Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak
Beberapa hari lalu, seorang teman memberitahu saya. Wajahnya calar terkena tali kelayang.
“Ini… Ini kena kelayang, Bang”.
Saya melihat pada wajahnya. Ada garis bekas luka gores. Agak hitam.
Dia menceritakan, waktu kejadian itu darah sempat mengucur. Baju yang dipakainya jadi merah oleh darah itu.
“Hampir pingsan saya. Untung ada orang yang menolong. Mereka memberikan saya minum dan memberikan betadine pada luka,” katanya.
Banyak orang yang bersimpati padanya. Saat menolong itu, mereka pun bercerita tentang pengalaman masing-masing ketika terkena tali kelayang.
Ada yang terkena kening. Ada yang terkena leher. Ada yang parah, ada yang hanya mendapat goresan kecil. Macam-macam. Banyak orang yang sudah kena tali gelasan itu.
Lalu dia juga menceritakan ada yang pernah datang ke kantor walikota meluahkan kemarahan mereka, ada yang diam sendiri menyimpan marah di dalam hati.
Saya dapat membayangkan kemarahan dan kekesalan mereka. Saya, seolah-oleh melihat reaksi mereka ketika itu.
Saya sering membaca berita orang terkena tali kelayang. Berita orang yang mendapat banyak jahitan.
Saya juga pernah melihat langsung orang yang terjatuh dari motor terkena tali kelayang.
Bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Dua kali. Pertama, waktu itu saya melintas di Jalan Gajahmada Pontianak. Tali kelayang putus menghadang di depan motor saya. Untung motor saya tidak laju. Jadi hanya tangan saya saja yang kena. Untung lagi hanya goresan kecil.
Pada kali kedua, saya melintas di Jalan Komyos Sudarso POntianak. Ketika itu ada tali yang tiba-tiba terbentang di hadapan saya. Tali itu tertahan di tiang besi kaca spion saya. Alhamdulillah, selamat.
Tentu saja pengalaman ini cukup untuk menggambarkan betapa cemasnya kita kalau sudah berhadapan dengan tali kelayang.
Mengerikan. Bayangkan jika jatuh, dll.
Saya juga membayangkan hal yang mengerikan ketika melihat anak-anak mengejar kelayang putus. Sering kali mereka tidak memikirkan keselamatan diri sendiri. Mata mereka ke atas, kaki melangkah. Mereka tak peduli.
Tetapi lebih dari sekadar prihatin pada nasib mereka, saya kira masalah terbesar adalah bagaimana pemerintah kota Pontianak memperhatikan keselamatan warganya.
Saya kira seharusnya pemerintah peduli. Seharusnya pemerintah memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Jadi, tidak perlu pemerintah mengambil tindakan setelah ada warga yang berdarah-darah. Tidak selayaknya pemerintah baru mengambil tindakan setelah ada desakan dari warga. Takkan pula, korban-korban sebelum ini tidak dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk peduli.
Tetapi, lagi-lagi saya teringat. Pemerintah kita lemah. Pemerintah kita tidak berdaya. Pejabat pengambil kebijakan tidak cukup peduli. Sekalipun, sudah ada peraturan daerah soal pembatasan permainan kelayang, aturan itu tidak ditegakkan. Biasalah, penerapan hukum memang kerap juga pilih-pilih.
Karena itu tidak heran seorang teman saya pernah menduga, “Buat apa pejabat peduli, toh tidak berkaitan dengan kepentingan mereka. Toh, mereka tak mungkin kena tali kelayang. Mereka pakai mobil kok”.
Benarkah begitu tegalnya? Ah, macam cara main kelayang pulak.
Minggu, 31 Mei 2009
Main Kelayang
Diposting oleh Yusriadi di 19.10 0 komentar
Label: Borneo Tribune, Pontianak, Suara Enggang
Sabtu, 16 Mei 2009
Dari Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMP: MEREKA YANG MELAMPAUI DUNIANYA
Oleh: Yusriadi
“Oo…. Tingkat SMP?”
Mulut saya membentuk huruf ‘o’. Lebar. Terbuka agak lama. Mungkin, jika ada serangga lewat, serangga akan langsung masuk ke bundaran ‘o’ itu.
Saya terkejut. Takjub. Spontan.
Saya perlihatkan keterkejutan itu pada Dedy Ari Asfar,MA teman saya yang sama-sama jadi juri pada lomba cipta cerpen berbahasa Indonesia tingkat Siswa SMP tahun 2009.
Kala itu, Senin (4/5), saya bersama Dedy –dan Pay Jarot, Yoseph Oedila Oendon, dan Nindwihapsari, menjadi Dewan Juri Lomba tersebut di Kantor Balai Bahasa Pontianak.
Saya baru menyadari bahwa peserta lomba adalah anak-anak SMP setelah menyimak benar-benar lembaran penilaian – setelah Dedy mengingatkan saya.
Semula saya mengira, peserta lomba adalah anak-anak SMA. Saya hanya melihat sepintas lalu – tidak mengamati, wajah anak-anak yang duduk di kursi menghadap meja yang disusun melingkar, di ruang rapat Kantor Balai Bahasa Pontianak. Badan mereka menurut saya, sudah besar.
Sewaktu menerima permohonan menjadi juri lomba –yang disampaikan Kordinator Juri Nindwihapsari, saya juga tidak menyimak siapa peserta lomba penulisan itu. Yang saya ingat, peserta lomba adalah pelajar.
Saya merasa terkesan pada mereka. Mereka, anak-anak kecil itu telah menunjukkan kemampuan yang mengagumkan dalam soal menulis. Setidaknya, dibandingkan anak seusia mereka. Bahkan dibandingkan banyak anak di tingkat perguruan tinggi, kemampuan anak SMP itu sudah layak dibandingkan.
***
Oleh karena itu, saya anggap menjadi sangat wajar jika Panitia Lomba memberikan nilai kreativitas lebih tinggi dibandingkan aspek lain yang dinilai. Jika aspek lain – seperti tema, latar belakang, tokoh, dll, bobotnya 1, kreatvitas mendapat nilai 3. Penghargaan untuk kreativitas lebih tinggi karena justru kelebihan seorang penulis cerita sering kali muncul pada aspek ini. Karya-karya terbaik biasanya tercipta dari kreativitas penulisnya. Tidak heran jika para ilmuan mengelompokkan penulisan cerpen sebagai bentuk penulisan kreatif.
Dan, bukan saya saja yang takjub pada proses kreativitas anak-anak itu. Juri lain juga begitu.
“Sewaktu seumur itu, saya belum bisa menulis,” kata Dedy, saat menyampaikan revieuw hasil penilaian, sebelum pengumuman pemenang babak penyisihan.
Pay Jarot, seniman pelopor di Kalbar, pada saat yang sama, juga tak dapat menyimpan ketakjubannya.
“Wow, hebat”.
Kata Pay, “Kalau ada tempat, seharusnya delapan-delapannya masuk final”.
Sayang, tempatnya hanya ada 5. Tiga peserta harus tereliminasi. 3 anak wakil daerahnya, harus pulang dengan ‘kecewa’.
Begitu juga Yoseph Oendoen. Seniman dari Taman Budaya ini juga memuji kemampuan anak-anak tersebut.
Saya mengulang pujian mereka ketika ketika diberi kesempatan bicara. Tepuk tangan lebih layak diberikan untuk mereka sebagai bentuk salut.
Saya ingin terus menyemangati mereka. Saya ingin semangat itu terus tumbuh, dan karya terbaik terus lahir dari anak-anak itu.
***
Apresiasi yang lebih besar kepada kegiatan menulis anak-anak seharusnya ditumbuhkembangkan. Terus menerus diberikan.
Anak-anak harus didorong untuk menjadi seorang penulis. Sehingga motivasi menulis menjadi lebih tinggi. Tinggi dan terus tinggi. Membumbung.
Itulah yang saya pesankan kepada guru pendamping.
Saya juga mengharapkan para guru menumbuhkan kelompok menulis di sekolah. Biar yang dapat menulis bukan cuma satu anak. Lagi, sukar membayangkan seseorang bisa maju sendiri tanpa dukungan komunitas.
Sebab menurut pengalaman saya, motivasi dari komunitas jauh lebih besar dorongannya dalam membantu perkembangan seseorang. Justru, komunitas ini yang akan saling mendorong ketika motivasi menulis mulai lambat. Komunitas ini menghidupkan kembali ketika mood menulis mulai lembab.
Saya memiliki banyak teman yang memiliki kemampuan menulis bagus, tetapi tidak banyak karya mereka, karena motivasi menulis mereka rendah. Skripsi, makalah, menjadi satu-satunya karya mereka. Karya-karya itu lahir karena mereka terpaksa harus melahirkan karya itu.
Bukannya mereka tidak bisa menulis. Bukannya mereka tidak punya ide yang dapat dituangkan ke dalam tulisan. Bukan juga mereka tidak menyadari bahwa menulis itu sangat penting.
Bukan. Mereka punya semua itu.
Namun mereka tidak menulis karena keinginan menulis tidak kuat. Keinginan menulis lemah. Keinginan menulis kalah kuat dibandingkan kemauan lain: misalnya kesenangan untuk omong-omong saja, dll.
***
Memang benar dalam Islam ada konsep: belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu, belajar setelah dewasa bagai menulis di atas air.
Belajar di waktu kecil akan kekal. Belajar setelah dewasa, cenderung mudah hilang.
Saya banyak bertemu dengan teman penulis, dan saya bertanya pada mereka, bagaimana mulanya tumbuh kecintaan pada dunia tulis. Saya menemukan sebagian besar dari mereka tumbuh kecintaan terhadap menulis sejak kecil. Ada orang-orang penting di sekitar mereka yang mendorong mereka menjadi penulis. Ada orang di sekitar mereka, yang mereka kagumi karena menulis. Entah guru, entah orang tua, entah saudara. Ada orang di sekitar mereka yang memberikan mereka buku –umumnya buku cerita dan majalah, yang mula memperkenalkan mereka pada hobby tersebut.
Saya merasa, anak-anak SMP yang ikut lomba kali ini sangat beruntung karena mereka sudah masuk ke dalam wilayah budaya menulis. Mereka beruntung sudah difasilitasi oleh guru dan ada lembaga seperti Balai Bahasa – Dinas Pendidikan yang menyadari pentingnya menumbuhkan budaya menulis sedari kecil.
Dengan fasilitasi ini, anak-anak harus menjaga agar dirinya tetap ‘on the track’, --dalam lintasan budaya tulis. Mereka harus belajar menjadi orang dewasa yang dapat mandiri –dan tidak banyak bergantung pada orang lain, agar tetap menjadi penulis.
Selain itu tentu, orang tua harus membantu membimbing anak mereka agar anak-anak itu bisa berjalan di atas lintasan yang benar. Paling tidak mereka memberikan dukungan moral dan material untuk itu.
Guru di sekolah juga harus mengambil inisiatif membuat anak-anak berkembang. Bukan saja dalam beberapa tahun ini – sampai mereka tamat SMP, tetapi hingga setelah itu, sepanjang yang dapat.
Guru sekolah menengah atas (SMA) yang kelak jadi pilihan anak-anak itu harus membantu estafet tongkat bimbingan itu.
Anak-anak itu harus dibimbing. Karena jika tidak, potensi mereka akan redup. Anak-anak itu akan menjadi anak yang malang. Kita-kita juga rugi besar karena mereka adalah asset untuk masa depan kita. Mereka adalah asset peradaban kita.
Diposting oleh Yusriadi di 04.41 2 komentar
Label: Menulis, Tentang Yusriadi
Pengukuhan Profesor Dr. Chairil
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Hari itu, Senin (11/5/2009), di Auditorium Untan Pontianak, Dr.Chairil Effendy dikukuhkan sebagai profesor sastra Universitas Tanjungpura Pontianak.
Dalam pengukuhan itu, Dr. Chairil menyampaikan pidato berjudul ‘Sastra Lisan, Kearifan Lokal, dan Pembangunan Berkelanjutan’. Isinya menarik perhatian. Bernas. Tawarannya juga penting dipertimbangkan untuk kepentingan pembangunan bangsa.
Tetapi, lebih dari itu, bagi saya, amat menarik menyimak cara Dr. Chairil menyampaikan pidato. Suaranya menggema. Bertenaga. Sangat berwibawa. Cara dia membaca teks, enak didengar. Nadanya terjaga. Padahal… dia membaca teks pidato yang sangat panjang.
Saya mengingat-ingat, gaya seperti itu layaknya gaya seorang kepala daerah. Gaya seorang orator. Politisi.
“Hebat Pak Chairil ya, tak nampak capek dia membaca teks sepanjang itu”.
Tak dapat menahan mulut. Saya sampaikan pujian itu kepada seorang teman di sebelah saya.
Tentu, saya membandingkan diri sendiri. Saya pernah menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda STAIN Pontianak 3 tahun lalu. Awal-awal saja saya bisa memperlihatkan ‘power suara’. Beberapa menit kemudian, ‘habis’. Jujur saja, saya merasa ‘lemah’ waktu itu, waktu melihat kenyataan bahwa saya tidak bertenaga sampai akhir.
Lalu, saya membandingkan kemampuan Dr. Chairil dengan ilmuan lain di Kalbar saat pengukuhan sebagai profesor. Saya rasa, jarang juga menjumpai ilmuan lain yang punya kekuatan seperti itu – maaf kalau pengetahuan saya terbatas.
“Itulah hebatnya, Pak Chairil,” kata seorang teman yang duduk di samping saya, ketika mendengar penilaian saya.
Tapi, kehebatan Dr. Chairil bukan cuma itu. Dia magnit. Saat pengukuhan itu, banyak sekali orang yang hadir. Kursi di ruang pertemuan itu sebagian besar terisi. Ratusan orang. Mungkin total-total orang yang ada di Audit ketika itu di atas seribu.
Mereka yang hadir, adalah rekan kerja, handai taulan, pejabat dan relasi. Yang paling mengesankan, beberapa orang yang datang dalam acara itu adalah ilmuan popular di Kalbar. Dari berbagai bidang. Saya mengenal mereka.
Saya juga terkesan dengan banyaknya karangan bunga yang dipajang di depan gedung Auditorium itu. Ucapan selamat dari berbagai kalangan, ada yang mengatasnamakan lembaga, banyak juga yang atas nama perorangan. Tidak saja dari para ilmuan, tetapi juga dari praktisi: politisi, pelaku ekonomi, dan birokrat. Hari Kamis kemarin, ketika saya ke FKIP Untan, sekali lagi saya melihat untaian ucapan apresiasi itu.
Semua itu menunjukkan ‘keberadaan’ Dr. Chairil di mata banyak orang, sebagai orang yang diakui. Semua itu menunjukkan Dr. Chairil punya banyak teman dan relasi, orang-orang yang ‘menyukainya’. Sungguh beruntung Untan dan Kalbar memiliki seorang seperti Dr. Chairil. Asset yang luar biasa.
Akhirnya, sekali tentu saja saya secara pribadi terkesan pada momentum pengukuhan itu karena ada pameran buku-buku terbitan STAIN Pontianak Press. Buku-buku terbitan dari penerbit ini dipamerkan. Saya terkesan -- dan sangat membanggakan hal itu, karena saya tahu dinamika, semangat serta gairah menerbitkan karya tulis di STAIN Pontianak Press.
Sebagian dari buku – banyak buku, Dr. Chairil diterbitkan penerbit ini.
Saya bangga karena STAIN Press ikut mengantar Dr. Chairil ke puncak pencapaian seorang ilmuan. Dan, saya bangga karena sang ilmuan itu menghargai dan memberi ruang kepada penerbit STAIN Pontianak Press.
Mudah-mudahan Dr. Chairil menjadi profesor yang tetap mengkilap sebagai seorang ilmuan. Mudah-mudahan pula jejak itu diikuti oleh ilmuan lainnya, kelak.
Diposting oleh Yusriadi di 04.39 1 komentar
Label: Pendidikan, STAIN, Suara Enggang, Untan Pontianak
Selasa, 05 Mei 2009
Bahasa Ge
Tata (biru) dan Caca (merah).
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Saya sedang baring malam itu--beberapa hari lalu. Biasa, setelah Magrib istirahat sekejap.
Tiba-tiba saya mendengar percakapan Caca dengan Tata, anak perempuan saya. Caca berumur 9 tahun. Dan Tata berumur 7 tahun.
“Kaka kuku kiki kaka kuku”.
“Kuku kuku, kiki kiki”.
Saya mengangkat kepala. Ingin mendengar lebih jelas, apa yang mereka bicarakan. Saya sama sekali tidak nyambung.
“Bugu kugu digi maga naga, caga caga?”
“Tugu digu aga tagas ragak”.
“Ta, omong ape tu?”
Saya bertanya penasaran.
“Bahasa gay”.
Teq! Saya terkejut.
“Anak-anak saya berbicara bahasa gay?”
Bayangan negative meloncat dari kepala saya. Negatif, karena setahu saya, gay itu komunitas menyimpang. Mereka orang yang menyukai sesama jenis--laki-laki.
Saya memang belajar sedikit tentang bahasa-bahasa komunitas. Ada bahasa kelompok khusus--dengan alasan tertentu, mengunakan bahasa rahasia. Bahasa itu hanya dimengerti oleh kelompok mereka. Mereka menggunakan istilah-istilah yang disepakati sendiri.
“Bahasa gay?”
“Iya, bahasa gay”.
“Dapat dari mana, Ta?”
“Belajar dengan Tika”.
Tika, anak tetangga kami. Teman bermain Tata. Tika sudah Kelas V sekolah dasar. Umurnya 11 tahun. Mereka berteman, karena di gang kami yang sepi itu, tidak ada anak sebaya Tata.
“Ta, sini. Coba ajarkan Bapak”.
Tata mendekat. Senyum. Saya suka lihat senyumnya. Senyum Tata sangat manis ketika gigi depannya ompong--ganti gigi.
“Kalau mau bilang ‘bapak baring’, bagaimana?”
“Baga pagak baga riging”.
“Saya?”
“Saga yaga”.
Tata menjawab dengan cepat. Saya tertawa. Takjub. Pintar. Saya belum memahami rumus bahasa itu. Saya minta Tata menterjemahkan beberapa kalimat lagi.
Tata menjawab cepat. Saya berusaha menyimak dengan cermat.
Lalu, saya menemukan polanya. Bunyi ‘ge’ memisahkan suku kata. Vocal setelah ‘ge’ disesuaikan dengan vocal suku kata yang diikutinya.
Saya, sa+ya. [Sa] ditambahkan bunyi ‘ga’, [ya] ditambahkan ‘ga’ juga. Jadi rumusnya, saga + yaga.
Kalau [isi], [i]+ gi; [si] + gi. Igi sigi.
Jadi, bahasa gay yang saya bayangkan sebenarnya bahasa ‘ge’. Bahasa dengan bunyi ‘ge’. Abjad ke – 7 dalam system alphabet Latin. Bukannya bahasa komunitas gay. Bukannya bahasa rahasia.
Lalu, saya jadi teringat beberapa puluh tahun lalu. Saat saya kecil, SD, saya juga mengenal bahasa khusus begitu. Bahasa Pampan, namanya. Polanya berbeda sedikit dengan bahasa ge.
Bahasa Pampan, bahasa terbalik. Setiap kata dipisahkan suku katanya, lalu dibalik.
Saya misalnya, menjadi ya+sa.
Kami, menjadi mi+ka.
Isi, menjadi si+i. Dan seterusnya.
Sederhana, dan mengasyikkan pada suatu saat. Saya katakan suatu saat, karena bahasa itu tidak berumur panjang. Mungkin kami hanya menggunakannya selama tiga bulan. Setelah itu kami lupa. [Mungkin karena sudah tidak asyik lagi].
Saya kira, sekalipun tiga bulan, dengan belajar bahasa itu, kami telah belajar bagaimana berpikir cepat. Dan, itu yang sedang dialami Tata dengan bahasa ge mereka.
Diposting oleh Yusriadi di 06.28 4 komentar
Label: Budaya Kalbar, FOTO, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Jumat, 10 April 2009
Pemilu yang Membingungkan
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
“Bingung!”
“Benar-benar bingung tadi,”
“Nyari nama orang yang mau dipilih bah, susah benar. Akhirnya nanda partai jak,”
Entah berapa banyak keluhan yang saya dengar Kamis (9/4) kemarin. Banyak sekali. Tidak bisa dihitung. Kalau dicatat, pasti panjang lebar catatannya.
Rasanya, setiap saya bertemu dengan orang yang saya kenal, setiap bicara dengan mereka tentang pencontrengan beberapa jam sebelumnya, keluhan itu yang saya dengar.
Mereka yang saya kenal itu, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan sarjana. Mereka golongan yang berpendidikan. Mereka terpelajar. Mereka mengerti baca tulis. Mereka mengikuti sedikit perkembangan, sekalipun perkembangan politik tidak diikuti dengan detiil. Mereka menonton TV dan sesekali melihat sosialisasi pencontrengan itu.
Saya mempercayai keluhan itu. Saya bisa membenarkannya. Saya sempat melihat betapa bingungnya tetangga saya, seorang imam masjid, saat berada di bilik suara pada saat pemilihan itu. Saya bisa melihat wajahnya, karena bilik suara yang dipakai saat pemilihan hanya dinding alumunium yang rendah. Bagian dada ke atas orang yang sedang berada di bilik suara itu nampak dengan jelas. Tidak terlindung.
Petugas di TPS sempat mengingatkan imam masjid itu.
“Lama’ Pak,”
Mereka sudah mengumumkan batas waktu pemilihan sampai pukul 12.00. Saat itu waktu menunjukkan pukul 11.40.
Saya sempat juga khawatir, jangan-jangan akan mendapatkan peringatan serupa. Sebab, waktu yang saya butuhkan di bilik suara sangat lama. Saya agak lama, karena mencari nama orang yang harus saya contreng. Saat turun dari rumah saya sudah punya nama itu. Untuk level DPD, saya bisa memilih dengan cepat. Tidak banyak. Langsung nampak nama yang dicari. Ada fotonya lagi.
Tetapi untuk Dewan Provinsi.... Tidak. Saya butuh waktu lama. Saya ingat, saya mengurut membaca nama dari atas hingga ke bawah. Lalu saya cari lagi. Huruf yang besar kecil. Lembaran yang banyak. Wow... luar biasa.
Rupanya, kakak saya juga mengalami hal yang sama.
“Lama benar nyari nama orang itu...”
Kemudian, setelah selesai pemilihan, baru kakak saya sadar bahwa surat suara yang mereka coblos, tertukar daerah pemilihannya. Nama orang yang dipilih tidak ada di kertas suara itu. Nama orang yang dipilih rupanya ada di kertas suara lain, yang nyasar ke mana.
Melihat begitu susahnya memilih, seorang teman membandingkan.
“Kalau orang kota, orang terpelajar mengeluh susah dalam memilih, bayangkan bagaimana dengan orang kampung,”
Orang kampung, masih ada yang kemampuan bacanya pas-pasan. Bayangkan mereka yang hanya sesekali bersentuhan dengan bahan bacaan.
Lalu, akhirnya mereka asal pilih saja. Mereka tandakan saja apa yang mau mereka tandakan, dalam waktu yang terbatas.
Kalau kemudian pilihan begini dibuat, apa yang bisa diharapkan. Pastilah tujuan pemilu –yang kononnya menjadi pemilu yang cerdas, tidak akan sampai. Tentulah pemilu yang cerdas menjadi mimpi indah saja.
Oh, sungguh memprihatinkan. Sungguh mengenaskan nasib bangsa ini. Nasib daerah ini. Nasib kita semua.
Memang sudah nasib, apapun yang terjadi pasca pemilihan, harus diterima. Siapa pun yang kebetulan mendapat suara terbanyak, itulah takdir dia dan takdir kita yang diwakilinya.
Nasib kita juga kelak, jika kita pun juga bingung melihat tingkah polah mereka yang duduk di kursi wakil rakyat.
Diposting oleh Yusriadi di 09.04 3 komentar
Label: Pemilu, Politik Kalbar, Suara Enggang
Terminal Kapuas Indah
Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Wow, hebat!!!
Saya berseru dalam hati ketika menyaksikan terminal Kapuas Indah, Pontianak, Selasa sore lalu (7/4/2009). Kebetulan saya melintas di kawasan itu saat mengantar Emak mudik ke kampung, ikut bis Valenty yang memunggah penumpang di terminal Kapuas Indah. Melintas, karena saya tidak turun dari motor. Buru-buru.
Saya merasa takjub dengan kemajuan pembangunan di kawasan ini.
Saya mengagumi konsep pembangunan: terminal yang memanjang, di atasnya ada bangunan. Bangunan itu membentuk atap pelindung bagi oplet menurunkan dan menaikkan penumpang.
Saya takjub melihat keadaan sekarang. Saya kira, ini suatu konsep pembangunan yang mencerminkan cita rasa terminal modern. Setidaknya lebih modern dibandingkan keadaan terminal sebelum ini.
Saya merasa gah. Saya akan bisa membanggakan terminal ini di mata teman-teman yang berasal dari luar Kalbar. Biar mereka tahu, bahwa perencana pembangunan di Pontianak, memiliki wawasan yang modern juga.
Jujur saja, sering kali saya malu jika membaca tulisan yang menampilkan kesan orang terhadap Pontianak. Misalnya, ada seorang penulis yang membandingkan Pontianak sebagai sebuah kota yang 50 tahun terbelakang, dibandingkan kota mereka. Katanya melihat kota Pontianak mengingatkan mereka keadaan kota mereka tahun 1950-an.
Mereka membandingkan keadaan transportasi lokal. Mereka membandingkan pedagang-pedagang kecil di pinggir jalan. Mereka membandingkan bangunan-bangunan yang mereka lihat. Mereka membandingkan penataan kota. Mereka membandingkan pemerintah mengurus kota.
Kita bisa membayangkan sendiri keadaan itu. Bahkan orang kita sendiri sering menyebut kota kita sebagai kota yang kumuh. Orang sering menyebut kota Pontianak macam kota tak ada penjaganya.
Orang kita sering menyebut bandingan antara bumi dan langit saat membandingkan kota Pontianak dengan Kuching, Malaysia.
Nah, pembangunan terminal Kapuas Indah, saya kira pasti akan mencerminkan gambaran yang lain, di pasar kota ini.
Hanya saja.. .
Oh, Tuhan.
Masih bergema pujian saya untuk pembangunan kota Pontianak, senyum gah saya masih belum samar, tiba-tiba saya melihat situasi yang kontras. Situasi yang mencerminkan kota Pontinak tahun 1950-an itu.
Di seberang terminal, di jalan keluar dari kawasan Kapuas Indah, saya melihat sejumlah oplet berhenti, menunggu penumpang. Mereka tidak menunggu penumpang di terminal yang baru dan modern. Mereka malah menunggu di luar terminal.
Oplet menunggu di luar terminal, menunjukkan cita rasa yang hambar. Ada apa? Mengapa mereka tidak betah di dalam terminal yang indah itu, beratur menunggu giliran?
Apakah terminal itu hanya indah dari kesan pertama, tetapi, buruk jika sudah berada di sana lama?
Macam-macam dalam bayangan saya.
Apakah terminal ini bau –terutama bau pesing, seperti umumnya terminal di tempat kita?
Apakah terminal ini menakutkan penumpang, sehingga penumpang ogah mampir ke sana? Apakah ada preman dan tukang palak, atau calo-calo yang terlalu gigih berusaha memaksa penumpang di sini, sehingga sopir oplet dan penumpang takut?
Saya tak menemukan jawaban itu. Saya tidak mencarinya. Saya pikir, biarlah pemerintah kota yang turun ke sana bertanya-tanya. Biarlah para pengelola terminal yang mencari tahu.
Sepanjang perjalanan pulang dari Kapuas Indah ke rumah, saya terus menghayal. Andainya terminal yang baru ini ditata dengan baik, sehingga menambah cita rasa modern secara fisikal. Andai saja pemerintah kota menjadikan penataan kawasan tertib, indah dan aman dari terminal ini, kemudian melebar ke kawasan lain... Andai saja pemerintah mulai menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi pengelola kota ini.
Saya kira pasti lebih indah.
Lalu, mengapa mereka nampak berwibawa di mata para sopir?
Mengapa mereka tidak bisa memelihara dan menjaganya keindahan dan ketertiban di terminal ini?
Mengherankan.
Suatu saat saya ingin mengagumi pemerintah kota karena hal itu. Semoga.
Diposting oleh Yusriadi di 09.02 0 komentar
Label: Pontianak, Suara Enggang
Jumat, 03 April 2009
Kolusi di Jalanan
Yusriadi-Redaktur Borneo Tribune
Hari itu, saya naik bis dari Kuching ke Pontianak. Di tengah perjalanan, bis itu berhenti di sebuah rumah makan. Jadwal makan siang.
Saya sudah hafal tentang banyak hal di sini. WC-nya. Nasinya. Sayur-sayurnya. Tentang minumannya. Piringnya. Gelasnya.
Saya hafal bukan karena ingatan saya kuat. Saya hafal karena bis penumpang antar negara sering kali berhenti di sini. Bis ini – maaf tak saya sebutkan namanya di sini, hampir selalu berhenti di sini. Bis lain, lain juga tempat berhentinya.
Mengapa begitu? Saya tidak tahu. Saya kira pilihannya lebih pada pilihan awak bis, atau perusahaan bis. Pasti bukan pemerintah mengeluarkan instruksi soal terminal perhentian. Pemerintah kita tidak punya kebijakan seperti pemerintah di Malaysia yang membuat bis-bis terpaksa berhenti makan di setiap stasiun bis – buktikan saja kalau naik bis Pontianak – Brunei.
Di sini, bis punya kuasa sendiri.
Penumpang turun satu per satu. Saya, karena duduk agak belakang, turun juga agak belakang.
“Ndak turun? Makan”.
Saya dengar seorang penumpang –wanita paroh baya, bertanya pada seorang lelaki muda di sampingnya. Lelaki muda itu orang kulit putih. Sebelumnya saya sempat bertanya asal negara dia.
“Tidak. Saya sudah makan”.
Saya memang melihat lelaki itu makan, sewaktu bis menunggu penumpang cop pasport dan pemeriksaan barang, di perbatasan Entikong-Tebedu. Dia bawa bekal dari Kuching.
“Saya kurang suka makan di tengah jalan. Kebanyakan tidak higienis”.
“Oo,”
Ibu paroh baya itu terdiam. Melongo. Saya kira mulutnya pasti membentuk bundaran. Sayang saya tidak bisa membalikkan badan melihat keadaan dia. Tak sopan.
Tapi bukan mulut ibu itu yang buat saya terkesan. Saya terkesan pada kata “higienis” si bule itu.
Saya jadi merenung apa yang bisa disaksikan di rumah makan, di tempat-tempat bis berhenti itu.
Saya mengiyakan penilaian si bule. Rasanya, saya bisa melihat betapa joroknya rumah makan di sepanjang jalan.
Piring hitam. Sendok berkerak. Air dalam gelas berminyak –beleming. Nasi juga tidak segar. Entah beras kelas apa yang mereka masak.
Ikan-ikan dan ayam juga begitu. Jenis-jenis gorengan mungkin sudah berapa kali naik angkat dari dalam kuali minyak panas. WC yang bau pesing dan lantainya penuh daki.
Sering saya mendengar ada penumpang mengatakan neg, kalau sudah makan. Atau, masuk WC jadi ingin muntah.
Lebih parah lagi, sudahlah kualitas makanan kurang, harga makanan jangan disebut. Jauh di atas harga makanan di rumah makan biasa.
Makan dengan nasi + ayam dan sayur, bisa mencapai Rp 20 ribu.
Saya tak bisa hitung, berapa kali singgah di rumah makan di jalan. Belum pernah saya bayar di bawah Rp 10 ribu, untuk nasi+ satu jenis lauk. Belasan ribu.
Pada mulanya saya sering mendengar pertanyaan mengapa bis suka berhenti di tempat begitu. Mengapa bis tidak memilih makan di rumah makan yang murah, agak bersih, dan lumayan enak.
Saya pun sering kali bertanya hal itu. Dahulu.
Tetapi, belakangan saya tahu jawabannya.
“Kan ada kerja sama antara orang bis dan rumah makan,”
“Lihatlah, sopir dan kenek itu makan di ruang khusus. Sajiannya khusus. Dapat rokok, minuman suplemen,”
Kata teman, sopir-sopir angkutan umum itu tidak bayar.
“Malah kadang juga mereka dapat uang saku,”
“Rugilah rumah makan?”
“Ya, ndaklah. Mereka ‘kan dapat dari penumpang yang membayar mahal makanan.
Coba, hitung, sekali orang berhenti makan, berapa dia untung,”
Wow, luar biasa. Tentu saja saya tidak percaya sepenuhnya informasi itu. Tetapi, saya tidak mungkin membantahnya ketika melihat pilihan yang buruk para awak bis. Ya, pilihan yang buruk karena mereka memilih berhenti di rumah makan yang tidak higenis dan mahal harganya.
Mungkin memang ada kolusi.
Mungkin, kolusi tidak hanya di kantor-kantor. Kolusi juga ada di jalanan. Ya, di mana-mana. Kalee...
Diposting oleh Yusriadi di 07.58 0 komentar
Label: Budaya Kalbar, Suara Enggang, Tentang Yusriadi