Tampilkan postingan dengan label FOTO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FOTO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Drs. H. Abang Zahry Abdullah Al-Ambawi


Baca Selengkapnya...

Senin, 11 Oktober 2010

Mengajak Anak Sekolah Menulis

Siswa SMP Santa Tarsisia Bengkayang sedang mendengar komentar karya mereka saat pelatihan penulisan Rabu (29/9) lalu. Foto Krisantus/Borneo Tribune

Yusriadi
Redaktur Borneo Metro

Dalam satu pekan di minggu lalu, saya memiliki dua pengalaman kepenulisan yang mengesankan. Pengalaman pertama saya dapatkan ketika masuk ke ruang kelas Karya Tulis Ilmiah (KTI) di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pontianak. Pengalaman kedua, ketika saya masuk ke ruang pelatihan ‘Menulis Berita dan Puisi’ di SMP Katolik Santa Tarsisia Bengkayang.


Di depan anak MAN 1 saya memberikan mereka motivasi berkaitan dengan pentingnya menulis. Saya mendorong mereka membuat buku harian sebagai bentuk latihan menuangkan gagasan. Usai kelas itu, dua orang pelajar membuntuti saya dan mereka bertanya tentang karya-karya mereka.
“Sekarang saya sudah punya 5 cerpen,” kata seorang pelajar yang saya lupa namanya.
Seorang lagi pelajar mengatakan dia sudah memiliki banyak puisi. Dan, mereka ingin karya itu diterbitkan.
Di SMP Tarsisia, selain memberikan motivasi, saya mengajarkan anak-anak menulis cerita. Respon positif anak ditunjukkan melalui karangan akhir mereka. Mereka diminta membuat tulisan menceritakan latihan yang mereka ikuti. Selain itu, hampir semua anak menulis mereka senang dengan pelatihan itu. Mereka mengaku mendapatkan hal baru dan akan terus berkarya.
Saya terkesan pada anak-anak itu. Mereka begitu bersemangat. Semangat mereka sukar saya lukiskan dengan kata-kata.
Saya sempat membayangkan jika semangat itu bisa terus dipelihara, pasti hasilnya akan menjadi sangat luar biasa. Bayangkan jika sebagian saja dari anak-anak itu menjadi penulis. Pastilah akan lahir kelompok penulis di Kalbar ini.
Kalaupun mereka mungkin tidak akan jadi penulis semua, minimal beberapa di antara mereka akan menjadi ‘elit’ di antara teman-temannya, di antara masyarakatnya.
Saya sangat percaya jika mereka terus mengasah kemampuan menulis, mereka akan berkembang kapasitasnya. Pertama, menulis membuat orang menjadi cerdas. Karena proses menulis memerlukan proses berpikir, menyoal diri sendiri dan menjawabnya. Orang yang terus menerus berpikir, bertanya dan menjawab, pasti akan menjadi orang yang pintar. Selain itu orang yang suka menulis cenderung akan menjadi orang yang gemar membaca. Gemar membaca akan membuat orang bertambah pengetahuan.
Kedua, latihan menulis sejak awal akan membantu anak-anak itu kelak hidup di level yang lebih tinggi. Umpamanya jika kelak mereka berkesempatan menapak langkah di perguruan tinggi, pasti kemampuan menulis ini akan memudahkan mereka beradaptasi terhadap tugas-tugas perkuliahan.
Pada tahapan selanjutnya kemampuan menulis ini akan menjadi bekal tambahan mereka dalam hidup. Saya sangat percaya kemampuan menulis dapat menjadi bekal hidup yang sangat bermanfaat. Saya mengenal beberapa orang yang sekarang ini pekerjaannya ‘penulis’. Hidup mereka berkecukupan. Malah kalau mau membandingkan, banyak sekali penulis-penulis hebat – sebut misalnya Andrea Hirata atau JK Rouwing, yang hidup mereka menjadi kaya.
Bahkan, pekerjaan wartawan sesungguhnya adalah pekerjaan menulis. Setiap hari wartawan menulis dan mereka dibayar karena produksi kata itu. Ada banyak wartawan di Indonesia.
Karena itu saya sangat berharap dapat ikut memelihara semangat anak-anak itu, sembari menumbuhkan semangat anak-anak yang lain.
Tetapi tidak mungkin. Saya tidak bersama mereka. Lantas, harapan itu disandarkan pada guru sekolah mereka. Bukan saja guru bahasa Indonesia, tetapi juga guru-guru lain secara sinergis, termasuk kepala sekolah, membantu menciptakan iklim kepenulisan.




Baca Selengkapnya...

Sabtu, 12 September 2009

Kemelut Hubungan Indonesia - Malaysia; BAZRUL: PERLU PEMAHAMAN BUDAYA


Oleh Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

Kemelut hubungan Indonesia dan Malaysia sekarang tidak perlu terjadi. Dua Negara serumpun ini dapat menjembatani kemelut antar mereka dengan pendekatan pemahaman budaya.

Demikian pendapat yang disampaikan Dr. Bazrul Bahaman, Timbalan Pengarah Institut Kerjasama Indonesia Malaysia (IKIM), Universiti Industri Selangor Malaysia, dalam percakapan dengan saya di Pontianak kemarin.


Katanya, kemelut budaya seperti yang terjadi antara Indonesia-Malaysia sebaiknya dilihat dari konteks budaya.
“Indonesia dan Malaysia memiliki akar yang sama. Asal usulnya sejarahnya sama. Karena itu wajar jika mereka pun memiliki budaya yang sama,” katanya.
Menurutnya, ikatan budaya yang wujud di antara masyarakat di dua negera ini wujud lebih awal dibandingkan wujudnya batas administrasi politik kedua Negara ini. Ditambahkannya, batas administrasi politik itu diciptakan penjajah sejak abad ke 19 hingga sekarang. Sedangkan ikatan budaya sudah ada jauh sebelum batas itu diciptakan. Kebersamaan ikatan ini yang akan terus menyebabkan terjadinya kepemilikan budaya yang sama – dan pada akhirnya diperebutkan dan lantas menjadi isu yang dapat merenggangkan hubungan antara kedua jiran ini.
Untuk menyelesaikan masalah yang terus mencuat ini, Bazrul menyarankan agar kedua Negara ini membentuk kerjasama budaya khususnya kerjasama dalam konteks pematenan ciri budaya.
“Kerja sama budaya ini kira-kira bentuknya merujuk kepada kerjasama dalam bidang bahasa, yaitu melalui MABBIM (Majelis Bahasa Brunai, Indonesia dan Malaysia). Kalau kerja sama bahasa ada, kerja sama budaya juga boleh dibuat,” ujarnya.

Kerja Sama IKIM

Bazrul datang ke Pontianak dalam rangka menjajaki kemungkinan kerjasama antara IKIM Unisel dengan perguruan tinggi yang ada di Pontianak.
Kata Bazrul, IKIM memiliki program membawa mahasiswa belajar melalui kunjungan di universitas lain.
“Selama ini Unisel melakukan kerjasama dengan Universitas Riau. Mahasiswa kami melakukan kunjungan belajar di sini selama beberapa hari, belajar bagaimana cara pelajar universitas di perguruan tinggi yang dikunjungi, belajar,“ katanya.
“Kalau bisa kami ingin juga membawa mahasiswa ke Pontianak,“ tambahnya.
Selain itu, lulusan Universiti Malaya yang menulis disertasi tentang Budaya Politik Melayu ini akan berbicara dalam Seminar Melayu Nusantara 1 yang diselenggarakan Malay Corner Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak pagi ini.
Bazrul akan menyampaikan materi tentang Budaya Politik Melayu, tampil bersama Ketua Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar yang juga Rektor Untan Pontianak Prof. Dr. Chairil Effendi, dan Pembina MC STAIN yang juga Ketua STAIN Pontianak Drs. Haitami Salim, M.Ag.


Baca Selengkapnya...

Selasa, 05 Mei 2009

Bahasa Ge



Tata (biru) dan Caca (merah).
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Saya sedang baring malam itu--beberapa hari lalu. Biasa, setelah Magrib istirahat sekejap.
Tiba-tiba saya mendengar percakapan Caca dengan Tata, anak perempuan saya. Caca berumur 9 tahun. Dan Tata berumur 7 tahun.
“Kaka kuku kiki kaka kuku”.
“Kuku kuku, kiki kiki”.




Saya mengangkat kepala. Ingin mendengar lebih jelas, apa yang mereka bicarakan. Saya sama sekali tidak nyambung.
“Bugu kugu digi maga naga, caga caga?”
“Tugu digu aga tagas ragak”.
“Ta, omong ape tu?”
Saya bertanya penasaran.
“Bahasa gay”.
Teq! Saya terkejut.
“Anak-anak saya berbicara bahasa gay?”
Bayangan negative meloncat dari kepala saya. Negatif, karena setahu saya, gay itu komunitas menyimpang. Mereka orang yang menyukai sesama jenis--laki-laki.
Saya memang belajar sedikit tentang bahasa-bahasa komunitas. Ada bahasa kelompok khusus--dengan alasan tertentu, mengunakan bahasa rahasia. Bahasa itu hanya dimengerti oleh kelompok mereka. Mereka menggunakan istilah-istilah yang disepakati sendiri.
“Bahasa gay?”
“Iya, bahasa gay”.
“Dapat dari mana, Ta?”
“Belajar dengan Tika”.
Tika, anak tetangga kami. Teman bermain Tata. Tika sudah Kelas V sekolah dasar. Umurnya 11 tahun. Mereka berteman, karena di gang kami yang sepi itu, tidak ada anak sebaya Tata.
“Ta, sini. Coba ajarkan Bapak”.
Tata mendekat. Senyum. Saya suka lihat senyumnya. Senyum Tata sangat manis ketika gigi depannya ompong--ganti gigi.
“Kalau mau bilang ‘bapak baring’, bagaimana?”
“Baga pagak baga riging”.
“Saya?”
“Saga yaga”.
Tata menjawab dengan cepat. Saya tertawa. Takjub. Pintar. Saya belum memahami rumus bahasa itu. Saya minta Tata menterjemahkan beberapa kalimat lagi.
Tata menjawab cepat. Saya berusaha menyimak dengan cermat.
Lalu, saya menemukan polanya. Bunyi ‘ge’ memisahkan suku kata. Vocal setelah ‘ge’ disesuaikan dengan vocal suku kata yang diikutinya.
Saya, sa+ya. [Sa] ditambahkan bunyi ‘ga’, [ya] ditambahkan ‘ga’ juga. Jadi rumusnya, saga + yaga.
Kalau [isi], [i]+ gi; [si] + gi. Igi sigi.
Jadi, bahasa gay yang saya bayangkan sebenarnya bahasa ‘ge’. Bahasa dengan bunyi ‘ge’. Abjad ke – 7 dalam system alphabet Latin. Bukannya bahasa komunitas gay. Bukannya bahasa rahasia.
Lalu, saya jadi teringat beberapa puluh tahun lalu. Saat saya kecil, SD, saya juga mengenal bahasa khusus begitu. Bahasa Pampan, namanya. Polanya berbeda sedikit dengan bahasa ge.
Bahasa Pampan, bahasa terbalik. Setiap kata dipisahkan suku katanya, lalu dibalik.
Saya misalnya, menjadi ya+sa.
Kami, menjadi mi+ka.
Isi, menjadi si+i. Dan seterusnya.
Sederhana, dan mengasyikkan pada suatu saat. Saya katakan suatu saat, karena bahasa itu tidak berumur panjang. Mungkin kami hanya menggunakannya selama tiga bulan. Setelah itu kami lupa. [Mungkin karena sudah tidak asyik lagi].
Saya kira, sekalipun tiga bulan, dengan belajar bahasa itu, kami telah belajar bagaimana berpikir cepat. Dan, itu yang sedang dialami Tata dengan bahasa ge mereka.



Baca Selengkapnya...

Sabtu, 28 Maret 2009

Flat Hentian Kajang

Salah satu flat di Hentian Kajang, Malaysia. FOTO Herpanus.

Oleh: Yusriadi

“Bang Yus tinggal jak di Hentian Kajang,”
Herpanus, teman saya asal Sintang yang kini sedang menyelesaikan Program Master di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mengirim pesan lewat email, Februari lalu.
Herpanus, alumnus Fakultas Pertanian Untan itu mengatur semua hal berkaitan dengan program Post Doc yang akan saya jalani. Mulai soal administrasi, hingga soal teknis. Termasuklah soal tempat tinggal.



Herpanus lalu menceritakan bahwa saya bisa tinggal bersama mereka di sebuah flat di Hentian Kajang. Letaknya lebih kurang 3-4 kilometer dari kampus UKM.
Di flat mereka ada tiga kamar. Dia dengan Jamil, mahasiswa UKM asal Ambon. Satu kamar lagi ditempati Nofriadi mahasiswa program master asal Padang dan satu kamar lagi ditempati Bang Kristianus Atok, mahasiswa program doktoral asal Kalbar juga. Herpanus dengan rinci menjelaskan teman-temannya itu.
Maksudnya, agar saya kenal ’medan’ dahulu sebelum bergabung dengan mereka.
”Abang nanti tinggal dengan saya dan Jamil,”
”Ok, tunggu saja. Terima kasih, karena pasti akan merepotkan,”
Beberapa hari kemudian, saya mendapat telepon dari Bang Kris. Soal penginapan juga.
Bang Kris rupanya juga membantu mengatur penginapan saya.
Saya mengiyakan. Mereka teman-teman yang baik dan perhatian.
Ketika saya sampai di KLIA, lapangan terbang Kuala Lumpur –sebenarnya tempatnya di Nilai, negara bagian Selangor, saya mengabarkan Bang Kris.
Bang Kris mengatakan menunggu saya di flat.
Saya juga menghubungi untuk memastikan alamat penginapan itu.
”29----. Tempat lama,”
Bang Kris menyebut ”tempat lama” untuk menunjukkan bahwa flat di mana dia menunggu adalah tempat yang pernah saya datangi.
”Anda pernah di sini khan?”
Bang Kris sering kali memanggil saya Anda. Kesannya, menurut saya, formal-berjarak. Entah apa maksudnya. Tetapi, kadang kala dia memanggil saya dengan Yus saja.
Saya mengiyakan.
Ya, saya memang langganan ke flat itu. Hampir setiap pergi ATMA, UKM, saya mampir. Bermalam semalam dua, kata orang.
Hanya sesekali saya menginap di hotel.
Flat ini ditempati mahasiswa Kalbar sejak lama. Mulai zaman Hermansyah –sekarang Dr Hermansyah. Ibrahim. Pak Bakran Suni– sekarang Dr. Bakran. Hingga sekarang, ada Bang Jumadi dan Qahar – keduanya, dosen Untan Pontianak.
Tentu saja saya ingat tempatnya. Tetapi, alamatnya ... tidak.
Saya naik bis dari KLIA, bayarnya RM3,50. Lalu naik komuter, kereta api listrik RM2.20, turun di Stasiun UKM. Dari sini berjalan kaki 10 menit, naik bis lagi, ongkosnya RM0.70, sampai di Hentian Kajang. Hentian Kajang adalah stasiun bis untuk wilayah Kajang. Saya memilih rute ini, karena jelas lebih murah dibandingkan naik teksi dari KLIA – Hentian Kajang. Tarif teksi tidak kurang dari RM60,00. Kalau RM 60,00 dikalikan Rp 3.200, jadi Rp 192.000. Bayangkan!
Turun dari bis saya menuju bangunan flat, menyusuri lorong kaki lima beberapa blok bangunan.
Hentian Kajang hari itu, bukan lagi Hentian Kajang yang saya lihat beberapa tahun lalu. Sekarang ini, kesan saya, keadaanya sudah sangat padat. Ramai sekali. Belakangan saya tahu dari kawan, keadaan lingkungan sudah tidak lagi nyaman.
Berjalan 5 menit, akhirnya saya sampai di bangunan flat yang akan saya tempati. Saya harus naik tangga lagi. Flat itu ada di lantai ke tiga – tingkat yang kedua. Lumayan juga naik tangga yang kemiringannya 30 derajat.
Saya memastikan nomor flat.
Benar.
Pintu besi (teralisnya) terbuka. Pintu flat dalam keadaan tertutup. Tetapi, dari luar saya dapat mendengar samar-samar suara TV. Melalui celah bagian bawah daun pintu juga nampak ruangan tengah yang terang, pantulan cahaya masuk melalui pintu teras yang terbuka.
Saya mengetuk pintu.
”Ya,”
Terdengar sahutan dari dalam.
Daun pintu terbuka. Bang Kris.
”Selamat datang,”
Bang Kris menunjuk kamar yang akan saya tempati. Kamar kosong. Ukurannya, lebih kurang 5 X 2,5 meter.
”Lampunya tak bisa hidup. Dedi yang bisa ngidupkan,”
Stop kontak ditekan, hanya kipas besar tergantung di tengah ruang kamar yang berputar. Lampu tidak menyala.
Ada masalah pada trafo pada lampu neon yang panjangnya mungkin satu meter itu. Belakangan, saya diajarkan menghidupkan lampu itu dengan cara memutar trafo, lalu menariknya keluar dari cangkangnya.
Saya mengamati isi kamar. Di kamar itu ada meja komputer warna kream dari bahan arbot. Di atasnya ada lipatan sejadah warna merah. Ada kursi plastik warna biru laut, ada kasur yang berseprai biru tua. Ada dua bantal, yang satu bersarung biru, dan satunya lagi bersarung hijau.
Ada dua 2 lemari platik yang di dalamnya ada 2 celana panjang, satu kemeja dan satu baju dalam anak usia 1 tahun. Di belakang pintu satu keranjang plastik berisi kertas dan koran bekas yang berdebu.
Semua barang yang ada di kamar itu sebenarnya milik penghuni-penghuni sebelumnya. Entah berapa generasi terdahulu. Saya ingat dahulu, waktu saya menginap di sini tiga atau empat tahun lalu –waktu itu menumpang pada Dedy Ari Asfar, lemari itu sudah ada.
Entah saya lupa memperhatikan dahulu, apakah kasur itu juga kasur yang lama atau baru.
Tetapi, saya kira itulah uniknya di sini. Sistem pewarisan untuk jenis barang yang tidak mungkin dibawa pulang ke Indonesia, berjalan secara alami. Pewaris tidak pernah tahu siapa yang akan menerima warisan mereka. Kecuali satu hal: seperti yang sedang dilakukan sekarang, flat yang sudah disewa mahasiswa Indonesia, sebisanya dipertahankan. Jangan sampai pindah tangan ke penyewa lain.
Kalau pindah tangan, resikonya pemilik barang-barang tidak harus ’mengapakan’ barang mereka. Mungkin tidak ada yang mau beli bantal atau kasur bekas. Entah siapa yang mau beli lemari plantik bekas, dll.
Hanya jenis barang-barang tertentu saja yang bisa dilego dengan harga murah. Itu pun, kalau mau melego, kadang kala harus bersusah payah, banting harga.
Ada alasan lain yang lebih penting.
”Kalau kamar bisa kita pertahankan, nanti, kalau kita dan kawan-kawan datang ke sini, tak payah-payah sewa hotel. Bisa menginap di sini,”
Benar. Bisa lebih hemat. Hotel di sini tarifnya di atas tarif hotel di Pontianak. Untuk hotel yang sangat sederhana, baiknya disebut penginapan, tarifnya berkisar di angka RM50. Tidak bagus.
Untuk hotel standar, tarif kamar yang murah kabarnya di atas RM 100.
Dan, saya bisa merasakan betapa enaknya datang ke UKM dengan menumpang di rumah teman. Gratis.

***

Flat –flat di Hentian Kajang sangat banyak. Tidak kurang dari 10 blok sekarang ini. Masing-masing blok memiliki 5 lantai. Flat-flat ini relatif baru. Sewaktu pertama kali saya datang ke UKM tahun 1996, di lokasi ini masih semak belukar.
Saya diberitahu, bentuk flat di sini relatif sama. Satu ruangan flat luasnya kira-kira lebih kurang 11 meter X 7 m.
Ada tiga kamar. 2 kamar di bagian depan berdampingan, lalu dapur. Kamar mandi kecil dan kamar belakang (kamar ini yang saya tempati). Saya sebut kamar belakang untuk menunjukkan lokasi yang berbeda dari lokasi depat, yaitu teras. Bagian belakang ini sebenarnya, boleh dianggap bagian depat, karena dekat dengan pintu masuk. Pintu masuk flat berada di tengah-tengah (bagian dalam?) bangunan blok.
Ada ruang tamu plus ruang tengah memanjang dari ujung beranda hingga pintu masuk. Kadang ruang tamu ini merangkap ruang tidur bagi sesiapa yang lagi bosan tidur di kamar. Di tiga kamar tidur dan ruang tengah ada kipas angin besar, dan di setiap ruangan ada lampu neon panjang.
Saya kira, lebih enak tidur di ruang tengah ini karena lebih lapang. Tidak pengap. Angin bisa masuk melalui jendela dan pintu.
Tetapi, betapa pun enaknya, dalam soal tempat tinggal lama, tentu lebih enak tinggal di rumah bukan flat, di tempat sendiri.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya generasi-generasi yang menghabiskan hari-hari mereka di rumah flat. Bagaimana orang membesar di lingkungan sosial yang benar-benar lain, individual, dan juga sumpek. Bagaimana budaya mereka kelak?
Pastilah mereka akan berbeda. Pastilah mereka akan lain.
Mungkin...
Ah, memang harus begitu.
Kehidupan dunia menuntut adanya perubahan. Itulah, dunia fana, kata guru saya.
Yang tak berubah itu benda mati dan kematian.



Baca Selengkapnya...

Senin, 23 Maret 2009

Mahasiswa Indonesia di UKM


Saya bersama teman asal Indonesia di ruang siswazah (sebutan untuk mahasiswa pasca sarjana) di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia. Di samping saya, ada Sukardi Gou dari Papua, Pett Derani, asal Seraya Sekadau, dan Herpanus, asal Sintang. Foto Jamil Fattarisa/Mahasiswa asal Ambon (Maret 2009).
Selain itu, di ruang itu, kadang-kadang muncul Ibu Rina dari Sumatera Barat, dan Bang Kristianus Atok, dari Pontianak.



Baca Selengkapnya...

Minggu, 04 Januari 2009

Di Tengah Krisis Itu...., Pangan Solusinya


Oleh: Yusriadi
Borneo Tribune, Pontianak

Krisis keuangan global yang terjadi tahun 2008 memang mengguncangkan ekonomi Indonesia. Pemberitaan media membuat semuanya mudah diikuti. Perkembangan bursa saham dunia, dampak-dampak yang terjadi, tindakan-tindakan penyelamatan, dll., begitu mudah diikuti.
Di mana-mana orang membicarakan dampak krisis. Penurunan harga beli pedagang, dan peningkatan harga jual komoditas tertentu menjadi tema penting, karena menyangkut sendi-sendi kehidupan masyarakat. Di kantor, di pasar, hatta di rumah pun orang merasakan dampaknya.



Saya termasuk orang yang mengikuti perkembangan ini. Walaupun tidak secara intens, tetapi garis besar persoalan, punca, dan sebagainya, saya ikuti. Seperti juga orang banyak, saya menyimak karena krisis bersentuhan langsung dengan kehidupan saya sehari-hari.
“Karet sekarang tidak dibeli orang. Pedagang masih nunggu keadaan,”
“Toke karet kita rugi besar. Jatuh tedudok. Dia beli harga Rp 9000, sekarang dijual Rp 6000”.
“Kalau mau cari motor bekas, sekaranglah waktunya. Ada yang jual motor kredit Rp1 juta”.
“Adik saya karyawan sawit, kena PHK,”
“Perusahaan sawit merumahkan karyawan”.
“Ada keluarga saya sopir truk sawit, sekarang tidak bekerja”.
“Saya tidak tahu bagaimana membiayai anak-anak kuliah, sekarang”.
Pelbagai informasi ini saya terima.
Saya mendengar dengan seksama. Tapi, saya cemas.
Saya seperti melihat dampak buruknya. Bayang-bayang kekalutan seperti berada di depan mata. Tidak bisa ditangani.
Ya, karet dan sawit, selama ini menjadi andalan perekonomian orang kampung di pedalaman, katakanlah di Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sanggau, Landak. Saya kira, Ketapang juga sangat bergantung pada dua sektor ini.
Dua usaha ini telah menggeser peran pertanian padi. Bahkan, padi, sudah mulai kehilangan ‘mukjizatnya’ membantu orang kelaparan. Usaha peladangan sekarang ini jarang sekali mampu menghasilkan padi yang dapat disimpan sampai satu tahun. Saya seringkali menemukan hasil ladang hanya mampu menyuplai makan penduduk selama setengah musim. Orang yang berladang harus membeli beras toko atau beras ili’ –begitu biasa disebut, agar terus makan. Kesan saya sekarang, orang berladang karena mereka merasa perlu menjaga tradisi. Jika tidak berladang orang merasa tradisi sebagian dari tradisi seperti hilang dari diri mereka.
“Untuk nanam pulut,”
“Untuk burung pipit,”
Emak saya membahasakan begitu kalau mereka berladang di lahan yang kecil. Jadi kalau sudah begini, bukan hasil padi yang mereka pikirkan.
Lahan sekarang sudah sangat terbatas. Penduduk banyak. Lahan sekarang juga tidak subur lagi. Harus dibantu pakai pupuk. Sedangkan pupuk mahal –dan malah sering dikeluhkan: tidak ada.

***

Saya semakin cemas karena Pemerintah -- seperti diberitakan media -- tidak bisa berbuat banyak. Pemerintah sudah mengumpulkan pengusaha sawit dan juga pengusaha karet, mendiskusikan persoalan itu. Namun, jalan keluar sesungguhnya belum ketemu. Maklum, ini krisis global, terlalu berat orang lokal menghadapinya. Masalahnya orang lokal sangat tergantung pada orang global itu.
“Di luar kuasa kita,”
Kata beberapa pejabat daerah seperti dikutip media ketika mereka dimintai tanggapan seputar anjloknya harga karet dan sawit.
Gubernur Cornelis seperti disampaikan dalam diskusi refleksi akhir tahun yang diselenggarakan Harian Borneo Tribune (30/12) mengatakan Kalbar sudah mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan RI. Jadi, keputusan pada akhirnya sangat tergantung pada pusat, pada orang di atas. Kalau keputusan yang diambil sesuai dan mampu meringankan beban masyarakat di tengah konflik, lumayan. Jika keputusan tidak kunjung diambil, atau kalaupun diambil keputusan tidak menyelesaikan masalah, tentu persoalan yang dihadapi menjadi lebih runyam.
Lalu apa tindakan lokal untuk menghadapi persoalan itu? Apa yang bisa dilakukan petani karet dan petani sawit di tengah situasi seperti ini?
Saya jadi teringat solusi yang akan diperhatikan Gubernur Cornelis.
“Pangan,”
Di tengah krisis seperti ini, di tengah kepasrahan yang dipilih, pemerintah memilih solusi dengan program ketersediaan pangan masyarakat. Krisis bagaimanapun, masyarakat tetap makan. Keterpenuhan kebutuhan yang lain menyusul.
Anggota DPRD Kalbar Michael Yan memberikan pandangan senada. Pangan penting diperhatikan di tengah krisis. Bahkan, walaupun Michael Yan optimis krisis ini tidak akan lama, namun, perhatian terhadap pangan mestinya tidak hanya pada saat krisis. Harus selalu diperhatikan. Apalagi potensi alam di Kalbar ini besar dan memungkinkan.
Saya kira solusi ini, solusi yang arif. Paling tidak ada plan penting yang bisa diambil pemerintah menghadapi situasi yang sulit.
Bak kata orang, kalau masih ada beras, amanlah periuk. Aman juga kampung tengah. Lauk bisa dicari. Kayu bakar bisa dicari. Tinggal memasak saja, lagi.
Kalau masih bisa makan, tenanglah pokoknya.




Baca Selengkapnya...

Sabtu, 03 Januari 2009

Buku: DARI WAK GATAK KE KAMPUNG BETING


Buku ini berisi catatan perjalanan peserta pelatihan metode penelitian berbasis participatory action research (PAR) yang diselenggarakan STAIN POntianak, Desember 2008.




Baca Selengkapnya...

Kembang Api di Pontianak


Pesta kembang api juga mewarnai pergantian tahun di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Masyarakat kota turun jalan membuat suasana sangat meriah. Foto Lukas Wijanarko/Borneo Tribune.



Baca Selengkapnya...

Sabtu, 27 Desember 2008

Petani Parit Wak Gatak, Kalbar


Warga Parit Wak Gatak, Kalbar. Mereka petani. Hasil pertanian mereka dipasarkan di pasar-pasar utama Kota Pontianak.



Baca Selengkapnya...

Selasa, 14 Oktober 2008

Awak Borneo Tribune Pontianak



BARENG-BARENG
Hampir seluruh awak Harian Borneo Tribune Pontianak yang bertugas di Pontianak berkumpul di kantor Redaksi Senin (13/10). 31 orang (termasuk saya), + 1 seorang pelajar dari Jerman, kumpul untuk foto bersama dengan baju dinas. Katanya, untuk keperluan dokumentasi. Meriah juga oiii.
FOTO ULA/BORNEO TRIBUNE




Baca Selengkapnya...

Selasa, 23 September 2008

HIBURAN RAKYAT


MAIN BERSAMA
Sepak bola menjadi permainan yang benar-benar merakyat di Pulau Maya, KKU. Siswa-siswi bermain bola bersama di halaman Madrasah Ibtidayah Kampung Parit Baru. Foto Yusriadi.



Baca Selengkapnya...

Kamis, 18 September 2008

Warung Makanan dan Minuman di Kampung Parit Baru


Salah satu warung yang menjual pecal di Kampung Parit Baru, Pulau Maya. Di warung ini juga dijual aneka kue, mie, dan berbagai jenis minuman. Foto Yusriadi/Borneo Tribune




Baca Selengkapnya...

Kamis, 11 September 2008

Menanti di Dermaga Pulau Maya'



Penduduk Pulau Maya, Kayong Utara (KKU) menunggu kedatangan motor air yang datang dari Sukadana. Motor air menjadi alat transportasi utama orang pulau ini. Foto Yusriadi



Baca Selengkapnya...

Senin, 30 Juni 2008

MENUNGGU PEMERINTAH



Masyarakat Sungai Karawang. Mereka berharap pemerintah memberikan perhatian pada nasib mereka. Mereka berharap masa depan yang lebih baik. Foto Yusriadi/Borneo Tribune.




Baca Selengkapnya...

Minggu, 22 Juni 2008

Anak Sungai Karawang


Anak-anak Sungai Karawang mengikuti kegiatan keagamaan di masjid desa. Foto Yusriadi.



Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 Juni 2008

Pusat Kota Sukadana


Kota Sukadana, Ibukota Kabupaten Kayong Utara (KKU), Kalimantan Barat. Kota yang sederhana. Rukonya berhias dengan gambar simbol rokok Betha. pembangunan selama ini belum menyentuh sudut-sudut kota kecil ini. Pasar utama Sukadana hanya terdiri dari beberapa ruko sederhana, jauh lebih kecil dibandingkan sejumlah kota kabupaten di pedalaman Kalbar yang tidak pernah dikenal dalam sejarah. Padahal, kota ini adalah salah satu kota bersejarah di Kalbar, namanya sangat dikenal dan besar dalam sejumlah dokumen lama. Foto Yusriadi.



Baca Selengkapnya...

Jumat, 13 Juni 2008

Dermaga Pulau Maya


Awak motor air menurunkan muatan --penumpang dan barang, yang diangkut dari Sukadana, KKU. Motor air ini berangkat dari Sukadana tengah hari sekitar pukul 13.00 dan sampai di Pulau Maya pukul 17.00. Perjalanan sebenarnya hanya 2 jam lebih. Perjalanan menjadi lambat karena motor air tidak bisa masuk ke pelabuhan Sukadana. Penumpang dari pelabuhan menuju motor air harus diangkut menggunakan sampan kecil -- bolak balik. Bolak balik sampan kecil memakan waktu berjam-jam. FOTO Yusriadi.



Baca Selengkapnya...

Penulis Buku Mozaik Dayak


Tiga penulis buku Mozaik Dayak di Kalimantan Barat; Catharina Pancer Istiyani, Sujarni Alloy, dan Albertus. Buku ini merupakan buku utama untuk mengetahui sub-suku Dayak di Kalimantan Barat. FOTO Yusriadi.





Baca Selengkapnya...

Sabtu, 17 Mei 2008

Peluncuran Buku Mozaik Dayak


Suasana saat peluncuran buku Mozaik Dayak, Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, karya Sujarni Alloy, Albertus dan Chatarina Pancer Istiyani (Institut Dayakologi, 2008), di Hotel Orchadz, Sabtu (17/5/2008). Saya (batik merah), Dedy Ari Asfar, MA (kanan), di sebelah kiri FX Asali, Abdus Syukur (terlindung), dan Elias Ngiuk (pemandu). Foto AA Mering/Borneo Tribune.



Baca Selengkapnya...