Cina (Tionghoa) dalam wacana sekarang ini. Tidak ada nama orang Madura. Kalaupun nama Cina mau disebut, ada nama Christiandy Sanjaya yang akan mendampingi Cornelis –jika maju kelak. Tetapi, keberadaan pasangan ini belum pasti. Kepastian baru bisa diketahui setelah ada perahu partai yang akan menjadi tumpangan pasangan ini.
Tidak adanya nama Cina dan Madura dalam wacana pemimpin Kalbar mungkin disebabkan karena tidak ada tokoh politik dari kelompok ini yang benar-benar menonjol dalam perpolitikan daerah. Atau dalam artian belum ada yang ditonjolkan. Kalau bicara orang Madura di Kalbar paling-paling orang mengaitkan dengan nama besar H. Sulaiman. Atau sesekali orang menyebut nama Abdus Syukur SK. Dahulu ada nama H Madhar Hadrawi.
Mungkin juga orang tidak mau menonjolkan tokoh dari kelompok ini karena dianggap mereka belum layak ditonjolkan sebab tidak representatif. Jumlah orang Cina dan orang Madura tidak cukup besar dibandingkan Melayu dan Dayak, dalam skala Kalimantan Barat. Secara kasat mata jumlah kelompok ini hanya besar di kota-kota tertentu, tidak menyebar di seluruh Kalbar.
Oleh sebab itulah sebesar-besarnya tokoh dari kelompok ini tidak akan cukup dianggap besar jika telah masuk dalam kalkulasi politik Kalbar. Karena itulah lantas mereka tidak dianggap ‘layak’ jual untuk mendapatkan suara pemilih di Kalbar –yang rupanya masih dianggap pemilih tradisional yang mudah diikat oleh sentimen etnik. Jika mereka tidak akan dipilih orang banyak, tidak mungkin orang akan menjadikannya sebagai orang yang akan ditinting.
Lantas, kemarin, saya mencoba meminta pendapat beberapa teman mengenai kemungkinan ini. “Bagaimana kalau gubernur Kalbar nanti orang Madura, atau orang Cina?”
Tetapi, teman-teman menganggap pertanyaan ini hanya gurauan.
“Ah mana mungkin, realitas politiknya masih jauh,” begitu kata beberapa di antara teman saya.
“Itu sih ngolok,” kata yang lain.
Ya, karena pandangan ini, saya tidak mengajak mereka mendiskusikan lebih jauh.
***
Pada akhirnya memang saya memahami masalah mereka adalah ketika hari ini mereka melihat tidak ada tokoh Madura yang layak dijagokan. Karena tidak ada maka mereka lantas berpikir tidak mungkin. Yang mungkin adalah tokoh-tokoh yang memang sudah digadang-gadang sekarang ini, yang kebetulan dari kelompok Melayu atau Dayak. Mereka benar-benar berpikir pragmatis.
Saya mengatakan demikian karena menurut saya seseorang menjadi besar karena ada yang membesarkannya. Dan, yang bisa membesarkan orang bukan cuma perahu sosial bernama Dayak atau Melayu.
Organisasi profesi, organisasi sosial-kemasyarakatan, dll bisa membesarkan orang. Media juga bisa membesarkan orang. Media bisa membantu melahirkan tokoh. Selain itu seseorang bisa saja menjadi orang besar jika ada kesempatan. Lihat bagaimana Wakil Bupati Sekadau Abun Adiyanto sebelumnya hampir tidak pernah dibicarakan orang. Yansen Akun Effendy juga sebenarnya tidak cukup besar dan diperhitungkan menjelang pemilihan Bupati Sanggau.
Jika suatu ketika organisasi sosial kemasyarakatan dan media bersama-sama membesarkan seseorang dari kelompok Madura atau Cina, maka saya percaya akan lahir orang besar dari kelompok masyarakat itu. Memang tidak akan satu tahun. Memang tidak akan sekali jadi. Tetapi, 5 tahun, 10 tahun ke depan. Mengapa tidak mungkin?
***
Lebih dari sekadar lahir atau tidak tokoh dari kelompok Madura atau Cina, isu yang penting di balik wacana ini adalah apakah kita semua bersedia dipimpin kelompok etnik lain? Apakah pemimpin dari etnik yang sama lebih penting dibandingkan bobot, dan kapabilitas?
Memang masih ada sekelompok orang yang sukar menerima hakikat ini. Masih ada orang yang menganggap pemimpin dari kalangan sendiri lebih baik dibandingkan pemimpin dari kelompok lain. Bagi mereka pemimpin dari kalangan sendiri akan lebih memperhatikan kepentingan sendiri, akan lebih memberikan kebebasan, dll. Kelebihannya, pemimpin dari kalangan sendiri lebih memahami kelompok masyarakat yang dipimpin.
Sebaliknya, menurut pandangan ini, pemimpin dari kelompok lain akan berbahaya bagi kelompok sendiri. Misalnya berkembang pandangan, jika pemimpin orang Dayak, orang Melayu susah, sebaliknya jika pemimpin orang Melayu, orang Dayak susah.
Tetapi, sekarang sudah banyak orang bisa berpikir lain. Termasuk mereka yang semula berasal dari dari kelompok yang mulanya memandang etnik sama lebih penting dibandingkan pilihan lain.
Perubahan ini terjadi karena pertama, mereka sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya dipimpin oleh orang dari kelompok sendiri. Mau bertemu saja susah. Justru, banyak contoh memperlihatkan pemimpin mereka dari etnik yang sama ternyata lebih kooperatif terhadap kelompok lain dibandingkan mereka. Pemimpin dari etnik yang sama rupanya tidak cukup punya perhatian, seperti yang diharapkan. Justru pemimpin dari etnik yang sama memberatkan mereka karena lebih banyak menuntut loyalitas dibandingkan memberi perhatian. Seorang pemimpin tidak mungkin dapat memberikan perhatian kepada semua.
Ini seperti analogi kehidupan di sebuah tangga. Selalunya orang tua lebih memperhatikan sang tamu dibandingkan anaknya sendiri. Tamu yang datang bermalam justru dilayan-layan, diberikan kasur yang orang tua pakai, sedangkan anak sendiri tidak pernah merasakan hal itu. Orang datang dipotongkan ayam.
Oleh sebab itulah banyak yang mencoba berpikir lain. Bahwa sebaliknya justru pemimpin yang berasal dari kelompok lain lebih ‘enak’ dibandingkan dari kelompok sendiri.
***
Ada juga kelompok masyarakat yang saya temui tidak terlalu menganggap penting pemimpin itu berasal dari kelompok mana. Yang penting adalah seseorang yang menjadi pemimpin adalah orang yang benar-benar layak memimpin. Dia memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin, memiliki sikap yang baik, latar belakang yang baik, dan punya sejarah kehidupan yang baik.
Kelompok ini percaya orang yang baik pasti bisa menjadi pemimpin yang baik. Orang yang dapat memimpin diri sendiri dengan baik dan dapat memimpin keluarganya dengan baik, kemungkinan akan dapat memimpin masyarakat dengan baik. Dia bisa memberikan keteladanan, bisa dijadikan panutan, dan bisa dijadikan kepercayaan.
Sebaliknya orang yang tidak dapat memimpin diri sendiri dengan baik dan tidak dapat memimpin rumah tangga dengan baik, besar kemungkinan tidak dapat memimpin orang lain dengan baik. Pada orang seperti ini jelas tidak ada keteladanan.
Saya, sependapat dengan pandangan kelompok yang terakhir ini. Oleh sebab itulah bagi saya, siapapun yang memimpin, sepanjang dia memiliki yang baik-baik, dia layak. Tidak ada batas apakah dia orang Dayak atau Melayu. Madura, Cina, sekalipun yang penting memang layak, boleh-boleh saja.
Saya percaya pemimpin yang baik akan dapat membawa Kalbar menjadi lebih baik. Dapat membawa Kalbar menjadi provinsi yang maju, membawa masyarakat menjadi masyarakat sejahtera. Lebih dari itu pemimpin yang baik pasti bisa menerima ‘takdir’ jika memang harus kalah dalam pemilihan, atau mengalah jika memang dalam perjalanannya tidak mampu.
Sedangkan pemimpin yang tidak baik, tidak layak dijadikan ‘imam’, tidak layak dijadikan contoh. Bagaimana mungkin dia akan dapat membawa kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk diri saja kebaikan itu tidak ada? Justru saya membayangkan memilih pemimpin yang tidak baik sama artinya menitipkan Kalbar ke tangan orang yang salah, orang yang justru akan membawa petaka.
Pada akhirnya saya jadi merenung pernyataan Iqbal dalam diskusi di Borneo Tribune, ketika dia berulang kali mengatakan: Why not?
Ya, mengapa kita tidak bisa memilih pemimpin yang terbaik? *
Diposting oleh Yusriadi di 07.30 3 komentar
Label: Orang Madura, Orang Tionghoa
Minggu, 02 Maret 2008
Politik NU Kalbar, Politik STAIN Pontianak
Oleh: Yusriadi
Jipridin. Saya sudah lama mengenal lelaki paroh baya itu. Dia guru sekolah. Dia juga dosen. Mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Pontianak. Saya sudah kenal orang ini sejak dia menjadi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) belasan tahun lalu. Waktu di PMII kami sering diskusi. Dia selalu dominan dalam diskusi kami.
Tetapi dalam soal suksesi di PMII, Jipridin kalah. Waktu itu kami mengajukan nama Idham Khalid –sekarang pegawai di Kantor Harian Kompas Pontianak. Kami menang sebab waktu itu kami lebih kompak. Dia sempat tergusur dari kepengurusan. Tetapi, meski kalah (dan mungkin dia tidak suka dengan kekalahannya itu) Jipridin tidak berhenti dengan aktivitasnya. Dia tetap aktif –dengan caranya.
Setelah ‘selesai’ di PMII, jarang sekali saya gabung dengan kawan-kawan di PMII atau badan otonom Nahdlatul Ulama lainnya. Sedangkan Jipridin tetap aktif. Bahkan pada periode Bapak dr. Ahmad Zaim, Jipridin menjadi pengurus penting di NU. Namun setelah periode M. Zeet sebagai ketua NU Kalbar, peran Jipridin tidak lagi cukup penting. Mungkin karena kepengurusan ini lebih memilih orang-orang muda.
Saya termasuk yang dipilih masuk dalam kepengurusan ini. Tidak tanggung-tanggung, saya dimasukkan sebagai salah satu wakil ketua. Jabatan yang saya rasa cukup penting dan strategis.
Namun, penempatan saya sebagai wakil tidak pernah saya terima. Saya tidak pernah bersedia. Saya tidak menyatakan kesediaan –dan hebatnya para formatur tidak bertanya soal kesediaan saya. Saya tidak menghadiri pelantikan pengurus. Saya tidak menghadiri rapat. Saya tidak menghadiri pertemuan rutin NU. Meskipun undangan selalu saja dikirim.
***
Tanggal 26 Februari 2008. Saya kesekian kalinya saya bertemu Jipridin. Saya diminta menjadi salah satu pembicara dalam seminar yang digelar NU. Seminar untuk merefleksi perjalanan organisasi ini. Ada banyak pembicara. Jipridin salah satunya.
Saya diminta menjadi pembicara kedua pada sesi pertama. Saya mengemukakan pandangan saya tentang NU sekarang ini. Terutama berkaitan dengan kiprah politik dan implikasinya pada perkembangan NU. Saya juga menawarkan solusinya. Dengan satu tekanan, bahwa saya tidak tahu dinamika yang terjadi di internal NU. Saya mengingatkan peserta bahwa saya tidak memiliki data yang cukup.
Meski demikian, seperti biasa saya memang selalu semangat bicara. Saya terlalu lena sebagai seorang kritikus. Menyoroti NU dengan pandangan saya sebagai pemerhati. Tidak ada dalam perasaan saya hari itu, bahwa nama saya masih dikaitkan dengan pengurus NU.
Saya memberikan penekanan pada kiprah Suryansyah, SE yang pernah disorong-sorong mendampingi Cornelis. Saya juga menyinggung manuver politik M. Zeet pada saat kampanye. Saya juga menyebutkan soal partisipasi NU dalam kesepakatan belasan organisasi Islam mendukung UJ sebagai gubernur Kalbar.
Tetapi, rupanya apa yang saya sampaikan menjadi bumerang. Jipridin yang menjadi pembicara pada sesi kedua, secara terbuka mengkritik saya. Misalnya dia menganggap aneh pengurus NU tidak tahu tentang NU. Katanya itu sangat berbahaya. Dia juga menasehatkan agar pengurus NU mengurus NU. Bukan sebaliknya minta diurus oleh NU. Selain itu, Jipridin juga memesankan agar sesama doktor di STAIN Pontianak, orang NU jangan saling rebutan jabatan. Harus saling mendukung.
Saya takjub dengan nasehat itu. Saya memandangnya. Dia juga memandang ke arah saya. Dia menebarkan senyum –senyum khasnya yang saya terjemahkan sebagai senyum meremehkan orang.
Pengin rasanya memotong kata Jipridin. Menjelaskan duduk persoalan. Menjelaskan bahwa saya bukan pengurus NU. Menjelaskan bahwa tidak akan pernah ada rebutan jabatan di STAIN seperti yang dinasehatkannya. Doktor di STAIN ada tiga. Saya, Dr. Hermansyah, Dr. Wajidi. Saya mau rebutan dengan siapa? Dengan Hermansyah? Wow, tak terbayang. Hermansyah sudah saya anggap teman dekat, bahkan adik saya. Juga dengan Wajidi. Kalau Wajidi atau Hermansyah mau jabatan silakan. Saya tidak ikut.
Saya tidak pernah bermimpi pegang jabatan di STAIN. Tidak pernah pula akan membawa bendera NU. Saya bahkan sangat benci dengan orang yang membawa bendera organisasi di kampus untuk memperebutkan jabatan. Menurut saya, kalau orang mau STAIN maju, kepentingan STAIN-lah yang dikedepankan. Peduli dengan NU!
Toh, orang NU sendiri juga tidak pentingkan NU. Saya sering kemukakan ini. Pada pendapat saya kalau orang NU pikirkan NU pasti saat pemilihan ketua NU mereka akan berusaha memilih orang NU yang terbaik. Mereka juga akan memilih yang terbaik sebagai pengurus NU. Yang dipilih harus yang ulama, orang yang berilmu! Bukannya orang yang mau-mauan jadi pengurus. Bukan orang yang tidak bisa diteladani. Pilihan pasti bukan berdasarkan suka tidak suka. Bukan bersandarkan kelompok ini dan itu. Bukan didasarkan oleh pertimbangan politis.
Justru karena itulah saya tidak ingin menjadi pengurus NU. Saya tidak siap masuk ke pentas politik. Dunia politik bukan dunia saya. Dunia saya dunia akademik. Saya lebih suka berada di antara orang-orang akademik dan orang-orang yang mencintai dunia akademik. Berada di antara orang akademik lebih nyaman. Rasionalis. Berada di antara orang politik memusingkan kepala saya.
HP saya bergetar, sekali. Ada SMS masuk. Dari teman saya. Isinya mengomentari komentar Jipridin. “Apa-apaan Jipridin ngomong begitu? Mengapa dia bawa-bawa STAIN?”
Saya melihat kepada teman yang mengirim SMS. Berusaha tersenyum. Saya membalas:
“Jipridin memang begitu. Tak usaha diambil hati,”
Saya hanya menghibur.
Hati saya bergejolak.
Saat seminar selesai saya pulang lebih dahulu. Saya menyalami Jipridin seraya dengan agak emosional mengatakan:
“Abang salah. Saya bukan pengurus NU”.
Saya berbisik di telinganya.
Jipridin menyahut. Tetapi saya tidak mendengar apa yang dia katakan. Saya pikir saya tidak perlu mendengarnya. Saya tidak perlu melayannya. Buang-buang waktu. Masih banyak hal lain yang lebih penting.
Saya meninggalkan ruangan. Membawa penyesalan. Saya merenung mengapa saya datang ke acara NU. Mengapa saya mengkritik NU. Mengapa saya harus mendengarkan Jipridin. Mengapa saya harus mengurusi NU.
Mengapa seakan-akan lebih tahu tentang NU.
Ya, mengapa saya seakan-akan punya waktu. Padahal pekerjaan saya banyak. Menumpuk!
Diposting oleh Yusriadi di 09.10 4 komentar
Sabtu, 01 Maret 2008
Sudut Kota Kuala Belait - Foto Yusriadi
Bangunan bertingkat di Pusat Kota Kuala Belait, Brunei Darussalam. Di sekitar bangunan ini terdapat terminal Kuala Belait dan SPBU. Kota Kuala Belait adalah salah satu kota utama di Brunei. Di daerah ini terdapat tambang minyak.
Diposting oleh Yusriadi di 07.54 0 komentar
Catatan Perjalanan ke Brunei 1: Amboi Busnya .....
Oleh: Yusriadi
22 Januari 2008. Saya bersama 5 teman dari Pontianak berangkat ke Brunei Darussalam. Tujuannya menghadiri Seminar Antarabangsa Dialek-dialek Austronesia di Nusantara (SADDAN) III yang diselenggarakan Universiti Brunei Darussalam (UBD) 24-26 Januari 2008.
Saya akan membentangkan makalah tentang: Kepelbagaian Bahasa Melayu di Hulu Sungai Kapuas. Sedangkan teman saya, Ibrahim, MA akan membentangkan tentang: Bilingualisme pada Masyarakat Melayu dan Iban di Badau, Kapuas Hulu. Ismail Ruslan, M.Si membentangkan makalah tentang: Etos Kerja Melayu Pontianak.
Kami tidak banyak tahu tentang Brunei. Pengetahuan hanya didapat dari cerita kiri kanan. Bertanya pada teman. Soal perjalanan, soal angkutan, soal penginapan, soal hidup. Malangnya, informasi satu dengan yang lain beda-beda. Jadinya kami repot sendiri. Sementara informasi dari panitia tidak cukup detiil. Maklum saja orang baru pergi ke tempat nun jauh pasti ada sedikit was-was: khawatir ini, khawatir itu, dll.
Dengan pengetahuan yang terbatas itu kami mencari tiket bis. Bis dianggap lebih murah dibandingkan naik pesawat. Itung-itung berhemat. Walaupun pasti waktunya lebih panjang. Kami memutuskan naik bis karena menganggap remeh soal perjalanan jauh. Kalau ke Brunei perjalanan ditempuh dalam waktu belasan jam, bagi kami itu biasa. Kira-kira perjalanannya sama jauh kalau ke Putussibau. Ke Putussibau perjalanan bisa memakan waktu 18 jam. Kadang kalau lagi musim hujan perjalanan bisa sampai 20 jam lebih.
Mulanya kami hendak naik bis dari Pontianak ke Kuching –biasanya saya pakai SJS. Nanti turun di Batu 3 Kuching – terminal kota, lalu melanjutkan perjalanan ke Miri dengan bis Sarawak. Dari Miri sambung ke Brunei dengan van (sejenis mobil carry).
Tetapi, niat itu dibatalkan. Prof. Madya Dr. Haji Jaluddin Chuchu, dosen di UBD yang sering ke Kalbar memberitahu kalau ada bis dari Pontianak yang langsung ke Miri. Tak payah singgah di Kuching. “Mengapa tidak pilih yang langsung. Mungkin lebih enak langsung,” begitu kira-kira nasehatnya.
Dia lupa persisnya nama bis itu. Kami menduga kalau bukan Sri Merah, ya Tebakakng. Sebab bis itu milik perusahaan Malaysia. Lebih mungkin mereka melayani rute Kuching- Miri. Sedangkan bis Indonesia kemungkinannya kecil. Dengar-dengar tidak mudah mendapatkan izin trayek.
Rupanya benar. Bis Tebakakng melayani rute ini. Pollnya di Jalan Diponegoro Pontianak, dekat simpang Gajahmada.
Ibrahim dan Ismail mengurusnya. Kami memesan tiket langsung ke Miri, pulang pergi. Biayanya Rp 760 ribu per orang, kata sudah termasuk diskon. Nanti dari Miri ke Sungai Tujoh –perbatasan Malaysia – Brunei, kami naik bis milik syarikat Berlima. Begitu rencananya.
***
Pukul 21.00 malam. Kami bertolak dari Pontianak. Naik bis Tebakang bagi saya adalah pengalaman baru. Biasanya saya memilih naik SJS. Kalau tidak kami memilih naik bis Damri.
Masuk ke dalam bisa menyajikan kesan ‘bah’ dalam hati saya. Bus punya kursi sofa –begitu saya menyebutnya. Lebar, bisa untuk baring melengkung. Tetapi posisi sandarannya tidak bisa distel. Busa tempat duduknya ‘agak tipis’. Ada beberapa bagian sofa yang sudah bergaris-garis hitam bekas debu atau daki. Pasti sudah berumur. AC bis cukup dingin. Tetapi, alamak, lubang AC tidak bisa ditutup, hanya bisa dialihkan. Bis yang biasa saya tumpangi, lubang ACnya bisa ditutup. Putar saja! Bis ini juga tidak ada WC. Jadi kalau mau kencing harus minta kepada sopir agar berhenti. Kalau ndak, tahan sendiri sampai ngompol. Agaknya.
Saya pikir, bis ini terlalu tua ukuran melayani perjalanan ke Malaysia. Mungkin untuk layanan ke Putussibau bus seperti ini masih kategori baik.
Tidak cukup banyak penumpang malam itu. Hanya belasan orang saja. Saya pikir, semua orang berangkat tujuan Brunei. Atau setidaknya semua penumpang malam itu adalah penumpang jurusan Kuching – Miri. “Ini ‘kan bis tujuan Miri”, pikir saya.
Saya tidak bertanya pada penumpang lain.
Selama perjalanan saya memilih tidur. Saya lihat penumpang lain juga begitu. Apalagi teman saya yang minum antimo. Tidurnya sangat nyenyak.
Saya bangun ketika bis berhenti di sebuah rumah makan di sekitar Sosok. Saya pilih makan mie (mie gelas) untuk menghangatkan perut. Saya lihat Bang Kris juga begitu. Ada teman yang memilih nasi.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Kami sampai di perbatasan Entikong, sekitar pukul 04.00 pagi. Kami turun. Ibrahim mengajak ke Mushalla di kiri pintu masuk. Ada banyak calo menawarkan jasanya mengisi formulir Imigrasi.
Pukul 05.00 pintu pagar batas dibuka. Kami antri di depan loket Imigrasi Indonesia. Cop paspor. Beberapa pelintas yang ingin ke luar negeri sempat dipersoalkan. Termasuk teman saya. Paspor teman saya tidak ada cop (stempel) masuk, hanya ada cop keluar. Tetapi, semuanya dapat diurus. Beres.
Sekitar pukul 07.00 melewati Imigresen Tebedu. Di sini ada juga sedikit hambatan. Pengalaman saya hampir selalu ada penumpang yang ‘diproses’ agak lama di batas. Entah, mungkin karena petugas curiga penumpang tersebut masuk ke Malaysia mau cari kerja. Saya mendengar percakapan orang tentang proses pemeriksaan pasport.
Bus bergerak lagi. Beberapa kilo meter dari batas ada pos pemeriksaan polis. Saya selalu merasa janggal sebab yang diperiksa polisi adalah paspor. Dalam bayangan saya seharusnya urusan paspor itu adalah urusan Imigrasi. Bukan urusan polis. Bagi saya pemeriksaan seperti ini memperlambat perjalanan. Buang-buang waktu.
Satu jam kemudian kami sampai di Serian. Penumpang tujuan ke arah Miri berhenti di sini. Selain kami, hanya beberapa orang saja yang turun. Tadinya saya duga semua penumpang bus, tujuannya ke arah Miri. Salah!
Saya juga salah menduga bus yang kami tumpangi dari Pontianak langsung menuju Miri. Rupanya, kami harus transit. Kami harus menunggu bus jurusan Kuching - Miri pukul 5 sore! Menunggu di tempat penjualan tiket selama lebih kurang 10 jam. Untung di tempat tunggu ini ada kamar yang besar –walau tidak cukup bersih dan ada kamar mandi. Ada tempat makan. Dan dekat pula kalau mau pergi ke pasar.
Kami menunggu sambil tidur. Capek tidur, kami berjalan di pasar Serian. Kembali ke penginapan dan tidur lagi. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 07.43 2 komentar
Label: Brunei, Perjalanan
