Senin, 26 Januari 2009

Buku “Bakar Pecinan!”: Kita Perlu Memahami Mengapa Konflik Itu Terjadi

Oleh: Yusriadi

Tiba-tiba saya jadi teringat buku “Bakar Pecinan!; Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918”. Buku ini, karya Masyhuri. Terbitan Pensil 324, Jakarta, tahun 2006.


BUKU ini, sebagaimana judulnya menceritakan bagaimana konflik Kudus terjadi. Konflik itu, terjadi tahun 1918. Peristiwanya: 31 Oktober 1918. Ada penyerbuan terhadap perkampungan Cina di Kudus Kulon yang mengakibatkan terbakarnya hampir seluruh perkampungan Cina di sana.
10 orang tewas, 34 luka dari pihak pribumi, sedangkan dari pihak Cina tidak diketahui karena setelah kerusuhan tersebut mereka mengungsi ke Semarang. Sekurang-kurangnya 34 rumah terbakar. Jumlah kerugian mencapai 500.000 gulden. Jumlah yang pasti sangat besar untuk ukuran nilai uang waktu itu.
Kerusuhan ini terjadi karena orang pribumi marah terhadap orang Cina yang melakukan pawai mengarak Toa Pek Kong pada tanggal 30 Oktober 1918 –atau sehari sebelumnya. Arakan tanggal 30 Oktober itu sebenarnya arakan yang ke-4 dalam rangkaian ‘tolak bala’ wabah influenza. Pawai pertama dilaksanakan tanggal 24, dilanjutkan tanggal 24 dan 28. Pawai ini mengantongi izin pemerintah Belanda.
Selain Toa Pek Kong, dalam arak-arak itu ada juga orang Cina yang berpakaian ala haji dan alas wanita nakal.
Pada saat pawai melewati masjid Kudus, pengurus masjid yang sedang mendorong gerobak –kebetulan ada kerja bakti mengangkut batu dari kali, menyorongkan gerobaknya ke arah pedati yang digunakan sebagai arakan. Lalu terjadi tabrakan. Selanjutnya pertengkaran dan jual beli pukulan. Suasana sempat terkendali. Namun isu yang berkembang gentayang membakar semangat warga. Hingga malam berikutnya, ada gerakan sekelompok orang yang mulai membakar perkampungan Cina. Aksi ini berlanjut menjadi aksi massa. Dan selanjutnya aksi ini menjadi milik kelompok. pribumi melawan Cina.
Konflik ini seperti dikemukakan Masyhuri, bukanlah berdiri sendiri. Ada segregasi sosial. Kesenjangan ekonomi warga Cina dan pribumi sangat jauh. Ada persaingan dan kompetisi yang kuat. Ada kebangkitan semangat primordialisme di kalangan pribumi. Ada prasangka menajam. Ada kebencian yang membuncah.


SEBENARNYA situasi sebelum konflik di Kudus yang dipaparkan buku inilah yang mengingatkan saya pada apa yang sedang terjadi di Kalbar sekarang ini.
Persoalan prasangka, memang sudah muncul sejak lama. Prasangka muncul dari rentetan sejarah karena anggapan orang Cina tidak setia. Lihat laporan yang disampaikan Hari Poerwanto yang berjudul “Orang Cina Khek di Singkawang” tahun 2004. Buku ini mengisahkan prasangka-prasangka yang wujud, yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, lihat juga tulisan La Ode, M.D. 1997. Tiga Muka Etnik Cina — Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat, Yogyakarta, PT. Bayu Indra Grafika.
Terakhir, prasangka ini memuncak dalam pemilihan Walikota Pontianak 2008. Saya sempat menerima beberapa SMS pantun tentang pandangan negative terhadap majunya calon walikota orang Cina. Sayangnya, SMS itu sekarang hilang bersama hilangnya HP saya –sebelum datanya dipindahkan.
Saya kira, jarak sosial antara orang Cina dengan Melayu di Kalbar cukup jauh. Perbedaan kepercayaan, perbedaan bahasa dan budaya sangat jelas. Jarak ini semakin lebar jika dikaitkan dengan situasi ekonomi. Kesenjangan ini bisa dilihat secara kasat mata di kota Pontianak, dan bahkan seluruh Kalbar.
Pola pemukiman juga mula memperlihatkan kesan eksklusif. Semua orang mengenal kawasan Gajahmada sebagai kawasan pemukiman orang Cina. Bahkan sempat muncul gagasan membangun gerbang pecinan di kawasan ini. Asumsinya, pembangunan ini akan mendorong kepentingan pariwisata.
Begitu juga dengan pendidikan. Orang-orang Cina kebanyakan bersekolah di sekolah yang berbeda dengan orang Melayu. Keadaan ini semakin kuat dengan kenyataan bahwa sekolah umum kebanyakan kalah mutu dibandingkan sekolah yang beraliran agama. Sekolah bermutu ini dikejar oleh orang tua anak.
Politik adalah hak setiap warga negara. Namun, kenyataannya, naiknya politisi Cina di pentas politik Kalbar kerap kali dianggap menjadi ancaman terhadap eksistensi Melayu. Orang Melayu merasa kalah. Orang Melayu merasa kesempatan mereka diambil.
Ketidaksenangan sekelompok orang Melayu sudah disampaikan secara terbuka. Orang mempertanyakan eksistensi budaya Tionghoa. Pertanyaan ini disampaikan juga secara resmi ke DPRD Kota Pontianak beberapa waktu lalu.
Kasus kecil bisa membesar karena isu yang bertiup dan ditiup-tiup. Kasus Gang 17, Pontianak, merupakan contoh yang paling aktual dari situasi ini. Kasus kecil itu menjadi milik orang banyak. Perkelahian karena kesalahpahaman, menjadi perkelahian besar yang diatur sistematis.
Kasus pembangunan tugu naga di Singkawang juga menjadi berlarut-larut. Padahal dahulu penciptaan image 1000 kelenteng di Singkawang tidak pernah dipersoalkan. Pembentukan identitas Singkawang sebagai kota Cina sekian lama dahulu tidak pernah ditolak. Bahkan, orang-orang Melayu dan orang Kalbar secara umum melihat predikat Singkawang sebagai kota Amoy, sebagai pencitraan yang positif. Kini, semuanya menjadi negatif.
Kini, di Pontianak, rencana arak-arakan naga diprotes. Protes keras. Bahkan disertai ultimatum. “Kami siap menghadang aksi ini,”


MEMANG polisi sudah menjanjikan akan mengamankan situasi. Memang beberapa elit Melayu seakan memberikan jaminan akan memberikan pemahaman terhadap orang Melayu. Memang banyak orang Melayu memahami bahwa arakan naga bukan persoalan sebenarnya dan masih dapat memahami jika perarakan itu tetap dilaksanakan.
Tetapi siapa yang bisa menjamin situasi yang panas ini tidak akan membakar?
Memang di titik yang dijaga, keadaan bisa dikendalikan. Tetapi, apakah polisi dapat menjaga semua titik? Berapa banyak kekuatan personil yang diperlukan untuk menjaga situasi itu?
Soal pemahaman, bukan tidak bisa dilakukan. Tetapi masalahnya bukan terletak pada pemahaman. Masalahnya terletak pada perasaan tidak puas sekelompok orang terhadap orang Cina. Mungkin juga ada kepentingan pragmatis di sini.
Seperti disebutkan tadi, ada ketidakpuasan yang bertumpuk-tumpuk. Setiap persoalan kecil dijadikan sebagai isu yang besar, dan dijual. Soalnya sekarang, siapa yang mau membeli.
Pada skala kecil, dan pada lingkup jangka pendek, mungkin masalahnya bisa di atasi. Transaksi bisa dilakukan oleh mereka yang berkepentingan.
Tetapi pada masa yang panjang, pasti akan sulit. Isu-isu akan menumpuk dan masuk dalam rapor: Cina begini, begini, begini. Ada daftar dosa dan kesalahan yang terus diingat. Lalu, membuncahkan rasa solidaritas di tengah situasi yang tersegregasi.
Karena itu, sebuah upaya jangka panjang harus dilakukan untuk meminimalisir segregasi sosial. Upaya yang memudarkan identitas kelompok yang justru membuat kelompok lain menjadi tidak puas. Prinsip-prinsip munculnya identitas dan pemertahannya selalu tidak lepas dari kepentingan pragmatis.
Tentu sudah harus dipikirkan bagaimana menciptakan identitas bersama dalam konteks kepentingan pragmatis itu. Lalu, memupuknya agar tumbuh subur. Memeliharanya agar tumbuh membesar.
Pemerintah, elit, dan kita semua yang mencintai suasana damai mesti memikirkan kepentingan pragmatis, menciptakan alasan yang kuat untuk membentuk identitas itu. Sebaliknya, kita semua harus berusaha menghapus identitas-identitas kelompok yang dipandang negative kelompok lain –sembari tentu saja menghapus keinginan untuk melihat sesuatu dari sudut negatifnya saja.




Baca Selengkapnya...

Kamis, 22 Januari 2009

Ketika Caleg Berkata: “Pilihlah Aku,”

Oleh: Yusriadi

Selasa (20/1/09).
Seperti biasa, pukul 07.00 saya sudah duduk di kursi empuk di ruang ‘lobby’ bangunan akademik kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak.
Pekerjaan rutin. Isi absen –sekarang absen di kampus ini menggunakan mesin.
Setelah itu, 10-20 menit membaca surat kabar. Ada Borneo Tribune. Pontianak Post dan Tribune Pontianak.




Ada Mbah –itu sapaan yang biasa dipakai teman-teman di STAIN terhadap petugas kebersihan yang sibuk menyapu dan kemudian mengepel lantai bangunan ini. Setiap pagi selalu ada beliau.
“Cepat ni.”
Itu basa-basi beliau, kalau beliau lebih dahulu menyapa.
“Kebetulan. Biasa, antar anak sekolah,”
“He he .. Tugas negara,”
Saya menjawab seperti itu. Selalu. Berulang. Mungkin beliau pun sudah hafal jawaban itu.
Sebaliknya, kalau saya lebih dahulu menyapa saya mengatakan,
“Sibuk, Pak,”
Beliau akan menjawab dengan tawa singkat. “He he ...”
Itulah ritual pagi saya di kampus.
Kemudian, seiring beranjaknya jarum jam, satu per satu teman datang. Ada yang sekadar lewat saja menuju mesin kehadiran yang diletakkan di lorong ke arah bagian kepegawaian. Ada juga yang bergabung, membaca koran dahulu.
Kemarin, saat saya baca koran, datang teman saya calon doktor di Universitas Islam Negeri Jakarta.
Dia menyapa “Salamualaikum Pak Doktor,”
“Walaikum salam Pak Doktor,”
Saya membalas. Agak janggal.
“Heh, belum. Belum doktor,”
“Tak apa, sebentar lagi jadi,”
Calon doktor ikut bergabung. Membaca koran juga. Lalu, datang seorang petugas keamanan –Satpam. Dia juga gabung baca koran.
Di sela-sela pembacaan, kami berdiskusi. Mengomentari bagian-bagian dari berita itu. Mulai cerita Muda Mahendrawan dan Sujiwo, hingga cerita Obama nun jauh di Amerika.
Kami bicara kualitas pemimpin. Kami cerita tentang kecenderung sekarang orang rebutan jadi pemimpin. Jabatan diburu dan dipertaruhkan. Kadang harus keluar biaya mahal untuk sekadar mendapatkan jabatan itu. Bertolak belakang dibandingkan keadaan dahulu – umpamanya keteladanan yang ditunjukkan khalifah -- Abu Bakar, Umar, dan beberapa lagi yang lain.
“Sekarang orang tidak pandai lagi mengukur diri. Mereka tidak tahu bahwa menjadi pemimpin itu adalah amanat yang sangat berat. Pertaruhannya: kalau bisa adil dan memimpin dengan baik, pertaruhannya syurga. Sebaliknya jika tidak adil –apalagi malah korupsi dan menyengsarakan rakyat, pertaruhannya neraka.”
Komentar teman membuat saya jadi ingat pepatah:
“Hidung tak mancung, pipi disorong-sorong,”
“Syahwat berkuasa,”.
“Nafsu,”
Lalu, tak sengaja kami nyerempet tema tentang caleg, orang yang sekarang ini berusaha meraih dukungan agar terpilih menjadi wakil rakyat.
Keadaannya sama. Banyak orang yang tidak bisa mengukur diri. Ingin berjuang untuk daerah. Berjuang untuk rakyat. Tetapi, kemampuannya tidak cukup. Mau omong saja susah.
Banyak lagi ‘omelan’ sang calon doktor itu.
“Banyak teman saya jadi caleg,”
“Saya tahu ketika lihat baleho mereka dipasang di pinggir jalan. Saya bilang “heh, yang macam itu mau jadi caleg?,”
Dia menyebutkan nama orang-orang yang dikenal itu.
Ada nama-nama itu yang juga saya kenal. Anggota Dewan yang cukup vokal. Sering masuk koran.
“Saya sering gurau mereka. DPRD Jalanan,”
Lho?
“Ya, dahulu khan mereka suka nongkrong di warung kopi. Suka duduk di pinggir-pinggir jalan. Sekarang, mereka menjadi Dewan. Diskusi yang di warung kopi, jadinya sama dengan diskusi di gedung Dewan. “Kebiasaan lama pasti terbawa-bawa,”
“Bagaimanalah kita bisa maju kalau kualitas elit kita seperti itu,”
“Itulah susah masyarakat kita. Masyarakat tidak memilih calon dengan benar. Mereka tidak memilih latar belakang calon. Masyarakat tidak melihat tebiat calon, pendidikan calon, program calon.”
Saya mengangguk-angguk. Saya menyukai diskusi begini. Komentar yang kritis.
Komentar ini membuat saya berpikir, apakah akan ada yang memilih mereka? Kalau tidak ada yang memilih bagaimana? Duh, kecewanya.
Tetapi, bagaimana kalau benar mereka menjadi Dewan? Apa yang dapat mereka buat? Hanya sekadar mengaminkan? Hanya sekadar angguk-angguk?
Lalu, apa jadinya pengemban amanah seperti ini? Pasti ‘kena makan’ eksekutif’.
Ah, mungkin sudah nasib masa depan bangsa. Itu mungkin suratan.
Salah kita juga, mengapa memilih orang yang tak bisa apa-apa.
Saya berhenti pasrah ketika calon doktor itu mengingatkan saya.
“Kamulah yang bisa mengingatkannya. Kamu khan orang media,”
“Iyeeee.... Tapi, takkan pula abang lepas tangan setelah ceramah di depan saya,”
Saya mengeluarkan senjata pamungkas.
“Abang tulis peringatan itu. Nanti saya muatkan di koran,”
Benar.
Dia diam. “Ceramah pagi” berakhir.
Masing-masing dengan renungan, “Mau jadi apa masa depan kita?”






Baca Selengkapnya...

Senin, 19 Januari 2009

Kabar Politik dari Ulu

Oleh Yusriadi

“Mulai ramai dah kinih,”
Simbol-simbol partai terpacak di mana-mana. Bendera. Umbul-umbul. Baleho.
Wajah caleg mejeng di mana-mana. Warnanya macam-macam. Gayanya, canggih dan menawan.
Semuanya berisi ajakan memilih. Atau paling tidak: pilih saya.
Itulah cerita seorang teman dari Kapuas Hulu belum lama ini. Dia berkisah panjang lebar, sepanjang pertanyaan saya yang juga mengalir entah ke mana-mana.



Asyik. Saya suka mendengar perkembangan politik dari kampung. Bukan karena saya suka politik. Tidak. Saya suka karena cerita ini membuat pikiran saya melayang ke mana-mana tentang kampung halaman. Kampung saya Riam Panjang, 100 kilometer sebelum Putussibau. Kami lebih mudah menyebutnya dekat Tepuai, ibukota kecamatan Hulu Gurung.
Sebagai jurnalis cerita apapun ya didengar. Informasi kecil sekalipun diburu dan dikejar.

***

Cerita dari Ulu ini bagi saya juga memberikan gambaran bahwa situasi politik di level nasional dan regional juga merambah ke kampung-kampung di Kapuas Hulu.
Ulu, meskipun nun jauh di sana, tapi tidak ketinggalan.
Ini contoh globalisai yang melanda rakyat kita. Ini keadaan yang menunjukkan betapa masyarakat kita sudah menjadi warga dunia. Mereka sudah menjadi bagian dari perkembangan di sisi lain.
Contoh ini melengkapi contoh sebelumnya. Krisis ekonomi dunia membuat orang di kampung, di Kapuas Hulu menderita. Menderita benar. Sangat.
Ihwalnya bermula dari harga karet yang jatuh menjunam. Harga karet yang sebelumnya bisa di atas Rp10 ribu, tiba-tiba turun menjadi hanya Rp3000. Bahkan, sempat beberapa hari tidak terbeli.
Perkembangan ini membuat pendapatan masyarakat jadi berkurang drastis. Sebelumnya orang kampung bisa dapat Rp60 ribu sekali turun, setelah krisis, orang hanya bisa dapat Rp 20 ribu.
Pendapatan Rp20 ribu membuat orang merana. Beli beras, lauk pauk, beli gula kopi, beli rokok tembakau, beli minyak garam, sudah pas-pasan. Padahal orang sudah terlanjur menyekolahkan anak ke Pontianak. Orang sudah terlanjur mengambil motor kredit yang setiap bulan harus dilunasi.
Pening.
Masyarakat menjadi susah. Beban mereka jadi berat. Sampai sampai ada yang terpaksa mengembalikan motor kredit karena tak mampu melanjutkan pembayaran cicilan. Itulah terpaan globalisasi yang membuat mereka lunglai.
Apakah globalisasi politik ini akan membuat mereka juga lunglai? Entahlah.
Tetapi, mungkin juga tidak. Sebab, pertahanan sosial orang kampung ini cukup kuat.
Namun, cerita teman, sekarang ini, saat caleg jor-joran promosi masyarakat diam-diam sudah punya pilihan. Mereka tidak terombang-ambing.
Katanya, kebanyakan orang mengatakan mereka akan memilih orang-orang yang mereka kenal. Orang yang dekat dengan mereka. Pada level pertama, keluarga. Pada level kedua, orang sekampung, atau sedaerah. Agama tidak disebut, karena di bagian selatan ini daerah homogen. Semuanya muslim. Calon yang memperebutkan suara mereka –yang berasal dari daerah ini, juga muslim. Ini faktor emosional.
Kedekatan emosional akan menjadi faktor penting. Begitulah kira-kira.
Saya bertanya.
“Sekarang, yang bersaing ini keluarga semua. Bagaimana orang memilih?”
Ternyata, yang akan mereka pilih adalah orang yang selama ini ‘mudah’. Orang yang selama ini membantu mereka dipinta atau tidak. Orang yang selama ini tidak sombong.
“Jasa itu diingat orang,”
“Bantuan akan terus dikenang,”
“Sikap baik akan dijadikan catatan,”
Saya tentu saja maklum. Dalam politik memang begitu juga. Ada konsep patron dan klien. Orang yang selalu membantu akan dibantu. Orang yang bisa menjadi tempat bergantung akan dijadikan tempat bergantung.
Faktor lain tidak penting. Apakah calon itu pendidikan tinggi –sarjana atau cuma tamat SMA, tidak jadi pertimbangan. Seperti apakah program calon itu, juga tidak dipertimbangkan. Malah, di tingkat orang kampung sekarang program seorang caleg hanya angin lalu. Sehingga jarang-jarang ada orang yang menyimak benar-benar apa isi baleho caleg.
Sikap ini tentu rumit juga. Perubahan yang diharapkan pasti sulit.
Tetapi sebaliknya sikap seperti ini bagian dari seleksi alam juga. Mereka yang baik yang akan bertahan. Mereka yang tidak baik akan tersisih. Jatuh. Gugur. Jadi, dengan cara seperti ini masyarakat memilih yang terbaik menurut mereka.
Saya kira ini juga bagian dari pertahanan sosial (social defence) yang menarik dicermati dalam konteks otonomi daerah dan dalam konteks globalisasi. Masyarakat lokal membentengi dari dari kemungkinan sesuatu dari luar yang menurut mereka tidak baik. Ada kearifan di sana.
Cara ini sejalan dengan uforia otonomi daerah. Orang daerah untuk orang daerah. Orang daerahlah yang bisa mengerti apa yang ada di daerah mereka. Orang sendirilah yang dapat memperjuangkan kepentingan sendiri.
Lantas, dengan keadaan seperti ini orang-orang luar tentu akan sulit masuk. Caleg titipan mungkin tidak akan terpilih. Caleg droping partai tidak akan mendapat tempat sekarang ini.
Ah, tiba-tiba saya merasa kasihan pada mereka, caleg yang tidak punya basis akar rumput. Saya kasihan pada politisi yang datang dari jauh. Sudah susah payah mereka mempromosikan diri. Sudah mahal-mahal mereka mengiklankan diri. Ternyata, tak ada pula orang memilihnya.
Apa ndak gila jadinya.





Baca Selengkapnya...

Minggu, 18 Januari 2009

Saya Pengin Bisa Menulis

Oleh Yusriadi


"Saya pengin bisa buat buku,"
Itu kata seorang teman saat melihat buku baru yang kami terbitkan.
Saya tersenyum melihat polahnya. Senang juga melihat dia memberikan apresiasi seperti itu. Lebih senang lagi karena buku yang saya tunjukkan bisa membakar semangatnya. Buku kami bisa memberinya motivasi.



"Gimana caranya ya?"
Dia bertanya lagi. Cukup serius. Saya tidak lagi tersenyum.
Saya ingat bukan baru kali ini saja saya mendengar orang ingin membuat buku. Sudah sering. Saya tidak bisa menghitungnya. Teman wartawan. Teman dosen dan guru. Mahasiswa. Juga para aktivis.
Kata-kata itu sering saya dengar sesering itu usaha saya memberikan motivasi agar orang mau menulis pengalaman-pengalaman hidup mereka.
Tetapi, kerap kali keinginan itu tidak menjadi kenyataan.
Habis tertiup angin. Hilang begitu saja.
Buku yang ingin ditulis tidak pernah wujud. Bahkan tulisan yang dijanjikan tidak pernah ada. Hatta, satu kata pun tidak.
"Aduhhhh... tak jadi-jadi,"
"Sibuk terus. Belum sempat,"
"Susah nak mulainye,"
Alasan.
Banyak lagi. Seabreg-abreg.
Kadang-kadang saya bertanya.
"Masih ada lagi alasannya?"
Lalu, ujung-ujung.
"Ha....ha... ha..."

***

Tertawa adalah jawabannya. Banyak makna di balik tawa itu. Tawa itu bagi saya sama saja. Saya mengira memang lebih mudah mengumbar janji dibandingkan menunaikannya. Lebih enak memasang target daripada melaksanakannya.
Dan, begitulah. Bukan cuma mereka. Di mana-mana begitu.
Selalu ada orang yang memberikan alasan tidak menulis karena tidak punya waktu untuk menulis. Mereka jenis ini cenderung mengatakan mereka tidak bisa menulis karena sedang fokus pada 'kesibukan' itu. Mereka, bisa jadi memang tidak punya waktu yang tersedia karena benar-benar sibuk. Tetapi, bisa jadi juga sebenarnya waktu yang masih tersisa ada, namun mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka tidak bisa menulis karena sedang banyak pikiran, banyak yang dipikirkan. Kononnya begitu.
Ada yang tidak menulis karena mereka tidak memiliki bahan yang bisa ditulis. Tidak ada bahan. Mereka seperti ini tidak banyak membaca. Juga tidak banyak mengamati dan memperhatikan keadaan di sekitar mereka.
Ada yang tidak menulis karena tidak bisa menulis. Mereka tidak memiliki kemampuan itu. Mereka tidak dapat merangkai kata, menyusun kalimat membentuk paragraf. Yang mereka miliki hanya kemampuan berbicara. Mereka lahir dan besar dari peradaban lisan. Ngomong jak.
Di atas dari semua itu, ada yang tidak menulis karena memang mereka malas menulis. Sering saya melihat bahwa alasan-alasan yang dikemukakan, yang macam-macam itu, sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malas itu.
Misalnya, alasan tidak punya waktu, padahal saya merasa mereka belum memakai menit demi menit kehidupan mereka. Mereka tidak benar-benar kehabisan waktu, sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa. Masih banyak waktu tersisa. Yang berprofesi sebagai ibu-ibu rumah tangga - selain mengajar, masih memiliki waktu untuk menonton sintron. Masih punya waktu ngerumpi, dll.
Mereka juga tidak benar-benar yakin mereka tidak bisa menulis. Pendidikan mereka tinggi. Umumnya pernah kuliah. Sekalipun cuma Diploma 2. Apalagi kebanyakan mereka yang berjanji menulis adalah mereka yang berpendidikan tinggi. S-1. Jadi, sangat meragukan, benarkah orang itu tidak bisa merangkai kata? Benarkah dia tidak bisa menyusun kalimat? Lalu, bagaimana dahulu mereka menulis skripsi? Bagaimana mereka menulis makalah untuk tugas selama kuliah? Bagaimana mereka membuat makalah untuk kenaikan pangkat mereka?
Saya juga percaya mereka memiliki bahan yang cukup untuk menulis karena bahan yang mereka mau tulis adalah bahan yang sudah ada di dalam pikiran mereka. Tidak perlu mencari.
Inilah kadang-kadang membuat saya lebih mudah mentertawakan teman-teman yang mengatakan mau menulis, namun tulisannya tidak jadi-jadi.
Dan, mereka bisa ikut tertawa karena menyadari apa yang berada di balik "alasan-alasan itu".




Baca Selengkapnya...

Etnisitas dan Agama dalam Kepemimpinan Kalbar

Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

Isu etnisitas dan agama sangat kental dalam kehidupan sosial politik Kalbar. Isu ini bisa jadi positif jika dikelola dengan baik, dan bisa jadi negatif bila salah menanganinya. Isu ini akan terus menjadi ujian bagi Cornelis, yang menjabat sebagai gubernur Kalbar satu tahun lalu.

Cornelis naik karena kepiawaiannya melihat fenomena etnisitas dan agama di Kalbar.
Itulah kesimpulan saya ketika dahulu mendengar Cornelis memenangkan Pilkada Kalbar. Kala itu lebih satu tahun lalu.
Sebagian bagian dari orang Kalbar saya mengikuti perkembangan politik itu. Tahap demi tahap Pilkada. Mulai dari proses pencalonan, pemungutan suara dan perhitungan suara. Liputan-liputan media membantu saya menyimak semua perkembangan itu.
Selain tentu saja, saya mendengar bisik-bisik dari orang-orang yang terlibat dalam lingkaran politik. Sesekali saya berdiskusi dengan mereka. Dapatlah saya banyak informasi mengenai hal itu.
Di antara sekian banyak informasi yang saya dapatkan adalah saya mendapatkan compac disk yang berisi rekaman kampanye Cornelis. Dari satu rumah panjang ke rumah panjang lain. Dari satu gereja ke gereja lain. Dari satu kampung ke kampung lain.
Musik latar. Isi ajakan. Muatan propaganda. Simbol-simbol yang digunakan dalam CD itu menjadi bahan pembicaraan. Tetapi, saya tidak tertarik membicarakan seperti yang orang bicarakan.
Saya konsen dalam studi etnisitas dan identitas. Saya maklum penggunaan identitas. Saya mengerti duduk persoalan. Karena itu apa yang digunakan Cornelis bagi saya adalah sesuatu yang bisa dipahami. Saya mengerti kepentingan pragmatis di balik penggunaan itu. Mungkin satu-satunya yang mengkhawatirkan saya adalah kalau propaganda itu membakar semangat dan kemudian semangat itu membakar dan menghanguskan orang lain. Saya maklum ini daerah konflik.
Lebih dari itu tidak. Bahkan menurut saya, Cornelis piawai.
Saya juga mengaitkan perkembangan itu dengan perkembangan lain. Pada mulanya dia akan memilih pendamping yang muslim. Suryansyah namanya. Suryansyah dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) mula-mula digadang untuk menjadi pendampingnya. Ura-uranya sudah nampak. Orang-orang di kalangan Nahdliyin sudah bersemangat menerima kemungkinan itu.
Tetapi, ada beberapa nama lain juga disodorkan kepada ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kalbar ini. Kabarnya sangat banyak.
Namun, kemudian Cornelis lebih memilih Christiandy Sanjaya. Christiandy, orang Cina. Mengapa dia pilih Christiandy?
“Saya ingin menang,” begitu kata Cornelis kemudian soal pilihannya itu.
Itu dikatakannya saat menjawab pertanyaan saya dalam acara Refleksi Akhir Tahun di Hotel Gajahmada Pontianak, (30/12/08). Satu tahun setelah dia dilantik sebagai gubernur Kalbar.
Sebenarnya saya sudah lama mendengar hal itu. Ada teman saya yang menjadi tim Cornelis yang memberitahu saya.
“Cornelis memilih Christiandy karena dia mau menang. Bukan pertimbangan lain.”
“Dia punya hitung-hitungan sendiri,”
Apa hubungannya Christiandy dan kemenangan Cornelis?
Hitungan sederhana saja. Menurut hitung-hitungan Cornelis, suara orang Dayak bulat mendukungnya. Dia percaya mendapat dukungan penuh karena dialah satu-satunya calon gubernur yang orang Dayak. Calon yang lain, Melayu.
Dukungan solid ini ditambah lagi suara orang Cina. Orang percaya komunitas Cina ini termasuk solid. Soliditas ini pasti akan dapat mengungguli laju calon lain. Kandidat gubernur lainnya, seperti Usman Ja’far (UJ), Osman Sapta Odang (OSO), dan Akil Mochtar (AM) –sekalipun tidak selalu menggunakan isu agama dan etnis, namun diramalkan akan membuat dukungan orang Melayu- Islam pecah. Pecahan ini yang akan memuluskan kemenangan Cornelis.
Apakah calon Dayak yang bersama UJ, OSO dan AM tidak berpengaruh? Agaknya tidak banyak. Nomor satu lebih menarik pemilih dibandingkan nomor dua.
“Kalau ada nomor satu, mengapa pilih nomor dua,”
Dan ternyata kemudian menurut hitung-hitungan pengamat, perolehan suara Cornelis bergerak lurus dengan jumlah komunitas Dayak dan Cina. Pengamat cukup yakin hal itu.
Sekalipun, kenyataannya ada kekecualian. Ada orang Islam atau Melayu yang memilih Cornelis. Atau sebaliknya ada orang Dayak dan Kristen yang memilih UJ, OSO atau AM.
Tetapi, meskipun isu etnisitas dan agama digunakan Cornelis dalam Pilkada Kalbar ketika itu, namun, tidak di semua tempat isu itu digunakan. Ada situasi khusus. Kampanye dengan mengangkat isu “Orang diri’”, “Dayak”, “Kristiani”, bahkan “Pribumi” dan “Marginal”, dipakai silih berganti.
Kadang kala isu loyalitas partai yang digunakan. Komando Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) digunakan dalam mesin perjuangan Cornelis.
Organisasi seperti Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP) juga digunakan untuk menunjukkan dukungan politik.
Selain itu, Cornelis juga mendekatkan diri pada tokoh di luar tokoh Dayak dan Kristen.


Kini, Cornelis telah satu tahun menjadi gubernur Kalbar. Banyak kegiatan bernuansa itu selama satu tahun pemerintahannya. Simbol-simbol etnisitas dan agama diakomodir.
Saya kira, pasti dana yang dikucurkan Cornelis untuk mendukung kegiatan atas nama agama dan etnik dalam satu tahun pertama kegiatannya, pasti cukup besar. Kegiatan-kegiatan organisasi ini –baik kegiatan di Kalbar, maupun kegiatan keluar Kalbar, perlu dukungan dana, dan dana itu dipinta dari gubernur.
Apa yang penting adalah, sejauh ini Cornelis tetap piawi di antara isu-isu itu. Managemennya bagus. Dia memperhatikan kepentingan kelompok Dayak, Kristen. Tetapi dia juga tidak mengabaikan kepentingan Melayu, Islam, dan yang lainnya.
Salah satu contoh yang mengesankan ketika acara Natal Bersama dan Peringatan 80 tahun RS Antonius. Cornelis menghentikan pidatonya selama beberapa menit untuk menghormati azan Magrib.
“Untuk menghormati saudara kita yang muslim,” katanya.
Cornelis juga menunjukkan hal itu ketika memilih pejabat yang akan membantunya menerajui Kalbar. Sebenarnya, sah-sah saja semua jabatan itu dipilih dari orang Dayak, orang Kristen, bahkan, juga dari pendukung dan kaum kerabatnya sekalipun. Itu hak prerogatif dia sebagai gubernur.
Namun, lihatlah kemudian dalam struktur ‘Kabinet Pelangi” yang dilantik beberapa hari lalu. Ada banyak orang Melayu di sana. Ada banyak orang Islam.
Nyatanya Cornelis juga melihat pengangkatan orang yang membantunya dari sudut kompetensi –setidaknya kemampuan managerial. Orang-orang yang ditempatkan di sana memenuhi syarat-syarat formal. Perubahan ‘nuansa’ etnisitas dan agama drastis. Seperti yang dikhawatirkan orang dahulu, Cornelis tidak membalap habis jabatan di level provinsi untuk etnis, agama, dan kelompoknya.
Tahun-tahun ke depan, hal seperti itu akan terus berlangsung. Nuansa etnisitas dan agama akan terus terasa.
Semua itu akan menjadi ujian bagi Cornelis. Apakah dia mampu menunjukkan sisi kenegarawanannya atau tidak? Apakah dia benar-benar seorang pemimpin bagi rakyat Kalbar?
Apakah kekaguman kita pada kepiawiannya memanage isu etnisitas dan agama akan terus berlanjut?
Semoga.




Baca Selengkapnya...

MIMPI DI BORNEO (Kumpulan Cerpen Mahasiswa STAIN Pontianak)

Mimpi di Borneo

Borneo
Tanah dengan sejuta harapan
Bermimpilah di sana dengan mimpi-mimpi indah

Jejaklah kakimu di sana
Tancapkan dengan kuat
Melangkahlah dengan tangkas
Gapailah impianmu


Oleh: Yusriadi

Mimpi di Borneo. Itulah buku berisi 11 cerita yang ditulis oleh sepuluh mahasiswa yang mengikuti kelas Feature, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, plus seorang dosen pengampu matakuliah tersebut.
Buku ini diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press tahun 2009, dengan editor Ambaryani dan Marisa Syakirin.




Sebelas bagian itu adalah:
Pada bagian pertama, cerpen tulisan Herianto berjudul “Perjuangan Seorang Ayah”. Tulisan ini mengisahkan bagaimana beratnya perjuangan ayah membesarkan anaknya, seorang diri setelah istrinya tiada. Kisah ayah yang bertanggung jawab. Tanggung jawab ini dibawanya hingga ajal menjemput.
Bagian kedua berjudul “Wonder Women Class” karya Hardianti. Isinya, tentang sekelompok mahasiswa perempuan menghadapi godaan dan tantangan. Ada isu perkuliahan. Ada juga isu asmara.
Bagian ketiga berjudul “Kenangan di Batu Ampar” tulisan Ira Humairah. Tulisan berisi pengalaman penulis ketika mengikuti kegiatan Masa Bhakti Mahasiswa angkatan tahun 2008 di Batu Ampar. Batu Ampar, nama tempat di kabupaten Kubu Raya. Letaknya di selatan Pontianak.
Bagian keempat berjudul “Selamat Berjuang Ksatriaku” tulisan Erni Purwanti. Tulisan ini bercerita tentang percintaan aktivis muda Islam. Cinta memberi warna dalam gerakan mereka.
Bagian kelima berjudul “Liburan Kami Kali Itu” tulisan Linda Puji Rahayu. Tulisan ini bercerita tentang perjalanan penulis ke Mempawah, ibukota kabupaten Pontianak. Penulis menggambarkan lika-liku perjalanan, dan hiruk pikuk suasana. Ada bumbu lucu dan ceria, khas anak muda.
Bagian keenam berjudul “Semua Demi Orang Tua”, tulisan Badliana. Tulisan ini berkisah tentang seorang anak yang berbakti pada orang tua.
Bagian ketujuh berjudul “Ta’aruf” tulisan Marisa Syakirin. Tulisan ini bercerita tentang cinta seorang gadis yang pernah mengalami patah hati. Tulisan ini menggambarkan kepasrahan seorang anak manusia setelah mendapat cobaan yang berat dalam kehidupannya.
Bagian kedelapan berjudul “Kado Terakhir” tulisan Ambaryani. Penulis menceritakan perjalanan hidup seorang mahasiswa yang menderita penyakit jantung. Penyakit ini diketahui setelah dia dikerjain oleh teman-temannya. Penyakit itu pula yang membawa pergi meninggalkan dunia fana ini.
Bagian kesembilan “Maafkan Aku” tulisan Erika Sulistia Mayda. Kisah ini berkisar seputar kehidupan di pondok pesantren, dengan berbagai warna. Konflik hidup bersama dirangkai menjadi jalinan cerita yang menarik pada bagian ini.
Bagian kesepuluh “Mimpi di Borneo” tulisan Septian Utut. Kisah ini bercerita seputar perpindahan seorang anak dari Jawa ke Pontianak. Ada mimpi indah. Ada tekanan psikologis. Ada proses adaptasi. Tidak mudah. Namun, di balik kesulitan itu ada kebahagian yang menjumput. Anak yang terpisah dari ayah bisa berkumpul lagi. Hati yang terpisah oleh mimpi bisa menyatu dalam realiti.
Bagian kesebelas “Pilihanku” oleh Yusriadi. Bagian ini mengisahkan perjalanan hati seorang mahasiswi yang kemudian memilih temannya sendiri sebagai tambatan. Tidak instant. Tidak serta merta. Prosesnya panjang. Walaupun begitu alurnya mengalir dengan lembut dan apik. Tidak neko-neko. Tidak melanggar etika dan moral.




Baca Selengkapnya...

Rabu, 14 Januari 2009

Membicarakan Bupati KKU, Hildi Hamid

Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Hildi Hamid. Nama itu cukup menonjol dalam pandangan banyak orang di Kalbar sekarang ini. Saya memberikan catatan khusus terhadap tokoh yang 10 tahun lalu tidak cukup diperhitungkan itu.



Program pendidikan gratis cukup menawan. Kebijakan meningkatkan anggaran pendidikan di KKU yang mencapai 23 % adalah kebijakan yang luar biasa.
Luar biasa karena kebijakan itu sudah menimbulkan tarik menarik yang kuat. Tidak mudah. Sepanjang saya membuat liputan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan di pemerintah kota Pontianak dahulu, saya memahami persoalan anggaran adalah persoalan rumit. Rumit karena ada kepentingan di sana. Ada kepentingan rakyat, ada kepentingan hasil musyawarah pembangunan –kelompok kelas menengah, ada kepentingan pejabat, ada juga kepentingan politisi. Ada juga kepentingan kontraktor.
Macam-macam.
Banyak orang kaya di daerah kita ada kaitan dengan kepentingan-kepentingan itu. Orang-orang kaya di sekitar kita banyak yang hidup dari sumber anggaran; baik langsung maupun tidak langsung. Ada pimpinan proyek, ada kontraktor, dan ada mitra kontraktor.
Pembahasan anggaran juga rumit. Rumit juga karena ini menyangkut hitung-hitungan. Ada pos-pos yang sudah harus diisi. Mengisi pos formal sebagaimana yang tercantum dalam pagu yang biasa mungkin tidak susah, yang susah adalah bersikap luwes terhadap pagu itu. Sebabnya, kepentingan anggaran tidak pernah kaku. Selalu harus ada kebijakan anggaran untuk menyesuaikan kehidupan yang dinamis.
Karena itu, selalu kita dengar ada yang mengatakan perubahan mudah disebutkan tetapi sulit dilakukan. Boleh tanya pada semua kuasa anggaran untuk mendapatkan informasi bagaimana sulitnya 'pekerjaan itu'. Bahkan, saya kira semua pejabat administrasi yang mendampingi seorang kepala, mulai dari Sekretaris Daerah, hingga pejabat kepala Tata Usaha, semua pernah merasakan hal yang sama. Jika mereka tidak mampu menikmati pekerjaan, mungkin awal-awal mereka sudah menyerah.
Di tengah situasi seperti ini tentu perubahan yang besar sulit dilakukan. Dan apa yang diperlihatkan di Kayong Utara, bisa dilakukan. Ada kebijakan Hildi Hamid. Dan ada penyesuaian yang bisa dilakukan Tim Anggaran KKU.
Selama ini, banyak orang yang mengatakan dirinya memperhatikan pendidikan, namun sebenarnya perhatian itu hanya di mulut. Termasuk juga banyak orang yang menjanjikan perhatian pada rakyatnya, tetapi sebenarnya perhatian yang mereka berikan sangat terbatas. Pada tataran praktis mereka tidak dapat melaksanakannya karena kekuatan tekanan tidak diberikan. Lalu, akhirnya apa yang mereka katakan lebih banyak slogannya dibandingkan aksinya.
Lalu muncullah ungkapan: "Sulit. Saya tidak didukung staf,"
Kedua, Hildi membuat program pelatihan untuk pendamping desa. Sistem advokasi seperti ini memang mengingatkan kita pada program pemerintah dahulu dengan konsep sarjana penggerak pedesaan. Tetapi, saya kira paradigma berbeda. Saya menebaknya demikian karena saya melihat bagaimana Hildi melibatkan expect dari kalangan lembaga pendampingan–kalangan LSM.
Saya masih percaya, orang-orang di lembaga pendampingan ini berbeda cara pikirnya dengan tutor-tutor yang memandu sarjana penggerak pedesaan, dahulu.
Lalu, saya berpikir andai saja sarjana pedesaan ini juga dibekali dengan ilmu riset dan ilmu menulis sudah pasti hasil dampingan akan sangat maksimal. Bak mendayung, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Pendampingan saja tanpa bahan pertimbangan pendampingan yang cukup dan kuat –yang bahan itu akan lebih baik jika diperoleh melalui riset, bisa membuat pendamping tidak dapat membuat keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat sangat berguna untuk mengambil tindakan yang tepat.


Baca Selengkapnya...