Oleh: Yusriadi
1 Januari 2011. Saya membuka blog saya: yusriadiebong.blogspot.com. Ada pesan di inbox dari seseorang yang bernama Razy H Zahry. Saya tidak mengenal nama itu. Tapi, kalau nama H Zahry saya kenal. Malah, rasanya, sangat kenal.
Rupanya, orang yang meninggalkan jejak di inbox itu memang anak H. Zahry yang saya kenal itu. Saya bisa menduga demikian setelah membaca pesan itu.
“Razy H Zahry: Atas nama keluarga besar kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih buat bang yus, yang telah membesarkan nama Alamarhum ayahnda kami, mohon maaf kalau ada salah bang”.
Pesan itu membangkitkan memori saya tentang almarhum H. Abang Zahry Abdullah Al-Ambawi, yang meninggal pada 14 September 2010 lalu. Beliau telah saya anggap orang tua dan datok saya sendiri. Saya dan beberapa teman lain membiasakan memanggil beliau “Tok Olah”.
Saya banyak bergaul dengan beliau. Kami sering seminar bersama. Diskusi bersama. Beliau kadang kala saya jadikan narasumber untuk berita saya di Harian Borneo Tribune. Di luar itu, kami juga kerap bertemu untuk sekadar menjaga komunikasi.
Kami semakin akrab, karena beliau berasal dari Jongkong, dan saya berasal dari Riam Panjang. Riam Panjang terletak di pedalaman Jongkong. Beliau juga kenal dengan almarhum bapak saya, Zainal Abidin alias Ebong.
“Pala Kampung Ebong, ayah kula’ tu’, main bal”. (Kepala Kampung Ebong, ayah kamu itu, pemain bola). Begitu kata Tok Olah dulu.
Tok Olah memiliki karir yang luar biasa. Pernah menjadi guru, menjadi pegawai Departemen Agama – sempat menjadi Kepala Kantor Departemen Agama di Sanggau dan Pontianak, pernah menjadi anggota DPRD di Kapuas Hulu.
Beliau adalah salah satu orang Ulu yang sukses di rantau orang. Saya mengenalnya begitu, pada mulanya.
Karena asal daerah yang sama, kami berkomunikasi dalam bahasa Ulu. Selalu. Kalau sudah bergurau, dan beliau orangnya humoris - ramah, kosa kata yang arkaik dalam bahasa Ulu keluar. Kami bisa mentertawakan banyak hal jika sudah begini.
Keramahan dan sikap beliau membuat saya sangat nyaman mengenal beliau. Ya, itu tadi, serasa orang tua sendiri. Beliau jadi panutan.
Saya mengagumi beliau karena beliau memiliki pengetahuan sejarah yang luar biasa. Sejarah Kapuas Hulu, Sintang-Melawi, Sanggau, beliau kuasai. Tanya saja tentang apapun, pasti beliau ada jawabannya. Tanya salasilah orang, beliau ahlinya. Beliau adalah enseklopedia sejarah ulu. Ingatan beliau sangat kuat.
Mengapa bisa begitu, di kemudian hari saya tahu: Tok Olah adalah sosok pembelajar. Setiap peristiwa penting dicatatnya. Dia punya buku agenda sejarah. Kejadian apapun ditulisnya. Beliau juga memiliki koleksi naskah dan tulisan-tulisan sejarah.
Selain itu, beliau saya kenal sebagai kolektor barang-barang unik dan memiliki tanaman obat yang banyak.
Karena itulah, saya sering menulis beliau sebagai sumber inspirasi. Ini juga yang membuat saya terus mengingat beliau. Terima kasih datok. Semoga datok tenang dan bahagia di sana.
Selasa, 03 Januari 2012
Mengenang Tok Olah (Alm. Drs. H. Zahry Abdullah)
Diposting oleh Yusriadi di 03.09 0 komentar
Label: Inspirasi, Kapuas Hulu, Sejarah Kalbar
Selasa, 06 Desember 2011
Cerpen: Sampuk untuk Banin
Karya: Yusriadi
Kakinya melangkah ringan, berjinjit cepat. Secepat langkah kijang. Dia memburu waktu. Dia harus segera sampai di rumah. Istrinya, Banin, menunggu obat yang dia bawa.
Dia ujung kampung Bakik, dia tercekat. Matanya tertuju pada pantak tanda dari kayu yang diletakkan di ujung jalan kampung.
Dug!
Jamit terperangah. Dia tahu tanda itu. Itu tanda kematian.
“Siapa yang mati?”
Dia berusaha menebak. Aki Gurung? Aki Sangki? Aki Lanyuk? Dia mencoba mengabsen nama-nama orang tua di kampung itu yang keadaannya sakit dan yang keadaan agak uzur. Jamit berusaha tak memasukkan istrinya dalam daftar itu. Berkali-kali dia menepis pikiran itu.
“Banin tak masuk dalam kemungkinan itu,” bisiknya.
“Tidak. Bukan dia.”
Banin masih muda. Mereka baru menikah lima tahun lalu. Mereka baru punya dua anak, Kurat dan Tamal. Anak-anak itu masih kecil. Kurat baru pandai mengangkut air dengan gerobuk (cangkang buah kelapa yang diberi tali), sedangkan Tamal baru belajar berjalan. Tamal masih perlu menyusu.
Tak terasa langkah Jamit sampai di rumah panjang. Dia melihat rumah panjang itu ramai. Ya, setiap kematian selalu ramai. Tetangga, keluarga mara, turut berduka. Orang mengalami pantangan. Tak boleh keluar kampung jika tak perlu. Tak boleh pergi jauh jika bukan karena perkara mendesak. Melanggar pantang, nahas yang datang.
Lebih dari itu, situasi begitu membuat kekeluargaan tetap terjaga. Saling tolong. Saling bantu. Yang susah terhibur karena selalu ada teman. Tak sempat termenung sendiri. Barang yang ada dikerjakan bisa dikerjakan bersama. Semua bekerja tanpa berkira. Tenaga disumbangkan, barang makan dikeluarkan.
Kehidupan rumah panjang seperti ini dirindukan Jamit bila dia terpaksa harus tinggal beberapa bulan di ladang untuk menjaga padi.
Kesibukan di rumah panjang adalah kesibukan massal. Kesibukan semua. Karena itu ketika ada gawai dibuat, tak dapat dikira pintu siapa yang punya kerja.
Sama seperti sekarang ini, Jamit tak bisa menebak ketika melihatnya dari jauh.
Ketika jarak sepelemparan tombak dari rumah, Jamit melihat orang mengalukan kedatangannya. Mereka menyongsongnya ke halaman rumah panjang.
“Dah datang kau, Mit”.
“Iya. Syukurlah”.
“Baik-baik di jalan?”
“Lancar semuanya”.
Jamit menjawab sambil mengedarkan pandangannya. Hatinya mulai berkecamuk. Penyambutan yang diterimanya kali ini berbeda dari biasanya. Mengapa dia disambut seperti ini?
“Jangan-jangan…” Dia masih berusaha menepis.
“Bagaimana hasilnya?” Aki Jarak, seorang tetua di rumah panjang Bakik, bertanya.
“Dapat”.
Jamit menurunkan sabitnya (ambenan dari rotan). Dia mengeluarkan ikatan kayu sampuk.
“Ini…”
Kayu sampuk itu diberikan kepada Aki Jarak.
“Ya… ini kayu yang sangat berharga. Kehidupan”.
“Benar, Ki”.
“Jamit… Kehidupan kita banyak tergantung pada kayu ini. Asap kayu ini menjaga kita dan batin kita dari dedemit, gana, dan amak ungas”.
Jamit mengangguk mengerti. Dia sudah mendengar hal itu beberapa kali dari orang tua di rumah panjang ini. Malah sejak dia masih anak-anak, dia sudah tahu kayu itu, tahu kegunaannya. Kakeknya menyebut kayu itu sebagai raja obat. Neneknya mengatakan kayu ini pelindung yang baik, dan karena itu beruntunglah orang menyimpannya di rumah.
Karena itu jugalah maka ketika dia diminta mencari kayu ini di bukit Lumut, dia dapat menemukannya. Hanya, karena jarak yang jauh dan mencarinya susah, dia membutuhkan waktu 3 hari.
“Tapi, meski demikian, kehidupan kita sesungguhnya ada di tangan Dewa. Dia berada di atas usaha kita. Setiap orang akan sampai pada tahap itu. Mungkin bedanya, kapan dan bagaimana jalan masing-masing”.
Jamit mengiyakan. Banyak sudah orang-orang tua yang pergi dari kehidupan. Beberapa temannya juga sudah pergi mendahului. Bahkan, beberapa di antaranya pergi sejak anak-anak.
Tetapi … tunggu! Mengapa Aki membicarakan hal ini?
“Apa yang terjadi?” Jamit memegang tangan Aki Jarak. Tapi, lelaki tua itu tidak bersuara.
“Kik! Banin???”
“Iya, Mit. Banin. Waktunya sudah sampai. Kau harus berusaha sabar”.
Jamit mengendorkan pegangan. Kakinya lemah. Dia terjerembab ke tanah.
Aki Jarak dan beberapa lelaki menolong, membawa Jamit naik ke rumah. Sampuk yang sedianya dibawa untuk Banin, sekarang dibakar diasapkan ke muka Jamit. Aki Jarak membaca mantra, seraya berdoa semoga Jamit segera sadar.
Diposting oleh Yusriadi di 02.14 0 komentar
Label: Cerita, Kapuas Hulu
Senin, 08 Agustus 2011
Tarian Sopir Taksi
Oleh: Yusriadi
Cerita tentang taksi ini merupakan lanjutan cerita sebelumnya. Setelah lewat Sanggau, kami dipindahkan dari taksi plat kuning ke taksi plat hitam. Taksi plat kuning dibawa anak muda itu, kembali lagi ke Putussibau. Taksi resmi ini membawa penumpang taksi plat hitam. Begitu juga sebaliknya, taksi plat hitam membawa penumpang taksi plat kuning. Tukaran.
Beberapa penumpang sempat kesal melihat pertukaran itu. Apalagi sebelumnya, sopir muda itu hanya mengatakan:
“Bapak pindah mobil ya. Mobil ini kembali ke Putussibau,” katanya.
Sewaktu diberitahu, saya sempat menduga kami pindah mobil, digabungkan dengan penumpang mobil yang satunya lagi.
“Wah, bakal numpuk ni,” kata saya dalam hati.
Tetapi rupanya saya salah. Sebab, ternyata penumpang mobil plat hitam itu tujuan Putussibau. Tidak satu arah dengan perjalanan kami. Kami ke Pontianak. Alhamdulillah.
Ketika naik, saya malah merasa sangat lega karena rasanya mobil ini lebih lapang. Sopir yang membawa juga sudah agak tua. Berpengalaman. Dia membawa mobil dengan perlahan. Dengan begitu guncangan tidak kuat.
Tetapi, rupanya, ada sisi lemahnya juga. Sopir tua ini fisiknya tidak sekuat anak muda – atau mungkin karena factor sudah larut malam?
Sepanjang jalan, musik yang mengalun adalah musik lama. Musik yang membangkitkan kenangan. Lama-lama mengantuk jadinya. Namun, saya tidak bisa tidur dengan lelap karena mendapat posisi duduk di tengah. Kaki bisa melunjur, namun, sulitnya, saya tak ada pegangan.
Karena tak bisa tidur enak, saya jadi lebih banyak bangun. Saya bisa melihat ada yang menarik di dalam taksi itu. Sopir menari.
Ya, saya kira sopir menari. Tangan kirinya bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Gerakan mengipas, memutarkan tangan, dan seterusnya.
Apakah sopir seniman? Tidak. Tangan sopir menari selain untuk mengatasi pegal, juga dimaksudkan untuk mengatasi rasa mengantuk. Ada gerakan, ada aktivitas, dengan begitu serangan kantuk bisa diatasi.
Tetapi, malangnya, tarian itu tidak bisa juga menghindarinya dari serangan kantuk. Tetap saja.
Lalu, ketika sampai di gerbang Sanggau, mobil berhenti. Sopir turun. Saya kira dia hanya buang air. Tetapi tidak. Setelah itu dia duduk di depan kemudi. “Tidur dulu,” katanya.
Wah…
Saya melihat waktu menunjukkan pulu 2 lewat. Memang jam tidur. Pak sopir, yang sudah berumur itu pasti sangat mengantuk. Saya sempat heran bagaimana dia mau menjadi sopir – pekerjaan yang jelas sangat melelahkan. Apalagi katanya, itu mobil sendiri. Pasti lebih enak jam segini berada di kasur empuk, tertidur pulas. Mengagumkan dia mau membawa mobil melayani penumpang yang keenakan tidur.
Sekitar satu jam kemudian dia bangun. Perjalanan dilanjutkan. Tapi, juga tidak lama. Ketika lebih kurang 2 jam perjalanan, mobil berhenti lagi dan sopir tidur lagi.
Rasanya ingin bertanya mengapa dia masih tetap mau membawa mobil sedangkan fisiknya tidak lagi kuat. Ingin juga bertanya mengapa tidak ada sopir cadangan, untuk mengantisipasi kemungkinan sopir kelelahan. Ingin juga protes, sebab saya ingin cepat sampai di Pontianak.
Tetapi, semua itu disimpan. Melihat keadaan orang tua itu yang kelelahan, membuat saya tidak sampai hati mengajukan soalan itu. Kasihan sungguh. Mungkin pemerintah yang menyoal mereka kelak.
Diposting oleh Yusriadi di 00.16 0 komentar
Label: Inspirasi, Kapuas Hulu
Minggu, 05 Juni 2011
Sukiman dan Foto Lama
Oleh Yusriadi
Sukiman. Dia bukan orang terkenal. Dia, lelaki berumur 40 tahun hidup nun jauh di hulu sungai Embau, tepatnya di Nanga Lotuh, Hulu Gurung, Kapuas Hulu.
Namun begitu dia dikenal banyak orang. Pekerjaannya sebagai penjual kerupuk dan ikan asin keliling 7 kecamatan di sekitar selatan Kapuas Hulu membuatnya banyak kontak dengan orang. Dan, itulah yang membuat orang tahu padanya.
Dia teman sekolah saya di MAS Jongkong tahun 1986-1989. Kami cukup akrab. Sering kali, pulang pergi dari Jongkong Tanjung ke sekolah di Jongkong Kanan, kami naik sampan bersama. Kami pernah karam bersama karena sampan yang kami naik terlalu sarat dan pada saat yang sama gelombang dari perahu speed datang menerpa.
Kami belajar bersama di sekolah dan kadang juga di rumah, karena rumah tempat kami tinggal sewaktu di Jongkong, berdekatan, hanya dipisahkan oleh lapangan volly. Sesekali, kami bermain bersama.
Kenangan kami berdua tidak hanya dipatri dalam ingatan. Kami memiliki foto bersama. Ada foto kami berdua berdiri hitam putih dengan pakaian seragam sekolah. Ada juga foto ramai-ramai ketika kami ujian di sekolah MAS Jongkong, dan juga ketika kami bertamasya ke Bukit Semujan. Ini yang mematri kenangan kami.
Saya teringat kenangan itu karena beberapa hari lalu melihat dokumentasi itu. Sukiman yang saya temui di rumahnya di Nanga Lotuh, masih menyimpannya. Dokumentasi yang saya kira sudah tidak ada lagi. Foto yang saya simpan hilang.
Selain foto itu, ada beberapa lagi foto lain yang disimpan Sukiman. Sayangnya foto-foto itu tidak utuh lagi. Bagian tepi foto sudah blur dimakan angin. Akibatnya, wajah yang di bagian tepi tak dapat dilihat lagi. Termasuk wajah saya.
“Padahal saya sudah menyimpannya baik-baik. Dalam lemari,” kata Sukiman. Ada nada kecewa.
Saya memaklumi kekecewaan itu. Bukan salah Sukiman. Mungkin salah cuaca di sekitar yang lembab. Karena itu, sekalipun penyimpannnya rapat, namun, tetap saja ada bagian foto yang ‘dimakan angin’. Itulah yang biasa terjadi.
Bukan hanya Sukiman. Bukan hanya saya. Banyak orang lain yang mengalami hal itu. Banyak orang yang kehilangan ikatan ingatan karena cuaca. Bahkan, Kalbar juga banyak kehilangan masa lalu karena dokumen aus ‘dimakan angin’, lenyap bersama perjalanan waktu.
Kita menjadi tidak berdaya karenanya. Apatah lagi kita tidak bisa membalikkan masa lalu ke masa kini untuk membuatkan dokumentasi seperti itu.
Inilah yang kemudian membuat ingatan kita pada masa lalu hilang. Masa lalu tidak dapat dikenang dengan baik. Bagi masa sekarang, masa lalu seperti itu bak tragedi.
Ingat tragedi itu saya jadi ingat rencana sebuah organisasi membangun museum di sebuah daerah. Rencana itu tidak mulus. Ada yang menolak karena menganggap tak ada gunanya, masih banyak hal lain yang perlu. Mereka tidak melihat manfaatnya.
Lalu akhirnya sampai hari ini gagasan menyimpan dokumentasi itu tidak terwujud hingga hari ini. Mungkin tidak akan pernah terwujud sampai semua kekayaan hari ini dan masa lalu yang akan disimpan di sana musnah. Lalu, kita semua menjadi seakan-akan tidak punya masa lalu; kecuali yang bisa diingat. Lalu, seakan-akan kita tidak punya masa lalu yang dipatrikan. Duh, tragisnya.
Diposting oleh Yusriadi di 02.53 0 komentar
Label: Inspirasi, Kapuas Hulu
Selasa, 14 September 2010
Kehilangan Tok Olah, Ahli Sejarah Ulu
Oleh: Yusriadi
Kaget luar biasa. Itulah yang saya alami Jumat kemarin saat mendapat telepon dari Dr. Hermansyah, teman saya di STAIN Pontianak. Sebabnya, saat menelepon itu, Hermansyah memberitahu saya: Tok Olah meninggal. Tok Olah adalah panggilan kami untuk Drs. H. Zahry Abdullah Al-Ambawi.
Kabar itulah yang membuat seketika saya menjadi lunglai. Lemas. Saya tidak siap mendengar kabar itu.
Sehari sebelumnya memang saya sudah tahu Tok Olah kena stroke. Bagian kiri badannya lumpuh. Hermansyah, Ibrahim, sudah mengunjungi beliau Kamis. Kabar dari Ibrahim, perkembangannya bagus. Kaki kiri sudah bisa bergerak sedikit. Karena kabar baik itu, saya menunda kunjungan. Niatnya, setelah Jumatan, saya ke sana.
Nah, belum niat itu terlaksana, saya mendapat kabar kalau beliau sudah meninggal dunia, sebelum salat Jumat.
Saya lunglai bukan saja karena saya terlambat menjenguk beliau, tetapi juga karena saya merasa kehilangan dan kerugian besar. Kehilangan yang tak ternilai.
Beliau adalah orang baik. Dan kami semua anak-anak beliau merasa kebaikannya. Beliau sangat luar biasa.
Kami juga membanggakan beliau, dan beliau membanggakan kami. Kami sering bekerja sama dalam upaya penelitian dan penggalian informasi sejarah. Beliau rekan kerja yang sungguh sangat koperatif. Beliau sangat terbuka. Datanya, ilmunya, semua disampaikan jika diminta.
Beberapa kali saya datang ke rumah beliau, dan setiap kali datang beliau akan bangga menunjukkan data-data yang beliau miliki. Buku, lembaran copian, foto, artifak., jika diperlukan, beliau keluarkan.
“Itu’ ladang amal aku,” kata beliau dalam bahasa Ulu -- Bahasa Ulu tetap dipakainya bila berkomunikasi dengan kami, mengenai pendiriannya.
Ya, beberapa kali beliau meniatkan beramal dengan ilmu itu. Bagi beliau, ilmu harus selalu dibagi. Ilmu akan berkembang jika dikongsi.
“Untuk apa bah disimpan sendiri,” ujar beliau lagi.
Karena beliau terbuka pada orang lain, orang lain pun terbuka pada beliau. Beliau dapat menyerap banyak informasi dari hal ini. Beliau sangat rajin menghadiri pertemuan dan seminar. Setiap kami undang, beliau pasti datang.
Justru itu, saya amat mengagumi beliau. Wawasan beliau luas, informasi yang beliau miliki dalam. Data yang ada mencukupi. Tanya saja tentang sejarah Kapuas Hulu; tentang Embau, tentang Jongkong, juga tentang Sintang, tentang Sanggau, pasti akan ada jawabannya. Detail. Tanya juga tentang salasilah turunan-turunan bangsawan itu, beliau juga punya jawabannya. Beberapa kali saya dibuat geleng kepala melihat kelebihan beliau itu. Saya sering menyebut beliau enseklopedi hidup.
“Aduhh… coba kalau ditulis ya?” saya mengomentari beliau.
“Aku na nyaruk nulis. Aku tau ngumung magang. Kian mih”.
Lalu, beberapa kali kami menggarap karya bersama. Hermansyah bersama beliau pernah menulis beberapa artikel. Saya juga pernah mengedit tulisan beliau tentang Iban di Kapuas Hulu.
Karena aneka kesibukan, karena tidak membuat prioritas, tidak banyak kerja sama penulisan yang dibuat. Kalau bertemu, kami membahas beberapa temuan baru dan omong-omong biasa. Sama sekali saya tidak pernah berpikir bahwa beliau akan meninggalkan kami dengan cepat. Bahkan saya melupakan umur beliau yang sudah sepuh -- Hampir 70 tahun – karena beliau tampil energik, sehat, ramah, hangat, dan humoris.
Nah, karena itulah, saya merasa kehilangan besar atas kepergian beliau. Jejak pengetahuan beliau belum tergores dalam pahatan sejarah. Pengetahuan sejarah yang luas itu belum banyak didokumentasikan. Dan sekarang, pengetahuan itu hilang bersama kepergian beliau. Mungkin, jejak beliau juga akan hilang oleh perjalanan sejarah.
Sungguh kehilangan yang besar. Saya merasa kehilangan. Dunia akademik ulu juga kehilangan. Kalbar juga kehilangan.
Tapi, begitulah takdir Allah. Setiap yang bernyawa akan mati. Beliau sudah mendahului kita, dan kita akan menyusulnya kelak. Semoga amal ibadahnya diterima Allah. Semoga amal jariahnya menjadi pahala yang mengalir terus untuk beliau. “Maafkan salah khilaf kami Tok. Minta’ halal rela semuanya”.
Diposting oleh Yusriadi di 07.28 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Senin, 21 Desember 2009
Ketika Sekda KH Ditahan
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Sekda Kapuas Hulu, MS, ditahan. Itulah bunyi berita utama surat kabar di Kalbar, tiga hari lalu. Sumbernya sama, Direktur Reserse Polda Kalbar, Kombes Pol Rafli yang menggelar konferensi pers Selasa (1/12).
Malam sebelumnya (Malam Rabu), saat mendengar kawan di redaksi membicarakan berita Sekda KH ditahan, saya sempat terkejut.
“Benarkah berita itu?”
Saya sempat tidak percaya. Banyak sebab yang membuat saya tidak percaya. Tantra, wartawan di Borneo Tribune yang menulis berita itu membenarkannya. “Benarlah Bang. Ini hasil konferensi pers Polda,”
Dia menunjukkan document konferensi pers yang dipegangnya. Saya membacanya. Laporannya jelas. Ada laporan dari masyarakat. Proyek ini memiliki nilai total sebesar Rp4.938.212.000 di mana pencairan dana proyek tersebut dilakukan dari tahun 2004-2006.
Pada tahun 2004 proyek tersebut dengan nilai Rp1.399.700.000 dilakukan penunjukkan langsung oleh Ms yang saat itu menjadi Kepala Dinas Kimpraswil Kapuas Hulu kepada Direktur PT KKM, Sur alias Yan.
Kemudian pada tahun 2005 dilaksanakan kembali proyek yang sama dengan nilai proyek Rp542.373.000 melalui penunjukkan langsung kepada kontraktor PT Basnia milik anak tersangka Sur.
Di tahun 2006, juga dilaksanakan proyek yang sama yaitu pembuatan ruas jalan Bunut-Mangin Kecamatan Bunut Hilir dengan nilai proyek Rp2.996.139.000.
Meski dana proyek sudah dicairkan 100 persen tapi pengerjaan pembangunan ruas jalan tersebut asal-asalan bahkan ruas jalan tidak dapat digunakan untuk lalu lintas kendaraan baik roda dua maupun roda empat.
Akibatnya, menurut saksi ahli dari BPKP kerugian negara yang ditimbulkan sebesar Rp1.751.690.633 terdiri dari kerugian proyek tahun 2004 sebesar Rp932.710.956 dan proyek 2006 sebesar Rp818.979.677.
Kata Rafli, sampai sekarang masih ada tiga jembatan yang seharusnya dibangun tapi tidak dibangun dan jalan sepanjang 3,2 kilometer belum dilakukan pengurukan namun pengerjaan dinyatakan selesai 100 persen.
Saya tersandar. Masih kaget.
“Kok begini?!”
Saya masih tidak mempercayai jika MS yang melakukan korupsi. Saya memang tidak mengenal MS, tetapi, saya sering mendengar namanya. Istrinya, mertuanya (dahulu), saya kenal. Mereka orang yang terpandang dan sangat kami hormati. Jadi, rasanya tidak mungkin.
Teman saya yang (agaknya) mengenal MS mengatakan MS dikenalnya juga sebagai orang baik. Tidak rakus. Tidak ada track record yang buruk.
Lalu? Entahlah. Saya mencoba memahami duduk persoalannya dengan apa yang mungkin terjadi. Aha… saya jadi teringat beberapa orang yang terlibat dalam pusaran system kekuasaan. Sangat runyam dan sering mereka mengeluh: “Tidak mampu!”
Pusaran kekuasaan itu menyebabkan administrasi dan pekerjaan proyek kadang tidak bisa mengikuti prosedur dengan sempurna. Pasti ada bypass di sana-sini. Baik soal administrasi, maupun soal lain. Ada banyak factor X yang harus dihadapi. Seorang pejabat kadangkala harus pandai berada di celah yang kompromistis. Jika nasib baik, selamatlah dari pemeriksaan, jika tidak, tentu ada konsekuensinya. Jadi, pandai-pandailah bermain dengan nasib.
Abang saya yang sering terlibat dalam proyek sering mengatakan prinsipnya. Kita tidak perlu takut dengan pemeriksaan. JIkapun yang kita lakukan dipersalahkan karena alas an tertentu, yang penting jangan kita makan uang itu. Intinya, jangan ambil uang Negara untuk diri sendiri. Tetaplah jujur, apapun keadaannya.
Tentu harus kuat. Kalau tidak, godaannya akan terus muncul dan godaannya sangat besar. Orang bisa kaya dengan kekuasaan proyek. Tetapi, orang juga sering sengsara karenanya.
Itulah yang terjadi pada MS sekarang. Lepas dari apapun kesan baik terhadapnya, dia sekarang ditahan. Secara formal, begitulah masalahnya. Dia memang harus bertanggung jawab karena itulah tanggung jawabnya sebagai pejabat yang memutuskan secara formal. Dia harus berani menghadapinya. Sama beraninya ketika dia memilih masuk dalam jaringan penguasa.
Diposting oleh Yusriadi di 08.02 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Minggu, 25 Oktober 2009
Buku Harian H Zahry Abdullah
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rabu (21/10) kemarin, saya berkunjung ke rumah H Zahry Abdullah di kawasan Jalan Sumatera Pontianak. H. Zahry adalah tokoh di Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar. Saya mengenalnya sebagai tetua orang Ulu di Pontianak. Kadang kami memanggilnya Pak Utih. Kadang juga Tok Olah.
Beliau, kelahiran Kapuas Hulu. Pernah menjadi guru, menjadi anggota DPRD, dan menjadi pejabat di Departemen Agama. Antara lain, sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Sanggau.
Sekarang beliau telah pensiun.
Tetapi, meskipun pensiun, beliau tetap energik. Tidak pernah diam. Ada banyak hal yang dikerjakannya. Mulai dari urusan soal tanam obat, hingga urusan adat dan budaya Melayu.
Kunjungan saya ke rumahnya adalah untuk mengambil tulisan beliau tentang Kota Pontianak. Saya meminta Tok Olah menuliskan pandangan dan pengalamannya berada di kota ini. Maklum, beliau di Pontianak sejak tahun 1960-an. Saat Pontianak masih hutan dan semak-semak. Saat kampung masih terpisah-pisah. Saat penduduk masih sedikit. Saat Pontianak masih belum seramai sekarang. Beliau termasuk orang yang menyaksikan perubahan wajah kota.
Saya menerima naskah Tok Olah dua hari kemudian dalam bentuk ketikan mesin tik.
Setelah saya mengetiknya, saya merasa perlu menemui beliau untuk mengecek beberapa informasi yang masih harus ditambahkan dalam tulisan itu. (Tulisan beliau akan terbit besok di Edisi Khusus Borneo Tribune).
Saya sudah membuat catatannya ketika membacanya. Jadi, saat berjumpa Pak Utih saya tinggal memperlihatkan catatan itu saja.
Ketika saya memperlihatkan catatan itu kepada beliau, dengan tangkas beliau mengambil buku-buku sumber. Beliau menuju rak buku di ruang tamu dan kemudian mengambil buku yang diperlukan, membuka halamannya dan kemudian membuat koreksi.
Di antara buku yang beliau gunakan, termasuk, buku harian.
Penggunaan buku harian ini membuat saya terkagum-kagum.
Buku itu adalah sebuah buku agenda. Tebal. Ada lebih 10 cm. Sampulnya hard cover warna biru.
Buku harian itu berisi catatan beliau atas peristiwa penting yang terjadi sehari-hari. Saya sempat memeriksa halaman demi halaman. Ada halaman berisi tentang pembentukan kota Pontianak. Ada halaman berisi Walikota Pontianak dan tahun menjawab. Bupati Kapuas Hulu, Sanggau, Kabupaten Pontianak, dll. Ada catatan tentang nama Kepala Kantor Wilayah Depag Kalbar dan masa jabatan. Ada catatan tentang peristiwa penting di Kalbar; misalnya tentang jembatan Mempawah yang roboh, tentang kerusuhan di Kalbar.
“Aku perlu mencatat begini biar tidak susah mencari-cari jika perlu. Semuanya ada,“ katanya.
Menurut Pak Uteh, beliau membuat catatan berdasarkan informasi yang masuk, baik melalui media cetak, elektronik, ataupun melalui informasi langsung dari orang-orang.
“Aku buat sejak dulu buku harian. Inilah catatan hariannya,“
“Rajinnya Nuan. Hebat,”
Saya memuji beliau. Benar-benar hebat. Jarang sekali orang mmbuat seperti yang beliau lakukan. Setidaknya, sampai saat ini saya belum melihat orang yang melakukan itu. Apalagi ini, orang tua.
Tapi, lagi-lagi saya ingat, beliau memang beda. Dahulu, saya memuji beliau karena kegigihannya sebagai kolektor naskah lama.
Saya juga memuji beliau, meskipun sudah tua masih mau meluangkan waktu untuk menulis – memenuhi permintaan saya. Dalam soal-soal begini, beliau jadi teladan. Kita memerlukan banyak orang seperti itu untuk hidup eksis di masa depan.
Diposting oleh Yusriadi di 08.03 0 komentar
Label: Buku, Kapuas Hulu, Suara Enggang
Sabtu, 10 Oktober 2009
Sekolah dan Guruku di Riam Panjang
Oleh: Yusriadi
Sudah lama aku ingin mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kapuas Hulu. Aku ingin mencari data tentang partisipasi pendidikan orang Riam Panjang. Data ini akan membantu aku menjelaskan bagaimana tingkat partisipasi pendidikan orang di pedalaman, di kampung kelahiranku.
SD Riam Panjang itu sekolah dasarku. Dahulu, hampir 30 tahun lalu aku belajar di sini. Aku duduk di kursi kayu di sekolah ini selama 5 tahun, setelah aku pindah dari Madrasah Ibtidayah Riam Panjang yang ditutup begitu SD ini berdiri tahun 1978/1979.
Aku di sini menuntut ilmu dari guru-guruku – yang beberapa di antaranya sudah berpulang ke rahmatullah, ada juga yang tidak aku ketahui ke mana mereka. Sedangkan mereka yang sempat kutemui, kini sudah nampak agak tua. Melihat mereka sekarang, aku merasa aneh. Dahulu, saat aku kecil dan saat itu mereka muda, sebagian mereka menurutku galaknya minta ampun. Beberapa guru pernah memukul aku dan teman-teman dengan ranting kayu sebesar rotan kecil – ranting yang kami ambil dari semak belukar, karena kami tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Kami juga pernah dipukul dengan penggaris kayu, hingga penggaris itu patah, karena kami ribut saat tidak ada guru. Kami juga pernah dipukul dengan buku hingga buku berderai karena berkelahi. Kami pernah dijitak hingga benjol ketika ada teman yang senyum-senyum saat upacara. Wiuh, mereka ketika itu sungguh menakutkan. Orang tua hampir tidak pernah membela kami karena hukuman fisik itu.
“Salah kalian, mengapa nakal. Makanya belajar benar-benar. Guru tidak akan menghukum kalian jika kalian baik-baik“.
Karena orang tua kami menghormati guru, kami juga sangat menghormati mereka. Tak sedikit pun terlintas pikiran kami mencela mereka sekalipun kalau dipikir-pikir sekarang, betapa mereka menyakiti fisik kami. Apapun, guru dalam pandangan kami adalah orang yang layak digugu dan ditiru. Sampai sekarang. Guru-guru kami tetaplah guru.
Mereka juga memandang kami benar-benar murid yang mereka bimbing. Mereka melaksanakan tugas karena panggilan jiwa mereka sebagai pendidik.
Aku selalu terharu ketika bertemu mereka, terharu ketika mendengar mereka membanggakan kami sebagai muridnya yang kini berhasil. Cara mereka bernostalgia tentang kami dahulu saat belajar membuat kami juga merasa menjadi murid yang beruntug karena memiliki guru yang sayang pada kami.
***
Aku memasuki gerbang sekolah. Di sebelah kiri pintu masuk ada plang sekolah dan plang visi sekolah. Visi yang akan selalu mengingatkan guru-guru di sekolah ini pada tugas mereka sebagai pendidik.
Bangunan sekolah memanjang. Pada bagian paling ujung sebelah kanan ada kantor. Bangunan sekarang adalah bangunan baru. Bangunan lama tempat aku dan kawan-kawan dahulu belajar, dibangun tahun 1978, sudah dirobohkan. Bangunan lama, kayunya sudah lapuk.
Aku merasa sekolah ini lebih kecil dibandingkan dahulu. Kelas-kelasnya rasanya begitu kecil. Mungkin perbedaan itu muncul karena sekarang aku sudah besar. Tinggiku mungkin sudah dua kali lipat dibandingkan dahulu saat aku belajar di sini.
Aku sempat melongok ke dalam kelas melalui pintu yang terbuka. Di dalam sana ada sejumlah anak sedang belajar. Siswa tidak banyak. Kelas tidak terlalu ramai.
Sekolah ini tetap sederhana. Fasilitas yang baru rasanya cuma perpustakaan sekolah yang terdapat di sebelah kanan pintu masuk. Aku tidak sempat bertanya tentang buku. Aku juga tidak sempat mengunjunginya. Pintu perpustakaan itu tertutup.
Beruntunglah anak-anak sekarang memiliki tempat membaca. Mudah-mudahan perpustakaan ini juga menyediakan buku pelajaran, sehingga setiap siswa dapat menggunakan bahan itu. Setidaknya mereka lebih beruntung dibandingkan pengalaman kami dahulu: satu buku dikongsi orang sekelas. Seorang anak ditugaskan mendikte, kadang-kadang juga buku pelajaran itu disalin di papan tulis, dan kemudian siswa yang lain menyalinnya. Dahulu, aku juga mendapat giliran menulis di papan tulis atau mendiktekan pelajaran kepada teman-teman. Aku ingat inilah pekerjaan yang menyenangkan.
Padahal, kalau kupikir-pikir sekarang justru tugas ini menambah beban. Beban, karena di rumah nanti aku harus mencatat bahan-bahan itu dalam buku tulisku. Kawan yang lain karena sudah mencatat, bisa lebih santai.
Tetapi, mau apa lagi. Waktu itu buku-buku memang terbatas. Waktu itu tidak ada siswa yang mempunyai buku cetak. Tidak ada juga tempat foto copy.
Di balik keadaan begini, kami terlatih menulis. Sambil menulis kami bisa sambil belajar. Sekolah satu-satunya tempat belajar. Di rumah kami jarang belajar, jika tidak ada PR. Malam, kami lebih banyak diisi dengan nonton TV di tempat tetangga. – Dahulu di kampung yang luas itu hanya ada 2 TV. Bayangkan betapa ramainya. Mungkin cerita TV tidak seberapa. Tetapi, menonton ramai-ramai itu bentuk hiburan.
Kami tidak suka belajar di rumah (dan diam di rumah) karena waktu itu di rumah tidak ada lampu. Penerangan kalau malam hari hanyalah pelita. Listrik kampung tidak selalu bisa menyala. Kadang kala jika stok solar habis, atau operator listrik tidak ada, kami harus rela bergelap gulita.
Sungguh pun sekarang Riam Panjang sudah ada listrik namun amat jarang listrik menyala pada siang hari. Karena itu di ruang guru tidak ada peralatan elektronik. Tidak ada kipas angin dan AC, tidak ada komputer, tidak ada kulkas. Aku jadi membandingkan sekolah di kampung dengan sekolah di kota. Jauh sekali.
Kepala sekolah sekarang Mustafa, S.Pd memberitahukan, sebenarnya di sekolah ini sudah ada komputer. Namun karena tidak ada jaringan listrik, komputer itu tidak bisa digunakan. Karena listrik hanya ada di waktu malam dan jaringan hanya ada di rumah, akhirnya, disepakati komputer dibawa ke rumah.
Tetapi, malangnya, komputer juga tidak bisa digunakan. Komputer pernah coba dinyalakan, namun tidak bisa juga. Listrik di rumah penduduk hanya berkekuatan 450 KWH. Tidak cukup. Stut listrik jatuh.
Walau begitu, kabarnya tidak lama lagi sekolah akan mendapat laptop dan in focus. Di Pontianak‚ benda ini digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Guru membuat bahan presentasi dalam program window powerpoint, lalu, dia menyampaikannya dengan bantuan in focus yang ‚ditembakkan’ ke layar.
Aku sempat berpikir bagaimana guru di sini bisa menggunakan laptop dan in focus dalam mengajar, jika listrik tidak ada seperti sekarang. Pasti in focus akan jadi barang pajangan, seperti juga laptop sekarang ini.
Niat baik, tetapi tak mungkin terlaksana. Impian yang masih jauh dari kenyataan.
Keterbatasan ini membawa implikasi serius pada guru. Guru-guru sekolah ini, beberapa di antaranya guruku dan kawan kelasku SD, kesulitan mencapai kredit poin seperti yang disyaratkan untuk karir mereka.
Saat ini, baru 3 guru yang lulus sertifikasi. Lebih banyak yang belum. Aku mengasihani mereka yang belum: bagaimana mereka mengumpulkan angka untuk kepentingan itu. Bandingkan di Pontianak, kenaikan pangkat rasanya tidak suka dicapai. Fasilitas pendukung untuk mencapai angka kredit mudah diperoleh.
Aku sempat bertemu guru agamaku dahulu. Pak Yunus. Beliau, termasuk orang yang menghadapi kendala dalam mengejar sertifikasi. Hambatan yang terbesar: pendidikan. Beliau belum S-1. Kesempatan kuliah ada, tetapi tidak mudah. Kalau mau kuliah mereka harus biaya sendiri, ke Putussibau atau Pontianak. Jarak Putussibau 100 Km dan jarak ke Pontianak sekitar 700 Km. Kalau mau kuliah mereka harus meninggalkan kampung dan meninggalkan tugas. Belum dihitung berapa besar biaya yang diperlukan. Mengandalkan gaji sendiri sudah pasti benar-benar sulit.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah mereka dapat memperoleh izin belajar jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.
Jika begini terus keadaannya, bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tahun 2014, tahun yang katanya setiap guru harus sudah sertifikasi.
Nasib!
Tetapi aku tidak berlama-lama memikirkan nasib mereka. Aku berharap pemerintah, khususnya instansi terkait, menemukan jalan keluar bagi guru-guru di pedalaman. Kupikir, kepada instansi itulah urusan mereka diserahkan.
Saat itu, aku lebih terfokus pada buku induk siswa SD. Aku mencatat nama-nama siswa sekolah, lalu membuat tabulasi perangkatan. Aku beruntung, sekolah ini dikelola dengan baik sejak awal. Administrasinya cukup kemas, meskipun sederhana. Data murid sejak tahun 1978 hingga 2008 tersedia.
Aku benar-benar bernostalgia ketika membaca nama teman-teman lama, ketika melihat foto-foto mereka. Teman-teman sekarang sudah ke mana-mana. Bekerja dalam berbagai bidang dan profesi.
Aku juga mendapati kenyataan, ada banyak teman yang sudah menghadap Tuhan. Mereka tak mungkin dijumpai. Hanya tingga nama di buku induk. Semoga Tuhan memberikan mereka tempat yang layak.
Diposting oleh Yusriadi di 04.59 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Pendidikan, Riam Panjang
Sabtu, 12 September 2009
Berendam di Sungai Keruh
Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Saya, adik ipar dan adik sepupu ngobrol sambil menunggu buku puasa bersama di rumah, kemarin. Obrolan kami melayang ke sana kemari. Mula-mula tentang kegiatan adik ipar yang ‘taim’ (istirahat) selama bulan puasa, tentang tempat tinggal adik sepupu setelah satu bulan lalu menikah, hingga kegiatan saya di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Panjang-panjang cerita, kami terbawa cerita kampung halaman.
Adik ipar cerita, dia lebih senang puasa di kampung di Riam Panjang, Kapuas Hulu. Pagi hari kerja, siang istirahat di rumah, lalu menangkap ikan di sungai, hingga sore.
“Waktu puasa jadi tidak terasa. Tau-tau dah mau dekat buka puasa”.
“Berendam di sungai enak, segar. Tidak terasa hausnya ”.
Cerita ini membuat saya bernostalgia. Sudah lebih 20 tahun saya meninggalkan kampung. Kampung saya sekarang, Pontianak.
Saya tidak mungkin mengulang cerita lama: setiap pagi, setelah sahur, menyadap karet. Berangkat ramai-ramai ke kebun bersama tetangga. Memancing ikan bila siang. Atau main luncuran dengan pelepah kelapa. Kadang kala tidur di bawah pokok kayu rindang bila sangat lelah. Atau berendam di sungai bila sangat haus.
Tidak mungkin, karena saya sudah di Pontianak. Tidak mungkin karena saya sudah agak tua. Mungkin, saya tidak tahan lagi serangan nyamuk-nyamuk, atau kelulut, atau apit-apit yang mengejar keringat. Mungkin saya tidak mau lagi menghabiskan waktu dengan cara itu.
Tidak mungkin juga, karena sekarang, sungai di kampung sudah berubah. Tidak ada lagi banyak lubuk tempat ikan bersarang. Tidak lagi banyak ikan karena orang sering menangkap ikan dengan racun (tuba) jenis potas yang membuat ikan besar kecil mati. Ikan tidak sempat berkembang biak.
Tidak ada banyak lagi ikan, karena air sungai sekarang sudah tidak jernih. Kalau dahulu, kami biasa minum air sungai secara langsung tanpa dimasak– jika haus (dan tentu tidak kalau bulan puasa), sekarang tidak lagi. Air sungainya sudah berwarna putih lumpur, walaupun tidak sedahsyat perubahan seperti Sungai Landak yang kita lihat di Ngabang.
Ikan tidak berkembang di sungai yang airnya seperti itu.
Aktivitas penambangan emas yang menjadi-jadi, sudah merusak ekosistem sungai. Dan, juga merubah kehidupan masyarakat sekitar sungai. Karena itu, kehidupan indah penuh kenangan seperti itu menjadi sulit dijumpai lagi sekarang.
Isu lingkungan seperti ini lebih banyak hanya menggelinding di kalangan aktivis dan pencinta lingkungan. Tetapi, cenderung habis begitu saja.
Sebaliknya, di kalangan pemerintah, isu ini hanya diperhatikan sesekali saja: kalau ada tekanan agar dilakukan penertiban, dilakukanlah penertiban.
Begitu juga di kalangan masyarakat kebanyakan, isu lingkungan ini tidak dianggap penting. Bagi mereka, lebih penting soal bagaimana mencari uang untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka. Mencari uang dengan menggali logam mulia dari perut bumi sebanyak yang dapat diperoleh, bagaimanapun caranya, jauh lebih penting. Karena itu, mau sungai keruh, mau air sungai tak dapat diminum, mau kehidupan sungai punah, tidak diperdulikan sama sekali. Masa bodoh!
Kalau ada penertiban, andai bisa dilawan, mereka lawan. Jika mereka bisa bersembunyi, mereka bersembunyi. Tentu sebenarnya mereka tidak benar-benar tersembunyi. Sebab, bekas ‘perbuatan’ mereka masih bisa dilihat. Tempat galian masih bisa dilacak. Mesin-mesin dompeng bisa ditemukan. Pasti, jika aparat mau, siapa yang menggali tanah untuk emas pun dapat dicari dan ditangkap.
Pelaku bersembunyi “cak-cak-an”, dan aparat yang melakukan penertiban pun juga “cak-cak-an”, pura-pura tidak melihat siapa yang melakukan perusakan lingkungan.
Itulah keadaan kita. Keadaan yang membuat saya dan saudara-saudara saya hanya bisa bernostalgia tentang sungai yang jernih, yang airnya bisa langsung diminum, sungai yang banyak ikan dan sungai yang menjadi tempat bermain.
Diposting oleh Yusriadi di 05.07 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Minggu, 30 Agustus 2009
Kue Jongkong
Oleh: Yusriadi
“Jongkong”
Sebuah tulisan menggunakan spidol warna hitam di kertas karton warna kuning ditempelkan di sebuah lapak di gerai Ramadan di Hentian Kajang, Selangor.
Tulisan itu tidak mencolok mata. Maklum tempelannya agak di bawah, tertutup orang ramai yang lalu lalang di depan gerai. Orang yang mengunjungi lapak itu sungguh ramai. Berdesak-desakan. Perhatian orang tentu lebih pada makanan di atas meja, dibandingkan memperhatikan bagian bawah meja.
Saya kebetulan saja melihat tulisan itu. Kebetulan karena saya melewati meja itu saat menerobos kesesakan berbelanja makanan di hari kedua Ramadan kemarin. Jika saya berjalan agak di tengah kerumunan, tentu saya tidak akan nampak tulisan itu.
Saya berhenti di lapak itu.
“Kue Jongkong?”
“Ya, kuih Jongkong”.
Saya membelek-belek kue yang berbungkus daun pisang. Kemasannya seperti kue ‘nagasari’. Hanya bentuk kemasan Jongkong lebih besar dan tinggi.
“Kue daerah mana?”
“Mana-mana ada”.
Saya berusaha mengingat. Rasanya tidak terlintas dalam bayangan saya tentang asal muasal kue itu. Dalam bayangan saya, seharusnya, kue itu beraasal dari daerah tertentu: mungkin seperti laksa kedah, tom yam Thailand, atau pisang salai Batu Ampar, amplang Ketapang, lempok Sukadana, temet Kapuas Hulu, empek-empek Palembang. Saya menyesal, karena merasa benar-benar ketinggalan informasi tentang asal muasal kue yang ‘kedengaran populer’ ini.
“Saya asal Jongkong, tetapi tempat kami tak ada kue macam ni”.
Saya memberitahu penjual itu. Lelaki berusia 40-an tahun itu hanya tertawa. Ya, saya berasal dari Jongkong – tepatnya kecamatan yang beribukota Jongkong sebelum pemekaran menjadi Kecamatan Batu Datuk-- di Kapuas Hulu. Saya sekolah di kota kecamatan ini selama 6 tahun.
Tetapim lagi-lagi saya harus kemukakan ketololan saya, bahwa saya tidak tahu pasti asal usul nama Jongkong. Ada yang bilang jongkong itu berarti duduk menjongkong, sebutan untuk menunjuk posisi orang buang hajat di pinggir sungai. Ada juga yang bilang itu nama pohon, yaitu jenis pohon yang tumbuh di kawasan ini. Tetapi, saya tidak pernah yakin mana yang benar-benar dirujuk kepada asal usul Jongkong.
Saya juga tidak tahu ikon Jongkong itu apa. Rasanya tidak ada. “Temet” yaitu nama lain kerupuk basah, juga dikenal di tempat lain, tidak saja di Jongkong.
Ini pula’, ada kue nama Jongkong di tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari Jongkong. Tentu unik.
“Kuenya dari apa bahan apa?”
“Tepung beras, santan, gula merah”.
Saya berusaha mengingat bahannya. Namun belum ada bayangan seperti apa bentuk kue yang masih terbungkus daun pisang ini.
“Cobalah”.
Saya mengangguk.
“Ya. Nanti. Saya mau jalan sana dahulu”.
Saya melanjutkan perjalanan melihat gerai lain. Melihat kue-kue dan makanan berbuka lainnya yang dijual di gerai. Orang ramai sekali. Bukan hanya orang Melayu, tetapi saya lihat juga orang putih, orang Cina dan India. Agaknya orang bukan Islam juga mengambil kesempatan berbelanja di gerai Ramadan.
Setelah sampai di ujung gerai, saya kembali ke tempat penjualan Jongkong lagi.
Saya mengambil satu. Saya mengangkatnya, membelek-belek, ingin melihat dari luar. Saya mengutis-ngutis sedikit bungkusannya. Niatnya, mengintiplah!
“Jangan dibalik. Nanti tumpah. Ada kuah”.
Penjual menegur saya. Saya sedikit kaget, lalu meletakkan satu bungkus Jongkong di depannya. Saya jadi makin penasaran, kok ada kuah, kue seperti apa?
“Ini?”
Penjual itu memasukkan Jongkong ke dalam kantong plastic putih.
Saya memiih lima bungkus. Jumlahnya yang sama dengan jumlah orang di flat. Biar makannya bisa satu-satu.
“Nanti masukkan dalam peti sejuk sebelum dimakan buka puasa. Makan sejuk lebih sedap”.
Dia memberi petunjuk. Sambil saya menunggu pengembalian uang, saya dengar penjual itu menawarkan Jongkong kepada calon pembeli.
“Jongkong… Jongkong… Jongkong”.
Gayanya seperti kondektur tiket di terminal di Pontianak.
Saya permisi. Permisi dengan penasaran membayangkan seperti apa bentuk makanan yang namanya seperti nama daerah tempat saya belajar dahulu.
Sampai di flat, saya segera memasukkannya ke dalam kulkas – peti sejuk, biar lebih cepat sejuk. Saya kira 10 menit cukup membuat makanan ini dingin.
Ketika masa berbuka tiba, saya mengeluarkan Jongkong dari peti sejuk. Dan mengangsurnya kepada teman-teman yang lain.
Saya membukanya.
O… Bentuknya seperti bubur. Beda dengan yang saya bayangkan semula. Saya memerlukan sendok untuk menyantapnya.
Teman saya, Bang Jumadi juga membuka bungkusan daun pisang itu.
Dia lebih dahulu mencicipinya.
“Ini … macam … bubur ati pari’”.
Saya mencicipinya.
“Ya Bang, ati pari’”.
Saya tertawa.
“Ini rupanya kue Jongkong”.
Kue yang rupanya mudah dijumpai di Kalbar. Tetapi ini, karena namanya yang berbeda, membuat saya sempat penasaran.
Saya kira mungkin lebih baik kalau orang Jongkong menggunakan nama ini untuk memunculkan ikon baru mereka. Siapa tahu Jongkong di Jongkong akan lebih terkenal dan digemari, kelak.
“Tau ccuba bah menyadik”.
Diposting oleh Yusriadi di 00.12 4 komentar
Label: Kapuas Hulu, Malaysia, Suara Enggang, Tentang Yusriadi
Rabu, 29 Juli 2009
Biografi Orang Iban dari Embaloh
Oleh Yusriadi
Kejutan. Saya merasa benar-benar terkejut ketika membaca biografi “Menggong Pemburu dari Sarawak”. Buku ini ditulis oleh Harun Johari, diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur tahun 1997.
Buku itu menyajikan sesuatu yang tidak pernah saya duga.
Sebab pada mulanya, saat saya membeli buku itu, yang ada dalam bayangan saya adalah cerita soal keberanian orang Sarawak, kehebatan seseorang yang disebut sebagai ‘wira’ (hero) dalam menghadapi komunis di tanah Malaya. Bayangan itu sesuai dengan ‘promosi’ bagian depan sampul: Gambar Menggong dengan fotonya bersama pasukan tentara: Platun dari Batalion Pertama Rejimen Ranjer Diraja pada tahun 1955 di Port Dickson.
Port Dickson adalah sebuah kota pelabuhan kecil di Negeri Sembilan.
Saya selalu tertarik dengan buku tentang Sarawak dan penduduknya. Ketertarikan bermula karena ‘kewajiban’ saya menyerap sebanyak mungkin informasi tentang Sarawak dan penduduk Sarawak. Maklum, salah satu bagian dari penyelidikan untuk disertasi saya dahulu adalah tentang komunitas di Sarawak. Orang Melayu di Spaoh. Jadi, saya mesti mengetahui banyak hal.
Lebih dari itu, saya harus mengetahui banyak hal tentang Sarawak karena masyarakat Sarawak sebenarnya bagian dari masyarakat Kalimantan Barat juga. Memahami masyarakat Kalbar dengan baik, mestilah mengambil kira tentang masyarakat lain di sekitar Kalbar- termasuk Sarawak. Pemahaman yang holistic hanya dapat diperoleh melalui informasi yang menyeluruh.
Sebab itulah, setiap informasi tentang Sarawak saya pungut. Setiap ada buku tentang Sarawak saya tengok: yang penting-penting, dan yang murah akan saya beli. Nah, buku biografi itu harganya cuma RM2. Nilainya sama dengan Rp6 ribu.
“Pokoknya murah banget”.
Setelah membeli buku itu, saya memang tidak langsung membacanya. Saya pikir, belum terlalu penting untuk saya mengetahui informasi itu sekarang.
Saya membaca buku itu beberapa hari kemudian.
Buku itu disajikan dengan gaya bertutur orang pertama. Pada bagian awal, buku itu menceritakan tentang Desa Nanganteli, tempat lahir Menggong. Nanga Nteli berada di dekat Lubuk Antu.
Kemudian, keluarga Menggong pindah ke Kuala Embaluh, Kalimantan Barat. Saya kira maksudnya Nanga Embaloh, Kalimantan Barat. Tempat ini disebutkan di wilayah Lanjak.
Menggong mengenyam pendidikan di Lubuk Antu. Dan apabila tamat sekolah Kelas 6, dia kembali ke Nanga Embaloh, membantu orang tuanya.
Buku ini berkisah secara singkat tentang kegiatan Menggong sehari-hari memburu pelanduk dan ntapuh di hutan di belakang rumah panjang mereka.
Lalu, singkat cerita, dikisahkan bagaimana Menggong dan kawan-kawannya merantau ke Kapit sebagai penebang kayu. Kemudian mereka mendaftar sebagai tentara, dan kemudian menjalani latihan. Setelah itu, Menggong dan sejumlah orang Iban lainnya dikirim ke Semenanjung Malaysia, memburu pemberontak komunis.
Dalam tugas, Menggong bertugas sebagai penjejak kesan musuh. Pengintai. Posisinya di depan pasukan. Tugas yang penuh resiko. Kepandaiannya dan mungkin nasib juga membawanya dalam beberapa kemenangan. Kerap kali dia terserempak musuh; dan pada saat seperti itu dia harus memberikan isyarat kepada pasukan di belakangnya agar siaga. Tetapi ada kalanya dia menembak musuh lebih dahulu.
Sepanjang dia bertugas di Port Dickson, kemudian ke Kuala Kansar, Sungai Siput, Batu Arang, Batang Bejuntai, dan banyak lagi tempat, kemampuan mengesan jejak ini benar-benar ditunjukkan. Yang menarik, dia menyebutkan pengalamannya menjejak kancil dan ntipuh di Nanga Embaloh menjadi bekal berharga dalam tugas-tugasnya itu. Keberaniannya itu membuat dia mendapat medali, penghargaan dari Ratu Inggris.
Setelah 10 tahun bertugas di Semenanjung, dia kembali ke kampung halamannya. Menjadi orang biasa. Tetapi, tak lama kemudiannya dia kembali menjadi polisi hutan, mengabdi untuk Negara.
Dalam tugas ini, dia dilibatkan sebagai pasukan polis yang memburu gerombolan komunis di Sarawak. Salah satu prestasinya adalah pasukannya berhasil menangkap salah seorang pimpinan pengacau di Sarawak.
Prestasi Menggong sungguh gemilang. Ceritanya sungguh mengesankan. Tetapi, bagi saya, lebih mengesankan lagi karena tokoh cerita ini pernah menjadi ‘orang Embaloh’.
Walaupun Menggong adalah hero di Malaysia, walaupun dia mungkin tidak lagi dianggap orang Kapuas Hulu, tetapi, saya tetap melihat bahwa suatu ketika dahulu dia adalah orang Orang Ulu. Orang Ulu yang berhasil di rantau. Ini yang mengejutkan!.
Diposting oleh Yusriadi di 01.30 7 komentar
Label: Kapuas Hulu, Malaysia
