Tampilkan postingan dengan label Sungai Kakap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sungai Kakap. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Perjalanan ke Sungai Kakap 1: Berkenalan dengan Penjual Pengkang


Lisan, Aheng dan Nisa, tiga anak berbeda suku sedang bercanda di sela-sela kegiatan mereka menjual pengkang di Sungai Kakap. FOTO Dedy Ari Asfar

Oleh: Yusriadi

“Aku Cina asli, lho”.
“Aku Cindai. Cina Dayak”.
Lisan, Aheng, menyebutkan identitas mereka. Ini terjadi ketika kami berkenalan. Dan ketika kami tanyakan, “Kamu orang apa?”
Lisan, adalah seorang remaja tanggung. Berusia 12 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 2 SMP di Sungai Kakap.
Adapun Aheng, temannya, berusia 11 tahun, kelas 1 SMP di Kakap.

Kami berkenalan hari Minggu (17/7) kemarin. Saat itu saya bersama Dedy Ari Asfar dan sejumlah teman dari Club Menulis berkunjung sambil mencari data tentang orang Tionghoa di Kakap. Kami berkunjung ke Pekong Terapung yang terdapat di laut dekat muara Kakap. Kami juga berkunjung ke Vihara Dewa Laut Utara yang terletak di tengah pasar Sungai Kakap.
Kami mendatangi vihara itulah setelah bertemu dengan pengurus vihara Pak Kui. Ketika sampai di tempat ibadah itu, saya dan Dedy memilih duduk di kursi yang tersedia di bagian depan, melihat-lihat orang sembayang. Saat itulah kemudian datang Lisan, Aheng dan Nisa.
Mereka bertiga menjajakan pengkang. Makanan berbungkus daun pisang. Isinya pulut yang dikukus. Lalu kemudian dibakar. Saya mengenal pengkang sejak beberapa tahun lalu, saat singgah di rumah pengkang di Segedong, dalam perjalanan ke Pontianak. Jarak Segedong Pontianak lebih kurang 40 menit perjalanan dengan motor. Di sini ada rumah pengkang milik orang Tionghoa.
Rumah pengkang ini ramai. Enak. Rumah inilah yang menyebabkan pengkang menjadi lebih dikenal belakangan ini di Pontianak.
Lisan dengan bangga mengatakan dirinya sebagai Cina asli. Sedangkan Aheng nampak juga ceria mengaku diri sebagai cindai. Mereka menegaskan identitas itu beberapa kali. Apatah lagi, ada Nisa seorang anak perempuan yang mengaku diri sebagai Melayu. Nisa berumur 9 tahun.
Dibandingkan Lisan dan Aheng, Nisa lebih banyak cerita. Nisa juga menceritakan mereka memiliki teman lain yang juga jualan pengkang. Namanya Iing, seorang anak perempuan berusia lebih kurang 12 tahun. “Iing malu,” katanya.
Sebenarnya, Dedy yang pertama memanggil mereka saat melintas di depan vihara. Mereka menghampiri.
“Beli bang?”
Mereka menawarkan pengkang pada Dedy.
“Siapa yang punya?”
Nisa menjawab tangkas, “Yang punya orang Cina. Yang buat orang Melayu”.
Dedy mengeluarkan catatan.
“Hah, ditulis lagi,”
Nisa bergumam. Tertawa.
“Lhoh?”
“Iya tadi sudah ada yang tanya-tanya. Ditulis-tulis. Sekarang ditulis lagi,” katanya sambil tersenyum.
Lisan dan Aheng membenarkan.
Dedy mulai bertanya harga. Dan dia membeli beberapa buah pengkang. Nisa mengatur pembelian. Masing-masing diambil secara rata. Lisan dan Aheng setuju.
Pertanyaan Dedy dan saya lebih banyak ditujukan pada Lisan. Lisan sudah mulai terbiasa. Tidak malu seperti awal tadi.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Kakap 2: Senang Disebut Tionghoa

”


Vihara Budha Kutub Utara.
Tempat sembayang penganut Buddha dan Khonghucu di Sungai Kakap. Vihara ini menjadi symbol identitas Tionghoa di wilayah ini. FOTO Dedy Ari Asfar/Borneo Tribune

Oleh: Yusriadi

Lisan mengaku dia berjualan setiap hari Minggu. Hari Minggu dia bisa berjualan karena hari libur. Sedangkan pada hari lain dia bersekolah. Sekolah pulangnya siang. Setelah itu dia harus belajar.
Pada hari Minggu, setiap berjualan, dia bisa menjual 100 buah pengkang. Jika dinilai dengan rupiah, dia mendapat Rp100 ribu. Tapi sebagian besar harus disetorkan kepada pemiliknya. Sebagai penjual dia hanya mendapat 15 persen, terhitung upah.
“15 persen, ya, 15 ribu, doang,





Saya tak bisa menilai besar atau kecil Rp15 ribu itu. Namun, berapapun, Lisan menunjukkan diri sebagai anak yang berbakti, membantu orang tua. Lisan menunjukkan walau masih kecil dia bisa mencari uang.
Lisan mengaku uang yang diperoleh adalah untuk membantu keluarga. Dia memiliki 4 saudara. Dia adalah anak ke-empat dari saudara itu. Ayahnya sudah tidak ada. Kini dia bersama emaknya. Mereka orang Tiocuw.
Selain soal hitungan dan kemampuan Lisan, saya juga memberi catatan khusus pada kata “doang” yang diucapkannya. Doang itu tidak biasa saya dengar diucapkan oleh penutur Melayu di Pontianak. Doang adalah partikel sintaksis yang lazim dipakai penutur bahasa Melayu Jakarta. Di mana Lisan mendapatkannya? Apakah melalui TV atau melalui interaksi dia dengan penutur lain?
Logat Melayu Lisan cukup baik. Sekalipun, beberapa aksen memperlihatkan perbedaan dibandingkan penutur yang lain. Mungkin karena dia banyak bergaul dengan penutur bahasa Melayu. Setidaknya, teman mainnya Nisa yang merupakan penurut bahasa Melayu; dan mungkin penutur Melayu lain di sekolahnya.


***

Apa yang saya amati pada Lisan, mengingatkan saya pada apa yang saya lihat pada orang Tionghoa lain di Kakap.
The Dek Kui. Dia Ketua Vihara Buddha Kutub Utara (bukan Dewa Laut Utara, seperti yang ditulis kemarin). Kami menjumpai di rumahnya di ujung Jembatan Bintang Tujuh; jembatan yang melintang di atas Sungai Kakap. Jembatan ini menghubungkan Dusun Merpati dengan Pasar Sungai Kakap.
Pak Kui lahir di Pontianak. Sewaktu kecil dia sekolah di sekolah Tionghoa di dekat Gertak I Pontianak. Namun tidak selesai. Setahun hampir selesai belajar, sekolah ditutup. Peristiwa G30 S PKI meletus. Menikah dengan orang Sungai Kakap. Pernikahan inilah yang mengantarkannya menjadi orang Sungai Kakap hari ini.
Di Sungai Kakap menurutnya, jika di wilayah pasar 90 per sen itu orang Tionghoa. Komunitas ini memiliki tiga identifikasi. Ada yang menyebut ‘Cin’, ‘Cina’ dan ‘Tionghoa’.
“Sebutan Tionghoa agak baru saya dengar. Satu-satu pejabat yang pakai. Camat, polisi,” katanya.
Sebutan Cin lebih sering digunakan. Begitu juga dengan sebutan Cina. Sebutan Cina pasar lebih banyak dipakai kalangan muda.
Ketika ditanya dari tiga sebutan itu, mana yang lebih disukai, Pak Kui mengatakan dia lebih suka sebutan Tionghoa.
“Disebut Tionghoa, agak senang dikit,” katanya sambil tersenyum.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 4: Kental Nuansa Tionghoa


Simbol Tao di ujung jembatan Bintang Tujuh. Rumah-rumah penduduk di kampung ini memperlihatkan ciri Tionghoa yang mencolok. FOTO Yusriadi/Borneo Tribune.
Kental Nuansa Tionghoa

Oleh: Yusriadi


Kami – saya dan Dedy Ari Asfar melintas di jembatan semen di antara rerumahan penduduk di Dusun Merpati.
Di ujung jembatan terlihat sebuah plang bertulis nama dusun itu. Plang itu nampaknya masih baru.
Selain plang itu, sebuah plang lain yang mencolok terdapat di kanan jalan. Symbol Tao. Simbol itu terpajang di depan sebuah rumah menghala ke arah jembatan.
Jika dahulu, sebelum sedikit-sedikit belajar tentang orang Cina, mungkin saya akan berpikir di sana ada tempat latihan silat. Atau mungkin saya berpikir plang itu menjadi panangkal hantu dan menjadi pelindung pemilik rumah.




Setidaknya, begitulah yang saya tangkap kesannya ketika melihat film kungfu, Hongkong yang diputar di bioskop.
Lebih mengesankan, ketika kami mendengar dentuman musik Cina. Mungkin nyanyian itu dalam bahasa Mandarin. Mendengar nada dan lirik ini membuat suasana Dusun Merpati terkesan kenal ciri Cinanya.
Suasana ini berbeda sekali dibandingkan dengan apa yang disaksikan di Pasar Sungai Kakap, tempat kami singgah -- yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari jembatan Bintang Tujuh.
Dentuman musik, symbol Tao, dan tulisan-tulisan Cina yang dipasang di atas pintu menambah kesan kentalnya identitas Tionghoa di sini. Boleh dikatakan, inilah wilayah pecinan di Sungai Kakap.
Kami melihat seorang lelaki berusia 40 tahun sedang berada di ruang tamu memasang batu pada jala kecil. Kami menghampirinya, bertanya alamat rumah Pak Kui.
Dia menunjukkan sebuah rumah yang pintunya juga terbuka, yang sebelumnya sudah kami lewati.
Sikap yang ramah ketika menunjukkan di mana rumah Pak Kui, membuat saya ingin bertanya lebih banyak tentang kehidupan dan pandangan dia. Namun, saya khawatir Pak Kui ada kesibukan lain dan kami tak bisa mendapatkan data darinya. Pak Kui penting karena dia ketua Vihara yang akan kami kunjungi bersama rombongan.
Rumah Pak Kui – atau lebih tepatnya ruko, berdinding semen. Pintunya terbuat dari kayu, bisa dilipat. Ada engselnya. Sementara terasnya juga dari semen. Rumah itu berlantai dua. Saya kira bagian atas menjadi tempat wallet.
Rumah Pak Kui berbeda dengan kebanyakan rumah warga di sini. Sebagian besar rumah warga di sini terdiri dari bahan kayu. Beberapa di antaranya berdinding papan. Lantai terasnya juga dari pakai papan. Kebanyakan rumah beratap seng. Tetapi ada beberapa lagi beratap daun nipah.
Rasanya sebagian rumah itu sama seperti rumah orang Cina di Jongkong yang saya lihat di tahun 1980-an.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 3: Cerita Pak Piling


Oleh: Yusriadi


Kenyataan yang sedikit berbeda diceritakan Gui Bah Yem. Dia berusia 50 tahun. Masih terhitung sepupu dengan The Dek Kui. Ibu The Dek Kui bermarga Gui juga.
“Dia punya Mamak, aku punya tante,” akunya.
Gui Bah Yem tidak menjadi pengurus vihara. Dia juga bukan pemuka masyarakat. Dia orang biasa. Dahulu pekerjaannya nelayan. Namun, tiga tahun terakhir ini dia bekerja di kebun sawit di Darit. Perjalanan ke Kakap 3




Hasil kebun memang tidak banyak. Sehari diupah Rp34 ribu termasuk makan. Namun, bagi dia jumlah sudah cukup lumayan. Dia dan istrinya juga bekerja. Karena itu satu hari bisa memperoleh Rp68 ribu. Sedangkan untuk makan mereka berbekal dari rumah. Jadi lebih hemat.
“Hasilnya juga lebih pasti”.
Dia membandingkan ketika masih aktif di laut. Hasil melaut tidak tentu. Kadang bisa lebih banyak, tapi kadang tidak. Hasil dari laut susah diperkirakan. Malah kadang kala dia tidak bisa melaut karena cuaca. Karena tidak melaut maka tak ada jugalah hasilnya.
Mengapa memilih Darit?
“Ikut keluarga”.
Keluarga yang dimaksudkan Gui Bah Yem adalah keluarga istrinya. Istrinya orang Darat, katanya. Sebutan lain untuk orang Dayak.
Ketika ditanya bahasa apa yang dipakai orang Darat itu, ternyata bahasa Banyadu’. Bahasa ini lebih dekat dengan bahasa Ahe. Malah ada yang mengelompokkan kedua bahasa ini sama, dalam kelompok Kanayatn. Perbedaannya sedikit saja. Tidak ada banyak hambatan untuk memahami antara Ahe dan Banyadu’.
Gui Bah Yem sekarang hidup dalam budaya Banyadu’. Sehari-hari bahasa itulah yang dipakai.
Hidup dalam budaya Banyadu’ membuat identitasnya bertambah. Di antara orang Banyadu’ dia dipanggil Pak Piling.
“Itu nama anak saya,” katanya.
Orang Kanayatn memang memiliki cara unik dalam system sapaan. Seseorang memiliki banyak nama. Nama ketika masih anak-anak hingga memiliki anak berbeda. Berbeda juga nanti bila sudah mempunya cucu. Seseorang akan selalu dipanggil mengikuti nama anak pertama. Agak janggal atau bahkan dianggap kurang sopan memanggil nama asli seorang lelaki atau seorang perempuan yang sudah memiliki anak.
Ketika ditanya, apa pendapat tentang kata Tionghoa? Gui Bah Yem mengaku tidak pernah mendengar kata itu.
Dia kenal kata ‘Cina’ atau ‘Cin’. Dia diidentifikasi sebagai orang Cin. Tak pernah diidentifikasi sebagai orang Tionghoa.
“Orang tanya saya, kamu orang Cin ya. Cina juga pernah. Gitu yak”.
Gui Bah Yem merasakan Cin atau Cina sama saja.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 6: Apapun, Tetap Orang Indonesia


Pekong Laut. Salah satu tempat sembayang orang Tao di Sungai Kakap. Foto Dedy Ari Asfar.

Oleh: Yusriadi


Pak Lim Kiang Kim menilai apapun sebutan yang diberikan orang untuk mereka, semua bagus. Menurutnya, sebutan Cina, Cin, Tionghoa, sama saja.
“Aku tidak marah. Bagi aku ndak persoalan, Cina, Cin”.
Bahkan dia memberitahu ada sebutan lain untuk komunitas ini.
“Caines”.

Sebutan Caines yang dikatakan Pak Lim Kiang Kim pasti dari bahasa Inggris Chinese, bisa dirujuk kepada orang Cina.
Saya sangat tertarik mendengar ‘Caines’ diucapkan Pak Lim. Dari mana dia memperolehnya? Apakah dia bisa bahasa Inggris?
“Aku tak pandai omong. Sikit-sikit pernah dengar” .
Dia merendah.
Pak Lim Kiang Kim pernah bersekolah. Tahun 1960-an. Sekolah pagi masuk jam 8, jam 12 pulang. Kemudian jam 1 masuk lagi, jam 5 pulang.
Namun dia tidak tamat. Sekolahnya tutup. Padahal sekolah hampir tamat waktu itu.
Walau tak tamat namun ilmu di bangku sekolah cukup untuk bekal hidup. Lim Kiang Kim dapat membaca tulisan aksara Cina. Ketika saya minta menuliskan namanya, dia menulisnya dalam tulisan itu. Padahal sebenarnya saya ingin dia menulis namanya dalam tulisan latin, biar tak salah tulis. Tapi melihat tulisan Cinanya, saya kagum sekali. Garis-garis yang dibuatnya rapi. Dia menulis dengan cepat.
Pengalamannya juga luas. Dia pernah menjadi pengusaha ikan. Dahulu dia memiliki kapal penangkapan ikan yang beroperasi di perairan sekitar Sungai Kakap. Sekarang, seiring pertambahan usia, dia berhenti. Di rumah saja.
“Sekarang sudah pensiun,” Dia bercanda.
Tapi usaha melautnya tidak berlanjut. Anak-anaknya tidak ada yang menjadi pelanjut usahanya di laut. Tiga anaknya di Jakarta. Berdagang di sana.
Meski sudah pensiun, namun saya masih menangkap kerinduannya pada laut. Menurutnya, laut sekarang masih menjanjikan. Sekarang, sekalipun tangkapan tidak sebanyak dahulu namun harga ikan sangat mahal, pembeli banyak. Sedangkan dahulu, banyak ikan yang dapat ditangkap, tapi susah mencari pembelinya. Karena itu, harga ikan murah, tak banyak hasil yang mereka peroleh.
Pak Lim Kiang Kim optimis. Semangatnya tinggi.

***
Mengenai identitas, apapun sebutannya, kata Pak Lim Kiang Kim, mereka tetaplah orang Indonesia keturunan Cina, keturunan Tionghoa.
Tapi dia mengakui ada di kalangan mereka yang merasa hina disebut Cina.
Lalu mengapa dia tidak merasa tersinggung? Katanya, kata Cina, memang ada.
“Cobalah lihat ada banyak barang ‘Made In China’,” katanya.
Berkenalan dengan Pak Lim Kiang Kim mengingatkan saya pada ungkapan kenalan saya beranama Dr. Taufik Tanasaldy. Dia orang Mempawah yang sekarang mengajar di sebuah universitas di Tasmania, Australia.
Dia orang Cina yang merasa heran dan janggal ketika saya menggunakan istilah Tionghoa padanya. Taufik yang merantau meninggalkan Kalbar sejak tahun 1980-an akhir tidak terbiasa dengan perubahan ini.
Saya kira, intinya bukan cin, cina atau tionghoa. Tetapi bagaimana persepsi yang ada pada orang ketika menyebut komunitas ini.
“Jika kami bilang “Dasar Cina!!!” tentulah orang akan marah. Sama seperti kalau kamu bilang “Dasar Melayu!!! Pasti orang Melayu tak mau”.
Agaknya,bagi banyak orang disebut Cina sekalipun, jika nadanya baik, maksudnya baik, orang juga tidak akan marah.

Baca Selengkapnya...

Perjalanan ke Sungai Kakap 7 (Habis): Relasi Tionghoa – Melayu


Rombongan Club Menulis STAIN Pontianak dalam perjalanan pulang dari Pekong Terapung di Sungai Kakap. FOTO Yusriadi.


Oleh: Yusriadi


Saya sedang berjalan melintas di atas jalan bersemen di depan pemukiman penduduk di Dusun Merpati, Sungai Kakap. Saya melihat beberapa warga sedang duduk di depan rumah mereka. Beberapa lagi melakukan kesibukan masing-masing.
Lalu lalang di jalan berukuran 1,5 meter ini juga cukup ramai. Ada pejalan kaki –seperti kami. Ada gerobak yang didorong-dorong. Ada sepeda motor.


Suasana tambah ramai karena agaknya sedang ada hajatan orang Melayu (Bugis?) di ujung jalan ini. Saya menduga demikian karena orang yang melintas berpakaian ‘pesta’. Lelaki memakai baju batik atau baju berlengan panjang, ada beberapa yang memakai kopiah. Sedangkan perempuan berkerudung mengenakan baju kebaya atau batik terusan.
Gerobak sesekali melintas membawa barang. Inilah angkutan umum di sini. Sebab jalan yang sempit dan jembatan, tidak mungkin dilewati kendaraan roda empat.
Di sebuah rumah bertingkat, saya melihat ada tumpukan jalan. Di dalam ruangan – karena pintu terbuka, dua orang lelaki sedang menangani jala itu. Keduanya duduk berhadapan.
Saya masuk ke dalam rumah itu. Lelaki yang sedang bekerja di bagian ujung lebih tua sedangkan lelaki yang membelakangi saya lebih muda. Belakangan saya tahu, lelaki muda itu bernama Muhammadi Aditia dan lelaki yang tua bernama Salem.
Saya menyapa mereka. Dan minta izin melihat apa yang sedang mereka kerjakan.
“Sekalian tadi jalan di sini, Pak,”
“Saya kira orang perikanan,” kata Pak Salem.
Katanya sebelum ini mereka pernah didatangi orang dari Perikanan.
Kedua lelaki itu sedang gopong. Ngopong maksudnya memasang pelampung dan juga memasang batu pukat. Pukat yang mereka opong ukurannya besar. Mata pukatnya lebih sejengkal saya. Tali yang dipakai juga besar. Hampir sebesar kabel untuk cas hape. Mereka menyebutnya benang 120.
Mengapa besar?
“Ini pukat hiu,” katanya.
Tentu saja saya terkejut. Apakah di sekitar muara Kakap atau di laut Kalbar ada banyak ikan hiu sehingga perlu pukat khusus? Ternyata tidak. Kapal yang memasang pukat hiu beroperasi di laut lepas, Selat Karimata.
Mereka juga menceritakan ikan hiu dijual dagingnya dan diambil siripnya. Siripnya cukup mahal.
Semula saya menduga mereka sedang mengopung pukat sendiri. Rupanya pukat yang mereka opong itu milik orang lain. “Pak Apek,” kata Muhamad. Mereka hanya mengambil upah. Satu pukat, mereka mendapat Rp100 ribu.
Pak Atet adalah pengusaha. Dia termasuk tokoh Tionghoa di Sungai Kakap. Ketika kami mencari beliau di rumahnya, kami hanya bertemu dengan anaknya yang juga pemilik bengkel motor di dekat dermaga Sungai Kakap. Pak Apek sendiri tidak berhasil ditemui.
Menurut mereka, pengusaha kapal semuanya orang Tionghoa. Orang Tionghoa memiliki modal. Modal untuk membeli kapal, modal itu membeli peralatan tangkap. Selain itu, untuk melaut modal yang diperlukan juga besar.
“Kebanyakan orang kitalah bikin,” kata Salem.
Saya menangkap yang dimaksud dengan orang kita adalah orang Melayu atau orang bukan Tionghoa.

Baca Selengkapnya...

Udang Merah


Oleh: Yusriadi

Hari itu, lebih satu bulan lalu, saya dan Dedy Ari Asfar mengunjungi Sungai Kakap. Kami mencari informasi tentang pekong laut dan bagaimana cara sampai di sana.
Saat berada di dermaga Sungai Kakap, kami bertemu dengan seorang perempuan berumur 40-an. Semula kami mengira dia penumpang motor air yang akan berangkat dari dermaga Sungai Kakap. Tetapi, rupanya bukan. Dia sedang menunggu barang dagangannya yang dikirim dengan motor air dari sebuah kampung di tepi laut.

Dia menduga kami orang CU. Saya tidak menggali informasi bagaimana dia menduga begitu. Kami mendiamkan saja. Lantas akhirnya jadilah kami sebagai orang CU dalam anggapan dia.
Perempuan itu berbicara dengan semangat tentang usaha kecil. Maklum, dia seorang pedagang. Dia pernah mengikuti pelatihan di Kubu Raya. Pelatihan pengembangan usaha.
Ujung cerita, dia menawarkan kami barang dagangannya.
“Saya ada udang. Masih bagus”.
“Udang saya tidak pakai pewarna”.
“Saya jual lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pasar”.
Kami mengikutinya menuju sebuah karung berisi udang yang diletakkan di depan sebuah counter hape. Dia membuka ikatannya dan mengambil segenggam udang. Udang ebi.
“Ni lihat, masih segar, tidak pakai pewarna”.
Dedy mendekati. Sepertinya dia membenarkan apa yang dikatakan perempuan itu.
“Kami beli satu kilo”.
“Saya satu kilo”.
Dia menimbang sebanyak yang kami minta. Agak repot juga karena dia sendiri tidak membawa kiloan. Dia juga tidak ada kantong. Dia menumpang pada pedagang di situ.
Selesai menimbang, saya memburunya dengan pertanyaan soal pewarna udang.
Menurutnya, sebagian nelayan memberi pewarna pada udang. Karena itu udang yang dijual jadi merah. Tetapi, dia tidak bisa memastikan pewarna apa yang dipakai. Apakah jenis jingge – pewarna makanan, atau pewarna jenis lain.
“Tidak semua orang yang mengerti. Tapi kalau pernah ikut pelatihan sih pasti tahu”.
“Mengapa diberi pewarna?”
“Ya, biar baguslah. Biar menarik”.
Penjelasan dia mengingatkan saya pada udang-udang ebi yang dijual di pasar. Memang sering kali terlihat udang yang dijual berwarna agak merah. Tapi, saya tidak dapat memastikan apakah udang itu diberi pewarna atau tidak.
Tapi saya merasa beruntung berkenalan dengan perempuan itu, beruntung karena mendapat informasi tentang praktik pengolahan udang ebi oleh sebagian masyarakat.
Informasi ini mengajarkan saya untuk lebih hati-hati membeli udang di kemudian hari. Mungkin informasi ini penting bagi orang lain yang suka membeli udang ebi. Saya kira, pemerintah juga penting mengetahui hal ini sehingga akhirnya sesekali juga mengecek kembali makanan yang dijual di pasar: memastikan apa yang dijual aman bagi kesehatan jangka panjang.

Baca Selengkapnya...