Sabtu, 14 Maret 2009

Tasik Cempaka, Kajang

Oleh: Yusriadi

Jumat (6/3) petang. Saya, bersama dua orang teman satu flat di Hentian
Kajang, Selangor, duduk di teras -- balkon. Kami bercakap banyak hal, kesana kemari.
Tentang biaya kuliah di Malaysia yang naik, tentang politik tanah air yang
sedang hangat, tentang masa depan daerah, dll.
Ujung-ujung obrolan, saya bertanya:
”Minggu ni, ada olahraga ndak?”
”O, iya. Kami sih, biasanya olahraga. Joging,”
”Taak ... sepak bola? Futsal?”
”Joging je. Yang ringan-ringan,”




Lalu, masing-masing kami bercerita olah raga yang ditekuni dahulu. Kawan
saya rupanya juga suka bulu tangkis.
”Sekarang tidak mampu lagi. Joging je,”
”Joging di mana? UKM?”
”Kadang di UKM. Kadang di Tasik Cempaka,”
Ya, UKM, saya cukup mengenal nama itu. Itu kampus kami. Mereka belajar di
situ sekarang. Saya juga belajar di situ, dahulu. Di kampus ini banyak
fasilitas olahraga.
Di pintu masuk ke UKM ada 5 lapangan bola, satu di antaranya sering difungsikan
untuk main rugby. Ada lapangan golf kecil. Lapangan basket. Ada lapangan
tenis, lapangan volly, sepak takrau, lapangan kriket – main bola pakai tongkat
itu lho. Di bagian dalam lagi, ada kolam renang. Di samping kanan, di
belakang Hotel Kampus ada stadiun – lapangan bola, dan lintasan lari. Di
puncak bukit dekat stadium itu ada Dewan Gemilang, tempat yang bisa
digunakan untuk main bulu tangkis.

***

Tapi, tentang Tasik Cempaka saya belum pernah dengar.
”Tasik Cempaka dibangun pemerintah sebagai ruang publik untuk masyarakat
rekreasi. Tempat itu jadi tempat orang joging. Ramai,”
Tasik, dalam pengertian kita di Kalbar, adalah danau. Tetapi, kata teman, ini sebenarnya bukannya danau asli. Ini adalah bekas tambang timah. Bekas galian tambang menjadi danau, dan danau buatan itu kini menjadi objek wisata.
Lalu, Minggu (8/3) pagi, pergilah kami bertiga ke tempat itu. Dari rumah
pukul 8 waktu setempat. Kalau di Pontianak kira-kira pukul 7. Tetapi
seharusnya kalau lihat posisi matahari dan embun pagi, mungkin baru pukul
6 lewat.
Dari flat, kami menyusuri jalan ke arah Kajang. 1 km dari rumah teman singgah di pom bensin. Kami berhenti di dekat mesin pompa. Melihat nomor pompa, lalu berjalan menuju kounter. Dia menyerahkan uang kepada petugas kounter.
Setelah itu, dia membuka jok dan mengambil ujung slang.
”Di sini layan sendiri,”
Jadi, meskipun mesinnya banyak, namun petugasnya tidak banyak. Masing-masing orang yang isi minyak, mengisi sendiri sesuai bayarannya ke kounter.
Tidak lama. Selesai. Teman saya mengisi dua liter saja.
Kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari pom tadi, kami mematah ke kiri. Saya tidak tahu apa nama jalan itu. Yang saya tahu, jalan itu biasa dilewati kalau naik mobil ke Kuala Lumpur.
Kami melewati beberapa ruas jalan yang luas dan lengang.
Kendaraan orang dipacu laju.
Motor yang saya tumpangi tidak sebanding dengan kendaraan-kendaraan itu.
Honda supercap. Saya kira umur motor itu mungkin setua umur saya. Kalau
tidakpun, muda sedikit dia.
Saya ingat kalau di Pontianak, jarang-jarang ada motor jenis ini. Kalau
adapun, agaknya, sudah hidup segan mati tak mau. Mungkin akan mirip rongsokan besi tua yang tak dikenal sejarahnya.
Tapi, motor ini, sekalipun tua, suaranya masih langsam. Tarikannya masih
kuat. Yahut-lah pokoknya.
Tak lama, kami berbelok ke kiri, masuk ke komplek kantor pemerintah
daerah. Bangunannya bertingkat. Tinggi. Banyak kendaraan terparkir. Maklum
di bagian bawah bangunan ini ada tempat jualan.
Di samping kiri bangunan itu ada taman luas. Kami masuk ke taman itu
menuju tempat parkir.
Saya turun dari motor dengan takjub.
Luar biasa. Benar, ramai sekali orang di sini. Joging. Macam-macam gerakan mereka.
Ada yang lari-lari kecil. Ada yang jalan-jalan. Ada yang main sepatu
roda. Ada yang main bulu tangkis – tepuk-tepuk. Ada yang bergantungan di
palang-palang besi. Ada yang senam –seperti Tai Chi. Ada yang main bola
sepak.
Kami berjalan menyusuri jalan bersemen di pinggir tasik. Danau. Jalannya
terbagi dua jalur.
Bagian bawah dekat danau, dan atas –di sebelahnya. Atau lebih tepat,
bagian laluan kiri dan kanan. Lebar setiap jalur bervariasi ada yang
lebarnya 2 meter
Dari ujung hulu danau ke hilir danau mungkin ada hampir satu kilometer.
Di dalam danau – di bagian tepinya, banyak ikan – jenis ikan kalapia. Ada
yang masih kecil –anak-anak ikan, ada besarnya satu tangan – 8 cm. Banyak
juga burung –berbagai jenis, yang saya kenal bangau putih dan gagak hitam, terbang dari satu pohon ke pohon lain yang ada di kiri kanan danau. Semuanya dilindungi. Berani tangkap ikan di danau ini, atau berani tembak burung, denda taruhannya. Kalau tidak, jeruji besi.
Kami memutar, berjalan dari ujung ke ujung danau. Sesekali mencoba
fasilitas yang dilewati.
Saya sangat terkesan ketika melewati batu-batu tajam yang disusun
berdekatan, yang kalau menginjaknya sama seperti pijit refleksi – kata
teman. Ada 15 menit kami sengaja ”mencari sakit”, sambil meringis-ringis.
Sekali lagi, semua ini mengingatkan saya pada kecerdasan orang di Malaysia bersahabat dengan alam. Sesuatu yang biasa dibuat sentuhan, sehingga bagi saya menjadi sesuatu yang luar biasa.
Berulang kali saya mengungkapkan kekaguman ini kepada teman saya. Seperti saya, mereka juga kagum. Kami sama-sama membayangkan, bahwa seharusnya Pontianak sudah memiliki fasilitas seperti itu.
”Ini bagian dari konsep one stop center,”
Semuanya ada di sini.
Pasti biaya yang dikeluarkan mahal. Tetapi, tentu selalu ada jalan.
”Kalau tak bisa pakai duit pemerintah, seharusnya pemerintah bisa membangun menggunakan uang swasta,”
Kata teman saya, kalau gubernur mau, bangun kantor gubernur baru di kawasan yang luas. Lalu kawasan itu menjadi kawasan wisata. Di bangunan-bangunan ini gunakan untuk pusat perdagangan. Lalu disewakan dalam waktu berapa puluh tahun.
“Lihat tu, konsep Putrajaya,”
Putrajaya adalah pusat kantor perdana menteri Malaysia yang digagas Perdana Menter Mahathir, dahulu. Tempat itu menjadi tempat yang dikunjungi orang kalau mau mengagumi Malaysia.
Teman saya berhayal.
“Kalau kita kerja, capek, bisa berdiri di dekat jendela, melihat pemandangan di luar. Tentu fresh lagi. Ini, kantor pemerintah kita, apa yang menarik bisa dilihat dari jendela?,”
Saya jadi terbayang diskusi kami dahulu tentang pemindahan ibukota Kalbar. Mungkin inilah kesempatannya.
Saya sempat SMS teman di Pontianak tentang tasik ini.
“Andainya di Kalbar ada tempat seperti ini.”
“Andainya pemerintah atau swasta mau menyediakan ruang publik seperti ini.”
Duh, asyiknya ya...




4 komentar:

maududi mengatakan...

bang, kalau ingin Pontianak seperti Tasik Cempaka.jadi caleg jak bang, ha...haaa...

Malay Corner mengatakan...

Hua haaa. haa... Jadi caleg? sian oiii, tengok kawan2 .. pening mereka.
Saya kira mereka makin pening agik kalau saingan tambah banyak.

Malay Corner mengatakan...

Hua haaa. haa... Jadi caleg? sian oiii, tengok kawan2 .. pening mereka. Makin pening agik kalau mereka tambah saingan.

Gilabola mengatakan...

Agen Bola Agen Sbobet Agen Bola