Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Seorang teman, dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Pontianak, menceritakan, beberapa waktu lalu dia bertemu dengan seorang ilmuan di sebuah perguruan tinggi di tanah Jawa. Pertemuan tidak sengaja. Mereka bertemu dalam seminar. Ilmuan itu menjadi pembicara, sedangkan teman dosen itu sebagai pendengar.
Usai sesi seminar itu, teman dosen menghampiri sang ilmuan. Niatnya ingin bertanya sedikit. Maklum, waktu seminar tadi dia tidak kebagian waktu untuk bicara.
Ilmuan menyambut perkenalan dari teman dosen dengan ramah. Ilmuan itu lantas bertanya asal dia dan apa kegiatan.
“Saya bilang, saya dari Pontianak. Saya juga bilang saya mengajar di sebuah perguruan tinggi”.
“Mendengar itu, dia bertanya, berapa buku yang sudah ditulis?”
Kata teman tadi, dia sempat agak terkejut dengan pertanyaan itu. Maklum, selama ini kalau berkenalan dengan orang, setelah dia menyebutkan pekerjaannya sebagai dosen, biasanya orang bicara tema yang terkait. Maksudnya tidak terlalu peduli dengan status itu. Mungkin, orang pun sudah tahu, dosen itu adalah orang yang mengajar di perguruan tinggi, dll. Kalau pun orang ingin berbasa-basa soal status dosen, biasanya orang akan bertanya tentang matakuliah yang diampu, berapa lama mengajar, dan lain-lain berkaitan dengan kegiatan mengajar.
Pertanyaan ilmuan ini, menurut teman saya, menampilkan kesan yang lain dari yang biasa.
“Untung saja, saya selama ini sudah ada buku. Kalau tidak, wah… gimana menjawabnya”.
Saya yang mendengar cerita teman tersenyum lebar. Saya senyum karena bisa membayangkan situasinya. Pasti seru bertemu dengan orang seperti ilmuan itu. Saya jadi penasaran.
Saya tahu, tentu teman dosen itu bisa sedikit menegakkan kepalanya karena memang selama ini dia sudah menerbitkan beberapa buku. Memang tidak banyak. Tetapi, setahu saya selama lebih 10 tahun dia sebagai dosen, dia sudah punya 4 buku. Dua buku karangan sendiri, satu buku bahan ajar dan satu lagi terjemahan. Jadi kira-kira saja, dosen ini memerlukan waktu hampir 3 tahun untuk satu buku.
Walaupun jumlah itu sangat tidak ideal – karena menurut saya seharusnya, dalam satu tahun, seorang dosen punya satu buku, apapun bentuk dan kualitasnya, tetapi, teman dosen ini masih bisa menyampaikan pesan kepada ilmuan: sebagai dosen, dia memiliki kapasitas. Sebagai dosen, secara akademik, dia cukup berwibawa.
***
Saya sependapat dengan orang yang mengatakan, kewibawaan seorang ilmuan (dosen adalah ilmuan) antara lain dinilai dari karya akademiknya. Baik mutu maupun jumlahnya. Semakin banyak dan bermutu, semakin berwibawa dia. Sebaliknya, seorang dosen yang tidak punya buku, akan kurang wibawanya sebagai ilmuan. Bahkan, ada seorang ilmuan yang pernah mengatakan pada saya, seorang dosen yang tidak punya buku dan artikel jurnal, sama dengan guru biasa. Seorang yang hanya bisa mengajar.
Oleh sebab itu, seorang dosen yang ingin berwibawa dalam dunia akademik, seharusnya memacu diri untuk berkarya sebanyak mungkin dan sebaik mungkin. Baik dengan menulis buku sendiri, maupun menulis bersama-sama koleganya. Beruntunglah seorang dosen yang bisa mencapai taraf itu.
Saya bisa membayangkan betapa beruntungnya teman saya itu bisa berkenalan dengan ilmuan yang demikian. Sebab tidak semua ilmuan berpikir begitu. Kadang kala ada orang yang berpikir, seseorang dosen hanyalah orang yang mengajar di perguruan tinggi. Cukup sebatas itu. Seorang dosen adalah pengajar di depan mahasiswa. Mengajar saja. Tidak perlu meneliti. Tidak perlu menulis.
Biasanya, banyak orang baru sadar bahwa seorang dosen perlu meneliti dan menulis artikel serta buku, ketika membicarakan Tri Dharma perguruan tinggi. Lebih khususnya lagi, ketiga orang membicarakan kenaikan jabatan fungsional seorang dosen. Orang baru sibuk membicarakan (dan mengumpulkan) tulisan ketika kenaikan pangkat membutuhkan kredit point dari aspek penelitian dan publikasi.
Tidak heran ketika kemudian orang menemukan makalah-makalah yang dilampirkan seorang dosen bukan karya orisinilnya. Tidak heran ketika seseorang melampirkan karya akademik yang sebenarnya seakan-akan miliknya sendiri. Tidak heran jika sesekali kita mendengar orang menyebutkan plagiatisasi yang terjadi di dunia akademik.
Saya sering menemukan dosen yang tidak memiliki karya akademik dalam waktu berbulan-bulan. Saya sering menemukan seorang dosen yang beku dalam rutinitas dan aktivitas, sehingga lupa meneliti dan menulis.
Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang dosen yang mengatakan: kalau urusan dengan tulis menulis, itu urusan dosen tertentu. Sedangkan kalau dia, mengurus soal ceramah dan sejenisnya. Akhirnya, karena pandangan ini, dia hamper tidak pernah menulis. Kalaupun diundang ceramah, berbicara di depan orang, dia menyampaikannya secara lisan. Dia tidak membuat makalah untuk forum-forum begitu, sekalipun sesetengah forum agak ilmiah sifatnya. Paling-paling yang dapat dilakukannya hanyalah membuat slide untuk presentasi.
Alasannya, “Tidak sempat buat makalah”.
***
Teman dosen itu beruntung bisa bertemu dengan ilmuan yang bisa mengingatkan dia soal paradigma berpikir orang tentang dosen. Saya katakan beruntung karena ilmuan merupakan orang langka, yang ingat tentang kapasistas seorang dosen.
Ya, kapasitas seorang dosen mestilah seorang yang memiliki kemampuan dan karya dalam konteks tri dharma perguruan tinggi.
Pertama: Pengajaran. Dosen mesti mengajar mahasiswa. Dosen mestilah orang yang dapat mentransformasikan ilmunya kepada mahasiswa di ruang kuliah.
Tetapi, agar mahasiswa tidak ketinggalan informasi, ilmu yang ditransformasikan mestilah ilmu yang actual. Ilmu yang berkembang. Ilmu yang berkembang karena data-data dan informasi yang terkait, terus bertambah.
Tidak pada tempatnya jika seorang dosen hanya mengajar berdasarkan buku panduan yang dipakaikan sejak mula mengajar, hingga mengajar 10 tahun kemudian. Tidak pada tempatnya seorang dosen memberikan informasi kepada siswa tentang kejadian lama tanpa membandingkan dengan kejadian baru.
Kedua: Penelitian. Dosen adalah seorang peneliti. Seorang yang gemar menggali pengetahuan, gemar mencari-cari hal baru. Gemar bertanya dan mencarikan jawaban atas setiap phenomena yang berlegar di sekitar kehidupan. Penelitian, bukan sekadar menggali informasi di lapangan dengan modal proyek dari lembaga. Tetapi penelitian dalam pengertian luas. Pada akhirnya setiap dosen memiliki temuan-temuan khas, temuan yang harusnya diberitahu kepada mahasiswa, agar mahasiswa juga tidak tertinggal informasi.
Temuan itu seharusnya diinformasikan kepada koleganya sesama ahli akademik dan ditransformasikan kepada public. Medianya: buku, artikel di jurnal dan surat kabar. Dalam konteks itulah ilmuan tadi bertanya pada teman saya.
Ketiga: Pengabdian kepada Masyarakat. Seorang dosen, sebagai ilmuan, seharusnya menempatkan diri pada posisi yang berguna untuk masyarakat. Memang kadang ada kesan (di kampus kami), dosen yang mengabdi kepada masyarakat adalah dosen yang diminta masyarakat membaca khutbah dan berceramah. Jadi, kalau tidak berkhutbah dan berceramah, dianggap kurang mengabdi.
Tetapi pandangan ini agak sempit. Sebab ada pandangan umum yang mengatakan seorang dosen dianggap mengabdi kepada masyarakat, ketika dosen yang bersangkutan menunjukkan bahwa dia membantu masyarakat dan berguna untuk masyarakat, baik sesuai dengan bidang ilmunya maupun dalam bidang yang lain.
Oleh sebab itulah, saya kira, seorang dosen mencapai puncak aplikasi tra dharma perguruan tinggi, apabila buku, artikelnya, tulisannya, berguna dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Inilah mungkin yang menyebabkan, mengapa ilmuan itu bertanya pada teman saya dengan pertanyaan yang mendasar itu. Rasanya, saya pun ingin bertanya begitu pada dosen yang akan saya temui di hari-hari mendatang.
Sabtu, 07 November 2009
Pertanyaan untuk Dosen
Diposkan oleh Yusriadi di 07:24 1 komentar
Label: Buku, Menulis, Tentang Yusriadi
Lubang di Kota Pontianak
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rabu (4/11) sekitar pukul sebelas siang. Saya melewati Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak. Lewat sedikit dari Gang Lamtoro, saya melihat sebuah pick up warna putih terperosok di bekas lubang galian kabel fiber optic. Sebelah bannya terbenam. Tidak bisa keluar. Bodi kendaraan jadi ada miring. Untung muatannya – karung-karung dan kardus, tidak tumpah ke jalan.
Kejadian ini memang tidak menarik perhatian orang. Tidak ada orang yang mengerumuni mobil yang lagi apes itu. Orang tidak tertarik untuk melihat kejadian itu, seperti orang tertarik kalau melihat ada kejadian tabrakan, perkelahian, dll.
Orang tidak tertarik karena mungkin pick up yang terperosok itu tidak mengganggu lalu lintas. Maklum, kejadiannya di pinggir jalan.
Lagi, mungkin juga karena kendaraannya agak kecil sehingga tidak nampak-nampak amat.
Saya tertarik dengan kejadian ini. Sesaat saya berhenti. Melihat-lihat dari atas motor.
Saya prihatin pada nasib sopir (mungkin ada keneknya juga). Kesihan sungguh.
Jika saya bawa mobil dan mobil terperosok di lubang itu, mungkin saya akan marah. Kesal. Mungkin saya akan pikir-pikir untuk meminta pertanggungjawaban dari kontraktor yang menangani proyek ini.
Menurut saya, jelas, bahwa kejadian ini, karena lubang yang digali pekerja yang memasang kabel optic itu. Pekerja, dan kontraktorlah yang menggali lubang yang membuat ban mobil pick up itu terperangkap. Mereka telah memasukkan kabel dan kemudian menimbun bekas galian itu. Timbunan ini nampak rata dengan tanah di sekitarnya. Dan, rupanya tanah itu belum padat sehingga ban mobil jadi amblas.
Dalam peristiwa kemarin, mungkin orang berpikir, sopir yang salah, tidak hati-hati sehingga kenadaraannya masuk lobang.
Tetapi menurut saya, justru kontraktorlah yang harus bertanggung jawab karena bekas galian itu tidak dikembalikan seperti sedia kala. Harusnya, mereka memadatkan kembali bekas galian. Jika tidak, mereka harus memberikan tanda bekas galian, sehingga orang lebih hati-hati.
Saya lantas teringat kebiasaan-kebiasaan selama ini. Orang proyek memang seakan-akan bebas melakukan sesuatu. Semau mereka. Mereka boleh membongkar-bongkar jalan yang sudah bagus. Mereka bebas melakukan pekerjaan dan ‘mengganggu’ kenyamanan pelintas.
Jarang saya lihat ada plang proyek: “Maaf Kenyamanan Anda Terganggu. Ada pekerjaan proyek”. Yang biasa kita lihat: “Hati-hati Ada Kegiatan Proyek”. Tanpa ada kata maafnya.
Malahan, setelah proyek selesai, bekas-bekas pekerjaan kadang kala ditinggalkan begitu saja. Apakah kemudian pelintas tidak nyaman melalui bekas proyek itu, nampaknya tidak dipikirkan. Apakah kemudian ada orang yang celaka karena bekas proyek itu, sepertinya juga tidak dipikirkan.
Ini hampir sama dengan orang yang menumpukkan pasir di pinggir jalan. Tumpukan pasir yang “merata-rata” mengganggu pelintas. Ban motor jadi slip. Saya kenal beberapa orang yang jatuh ketika melewati tumpukan pasir yang luber ke jalan. Mereka celaka. Mereka dirawat di rumah sakit. Malah ada yang mati!
Mereka tanggung sendiri musibah itu. Orang yang punya pasir, orang yang menumpukkan pasir di jalan, tidak diminta pertanggungjawaban. Justru sering orang bilang: “Salah sendiri, bawa motor ndak liat-liat”. Padahal jelas, mereka menumpukkan pasir di jalan umum, jalan yang dilewati orang. Jalan yang seharusnya tak terhalang.
Tapi, mau apalagi. Kasihan sungguh. Itulah logika sebagian masyarakat kita. Logika yang menurut saya mencerminkan kelemahan perintah melindungi warganya. Inilah cerminan bahwa hukum kita lemah dan seakan-akan tidak ada. Sering kali orang boleh bebas melakukan apa saja.
Diposkan oleh Yusriadi di 07:23 0 komentar
Label: Pontianak
Senin, 02 November 2009
Menulis dan Hidup di Zaman Pra-Sejarah
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Kamis (29/10) kemarin, saat saya bertemu dengan 6 mahasiswa Progam Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) yang berada di bawah bimbingan saya – sebagai dosen penasehat akademik -- di ruang kerja saya, iseng-iseng saya bertanya pada mereka tentang kepenulisan.
Saya ingin menjajaki siapa di antara mereka yang suka menulis dan siapa yang tidak suka. Siapa yang suka baca dan siapa yang kurang suka baca.
Ternyata, tidak semua suka menulis. Tidak semua senang membaca.
Bah! Saya agak tersentak. Bagaimana mereka bisa memilih masuk Program KPI kalau mereka tidak suka menulis.
Masalahnya, program KPI diselenggarakan untuk membentuk orang agar dapat menulis. Mata kuliah atau kurikulum program mengacu pada tujuan itu. Banyak sekali mata kuliah yang diprogramkan khusus untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menulis. Sebut misalnya Bahasa Indonesia, Karya Ilmiah, Penulisan Artikel Opini, Jurnalistik, Berita, Feature. Bahkan salah satu kompetensi yang dituju oleh penyelenggara prodi adalah: “Lulusan mampu berdakwah melalui media sebagai penulis”.
Pasti, jika ada yang masuk KPI tidak mencintai dunia kepenulisan, dia akan menghadapi masa yang sangat berat.
Karena itu, saya maklum mereka harus coba diingatkan. Mereka harus diberikan motivasi. Saya mulai mengingatkan mereka soal ini, tiba-tiba saya teringat pada pelajaran sejarah, dahulu sewaktu sekolah di Jongkong, Kapuas Hulu. Pak Basrun Syafie yang mengajarkan itu.
“Masih ingat perbedaan zaman sejarah dan zaman pra-sejarah?”
Mahasiswa terdiam. Mencoba mengingat pelajaran lama.
“Zaman sejarah apa? Zaman pra-sejarah apa?”
Meluncurlah jawaban dari mereka. Mereka menyebutkan tahap-tahan zaman pra-sejarah, misalnya zaman paleolitikum, mezolitikum, neolitikum.
“Zaman itu, orang menyebutnya sebagai zaman manusia purba”.
Saya melanjutkan.
“Apa tanda zaman sejarah?”
“Orang mengenal tulisan”.
“Ya, tulisan. Tulisan menentukan sejarah”.
Saya mencoba mengingatkan masalah sebagian dari mereka. “Jika orang tidak menulis, hakikatnya dia hidup di zaman prasejarah. Manusia pra-sejarah. Hanya orang yang suka menulislah yang boleh mengklaim diri hidup di peradaban sejarah”.
Mereka mengangguk. Ada yang tersenyum kecut. Saya yakin mereka mengerti apa yang saya maksudkan. “Anda, kita semua, boleh pilih sendiri, mau tergolong manusia sejarah atau manusia pra-sejarah”.
Mereka masih terdiam. Saya membiarkannya. Biarlah mereka merenung, meresapi dan menghayati hujah saya.
Saya meninggalkan tema itu. Namun saya tidak menyia-nyiakan kesempatan mengingatkan mereka soal pentingnya menulis. Ini tugas pokok saya sekarang. Setelah saya yakin mereka tersentuh hatinya, saya mencoba mengajak mereka untuk percaya bahwa menulis itu mudah.
Lantas saya ambil buku dari rak di belakang meja kerja saya. Ada 14 buku. Buku yang saya tulis sendiri dan buku yang saya tulis bersama dengan teman-teman.
Saya memang sering ‘ngegap’ orang dengan cara ini. Menunjukkan buku. Sedikit narsis. “Di antara penulis buku ini, mereka adalah mahasiswa”.
Saya mengambil buku “Menunggu di Tanah Harapan”, terbitan STAIN Pontianak Press tahun 2009. Buku ini saya tulis bersama banyak teman, dan saya edit sendiri.
Saya membaca nama penulis buku. Saya tahu, beberapa di antara penulis itu dikenal oleh mahasiswa di depan saya. “Fifin Fenti Farida, waktu menulis ini, baru semester 1. Marisa dan Erika Sulistia, mahasiswa semester 3. Ambaryani dan Isminarti, semester 5. Rizki Muhardini, Tino Amindani, semester 7”.
Saya mengambil lagi buku “Menapak Jalan Dakwah” juga terbitan STAIN Press tahun 2009. 10 penulis buku itu, semuanya mahasiswa. Mereka rombongan kelas Feature. “Kalau mereka bisa, saya yakin Anda juga pasti bisa. Asal mau”.
Banyak lagi yang saya sampaikan kepada mereka. Saya memang selalu bersemangat dalam soal begini. Saya ingin budaya menulis tumbuh di kalangan mahasiswa, khususnya di kalangan mahasiswa yang berada di sekitar saya. Saya mengajuk mereka: “Marilah hidup bersama manusia yang membangun sejarah”.
Diposkan oleh Yusriadi di 04:57 0 komentar
Mempersoalkan Peneliti Asing di Kalbar
Oleh Yusriadi
Beberapa hari lalu di Pontianak Post, seorang akademisi sekaligus pejabat di sebuah Fakultas di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak mengeluarkan penyataan agar peneliti asing yang berada di daerah ini diawasi.
Pernyataan itu disampaikannya –saya kira, berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh Menteri Kesehatan RI Endang Sedianingsih. Ini juga berkaitan dengan persoalan yang timbul karena Naval Medical Research Unit/NAMRU, melakukan riset tentang virus di Indonesia.
Komentar itu memang tidak mendapat sambutan, atau paling tidak tidak mengundang komentar banyak pihak. Wartawan juga agaknya tidak tertarik mengembangkan berita itu. Beritanya, terhenti pada komentar akademisi itu. Mungkin sebagian orang beranggapan komentar itu sebagai komentar biasa, komentar dari seorang analis ketika diminta mengulas sesuatu.
Tetapi, komentar itu menjadi penting disimak ketika di bagian akhir berita itu dia mengaitkan dengan aktivitas peneliti asing yang di beberapa taman lindung di daerah ini. Yang disebutkan di situ penelitian di Taman Nasional di Kapuas Hulu.
Rasanya, secara tersirat ada kesan khusus di balik berita dan komentar ini. Sepertinya aktivitas akademik peneliti luar menimbulkan masalah kepada mereka. Entahlah, masalah apa yang timbul.
***
Bahwa pemerintah harus mengawasi kegiatan peneliti asing, itu tentu. Bahkan bukan saja kepada peneliti, pemerintah harus mengawasi semua orang asing yang masuk ke daerah ini. Orang asing harus dipantau kegiatannya. Undang-undang Keimigrasian juga sudah mengamanatkan hal itu.
Tetapi tentu pernyataan ini menjadi lain jika dikaitkan dengan kesan bahwa peneliti luar yang melakukan penelitian di sini, telah merugikan daerah.
Saya teringat pada masalah serupa di awal tahun 2000 dahulu, saat orang ribut karena ada kegiatan penelitian di Gunung Palung Ketapang. Waktu itu salah satu dua peneliti yang disoroti kalangan tertentu.
Mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa peneliti luar melakukan pencurian (dan entah apa lagi). Mereka menyebutkan bahwa peneliti luar itu membawa plasma nutfah dari Gunung Palung ke daerah asal mereka, di Eropa sana.
Seorang wartawan di Equator waktu itu sempat bergairah menulis hal tersebut. Saya, waktu sebagai salah satu redaktur (kemudian saya dipecat), mendengar wartawan itu memberitahukan redaktur soal perkembangan pemberitaan. Dia benar-benar bersemangat. Dia mengutip beberapa pengamat dan lembaga swadaya– kononnya begitu.
Saya yang mendengar percakapan mereka ikut nimbrung. Saya mengajak mereka berdiskusi temanya: kerugian apa sebenarnya yang akan timbul dari kegiatan ini? Keuntungan apa yang membuat kita harus mendesak pemerintah agar mengambil tindakan terhadap peneliti asing di hutan nun jauh di Ketapang sana.
Saya mengajukan pendapat: katakan orang asing itu membawa tengkorak orang hutan dari Gunung Palung ke negera asal mereka di Eropa, untuk dijadikan koleksi, untuk dijadikan pajangan, atau untuk dijadikan sebagai sample penelitian, lalu apa ruginya daerah? Apa pemali yang akan tinggal pada masyarakat sekitar Gunung Palung?
Saya yakin, daerah tidak rugi. Saya juga yakin tidak ada pemali yang tinggal dan menimpa masyarakat setempat.
“Orang Barat itu mengambil tengkorak dari atas tanah. Tengkorak yang tinggal setelah induk orang utan dibunuh oleh pemburu. Jika tengkorak orang utan itu tidak dibawa orang asing, mungkin tengkorak itu akan terbiar begitu saja, lapuk oleh zaman dan kemudian mengapur, membaur bersama tanah di mana tengkorak itu teronggok”.
Malah sebaliknya, daerah akan mendapat promosi jika tengkorak itu dipajang. Dengan asumsi bahwa pada pajangan itu ada informasi: tengkorak orang utan dari Gunung Palung Kalimantan Barat.
Orang yang melihat keterangan tentang tengkorak itu tentu akan terbaca dengan nama Gunung Palung dan Kalimantan Barat.
Begitu juga, andai kemudian orang asing itu membuat artikel tentang orang utan Gunung Palung sebagai bentuk laporan penelitiannya. Habitat orang utan akan diceritakannya. Gambaran wilayah juga tentu akan dikemukakan. Artikel itu akan dibaca orang. Orang akan mengenal nama Gunung Palung dan mendapat gambaran sedikit banyak tentang daerah ini. Mungkin dari sekian banyak pembaca, ada mereka yang tertarik untuk suatu saat menjejak kakinya ke Gunung Palung. Bukankah kalau itu terjadi, sesuai pula dengan harapan kita selama ini selama ini agar orang asing datang ke daerah ini?
Kalaupun mereka tidak tertarik untuk datang, artikel tentang orang utan di Gunung Palung pasti akan memberikan bayangan kepada pembaca di negeri lain tentang daerah ini. Ini adalah bentuk promosi. Jika ini yang terjadi, apakah itu tidak menguntungkan?
Waktu itu, wartawan itu memahami cara pikir ini. Dia, tidak melanjutkan lagi memburu berita seputar peneliti asing di Gunung Palung.
Kita orang di Kalbar tahu bahwa biasanya orang yang datang cenderung membawa berkah. Lihatlah sesetengah masyarakat kita memasukkan dalam kepercayaan pantang larang menutup pintu rumah. Menurut budaya sebagian masyarakat menutup pintu sama saja dengan menolak rizki. Sebaliknya, membuka pintu sama dengan mempersilakan rizki masuk.
Ketika saya mengikuti kelas Leksikografi – berkaitan dengan ilmu membuat kamus, saya mendengar professor saya mengatakan: “Kita tidak mendapatkan banyak maklumat tentang bahasa di Indonesia karena beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan memperketat izin penelitian. Ini berbeda dengan data bahasa yang dapat kita peroleh tentang bahasa di Pasifik”.
Lantas beliau menyebutkan pengamalan salah satu linguis (ahli bahasa) yang popular Prof. James Fox. Fox adalah linguis besar asal Australia. Fox pernah diusir dari Indonesia pada tahun 1980-an ketika akan melakukan penelitian.
“Andai pemerintah Indonesia tidak menolak Fox, tentu data bahasa Austronesia dari Indonesia tidak akan sukar kita dapatkan”.
Saya kira, waktu mengusir Fox, pejabat Indonesia pasti tidak merasa rugi. Bahkan mereka mungkin bangga karena berhasil menggagalkan kedatangan orang asing ke Indonesia. Mungkin pejabat yang mengambil keputusan ketika itu langsung mendapatkan penghargaan dari atasannya.
Tetapi, nyatanya, orang yang berkecimpung di dunia akademik merasa rugi. Rugi karena konstruksi ilmu pengetahuan tidak bisa dilakukan dengan baik karena kekurangan data. Akhirnya ilmu yang dibangun pun menjadi tidak meyakinkan – sebab orang tahu ada data yang kurang. Orang tahu, banyak bahasa daerah dalam rumpun Austronesia di Indonesia Timur, tetapi, orang tidak punya data tentang itu. Orang asing yang memiliki kepakaran tidak bisa masuk, sedangkan orang local sendiri tidak mengerti tentang itu.
Kembali pada apa yang terjadi di Gunung Palung dahulu, saya yakin bahwa orang kita di Kalbar belum mampu melakukan penelitian seperti yang orang asing lakukan. Kita tidak ada kepakaran tentang itu. Malah mungkin, sama sekali awam. Paling banter, orang local biasanya baru sampai pada tahap membantu peneliti asing mengumpulkan bahan. Mungkin, juga membantu sebagai pendamping menunjukkan jalan.
Entahlah ilmuan dari kampus di Pontianak – mungkin mereka dapat melakukan penelitian tentang plasma nutfah, tentang keanekaragaman hayati, kemampuan yang setaraf dengan peneliti asing itu.
Tetapi saya ragu, mungkin mereka tidak sanggup melakukan penelitian itu saat ini. Maklum, penelitian memerlukan perhatian, waktu, dan biaya.
Lalu, kalau begitu, mengapa harus ributkan pasal itu?
Diposkan oleh Yusriadi di 04:54 0 komentar
Label: Penelitian, Untan Pontianak
Minggu, 25 Oktober 2009
Buku Harian H Zahry Abdullah
Oleh Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune
Rabu (21/10) kemarin, saya berkunjung ke rumah H Zahry Abdullah di kawasan Jalan Sumatera Pontianak. H. Zahry adalah tokoh di Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar. Saya mengenalnya sebagai tetua orang Ulu di Pontianak. Kadang kami memanggilnya Pak Utih. Kadang juga Tok Olah.
Beliau, kelahiran Kapuas Hulu. Pernah menjadi guru, menjadi anggota DPRD, dan menjadi pejabat di Departemen Agama. Antara lain, sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Sanggau.
Sekarang beliau telah pensiun.
Tetapi, meskipun pensiun, beliau tetap energik. Tidak pernah diam. Ada banyak hal yang dikerjakannya. Mulai dari urusan soal tanam obat, hingga urusan adat dan budaya Melayu.
Kunjungan saya ke rumahnya adalah untuk mengambil tulisan beliau tentang Kota Pontianak. Saya meminta Tok Olah menuliskan pandangan dan pengalamannya berada di kota ini. Maklum, beliau di Pontianak sejak tahun 1960-an. Saat Pontianak masih hutan dan semak-semak. Saat kampung masih terpisah-pisah. Saat penduduk masih sedikit. Saat Pontianak masih belum seramai sekarang. Beliau termasuk orang yang menyaksikan perubahan wajah kota.
Saya menerima naskah Tok Olah dua hari kemudian dalam bentuk ketikan mesin tik.
Setelah saya mengetiknya, saya merasa perlu menemui beliau untuk mengecek beberapa informasi yang masih harus ditambahkan dalam tulisan itu. (Tulisan beliau akan terbit besok di Edisi Khusus Borneo Tribune).
Saya sudah membuat catatannya ketika membacanya. Jadi, saat berjumpa Pak Utih saya tinggal memperlihatkan catatan itu saja.
Ketika saya memperlihatkan catatan itu kepada beliau, dengan tangkas beliau mengambil buku-buku sumber. Beliau menuju rak buku di ruang tamu dan kemudian mengambil buku yang diperlukan, membuka halamannya dan kemudian membuat koreksi.
Di antara buku yang beliau gunakan, termasuk, buku harian.
Penggunaan buku harian ini membuat saya terkagum-kagum.
Buku itu adalah sebuah buku agenda. Tebal. Ada lebih 10 cm. Sampulnya hard cover warna biru.
Buku harian itu berisi catatan beliau atas peristiwa penting yang terjadi sehari-hari. Saya sempat memeriksa halaman demi halaman. Ada halaman berisi tentang pembentukan kota Pontianak. Ada halaman berisi Walikota Pontianak dan tahun menjawab. Bupati Kapuas Hulu, Sanggau, Kabupaten Pontianak, dll. Ada catatan tentang nama Kepala Kantor Wilayah Depag Kalbar dan masa jabatan. Ada catatan tentang peristiwa penting di Kalbar; misalnya tentang jembatan Mempawah yang roboh, tentang kerusuhan di Kalbar.
“Aku perlu mencatat begini biar tidak susah mencari-cari jika perlu. Semuanya ada,“ katanya.
Menurut Pak Uteh, beliau membuat catatan berdasarkan informasi yang masuk, baik melalui media cetak, elektronik, ataupun melalui informasi langsung dari orang-orang.
“Aku buat sejak dulu buku harian. Inilah catatan hariannya,“
“Rajinnya Nuan. Hebat,”
Saya memuji beliau. Benar-benar hebat. Jarang sekali orang mmbuat seperti yang beliau lakukan. Setidaknya, sampai saat ini saya belum melihat orang yang melakukan itu. Apalagi ini, orang tua.
Tapi, lagi-lagi saya ingat, beliau memang beda. Dahulu, saya memuji beliau karena kegigihannya sebagai kolektor naskah lama.
Saya juga memuji beliau, meskipun sudah tua masih mau meluangkan waktu untuk menulis – memenuhi permintaan saya. Dalam soal-soal begini, beliau jadi teladan. Kita memerlukan banyak orang seperti itu untuk hidup eksis di masa depan.
Diposkan oleh Yusriadi di 08:03 0 komentar
Label: Buku, Kapuas Hulu
Sabtu, 10 Oktober 2009
Tak Ada Sungai Kapuas
Oleh: Yusriadi
Malam itu, saya sedang duduk di depan computer. Di samping saya, Caca, anak saya nomor 2 sedang belajar, menjawab pertanyaan Ilmu Pengetahuan Sosial. Buku yang digunakan adalah buku IPS SD/MI Jilid 4, Kelas IV, karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia.Buku itu diterbitkan oleh Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008.
“Pak, di provinsi Bali terdapat gunung …?”
Caca meminta saya mencarikan jawaban. Saya mengalihkan pandangan pada dia.
Saya melihat dia sedang mengerjakan soal di halaman 24.
“Masak tidak ada dalam bacaan?”
Saya tidak mau menjawab. Saya meminta Caca mencari sendiri jawabannya. Lalu, dia membolak balik halaman bacaan. Di halaman 16 terdapat table 2.1 Gunung di Indonesia. Pada nomor 8 terdapat nama gunung Agung, letakknya di Bali.
Caca memangkah jawaban dari pertanyaan tadi.
“Bacalah dulu, baru jawab”.
Kata saya sambil mendelik kepadanya.
Dia menurut. Lalu dia melihat lagi bacaan-bacaan itu.
Saya ikut membaca buku yang dipegang Caca.
Ada table 2.2 nama tanjung di Indonesia. Dari 5 tanjung itu, ada Tanjung Kehidupan di Kalimantan. Entah Kalimantan mana, tidak tahu. Lalu ada table 2.3 laut di Indonesia. Hanya 4 laut yang disebut di sana. Laut Jawa di Utara Jawa, Laut Arafuru di Kepualauan Aru, Laut Banda di Pulau Seram, dan Lautan Indonesia di Selatan Sumatera sampai Selatan Jawa.
“Di sekitar Kalimantan tidak ada laut agaknya,”pikir saya.
Lalu, tentang Selat pada table 2.4. Ada 5 selat, yaitu selat Bangka, selat Sunda, selat Madura, selet Peleng dan selat Alas. Tabel 2.5 tentang Teluk.
Yang unik, Tabel 2.6. Sungai di Indonesia.Ada 9 sungai disebutkan. Sungai Asahan di Sumatera Utara, Batanghari di Jambi, Citarum di Jawa Barat, Gumanti di Sumatera Barat, Mamberamo di Papua, Mahakam di Kalimantan Timur, Bengawan Solo di Jawa Tengah, Musi di Sumatera Selatan dan Brantas di Jawa Timur.
“Sungai Kapuas-nya mana?”
Saya mengamati dengan teliti. Penasaran.
“Kok tidak ada?”
Sungguh mengherankan. Heran, karena dalam pengetahuan geografi saya, Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia. Panjangnya 1.900 kilometer dari muara laut Cina Selatan, hingga batas pengunungan Muler, batas Kalimantan Timur. Laut Cina Selatan dan Pegunungan Muler dua-duanya juga tidak disebutkan.
Pertanyaan yang bergelayut di benak saya selanjutnya:
“Mengapa Sungai Kapuas tidak masuk dalam daftar table pelajaran anak SD?”
Mulanya saya berpikir, tidak ada bahan yang cukup bagi penulis buku tentang sungai kebangaan orang Kalimantan Barat ini.
Tetapi, kemudian, rasanya mustahil. Saya tahu tentang Sungai Kapuas dahulu dari pelajaran geograpi – salah satu pelajaran favorit saya sewaktu SD—lebih 20 tahun lalu.
Apalagi sekarang, tinggal brows di internet, nama sungai Kapuas pasti muncul. Hanya orang yang pengetahuannya cetek saja yang tidak tahu tentang sungai terpanjang di Indonesia. Tidak masuk akal bagaimana penulis buku ilmu pengetahuan social, tidak menyimpan memori tentang sungai terpanjang ini.
Lalu, kalau begitu mengapa?
Sempat terlintas pikiran nakal saya: saya teringat orasi ilmiah Prof Dr. James T. Collins – pakar bahasa Melayu, yang menyebutkan betapa orang Belanda dahulu membuat peta tentang sungai-sungai di negeri Belanda. Orang Indonesia yang belajar geografi berpandukan peta itu mendapat kesan sungai dalam peta itu adalah sungai besar. Tetapi, ketika mereka ke Belanda, mereka terkejut, sebab sungai besar di peta tidak lebih dari sebuah parit kecil saja.
Ada politik melalui peta di sini.
“Apakah dalam penulisan buku geografi ini juga ada „politik periperi“ terhadap Kalimantan – atau tepatnya terhadap luar Jawa?”
Saya berpikir begitu karena, dalam ingatan saya penulisan sejarah Indonesia juga terkesan Jawa sentris. Dalam buku Sejarah Indonesia yang ditulis Prof. Sartono misalnya, saya sempat terkejut ketika mendapati bahwa informasi sejarah awal tentang Kalimantan Barat sedikit. Malahan, seakan-akan Kalbar tidak masuk dalam pusaran sejarah Indonesia.
Padahal, pada kurun abad ke 18, 19, Kalbar memainkan peranan sebagai salah satu titik penting dari dinamika perhubungan di nusantara.
Sungguh memprihatinkan.
Tetapi keprihatinan ini hanya sekadar prihatin. Mungkin tidak ada yang bisa dibuat. Tidak ada kemampuan saya merekomendasikan buku ini direvisi dan nama Sungai Kapuas, Laut Cina Selatan, dimasukkan ke dalam peta. Ada gubernur, ada dinas pendidikan, ada ilmuan Kalbar; kalau memang peduli.
Mungkin saya akan terus prihatin, karena anak saya tidak tahu bahwa sungai yang hampir setiap hari mereka lihat, mungkin sungai yang setiap hari airnya mereka minum, sebenarnya adalah sungai istimewa di Indonesia: Sungai Terpanjang.
Uh, menyedihkan benar.
Diposkan oleh Yusriadi di 05:05 0 komentar
Label: Pendidikan, Sungai Kapuas, Tentang Yusriadi
Sekolah dan Guruku di Riam Panjang
Oleh: Yusriadi
Sudah lama aku ingin mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kapuas Hulu. Aku ingin mencari data tentang partisipasi pendidikan orang Riam Panjang. Data ini akan membantu aku menjelaskan bagaimana tingkat partisipasi pendidikan orang di pedalaman, di kampung kelahiranku.
SD Riam Panjang itu sekolah dasarku. Dahulu, hampir 30 tahun lalu aku belajar di sini. Aku duduk di kursi kayu di sekolah ini selama 5 tahun, setelah aku pindah dari Madrasah Ibtidayah Riam Panjang yang ditutup begitu SD ini berdiri tahun 1978/1979.
Aku di sini menuntut ilmu dari guru-guruku – yang beberapa di antaranya sudah berpulang ke rahmatullah, ada juga yang tidak aku ketahui ke mana mereka. Sedangkan mereka yang sempat kutemui, kini sudah nampak agak tua. Melihat mereka sekarang, aku merasa aneh. Dahulu, saat aku kecil dan saat itu mereka muda, sebagian mereka menurutku galaknya minta ampun. Beberapa guru pernah memukul aku dan teman-teman dengan ranting kayu sebesar rotan kecil – ranting yang kami ambil dari semak belukar, karena kami tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Kami juga pernah dipukul dengan penggaris kayu, hingga penggaris itu patah, karena kami ribut saat tidak ada guru. Kami juga pernah dipukul dengan buku hingga buku berderai karena berkelahi. Kami pernah dijitak hingga benjol ketika ada teman yang senyum-senyum saat upacara. Wiuh, mereka ketika itu sungguh menakutkan. Orang tua hampir tidak pernah membela kami karena hukuman fisik itu.
“Salah kalian, mengapa nakal. Makanya belajar benar-benar. Guru tidak akan menghukum kalian jika kalian baik-baik“.
Karena orang tua kami menghormati guru, kami juga sangat menghormati mereka. Tak sedikit pun terlintas pikiran kami mencela mereka sekalipun kalau dipikir-pikir sekarang, betapa mereka menyakiti fisik kami. Apapun, guru dalam pandangan kami adalah orang yang layak digugu dan ditiru. Sampai sekarang. Guru-guru kami tetaplah guru.
Mereka juga memandang kami benar-benar murid yang mereka bimbing. Mereka melaksanakan tugas karena panggilan jiwa mereka sebagai pendidik.
Aku selalu terharu ketika bertemu mereka, terharu ketika mendengar mereka membanggakan kami sebagai muridnya yang kini berhasil. Cara mereka bernostalgia tentang kami dahulu saat belajar membuat kami juga merasa menjadi murid yang beruntug karena memiliki guru yang sayang pada kami.
***
Aku memasuki gerbang sekolah. Di sebelah kiri pintu masuk ada plang sekolah dan plang visi sekolah. Visi yang akan selalu mengingatkan guru-guru di sekolah ini pada tugas mereka sebagai pendidik.
Bangunan sekolah memanjang. Pada bagian paling ujung sebelah kanan ada kantor. Bangunan sekarang adalah bangunan baru. Bangunan lama tempat aku dan kawan-kawan dahulu belajar, dibangun tahun 1978, sudah dirobohkan. Bangunan lama, kayunya sudah lapuk.
Aku merasa sekolah ini lebih kecil dibandingkan dahulu. Kelas-kelasnya rasanya begitu kecil. Mungkin perbedaan itu muncul karena sekarang aku sudah besar. Tinggiku mungkin sudah dua kali lipat dibandingkan dahulu saat aku belajar di sini.
Aku sempat melongok ke dalam kelas melalui pintu yang terbuka. Di dalam sana ada sejumlah anak sedang belajar. Siswa tidak banyak. Kelas tidak terlalu ramai.
Sekolah ini tetap sederhana. Fasilitas yang baru rasanya cuma perpustakaan sekolah yang terdapat di sebelah kanan pintu masuk. Aku tidak sempat bertanya tentang buku. Aku juga tidak sempat mengunjunginya. Pintu perpustakaan itu tertutup.
Beruntunglah anak-anak sekarang memiliki tempat membaca. Mudah-mudahan perpustakaan ini juga menyediakan buku pelajaran, sehingga setiap siswa dapat menggunakan bahan itu. Setidaknya mereka lebih beruntung dibandingkan pengalaman kami dahulu: satu buku dikongsi orang sekelas. Seorang anak ditugaskan mendikte, kadang-kadang juga buku pelajaran itu disalin di papan tulis, dan kemudian siswa yang lain menyalinnya. Dahulu, aku juga mendapat giliran menulis di papan tulis atau mendiktekan pelajaran kepada teman-teman. Aku ingat inilah pekerjaan yang menyenangkan.
Padahal, kalau kupikir-pikir sekarang justru tugas ini menambah beban. Beban, karena di rumah nanti aku harus mencatat bahan-bahan itu dalam buku tulisku. Kawan yang lain karena sudah mencatat, bisa lebih santai.
Tetapi, mau apa lagi. Waktu itu buku-buku memang terbatas. Waktu itu tidak ada siswa yang mempunyai buku cetak. Tidak ada juga tempat foto copy.
Di balik keadaan begini, kami terlatih menulis. Sambil menulis kami bisa sambil belajar. Sekolah satu-satunya tempat belajar. Di rumah kami jarang belajar, jika tidak ada PR. Malam, kami lebih banyak diisi dengan nonton TV di tempat tetangga. – Dahulu di kampung yang luas itu hanya ada 2 TV. Bayangkan betapa ramainya. Mungkin cerita TV tidak seberapa. Tetapi, menonton ramai-ramai itu bentuk hiburan.
Kami tidak suka belajar di rumah (dan diam di rumah) karena waktu itu di rumah tidak ada lampu. Penerangan kalau malam hari hanyalah pelita. Listrik kampung tidak selalu bisa menyala. Kadang kala jika stok solar habis, atau operator listrik tidak ada, kami harus rela bergelap gulita.
Sungguh pun sekarang Riam Panjang sudah ada listrik namun amat jarang listrik menyala pada siang hari. Karena itu di ruang guru tidak ada peralatan elektronik. Tidak ada kipas angin dan AC, tidak ada komputer, tidak ada kulkas. Aku jadi membandingkan sekolah di kampung dengan sekolah di kota. Jauh sekali.
Kepala sekolah sekarang Mustafa, S.Pd memberitahukan, sebenarnya di sekolah ini sudah ada komputer. Namun karena tidak ada jaringan listrik, komputer itu tidak bisa digunakan. Karena listrik hanya ada di waktu malam dan jaringan hanya ada di rumah, akhirnya, disepakati komputer dibawa ke rumah.
Tetapi, malangnya, komputer juga tidak bisa digunakan. Komputer pernah coba dinyalakan, namun tidak bisa juga. Listrik di rumah penduduk hanya berkekuatan 450 KWH. Tidak cukup. Stut listrik jatuh.
Walau begitu, kabarnya tidak lama lagi sekolah akan mendapat laptop dan in focus. Di Pontianak‚ benda ini digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Guru membuat bahan presentasi dalam program window powerpoint, lalu, dia menyampaikannya dengan bantuan in focus yang ‚ditembakkan’ ke layar.
Aku sempat berpikir bagaimana guru di sini bisa menggunakan laptop dan in focus dalam mengajar, jika listrik tidak ada seperti sekarang. Pasti in focus akan jadi barang pajangan, seperti juga laptop sekarang ini.
Niat baik, tetapi tak mungkin terlaksana. Impian yang masih jauh dari kenyataan.
Keterbatasan ini membawa implikasi serius pada guru. Guru-guru sekolah ini, beberapa di antaranya guruku dan kawan kelasku SD, kesulitan mencapai kredit poin seperti yang disyaratkan untuk karir mereka.
Saat ini, baru 3 guru yang lulus sertifikasi. Lebih banyak yang belum. Aku mengasihani mereka yang belum: bagaimana mereka mengumpulkan angka untuk kepentingan itu. Bandingkan di Pontianak, kenaikan pangkat rasanya tidak suka dicapai. Fasilitas pendukung untuk mencapai angka kredit mudah diperoleh.
Aku sempat bertemu guru agamaku dahulu. Pak Yunus. Beliau, termasuk orang yang menghadapi kendala dalam mengejar sertifikasi. Hambatan yang terbesar: pendidikan. Beliau belum S-1. Kesempatan kuliah ada, tetapi tidak mudah. Kalau mau kuliah mereka harus biaya sendiri, ke Putussibau atau Pontianak. Jarak Putussibau 100 Km dan jarak ke Pontianak sekitar 700 Km. Kalau mau kuliah mereka harus meninggalkan kampung dan meninggalkan tugas. Belum dihitung berapa besar biaya yang diperlukan. Mengandalkan gaji sendiri sudah pasti benar-benar sulit.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah mereka dapat memperoleh izin belajar jika mereka ingin melanjutkan pendidikan.
Jika begini terus keadaannya, bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tahun 2014, tahun yang katanya setiap guru harus sudah sertifikasi.
Nasib!
Tetapi aku tidak berlama-lama memikirkan nasib mereka. Aku berharap pemerintah, khususnya instansi terkait, menemukan jalan keluar bagi guru-guru di pedalaman. Kupikir, kepada instansi itulah urusan mereka diserahkan.
Saat itu, aku lebih terfokus pada buku induk siswa SD. Aku mencatat nama-nama siswa sekolah, lalu membuat tabulasi perangkatan. Aku beruntung, sekolah ini dikelola dengan baik sejak awal. Administrasinya cukup kemas, meskipun sederhana. Data murid sejak tahun 1978 hingga 2008 tersedia.
Aku benar-benar bernostalgia ketika membaca nama teman-teman lama, ketika melihat foto-foto mereka. Teman-teman sekarang sudah ke mana-mana. Bekerja dalam berbagai bidang dan profesi.
Aku juga mendapati kenyataan, ada banyak teman yang sudah menghadap Tuhan. Mereka tak mungkin dijumpai. Hanya tingga nama di buku induk. Semoga Tuhan memberikan mereka tempat yang layak.
Diposkan oleh Yusriadi di 04:59 0 komentar
Label: Kapuas Hulu, Pendidikan, Riam Panjang
