Minggu, 28 Juni 2015

BUKU: Kawanku Orang Cina di Kalbar (Yusriadi, dkk, STAIN Press, 2015)

Penerbitan buku tentang Cina di Kalimantan Barat sangat penting dilakukan. Pertama, tulisan mengenai komunitas ini tidak banyak. Setidaknya tulisan-tulisan atau terbitan lokal tentang komunitas ini kalah jauh dibandingkan tentang komunitas Dayak atau Melayu. Akibat kurangnya publikasi lokal tentang orang Cina, maka informasi yang diperoleh mengenai komunitas ini menjadi terbatas; kalau tidak ada sama sekali.

Kedua, karena informasi tertulis (mungkin akademik) mengenai komunitas ini kurang, maka yang berkembang adalah kesan dan anggapan. Malangnya, kesan dan anggapan yang tumbuh di tengah masyarakat adalah stigma (negatif). Banyak sekali stigma mengenai komunitas ini, yang kadang kala menjerumuskan pandangan, membuat orang terperangkap dalam kesalahan anggapan.
Padahal, anggota Club Menulis merasakan bahwa banyak hal positif bisa dipetik dari pertemanan dan persahabatannya dengan orang Cina. Pada kenyataannya teman-teman atau sahabat mereka yang bersuku Cina memperlihatkan banyak sisi positif dan inspiratif. Teman-teman itu telah menyisakan kesan baik selama pertemanan berlangsung.
Kesan-kesan itulah yang coba dipersembahkan melalui tulisan ini. Ada 12 tulisan yang disajikan dalam buku ini. Tulisan Yusriadi berjudul Mereka Mengubah Stigma, menggambarkan contoh orang Cina yang “keluar” dari anggapan umum. Orang Cina yang digambarkan oleh awam sebagai non-Islam dan pengusaha, ternyata tidak selalu begitu. Ada orang Cina yang beragama Islam dan bukan menjadi pengusaha.
Hal yang hampir senada digambarkan dalam tulisan Zainal Aripin (Belajar Prinsip Kerja dari Teman Orang Cina), dan Al-Dhilla Izzati (Sikap Terbuka Si Amoy). Di balik cerita tentang etos kerja dan prinsip hidup, tergambar juga bahwa ada orang Cina yang beragama Islam.
Tulisan Siti Muslikhah (Perbedaan tak Menjadi Penghalang Persahabatan), menggambarkan tentang sikap ramah dan terbuka orang Cina yang dikenalnya. Mereka dan penulis tidak merasakan batas agama dan suku sebagai hambatan untuk saling akrab dan membantu. Sedangkan tulisan Rahmat, Siti Fatimah, Yuyun Nailufar, Umi Ani Jusida, Putri Ramadhani, dan Farninda Aditya, menggambarkan tentang sifat-sifat menonjol di kalangan orang Cina. Penulis secara umum memperlihatkan betapa teman-teman mereka sudah mandiri sejak kecil, dan menonjol dalam bidang-bidang tertentu, seperti Matematika, Melukis atau bercerita. Jadi, amat wajar jika kemudian kita melihat bahwa mereka menjadi orang sukses di kemudian hari.
Kita memahami hasil akhir itu melalui pepatah yang sudah dikenal umum: siapa yang berusaha akan dapat. Rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya. Sayangnya, pepatah itu sering kali kita lupakan pada tataran praktik. Lebih malang lagi andai setelah melihat orang lain berhasil, muncul prasangka di benak sebagian kita.
Buku ini mungkin menimbulkan pertanyaan, tentang penggunaan istilah Cina, yang sedang dalam proses waktu untuk diganti dengan istilah Tionghoa. Kami sengaja menggunakan kata Cina dalam tulisan ini karena bentuk itulah yang digunakan di tengah masyarakat yang diceritakan. Dalam pertemanan, untuk rujukan apapun, istilah “Cina” - selalu digunakan. Sebaliknya istilah “Tionghoa”, terasa aneh kala hendak digunakan, karena tidak digunakan sehari-hari. Justru itulah, agar kesan positif dalam cerita ini dapat ditangkap secara baik, maka sajian alami coba dipertahankan.
Jika pun tersirat kesan negatif orang ketika mendapati istilah “Cina” dalam tulisan ini, perlu ditegaskan bahwa kesan itu muncul dari stigma yang ada di lingkungan pembaca. Faktanya, seperti yang diungkapkan dalam buku ini, istilah Cina digunakan secara netral.
Akhirnya, kami berharap agar buku ini bermanfaat bagi kita semua: terutama dalam mengubah cara kita berpikir tentang kehidupan dan proses yang harus dilalui. Kita masih harus melalui perubahan itu karena faktanya banyak diantara kita yang masih terbelakang. Kehidupan santai, slembe, instan, harus diganti dengan kehidupan yang ditata, diatur dan dipersiapkan. Allah telah mengingatkan dalam Quran (77:12) tidak akan merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Segala kekurangan dalam tulisan ini mohon dimaafkan. Meski demikian kritikan dan saran kami nantikan untuk perbaikan yang akan datang. Semoga Allah membuka pintu rahmat-Nya untuk kita semua. Barakallah.

1 komentar:

BJ Aroki mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.