Sabtu, 27 Desember 2008

Harapan dari Parit Wak Gatak, Kalbar

Yusriadi

“Sampai juga harapan Bang Yus,”
Saya tersenyum mendengar Bang Yan. Bang Yan, panggilan untuk Hariansyah, M.Si, ketua panitia pelatihan penelitian Participatory Action Research (PAR) untuk dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak tahun 2008. Dia lulusan psikologi Universitas Indonesia. Dia memperlihatkan sikap apresiatif.


Bang Yan tahu, saya memang memilih kampung di pinggir kota Pontianak, ketimbang masjid, tempat yang semula hampir dipilih panitia PAR sebagai tempat studi lapangan peserta PAR. Kampung bagi saya menjadi laboratorium ilmu pengetahuan. Selalu menyenangkan. Banyak hal bisa diperoleh di sana. Banyak hal baru bisa dipelajari. Masjid sebenarnya juga menarik. Tetapi terbatas.
Saya sempat bicarakan hal itu pada Bang Yan, dan juga Ibrahim, MA. Ibrahim sekretaris panitia.
“Pilihlah kampung. Mungkin bisa kampung di ujung Kota Baru, pasti menarik dibandingkan masjid,”
Saya sempat mengirim sms kepada Ibrahim agar memilih kampung sebagai lokasi, ketimbang memilih masjid.
“Nanti kami bicarakan dengan Pak Mahmudi,”
Itu jawaban terakhir mereka.
Pak Mahmudi adalah instruktur pelatihan PAR dari INSIST, Solo.
Lalu, pagi itu panitia memberitahu.
“Kita konsultasi dengan Pak Mahmudi tadi malam. Hari ini kita akan pergi ke beberapa perkampungan di pinggir kota Pontianak.”
Tetapi, kata panitia, biar lebih adil empat lokasi diundi untuk empat kelompok. Satu persatu wakil kelompok memilih. Ada yang dapat lokasi Sungai Rengas, TPI. Ada yang dapat kampung pemulung, Waduk. Tempat ini di samping Hotel Kapuas Palace. Ada yang dapat lokasi Kampung Beting, Pontianak Timur.
Syaifullah –anggota kelompok kami yang mencabut undian, dapat giliran paling akhir.
“Parit Wak Gatak”.
Waw, saya merasa ini kejutan. Surprise. Kejutan yang menyenangkan. Saya memang lebih suka kampung di tepi kota, dibandingkan di tengah kota.
“Pilihan yang bagus,”
Syaiful mengangguk.
“Itu tempat Bang Yan dahulu bimbing KKN,” Kak Yus memberi penjelasan.
Pilihan ini juga menguntungkan bagi Syaiful. Saya sudah membayangkan jika tempat yang dipilih tidak ‘sesuai selera’ kelompok, pasti Syaiful yang diperolok-olok.
Kak Yus, Yusdiana, anggota kelompok kami, adalah istri Bang Yan. Suami isteri ini sama-sama dosen STAIN Pontianak, sama-sama lulusan Psikologi UI, dan sama-sama lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Pontianak. Mereka ketemu waktu kuliah dahulu.
“Ujung Kota Baru, lalu belok kiri,” kata Kak Yus memberi penjelasan tentang lokasi kampung ini.
Ibrahim memberitahu, “Kelompok ini akan didampingi Pak Yan,”
Dalam hati saya bersyukur. Ada anggota kelompok yang tahu lokasi. Jadi kami tidak perlu mencari-cari di mana lokasi. Bayangkan betapa repotnya kalau mau cari lokasi, tanya sana-sini.
Saya jadi teringat cerita Pak Mahmudi dahulu waktu dia mula mengikuti pelatihan penelitian, dahulu. Waktu itu, tahun 1984 instruktur pelatihan Prof. Juwi hanya menyebutkan nama kampung. Waktu ditanya, di mana lokasi itu dan bagaimana mencapainya, Prof. Juwi malah mengatakan ‘Peneliti kok begitu, cari sendirilah’. Peneliti harus melihat peta, mencari di mana letak kampung ini di dalam peta, baru kemudian bertanya di sana-sini untuk mencari cara mencapai lokasi. Bagi saya memang tidak ada masalah. Sudah biasa. Tetapi, kali ini agak beda. Waktu yang diagihkan untuk turun ke lokasi hanya satu hari, konon. Sebenarnya hanya 5 jam saja. Dari jam 09.00 - 14.00.
Lalu akhirnya kami pergi ke lokasi. Ismail Ruslan, Syaifullah, Saya, Yusdiana, Patmawati dan Ambaryani. Setelah sampai di lokasi saya tahu rupanya Bang Yan, Ibrahim, juga menemani kami ke lapangan. Bedanya, panitia pakai mobil.


Parit Wak Gatak.
Saya membaca tulisan warna hitam pada plang kecil warna putih ukuran panjang satu hasta, lebar satu jengkal. Tulisan itu, huruf balok.
Jalan masuk ke parit Wak Gatak, ke arah kiri. Badan jalannya luas, sama luasnya dengan jalan utama. Bedanya, jika jalan utama beraspal, jalan masuk ke Parit Wak Gatak, jalan tanah. Kering. Ada banyak bekas roda kendaraan membentuk garis. Jalan tidak rata.
Kami masuk melalui jalan ini. Sekitar 500 meter, kami berhenti. Saya melihat mobil Puket 1 sudah terparkir di sana, di samping sebuah warung. Sedangkan motor kawan-kawan diparkir di depan sebuah rumah yang besar. Rumah itu, beratap seng, Dindingnya semen. Ada dua pilar besar menopang kanopi rumah. Terasnya dilapisi porselin berwarna hitam. Ada sofa hijau di sana. Di teras dekat sofa itu, ada dua motor honda warna merah terparkir.
“Rumah kepala desa,”
“Ini, ya?”
Seorang wanita muda --yang semula saya kira istri Pak Kades nampak sibuk. Dia adiknya. Dia mencoba menghubungi lewat HP.
“Pak Kadesnya sedang keluar,”
Saya pernah beberapa kali bertemu kades ini. Nurdin namanya. Dia masih muda, mungkin dalam lingkungan umur 27 tahun. Lulusan S-1 Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan (STKIP) Pontianak. Dia aktif di organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Karena dia aktif di PMII inilah saya mengenalnya.
Saya mengambil HP dan mencari nomornya. Saya menghubungi Nurdin
Tidak aktif.
Sudahlah.
Saya menuju warung kecil yang berada di samping rumah Pak Kades. Ada seorang wanita muda sedang membuat kue gelang-gelang. Dia memakai baju kaos warna ungu. Di sampingnya seorang pemuda bercelana pendek warna putih, bajunya warna hitam. Ada seorang lelaki tua bercelana panjang tidak memakai baju. Saya menyapa mereka. Lalu saya duduk di ujung kursi yang diduduki perempuan dan lelaki muda itu.
Saya bertanya lagi tentang kepala desa. Seraya memberitahukan tujuan kedatangan kami.
“Kami dari STAIN Pontianak. Sedang praktik penelitian,”
“O, STAIN. Kemarin ada mahasiswa KKN di sini,” kata perempuan muda itu memberitahu.
“Ya, mahasiswa STAIN,”
Lalu obrolan beralih ke kue.
Lukman, Patmawati, Kak Yus dan Ambar bergabung ke warung. Mereka memilih duduk di kursi lain di depan kami. Ismail bergerak ke arah penggilingan padi, ke sebuah rumah di seberang parit. Syaiful juga bergerilya mencari objek yang bisa diwawancarai.
“Untuk dijual ya Kak?”
Patma bertanya.
“Iye, dijual,”
“Berapa harganya?”
“Harga satu kue gelang-gelang Rp500,”
Saya terkejut juga. Lumayan mahal untuk ukuran kue yang besarnya sebesar lingkaran nol dari jempol dan telunjuk. Seperti di kota saja.
“Bahannya dari apa?”
“Dari ubi, tepung,”
Saya jadi teringat sesuatu.
“Patma mau belajar buat?”
Saya menatap ke arah Patma. Memberi isyarat agar Patma turun tangan. Agaknya kandidat doktor di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ujung Pandang ini menangkap maksud itu.
Patma bangkit dari tempat duduknya. Sambil bergerak ke arah tempat duduk kami, Patma menggosok-gosok tangan. Patma sedikit cengengesan.
“Tidak kotor,”
“Heh, mana boleh. Cuci dulu,”
Mengerikan jika Patma langsung menggunakan tangan menggosok kue itu. Entah kuman apa yang akan masuk ke adonan. Entah sakit penyakit apa yang akan dialami orang yang makan kue produk tangan yang tak dicuci. Saya mengeluarkan botol Aqua besar dari dalam tas, yang sengaja saya bawa persiapan lapangan. Saya perlu menyiapkan air dan kue, kalau-kalau kelaparan dan haus selama di lapangan. Saya meneteskan air ke tangan Patma.
Setelah itu dia menghampiri tempat duduk perempuan yang sedang membuat kue itu. Lelaki muda yang duduk di sampingnya bangkit. Memberi tempat untuk Patma duduk. Saya juga bangkit.
“Izin dululah,”
Saya mencandai Patma. Patma menurut.
“Boleh saya ikut buat kue ya?”
“Bolleh,”
Perempuan muda itu tertawa. Kami juga tertawa melihat sikap Patma.
Patma mulai ikut membuat kue. Dia mengambil sekepal adonan dan membuat seperti yang perempuan itu buat. Saya melihat dia melakukan proses interaksi yang baik. Saya mengabadikan prose itu.
“Pat kekecilan, nanti tidak laku,”
Kak Yus mengingatkan. Patma membalas.
“Ya, orang kecil, kuenya juga kecil,”
Saya juga ikut nimbrung.
“Mm, ndak juga. Kakak ini sama besar kok dengan Patma, tapi, kue buatannya lebih besar,”
Kami tertawa ramai melihat Patma terpojok. Sengaja memang bikin suasana lebih santai. Biar cepat akrab.
Saya mengajak Lukman mencari objek lain.
Seorang wanita muda yang sedang mengambil buat jeruk sambal di seberang jalan, di ujung jembatan tidak jauh dari warung, kami dekati.
“Panen jeruk ya?”
“Iya, ambil sedikit-sedikit,”
Dia menyahut ramah.
“Suke nengoknye. Orang di sini rajin-rajin ya. Tidak ada lahan kosong. Di sini jeruk, di sana serai,”
Saya memuji mereka. Tidak basa basi.
“Berapa banyak sekali panen?”
“Kalau yang ini, ada-lah dua tiga bakul itu,”
Dia menunjuk wadah dari rotan. Ukurannya mungkin muat 10 kilo. Tidak banyak. Pohon di sini juga memang tidak banyak. Ada 5 pohon saja. Buahpun juga tidak lebat. Saya melihat buat itu agak jarang-jarang. Malah sebagian pucuk jeruk itu seperti terserang ulat.
“Kalau pas dipupuk banyak lagi. Tapi jarang dipupuk,”
“Nanti kalau abis panen begini, bagaimana menjualnya?”
“Ada yang datang ambil. Sore nanti,” katanya.
Saya mengambil gambar. Lukman melanjutkan percakapan dengan perempuan itu.
Ada suara seseorang di seberang sungai, dalam bahasa Madura. Dia mengingatkan perempuan pemetik jeruk. Sambil tertawa.
Perempuan itu membalasnya.
Saya mengerti sedikit-sedikit percakapan mereka. Orang pertama mengingatkan perempuan itu, nanti wajahnya masuk TV.
Saya berjalan ke tempat lain, menuju arah ujung kampung.
Ada tiga anak duduk di pinggir sungai. Mereka menonton seorang anak sedang mandi. Saya menghampiri mereka.
“Mau difoto ndak?”
Dua anak nampak malu. Sedangkan seorang lain mau. Anak yang mau difoto mengajak dua anak lain. Mereka menggunakan bahasa Madura. Saya tidak tahu alasan anak yang enggan difoto. Seorang perempuan separoh baya di depan rumah di seberang sungai yang mendengar percakapan anak-anak itu ikut nimbrung. Tapi, kali ini saya tidak dapat menangkap maksudnya. Saya kira, dilihat dari senyumannya, dia menggoda anak-anak itu.
Anak yang sedang berenang di parit, naik. Dia juga mau ikut difoto.
Akhirnya keempat anak itu berfoto.
Satu, dua, tiga. Saya mengambil gambar berkali-kali. Mereka suka. Tertawa-tawa dan bercakap sesama mereka. Semuanya dalam bahasa Madura.
Saya bertanya nama mereka.
“Mi,”
Itu rupanya nama anak yang berenang tadi.
“Juliana,”
Anak yang mengajak teman-temannya berfoto tadi.
“Gebak,”
Anak yang pemalu. Bukan dia yang menyebut namanya. Nama Gebak tadi diperkenalkan oleh Juliana. Satu lagi anak, tidak jelas namanya.
Mi, kelas 1 SD.
“Juliana kelas 6.”
Saya terkejut.
“Masak kelas 6?”
Saya tidak percaya.
“He.. he…”
“Iya Bang, 6,”
Mi menambahkan.
Ya udah. Biar saja. Dia kelas 6. Iya. Saya tak mengulangi pertanyaan itu lagi. Tapi saya kira yang benar, Juliana berumur 6 tahun. Mungkin mereka tidak menangkap dengan baik pertanyaan saya dalam bahasa Indonesia. Maklum, anak-anak di sini sehari-hari menggunakan bahasa Madura.
Saya bertanya soal kemampuan mereka berenang.
Mi sudah pandai. Juliana pandai. Gebak, belum pandai.
Saya mulai berpikir tentang parit dalam kehidupan orang Wak Gatak. Parit jalan hidup mereka? Parit tempat bermain bagi anak-anak. Parit, tempat mandi. Tempat mencuci. Mungkin juga jalan keluar masuk ke kampung ini, dahulu. Jalan keluar masuk hasil bumi mereka, jalan keluar masuk kebutuhan pokok mereka.
Saya tinggalkan Mi dan kawan-kawan.
Saya menuju warung yang jaraknya sekitar sepelempar batu dari anak-anak mandi. Warung itu baru. Warna papan yang tidak dicat menunjukkan hal itu. Di depannya ada kursi dari sekeping papan plus sandarannya. Ada rak-rak berisi tiga gallon bensin. Kosong. Di dekat rak gallon ada 6 karung singkong.
Di teras warung ini terdapat meja. Di atasnya, botol-botol minuman jenis sirup. Macam-macam warnanya. Hijau, kuning, biru. Ada termos berisi es. Ada gelas plastic yang juga warna-warni.
Saya memesan minuman untuk membuka cerita. Es, limun.
Pemilik warung seorang perempuan muda. Saya kira umurnya 20 tahun. Ada seorang wanita tua di samping. Ada anak kecil, 2 tahun.
Perempuan itu berasal dari Teluk Pakkedai, kecamatan Kubu. Teluk Pakkedai, jaraknya cukup jauh dari Parit Wak Gatak. Perempuan tua itu mertuanya. Sedangkan anak itu, anaknya.
Sudah dua tahun dia tinggal di sini, di tempat mertua. Saya ingin mengambil gambar mereka, namun perempuan tua itu melarang.
“Jangan”.
Saya batalkan.
Saya bertanya tentang karung yang ada di depan warung.
“Itu karung ubi. Mau dijual ke pasar.”
Katanya, nanti sore ada yang akan mengambil karung itu. Pakai mobil. Dia tidak dapat memberitahu siapa nama pembeli dan berasal dari mana dia, walaupun saya tanya. Tetapi sebagai informasi awal cukup berguna juga.
Kami juga bicara soal lahan. Lahan di ujung kampung banyak sudah terjual. Pembelinya orang luar. Mengapa orang luar?
“Orang luar banyak uang. Orang di sini mana mampu”.
Katanya harga tanah mahal. Ratusan juta. Tidak ada yang harganya puluhan juta.
Biasanya orang menjual tanah untuk buat rumah, pergi haji, menikahkan anak. Saya jadi takjub mendengar hal itu. Apa yang akan terjadi kemudian jika tanah-tanah sudah habis terjual. Mereka hanya memiliki lahan perkarangan. Tanah milik mereka, hanya yang ada di sekitar kampung. Yang jauh-jauh, jadi milik orang lain. Buruh. Pasti hal yang begini akan jadi mimpi buruk mereka. Nanti.
Kami beralih soal warung. Katanya, warung ini baru buka dua hari. Dibangun di halaman mertuanya. Mereka orang Bugis. Kebanyakan di sini orang Madura.
Dia tidak mau menyebutkan berapa pendapatan satu hari dari warung. Tetapi, saya rasa cukup lumayan. Selama saya duduk dan bercakap-cakap dengan mereka, banyak anak yang datang belanja. Ada yang beli es. Ada yang beli snack. Ada juga yang singgah mau beli bensin. Daya beli masyarakat cukup tinggi.
Barang-barang ini mereka beli dari pedagang di pasar bundaran Kota Baru. Pasar Kemuning.
“Untungnya sedikit,”
Mereka membeli barang yang dijual juga dalam jumlah yang sedikit. Suaminya membeli barang dan membawanya dengan sepeda motor.
Sepanjang percakapan kami, saya melihat ada penjual es potong dengan sepeda motor lewat. Juga ada gerobak kayuh yang membawa es walls lewat. Anak-anak ‘doyan’ belanja. Kalau tidak laku tidak mungkin tukang es mau masuk ke tempat yang jauh begini.
Tak lama kemudian seseorang datang membawa pisang. Pisang ambon yang sudah masak, pisang nipah yang besar-besar, pisang lemak manis yang ranum. Beda dibandingkan pisang yang biasa dijumpai di warung-warung di Pontianak. Pisang di warung biasanya pisang masak karbit.
“Makan Pak, pisang masak,” kata lelaki itu menyilakan.
Saya mengambil gambarnya.
“Mu’, masuk TV nanti,” kata pemilik warung itu.
“Ya, masuk TV. Lihat saja nanti sore,”
“TV wan,”
Mereka tertawa.
Saya membantu Mu menurunkan pisang. Ini kesempatan saya bertanya banyak hal.
Mu sangat ramah. Harga setiap tandan tergantung bentuk buahnya. Buah pisang nipah yang besar itu, bisa Rp20 ribu. Tandan yang biasa bisa laku Rp10 ribu. Kalau per kilo harganya Rp1.000,-
Saya melihat pemuda yang sebelumnya duduk di warung dekat rumah Pak Kades --tempat Patma belajar bikin kue gelang-gelang datang membawa timbangan besar dan sebatang kayu panjang satu depa. Dia juga membawa tali nilon sebesar kabel listrik.
Lalu, berdua mereka menimbang ubi yang ada di dalam karung tadi. Ujung kayu panjang diletakkan di pundak keduanya, di tengah-tengah tergantung timbangan. Tali dililitkan di karung dan kemudian dikaitkan ke timbangan. Lalu diangkat.
“80”
Mereka menurunkannya kembali. Lalu pindah ke karung lain. Agak repot sambil mengaitkan tali ke karung dan mengangkatnya sekaligus. Saya membantu mereka. Kemudian, seorang perempuan paroh baya berlari dari rumah di seberang parit dia ikut membantu. Belakangan saya tahu perempuan itu adalah mertuanya Mu.
Ada dua karung yang beratnya lebih dari 100 kilo.
Proses menimbang jadi lebih cepat. Setelah selesai, saya melihat Mu menghitung jumlahnya.
Dia tidak menggunakan catatan untuk mengingat berapa kilo masing-masing karung itu. Ingatannya bagus.
“Kalau saya, pasti sudah lupa,”
Mu tertawa mendengar komentar saya.
Saya tidak tanya berapa ratus kilo semua ubi itu. Jumlahnya banyak. Mungkin 500 kilo. Harga per kilo ubi mencapai Rp700. Saya memberitahu dia, di pasar ubi itu Rp2000. Selisih yang cukup lumayan. Tetapi, orang kampung tidak mempersoalkan selisih harga itu. Selisih itu dianggap wajar karena peraih juga harus dapat bagian dari kerja mengangkut dan mendistribusikannya. Karena itu sepanjang hasil produksi alam mereka, ada yang membeli, mereka tidak ada masalah.
“Kalau peraih mau beli, dia pesan lewat telepon. Nanti kita siapkan,”
Kalau dahulu, saat belum ada telepon, peraih akan datang langsung memberitahu, lalu hari berikutnya peraih datang menimbang dan mengangkutnya.
Sejauh ini, tidak pernah hasil alam dalam bentuk apapun, tidak dibeli peraih. Ubi, daun ubi, pisang, tebu, serai, lengkuas, kelapa, jeruk sambal, semua laku. Timbang terima di depan rumah petani. Petani menyerahkan barang di depan rumah mereka. Sekaligus menerima uangnya. Sangat mudah. Tentu juga menyenangkan karena langsung mendapatkan uang.
Saya melihat semua yang ada di Wak Gatak adalah uang. Semua bernilai. Dan masyarakat mengerti itu. Karena itu siapa yang rajin dia akan dapat uang. Tinggal pilih, mau tanam apa.
Mu menceritakan tentang ubi. Ada dua jenis ubi. Ubi pulut dan ubi itam. Ubi pulut lebih baik dimakan. Sedangkan ubi itam lebih baik dibuat keripik. Tidak mudah pecah sebab bagian tengahnya kecil. Ubi pulut lebih empuk, bagian tengahnya besar.
Lalu dia cerita juga tentang daun ubi. Pucuk ubi ada dua jenis. Pucuk biasa dan pucuk ubi pancang. Pucuk ubi pancang bentuknya lansing, lembut dan putih. Saya sering membeli jenis daun ubi seperti itu. Saya mengenalinya sebagai ubi pagar. Kebalikan dari pucuk ubi biasa. Pucuk ubi biasa lebih keras.
Dia menceritakan bagaimana menanam ubi pancang ini dan bagaimana merawatnya. Katanya, mula-mula batang ubi dipotong pendek dan kemudian ditanam pada satu lahan. Di atasnya dibuat pelindung dari daun kelapa. Pelindung ini membentuk para-para. Saya sangat antusias dengan cerita. Saya belum pernah mendengar sebelumnya. Saya kira daun ubi pagar itu adalah ubi yang ‘diramban’ –dipungut begitu saja, oleh pemetik atau peramban. Bukan ditanam.
Cara menanam seperti ini jelas membayangkan ‘keterampilan’ masyarakat di sini. Menurut Mu, banyak masyarakat yang menanam ubi jenis ini.
“Kalau bapak mau lihat saya bisa antar. Di sana,” kata Mu. Dia menunjuk arah seberang jalan.
“Ya, mau,”


Kami berjalan. Meninggalkan warung, menyeberangi parit. Melalui jembatan, masuk ke halaman rumah besar. Mu masuk ke kaki lima rumah itu. Saya kira ini rumah Mu. Mungkin dia mau singgah sebentar.
Tetapi bukan. Mu ingin menunjukkan sesuatu. Di kaki lima rumah ada mesin padi tradisional.
“Itu kipas padi,”
Saya mengamati alat itu. Masih bagus. Masih sering dipakai. Bergantian bagi yang memerlukan. Tetapi, tentu tidak banyak. Orang lebih banyak menggunakan mesin penggiling padi. Lebih cepat.
Mu memberi contoh cara menggunakan mesin itu. Dia memutar kipas. Saya merasakan angin bertiup dari lubang bagian ujungnya. Mu menjelaskan proses kerja alat itu. Saya mencatanya.
Setelah itu kami ke kebun. Menyusuri jalan tanah, agak licin. Ada bekas ban sepeda. Beberapa jam lalu Mu melewati jalan ini membawa buah pisang.
Dia sempat mengkhawatirkan saya tidak bisa melewati jalan becek ini.
“Tenang Pak, biasa. Saya orang kampung,”
Di kiri kanan jalan terdapat pohon kelapa. Pohon kakau. Kopi. Saya mengagumi kebun-kebun itu. Nampak subur dan terpelihara.
“Ini kebun mertua saya,”
Menurutnya, orang yang punya kebun sendiri biasanya lebih giat. Mereka bisa menanamkan berbagai tanaman. Hasilnya mereka bisa nikmati sendiri. Sedangkan orang yang mengerjakan kebun orang lain tidak bisa begitu.
Lebih kurang sepuluh menit, kami sampai di kebun ubi milik Mu. Luas sekali. Ada beberapa petak yang ubinya sudah tinggi batangnya. Siap panen.
Ada beberapa ikat pohon ubi disandarkan di pohon kelapa. Panjang dan lurus. Batang-batang pilihan. Ini akan ditanam kembali.
“Kalau diletakkan di sini lebih sejuk,”
Mu ingin mencabut ubinya untuk saya. Namun saya melarangnya.
“Kami masih putar-putar,”
Lalu dia menunjukkan ubi yang baru ditanam. Sebelum ditanam, tanah dicangkul dahulu. Tidak semua. Hanya di bagian yang akan ditanam saja.
Saya menyaksikan kebun singkong dengan takjub. Sungguh beruntung orang di sini. Tanah liat bercampur gambut yang subur.
Tidak berapa jauh dari kebun yang baru ditanam, ada tanah lapang. Di sana ditanam ubi pancang itu.
Penanamannya berkelompok. Panjangnya lebih kurang 5 meter. Pada kelompok pertama, ubi baru ditanam. Di kelompok yang lain, panjang ubi sudah satu jengkal.
“Yang itu, sebentar lagi panen,”
Mu memberitahu masa panen ubi pancang itu lebih kurang 20 hari. Setiap kelompok bisa dipanen empat kali. Setelah itu ubi tidak mau tumbuh lagi. Harus dibakar. Dicangkul dan kemudian ditanam kembali. Mereka tidak menggunakan pupuk untuk ubi pagar.
Mu membawa saya ke tempat lain. Dia menunjukkan petak ubi pancang yang sudah siap panen dan petak ubi pancang yang sudah tiga kali panen.


Saya melihat di sela-sela kebun ditanami lengkuas, serai, pisang, dan kelapa. Kelapa menjadi tanaman terakhir. Setelah kelapa ditanam, ubi tidak bisa tumbuh lagi. Paling yang bertahan jenis tanaman langsat dan pisang, atau coklat.
Saat ini, kebanyakan kelapa di kebun milik mertua Mu, baru setinggi kepala. Satu dua kelapa yang setinggi bumbung rumah. Kelapa tinggi ditanam di dekat parit. Sudah berbuah. Mu menawarkan buat kelapa.
Semula melarangnya. Pasti dia capek. Sudah siang.
Tetapi dia tetap memanjat.
“Kalau rendah begini saya bisa. Kalau tinggi, tidak,”
Dia bergerak cepat. Dalam tiga tindak, dia dua mencapai pelepah kelapa. Dia mengambil dua buah.
Lalu, dia turun dan mengupasnya. Dia membuat lubang dengan pisaunya yang tajam. Lantas, memberikan pada saya.
“Diminum begitu. Langsung. Bisa?”
Saya menyiyakan. Dan mengambilnya.
“Boleh diminum langsung? Ndak ada pantang larangnya ke?”
Saya bilang kalau di masyarakat tertentu tidak boleh minum langsung dari kelapa. Harus pakai gelas, atau daun. Meminum langsung menyebabkan kelapa ditebuk tupai. Tupai akan meniru cara orang minum langsung.
“Tidak ada. Minum saja,”
Saya meminumnya, langsung. Satu orang satu. Nikmat sekali.
Setelah itu dia membelahnya.
“Agak tua ya,”
“Ndak juga. Begini lebih enak,”
Mu membuat pencongkel isi kelapa dari kulit kelapa. Untuknya satu, dan satu lagi untuk saya. Alat yang praktis. Saya menghabiskan isi kelapa. Tak tersisa. Mu melihat dengan senyum.
Kami juga bicara tentang tanah pertanian. Menurut Mu tanah yang dipergunakannya bukanlah tanahnya sendiri. Semua itu tanah mertuanya, Haji Samsuri. Tanah mertuanya masih sangat luas. Tapi saya tidak sempat bertanya siapa Haji Samsuri.
Penjelasannya soal masuknya orang luar membeli lahan di sini lebih menarik. Saya jadi teringat informasi yang saya peroleh di warung tadi.
Selain itu, soal konversi lahan lebih menarik. Mu mengatakan kalau membuka lahan baru mula-mula yang ditanam, padi. Biasanya tiga kali tanam. Setelah ubi. Beberapa kali tanam ubi, kemudian lahan itu ditanami kelapa dan jenis tanaman keras lainnya.
“Kalau sudah ditanam kelapa, ubi tidak bisa lagi,”
aya bertanya soal upah. Menurut Mu bertanam di lahan orang pembagiannya, bagi dua. Satu bagian untuk pemilik lahan, satu bagian untuk pekerja. Pembagiannya, setelah hasil bersih.
Ada juga orang kampung yang mengandalkan kerja upah. Mereka yang seperti ini karena tidak memiliki lahan.
Tetapi saya tidak memperoleh jawaban, berapa banyak orang yang tidak memiliki lahan itu.
Saya melihat waktu menunjukkan pukul 12.30. Sudah siang. Kasihan Mu. Belum rehat. Tentu capek. Tentu dia lapar. Tetapi, dia nampak semangat. Saya mengagumi semangatnya. Jika dia punya lahan sendiri, saya yakin, Mu akan menjadi petani yang sukses.
Kami pulang.
Mu mempersilakan saya naik ke rumahnya. Dia mencuci kakinya di parit depan rumahnya. Dia menggantikan pakaiannya. Saya naik sebentar duduk di teras. Ada dua kursi di situ.
Mu masuk ke dalam. Lalu dia keluar lagi dengan membawa foto anak-anak STAIN yang pernah kuliah kerja lapangan (KKL) di sini. Beberapa bulan lalu. Orang-orang di sini sangat terkesan dengan kehadiran mahasiswa. Terutama karena mahasiswa bisa mendatangkan film layar tancap.
Istri Mu keluar sebentar. Menurut Mu, istrinya menjaga anaknya yang masih kecil. Anak lelaki. Anak itu lahir bulan puasa lalu. Sekarang berumur empat bulan. Pasangan ini memiliki 4 orang anak. Anak tertua, perempuan kelas 6 SD. Anak kedua, lelaki kelas 2. Anak ketiga perempuan, masih berumur 4 tahun. Anak keempat, yang paling kecil itu.
Saya memujinya karena urutan anaknya bagus. 2 pasang. Perempuan, laki, perempuan, laki.
Tidak lama saya duduk bersama Mu. Saya pikir, Mu harus istirahat. Dia tidak akan bisa istirahat jika ada saya. Lagian, saya lihat langit mendung. Pasti sebentar lagi turun hujan. Saya tidak ingin terperangkap hujan.
Saya permisi.


Saya menuju masjid. Zuhur telah lewat. Sewaktu wudhu’, anak-anak yang tadi saya potret meminta dipotret lagi. Saya menanggapi permintaan mereka.
Saya melihat ada seorang lelaki sedang mencuci serai. Dia bersama seorang perempuan tua dan seorang perempuan muda. Nampaknya anak beranak.
Saya menghampiri mereka dan menyapa. Saya bertanya tentang penanaman serai. Saya juga bertanya tentang pemasaran.
Dia juga bertanya tentang saya, dan apa yang saya lakukan. Saya ceritakan tentang apa yang kami lakukan.
“Kami lagi praktik penelitian,”
Dia mengangguk.
“Saya ketua RW di sini,”
Saya tidak terlalu jelas apa maksudnya. Dan tidak sempat bertanya lebih jauh. Walau demikian saya sempat bertanya di mana rumahnya. Di menunjuk ke arah yang searah dengan rumah kepala desa.
Lalu, saya permisi. Saya menuju rumah kepala desa.
Di teras rumah sudah ada kantong hitam, isinya nasi kotak. Di dalam saya lihat Ismail, Kak Yus, Patmawati, Syaiful, Lukman dan Ambaryani sedang mendengar kepala desa, Nurdin.
Saya menyalami Nurdin. Baju safari yang dikenakannya membuat dia nampak berwibawa.
“Sudah mirip ketua dewan. Tinggal pasang emblem jak,”
Nurdin menyambut gurauan saya dengan tertawa.
Lalu, pembicaraan dilanjutkan. Dia menjawab pertanyaan Ismail tentang pemasaran produk pertanian.
Dia menjelaskan, pemasaran sangat mudah. Produk pertanian masyarakat berapa pun banyaknya, tetap dibeli oleh peraih. Peraih datang menjemput. Ini memudahkan masyarakat.
Saya menyampuknya.
“Masyarakat rajin. Uang pasti banyak. Rumah besar.”
“O, itu. Rumah besar karena masyarakat perlu mengumpulkan orang lain di rumah,”
Nurdin kemudian menceritakan ada berbagai budaya yang harus diperingati setiap keluar. Orang mengundang tetangga untuk acara ruwahan, berebe.
Dia juga menceritakan biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan untuk kepentingan budaya itu. Misalnya untuk maulidan, langsaran, peringatan Muharam.
Dia juga mengungkapkan tentang pekerjaan penduduk. Selain petani, warga Parit Wak Gatak ada yang menjadi “belukar”, yang memfasilitasi kegiatan jual beli. Terutama belukar motor dan tanah. Selain itu juga ada yang pergi merantau, bekerja di Pontianak, ada juga yang ke Malaysia.
“Mereka yang keluar perlu mencari pengalaman. Biasanya yang pergi merantau, pulang membawa banyak uang. Bisa membangun rumah,”
Kepala desa juga menceritakan tentang masuknya orang luar yang membeli lahan di ujung kampung. “Ada pengusaha, ada juga anggota Dewan,”
Saya penasaran.
“Siapa anggota Dewan itu?”
Dia menyebut namanya.
Katanya, hanya orang kaya yang mampu beli. Tanah di sini sudah mahal. Untuk tanah kapling ukuran 10 X 20 merer, harganya di atas Rp10 juta.
Kecenderungan menjual tanah di kalangan masyarakat cukup tinggi, karena harga tanah yang mahal. Masyarakat menjual tanah mereka antara lain disebabkan karena mereka perlu uang untuk membangun rumah, naik haji atau menikahkan anak mereka.
“Kecenderungan itu mulai nampak di tahun 2004-2002,”
Seiring pertumbuhan penduduk, lahan menjadi masalah. Yang tak punya lahan, pada akhirnya menjadi buruh, sebagian lagi merantau ke luar kampung.
Percakapan terus mengalir ke sana ke mari. Tentang adat istiadat yang mengatur buah durian. Tentang hujan yang turun. Tentang jalan yang becek.
Percakapan terputus ketika kami makan siang. ‘Nasi Beringin’ yang dibawa panitia ada 8 kotak. Rombongan kami 7 orang. Masih ada satu untuk Pak Kades. Kami makan bersama di ruang tamu.
Usai makan, saya sempat pamitan mau ke masjid. Lukman juga pergi setelah meminjam kamera yang saya bawa.
Setelah dari masjid, saya gabung kembali dengan mereka. Saya ikut mendengar Ismail yang bertanya tak henti-hentinya. Kak Yus dan Syaiful yang sesekali nimbrung bertanya. Patmawati yang membanding-banding temuan penelitiannya. Ambar lebih banyak diam, tetapi saya lihat dia lebih banyak mencatat.
Hujan terus turun, tak henti. Saya minta izin menumpang WC. Kepala desa mengantar ke belakang, menunjukkan tempatnya. Kami melewati ruang tengah. Ada anak yang menonton TV. Lalu, di bagian belakang rumah, dekat pintu keluar sebelah kanan ada seorang ibu bertutup kepala sedang mengikat daun ubi pancang. Ada tumpukan daun ubi yang sudah diikatnya. Diletakkan di dekat sofa panjang. Ada juga tumpukan kain di atasnya. Di sudut yang lain, di samping kiri pintu masuk terdapat sepeda kumbang.
Bagian belakang rumah berlantai papan.
‘WC di sana, kanan,”
Nurdin memberi petunjuk dengan menunjukkan tangannya. Pakai jempol. Setahu saya orang Jawa biasa begini. Ada dua WC di rumah ini. Saya masuk ke WC yang kedua, sesuai yang ditunjukkan Nurdin. Luasnya lebih kurang 2 meter persegi. Lantai dan dinding separoh diporselin. Ada bak mandi kecil. Airnya sepertiga. Jernih. Kelihatannya air hujan. Sebab kalau air parit warnanya hitam.
“Airnya ada ndak?”
“Ada, banyak,”
Nurdin kembali ke depan.
Setelah selesai, saya juga kembali ke depan. Tetapi sebentar.
“Saya mau omong-omong dengan ibu di belakang. Lihat ubi pancang,”
Saya mengambil catatan dan kamera.
“Yuk Mbar, kita ke sana, kawankan ibu ngikat ubi pancang,”
Ambar menurut, menyusul saya. Bergabung dengan ibu yang duduk di depan pintu.
“Bu, kami mau ikut ikatkan ubi pancang,”
Ibu Marginten --saya tahu karena bertanya pada Nurdin setelah itu, memberi isyarat, mempersilakan kami menemaninya. Ibu Marginten, ibunya Nurdin.
Saya dan Ambar mengambil daun ubi.
“Satu ikat berapa?”
“Satu ikat Rp300,”
“Kalau di pasar Rp1000. Kalau sore, 3 ikat Rp 2000,” Ambar menyampuk.
Saya mencatat. Penting.
“Kalau satu ikat begini, berapa batang?” saya mengulang pertanyaan.
“Tidak tentu. Dikira-kira. Segini saja,”
Ibu Marginten mengangkat seikat, memberi contoh.
Saya juga mengambil satu ikat, ikatan yang sudah dibuat Bu Marginten. Saya menghitung. 5 batang.
Lalu, saya mengambil beberapa batang ubi yang belum diikat, persis di depan Ibu Marginten. Ambar juga.
“Ikatnya pakai apa?”
“Pakai itu,”
Dia menunjuk potongan daun serai, sepanjang satu jengkal.
Saya mengambil potongan itu.
“Bagaimana cara mengikat?”
Ibu tertawa kecil.
“Begini khan Bu?”
Ambar menyela seraya menunjukkan hasil ikatannya.
“Masa’ tak bisa,”
Saya melirik ke Ambar. Memberi isyarat. Tapi pesan tatapan itu tidak sampai. Ambar lebih memperhatikan daun ubi dan ibu.
“Uhhh, ikatan saya lepas. Dililitnya ke mana Bu?”
Ibu tertawa melihat kegagalan saya. Ambar juga.
Saya membetulkan ikatan. Ujung simpul daun serai itu saya selitkan di antara batang-batang ubi.
Ibu Marginten menceritakan kalau daun ubi yang dia ambil dari kebun hanya sebagian saja. Tidak semua.
“Semampu yang bawa,” katanya.
Dia menceritakan tentang penjualan daun ubi pancang. Suplai dari kebun tetap ada. Peraih tetap datang membeli. Namun harga tidak selalu sama. Harga tergantung sayur lain seperti bayam dan sawi. Jika bayam dan sawi agak kurang, daun ubi agak mahal. Jika bayam dan sawi banyak, daun ubi jadi murah. Sebagai contoh, sekarang daun ubi per ikat Rp3000, sedangkan sebelumnya harganya cuma Rp150-200 per ikat.
Dia juga menceritakan, dahulu, sebelum banyak peraih yang masuk ke kampung, kadang kala mereka membawa langsung sayur ke pasar Kota Baru atau Flamboyan. Itu terjadi sewaktu jalan rusak dan peraih enggan masuk. Sekarang setelah jalan bagus, peraih banyak masuk, penjualan jadi lebih mudah.
“Kan bedanya jauh Bu, kalau di sini harganya Rp300, di pasar harganya Rp1000. Kalau bawa sendiri bisa dapat banyak untung,”
“Ya, itu untung dia –peraihlah,”
Ibu Marginten menceritakan kalau mereka membawa langsung ke pasar, repot. Mereka harus berangkat tengah malam. Padahal, siangnya mereka harus tetap kerja.
Saya bertanya padanya tentang penggarapan lahan. Menurutnya, upah kerja di sini rendah. Orang yang bekerja mulai pukul 6-11 upah orang yang bekerja di kebun Rp13.000. Pagi-pagi diberi sarapan. Selama bekerja disediakan kopi. Makan siang ditanggung. Karena itu kalau hasilnya tidak bagus, hasil yang diperoleh cukup-cukup untuk modal saja.
“Susah,”
Dia cerita soal jajan anaknya yang besar. Kalau mau sekolah anaknya minta jajan Rp3000. Nanti kalau pergi mengaji, minta lagi jajan Rp2.000. Kalau di rumah jajannya Rp3.000.
“Minta terus,” katanya.
Di sini, beras tidak beli. Yang beli lauk pauk.
Setelah merasa cukup, kami permisi. Kembali ke depan bergabung dengan teman-teman. Tak lama kemudian kami pamit.


HUJAN sudah berhenti. Kami bersiap pulang.
Jalan becek dan licin. Ismail, Syaiful dan saya lebih memilih menyeret motor ketimbang naik. Lukman membantu mendorong motor Kak Yus. Kak Yus, Patma, Ambar jalan kaki sampai ke persimpangan.
Nurdin sempat mengingatkan saya soal jalan ini ketika kami mulai menyeret motor.
“Muatkan di koran,”
Saya mengangguk.
Lalu, mengambil gambar. Untuk Harian Borneo Tribune.
Setelah itu saya memastikan lagi informasi tentang jalan. Tadi, Nurdin menceritakan dia sudah mengusulkan jalan ini kepada Dewan. Dan katanya tahun 2009 akan diusulkan. Saya merasa perlu tahu, kepada siapa dia mengusulkan itu.
“Saya ketemu Mulyadi,”
Mulyadi anggota Dewan di DPRD Kabupaten Pontianak dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Saya mengenal anggota Dewan in. Masih muda. Aktivis di GP Ansor Kalbar. Sayap organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Tetapi kami menyeret motor, tidak lama. Seratus meter kemudian, saya lihat Ismail dan Syaiful sudah naik motor. Perlahan-lahan. Saya ikut juga.
Kami sampai ke simpang jalan masuk. Jalan utama yang beraspal. Mereka mencuci kaki yang berlumpur.
Setelah itu, kami memacu kendaraan masing-masing. Meninggalkan Parit Wak Gatak.
Sekitar 20 menit kemudian, kami sampai di kantin Borneo Tribune. Saya memasukkan foto jalan yang becek di folder redaksi, secepatnya, biar bisa diterbitkan besok. Kawan-kawan lain duduk melingkari meja, membahas temuan-temuan lapangan. Diskusinya sangat rancak. Saya melihat keseriusan kawan-kawan. Ada gairah akademik menyeruak. Bagi saya, ini adalah optimisme, mimpi yang akan jadi kenyataan. Kampus riset yang diura-urakan beberapa kalangan di STAIN Pontianak akan nampak. Saya membayangkan semangat ini bisa dibawa kembali ke Parit Wak Gatak, pada waktu yang lain.


1 komentar:

Asa Loan mengatakan...

Asa syarikat pinjaman pinjaman bersedia untuk meminjamkan mana-mana jumlah yang anda perlukan untuk memulakan perniagaan peribadi anda. kami memberi pinjaman pada kadar faedah 3%, juga jika anda ingin membeli rumah di atas ansuran bulanan kita juga boleh menjual rumah untuk anda. supaya Sila memohon pinjaman pertanian pertanian. jika anda memerlukan hubungan pinjaman e-mel kami: asaloantransfer@gmail.com, anda juga boleh menghubungi e-mel ini: finance_institute2015@outlook.com, Mungkin ada banyak sebab mengapa anda perlu akses kepada beberapa wang tunai tambahan - daripada yang tidak dijangka pembaikan kereta atau rumah untuk membayar perkahwinan anda atau cuti khas. Tetapi apa sahaja yang anda memerlukannya, apabila anda meminjam antara $ 5,000 USD untuk 100,000 USD di atas.

pengkhususan Syarikat.
1) Kami memberi pinjaman pada kadar faedah 3%.
2) Kami juga boleh membeli sebuah rumah pilihan anda dalam mana-mana lokasi pilihan anda.