Oleh: Yusriadi
“Benarkah 80 persen mahasiswa S-2 Untan yang pejabat, tesisnya dibuatkan orang lain?”
Pertanyaan itu mengusik saya setelah membaca tulisan Rosadi Jamani di Harian Equator Pontianak, hari minggu, 2 minggu lalu. Dalam tulisan itu Rosadi menyebutkan, menurut pemerhatian–dan menurut perasaan dia, 80 persen mahasiswa S-2 Untan yang pejabat tesisnya dibuatkan orang. Begitu juga tugas-tugas kuliah mereka.
Walaupun saya tidak ingin percaya begitu saja dengan dugaan memalukan ini, saya kira, Rosadi tidak asal sebut. Rosadi kuliah di Untan di program S-2 Magister Ilmu Sosial. Jadi, dalam konteks ini, dia orang Untan juga. Dia bisa mengatakan begitu karena tentu dia melihat orang-orang melakukan itu. Mungkin termasuk teman-teman satu angkatannya.
Ya, ini tentu sesuatu yang luar biasa. Saya, bukan orang Untan. Tetapi, saya merasa malu membaca apa yang disebutkan dalam tulisan itu. Malu karena begitu parahkah keadaan akademik di kampus kebanggaan kita orang Kalbar.
Kalau saya orang Untan, pasti saya sudah bingkas. Pasti saya akan protes. Pasti saya akan mendorong komite etik di Untan untuk mengusut soal ini. Pasti saya akan minta informasi ini ditindaklanjuti. Mana mahasiswa yang tesisnya dibuatkan, gelarnya dicabut. Mana dosen yang terlibat, diberikan sanksi.
Saya berpikir, mana mungkin Untan akan mencapai kecemerlangan akademik jika situasi seperti ini dibiarkan. Ini bukan lagi soal mutu. Tetapi, soal kejujuran. Ini soal etika. Ini soal moral di kampus Untan.
Nah, beberapa hari lalu, dosen Untan, Turiman M.Hum muncul di redaksi Borneo Tribune. Turiman dikenal sebagai pengamat hukum. Dia mengajar program S-2. Kalau sudah bicara hukum, terutama hukum tata negara, dia jagonya. Kalau sudah bicara dalil Al-Quran, meletop, kata orang Melayu Pontianak. Maksudnya, kalau sudah bicara Al-Quran dalam konteks matematikan Al-Quran, dia hebat. Kami di redaksi Borneo Tribune sering dibuat terpana oleh kelebihannya itu.
Nah, ketika dia muncul di redaksi saya tanya lagi soal itu.
“Bang, kemarin Rosadi tulis, menurut dugaannya 80 persen mahasiswa Untan yang pejabat, tesisnya dibuatkan orang. Gimana tuh menurut Abang?”
“Ya, masuk akal. Saya saja sering menemukan tugas mahasiswa copy paste,”
“Benarlah Bang,”
“Ya, kadang segini,”
Turiman memberi contoh dengan jempol dan telunjuk tangan kanannya untuk menunjukkan tebalnya tugas-tugas copy paste itu.
Saya terdiam sambil memperhatikan Bang Turiman. Saya takjub. Sungguh takjub dengan hal seperti ini. Saya bayangkan dahulu dosen saya Pak Dwi Surya Atmaja pernah memanggil saya karena dia melihat tugas saya dan seorang teman hampir sama. Pak Dwi mengusutnya. Saya tidak mau menjawab pertanyaan beliau, siapa yang menjiplak tugas. Kalau saya jawab, teman saya akan menanggung akibat. Karena saya tidak jawab, nilai tugas dibagi dua. Tetapi, itu pelajaran: saya hampir tidak pernah meminjamkan tugas saya kepada orang lain setelah kejadian itu. Jera. Saya tahu, niat Pak Dwi baik.
Lalu, ketika saya mengajar, saya melakukan hal itu. Jangan harap ada mahasiswa yang bisa menyerahkan tugas copy paste. Pasti saya usut. Yang ketahuan, dapat teguran dan membuat tugas baru. Kejujuran harus dimulai dari awal. Bagaimana mungkin kejujuran tumbuh dari orang-orang yang memulai dari ketidakjujuran.
Karena itu, rasanya saya ingin mengirim sms kepada rektor Untan untuk mengingatkan soal itu – apakah bapak sudah membaca tulisan Rosadi, dll. Rasanya, beliau harus memperhatikan soal-soal seperti ini. Tetapi, tidak. Saya tidak berani, walau kepingin.
Lalu, saya pikir-pikir, lebih baik saya mengurus urusan sendiri. Masih banyak kerja lain.
Kamis, 18 Desember 2008
Kejujuran Intelektual di Untan
Diposting oleh Yusriadi di 03.57 0 komentar
Label: Suara Enggang, Tentang Yusriadi, Untan Pontianak
Jumat, 05 Desember 2008
Seminar PSBMB - FLEGT: Mencari Kearifan Lokal, Belajar Menyelesaikan Konflik
Oleh: Yusriadi
Kita harus terus menggali kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat. Pengetahuan mengenai kearifan masyarakat membantu kita memahami masyarakat, sekaligus membantu kita menyelesaikan persoalan yang ada di tengah masyarakat.
Itulah antara lain point penting yang terungkap dalam seminar reguler “Resolusi Konflik Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Kearifan Lokal” yang digelar bersama antara EC-Indonesia FLEGT Support Project – Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo (PSBMB) di Ruang Nadwah, Kampus STAIN Pontianak (21-22/11/2008) kemarin.
Seminar ini menampilkan 19 pembicara. Albertus, MA tentang Spiral Kekerasan. Ismail Ruslan, M.Si. tentang Kearifan Lokal Masyarakat Kapuas Hulu dalam Pengelolaan Perikanan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Didi Darmadi, M.A tentang Uma: Sebuah Kearifan Lokal Terhadap Alam. Dedy Ari Asfar, M.A. tentang Melembagakan Mitos Tembawang sebagai Upaya Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Kearifan Lokal: Catatan dari Masyarakat Iban, Kapuas Hulu. Yusriadi tentang Tungu dalam Konteks Hubungan Manusia dan Alam: Laporan dari Riam Panjang.
Dr. Hermansyah tentang Konflik berbasiskan Sumber Daya Alam dalam Kearifan Lokal Masyarakat Kapuas Hulu, Kalbar. Clarry Sada, M.Pd tentang Konservasi SDA Melalui Nilai-nilai Mitos: Sebuah Refleksi Nilai Etnisitas. Ibrahim, M.A. tentang Kearifan dalam Tradisi Peladangan. Laurensius Salem, M.Pd. tentang Sistem Peladangan dan Upacara Ritual – Studi Kasus pada Masyarakat Dayak Simpakng. Agustinus, S. Pd. tentang Analisis Pemicu Konflik Etnik di Kalbar. Ir. Abang Sukandar tentang Solusi Penyelesaian Konflik dalam Penggunaan Lahan. Doni Maja Perdana, S.Hut tentang Resolusi Konflik SDA di Kabupaten Sintang. Dedy Armayadi, S.Hut tentang Nilai-nilai Budaya Subsuku Dayak Desa di Kecamatan Kelam Permai yang Mendukung Perdamaian. Giring, M.Si tentang Tantangan dan Peluang Resolusi Konflik PSDA Berbasis Kearifan Lokal.
Hardianti tentang Pemali Musim Pangan dalam Masyarakat Bugis: Sebuah Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup. Ambaryani tentang Kearifan Lokal Masyarakat Jawa dalam Mengelola Sungai di Satai. Dwi Syafrianti tentang Kearifan Lokal Masyarakat Adat dalam Pengelolaan SDA sebagau Upaya Menerjemahkan Keadilan Sosial. Marisa tentang Patang Larang dalam Masyarakat Sambas. Nur Iskandar, S.P tentang Berita Illegal Logging dalam Pendekatan Content Analysis.
Diposting oleh Yusriadi di 23.25 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Tentang Yusriadi
Spot Jantung di Angkutan Umum
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
“Bis terbakar”
Dug!
Saya terkejut. Badan yang semula menyandar di kursi, saya tegakkan. Secara replek, badan saya menjorong ke depan. Ke arah sopir. Saya ingin mendengar informasi lebih lengkap.
Sebelumnya saya tidur ayam –tidur tapi tidak nyenyak di kursi nomor 4 tepat di belakang sopir.
“Apa?”
“Ada bis terbakar,” sahut sopir.
Bis bergerak perlahan.
Saya menjulur kepala lewat jendela bis. Ya, di seberang jalan ada beberapa mobil berhenti –beberapa di antaranya truk.
Di sana saya lihat ada bekas ban terbakar. Bau sangit menyeruak.
“Bis Mudah ya,” teriak sopir pada temannya yang saat itu duduk di kursi nomor 1 dan 2.
“Bis ABM. Kalau ndak Pontianak-Sintang, Pontianak – Nanga Pinoh,” katanya.
Saya mengangguk saja. Memang tidak tahu.
“Agak-agak karena apa ya?” tanya saya lagi.
“Mungkin AC,” katanya.
Pikiran saya berkecamuk. Saya suka menumpang bus ber-AC dibandingkan tidak. Naik bus ber-AC bisa terhindar dari debu, karena tak ada jendela yang terbuka. Di bus ber-AC kita juga terhindar dari asap rokok, karena biasanya sopir dan penumpang tahu diri tidak merokok dalam bus ini. Sesekali kalau naik bus saja saya ketemu sopir yang nekat merokok. Biar tidak merebak ke dalam ruangan, kaca di samping kanannya dibuka lebar. Asap rokok yang dihembuskannya langsung ke luar bus, tak sempat mengharu biru penumpang. Jadi, masih aman juga.
Bus ber-AC agak lapang. Kursi yang di dalamnya agak jarang. Kadang masih bisa mengunjur bila sandarannya dimundurkan sedikit. Tidak ada juga kursi cadangan dalam bus ber-AC.
Tentu untuk semua kelebihan itu, penumpang harus membayar sedikit mahal. Sewajarnyalah.
Selain itu, bus ber-AC biasanya relatif bersih terawat. Kursinya jarang ada yang kumal. Baunya kadang juga agak wangi. Bandingkan dengan bus biasa, termasuk yang saya tumpang malam itu dalam perjalanan dari Putussibau ke Pontianak.
Baunya minta ampun. Kadang ada bau rokok. Kadang tercium aroma asam, bau muntahan. Kadang tercium aroma ayam (bau manuk), kata orang kampung. Kumalnya tak usah disebut. Tas kami, sudah tebal oleh debu jalan yang masuk lewat pintu dan jendela yang terbuka. Alas sandaran kursi sudah retak-retak dan retakan itu membentuk garis, hitam.
“Ada yang mati ndak?”
Saya mengajukan pertanyaan bodoh. Bah, mana tahu mereka. ‘kan sama-sama kami dalam bus, bukannya menyaksikan kejadian. Tetapi replek saja pertanyaan ini muncul. Menurut sopir biasanya kebakaran bus yang terjadi karena AC tidak terjadi tiba-tiba. Didahului asap. Masih ada waktu penumpang untuk keluar sebelum benar-benar hangus.
Tetapi, asap juga bukan tidak mungkin membunuh. Jika terhidu asap seseorang bisa lemas dan matilah dia.
***
Saya membayangkan kondisi malam itu. Jika bus yang saya tumpangi terbakar, mungkin saya akan menjadi korban. Kalau tidak mati retung, hangus sedikit mungkin. Sebab pada posisi saya duduk banyak barang dan saya pasti tidak mudah keluar dari tumpukan barang tersebut. Lagi, kaki saya tidak nyaman sebab sebelumnya selama tujuh jam saya duduk di kursi cadangan. Kursi plastik. Pantat rasanya tepos. Punggung pegal-pegal karena tidak bisa menyandar. Menyumpah karena nasib malang ini, saya sudah tidak sanggup. Alahai. Nikmati sajalah.
Saya melihat kondisi bus yang ditumpangi. Kalau tiba-tiba terbakar mungkin akan ada yang mati. Sebab pintu tidak terbuka secara otomatis. Pintu bus sama dengan pintu rumah kayu – dikunci dengan slot besi. Mau membukanya susah minta ampun. Belum lagi di depan pintu diletakkan ban serep dan di atasnya diletakkan kursi cadangan (sebenarnya bantalan kursi) dari busa yang bisa dipakai baring. Slot besi digunakan karena kunci lama sudah tidak dapat digunakan lagi, keropos dimakan karat.
Pengalaman saya, apabila pintu ini sudah dikunci, untuk membukanya diperlukan waktu beberapa menit. Kursi cadangan harus disingkirkan lebih dahulu baru kemudian slot ditarik dan pintu bus yang berlipat harus ditarik. Baik kalau di belakang pintu tidak ada barang. Kalau ada barang waktu yang diperlukan bisa lebih lama lagi.
Saya juga tidak melihat pintu darurat di bus. Biasanya di tempat yang standar keselamatan terpantau, ada pintu darurat di bagian tengah atau belakang. Pintu ini untuk memudahkan penumpang keluar jika ada hal-hal darurat. Penumpang bisa keluar lebih cepat karena tidak perlu semua menumpuk pada satu atau dua pintu. Setahu saya ada juga bus dahulunya yang hanya pakai satu pintu saja.
Pilihannya memang dengan memecahkan kaca jendela. Tetapi apakah itu mudah? Kadang ada besi yang dipasang di tengah jendela. Kepala orang dewasa tidak akan bisa telus. Setakat yang saya tahu besi itu menjadi tempat penumpang yang diduduk di dekatnya berpegangan. Mungkin juga untuk menghindari masuknya pencuri ke dalam mobil melalui jendela.
Tetapi, dalam keadaan darurat besi ini bisa menjadi hambatan penumpang keluar melalui jendela, sekalipun penumpang bisa memecahkan kaca atau menggeser kaca yang mudah buka.
Di bus juga tidak ada tabung pemadam api. Jadi saya membayangkan jika bus terbakar hampir tidak ada alternatif untuk memadamkan api kecuali seperti memadamkan api yang membakar rumah warga di dalam gang. Air diambil pakai ember baru disiramkan. Mana dapat ember di bus? Mungkin pilihannya menggunakan kayu (ranting) yang dipukul-pukul ke sumber api.
Kalaupun ada racun api, siapa yang bisa menggunakannya? Saya sempat bertanya pada seorang kondektur apakah mereka pernah mendapatkan pembekalan untuk menjaga keselamatan penumpang? Dia menjawab, tidak pernah. Seorang kondektur lebih banyak bekerja berdasarkan apa yang dipikirnya patut dilakukan, sembari mengikuti perintah sopir, membantu penumpang.
Jadi kalau memang ada kejadian, mereka hanya membantu berdasarkan feeling. Apa yang patut dilakukan, dilakukan. Kalau mereka pikir tak patut, mereka mungkin tidak melakukan apa-apa. Mau mane duli juga tidak apa-apa! Tinggal penumpang yang panik sendiri. Mau jantungan, mau tidak, terserah!
Diposting oleh Yusriadi di 23.22 0 komentar
Label: Cerita, Perjalanan, Tentang Yusriadi
Rabu, 03 Desember 2008
Jalan Lintas Selatan: JALAN YANG MENDATANGKAN BERKAH, JUGA BENCANA
Oleh Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Jalan Lintas Selatan membawa berkah bagi masyarakat pedalaman Kapuas Hulu. Banyak kemudahan yang diperoleh sejak poros penghubung Putussibau – Sintang ini dibangun. Lalu lintas menjadi lancar. Namun, jalan ini juga membawa kabar mengerikan. Satu per satu nyawa melayang di jalan yang mulai ramai itu.
Awal 1980-an – tepatnya saya tidak ingat lagi. Ada orang Jakarta datang ke kampung kami, Riam Panjang. Dia menginap di rumah kami –kebetulan bapak kepala kampung. Beberapa malam.
Bapaknya saya, Zainal Abidin, memberi tahu nama tamu yang datang itu: Ir. Bachtiar Sirait –belasan tahun kemudian saya bertemu dia lagi: dia datang ke Kalbar sebagai staf ahli Menteri Pekerjaan Umum.
Kami menyambut Pak Bachtiar sebagai tamu yang dihormati. Maklum, dia orang kota yang datang ke kampung kami yang terpencil.
Kami menyambut beliau dengan istimewa karena tugasnya: merintis jalan raya. Jalan raya itu, begitu yang dibicarakan masyarakat waktu itu, akan menghubungkan kampung-kampung kami di hulu sungai dengan kota.
“Kita urang ulu bisa ili’ ke kota, lewat jalan itu,”
“Nanti ada sepeda motor datang,”
“Ada terak –truck,”
Kehadiran jalan membawa masyarakat pada impian tentang masa depan yang indah. Pada dunia yang lain dibandingkan dunia sehari-hari mereka. Pada kehidupan orang kota. Pada kemajuan.
Impian itu disandarkan pada Pak Bachtiar yang saat itu sedang merintis jalan impian tersebut.
Selama di kampung kami, Pak Bachtiar pergi pagi pulang sore. Mula-mula dia berjalan ke arah selatan kampung, tepatnya ke arah Menendang. Lalu, beberapa hari kemudian dia bergerak ke arah utara, Nanga Jajang.
Dia berjalan dengan gagah. Dia memakai sepatu karet –sepatu bot. Kesan kami seperti sepatu koboi. Orang kampung waktu itu memakai sepatu kulit –tidak ada alas kaki. Dia membawa peralatan –yang saya tidak tahu namanya.
“Jalan ini tidak lama lagi akan jadi. Setelah dirintis, nanti akan datang alat untuk mengerjakannya,”
Begitu kata Pak Bachtiar. Saya mendengar hal itu saat dia memberitahu bapak. Tidak ada bayangan alat apa yang beliau maksudkan. Juga tidak ada bayangan jalan seperti apa yang akan jadi kemudian.
Pikiran saya terlalu sempit untuk membayangkan jalan raya di antara pokok-pokok tengkawang di hilir kampung –arah Sungai Pengkadan, sungai utama di kampung kami. Alat apa yang bisa merobohkan pokok yang besarnya tiga pelukan orang dewasa, yang tinggi menjulang.
Saya juga tidak mampu membayangkan bukit-bukit kecil yang mengelilingi kampung bisa dilewati sepeda motor dan mobil. Bisakah motor dan mobil melalui akar-akar yang besar, dan sungai-sungai yang lebar? Kalau kuda mungkin tidak ada masalah. Saya sering menonton film koboi. Kuda-kuda tunggangan para koboi bisa lewat di berbagai medan.
***
Beberapa tahun kemudian alat yang disebut Pak Bachtiar datang juga. Suaranya menggelegar. Masyarakat menyambut kedatangan alat-alat itu dengan takut-takut. Tetapi, penasaran. Lalu, semua orang menyempatkan diri menonton pekerja dari jauh. Siapa yang mendekat akan diteriaki oleh orang kampung yang lain.
“Hoi, jangan dekat,”
“Apa mau matikah?”
Alat-alat itu orang kampung diperkenalkan dengan nama doser, ssonuk, kepitin, gleder, bekerja sepanjang siang. Pohon-pohon besar dirobohkan. Batang-batang pohon yang melintang didorong ke pinggir. Bukit-bukit kecil diseruduknya. Lembah-lembag ditutup.
Jalan lempang mulai nampak. Luasnya, seperti padang bola. Masyarakat takjub. Keajaiban.
Setelah itu, secara bertahap mobil-mobil dan motor-motor pekerja mulai masuk. Truk-truk mengangkut tanah untuk mengangkut tanah-tanah dari bukit yang tinggi. Tanah itu kemudian digunakan untuk menimbus bagian yang rendah. Sesekali orang kampung menumpang truk itu. Pengalaman yang mengasyikkan. Saya ingat orang-orang yang sudah naik truk atau naik alat berat bercerita tak putus-putus tentang pengalaman pertama mereka.
Waktu berlalu. Di tahun 1990-an jalan yang kemudian disebut Jalan Lintas Selatan itu mulai diaspal. Jembatan dibangun di atas sungai-sungai yang memotong jalan.
Lalu lintas mulai ramai. Sudah ada bus jurusan Pontianak – Putussibau yang melayani rute itu. Dari Riam Panjang ke Pontianak lebih kurang 14 jam. Bandingkan sebelumnya dari Riam Panjang ke Pontianak perlu waktu empat hari kalau lancar. Rincian perjalannya: dari Riam Panjang ke Jongkong –ibukota kecamatan perlu waktu satu hari dengan perahu tempel (speedboat). Bermalam di Jongkong menunggu motor tambang jurusan Pontianak- Putussibau. Dari Jongkong ke Pontianak lebih kurang tiga hari, langsung. Kadang, bagi yang ingin cepat, singgah di Sintang. Dari Sintang ke Pontianak naik bus. Waktu yang diperlukan kurang lebih 8-10 jam.
Lalu lintas yang sulit sebelum tahun 1990-an menyebabkan orang Riam Panjang –dan orang-orang di kampung lain terbelakang. Pendidikan terbatas. Pengetahuan terbatas. Pengalaman terbatas.
Saya ingat dahulu 80-an awal betapa susahnya orang Riam Panjang kalau mau melanjutkan sekolah menengah. Sekolah menengah pertama bisa dilanjutkan di Jongkong. Tetapi, untuk sekolah menengah atas belum ada hingga di Jongkong didirikan Madrasah Aliyah Swasta. Orang yang ingin melanjutkan sekolah pilihannya ke Pontianak atau Putussibau. Jauh sekali. Orang tua sangat susah mengirimkan biaya sekolah anak. Karena belum tentu ada orang Riam Panjang sebulan sekali ke Pontianak atau Putussibau. Yang beruntung biasanya bila ada keluarga di Pontianak atau Putussibau yang bisa dijadikan tempat menumpang bermalam, dan menyerahkan nasib bila sewaktu-waktu kiriman beras dari kampung belum sampai.
Kesulitan yang tidak mungkin dilupakan adalah ketika di tahun 1980-an terjadi kemarau panjang. Saat itu kami harus berjalan kaki dari Riam Panjang ke Nanga Sengkalu –kampung yang tidak jauh dari Jongkong untuk mengambil beras. Kami berjalan kaki selama 3,5 jam. Beras tidak bisa diangkut dengan sampan melalui sungai yang mengering. Jadi harus dipikul.
Pembangunan jalan darat ini membuat kampung menjadi terbuka. Dan memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Tidak ada lagi cerita orang kampung kehabisan beras sekalipun musim kemarau panjang. Tak ada lagi cerita jalan kaki berjam-jam.
Orang kampung mulai sering ke kota. Sebaliknya orang luar juga masuk. Semakin banyak orang Riam Panjang yang sekolah. Pengiriman uang semakin mudah.
Perubahan drastis terjadi dalam waktu yang relatif singkat karena kehadiran Jalan Lintas Selatan itu. Bersambung.
***
“Ada dengar bus tabrakan ndak? Bis Sentosa tabrakan dengan truk di sekitar Silat. Ada orang Riam Panjang ningal,”
Pagi itu, Rabu, dua minggu lalu, Ibrahim, sepupu saya memberitahu. Saya bertemu dia di ruang Malay Corner, Kampus STAIN Pontianak, tempat kami ‘ngepos’. Ibrahim baru kembali dari Nanga Jajang. Dia balik kampung.
“Tau, siapa?”
“Tak sempat tanya. Hanya dengar sepintas,”
Saya penasaran. Siapa orang Riam Panjang yang meninggal dalam tabrakan itu. Saya telepon Adi, adik ipar saya, di kampung. Saya duga pasti Adi tahu siapa yang meninggal itu.
Nomor yang saya hubungi tidak diangkat. Putus. Saya menunggu.
Sesaat kemudian Adi menghubungi saya.
“Ada apa Ba?”
Dia memanggil saya Aba.
“Katanya ada bus tabrakan. Siapa orang Riam Panjang yang ningal?,”
“Auk. Ada. Bis Santosa. Yang ningal Muk Erun. Sentua magang,”
“Heh, Muk Erun?!”
“Innalillahiwainnailaihi rajiunnnn,”
Saya terdiam. Saya kenal Muk Erun. Masih terhitung keluarga. Sepupu emak saya. Orang tua Muk Erun dan Emak, saudara.
Muk Erun jauh lebih muda dari Emak. Umurnya 40-an. Waktu dia kawin saya masih kecil. Tapi saya ingat pernikahan mereka. Saya menonton. Muk Erun menikah dengan Pak Syafrin. Pernikahannya dahulu ramai. Dilaksanakan bersamaan dengan dua pasang pengantin lain. Jadi bayangkan 3 pasang pengantin menikah dalam satu malam.
Setelah menikah, Muk Erun dan Pak Syafrin merintis usaha dagang. Cukup maju.
Dagang ini yang membuat dia lebih sering ke Pontianak. Entah dengan truk sendiri, atau dengan bus. Tapi, saya tidak tahu apakah kemarin dia pergi ke Pontianak dalam urusan bisnis.
Kematian Muk Erun dalam kecelakaan lalu lintas, bukan kematian pertama di jalan raya di Lintas Selatan ini. Banyak.
Pada awal pembangunan, seorang pekerja jalan, Pak Samiran tewas. Dia tewas dalam kecelakaan di tanjakan panjang dekat Nanga Jajang. Sampai hari ini, tanjakan itu dinamakan orang Bukit Semiran. Di tanjakan yang sama, Dudung, pekerja jalan juga tewas. Dudung terjepit oleh kendaraan yang dioperasikannya.
Di tempat yang lain, dekat Nanga Tepuai, ibukota kecamatan Hulu Gurung, seorang anak muda, Anus, namanya, tewas.
Anus anak Pak Bakar. Saya mengenal dia sewaktu saya sekolah di Jongkong. Tidak akrab. Kami tidak sebaya. Anus beberapa tahun lebih muda. Tetapi kami sering main sepakbola. Kadang satu tim, kadang juga jadi lawan.
Sejak saya ke Pontianak, saya tidak pernah bertemu dengan dia. Lalu, tiba-tiba saya mendengar Anus meninggal. Motor yang dikendarainya menabrak jembatan tidak jauh dari Nanga Tepuai itu.
Sesekali kalau kebetulan lewat jembatan besi itu saya ingat Anus. Anak muda yang meninggal di jalan Lintas Selatan itu.
Saya juga ingat As, teman main sewaktu kami di Jongkong. As sangat dekat dengan Sri Buti, adik saya. Kebetulan lanting –rumah rakit keluarga As di tebing sungai persis dekat rumah kami. Kalau air sungai Embau sedang pasang, lanting akan sejajar dengan rumah, dapur kami dan keluarga As jadi sangat dekat. Bisa saling omong dari pintu dapur, kata orang.
As meninggal di tikungan tajam di Riam Panjang beberapa tahun lalu. Motor yang ditumpanginya slip. Dia terlempar. Kepalanya terbanting. Temannya yang membawa motor, luka-luka, tapi selamat.
Tidak jauh dari kampung Riam Panjang, di tempat yang orang kampung sebut Menua’, juga pernah terjadi kecelakaan. Bus dari Putussibau menabrak jembatan. Saya menyaksikan orang berdarah-darah. Ada yang tertancap kaca. Ada yang mukanya lebam. Ada yang patah tulang. Mengerikan sekali. Korban-korban diangkut ke Puskesmas Riam Panjang –yang waktu itu ada di tengah kampung. Mereka diberikan pertolongan pertama oleh petugas kesehatan di sana.
***
Banyak orang terkorban di jalan yang diimpikan itu. Puluhan. Pak Samiran, dan yang lain itu adalah sekadar contoh.
Dan, pasti, korbannya akan terus bertambah. Sikap pengguna jalan, pemilik kendaraan, bersebahat membuat nyawa kadang-kadang seperti tak bernilai.
Jalan yang bagus sekarang ini membuat orang lebih cemas. Kecepatan kendaraan sekarang kendaraan gila-gilaan. 100 kilometer per jam. Tikungan banyak. Tanjakan banyak. Tanda jalan tidak semuanya ada. Kendaraan juga tidak selalu berfungsi baik: remnya yang tidak tajir, ban yang mulai gundul, dan lain-lain.
Saya jadi teringat betapa mengerikan dahulu ketika saya menumpang bus pulang kampung. Bus yang saya tumpangi dipandu oleh hanya satu sopir. Tidak ada sopir cadangan. Padahal jarak tempuh belasan jam. Sopir menjadi seperti robot. Seperti mesin yang tidak bisa capek. Kalau capek, bus berhenti sebentar. Sopir tidur.
Tidak heran beberapa sopir harus menjaga staminanya dengan jenis-jenis minuman tertentu, sebutnya misalnya extrajos dan minuman keras.
Belum lagi isi bus yang kadang melebihi kapasitas. Bus yang seharusnya memuat 28 penumpang, diisi sampai lebih 30-40 penumpang. Tak cukup kursi yang ada, penumpang diselitkan di lorong. Kadang penumpang berdiri, bergelantungan. Sesekali penumpang duduk di kap bis, di atas, karena di dalam sudah penuh.
Memang suka sama suka. Bus suka karena mendapat uang dari penumpang. Penumpang suka karena memperoleh tumpangan.
Pemilik bus suka memakai satu sopir saja, ketimbang sopir cadangan karena tambah sopir pasti tambah pengeluaran mereka.
Mereka, penumpang, sopir dan pemilik bus, kurang memikirkan keselamatan bersama.
Kesadaran tentang keselamatan selalunya muncul setelah ada kecelakaan. Penyesalan selalu muncul belakangan.
Malangnya, pemerintah juga tidak cukup peduli pada situasi itu. Pengawasan kendaraan hampir tidak dilakukan. Sepanjang saya mengikuti perjalanan bus, belum pernah saya lihat petugas angkutan jalan –Dinas Perhubungan, memberikan peringatan kepada bus yang penumpangnya melebihi kapasitas. Belum pernah dengar ada peringatan disampaikan kepada bus yang tidak mempunyai sopir cadangan. Bahkan tidak juga untuk kendaraan yang habis masa uji kirnya.
Sikap pemerintah, sikap pengguna jalan, sikap pemilik kendaraan, adalah kabar buruk. Kabar yang mengerikan. Petanda akan banyak lagi jiwa orang yang terkorban di jalan Lintas Selatan. Sesuatu yang menyajikan ironi.
Diposting oleh Yusriadi di 00.34 0 komentar
Label: Lintas Selatan, Tentang Yusriadi
Senin, 17 November 2008
“Hati-hati, Ini Daerah Perang”
Oleh Yusriadi
“Kalian harus hati-hati dalam membuat liputan. Ini daerah perang”,
Pesan Andreas Harsono memukau saya dan 19 peserta pelatihan Narative Reporting yang dilaksanakan Tribune Institute bekerja sama dengan Yayasan Pantau, EC-Flegt, Eka Tjipta Foundation, Borneo Tribune dan Hotel Peony, di Hotel Peony, Jalan Gajahmada Pontianak.
Andreas adalah pelatih dalam kursus itu. Dia pernah membuat liputan mendalam terhadap konflik di Gang 17 Pontianak. Tulisan itu dimuat di Gatra beberapa bulan lalu.
Hari itu, hari Kamis (13/11). Andreas menjelaskan soal keragaman news room. Andreas mengingatkan keragaman yang ada di ruang redaksi dan di lingkungan sekitar ruang redaksi. Maksudnya di Pontianak dan Kalbar.
Pontianak memiliki komunitas yang beragam. Ada Melayu. Ada Tionghoa. Ada Madura. Ada Dayak. Dll. Masing-masing komunitas itu mesti dipahami sosial budayanya.
“Tidak bisa sembarangan,” ingat Andreas.
Dia mengingatkan soal identitas yang mungkin akan mempengaruhi liputan dan menimbulkan bias. Saat membuat liputan sebaiknya identitas itu ditinggalkan di rumah. Entah itu identitas agama, identitas etnis, dan sejenisnya.
Andreas juga mengingatkan liputan-liputan konflik harus berdasarkan sumber pertama. Wartawan harus sampai pada titik konflik. Harus mendapatkan informasi mengenai kejadian dari orang yang terlibat langsung. Baik pelaku maupun korban.
Lalu dia mengutip pendapat J. Davidson, ilmuan yang meneliti konflik di Kalbar. Ilmuan ini berkesimpulan media ikut bertanggung jawab terhadap konflik yang terjadi di Kalbar.
Saya mencatat dengan huruf besar pernyataan ini. Ya, saya sependapat. Media memang harus bertanggung jawab. Paling tidak secara moral.
Media adalah tempat masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan seharusnya, hanya informasi yang dapat dipertanggungjawabkan sajalah yang ditulis media.
Tetapi, saya jadi teringat keributan di Pontianak tahun 2000. Waktu itu saya merasakan sendiri bagaimana tidak mudahnya membuat berita yang memuaskan. Kerap kali wartawan tidak bisa masuk ke titik konflik. Ada cerita Nur Is, wartawan yang sekarang menjadi Pimpinan Redaksi Borneo Tribune, disandera. Cukup panjang cerita dia membebaskan diri. Entah berapa panjang doa dipanjatkan.
Ada juga cerita Nanang –saya tidak tahu di mana dia sekarang. Nanang sempat dikalungi senjata tajam. Sempat panas dingin. Untung selamat.
Karena itu, agak maklum, jurnalis kerap kali hanya mendengar cerita dari sumber polisi, atau dari sumber kedua dan ketiga. Sumber di lingkaran dua adalah sumber yang mendengar saja. Sedangkan yang di lingkaran tiga adalah orang yang mendengar dari orang yang mendengar. Tetapi, ini tidak bisa dibenarkan.
Kerap kali teman-teman menggunakan rujukan pakar untuk menanggapi konflik yang sedang terjadi. Padahal, seperti dikatakan Andreas, pakar itu sama sekali tidak pernah melakukan penelitian terkait komunitas dan persoalan yang sedang terjadi. Ya, tiba-tiba memang banyak orang yang disebut pakar. Saya akui, saya pun kerap kali risih dengan label yang diberikan teman-teman tentang pakar itu.
Seperti juga, saya rasa risih karena kawan-kawan kerap menobatkan seseorang sebagai tokoh. Sebab sering kali yang saya dengar tokoh-tokoh itu justru termasuk orang yang berkepentingan dengan komentar-komentar yang mereka lontarkan.
Kini, Andreas mengingatkan hal itu. Saya berharap mudah-mudahan ada perubahan. Setidaknya semakin banyak yang sadar mengenai kedudukan pakar dan tokoh dalam konflik.
Setidaknya, semakin banyak orang yang sadar untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi di kemudian hari di Pontianak dan di Kalbar. Kita bosan dengan konflik. Kita mau damai selalu.
Diposting oleh Yusriadi di 01.51 0 komentar
Label: Menulis, Pontianak, Suara Enggang
Merintis Jalan Keabadian: Narative Reporting di Pontianak
Oleh: Yusriadi
Hari itu, lebih kurang dua minggu lalu. Nur Is memberitahu, ada pelatihan Narative Reporting yang akan diselenggarakan di Pontianak. Kerjasama dengan Yayasan Pantau. Mas Andreas datang.
“Bang Yus didaftarkan. Ada Bang Wito. Ada Mbak Dwi,”
Bang Wito adalah panggilan untuk WW. Suwito, Direktur Utama Borneo Tribune Pontianak. Dia adalah pengacara terkenal di Pontianak. Sedangkan Mbak Dwi, dia adalah ketua Yayasan Tribune Institut.
Aku mengangguk.
Pelatihan di Pontianak. Aku ada waktu. Aku bisa ikut pelatihan itu.
Tentu kesempatan seperti ini sangat berharga. Apalagi yang datang melatih ada Mas Andreas. Maestro Je-es, begitu kawan-kawan mengatakan. Pelatih yang dikenal. Kawan-kawan di Borneo Tribune, menganggap Andreas guru, mahaguru mereka. Pandangan Andreas kerap dirujuk. Wajah Borneo Tribune seperti sekarang sedikit banyak karena Andreas. Jasa dia terhadap Borneo Tribune hari ini tak ternilai.
Lebih tidak ternilai lagi semangat yang diberikannya untuk kami semua.
Secara khusus aku mendengar nama Andreas disebut kawan-kawan sejak masih di Equator sejak dahulu. Waktu itu Sapariah Nur Is, dkk sering menyebut nama itu.
Mereka sudah mengikuti pelatihan di sana sejak lama. Aku berkenalan dengan Mas Andreas sewaktu dia ke Pontianak melamar Sapariah.
AKU sudah ditawarkan untuk ikut pelatihan di Jakarta. Namun, kesibukanku membuat aku berpikir panjang sebelum ikut ke sana. Maklum sekali pergi pelatihan waktunya sekitar 3 minggu.
Sampai akhir aku di Equator, jalan ke sana tidak sampai.
Kemudian, saat kami membangun Borneo Tribune, kesempatan pergi muncul lagi. Nur Is merekomendasikan aku pergi. Sudah didaftar.
Namun, kali ini aku pun maju mundur. Pergi. Tidak. Pergi tidak.
Kali ini bukan soal waktu. Aku keberatan soal biaya. Nur Is bilang kantor membiayai. Aku ragu. Borneo Tribune belum lahir. Uang belum ada masuk. Uang yang disebut Nur Is, adalah uang owner. Aku merasa tidak nyaman. Apalagi biaya yang diperlukan ke Jakarta Rp 5 juta. Aku kasihan pada kantor. Nur Is berpandangan lain. Menurut dia, pelatihan ini lebih penting untuk masa depan Borneo Tribune.
Ah, memikirkan hal itu aku menjadi gamang. Aku sudah tua. Apakah aku bisa mengawal perjalanan Borneo Tribune. Aku merasa sudah senja. Kalau untuk masa depan media kami, seharusnya yang dilatih adalah wartawan-wartawan muda. Aku sudah merasa tua untuk berkembang. Aku merasa kalau bicara masa depan, itu bukan masaku. Aku telah lewat. Aku hanya bisa membantu kawan-kawan menyiapkan kerangka masa depan. Bukan menjalaninya.
Susah payah aku meyakinkan Nur Is mengenai hal itu. Aku tahu Nur Is pasti agak kecewa. Tapi biarlah.
Lantas kemudian setelah Borneo Tribune terbit. Kesempatan datang lagi. Tapi, entah. Kali ini pun aku tidak pergi.
PAGI itu, pelatihan dimulai. Di Hotel Peony, Pontianak. Hotel langganan Borneo Tribune. Tempatnya bagus. Aku suka melihat sisi Pontianak di Lantai 5, tempat kegiatan dilaksanakan. Lalu lintas jalan Gajahmada terlihat jelas. Keadaan atap bangunan. Menara-menara di kota ini juga.
Tanggal 10 November. Kegiatan dimulai. Ada belasan orang peserta. Beberapa di antara mereka aku kenal. Ada juga yang asing.
Pembukaan. Mering memberikan pengantar. Lalu Andreas memulai sessi. Dia memulai dengan sesi Elemen Jurnalisme. Buku Bill Kovach jadi rujukan. Yang menarik Andreas memulai dengan memberikan sejumlah kasus dan pertanyaan mengenai situasi social. Aku melihat antusiame peserta pelatihan terhadap kasus-kasus itu.
Lalu, dia memberikan bingkai dari semua persoalan itu. Semua kasus dilihat dari sudut jurnalisme. Peserta diberikan pada kesadaran mengenai etika-etika yang harus dipenuhi dalam liputan-liputan media. Rumit memang. Tetapi Andreas perlu mengingatkan hal itu karena dia ingin memberikan bekal kepada jurnalis di Kalbar bagaimana membuat liputan yang baik.
“Ini daerah perang,” ingatnya.
Liputan harus dibuat sebaik mungkin, karena kalau tidak bisa timbul gejolak.
Pada hari-hari berikutnya, Andreas memberikan petunjuk tentang bagaimana wawancara dilakukan. Apa yang harus disiapkan, dll. Lalu ada praktiknya. Asyik juga melihat Mbak Dwi Syafrianti, Ketua Tribun Institut wawancara Sina, peserta asal University Bonn. Lalu, Johan, wartawan Borneo Tribune mewawancarai Hentakun, peserta asal Tribune Institut. Setelah itu kami membahas praktik wawancara itu.
Menjelang pulang di hari pertama, peserta diberikan pekerjaan rumah. Ada tugas membuat deskripsi event yang ada di sekitar laingkungan. Aku membuat deskripsi tentang ruang praktik dokter gigi Multi.
Hari-hari selanjutnya kami mendapatkan materi-materi seputar teori membuat liputan dan dasar-dasar menulis. Andreas juga memberikan materi tentang news room. Materi ini menyangkut keragaman yang ada di ruang redaksi, dan keragaman yang ada di seputar kehidupan kami.
Kami juga diberikan materi seputar liputan Gang 17 dan Lost Generation. Gang 17 sebutan untuk peristiwa kerusuhan antara sebagian kelompok Melayu dengan kelompok Tionghoa. Kejadiannya di Gang 17, Jalan Gajahmada Pontianak, pasca Pilkada Kabar 2007. Sedangkan Lost Generation liputan Muhlis Suhaeri terhadap korban PGRS-Paraku tahun 1967. Liputan ini bagus. Muhlis mendapat anugerah Mohtar Lubis Award untuk jenis liputan investigasi.
Andreas juga membedah tulisan John Hersey berjudul “Hirosima”. Liputan ini adalah karya jurnalistik terbaik abad ke-21. Ini keabadian Jhon Hersey.
Aku melihat antusiasme peserta terhadap kegiatan ini. Sangat. Andreas berhasil membakar semangat menulis. Cara mengajarnya menyenangkan. Mudah dipahami.
Inspirasi muncul. Masing-masing ingin membuat tulisan yang terbaik. Ada yang ingin membongkar tragedy kemanusiaan. Ada yang ingin menulis biografi. Ada yang ingin menulis khazanah budaya. Macam-macam.
Tak terkecuali aku. Aku ingin juga membuat karya terbaik. Karya yang berguna untuk banyak orang. Aku ingin membuat karya yang abadi.
Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Mas Andreas. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Nur Is yang memberikan banyak kesempatan.
Diposting oleh Yusriadi di 01.45 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Menulis, Tentang Yusriadi
Selasa, 11 November 2008
Bagus, Mau Singgah? Sileee
Banyak pengunjung yang singgah di blog ini. Mereka meninggalkan jejak. Ada komentar yang apresiatif. Ada saran. Ada kontak biasa. Sebagian dari komentar itu sudah hilang dengan sendirinya. Mungkin ruang untuk itu kepenuhan. Inilah dia yang tersisa.
To Bani: Salam. Mau singgah juga boleh. Sileeee...
9 Nov 08, 18:51
To Amrin: Salam juga. Sileee... baca. Mudah2an suka. Salam juga dari kawan2 di Borneo Tribune.
9 Nov 08, 18:50
To Maverick: Terima kasih atas apresiasinya. Mudah2an bermanfaat.
5 Nov 08, 23:03
Bani: Numpang lewat aja bang...
29 Oct 08, 16:27
Amrin: Salam Budaya! Numpang baca...Salam buat abang-abang di Borneo Tribune...Salam Budaya!
21 Oct 08, 11:07
Maverick: blognya bagus
21 Oct 08, 11:07
Maverick: Pak..!
14 Oct 08, 17:28
To KUA Pemangkat: Salam. Maaf, saya tidak tahu Pak. Bang Syahrul tidak bisa dikontak. Bos, ganti-ganti nomor hp barangkali.
14 Oct 08, 17:27
To Lukman: Selamat lebaran juga. Lanjut.
13 Oct 08, 11:00
kua pemangkat: ada ndak blog kandepag kapuas hulu tolong informasikan
12 Oct 08, 21:51
lukman: minal aidin walfaidzin bang... oya buat Dudi klau mau tahu ttg P.Tikar/Batu Ampar lbh jauh InsyaALLAH sy bs Bantu Pliz Contact me via 085654467822 / 085252198560
9 Oct 08, 12:59
angkamor: jalan-jalan siang nich waw, artikel anda mengugah saya...
25 Sep 08, 10:32
dedy: beguraw jak ke rumah abang. Maenlah ke rumah he he
23 Sep 08, 15:13
To Bang Hatta: Wks. Ya, saya juga mengucapkan terima kasih karena mengundang saya pada acara launching, kemarin. Semoga sukses selalu.
23 Sep 08, 15:12
To Dudi: Bang Dudi, mudah-mudahan Bang Lukman yang lebih tahu. Mudah-mudahan dia bisa bantu.
22 Sep 08, 00:39
Hatta: Asw... Maksih banget yah bang atas kesediaannya menjadi pembicara kami kemarin. Mohon maaf atas segala kekurangan & egala khilaf yg semisal terdapati. Skl lg makasih!!! Mohon panduannya selalu...
21 Sep 08, 12:46
dudi: pak saya karyawan dipeusahaan, kalo bisa saya minta gambar-gambar padang tikar, terutama masyarakat dan transport menuju kesana
20 Sep 08, 00:11
lukman hakim: Ass bang,p kbr,msh ingat sy kan?oya kpn ke kec batu ampar lg?
18 Sep 08, 15:40
To Lidyanoria: Salam. Lidya, kuliah di mana? mudah-mudahan kamu bisa layari web www.kuburayakab.co.id selamat berusaha. Sukses selalu.
16 Sep 08, 11:05
lidyanoria: saya mahasiswi minta bantuan pada bapak yusradi untuk mencarikan profil daerah Kab.Kubu Raya, sejarah, ciri-ciri wilayah, politik, budaya, kependudukan, sosial, ekionomi, geografinya. ats bntuan trims
Diposting oleh Yusriadi di 01.56 0 komentar
Label: Komentar Blog, Tentang Yusriadi
