Selasa, 24 Maret 2009

Etno-matematik: Cara Menghitung “Orang Kami”

Oleh Yusriadi

Dahulu, tahun 1998 saya pernah diminta Dr. Hanapi Dollah, dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), untuk mengumpulkan data tentang “Ento-matematik”.
“Saya ingin kamu kumpulkan bilangan-bilangan yang biasa digunakan orang Melayu, di tempat kamu,”





Begitu katanya waktu itu.
Saya pun melaksanakan tugasnya itu.
Saya kumpulkan data. Saya buat rajah gambar permainan anak-anak. Lompat tiung. Saya menghitung sudutnya. Saya catat. Saya buat gambar gambar lapak permainan surung, yang enam kotak itu.
Saya tengok-tengok lagi cerita rakyat, dan melihat hitung-hitungan di sana: ada anak tunggal. Ada nomor satu, dua, tiga. Ada putri tujuh. Dan lain-lain.
Tetapi yang paling menarik, ketika saya membuat perhitungan magic.
Saya sering mendengar moyang saya, Moyang Muna’ namanya –semoga Allah memberikan kepada beliau tempat yang sebaik-baiknya, menjampi-jampi dahulu:
”Sa’, dua’, daku’, dakai, dibai, dayai, sisit, kulit, lamung, gadin,”
Artinya, satu, dua, tiga empat, lima, enam, tujuh, lapan, sembilan, sepuluh”.
Kalau beliau sedang ’nyintak pedorak’ menarik rambut kalau seseorang lagi sakit kepala, beliau menghitung:
”sa’, dua’, daku’, dakai, dst...” lalu beliau menarik rambut itu agak keras.
Terdengarlah bunyi ’tuk’ di pangkal rambut.
Sembuh.
Kalau kami lagi pusing, kepala kami ditugu’ ke tiang para, tiga kali. Mulut beliau komat kamit. Menurutnya, sakit kepala itu karena ada sesuatu. Dan sesuatu itu dikembalikan ke tiang para agar pindah ke sana. Tiang para simbol sesuatu yang mati. Tiang para tidak pernah hidup. Kayu yang dijadikan tiang itu tidak pernah bertunas.
Saya ingat, kakak saya, Mbok Lena, dan bibi saya, Iyak Dayang, dahulu kerap kali menggunakan hitung-hitungan ini sewaktu membuat joran pancing dari pelepah duri’ (rotan).
”Sa’, dua’ daku’, dakai, dst... ”
Mereka menghitung dengan tangan menggenggam joran itu. Kanan dahulu, kemudian kiri, lalu kanan lagi, kiri, dan begitu seterusnya. Satu genggaman tangan, satu kali hitungan.
Hitungannya harus berhenti di titik ganjil. Tidak boleh genap.
”Kalau ganjil, mau’ bulih”
Maksudnya kalau ganjil, hengnya baik. Mudah dapat ikan. Kalau genap, bisa sial. Ikan tidak mau memakan umpan (plus mata kail). Memancingpun tidak akan dapat apa-apa.
Saya percaya dengan konsep itu. Saya pun, juga melakukan itu setiap kali membuat joran pancing.
Tetapi, setelah sekolah di Jongkong –ibukota kecamatan Embau, kami tidak pernah melakukan itu. Moyang sudah tidak tinggal di tempat kami. Beliau meninggal.
Mbok dan Iyak, sudah besar. Perempuan yang sudah besar tidak pernah lagi memancing. Kalaupun mereka menangkap ikan di sungai, mereka ikut sewaktu orang menuba ikan.
Saya, walaupun sesekali masih memancing, namun jarang sekali melakukan itu, dan tidak lagi berkesempatan membuat joran pancing. Saya selalu memakai pancing yang sudah ada.
Saya kira, kesempatan membuat pancing baru, kecil sekali dibandingkan dahulu. Dahulu sewaktu kecil, pancing sering kali hilang, atau patah. Semuanya karena ceroboh: memancing sambil bermain.
Sampai sekarang. Saya tidak pernah lagi memancing. Tak pernah juga menghitung pakai hitungan lama itu.
Emak saya, juga tidak melanjutkan kebiasaan moyang mengobati kami dengan cara menyentuhkan kepala ke tiang para.
Tetapi, untunglah saya tak sampai lupa hitung-hitungan itu.
Saya merasa beruntung mengingatnya.
Karena saya yakin pasti orang-orang lain yang berasal dari kampung banyak yang melupakan hitungan itu.
Saya juga merasa beruntung bisa terus melanjutkan hitung-hitungan ini. Dan sekarang menulisnya. Dengan begitu saya mendokumentasikan salah satu kekayaan intelektual nenek-moyang saya.

2 komentar:

maududi mengatakan...

itulah, kadang menganggap sepele tentang sesuatu yang berharga, padahal yang seperti itu, mampu mengembalikan kita dalam kenangan yang sangat indah tentang masa itu.
menjadi suplemen dalam jiwa.

Fika Baim mengatakan...

Terimakasih semoga ada manfaat dan faedah