Oleh Yusriadi
“Kalian harus hati-hati dalam membuat liputan. Ini daerah perang”,
Pesan Andreas Harsono memukau saya dan 19 peserta pelatihan Narative Reporting yang dilaksanakan Tribune Institute bekerja sama dengan Yayasan Pantau, EC-Flegt, Eka Tjipta Foundation, Borneo Tribune dan Hotel Peony, di Hotel Peony, Jalan Gajahmada Pontianak.
Andreas adalah pelatih dalam kursus itu. Dia pernah membuat liputan mendalam terhadap konflik di Gang 17 Pontianak. Tulisan itu dimuat di Gatra beberapa bulan lalu.
Hari itu, hari Kamis (13/11). Andreas menjelaskan soal keragaman news room. Andreas mengingatkan keragaman yang ada di ruang redaksi dan di lingkungan sekitar ruang redaksi. Maksudnya di Pontianak dan Kalbar.
Pontianak memiliki komunitas yang beragam. Ada Melayu. Ada Tionghoa. Ada Madura. Ada Dayak. Dll. Masing-masing komunitas itu mesti dipahami sosial budayanya.
“Tidak bisa sembarangan,” ingat Andreas.
Dia mengingatkan soal identitas yang mungkin akan mempengaruhi liputan dan menimbulkan bias. Saat membuat liputan sebaiknya identitas itu ditinggalkan di rumah. Entah itu identitas agama, identitas etnis, dan sejenisnya.
Andreas juga mengingatkan liputan-liputan konflik harus berdasarkan sumber pertama. Wartawan harus sampai pada titik konflik. Harus mendapatkan informasi mengenai kejadian dari orang yang terlibat langsung. Baik pelaku maupun korban.
Lalu dia mengutip pendapat J. Davidson, ilmuan yang meneliti konflik di Kalbar. Ilmuan ini berkesimpulan media ikut bertanggung jawab terhadap konflik yang terjadi di Kalbar.
Saya mencatat dengan huruf besar pernyataan ini. Ya, saya sependapat. Media memang harus bertanggung jawab. Paling tidak secara moral.
Media adalah tempat masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan seharusnya, hanya informasi yang dapat dipertanggungjawabkan sajalah yang ditulis media.
Tetapi, saya jadi teringat keributan di Pontianak tahun 2000. Waktu itu saya merasakan sendiri bagaimana tidak mudahnya membuat berita yang memuaskan. Kerap kali wartawan tidak bisa masuk ke titik konflik. Ada cerita Nur Is, wartawan yang sekarang menjadi Pimpinan Redaksi Borneo Tribune, disandera. Cukup panjang cerita dia membebaskan diri. Entah berapa panjang doa dipanjatkan.
Ada juga cerita Nanang –saya tidak tahu di mana dia sekarang. Nanang sempat dikalungi senjata tajam. Sempat panas dingin. Untung selamat.
Karena itu, agak maklum, jurnalis kerap kali hanya mendengar cerita dari sumber polisi, atau dari sumber kedua dan ketiga. Sumber di lingkaran dua adalah sumber yang mendengar saja. Sedangkan yang di lingkaran tiga adalah orang yang mendengar dari orang yang mendengar. Tetapi, ini tidak bisa dibenarkan.
Kerap kali teman-teman menggunakan rujukan pakar untuk menanggapi konflik yang sedang terjadi. Padahal, seperti dikatakan Andreas, pakar itu sama sekali tidak pernah melakukan penelitian terkait komunitas dan persoalan yang sedang terjadi. Ya, tiba-tiba memang banyak orang yang disebut pakar. Saya akui, saya pun kerap kali risih dengan label yang diberikan teman-teman tentang pakar itu.
Seperti juga, saya rasa risih karena kawan-kawan kerap menobatkan seseorang sebagai tokoh. Sebab sering kali yang saya dengar tokoh-tokoh itu justru termasuk orang yang berkepentingan dengan komentar-komentar yang mereka lontarkan.
Kini, Andreas mengingatkan hal itu. Saya berharap mudah-mudahan ada perubahan. Setidaknya semakin banyak yang sadar mengenai kedudukan pakar dan tokoh dalam konflik.
Setidaknya, semakin banyak orang yang sadar untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi di kemudian hari di Pontianak dan di Kalbar. Kita bosan dengan konflik. Kita mau damai selalu.
Senin, 17 November 2008
“Hati-hati, Ini Daerah Perang”
Diposting oleh Yusriadi di 01.51 0 komentar
Label: Menulis, Pontianak, Suara Enggang
Merintis Jalan Keabadian: Narative Reporting di Pontianak
Oleh: Yusriadi
Hari itu, lebih kurang dua minggu lalu. Nur Is memberitahu, ada pelatihan Narative Reporting yang akan diselenggarakan di Pontianak. Kerjasama dengan Yayasan Pantau. Mas Andreas datang.
“Bang Yus didaftarkan. Ada Bang Wito. Ada Mbak Dwi,”
Bang Wito adalah panggilan untuk WW. Suwito, Direktur Utama Borneo Tribune Pontianak. Dia adalah pengacara terkenal di Pontianak. Sedangkan Mbak Dwi, dia adalah ketua Yayasan Tribune Institut.
Aku mengangguk.
Pelatihan di Pontianak. Aku ada waktu. Aku bisa ikut pelatihan itu.
Tentu kesempatan seperti ini sangat berharga. Apalagi yang datang melatih ada Mas Andreas. Maestro Je-es, begitu kawan-kawan mengatakan. Pelatih yang dikenal. Kawan-kawan di Borneo Tribune, menganggap Andreas guru, mahaguru mereka. Pandangan Andreas kerap dirujuk. Wajah Borneo Tribune seperti sekarang sedikit banyak karena Andreas. Jasa dia terhadap Borneo Tribune hari ini tak ternilai.
Lebih tidak ternilai lagi semangat yang diberikannya untuk kami semua.
Secara khusus aku mendengar nama Andreas disebut kawan-kawan sejak masih di Equator sejak dahulu. Waktu itu Sapariah Nur Is, dkk sering menyebut nama itu.
Mereka sudah mengikuti pelatihan di sana sejak lama. Aku berkenalan dengan Mas Andreas sewaktu dia ke Pontianak melamar Sapariah.
AKU sudah ditawarkan untuk ikut pelatihan di Jakarta. Namun, kesibukanku membuat aku berpikir panjang sebelum ikut ke sana. Maklum sekali pergi pelatihan waktunya sekitar 3 minggu.
Sampai akhir aku di Equator, jalan ke sana tidak sampai.
Kemudian, saat kami membangun Borneo Tribune, kesempatan pergi muncul lagi. Nur Is merekomendasikan aku pergi. Sudah didaftar.
Namun, kali ini aku pun maju mundur. Pergi. Tidak. Pergi tidak.
Kali ini bukan soal waktu. Aku keberatan soal biaya. Nur Is bilang kantor membiayai. Aku ragu. Borneo Tribune belum lahir. Uang belum ada masuk. Uang yang disebut Nur Is, adalah uang owner. Aku merasa tidak nyaman. Apalagi biaya yang diperlukan ke Jakarta Rp 5 juta. Aku kasihan pada kantor. Nur Is berpandangan lain. Menurut dia, pelatihan ini lebih penting untuk masa depan Borneo Tribune.
Ah, memikirkan hal itu aku menjadi gamang. Aku sudah tua. Apakah aku bisa mengawal perjalanan Borneo Tribune. Aku merasa sudah senja. Kalau untuk masa depan media kami, seharusnya yang dilatih adalah wartawan-wartawan muda. Aku sudah merasa tua untuk berkembang. Aku merasa kalau bicara masa depan, itu bukan masaku. Aku telah lewat. Aku hanya bisa membantu kawan-kawan menyiapkan kerangka masa depan. Bukan menjalaninya.
Susah payah aku meyakinkan Nur Is mengenai hal itu. Aku tahu Nur Is pasti agak kecewa. Tapi biarlah.
Lantas kemudian setelah Borneo Tribune terbit. Kesempatan datang lagi. Tapi, entah. Kali ini pun aku tidak pergi.
PAGI itu, pelatihan dimulai. Di Hotel Peony, Pontianak. Hotel langganan Borneo Tribune. Tempatnya bagus. Aku suka melihat sisi Pontianak di Lantai 5, tempat kegiatan dilaksanakan. Lalu lintas jalan Gajahmada terlihat jelas. Keadaan atap bangunan. Menara-menara di kota ini juga.
Tanggal 10 November. Kegiatan dimulai. Ada belasan orang peserta. Beberapa di antara mereka aku kenal. Ada juga yang asing.
Pembukaan. Mering memberikan pengantar. Lalu Andreas memulai sessi. Dia memulai dengan sesi Elemen Jurnalisme. Buku Bill Kovach jadi rujukan. Yang menarik Andreas memulai dengan memberikan sejumlah kasus dan pertanyaan mengenai situasi social. Aku melihat antusiame peserta pelatihan terhadap kasus-kasus itu.
Lalu, dia memberikan bingkai dari semua persoalan itu. Semua kasus dilihat dari sudut jurnalisme. Peserta diberikan pada kesadaran mengenai etika-etika yang harus dipenuhi dalam liputan-liputan media. Rumit memang. Tetapi Andreas perlu mengingatkan hal itu karena dia ingin memberikan bekal kepada jurnalis di Kalbar bagaimana membuat liputan yang baik.
“Ini daerah perang,” ingatnya.
Liputan harus dibuat sebaik mungkin, karena kalau tidak bisa timbul gejolak.
Pada hari-hari berikutnya, Andreas memberikan petunjuk tentang bagaimana wawancara dilakukan. Apa yang harus disiapkan, dll. Lalu ada praktiknya. Asyik juga melihat Mbak Dwi Syafrianti, Ketua Tribun Institut wawancara Sina, peserta asal University Bonn. Lalu, Johan, wartawan Borneo Tribune mewawancarai Hentakun, peserta asal Tribune Institut. Setelah itu kami membahas praktik wawancara itu.
Menjelang pulang di hari pertama, peserta diberikan pekerjaan rumah. Ada tugas membuat deskripsi event yang ada di sekitar laingkungan. Aku membuat deskripsi tentang ruang praktik dokter gigi Multi.
Hari-hari selanjutnya kami mendapatkan materi-materi seputar teori membuat liputan dan dasar-dasar menulis. Andreas juga memberikan materi tentang news room. Materi ini menyangkut keragaman yang ada di ruang redaksi, dan keragaman yang ada di seputar kehidupan kami.
Kami juga diberikan materi seputar liputan Gang 17 dan Lost Generation. Gang 17 sebutan untuk peristiwa kerusuhan antara sebagian kelompok Melayu dengan kelompok Tionghoa. Kejadiannya di Gang 17, Jalan Gajahmada Pontianak, pasca Pilkada Kabar 2007. Sedangkan Lost Generation liputan Muhlis Suhaeri terhadap korban PGRS-Paraku tahun 1967. Liputan ini bagus. Muhlis mendapat anugerah Mohtar Lubis Award untuk jenis liputan investigasi.
Andreas juga membedah tulisan John Hersey berjudul “Hirosima”. Liputan ini adalah karya jurnalistik terbaik abad ke-21. Ini keabadian Jhon Hersey.
Aku melihat antusiasme peserta terhadap kegiatan ini. Sangat. Andreas berhasil membakar semangat menulis. Cara mengajarnya menyenangkan. Mudah dipahami.
Inspirasi muncul. Masing-masing ingin membuat tulisan yang terbaik. Ada yang ingin membongkar tragedy kemanusiaan. Ada yang ingin menulis biografi. Ada yang ingin menulis khazanah budaya. Macam-macam.
Tak terkecuali aku. Aku ingin juga membuat karya terbaik. Karya yang berguna untuk banyak orang. Aku ingin membuat karya yang abadi.
Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Mas Andreas. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Nur Is yang memberikan banyak kesempatan.
Diposting oleh Yusriadi di 01.45 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Menulis, Tentang Yusriadi
Selasa, 11 November 2008
Bagus, Mau Singgah? Sileee
Banyak pengunjung yang singgah di blog ini. Mereka meninggalkan jejak. Ada komentar yang apresiatif. Ada saran. Ada kontak biasa. Sebagian dari komentar itu sudah hilang dengan sendirinya. Mungkin ruang untuk itu kepenuhan. Inilah dia yang tersisa.
To Bani: Salam. Mau singgah juga boleh. Sileeee...
9 Nov 08, 18:51
To Amrin: Salam juga. Sileee... baca. Mudah2an suka. Salam juga dari kawan2 di Borneo Tribune.
9 Nov 08, 18:50
To Maverick: Terima kasih atas apresiasinya. Mudah2an bermanfaat.
5 Nov 08, 23:03
Bani: Numpang lewat aja bang...
29 Oct 08, 16:27
Amrin: Salam Budaya! Numpang baca...Salam buat abang-abang di Borneo Tribune...Salam Budaya!
21 Oct 08, 11:07
Maverick: blognya bagus
21 Oct 08, 11:07
Maverick: Pak..!
14 Oct 08, 17:28
To KUA Pemangkat: Salam. Maaf, saya tidak tahu Pak. Bang Syahrul tidak bisa dikontak. Bos, ganti-ganti nomor hp barangkali.
14 Oct 08, 17:27
To Lukman: Selamat lebaran juga. Lanjut.
13 Oct 08, 11:00
kua pemangkat: ada ndak blog kandepag kapuas hulu tolong informasikan
12 Oct 08, 21:51
lukman: minal aidin walfaidzin bang... oya buat Dudi klau mau tahu ttg P.Tikar/Batu Ampar lbh jauh InsyaALLAH sy bs Bantu Pliz Contact me via 085654467822 / 085252198560
9 Oct 08, 12:59
angkamor: jalan-jalan siang nich waw, artikel anda mengugah saya...
25 Sep 08, 10:32
dedy: beguraw jak ke rumah abang. Maenlah ke rumah he he
23 Sep 08, 15:13
To Bang Hatta: Wks. Ya, saya juga mengucapkan terima kasih karena mengundang saya pada acara launching, kemarin. Semoga sukses selalu.
23 Sep 08, 15:12
To Dudi: Bang Dudi, mudah-mudahan Bang Lukman yang lebih tahu. Mudah-mudahan dia bisa bantu.
22 Sep 08, 00:39
Hatta: Asw... Maksih banget yah bang atas kesediaannya menjadi pembicara kami kemarin. Mohon maaf atas segala kekurangan & egala khilaf yg semisal terdapati. Skl lg makasih!!! Mohon panduannya selalu...
21 Sep 08, 12:46
dudi: pak saya karyawan dipeusahaan, kalo bisa saya minta gambar-gambar padang tikar, terutama masyarakat dan transport menuju kesana
20 Sep 08, 00:11
lukman hakim: Ass bang,p kbr,msh ingat sy kan?oya kpn ke kec batu ampar lg?
18 Sep 08, 15:40
To Lidyanoria: Salam. Lidya, kuliah di mana? mudah-mudahan kamu bisa layari web www.kuburayakab.co.id selamat berusaha. Sukses selalu.
16 Sep 08, 11:05
lidyanoria: saya mahasiswi minta bantuan pada bapak yusradi untuk mencarikan profil daerah Kab.Kubu Raya, sejarah, ciri-ciri wilayah, politik, budaya, kependudukan, sosial, ekionomi, geografinya. ats bntuan trims
Diposting oleh Yusriadi di 01.56 0 komentar
Label: Komentar Blog, Tentang Yusriadi
Jumat, 31 Oktober 2008
Surprise Sutarmidji
Oleh Yusriadi
Suprises. Ungkapan itu meluncur dari mulut Sutarmidji seperti dikutip Borneo Tribune kemarin (27/10) sesaat setelah melihat hasil perhitungan suara yang diperolehnya.
Saya kira kejutan sebenarnya yang dirasakan Sutarmidji bukan karena kemenangan itu. Kejutan sebenarnya terjadi karena Sutarmidji bisa menang tanpa harus masuk ke putaran kedua.
Masalahnya, sebelum tanggal 25 Oktober banyak ramalan, bahwa Pilwako Pontianak akan berlangsung dua putaran. Calon-calon yang bertarung cukup banyak, ada 7 calon, dan masing-masing memiliki kapasitas yang mungkin akan mendongkrak suara.
Pasangan Haitami - Deden, diramalkan akan mendapat dukungan di atas 20 %. Suara dasar yang dimiliki pasangan ini saja sudah mencapai 40 ribu. “Tinggal menambah sedikit saja, pasti sudah menang,” begitu prediksi.
Haitami, Deden dan tim sukses mereka sudah meyakini hal itu. Apalagi dalam jajak pendapat beberapa waktu lalu pasangan ini mendapat ‘tempat’ di hati rakyat kota.
Pasangan Oscar – Hartono (ObamA) juga sangat mungkin melaju. Sekalipun mereka bukan favorit. Orang meramalkan pasangan ini bisa menjadi kuda hitam. Oscar memiliki karisma tersendiri. “Dia ganteng. Enak dilihat. Bicaranya pun ok,” kata seorang pemilih perempuan.
Hartono juga politisi Tionghoa yang sudah punya nama dan jasa di kota Pontiana. Ketua Partai Demokrat Kota ini duduk sebagai anggota DPRD Kota Pontianak.
Selain itu, bergabungnya para politisi senior dan tokoh-tokoh dalam tim ini membuat orang punya harapan bahwa ObamA akan sukses mendapat dukungan masyarakat kota.
Dengan modal dasar ini, pasangan ini sangat mungkin melaju ke putaran berikutnya.
Pasangan Abduh – Thaha (Duta) juga diramalkan punya kans besar untuk menang. Dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi modal utama mereka. Gerakan door to door kader PKS agar masyarakat kota memilih Duta sangat gencar. Walaupun mungkin tidak selalu berhasil, paling tidak ‘kampanye’ seperti ini akan mempengaruhi pertimbangan pemilih.
Harso dan Awaludin (Harkad) dianggap calon yang memiliki peluang paling besar dibandingkan calon lain. Sebagai satu-satunya calon yang beretnik Tionghoa, Harso akan membuat dukungan komunitas ini jadi padu. Jumlah orang Tionghoa di Pontianak diperkirakan 30-an per sen. (Ada yang menyebutnya 32 dan 36 per sen). Jika dukungan bulat, berarti Harso mendapat suara 30 per sen. Belum lagi ditambah jumlah orang bukan Tionghoa yang mendukung Awaludin. Karena itu amat wajar kalau pasangan ini sempat optimis menang dalam Pilwako ini. Orang menduga suara Tionghoa bulat karena belajar dari pengalaman Pilwako Singkawang saat orang Tionghoa dianggap ‘bulat’ mendukung Hasan Karman, dan dalam Pilkada Kalbar, saat orang Tionghoa dianggap bulat mendukung Cornelis – Christiandy Sanjaya. Christiandy adalah satu-satunya calon yang berasal dari komunitas Tionghoa.
Tetapi, Hersan juga tidak dipandang sebelah mata. Ketua DPRD Kota yang juga Ketua Golkar Kota Pontianak dianggap memiliki kans kuat. Mesin politik Golkar masih dianggap solid memberikan dukungan kepadanya. Jika pendukung Golkar Kota selama ini berpihak kepada Hersan, tokoh popular ini memiliki peluang yang sangat besar. Amunisinya juga kuat. Amunisi ini akan menggerakkan jentera politik Hersan.
Meskipun tidak terlalu diunggulkan, namun pasangan Sri Astuti – Eka Kurniawan juga sangat mungkin melaju. Melalui programnya Pendidikan Usia Dini (PAUD) dan PKK, pasangan Setia Kawan ini sudah memiliki jaringan. Belum lagi jika mesin politik PDIP –karena Eka adalah Ketua PDIP Kota, berjalan kencang. Kalau Buchary menggerakkan orang-orang yang selama ini loyal kepadanya, kekuatan pasangan ini juga akan bertambah.
Saya kira melihat peta kekuatan dan prediksinya, Sutarmidji seperti diakuinya sudah mempersiapkan Pilkada dalam dua putaran. Dan dia meramalkan kemenangannya dalam putaran kedua.
Tetapi, dalam perhitungan suara kemudian, ternyata Sutarmidji menang satu putaran. Perolehan angka dukungan melebihi 30 per sen. Inilah kejutan sesungguhnya Sutarmidji. Dan sebenarnya kejutan banyak pengamat. “Saya prediksikan 50 per sen pasti akan terjadi putaran kedua,” kata Jumadi, pengamat politik dari Untan Pontianak, seperti dimuat media.
Lalu, bagaimana Sutarmidji bisa menang hanya dalam satu putaran. Saya kira itu pertanyaan yang menarik.
Saya sendiri menduga kemenangan satu putaran terjadi karena menjelang pemilihan banyak orang berubah sikap. Orang yang semula mendukung calon tertentu, beralih pilihan mendukung Sutarmidji karena hasil survey terakhir yang sempat berhembus. Kabar angin menyebutkan survey terakhir Sutarmidji unggul. Ada juga kabar angin yang menyebutkan Harso yang unggul.
Kabar kemenangan Harso membuat sebagian pemilih yang beragama Islam khawatir. Pemilih rasional tertentu juga khawatir. Kekhawatiran sebagian pemilih Islam muncul karena Harso orang Tionghoa dan beragama Katolik. Sebagian umat Islam belum siap dipimpin oleh walikota yang beragama lain, karena mereka beranggapan merekalah yang lebih layak memimpin. Penilaian ini muncul karena jumlah penduduk yang beragama Islam di kota Pontianak mencercah angka 60-70 per sen.
Beberapa teman yang memberikan suara pada 25 Oktober itu, ketika saya tanyakan, siapa yang mereka pilih? Mereka mengatakan memilih calon yang menang.
“Siapa calon yang menang?”
“Sutarmidji”.
Padahal sebelumnya ada di antara mereka yang mendukung calon lain.
Saya rasa pasti bukan teman saya saja yang memberikan pilihan dengan alasan yang sama. Agaknya sikap pemilih seperti inilah yang membuat Sutarmidji, dan pengamat surprise.
Diposting oleh Yusriadi di 01.43 0 komentar
Label: Pontianak
Senin, 27 Oktober 2008
Siapa yang Akan Menjadi Walikota Pontianak?
Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Siapa yang akan terpilih menjadi walikota Pontianak? Siapa yang akan menang dalam pemungutan suara hari ini (Sabtu, 25/10/08)?
Pertanyaan ini terus menggelinding. Tema seputar siapa yang akan dipilih menjadi tema utama percakapan warga kota Pontianak kemarin.
Saya mendengar percakapan itu di rumah saudara. Di kantor. Di masjid. Juga di warung makan.
Analisanya macam-macam. Tidak bulat. Semua calon mendapat prediksi. Semua calon mungkin memang. Teori yang mendukung kemenangan juga unik-unik. Ada yang memilih karena calon itu satu agama. Ada yang mempertimbangkan karena calon itu satu suku. Ada yang memilih berdasarkan pertimbangan calon itu dari partai tertentu. Ada yang memilih calon berdasarkan ikatan keluarga, ada yang akan memilih calon karena hubungan personal dengannya selama ini baik. Calon ini suka memberikan bantuan kalau diajukan proposal, dll. Kelihatannya ikatan emosional dianggap lebih penting untuk menjadi modal dukungan bagi walikota Pontianak kelak.
Saya merasa lebih unik lagi, karena hampir tidak ada yang mengatakan memberikan dukungan terhadap calon karena program yang diusungnya baik. Pada hari terakhir, program tidak dianggap penting.
Saya sendiri menjadi gamang ketika mendengar berbagai pendapat itu.
Tetapi mau apa, beginilah kenyataan. Banyak masyarakat –bahkan masyarakat kelas menengah kota yang masih belum benar-benar memikirkan masa depan kota Pontianak. Masih banyak yang belum benar-benar peduli, pada siapa masa depan kota ini diletakkan.
Saya, jadi merenung sendiri, apakah cara berpikir saya yang salah? Apakah cara berpikir saya yang membuat saya menjadi gamang?
SAYA berpendapat, kalau para pemilih memikirkan masa depan kota Pontianak selayaknya mereka memikirkan beberapa hal. Pertama, program calon. Program penting dijadikan panduan untuk melihat apakah seorang calon itu memiliki sesuatu yang bisa dijanjikan. Kekuatan visi seorang kepala daerah pasti akan menjadi modal dia dalam membawa kota ini lebih maju.
Memang, pemilih juga harus hati-hati terhadap janji-janji itu. Karena kadangkala janji-janji itu bisa janji-janji kosong. Oleh sebab itu, setiap pemilih harus bisa menimbang apakah janji yang diucapkan calon itu masuk akal atau tidak. Janji yang tidak masuk akal mungkin hanya diucapkan sekadar ‘manis mulut berbisa’. Untuk menipu pemilih.
Kedua, track record calon. Seharusnya, hanya calon yang mempunyai record baiklah yang dipilih. Seharusnya hanya orang yang mempunyai masa lalu yang baiklah yang bisa dititipkan masa depan. Bisakah kita menitipkan masa depan untuk orang yang selama ini kita ragukan kejujurannya? Tentu tidak. Pasti kita hanya berani menitipkan sesuatu (hatta masa depan) terhadap orang yang kita percaya.
Memang adakalanya masa lalu harus dilupakan. Misalnya bagi orang yang sudah tobat, atau bagi mereka yang sudah insyaf. Namun, tentu saja harus hati-hati. Kalau tobatnya hanya menjelang pencalonan, tentu saja orang seperti ini tidak meyakinkan.
Pada akhirnya memang semua pilihan masa depan terletak pada kepercayaan. Kalau kita memang percaya, kalau hati kita yakin, kita bisa memberikan pilihan dengan baik. Tidak mungkin kita salah pilih hanya karena emosi dan pertimbangan materi.
Selamat memilih.
Diposting oleh Yusriadi di 01.33 0 komentar
Label: Pilkada Kalbar, Pontianak
Selasa, 14 Oktober 2008
Awak Borneo Tribune Pontianak

BARENG-BARENG
Hampir seluruh awak Harian Borneo Tribune Pontianak yang bertugas di Pontianak berkumpul di kantor Redaksi Senin (13/10). 31 orang (termasuk saya), + 1 seorang pelajar dari Jerman, kumpul untuk foto bersama dengan baju dinas. Katanya, untuk keperluan dokumentasi. Meriah juga oiii.
FOTO ULA/BORNEO TRIBUNE
Diposting oleh Yusriadi di 02.17 3 komentar
Label: Borneo Tribune, FOTO, Tentang Yusriadi
Senin, 13 Oktober 2008
Ketika Aku Membaca "Laskar Pelangi"
Oleh Yusriadi
Laskar Pelangi. Novel karya Andrea Hirata terpentang di depanku. Aku membaca buku itu halaman demi halaman.
Buku ini membuatku terkesima. Sungguh luar biasa! Aku mengagumi kemampuan penulisnya. Bukan saja kemampuannya mendeskripsikan latar belakang Pulau Belitung, tetapi juga kemampuannya menyusun rangkaian cerita sehingga membentuk “satu kisah” yang mudah diikuti.
Karya ini membuatku melamun panjang, dan malah bersambung-sambung: kasih Ikal, Lintang, Mahar, dkk – membawa aku ke kampung halaman di Riam Panjang, Kapuas Hulu (lk 700 kilometer dari Pontianak), pada masa kecil sekitar 30 tahun lalu.
Kisah ini mengingatkanku pada betapa enjoynya menikmati masa kecil. Mungkin aku seperti salah satu dari mereka itu.
Kini, masa kecil itu telah pergi. Aku menjadi orang tua sekarang. Aku tidak mungkin kembali pada masa itu lagi. Aku hanya bisa mengingat.
Dadaku terasa bergemuruh dan bergejolak ketika mengingat masa kecil itu.
Lalu, tiba-tiba muncul tekad: aku juga ingin menulis pengalaman masa kecil, seperti Andrea Hirata menulis kisah anak-anak Belitung.
Aku ingin mendeskripsikan pengalaman kami mandi di “kolam ikan” di depan sekolah dasar Riam Panjang – kami lebih sering mendengar orang menyebut sebagai “kolam katak” karena ikan yang diharapkan tidak pernah dilepas di kolam cetek dan keruh ini.
Kami bermain bola kaki di kala airnya dangkal. Kami “bermain polo” ketika airnya dalam di musim banjir. Kadang kala, bila kami bosan, kami bermain gusti – gulat setengah tinju.
Aku mengingat pengalaman main seluncur di lereng “mungguk” –gunung kecil, di kebun karet di belakang sekolah kami. Seluncuran yang dipakai adalah pelepah kelapa yang sudah tua. Pelepah itu dipotong. Bagian ujungnya dibuang. Kami menggunakan bagian pangkal yang ada semacam kepala. Kami membuat tempat duduk dari papan pada bagian ujung yang tersisa dan tempat pijakan dari kayu pada bagian yang pangkalnya.
Kami menggunakan seluncuran itu, meluncur dari ketinggian. Kami membuat sirkuit untuk lomba sepanjang puncak mungguk hingga ke tepi sungai kecil. Lalu kami berpacu, seakan naik kuda. Kami selalu terobsesi oleh tokoh-tokoh hero dalam film koboi yang kami tonton pada malam hari. Kami berlomba, siapa yang paling cepat sampai ke bawah. Siapa di antara kami yang menang akan bersorak gembira. Tidak ada hadiah.
Setelah sampai di bawah kami memanggul pelepah itu mendaki hingga ke puncak mungguk. Lalu kami meluncur lagi. Begitulah seterusnya. Tidak ada kata capek. Kadang kala kaki kami tertusuk kayu. Kadang kala ada di antara kami yang terpeleset waktu meluncur. Luka kecil tidak pernah membuat kami jera. Satu-satu yang membuat kami cemas adalah pemilik kebun yang marah. Pemilik marah karena bekas seluncuran kami melukai akar-akar getah. Getah jadi tidak produktif. Kadang kala ada teman kami yang gatal tangannya memindahkan tempurung atau ngkiung (bambu) tempat menampung air getah. Pemilik kebun kadang-kadang kelabakan mencari penampung getah saat dia menyadap pada pagi hari.
Orang tua kami kadang juga marah jika melihat pakaian kami sobek setelah meluncur. Tetapi, kemarahan orang tua tidak cukup membuat kami berhenti bermain.
Saya juga mengingat ketika saya hari-hari kami menjalani puasa Ramadan. Kami harus berpuasa. Saya ingat pernah kebuluran: Ceritanya saya ikut paman memancing ikan seluang. Perjalanan kami jauh. Sepanjang siang. Nah ketika kembali, saya sudah tidak mampu lagi. Saya terpaksa digendong.
Kami terpaksa bangun sahur sekalipun sangat mengantuk. Tetapi kami sangat senang menyambut datangnya bulan puasa itu. Makanannya pasti istimewa. Orang tua kami selalu membuat kue-kue untuk berbuka puasa. Sekalipun makan yang dibuat tidak lain dari juadah pisang, jumput pisang (pisang yang dilumat dicampur gandum, lalu digoreng), bubur pisang atau bubur gandum, limpin ayak (terbuat dari tepung beras), namun, makanan-makanan itu sangat istimewa. Kami orang kampung, di kampung yang terpencil dan miskin tidak mengenal banyak kue. Kue dari kota yang kami kenal mungkin hanya kebeng (biskuit).
Kami juga senang kalau bulan puasa kami bisa memainkan bedug pada sore hari dan malam. Kami mencari damar tengkawang dan membakarnya di depan rumah kami. Ketika semua anak membakar damar, jalan di depan rumah kami menjadi terang benderang. Bagi kami itu adalah pemandangan yang indah.
Kami merasa senang melewati deret api saat pergi shalat taraweh. Satu-satunya yang membuat kami jerih membakar damar adalah ketika sering kali kulit-kulit kami melepuh, terpercik api dari damar.
Banyak lagi kenangan masa kecil yang bergelayut di depan mata saya –saat menyaksikan pernikahan, saat berada di sekolah, saat menghabiskan malam dengan “begisah” – bercerita, saat bermain ‘hanyut’ di Sungai Pengkadan kala banjir dan bermain perahu saat kemarau, saat kami mencari buah durian dan asam kemantan, di malam hari hingga pagi menjelang, saat kami menyaksikan pertandingan sepak bola pada acara keramaian, saat kami pertama kali menonton TV hitam putih milik kakek Ungkul. Saat kami menunggu cerita “Film Bergambar” di TV Malaysia.
Membaca Laskar Pelangi juga mengingatkanku pada kedatangan Ir. Bahtiar Sirait dari Departemen Pekerjaan Umum Jakarta –beberapa tahun lalu dia menjadi staf ahli Menteri PU, yang merintis jalan Lintas Selatan. Lalu beberapa tahun kemudian alat-alat berat seperti “kepiting”, “ssendok”, “doser”, “pelinas” (stomball) datang membongkar hutan dan bukit-bukit kecil. Lalu, jalan lempang terbangun seluas lapangan bola, sepanjang mata memandang. Sepeda motor dan truk pun masuk. Orang-orang luar datang. Kehidupan pun jadi berubah. Budaya ikut berubah. Aku mengingat beberapa perubahan itu.
Aku terobsesi untuk menulis semua itu.
Aku sudah memulai. Namun, nasib. Tulisan itu belum jadi-jadi. Sampai beberapa bulan tidak disentuh.
“Ketertundaan ini” memberikanku pelajaran. Ternyata untuk berkarya memerlukan konsistensi. Menulis dan menghasilkan karya besar perlu kesabaran. Banyak tantangan. Banyak hambatan.
Menilus, tidak cukup dengan ‘bahan yang kaya’, fasilitas yang lengkap –komputer, dll. Tidak cukup juga dengan bekal kemampuan merangkai kata dan menyusun kalimat. Ada bahan lain yang diperlukan. Ya, itu tadi, kesabaran berkarya.
Diposting oleh Yusriadi di 01.46 0 komentar
Label: Cerita, Tentang Yusriadi
