Sabtu, 02 April 2011

Takut Beli Pertamax Plus

Yusriadi
Borneo Tribune

Kisah bensin langka beberapa waktu lalu menyisakan cerita lucu, sekaligus juga menyedihkan. Teman saya bercerita, di saat susah-susahnya mendapatkan bensin di hari itu, pamannya membeli satu jeriken kecil ukuran 5 liter “Pertamax” yang dijual di pinggir jalan di Pontianak. Dia perlu membeli banyak, sekadar simpan-simpan jika memang minyak habis nanti.

Saat membeli, paman nampaknya senang betul. Senang karena dia memperoleh stok minyak untuk beberapa hari ke depan. 5 liter itu cukup untuk beberapa hari. Jadi, jika dalam beberapa hari bensin betul-betul hilang dari pasaran, atau bensin dijual gila-gilaan di pasar, dia masih dapat berlega rasa.
Ketika sampai di rumah, paman menunjukkan kegembiraannya. “Sambil datang dengan senyum lebar, paman bilang, ‘ni, dapat minyak dah’.
Pada mulanya orang di rumah ikut senang. Tetapi, kemudian mereka jadi terpana ketika melihat ada ada bercak warna pink di jeriken dan menempel juga di tangan paman. Setelah dilihat dengan seksama, tawa mereka pecah. Mereka mentertawakan paman dan mentertawakan kegembiraan paman.
Rupanya, paman telah membeli minyak bensin yang diberi pewarna. Bukan benar-benar Pertamax.
Paman telah membeli bensin yang harganya Rp4500, dan pewarna yang harganya Rp10.500. Jadi hitung-hitung untuk bensin paman keluar uang Rp… Sedangkan untuk pewarna paman membayar Rp52.500.
Nah, sejak mendengar cerita itu saya jadi takut-takut. Khawatir kena juga. Oleh sebab itulah meskipun kemarin bensin ‘susah’ lagi, saya berusaha untuk tidak membeli Pertamax di pinggir jalan.
Selain soal harga yang tidak patut, juga mengkhawatirkan bagaimana pengaruh campuran bensin terhadap mesin. Mesti ada pengaruh, sekalipun mungkin pengaruh itu tidak sama dengan pengaruh kalau bensin dicampur minyak tanah, atau dicampur air seperti yang pernah dilakukan orang yang mencari untung dengan cara yang tidak benar.
Di balik itu, geram rasanya melihat orang berprilaku seperti itu. Jika punya kekuasaan, rasanya pengin menyeret orang yang melakukan itu ke kantor polisi biar dia jera, dan orang lain juga tidak mau ikut-ikutan seperti itu. (26/2/2011) (*)

Baca Selengkapnya...

SMS Suami Istri

Yusriadi
Borneo Tribune

Saya terkesan pada cerita teman yang sedang membongkar rumah dan mengemas bekas bongkaran itu.
Teman saya bercerita bahwa dia mempunyai teman sepasang suami istri yang menawarkan diri membantu memanggul kayu bekas bongkaran rumah. Mereka datang dengan sangat bersahabat dan ramah menawarkan jasanya.

“Abang sudah kami anggap saudara. Masak tengok saudara kecapean pikul beban, kami diam saja. Kami harus bantu,” kata teman mengisahkan kata-kata suami istri itu.
Teman saya bilang ada sebelum suami istri itu datang memang ada banyak orang yang datang menemui saya. Mulai orang biasa hingga orang luar biasa.
« Saya bisa membantu. Tapi, kalau bantu mikul, ya…. Ada upahnya ». Lalu orang itu menyebutkan tarif jasa pikul dia.
Ada juga orang yang katanya selama ini dianggap teman, bukannya membantu, mereka malah membuat beban jadi berat. Mengapa berat, karena teman ini malah banyak omong dan banyak tanya.
“Eh, pikul apa tu?” – padahal dia melihat sendiri apa yang dipikul orang.
“Lho, kok bawa’nya hanya satu batang. Kapan selesainya ?”
“Lho, cara mikulnya kok begitu. Bukan begitu cara pikulnya.”
Ada juga orang yang ditemukannya, bukannya membantu tetapi mereka malah membicarakan apa yang dibongkar rumah dan apa yang dipikul. Walaupun teman bilang tidak mau mendengar, namun, apa yang mereka sampaikan membuat dia risau.
“Ini, jangankan membantu, justru malah bikin tambah berat kerjaan”.
Lalu kata teman tadi, sambil sama-sama memikul bekas bongkaran itu, suami istri itu memberikannya nasehat:
“Ndak usah dipikirkan apa yang orang omongkan. Biarkan saja, nanti juga akan berlalu. Paling sekali dua saja mereka membicarakan tentang apa yang kamu pikul, bagaimana kamu memikul, dll. Setelah itu mereka akan senyap. Sebab mereka punya pekerjaan lain”.
Sang istri juga mengingatkan. “Sabarlah. Cobalah memahami sikap sebagian orang kita yang suka sms. Suka melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang”.
Apa yang diingatkan suami istri itu katanya meresap dalam jiwanya.
Mendengar cerita teman ini, saya teringat, pernah mendengar cerita tenang seorang anak, bapak dan keledainya. Ketika bapak naik keledai dan anak menuntunnya, orang menyalahkan bapak yang tidak kasihan pada sang anak. Ketika anak yang naik keledai dan bapak menuntunnya, orang menyalahkan anak yang tidak kasihan pada bapaknya. Ketika bapak dan anak itu sama-sama naik keledai, orang mengatakan keduanya tidak bertimbang rasa pada keledai yang keberatan membawa beban. Lalu, ketika bapak dan anak itu memilih tidak naik keledai itu, tetapi menuntunnya, orang mengatakan bapak dan anak itu bodoh karena tidak memanfaatkan keledai untuk tunggangan. Jadi, tidak ada yang benar akhirnya. Semua salah. Yang benar adalah, selalu ada orang yang mulutnya ceriwis dan celupar. Selalu ada orang yang lebih suka mengurus urusan orang lain dan menyusahkan orang lain. Tengok saja di sekitar kita. (13/3/2011) (*)

Baca Selengkapnya...

Sejarah Kampung di Pontianak

Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune

Pertemuan dengan sejumlah tokoh dan ilmuan di Kalimantan Barat di Pontianak Rabu (6/3) kemarin mengesankan sekali. Saat orang-orang membicarakan tentang sejarah dan dinamika orang Melayu di Kalimantan Barat, seorang tokoh menceritakan bahwa dia pernah menerima kedatangan rombongan mahasiswa dari luar yang bertanya tentang sejarah Kota Pontianak.
Mahasiswa luar itu katanya bukannya bertanya tentang sejarah Pontianak yang pernah orang ditulis, tetapi, mereka bertanya tentang sejarah Pontianak dimulai dari sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.


Sejarah kampung di Pontianak sama pentingnya dengan sejarah Kota Pontianak. Sebab, Kota Pontianak sesungguhnya terdiri dari kampung-kampung.
“Saya tidak tahu tentang sejarah kampung,” ceritanya.
Cerita tokoh itu membuat saya merenung. Benar. Sejarah Pontianak sudah ditulis. Sudah ada buku yang memuat gambaran sejarah secara umum. Misalnya ada buku yang ditulis oleh peneliti dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak. Buku itu sudah diterbitkan Romeo Grafika beberapa tahun lalu. Dalam buku itu ada gambaran tentang tahun berdirinya kota Pontianak. Sejarah tentang tokoh-tokoh yang mendirikan kota ini, juga tentang kegiatan ekonomi.
Saya juga pernah membaca buku syair yang menggambarkan dinamika penduduk kota ini pada awal abad ke-20.
Namun, seperti juga yang ditanyakan mahasiswa luar itu kepada tokoh, saya juga merasa masih ada yang kurang.
Saya sangat sependapat dengan pernyataan, bahwa: Pontianak itu sebenarnya terdiri dari kampung-kampung. Sejarah Pontianak, seharusnya sejarah kampung-kampung yang ada di Pontianak.
Lalu, bagaimana dengan sejarah kampung-kampung itu? Belum ada. Belum ada buku yang memuat informasi tentang kapan kampung itu dibuka, siapa yang mendirikan kampung itu, dan bagaimana prosesnya.
Cerita ini mengingatkan saya bahwa penelitian dan informasi mikro sangat penting, dan itu sering dilupakan orang.
Lantas, saya jadi teringat beberapa bulan lalu ketika orang Dayak Kalbar ribut setelah mendengar laporan penelitian Dr. Thamrin Amal Tamagola. Thamrin dituntut karena dia menyebutkan ‘orang Dayak’.
Pada waktu itu saya mencatat ada beberapa komentar yang menanyakan Thamrin. “Dayak yang mana?”
Ya, pertanyaan itu sesungguhnya amat wajar karena Dayak adalah umum. Misalnya, orang yang mengerti akan bingung jika mendengar ada orang yang bilang, “Orang Dayak di Kalimantan tinggal di daratan dan hidup di rumah panjang”.
Orang yang mengerti pasti akan tahu bahwa pernyataan itu umum. Mengapa umum, karena sebenarnya hanya orang Dayak tertentu saja yang masih tinggal di tempat yang disebut daratan. Hanya orang Dayak tertentu yang hidup di rumah panjang. Ya ‘kan? (19/3/2011)(*)

Baca Selengkapnya...

Memberi Merk Kubu Raya

Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Hari itu, akhir Februari saya pergi mengunjungi kampung Parit Lambau, Kubu Raya. Kunjungan dilakukan karena saya diajak teman. Bukan karena saya ada rencana ke sana.
Perjalanan cukup jauh juga. Melewati Pontianak Utara, hingga tembus ke persimpangan 28 Oktober. Kami menyusuri jalan sempit, sebagiannya tidak beraspal atau tidak juga bersemen. Jalan tanah kuning.
Perjalanan sukar dan jauh begini selalu saya sukai. Bukan suka karena jalannya yang payah, tetapi suka karena saya selalu berpikir, di balik perjalanan susah itu selalu ada temuan yang menarik.


Dan, benar juga. Ketika sampai di kampung ini saya menemukan banyak hal yang menarik. Banyak hal yang membuat saya kagum dan mendapatkan insprirasi.
Saya sangat terpesona ketika mengunjungi ‘pabrik’ dodol lidah buaya Albarokah. Usaha dodol lidah buaya dirintis seorang pemuda yang tidak suka publikasi. Kawan pernah mengangkat profilnya, tetapi dia tidak mau dipotret. Ya, nama dia tidak begitu penting. Yang penting adalah idenya.
Dia merintis usaha ini sejak beberapa tahun lalu. Semula usahanya berpusat di Kota Pontianak. Tetapi kemudian, dia pindah ke Parit Lambau.
Meskipun di tempat terpencil ini, usahanya maju dan populer. Produknya sudah dipasarkan di kota Pontianak, Jawa dan bahkan Malaysia. Tempat produksinya sudah dikunjungi banyak orang, baik orang seperti saya, maupun orang yang datang untuk belajar. Pengusaha muda ini juga sudah diminta mengajarkan cara produksi dodol lidah buaya di mana-mana. Terakhir dia diundang di Nusa Tenggara untuk mengajarkan orang di sana membuat dodol lidah buaya.
Saya sempat bertemu dengan dia dan kami ngobrol sedikit. Dia mengatakan mendapat keterampilan itu dahulu dari pelatihan. Kemudian dia bekerja pada orang. Lalu, panjang cerita dia membuka usaha sendiri.
Pekerjanya adalah keluarga. Beberapa orang adik dan iparnya membantu. Ada yang mengurus pembelian bahan, membersihkan, mengaduk adonan, dan kemudian memasarkannya. Dari usahanya ini, adik-adiknya bisa kuliah. Seorang adik pengusaha itu sudah sarjana; dan saya sempat menemui sarjana itu saat dia sedang mengaduk tepung di dalam kuali. Seorang lagi adiknya sedang melaksanakan praktik lapangan (PPL) sebagai program kuliah di salah satu perguruan tinggi. Adik yang sedang PPL ini sempat menunjukkan pada saya program pengembangan usaha lidah buaya yang dirintis abangnya itu. Diantara pengembangan usaha sekarang ini adalah kerupuk lidah buaya.
Ketika saya bertanya kepada pengusaha itu, mengapa mereka memilih usaha di kampung di tengah hutan ini, saya mendapat jawaban yang membuat saya melongo takjub. Jawabannya sangat futuristik. Mereka memilih membuka usaha ini karena bahan pendukung produksi mudah diperoleh di sini. Kayu untuk bahan bakar tersedia banyak di hutan. Mereka juga mempertimbangkan tenaga kerja tersedia di sini.
Lebih dari itu, pengusaha mempertimbangkan untuk menciptakan merk produksi. Produk asal Kubu Raya.
Mereka juga pikirkan ke depan. Bahwa suatu saat nanti, bahan produksi yang dibeli di Pontianak, bisa mereka sediakan sendiri. Sang pengusaha sudah mempersiapkan lahan untuk menanam lidah buaya tidak jauh dari tempat mereka.
Saya sangat mengagumi apa yang mereka lakukan dan juga cara mereka berpikir. Oo, andai saja banyak orang bisa melakukan itu dan berpikir seperti itu, pasti kita semua akan makmur. (27/3/2011) (*)

Baca Selengkapnya...

Dilema PKL di Kota Bersinar

Yusriadi, Borneo Metro

Hari itu, Pak Moi, sebut saja begitu, duduk berurai air mata. Lucu juga membuat nelangsa. Lucu karena biasanya, Pak Moi bersuara lantang dan gagah. Jauh dari kesan air mata. Nelangsa karena siapa pun yang berhati halus dan berperasaan pasti tersentuh hatinya melihat orang menangis.

Pak Moi hari itu berusaha melawan anggota Satuan Polisi Pamong Praja, Kota Pontianak. Tapi tak bisa melawan. Dia berusaha bertahan, tapi tak mampu sebab jumlah anggota Sat Pol PP banyak. Sekuat apapun, tak mungkin satu orang menghadapi puluhan orang.



Pak Moi menangis karena tempat jualannya, gerobak, yang biasa diparkir di pinggir jalan sekitar kawasan Tanjungpura ditertibkan petugas.
Dia mencoba melawan karena dia menganggap adalah haknya berusaha. Berjualan rokok, indomie, minuman, adalah pekerjaan baik, ketimbang menjadi pemalak. Ini ada usaha. Bahkan, dia juga berucap, usaha yang dia lakukan memberikan sumbangan terhadap pembangunan ekonomi Kota Pontianak.
Pak Moi juga mencoba melawan karena kerja jualan ini merupakan satu-satunya penyara kehidupan rumah tangganya. Usaha itu begitu mudah dilakukannya setiap hari. Setidaknya dibandingkan sebelumnya, dia dengan susah payah melamar pekerjaan.
Pak Moi pernah kerja menjadi tukang pikul. Dia mengangkut barang orang di kawasan Pasar Tengah. Dia juga pernah bekerja sebagai pengaduk semen, bersama kawan-kawannya, untuk bangunan perumahan. Kerja-kerja ini jauh lebih sakit. Badannya tidak kuat. Tenaganya mulai lemah.
Dia tak dapat menikmati kerja enak sebagai pegawai kantoran. Ijazah SMA tidak dapat dipergunakan. Tidak laku. Atau, setidaknya dia tidak tahu bagaimana cara membuat ijazahnya laku jual.
Lantas, suatu ketika dia berusaha membuat gerobak. Dia jualan kecil-kecilan di pinggir jalan.

***

Mengapa Pak Moi ditertibkan? Karena dia tidak tertib. Pak Moi berjualan di pinggir jalan. Di tempat yang tidak seharusnya. Di tempat yang dilarang. Pemerintah Kota sudah mengeluarkan peraturan: tidak boleh berjualan di atas jalan. Tidak boleh berjualan di atas trotoar. Tak boleh juga berjualan di atas parit.
Namun, pedagang terus menerus bertahan, dan pedagang baru muncul. Mereka bertahan karena berjualan di pinggir jalan merupakan pilihan mudah di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Berjualan di pinggir jalan juga memerlukan modal yang tidak besar. Setidaknya dibandingkan mereka harus memiliki tempat atau menyewa ruko, berusaha di pinggir jalan hanya perlu sedikit modal. Karena sedikit modal inilah maka banyak orang yang bisa merintis bisnis dimulai dari pinggir jalan. Modalnya hanya kemauan.
Tidak perlu juga keterampilan yang pelik-pelik. Tidak perlu juga syarat pendidikan.

***

Pemerintah sebenarnya kasihan. Saya pernah berbicara dengan seorang pejabat di pemerintahan kota Pontianak, beberapa waktu lalu. Katanya, dia tidak bisa bertindak terlalu keras kepada para pedagang kaki lima, karena kegiatan PKL itu merupakan sekolah alam bagi mereka.
Mereka yang menjadi PKL itu hakekatnya mereka yang baru belajar berusaha. Dengan modal sedikit mereka berlajar mengelolanya, mengatur keuangannya. Sekaligus belajar bagaimana menjual dan melayani orang.
“Mereka tidak akan selamanya jadi PKL. Kalau usaha maju pasti mereka ingin cari tempat usaha yang bagus. Takkan selamanya mereka mau hidup di pinggir jalan itu,” katanya.
Tetapi, para PKL juga tidak bisa dibiarkan di pinggir jalan karena tidak selamanya mereka tertib dan bersih. Justru seperti sering dikeluhkan, Kehadiran mereka merusak pemandangan. Mereka membuat kota jadi semerawut. Mereka membuat jalan semakin sempit.
Lalu, kehadiran mereka yang tidak teratur itu dikeluhkan. Komplen muncul dari pengguna jalan. Ketidakpuasan muncul dari orang yang menyukai keindahan dan ketertiban.
Pemerintah membuatkan larang atau pembatasan. Tempat-tempat tertentu boleh, tempat-tempat tertentu dilarang.
Ada beberapa kebijakan pernah dilakukan pemerintah. Pemerintah membuat pasar baru untuk menampung mereka. Ada Pasar Flamboyan untuk menampung PKL di Jalan Tanjungpura. Ada Pasar Pujasera untuk menampung PKL di sekitar Jalan Agus Salim. Ada kios Pattimura untuk pedagang di sekitar Jalan Nusa Indah-Pattimura. Ada Pasar Cempaka untuk pedagang di Jalan Tanjungpura.
Apakah usaha ini berhasil membersihkan PKL? Entahlah. Yang pasti, Sat Pol PP masih disibukkan pada pekerjaan rutin: “Menertibkan PKL”. Petugas masih harus bertindak keras membongkar lapak PKL. Kadang kala, ada perlawanan PKL yang harus mereka hadapi.
Hingga belakangan ini pemerintah membuat kebijakan baru: PKL bongkar sendiri bangunan mereka. Ada uang ganti upah bongkar. Kebijakan ini sangat mulus ketika diterapkan di Jalan Tanjungpura, kawasan Nusa Indah. Kebijakan serupa juga diterapkan saat penertiban PKL di depan Kampus Untan, Jalan Imam Bonjol, Pontianak.
Selain solusi itu, PKL juga memiliki solusi tersendiri dalam menghadapi tindakan Sat Pol PP. Entah siapa yang mengajarkan dan memulai, di kalangan PKL ada bisik-bisik, jika mau aman dari penertiban, sebaiknya minta perlindungan dari Sat Pol PP. Karena itulah kemudian, ada sejumlah PKL yang tergabung dalam kelompok PKL binaan Sat Pol PP. Walaupun kedengaran aneh, karena seharusnya pembinaan kegiatan ekonomi kecil begini sudah ada dinas yang mengurusnya, namun, binaan ini sangat baik bagi PKL. Sebab, kononnya, PKL binaan Sat Pol PP tidak akan terkena gusuran. Jika pun lokasi dagangnya digusur, PKL bisa lebih awal menyelamatkan barang dagangan mereka. Jadi, aman!
Selain Sat Pol PP, PKL yang ingin aman juga bisa mencari perlindungan dari penguasa wilayah usaha. Penguasa itu tergantung wilayahnya. Ada yang di bawah kekuasaan Pak RT. Ada yang di bawah kekuasaan organisasi tertentu, tokoh politik, dan ada juga yang berada di bawah kekuasaan orang keamanan. Jika ada penertiban, penguasa inilah yang melindungi mereka menghadapi Sat Pol PP.
Tetapi, tidak semua orang mendapatkan perlindungan seperti yang diharapkan. Meskipun sesekali Sat Pol PP mengalah karena banyak massa yang melindungi para PKL yang akan ditertibkan, namun, PKL tidak bisa mendapat perlindungan terus menerus dari pelindung mereka. Biaya yang mereka keluarkan relative besar dan itu menyedot modal kerja mereka.
Pada akhirnya, PKL kembali harus menghadapi hukum sendiri. Mereka tidak dapat terus menerus berdiri di bawah pelindung mereka karena PKL itu memang salah. Mereka tidak bisa terus menerus melawan dengan dalih tidak ada perhatian pemerintah, mereka juga tidak bisa terus bertahan dengan dalih belum ada pemberitahuan sebelum penertiban.
Lantas, akhirnya mereka hanya bisa main kucing-kucingan. Contoh permainan kucing-kucingan PKL dan Sat Pol PP terjadi beberapa waktu lalu. Kala itu, Sat Pol PP melakukan penertiban di sepanjang jalan arah parit Sungai Jawi. Kala penertiban, atau tepatnya, kala pasukan penertiban Sat Pol PP tiba di lokasi, tidak ada satu pun pedagang yang buka. Gerobak-berobak yang biasanya ada di pinggir jalan, mereka tarik ke atas jembatan.
Alhasil, saat itu Sat Pol PP tidak bisa menyita gerobak atau lapak PKL.
Lantas, dua jam kemudian, setelah bayangan Sat Pol PP lenyap, satu per satu pedagang kecil ini mulai menarik gerobaknya dari atas jembatan ke bahu jalan. Mereka mula buka usaha seperti biasa.
Mungkin Sat Pol PP tersenyum melihat ulah PKL yang mengakali mereka. Mungkin juga PKL tersenyum karena berhasil mengakali Sat Pol PP. Duh, senangnya melihat mereka bisa saling tersenyum. (3/4/2011)


Baca Selengkapnya...

Pra Sejarah Kalbar

Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune



Ketika saya mendapat tugas menulis pra-sejarah Kalbar untuk rencana buku Sejarah Kalbar, saya teringat pada bangunan candi yang tidak bernama di sekitar Negeri Baru, Ketapang. Saya mengunjungi lokasi candi ini beberapa bulan lalu sempena Kongres Kebudayaan Kalbar II di Ketapang.
Awalnya, AA Mering, teman di Borneo Tribune yang mempromosikan candi ini. Dia membuat keingintahuan saya menggelegak ketika memperlihatkan foto candi yang diambilnya, sehari sebelumnya. “Ini lokasi candi, Bang. Kami ke sana kemarin,” katanya sambil memperlihatkan foto di kameranya.
Satu demi satu foto diperlihatkannya. Susunan bata dari tanah liat terlihat jelas, meskipun tidak tinggi, dan meskipun sebagiannya masih terpendam di dalam tanah. “Ahli arkeologi dari Kalsel yakin ini candi karena mereka menemukan ada sumur ini”.
Mering menunjukkan gambar sumur kecil. Bah, Mering berhasil memprovokasi saya. Keinginan saya untuk mengunjungi lokasi itu membuncah. “Saya harus pergi. Rugi jika tidak ke sana!”
Seorang teman orang Ketapang bersedia mendampingi saya mengunjungi lokasi candi itu. Kami sempat putar-putar mencari lokasi itu dan bertanya kepada beberapa orang di mana lokasi itu. Sebab rupanya, orang Ketapang itu belum pernah pergi ke lokasi. Dia mengaku hanya mendengar-dengar saja ada temuan candi. Dan, agaknya selama ini dia tidak tertarik pergi ke tempat yang menurut saya luar biasa itu.
Tidak ada juga penunjuk arah dipasang untuk memberitahu orang di mana lokasi candi ditemukan. Pada akhirnya sampai juga kami di lokasi. Saya melihat lokasi bekas galian dengan takjub. Saya sempat bergumam dalam hati: Inilah candi itu. Inilah tapak penting bagi masa lalu Ketapang.
Lantas saya seperti terlena melihat masa lalu. Saya membayangkan ada bangunan candi megah di sekitar gubuk-gubug beratap daun. Ada menara yang menjulang. Ada dinding bata yang kokoh. Ada warga yang beribadah. Ada kehidupan yang damai. Film Rara Jongrang dengan latar belakang candi Mendut seketika berputar di depan saya. Hayalan itu buyar ketika teman saya mengajak saya bicara. “Masuk ndak?”
Dia mengajak masuk ke dalam lokasi penggalian. Kami menyeruak di antar pagar pembatas. Seorang warga yang tinggal di dekat lokasi menjadi pemandu. Dia ikut dalam tim evakuasi yang terdiri dari professor arkeologi, menggali tanah menemukan reruntuhan. “Dahulu batu-batu seperti ini banyak. Waktu orang bangun masjid di sana, batu ini diangkut, untuk nimbus. Waktu orang buat jalan, batu-batu ini juga dipakai. Diangkut,” kata warga itu.
Wow, sayang sekali. Andai saja batu-batu itu tidak diangkut. Andai saja batu-batu itu disusun…. Mungkin gambaran tentang candi bisa diperoleh dengan lebih jelas. Mungkin, batu-batu itu bisa disusun kembali menjadi bangunan, apapun bentuknya. Tapi, ini sudah kadung. Kini batu-batu bata itu sudah terbungkus semen, sudah tertimbus tanah. Hanya kenangan. Saya melihat persamaan antara candi dengan apa yang saya hadapi sekarang. Tapaknya ada, tapi bentuk utuhnya tidak ada. Hanya gambaran, bayangan. Bentuk utuh perlu disusun kembali. Perlu upaya menggalinya. (2/4/2011) (*)

Baca Selengkapnya...

Selasa, 28 Desember 2010

P3M Gelar Bedah Buku Tokoh Pendidikan Islam di Kalbar; Club Menulis Launching Buku Perdana

Oleh: Mahmud Alfikri

Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak menggelar bedah buku berjudul “Tokoh Pendidikan Islam di Kalimantan Barat” di UPT STAIN Pontianak pagi ini.
Bedah buku ini akan dibuka oleh Pembantu Ketua I STAIN Pontianak H. Rustam, M.Pd mewakili Ketua STAIN Pontianak Dr. Hamka Siregar, dirangkai dengan kegiatan mahasiswa STAIN Pontianak dan kegiatan Pusat Studi Wanita STAIN Pontianak.
Kepala P3M STAIN Pontianak, Yapandi Ramli, M.Pd., dalam releasenya Senin (20/12) kemarin, kegiatan bedah buku dimulai dengan presentasi editor buku Yusriadi, yang akan memaparkan proses editing buku dan gambaran isi secara umum.
Kemudian dilanjutkan dengan presentasi para penulis buku. Penulis buku itu berjumlah 20 orang, mereka adalah mahasiswa STAIN Pontianak yang bergabung dalam Club Menulis STAIN.
“Setelah presentasi itu dilanjutkan dengan komentar dua orang pembedah buku, yaitu H. Nur Iskandar, SP, jurnalis yang menulis profil imam Masjid Mujahidin Pontianak dan profil mantan anggota DPR-RI, Fanshurullah Asa; dan komentar pemerhati sejarah dan dosen luar biasa STAIN Pontianak, Drs. H. Soedarto,” katanya.
Sesi ini akan dipandu oleh Dr. Hermansyah, Direktur STAIN Pontianak Press, yaitu lembaga yang menerbitkan buku tersebut. Hermansyah juga adalah Pembantu Ketua III STAIN Pontianak.
Menurutnya, penyelenggara telah mengundang mahasiswa dan dosen STAIN Pontianak, serta pelajar dari berbagai sekolah di kota Pontianak dan peneliti dari Balai Bahasa Pontianak.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Club Menulis STAIN Pontianak melakukan launching buku terbitan perdana hasil karya tulis anggota Club Menulis. “Ada 5 buku anggota Club Menulis yang dilaunching pagi ini,” kata Hermansyah, Puket III STAIN Pontianak yang menaungi Club Menulis STAIN Pontianak.
Selain launching, Puket III juga akan mengumumkan mahasiswa terbaik dari club-club binaan Puket III, yaitu Club Menulis, Klub Al-Quran, Klub Bahasa Inggris dan Klub Bahasa Arab. Mahasiswa terbaik akan mendapat “Anugrah Karya 2010”.
Pagi ini Puket III juga akan menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba pada Pameran Majalah Gantung Club Menulis STAIN Pontianak, dan juara Majalah Gantung Favorit Pembaca.

Buku yang Dilaunching
Buku 1 . Cinta Sekufu: Sambas – Jakarta. Editor Yusriadi (2010). Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini memuat 11 kumpulan cerpen yang bernuansa Islami, yang ditulis oleh 11 penulis. Tulisan itu adalah: Abu Ahmad Al-Asfari berjudul: Sang Penguasa Kantor; Siti Hanina, Sang Pemaaf; Rendyatno Umboro, Aku tak Mau Jadi Sumanto; Patmawati, Nyanyian Lirih Buruh Saumata; Juniawati, Tersesat; Erika Sulistia, Senyum yang Hilang; Marisa, Maaf yang Tak Terucap; A. Mutamakin, Menghapus Noda; Mahmud Al-Fikri, Sentuhan Lembut di Hati; Yusriadi, Cinta Sekufu: Sambas – Jakarta; Atalia, Sisa Kenangan.
Buku 2. Tokoh Pendidikan Islam di Kalimantan Barat. Editor: Yusriadi (2010). Pontianak: STAIN Pontianak Press
Buku ini memuat profil 20 dosen STAIN Pontianak yang ditulis oleh 20 anggota Club Menulis STAIN Pontianak. Mereka adalah: Abd Rachman Abror, Guru Semua Orang, yang ditulis Nur Azizah; Haitami Salim, Popularitasnya Seantero Wilayah, ditulis oleh Kiki Supardi; Dwi Surya Atmaja , Mutiara Terpendam yang Terlupakan ditulis oleh Marisa; Hamka Siregar, Menuju Puncak ditulis oleh Sahirul Hakim; Hermansyah, Selalu Haus Ilmu ditulis oleh Mahmud Alfikri ; Rustam, Pak ‘Berat’ yang Disiplin ditulis oleh Kurnia Jumiati; Marsih Muhammad, Ada masalah? Cuek aja! ditulis oleh Farninda Aditya; Yusdiana, Setiap Usaha Pasti Ada Hasilnya ditulis oleh Lusi Fontiani; Yapandi Ramli, Dari Pembantu Biasa Hingga Pembantu Ketua ditulis oleh Rasmawati; M. Syaifullah, Dosen yang Romantis ditulis oleh Mery Supriadi.
Nelly Mujahidah, Berjuang untuk Sukses ditulis oleh Siti Hanina; Edi Kurnanto, Selalu Berusaha untuk Menulis ditulis oleh Erika Sulistia; Patmawati, Sosok Tegar dan Disiplin ditulis oleh Hiliyah; Harjani Hefni, Penasehat Segala Bidang ditulis oleh Nur Rabiyah; Zaenuddin, Dari Tengah Hutan Menuju Pusat Dunia ditulis oleh Romiyati;
Zulkifli, Minder Mengantarkannya pada Keberhasilan oleh Rita Sri Erviani; Rahmat, Nilai di Balik ‘Kesaklekan’ oleh Maisuri; Ita Nurcholifah, Pribadi yang Mengagumkan ditulis oleh Binti Suyanti; Yulia, Merantau Demi Ilmu ditulis oleh Mely Diana; Fitri Kusumayanti, Dosen Sosiologi yang Hobi Nyanyi ditulis oleh Hikmah.
Kisah kehidupan para tokoh sejak mereka kecil hingga sekarang ini, disajikan oleh para penulis dengan gaya bercerita, sehingga lebih mudah dicerna. Cita-cita dan harapan, serta perjuangan dan pertualangan mereka ditampilkan agar dapat memberikan inspirasi bagi orang yang membaca. Penulisan ini juga diharapkan menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang anak manusia.
Buku 3. Untuk Satu Mimpi. Editor Hardianti. (2010). Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini berisi kumpulan 12 cerpen yang dibuat oleh anggota Club Menulis STAIN Pontianak. 12 cerpen itu adalah: Jalan Menuju Sekolah (Farninda Aditya); Surat Terakhir untuk Kak Mi (Romi Yati); Impian Sang Fajar (Siti Khadijah); Wisuda Terakhir (Erika Sulistia); Kudapatkan Cita-citaku (Nur Rabiah); Mengejar Mimpi (Maisuri); Kegagalan yang Mendewasakan (Nur Azizah); Mukena untuk Emak (Hardianti); Memulai Perjalanan Baru (Lina Herliyanti); Jawara (Ambaryani); Petromarks di Kampung Canggih (Lusi Fontiani); Gara-gara Surat Gombal (Holi Hamidin).
Buku 4. Kisah Pelarian 97. Editor: Yusriadi & Ambaryani. Pontianak: STAIN Pontianak Press. Buku ini ditulis oleh 9 penulis anggota Club Menulis STAIN Pontianak. Siti Hanina, Kisah Pelarian 97. Mely Diana, Pelarian ke Rumah Kakek – Sisi Lain Kerusuhan Etnis 1997. Hiliyah, Ketika Peluru Berdesing. Erika Sulistia, Amukan Pendukung Caleg. A. Mutamakin, Jago Merah di Terminal Nipah Kuning. Sy. Sahara, Tanjung Satai Membawa. Hikmah, Puting Beliung di Tanggul Limbung. Nety Diana, Peristiwa Keramat Batu Klebut, Sepauk. Kurnia Jumiati, Tragedi Kamis Beruntun.
Cerita-cerita dalam buku ini merupakan kisah pengalaman masing-masing penulis. Mereka menceritakan bagaimana mereka, dan orang di sekitar mereka ketika peristiwa itu terjadi. Meskipun cerita-cerita ini berisi ketegangan dan ketakutan, namun pembaca pasti tidak selamanya diliputi ketegangan karena para penulis menyisipkan sisi homur di balik peristiwa-peristiwa tersebut.
Buku 5. Bugis Perantauan, Kisah Perjalanan Anggota Club Menulis di Parit Banjar. Editor Yusriadi. 2010. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Buku ini berisi kisah perjalanan anggota Club Menulis yang mengikuti kegiatan Riset Wisata, Malay Corner (MC) ke Dusun Parit Banjar atau Dusun Melati, Kalimas, Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya.
Ketika kembali dari lokasi, setiap anggota Club Menulis membuat catatannya masing-masing. Pertama, tulisan A. Mutamakin berjudul Mengukir Sejarah Seharum Melati, Sedalam Parit Banjar. Ke dua,tulisan Nur Rabiyah berjudul Riset Awal yang Menyenangkan. Ke tiga, tulisan Mahmud Alfikri berjudul Belajar dari Parit Banjar. Ke empat, tulisan Rendyatno U berjudul Guru Kehidupan di Dusun Melati. Ke lima, tulisan Ambaryani berjudul Mengumpulkan Serpihan Keabadian.
Tulisan ke enam, oleh Farninda Aditya berjudul Bekennya Parit Banjar. Ke tujuh, tulisan tulisan Siti Hanina berjudul Berbeda dari yang Lain. Ke delapan, tulisan Romi Yati Bintun Nahl berjudul Inilah Pengalaman Pertamaku. Ke sembilan tulisan Erika Sulistia Maida Ningsih berjudul Tim Belajar ke Parit Banjar. Ke sepuluh tulisan Marisa berjudul Kehangatan di Parit Banjar; dan tulisan ke sebelas oleh Nur Azizah berjudul Perjalanan yang Berkah.
Buku 6. Jejak Bugis di Tanah Borneo. Editor Yusriadi (2010). Pontianak: STAIN Pontianak: Press. Buku ini berisi 13 tulisan yang menggambarkan situasi perjalanan dan apa yang diamati peserta di Parit Banjar atau Dusun Melati, Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya.
Tiga belas tulisan itu adalah: Pertama, tulisan Ibrahim berjudul Kisah Mengesankan di Kampung Melati. Ke dua, tulisan Yusriadi berjudul Mencari Identitas Bugis di Parit Banjar. Ke tiga, tulisan Ismail Ruslan berjudul Budaya "Keleleng" di Dusun Melati. Ke empat, tulisan Cucu Nurjamilah berjudul Kehidupan Masyarakat di Parit Banjar. Ke lima, tulisan Fitri Kusumayanti berjudul Berjuang untuk Hidup. Ke enam, tulisan Amalia Irfani berjudul Pengalaman yang Mengesankan.
Tulisan ke tujuh karya Dedy Ari Asfar berjudul Orang Bugis di Tanah Melayu. Ke delapan tulisan Hizbul Maududi berjudul Kelapa Naga di Parit Banjar. Ke sembilan, karya Martina berjudul Orang Bugis di Parit Banjar. Ke sepuluh, tulisan Nindwi Hafsari berjudul Semalam di Parit Banjar. Ke sebelas, tulisan Fitriani berjudul Parit Banjar, Bugis Kalolah dan Sistem Sapaan. Ke dua belas, tulisan Mardian Sagiant berjudul Bahasa Ibu; Bahasa Bugis dalam Nafas Eksistensinya di Dusun Melati. Ke tiga belas, tulisan Riani Kasih berjudul Menulis Kebudayaan Parit Banjar, Menulis Kebersamaan. (*)

Baca Selengkapnya...