Sabtu, 01 Mei 2010

Tak Bisa Khutbah

Yusriadi
Redaktur Borneo Metro

Saya mendapat pengalaman menarik beberapa hari lalu. Hari itu, saya sedang bicara dengan seorang teman yang bekerja di kantor Kementerian Agama. Mulanya kami bicara tentang persiapan menjelang pekan olahraga daerah Kementerian Agama (Porda Depag) Kalbar yang akan digelar Juni mendatang di Singkawang. Kami membicarakan persiapan masing-masing. Maklum, dia termasuk salah satu pemain andalan lembaga ini.
Panjang cerita, banyak kisah, kami cerita soal kegiatan hari Jumat.
“Abang ni, kalau Jumat pasti sibuk,” saya menyampuknya.
“Mane pula’. Biasa jak”.
“Takkan pula’. Jumat ini baca khutbah di mane?”
“Baca khutbah? Ndak pernah saye”.
Nah, ini yang membuat saya terkejut. Dalam bayangan saya, dia pasti memiliki banyak jadwal khutbah. Maklum, level penghulu. Lagi, dilihat dari caranya bicara, saya kira dia memiliki isi yang memadai.
Memang saya mengenalnya sedikit. Dia, seorang guru agama. Pengalamannya mengajar sudah banyak. Belasan tahun dia menjadi guru di madrasah ibtidaiyah.
Beberapa tahun lalu dia mengajukan pindah ke bagian administrasi di kantor Kementerian Agama. Di kantor ini dia menjadi staf kepala kantor urusan agama. Salah satu pekerjaannya menikahkan orang dan menulis surat nikah orang.
Nah, kalau sekelas seorang tukang nikah mengaku tidak bisa baca khutbah, tentu orang tidak akan percaya. Seorang tukang baca nikah boleh dikategorikan orang pilihan. Di kampung, mereka disebut penghulu. Penghulu pasti termasuk tokoh masyarakat. Kalau ada undangan mereka pasti duduk di kepala shaf, dan memimpin pembacaan doa.
“Saya pernah dimarahkan pengurus masjid karena saya menolak ketika diminta menjadi khatib”.
Dia menceritakan pengalamannya. Kala itu dia hadir dalam kegiatan silaturahmi dengan pengurus masjid. Dia mewakili kepala kantor menyampaikan beberapa patah kata; kata sambutan.
Usai kegiatan, pengurus masjid mendatanginya dan minta dia menjadi khatib di masjid itu.
“Saya tolak. Saya katakan, saya tidak bisa baca khutbah”.
Pengurus masjid tentu saja tidak percaya. Sebaliknya, pengurus masjid menyangka dia tidak mau ‘menolong’, tidak mau membagi ilmu pengetahuan, dll. Ujung-ujung, dia mendapat ceramah dari pengurus masjid itu, tentang pentingnya berdakwah dan berbagi ilmu.
“Saya diam jak. Apa yang dia katakan itu betol”.
“Lalu mengapa abang tak mau juga?”
Dia mengaku bingung kalau mau menceramahi orang. Bingung mencari tema apa yang harus disampaikan. Menurutnya, kalau mau ceramah temanya harus tepat dan sesuai. “Yang paling penting adalah sesuai dengan perbuatan kita. Sementara saya, masih banyak kekurangannya. Kononnya nak nceramahkan orang”.
“Tapi, kadang khan juga beri nasehat untuk orang yang mau nikah. Itu gimana?”
“Ya, nasehat gitu-gitulah. He.. he..”
Saya ikut tertawa juga. Tertawa karena gayanya waktu itu yang lucu.
Saya kira apa yang dia katakan itu benar adanya. Sangat berat tanggung jawab orang yang menceramahi orang lain. Jadi, biar tidak terlalu berat, memang sebaiknya memulai dan berusaha dari diri sendiri, dan keluarganya. Kalau sudah beres, barulah mengajak orang lain. Bukan sebaliknya, mengajak orang lain dahulu sedangkan diri dan anak istri berantakan.
Tapi… buru-buru saya ingat; kita juga diingatkan untuk saling mengingatkan. Kalau tidak saling mengingatkan, kita sering kali lupa. Justru, sikap saling mengingatkan merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Lalu?

Baca Selengkapnya...

Menunggu Musim Ngkabang

Yusriadi
Redaktur Borneo Metro

“Musim ngkabang” (tengkawang) tahun ini di kampung saya Riam Panjang, sudah berakhir. Buah yang ada sudah luruh, semuanya. Buah-buah itu sudah disalai dan dikeluarkan dari cangkangnya. Sudah ditimbang dan dilego kepada pengumpul. Hasilnya pun sudah dinikmati.


Hanya, hasil yang dinikmati musim ini tidak besar-besar amat. Seperti yang sudah-sudah, harga buah ngkabang selalu turun. Selalu, di awal musim, harganya bagus. Di akhir musim, harganya anjlok. Menurut masyarakat, harga begini tergantung nasib. Jika nasib baik, dapatlah petani harga bagus. Jika nasib tidak baik, petani kena harga jelek. Entah!
Tetapi, bagaimanapun harga ngkabang itu, petani tidak pernah ketiban sial, yang benar-benar sial. Tidak, karena mereka tetap dapat memperoleh uang lumayan dari penjualan. Cuma, kalau harganya turun sampai separoh dari harga awal musim, berarti untungnya tidak banyak, tidak maksimal.
Jadi, pada prinsipnya mereka tetap untung. Ngkabang merupakan asset penting dalam kehidupan mereka. Masyarakat menganggap musim ngkabang sebagai musim “uang mudah”. Karena itulah musim ngkabang selalu menjadi musim yang paling ditunggu-tunggu dalam masyarakat di kampung.
Dahulu, saya masih ingat orang kampung bergurau-gurau:
“Aku ngami’ dulu’ bah, mayar pagi, nungu’ ngkabang jatu’”. (Aku ambil dahulu (utang). Membayarnya besok, menunggu buah tengkawang jatuh).
Ya, kalau sudah musim ngkabang orang memang makmur. Masyarakat memiliki pendapatan tambahan yang besar.
Waktu kecil, waktu musim ngkabang kami bisa sedikit royal. Kami bisa makan indomie dua atau tiga kali sehari. Dahulu, di tahun 1980-an, kami, anak-anak kampung mengukur kemakmuran kami dengan indomie. Indomie –jenis apa saja mie disebut begitu, adalah makanan elit. Mewah. Kalau kami punya uang, kami lebih suka membeli indomie dan memakannya begitu saja tanpa dimasak. Kalaupun dimasak, indomie hanya dimasukkan ke dalam mangkok, lalu dituangkan air panas, kasih bumbu, lalu …dilahap.
Ngkabang memang mendatangkan berkah bagi kami. Bayangkan jika satu kilo ngkabang mentah (ngabang tolu’) harganya Rp1500, dan dalam satu hari satu keluarga bisa dapat minimal 100 kilo, berarti, satu hari bisa memperoleh pemasukan hingga mencapai Rp150.000. Bandingkan dengan hari biasa, dari menoreh getah rata-rata orang hanya bisa mendapatkan sekitar Rp 30.000,-
Tetapi, itu dahulu. Sekarang dengar-dengar, keadaannya sudah agak beda. Walaupun ngkabang masih dapat diandalkan, namun, perolehan masing-masing orang sudah menyusut. Jumlah pohon ngkabang sudah jauh berkurang. Pohon-pohon besar yang ukurannya dua pelukan orang dewasa, sudah banyak yang ditebang. Batangnya dijual, digesek untuk bahan bangunan, dll. Papan, balok tengkawang, lumayan juga harganya. Peminatnya juga banyak karena jenis kayu ini cukup kuat – asal tidak kena hujan.
Sudah banyak areal yang dahulu ditanami ngkabang, sekarang menjadi tempat ladang atau diganti tanaman karet.
Selain itu, sekarang, orang-orang di kampung sudah banyak. Masing-masing sudah beranak pianak, bercucu-cicit. Semua ikut panen ngkabang ini’ ayi (nenek datok)-nya. Pertambahan penduduk kampung memang cukup drastis. Tahun 1980-an jumlah penduduk masih sekitar 300 orang. Tahun 2000-an jumlah penduduk sudah hampir 1000 jiwa.
Malangnya, walaupun penduduk bertambah, namun luas kebun ngkabang tidak bertambah, malah menyusut.
Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun ke depan, ngkabang pasti semakin tidak dapat diandalkan. Mungkin 50 tahun yang akan datang “musim ngkabang” tidak akan ada lagi. Mungkin pada waktu itu, tak ada lagi musim “uang mudah” yang bisa ditunggu orang.
Siannye generasi cucu kami itu.

Baca Selengkapnya...

Petugas Statistik

Yusriadi
Redaktur Borneo Metro

Siang itu, beberapa hari lalu, saya tidur di atas kursi di depan pintu. Saya memilih tidur di situ karena itulah tempat yang paling enak untuk rehat dalam cuaca “panas bedengkang” seperti sekarang. Di depan pintu banyak angin, jadi lebih sejuk.
Saya terjaga dari tidur karena tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu. Suara dia mengucapkan salam membangunkan saya. Dalam keadaan “bangun tekejot”, saya duduk. Pandangan saya masih agak nanar. Saya melihat dia mengenakan baju putih, celana hitam, topi biru dan membawa tas. Saya kira, dia seorang sales. Sales biasa berpakaian seperti itu.


Tapi, sebelum saya bertanya dia sudah lebih dahulu memperkenalkan diri.
“Saya petugas statistik”.
Ah, saya ingat, bulan Mei ini memang akan dilakukan sensus penduduk. Spanduknya sudah terpasang di mana-mana.
Bahkan, malam sebelumnya, saya sempat omong-omong dengan seorang keluarga saya yang menjadi petugas sensus di Kubu Raya, bahwa mereka akan melakukan sensus minggu depan. Dia juga bilang ada beberapa tempat, petugas sudah turun melakukan listing.
Saya mempersilakan petugas sensus itu masuk. Namun, dia seperti maju mundur. Enggan. Entahlah mengapa. Mungkin dia enggan membuka sepatu, atau dia terburu-buru. Tapi akhirnya dia masuk juga.
Setelah dia duduk, dia membuka filenya. Lalu dia bertanya tentang jumlah orang yang tinggal di rumah ini, dan juga bertanya jenis kelamin; berapa lelaki dan berapa perempuan.
Saya sempat ragu menjawab pertanyaannya itu. Ragu karena apakah saya harus mengatakan penghuni rumah kami ada 6 orang atau 8 orang. Jika 8 orang, itu berarti termasuk bapak dan emak yang beberapa minggu ini ada di rumah.
Setelah dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tinggal menetap sudah lebih dari 6 bulan, barulah saya jelas. Untuk kategori ini, di rumah saya ada 6 orang.
Setelah pertanyaan itu, dia kemudian mencatat angka pada stiker.
“Izin nempel ini ya”.
Saya mempersilakan dia memilih di tempat untuk memasang stiker itu. Tak ada masalah. Dia memilih menempel stiker di samping kanan pintu. Setelah itu, dia pamit.
“Nanti saya datang lagi,” katanya.
Setelah dia pergi saya jadi teringat kasus BPS dahulu. BPS pernah melakukan sensus penduduk tahun 2000. Dalam item pertanyaan itu, ada pertanyaan tentang etnis. Responden ditanya: Suku apa? Jawaban yang diberikan macam-macam – sesuai dengan pengakuan masing-masing.
Data itu kemudian dipublikasikan tahun 2001. Malangnya, ketika data itu dipublikasikan, kelompok masyarakat tertentu ribut. Data BPS tentang etnik dianggap menghilangkan etnik tertentu. BPS kena hukum adat capak mulut. Majalah Kalimantan Review membuat liputan tentang ini cukup lengkap.
Mengapa tiba-tiba saya ingat kasus ini? Saya ingat karena kemungkinan serupa bisa saja terjadi kali ini. Sepanjang BPS tidak melakukan pembenahan.
Ya, BPS harus melakukan pendataan sebaik mungkin. Petugas-petugas yang mereka rekrut seharusnya adalah orang-orang yang terlatih dan orang yang dapat menerapkan standar pelaksanaan sensus dengan baik.
Sebelum turun lapangan mereka harus mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup untuk kepentingan mereka di lapangan.
Mereka, tidak cukup hanya mencekles atau mencatat data dari responden di tiap-tiap rumah, tetapi juga mengerti apa yang mereka tanyakan dan mengerti juga data apa yang diharapkan dari pertanyaan itu.
Saya yakin, pemahaman ini akan membantu BPS memperolehan data standar, data yang dapat diolah dengan pendekatan standar, dan data yang tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Baca Selengkapnya...

Jumat, 09 April 2010

Ntawak Mate

Oleh: Yusriadi

Ketika Pak Paimun, kepala SMA Negeri 1 Kembayan mempromosikan kampung Ntawak Mate, saya menanggapinya dengan antusias. Kami (saya dan Ibrahim, dosen STAIN Pontianak) memang ingin mengunjungi kampung Dayak di sekitar Kembayan.
“Terlanjur sudah jalan begini, kami ingin jalan juga ke kampung orang Dayak”.
Menurut Pak Paimun, kampung Dayak ini unik karena masih mempertahankan kepercayaan lama. Salah satu kepercayaan mereka yang beliau sebutkan adalah kepercayaan pada kekeramatan ular sawa’. Katanya, ada ular sawa’ besar di kampung ini. Tidak boleh diganggu.



Beliau membantu mengatur perjalanan kami ke sana. Dundok, S.Pd dan Kuari, SP, guru muda di SMA Kembayan yang diminta menjadi penunjuk arah. Dundok asal kampung Tanap, sebuah kampung beberapa kiloa meter sebelum Kembayan dari arah Pontianak. Tanap terletak di pinggir jalan raya ke Entikong, perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak.
“Dundok tahu bahasa di sana. Bahasa di sana sama dengan bahasa dia”.
Saya menyetujui pilihan Pak Paimun. Sangat baik memang membawa teman yang mengerti bahasa penduduk kampung yang akan dikunjungi. Dia bisa menjadi ahli bahasa. Biasanya pendamping seperti ini sangat diperlukan dan sangat membantu.
Sedangkan Kuari, teman dekat Dundok. Kata Dundok, Kuari suka berkunjung ke kampung-kampung.
Ternyata pada saat hari keberangkatan, orang yang ikut berkunjung ke Ntawak Mate bertambah. Ada 6 guru SMA N 1 Kembayan, 1 guru PGRI dan 1 guru SMA Noyan, yang ikut. Selain Dundok dan Kuari, dalam rombongan itu ada Husna, Ahmat, Arifin, Edi, Darto, dan Yanto.
Saya kira ini kunjungan yang luar biasa. Saya menyebutnya ekspedisi Guru SMA N 1 Kembayan. Kuari yang memboncengi saya sempat tertawa mendengarnya.
Konvoi motor kami melalui jalan beraspal ke arah Balai Sebut. Jalannya, semula beraspal. Namun sekarang di sana sini aspalnya rontok. Maklum, aspalnya tipis benar. Saya tidak tahu apakah aspal tipis ini karena proyeknya kejar panjang jalan, atau kontraktornya yang mau cari untung besar dan pengawasnya setali tiga uang. Karena aspalnya banyak yang sudah terkelupas, akhirnya jalan ini lebih mirip jalan tanah campur batu. Jalan pekerasan. Ini pula yang menyebabkan jalan ini agak berdebu.
Tetapi, jalan begini masih lumayan. Karena kemudian, setelah melalui kampung Terusan, jalannya bukan lagi jalan raya yang begitu. Jalannya jalan setapak.
Ya, motor kami melalui jalan setapak. Kiri kanan semak belukar. Motor kami melalui sungai yang sebagiannya tidak ada jembatan. Nyebur ke sungai melalui bagian sungai yang dangkal. Yang paling mengesankan, kami melalui beberapa bagian dari jalan sekeping papan.
Saya merasa ‘sejuk pantat’ ketika motor melintas di atas kepingan papan itu. Bayangkan jika terpeleset. Uh, calar-calar mesti. Kalau nahas mungkin melepuh kaki terkena knalpot atau patah tulang tertimpa motor. [Ketika pulang motor Husna dan Ahmad sempat terpeleset dan mereka hampir menabrak rumpun bamboo].
Tapi untung, Kuari cukup pacak membawa Kingnya di jalan sekeping papan ini. Kala hampir terpeleset, kakinya yang panjang dapat menjadi tongkat motor.
Hanya saja motor Kuari menyerah ketika naik di tanjakan yang saya kira panjangnya lebih 500 meter dengan kemiringan antara 40-50 derajat. Saya terpaksa loncat dari motor dan menahan motor agar tidak mundur.
“Knalpotnya mau dicuci,” kata Kuari pasal motornya yang tak mampu mendaki bukit.
Perjalanan di medan yang berat memang sepala dengan ‘hasil’ kunjungan. Saya merasakan kunjungan kami luar biasa. Syukurlah berkesempatan datang ke Ntawak Mate.
Ya, kampung ini masih terisolir. Terpencil. Pengangkutan susah. Pasti kunjungan orang ke tempat ini juga jarang. Dari 8 orang local dalam rombongan kami, hanya Edi yang pernah datang ke sini. Yang lain, mengaku inilah kunjungan yang pertama. Bayangkan! Padahal, Ntawak Mate tidak jauh-jauh amat dari Kembayan.
Alhasil, karena itulah orang di sini tertutup dari orang luar.
Kampung ini juga memperlihatkan sentuhan pembangunan yang minim. Ada jembatan panjang yang menghubungan dua bagian kampung. Ada bangunan sekolah tiga local yang baru selesai direhab. Jalan-jalan kampung masih jalan tembok dicangkul. Keadaan kampung belum tertata. Saya juga terkesan ketika melihat begitu banyak babi berkeliaran. Beberapa di antara babi itu mendengus-dengus mendekati rombongan kami.
Saya meyakini tipikal masyarakat yang jarang bersentuhan dengan orang luar ketika melihat mereka, orang-orang kampung, sangat antusias melihat kedatangan kami.
Penduduknya sangat ramah. Sayangnya, karena mereka lebih banyak dengan bahasa local yaitu bermate-mate –salah satu bahasa dalam kelompok bahasa Bidayuh, saya jadi kurang nyambung.
Namun demikian, kunjungan ini telah menambah wawasan kami mengenai ada kampung di pinggiran dunia modern yang masih berkutat pada keterbelakangan. Kunjungan ini mengingatkan saya bahwa pemerintah masih harus lebih banyak berusaha memperhatikan semua rakyatnya, bukan hanya rakyat di perkotaan.


Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Tanjung Bunga

Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Sejak awal mendapat tugas menjadi pengawas satuan pendidikan pada ujian nasional sekolah menengah atas (UN-SMA) 2010, saya memang sudah membayangkan akan ‘nyambil’ melakukan penelitian.
Oleh sebab itu, ketika diminta memilih, saya pun memilih lokasi di SMA yang daerahnya belum pernah saya kunjungi. Di antara banyak kecamatan di Sanggau –kebetulan dosen STAIN kebagian mengawasi Sanggau, mulanya saya memilih antara Toba dan Beduai. Saya belum pernah ke sini. Tempatnya jauh.



Namun, setelah saya melihat peta, saya mengurungkan niat memilih Toba. Toba terdapat di selatan Kapuas, tidak jauh dari Tayan. Banyak tempat di selatan yang sudah saya datangi.
Akhirnya saya memilih Beduai. Tempatnya di sekitar perbatasan. Saya mengajak Ibrahim memilih tempat yang sama. Bagaimanapun ini sesuai dengan studi Ibrahim. Ibrahim sedang menulis disertasi tentang relasi etnik di Badau, yaitu perbatasan Kapuas Hulu-Lubuk Antu, Malaysia. Studi tentang perbatasan Sanggau-Serian, Malaysia, pasti akan menambah kaya wawasan penelitian Ibrahim. Dia setuju dengan pendapat itu.
Namun, dua minggu menjelang keberangkatan ke lokasi, kordinator pengawas dari STAIN, Hermansyah memberitahukan bahwa Beduai bukan menjadi daerah penyelenggara ujian. Kami dipindahkan ke Kembayan. Kembayan juga masih termasuk wilayah perbatasan; jarak ke Entikong juga tidak jauh amat. Saya juga belum pernah singgah di Kembayan, sekalipun belasan kali sudah lewat daerah ini setiap kali ke Malaysia.
Pada hari pertama di Kembayan, kami menelusuri informasi mengenai kampung-kampung tua dan eksotik. Kami ditunjukkan nama kampung: Kuala, sebagai kampung Melayu yang tua di Kembayan. Kami juga ditunjuk nama kampung: Ntawak Mate; sebagai kampung Dayak yang sesuai.
Kami mengunjungi Kuala pada hari kedua. Banyak data menarik yang kami dapatkan. Setelah mengunjungi kampung ini, seorang guru menyarankan kami mengunjungi Tanjung Bunga. Katanya, Tanjung Bunga adalah kampung Melayu yang dikelilingi kampung orang Dayak.
Tertarik dengan informasi ini hari itu juga setelah ujian kami ke Tanjung Bunga. Perjalanannya lumayan jauh. Mulanya kami melalui jalan beraspal mulus. Kemudian, setelah 15 menit perjalanan, jalan mulus berganti jalan bergelombang. Kubangan lumpur di sana sini. Perjalanan jadi lambat.
Tapi, walau lambat, sebenarnya baik juga. Dengan begitu saya bisa melihat sawah-sawah orang Sembayang di kiri kanan jalan. Orang Sembayang itu termasuk orang Dayak. Orang Dayak yang bersawah; bukan orang Dayak yang ladang berpindah. Mereka sedang panen.
Jauh kami berjalan, kami sampai di bendungan Merowi. Saya hampir meloncat: Merowi. Nama itu sering saya dengar. Ini nama bendungan besar di Kalbar yang dikerjakan beberapa waktu lalu untuk kepentingan irigasi sawah. Belakangan, ternyata proyek miliaran rupiah ini kurang berhasil.
Saya naik ke atas tanggul bendungan. Melihat takungan air yang membentuk danau. Ada seorang warga sedang memancing. Saya mendapatkan cukup banyak informasi dari dia.
Berkali-kali saya mengucapkan syukur. Terpikirpun tidak saya bakal datang ke bendungan Merowi. Tidak ada rencana. Bahkan, saya juga lupa kalau bendungan ini di Kembayan. Tahunya, bendungan itu di Sanggau. Ini… tanpa sengaja saya telah sampai di bendungan ini.
Setelah puas mengamati bendungan Merowi, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bunga.
Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah kampung. Motor berhenti di depan sebuah toko. Ada dua orang wanita tua, seorang lelaki tua, dan seorang wanita muda, sedang duduk di lantai di kaki lima. Ibrahim masuk ke toko membeli air mineral.
Saya kira kami sudah sampai. Tukang ojek yang membawa Ibrahim juga berpikir begitu.
Tetapi, ternyata belum. Saya tahu itu setelah mendengar tukang ojek berbicara dengan seorang wanita tua yang duduk di teras. Meskipun mereka menggunakan bahasa kelompok Bidayuh, tetapi, intinya dapat saya pahami. Wanita itu menjelaskan bahwa tempat kami berhenti sekarang itu bukan Tanjung Bunga.
“Ini Tanjung Pisang. Tanjung Bunga di sana lagi”.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan kampung yang bersemen. Rumah penduduk di kiri kanan berbentuk rumah panggung. Kebanyakan dari bahan kayu. Rumah begini mengingatkan saya pada rumah-rumah di kampung di Kapuas Hulu.
Lalu, kami berhenti di sebuah rumah di dekat jembatan. Tukang ojek memberitahu kami sudah sampai.
“Inilah Tanjung Bunga”.
Saya sempat terkejut. Saya tidak melihat ada plang yang menunjukkan Tanjung Bunga dan Tanjung Pisang. Sepertinya bersambung. Rumah penduduk juga nampak sama. Penduduk juga nampak sama.
Saya berjalan ke jembatan.
“Tanjung Bunga batasnya di sini. Di seberang, kampung lain lagi. Itu, Tanjung Harapan”.
Kami berpatah balik. Masuk ke sebuah lorong sebelum jembatan, tidak jauh dari rumah tempat kami berhenti sebelumnya.
Beberapa wanita tua sedang duduk di teras. Beberapa anak kecil bermain di halaman. Tidak jauh dari tempat itu, tiga lelaki sedang menimbang karet. Tukang ojek menyapa mereka menggunakan bahasa Melayu.
Kami berhenti di tempat mereka. Saya menggali informasi mengenai tiga kampung tadi. Rupanya, tiga kampung yang bersambung-sambung ini berbeda bahasa. Tanjung Pisang berbahasa Bidayuh, Tanjung Bunga berbahasa Melayu, Tanjung Harapan berbahasa Ahe. Agama juga beda. Tanjung Pisang beragama Katolik, Tanjung Bunga beragama Islam dan Tanjung Harapan beragama Protestan.
Melihat latar belakang ini, saya rasanya mau meloncat. Luar biasa. Tiga komunitas berada di ruang yang sama. Pasti menarik mengamati interaksi mereka. Pasti banyak data yang menarik dari relasi mereka.
Sayangnya, belum banyak data yang dikumpulkan, kami harus pulang. Saya mengajak tukang ojek cepat-cepat pulang karena melihat suasana kian gelap. Mendung. Kalau sempat terperangkap hujan, mungkin kami harus bermalam. Padahal, besok kami masih harus mengawasi ujian.
“Kita harus ke sini lagi, Him”.
Ibrahim seiya. “Ya, kita harus ke sini lagi. Nanti”.
Perjalanan ke Tanjung Bunga benar-benar mengesankan.


Baca Selengkapnya...

Selasa, 30 Maret 2010

Menggali Jalan

Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Malam itu, beberapa waktu lalu, saya melintas di Jalan Karet, Pontianak Barat. Waktu itu pas tengah malam. Biasanya, kalau saya melewati jalan ini tengah malam--pukul 12 ke atas, jalan ini sepi. Hanya sesekali saja saya berlimpasan dengan pengandara lain.
Kala tengah malam, jalan ini sudah mati. Seingat saya, jika pulang jejak dini hari begini, paling-paling ada tiga tempat yang menyisakan kehidupan di jalan ini.


Pertama, di mulut jalan, di persimpangan Jalan Kom Yos Sudarso. Di sini ada warung gerobak. Di warung ini ada jual mie instant, susu termasuk energen dan sejenisnya, gula, rokok dan korek api, obat nyamuk dan permen. Di sini juga ada jual bensin dan layanan tambal ban. Saya tidak tahu persis sampai jam berapa warung ini tutup. Karena sepanjang lewat kalau malam hari warung ini masih buka. Cuma kadang-kadang, kalau saya singgah beli mie instant, saya harus membangunkan penjual yang ketiduran. Kadang-kadang juga di depan warung ini dijadikan tempat nongkrong sejumlah orang.
Selain itu, di bagian tengah Jalan Karet, di dekat komplek Didies juga terdapat warungkecil menjual bensin dan tambal ban. Warung buka juga sampai sangat larut. Jadi walaupun pemiliknya tidur, bensin tetap diletakkan di atas rak. Orang yang perlu bensin, bisa membangunkan penjaganya yang tidur di warung kecil itu.
Setelah melewati kebun kelapa yang gelap, ada komplek perumahan di sekitar simpang Jalan Karet – Tabrani Ahmad, di sana ada penjaga malam. Penjaga itu seorang lelaki tua, sering saya lihat duduk di kursi di depan pos jaga. Kadang-kadang dia terlihat membakar-bakar sampah.
Nah, malam itu beda. Saat saya melintas tidak jauh dari persimpangan Kom Yos Sudarso, saya melihat ada sekatan di Jalan Karet.
“Heh, apa ya?!”
Saya terkejut. Ada orang jongkok di jalan. Tiga orang. Di bagian pinggir jalan ada sepeda motor dihidupkan lampunya. Lampu dari motor itulah yang menjadi penerangan orang yang jongkok. Mungkin kalau tidak ada lampu itu, orang yang jongkok di jalan tidak akan nampak.
Apa yang mereka buat? Ternyata mereka sedang menggali jalan. Mereka menggali aspal yang mulus dari sebelah kiri ke kanan. Ukurannya lima centi meter. Lubang kecil ini digunakan untuk memasukkan paralon kecil. Paralon itu dari rumah mereka ke parit Sungai Serok--parit besar di pinggir Jalan Karet. Gunanya, untuk menyedot air parit agar masuk rumah, agar mereka dapat mandi dengan mudah tanpa harus pikul-pikul air.
Walaupun saya mengerti mengapa mereka melakukan itu, namun, saya merasa geram juga.
“Uh, enak saja orang itu. Jalan sudah bagus, mereka buat rusak”.
Ya, mereka menggali jalan yang sudah mulus.
Memang setelah digali mereka tutup kembali, namun, karena mereka menutupnya dengan batu kecil, upaya mereka ini tidak membuat jalan jadi mulus kembali. Ya, setelah mereka gali jalan menjadi rusak. Jelek.
Namun, meski begitu, herannya pemerintah tidak risau pada soal ini. Pemerintah tidak menegur warga yang merusak jalan yang sudah mulus. Nampaknya, pemerintah membiarkan begitu saja. Nampaknya setali tiga uang. Padahal, mereka bisa melakukannya. Pemerintah bisa menegur warga yang merusak jalan. Bahkan, bila perlu meminta pertanggngjawabannya. Tapi…
Saya jadi mengeluh: Itulah pemerintah kita. Pemerintah kita memang kurang dapat dan kurang mau melihara.


Baca Selengkapnya...

Mengapa Makan Nasi?

Oleh: Yusriadi

“Sebaiknya masyarakat kita diajarkan untuk tidak makan nasi lagi”.
Itu saran yang disampaikan seorang teman -- seorang akademisi, beberapa waktu lalu. Ketika itu kami sedang santap siang di Hotel Gajahmada, Pontianak, usai workshop.
Saya cukup terkejut juga mendengar gagasan itu. Hampir saya menganggap saran itu setengah merayau. Sebab, bayangkan saja orang enak-enakan makan nasi, tiba-tiba disuruh makan roti, sagu, atau kentang, ubi jagung, dan sejenisnya.

Saya masih ingat betul ungkapan orang tentang hidup dan makan nasi ini.
“Kalau masih mau makan nasi, jangan na’ macam-macam”.
“Apa kau tak mau makan nasi lagi?”
“Kau kira nasi sudah tak enak ke?”
Kata-kata itu sering saya dengar kalau seseorang setengah bercanda mengancam orang lain.
Secara awam, masyarakat kita menganggap nasi dianggap sebagai bagian dari kehidupan. Malah hakikatnya, bagi sebagian orang, hidup adalah nasi!
Karena itu, gagasan yang disampaikan teman tadi jelas tidak mencerminkan realitas budaya masyarakat. Malah sebaliknya, gagasan ini meloncat beberapa jauh ke keluar. Saya sebut beberapa jauh karena komunitas lain sudah banyak yang tidak tergantung pada nasi. Mereka ada makanan lain sebagai alternative.
Saya jadi tertarik menyusuri logika teman tadi, dengan pertanyaan logika di balik.
“Mengapa orang tidak baik lagi makan nasi?”
“Nasi terlalu mahal. Coba hitung biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan sebiji’ nasi ni.”
Dia mencongkel tumpukan nasi di dalam piringnya, lantas berdalil: Katanya, untuk menanam padi perlu lahan yang sangat luas. Menanam padi tidak cukup tanah satu kapling. Perlu satu hektare. Proses menanam dan memelihara juga agak repot. Mulai membuka lahan hingga mengolah bulir padi menjadi beras.
Meskipun penjelasannya sepintas lalu, namun, saya dapat mengikuti alur pikirnya. Iya, saya ingat kalau sudah musim beladang, orang mulai menebas, menebang, membakar, menugal, merumput, menjaga buah padi, panen, memisahkan bulir dan tangkai, hingga menjemur dan menumbuk (menggiling) padi. Tak bisa dihitung biaya operasionalnya. Dan saya kira belum pernah diperhitungkan secara terperinci.
Lagian, masyarakat petani biasanya tidak menghitungnya. Umumnya mereka melaksanakan ritualitas berladang, mengerjakannya tanpa memikirkan semua itu. Mereka sudah menganggap semua itu bagian dari rutinitas yang harus dijalani.
Ada juga sesekali saya dengar orang bilang: “Padi tahun ini meleset. Nyalah. Kalau diitung, buang tulang”.
Tetapi, perhitungan yang teman saya buat, bahwa ongkos kerja produksi padi, besar, sangat masuk akal. Setidaknya, katanya, ongkos itu lebih besar dibandingkan dengan kalau orang menanam kentang. Lahan tidak perlu luas benar, pemeliharaan juga tidak terlalu rumit. Oleh sebab itu, saya kira gagasannya memang baik dipikirkan.
Saya bisa membayangkan jika kemudian kita semua beralih makanan pokok: dari padi ke kentang. Atau mungkin makan sagu, gandum, atau ubi. O walah, pasti seru. Bayangkan, selama ini banyak dari kita yang hanya makan nasi. Kita sering mengatakan belum makan kalau belum ketemu nasi. Hatta, kue mue, makan bubur saja kadang dianggap belum makan. Dalam terminology kita: makan adalah makan nasi. Makan yang lain tidak dianggap makan nasi.
Orang baru berkurang-kurang makan nasi kalau sudah kena diabet atau lagi diet. Pada saat seperti ini mereka tidak lagi tergantung pada makanan pokok itu; tapi sudah bisa beralih kepada makanan lain yang lebih aman. Bisa juga toh?



Baca Selengkapnya...