Sabtu, 10 Oktober 2009

Tak Ada Sungai Kapuas

Oleh: Yusriadi


Malam itu, saya sedang duduk di depan computer. Di samping saya, Caca, anak saya nomor 2 sedang belajar, menjawab pertanyaan Ilmu Pengetahuan Sosial. Buku yang digunakan adalah buku IPS SD/MI Jilid 4, Kelas IV, karangan Irawan Sadad Sadiman dan Shendy Amalia.Buku itu diterbitkan oleh Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008.


“Pak, di provinsi Bali terdapat gunung …?”
Caca meminta saya mencarikan jawaban. Saya mengalihkan pandangan pada dia.
Saya melihat dia sedang mengerjakan soal di halaman 24.
“Masak tidak ada dalam bacaan?”
Saya tidak mau menjawab. Saya meminta Caca mencari sendiri jawabannya. Lalu, dia membolak balik halaman bacaan. Di halaman 16 terdapat table 2.1 Gunung di Indonesia. Pada nomor 8 terdapat nama gunung Agung, letakknya di Bali.
Caca memangkah jawaban dari pertanyaan tadi.
“Bacalah dulu, baru jawab”.
Kata saya sambil mendelik kepadanya.
Dia menurut. Lalu dia melihat lagi bacaan-bacaan itu.
Saya ikut membaca buku yang dipegang Caca.
Ada table 2.2 nama tanjung di Indonesia. Dari 5 tanjung itu, ada Tanjung Kehidupan di Kalimantan. Entah Kalimantan mana, tidak tahu. Lalu ada table 2.3 laut di Indonesia. Hanya 4 laut yang disebut di sana. Laut Jawa di Utara Jawa, Laut Arafuru di Kepualauan Aru, Laut Banda di Pulau Seram, dan Lautan Indonesia di Selatan Sumatera sampai Selatan Jawa.
“Di sekitar Kalimantan tidak ada laut agaknya,”pikir saya.
Lalu, tentang Selat pada table 2.4. Ada 5 selat, yaitu selat Bangka, selat Sunda, selat Madura, selet Peleng dan selat Alas. Tabel 2.5 tentang Teluk.
Yang unik, Tabel 2.6. Sungai di Indonesia.Ada 9 sungai disebutkan. Sungai Asahan di Sumatera Utara, Batanghari di Jambi, Citarum di Jawa Barat, Gumanti di Sumatera Barat, Mamberamo di Papua, Mahakam di Kalimantan Timur, Bengawan Solo di Jawa Tengah, Musi di Sumatera Selatan dan Brantas di Jawa Timur.
“Sungai Kapuas-nya mana?”
Saya mengamati dengan teliti. Penasaran.
“Kok tidak ada?”
Sungguh mengherankan. Heran, karena dalam pengetahuan geografi saya, Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia. Panjangnya 1.900 kilometer dari muara laut Cina Selatan, hingga batas pengunungan Muler, batas Kalimantan Timur. Laut Cina Selatan dan Pegunungan Muler dua-duanya juga tidak disebutkan.
Pertanyaan yang bergelayut di benak saya selanjutnya:
“Mengapa Sungai Kapuas tidak masuk dalam daftar table pelajaran anak SD?”
Mulanya saya berpikir, tidak ada bahan yang cukup bagi penulis buku tentang sungai kebangaan orang Kalimantan Barat ini.
Tetapi, kemudian, rasanya mustahil. Saya tahu tentang Sungai Kapuas dahulu dari pelajaran geograpi – salah satu pelajaran favorit saya sewaktu SD—lebih 20 tahun lalu.
Apalagi sekarang, tinggal brows di internet, nama sungai Kapuas pasti muncul. Hanya orang yang pengetahuannya cetek saja yang tidak tahu tentang sungai terpanjang di Indonesia. Tidak masuk akal bagaimana penulis buku ilmu pengetahuan social, tidak menyimpan memori tentang sungai terpanjang ini.
Lalu, kalau begitu mengapa?
Sempat terlintas pikiran nakal saya: saya teringat orasi ilmiah Prof Dr. James T. Collins – pakar bahasa Melayu, yang menyebutkan betapa orang Belanda dahulu membuat peta tentang sungai-sungai di negeri Belanda. Orang Indonesia yang belajar geografi berpandukan peta itu mendapat kesan sungai dalam peta itu adalah sungai besar. Tetapi, ketika mereka ke Belanda, mereka terkejut, sebab sungai besar di peta tidak lebih dari sebuah parit kecil saja.
Ada politik melalui peta di sini.
“Apakah dalam penulisan buku geografi ini juga ada „politik periperi“ terhadap Kalimantan – atau tepatnya terhadap luar Jawa?”
Saya berpikir begitu karena, dalam ingatan saya penulisan sejarah Indonesia juga terkesan Jawa sentris. Dalam buku Sejarah Indonesia yang ditulis Prof. Sartono misalnya, saya sempat terkejut ketika mendapati bahwa informasi sejarah awal tentang Kalimantan Barat sedikit. Malahan, seakan-akan Kalbar tidak masuk dalam pusaran sejarah Indonesia.
Padahal, pada kurun abad ke 18, 19, Kalbar memainkan peranan sebagai salah satu titik penting dari dinamika perhubungan di nusantara.
Sungguh memprihatinkan.
Tetapi keprihatinan ini hanya sekadar prihatin. Mungkin tidak ada yang bisa dibuat. Tidak ada kemampuan saya merekomendasikan buku ini direvisi dan nama Sungai Kapuas, Laut Cina Selatan, dimasukkan ke dalam peta. Ada gubernur, ada dinas pendidikan, ada ilmuan Kalbar; kalau memang peduli.
Mungkin saya akan terus prihatin, karena anak saya tidak tahu bahwa sungai yang hampir setiap hari mereka lihat, mungkin sungai yang setiap hari airnya mereka minum, sebenarnya adalah sungai istimewa di Indonesia: Sungai Terpanjang.
Uh, menyedihkan benar.


2 komentar:

apriandi rusdi mengatakan...

ya,,,memang betul adanya sistem jawa sentris dalam sejarah Indonesia,coba abang liat juga,apakah anak SD ada yang tahu siapa pembuat lambang Garuda Pancasila?tentunya di buku sejarah hal itu juga tidak diajarkan. Terlebih bagi Orang Pontianak,banyak diantara mereka tidak mengetahui bahwa Sultan merekalah yang telah banyak berperan dalam pembentukan negara ini yaitu Sultan Hamid II,dimana sejarah beliau juga dihitamkan dan tuduh sebagai pemberontak

four-leaved clover mengatakan...

Miris sekali mengetahui bahwa sungai kapuas yang berada di Kalbar tidak ada di buku pelajaran geografi SD sekarang. Bahkan, kadang ada yang tidak tahu Pontianak (ibukota Kalbar) itu dimana? Apakah begitu tidak pedulinya? Atau pengetahuan yang kurang?