Rabu, 30 Januari 2008

WANITA DI PEDALAMAN KALBAR: Sebuah Catatan

Oleh Yusriadi

Pengantar

Andai hari ini, semua wanita di pedalaman Kalimantan Barat meninggal dunia, maka sampai di situlah sejarah manusia pedalaman. Betapa tidak, selama ini peranan wanita begitu menonjol dalam menjaga nilai menjadi jembatan antar satu generasi ke generasi berikutnya yang tidak dapat dibandingkan dengan peran lelaki.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan peranan wanita dalam peradaban masyarakat pedalaman Kalbar; dalam aspek bahasa dan tradisi lisan. Diharapkan tulisan yang sederhana ini bisa memberikan sumbangan data bagi pemerhati dan pakar gender di daerah ini ketika membicarakan peranan wanita di tengah masyarakat.

Data yang diperoleh sebagiannya ketika melakukan penelitian bahasa dan sastra lisan di bawah proyek South East Asian Studies Research Exchange Program (SEASREP) yang dilaksanakan kerja sama Institut Alam dan Tamadun Melayu ATMA, Universiti Kebangsaan Malaysia dan Pusat Kajian Budaya Melayu (PKBM), Universitas Tanjungpura Pontianak.

Sekilas Peranan Wanita

Tak dinafikan wanita memainkan peranan yang signifikan di tengah kehidupan masyarakat. Islam sendiri menyebutkan wanita adalah tiang negara. “Al-mar atul imadul bilad”. Peranan ini juga digambarkan melalui kedudukan mulia yang disandang kaum wanita sebagai seorang ibu. “Al-Jannatul Aqdamul-Ummuhat, Surga itu di bawah telapak kaki ibu”.

Pandangan yang universal ini juga bisa dibandingkan dengan keberadaan wanita dalam masyarakat tradisional di Kalimantan Barat. Data yang diperoleh di Odong, sebuah kampung di pedalaman Sekadau, sekitar tiga-empat puluh tahun lalu menempatkan wanita pada posisi paling menentukan soal perjodohan. Lelaki yang ingin beristeri, harus mendatangi rumah panjang pada malam hari. Dengan membawa gambus lelaki melantunkan tembang-tembang asmara; mirip tradisi orang Batak untuk memancing daya tarik gadis.

Gadis di rumah panjang yang bersedia, bisa turun melihat lelaki yang diduduk di bawah tangga. Bila wanita menerima lelaki itu, dia bisa terus menemani sang lelaki; dan bila tidak, mereka juga boleh sesuka hati masuk kembali ke rumahnya. Jadi, lelaki hanya menawarkan diri dan wanitalah yang memilih .

Soal penentuan jodoh yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa wanita memegang peranan yang penting. Tidak hanya itu, hampir seluruh masyarakat pedalaman Kalbar, wanita juga memainkan peranan yang besar dalam kehidupan keluarga. Kaum wanita bekerja di ladang, menyadap karet, mengurus anak, menumbuk padi, memasak di dapur; tetapi pekerjaan itu dianggap sebagai sesuatu yang alami. Itulah kodrat kepada seorang wanita dalam masyarakat. Justru wanita yang tidak ke ladang –membiarkan suami ke ladang, tidak memasak, tidak mengurus anak, akan dianggap ‘keterlaluan’ .

Meskipun sebagian orang menganggap beban kerja yang dilakukan perempuan sebagai eksploitasi, tetapi perumpamaan yang ada di masyarakat Embau tentang wanita ini sekali lagi menunjukkan peranan penting wanita. Apabila seorang ibu meninggalkan anaknya perumpamaan yang diberikan adalah ‘Upa anak icak ttulak inu’, artinya “Seperti anak ayam kehilangan induk”. Sebaliknya tidak ada perumpaan yang dramatis apabila seorang lelaki atau bapak yang meninggalkan anaknya.

Wanita dan Sumbangan Bagi Linguistik

Lepas dari peran sosial-ekonomi yang disebutkan di atas, wanita juga mendapat ‘tempat khusus’ dalam dunia linguistik. Banyak peneliti menempatkan wanita pada posisi yang utama diburu dalam usaha mengumpulkan data bahasa. Meskipun dalam Chambers dan Trudgill (1994) misalnya, memberikan kritik terhadap pandangan ahli bahasa yang mengutamakan wanita tua sebagai informan dalam kajian dialektologi, tetapi kajian di beberapa tempat di nusantara justru sebaliknya.

Kajian dialek-geografi pertama di Kelantan, Malaysia yang dilakukan Ajid Che Kob (1977), menempatkan wanita merupakan informan yang baik. Ada beberapa sebab, pertama, mobilitas mereka agak kurang. Wanita jarang keluar dari kampung, dan kurang menguasai bahasa lain. Sehingga kesan yang muncul adalah wanita adalah orang yang ‘konservatif’, orang yang bahasanya ‘asli’. Sedangkan lelaki, sebisanya dihindari karena umumnya mobilitasnya tinggi; sehingga menimbulkan pengaruh penguasaan bahasa kedua terhadap bahasa pertama.

Kajian dialek yang dilakukan Collins di Ulu Terengganu (1982) dan Sarawak (1984) juga memperlihatkan perhatian pada aspek gender ini. Maksudnya, wanita juga diambil kira dalam usaha pengumpulan data bahasa. Persentase wanita yang menjadi informan Collins mencapai 40: 60.

Dalam kajian proyek SEASREP di Kalimantan Barat sekalipun agak longgar soal jenis kelamin, tetapi, ternyata wanita yang dijadikan informan bahasa mencapai nisbah 40 per sen. [Bandingkan dengan hasil pengumpulan sastra lisan di bawah].

Dibayangkan nisbah kajian di atas bisa lebih besar persentase jika peneliti – informan tidak menghadapi kendalan budaya. Ajid menunjukkan kenyataan bahwa dalam adat istiadat masyarakat memang ada aturan sosial yang tidak membolehkan perempuan rapat dengan orang lelaki –terlebih orang asing. Jadi, kendala yang muncul kemudian jika tetap ingin menjadikan wanita sebagai informan adalah perlunya pendamping bagi wanita tersebut. Sekalipun, sebenarnya wanita-wanita itu bersedia memberikan bantuan kepada peneliti .

Pengalaman Tim Peneliti SEASREP di Kenyauk, sebuah kampung Melayu di hulu Sungai Laur meyakinkan hal ini. Ketika sampai di kampung tersebut, masyarakat berusaha menghindar karena kecurigaan mereka. Sekalipun pendamping Tim Peneliti memiliki kontak person di kampung tersebut, juga tidak berhasil. Termasuk pejabat dusun setempat. Kemudian, Tim Peneliti bertemu dengan seorang wanita tua yang bersedia menjadi informan. Ketika wawancara berlangsung, datang anak kecil –cucu informan wanita tersebut, yang menyuruh wanita tua itu pulang; dan jangan membantu orang asing. Sampai tiga kali, dan wanita tua itu menolaknya. Kepada Tim Peneliti, wanita tua itu menceritakan, anak dan cucunya menyuruhnya pulang karena khawatir akan bahaya setelah membantu orang asing. Tetapi wanita tua itu bertahan karena yakin bahwa Tim SEASREP datang dengan maksud baik.

Wanita dan Sumbangannya Bagi Sastra Lisan

Pada bagian ini ada dua hal yang menarik disoroti. Pertama adalah peran menonjol wanita dalam mengawal tradisi lisan. Kedua, tradisi lisan yang berkembang mengenai ketokohan wanita di Kalbar.

Tukang Cerita Wanita

Pengalaman Tim SEASREP dalam melakukan penelitian tradisi lisan menunjukkan peranan wanita yang lebih besar lagi. Di beberapa kampung justru penutur tradisi lisan lebih didominasi kaum wanita. Di Sungai Lawak, Sekadau misalnya, tukang cerita yang baik menurut penduduk ada dua, satu sudah meninggal beberapa bulan lalu, dan seorang lagi bernama Nek Timah. Di luar kedua nama itu, pencerita hanya mampu bercerita sikit-sikit. Karena informasi itu, Adi Kifli, anggota Tim Peneliti terpaksa harus pergi ke ladang mengejar Nek Timah tersebut.

Di Jago, Sungai Laur, Dedy Ari Asfar, anggota Tim Peneliti SEASREP lainnya, memberitahukan bahwa di kampung tersebut ada tiga pencerita wanita yang baik. Hampir-hampir saja untuk mendatangkan seorang tukang cerita harus dipikul dari ladang. Pencerita lelaki yang ada di kampung, dilaporkan tidak bisa bercerita sebaik wanita.

Yusriadi, dalam penelitian di Riam Panjang tahun 1997, berhadapan dengan masalah yang hampir serupa. Di sini, ada dua pencerita yang disebutkan masyarakat sebagai orang yang pandai bercerita; mereka adalah Halimah, 60, dan Inik Leha, 75.

Di Daup, Sambas, tahun 1997 juga ditemukan kenyataan sama. Dua wanita yang dipanggil Nek Wan, dan Mak Su Sadul, adalah penceritanya yang baik. Mak Su Sadul, terpaksa dijemput dari ladang oleh anaknya agar dapat direkam ceritanya.

Kita memang tidak pantas hanya melihat wanita dalam konteks kemahirannya bercerita saja, yang melihat tradisi lisan sebagai seni keterampilan bertutur. Lebih dari itu, peranan wanita sebagai tukang tutur yang mendapat rekomendasi masyarakat pemiliknya, merupakan bentuk pengakuan atas peranan yang lebih besar dan luas. Karena seperti diakui pakar tradisi lisan, tradisi lisan tidak hanya sebatas cerita, tetapi juga medium pewarisan nilai-nilai budaya masyarakat dari satu generasi ke generasi, menjadi rule of law masyarakat. Tradisi lisan bisa juga menjadi penunjuk gambaran gambaran idea-idea kehidupan masyarakat.


Wanita dan Tokoh Cerita

Bayangan mengenai besarnya peran dan kedudukan wanita ketika menjadi penutur tradisi lisan, bisa dipahami dalam konteks cerita lisan juga. Dalam sejumlah cerita (legenda atau sejarah) kenyataannya peran wanita juga sangat menonjol. Dalam tradisi lisan di beberapa tempat, beberapa tokoh wanita ditampilkan –bahkan, melebih lelaki. Pada masyarakat di Ketapang ada Putri Junjung Buih dan Putri Dara Hitam yang menjadi legenda. Di Landak, ada Ratu Sepudak, di Sanggau ada Dara Nante, dan di Sintang ada Putung Kempat dan Dara Juanti. Sedangkan di Sambas ada Dare Nandung dalam cerita.

Syahzaman (tpt :5) menyebutkan dalam cerita pra-sejarah Sintang terdapat tokoh wanita bernama Putung Kempat, turunan dari Buih Nasi.
“Menurut riwayat, Putung Kempat ini adalah seorang gadis yang cantik jelita. Rambutnya lebat dan panjang, terurai sampai ke tumit. Pandangannya tajam, otaknya cerdas. Putung Kempat inilah yang kemudian menjadi pemimpin di daerah Kujau tersebut di atas. Masa kepemimpinan Putung Kempat ini diperkirakan pada abad 4 tarikh Masehi”.

Disebutkan kemudian, Putung Kempat menikah dengan Aji Melayu yang menurunkan raja-raja Kerajaan Sintang, termasuk Demong Irawan atau yang dikenal sebagai Jubair I atau Jebair.

Anak Jubair I, adalah seorang perempuan bernama Dara Juanti, yang kemudian juga jadi raja Sintang mewarisi tahta ayahnya (1291 M). “Dara Juanti memerintah dibantu oleh suaminya Patih Lugener (dari Kerajaan Singasari, pen.) Masa pemerintahan Dara Juanti ini Kerajaan Sintang mengalami kemajuan. Pembangunan digiatkan, baik di sketor pertanian maupun di sektor perkotaan. Hasil padi dan lain-lain melimpah ruah, dan dimana-mana rakyat tidak kekurangan bahan makanan. ....Dibelakang kota dibuat tempat pemandian baik untuk pemandaian umum maupun pemandian khusus. Bekas pemandian Dara Juanti sendiri (pribadi) masih dapat dilihat sampai sekarang, terletak di belakang Kampung Tanjung Ria Sintang, tidak jauh dari makam Jubair I terkenal dengan sebutan Sumur Dara Juanti”. (Syahzaman, tpt: 11).

Dalam cerita Pak Saloi (Aloi) yang sangat populer di seluruh wilayah Kalbar, ada tokoh Mak Saloi yang cerdik, melebihi suami. Selain itu dalam beberapa dongeng juga ditampilkan gambaran mengenai putri-putri yang cantik menawan, dan baik hati.

Meskipun cerita yang disebutkan di atas sebagiannya masih diragukan kebenarannya, tetapi yang penting dalam konteks pembahasan ini adalah, bahwa wanita menempati tempat khusus, tidak kalah dengan kaum lelaki.

Penutup

Perbincangan di atas menyajikan kenyataan bahwa memang peran wanita sangat sentral.
Dalam bidang linguistik, wanita telah memberikan sumbangannya. Data yang mereka berikan akan menjadi landasan membina landasan akademik bagi bahasa di Kalimantan Barat. Herot berot bahasa yang mereka berikan, herot berot juga bahasa di Kalbar. Begitu juga dengan tradisi lisan. Wanita sebagai pencerita hampir ditemui di setiap situs penelitian. Bahkan tarafnya sudah diakui lingkungan mereka. Jika kita beranggapan bahwa cerita lisan juga merupakan medium pewarisan nilai-nilai dalam masyarakat, maka di pedalaman, wanita diberikan kepercayaan menjadi tokoh yang memperantarai nilai-nilai itu. Suatu peranan yang syarat dengan amanat yang besar, mulia dan agung.

Sesungguhnya banyak lagi aspek yang belum disentuh dalam tulisan ini untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai betapa besarnya peranan wanita dalam masyarakat pedalaman. Hanya kajian lapangan melibatkan beerbagai disiplin ilmu-lah yang dapat memberikan gambaran nyata kepada dunia luar. Dan itulah agenda yang mesti dilakukan pemerhati dan pakar wanita; khususnya PSW STAIN Pontianak! **






1 komentar:

abuhanif515 mengatakan...

salam rimba papua
tidak jauh berbeda kondisi wanita hebat di papua dengan di kalimantan.....mereka memiliki etos kerja di atas rata-rata, selain itu wanita di papua khususnya di pedalaman menjadi tulang punggung keluarga.