Oleh: Yusriadi
“Aku terlambat, masang pengumuman beasiswa,” kata Takin.
Jumat kemarin, dia datang ke lapangan futsal di Jalan Ali Anyang, tempat kami latihan, terlambat. Agak buru-buru. Masih dengan baju dinas.
Takin, bekerja di STAIN Pontianak. Asisten Pembantu Ketua III. Cukup keren pangkatnya. Dalam tim futsal kami, Takin di posisi penjaga gawang.
Sekarang dia sedang mengurus beasiswa untuk mahasiswa STAIN Pontianak. Tahun ini ada ratusan beasiswa dikucurkan. Baik dari DIPA maupun dari sumber lain, termasuk beasiswa Supersemar.
Beasiswa di STAIN Pontianak tahun ini diberikan untuk mahasiswa berprestasi akademik, mahasiswa berprestasi bidang seni dan olahraga, mahasiswa aktivis, mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berkarya ilmiah, mahasiswa penghafal Quran. Itung-itung separoh dari jumlah mahasiswa STAIN mendapat beasiswa. Jumlahnya lumayan, Rp 1.200.000. Saya gurau Zulfian, mahasiswa yang ikut mengajukan beasiswa, jumlah itu cukup untuk nambah tabungan hantaran.
“Gimana sidak-sidak, bulih?” Saya bertanya.
Saya ingin mendengar kabar tentang mahasiswa yang saya kenal, yang ikut mengajukan beasiswa. Ada Zulfian, Ambar, Yanti, Hairi, Marisa, Dearti, Wati.
Kabar yang ingin saya dengar tentu kabar baik. Saya ingin semua mahasiswa itu dapat beasiswa itu. Bukan saja soal uang yang agak lumayan itu, tetapi, soal motivasi. Bagi saya, kalau mereka dapat akan lebih mudah saya mendorong mereka. Saya bisa menunjukkan hasilnya kalau orang berkarya: beasiswa.
Kalau tidak dapat, wahhh.... bisa berabe. Mungkin mereka patah hati.
Memang saya yakin Zulfian, Ambar, Yanti, Wati, akan dapat. Tetapi, Hairi dan Marisa, saya tidak yakin. Maklum Puket III, Hamka, pernah memberitahukan bahwa beasiswa diprioritaskan untuk mahasiswa yang benar-benar memerlukan dan ada syarat tertentu. Jakarta pernah menyarankan agar beasiswa diberikan pada mahasiswa semester-semester akhir.
“Jakarta sempat mengingatkan hal itu,” kata Hamka sewaktu saya ajak bicara soal beasiswa STAIN.
Hairi dan Marisa baru masuk semester II. Nilai semester I belum keluar semua. Waktu urus transkrip nilai sebagai syarat mengajukan permohonan, wuih... repot. Orang di prodi tidak biasa mengeluarkan transkrip untuk mahasiswa semester I. Orang di prodi pesimis ketika mendengar tujuan Hairi dan Marisa minta transkrip. Yang orang prodi tahu, mahasiswa semester I tidak bisa mengajukan beasiswa. Kasarnya, jika pun transkrip diurus, percuma. Sebelum saya paksa menulis, Hairi dan Marisa juga pernah mengatakan hal itu pada saya: “Kami ‘kan masih semester I, Pak,”
Karena cara berpikir orang prodi itu, pembuatan transkrip sempat ‘tertunda’. Hairi dan Marisa sempat pesimis. Besok penutupan. Hari ini belum beres lagi. Syarat tidak akan terpenuhi. Waktunya sudah mepet.
“Tak bise Pak,”
Saya sempat menulis memo pada kertas milik Hairi agar orang di prodi baca.
“Tolong dibuatkan transkrip nilai. Apa yang ada. Soal diterima atau tidak, itu urusan lain,”
Saya sempat menjumpai staf dan ketua prodi membicarakan soal ini –atau lebih tepatnya mendesak. Bahkan di prodi tempat Marisa belajar saya sempat naik pan. Ketua prodi tidak ada. Staf prodi terkesan cuek. Ketika saya minta dibuatkan transkrip, dia bilang:
“Tidak ada perintah dari ketua prodi,”
Saya berpikir, dia benar. Itu bukan tugas dia. Dalam dunia kerja yang profesional memang begitu.
“Tadi prodi bilang tidak bisa, karena nilai belum keluar semua,” tambahnya lagi.
Kacau!
Tetapi, ini darurat. Staf prodi lain yang tugasnya membuat transkrip, tidak masuk karena sakit. Jujur saja, saya sempat putus asa. Terpaksa saya menunggu ketua prodi datang. Pekerjaan yang sudah lama tidak saya lakukan.
Ketika kemudian ketua prodi datang, saya merasa lega. Dia bersedia membantu membuatkan transkrip, sekalipun membuat transkrip hanya untuk separoh nilai merupakan sesuatu yang aneh. Nilai Marisa belum lengkap. Masih ada satu dosen belum memberikan nilai.
Kalau Hairi lebih parah lagi. Masih ada tiga nilai belum keluar.
Tetapi, ketika Takin mengatakan: “Bulih”, saya merasa lega. “Alhamdulillah”. Saya bisa membayangkan betapa senangnya mereka. Betapa senangnya orang tua mereka.
“Saya sudah ceritakan dengan Pak Hamka. Ada anak yang terpaksa menjual handpone untuk daftar ulang. Pak Hamka bilang, harus dibantu itu,”
Saya mengangguk.
Takin pun tahu arah pertanyaan saya. Dia bercerita tentang bos-nya itu. Bagi saya cerita itu berarti kepastian. Permohonan Hairi diluluskan. Kalau Hairi diluluskan, Marisa pasti juga diluluskan.
Dan benar, Sabtu, ketika sampai ke kampus saya langsung meluruk menuju papan pengumuman di depan ruangan Kabag TU STAIN Pontianak. Ada banyak mahasiswa sedang melihat pengumuman di situ. Saya menyeruak di antara mereka.
Saya mencari nama Wati, Ambar, Hairi, Marisa dan lain-lain. Tuh, nama mereka tertera di sana. Saya bersorak dalam hati.
Agak siang beberapa mahasiswa yang mendapatkan beasiswa datang ke ruangan. Selain bicara soal kuliah, mereka memberitahukan kabar gembira itu. Saya melihat kegembiraan terpancar di wajah mereka. Saya senang melihatnya. Saya senang bisa membuat mereka senang, bukan cuma menyusahkan.
Sore, saya mendapat SMS dari Ambar. Mengabarkan beasiswa itu – siang itu Ambar tidak muncul. Ambar, Marisa dan Hairi ingin menyampaikan terima kasih dengan memberikan sesuatu. “Awas ye kalau tak mau!,”
Saya tersenyum mendengar ancaman itu. Ambar memang selalu begitu. Ada beberapa kali saya diancamnya. Tanda perhatian dia memang begitu. Gurau. Tetapi dia tidak mau mengatakan akan memberikan apa nanti.
“Berikan saya kebanggaan ya! Terus berkarya.”
Saya senang Ambar, Marisa, Hairi, Yanti, dll karena mereka memiliki kemauan yang kuat. Mau berusaha. Saya yakin itu kunci kemajuan. Saya yakin kalau ritme ini terus bertahan, mereka pasti akan menjadi orang yang berhasil.
Ingat rencana mereka memberikan sesuatu sebagai ungkapan terima kasih, saya lantas teringat pengalaman ketika mendapat beasiswa dari SEASREP, The Toyota Foundation sewaktu ambil program doktoral dahulu. Waktu itu saya juga berniat memberikan pembimbing saya Prof. Dr. James T. Collins hadiah, sebagai ucapan terima kasih karena bantuannya. Menurut saya, kalau bukan karena dibantu Pak Jim –begitu kami memanggil beliau, pasti saya tidak akan dapat bantuan itu.
Tetapi, saya gagal menyampaikan ucapan terima kasih itu.
“Yus, saya bukan makelar. Saya membantu kamu,”
Suara Pak Jim tegas. Serius.
Saya ingin ungkapkan kata-kata itu nanti. Meniru. Biarlah Ambar, dkk mengancam. Kalau mereka marah (mungkin ngomel), saya akan diam. Selama ini mereka juga begitu. Kalau saya marah atau ngomel mereka diam. Marisa pernah cerita pengalamannya sewaktu kena ‘khutbah’ di kelas.
Kalau saya beri pekerjaan mereka terangguk-angguk. Mereka tahu saya marah karena saya menyayangi mereka. Pekerjaan yang diberikan untuk mereka juga. Untuk masa depan.
Jadi, sesekali saya kena balas tak apa. Saya akan menikmati kemarahan mereka. Saya akan tulis ekspresi orang-orang yang marah. [Duh, kalau mereka tulis tentang saya sedang khutbah di kelas, repot juga yach].
Setelah itu saya akan membujuk mereka.
“Kita satu team”
Team yang akan bersama-sama bergerak menuju puncak prestasi.
Semoga!
Purnama, 16 Maret 2008
Minggu, 16 Maret 2008
Beasiswa
Diposting oleh Yusriadi di 10.45 1 komentar
Jumat, 14 Maret 2008
Kunjungan ke Borneo Tribune
Peserta pelatihan jurnalistik remaja masjid se- kota Pontianak berkunjungan ke kantor redaksi Borneo Tribune di Jalan Purnama, Pontianak. Peserta mendapat penjelasan mengenai tata kerja redaksi dan proses produksi koran. Foto AA Mering/Borneo Tribune.
Diposting oleh Yusriadi di 10.35 0 komentar
Label: FOTO
Pengalaman dari Latihan Jurnalistik: KETIKA REMAJA MASJID BELAJAR MEMBUAT BERITA
Oleh Yusriadi
Minggu 9 Maret 2008. Pagi sekali saya sudah berangkat ke Kampus STAIN Pontianak, Jalan Suprapto Pontianak. Saya menuju tempat pelatihan jurnalistik bagi remaja masjid se- kota Pontianak yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak, bekerja sama dengan Borneo Tribune dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Pontianak.
Jadwal saya menyampaikan materi pukul 08.00 WIB. Hardianti dan Ambaryani, panitia pengarah pelatihan memberikan jadwal untuk saya hingga pukul 15.00 WIB. Kira-kira 8 jam. Materinya ada tiga. Penulisan berita, pengiriman berita, dan rencana follow up.
Saya akur saja. Saya tidak bisa menolak permintaan mereka. Lagian, gagasan pelatihan juga muncul dari perbincangan kami. Yanti dan Ambar, merespon. Mereka membawa gagasan itu dalam rapat LPM. Di LPM, Yanti dan Amar adalah pengurus. Yanti berpangkat redaktur pelaksana di Warta STAIN, media terbitan LPM. Sedangkan Ambar, adalah bendahara. Tukang hitung duit.
Tetapi, karena “kesian”, Yanti mengubah jadwal. Jadi, waktu saya dipendekkan. Satu sesi pagi dan satu sesi lagi setelah Zhuhur. Sesi kedua diisi dengan quiz. Panitia membagikan doorprize kepada peserta yang dapat menjawab 3 pertanyaan dari belasan pertanyaan yang disusun panitia. Siang, saya akan menyampaikan materi tentang pengiriman berita ke media.
Sesi pertama pagi itu agak molor. Dari jadwal jam 08.00, acara baru terlaksana lebih kurang 30 menit kemudian. Waktu itu peserta bisa dihitung dengan telunjuk. Padahal peserta terdaftar 23 orang. “Ada yang izin karena ada kegiatan lain,” kata Erni, panitia pelaksana.
Septian Utut membuka sesi. Dia jadi moderator.
Seperti yang diminta saya lebih banyak mengajak peserta praktik. Karya peserta dibedah. Dikomentari.
Ya, lumayan. Beberapa di antaranya sudah cukup bagus –untuk ukuran pemula. Ada peserta yang kelihatannya sudah memiliki feeling; hidung mereka sudah tajam mencium mana yang layak diberitakan dan mana yang tidak. Misalnya ada yang mengangkat berita soal orang yang terdampar di masjid. Ada yang menulis soal pencuri sandal yang tertangkap di masjid. Ada yang menulis soal perseteruan di masjid. Saya memuji ketajaman itu.
Hanya saja karena belum terlatih, umumnya peserta tidak dapat membuat judul yang sesuai dengan isi. Ibarat kata orang, judul kemana, paragraf kemana.
Karena itulah pada sesi ini saya lebih banyak mengajak peserta bagaimana membuat paragraf pertama yang sesuai dengan judul.
Mula-mulai saya memberikan contoh. Lalu, peserta diminta membuat paragraf pertama dengan tema yang sudah ditentukan. Isi paragraf pertama ini antara 20-30 kata, atau dua sampai tiga kalimatn. Waktunya 10 menit.
Tugas ini umumnya dikerjakan dengan baik. Sekali lagi saya takjub. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, formula seperti ini bisa digunakan untuk pelatihan selanjutnya, bahkan mungkin diadopsi di kelas KPI nanti.
Lebih menakjubkan lagi, semangat mereka. Mereka menunjukkan minat yang besar untuk mencoba menulis.
Tak terasa jam 10.40. Waktu saya habis.
Tetapi, sebelum cabut, saya minta mereka memberikan tanggapan setelah latihan itu. Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka sangat berkesan dengan latihan pagi itu. “Saya mendapat ilmu baru,” kata Toifur, peserta yang paling aktif selama sesi saya.
Peserta lain memberitahukan setelah latihan singkat mereka jadi merasa bisa membuat berita.
Ada juga yang membandingkan anggapan sebelum ini.
“Rupanya membuat berita ada aturan tersendiri,”
Peserta lain berkomentar, mereka baru tahu kalau membuat paragraf pertama harus mengacu pada judul. Yang mereka ketahui, judul mengacu pada inti karangan. Bagian inti tidak harus di paragraf awal. Bisa di awal, bisa di tengah, dan bisa di bagian akhir karangan.
Saya puas mendengar komentar mereka. Komentar-komentar ini mencerminkan tingkat pemahaman mereka pada materi pelatihan. Lebih dari itu komentar ini sebenarnya mengikat mereka. Sebab, saya akan bertanya pada mereka; setelah tahu, apa yang akan dibuat?
***
Dan memang pertanyaan itu saya ajukan juga pada mereka. Bukan di sesi 2, seperti yang saya bayangkan. Pertanyaan itu saya ajukan pada peserta saat berdialog dengan mereka di kantor Redaksi Borneo Tribune, sore hari Minggu itu.
Dalam kunjungan pasca pelatihan, saya mendampingi AA Mering dan Fakun menerima kehadiran mereka. AA Mering adalah redaktur utama di Borneo Tribune. Sedangkan Fakun adalah kepala bagian Pracetak Borneo Tribune. Mering menjelaskan tata kerja redaksi. Dia juga mengundang mereka menjadi penulis. “Tribune ingin menerapkan konsep citizen journalisme. Setiap orang boleh menulis di Tribune,” katanya.
Sedangkan Fakun menjelaskan soal produksi koran. Mulai proses menata halaman, print out, membuat plat, hingga proses pencetakan.
Setelah mereka berdua selesai menjelaskan bagian kerja masing-masing, saya mengajukan pertanyaan kepada seluruh peserta. Satu per satu mereka diminta mengungkapkan apa yang akan dibuat setelah pelatihan.
Ada yang menjawab dengan jelas. Ada yang menjawab dengan ungkapan umum.
Ada yang ingin menjadi wartawan. Ada yang ingin menjadi penulis.
Kesan saya mereka menunjukkan kemauan melakukan sesuatu. Mereka ingin menerapkan ilmu yang diperoleh.
Mereka ada semangat.
Saya tersenyum mendengar semangat-semangat itu. Menyenangkan. Saya membayangkan andai saja semangat itu bisa dipelihara. Andai mereka semua menjadi penulis.
Diposting oleh Yusriadi di 10.25 1 komentar
Label: Cerita
Selasa, 11 Maret 2008
Tempat Wisata Gadong
.jpg)
Sebuah showroom mobil di kawasan Gadong, Brunei mengelola objek wisata sederhana. Pada saat menjelang Imlek, mereka mendekorasi objek dengan tampilan khas Cina. Objek ini ramai dikunjungi warga dan turis pada malam hari. Cahaya lampu membuat objek ini sangat menarik untuk diabadikan. FOTO Yusriadi
Diposting oleh Yusriadi di 10.09 2 komentar
Catatan Perjalanan ke Brunei 7: Malam Terakhir di Gadong
Malam itu, kami pulang paling akhir. Jam 10.30 malam. Tetapi, rupanya tidak langsung pulang. Dr Yabit membawa kami keliling.
Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah kawasan Gadong. Kami berhenti di sebuah showroom mobil.
Di sana juga banyak orang lain. Malam-malam masih ramai.
Orang ke situ untuk mengabadikan ornamen Imlek. Ada bunga Mei Hwa, ada lampion warna merah, ada kereta kencana. Sungguh indah.
“Dekorasinya selalu berubah sesuai keperluan,” kata Dr. Yabit.
Kalau musim Natal, ornamennya berganti dengan hiasan khusus Natal; ada sinterklas, kereta kuda, dll. Kalau musim lebaran, hiasannya berganti dengan ketupat, dll.
Tempat ini selalu ramai kalau malam. Lampu hiasannya sangat indah. Kalau siang tidak.
Kata Dr Yabit, tempat ini dikelola showroom. Sebagai sumbangan mereka untuk pariwisata Brunei.
Saya membayangkan jika ada upaya seperti itu di Pontianak, pasti jadi ramai juga. Lahan untuk ‘pameran’ itu tidak besar. Mungkin cuma seluas lapangan volly.
Tetapi saya bertanya-tanya dalam hati, adakah para pengusaha yang memiliki perhatian pada soal seperti ini?
Adakah orang Kalbar yang bisa melepaskan diri dari ikatan primordialis. Bayangkan hiasan di sana bisa berganti sesuai musim: jadi sekali patung di sana jadi orang Islam, sekali jadi orang Kristen, sekali jadi orang Cina.
Kami, seperti juga pengunjung lain juga mengabadikan pemandangan malam itu.
Setelah itu melanjutkan perjalanan. Kembali ke rumah.
***
Seminar hari terakhir dipadatkan. Jika menurut jadwal, seharusnya seminar berakhir sore hari, panitia mengatur seminar bisa selesai sebelum makan siang.
Aji meminta pendapat saya siapa yang akan menjadi wakil pembentang dan peserta untuk menyampaikan kata ucapan. Pesan dan kesan dari seminar ini.
Saya mengusulkan Bang Kris sebagai wakil peserta. Aji setuju.
Sebelum menyampaikan kata akhir, Bang Kris dipanggil panitia ke ruang khusus. Rupanya, ada wartawan TV Brunei yang ingin wawancara.
Setelah itu dengan sumringah Bang Kris menceritakan pengalamannya.
“Saya masuk TV Brunei,” katanya.
Bang Kris berulang kali mengungkapkan kesan positifnya terhadap seminar ini. Dia juga menyampaikan kesan positif terhadap panitia, terhadap Dr. Yabit dan keluarga, dan juga terhadap orang-orang Brunei yang sempat kami kenal.
Teman-teman lain juga berpikiran sama. Brunei yang dibayangkan berbeda dengan kenyataan. Brunei yang rupanya cukup luas. Orang Brunei ramah-ramah.
Ada teman yang punya kesan khusus tentang orang Cina di Brunei. “Orang Cina Brunei lain sekali dibandingkan orang Cina di Pontianak”.
Bagi mereka, dengan pengalaman yang terbatas, orang Cina di Brunei ramah-ramah. Mudah bergaul.
Saya sendiri memang merasakan hal itu. Tetapi, bukan cuma Cina, suku lain juga begitu. Ada Tuah Dilang, orang Iban yang beberapa kali membantu kami. Dia dipanggil Cikgu. Orang tua Tuah berasal dari Kapuas Hulu. Saat kami pulang Tuah merelakan waktunya mengantar kami sampai ke Kuala Belait. Dia, menunggu kami hingga bus yang akan membawa kami ke Sungai Tujoh berangkat. Dia melambaikan tangan, seakan-akan kami adalah sahabat lama. Padahal kami baru berkenalan dengannya.
Ya, layanan dan bantuan yang diberikan Aji, Abu Zar, Gazali, Zila, dll juga sangat berbekas di hati. Sedangkan layanan yang diberikan Dr. Yabit dan keluarganya, sudah tidak bisa dikira.
Pengalaman di Brunei mengingatkan saya pada kenyataan di Kalbar. Di Pontianak, tidak mudah mendapatkan orang yang bersedia melayani orang lain. Yang mau mungkin tidak ada fasilitas. Sedangkan yang punya fasilitas mungkin kurang punya kemauan. Orang yang punya fasilitas biasanya sudah masuk ke kelas orang kaya. Ketika masuk dalam kelas itu biasanya orang sudah memasuki fase minta dilayani, bukannya melayani.
Bayangkan saja seorang doktor, seorang profesor bersedia melayani kami yang tidak ada apa-apanya.
Soal kesediaan orang Brunei melayani tamu mereka, mengingatkan pengalaman di kampung dahulu, puluhan tahun lalu. Dahulu orang kampung bersedia melayani tamu-tamu mereka, tanpa pamrih. Bagi orang kampung melayani orang yang datang adalah suatu kehormatan. Ada panggilan moral untuk melakukan hal itu. Dahulu.
“Bisakah kita seperti itu? Bagaimana agar kita bisa seperti itu?”
Pertanyaan itu saya sampaikan kepada teman-teman.
Pada akhirnya bagi saya, perjalanan ke Brunei bukan saja perjalanan untuk menghadiri seminar, untuk membentangkan makalah, untuk mendengarkan temuan-temuan terbaru para ilmuan, tetapi perjalanan sambil belajar. Belajar bagaimana cara hidup. Belajar bagaimana rendah diri. Belajar bagaimana cara melayani orang. Habis.
Diposting oleh Yusriadi di 10.01 0 komentar
Label: Brunei, Perjalanan
Masjid Kampus UBD
.jpg)
Masjid Kampus UBD, tempat kami shalat Jumat hari itu (25/1/08). Foto Yusriadi
Diposting oleh Yusriadi di 08.19 0 komentar
Catatan perjalanan ke Brunei 6:Jamuan Makan Ambuyat
Yusriadi
Sore kami pulang diantar oleh Gazali menggunakan mobil Dr. Yabit. Gazali adalah mahasiswa UBD. Dia orang Malaysia. Guru yang belajar lagi. Seperti di Indonesia juga, guru yang belum sarjana diwajibkan kuliah lagi agar bisa dapat gelar sarjana.
Kami harus mempersiapkan diri. Malam ini ada jamuan makan yang diselenggarakan Dr. Yabit dan keluarga. Jamuan ini khusus untuk Prof. Jim dan Dr. Chong, rombangan dari Kalbar dan dari Pulau Pinang.
Malam itu kami akan makan ambuyat. Makanan dari sagu khas Brunei. Di tanah Bugis juga. Saya belum pernah lihat makanan ini di Kalbar.
Makanan ini bagi saya sangat aneh. Cara makan pun saya tidak tahu. Hi, malu!
Teman-teman dari Pontianak lainnya juga begitu. Kami menunggu orang memulai. Pak Jim yang memberikan contoh. Pak Jim sudah biasa makan ambuyat.
Caranya cukup unik. Ambuyat yang masih berada di dalam wadahnya disendok dengan cara memutarkan sendok. Sehingga akhirnya sagu tersebut menggulung sendok itu. Baru kemudian gulungan sagu dilepaskan dengan sendok yang lain.
Ada ikan, daging, sayur, bisa jadi pilihan untuk ‘lauk’ ambuyat itu.
Saya mendengar Pak Jim dan Dr Yabit menggoda kami yang kikuk makan ambuyat. Selain itu, kami juga ditawarkan nasi. Saya dan beberapa teman meminta nasi. Khawatir ambuyat tidak dapat mengenyangkan. Maklum perut kampung, kalau belum makan nasi rasa belum makan. Sungguhpun makan macam-macam makanan namun kalau belum masuk nasi belum syah rasanya.
Selesai makan, kami diajak melihat Brunei malam hari. Kami pergi ke Kampung Air. Tempat di tepi pantai. Banyak orang sedang menjala udang. Ada juga orang yang sedang memancing.
Kami sempat berdialog dengan sepasang suami istri tua. Mereka menangkap udang. Udang itu kemudian dijual. “Pembelinya datang ke sini,” kata mereka.
Satu malam mereka bisa mendapat 200-300 dolar Brunei. Kalau nilainya Rp 6600, itu sama artinya mereka bisa mendapat Rp 2 juta lebih. Bayangkan! Duh makmurnya.
Kami dibawa melihat Masjid Sultan, melewati depan istana. Kami juga singgah di pasar malam. Gazali menjadi pemandu yang baik.
Saya mendapatkan banyak informasi yang berharga. Perjalanan yang mengesankan. Sangat mengesankan.
***
Hari Jumat. Semula saya pikir kami akan shalat Jumat di Masjid Sultan. Namun, tidak jadi. Kami shalat di masjid kampus.
Saya, Ismail, dan Ibrahim semula berniat jalan kaki ke masjid. Namun, baru beberapa langkah berjalan, sebuah sedan mewah berhenti.
“Saya antar,” kata pemilik sedan.
“Masjid cukup jauh juga,” katanya.
Kami menerima tawaran itu.
Namanya Nurzhila. Tepatnya Hajah Nurzhila. Dia seorang mahasiswa. Panitia seminar juga.
Zila, begitu dia menyebut dirinya, pernah ke Pontianak. Dia ikut rombongan UBD saat berkunjung ke STAIN, Untan dan kampung Kanayatn di Sungai Ambawang. “Saya pakai baju ini waktu di sana,” katanya sambil tertawa.
Hari itu Zila memakai baju hijau. Kalau ikut nilai yang diberikan untuk Abu Zar, nilai Zila mungkin 8 atau 9. Entah.
Dia menceritakan pengalamannya di Pontianak. Dia tampil di panggung waktu itu, ‘mentas’.
Rupanya, sebelumnya, Zila sudah mengantar Ros dan Siti melakukan studi banding di sebuah sekolah di Brunei.
Masjid memang tidak jauh. Zila menurunkan kami di depan masjid.
Kala itu masjid masih sepi. Kami termasuk orang yang datang awal.
Masjid kampus UBD besar dan megah. Bagian depan terdapat pendopo. Ada beberapa orang duduk. Kami hanya mengangguk pada mereka.
Kami menuju tempat wudhu’.
Di depan pintu masjid terdapat koran. Gratis. Saya mengambil satu.
Masuk ke dalam masjid di negara Islam seperti Brunei menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Saya ingin melihat bagaimana bedanya masjid di negara Islam dibandingkan masjid di negara Pancasila.
Secara fisik memang beda. Masjidnya ada penyejuk ruangan. Lantai karpet halus.
Saya memilih duduk di shaf paling belakang. Melihat satu per satu orang yang masuk. Saya ingin mengamati apa yang terjadi. Ismail duduk di samping saya.
Makin lama jamaah yang datang makin banyak.
Saya sempat bisik-bisik dengan Ismail ketika ada pengumuman shalat berjamaah. Saya tidak dengar dengan jelas shalat apa. Maklum di Pontianak rasanya belum pernah ada shalat berjamaah sebelum shalat Jumat. Kalau shalat sendiri-sendiri ada.
Rupanya shalat jamaah itu adalah shalat hajad untuk mendoakan orang Islam di luar negeri. Shalat itu biasa dilaksanakan.
Tidak ada yang berbeda dalam prosesi pembacaan khutbah di masjid ini dibandingkan masjid di Pontianak. Begitu juga dengan sikap jamaah. Tetapi ada saja anak-anak yang agak nakal. Ada jamaah yang tidak pakai penutup kepala. Ada yang memakai baju kaos.
Mungkin sedikit beda, banyak orang memakai jubah. Di Pontianak jarang orang pakai jubah. Yang pakai biasanya yang baru pulang dari tanah suci. Paling, baju koko, atau kalau tidak batik. Bahkan kadang cuma pakai kaos.
Usai shalat, kami menuju bangunan Canselor, tempat kegiatan seminar. Kami memintas melalui taman. Rupanya memang tidak jauh. Berjalan seperti itu sudah biasa.
***
Jumat malam. Atau malam Sabtu kata orang. Panitia mengadakan jamuan makan malam resmi. Ada petinggi fakultas yang hadir. Jamuannya agak sederhana. Kami duduk di meja agak di belakang. Aji Jaludin menemani kami. Ada seorang perempuan agak tua di meja itu. Rupanya, dia pegawai UBD. Yang mengejutkan, dia adalah saudara tua Aji Jaludin.
Zila dan beberapa temannya mahasiswa UBD duduk bersama kami. Termasuk Gazali. Abu Zar muncul sebentar. Kemudian pamit karena ada tugas kuliah yang harus diselesaikannya.
Setelah acara formal –ada sambutan dari Dekan Fakultas Bahasa, dilanjutkan dengan acara hiburan. Mula-mula wakil dari Jawa mempersembahkan atraksi kesenian Jawa. Ada yang membaca puisi ada yang berpantun. Ada yang menyanyi.
Ismail menjadi wakil kami. Dia menyanyikan lagu dangdut, Megi Z. Heboh! Ada yang berjoget mengiringi goyang Ismail. Rombongan Pontianak ngelagak sedikitlah. Saya baru tahu Ismail pandai menyanyi lagu dangdut. Saya pikir dia cuma bisa main jepin atau pukul tahar. Kemudian Ros juga menyanyikan. Kata Siti, Ros pernah menjadi juara karaoke di sekolah. Saya yang sudah lama kenal Ros juga tidak tahu kalau dia pandai menyanyi.
Agak larut acara diakhir. Peserta pulang.
Namun, kami masih harus menunggu Dr. Yabit selesai. Sebab kami pulang bersama dia. Sambil menunggu kami membantu Aji dan Gazali mengemas peralatan karaoke. Rupanya peralatan karaoke yang dipakai malam itu diangkut dari rumah Aji. Dan Aji sendiri yang mengurusnya.
Saya tak habis pikir dengan situasi ini. Kalau di Pontianak, rasanya ‘betuah’ bisa melihat seorang profesor madya, yang bergaji puluhan juta mau buat hal seperti itu. Pastilah dia akan menonton saja orang lain angkut-angkut barang. Aji memang sederhana. Kesederhanaan yang layak ditiru oleh orang ‘besar’ di Pontianak. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 08.16 1 komentar
Label: Brunei, Perjalanan
