Selasa, 14 Juli 2009

Dari Sambas ke Sulawesi, Kok... Lewat Kuala Lumpur?

Oleh Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

Rasanya, belum pernah terlintas dalam pikiran saya ada orang Sambas pergi ke Sulawesi lewat Malaysia. Setakat ini, yang saya tahu para pejabat Kalbar dahulu kalau mau ke Kapuas Hulu, melintasi lewat Sarawak.



Tetapi itulah yang saya jumpai ketika bulan lalu kembali ke Pontianak. Hari itu, dalam perjalanan dari Kuching ke Pontianak, saya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki paroh baya. Lelaki itu, bersama istri dan anaknya. Istri dan anak lelaki itu duduk di deretan kursi kami.
Semula saya tidak menyangka mereka orang Kalbar. Hatta, orang Sambas.
Sejak naik dari Kuching saya mendengar percakapan mereka. Kesan saya, percakapan mereka seperti gaya orang Jakarta bercakap. Malah mereka begitu asyik membicarakan ‘pengalaman’ dalam perjalanan.
Mereka sempat bertanya pada sopir tentang perjalanan bis dari Pontianak ke Kuching.
“Kalau sampai ke Kuching pukul berapa, Pak?”
“Sekitar pukul 8”.
“Terlambat gak ya, kalau naik bis malam, mau kejar penerbangan ke Kuala Lumpur pukul 10 pagi”.
“Tidak”.
Sopir meyakinkan mereka.
“Kalau gitu kami pesan tiket nanti Pak. Ada 10 orang”.
Saya sendiri yang mendengar ingin menyeletuk, tidak yakin. Bagi saya terlalu mepet waktunya. Tetapi, tentu saya tidak enak mau nimbrung. Kenal saja tidak.
Jam 8 sampai. Ini itu di terminal, mungkin 15 menit atau setengah jam. Kononnya mereka mau makan dahulu, cuci muka, buang air, dll.
Peraturan Air Asia, sedikit menyeramkan: terlambat tiket hangus! Saya bersama Dedy teman saya, sudah pernah merasakan hal itu, sewaktu mula-mula ikut penerbangan ini. Terlambat sedikit saja karena nyasar di Kuala Lumpur International Airport. Padahal, terbang dengan Air Asia harusnya di LCCT. Kami kira, penerbangan Air Asia sama dengan penerbangan Malaysia Air Line (MAS).
Perjalanan dari Terminal Bis Kuching ke Terminal Kapal Terbang Kuching memang tidak jauh. Paling 20-30 menit sampai. Tetapi kadang kala urusan check in, dll juga tidak bisa dengan cepat.
“Terlalu beresiko”.
Tetapi, saya kira mereka pasti sudah tahu itu. Apalagi saya sempat menduga mereka adalah orang Indonesia yang bekerja di Kuala Lumpur. Entah pegawai kedutaan, entah apa.
Kami turun di perbatasan, cop passport.

***

Setelah turun di perbatasan, setelah naik kembali ke bis, barulah kami berkenalan. Kami bercakap-cakap banyak hal.
Mula-mula tentang cop passport. Lalu, berpindah ke soal prilaku orang Bea Cukai di perbatasan yang memeriksa barang penumpang, tentang jalan yang sempit, dll.
Pembicaraan kami agak panjang ketika membahas soal pemilihan presiden. Analisis ‘bapak itu’ sangat menarik. Saya menyukai diskusi soal mengapa pilih siapa.
Nah, lama kemudian pembicaraan mengalir pada siapa bapak itu.
“Kami dari Sambas”.
Lalu dia menceritakan tentang dirinya, istrinya dan anaknya.
“Kami baru dari Sabah”.
Rupanya mereka melancong ke puncak Gunung Kinibalu mengisi liburan sekolah anak. Anak mereka baru selesai ujian. Rencananya, setelah pengumuman –dan mereka yakin anaknya lulus, mereka semua akan berangkat ke Sulawesi.
“Biar dia sekolah di sana”.
“Kok ke Sulawesi lewat Malaysia?”
“Ya, jauh lebih murah. Banyak tiket promosi”.
Katanya, istrinya sangat rajin melihat-lihat internet untuk melihat booking Air Asia.
“Promosinya gila-gilaan.” Katanya, takjub.
Ya, tiket Air Asia memang terkenal murah. Untuk dapat tiket murah lihat saja situs boking tiket.
Sebagai contoh, kadang kala penerbangan dari Kuching ke Kuala Lumpur, bisa lebih murah daripada naik bis dari Pontianak ke Putussibau. Harganya berbeda-beda tergantung keberuntungan. Kadang kala bisa dapat 30 ringgit (dikalikan Rp 3 ribu = Rp90 ribu). Kadang kala malah RM 0. Penumpang hanya bayar administrasi saja.
“Bandingkan kita terbang dari Pontianak ke Jakarta, lalu dari Jakarta ke Sulawesi. Mungkin Rp2 juta tidak lari, pulang perginya. Apalagi kalau musim sibuk,” katanya.
Saya terus melongo-longo mendengar penjelasan dia. Sungguh, seumur-umur baru kali ini dengar rute perjalanan tersebut. Padahal, saya sudah naik pesawat Air Asia lebih dari 10 kali. Tak pernah terpikir tentang hal seperti itu.
Cerita bapak ini membuat saya menghayal, suatu saat saya akan terbang ke Sulawesi juga dengan menggunakan Air Asia, melalui Kuala Lumpur. Mungkin saya akan terbang ke Bali, atau ke Aceh menggunakan jalur yang sama. Toh, walaupun nampaknya agak berputar-putar, namun, jauh lebih hemat. Bayangkan saja kalau ke Bali hanya Rp 200-an ribu saja. Mengapa tidak?!





Baca Selengkapnya...

Kuota Pendidikan Pontianak

Oleh Yusriadi

Kebijakan Walikota Pontianak Sutarmidji, soal kuota 5 per sen untuk anak daerah masuk ke sekolah negeri di Kota Pontianak, sungguh mengejutkan.
Itulah yang dirasakan banyak orang ketika membaca berita media pekan ini. Orang terkejut karena menilai kebijakan ini ‘luar biasa’. Masalahnya, biasanya, pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak agar dapat sekolah. Malahan, anak didorong-dorong agar belajar. Diwajibkan! Ada program Wajar 9 tahun! Pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan. Pemerintah menaikkan gaji guru. Sekolah yang kurang ditambah. Sekolah yang rendah mutunya ditingkatkan. Yang kurang biaya, dibantu. Pemerintah sangat bergairah menyediakan kesempatan belajar kepada anak: tanpa mengira apakah anak tersebut anak orang kampung atau orang kota, atau apakah anak tersebut Melayu, Dayak atau Tionghoa.



Satu-satunya system yang agak menghambat – yang kemudian coba diatasi-- yaitu seleksi alam. Sistem ini yang menentukan orang yang pintar dan kaya masuk ke sekolah yang bagus dan mahal, sedangkan orang yang kurang mampu masuk ke sekolah yang ‘biasa’. Sekolah-sekolah tertentu melawan system ini dengan system silang, agar segregasi sosial tidak semakin melebar. Pemerintah juga menerapkan kebijakan soal itu – yang jelas sangat berpihak pada semua anak agar mendapatkan kesempatan belajar.
Pemerintah (biasanya) memberikan perhatian lebih pada pendidikan semua orang tanpa mengira batas-batas.
Seorang teman yang kuliah di Universiti Kebangsaan Malasyai yang membaca berita tentang kuota itu sempat mengungkapkan keheranannya: “Pontianak adalah pusat kota di Kalbar, seharusnya kebijakan tidak begitu. Terlalu vulgar cara dia membatasi orang daerah”.
Ini seperti kontraproduktif dibandingkan dengan kebijakan pendidikan nasional selama ini.
Saya sempat membaca berita, Dr. Aswandi pakar pendidikan Kalbar malah menilai kebijakan ini diskriminatif untuk orang daerah. Membatasi kesempatan.
Saya juga merasa heran dengan kebijakan ini.
Apakah impak diskriminatif ini sempat terpikirkan oleh Walikota? Apakah dasar dan dampak kebijakan ini benar-benar sudah dikaji oleh beliau melalui para ekspert?
Memang, kebijakan ini juga untuk melindungi warga kota. Dengan cara ini, bangku sekolah akan lebih banyak diisi oleh pelajar dari dalam kota ketimbang anak daerah.
Kebijakan ini nampaknya senyampang dengan kebijakan system rayonisasi yang diterapkan di beberapa sekolah. Sistem rayon agak lebih mudah diterima – karena ‘bunyi redaksi yang agak lebih logis’. Tujuannya pembinaan. Penerapannya bertahap. Dimulai dari SMP 1, baru kemudian diterapkan di sekolah lain.
Tetapi rupanya, rayonisasi tidak cukup. Walikota nampaknya ingin bunyi yang lebih tegas. Kuota. Pembatasan. Jatah.
Jika niatnya untuk melindungi anak-anak kota, kebijakan ini sungguh mulia. Beliau boleh dianggap pahlawan. Jasanya untuk pendidikan orang kota sungguh besar.
Namun, apakah benar selama ini ada masalah bagi anak kota Pontianak dalam mendapatkan bangku di sekolah negeri? Berapa banyak anak kota yang ingin masuk sekolah negeri, dan gagal karena kalah seleksi dengan anak daerah? Apakah selama ini jatah kursi sekolah negeri terbatas? Semuanya?
Apakah angka tidak bersekolah anak-anak di Pontianak tinggi? Apakah angka-angka itu muncul setelah mereka gagal masuk ke sekolah negeri?
Rasanya, sebaiknya orang mendengarkan hal itu dahulu, untuk memahami latar belakang kebijakan ini. Rasanya, sebaiknya setiap kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang bijak, dari pilihan yang terbaik.




Baca Selengkapnya...

Setelah Lewat Lengah Hari ...

Oleh Yusriadi

Hari itu, aku bongkar-bongkar file. Ada berkas yang kucari.
Berkas-berkas lama kuungkai satu per satu. Kubelek-belek map penyimpanan. Cukup lama juga mencarinya.
Kadang kala ada rasa kesal: karena harus susah payah mencari. Kadang juga ada rasa meluat karena berkas kadang pindah-pindah tempat. Ingatanku tidak kuat. Maklumlah.
Tetapi, ya.. mau apa lagi. Terpaksa … ya harus sabar.
Aku berusaha.




Kadang-kala ada rasa sukanya: melihat berkas lama itu memberikan kesempatanku untuk mengingat banyak hal yang sudah terlewati dalam hidup ini.
Ya, perjalanan hidupku sudah panjang. Jika umur nabi Muhammad dijadikan rujukan, berarti umurku sudah lebih separoh jalan. Kata orang tua, perbandingannya, sudah lewat tengah hari. Kini, dengan umurku itu, aku menapak senja.
Apa yang diinginkan orang di kehidupan senjanya? Orang di kehidupan senja, mestinya mulai bersiap-siap istirahat. Jika perumpamaan kehidupan manusia: manusia di kehidupan senjanya seharusnya sudah memikirkan bagaimana memulangkan ayam dan ternak lain balik ke kandang. Sudah mulai menyiapkan diri menghadapi alam yang gelap. Manusia di saat senja seharusnya sudah memikirkan saat-saat istirahat panjang.
Apakah aku begitu? Apakah aku sudah memikirkan istirahat panjang itu? Berat benar memikirkannya. Bukan, maksudku, berat benar menjawabnya. Aku malu menjawabnya. Apakah aku sudah siap (siap-siap) untuk istirahat panjang? Ibadahku bagaimana? Apakah aku sudah memenuhi panggilan Tuhan yang menciptakanku?
Apakah aku sudah berusaha mengembalikan ayam dan ternak lain kembali ke kandang? Rasanya belum. Pada saat senja ini aku masih lebih banyak memikirkan diri sendiri, ketimbang orang yang menjadi tanggung jawabku. Aku sering mengabaikan ayam dan ternakku. Kalaupun aku memikirkan mereka, aku hanya memikirkan mereka. Memikirkan saja. Tidak melakukan apa-apa.
Sering aku berpikir, jika aku mati saat ini, bagaimana ayam dan ternakku itu? Apakah mereka akan kembali sendiri ke kandang? Apakah mereka akan bertempiaran?
Justru kadang kala, aku bukannya memikirkan apa persiapanku di senja ini dan di malam hari saat aku hanya bisa terbaring. Aku, lebih sering duduk terdiam: memikirkan apa yang kubuat di pagi hari. Apa yang kubuat menjelang ufuk. Apa yang kubuat ketika matahari sepenggalan naik. Apa yang kubuat ketika hari menjelang siang.

***

Tiba-tiba, tanganku terhenti pada sebuah kartu: kartu mahasiswa. Kartu itu milikku ketika aku masih kuliah di IAIN Pontianak, tahun 1991/2, saat aku duduk di semester 5. Lagi-lagi, kartu ini mengingatkan aku pada masa muda dahulu.
Aku menilik foto yang terpampang di balik laminating. Foto hitam putih. Wajahku masih comel. Pipiku masih gemuk, dahulu ada lesung pipinya. Rambutku masih lebih lebat. Walaupun tidak rapi karena hampir tak pernah bersisir, dan tak jarang pula terkena cecair minyak Tancho. Kata orang, masih ganteng waktu itu. Banyak yang gemas – sehingga seringkali mereka membuatku takut. Bayangkan (tapi beberapa tahun sebelumnya), ada tiga orang teman Mbok Lena – Mbok Lena itu kakakku, mengepungku di atas jembatan di Jongkong, hanya karena ingin mencubit pipiku.
Beda jauhlah dibandingkan aku sekarang ini. Walaupun aku merasa tetap ganteng (hm! Maaf narsis), tapi kata orang-orang, wajahku sekarang sudah menyeramkan, kalau bisa jangan dilihat, kalau bisa dihindari. Sekarang pipiku sudah kempes sehingga semuanya jadi seperti lesung pipi, rambutku sudah tipis hampir-hampir kulit kepala yang nampak. Rambutku tetap awut-awutan karena tak berbekal sisir dan tak tersentuh minyak Gatsby. Warna putih, uban, ada di mana-mana mengkilap, mudah dilihat dari kejauhan.
Ya, aku merasakan ada perbedaan yang sangat kontras sekarang. Mengapa?
Inilah perbedaan waktu. Inilah perbedaan usia.
Perbedaan yang tak bisa dihindarkan. Perbedaan yang harus diterima sebagai sesuatu yang alami. Perbedaan yang membuatku hanya bisa mengingat, dan mengingat. Merenung dan menghayal.
Ya Rab, berikan aku husnul khatimah.

Baca Selengkapnya...

Senin, 13 Juli 2009

Naskah Klasik dari Kalbar

Oleh: Yusriadi

Hari itu, satu bulan lalu, Nindya Noergraha, Pejabat dari Perpustakaan Nasional RI berceramah di depan civitas akademika Universiti Kebangsaan Malaysia. Beliau bercerita tentang naskah klasik, khususnya naskah Melayu yang ada di perpustakaan RI, di Jakarta. Ceramahnya panjang lebar. Menurutnya, ada banyak naskah klasik Melayu yang ada di perpustakaan RI. Naskah itu kini tersimpan dengan selamat. Namun jarang digunakan. Setidaknya, orang yang memanfaatkan naskah itu sebagai sumber penelitian, masih terbatas pada kalangan tertentu.
Ceramahnya seputarnya naskah klasik Melayu, menyinggung pula tentang naskah klasik dari Kalbar. Itu karena moderator, Prof. Dr.Noriah Mohamed, atau lebih dikenal sebagai Ibu Ning, melemparkan kesempatan kepada saya selepas kesempatan tanya jawab diberikan.
“Ayo, bagaimana Pontianak, ada komen?”



Profesor sudah lama kenal dengan saya, melalui pembimbing saya – Profesor Dr. James T. Collins. Dia tahu saya berasal dari Pontianak.
Saya memang tidak buka suara sejak awal pertemuan. Saya ingin mengungkaikan kembali kenangan lama, 13 tahun lalu, ketika pertama kali saya datang ke Universiti Kebangsaan Malaysia. Jadi, ceramah itu menyentuh ingatan saya.
Karena semua pandangan tertuju pada saya, seperti ingin mendengar sesuatu dari Pontianak, saya terpaksa buka mulut. Memberikan informasi yang pasti mengecewakan mereka.
“Tidak banyak yang saya ketahui tentang naskah lama di Pontianak. Memang pernah ada penelitian yang dilakukan oleh teman-teman di STAIN POntianak, bagian dari proyek penelitian Departemen Agama, tetapi apa hasilnya? Saya tidak tahu,”
Ya, benar, saya tidak tahu apa kesimpulan penelitian itu. Apa hasil akhirnya. Tidak ada publikasi. Setidaknya, saya tidak mendengarnya. Pasti, ini terjadi karena keterbatasan saya menyerap informasi, sekalipun saya sebenarnya sangat tertarik terhadap penelitian ini.
“Kalau tidak salah, penelitian itu berhasil mendokumentasikan semua buku yang ditulis oleh Maharaja Imam Sambas, Basiuni Imran. Tetapi, di mana sekarang file-file itu disimpan, saya tidak tahu perkembangannya”.
Lalu, seorang pelajar Indonesia, asal Jakarta bicara. Pelajar itu, yang juga dosen Universitas Islam Negeri Jakarta, mengaku pernah terlibat dalam proyek penelitian naskah klasik di bawah proyek Depag RI mengatakan, naskah Kalbar sekarang ini banyak yang sudah pindah ke Brunei. Dia bicara dengan nada yang meyakinkan. Tidak ada keraguan.
Setelah komentar itu, tak ada informasi lain tentang naskah asal Kalbar. Peserta pun tidak mendalami informasi ini, kecuali komentar tentang usaha Brunei itu.

***

Saya memang pernah mendengar perjalanan naskah dari Kalbar ke Brunei. Jalurnya, melalui jalan darat. Ada orang Kalbar yang membawa naskah itu ke sana. Ada orang Brunei – yang tertarik dengan naskah Kalbar itu dan ‘menampungnya’.
Sebenarnya tidak hanya naskah yang berjalan ke Brunei. Barang-barang lain juga begitu. Masalahnya, barang ada, peminatnya ada.
Saya memaklumi cerita itu. Maklum karena sudah pasti, orang Kalbar tertarik dengan ‘proyek’ mengumpulkan naskah lama setelah tahu ada orang di Brunei yang mencarinya. Sekadar memenuhi pesanan. Cuma tidak bisa ditebak apakah naskah itu dibeli – dalam arti sesungguhnya, atau tidak. Mungkin saja ada transaksi dolar Brunei.
Tetapi, tentu tidak sepatutnya ada menganggap bahwa transaksi itu sebagai sesuatu yang negative. Dugaan jual beli naskah dalam pengertian bisnis naskah, seperti yang dilontarkan sebagian orang di Indonesia, selama ini, dapat dilihat dari sudut lain. Ada nilai positif yang ada di balik hal itu.
Nilai positif itu adalah dokumentasi. Penyimpanan naskah di lembaga seperti muzium pasti dilakukan dengan rapi. Lembaga seperti ini memiliki ruang penyimpanan disiapkan dengan khusus.Suhu dan cahayanya diatur dan dikendalikan. Binatang seperti rayap tidak akan berminat merusak naskah itu. Ini yang membuat naskah terjaga.
Hal seperti ini sudah terbukti lebih bermanfaat bagi sejarah Kalbar hari ini. Ada beberapa naskah Kalbar yang sudah dibawa keluar pulau sejak beberapa puluh tahun lalu. Ada banyak yang dibawa ke Jakarta juga. Dibawa ke Malaysia, Inggris, dan Belanda.
Sekarang ini naskah-naskah itu selamat di tempat penyimpanan di sana. Justru itu, naskah ini membuat orang dapat mengetahui tentang masa lalu daerah ini. Jejak sejarah dapat disusuri dari bahan-bahan ini.
Bandingkan dengan situasi yang terjadi di tempat asal. Naskah yang disimpan oleh ahli waris tidak semuanya selamat sampai sekarang ini, ke generasi hari ini. Beberapa dari naskah itu sudah musnah karena penyimpanannya tidak baik.


***

Saya terpana pada cerita Pak Nindya, karena saya ingat ada beberapa naskah lama yang ditemukan di Kalbar atau berasal dari Kalbar yang dijejaki di tempat lain. Setidaknya, ada ada 4 naskah penting yang kerap disebut mampu membantu memahami Kalbar masa lalu, yang saya gunakan kalau lagi membanggakan peradaban menulis masa lalu Kalbar.
Pertama, Naskah dari Timur. Naskah ini disebutkan dalam buku terkenal Tuhfat Al-Nafis, karya Raja Ali Haji. Naskah ini menggambarkan keadaan kepulauan Melayu pada abad ke-18 dan ke-19. Mengenai hubungan antara Pontianak, Sambas, Matan, dengan kerajaan di Sumatera. Naskah ini menggambarkan keperwiraan orang Bugis di Riau dan di Kalbar, khususnya Opu Daeng Manambon, Opu Daeng Kamase, Opu Daeng Celak, Daeng Rilaga, dan lain-lain.
Namun, walaupun tidak disebutkan judul tulisan itu, dan tidak disebutkan siapa penulisnya, tulisan ini sudah menggambarkan adanya ‘bahan tertulis dari Kalbar’ yang ditemukan Raja Ali Haji. Raja Ali Haji menetap di Riau, tepatnya di Pulau Penyengat.
Kedua, Syair Perang Cina di Monterado. Syair ini dialeterasi dari Arab Melayu kepada tulisan Latin, oleh Arenawati, sastrawan Malaysia asal Bugis. Syair ini ditemukannya ketika beliau pergi ke Leiden, Belanda. Syair ini menggambarkan situasi peperangan yang melibatkan orang Cina di beberapa wilayah kongsi tempat pertambangan emas di Monterado, melawan orang Melayu dan kemudian melibatkan Belanda.
Ketiga, Syair Pangeran Syarif. Syair ini juga dialeterasi dari Arab Melayu kepada tulisan Latin, oleh Arenawati. Syair ini juga ditemukannya di Leiden, Belanda, ditulisan oleh Sultan Matan. Syair ini menggambarkan situasi di kota Pontianak pada abad ke-21, seperti yang dilihat oleh Sultan saat harus ke Pontianak mengurus adiknya yang ditahan oleh Belanda. Pontianak abad ke-21 digambarkan dengan detail – terutama mengenai relasi etnik, kegiatan ekonomi dan perdagangan,serta dinamika sosial.
Keempat, Bahar Al-Lahut. Kitab ini ditulis oleh Al-Arif, berhubungan dengan aliran Syiah di Nusantara. Al-Arif diduga adalah nama samaran, atau nama pena penulis, bukan nama sebenarnya. Kitab ini ditemukan di Kalbar, merupakan kitab tertua dalam bidang ini.
Meskipun bukan ditulis oleh orang Kalbar, namun, keterangan yang menyebutkan bahwa naskah ini ditemukan di Kalbar menunjukkan relevansinya dengan tema ‘perjalanan’ naskah dari Kalbar ke tempat lain. Jika naskah ini tidak terlanjur diselamatkan sudah pasti Kalbar tidak akan dikaitkan dengan penyebaran aliran ini.
Saya selalu percaya bahwa naskah yang ditulis orang Kalbar masa lalu, pasti bukan dua atau tiga saja naskah. Pasti banyak. Saya juga percaya bahwa tradisi menulis ini sedikit banyak berkaitan dengan tradisi membaca orang Kalbar. Tradisi ini membuat sebagian orang dahulu membeli dan menyimpan buku.
Lalu, mengapa yang sampai kepada kita hari ini hanya satu dua naskah saja? Itulah masalah kita sebenarnya.

Baca Selengkapnya...

Zahry Abdullah: Dulu Kerja Gila, Kini Kerja Mulia

Oleh: Yusriadi


Peneliti sejarah dan budaya Melayu Kalbar, khususnya Melayu Pedalaman pasti mengenal sosok Zahry Abdullah. Sosok yang dikenal dengan nama lengkap Datuk Abang Drs. H Zahry Abdullah ini dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sangat dalam tentang sejarah keluarga dan kerabat kerajaan Melayu di Kalbar. Mulai dari kerajaan Bunut, hingga Sanggau.


Tok Olah –demikian orang dekat biasa memanggilnya, dapat bercerita panjang lebar tentang orang-orang penting pedalaman, hingga sanak familinya. Beliau dapat bercerita tak putus-putusnya jika sudah bicara siapa beranak siapa, siapa menurunkan siapa, bagaimana ceritanya, dll.
Sering kali pendengar terpana dengan kebolehannya.
Beliau berbeda dengan banyak ‘pencerita sejarah’ kebanyakan. Kelebihan beliau adalah, jika beliau bercerita, beliau bercerita dengan bukti. Beliau dapat menunjukkan ‘peninggalan’, silsilah, dan contoh-contoh yang meyakinkan. Tidak asal sebut, tidak asal ngecap.
Beliau sudah menerbitkan tulisan tentang sejarah-sejarah pedalaman itu. Antara lain, Sejarah dan Perkembangan Islam di Sanggau, Hubungan Orang Iban dan Islam di Kapuas Hulu.
Beliau sering tampil sebagai pembicara; baik seminar tentang Melayu di Kalbar, maupun dalam seminar di luar negeri –khususnya Brunei dan Malaysia.
Kelebihan inilah yang membuat beliau terkoneksi dengan banyak peneliti; baik peneliti dari Kalbar, Jakarta, maupun dari Malaysia dan dunia. Peneliti sejarah seperti L. Andaya pernah berkorespodensi dengan beliau. Beliau memiliki koneksi dengan orang-orang dari lembaga pelestari sejarah seperti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, atau Muzium Brunei.

***

Tentu saja taraf yang dicapai sekarang ini tidak jadi dengan sendirinya. Semua itu dicapai melalui perjalanan panjang beliau. Semua itu dicapai dengan usaha beliau. Semua itu dicapai dengan kemauan belajar dan menggali informasi. Hal yang kecil dan sederhana di mata banyak orang, di mata beliau merupakan hal yang menarik dan istimewa.
Beliau mengumpulkan banyak tulisan tangan orang-orang tua dahulu; mulai tulisan tentang fiqh, hingga surat-surat biasa. Beliau mengumpulkan benda-benda lama, apa saja. Beliau juga mengumpulkan batu-batu unik, akar-akar pohon, dll.
“Dulu, orang sering bilang, saya orang gila,” katanya, pekan lalu.
Saat itu beliau menunjukkan sebuah manuskrip tulisan tangan tentang tarikat di Kalbar. Tulisan itu berbentuk huruf Arab Melayu. Beberapa hari sebelumnya, ada peneliti tarekat dari Semarang dan dari Departemen Agama RI, Jakarta, datang kepada beliau melihat naskah yang ditulis pada tahun 1333 H, atau hampir 100 tahun lalu.
Naskah itu sudah sempat lapuk, dan ada bekas gigitan rayap. Kini untuk penyelamatan, naskah itu dilaminting. Pasti gigi rayap akan susah merobek-robek plastic itu. Ini adalah salah satu contoh kegilaan beliau, dahulu.
Mengapa dikatakan orang lain, gila?
Gila, karena banyak menyimpan barang yang tidak ada gunanya. Beliau menyimpan tulisan tangan yang waktu itu tahun 1960-an, dianggap tulisan biasa. Tidak ada nilainya. Pada masa itu, tulisan seumpama akan dibiarkan begitu saja. Orang lain lebih suka menyimpan barang yang berharga.
Gila karena menyimpan barang yang tidak ‘ada gunanya’ itu hanya menyesakkan ruangan. Ruangan yang lapang menjadi sempit.
Meskipun disebut gila, namun beliau terus melakukannya. Beliau terus mengumpulkan barang yang menurutnya patut disimpan. Kadang, bila boleh dipinta, beliau meminta dari keluarga yang menyimpannya. Kadang jika harus dihargai, beliau menghargainya dengan nilai yang disepakati.
Minat dan kecintaan terhadap barang-barang lama sebagai hobby beliau, mendapat jalan karena kedudukan sosial yang tinggi ketika itu. Saat orang pedalaman rata-rata pendidikannya rendah, beliau dapat mengenyam pendidikan tinggi. Boleh dihitung orang seusia beliau yang berpendidikan perguruan tinggi.
Beliau juga satu di antara orang pedalaman yang bisa mencapai kedudukan politik cukup tinggi. Anggota DPRD Kapuas Hulu. Jabatan anggota Dewan merupakan jabatan yang dihormati; dihormati oleh orang kebanyakan, dihormati oleh para pejabat. Bupati yang dihormati orang kampung, juga menaruh hormat pada anggota Dewan. Bayangkan!

***

Kini, rumah beliau seperti muzium. Banyak lemari dan peti-peti penyimpanan barang. Rumah beliau menjadi tempat penyimpanan barang yang dikumpulkan sejak setengah abad yang lalu.
Penyimpanan itu, bisa diakses oleh orang lain. Beliau sangat terbuka. Beliau juga dapat menjelaskan tentang barang-barang yang dimiliknya, dengan panjang lebar.
Justru karena keterbukaan itu, beliau menjadi rujukan setiap penggalian informasi sejarah – khususnya sejarah pedalaman Kalbar.
Kedudukan ini, tentu terasa sangat penting bagi para penyusun sejarah lokal. Kedudukan ini yang membuat banyak orang menaruh respek pada beliau. Sumbangannya terhadap persejarahan Kalbar, khususnya persejarahan Melayu di Kalbar sangat besar. Beliau dapat menyumbang serpihan informasi dari sekian banyak informasi sejarah yang harus disusun oleh peneliti sejarah.
Hal inilah yang menyebabkan pekarjaan beliau dahulu yang dianggap gila, kini justru menjadi mulia. Jasanya tidak ternilai. Beliau dianggap sebagai penyelamat kepingan sejarah Kalbar.
Sayangnya, pengetahuan beliau yang dalam, belum semua tertulis. Masih banyak informasi yang tersimpan melalui ingatan dan disampaikan secara lisan.
Seharusnya, informasi itu ditulis. Namun, setakat ini, informasi yang diikat di ujung pena hanya baru sebagiannya saja. Malah mungkin apa yang sudah ditulis baru setetes dari lautan informasi yang dikuasainya.
“Saya agak susah menulis. Lebih mudah menceritakan. Yang muda-mudalah yang seharusnya membantu saya menulis,” katanya, beberapa waktu lalu.
Lalu, siapakah yang muda yang bersedia membantu menulisnya? Seharusnya ada. Seharusnya ada orang yang perduli untuk menulis informasi yang dikuasi Pak Olah.





Baca Selengkapnya...

Zahry Abdullah: Dulu Kerja Gila, Kini Kerja Mulia

Oleh: Yusriadi


Peneliti sejarah dan budaya Melayu Kalbar, khususnya Melayu Pedalaman pasti mengenal sosok Zahry Abdullah. Sosok yang dikenal dengan nama lengkap Datuk Abang Drs. H Zahry Abdullah ini dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sangat dalam tentang sejarah keluarga dan kerabat kerajaan Melayu di Kalbar. Mulai dari kerajaan Bunut, hingga Sanggau.


Tok Olah –demikian orang dekat biasa memanggilnya, dapat bercerita panjang lebar tentang orang-orang penting pedalaman, hingga sanak familinya. Beliau dapat bercerita tak putus-putusnya jika sudah bicara siapa beranak siapa, siapa menurunkan siapa, bagaimana ceritanya, dll.
Sering kali pendengar terpana dengan kebolehannya.
Beliau berbeda dengan banyak ‘pencerita sejarah’ kebanyakan. Kelebihan beliau adalah, jika beliau bercerita, beliau bercerita dengan bukti. Beliau dapat menunjukkan ‘peninggalan’, silsilah, dan contoh-contoh yang meyakinkan. Tidak asal sebut, tidak asal ngecap.
Beliau sudah menerbitkan tulisan tentang sejarah-sejarah pedalaman itu. Antara lain, Sejarah dan Perkembangan Islam di Sanggau, Hubungan Orang Iban dan Islam di Kapuas Hulu.
Beliau sering tampil sebagai pembicara; baik seminar tentang Melayu di Kalbar, maupun dalam seminar di luar negeri –khususnya Brunei dan Malaysia.
Kelebihan inilah yang membuat beliau terkoneksi dengan banyak peneliti; baik peneliti dari Kalbar, Jakarta, maupun dari Malaysia dan dunia. Peneliti sejarah seperti L. Andaya pernah berkorespodensi dengan beliau. Beliau memiliki koneksi dengan orang-orang dari lembaga pelestari sejarah seperti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, atau Muzium Brunei.

***

Tentu saja taraf yang dicapai sekarang ini tidak jadi dengan sendirinya. Semua itu dicapai melalui perjalanan panjang beliau. Semua itu dicapai dengan usaha beliau. Semua itu dicapai dengan kemauan belajar dan menggali informasi. Hal yang kecil dan sederhana di mata banyak orang, di mata beliau merupakan hal yang menarik dan istimewa.
Beliau mengumpulkan banyak tulisan tangan orang-orang tua dahulu; mulai tulisan tentang fiqh, hingga surat-surat biasa. Beliau mengumpulkan benda-benda lama, apa saja. Beliau juga mengumpulkan batu-batu unik, akar-akar pohon, dll.
“Dulu, orang sering bilang, saya orang gila,” katanya, pekan lalu.
Saat itu beliau menunjukkan sebuah manuskrip tulisan tangan tentang tarikat di Kalbar. Tulisan itu berbentuk huruf Arab Melayu. Beberapa hari sebelumnya, ada peneliti tarekat dari Semarang dan dari Departemen Agama RI, Jakarta, datang kepada beliau melihat naskah yang ditulis pada tahun 1333 H, atau hampir 100 tahun lalu.
Naskah itu sudah sempat lapuk, dan ada bekas gigitan rayap. Kini untuk penyelamatan, naskah itu dilaminting. Pasti gigi rayap akan susah merobek-robek plastic itu. Ini adalah salah satu contoh kegilaan beliau, dahulu.
Mengapa dikatakan orang lain, gila?
Gila, karena banyak menyimpan barang yang tidak ada gunanya. Beliau menyimpan tulisan tangan yang waktu itu tahun 1960-an, dianggap tulisan biasa. Tidak ada nilainya. Pada masa itu, tulisan seumpama akan dibiarkan begitu saja. Orang lain lebih suka menyimpan barang yang berharga.
Gila karena menyimpan barang yang tidak ‘ada gunanya’ itu hanya menyesakkan ruangan. Ruangan yang lapang menjadi sempit.
Meskipun disebut gila, namun beliau terus melakukannya. Beliau terus mengumpulkan barang yang menurutnya patut disimpan. Kadang, bila boleh dipinta, beliau meminta dari keluarga yang menyimpannya. Kadang jika harus dihargai, beliau menghargainya dengan nilai yang disepakati.
Minat dan kecintaan terhadap barang-barang lama sebagai hobby beliau, mendapat jalan karena kedudukan sosial yang tinggi ketika itu. Saat orang pedalaman rata-rata pendidikannya rendah, beliau dapat mengenyam pendidikan tinggi. Boleh dihitung orang seusia beliau yang berpendidikan perguruan tinggi.
Beliau juga satu di antara orang pedalaman yang bisa mencapai kedudukan politik cukup tinggi. Anggota DPRD Kapuas Hulu. Jabatan anggota Dewan merupakan jabatan yang dihormati; dihormati oleh orang kebanyakan, dihormati oleh para pejabat. Bupati yang dihormati orang kampung, juga menaruh hormat pada anggota Dewan. Bayangkan!

***

Kini, rumah beliau seperti muzium. Banyak lemari dan peti-peti penyimpanan barang. Rumah beliau menjadi tempat penyimpanan barang yang dikumpulkan sejak setengah abad yang lalu.
Penyimpanan itu, bisa diakses oleh orang lain. Beliau sangat terbuka. Beliau juga dapat menjelaskan tentang barang-barang yang dimiliknya, dengan panjang lebar.
Justru karena keterbukaan itu, beliau menjadi rujukan setiap penggalian informasi sejarah – khususnya sejarah pedalaman Kalbar.
Kedudukan ini, tentu terasa sangat penting bagi para penyusun sejarah lokal. Kedudukan ini yang membuat banyak orang menaruh respek pada beliau. Sumbangannya terhadap persejarahan Kalbar, khususnya persejarahan Melayu di Kalbar sangat besar. Beliau dapat menyumbang serpihan informasi dari sekian banyak informasi sejarah yang harus disusun oleh peneliti sejarah.
Hal inilah yang menyebabkan pekarjaan beliau dahulu yang dianggap gila, kini justru menjadi mulia. Jasanya tidak ternilai. Beliau dianggap sebagai penyelamat kepingan sejarah Kalbar.
Sayangnya, pengetahuan beliau yang dalam, belum semua tertulis. Masih banyak informasi yang tersimpan melalui ingatan dan disampaikan secara lisan.
Seharusnya, informasi itu ditulis. Namun, setakat ini, informasi yang diikat di ujung pena hanya baru sebagiannya saja. Malah mungkin apa yang sudah ditulis baru setetes dari lautan informasi yang dikuasainya.
“Saya agak susah menulis. Lebih mudah menceritakan. Yang muda-mudalah yang seharusnya membantu saya menulis,” katanya, beberapa waktu lalu.
Lalu, siapakah yang muda yang bersedia membantu menulisnya? Seharusnya ada. Seharusnya ada orang yang perduli untuk menulis informasi yang dikuasi Pak Olah.





Baca Selengkapnya...

Minggu, 12 Juli 2009

Catatan dari Peluncuran Buku “Menapak Jalan Dakwah”

Judul: Menapak Jalan Dakwah
Editor: Ambaryani dan Marisa
Penerbit: STAIN Pontianak Press
Tahun: 2009

MENGASAH KEMAMPUAN MENULIS MAHASISWA

Oleh Yusriadi

Sabtu (27/6/2009). Selain meluncurkan buku “Menunggu di Tanah Harapan (Yusriadi, dkk 2009), Ketua STAIN Pontianak H. Moh. Haitami Salim, juga meluncurkan buku “Menapak Jalan Dakwah”.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan Hardianti, dkk yang diedit oleh Ambaryani dan Marisa. Hardianti, dkk adalah mahasiswa yang mengikuti kelas Feature di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di STAIN Pontianak.


Isi buku, berupa profil sejumlah dosen yang mengajar di STAIN Pontianak, dan profil mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di STAIN Pontianak. Profil-profil ini ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan masing-masing sosok, ditambah lagi dengan wawancara terhadap orang yang dekat dengan sosok itu.
Setiap sosok itu digambar aspek riwayat hidup-- dari kecil hingga sekarang, digambarkan juga perjalanan mereka dalam menuntut ilmu, karya-karya yang relevan dengan bidang pekerjaan mereka, serta prinsip-prinsip hidup mereka.
Profil-profil itu dikisahkan dengan persembahan yang menarik. Mahasiswa menulis kisah itu dengan gaya bertutur. Sebagian menggunakan sudut netral, sebagian lagi malah menggunakan sudut pandang diri sendiri sebagai penulis. Cara bercerita yang beragam dan tidak formal ini memberikan banyak gambaran terutama persepsi penulis terhadap tokoh. Persepsi melengkapi data-data yang ditampilkan.
Gambaran-gambaran isi buku juga memberikan inspirasi. Umumnya, tokoh yang diprofilkan memiliki perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Mereka merasakan suka duka kehidupan. Mereka sudah mencicipi pahit manis dan asin dunia ini.
Mereka bisa bertahan karena mereka memiliki prinsip sendiri. Apa yang mereka capai bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

***



Buku ini sangat mengesankan saya. Sebagai pengampu Feature, saya bangga mahasiswa sudah bisa menulis dengan penggambaran yang beberapa di antaranya agak detail. Saya bangga mahasiswa sudah bisa melakukan pengeditan, dan saya bangga mahasiswa sudah bisa menerbitkan tulisan mereka. – Tampilan desain cover juga bagus!
Saya bangga karena akhir dari kelas, mahasiswa bisa menghasilkan buku. Selain ”Menapak Jalan Dakwah”, kelas Feature itu juga telah menerbitkan kumpulan cerpen: “Mimpi di Borneo”.
Penerbitan tulisan ini membuktikan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan, jika kemampuan itu diasah. Mahasiswa dapat menghasilkan karya jika mereka mendapatkan bimbingan.
Tentu, untuk mencapai tahap ini tidak bisa sekali jadi. Tidak ada istilah simsilabim. Prosesnya panjang.
Setiap pertemuan mahasiswa harus menulis. Panjang tulisan minimal 10 halaman, 1 spasi.
Mereka bertungkus lumus mengerjakan tugas itu. Lintang pukang, kata orang Melayu. Karena memang, jika semangat tidak kuat, tugas 10 halaman itu amat berat. Sebab, tugas di kampus bukan cuma itu. Ada tugas lain dari dosen lain.
Tetapi saya selalu merasa puas ketika dapat meyakinkan mereka bahwa mengerjakan tugas 10 halaman bukan pekerjaan yang berat. Syaratnya, dinikmati. Tugas harus hayati. Nikmatilah sebagai bagian dari proses pembelajaran. Hayatilah sebagai proses berkarya dan menemukan jati diri.
Saya sering mengaitkan soal berat ringan tugas itu dengan salat. Salat, adalah kewajiban bagi orang Islam. Kalau merasa beragama Islam mestilah salat. Orang yang Islam tetapi tidak salat disebut sebagai orang munafik.
Salat, bagi sebagian orang adalah berat. Banyak orang malas. Tak kata subuh di saat dingin menusuk tulang, di siang hari atau sore di saat lapang pun banyak orang merasa enggan. Ada yang salatnya belang-belang kambing, karenanya.
Sebaliknya, bagi sebagian yang lain, salat bukan hal yang berat. Biasa saja. Salat dikerjakan terus. Tak buang waktu. Penuh. Mengapa bisa begitu? Karena mereka mengerjakan salat dengan kepatuhan. Mereka mengerjakan salat cenderung tepat pada waktunya. Salah akan jadi ringan jika dikerjakan seawal mungkin.
Benar atau tidak, mahasiswa dapat memahami logika itu. Mereka memahami mengapa saya menegur jika mereka mengerjakan tugas last minute. Mereka mengubahnya. Mereka menjadi orang yang mengerjakan tugas seawal mungkin. Tak lagi lalai. Yang lalai akan kena ‘sayok’.
Untuk memperkuat semangat mereka, saya membuat peraturan: dilarang mengeluh. Setiap keluhan akan dibayar dengan karya. Satu keluhan, satu karya. Dua keluhan dua karya Tiga keluhan, tiga karya. Saya pernah memberikan 4 tugas sekaligus karena ada di antara mereka yang mengeluh. Tetapi, sejak itu tidak pernah lagi ada di antara mahasiswa yang berani mengeluh di dalam kelas. Mereka menjadi ‘anak yang manis’.
Kejam. Mungkin. Tetapi, bagi saya mengeluh menimbulkan penyakit. Penyakit hati. Pekerjaan yang ringan sekalipun akan menjadi berat jika disertai dengan keluhan. Mengeluh membuat stress. Stress punca orang menjadi gila. Secara bergurau saya katakan: “Saya tidak ingin menjadi teman bagi orang gila”.
Tentu saja saya memahami sebenarnya menulis banyak bukan pekerjaan mudah. Menulis melibatkan dua isu: keterampilan cara menulis dan bahan. Untuk hal yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan mahasiswa dianjurkan menulis dengan meniru pola orang lain dalam menulis. Menulis mengikuti pola jauh lebih mudah dibandingkan menulis tanpa pola. Karena itu membuat kerangka lebih dahulu adalah salah satu jalannya. Baru kemudian kerangka itu dikembangkan.
Sedangkan untuk memudahkan mereka mencari bahan yang akan ditulis, saya meminta mereka menulis tentang dirinya sendiri lebih dahulu. Baru kemudian dia menulit tentang orang tua dan saudaranya. Selanjutnya tentang orang yang berpengaruh dalam kehidupan mereka. Bahan ini sudah tersimpan dalam otak mereka. Tinggal mengeluarkan. Mereka tidak akan kehabisan bahan.
Dan, hasilnya: menyenangkan. Mereka berkarya. Mereka bersemangat. Bahkan, saya mendengar ada seorang mahasiswa yang mengaku dapat membuat karya dari setelah Isya sampai lewat tengah malam. Konon katanya dia menikmati.
”Khan tulis tentang diri sendiri. Jadi, rasanya seperti bernostalgia,”
Motivasi menulis meningkat. Beberapa di antara mahasiswa mengatakan langsung hal itu. Ada juga yang lewat tulisan – yang diposting di blog.
Apresiasi datang dari orang-orang dekat mereka. Bangga, tentu saja!
Bangga itu mengobarkan semangat. Akhirnya, dengan semangat itu, dengan kemampuan itu, mereka menghasilkan buku. Mereka menghasilkan dokumentasi berisi cerita tentang teman dan dosen mereka. Mereka membuktikan diri sebagai orang yang hidup dalam keabadian tulisan.
Lebih dari itu, ini juga bukti aktualisasi mereka.
“Ini bukti kalau kita mau, pasti bisa,” kata Ambaryani, editor buku itu ketika menyampaikan sambutan pada acara peluncuran buku.




Baca Selengkapnya...