Selasa, 05 Mei 2009

Bahasa Ge



Tata (biru) dan Caca (merah).
Oleh
Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune


Saya sedang baring malam itu--beberapa hari lalu. Biasa, setelah Magrib istirahat sekejap.
Tiba-tiba saya mendengar percakapan Caca dengan Tata, anak perempuan saya. Caca berumur 9 tahun. Dan Tata berumur 7 tahun.
“Kaka kuku kiki kaka kuku”.
“Kuku kuku, kiki kiki”.




Saya mengangkat kepala. Ingin mendengar lebih jelas, apa yang mereka bicarakan. Saya sama sekali tidak nyambung.
“Bugu kugu digi maga naga, caga caga?”
“Tugu digu aga tagas ragak”.
“Ta, omong ape tu?”
Saya bertanya penasaran.
“Bahasa gay”.
Teq! Saya terkejut.
“Anak-anak saya berbicara bahasa gay?”
Bayangan negative meloncat dari kepala saya. Negatif, karena setahu saya, gay itu komunitas menyimpang. Mereka orang yang menyukai sesama jenis--laki-laki.
Saya memang belajar sedikit tentang bahasa-bahasa komunitas. Ada bahasa kelompok khusus--dengan alasan tertentu, mengunakan bahasa rahasia. Bahasa itu hanya dimengerti oleh kelompok mereka. Mereka menggunakan istilah-istilah yang disepakati sendiri.
“Bahasa gay?”
“Iya, bahasa gay”.
“Dapat dari mana, Ta?”
“Belajar dengan Tika”.
Tika, anak tetangga kami. Teman bermain Tata. Tika sudah Kelas V sekolah dasar. Umurnya 11 tahun. Mereka berteman, karena di gang kami yang sepi itu, tidak ada anak sebaya Tata.
“Ta, sini. Coba ajarkan Bapak”.
Tata mendekat. Senyum. Saya suka lihat senyumnya. Senyum Tata sangat manis ketika gigi depannya ompong--ganti gigi.
“Kalau mau bilang ‘bapak baring’, bagaimana?”
“Baga pagak baga riging”.
“Saya?”
“Saga yaga”.
Tata menjawab dengan cepat. Saya tertawa. Takjub. Pintar. Saya belum memahami rumus bahasa itu. Saya minta Tata menterjemahkan beberapa kalimat lagi.
Tata menjawab cepat. Saya berusaha menyimak dengan cermat.
Lalu, saya menemukan polanya. Bunyi ‘ge’ memisahkan suku kata. Vocal setelah ‘ge’ disesuaikan dengan vocal suku kata yang diikutinya.
Saya, sa+ya. [Sa] ditambahkan bunyi ‘ga’, [ya] ditambahkan ‘ga’ juga. Jadi rumusnya, saga + yaga.
Kalau [isi], [i]+ gi; [si] + gi. Igi sigi.
Jadi, bahasa gay yang saya bayangkan sebenarnya bahasa ‘ge’. Bahasa dengan bunyi ‘ge’. Abjad ke – 7 dalam system alphabet Latin. Bukannya bahasa komunitas gay. Bukannya bahasa rahasia.
Lalu, saya jadi teringat beberapa puluh tahun lalu. Saat saya kecil, SD, saya juga mengenal bahasa khusus begitu. Bahasa Pampan, namanya. Polanya berbeda sedikit dengan bahasa ge.
Bahasa Pampan, bahasa terbalik. Setiap kata dipisahkan suku katanya, lalu dibalik.
Saya misalnya, menjadi ya+sa.
Kami, menjadi mi+ka.
Isi, menjadi si+i. Dan seterusnya.
Sederhana, dan mengasyikkan pada suatu saat. Saya katakan suatu saat, karena bahasa itu tidak berumur panjang. Mungkin kami hanya menggunakannya selama tiga bulan. Setelah itu kami lupa. [Mungkin karena sudah tidak asyik lagi].
Saya kira, sekalipun tiga bulan, dengan belajar bahasa itu, kami telah belajar bagaimana berpikir cepat. Dan, itu yang sedang dialami Tata dengan bahasa ge mereka.



2 komentar:

hizbul mengatakan...

Bang tulisan ini membawa saya terbang ke tujuh belas tahun yang silam, waktu saya dan teman sya baru belajar ngerokok, untuk sembunyikan itu kami punya bahasa sendiri dengan memablik susunan kata, yang paling sering kami ucapkan ketika mau membeli rokok" libe koro" kalimat aslinya "beli roko" terimakasih atas tulisannya karena mengingatkan saya ternyata sudah lama ngerokok, kelas dua Tsanawiyah> ungkin waktunya untuk mengurangi.
maaf keluar jalur sedikit

Anti Login mengatakan...

Hot Trends Today

wah wah wah saya malu...