Minggu, 07 Juni 2009

Pakai Enggak

Oleh Yusriadi

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan tiga Tenaga Kerja Indonesia (TKI)saat menunggu bis di depan kampus UKM Bangi. Ibu itu hendak ke tempat suaminya yang bekerja di sebuah tapak perumahan.
“Suami saya kerja tidak jauh dari tempat komputer’.
Logatnya seperti orang Madura. Cara dia menyebut ‘komputer’ juga mengingatkan saya pada orang Madura yang pernah saya temui dahulu, beberapa tahun lalu di Taman Kajang.



Apatah lagi ibu-ibu ini kulitnya hitam, seperti kebanyakan orang Madura.
Namun setelah kami bercakap barulah saya tahu dia asal NTB. Dia memberitahu berasal dari daerah sekitar Lombok.
Dia datang ke Malaysia melalui Kalimantan Timur. Masuk ke Sabah. Di Sabah, ibu itu sempat bekerja selama 2 bulan, lalu karena gajinya kecil, dia mencoba ke Kuala Lumpur.
“Saya sudah kerja di sini tujuh tahun”.
Kerasan? Tentu saja tidak. Namun tuntutan kehidupan yang menyebabkan mereka harus bertahan, tanpa memikirkan kerasan atau tidak.
Dia pun mengungkapkan keheranannya tentang saya.
“Kamu orang Indon juga?”
Ah,sebutan itu… Sebutan itu tidak disukai kawan-kawan pelajar di Malaysia. Kesannya melecehkan. Tetapi, lihat, orang Indonesia sendiri lebih senang pakai itu. Mereka tidak merasa melecehkan ketika menggunakan kata Indon.
“Ya. Saya orang Kalimantan”.
“Saya kira orang mana”.
Lantas dia mengungkapkan, ada banyak orang Indonesia di kampus UKM.
“Banyak. Indon juga’”.
Saya tertarik. Memang, saya ada lihat banyak ibu-ibu terutama pekerja bagian kebersihan yang nampaknya orang Indonesia. Namun saya tidak pernah bicara dengan mereka, karena mereka sibuk.
“Kerja apa mereka?”
Saya bertanya begitu karena saya kira orang Indonesia yang ibu-ibu itu maksudkan adalah teman dia.
“Bukan, mereka setuden”.
Saya mengangguk. Senyum.
Ibu itu juga tersenyum. Senyum saya makin lebar. Saya merasa lucu mendengar dia mengeja ‘setuden’. Sama seperti tadi, ketika dia menyebut komputer. Sebenarnya ‘komputer’ mereka itu bukan komputer yang kita pakai untuk ngetik. Komputer mereka adalah “komuter” nama untuk kereta api listrik. Di dekat kampus UKM ada satu stasiun komuter, kecil. Namanya “Stesen UKM”.
Tapi, agaknya bagi teman baru saya ini, komuter sama dengan komputer. Biarlah.
“Tak kenal mereka?” ibu itu bertanya lagi.
Saya menggeleng.
“Mudah, kalau mau kenal mereka. Setuden Indon tu kalau ngomong pakai ngak-ngak”.
“Ya,Bu?”
“Ya”.
Waw. Sederhana. Tetapi benar. Sekalipun “enggak” atau “gak” itu bahasa orang Jakarta namun di Malaysia memang dianggap ciri Indonesia.
Saya jadi ingat, dahulu, orang Malaysia yang saya kenal, jika bicara dengan saya dalam bahasa Indonesia tiruan, selalu menggunakan kata ‘enggak’ dan ‘bapak’ sebagai ciri utama. Bagi mereka, kata itu sudah mencerminkan ke-Indonesiaan.
Saya sempat melupakan ‘kesimpulan itu’. Karena di Pontianak saya banyak juga kenal orang yang senang pakai kata ‘enggak’ atau ‘gak’. Kesannya “Njakarta”, “Maju” dan ‘bergengsi’. Jauh beda dibandingkan pakai kata ‘ndak’ yang mencerminkan ‘’pontianak’. Jadi tak ada sedikit pun kesan ‘ke-Indonesiaan’ di sana.
Pada tahun 1998 saya juga kenal dengan orang pelajar di UKM dari Aceh. Dia simpatisan Gerakan Aceh Merdeka, waktu itu GAM menjadi musuh Indonesia. Dia paling tidak suka orang Jawa. Namun, kalau bicara, dia pun menggunakan ‘nggak’ juga. Pasti, sedikit pun tidak ada ciri ke-Indonesiaan pada kata ‘enggak’ simpatisan GAM ini. Lalu, ciri apa? Gengsi? Modern?
Saya sempat berpikir-pikir: apa makna secara sosiolinguistiknya?
Pelik sungguh, kata orang Malaysia.
Tak sempat lama saya merenung kesimpulan sederhana yang dikemukakan ibu dari NTB ini, bis yang ditunggu tiba. Kami naik. Tempat terpisah. Obrolan terputus. Namun, saya bersyukur, saya bertemu dan berbicara dengan orang satu bangsa. Kami menunjukkan persamaan: sama-sama orang Indonesia yang naik bis di rantau orang. Walaupun kami sama-sama tidak memakai kata enggak di dalam percakapan beberapa menit lalu.


2 komentar:

hizbul mengatakan...

rasa nasionalisme di rantau, memang beda di bandingkan ketika di Negeri sendiri.tapi sayang orang Indonesia di luar sana hanya menjadi TKI. semoga Student disana bisa mengembalikan Indon ke sebutan Indonesia. studen yang membanggakan INdonesia

Malay Corner mengatakan...

Benar bang. Makanya saya kadang berpikir, agar nasionalisme tetap tumbuh, apa sebaiknya pemerintah mewajibkan setiap warga negaranya merantau lebih dahulu -- kayak wajib militer?.