Selasa, 03 Februari 2009

Ribut Naga di Singkawang dan Pontianak

Oleh: Yusriadi
Redaktur Borneo Tribune

Ribut pasal naga melanda ruang sosial masyarakat di dua kotamadya di Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Di Singkawang, kelompok Forum Umat Islam dan kelompok organisasi Melayu menolak pembangunan tugu naga di tengah kota. Di Pontianak, kelompok Melayu menolak perarakan naga pada saat Cap Go Me.







Sepintas lalu, sepertinya tidak ada jalan keluar. Setidaknya jalan keluar yang mudah. Masing-masing ngotot. Kelompok yang menolak, ngotot. Mereka mengatakan tidak ada kompromi. Kalau tugu terus dibangun mereka akan merobohkan. Kalau naga terus diarak, mereka siap menghadang.
Sebaliknya, pihak yang mensponsori pembangun tugu Naga juga terus ngotot. Pembangunan jalan terus. Ini untuk kepentingan pariwisata. Di Pontianak, kelihatan ada upaya berbagai pihak mendorong agar perarakan naga di Pontianak jadi dilaksanakan pada acara Cap Go Me. Juga untuk kepentingan pariwisata.
Yang penting tentu pemerintah. Wakil Walikota Singkawang Eddy R Yakoub ditugaskan memfasilitasi pertemuan pembangunan tugu naga seperti dikutip media mengatakan pening mengurusnya.
Saya kira walikota Pontianak mungkin juga akan pening memikirkan bagaimana jalan keluarnya jika semua pihak ngotot. Pasti tidak mudah usaha dia menyadarkan orang Melayu yang menolak arakan naga: sekalipun dia sudah mencontohkan apa-apa yang dibuat orang Melayu saat perayaan hari besar Islam.
Tetapi, saya percaya tentu ada jalan keluarnya. Pihak yang panas bisa didinginkan. Bisa dibujuk. Tentu ada aktor-aktor penting di balik semua itu. Aktor ini yang cukup menentukan: mau bagaimana.
Pilihan lain, pihak yang ngotot bisa dilawan. Lihat statemen polisi: Kami siap melakukan pengamanan. Statemen ini jika diterjemahkan bermakna: polisi siap menjaga kemungkinan terburuk dari ancaman-ancaman ini. Polisi siap menjaga situasi dan kondisi.
Bagi saya, jalan keluar begini, jangka pendek. Dan, mungkin akan menimbulkan masalah baru. Coba, pujukan bagaimana yang bisa dilakukan? Apakah pujukannya seperti orang tua yang membujuk anaknya dengan permen? Apakah pujukannya seperti seorang lelaki kepada kekasihnya yang merajuk? Mengapa pujukan harus seperti itu? Memangnya orang yang marah, apa-apaan bisa dibujuk begitu?
Masalahnya, kemarahan itu bukan kemarahan yang spontanitas. Penolakan itu bukan muncul tiba-tiba. Ada rentetan sebelumnya. Ada faktor-faktor penting di balik itu. Kita semua bisa menghubungan fenomena satu dengan yang lain.
Pilihan lain, polisi turun tangan mengamankan semua itu. Benarkah? Benarkah semua itu dapat terkontrol? Kita tidak meragukan kemampuan aparat keamanan. Tetapi, rasanya, pengamanan begitu terlalu frontal dan mahal. Bagaimana kalau pengamanan ini gagal? Bagaimana kalau orang Cina dan kelompok Melayu terlanjur ribut dan saling bunuh? Apakah polisi cukup puas dengan menembak Melayu yang mengamuk dan lantas masalahnya selesai?
[[Syukurlah kemudian Walikota Pontianak Sutarmidji menemukan jalan keluar: Naga boleh diarak pada hari puncak Cap Go Meh, selama 5 jam mulai pukul 13.00-18.00, di kawasan Jalan Gajahmada Pontianak. Kelompok pro-naga puas, kelompok kontra juga puas.]].



4 komentar:

amrin mengatakan...

Maaf, Bang. Pak Edy. R. Yakoub bukan walikota Singkawang. Beliau adalah wakil walikota.
Lepas dari soalan itu, saya sangat sependapat tentang kisruh, kecamuk, sengkarut (dan entah apalagi namanya) budaya di daerah kita tercinta ini.
Berkenaan dengan hal tersebut, saya sedang menggarap novel berjudul "SENGANAN". Masih separuh jalan. Perlu banyak riset dan observasi. Literatur saya masih kurang. Terutama saya sangat berminat dengan fenomena "kenapa orang Dayak masuk Islam harus menjadi Melayu?"
Saya masih butuh banyak masukan.
Dalam waktu dekat, saya ingin bertandang ke Borneo Tribune.

Malay Corner mengatakan...

Bang Amrin,
Salam,
Heh, benarkah saya tulis walikota? Ya, tentu salah. Salah besar. Pak Edy wakil.
Thank karena dikoreksi.
Selamat ya, buat novel itu. Judulnya sangat menarik. Saya ingin membacanya, juga. Mg cepat selesai.
Selamat datang ke Borneo Tribune.
Sukses selalu.

Malay Corner mengatakan...

Bang Amrin,
Salam,
Heh, benarkah saya tulis walikota? Ya, tentu salah. Salah besar. Pak Edy wakil.
Thank karena dikoreksi.
Selamat ya, buat novel itu. Judulnya sangat menarik. Saya ingin membacanya, juga. Mg cepat selesai.
Selamat datang ke Borneo Tribune.
Sukses selalu.

Malay Corner mengatakan...

Bang Amrin,
Salam,
Heh, benarkah saya tulis walikota? Ya, tentu salah. Salah besar. Pak Edy wakil.
Thank karena dikoreksi.
Selamat ya, buat novel itu. Judulnya sangat menarik. Saya ingin membacanya, juga. Mg cepat selesai.
Selamat datang ke Borneo Tribune.
Sukses selalu.