Senin, 25 Januari 2010

Dokter Spesialis Perempuan

Oleh: Yusriadi

Setahun lalu, teman saya mengantar seorang wanita tua dari kampung di Kapuas Hulu berobat ke tempat praktik “seorang tabib” di Pontianak. Wanita itu, menderita sakit di payudaranya. Sakitnya sudah lama. Mula-mula berupa benjolan, kemudian lama-lama benjolan itu pecah. Busuk. Bau. Wanita tua itu sangat menderita. Dia juga sangat malu karena penyakitnya itu.


Di kampungnya, dia tidak berobat ke dokter. Tempat dokter di Puskesmas, memang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Tetapi dia malu. Masalahnya, dokter di Puskesmas itu lelaki. Tak mungkin lelaki selain suaminya boleh melihat ‘bende’ rahasia itu. (Dia tidak mempersoalkan dokter tersebut, dokter umum atau spesialis).
Lantas, wanita tua itu berikhtiar mengobati sendiri penyakitnya secara tradisional dan “sedikit modern”. Dia mencari obat yang mungkin digunakan - menurut kira-kiranya saja. Baik dari tumbuh-tumbuhan, maupun obat warung. Obat warung yang dicoba, ya… misalnya obat untuk pusing kepala, obat untuk meriang, dll.
Usahanya tidak berhasil. Sakitnya bukan makin sembuh. Semakin hari dia semakin menderita. Ceritanya, dia sering menangis sendiri karena sakitnya itu.
Lama-lama, orang sekitarnya tahu wanita tua itu ada penyakit. Mula-mula orang tahu dia sakit biasa. Tetapi, kemudian orang menjadi curiga ketika mencium bau busuk (bau dari benjolan di dadanya yang sudah pecah). Setelah didesak, barulah perempuan itu mengaku. Sakit payudara.
Keluarga pun berembuk. Sakitnya mulai jelas. Namnya kanker payudara. Solusinya dicari. Berobat ke Pontianak. Di Pontianak, mereka memilih ke alternative. Terapinya satu bulan, dan katanya, borok itu kering. ‘Sembuh’. Wanita tua itu kembali ke kampungnya.
Saya sempat ‘ngeri’ membayangkan penyakit wanita tua itu. Saya juga prihatin dengan masalah yang dihadapinya. Saya dapat merasakan masalahnya.
Bahkan, beberapa malam lalu saya juga merasakan hal yang sama. Saya membawa orang ke dokter untuk periksa penyakitnya. Penyakitnya sudah dirasakan cukup lama. Tapi, dia malu mengatakannya. Setelah didesak, barulah ketahuan.
Mulanya dia dibawa konsultasi ke dokter penyakit dalam. Dia mengaku sangat malu ketika dokter memeriksa penyakitnya. Dia berkeringat. Untung saja dokter itu, dokter wanita. Dia agak lega.
Namun kelegaannya tidak berlangsung lama. Periksa ke dokter penyakit dalam, tidak cukup. Dokter mengatakan dia juga harus ‘difoto’, dan dokter yang dirujuk untuk foto itu adalah dokter lelaki. Lagi-lagi dia sawan. Lebih sawan dibandingkan ketika dia diperiksa dokter wanita yang ahli penyakit dalam.
Sebelum masuk ke ruangan praktik dokter foto itu dia antri. Saat duduk menunggu dia mengaku panas dingin. Dia deg-degan. Lantas tiba gilirannya. Dia masuk. Setelah keluar ruangan dia bercerita, dia sempat termangu ketika dokter meminta dia membuka pakaian bagian agar diperiksa. Dia sempat gemetaran. Dia memang mendengar dokter mengatakan: tidak perlu malu. Tetapi, tetap saja dia pucat.
Saya masih melihat sisa ketakutannya ketika dia keluar dari ruangan.
“Ah, kasihan sungguh”.
Saya sempat membayangkan, andai saja pengambil kebijakan memperhatikan masalah seperti ini. Saya sempat mengandai, pemerintah membiayai doktek-dokter perempuan untuk mengambil spesialisasi untuk penyakit yang ada hubungan dengan bagian keperempuanan. Saya juga mengandai, seandainya para pembela hak-hak perempuan juga memperhatikan isu-isu ini: perempuan tidak saja dibela untuk masuk ke ranah public, terjun ke politik, tetapi juga didorong untuk memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan keperempuanan. Itu masalah mereka sendiri yang sebaiknya diurus mereka sendiri; bukan diurus lelaki.
Saya yakin, kalau ini diperhatikan, tidak perlulah perempuan-perempuan yang sakit, sampai harus bergegar-gegar mau periksa penyakit wanita mereka kepada dokter lelaki. Mungkin akan semakin sedikit wanita yang menyimpan sendiri penyakit mereka, karena mereka malu berobat. Agaknya.



3 komentar:

Eni Zahara Blog mengatakan...

Karenanya janganalah malarang perempuan tuk berkiprah di ruang publik selama itu bukan pekerjaan maksiat atau mendatangkan kemaksiatan. Kehadiran perempuan yg profesional dibid. spt dokter, itu akan banyak mendatangkan manfaat tertm bagi mereka yg membutuhkan pertolongan atau bantuannya. Sebgmn Aisyah r.a. merpkn sosok perempuan yang menjd tempat bertanya bagi para perempuan saat itu trtm seputar masalah perempuan, yg mgkn sangat risih untuk ditanyakan kepada Rasul.

bogaro mengatakan...

Saya rasa akan jarang ditemukan dokter spesialis kewanitaan yg Muslim perempuan karena tuntutan nya adalah seorang wanita sebagai ibu rumah tangga dan celakanya wanita tidak boleh sakit karena tidak banyak dokter perempuan...

bogaro mengatakan...

Saya rasa akan jarang ditemukan dokter spesialis kewanitaan yg Muslim perempuan karena tuntutan nya adalah seorang wanita sebagai ibu rumah tangga dan celakanya wanita tidak boleh sakit karena tidak banyak dokter perempuan...