Rabu, 05 Maret 2008

Sang Penempa Besi

Oleh Yusriadi

Ting …
ting ..
ting …

Saya mendengar suara dentingan besi beradu. Samar-samar. Maklum ada helm yang menutup telinga. Lagian deru motor beradu angin membuat suaranya jadi semakin tidak jelas. Siang itu saya memacu motor melintas di Jalan Sungai Kupah hendak pulang ke rumah – di Pontianak. Sehabis liputan kegiatan amal Majelis Taklim At-Taqwa Jalan Tebu Pontianak dengan ibu-ibu Majelis Taklim Sungai Kupah.


Dentingan pukulan besi yang beradu membuat saya memutar balik motor, menuju sumber suara. Saya ingin melihat aktivitas pandai besi. Untuk Pandora.
Saya memarkir motor di pinggir jalan.

Lantas kemudian melangkah menuju sebuah bangunan sederhana –sebenarnya lebih tepat pondok darurat, tidak berdinding, beratap daun.
Di bawah atap pondok yang pasti bocor jika hujan, seorang pemuda sedang memukul palu besi di atas sebuah ‘altar’ besi.
Meskipun sedang sibuk, saya kira dia tahu saya datang. Pandai besi tersenyum ramah ketika saya mendekat.
“Sibuk?”
“Biasa”.

Dia melanjutkan pekerjaannya. Besi masih memerah di bagian ujung. Bekas pukulan godam membuat besi jadi pipih.
Besi yang ditempa sudah berupa. Bentuknya mengingatkan saya akan bendera kertas yang kecil yang biasanya dimain-mainkan anak ketika 17 Agustus dahulu.
“Buat apa?” Saya bertanya karena ingin memastikan apa yang dibuatnya.
Dan seperti yang diduga saya, dia menjawab:
“Saya buat pisau getah,”

Dia memasukkan kembali besi ke dalam bara –tungku, yang ada di samping kirinya. Besi itu terkubur dalam bara. Seketika api berkobar. Ada bunyi deru.
Saya mencondongkan badan ke arah tungku. Penasaran. Bagaimana api bisa berkobar. Padahal saya tidak melihat dia memompa. Tidak ada puputan.

Yang saya tahu biasanya pandai besi harus memompa sendiri agar api menyala. Ada puputan. Saya kenal bentuk puputan yang biasanya terbuat dari kayu bulat dilubangi di tengahnya. Untuk mendorong angin menggunakan pompa kayu yang diberikan bulu ayam. Waktu kecil dahulu saya pernah membantu kakek –lebih tepatnya diminta biar kerjanya lebih cepat.

Tetapi di sini saya tidak lihat ada puputan itu. Di bagian ujung hanya ada tiga karung arang. Di samping bara ada tumpukan pisau getah yang belum jadi. Masih seperti bendera. Ada tong berisi air yang gunanya untuk menyepuh besi.
Mata saya tertumbuk pada pipa yang sebagiannya terpendam di dalam tanah. Bagian yang menyembul melengkung. Ujung lingkungannya berakhir pada sebuah blower bercat perak. Mesin debu.

“Saya pakai blower,”
Tukang tempa lebih dahulu menjelaskan objek yang saya lihat.
“Saya membuat sendiri,” tambahnya.

Kejutan. Saya tidak membayangkan mesin ini beralih fungsi. Kini oleh penempa besi, mesin itu dijadikan sebagai puputan. Untuk mengendalikan mesin digunakan listrik. Stop kontaknya dipasang di kayu tempat letak alas tempaan. Menyalakan blower cukup dengan menyentuh tombol dengan lutut. Betul-betul praktis.

***

Heldi Arpan, 42, tahun. Dia tukang tempa itu. Menekuni pekerjaan lebih 10 tahun lalu. “Kerja ini sudah turun temurun,” katanya. Bapaknya, moyangnya, semuanya melakukan pekerjaan itu. Dia melanjutkan pekerjaan itu.

Hel –begitu dia dipanggil, nampaknya menikmati pekerjaan itu. Ada suara musik dari HP CDMA yang tergantung di tiang bangunan, persis di belakang kepalanya. Kalau diukur, tiga jengkal-lah.

Lamat-lamat saya menyimak. Lagi berhenti. Ada penyiar. Radio Pro 2 RRI Pontianak, rupanya.
Dia menempa tak henti-henti. Peluh membasahi wajah dan bajunya.
“Puasa?”
Hel tersenyum. “Tidak”.
Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya jika harus berpuasa sambil bekerja. Rusuk pasti akan serasa ditusuk-tusuk ketika mengangkat palu godam. Setiap pukulan memerlukan tenaga yang kuat. Belum lagi panas dari tungku dan panas di siang terik.
Tetapi, itulah pilihan hidup.

Dia harus bekerja. Stabil. Hel mengejar target. Setiap pisau getah yang dibuatnya sudah ada yang menampung. Dia menyebutnya agen. Agen itu, sudah menampung produksinya sejak awal. Bahkan sejak orang tuanya dahulu.

“Waktu ayah saya dahulu, yang jadi agen bapak dari agen sekarang,” ungkapnya.
Kalau dahulu bapak dengan bapak, sekarang hubungannya anak dengan anak. Sebuah hubungan yang sesungguhnya sangat menarik ditelusuri. Hubungan melintas generasi.
Karena itu Hel mengaku tidak perlu bingung menjadi pasaran. Agen sekarang membeli satu lusin pisau getah seharga Rp 70 ribu. Satu lusin 12 buah. Jika dihitung harga satu pisau Rp 6 ribu.

***

Tetapi target tidak selalu dapat dikejar. Hel sangat bergantung pada listrik. Sedangkan listrik di Sungai Kupah, seperti juga di Pontianak, lebih sering hidup mati. Keadaan ini menyebabkan pekerjaannya terganggu. “Kalau listrik mati saya tidak bisa bekerja. Blowernya tidak berfungsi,” katanya.
Pernah mencoba genset sebagai alternatif. Namun tidak lama. Biayanya jadi lebih mahal. Tidak efisien. “Tidak mampu,” ujarnya.

Namun, dia mengaku tidak kembali ke puput secara manual seperti dahulu sebelum tahun 1990-an. Dia sudah terlanjur menikmati kemudahan dengan menggunakan blower. Dengan blower dia tidak perlu membuang tenaga memompa api. “Sejak tahun 90 saya tidak lagi pakai puput,” cerita Hel.

Target juga tidak selalu bisa dikejar karena hambatan kekurangan fasilitas. Untuk membelah besi sekarang dia masih menggunakan pahat secara manual. Besi dipanaskan kemudian dipahat. Belum ada mesin pembelah. Jika ada mesin dia yakin akan banyak produksinya. “Belah besi dengan pahat, kerja jadi lebih lama. Kalau ada mesin … ,”
Hel seperti menerawang.

Dia sudah memikirkan kemungkinan membeli mesin untuk membelah besi. Namun masih sebatas mimpi. Harganya mahal. Hel tidak menyebutkan nilainya. Saya juga lupa bertanya mengenai hal itu.

Dia pernah berusaha mendapatkan mesin dengan pinjaman modal. Namun modal yang diharapkan tidak kunjung ada. Ada pihak yang mau membantu, namun syaratnya tidak bisa dipenuhi. “Mereka minta jaminan sertifikat”.

Pernah juga sebuah perusahaan milik pemerintah membantu modal. Syaratnya, dengan proposal. Namun kemudian modal yang diperoleh tidak cukup untuk membeli mesin.
Saya jadi teringat pengalaman di Senakin, Landak. Saya menemukan produksi pisau getah dari obeng. Saya bertanya, “Tidak coba pakai obeng? Tidak perlu belah lagi,”
“Saya pernah coba. Dulu”.

Membuat pisau karet dari obeng memang agak lebih mudah. Tetapi hitung-hitungannya rugi. Keuntungan yang bisa didapatkan sangat kecil. Lebih kecil jika menggunakan besi spring oto dan bar chainshaw. Sekalipun risikonya, dia harus membelah besi itu secara manual.

Mengapa tidak mencari tenaga untuk membantu kerja? “Susah mau cari tenaga ahli. Khawatir juga kalau dapat yang kerja asal-asalan,” katanya.
Soalnya, hasil kerja menyangkut mutu. Mutu berkaitan dengan kualitas produk. Selama ini pemakai pisau karet cap kapak merasa puas.

***

Walaupun ‘pabriknya’ berada nun jauh di pinggiran, Hel sudah punya nama. Produksi cap kapak sudah dikenal di mana-mana. Sejauh jaringan pemasaran sang agen.
Selain punya nama dari pisau getah, Hel juga melayani permintaan orang. Hari itu, saat kami bercakap-cakap sebuah mobil berhenti. Tak jauh dari motor saya. Penumpang turun membawa kapak dan pisau. Orang itu minta kapak dan pisaunya ditempa lagi biar tajam lagi. “Nanti saya ambil,” kata orang itu sambil berlalu, kembali ke mobil. Dan meneruskan perjalanannya. Mobil bergerak ke arah Tanjung Pasir, sebuah kampung di ujung Sungai Kakap.

“Dia dari Pontianak,” kata Hel kemudian. Memberi tahu asal pelanggannya itu.
Hel juga punya keterampilan membuat senjata hias. Dia pernah memproduksi pedang dan mandau. Senjata yang dibuatnya dipasarkan di pasar-pasar di kota Pontianak. Cukup diminati. Dia menyebut beberapa tokoh persilatan di Kalbar yang menjadi langganannya.

“Saya memelihara koleksi mereka,” akunya.
Untuk urusan memelihara koleksi, Hel pernah ke Malaysia. Dia mengurus senjata-senjata hias orang di sana.

Diungkapkan dia pernah ikut pameran, di Pontianak, bahkan di pulau Jawa. Hasil karyanya dianggap bagus dan bisa dibanggakan. “Saya melakukan pameran sebagai usaha kecil di bawah binaan pemerintah,” katanya.

Tetapi, itu hanya kenangan. Tidak cukup berpengaruh pada pengembangan usaha saat ini. Janji yang dia dengar tinggal janji. Harapan yang sempat tersemai tinggal harapan.

Kini, seperti burung walaupun dia bisa terbang jauh, namun pada akhirnya kembali lagi ke sarangnya. Di ‘pabriknya’ dia menempa besi sampai pipih, membentuk bendera-bendera kecil. Dari hari ke hari.




2 komentar:

marsis satria mengatakan...

Cara menyepuhnya gimana pakde???mksh..

ErrySuling mengatakan...

sya pnya pisau bbut brpa lma pmbkaran pisau bwt di sepuh...mksih