Oleh: Yusriadi
“Saaaayooo’. Saaaayoo’”
“Saaaayooo’. Saaayoo’”
Teriakan itu membahana. Membentuk koor. Ramai. Sebuah nyanyian. Renyah.
Teriakan itu terdengar dari kelompok mahasiswa yang kebanyakan berpakaian hitam, dengan syal warna biru laut yang diikatkan di lengan kanan.
Itu mahasiswa Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak. Mereka sedang memberikan ‘spirit’ untuk timnya – kesebelasan Fakultas Teknik, yang sedang menghadapi kesebelasan Fakultas Hukum. Kedua kesebelasan ini bertemu dalam ajang kompetisi Sepakbola Mahasiswa yang diselenggarakan FKIP Untan.
Pertandingan sore itu –20 November 2008, dilaksanakan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Stadion utama di Kalimantan Barat.
Sesekali juga terdengar yel-yel Fakultas Teknik. Lagu “Ospek”. Sesekali terdengar teriakan tak tentu-tentu.
Puluhan –bahkan ratusan mahasiswa berpakaian khusus duduk di tribun utama, bagian kanan Tribun Kehormatan. Pendukung tim Fakultas Teknik. Sedangkan, di bagian kiri Tribun Kehormatan, agaknya pendukung Fakultas Hukum. Dibandingkan pendukung Fakultas Teknik, penduduk Fakultas Hukum kalah suara. Kalah ramai. Kalah meriah.
Hari itu kebetulan saya duduk di tribun bagian kanan bersama Ibrahim. Ibrahim dosen Komunikasi, di Jurusan Dakwah di STAIN Pontianak. Saya katakan kebetulan karena sebelum masuk ke stadion saya tidak tahu kalau pertandingan yang akan saya saksikan adalah pertarungan besar. Saya datang sebenarnya hendak menyaksikan pertandingan Tim Dakwah. Ingin melihat ‘anak-anak’ main. Ingin memberikan semangat.
Tapi, rupanya Tim Dakwah sudah main. Mereka main pada pertandingan pertama. Kalah. Karena sudah terlanjur datang, saya dan Ibrahim bertahan. Tidak apa menonton pertandingan Fakultas Teknik – Fakultas Hukum.
Saya kira pertandingan pasti akan seru. Kedua tim memiliki nama dalam dunia sepak bola mahasiswa.
Dugaan saya memang benar. Pertandingan berjalan seru. Fakultas Teknik lebih unggul dalam penguasaan bola. Saya tertarik pada penampilan pemain tengah mereka. Pemain Nomor 7. Dialah pengatur irama permainan. Dia jenderal di Tim Teknik. Teknik bermainnya bagus.
Namun, pertahanan Tim Fakultas Hukum sekalipun tidak menonjol, tetapi bagus –bahkan sangat bagus. Kolektif. Meskipun sepanjang pertandingan mereka tertekan, namun tidak mudah bagi Teknik membobol pertahanan mereka. Sampai akhir pertandingan, Teknik hanya bisa unggul 1 gol saja.
Saya rasa dari sisi lain, Tim Teknik agak kurang beruntung karena seharusnya jika melihat dari keseluruhan pertandingan mereka layak menang lebih dari satu gol.
Saya kira penonton sangat puas dengan hasil ini. Pendukung Fakultas Teknik puas karena timnya menang. Pendukung Fakultas Hukum juga puas. Mereka bisa menerima kekalahan.
***
Namun, meskipun di lapangan kedua tim bermain bagus dan sportif, situasi di tribun penonton menurut saya agak keterlaluan. Olok-olokan antara kelompok di sebelah kanan Tribune dan sebelah kiri ‘luar biasa’.
Ada beberapa kali terjadi rengsekan.
“Bisa kelahi nanti,”
Saya sempat mendengar Ibrahim.
Saya mengiyakan.
Saya sempat membayangkan kalau sampai ribut bagaimana. Ada beberapa pendukung perempuan. Saya tidak melihat polisi –setidaknya polisi berpakaian seragam di sekitar kami duduk.
Sampai akhir pertandingan, suasananya aman. Saya dan Ibrahim kembali ke kantor Harian Borneo Tribune. Kami berusaha keluar lebih awal dari penonton yang lain. Takut terjebak kemacetan. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Deadlinenya sudah lewat.
Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian, sampai saya mendapat kabar keesokan harinya.
“Kampus Fakultas Hukum bederai”.
“Kaca pecah.”
“Ada keributan antar mahasiswa Teknik dan Hukum. Karena sepakbola,”
Saya langsung teringat tontonan kemarin.
Ternyata Ibrahim benar. Ternyata memang ada perkelahian.
Menyedihkan.
Lebih menyedihkan ternyata bentrok ini membuat kompetisi sepakbola secara dihentikan.
Rabu, 07 Januari 2009
Sebelum Tim Teknik - Tim Hukum Untan Bentrok
Diposting oleh Yusriadi di 23.40 0 komentar
Label: Cerita, Suara Enggang, Tentang Yusriadi, Untan Pontianak
Futsal dan Buah Pisang: Psikologi Orang Kalah
Oleh: Yusriadi
“Bang Yus, lihat ini!”
Fahmi Ichwan, staf pracetak di koran kami menyodorkan koran Borneo Tribune (Selasa, 6/12), persis saat aku hendak mendudukkan badanku di kursi lipat, di ruang Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak.
Dia menunjukkan tulisan “Suara Enggang” di halaman 1 koran ini.
Tulisan Budi Rahman. Judulnya “Kemenangan Itu Enak Diomongkan”
“Ngelagak die,”
Aku diam.
“Kita ditulisnya,”
Aku mulai menebak apa maksud Fahmi.
Aku mulai membaca tulisan itu.
Pada bagian awal dia menulis tentang arti dan makna kemenangan. Lalu dia mengaitkan kesana kemari. Tersambunglah cerita dia soal timnya yang menang main futsal Minggu malam (4/1/2009).
Benar. Dia melagakkan kemenangannya itu. Dia menceritakan bagaimana timnya menang dalam permainan futsal Minggu malam.
Dan dia mengura-urakan bagaimana senangnya dia dengan kemenangannya itu.
“O, itu dia”.
“Senang benar dia.”
“Biarlah. Biar dia rajin nulis”.
“Tapi dia tak fair”.
Aku lalu menunjukkan pada Fahmi dua hal. Pertama, Budi tidak menceritakan bahwa kemenangannya didapat dengan mudah. Budi memang bermain cantik malam itu. Tanto Yakobus, tandemnya di lini depan juga bermain bagus. Gol-gol yang mereka ciptakan sangat indah. Gaya Tanto, seperti gaya Romario, pemain Brazil era tahun 80-an.
Kami kalah beruntung. Aku sudah berjibaku. Jatuh bangun. Fahmi sudah berusaha. Begitu juga Hentakun, Andi dan Edo. Tembakan kami pas-pas di gawang. Entah berapa kali membentur tiang, atau beberapa centi di atas mistar. Gawang Bang Fakun seperti diselimuti jala keberuntungan.
Budi tidak menceritkan bahwa kami kurang beruntung karena tim kami 5 orang melawan tim Budi yang berjumlah 6 orang. Bayangkan, 5 lawan 6. Bak kata, 11 pemain melawan 10 pemain. Kalau jumlahnya sama mungkin kami tidak serepot malam itu.
Kedua, Budi bikin strategi ‘kasih umpan’ di luar lapangan. Malam itu, dia membeli satu tandan pisang lemak manis di Jalan Purnama. Katanya dia keluar modal Rp11.000. Pisang itu diumpannya pada tim kami. Begitu dia datang ke lapangan, pisang itu langsung diletakkan di depan kami.
“Makan jak ii...”
Ya, tentu saja kami makan umpannya dengan lahap. Satu, dua, tiga.
Begitu Budi menawarkan pisang dengan logat Sambasnya yang agak nyangkut-nyangut. Maklum dia bukan penutur asli. Dia mengaku bisa bahasa Sambas karena pernah bertugas di Biro Sambas beberapa pekan. Tapi, dia rajin melatih bahasanya itu dengan Bang Fakun, atau Mbak Tika –yang mau melayaninya ‘berbahasa Sambas ala Budi’.
Penawarannya, gayanya, sama manisnya dibandingkan pisang lemak manis yang dibawanya.
Hasilnya memang luar biasa. Baru mulai main, kawan-kawan sudah jatuh bangun.
“Berat perut”.
“Alamak tak bise bekejar,”
Celaka dua belas.
Celake pisang.
Pisang yang di dalam perut mulai berontak ke atas bawah karena dibawa lari.
Tentu saja akselerasi kawan-kawan jadi terbatas. Gerakan tidak lincah seperti biasa –setidaknya dibandingkan pertandingan Minggu malam sebelumnya saat tim kami mengalahkan Tim Budi. –Catatan tambahan, Minggu lalu jumlah pemainnya sama banyak dan Budi tidak memberi umpan buah pisang.
Setelah selesai main, baru kami komplen pada Budi.
“Parah, kau Bud.... Pakai ilmu pisang,”
Budi hanya cengar cengir. Cupingnya kembang. Lalu dia tertawa ngakak. Lebih dahsyat dibandingkan kalau dia tertawa saat baca rubrik Skumba.
Geraaam. Rasanya, pengin aku melemparkan kulit pisang ke wajahnya.
Untung badan dia besar. Kalau kecil, pasti aku mengajak kawan-kawan mengepung Budi dan menyumpalkan pisang dengan kulit-kulitnya ke mulut itu. Biar sekalian dia tidak bisa jumawa dengan kemenangan yang menurut tim kami, tidak fair.
Ya, maklumlah, psikologi orang-orang yang kalah. Agak mudah geram.
Tak dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. Apalagi kalau melihat yang menang tertawa jumawa. Memang enak ditertawakan sebagai pecunda?
Kalau ada jalur komplen –misalnya ke Ombudsmen atau ke Mahkamah Konstitusi, tentu prilaku jumawa ini sudah kami laporkan. Tak soal akan menang atau kalah nanti.
Lalu, aku, bisik-bisik pada teman satu tim.
“Minggu depan, giliran kita umpan dia. Mungkin kita umpan dia dengan durian saja. Biar celake durian membuatnya tidak bisa mengejar bola. Lalu kita cukur habis tim mereka. Kalau perlu 10 – 0. Biar dua minggu dia tak bunyi.”
“Tak perlu Bang. Minggu depan tim kita lengkap. Bang Nur Is sudah datang,”
Nur Is adalah bek tangguh tim kami. Susah menghadapinya.
“Tak apa, kita beli pemain baru,”
“Siapa?”
“Tantra, boleh?”
Aku masem-masem. Tidak mungkin. Terlalu kecil untuk menghadang pergerakan Budi.
Mungkin lebih baik ajak Muhlis, atau Ula. Muhlis dan Ula badannya besar tinggi. Mereka bisa menghambat Budi.
Bujuk-bujuk jak.
Diposting oleh Yusriadi di 00.39 0 komentar
Label: Cerita, Tentang Yusriadi, Tribune
Minggu, 04 Januari 2009
Di Tengah Krisis Itu...., Pangan Solusinya

Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Krisis keuangan global yang terjadi tahun 2008 memang mengguncangkan ekonomi Indonesia. Pemberitaan media membuat semuanya mudah diikuti. Perkembangan bursa saham dunia, dampak-dampak yang terjadi, tindakan-tindakan penyelamatan, dll., begitu mudah diikuti.
Di mana-mana orang membicarakan dampak krisis. Penurunan harga beli pedagang, dan peningkatan harga jual komoditas tertentu menjadi tema penting, karena menyangkut sendi-sendi kehidupan masyarakat. Di kantor, di pasar, hatta di rumah pun orang merasakan dampaknya.
Saya termasuk orang yang mengikuti perkembangan ini. Walaupun tidak secara intens, tetapi garis besar persoalan, punca, dan sebagainya, saya ikuti. Seperti juga orang banyak, saya menyimak karena krisis bersentuhan langsung dengan kehidupan saya sehari-hari.
“Karet sekarang tidak dibeli orang. Pedagang masih nunggu keadaan,”
“Toke karet kita rugi besar. Jatuh tedudok. Dia beli harga Rp 9000, sekarang dijual Rp 6000”.
“Kalau mau cari motor bekas, sekaranglah waktunya. Ada yang jual motor kredit Rp1 juta”.
“Adik saya karyawan sawit, kena PHK,”
“Perusahaan sawit merumahkan karyawan”.
“Ada keluarga saya sopir truk sawit, sekarang tidak bekerja”.
“Saya tidak tahu bagaimana membiayai anak-anak kuliah, sekarang”.
Pelbagai informasi ini saya terima.
Saya mendengar dengan seksama. Tapi, saya cemas.
Saya seperti melihat dampak buruknya. Bayang-bayang kekalutan seperti berada di depan mata. Tidak bisa ditangani.
Ya, karet dan sawit, selama ini menjadi andalan perekonomian orang kampung di pedalaman, katakanlah di Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sanggau, Landak. Saya kira, Ketapang juga sangat bergantung pada dua sektor ini.
Dua usaha ini telah menggeser peran pertanian padi. Bahkan, padi, sudah mulai kehilangan ‘mukjizatnya’ membantu orang kelaparan. Usaha peladangan sekarang ini jarang sekali mampu menghasilkan padi yang dapat disimpan sampai satu tahun. Saya seringkali menemukan hasil ladang hanya mampu menyuplai makan penduduk selama setengah musim. Orang yang berladang harus membeli beras toko atau beras ili’ –begitu biasa disebut, agar terus makan. Kesan saya sekarang, orang berladang karena mereka merasa perlu menjaga tradisi. Jika tidak berladang orang merasa tradisi sebagian dari tradisi seperti hilang dari diri mereka.
“Untuk nanam pulut,”
“Untuk burung pipit,”
Emak saya membahasakan begitu kalau mereka berladang di lahan yang kecil. Jadi kalau sudah begini, bukan hasil padi yang mereka pikirkan.
Lahan sekarang sudah sangat terbatas. Penduduk banyak. Lahan sekarang juga tidak subur lagi. Harus dibantu pakai pupuk. Sedangkan pupuk mahal –dan malah sering dikeluhkan: tidak ada.
***
Saya semakin cemas karena Pemerintah -- seperti diberitakan media -- tidak bisa berbuat banyak. Pemerintah sudah mengumpulkan pengusaha sawit dan juga pengusaha karet, mendiskusikan persoalan itu. Namun, jalan keluar sesungguhnya belum ketemu. Maklum, ini krisis global, terlalu berat orang lokal menghadapinya. Masalahnya orang lokal sangat tergantung pada orang global itu.
“Di luar kuasa kita,”
Kata beberapa pejabat daerah seperti dikutip media ketika mereka dimintai tanggapan seputar anjloknya harga karet dan sawit.
Gubernur Cornelis seperti disampaikan dalam diskusi refleksi akhir tahun yang diselenggarakan Harian Borneo Tribune (30/12) mengatakan Kalbar sudah mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan RI. Jadi, keputusan pada akhirnya sangat tergantung pada pusat, pada orang di atas. Kalau keputusan yang diambil sesuai dan mampu meringankan beban masyarakat di tengah konflik, lumayan. Jika keputusan tidak kunjung diambil, atau kalaupun diambil keputusan tidak menyelesaikan masalah, tentu persoalan yang dihadapi menjadi lebih runyam.
Lalu apa tindakan lokal untuk menghadapi persoalan itu? Apa yang bisa dilakukan petani karet dan petani sawit di tengah situasi seperti ini?
Saya jadi teringat solusi yang akan diperhatikan Gubernur Cornelis.
“Pangan,”
Di tengah krisis seperti ini, di tengah kepasrahan yang dipilih, pemerintah memilih solusi dengan program ketersediaan pangan masyarakat. Krisis bagaimanapun, masyarakat tetap makan. Keterpenuhan kebutuhan yang lain menyusul.
Anggota DPRD Kalbar Michael Yan memberikan pandangan senada. Pangan penting diperhatikan di tengah krisis. Bahkan, walaupun Michael Yan optimis krisis ini tidak akan lama, namun, perhatian terhadap pangan mestinya tidak hanya pada saat krisis. Harus selalu diperhatikan. Apalagi potensi alam di Kalbar ini besar dan memungkinkan.
Saya kira solusi ini, solusi yang arif. Paling tidak ada plan penting yang bisa diambil pemerintah menghadapi situasi yang sulit.
Bak kata orang, kalau masih ada beras, amanlah periuk. Aman juga kampung tengah. Lauk bisa dicari. Kayu bakar bisa dicari. Tinggal memasak saja, lagi.
Kalau masih bisa makan, tenanglah pokoknya.
Diposting oleh Yusriadi di 01.21 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Ekonomi, FOTO
Sabtu, 03 Januari 2009
Buku: DARI WAK GATAK KE KAMPUNG BETING

Buku ini berisi catatan perjalanan peserta pelatihan metode penelitian berbasis participatory action research (PAR) yang diselenggarakan STAIN POntianak, Desember 2008.
Diposting oleh Yusriadi di 02.04 0 komentar
Label: Buku, FOTO, Tentang Yusriadi
Catatan untuk Buku: DARI WAK GATAK KE KAMPUNG BETING
Oleh: Yusriadi
Buku “Catatan Perjalanan dari Wak Gatak ke Kampung Beting” akan dilaunching sebentar lagi. Buku ini adalah buku yang sederhana. Tetapi, sekaligus buku yang menakjubkan.
Sederhana, karena isi buku adalah catatan perjalanan delapan (8) peserta –dari lebih 20 peserta, yang tergabung dalam kegiatan pelatihan peneliti Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, Desember lalu.
Peserta mencatat waktu kegiatan, apa yang mereka lihat. Apa yang mereka dengar. Apa yang mereka bicarakan. Bahkan, sesekali dicatat juga apa yang mereka pikirkan.
Pasti, catatan seumpama itu bisa dibuat oleh semua orang. Bedanya, mungkin pada kedalaman dan pada keteperincian. Mungkin juga ada beda dari sisi bagaimana cara mengungkapnnya.
Jangankan dosen, sebenarnya catatan seperti ini bisa dibuat oleh mahasiswa, atau siswa sekolah menengah atas.
Soal sebenarnya: mau atau tidak.
Sebab sering kali orang tidak mau melakukan itu. Sering kali orang tidak sempat melakukan hal itu karena banyak kesibukan.
Sering kali orang tidak mau melakukan karena hal seperti itu terlalu sederhana. Terlalu kecil dan remeh temeh.
Tetapi, walaupun remeh temeh, tetapi ketika saya membaca semua tulisan itu, saya menemukan keajaibannya.
Bukan saja saya merasa seperti terlibat dalam semua petualangan itu, atau karena saya dapat membayang pengalaman masing-masing penulis. Saya takjub karena menemukan banyak hal baru di sini.
Semua itu bermula ketika saya membuat pengantar untuk buku ini. Saya membuat tulisan pengantar berjudul: “Usaha Kecil untuk Impian yang Lebih Besar”.
Melalui tulisan pengantar ini saya ingin mencari kelebihan yang disajikan buku ini, dan saya memikirkan sumbangan apa yang bisa diberikan buku ini untuk pemberdayaan masyarakat di tiga lokasi: Parit Wak Gatak, TPI dan Kampung Beting.
Dan, saya menemukan. Data yang disajikan, meskipun dalam bentuk data mentah, justru memperlihatkan kekayaan.
Ada dua hal yang membuat saya terperangah setelah menggeluti tulisan ini. Pertama adalah soal perubahan. Perubahan apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Dan kedua, bagaimana masyarakat bersikap terhadap perubahan itu.
***
TPI adalah singkatan dari Tempat Pelelangan Ikan. Fasilitas ini dibangun sebagai tempat kapal ikan berhenti dan bongkar muat. Tidak terlalu jelas apakah ada pelelangan dilakukan di sini.
Pada mulanya, kampung di sini adalah perkebunan kelapa, yang kemudian menjadi perkebunan karet. Setelah itu menjadi tempat menanam padi, lalu menjadi perumahan. Sekarang perumahan tumbuh di mana-mana. Sangat padat. Bersambung-sambung. Padatnya TPI sudah sama padatnya dengan perumahan seperti Perumnas di tengah kota Pontianak.
Perumahan yang dibangun itu menjadikan TPI sebagai tempat yang majemuk. Orang datang dari mana-mana. Orang dari berbagai daerah asal dan suku, serta dari berbagai jenis pekerjaan, berkumpul di sini. Sangat terbuka.
Keberadaan TPI juga menarik. Tembok-tembok TPI menjadi tembok yang membatasi tempat itu dengan masyarakat sekitar. TPI, tempat pendaratan ikan, tempat kapal berlabuh, juga menjadi tempat awak-awak kapal mendarat. Tempat orang berkumpul.
Memang ada rizki yang terciprat dari sana. Perdagangan kecil marak.
Tetapi, pendaratan juga mendatangkan ancaman bagi masyarakat sekitar. Lihat sikap yang diperlihatkan anak-anak perempuan yang dilaporkan Hermansyah, penulis bagian ini.
Mereka takut. ”Untuk apa Om tanya-tanya,” jawab seorang dengan ketus, lalu pergi. Sikap yang mengherankan. Berbeda dibandingkan sikap anak-anak lelaki yang dengan ramah melayaninya melakukan wawancara.
Mengapa mereka takut?
Mereka takut bukan karena mereka tidak mau membantu. Mereka takut karena ada yang mereka khawatirkan. Orang di TPI khawatir anak-anak perempuan mereka ’diincar’ oleh orang-orang kapal. Karena itu mereka melarang anak perempuan dekat dengan sembarang orang. Tidak boleh juga melayani percakapan. Larangan itu tidak berlaku pada anak lelaki.
***
Informasi dari Kampung Beting, Pontianak Timur juga menarik. Juniawati melaporkan sesuatu yang ironi terjadi.
Beting adalah sejarah kota Pontianak. Ini cikal bakal kota ini. Nenek moyang merekalah pendiri kota ini.
Namun, di sisi lain, pembangunan di sini ‘agak tertinggal’. Jalan menuju perumahan adalah jalan kecil. Sebagian hanyalah jalan kayu: gertak.
Rumah-rumah padat dan agak sederhana. Jemuran diletakkan di depan rumah, di sepanjang jalan.
Tidak ada sekolah yang elit di sini. Bahkan sekadar sekolah menegangah atas.
Jumlah anak-anak yang bersekolah juga terbatas.
Keadaan ekonomi di sini juga tidak cukup baik. Setidaknya jika dibandingkan keadaan yang bisa dilihat di seberang mereka: di pasar Senghie.
Pasar yang ada masih serupa pasar tradisional, yang mungkin tidak berubah sejak lebih 300 tahun lalu.
Bahkan, belakangan Kampung Beting menjadi wilayah baru yang menyeramkan. Angker. Dengar saja apa kesan orang luar yang masuk ke sini.
Yang terjadi sekarang, Kampung Beting tertutup. Ada pagar maya –yang tidak terlihat mata membatasi. Membatasi orang luar, dan mungkin juga membatasi orang dalam itu sendiri.
Saya melihatnya sebagai pembatas yang muncul menyusul perlawanan penduduk setempat terhadap perubahan. Pembatas ini muncul sebagai bentuk protes penduduk setempat terhadap ironi yang disajikan di depan mereka.
Lalu, apakah keadaan ini akan terus bertahan? Atau, bisakah mereka terus bertahan di tengah keterbatasan dan ironi itu? Siapa yang akan membawa mereka keluar?
Pertanyaan ini membuat saya jadi teringat pada pemilihan walikota Pontianak beberapa waktu lalu. Pontianak Timur, termasuk Kampung Beting, merupakan daerah yang paling banyak mendapat sorotan selama masa kampanye pemilihan walikota Pontianak. Waktu itu kandidat menjual ketertinggalan Pontianak Timur untuk mencari simpati orang-orang Pontianak Timur. Beberapa kandidat berjanji akan meningkatkan pembangunan di Pontianak Timur. Wilayah ini akan dijadikan sebagai prioritas.
Tunggu saja!
***
Apa yang ditemukan di Parit Wak Gatak juga tidak kalah menarik. Situasi yang diperlihatkan berbeda dan bahkan bertolak belakang. Parit ini, adalah daerah yang makmur. Tanahnya subur. Penduduk di sini kebanyakan orang Madura dan sedikit Bugis. Masyarakatnya rajin. Ekonomi nampak agak lebik baik. Dan rancak. Jenis makanan luar laris manis. Rumah penduduk besar dan permanen.
Tetapi, pendidikan tidak cukup baik. Sekolah yang ada memprihatinkan. Sekolah bocor. Kalau hujan, anak-anak pindah belajar ke masjid. Ruang belajar juga terbatas. Satu ruang untuk dua kelas. Guru yang mengajar juga terbatas. Maklum, sekolah swasta.
Selain itu, pemasaran produk tidak cukup baik. Jalan masuk ke kampung belum bagus. Jalannya lebar. Bila hujan, jalan becek. Terhambat.
Pemasaran sangat tergantung pada “peraih” yang datang dari luar. Peraihlah yang membeli hasil tani mereka. Harganya tentu saja agak lebih miring.
Tetapi dari data yang disajikan di buku ini, dapat diramalkan perubahan yang hebat sedang terjadi. Lahan pertanian yang subur itu mulai berpindah tangan. Pembelinya adalah orang yang berasal dari kota Pontianak. Orang kaya.
Tidak jauh dari Parit Wak Gatak sudah berdiri perumahan. Lahan untuk perumahan akan melebar menggeser lahan untuk pertanian. Pasti penduduk luar akan masuk.
Mampukah orang kampung bersaing dengan orang luar –ketika pendidikan mereka terbatas? Mampukah mereka menghadapi orang luar ketika keterbatasan pengalaman mereka hanya sebatas kehidupan kampung mereka?
Lihat saja nanti.
Saya kira dilihat dari perspektif sosial, apa yang diperlihatkan di tiga tempat ini memperlihat respon yang berbeda terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dan ini tentu saja akan menjadi sesuatu yang menarik untuk terus diamati. Sampai pada batas-batas tertentu.
Saya kira jika mau peduli, fenomena ini tentu tidak boleh diabaikan begitu saja. Di sinilah advokasi sesungguhnya diperlukan oleh masyarakat. Lebih dari sekadar teriak-teriak.
Diposting oleh Yusriadi di 02.02 0 komentar
Label: Buku, Pontianak, Tentang Yusriadi
Kembang Api di Pontianak

Pesta kembang api juga mewarnai pergantian tahun di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Masyarakat kota turun jalan membuat suasana sangat meriah. Foto Lukas Wijanarko/Borneo Tribune.
Diposting oleh Yusriadi di 01.46 0 komentar
Bunga Api di Langit Kota Pontianak
Oleh: Yusriadi
Pukul 00.00 tanggal 1 Januari 2009.
Malam yang istimewa. Malam yang ditunggu-tunggu. Malam ritual bagi banyak orang. Ada yang menggelar pesta. Ada yang menggelar refleksi. Ada yang menggelar aksi konvoi. Bahkan, sekadar ‘bekondan’ dengan music cadas di pinggir jalan, atau sekadar buat jagung bakar bareng keluarga di halaman rumah.
Saya, termasuk orang yang harus menganggap malam ini istimewa juga. Menyambut pergantian tahun dengan sambutan khas.
Sebagai awak koran Borneo Tribune, kami ngumpul di Cafe Roof, Hotel Peony, Jalan Gajahmada Pontianak. Kami merayakan pergantian tahun dengan makan bersama untuk membangun kebersamaan. Lalu, ada acara hiburan.
Mula-mula penghiburnya, ‘artis Cafe Roof’. Lalu kemudian orang-orang Borneo Tribune menyumbangkan lagu.
Mula-mula, Rizky Wahyuni menyanyikan lagu “Sempurna” yang dipopulerkan oleh Gita Gutawa. Keren abis! Nadanya ngemat – kata orang Melayu Pontianak. Gaya menyanyinya, sudah mirip penyanyi pentas. Lihat misalnya, dua tiga jemari tangan kanannya yang memegang mike digerak-gerakkan mengiringi rentak irama anggukan kepala dan musik.
Wartawan baru di Borneo Tribune yang mulanya saya kenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pontianak, memukau orang yang hadir di cafe malam itu. Tepuk tangan bergemuruh. Sangat menghibur.
Rizky juga mendampingi Mbak Dwi saat menyanyikan lagu “Laskar Pelangi”. Walaupun rada ketinggalan nada gitar yang mengiringi lagu, namun, penampilan duet ini membuat pendengar asyik. Terbayang film Laskar Pelangi.
Setelah itu, Zulfakar, awak bagian pemasaran. Suara emasnya membuat kami takjub. Benar-benar penyanyi. Dia juga terlihat sangat menikmati pertunjukannya malam itu. Saya kira dia adalah artis yang kesasar jadi awak pemasaran. Sungguh, kalau dia melamar jadi penyanyi, garansi akan diterima.
Penampilannya juga maching. Kalau pernah lihat Imam S Arifin, begitulah gayanya malam itu. Mungkin seperti pinang dibelah-belah-lah.
Lalu Budi Rahman, redaktur muda di Borneo Tribune. Meskipun suaranya ‘agak parau’ semangat menyanyinya luar biasa. Sedikit latihan, pasti ‘pitch control’-nya –pinjam istilah Mbak Iie’ – Tri Utami, pada acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI), ok. Dan, dia memang harus banyak latihan jika kelak nekat terjun ke pentas politik. Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pontianak ini pernah terjun dalam pemilihan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Pontianak, beberapa bulan lalu. Namun, kursi organisasi kepemudaan ini gagal diraihnya.
“Kurang vitamin,”
“Memang di mana-mana tak ada yang bilang suara saya harmoni. Begitulah,” kata Budi Rahman.
Tetapi, dia janji akan terus menyanyi.
Muhlis Suhaeri, redaktur Borneo Tribune yang paling dibanggakan di kalangan orang Tribune sepanjang tahun 2008 –dia meraih dua penghargaan Mohtar Lubis Award dan Adi Warta, Sampoerna, untuk karyanya ‘Lost Generation’, juga menyumbangkan lagu Mother, How Are To Day. Dia juga menyanyikan lagu Iwan Fals berjudul “Ibu”.
Suprianto alias Po’i, juga ikut ambil bagian. Suaranya mantap, dan menghibur. “Ketahuan yaaa sering ke karaoke,”
Begitu kawan-kawan berkelakar.
Setelah itu, acara yang dipandu Budi Rahman, dilanjutkan dengan permainan kecil ‘baca puisi’. Mula-mula Bang Wito –Suwito, MH., Direktur Borneo Tribune Pontianak. Lalu, saya, Nur Is, Budi Rahman, Muhlis, Bang Fakun.
Dilanjutkan kelompok perempuan. Dwi Syafrianti, Mbak Ana -- istrinya Bang Wito, Rizky, Julianti, Lina, dan Suryani.
Mering, yang nama kerennya Wisnu Pamungkas, didaulat membaca puisi tunggal. Lalu Pak Agus Parakesit, awak Bagian Umum. Puisinya yang dibaca adalah “Lima Enggang Gading”. Puisi itu diciptakan Wisnu Pamungkas saat kami mempersiapkan kelahiran koran Borneo Tribune. Isinya, tentang semangat, cita dan harapan. Isinya ekspresif. Maklum, penciptanya terlibat dalam isi yang diciptakan.
Terakhir ada sambutan-sambutan yang disampaikan Bang Wito dan Nur Is. Mereka menyampaikan harapan-harapan dan pesan-pesan.
***
Lebih istimewa lagi, saya melewati detik pergantian tahun di Pontianak. Benar-benar detik. Bukannya ‘malam’.
Pada detik-detik menjelang pergantian tahun saya melihat pemandangan yang indah. Luar biasa.
Saya berdiri di jendela cafe yang sengaja dibuka, bersama banyak orang malam itu. Seluruh awak redaksi. Pak Suhaili, Manager Hotel juga ada di sana malam itu.
Semua melihat ke arah timur, Jalan Gajahmada, Pontianak.
Kembang api bertaburan menghiasi di langit kota Pontianak. Saya mencoba menghitung berapa kali kembang api memecah di udara. Mula-mula dapat. Satu, dua, sepuluh, dua puluh. Tetapi seterusnya, lupa.
Saya yakin ada ratusan kali percikan kembang api menerangi langit kota Pontianak malam itu, dari tempat yang dapat saya lihat.
Dari posisi di ketinggian yang saya kira tak kurang dari 16 meter itu, saya melihat jelas. Orang-orang yang meletakkan kembang api, membakarnya, api meluncur ke udara yang menimbulkan bunyi yang bersiutan. Lalu ledakan yang cukup memekakkan, hingga bunga api muncul dan padam. Warna warni. Merah, kuning, hijau. Percikan bunga api membentuk berbagai variasi.
Saya sangat terkesan melihat kembang api yang memercik bagai air mancur. Lalu sisanya, asap. Saya juga mencium bau asap itu. Sangat dekat.
Saya dapat menikmati dan meresapinya. Saya dapat mengenal jenis kembang api dan harganya sekaligus. Ada Poi, yang menjelaskan tentang kembang api pada saya. Awak percetakan di Borneo Tribune itu, mengerti betul.
Saya sangat tertarik. Beberapa kali saya mengucap. Baru kali ini saya melihat kembang api begitu rupa, dan menyaksikan dari dekat dan menikmati. Menyaksikan dengan sungguh-sungguh.
Sebelum ini saya hanya melihat sepintas. Melihat dengan ketidaksukaan. Bunyi ledakannya membuat telinga saya pekak. Ledakan juga membuat hati saya tidak nyaman: uang ratusan ribu dibakar percuma hanya untuk efek percikan bunga api yang sesaat. Keterlaluan.
“Satu kotak ada yang Rp750 ribu, ada juga yang Rp1 juta,” kata Poi.
Bah! Saya geleng kepala. Uang sebanyak itu dibakar hanya dalam hitungan menit. Padalah mencarinya susah banget. Ada orang yang harus bekerja banting tulang satu bulan untuk mendapat uang segitu. Saya sering mikir, di mana sensitivitas sosial orang yang membeli kembang api itu?
Dan malam itu, ratusan juta rupiah jadi uang hangus. Saya kira, kesediaan membakar uang sejumlah itu juga istimewa. Andai saja kesediaan menyumbang untuk ‘pesta kembang api di pergantian tahun dialihkan pada kesediaan menyumbang untuk beasiswa anak yang tidak mampu, atau untuk pembangunan ekonomi skala kecil, sudah pasti banyak yang bisa dibuat.
“Ah... mungkin ini yang dinamakan rizki mata. Bukan rizki perut.”
Buktinya, walaupun jutaan rupiah ranap menjadi asap, namun, ada juga kepuasan diperoleh di sana.
Mungkin begitukah seharusnya?
Diposting oleh Yusriadi di 01.45 0 komentar
Label: Pontianak, Tentang Yusriadi, Tribune
