
MAIN BERSAMA
Sepak bola menjadi permainan yang benar-benar merakyat di Pulau Maya, KKU. Siswa-siswi bermain bola bersama di halaman Madrasah Ibtidayah Kampung Parit Baru. Foto Yusriadi.
Selasa, 23 September 2008
HIBURAN RAKYAT
Diposting oleh Yusriadi di 00.22 0 komentar
Label: FOTO, Pulau Maya
Perjalanan ke Pulau Maya, KKU (9): Para Pelintas
Oleh Yusriadi
Kami melalui Kamboja. Melalui jalan lain. Menuju bagian lain dari Pulau Maya – tidak melalui jalan yang kami lalui ketika sampai di pulau ini.
Kami melalui ladang penduduk. Melalui padang ilalang. Semak belukar.
Di jalan-jalan yang dilalui, saya bisa melihat bekas-bekas kedahsyatan hutan Pulau Maya. Banyak tunggul pohon yang besarnya lebih sepemeluk orang dewasa.
Jalan lebih mirip jalan setapak. Bukan jalan besar. Di sana sini ada akar pohon memintas jalan. Sesekali kami melewati sungai kecil yang jembatannya sekeping balok. Mengerikan sekali. Ismail membawa motor dengan cekap. Bang Rustam yang membawa Yapandi, seperti perjalanan malam sebelumnya, membawa motor dengan laju. Putra Pulau Maya ini meninggalkan kami jauh di belakang.
“Wah, kalau begini bisa-bisa kita sendiri di tengah hutan, Il,” saya memberi isyarat pada Ismail agar mempercepat laju motor biar tidak tertinggal jauh.
Yang saya bayangkan, betapa mengerikan kalau tiba-tiba motor pecah ban, atau mogok. Sendiri di tengah hutan. Menyeret motor di tengah hutan? Alamak! Berapa jauh? Saya tidak bisa menebaknya. Tetapi, pasti jauh. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tengah hutan ini. Tidak ada belas ladang penduduk. Tidak ada kebun penduduk. Tidak ada rumah penduduk. Hanya ada ilalang, semak belukar, di antara pohon-pohon mati yang besar dan menjulang. Handpone Saya dan Ismail sejak kemarin sudah tidak berfungsi. Kami kartu Mentari, tidak ada sinyal.
Tak lama kemudian Ismail meminta saya membawa motor. Dia pindah ke boncengan.
Saya memacu motor dengan seberapa laju yang dapat. Mengejar ketertinggalan. Biar jarak dengan bang Rustam tidak jauh. Dan berhasil.
Tetapi, karena saya memacu motor dengan cara saya, giliran saya mendapat peringatan Ismail.
“Over gigi Bang,”
Atau pada saat yang lain, “Sayang motor Bang,”
Saya mencoba ikut permintaan Ismail. Kalau pelan, mesin diover ke gigi dua. Tetapi susah. Saya tidak biasa main gigi kalau sedang naik motor. Beberapa kali kami hampir terpeleset karena begitu kaki memindahkan gigi, keseimbangan agak goyang.
Perjalanan rasanya sangat jauh. Medan yang bergelombang membuat tangan rasa pegal-pegal. Beberapa kali kami berhenti mendinginkan mesin dan merenggangkan otot.
Saya takjub dengan pengalaman ini. Siapa yang membayangkan Pulau Maya begitu luas? Tidak saya membayangkan Pulau Maya adalah pulau kecil. Saya tidak membayangkan pulau ini memiliki hutan yang (pernah) lebat.
Jadi, karena itu jangan bayangkan orang Pulau Maya hanya hidup dari hasil ikan di laut sekitar mereka. Ada sumber kehidupan lain di pulau ini. Hutan.
Dari percakapan dengan orang-orang Pulau Maya saya tahu bahwa kayu pernah menjadi primadona kehidupan orang pulau ini. Banyak orang mendapat rizki dari kayu-kayu yang mereka tebang di hutan ini. Banyak orang luar yang datang ke pulau ini, datang karena ada daya tarik ikan, dan juga kayu. Inilah yang juga kemudian membuat saya menduga, menjadi daya tarik bagi orang - orang Sambas, generasi awal.
Sepanjang jalan di tengah hutan ini saya bisa melihat bekas-bekas eksploitasi hutan. Karena beberapa dari kayu yang ditebang tidak terangkut. Beberapa dari kayu teronggok di pinggir jalan. Di bagian ujung jalan, mendekati pemukiman penduduk tidak jauh dari penyeberangan ke Teluk Batang, saya melihat di parit lebarnya antara 4-5 meter banyak kayu yang masih terendam. Nyaris di sepanjang parit terdapat kayu gelondong yang garis tengahnya antara 30-60 cm.
Kayu ini belum sempat dihanyutkan sampai ke muara di Teluk Batang karena petugas menggelar operasi penertiban illegal logging. Hanya di satu dua tempat saya lihat ada aktivitas warga membelah kayu dengan mesin chainshaw.
Saya sempat berpikir, mengkalkulasikan betapa besarnya nilai uang dari gelondongan ini. Gelondongan ini pasti akan memakmurkan orang.
Tetapi siapa pemiliknya? Siapa yang menuai keuntungan dari gelondongan-gelondongan itu?
Apakah penduduk setempat? Apakah mereka menikmati keuntungan dari sumber alam di sekitar mereka?
Pertanyaan itu terus bergayut. Rumah-rumah penduduk yang bahannya dari kayu dan beratap daun di kampung kecil yang tidak jauh dari penyeberangan ke Teluk Batang membuat saya berpikir, keuntungan dari gelondongan itu tidak dinikmati penduduk setempat. Kalaupun penduduk setempat menikmati, mereka menikmatinya sedikit saja. Mungkin sekadar nilai upah kerja, bukan nilai sebagai pemilik hutan-hutan itu.
Tetapi walau begitu, saya kira penduduk tetap nrima dengan keadaan ini. Mereka akur saja. Mereka diam saja. Perubahan apapun kelak yang terjadi di pulau ini setelah hutan-hutan musnah, mereka terima dengan pasrah.
Sementara itu, para eksploitir yang menyelesaikan tugas mereka di pulau ini, meninggalkan kerusakan tanpa beban. Mereka seperti para pelintas, yang menumpang lewat.
Ucapan terakhir, mungkin hanya selamat tinggal. Habis.
Diposting oleh Yusriadi di 00.17 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
Perjalanan ke Pulau Maya, KKU (8): Ikatan Kekeluargaan dan Kebersamaan Itu Masih Kokoh
Oleh: Yusriadi
SAYA kembali ke rumah. Di sana sedang dilangsungkan pertemuan antara rombongan KF STAIN Pontianak dengan masyarakat. Saya mendengar Yapandi Ramli dan Bang Yapandi memberikan penjelasan tentang program-program ke depan. Saya juga mendengar pertanyaan-pertanyaan dari warga.
Saya lihat pertemuan berjalan dengan hangat. Sesekali ribut, karena secara bersamaan beberapa orang bersuara dan memberi komentar.
Pertemuan ini mengingatkan saya pada kebersamaan. Kebersamaan orang kampung.
Saya kira tanpa kebersamaan dan ikatan kekeluargaan, pertemuan ini tidak akan berlangsung. Bayangkan, undangan disampaikan last minute. Orang bisa datang. Penduduk mau membatalkan rencana mereka ke kebun atau ke ladang mereka. Masyarakat bersedia mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama. Saya kira, ini adalah modal sosial yang sangat penting dan berharga. Selayaknya terus dipertahankan.
PENDUDUK kampung Parit Baru ini sudah menunjukkan betapa kebersamaan mereka telah menuaikan hasil yang luar biasa. Karena kebersamaan ini, mereka bisa membangun madrasah ibtidayah.
Sekolah itu tidak jauh dari rumah Pak Kaed.
Saya mendapat cerita menarik soal pendirian sekolah. Sekolah itu dibangun oleh masyarakat. Karena masyarakat merasa penting adanya sekolah agama, lalu mereka berembug mencari cara bagaimana mendirikan sekolah.
Ada yang bersedia mewakafkan tanah untuk bangunan. Ada yang bersedia menyumbangkan uang, padi hasil panen, dll. Ada yang berusaha mengubungi Departemen Agama di Ketapang untuk mendapatkan bantuan.
Sumbangan-sumbangan inilah yang kemudian digunakan untuk membangun sekolah ini. Sumbangan-sumbangan inilah yang pada mulanya diandalkan untuk kepentingan operasional sekolah, termasuk untuk honor guru.
Dan sampai sekarang. Sekarang bangunan sekolah sudah cukup bagus. Untuk ukuran sekolah rakyat saya kira sekolah ini patut diberikan apresiasi.
Kegiatan belajarnya umumnya berjalan lancar, dibandingkan keterbatasan yang ada.
Kecuali hari itu, sekolah diliburkan, sebab gurunya mengurus pertemuan rombongan STAIN dengan masyarakat.
MENJELANG siang pertemuan itu selesai. Kami salat Zuhur dan makan siang. Saya sangat terkesan pada menu yang disajikan. Bumbu yang dipakai untuk memasak ayam kampung, saya rasa bumbu yang istimewa.
Setelah pamit, kami melanjutkan perjalanan.
Kami memilih jalan berbeda, karena masih ada pertemuan dengan tutor dan warga belajar di Kamboja.
Mula-mula kami melalui jalan beraspal. Kemudian jalan bersemen. Lalu jalan tanah. Meskipun tadi malam hujan, namun jalan tanah sekarang sudah kering. Kami dapat memacu kendaraan dengan cepat.
Pada pertemuan selanjutnya dengan warga belajar berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Yapandi Ramli memberikan pengarahan dan kemudian melakukan evaluasi mengenai kemampuan belajar. Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN ini juga memberikan pengarahan kepada para tutor. Lalu ada urusan administrasi.
Saya kira, pertemuan itu tidak sepala dengan perjalanan kami yang susah payah, dan tidak sepala juga dengan penduduk yang sudah menunggu. Karena yang saya dengar masyarakat sudah menunggu kedatangan kami beberapa jam yang lalu. Ya, memang tidak sepala, kalau menunggu selama berjam-jam untuk pertemuan yang beberapa puluh menit saja.
Tetapi, memang begitulah. Rombongan KF juga dikejar waktu. Masih ada agenda lain. Lagian memang tujuan ke lapangan hanyalah untuk melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan. Jadi, kalau apa yang dikehendaki sudah tercapai, ya, sudah. Cukup. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 00.15 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
Kamis, 18 September 2008
Warung Makanan dan Minuman di Kampung Parit Baru
+baru.jpg)
Salah satu warung yang menjual pecal di Kampung Parit Baru, Pulau Maya. Di warung ini juga dijual aneka kue, mie, dan berbagai jenis minuman. Foto Yusriadi/Borneo Tribune
Diposting oleh Yusriadi di 00.43 0 komentar
Label: FOTO, Pulau Maya
Perjalanan ke Pulau Maya, KKU (7): Ada Pecal?
Oleh Yusriadi
Kami kembali ke rumah. Pak Kaed menawarkan makanan yang tersaji di atas meja tamu. Pecal. Ya, pecal. Teman yang lain sudah makan. Saya mengambilnya.
“Ada pecal? Buat sendiri?” tanya saya.
“Tidak. Beli,”
Heh. Saya terkejut.
Ada orang jual pecal?
“Di depan itu, ada orang jual,” katanya.
Dia menunjuk arah jalan, kiri rumah.
Saya mengangguk.
Ini menarik. Ini hal baru. Sepanjang saya menjelajah kampung-kampung pedalaman, tak pernah saya bertemu ada warung makanan ringan dibuka di pagi hari. Di pedalaman, warung-warung biasanya buka siang. Hanya di tempat perlintasan, tempat orang berlalu lintas, warung menjual makanan ringan. Di tempat terpencil biasanya toko hanya menjual kue-kue jenis biscuit, wafer, dan sejenisnya. Mie rebus, allahu’alam.
Ini, pecal!
Saya kira ini pasti berkaitan dengan banyak hal. Berkaitan dengan pekerjaan mereka, berkaitan dengan jadwal berangkat kerja, berkaitan dengan kebiasaan menyiapkan makanan pagi di rumah-rumah.
Sayang saya tidak sempat mendalami hal itu.
Saya juga tidak sempat mendalami, mengapa pecal yang tersaji. Mengapa bukan bubur? Mengapa masyarakat berselera dengan jenis makanan itu? Yang kemudian lebih mengejutkan, ternyata ada tiga tempat orang jualan pecal. Tiga tempat jualan pecal untuk kampung sekecil itu, tentu sesuatu yang istimewa.
Banyak lagi pertanyaan.
SATU per satu undangan datang ke rumah Yansah. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang warga, Bujang Rahman. Beliau adalah salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kami bicara soal sejarah kampung, cerita rakyat, ekonomi masyarakat. Tentang sejarah kampung, beliau memiliki catatannya. “Saya ada simpan di rumah,” katanya.
Saya penasaran. Apakah sejarah kampung di Pulau Maya sudah ditulis? Kalau memang sudah ditulis, tentu penulisan sejarah seperti ini adalah kemajuan yang luar biasa. Penulisan sejarah seperti ini bukan saja membuktikan tingginya tingkat keberaksaraan masyarakat, tetapi pasti menunjukkan tingkat peradaban.
Hebat!
Banyak informasi yang saya dapat dari beliau.
Saya kira beliau akan mengikuti pertemuan. Rupanya tidak.
Ketika beliau pulang, saya mengikutinya. Saya ingin melihat rumah dan sekaligus tulisan sejarah kampung.
Rumah beliau rupanya tidak jauh. Di seberang masjid. Di depan rumah terdapat warung makanan dan minuman ringan. Di sini ada jual pecal, mie, dan kue-kue.
Saya meniti jembatan di atas parit yang tidak jauh dari warung itu. Saya menyeberangi parit dengan kikuk. Kikuk karena jembatannya agak kecil. Sempat terlintas, kalau-kalau jatuh.
Rumah beliau terbuat dari kayu. Bagian depan halamannya luas. Tapi hanya rumput.
“Tidak ada yang bisa ditanam. Mati kena air asin,” katanya.
Di bagian samping dan belakang terdapat kebun kelapa. Namun, saya lihat kelapa-kelapa itu tidak subur. Buahnya satu dua saja. Dia menyebut luas kebun kelapa yang ditanamnya. Ah, andai kelapa-kelapa itu tumbuh dengan subur, berbuat lebat, pasti pemiliknya bisa ongkang-ongkang kaki.
Pak Bujang sudah berusaha membuat tanggul kecil. Dia menggali parit di batas kebun, lalu tanah-tanah itu dijadikan sebagai gundukan. Namun, tidak berhasil. Gundukan terlalu kecil. Air tetap masuk.
Ada juga sapi di dalam kandang di belakang rumah. Sapi-sapi ini harus dicari makannya. Mencari rumput menjadi salah satu pekerjaan rutin. “Dahulu waktu ada klip, cari rumput lebih mudah. Sekarang agak susah. Carinya mau jauh-jauh,” katanya.
Saya terkesima dengan situasi di sini. Saya kira, tuan rumah ini adalah orang yang rajin.
Ruang tamu luas, namun nampak lempang. Di dinding terpajang gambar poster dan foto-foto. Foto presiden Soekarno, Soeharto, Megawati, dan Gusdur. “Saya belum dapat koleksi foto Pak Habibi,” katanya.
Ada juga foto seorang anak muda seragam putih, berkopiah.
“Itu anak saya. Dia paskibra,” ungkapnya.
Dia menceritakan prestasi anak lelakinya. Saya melihat kebanggaan seorang bapak memiliki anak yang berprestasi.
Saya melihat ‘semangat’ yang luar biasa pada orang tua ini. Saya melihat foto-foto yang dipajang lebih dari sekadar hiasan, tetapi juga menjadi inspirasi dan motivasi bagi dia, dan juga bagi anak-anaknya.
Kami melanjutkan percakapan.
Beliau menunjukkan beberapa album. Kebanyakan foto perkawinan. Busana dan dandanan pengantin agak sedikit unik. Perempuan mengenakan kebaya, dan sanggul. Banyak tusuk konde di atas kepala.
Bedak dan lipstik nampak tebal.
Saya membayangkan pasti saat pernikahan suasananya ramai. Pasti momen seperti ini menjadi hiburan tersendiri orang kampung di tempat terpencil begini.
Pak Bujang juga menunjukkan rajah yang dipercayai mendatangkan kekuatan bagi pemakainya. Rajah itu diperolehnya ketika kerusuhan akhir 90-an. Ah, rupanya hawa kerusuhan di pantai utara sampai juga ke sini. Rupanya, penduduk pulau ini juga bersiap-siap diri saat kerusuhan itu. Bersambung
Diposting oleh Yusriadi di 00.43 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
Perjalanan ke Pulau Maya, KKU (6): Kehidupan Pagi di Kampung Parit Baru
Oleh Yusriadi
Yansah menghubungi beberapa pengurus RT, memberitahu tentang kedatangan rombongan STAIN Pontianak, sekaligus undangan kepada mereka untuk menghadiri pertemuan.
Saya kira, inilah enaknya di kampung yang ikatan kebersamaannya masih kuat. Orang bisa mengundang pada saat-saat akhir. Orang masih berkesempatan datang menghadiri pertemuan. Orang masih bisa membatalkan rencana ke ladang, hanya untuk memenuhi undangan.
Dia mengajak saya pergi ke ujung kampung. Kami naik sepeda motor melalui jalan beraspal. Beberapa kali kami berpapasan dengan anak-anak yang pergi ke sekolah. Anak-anak bertanya pada Yansah tentang kegiatan belajar hari ini. Yansah memberitahu mereka, sekolah libur. Yansah tidak bisa mengajar hari ini karena dia menerima kedatangan rombongan KF. Ya, di sini gurunya terbatas. Sekolah swasta. Yansah menjadi kepala sekolah madrasah ibtidayah, sekaligus guru di sini.
Saya juga dapat melihat kesibukan penduduk di pagi hari. Sejumlah orang mandi di parit. Ada anak-anak yang menjongkong di atas jembatan yang tingginya lebih kurang 2 meter dari permukaan air. Parit menjadi tempat mereka membuang hajat. Di parit ini juga mereka mandi dan mencuci. Syukur sekarang mereka tidak mengkonsumsi air parit juga. Mereka minum air hujan. Saya hanya melihat dari jauh.
Ada orang-orang kampung yang pergi ke warung, berbelanja. Ada juga yang pergi ke kebun naik sepeda.
Motor berhenti di depan beberapa rumah – rumah itu, semuanya pejabat kampung. Yansah memberitahukan rencana pertemuan pagi ini. Beberapa dari mereka mengiyakan dan menyanggupi hadir dalam pertemuan. Kami sampai ke ujung kampung.
“Ini rumah paling jauh,” kata Yansah.
Ini rumah terakhir yang harus didatangi. Setelah itu selesai.
SAYA merasa beruntung berkesempatan menjelajah kampung. Saya dapat melihat lebih banyak kehidupan masyarakat di sini.
Saya mengamati rumah-rumah penduduk relative teratur. Rumah menghadap ke jalan dan parit. Dua urat nadi kehidupan masyarakat.
Jalan memang belum terlalu lama dibangun. Begitu juga parit. Saya sempat mendengar cerita pembangunan parit dari Pak Kaed. Menurut Pak Kaed, pembangunan parit itu belum terlalu lama, hanya tiga generasi lalu. Proses waktu, abrasi pinggiran parit menyebabkan parit itu kian lama kian lebar.
Melihat keadaan parit, saya jadi ingat pertanyaan Bang Rustam saat kami bertolak dari Sukadana ke Pulau Maya: mengapa orang tinggal di pulau ini? Saya menduga parit inilah jawabannya. Bukan hasil alam yang menjadi daya pikat Pulau Maya ini. Daya pikat Pulau Maya ada pada airnya. Air Pulau Maya tidak asin! Air asin hanya masuk saat pasang laut. Kalau laut tidak pasang, air paritnya tawar.
Kebutuhan pada air tawar untuk minum para awak kapal menyebabkan para pelintas di laut singgah di pulau ini. Lalu, lama-lama, ada yang menetap di tempat persinggahan ini. Sehingga kemudian terbentuklah pemukiman, seperti yang terjadi sekarang ini.
RUMAH penduduk di Parit Suka Baru ini semuanya besar. Beberapa di antaranya berlantai dua. Bahan bangunan untuk rumah juga bervariasi. Seperti juga di Pintau, sebagian rumah menggunakan bahan papan, ada juga yang menggunakan bahan semen. Ada rumah yang beratap seng, ada rumah yang beratap daun.
Dari percakapan dengan penduduk setempat saya tahu bahwa penduduk di sini merasa perlu memiliki rumah besar karena dengan begitu mereka dapat menampung keluarga, tetangga dan undangan yang datang ke rumah.
Saya jadi ingat fungsi rumah dalam kebanyakan keluarga Melayu di kampung di Kalimantan Barat yang sempat saya amati. Rumah bagi mereka selain tempat tinggal –tempat menetap, juga tempat mereka berkumpul.
Rumah besar penting untuk menampung keluarga jauh yang datang bermalam. Rumah besar juga penting agar dapat menampung tetangga yang datang menghadiri upacara adat di rumah tangga. Misalnya perkawinan, selamatan kandungan, selamatan kelahiran anak, dll. Bersambung.
Diposting oleh Yusriadi di 00.43 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
Perjalanan ke Pulau Maya, KKU (5): Pintu Klip Bikin Merana
Oleh Yusriadi
Tak lama kemudian seorang anak muda muncul. Yansah. Dia tutor KF di sini. Sehari-hari dia mengajar di madrasah ibtidayah di sini.
Dia menyilakan kami ke rumahnya.
Kami mengikutinya dari belakang. Menyeberangi jembatan yang melintang di atas parit. Panjang jembatan lebih kurang 10 meter. Sampai ke rumah. Rumahnya kayu, beratap seng. Ruang tamu cukup luas. Ada sofa sederhana. Ada kursi plastik.
Beberapa gambar dan foto terpajang di dinding. Di sana sini nampak masih ada bekas-bekas hiasan, hiasan perkawinan.
Kami berganti pakaian. Untung pakaian di dalam tas tidak basah.
Setelah itu, mereka menyediakan minuman dan kue. Ada jenis kek.
“Ada kegiatan semalam,” katanya.
Semalam ada kegiatan hadrah di rumah ini. Hadrah merupakan bagian dari acara selamatan kandungan istri Yansah.
Orang tua Yansah, Pak Kaed, sempat menunjukkan permainan hadrah. Ismail, yang memang di Pontianak termasuk pemain jepin, nyambung dengan cerita hadrah itu. Mereka bicara tentang jenis pukulan, perkembangan permainan hadrah, dll. Saya melihat semangat dua orang itu terhadap kesenian rakyat yang hampir punah.
Agak larut kami tidur.
SUBUH. Kami salat di masjid Jami’ Baburrahman di persimpangan tiga di tengah kampung yang kami lewati sebelumnya.
Waktu kami datang di masjid sudah ada orang.
Memasuki waktu azan, Bang Rustam menjadi muazin. Suaranya merdu sekali. Saya sudah agak lama kenal dengan Bang Rustam, tetapi, saya tidak tahu dia bias azan semerdu itu. Asli! Suara serak-serak memanggil membawa saya pada masa lalu, saat di Jongkong, Kapuas Hulu dahulu. Azan subuh di suasana yang sepi dan dingin selalu menimbulkan kesan tersendiri.
Jumlah jamaah dapat dihitung dengan telunjuk. Sedikit. Tetapi saya tidak heran, selalunya memang begitu. Jangankan di Pulau Maya ini, di Pontianak, jamaah Subuh juga tidak banyak.
Saya terkesan pada masjid itu ketika melihat sebuah pedang di mimbar. Pedang itu bersarung. Panjangnya lebih satu meter. Ada ukiran pada ganggangnya.
Pedang itu digunakan sebagai bagian dari tatacara dalam salat Jumat. Jika di beberapa tempat, orang yang akan naik mimbar diserahkan tongkat, di sini, orang yang akan naik mimbar diserahkan pedang. Pedang siapa ini? Rupanya pedang itu adalah salah satu pedang milik generasi awal di Pulau Maya ini.
Kami kembali ke rumah. Saya memilih duduk di teras, melihat kehidupan pagi di Parit Suka Baru. Ada beberapa perahu dan perahu motor yang melintas di parit. Petani pergi ke ladang.
Ladang penduduk terdapat di ujung kampung.
Sebagian penduduk di sini adalah petani. Selain itu ada yang menjadi pekebun kelapa. Beberapa lagi nelayan.
Kebun kelapa yang terdapat di belakang rumah penduduk di kampung ini tidak tumbuh dengan bagus. Hasilnya tidak maksimal. Kerap terkena air asin.
Air asin bebas masuk wilayah pemukiman dan perkebunan karena di parit ini sekarang tidak ada pintu klip. Pintu klip sudah rusak diterjang kayu.
Dahulu, ketika kayu sedang ‘jaya-jayanya’ parit ini dijadikan sebagai ‘jalan kayu’. Orang membawa kayu dari hutan di ujung kampung. Kadang-kadang kayu yang dihanyutkan di sungai itu menabrak jembatan, tangga tempat mandi. Termasuk menabrak pintu air. Akhirnya pintu air jebol dan tidak bisa berfungsi sampai sekarang. Lalu, masuklah air asin.
Sebagian dari tanaman penduduk yang sempat tumbuh subur ketika pintu klip masih berfungsi, mati. Tumbuhan tak mampu hidup ketika kena air asin. Pisang-pisang yang sempat tumbuh subur perlahan-lahan mati. Kelapa yang sempat berbuah lebat, mulai rontok, berbuahnya melekat bak kata orang, satu dua. Begitu juga dengan kopi.
Penduduk jadi ikut merana. Sumber kehidupan menjadi terbatas.
Sampai sekarang permohonan perbaikan pintu klip kepada pemerintah belum dipenuhi. Penduduk disalahkan. ‘Orang pemerintah’ bilang, seharusnya orang yang merusak pintu klip itu bertanggung jawab. Seharusnya dia membayar ganti rugi untuk perbaikan. Bersambung
Diposting oleh Yusriadi di 00.43 0 komentar
Label: Perjalanan, Pulau Maya
