Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune
Mungkin kau bertanya, ngape ada orang di tempat macam ni? Di Pulau Maya’ ni?
Bang Rustam, anak Pulau Maya yang kini menjadi Kepala Pusat Sumber Belajar (PSB) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak beberapa kali melontarkan bertanyaan kepada saya ketika kami naik motor air dari Sukadana menuju pulau itu, Maret lalu.
Kala itu, saya mengikuti rombongan Panitia Keaksaraan Fungsional (KF) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak. Dalam rombongan itu, selain H Rustam, M.Pd, ada Yapandi Ramli, M.Pd, dan Ismail Ruslan, M.Si.
Saya bukan panitia KF. Saya numpang saja, karena ingin mencari data bahasa di pulau terkenal itu.
Pulau Maya, (penduduk setempat menyebutnya Pulau Maya’ – dengan ‘hamzah’ di akhir, adalah salah satu pulau yang cukup popular dalam pemberitaan surat kabar. Ada beberapa kali nama pulau ini masuk koran: entah karena nelayan asing terdampar, karena ada kunjungan pejabat, karena potensi ikan, dll.
BANG Rustam, begitu kami memanggilnya, bertanya sambil tersenyum.
Saya tahu dia ‘acah-acah’ saja. Dia tidak benar-benar ingin dengar jawaban dari saya. Dia hanya ingin bercakap-cakap saja. Mengisi wacana.
Saya tidak menjawabnya. Saya memang belum berpikir sejauh ini. Saya hanya baru berpikir dan mengandai-andai, bagaimana bentuk bahasa di Pulau Maya. Saya membayangkan bahasa yang digunakan masyarakat di pulau ini pasti berbeda dibandingkan dengan bahasa Melayu yang digunakan di tempat lain. Paling tidak seharusnya bahasa penduduk pulau ini agar berbeda.
Saya berandai begitu karena biasanya ruang social (termasuk ruang politik) dan ruang geografi, menciptakan perbedaan bahasa. Pulau Maya yang saya dengar adalah sebuah tempat terpencil dan terisolir. Penduduk yang hidup di pulau ini tertutup dari arus ‘globalisasi’. Orang luar tidak seberapa sering masuk ke sana dan penduduk Pulau Maya juga tidak sering keluar, karena transportasi dan keperluan yang terbatas. Interaksi yang terbatas ini lambat laun menciptakan bentuk bahasa yang berbeda.
Jadi, pertanyaan Bang Rustam mengingatkan saya pada hal lain. Ya, saya jadi berpikir sama. “Mengapa orang mau tinggal di Pulau Maya?”
KAMI pesan tiket motor ke Pulau Maya di pasar tepian Sungai Sukadana. Di tempat penjualan tiket beberapa orang calon penumpang untuk tujuan sama.
“Motor air berangkat siang,” kata penjual tiket.
Saya mendengar penjelasan penjual tiket kepada Bang Rustam.
“Nanti, penumpang akan naik di sini. Naik perahu. Sampai ke muara,” katanya.
Dia menambahkan, “Motor air menunggu di sana. Tidak bisa masuk. Muara dangkal”.
Saya membayangkan perjalanan yang jauh dan memakan waktu.
Dan benar, ketika kami naik perahu menuju muara dua jam kemudian saya merasakan sensasi sendiri.
Perahu yang saya kira berkapasitas 3 ton dijejali penumpang dan barang –termasuk sejumlah sepeda motor. Perahu sarat. Tidak sampai lima jari lagi. Perahu juga bocor. Air terus masuk.
Sesekali karena penumpang bergerak, perahu oleng. Awak perahu minta agar penumpang yang berada di bagian samping kiri bergerak ke kanan, agar keseimbangan terjaga. Saya melihat ada beberapa penumpang yang cemas. Saya juga agak cemas.
Saya tidak takut tenggelam. Saya bisa berenang. Saya menggunakan celana berbahan parasut –tipis, dan sandal, jadi lebih mudah bergerak. Tetapi, kalau tenggelam tetap saja saya repot. Tas akan basah. Bahan-bahan survey saya akan basah dan mungkin akan musnah. Beberapa peneliti yang saya kenal pernah mengalami nasib buruk seperti itu.
Saya agak terhibur melihat penumpang yang saya kira orang asal Pulau Maya yang nampaknya tenang-tenang saja dengan situasi ini. Saya mencoba bersikap setenang mereka. Mudah-mudahan selamat.
Baru keluar sampai ke muara, perahu yang kami tumpangi kandas. Lumpur pasir membuat perahu susah bergerak. Awak perahu meloncat. Beberapa penumpang turun, ikut mendorong perahu.
Perahu bergerak lambat. Untuk mencapai perahu yang jaraknya lebih kurang 1 kilometer, diperlukan waktu lebih satu jam.
Kami sampai di perahu motor yang melabuh sauhnya di dekat tanjung karang di muara Sukadana. Perahu motor itu berbobot belasan ton.
Satu per satu penumpang pindah dari perahu ke motor. Ada yang memilih langsung masuk ke dalam motor, ada yang duduk di bagian belakang, ada juga penumpang yang memilih naik ke atas kap.
Sementara itu, awak perahu memunggah sepeda motor ke atas kap. Sepeda motor ditarik dengan bantuan tali. Orang yang berada di bawah mengangkatnya. Kerja yang berat. Ada enam motor. Waktu yang diperlukan tak kurang 30 menit untuk mengatur semuanya.
Selesai. Saya melihat perahu berbalik menuju dermaga Sukadana.
“Masih ada penumpang menunggu di sana,” kata penumpang yang berada
Alamak! Saya menghitung, berarti kami masih harus menunggu satu setengah jam lagi sebelum berangkat menuju Pulau Maya. Jadi, 3 jam. Kami masih berada di Muara Sukadana. Kami masih melihat pantai lumpur yang luas. Kami masih melihat kerangka bangunan –yang kata orang-orang penginapan milik ikon Sukadana, Osman Sapta, dari kejauhan.
Saya jadi teringat pertanyaan Bang Rustam. Tapi kali ini saya bertanya sendiri.
“Mengapa dahulu Sukadana bisa menjadi pusat pemerintahan? Mengapa sekarang orang memilih Sukadana sebagai ibukota Kabupaten Kayong Utara?”
Saya belum melihat kelebihan kota tua ini. Muaranya dangkal. Kapal bermuatan pasti tidak masuk. Dahulu, jalan darat juga tidak ada. Untuk lokasi pertanian juga terbatas. Di belakang kota Sukadana adalah bukit. Saya jadi penasaran, bagaimana orang dahulu menyuplai kebutuhan makan mereka?
Saya kira kelebihan Sukadana yang saya lihat adalah tempat ini cocok untuk pertahanan. Pantai yang dangkal pasti akan menyulitkan pasukan musuh masuk tanpa ketahuan. Bukit yang menjulang, akan menjadi tempat strategis untuk mengintai.
Lalu sekarang, Sukadana dipilih menjadi ibukota kabupaten, melanjutkan kebesaran dahulu. Potensi apa yang akan diandalkan ibu kota kabupaten ini. Sarana apa yang akan mendukung?
Sukadana bukan di jalur Trans-Kalimantan. Sukadana mungkin sulit memiliki pelabuhan laut sendiri. Jangankan kapal besar, perahu dua ton saja sulit masuk. Rasanya terlalu berat kalau harus menunggu air pasang baru perahu dan kapal bisa masuk.
Sukadana juga mungkin sulit membangun pelabuhan udara sendiri. Bukit yang membentengi daratan Sukadana pasti akan menjadi pertimbangan sendiri, menurut dugaan saya.
Saya berguman, sungguh beruntung Sukadana bisa dipilih sebagai pusat pemerintahan, yang itu berarti akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Bersambung.
Senin, 08 September 2008
Perjalanan ke Pulau Maya, Sukadana (1): Ngape Orang Tinggal di Tempat Macam Ni?
Diposting oleh Yusriadi di 01.53 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
Kamis, 28 Agustus 2008
Catatan untuk Kongres Kebudayaaan Kalbar (2)
Oleh Yusriadi
Pukulan gendang mengiringi tari rancak penari dari sanggar Kijang Berantai. Penari dengan pakaian khas Melayu, mengenakan baju kurung, berkain kebaya bermotif corak insang. Tajak tinggi dikenakan lelaki. Sedangkan perempuan mengenakan sanggul.
Atraksi ini dilanjutkan tarian bercorak pribumi lain. Mereka, memperlihakan simbol Dayak. Mandau dan parang di tangan, ikat kepala tersemat bulu burung ruai. Rentak tari, pekik alunan, memperlihatkan ciri khas yang orang kenal sebagai Dayak.
Atraksi ini dipersembahkan pada bagian akhir acara pembukaan Kongres Kebudayaan. Yang hadir, para pemangku dan pakar adat, peneliti, aktivis sosial, pengambil keputusan, memberikan apresiasi. Tepuk tangan bergemuruh. Apresiasi ditunjukkan dengan simbol yang sama.
Apakah pemahaman yang sama ini akan terjelma sepanjang kongres? Apakah apresiasi positif akan ditunjukkan yang hadir dalam kongres itu saat mereka berdiskusi pada hari-hari berikutnya?
Apakah cara berpikir dalam melihat atraksi budaya dapat ditunjukkan saat mereka melihat keragaman yang muncul di tengah realitas sosial?
Tentu pertanyaan ini muncul ada sebabnya. Masalahnya, seperti yang sempat dikhawatirkan beberapa kalangan, ada keraguan mereka terhadap ‘kesiapan psikologis’ peserta. Kesiapan menerima dalam pengertian pemahaman akan adanya pluralisme memang telah wujud, namun pemahaman akan multikulturalisme belum sampai. Masing-masing masih sadar akan adanya perbedaan, tetapi penerimaan terhadap keragaman itu masih sering jadi masalah. Padahal, pemahaman seperti inilah yang sangat diperlukan. Sangat diperlukan untuk menumbuhkan pengertian.
Pengertian ini akan menjadi puncak penyelenggaraan kongres kebudayaan. Karena, seperti yang diharapkan fasilitator, kongres ini akan menghasilkan rekomendasi. Satu usulan, satu kesepakatan bersama, yang pasti wujud melalui proses pengertian dan pemahaman atas perbedaan budaya.
Seorang peserta kongres sempat mengungkapkan kekhawatirannya. Dia sangat khawatir kongres tidak menghasilkan hasil yang memuaskan karena dia membayangkan ada peserta akan larut dalam kungkungan ‘kesiapan psikologis’.
“Saya titip pesan, jangan ribut,” bisiknya.
Ribut yang dimaksudkannya adalah debat kusir.
Entahlah. Memang, debat kusir tidak baik. Ngotot. Tidak akan menghasilkan jalan keluar. Tidak akan menghasilkan kesepakatan. Padahal, kesepakatan itulah hasil yang diharapkan dari kongres ini. Habis
Diposting oleh Yusriadi di 00.47 0 komentar
Label: Budaya Kalbar
Catatan untuk Kongres Kebudayaan Kalbar (1)
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Hari ini, Senin (25/8), Kongres Kebudayaan Kalbar digelar. Kegiatan yang difasilitasi Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Pontianak melibatkan berbagai elemen di daerah ini.
Kita harus memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini.
Pertama, ada gagasan besar di balik rencana penyelenggaraan, dan ada mimpi besar yang ingin dicapai melalui kegiatan ini.
Kegiatan ini sangat penting untuk masa depan Kalbar. Sejumlah tokoh, elemen masyarakat bertemu. Mereka membahas mimpi bersama, di ruang geografi dan sosial yang sama.
Memang sudah pernah ada pertemuan berbagai elemen selama ini. Tokoh-tokoh yang diundang –jika dilihat dari daftar undangan yang disebarkan panitia, sudah biasa bertemu, sudah saling kenal antara mereka. Namun, bertemu untuk membahas bentuk kebudayaan bersama, belum pernah dilakukan. Mereka belum pernah dibawa dalam suasana bermimpi tentang ruang sosial yang dicita-citakan.
Tentu, harus disadari bahwa untuk memenuhi harapan besar itu tentu tidak mudah. Tujuan yang sangat ideal dari kongres kebudayaan, mungkin tidak dapat dicapai seideal yang dicita-citakan. Tiga hari kegiatan terlalu singkat untuk sesuatu yang besar bagi Kalbar itu.
Apalagi kalau kemudian, ada di antara peserta kongres yang belum siap diajak bermimpi bersama. Tujuan mungkin sulit dicapai jika ada peserta yang ‘nogin’ dengan harapannya sendiri dan dengan bayangan-bayangannya sendiri.
Kedua, kegiatan ini hanya bisa dilaksanakan karena ada kerja keras dan kesungguhan yang ditunjukkan orang-orang di BPSNT, khususnya Ketua Balai, Lisyawati Nurcahyani. Persiapan penyelenggaraan, meskipun mungkin ada yang kurang, setidaknya sudah menyita pikiran, tenaga dan waktu fasilitator sejak tahun lalu.
Gagasan ini dilontarkan ke publik oleh Ketua BPSNT Lisyawati dan Rektor Untan Pontianak Dr. Chairil Effendy, dalam dialog tokoh budaya di Pontianak November 2007. Gagasan itu –meskipun berbeda muatannya, namun, bersambut. Dukungan diberikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rihat Natsir Silalahi.
Lalu, BPSNT melanjutkan dengan pertemuan tokoh. Di sisi lain, Borneo Tribune mendorongnya dengan menjaring opini publik.
Tim penjaringan yang diturunkan ke lapangan untuk menghimpun pendapat. Laporan M Nasir, dkk dari BPSNT yang turun ke sejumlah daerah, bertemu dengan tokoh-tokoh, memperlihatkan apresiasi yang besar.
Sesudah itu beberapa kali pertemuan dilaksanakan. Debat dan diskusi yang kadang kala sangat alot. Kadang kala karena peserta pertemuan tidak tetap –sebab wakil organisasi yang hadir dalam rapat pertama, mewakilkan kepada orang lain dalam pertemuan berikutnya. Selalu saja ada peserta yang baru dan mengajukan pertanyaan yang hampir sama. Adakalanya pertemuan membosankan. Masalah yang diangkat berulang-ulang.
Kadangkala, karena ekspektasi peserta yang tinggi, saran yang disampaikan sangat ideal. Tujuan kegiatan, format kegiatan, nara sumber dan peserta , waktu dan penyelenggaraan dibahas berkali-kali. Proposal yang sudah dibuat pada mulanya, kemudian dirumuskan kembali karena dianggap belum sesuai. Banyak peserta yang menginginkan kongres dilaksanakan se-wah dan sebaik mungkin. Mereka tidak ingin kongres dilaksanakan asal-asalan. Tak ingin pula, kongres yang dilaksanakan dengan susah payah, kelak kemudian tidak diterima masyarakat, hasilnya.
Pada akhirnya, kerja keras fasilitator membuahkan hasil. Setidaknya, seperti disaksikan, hari ini, kegiatan itu dilaksanakan.
Mudah-mudahan kegiatan ini sukses.
Jika pun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, pasti tetap ada nilai positif dari kegiatan ini yang bisa dipetik.
Selamat berkongres. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 00.44 0 komentar
Label: Budaya Kalbar
Rabu, 30 Juli 2008
Opini dari Tribune 1

Opini dari Tribune 1 adalah kumpulan artikel yang pernah diterbitkan di Harian Borneo Tribune, Pontianak, Kalimantan Barat. Tulisan-tulisan ini berkaitan aspek pendidik, pembangunan, politik dan sosial budaya di Kalimantan Barat. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Yusriadi dan Fahmi Ichwan di Redaksi Borneo Tribune.
Diposting oleh Yusriadi di 00.40 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Buku
Senin, 21 Juli 2008
Kota Pontianak Pada Abad ke-19
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Matan 7 Juli 1895. Di kota kecil itu sebuah syair ditulis. Syair Pangeran Syarif (SPS). Syair ini menggambarkan situasi kota Pontianak pada masa Belanda.
Penduduk Pontianak
Gambaran tentang penduduk kota Pontianak dapat dilihat pada Bait 193 hingga 213. (1). Di kalangan orang Eropah yang menjadi penduduk Pontianak: (a.) Tentera dan pegawai sivil terdiri dari orang Belanda. (b.) Swasta terdiri dari orang-orang Belanda, Inggeris dan
Persman (Orang Belanda bahagian utara). Orang-orang Eropah pada waktu itu rapat hubungannya dengan pegawai-pegawai tentera dan sivil Belanda, juga bersahabat dengan sultan.
(2). Orang swasta Eropah ini mendirikan berbagai perusahaan perdagangan dan perniagaan, perusahaan membuat periuk dan papan. (3). Ada pula orang Eropah swasta yang makan gaji; dengan belayar kapal api, menjadi juru jentera atau pegawai dan nakhoda kapal. (4). Di kalangan orang Bugis pula, termasuk yang datang dari Wajo, dan orang yang datang dari Sumbawa; mereka tinggal di pesisir pantai, dan merekalah yang menguasai kebun ladang. (5). Orang Bugis tinggal berkelompok sesama mereka, membuat kampung dengan susunan perumahan yang berlapis-lapis: Bilangan mereka sangat banyak. Disebutkan mereka memenuhi jajahan laut, dan kalau terjadi perperangan, orang Bugis inilah yang lebih dulu berperang.
Di rawa-rawa yang asalnya tumbuh nipah, bakau, apiapi dan perepak, yang membentang dari Mempawah di barat laut hingga ke Padang Tikar di tenggara, semuanya sudah menjadi ladang kelapa orang Bugis.
Hasil kelapa dari orang Bugis ini disebutkan sangat banyak, dan ini juga jadi hasil pungutan cukai untuk sultan.
Sedangkan suku bangsa yang terdapat di Pontianak ketika itu, seperti tergambar dalam SPS antara lain: (a.) Jawa, yakni dari Betawi, Surabaya dan Plered. (b). Bali. (c). Madura, yakni dari Madura, Semenap dan Bawean
Dalam anotasi ini, istilah Melayu merujuk kepada nama bangsa yang lebih skope luas, yakni: Melayu dari Kalimantan sendiri seperti dari Banjarmasin, Banjar Negara, Banjar Tanggi, Martapura, Brunei, Sarawak, Sambas, Singkawang. Melayu yang datang dari Kepulauan Riau, yakni dari Tembelan, Jemaja, Bunguran, Siantan, Serasan, Kamboja, Daik, Lingga, Munto dan Belitung.
Melayu dari Sumatera , yakni Batu Bara, Siak, Bangkahulu, Padang, Deli, Kampar, Kuantan, Jambi, Palembang.
Melayu dari Malaya, yakni Pulau Pinang, Melaka, Johor, Singapura, Pahang, Terengganu, Petani, Kelantan. Melayu dari Indochina yaitu dari Kemboja. Melayu dari Sulawesi, yaitu dari Bugis, Makasar, Buton. Dari Nusantara, yakni Nusa Tenggara, Sumbawa
Orang asing yang ada di Pontianak ketika itu adalah dari Jazirah Arabia (Arab Hadralmaut), dari Afrika yakni Habsi dan Arab Walkiti (Mesir), dari India yakni Keling dan Surati.
Terdapat juga orang dari Eropah yakni dari Belanda dan Inggeris.
Taraf Hidup Penduduk Pontianak
Gambaran tentang taraf hidup orang Pontianak bisa dilihat pada Bait 214 hingga 229. Dikemukakan Arena Wati dari bait 214 hingga 222 dijelaskan interaksi antara penjual dan pembeli dalam perniagaan pakaian dan makanan yang terdapat di daratan dan kedua belah tebing sungai Pontianak. Para pedagang ini terdiri dari Islam dan kafir, terdiri dari orang yang setempat dan musafir. Di samping itu banyak yang berdagang tetapi lebih banyak lagi yang hidup sebagai kuli. Disebutkan juga banyak yang bekerja sendiri membuat berbagai jenis barang keperluan hidup sehari-hari untuk diperdagangkan.
Penjual barang menjajakan jualannya dari rumah ke rumah, termasuklah perhiasan emas perak dan batu-batu permata. Dalam hal ini penyair menyimpulkan tentang kepintaran penjual barang:
Ada Melayu Keling dan Cina
Terkadang jantan terkadang betina
Kalau tak mahir memandang warna
Adalah juga orang yang terkena. (Bait 222)
Dari bait 223 hingga 229 penulis SPS memberikan gambaran tentang keadaan perumahan penduduk. Rumah penduduk dibangun kokoh dan indah. Atap rumah terdiri dari atap sirap – kayu belian, dan seng. Jarang rumah penduduk di kota Pontianak yang beratap daun nipah. Jendela-jendela rumah sudah mula dibuat dari besi.
Model rumah juga sudah didesain dengan berbagai-bagai bentuk. Bahkan katanya sudah banyak meninggalkan bentuk tradisi Melayu.
Perabot rumah lengkap dan halaman rumah dihiasi pintu gerbang bentuk mahkota. Kursinya bertilam dengan dilapik renda bersulam.
Yang lebih kaya lagi, dalam kamarnya dilengkapi katil dan gets, dialas puadai yang menyenangkan mata.
Penulis SPS menangkap ada persiangan dalam melengkapi dan memperindah rumah masing-masing.
Menariknya, menurut penulis, yang mula-mula membangun rumah model baru ini ialah orang Melayu, lalu diikuti orang Cina. Pada akhirnya orang Cina lebih hebat lagi rumahnya kerana terus meniru bentuk Barat.
Dari bait 230 hingga 234 penyair menggambarkan tipologi rumah orang Cina. Katanya rumah sistem bangsal masyarakat Cina menurut keperluan hidup sistem kongsi dan taraf migran sudah dipandang hina oleh orang Cina generasi baru Pontianak; oleh sebab itu ramailah taukeh yang membangun rumah mereka dengan bentuk baru yang sesuai untuk mereka hidup satu keluarga sahaja.
Taukeh-taukeh muda membina rumah mereka menurut cara Belanda dengan dilengkapi perabot ala Barat.
Segala taukeh yang muda-muda
Rumah dibikin cara Olanda
Alat kelengkapan semuanya ada
Disuruh pandang dengan ayahnda
(Bait 231)
Persaingan dalam bentuk rumah modern ini juga telah menukar sikap sebagian tauke kaya terhadap tamu yang datang ke rumahnya: (i) Menurut tradisi Cina, tamu diterima dan hanya melihat sekitar ruang tamu. (ii). Sikap baru dari Barat telah mempengaruhi mereka, iaitu tamu diperlihatkan seluruh perabot dalam semua ruangan rumah dari pintu depan hingga ke pintu dapur. (iii) Orang kaya itu cenderung senang dipuji. Disebutkan tamu yang memuji rumah dan perabotnya, dijamu sebaik-baiknya dan diajak selalu datang berkunjung.
Perumahan orang Belanda lebih hebat lagi dibandingkan perumahan orang Melayu dan Cina.
Dari bait 235 hingga 237 diperlihatkan pula tentang model pakaian yang lagi ’trendy’ pada masa itu. Penyair melihatnya sebagai fenomena bertambahnya adat
adat baru ke dalam penghidupan:
a. Penyair hiba hati menyaksikan semakin hebatnya saingan terhadap pakaian tradisi, kerana kain baju sudah berubah, yang dikatakannya potongannya seperti gamis dan jubah.
b. Dalam hal ini orang tidak lagi memperdulikan taraf kasta dalam masyarakat, masing-masing sudah memakai jam saku tergantung di dada baju; dan kalau dilihat dari jauh, orang tak mengenalnya lagi entah Si Lamat atau entah Si Untung.
Dalam suasana demikian itu di Pontianak, kekuasaan dan kemampuan membolehkan apa saja yang diingini, bisa dinikmati.
Tidaklah dapat dipanjangkan peri
Dalam ayahnda duduk berdiri
Melihat adat aturan negeri
Limpah dan makmur sehari-hari
(Bait 238).
Kata Akhir
Dari gambaran singkat tentang keadaan kota Pontianak dan kehidupan masyarakat pada abad ke – 19, diperoleh gambaran tentang suasana yang metropolis. Pontianak ketika itu jelas menggambarkan sebuah kota yang maju, kota yang sangat terbuka. Kehidupan juga cukup rancak dengan dinamika sebagai sebuah kota metropolitan. Pontianak menjadi tempat berkumpul orang yang datang dari berbagai daerah.
Kekaguman seorang sultan Matan bisa dipahami sebagai orang yang baru datang di sebuah tempat yang baru. Dia tentu sangat peka terhadap apa-apa yang dia lihat dan apa yang dia alami.
Tentu juga harus dimaklumi bahwa gambaran yang diberikan belum tentu tepat dan merupakan representasi untuk mewakili wajah kota Pontianak di akhir abad ke-19 (tahun 1894). Maklum tulisan ini merupakan karya sastra. Bentuk karya yang kadang kala diragukan nilai faktanya.
Lukisan wajah Pontianak melalui syair masih harus dibandingkan dengan lukisan lain yang sezaman. Sebut misalnya deskripsi yang digambarkan oleh A. Niewenhuis, dokter Belanda yang mencatat perjalanannya saat melakukan ekspedisi dari Pontianak ke Samarinda yang juga dilakukan di tahun 1894. Dalam bukunya yang diterbitkan Gramedia tahun 1994 – memperingati 100 tahun ekpedisi itu gambar Pontianak juga dibuat seimbas lalu.
Diposting oleh Yusriadi di 02.23 0 komentar
Jumat, 18 Juli 2008
Ketika Tribune Mendapat Penghargaan Media Terbaik

Oleh: Yusriadi
Kamis, sore, minggu lalu. Aku sedang di kantor, menghadap computer, menyelesaikan penulisan Tajuk Borneo Tribune untuk edisi Jumat.
Aku melihat monitor komputerku bergerak. Ada teleponku berbunyi. Ada panggilan. Dedy Ari Asfar,MA temanku, peneliti yang bekerja di Balai Bahasa Pontianak , Kalimantan Barat. Dedy juga teman satu almamater di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Aku menyambutnya.
“Bang, selamat!”
Aku mendengar suara Dedy. Seperti biasa, tegas. Tekanannya kuat, sekuat karakter orangnya.
Aku bingung.
“Selamat apanya?”
Aku tidak mengerti apa yang diselamati Dedy. Rasanya, tidak ada prestasi yang kucapai dalam pekan-pekan ini.
Oh, mungkin Dedy mengucapkan selamat karena teman kami, Muhlis Suhaeri menjadi finalis Mochtar Lubis Award untuk liputan investagasinya. Dalam berita Borneo Tribune kemarin memang disebutkan koran tempat aku bekerja itu meraih prestasi itu. Tapi, tidak tepat amat, sebab yang dapat penghargaan bukannya Koran Tribune, tetapi, Muhlis secara pribadi. Hanya kebetulan saja dia bekerja di Tribune, lalu Koran ini nebeng untungnya.
“Tribune meraih peringkat pertama media massa terbaik untuk penggunaan bahasa Indonesia ,” sahut Dedy.
“Benarlah?”
“Benar,”.
“Terima kasih,”
Aku mempercayainya. Tetapi aku tidak percaya kalau Tribune mampu meraih predikat itu untuk Kalbar. Masalahnya, ada Pontianak Post koran utama group Jawa Pos. Tahun lalu, koran ini meraih predikat pertama. Tribune tidak ikut karena pada masa itu, redaksi tidak sempat mengirim tulisan kepada Balai Bahasa, lembaga pemerintah yang menilai penggunaan bahasa Indonesia di media massa . Maklum saat itu kami sedang memulai, jadi banyak hal yang memerlukan perhatian. Atau mungkin saja kami belum biasa dengan irama kerja.
Tetapi, tahun ini kami mengirim koran ke Balai Bahasa Pontianak untuk mengikuti lomba bahasa Indonesia media massa .
Aku merasa takjub karena Pontianak Pos adalah koran nasional. Head line dan tajuk yang dimuat di koran ini –dan itu yang dinilai para juri, adalah made ini Jawa Pos, yang ditarik oleh redaksi di sini. Siapapun tahu, Jawa Pos adalah koran besar. Redaktur di sana adalah para professional yang pasti kemampuannya bak langit dengan bumi dibandingkan kami di Tribune. Tribune kecil. Yang membuat besar Tribune, mungkin karena kami merasa besar..
Jadi aneh sekali kalau kami bisa mengalahkan Koran sebesar Jawa Pos. Kami merasa tersanjung. Pasti.
“Yang menilainya dosen senior dari FKIP Untan,” Dedy memberitahuku lagi. Dia menekankan pada senior untuk menunjukkan bahwa para juri tidak usah diragukan kredibelitasnya. Para juri menilai dengan objektif.
Aku tidak meragukan lagi.
“Dosen senior FKIP, Untan,” bisikku. Siapa yang tak kenal reputasi FKIP Untan. Walaupun aku tidak mengenal dosen-dosen di sana , namun, reputasi ini pasti didukung oleh dosen-dosen itu. Aku cukup mengenal Dekan FKIP Untan, Dr. Aswandi. Beberapa pejabat di sana juga aku kenal. Dahulu ada AR Muzammil yang kemudian menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar, ada Albert Rufinus, dosen sekaligus peneliti. Banyak lagi lainnya.
Beberapa hari kemudian aku kontak dengan Kepala Balai Bahasa Pontianak, Firman Susilo, M.Pd. Aku menyatakan terima kasih karena apresiasi Balai Bahasa terhadap Tribune. Dan, dalam komunikasi itu dia menyebutkan tiga nama dosen senior di FKIP yang menjadi penilai.
Suara Dedy terdengar lagi.
“Besok penghargaannya ya. Sudah dapat undangan ‘ kan ??,”
Aku berpaling pada H. Nur Iskandar, SP yang duduk di depan computer tidak jauh dari tempat dudukku.
“Nur, sudah ada undangannya?” aku bertanya. Aku memang biasa memanggilnya Nur atau Nur Is. Tidak bapak, atau abang. Maklum, umurku satu tahun lebih tua dari dia. Lagi, panggilan begitu bagiku menunjukkan lebih akrab dan natural.
“Sudah,” Nur Is, pimpinan kami di Borneo Tribune menjawab.
Aku menyampaikannya ke Dedy.
“Ya, sudah Ded,”
“Ok. Jumpa besok,”
***
Meraih penghargaan sebagai media berbahasa Indonesia terbaik –dibandingkan media lain. Jelas membanggakan kami. Banyak pihak yang memberikan apresiasi. Gubernur Cornelis, Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya, dan Sekda Kalbar Syakirman mengucapkan selamat. Mereka pasang iklan. Pemerintah Kota Singkawang juga mengucapkan selamat.
Kami juga menerima ucapan selamat dari tokoh Tionghoa, FX Asali. Asali mengirim ucapan lewat email pada hari Minggu.
“Kita harus pasang logo prestasi itu. Ini prestasi yang cukup prestisius,” usulan itu meluncur saja di ruang redaksi hari itu, setelah aku menerima telefon Dedy.
Semua setuju.
Soalnya kemudian, berapa lama. Satu hari, satu minggu, satu bulan, atau berapa lama.
Nur Is kemudian memutuskan logo itu dipasang selama satu bulan. Ada yang memberikan pertimbangan lain.
“Kita jadikan ini sebagai social control,” tambahnya.
Maksudnya, dengan memasang logo ini biar awak redaksi merasa terus terkontrol untuk menjaga kualitas bahasa yang digunakan. Agar jangan salah-salah. Jadi, selain ada kesan bangga, juga ada misi lain dari pencantuman logo itu.
Bang Fakun, kepala bagian pracetak diminta membuat logo itu..
Dan, seperti yang terlihat pada edisi terbitan 15 Juli, logo itu muncul. Muncul dengan warna merah yang cukup mencolok, di pojok kiri atas Tribune, tepat menutup huruf e. Aku tidak bertanya mengapa Bang Fakun meletakkan logo itu di posisi itu. Mengapa menutup huruf e. Mengapa tidak di atas tulisan Borneo Tribune, mengapa tidak menutup huruf B.
***
Memang menjaga bahasa agar bahasa tetap terjaga tidak mudah.. Redaksi menghadapi beberapa masalah. Pertama, kemampuan berbahasa wartawan dan redaktur tidak terlalu istimewa. Ilmu tentang bahasa Indonesia masih kurang. Memang pernah belajar –mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tetapi, pelajaran bahasa Indonesia lewat begitu saja. Tidak dianggap penting. Sewaktu kuliah yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa lulus ujian matakuliah Bahasa Indonesia. Tidak ada awak redaksi yang secara khusus belajar bahasa Indonesia sebagai disiplin. Nur Is, dan Hairul Mikrad, lulusan Fakultas Pertanian Untan Pontianak. Tanto Yakobus, lulusan Fisipol Untan Pontianak, AA Mering lulusan Fakultas Hukum Untan Pontianak, Muhlis, lulusan Publisistik, Universitas Moestafa Beragama, Jakarta, dan aku, lulusan Linguistik, Universiti Kebangsaan Malaysia. Kemampuan bahasa Indonesiaku malah hampir tidak diakui: Dalam rapat Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru STAIN Pontianak –kebetulan aku juga mengajar di sana, Pejabat STAIN menyerahkan tugas membuat soal tes bahasa Indonesia kepada Mariatul Kibtiyah – lulusan Bahasa Indonesia FKIP Untan, S-1. Menurut Pejabat itu, kemampuan Kibtiyah itu, di atas kemampuan aku. Malah pakku mengajar bahasa Indonesia juga pernah dipindahkan ke lulusan FKIP itu. Jadi, kami kemampuan berbahasa Indonesia awak di Tribune boleh dipukulrata sangat rendah.
Satu-satu yang kami lakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa adalah melalui pelatihan. Sewaktu merekrut wartawan Tribune gelombang pertama kami mengadakan pelatihan; selain pelatihan liputan juga pelatihan menulis. Include di situ menggunakan bahasa Indonesia.Ada kemajuan dari latihan itu. Paling tidak, wartawan menjadi ingat kembali apa yang sudah diketahui, dan perlahan tapi pasti mulai menerapkannya.
Pelatihan ini juga membuat redaktur belajar kembali biar nampak lebih menguasai materi dibandingkan peserta. Pelatihan ini membuat redaktur mulai agak sensitive terhadap penggunaan bahasa Indonesia .
Tetapi, masalahnya belum selesai. Bekerja di media adalah bekerja yang berlomba dengan waktu. Kami berpacu. Mengejar deadline. Pada awalnya deadline pukul 21.00 –sebenarnya formalnya 19.00. Lalu, deadlinenya berubah pukul 15.00, kadang molor sampai pukul 16.00.
Situasi ini membuat tegang. Ketegangan ini membuat kerja tidak maksimal. Perhatian kadang kala lebih terfokus pada isi, ketimbang bahasa. Huruf besar kecil, titik atau koma, pilihan kata, kadang-kadang tidak diperhatikan dengan lebih cermat. Itu di jajaran redaksi.
Di jajaran pra cetak, isu bahasa juga muncul. Bahkan kadang-kadang justru masalah terjadi pada bagian pracetak. Cara mereka menempatkan kata kadang kala hanya terfokus pada ruang dan artistik. Kalau ruang tidak memungkinkan pra cetak menempatkan judul pada satu baris, pra cetak harus menempatkan judul di baris berikutnya (baris kedua). Isunya adalah persambungan antara baris pertama dan kedua. Jika mengikut saja pada kemampuan computer, pemenggalan akan ikut pada pembagian jumlah karakter, tetapi, kalau pracettak mengerti bahasa Indonesia , penggalannya akan mengikuti kaedah bahasa Indonesia . Untunglah, dari 5 pracetak yang ada, 4 di antaranya – Bang Fakun, Bang Iwan, Sam Abu Bakar, Mbak Tika Ramadhani, dan Fahmi Ichwan pernah belajar pada Goergia Scott lay outer The New York Time. Mereka juga sudah pernah belajar dari Jhon Mohn, konsultan artistic Jawa Pos. asal Kanada. Jadi, kesadaran bahasa juga muncul seiring kesadaran tentang tata letak.
***
Tetapi, di balik hal teknis itu, secara teoritis, penggunaan bahasa Indonesia di media massa juga tidak mudah. Yang aku tahu, di kalangan para jurnalis ada aliran yang mengatakan ada bahasa Jurnalistik, bahasa yang berbeda dibandingkan bahasa lainnya. Bedanya, bahasa jurnalistik itu singkat, jelas dan padat.
Teori ini kerap kali digunakan oleh pekerja pers untuk membela diri ketika bahasa yang mereka gunakan dikritik. Termasuk oleh teman-teman di jajaran redaksi, dahulu. Ya, maklum, siapa sih yang mau disalahkan. Apalagi wartawan. Aku belum pernah lihat wartawan yang tidak ego.
Menurutku, teori ini justru menghambat penggunaan bahasa Indonesia di media. Teori ini juga membuat awak media tidak merasa cukup perlu belajar ‘lagi’ bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dan ironinya, ada di antara ahli bahasa Indonesia yang menyetujui teori ini. Padahal mereka ingin ada peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia .
Aku menilai begitu karena sejauh yang kulihat penjelasan teori bahasa jurnalistik sama saja dengan penjelasan tentang menulis yang baik dalam pelajaran bahasa Indonesia . Lihatlah teori-teori konstruksi kalimat, dll. Setiap pelajaran menulis dan penggunaan bahasa Indonesia pasti yang ditekankan adalah menggunakan bahasa yang jelas, singkat dan padat. Tidak boleh menggunakan bahasa yang ambigu, dll. Sangat umum.
Lagian, contoh bahasa media yang selalu ditampilkan adalah contoh-contoh bahasa yang jelas salah, yang orang media sendiri tertawa dengan kesalahan itu. Contoh yang diberikan dalam beberapa teori bahasa media adalah contoh yang tidak benar. Orang media yang mengerti bahasa lugas, tegas dan jelas, menghindari penggunaan bahasa media yang salah itu.
Aku pernah menyampaikan hal itu dengan narasumber nasional. Termasuk suatu ketika ketika ada nara sumber dalam pelatihan untuk redaktur yang diselenggarakan PWI Pusat.
“Itu pendapat saudara. Hak saudara untuk berpendapat begitu,” kata narasumber itu.
Aku hanya bisa mengangguk. Hak pribadi!
Ya, hak pribadi seperti itulah yang membuat kami, orang media tidak mau belajar. Kalau ada orang mengkritik bahasa yang kami gunakan, kami akan mengatakan:
“Itulah bahasa media. Anda tidak mengerti bahasa media,”
Lalu, kami tetap dengan bahasa kami. Kami mengubah dunia pikir masyarakat pembaca dengan bahasa kami. Terciptalah dunia nyata yang wujud berdasarkan kata-kata yang kami persembahkan. Tanpa, peduli benar atau salah.
Hingga kami pun tidak sadar pada tugas-tugas kami menjaga bahasa Indonesia .
Diposting oleh Yusriadi di 23.16 1 komentar
Label: Bahasa Media, Tribune
Senin, 07 Juli 2008
Karya Yusriadi
Buku yang diterbitkan:
Orang Embau (Bersama Hermansyah, STAIN Press, 2003); Dialek Melayu Ulu Kapuas (Dewan Bahasa dan Pustaka, KL, 2007); Kalbar Kontemporer (STAIN Press, 2007); Kalbar Kontemporer 1 (STAIN Press, 2008).
Islam dan Etnisitas di Kalimantan Barat (Editor bersama Dedy Ari Asfar dan Hermansyah, 2005); Budaya Melayu di Kalimantan Barat (Editor bersama Dedy Ari Asfar dan Hermansyah, 2006); Dakwah Islam di Kalimantan Barat (Editor bersama Patmawati, STAIN Press 2006); Dayak Islam di Kalimantan Barat (Editor bersama Fahmi Ichwan, STAIN Press 2007); Kelompok Ibanik di Kalbar (Editor bersama Chong Shin dan Dedy Ari Asfar, STAIN Press 2007); Perjalanan ke Pedalaman Kalbar (Editor, STAIN Press 2007); Opini dari Tribune (Editor, STAIN Press 2007); Opini dari Tribune 1 (Editor, STAIN Press, 2008); Islam dan Etnisitas di Kalimantan Barat (Editor bersama Ambaryani, STAIN Press, 2008).
Diposting oleh Yusriadi di 01.58 1 komentar
Label: Tentang Yusriadi
