Sabtu, 02 April 2011

Takut Beli Pertamax Plus

Yusriadi
Borneo Tribune

Kisah bensin langka beberapa waktu lalu menyisakan cerita lucu, sekaligus juga menyedihkan. Teman saya bercerita, di saat susah-susahnya mendapatkan bensin di hari itu, pamannya membeli satu jeriken kecil ukuran 5 liter “Pertamax” yang dijual di pinggir jalan di Pontianak. Dia perlu membeli banyak, sekadar simpan-simpan jika memang minyak habis nanti.

Saat membeli, paman nampaknya senang betul. Senang karena dia memperoleh stok minyak untuk beberapa hari ke depan. 5 liter itu cukup untuk beberapa hari. Jadi, jika dalam beberapa hari bensin betul-betul hilang dari pasaran, atau bensin dijual gila-gilaan di pasar, dia masih dapat berlega rasa.
Ketika sampai di rumah, paman menunjukkan kegembiraannya. “Sambil datang dengan senyum lebar, paman bilang, ‘ni, dapat minyak dah’.
Pada mulanya orang di rumah ikut senang. Tetapi, kemudian mereka jadi terpana ketika melihat ada ada bercak warna pink di jeriken dan menempel juga di tangan paman. Setelah dilihat dengan seksama, tawa mereka pecah. Mereka mentertawakan paman dan mentertawakan kegembiraan paman.
Rupanya, paman telah membeli minyak bensin yang diberi pewarna. Bukan benar-benar Pertamax.
Paman telah membeli bensin yang harganya Rp4500, dan pewarna yang harganya Rp10.500. Jadi hitung-hitung untuk bensin paman keluar uang Rp… Sedangkan untuk pewarna paman membayar Rp52.500.
Nah, sejak mendengar cerita itu saya jadi takut-takut. Khawatir kena juga. Oleh sebab itulah meskipun kemarin bensin ‘susah’ lagi, saya berusaha untuk tidak membeli Pertamax di pinggir jalan.
Selain soal harga yang tidak patut, juga mengkhawatirkan bagaimana pengaruh campuran bensin terhadap mesin. Mesti ada pengaruh, sekalipun mungkin pengaruh itu tidak sama dengan pengaruh kalau bensin dicampur minyak tanah, atau dicampur air seperti yang pernah dilakukan orang yang mencari untung dengan cara yang tidak benar.
Di balik itu, geram rasanya melihat orang berprilaku seperti itu. Jika punya kekuasaan, rasanya pengin menyeret orang yang melakukan itu ke kantor polisi biar dia jera, dan orang lain juga tidak mau ikut-ikutan seperti itu. (26/2/2011) (*)

1 komentar:

Agung Dheeka mengatakan...

Wah, kok gitu ya? Memang kalau belinya tidak di SPBU Pertamina mesti waspada