Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

Cerpen: Sampuk untuk Banin

Karya: Yusriadi

Kakinya melangkah ringan, berjinjit cepat. Secepat langkah kijang. Dia memburu waktu. Dia harus segera sampai di rumah. Istrinya, Banin, menunggu obat yang dia bawa.
Dia ujung kampung Bakik, dia tercekat. Matanya tertuju pada pantak tanda dari kayu yang diletakkan di ujung jalan kampung.
Dug!
Jamit terperangah. Dia tahu tanda itu. Itu tanda kematian.
“Siapa yang mati?”

Dia berusaha menebak. Aki Gurung? Aki Sangki? Aki Lanyuk? Dia mencoba mengabsen nama-nama orang tua di kampung itu yang keadaannya sakit dan yang keadaan agak uzur. Jamit berusaha tak memasukkan istrinya dalam daftar itu. Berkali-kali dia menepis pikiran itu.
“Banin tak masuk dalam kemungkinan itu,” bisiknya.
“Tidak. Bukan dia.”
Banin masih muda. Mereka baru menikah lima tahun lalu. Mereka baru punya dua anak, Kurat dan Tamal. Anak-anak itu masih kecil. Kurat baru pandai mengangkut air dengan gerobuk (cangkang buah kelapa yang diberi tali), sedangkan Tamal baru belajar berjalan. Tamal masih perlu menyusu.
Tak terasa langkah Jamit sampai di rumah panjang. Dia melihat rumah panjang itu ramai. Ya, setiap kematian selalu ramai. Tetangga, keluarga mara, turut berduka. Orang mengalami pantangan. Tak boleh keluar kampung jika tak perlu. Tak boleh pergi jauh jika bukan karena perkara mendesak. Melanggar pantang, nahas yang datang.
Lebih dari itu, situasi begitu membuat kekeluargaan tetap terjaga. Saling tolong. Saling bantu. Yang susah terhibur karena selalu ada teman. Tak sempat termenung sendiri. Barang yang ada dikerjakan bisa dikerjakan bersama. Semua bekerja tanpa berkira. Tenaga disumbangkan, barang makan dikeluarkan.
Kehidupan rumah panjang seperti ini dirindukan Jamit bila dia terpaksa harus tinggal beberapa bulan di ladang untuk menjaga padi.
Kesibukan di rumah panjang adalah kesibukan massal. Kesibukan semua. Karena itu ketika ada gawai dibuat, tak dapat dikira pintu siapa yang punya kerja.
Sama seperti sekarang ini, Jamit tak bisa menebak ketika melihatnya dari jauh.
Ketika jarak sepelemparan tombak dari rumah, Jamit melihat orang mengalukan kedatangannya. Mereka menyongsongnya ke halaman rumah panjang.
“Dah datang kau, Mit”.
“Iya. Syukurlah”.
“Baik-baik di jalan?”
“Lancar semuanya”.
Jamit menjawab sambil mengedarkan pandangannya. Hatinya mulai berkecamuk. Penyambutan yang diterimanya kali ini berbeda dari biasanya. Mengapa dia disambut seperti ini?
“Jangan-jangan…” Dia masih berusaha menepis.
“Bagaimana hasilnya?” Aki Jarak, seorang tetua di rumah panjang Bakik, bertanya.
“Dapat”.
Jamit menurunkan sabitnya (ambenan dari rotan). Dia mengeluarkan ikatan kayu sampuk.
“Ini…”
Kayu sampuk itu diberikan kepada Aki Jarak.
“Ya… ini kayu yang sangat berharga. Kehidupan”.
“Benar, Ki”.
“Jamit… Kehidupan kita banyak tergantung pada kayu ini. Asap kayu ini menjaga kita dan batin kita dari dedemit, gana, dan amak ungas”.
Jamit mengangguk mengerti. Dia sudah mendengar hal itu beberapa kali dari orang tua di rumah panjang ini. Malah sejak dia masih anak-anak, dia sudah tahu kayu itu, tahu kegunaannya. Kakeknya menyebut kayu itu sebagai raja obat. Neneknya mengatakan kayu ini pelindung yang baik, dan karena itu beruntunglah orang menyimpannya di rumah.
Karena itu jugalah maka ketika dia diminta mencari kayu ini di bukit Lumut, dia dapat menemukannya. Hanya, karena jarak yang jauh dan mencarinya susah, dia membutuhkan waktu 3 hari.
“Tapi, meski demikian, kehidupan kita sesungguhnya ada di tangan Dewa. Dia berada di atas usaha kita. Setiap orang akan sampai pada tahap itu. Mungkin bedanya, kapan dan bagaimana jalan masing-masing”.
Jamit mengiyakan. Banyak sudah orang-orang tua yang pergi dari kehidupan. Beberapa temannya juga sudah pergi mendahului. Bahkan, beberapa di antaranya pergi sejak anak-anak.
Tetapi … tunggu! Mengapa Aki membicarakan hal ini?
“Apa yang terjadi?” Jamit memegang tangan Aki Jarak. Tapi, lelaki tua itu tidak bersuara.
“Kik! Banin???”
“Iya, Mit. Banin. Waktunya sudah sampai. Kau harus berusaha sabar”.
Jamit mengendorkan pegangan. Kakinya lemah. Dia terjerembab ke tanah.
Aki Jarak dan beberapa lelaki menolong, membawa Jamit naik ke rumah. Sampuk yang sedianya dibawa untuk Banin, sekarang dibakar diasapkan ke muka Jamit. Aki Jarak membaca mantra, seraya berdoa semoga Jamit segera sadar.

Baca Selengkapnya...

Minggu, 18 Januari 2009

MIMPI DI BORNEO (Kumpulan Cerpen Mahasiswa STAIN Pontianak)

Mimpi di Borneo

Borneo
Tanah dengan sejuta harapan
Bermimpilah di sana dengan mimpi-mimpi indah

Jejaklah kakimu di sana
Tancapkan dengan kuat
Melangkahlah dengan tangkas
Gapailah impianmu


Oleh: Yusriadi

Mimpi di Borneo. Itulah buku berisi 11 cerita yang ditulis oleh sepuluh mahasiswa yang mengikuti kelas Feature, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, plus seorang dosen pengampu matakuliah tersebut.
Buku ini diterbitkan oleh STAIN Pontianak Press tahun 2009, dengan editor Ambaryani dan Marisa Syakirin.




Sebelas bagian itu adalah:
Pada bagian pertama, cerpen tulisan Herianto berjudul “Perjuangan Seorang Ayah”. Tulisan ini mengisahkan bagaimana beratnya perjuangan ayah membesarkan anaknya, seorang diri setelah istrinya tiada. Kisah ayah yang bertanggung jawab. Tanggung jawab ini dibawanya hingga ajal menjemput.
Bagian kedua berjudul “Wonder Women Class” karya Hardianti. Isinya, tentang sekelompok mahasiswa perempuan menghadapi godaan dan tantangan. Ada isu perkuliahan. Ada juga isu asmara.
Bagian ketiga berjudul “Kenangan di Batu Ampar” tulisan Ira Humairah. Tulisan berisi pengalaman penulis ketika mengikuti kegiatan Masa Bhakti Mahasiswa angkatan tahun 2008 di Batu Ampar. Batu Ampar, nama tempat di kabupaten Kubu Raya. Letaknya di selatan Pontianak.
Bagian keempat berjudul “Selamat Berjuang Ksatriaku” tulisan Erni Purwanti. Tulisan ini bercerita tentang percintaan aktivis muda Islam. Cinta memberi warna dalam gerakan mereka.
Bagian kelima berjudul “Liburan Kami Kali Itu” tulisan Linda Puji Rahayu. Tulisan ini bercerita tentang perjalanan penulis ke Mempawah, ibukota kabupaten Pontianak. Penulis menggambarkan lika-liku perjalanan, dan hiruk pikuk suasana. Ada bumbu lucu dan ceria, khas anak muda.
Bagian keenam berjudul “Semua Demi Orang Tua”, tulisan Badliana. Tulisan ini berkisah tentang seorang anak yang berbakti pada orang tua.
Bagian ketujuh berjudul “Ta’aruf” tulisan Marisa Syakirin. Tulisan ini bercerita tentang cinta seorang gadis yang pernah mengalami patah hati. Tulisan ini menggambarkan kepasrahan seorang anak manusia setelah mendapat cobaan yang berat dalam kehidupannya.
Bagian kedelapan berjudul “Kado Terakhir” tulisan Ambaryani. Penulis menceritakan perjalanan hidup seorang mahasiswa yang menderita penyakit jantung. Penyakit ini diketahui setelah dia dikerjain oleh teman-temannya. Penyakit itu pula yang membawa pergi meninggalkan dunia fana ini.
Bagian kesembilan “Maafkan Aku” tulisan Erika Sulistia Mayda. Kisah ini berkisar seputar kehidupan di pondok pesantren, dengan berbagai warna. Konflik hidup bersama dirangkai menjadi jalinan cerita yang menarik pada bagian ini.
Bagian kesepuluh “Mimpi di Borneo” tulisan Septian Utut. Kisah ini bercerita seputar perpindahan seorang anak dari Jawa ke Pontianak. Ada mimpi indah. Ada tekanan psikologis. Ada proses adaptasi. Tidak mudah. Namun, di balik kesulitan itu ada kebahagian yang menjumput. Anak yang terpisah dari ayah bisa berkumpul lagi. Hati yang terpisah oleh mimpi bisa menyatu dalam realiti.
Bagian kesebelas “Pilihanku” oleh Yusriadi. Bagian ini mengisahkan perjalanan hati seorang mahasiswi yang kemudian memilih temannya sendiri sebagai tambatan. Tidak instant. Tidak serta merta. Prosesnya panjang. Walaupun begitu alurnya mengalir dengan lembut dan apik. Tidak neko-neko. Tidak melanggar etika dan moral.




Baca Selengkapnya...

Rabu, 07 Januari 2009

Sebelum Tim Teknik - Tim Hukum Untan Bentrok

Oleh: Yusriadi

“Saaaayooo’. Saaaayoo’”
“Saaaayooo’. Saaayoo’”
Teriakan itu membahana. Membentuk koor. Ramai. Sebuah nyanyian. Renyah.
Teriakan itu terdengar dari kelompok mahasiswa yang kebanyakan berpakaian hitam, dengan syal warna biru laut yang diikatkan di lengan kanan.


Itu mahasiswa Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak. Mereka sedang memberikan ‘spirit’ untuk timnya – kesebelasan Fakultas Teknik, yang sedang menghadapi kesebelasan Fakultas Hukum. Kedua kesebelasan ini bertemu dalam ajang kompetisi Sepakbola Mahasiswa yang diselenggarakan FKIP Untan.
Pertandingan sore itu –20 November 2008, dilaksanakan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Stadion utama di Kalimantan Barat.
Sesekali juga terdengar yel-yel Fakultas Teknik. Lagu “Ospek”. Sesekali terdengar teriakan tak tentu-tentu.
Puluhan –bahkan ratusan mahasiswa berpakaian khusus duduk di tribun utama, bagian kanan Tribun Kehormatan. Pendukung tim Fakultas Teknik. Sedangkan, di bagian kiri Tribun Kehormatan, agaknya pendukung Fakultas Hukum. Dibandingkan pendukung Fakultas Teknik, penduduk Fakultas Hukum kalah suara. Kalah ramai. Kalah meriah.
Hari itu kebetulan saya duduk di tribun bagian kanan bersama Ibrahim. Ibrahim dosen Komunikasi, di Jurusan Dakwah di STAIN Pontianak. Saya katakan kebetulan karena sebelum masuk ke stadion saya tidak tahu kalau pertandingan yang akan saya saksikan adalah pertarungan besar. Saya datang sebenarnya hendak menyaksikan pertandingan Tim Dakwah. Ingin melihat ‘anak-anak’ main. Ingin memberikan semangat.
Tapi, rupanya Tim Dakwah sudah main. Mereka main pada pertandingan pertama. Kalah. Karena sudah terlanjur datang, saya dan Ibrahim bertahan. Tidak apa menonton pertandingan Fakultas Teknik – Fakultas Hukum.
Saya kira pertandingan pasti akan seru. Kedua tim memiliki nama dalam dunia sepak bola mahasiswa.
Dugaan saya memang benar. Pertandingan berjalan seru. Fakultas Teknik lebih unggul dalam penguasaan bola. Saya tertarik pada penampilan pemain tengah mereka. Pemain Nomor 7. Dialah pengatur irama permainan. Dia jenderal di Tim Teknik. Teknik bermainnya bagus.
Namun, pertahanan Tim Fakultas Hukum sekalipun tidak menonjol, tetapi bagus –bahkan sangat bagus. Kolektif. Meskipun sepanjang pertandingan mereka tertekan, namun tidak mudah bagi Teknik membobol pertahanan mereka. Sampai akhir pertandingan, Teknik hanya bisa unggul 1 gol saja.
Saya rasa dari sisi lain, Tim Teknik agak kurang beruntung karena seharusnya jika melihat dari keseluruhan pertandingan mereka layak menang lebih dari satu gol.
Saya kira penonton sangat puas dengan hasil ini. Pendukung Fakultas Teknik puas karena timnya menang. Pendukung Fakultas Hukum juga puas. Mereka bisa menerima kekalahan.

***

Namun, meskipun di lapangan kedua tim bermain bagus dan sportif, situasi di tribun penonton menurut saya agak keterlaluan. Olok-olokan antara kelompok di sebelah kanan Tribune dan sebelah kiri ‘luar biasa’.
Ada beberapa kali terjadi rengsekan.
“Bisa kelahi nanti,”
Saya sempat mendengar Ibrahim.
Saya mengiyakan.
Saya sempat membayangkan kalau sampai ribut bagaimana. Ada beberapa pendukung perempuan. Saya tidak melihat polisi –setidaknya polisi berpakaian seragam di sekitar kami duduk.
Sampai akhir pertandingan, suasananya aman. Saya dan Ibrahim kembali ke kantor Harian Borneo Tribune. Kami berusaha keluar lebih awal dari penonton yang lain. Takut terjebak kemacetan. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Deadlinenya sudah lewat.
Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian, sampai saya mendapat kabar keesokan harinya.
“Kampus Fakultas Hukum bederai”.
“Kaca pecah.”
“Ada keributan antar mahasiswa Teknik dan Hukum. Karena sepakbola,”
Saya langsung teringat tontonan kemarin.
Ternyata Ibrahim benar. Ternyata memang ada perkelahian.
Menyedihkan.
Lebih menyedihkan ternyata bentrok ini membuat kompetisi sepakbola secara dihentikan.


Baca Selengkapnya...

Futsal dan Buah Pisang: Psikologi Orang Kalah

Oleh: Yusriadi

“Bang Yus, lihat ini!”
Fahmi Ichwan, staf pracetak di koran kami menyodorkan koran Borneo Tribune (Selasa, 6/12), persis saat aku hendak mendudukkan badanku di kursi lipat, di ruang Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak.
Dia menunjukkan tulisan “Suara Enggang” di halaman 1 koran ini.
Tulisan Budi Rahman. Judulnya “Kemenangan Itu Enak Diomongkan”




“Ngelagak die,”
Aku diam.
“Kita ditulisnya,”
Aku mulai menebak apa maksud Fahmi.
Aku mulai membaca tulisan itu.
Pada bagian awal dia menulis tentang arti dan makna kemenangan. Lalu dia mengaitkan kesana kemari. Tersambunglah cerita dia soal timnya yang menang main futsal Minggu malam (4/1/2009).
Benar. Dia melagakkan kemenangannya itu. Dia menceritakan bagaimana timnya menang dalam permainan futsal Minggu malam.
Dan dia mengura-urakan bagaimana senangnya dia dengan kemenangannya itu.
“O, itu dia”.
“Senang benar dia.”
“Biarlah. Biar dia rajin nulis”.
“Tapi dia tak fair”.
Aku lalu menunjukkan pada Fahmi dua hal. Pertama, Budi tidak menceritakan bahwa kemenangannya didapat dengan mudah. Budi memang bermain cantik malam itu. Tanto Yakobus, tandemnya di lini depan juga bermain bagus. Gol-gol yang mereka ciptakan sangat indah. Gaya Tanto, seperti gaya Romario, pemain Brazil era tahun 80-an.
Kami kalah beruntung. Aku sudah berjibaku. Jatuh bangun. Fahmi sudah berusaha. Begitu juga Hentakun, Andi dan Edo. Tembakan kami pas-pas di gawang. Entah berapa kali membentur tiang, atau beberapa centi di atas mistar. Gawang Bang Fakun seperti diselimuti jala keberuntungan.
Budi tidak menceritkan bahwa kami kurang beruntung karena tim kami 5 orang melawan tim Budi yang berjumlah 6 orang. Bayangkan, 5 lawan 6. Bak kata, 11 pemain melawan 10 pemain. Kalau jumlahnya sama mungkin kami tidak serepot malam itu.
Kedua, Budi bikin strategi ‘kasih umpan’ di luar lapangan. Malam itu, dia membeli satu tandan pisang lemak manis di Jalan Purnama. Katanya dia keluar modal Rp11.000. Pisang itu diumpannya pada tim kami. Begitu dia datang ke lapangan, pisang itu langsung diletakkan di depan kami.
“Makan jak ii...”
Ya, tentu saja kami makan umpannya dengan lahap. Satu, dua, tiga.
Begitu Budi menawarkan pisang dengan logat Sambasnya yang agak nyangkut-nyangut. Maklum dia bukan penutur asli. Dia mengaku bisa bahasa Sambas karena pernah bertugas di Biro Sambas beberapa pekan. Tapi, dia rajin melatih bahasanya itu dengan Bang Fakun, atau Mbak Tika –yang mau melayaninya ‘berbahasa Sambas ala Budi’.
Penawarannya, gayanya, sama manisnya dibandingkan pisang lemak manis yang dibawanya.
Hasilnya memang luar biasa. Baru mulai main, kawan-kawan sudah jatuh bangun.
“Berat perut”.
“Alamak tak bise bekejar,”
Celaka dua belas.
Celake pisang.
Pisang yang di dalam perut mulai berontak ke atas bawah karena dibawa lari.
Tentu saja akselerasi kawan-kawan jadi terbatas. Gerakan tidak lincah seperti biasa –setidaknya dibandingkan pertandingan Minggu malam sebelumnya saat tim kami mengalahkan Tim Budi. –Catatan tambahan, Minggu lalu jumlah pemainnya sama banyak dan Budi tidak memberi umpan buah pisang.
Setelah selesai main, baru kami komplen pada Budi.
“Parah, kau Bud.... Pakai ilmu pisang,”
Budi hanya cengar cengir. Cupingnya kembang. Lalu dia tertawa ngakak. Lebih dahsyat dibandingkan kalau dia tertawa saat baca rubrik Skumba.
Geraaam. Rasanya, pengin aku melemparkan kulit pisang ke wajahnya.
Untung badan dia besar. Kalau kecil, pasti aku mengajak kawan-kawan mengepung Budi dan menyumpalkan pisang dengan kulit-kulitnya ke mulut itu. Biar sekalian dia tidak bisa jumawa dengan kemenangan yang menurut tim kami, tidak fair.
Ya, maklumlah, psikologi orang-orang yang kalah. Agak mudah geram.
Tak dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. Apalagi kalau melihat yang menang tertawa jumawa. Memang enak ditertawakan sebagai pecunda?
Kalau ada jalur komplen –misalnya ke Ombudsmen atau ke Mahkamah Konstitusi, tentu prilaku jumawa ini sudah kami laporkan. Tak soal akan menang atau kalah nanti.
Lalu, aku, bisik-bisik pada teman satu tim.
“Minggu depan, giliran kita umpan dia. Mungkin kita umpan dia dengan durian saja. Biar celake durian membuatnya tidak bisa mengejar bola. Lalu kita cukur habis tim mereka. Kalau perlu 10 – 0. Biar dua minggu dia tak bunyi.”
“Tak perlu Bang. Minggu depan tim kita lengkap. Bang Nur Is sudah datang,”
Nur Is adalah bek tangguh tim kami. Susah menghadapinya.
“Tak apa, kita beli pemain baru,”
“Siapa?”
“Tantra, boleh?”
Aku masem-masem. Tidak mungkin. Terlalu kecil untuk menghadang pergerakan Budi.
Mungkin lebih baik ajak Muhlis, atau Ula. Muhlis dan Ula badannya besar tinggi. Mereka bisa menghambat Budi.
Bujuk-bujuk jak.


Baca Selengkapnya...

Jumat, 05 Desember 2008

Spot Jantung di Angkutan Umum

Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

“Bis terbakar”
Dug!
Saya terkejut. Badan yang semula menyandar di kursi, saya tegakkan. Secara replek, badan saya menjorong ke depan. Ke arah sopir. Saya ingin mendengar informasi lebih lengkap.
Sebelumnya saya tidur ayam –tidur tapi tidak nyenyak di kursi nomor 4 tepat di belakang sopir.




“Apa?”
“Ada bis terbakar,” sahut sopir.
Bis bergerak perlahan.
Saya menjulur kepala lewat jendela bis. Ya, di seberang jalan ada beberapa mobil berhenti –beberapa di antaranya truk.
Di sana saya lihat ada bekas ban terbakar. Bau sangit menyeruak.
“Bis Mudah ya,” teriak sopir pada temannya yang saat itu duduk di kursi nomor 1 dan 2.
“Bis ABM. Kalau ndak Pontianak-Sintang, Pontianak – Nanga Pinoh,” katanya.
Saya mengangguk saja. Memang tidak tahu.
“Agak-agak karena apa ya?” tanya saya lagi.
“Mungkin AC,” katanya.
Pikiran saya berkecamuk. Saya suka menumpang bus ber-AC dibandingkan tidak. Naik bus ber-AC bisa terhindar dari debu, karena tak ada jendela yang terbuka. Di bus ber-AC kita juga terhindar dari asap rokok, karena biasanya sopir dan penumpang tahu diri tidak merokok dalam bus ini. Sesekali kalau naik bus saja saya ketemu sopir yang nekat merokok. Biar tidak merebak ke dalam ruangan, kaca di samping kanannya dibuka lebar. Asap rokok yang dihembuskannya langsung ke luar bus, tak sempat mengharu biru penumpang. Jadi, masih aman juga.
Bus ber-AC agak lapang. Kursi yang di dalamnya agak jarang. Kadang masih bisa mengunjur bila sandarannya dimundurkan sedikit. Tidak ada juga kursi cadangan dalam bus ber-AC.
Tentu untuk semua kelebihan itu, penumpang harus membayar sedikit mahal. Sewajarnyalah.
Selain itu, bus ber-AC biasanya relatif bersih terawat. Kursinya jarang ada yang kumal. Baunya kadang juga agak wangi. Bandingkan dengan bus biasa, termasuk yang saya tumpang malam itu dalam perjalanan dari Putussibau ke Pontianak.
Baunya minta ampun. Kadang ada bau rokok. Kadang tercium aroma asam, bau muntahan. Kadang tercium aroma ayam (bau manuk), kata orang kampung. Kumalnya tak usah disebut. Tas kami, sudah tebal oleh debu jalan yang masuk lewat pintu dan jendela yang terbuka. Alas sandaran kursi sudah retak-retak dan retakan itu membentuk garis, hitam.
“Ada yang mati ndak?”
Saya mengajukan pertanyaan bodoh. Bah, mana tahu mereka. ‘kan sama-sama kami dalam bus, bukannya menyaksikan kejadian. Tetapi replek saja pertanyaan ini muncul. Menurut sopir biasanya kebakaran bus yang terjadi karena AC tidak terjadi tiba-tiba. Didahului asap. Masih ada waktu penumpang untuk keluar sebelum benar-benar hangus.
Tetapi, asap juga bukan tidak mungkin membunuh. Jika terhidu asap seseorang bisa lemas dan matilah dia.

***

Saya membayangkan kondisi malam itu. Jika bus yang saya tumpangi terbakar, mungkin saya akan menjadi korban. Kalau tidak mati retung, hangus sedikit mungkin. Sebab pada posisi saya duduk banyak barang dan saya pasti tidak mudah keluar dari tumpukan barang tersebut. Lagi, kaki saya tidak nyaman sebab sebelumnya selama tujuh jam saya duduk di kursi cadangan. Kursi plastik. Pantat rasanya tepos. Punggung pegal-pegal karena tidak bisa menyandar. Menyumpah karena nasib malang ini, saya sudah tidak sanggup. Alahai. Nikmati sajalah.
Saya melihat kondisi bus yang ditumpangi. Kalau tiba-tiba terbakar mungkin akan ada yang mati. Sebab pintu tidak terbuka secara otomatis. Pintu bus sama dengan pintu rumah kayu – dikunci dengan slot besi. Mau membukanya susah minta ampun. Belum lagi di depan pintu diletakkan ban serep dan di atasnya diletakkan kursi cadangan (sebenarnya bantalan kursi) dari busa yang bisa dipakai baring. Slot besi digunakan karena kunci lama sudah tidak dapat digunakan lagi, keropos dimakan karat.
Pengalaman saya, apabila pintu ini sudah dikunci, untuk membukanya diperlukan waktu beberapa menit. Kursi cadangan harus disingkirkan lebih dahulu baru kemudian slot ditarik dan pintu bus yang berlipat harus ditarik. Baik kalau di belakang pintu tidak ada barang. Kalau ada barang waktu yang diperlukan bisa lebih lama lagi.
Saya juga tidak melihat pintu darurat di bus. Biasanya di tempat yang standar keselamatan terpantau, ada pintu darurat di bagian tengah atau belakang. Pintu ini untuk memudahkan penumpang keluar jika ada hal-hal darurat. Penumpang bisa keluar lebih cepat karena tidak perlu semua menumpuk pada satu atau dua pintu. Setahu saya ada juga bus dahulunya yang hanya pakai satu pintu saja.
Pilihannya memang dengan memecahkan kaca jendela. Tetapi apakah itu mudah? Kadang ada besi yang dipasang di tengah jendela. Kepala orang dewasa tidak akan bisa telus. Setakat yang saya tahu besi itu menjadi tempat penumpang yang diduduk di dekatnya berpegangan. Mungkin juga untuk menghindari masuknya pencuri ke dalam mobil melalui jendela.
Tetapi, dalam keadaan darurat besi ini bisa menjadi hambatan penumpang keluar melalui jendela, sekalipun penumpang bisa memecahkan kaca atau menggeser kaca yang mudah buka.
Di bus juga tidak ada tabung pemadam api. Jadi saya membayangkan jika bus terbakar hampir tidak ada alternatif untuk memadamkan api kecuali seperti memadamkan api yang membakar rumah warga di dalam gang. Air diambil pakai ember baru disiramkan. Mana dapat ember di bus? Mungkin pilihannya menggunakan kayu (ranting) yang dipukul-pukul ke sumber api.
Kalaupun ada racun api, siapa yang bisa menggunakannya? Saya sempat bertanya pada seorang kondektur apakah mereka pernah mendapatkan pembekalan untuk menjaga keselamatan penumpang? Dia menjawab, tidak pernah. Seorang kondektur lebih banyak bekerja berdasarkan apa yang dipikirnya patut dilakukan, sembari mengikuti perintah sopir, membantu penumpang.
Jadi kalau memang ada kejadian, mereka hanya membantu berdasarkan feeling. Apa yang patut dilakukan, dilakukan. Kalau mereka pikir tak patut, mereka mungkin tidak melakukan apa-apa. Mau mane duli juga tidak apa-apa! Tinggal penumpang yang panik sendiri. Mau jantungan, mau tidak, terserah!


Baca Selengkapnya...

Senin, 13 Oktober 2008

Ketika Aku Membaca "Laskar Pelangi"

Oleh Yusriadi

Laskar Pelangi. Novel karya Andrea Hirata terpentang di depanku. Aku membaca buku itu halaman demi halaman.
Buku ini membuatku terkesima. Sungguh luar biasa! Aku mengagumi kemampuan penulisnya. Bukan saja kemampuannya mendeskripsikan latar belakang Pulau Belitung, tetapi juga kemampuannya menyusun rangkaian cerita sehingga membentuk “satu kisah” yang mudah diikuti.
Karya ini membuatku melamun panjang, dan malah bersambung-sambung: kasih Ikal, Lintang, Mahar, dkk – membawa aku ke kampung halaman di Riam Panjang, Kapuas Hulu (lk 700 kilometer dari Pontianak), pada masa kecil sekitar 30 tahun lalu.





Kisah ini mengingatkanku pada betapa enjoynya menikmati masa kecil. Mungkin aku seperti salah satu dari mereka itu.
Kini, masa kecil itu telah pergi. Aku menjadi orang tua sekarang. Aku tidak mungkin kembali pada masa itu lagi. Aku hanya bisa mengingat.
Dadaku terasa bergemuruh dan bergejolak ketika mengingat masa kecil itu.
Lalu, tiba-tiba muncul tekad: aku juga ingin menulis pengalaman masa kecil, seperti Andrea Hirata menulis kisah anak-anak Belitung.
Aku ingin mendeskripsikan pengalaman kami mandi di “kolam ikan” di depan sekolah dasar Riam Panjang – kami lebih sering mendengar orang menyebut sebagai “kolam katak” karena ikan yang diharapkan tidak pernah dilepas di kolam cetek dan keruh ini.
Kami bermain bola kaki di kala airnya dangkal. Kami “bermain polo” ketika airnya dalam di musim banjir. Kadang kala, bila kami bosan, kami bermain gusti – gulat setengah tinju.
Aku mengingat pengalaman main seluncur di lereng “mungguk” –gunung kecil, di kebun karet di belakang sekolah kami. Seluncuran yang dipakai adalah pelepah kelapa yang sudah tua. Pelepah itu dipotong. Bagian ujungnya dibuang. Kami menggunakan bagian pangkal yang ada semacam kepala. Kami membuat tempat duduk dari papan pada bagian ujung yang tersisa dan tempat pijakan dari kayu pada bagian yang pangkalnya.
Kami menggunakan seluncuran itu, meluncur dari ketinggian. Kami membuat sirkuit untuk lomba sepanjang puncak mungguk hingga ke tepi sungai kecil. Lalu kami berpacu, seakan naik kuda. Kami selalu terobsesi oleh tokoh-tokoh hero dalam film koboi yang kami tonton pada malam hari. Kami berlomba, siapa yang paling cepat sampai ke bawah. Siapa di antara kami yang menang akan bersorak gembira. Tidak ada hadiah.
Setelah sampai di bawah kami memanggul pelepah itu mendaki hingga ke puncak mungguk. Lalu kami meluncur lagi. Begitulah seterusnya. Tidak ada kata capek. Kadang kala kaki kami tertusuk kayu. Kadang kala ada di antara kami yang terpeleset waktu meluncur. Luka kecil tidak pernah membuat kami jera. Satu-satu yang membuat kami cemas adalah pemilik kebun yang marah. Pemilik marah karena bekas seluncuran kami melukai akar-akar getah. Getah jadi tidak produktif. Kadang kala ada teman kami yang gatal tangannya memindahkan tempurung atau ngkiung (bambu) tempat menampung air getah. Pemilik kebun kadang-kadang kelabakan mencari penampung getah saat dia menyadap pada pagi hari.
Orang tua kami kadang juga marah jika melihat pakaian kami sobek setelah meluncur. Tetapi, kemarahan orang tua tidak cukup membuat kami berhenti bermain.
Saya juga mengingat ketika saya hari-hari kami menjalani puasa Ramadan. Kami harus berpuasa. Saya ingat pernah kebuluran: Ceritanya saya ikut paman memancing ikan seluang. Perjalanan kami jauh. Sepanjang siang. Nah ketika kembali, saya sudah tidak mampu lagi. Saya terpaksa digendong.
Kami terpaksa bangun sahur sekalipun sangat mengantuk. Tetapi kami sangat senang menyambut datangnya bulan puasa itu. Makanannya pasti istimewa. Orang tua kami selalu membuat kue-kue untuk berbuka puasa. Sekalipun makan yang dibuat tidak lain dari juadah pisang, jumput pisang (pisang yang dilumat dicampur gandum, lalu digoreng), bubur pisang atau bubur gandum, limpin ayak (terbuat dari tepung beras), namun, makanan-makanan itu sangat istimewa. Kami orang kampung, di kampung yang terpencil dan miskin tidak mengenal banyak kue. Kue dari kota yang kami kenal mungkin hanya kebeng (biskuit).
Kami juga senang kalau bulan puasa kami bisa memainkan bedug pada sore hari dan malam. Kami mencari damar tengkawang dan membakarnya di depan rumah kami. Ketika semua anak membakar damar, jalan di depan rumah kami menjadi terang benderang. Bagi kami itu adalah pemandangan yang indah.
Kami merasa senang melewati deret api saat pergi shalat taraweh. Satu-satunya yang membuat kami jerih membakar damar adalah ketika sering kali kulit-kulit kami melepuh, terpercik api dari damar.
Banyak lagi kenangan masa kecil yang bergelayut di depan mata saya –saat menyaksikan pernikahan, saat berada di sekolah, saat menghabiskan malam dengan “begisah” – bercerita, saat bermain ‘hanyut’ di Sungai Pengkadan kala banjir dan bermain perahu saat kemarau, saat kami mencari buah durian dan asam kemantan, di malam hari hingga pagi menjelang, saat kami menyaksikan pertandingan sepak bola pada acara keramaian, saat kami pertama kali menonton TV hitam putih milik kakek Ungkul. Saat kami menunggu cerita “Film Bergambar” di TV Malaysia.
Membaca Laskar Pelangi juga mengingatkanku pada kedatangan Ir. Bahtiar Sirait dari Departemen Pekerjaan Umum Jakarta –beberapa tahun lalu dia menjadi staf ahli Menteri PU, yang merintis jalan Lintas Selatan. Lalu beberapa tahun kemudian alat-alat berat seperti “kepiting”, “ssendok”, “doser”, “pelinas” (stomball) datang membongkar hutan dan bukit-bukit kecil. Lalu, jalan lempang terbangun seluas lapangan bola, sepanjang mata memandang. Sepeda motor dan truk pun masuk. Orang-orang luar datang. Kehidupan pun jadi berubah. Budaya ikut berubah. Aku mengingat beberapa perubahan itu.
Aku terobsesi untuk menulis semua itu.
Aku sudah memulai. Namun, nasib. Tulisan itu belum jadi-jadi. Sampai beberapa bulan tidak disentuh.
“Ketertundaan ini” memberikanku pelajaran. Ternyata untuk berkarya memerlukan konsistensi. Menulis dan menghasilkan karya besar perlu kesabaran. Banyak tantangan. Banyak hambatan.
Menilus, tidak cukup dengan ‘bahan yang kaya’, fasilitas yang lengkap –komputer, dll. Tidak cukup juga dengan bekal kemampuan merangkai kata dan menyusun kalimat. Ada bahan lain yang diperlukan. Ya, itu tadi, kesabaran berkarya.






Baca Selengkapnya...

Minggu, 27 April 2008

Black Forest di Ulang Tahun Saya ke-36

Oleh: Yusriadi

Hari itu, Jumat, 11 April 2008.
Dari balik kaca saya melihat Erni Purwanti melintas. Lalu, di belakangnya ada Badliana, Linda Puji Rahayu, Dian Kartika, Hardianti, dan Hanisa Agustin. “Rombongan kecil’ ini bergerak menuju pintu masuk ruangan P3M, seperti maju mundur. Aku melihat wajah mereka senyam-senyum. Tetapi senyam-senyumnya tidak lepas. Nampak tegang. Gopoh.

Mereka tidak langsung masuk. Namun, seperti berdiskusi sebentar. Saya melihat mereka saling dorong: menentukan siapa yang masuk duluan.
Saya terus mengamati mereka dari tempat duduk. Saya mentertawakan polah mereka.
Ya, gerak gerik mereka sungguh lucu. Kelihatan gaya anak kecilnya. Walaupun mereka sudah berumur lebih 20 tahun.
Sikap ini mengingatkan saya pada cerita Yanti. Kata Yanti, mahasiswa sebenarnya pengin dekat dengan saya, pengin berdiskusi, pengin belajar menulis, dll. Namun, kalau sudah urusan ‘konsultasi’ mereka undur. Ada yang bilang seram, takut, dan entah apa lagi. Pokoknya kalau sudah mau bertemu, mahasiswa pasti deg-degan. Mengapa? “Ntah, adalah pokoknya,”
“Kalau mau ketemu bapak harus punya mental ekstra,” katanya.
Saya menduga mungkin ini berhubungan dengan sikap saya di kelas. Menurut versi sebagian mahasiswa saya ‘yang tegas’. Entah berapa puluh kali saya dengar mahasiswa suka tegang kalau ikut kelas saya. Tidak berani apa-apa. Bayangkan, ‘bunyi’ HP di kelas tak boleh. HP diambil dan diserahkan ke Program Studi. Mereka harus menjelaskan duduk persoalan kepada ketua prodi, disertai dengan peringatan: jika di waktu lain HP berbunyi juga, bawa orang tua atau wali untuk mengambilnya.
Mengantuk di kelas tidak boleh, pasti akan ditanya apa sebabnya. Akan ditanya, tidur jam berapa, apa yang dilakukan malam, dll.
Terlambat datang kuliah tidak boleh, kadang-kadang tidak dibukakan pintunya. Kalaupun dibuka, pertanyaan meluncur tak habis-habisnya. Jangan coba bohong. Pasti ketahuan. Tidak buat tugas jangan coba-coba. Tak baca buku, juga sama. Kadang mahasiswa (lelaki) komplen karena diambil gelang, kalung dan rokok.
Bukan cuma mahasiswa yang ‘bersalah’ yang mendapat peringatan, tetapi seluruh kelas biasanya kena getah. Saya akan berkhutbah beberapa menit untuk satu kasus.
“Saya heran, waktu pertama masuk, kok bapak ini suka benar ceramah,” kata Marisa, mahasiswa BPI memberitahu. Marisa mengaku sempat mengeluh kepada Alongnya (Abang), karena mendengar ceramah tak tentu rudu.
Yanti, mahasiswa KPI, lain lagi kenangannya. “Yanti ingat, dulu bapak tegur Yanti karena waktu menulis badannya merunduk. Dalam hati Yanti, lho, bapak ini aneh, hal segitu diperhatikan,” kata Yanti suatu ketika.
Zulfian juga punya cerita menarik. “Hadi bilang, kalau mau nguap dia pura-pura cari barang dalam tas. Lalu kepala masuk ke dalam tas, menguap di sana,” kata Zulfian menceritakan perilaku temannya yang ikut kelas saya.
“Tak berani mahasiswa nak menguap langsung begitu,” tambah Zul.
Belum lagi soal nilai. Di kalangan mahasiswa saya dianggap dosen kiler. Kata Yanti, “Macam-macam cerita yang kami dengar dari kakak tingkat tentang bapak. Yang seram-seram deh pokoknya,”
Cerita dari mulut ke mulut ini membuat image tersendiri. “Kami suka heran mendengar cerita itu,” kata Ambar, mahasiswa KPI, suatu ketika.
“Tetapi, ada yang bilang, bapak memang banyak berubah sekarang,” tambahnya.
Walaupun telah berubah –rasanya sih tidak, namun masih sering saya temukan mahasiswa yang ‘takut’ bertemu saya.
Karena itu, kalau sekarang Erni dan kawan-kawan saling dorong mau masuk ke ruangan saya, tidak heran.

***

Saya lihat, akhirnya Erni membuka pintu. Dia memang paling tua di antara temannya. Dan dia juga dikenal paling pede.
Erni masuk, melangkah menuju merja saya dengan membawa sesuatu. Piring, terbungkus koran. Kue!
Sambil meletakkan piring di atas meja, “Pak, selamat ulang tahun,” kata Erni.
Saya mengangguk, senyum. Ya, tanggal 10 April adalah ulang tahun saya. Kamis kemarin. Umur saya 36 sekarang.
Lantas, mereka menyanyikan lagu ulang tahun.
Tetapi, karena dinyanyikan dengan malu-malu, lagu itu ‘tidak menjadi’. Padam sendiri. Ada lirik: “Panjang umur ...panjang umur ... “ diulang beberapa kali. Tetapi, liriknya tak sampai pada kata “Serta mulia”.
Saya yakin, kalau anak saya dengar, dia akan protes. Lagu tidak selesai.
Ya, saya maklum lagunya sumbang. Karena mereka grogi. Saya pun juga grogi dinyanyikan begitu. Kalau tidak grogi pasti lariknya selesai dinyanyikan dengan indah merdu. Saya yakin begitu karena mereka-mereka itu sebenarnya penyanyi dan penyiar. Kabarnya Erni pernah juara dangdut. Badliana, Linda, penyiar radio Pro-Kom. Yanti kabarnya sering latihan nyanyi di kamar mandi. Dian, sering jadi pembawa acara dan moderator.
Kalau bukan karena grogi, karena apa lagi?
Lantas satu persatu mereka mengucapkan selamat ulang tahun. Sambil salaman. Nah betul, umumnya tangan mereka sejuk. Tanda grogi!
Saya merasa terharu. Memang saya pernah mendapatkan perhatian dari mahasiswa PPL yang saya bimbing lima tahun lalu. Memang saya ada mendapatkan ucapan selamat ulang tahun lewat sms. Tetapi, membayangkan dapat kue ulang tahun, belum pernah. Erni dan kawan-kawan memang membuat kejutan.
Mereka memperhatikan saya. Orang yang dicap oleh sebagian mahasiswa sebagai orang yang killer, orang yang kaku, orang yang otoriter dan orang yang arogan.
Saya bertanya dalam hati, mengapa orang seperti saya mendapat ‘rayaan’ ulang tahun dari mahasiswa?
Yang membuat saya kemudian sangat terharu, saya mendapat bocoran bahwa mahasiswa itu ternyata mengumpulkan uang Rp 5000 seorang untuk membuat kue ulang tahun saya. Total Rp 40. 000. Jumlah Rp 5000 memang kecil. Tetapi perhatian yang diberikan tidak ternilai. Saya jadi malu sendiri.
Saya memotong kue yang dibawa Erni – roti black forest yang di atasnya ditaburi meses.
Saya memberikan kepada Linda yang membuat kue itu, kepada Erni yang menjadi penggagas, kepada Dian yang menjadi pengumpul uang Lalu kepada Badliana yang motornya menjadi ‘angkutan umum’, kepada Yanti, Nisa.
Kemudian saya membagikan kepada rekan yang ada di ruangan P3M. Yapandi Ramli, Fahmi Ichwan, Setia, Zulfian, Ibrahim. Rekan kerja lain yang melintas di depan ruang juga dipanggil, ikut menikmati kue ulang tahun.
Saya mengajak mereka itu makan kue, karena saya ingin membuat mereka mengingatkan saya, bahwa saya harus memperhatikan orang lain selalu. Sewajarnya saya membalas perhatian itu kepada Erni dan kawan-kawan, serta kepada orang lain juga.

TERIMA KASIH JUGA KEPADA; PROF DR. JAMES T. COLLINS YANG MENGUCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN PERTAMA SEKALI SAAT KAMI BERTEMU DI HOTEL KARTIKA TANGGAL 8 APRIL 2008. TERIMA KASIH JUGA KEPADA HAIRUL BARIYAH (ISTRI SAYA). DEDI ARI ASFAR, EVI FLAVIA (IDRD), AMALIA IRFANI, JUNIAWATI, DLL.
MOHON DOA SEMOGA SAYA BISA MEMANFAATKAN SISA UMUR DENGAN SEBAIK-BAIKNYA.




Baca Selengkapnya...

Senin, 14 April 2008

Menjadi Ayah

Oleh Yusriadi

“Aku jadi ayah!”
Kata-kata itu meluncur dari mulut Baharuddin. Ia menceritakan reaksinya ketika pertama kali mengangkat bayi, anaknya sendiri, kepada kami yang berkunjung ke rumahnya sore itu. Saya, Ambaryani, Hardianti, Erni Purwanti, Badliana dan Ira Humaira, datang ke rumah Bahar ingin melihat anaknya, Barita Laila Nuzula yang dilahirkan 16 Maret 2008.



Saat bercerita, mata Bahar –begitu dia dipanggil, nampak bercahaya. Dia bercerita sambil tersenyum. Ketara sekali kebahagiaan sedangkan menyelimuti anak muda ini.
Bahar masih muda. Mungkin kalau melihat sepintas lalu dia masih bocah-bocah lagi. Badannya kurus. Kira-kira 40 kilo saja. Posturnya rendah. 150 cm. Tidak ada kumis. Tidak ada jenggot.
Saya merasa dia masih anak-anak, sekalipun sekarang dia sudah menjadi seorang ayah.
5 tahun lalu, ketika pertama kali mendaftar menjadi mahasiswa di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Jurusan Dakwah, STAIN Pontianak, Baharuddin datang ke rumah kakak saya, Herlina. Dia memberitahukan rencana kuliah, sembari meminta tolong diperhatikan.
Dia datang dengan santun. Penuh penyerahan. Saya tidak berjanji membantu dia lulus. Karena saya tahu dia pasti lulus. KPI membutuhkan mahasiswa. Hampir tidak mungkin ada orang mau kuliah ditolak.
Ketika mulai kuliah di KPI Baharuddin banyak berurusan dengan saya. Ya, sebagai ketua program studi saya memang mengurus mahasiswa.
Saya menyukai dia. Baharuddin rajin. Penurut. Tekun. Dia pandai.
Saya juga suka dia karena gaya dia yang santun. Gaya dia bicara juga mengesankan. Kalau bicara agak gagap. Tetapi kalau diminta membawa acara gagapnya hilang. Baharuddin menjadi penyiaran radio yang kami dirikan. Radio Pro-Kom. Dia aktif di sana.
Ketika kami memerlukan staf di prodi menggantikan Sri Sunarsi –yang mengikuti suaminya –seorang tentara, ke Sanggau, kami memilih Baharuddin.
Dia bekerja sambil kuliah. Pendapatan sebagai staf, agaknya cukup untuk dirinya sendiri. Dia mandiri. Sampai dia sudah selesai kuliah dan masih bertahan sebagai menjadi staf.
Bahkan sampai dia kawin dengan tetangganya, Ita, dia masih setia sebagai staf.
Badannya tidak tambah besar. Malah makin kecil. Mungkin karena pendapatannya tidak bertambah, sedangkan bebannya bertambah. Banyak yang merasa takjub pada kesetiaan Baharuddin.
Ketakjuban itu pulalah yang menyebabkan kami berusaha menyambangi Baharuddin yang beberapa hari lalu menyambut kelahiran putrinya.

***

Kalau Bahar gembira, itu wajar. Anak sudah lama ditunggunya. Beberapa tahun lalu, Ita pernah hamil. Namun keguguran. Janin berumur 2 bulan dikuret. Ita dirawat beberapa lama di rumah sakit Sudarso Pontianak.
Bahar sempat mengungkapkan kecemasannya kalau setelah dikuret tidak bisa mendapatkan anak lagi.
Oleh sebab itu, sepanjang masa kehamilan Ita, Bahar berusaha menjaga istrinya sebaik mungkin. Ita hampir tidak pernah dibawa ke kampus, seperti sebelum hamil.
“Saja dijaga bonar-bonar,” kata Bahar suatu ketika dahulu saat menyampaikan kabar kehamilan istrinya. Dia memang selalu berbahasa Ulu pada saya.
Bahar mengaku rajin mengontrol kehamilan istrinya pada dokter. Salah satu dokter langganannya adalah dokter Neni. Dokter Neni dikenal sebagai pengasuh rubrik kesehatan di Pontianak Post. Dia bekerja di Puskesma Kampung Bangka. Kata Bahar, dokter Neni dipilih karena masih satu kampung –sama-sama dari Selimbau, Kapuas Hulu.
“Orangnya baik. Dia banyak membantu,” puji Bahar.
Bahar sering menceritakan perkembangan kandungan istrinya pada saya, atau pada orang-orang dekatnya.
“Insya Allah kata dokter tanggal 31 Maret, lahir,” katanya. Mantap.
Saya kira dia sangat siap menyambut kelahiran bayinya itu. Tetapi kadang-kadang kami memberinya nasehat. Termasuk pesan agar mengabarkan kami kalau istrinya melahirkan. Harap-harap bisa membantu.
Tetapi, ramalan kelahiran bayinya itu rupanya tidak tepat. Rupanya, Ita keburu melahirkan sebelum tanggal 31.

***

Menurut cerita Bahar, tanggal 16 Maret, Ita merasa perutnya mulas. Ada perasaan, saat kelahiran sudah dekat. Mereka pergi ke tempat bidan praktik. Konsultasi.
Kecemasan mulai menyergap. Kelahiran sudah agak dekat. Tetapi, masalahnya tekanan darah istrinya tinggi. 150/90. Dalam keadaan seperti ini Ibu dalam bahaya.
“Ada kemungkinan pendarahan,” kata Bahar meniru penjelasan bidan.
Tekanan darah itu harus diturunkan.
Mereka kembali ke rumah. Bahar menceritakan dia berikhtiyar memberikan istrinya mentimun.
“Saya parut timun banyak-banyak. Saya berikan ke dia,” ujar Bahar sampai mencontohkan kerja memarut dengan gerakan tangan.
Berhasil? Tidak. Tekanan darah masih tinggi. 140/90.
Lalu, pasangan muda ini berkonsultasi pada dokter praktik di Jalan Sutomo. Sekaligus berniat melahirkan di sana. Di tempat ini biaya persalinan lebih murah dibandingkan di rumah sakit. Pelayanan juga mungkin lebih baik.
Dokter membantu pasangan ini. Ita diberi obat. Manjur. Darah Ita turun. Kembali normal. Tetapi, mereka masih harus menunggu. Tanda terdekat belum nampak, ketuban belum pecah.
Sembari menunggu Bahar melihat keadaan klinik.
Astaga. Pemiliknya bukan Islam.
Bayangan tertentu berkecamuk di benaknya. Pikirannya bercelaru oleh bayangannya sendiri.
Saat itu juga Bahar memutuskan, anaknya tidak boleh lahir di sini.
Tetapi menjadi soal, bagaimana ‘lari’ dari klinik? Dia sudah ditolong petugas di sini. Petugasnya juga baik. Dia mencari akal.
“Saya menemui dokter. Saya bilang mau membawa istri pulang dahulu. Mau berkonsultasi dengan keluarga,” ceritanya.
Dokter mengizinkan. Bahar dan istrinya pulang.
Menjelang malam ketuban pecah. Kepanikan baru muncul. Mau dibawa kemana? Pilihannya RS Bersalin Sungai Jawi, klinik, atau bidan praktik. Dia tidak mau membawa istrinya ke RS Soedarso. Pengalaman dikuret sebelumnya membuat dia jera masuk ke RS Soedarso.
“Apalagi hari ini hari Minggu. Pasti dokter libur,” katanya.
Seorang tetangga yang kebetulan anggota polisi menyarankan agar Bahar membawa istrinya ke RS Bayangkara. Walau sudah putus, namun masalah belum berakhir.
Siapa yang akan membawa Ita ke rumah sakit? Dengan motor yang tua dia yakin tidak bisa membawa istrinya dengan cepat. Tetangga yang polisi itu kemudian menawarkan diri mengantar Ita ke rumah sakit. “Kalau pakai motor kamu nanti lahir di atas motor,” kata Bahar meniru kata tetangganya itu.
Ita dilarikan ke rumah sakit saat itu juga. Tanpa helm. Motor dipacu laju. Klakson dibunyikan meminta jalan. Bahar menyusul di belakang. Seperti juga motor tetangga yang membawa Ita dipacu cepat, Bahar dengan motornya juga ngebut. Biar tidak ketinggalan.
“Tetapi walau sudah dikebut –sampai-sampai bunyinya meraung-raung, ban macam mau tanggal, tetap tidak bisa ngejar,” cerita Bahar.
Walau ketinggalan, walau dalam keadaan cemas Bahar mengaku sepanjang perjalanan ada kejadian lucu. Banyak orang marah mendengar tetangga polisinya membunyikan klakson dan ngebut.
“Kepada mereka saya bilang, melahirkan. Sambil tangan saya menunjuk ke depan. Mereka yang marah-marah saya lihat jadi tidak marah lagi,” katanya.
Sampai di rumah sakit. Petugas memberikan pertolongan. Namun, obat tidak cukup. Kata dokter diperlukan obat suntik untuk istrinya. Bahar mencarinya. Dia mencari apotik yang buka. Dia sempat keliling. Sebelum sampai di apotik Kimia Farma. Malang, apotik yang kononnya buka 24 jam ternyata tutup. Bahar sempat kesal pada satpam di sana. “Copat jak plang 24 jam, kalau begini,” katanya.
Tetapi kekesalan Bahar tidak berkepanjangan. Dia segera sadar, satpam itu tidak tahu apa-apa.
Lantas dia pergi ke apotik di rumah sakit Soedarso yang jaraknya lebih kurang 7 kilometer ke arah timur. Apotik ini juga tutup.
Bahar menuju apotik depan –di seberang jalan RS Sudarso. Tetapi obat yang dicari tidak ada. Petugas di sana memberitahu obat itu ada di apotik dekat IGD. Bahar kembali ke IGD. Malang, petugasnya tidak ada. Sedang keluar.
Dia panik karena harus menunggu lagi. Padahal, istrinya tidak bisa menunggu. Dalam bayangannya, obat yang dicarinya sekarang ini menentukan nyawa istrinya.
Bahar sangat cemas.
Ketika dari jauh ada motor datang, seseorang memberitahu bahwa orang itulah penjaga apotik. Seorang lelaki separoh baya.
Bahar berlari menyambut kedatangan lelaki paroh baya itu. Dia memberitahukan obat yang dicari. Diberitahukan juga keadaan istrinya di rumah sakit Bayangkara.
Lelaki itu mengangguk. Obat itu ada. Dia juga paham.
Ketika lelaki itu hendak memarkir motornya ke tempat parkir di bagian belakang, Bahar mencegahnya. Lama lagi. Lelaki itu mengalah. Motor diletakkan tidak jauh dari pintu masuk. Namun, cukup jauh juga menuju apotik.
Mereka melangkah.
Melihat langkah lelaki yang lambat, Bahar menarik tangannya. Sedikit lagi mirip diseret. Setengah berlari. Dia menurut saja diperlakukan Bahar seperti itu.
Ketika sampai di pintu masuk, penjaga apotik kebingungan. Dia meraba sakunya celananya, kiri kanan. Dia meraba kocek bajunya.
“Kunci ketinggalan di motor”, katanya kecewa. Tersenyum kecut.
Bahar panik. Jalan menuju motor bolak-balik akan memakan waktu.
“Bapak beritahu di mana obat itu. Kita panjat saja,” Bahar setengah memaksa setelah dilihatnya bagian atas dinding bisa dilewati. Dinding hanya sekat biasa.
“Lemari dikunci ndak?”
“Tidak”
Penjaga apotik menurut. Malah dia yang kemudian memanjat pembatas ruangan. Membuka lemari dan mengambil obat yang diminta.
Dia menyebut harganya.
Bahar mengangsur uang.
“Sisanya ambil saja. Doakan semoga istri saya melahirkan dengan selamat. Semoga anak saya selamat,” kata Bahar.
Kepada kami Bahar memberitah bahwa kalau dia mengharapkan kembalian dari uang yang diserahkan kepada penjaga apotik, dia harus menunggu lagi. Baik kalau ada uang kembalian, kalau tidak, pasti akan lama lagi.
Setelah mendapatkan obat, Bahar berlari menuju motornya. Dia memacu melalui jalan Ahmad Yani.
Semula dia memacu dengan kencang. Sekencang yang dapat.
Motor meraung. Sekencang-kencang larinya kuda besi itu cuma mampu berlari 30-40 kilometer perjam.
Itu dipaksa. Selain suaranya yang melengking itu, Bahar merasakan motor goyang. “Mungkin sebentar lagi bannya pun lepas, atau rantainya putus,” pikir Bahar.
Melintas bayangannya kemungkinan buruk itu terjadi. Motor lepas-lepas, dia celaka.
Bayangan ini menyadarkannya untuk menurunkan kecepatan. Jarak RS Soedarso – RS Bhayangkara ditempuhnya lebih kurang 20 menit.

***

Akhirnya Bahar sampai di RS Bhayangkar dengan selamat. Setelah memarkir motornya dia menuju ruang persalinan. Ketika akan masuk ruangan, petugas memberitahu, Ita sudah melahirkan beberapa menit lalu. Tetapi dia tidak boleh masuk menjumpai Ita. Sebab, di ruangan itu bukan hanya Ita, tetapi ada juga wanita-wanita lain.
Bahar menurut. Dia menunggu. Tak lama kemudian perawat datang membawa bayi, dan menyerahkan bayi itu kepada Bahar.
Bahar menerima. Dia melihat wajah bayi yang masih merah, terbungkus kain. Bayi itu diam.
“Ini anakku. Sekarang akan sudah jadi ayah!” bisik Bahar.
Bahar membuka baik pembungkus. Dia ingin melihat tangan bayi, apakah tangannya dan jemarinya lengkap.
Bahar juga memeriksa kaki. Dia ingin memastikan bahwa kaki anaknya itu sempurna.
Lantas dikeluarkannya otol berisi air zam-zam. Air dari tanah suci ini dipercik ke mulut bayi. Bayi yang semula diam memberikan reaksi. Menggeliat dan bersuara.
Bahar mengoles madu ke bibir bayi. Spontan bayi mengecapnya. Kepala bayi bergerak, mulutnya seperti mencari-cari. Isyarat meminta lagi. Tetapi, Bahar hanya memberikannya sedikit. Ikut petua orang tua.
“Alhamdulillah,” kata itu meluncur dari mulutnya.
Bahar melantunkan azan dan iqamat di telinga bayi.
Kini, ketegangan yang menyelimutinya sejak kemarin, hilang. Dia menarik nafas lega. Semua baik-baik. Anak sempurna. Ita juga selamat. Dia tidak lagi merasa ada beban yang menggayut di pundaknya.
Bahkan saat pertama kali bertemu Ita, Bahar mengajaknya guyon. “Sakit ndak?”
Ita tidak menjawab. Waktu itu Ita diam.
Tetapi waktu Bahar bercerita kemarin, Ita menjawab pertanyaan itu.
“Nak perlu dijawab. Udah tau bah,” kata Ita dengan logat Ulu.
Kami yang datang tertawa mendengar jawaban Ita. Ya, melahirkan pasti sakit! Tetapi Bahar bertanya juga karena dia tidak tahu apa pertanyaan yang harus disampaikan untuk Ita. Dia masih agak tegang. Banyak yang dikhawatirkan.
Namun, kemarin, sudah melupakan ketegangan itu. Malah, ayah dan ibu muda ini sudah bisa tersenyum. Bahagia.



Baca Selengkapnya...

Jumat, 14 Maret 2008

Pengalaman dari Latihan Jurnalistik: KETIKA REMAJA MASJID BELAJAR MEMBUAT BERITA

Oleh Yusriadi

Minggu 9 Maret 2008. Pagi sekali saya sudah berangkat ke Kampus STAIN Pontianak, Jalan Suprapto Pontianak. Saya menuju tempat pelatihan jurnalistik bagi remaja masjid se- kota Pontianak yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak, bekerja sama dengan Borneo Tribune dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Pontianak.

Jadwal saya menyampaikan materi pukul 08.00 WIB. Hardianti dan Ambaryani, panitia pengarah pelatihan memberikan jadwal untuk saya hingga pukul 15.00 WIB. Kira-kira 8 jam. Materinya ada tiga. Penulisan berita, pengiriman berita, dan rencana follow up.
Saya akur saja. Saya tidak bisa menolak permintaan mereka. Lagian, gagasan pelatihan juga muncul dari perbincangan kami. Yanti dan Ambar, merespon. Mereka membawa gagasan itu dalam rapat LPM. Di LPM, Yanti dan Amar adalah pengurus. Yanti berpangkat redaktur pelaksana di Warta STAIN, media terbitan LPM. Sedangkan Ambar, adalah bendahara. Tukang hitung duit.

Tetapi, karena “kesian”, Yanti mengubah jadwal. Jadi, waktu saya dipendekkan. Satu sesi pagi dan satu sesi lagi setelah Zhuhur. Sesi kedua diisi dengan quiz. Panitia membagikan doorprize kepada peserta yang dapat menjawab 3 pertanyaan dari belasan pertanyaan yang disusun panitia. Siang, saya akan menyampaikan materi tentang pengiriman berita ke media.

Sesi pertama pagi itu agak molor. Dari jadwal jam 08.00, acara baru terlaksana lebih kurang 30 menit kemudian. Waktu itu peserta bisa dihitung dengan telunjuk. Padahal peserta terdaftar 23 orang. “Ada yang izin karena ada kegiatan lain,” kata Erni, panitia pelaksana.

Septian Utut membuka sesi. Dia jadi moderator.
Seperti yang diminta saya lebih banyak mengajak peserta praktik. Karya peserta dibedah. Dikomentari.

Ya, lumayan. Beberapa di antaranya sudah cukup bagus –untuk ukuran pemula. Ada peserta yang kelihatannya sudah memiliki feeling; hidung mereka sudah tajam mencium mana yang layak diberitakan dan mana yang tidak. Misalnya ada yang mengangkat berita soal orang yang terdampar di masjid. Ada yang menulis soal pencuri sandal yang tertangkap di masjid. Ada yang menulis soal perseteruan di masjid. Saya memuji ketajaman itu.

Hanya saja karena belum terlatih, umumnya peserta tidak dapat membuat judul yang sesuai dengan isi. Ibarat kata orang, judul kemana, paragraf kemana.
Karena itulah pada sesi ini saya lebih banyak mengajak peserta bagaimana membuat paragraf pertama yang sesuai dengan judul.

Mula-mulai saya memberikan contoh. Lalu, peserta diminta membuat paragraf pertama dengan tema yang sudah ditentukan. Isi paragraf pertama ini antara 20-30 kata, atau dua sampai tiga kalimatn. Waktunya 10 menit.

Tugas ini umumnya dikerjakan dengan baik. Sekali lagi saya takjub. Hasilnya lumayan bagus. Saya pikir, formula seperti ini bisa digunakan untuk pelatihan selanjutnya, bahkan mungkin diadopsi di kelas KPI nanti.
Lebih menakjubkan lagi, semangat mereka. Mereka menunjukkan minat yang besar untuk mencoba menulis.

Tak terasa jam 10.40. Waktu saya habis.

Tetapi, sebelum cabut, saya minta mereka memberikan tanggapan setelah latihan itu. Beberapa peserta menyampaikan bahwa mereka sangat berkesan dengan latihan pagi itu. “Saya mendapat ilmu baru,” kata Toifur, peserta yang paling aktif selama sesi saya.
Peserta lain memberitahukan setelah latihan singkat mereka jadi merasa bisa membuat berita.

Ada juga yang membandingkan anggapan sebelum ini.
“Rupanya membuat berita ada aturan tersendiri,”

Peserta lain berkomentar, mereka baru tahu kalau membuat paragraf pertama harus mengacu pada judul. Yang mereka ketahui, judul mengacu pada inti karangan. Bagian inti tidak harus di paragraf awal. Bisa di awal, bisa di tengah, dan bisa di bagian akhir karangan.

Saya puas mendengar komentar mereka. Komentar-komentar ini mencerminkan tingkat pemahaman mereka pada materi pelatihan. Lebih dari itu komentar ini sebenarnya mengikat mereka. Sebab, saya akan bertanya pada mereka; setelah tahu, apa yang akan dibuat?

***

Dan memang pertanyaan itu saya ajukan juga pada mereka. Bukan di sesi 2, seperti yang saya bayangkan. Pertanyaan itu saya ajukan pada peserta saat berdialog dengan mereka di kantor Redaksi Borneo Tribune, sore hari Minggu itu.

Dalam kunjungan pasca pelatihan, saya mendampingi AA Mering dan Fakun menerima kehadiran mereka. AA Mering adalah redaktur utama di Borneo Tribune. Sedangkan Fakun adalah kepala bagian Pracetak Borneo Tribune. Mering menjelaskan tata kerja redaksi. Dia juga mengundang mereka menjadi penulis. “Tribune ingin menerapkan konsep citizen journalisme. Setiap orang boleh menulis di Tribune,” katanya.

Sedangkan Fakun menjelaskan soal produksi koran. Mulai proses menata halaman, print out, membuat plat, hingga proses pencetakan.

Setelah mereka berdua selesai menjelaskan bagian kerja masing-masing, saya mengajukan pertanyaan kepada seluruh peserta. Satu per satu mereka diminta mengungkapkan apa yang akan dibuat setelah pelatihan.

Ada yang menjawab dengan jelas. Ada yang menjawab dengan ungkapan umum.
Ada yang ingin menjadi wartawan. Ada yang ingin menjadi penulis.
Kesan saya mereka menunjukkan kemauan melakukan sesuatu. Mereka ingin menerapkan ilmu yang diperoleh.

Mereka ada semangat.

Saya tersenyum mendengar semangat-semangat itu. Menyenangkan. Saya membayangkan andai saja semangat itu bisa dipelihara. Andai mereka semua menjadi penulis.





Baca Selengkapnya...

Sabtu, 16 Februari 2008

Ti

Cerpen: Yusriadi

Itu cuma ctatan hrian, agar tidak lupa. Jgn diolok pa, byk yg nyeleneh jg tuh, ape agk waktu nulisx agk sangsot. He he ...

Itu pesan singkat Ti tadi. Ti itu teman saya. Perempuan. Cukup istimewa.
Saya biasa memanggil dia, Ti. Suku kata akhir dari namanya. Itu bagian dari kebiasaan Saya, yang diperoleh sejak kecil dari masyarakat kami, di kampung Ulu.
Suatu ketika Saya pernah memanggil Ti dengan panggilan Yan. Keseleo. Tetapi, bukan isi pesan Saya yang diresponnya.



“Kok ndak dipanggil Ti?”
Begitu Ti protes. Tetapi, ya, Saya mengerti. Itulah dia. Saya menganggap dia makhluk langka. Dia tidak seperti ‘budak’ perempuan umumnya. Budak perempuan biasanya relative rapi, Ti agak kurang. Kadang Saya tersenyum sendiri melihat cara dia memakai kerudung. Suka miring. Kadang ada anak (induk) rambut keluar. Saat bercakap-cakap dengan orang, Ti sering kali harus membetulkannya.
Seingat Saya belum pernah lihat Ti pakai gincu. Kadang saya lihat mukanya agak berminyak –tetapi pasti masih lebih parah keadaan Saya. Hm, rasanya Saya belum pernah cium bau parfum bila berpapasan dengan dia.
Untuk ukuran anak kampus kami, cara berjalan Ti agak cepat. Langkahnya lebar. Kadang pengin saya mengganggunya: ati-ati nanti roknya sobek. Kadang Saya kasihan melihat Nisa yang selalu bersamanya. Nisa yang feminim harus ikut gaya Ti yang ....
Di punggungn Ti tergantung tas. Entah apa isinya. Kayaknya berat. Kadang dia nampak agak uyuh karena beban di belakangnya itu. Mungkin di dalam tas buku bacaan. Mungkin juga novel. Ti pernah keluarkan banyak novel dari tasnya. Anak tuh, suka baca. Saya tidak membayangkan dia membawa bedak, gincu atau parfum dalam tasnya.
Karena suka membaca itulah tidak heran kalau isi kepala dia lebih padat dibandingkan mahasiswa lain yang Saya kenal. Tokjer. Kalau bicara, atau kalau berdiskusi dengan Ti saya sering kualahan.
Misalnya, dia pernah bertanya:
“Saya penasaran, orang Jawa ada aksara. Orang Bugis ada aksara. Orang Dayak bagaimana? Benarkah orang Dayak tidak punya sistem lambang bunyi tersendiri? Masa’ sih orang Dayak tidak punya?”
Tetapi, walaupun berisi, kalau lagi kuliah Ti lebih banyak diam. Menyimak. Kadang kala dia hanya bicara kalau sudah diminta bicara. Kalau sudah bicara, baru orang tahu isinya.
Dan, Ti memang jago. Dia pernah tampil dalam berbagai seminar sebagai pembicara. Bahkan pernah mewakili kampus kami dalam lomba presentasi karya ilmiah tingkat nasional. Karya ilmiahnya lolos seleksi nasional.
Ya, dia termasuk orang yang terbilang. Meskipun masih belia, tulisannya bagus.

***

Nah, malam kemarin, saya membuka blognya. Secara kebetulan saja Saya melihat linknya di blog milik Ambar, teman saya yang juga teman Ti. Ada tulisan Ti tentang tahun baru Hijriyah.
Saya memelototi tulisan itu. Bukan saja indah gaya bahasa dan variatif pilihan katanya, tetapi juga isi cerita itu yang bikin Saya lengket. Isinya seputar kegiatan kami di hari itu –saya lupa persisnya.
Saya tidak menyangka Ti menulis cerita itu. Lebih dari itu saya tidak menyangka dia melakukan pengamatan dan menulisnya.
Tulisannya menjadi menarik. Di tangan Ti, sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang istimewa.
Tak puas hanya membaca, lantas malam itu juga saya kirim SMS.
“Ti, Kamu gilee”
Spontan. Saya tak terpikir budak itu heran. Terkejut atau apa. Sampai saya mendapat balasan:
“Kok gile?”
Setelah membaca SMS itu saya baru sadar. Mungkin Saya yang gila. Bayangkan kirim SMS hampir tengah malam buta. Tak ke orang sudah tidur? Atau, eh, ini ‘kan malam Minggu, tak keh orang lagi sama ‘teman dekat’ menghabiskan malam indah.
Kalau Ti lagi bersama ‘temeeennn’ dan ‘temeeennn’-nya itu darah panas, abislah cerita. Bisa berantakan malam Minggu.
Ah, mane duli. Kalau mau marah, biarlah.
Saya membalas SMS Ti dan memberitahukan bahwa saya sedang membuka blog-nya dan membaca tulisannya.
Ti, merendah.
“Itu cuma ctatan hrian, agar tidak lupa. Jgn diolok pa, byk yg nyeleneh jg tuh, ape agk waktu nulisx agk sangsot. He he ...”
Lihat, dia masih mampu bilang waktu menulisnya sedang agak sangsot. Sangsot dalam bahasa Melayu Pontianak, maknanya sama seperti ‘hang’.
Bayangkan bagaimana lagi bentuk tulisan kalau tidak sedang sangsot.
Tetapi saya maklum itu gaya Ti. Ilmu padi. Dalam hal tertentu, ilmunya lebih tinggi dibandingkan Saya. Andai saja kami satu angkatan, pasti dia akan menjadi guru Saya dalam banyak hal.

***

Tapi bukan soal itu saja. Ti juga sering membuat saya bangga. Kemarin, saya berbicara dengan Akin (Nama sebenarnya Muttaqin), staf Pembantu Ketua III Kampus Kami. Kami bicara soal beasiswa karya ilmiah tahun 2008 ini.
Dari Akin, saya tahu ada beberapa teman saya mengajukan program itu. Termasuk Ti dan Ambar. Jumlahnya baru 6. Padahal ‘jatahnya’ ada 15.
Panjang cerita Takin menceritakan beasiswa tahun lalu. Ti juga mengajukan. Dia mengajukan. Tetapi bukan karya ilmiah –sebab kategori karya ilmiah baru ada tahun ini. Ti (dan Nisa, teman saya juga) mengajukan beasiswa prestasi.
Tetapi permohonan beasiswa prestasi Ti dan Nisa tidak diloloskan. Saat pengumuman nama mereka muncul dalam kategori “Mahasiswa Tidak Mampu”.
Kata Takin saat dipanggil untuk pencairan beasiswa itu, Ti dan Nisa menolak.
“Kami memohon untuk beasiswa prestasi, bukan beasiswa mahasiswa kurang mampu. Kami tidak dapat menerimanya. Bukan kami tidak perlu uang. Kami perlu uang,”.
Karena itu nama mereka dicoret dan diganti dengan mahasiswa lain.
Tentu saja saya terperangah mendengar cerita itu. Ti tidak pernah cerita. Nisa juga tidak.
Saya bangga dengan idealisme mereka itu. Sesetengah orang mungkin tidak peduli dengan uang seperti itu. Sesetengah orang pasti tidak akan memikirkan orang lain. Hanya orang yang memiliki kelebihan saja yang bisa begitu. Hanya orang yang hebat saja yang dapat menahan diri. Apalagi bila sudah berhadapan dengan uang.
Saya merasa sangat beruntung kenal dengan Ti. Walaupun kadang-kadang dia rada-rada aneh. Saya belajar banyak dari dia.

[Ti, jangan marah ya kalau ada bagian yang tak berkenan].



Baca Selengkapnya...