Jumat, 27 Maret 2009

Apa yang Kita Cari dalam Hidup?

Oleh Yusriadi

“Kita ini, sebenarnya … kerja untuk hidup, atau hidup untuk kerja?”
Sebuah pertanyaan nakal dari Herpanus Antam, mahasiswa asal Emparu, Sintang, membuat saya dan Jamil, mahasiswa asal Ambon, terpegun.
Hari itu, awal bulan Maret, di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kami yang semula ’asyik’ di depan komputer masing-masing, menghentikan aktivitas. Meluruskan badan, dan mengalihkan pandangan ke arah Herpanus yang duduk di depan kami.


“Mengapa? ….”
“Ya, lihatlah kita … sekarang ini,”
Saya merenung. Benar. Kami, sejak beberapa hari yang lalu, seperti tidak ingat waktu. Berangkat dari flat pagi hari, balik pada malam hari. Sepanjang hari kami terperap di dalam kamar ukuran 5X5 di bangunan ATMA Lantai 4. Ruang itu berdinding tripleks, berlantai karpet, dan berplafond asbes. Tertutup jendela kaca berlangsir. Sejuk. Sejuk karena AC menyala sejak pagi.
Kami duduk di depan komputer dengan kesibukan masing-masing. Herpanus, Jamil, sedang memperbaiki tesis mereka yang akan ditunjukkan kepada pembimbing mereka, Pak Jim, alias Prof. James T. Collins, beberapa hari lagi.
Saya, mulai membolak-balik daftar kata bahasa Melayu yang dituturkan di Pinoh. Sesekali saya melayari halaman internet untuk melengkapi bahan-bahan yang saya miliki.
Saya ingin menyelesaikan bab tentang Bahasa Melayu Pinoh secepatnya.
Kami semua kejar target. Kejar target inilah yang membuat kami ”bekerja” seperti hari itu.
”Ya ... apakah kita bekerja untuk hidup atau sebaliknya hidup untuk bekerja?,”
Aku membeo pertanyaan Herpanus.
”Kalau kami sih... nampaknya bekerja untuk hidup,”
Herpanus menyampuk lagi.
Logikanya, mereka bekerja, lalu mendapatkan imbalan dari pekerjaan itu. Imbalan itu digunakan mereka untuk hidup. Kasarnya, kerja karena perlu kerja untuk mendapatkan uang. Uang itu, untuk hidup.
Logika ini membuat saya merenung.
”Lalu, setelah bisa hidup, apa lagi?”
Dahulu, tahun 1994, saya pernah ditanya oleh teman dekat saya.
”Yus, apa sih tujuan kita hidup?”
Waktu itu saya juga tidak bisa menjawab. Saya tak sanggup menjawab: Kita hidup untuk mengabdi, untuk ibadah, untuk menjalankan tugas kemanusiaan, seperti pelajaran agama di sekolah.
Tetapi, saya juga menyadari, jika dalam kehidupan yang kita cari adalah kemasyhuran, nama, popularitas, apa yang kita bisa dapat di ujung kehidupan? Jika kita mencari harta, apa yang bisa kita nikmati di akhir kehidupan?
Setiap orang mati, berakhirlah semua itu. Siapa yang mau dekat dengan mayat dan tengkorak? Ketika kita mati, tidak ada yang kita bawa. Harta sebanyak apapun, tinggal semua. Dibawapun, rasanya tidak akan berguna.
Lalu, tiba-tiba saya jadi teringat pada percakapan saya dengan seorang lelaki tua, saat naik motor air dari Rasau Jaya ke Batu Ampar, Kubu Raya, dua tahun lalu.
“Apa yang penting dalam hidup kita? Apa yang kita cari dalam hidup ini?”
Saya terdiam. Memikirkan pertanyaan itu.
”Coba jawab,” katanya mendesak.
Sekali. Dua kali. Saya tidak bisa menjawabnya.
Sejujurnya, ketika itu, saya lebih memikirkan, mengapa dia mengajukan pertanyaan itu, ketimbang memikirkan jawabannya.
”Yang kita cari dalam hidup ini adalah rasa,”
“Rasa ingin makan, rasa ingin bernafas, rasa ingin jimak, rasa ingin buang air. Semuanya rasa,”
Dia tersenyum. Senang sekali saya melihat senyumnya itu. Saya yakin, pasti senyum itu akan semakin lebar kalau dia tahu siapa saya. Kononnya sudah sekolah tinggi, tetapi pertanyaan seperti itu tidak bisa jawab.
Saya tersenyum menyeringai. Senyum orang bodoh.
Jawaban beliau sangat sederhana. Tetapi dalam. Sama dalamnya dengan pertanyaan Herpanus hari itu.
Ya, biarlah saya merenung sendiri.





1 komentar:

zheri ronaldo mengatakan...

jika saya di tanyakan "apa yang aku cari dalam hidup ini"??saya akan menjawab!! yang saya cari dalam hidup ini adalah dimana letaknya kebahagiaan???